Klub Hewan dan Istri Selingkuh

Entries from November 2007

Beruk Kakekku

November 24, 2007 · Leave a Comment

Copyright 2007, by Roslan BH and Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com)

(Wanita dan Monyet, Berbagi Istri, Cerita Tradisional Malaysia)

Kisah ini memaparkan tentang keinginan seks yang sangat unik dari isteriku. Ita memang mempunyai keinginan atau daya seks yang ‘advance’.

Peristiwa ini kutuliskan berdasarkan kisah yang terjadi saat aku dan Ita pulang liburan di kampung. Kampungku terletak di kota T, lebih kurang 45 kilometer jauhnya dari Kuala Lumpur. Setelah sampai, kami berdua berjalan-jalan melawat ke rumah Kakekku yang bernama Ali.

Sesampainya di situ, Pak Ali sedang memberi makan beruknya yang bernama Jantan. Setelah ngobrol-ngobrol, aku diminta Kakek untuk menjaga si Jantan karena esoknya Kakekku hendak mengantar anaknya ke Kuala Lumpur. Aku dan Ita setuju saja.

Sebelum pulang, aku pergi menengok si Jantan, beruk Kakekku itu. Beruk itu kelihatan garang dan bengis saat aku mendekatinya. Anehnya, beruk itu kelihatan manja bila Ita yang mendekatinya.

“Beruk itu baik kok. Kau jangan lupa beri dia makan ya!” jerit Kakek dari atas rumah.

Aku mengganguk saja tanda setuju.

Ita memberanikan diri memegang tangan si Jantan. Beruk itu menjerit-jerit saat Ita mengulurkan tangannya. Tangan Ita ditarik dengan kuat oleh beruk itu. Ita pun tertarik ke dekat beruk itu.

Aku terkejut. Beruk Kakek terdiam, mungkin terkejut. Tangan isteriku betul-betul terjatuh mengenai bagian pribadi beruk itu. Ita cepat-cepat mengalihkan tangannya dari menyentuh batang beruk itu.Setelah itu kami berdua pun balik ke rumah kami. Ita hanya tersenyum setelah kejadian itu.

Keesokan harinya kira-kira pukul sepuluh aku dan Ita membawa nasi dan air untuk diberikan kepada beruk Kakek. Pagi itu Ita memakai kain batik dan t-shirt saja. Biasanya dia tidak akan memakai celana dalam kalau memakai kain batik. Kami sampai ke rumah Kakek yang sudah terkunci. Kakek telah berangkat ke Kuala Lumpur pagi-pagi sekali dengan mobil.

Sesampainya kami ke rumah, beruk Kakek menjerit-jerit. Aku sengaja menyuruh Ita untuk memberikan nasi dan air kepada beruk itu. Ita pun meletakkan nasi dan air di hadapan beruk Kakek. Beruk itu kelihatan tidak mengindahkan makanan yang diberikan Ita. Ita mengusap-ngusap kepala beruk itu.

“Bang, beruk ini nggak mau makan, Bang,” kata Ita kepadaku.

Aku pun mencoba memberi beruk itu nasi tapi beruk itu tetap tak peduli.

“Mungkin Kakek sudah memberinya makan ya?” kataku.

“Tapi nggak kelihatan ada bekas makanan di sini, Bang,” jawab isteriku.

“Iya, nggak juga ya,” kataku. “Ita cobalah bujuk beruk itu,” kataku kepada Ita.

“Baiklah, Bang,” jawab Ita. Ita lalu mengusap-usap kepala beruk itu perlahan-lahan. Saat itu Ita duduk bersimpuh. Tiba-tiba tangan beruk itu meraba-raba buah dada Ita.

“Bang, beruk ini meraba punya Ita,” kata Ita.

Aku melihat tangan beruk itu meremas t-shirt Ita.

“Biarlah kalau dia mau raba, mungkin beruk itu teringat akan bininya,” jawabku.

“Bang mungkin beruk ini sedang mengalami musim kawin. Karena itulah Ita rasa dia tak berselera untuk makan,” kata Ita. Aku cuma mengangguk saja.

“Bang, boleh Ita beri beruk ini raba ‘barang’ Ita?” tanya Ita kepada aku.

“Hati-hati sedikit, nanti digigitnya,” kataku kepada Ita.

Aku lihat Ita mengangkat t-shirtnya hingga ke pangkal dada. Buah dada Ita ditutupi oleh BH-nya saja. Memang kawasan rumah Kakekku itu jauh dari jalan orang berlalu-lalang. Jadi tak mungkin ada orang melihat apa yang sedang Ita perbuat. Lagipula kawasan tempat tidur beruk itu terlindung oleh garasi mobil Kakek.

Begitu Ita membuka t-shirtnya, beruk itu langsung saja menggondol buah dada Ita sehingga menyebabkan Ita terjatuh ke belakang karena terkejut. Aku cepat-cepat membantu Ita bangun.

“Bang, tolong Ita!!” jerit Ita kepadaku. Aku cepat-cepat membantu Ita bangun. “Itulah, lain kali hati-hatilah,” kataku kepada Ita.

“Beruk ini ganas sekali kalau melihat tetek Ita,” jawab Ita.

“Nggak apalah biar Abang tolong,” kataku.

Perlahan-lahan Ita memajukan buah dadanya kepada beruk itu. Tangan beruk itu langsung meremas buah dada Ita dengan kuat sambil mendengus-dengus. Buah dada Ita jadi kemerahan karena diremas dengan kuat oleh beruk itu.

Kulihat Ita menanggalkan BH-nya. Kemudian Ita berbaring di atas tanah dengan beralaskan t-shirtnya.

“Bang, Ita ingin memberi beruk ini merasakan barang Ita ya, Bang,” kata Ita.

“cobalah Ita beri, dia mau atau tidak,” jawabku.

Aku mulai penasaran ingin lihat beruk itu menyetubuhi isteriku. Peristiwa ini jelas sangat langka terjadi. Setelah Ita terbaring dia memainkan zakar beruk itu. Zakarnya lebih kurang 4 inci, dan kulitnya lebih kurang 1 inci setengah saja. Zakarnya berwarna kemerahan bila keluar dari kulupnya. Penis beruk itu terus dimainkan Ita sehingga beruk itu menjerit-jerit.

“Ita, Abang coba letakkan beruk ini di atas badan Ita,” kataku.

Ita lalu menyingkapkan kainnya sehingga menampakkan memeknya yang sudah kukerjai tadi pagi. Kain batik Ita disingkapkan hingga pangkal perutnya. Aku menyeret beruk Kakek menuju ke arah celah selangkangan isteriku yang sedang terlentang itu.

Setelah betul-betul berada di depan celah selangkangan Ita, aku meniarapkan beruk itu di atas perut Ita. Sementara itu aku membetulkan penis beruk itu agar masuk terus ke dalam vagina Ita. Sementara aku membetulkan kedudukan penis beruk itu, kulihat vagina Ita sudah tergenang air. Mungkin karena dia juga sudah terangsang untuk mengadakan hubungan seks dengan beruk ini.

Perlahan-lahan penis beruk itu kutusukkan ke dalam vagina Ita. Penis beruk itu perlahan-lahan membelah alur tebing kemaluan Ita dan terus menghunjam ke dasarnya. Beruk itu saat merasakan ada benda yang mengapit kemaluannya secara otomatis langsung menggenjot buntutnya.

Beruk itu terus menggenjot buntutnya dan penisnya keluar masuk ke dalam vagina Ita.

“Sedap juga, Bang, penis beruk ini,” kata Ita. Ita memeluk kepala beruk itu sementara aku terus membantu beruk itu menyetubuhi Ita.

“Sedapnya, Bang….!!!” jerit Ita. Aku lihat cairan putih semakin banyak keluar dari vagina Ita.

“Ooooo, sedaplah, Baaang…..” jerit Ita. Walaupun batang beruk itu kecil tapi beruk itu terus-menerus menikam dan menarik penisnya ke dalam vagina Ita kira-kira 15 menit tanpa henti. Kalau manusia tentu sudah muncratlah air maninya tapi beruk ini terus mengayunkan zakarnya seperti biasa. Kuat juga daya seks beruk ini, kataku dalam hati.

“Bang, Ita tak tahan lagi…. Ita rasa mau keluarlah Bang.”

Tiba-tiba kulihat tangan Ita terlepas dari memegang kepala beruk itu.

“Ita sudah keluar….” jerit Ita dengan lesu. Tangannya terjatuh lemas ke atas tanah.

“Sedap betul lah, Bang. Lama juga beruk ini menyetubuhi Ita,” kata Ita.

Ita keletihan. Kangkangan kakinya terjatuh menyebabkan jepitan vaginanya melonggar. Tiba-tiba beruk itu menjerit kuat sebagai protes dan Ita pun segera mengemut kuat vaginanya sampai terasa ada cairan keluar laju masuk ke dalam vaginanya

(Diceritakan oleh Ita) Ita rasa mungkin beruk itu telah memuncratkan air maninya ke dalam vagina Ita. Ita terus mengemut penis beruk itu dalam vagina Ita agar beruk itu betul-betul merasakan nikmatnya seks. Mungkin inilah seks pertama dan terakhir yang dirasakan oleh beruk ini.

Setelah semenit penis beruk itu di dalam vagina Ita, tiba-tiba beruk itu bangkit dan mencabut keluar penisnya. Aku lihat cairan putih jernih keluar mengalir dari dalam vagina Ita. Banyak juga cairan itu hingga membasahi kain dan baju Ita.

“Banyak sekali air mani beruk ini, Ita,” kataku kepada Ita yang masih terbaring keletihan. “Mungkin dia tak pernah mengeluarkannya, Bang, memang banyak,” jawab Ita.

“Bagaimana rasa penis beruk itu tadi, sedap?” tanyaku kepada Ita sambil mengulurkan BH-nya.

“Kalau boleh Ita mau simpan beruk ini sebagai teman Ita, Bang,” jawab Ita.

“Mana bisa, Kakek pasti nggak mau memberikan beruknya untuk tinggal di kota,” kataku kepada Ita.

Ita terus meraba-raba vaginanya yang basah kuyup itu. Dia mengikat kembali kain batik dan menyarungkan t-shirtnya yang kotor terkena tanah tadi. Setelah itu dia mengusap kepala si Jantan, beruk Kakekku yang telah dilayani oleh Ita. Kulihat beruk itu kini memakan habis semua nasi yang kami bawa tadi. Pastilah dia telah kehilangan tenaga karena lama menyetubuhi Ita sehingga sekarang makan dengan rakusnya.

Aku dan Ita meninggalkan rumah Kakek ketika matahari di atas kepala. Ita tersenyum dengan seribu kepuasan sementara aku tersenyum puas karena berhasil melihat isteriku disetubuhi oleh beruk. Sedapnya…..

TAMAT

Categories: berbagi istri · malaysia · seks di luar nikah · wanita dan hewan · wanita dan kera
Tagged: , , , ,

Balan

November 21, 2007 · Leave a Comment

Copyright 2007, by Rajazah and Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com)

(Pemaksaan, Istri Selingkuh, Antar Ras, Cerita Tradisional Malaysia)

Malu sebenarnya aku untuk menceritakan ini tapi aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa dari pengalaman yang satu ini. Tak tahan rasanya kalau terus-menerus dipendam sendiri saja. Aku seorang ibu rumah tangga Melayu yang tinggal di daerah Gombak, di sebelah Utara Kuala Lumpur. Usiaku 26 tahun. Kami sudah berumah tangga selama dua tahun tapi sampai saat ini belum dikaruniai anak. Suamiku bekerja di sebuah perusahaan perhutanan.

Hari itu hari Jumat di tahun 2006. Sebelum pergi kerja paginya suamiku bilang kalau dia akan singgah di rumah untuk makan siang sebelum outstation petangnya. Dia minta saya masak untuk dia dan beberapa kawannya.

Pukul 12.30 tengah hari suami saya sampai di rumah dengan Trooper kantor. Bersama dia ada 4 orang lagi. Semuanya katanya kawan sekantor yang harus pergi outstation.

“Mau makan dulu, Bang?” tanyaku.

“Ah, nantilah, dik… sekarang sudah telat. Harus pergi sembahyang Jumat dulu. Balik sembahyang nanti, baru makan,” kata suamiku.

Sehabis makan nanti mereka mau terus berangkat ke Penang. Dari empat orang, salah seorangnya tak pergi sembahyang Jumat sebab dia Hindu. Namanya Balan. Orangnya jangkung kurus dan hitam. Kumisnya cukup tebal. Di pergelangan tangannya melingkar gelang seperti layaknya orang India. Jadi dia ini menunggu di rumah. Balan menonton TV di depan sambil duduk atas sofa.

Tak lama setelah suami dan ketiga orang kawannya pergi ke masjid, Balan minta kain handuk padaku karena mau buang air katanya.

Kuberikan handuk padanya, lalu kuteruskan kerja mencuci piring.

Waktu Balan keluar dari kamar mandi, entah bagaimana kain handuknya tersangkut pada kursi makan tepat di belakangku sehingga terjatuh bersama kursi. Brukkkkkk!!!! Aku terkejut dan spontan melihat ke arahnya. Aku langsung terdiam terpaku begitu melihat batang Balan yang besar dan hitam berkilat. Tak potong. Aku tertegun…. karena tak pernah melihat senjata lelaki sebesar itu sebelumnya.

“Maaf Kak,” kata Balan memecah kesunyian.

Sambil sedikit gemetar kuambil handuknya yang terjatuh di dekatku dari lantai dan perlahan kuberikan kembali kepada Balan. Entah bagaimana waktu aku menyodorkan handuk itu tiba-tiba Balan menarik dan menciumku. Aku mencoba lari tapi dia terus memelukku.

“Maaf sekali lagi Kak, saya suka sama akak punya body…akak jangan marah, saya tak tahan.”

Balan merayu diriku yang kini sudah berada dalam dekapannya. Dijelaskannya kenapa ia begitu bernafsu melihatku. Aku baru sadar kalau sejak datang Balan sudah mengamati tubuhku yang memang tak memakai pakaian dalam dan terpatri cukup jelas melalui baju kurung sutra dengan corak polos dan warna terang yang kupakai. Ia juga rupanya mengamati kulitku yang putih bersih dan wajahku yang kata orang memang cantik walaupun sebenarnya aku mengenakan tudung.

Tak panjang-panjang lelaki India itu bercerita, Balan kembali menciumiku dengan penuh nafsu…. rasanya merinding. Aku begitu terpana dengan kejadian yang cepat itu dan tak berdaya menampik serangan-serangannya. Handuk itu pun terlepas dari tanganku. Balan ternyata sangat pandai memainkan kedua putingku yang masih berada di balik baju. Salahku juga yang tak memakai BH saat itu. Sebenarnya celana dalam pun aku tak pakai, walaupun aku memakai baju kurung dengan tudung….

Aku pun tak tahu apakah aku harus marah kepadanya. Walaupun jelas ia tak bisa menahan nafsunya terhadap diriku tapi tadi ia berkali-kali berkata minta maaf padaku. Juga dari caranya menciumi diriku, seperti layaknya seorang yang sangat merindukan kekasihnya. Begitu hangat dan penuh perasaan. Terus terang aku jadi mulai terhanyut.

Balan rasanya bisa melihat kalau aku mulai kepayahan dan tak berdaya menolaknya. Ia pun semakin gencar mengulum bibirku sehingga aku tak mampu berkata-kata. Sementara tangannya bergerilya ke sekujur tubuhku.

Aku merasa semakin merinding sebab Balan mulai memasukkan tangannya ke dalam kainku. Tubuhku serasa bergetar dengan hebatnya. Sebenarnya sudah 18 hari saat itu aku tak bercinta dengan suamiku. Tak tahu apa sebabnya suamiku jarang mau bersetubuh denganku.

Karena itu sebetulnya dalam hati aku merasa amat tersanjung bertemu dengan lelaki yang langsung ingin menyetubuhiku padahal kami baru saja bertemu beberapa menit yang lalu. Apalagi yang mau disetubuhinya itu adalah istri teman sekerjanya sendiri dan kami hanya punya waktu yang singkat saja. Begitu besar risiko yang harus ditempuhnya hanya untuk menyalurkan hasratnya kepadaku. Tiba-tiba aku merasa sangat bergairah.

Balan tampak senang mengetahui aku tak memakai celana dalam. Dimain-mainkannya kelentitku dengan lihainya. Aku serasa terbang ke awang-awang. Di dalam pelukannya, aku membiarkan dia mempermainkan jemarinya di vaginaku. Mataku mulai merem melek. Tak sadar erangan nikmat mengalir dari mulutku. Balan tampak semakin senang melihat kepasrahanku.

“Akak jangan takut, saya akan pelan-pelan…” janji Balan tentang caranya dia akan menyetubuhiku.

Karena itu akhirnya aku sama sekali tak menolak ketika Balan membawaku ke ruang tengah dan berbaring di atas lantai di depan TV. Dia buka tudung dan bajuku. Lalu dia buka pula semua bajunya. Lucunya entah karena gugup atau begitu nafsunya, Balan memerlukan waktu agak lama untuk melucuti pakaiannya sendiri. Aku pun menunggu dengan harap-harap cemas dalam keadaan sudah bugil di atas lantai sambil memandangi penisnya yang kuncup dan tegang.

Kami pun kembali berciuman dengan penuh nafsu. Kali ini dalam keadaan bugil. Aku bisa merasakan tubuhnya yang dipenuhi rambut tebal menyentuh tubuh bugilku. Geli dan menggairahkan…! Beda rasanya dengan tubuh suamiku yang bersih dari rambut. Aku juga bisa merasakan penisnya yang besar seperti ular merayapi pahaku. Penis yang hitam dan tak dikhitan.

Jarinya masuk ke dalam vaginaku. Aku tersentak dan mengerang karena kenikmatan. Dia juga menciumi seluruh tubuhku. Balan benar-benar pandai dan tahu cara memperlakukan seorang perempuan. Aku makin tak tahan. Balan lalu menjilati vaginaku…. Aku pun memohon. Aku benar-benar tak tahan.

“Balan cepat….”

Lalu Balan memasukkan batangnya yang sudah sangat keras ke dalam vaginaku yang sudah basah kuyup rasanya. Dalam hal ini pun dia sangat pandai… dimasukkannya pelan-pelan, tarik-keluar tarik-keluar. Sedaaap sekali rasanya…. Tuhan saja yang tahu. Batangnya sangat besar sehingga penuhlah rasanya lubang kemaluanku. Aku mengangkat punggung setiap kali Balan menghenyakkan batangnya.

Setelah itu aku seperti orang gila saja. Tak pernah aku merasakan kenikmatan seperti itu. Lebih kurang lima menit aku merasa seperti mau kencing. Aku tahu aku sudah orgasme. Ooohh… nikmat sekali rasanya… kutarik badan Balan dan kudorong punggungku ke atas. Lalu kulilitkan kakiku ke pinggang Balan. Balan pun saat itu menghentak lagi dengan kuat….

Aku seperti meraung waktu itu. Sedappp… lalu muncratlah… Setelah terpancur air maninya, satu menit kami tak bergerak. Hanya saling berpelukan dengan erat. Nafas kami terengah-engah. Pandanganku nanar seakan terbang melayang ke langit ketujuh. Selama beberapa saat aku merasakan ketenangan, kenyamanan, dan perasaan puas bercampur aduk. Vaginaku terasa sangat panas dan basah kuyup. Penis Balan berdenyut-denyut di dalam alat kelaminku.

Setelah itu Balan menarik keluar batangnya dari dalam vaginaku… Ia tampak seperti ular sawah yang tertidur setelah selesai menyantap mangsanya…. terkulai.

Balan lalu berkata sambil mengecup dahiku, “Terima kasih akak!”

Aku tersenyum senang dan berbaring bugil bersamanya di depan TV. Tangan Balan melingkari leherku yang telanjang. Kurebahkan kepalaku di dadanya. Lalu sebelah tanganku menggapai kemaluan Balan yang masih basah setelah selesai digunakan untuk menyetubuhiku. Aku memandangi dan mengagumi batangnya yang kuncup dan begitu perkasa. Kubelai-belai penis Balan dengan lembut. Sementara itu bibirku menciumi dadanya yang hitam bidang dan dipenuhi rambut. Balan sendiri masih terbaring mengumpulkan kembali tenaganya tapi tampak jelas kalau ia sangat senang dengan perlakuanku.

Dibelai-belainya punggungku yang putih mulus dan juga rambutku yang hitam panjang. Dia tersenyum sambil memandangiku.

Aku terus mengusap-usap kemaluannya yang panjang dan kuncup itu. Dalam waktu yang tak berapa lama, aku bisa merasakan batang yang hitam itu sedikit demi sedikit mengeras kembali karena belaian dan rangsanganku. Senang sekali melihatnya…!

Sebelum suamiku dan kawan-kawannya kembali, Balan masih sempat menyetubuhiku sekali lagi. Kami berdua memang sama-sama ingin melakukannya lagi. Persetubuhan ronde kedua ini berlangsung cukup singkat. Dalam waktu 5 menit aku sudah berhasil mencapai orgasme. Beberapa detik kemudian Balan pun menggeram dan memuntahkan air maninya kembali di dalam rahimku. Aku belum pernah merasakan sensasi dan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Karena itu setelah Balan selesai menyetubuhiku untuk kedua kalinya, aku langsung memeluk dan mencium bibirnya dengan ikhlas sebagai tanda terima kasih.

Tangan Balan menjangkau marker yang tergeletak di atas meja kerja suamiku. Aku bertanya-tanya dalam hati apa yang akan dilakukannya. Rupanya ia menuliskan sesuatu di paha dalamku yang putih, dekat vaginaku.

Aku agak tersentak karena kaget tapi Balan menenangkan diriku. Aku diam saja karena percaya kepadanya. Rupanya ia menuliskan nomor HP!

“Akak, ini nomor HP-ku, nanti jangan lupa kita kontak-kontak lagi ya…” katanya sambil menatapku.

Aku jadi tersenyum malu. Dengan mantap aku menganggukkan kepala. Kurebut marker itu dari tangannya dan aku pun menuliskan nomor HP-ku di paha dalamnya yang legam, dekat dengan penisnya yang panjang dan mengagumkan. Balan hanya tersenyum senang melihat tingkahku.

Kami mendengar suara Trooper memasuki pekarangan rumah tepat saat aku baru saja mengenakan kembali baju kurungku. Untunglah tadi begitu selesai ronde kedua Balan langsung menyuruhku bergegas berpakaian kembali tanpa kami sempat membersihkan diri dulu. Rupanya benarlah sarannya. Sambil mengenakan tudungku, aku segera menyiapkan hidangan di meja makan sementara Balan duduk di depan TV seolah tak pernah terjadi apa pun.

Kalau kupikir-pikir dengan akal sehat, sungguh nekat apa yang telah kulakukan tadi bersama Balan! Apalagi kalau kuingat pintu rumah kami pun dalam keadaan terbuka lebar! Untung saja tak ada seorang pun yang datang saat kami bersetubuh tadi… Kebetulan lokasi rumah kami memang agak jauh dari para tetangga maupun jalan raya.

Apa yang kami berdua lakukan tadi sebenarnya relatif sangat singkat. Kalau dihitung sejak Balan keluar dari kamar mandi sampai kami berpakaian kembali total waktunya hanya sekitar setengah jam. Walaupun singkat tapi benar-benar memuaskan dan menegangkan!

Aku agak gugup sebetulnya waktu melayani suamiku dan kawan-kawannya di meja makan. Maklum, inilah pertama kalinya aku berselingkuh terhadap suamiku. Apalagi lelaki yang baru saja menyetubuhiku ikut duduk pula semeja bersama kami. Aku pun masih merasakan air mani Balan mengalir keluar dari vaginaku yang basah kuyup karena aku belum sempat membersihkan diri sama sekali.

Untunglah Balan orangnya sangat periang dan banyak bicara. Suamiku dan kawan-kawannya lalu asyik makan sambil mengobrol dengan serunya. Sementara aku sendiri tidak terlalu banyak bicara karena masih terbayang-bayang baru saja disetubuhi secara hebat oleh Balan.

Begitu suamiku mengecup dahiku berpamitan dan pergi bersama kawan-kawannya, aku segera mengunci pintu dan melepas semua pakaianku.

Aku bermasturbasi membayangkan persetubuhanku bersama Balan tadi. Sungguh luar biasa dan menegangkan! Jemariku menembus vaginaku dan masih mendapatkan air mani Balan yang hampir mengering. Terasa lengket menempel di jemariku yang halus. Dengan nikmat kujilati jemariku dan kutelan perlahan-lahan sperma yang rasanya kuat beraroma kari itu…

Seharian itu sampai malamnya aku tak pergi mandi karena terus-menerus bermasturbasi membayangkan saat aku disetubuhi Balan. Kukirim SMS pada pemuda Hindu itu. Ia begitu senang membaca SMS-ku dan membalasnya bertubi-tubi dengan kata-kata cabul yang menggairahkan. Tak dipedulikannya jika ia sedang duduk di belakang suamiku.

Aku sangat senang membaca SMS dari Balan. Kata-katanya begitu cabul menyanjungi diriku dan membantuku melakukan masturbasi. Malamnya, saat sudah berada sendirian di dalam kamar, Balan meneleponku. Aku begitu senang mendengar suaranya, melebihi senangnya menerima telepon dari suamiku sendiri!

Tak terasa hampir satu jam kami berbincang dengan mesra dan saling merangsangi melalui percakapan telepon. Aku menyanjunginya sebagai jauh lebih hebat daripada suamiku sendiri. Ia pun menyebut diriku bagaikan dewi yang turun dari kahyangan! Akhirnya kami masing-masing melakukan masturbasi sambil terus bercakap-cakap. Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa! Aku tidur malam itu dengan badan penuh keringat dan hati yang luar biasa puas!

Aku jadi ingin kembali bersetubuh dengan Balan. Sayang suamiku belum ada lagi tugas outstation setelah kejadian itu.

Itulah pertama kalinya aku merasakan batang lelaki lain selain milik suami. Aku merasakan kenikmatan dan sensasi yang luar biasa. Jadi timbul keinginan untuk merasakan batang yang lain lagi.

Balan mengetahui keinginan terpendamku itu karena aku semakin sering curhat padanya. Balan sangat open-minded sehingga aku bisa curhat bahkan tentang hal-hal tabu yang tak mungkin kuceritakan pada suamiku sendiri. Ia berjanji untuk memperkenalkanku kepada teman-teman sepermainannya di Brickfields kalau suamiku pergi outstation lagi. Duuh, senangnya aku mendengar janjinya.  Tak sabar rasanya…

TAMAT

Categories: istri/tunangan selingkuh · malaysia · seks antar ras · seks dengan pemaksaan · seks di luar nikah
Tagged: , , , ,