Category Archives: cerita JIL

Cerita yang dibuat JIL, salah satu afiliasi KHIS

Reisa – Skandal di Pulau Mentawai

Copyright 2008, By Mario Soares & East Life

(Selingkuh, Seks dengan Pria Tua)

Hubungan Jonas Banak dan Reisa mengalir seperti air. Tiada lagi penghalang hubungan mereka di pulau itu meskipun masih bersifat sepihak karena tak diketahui oleh kedua orang tua Reisa di Padang. Kini mereka berdua menjalani hubungan sebagaimana layaknya suami istri.

Sayangnya kebahagiaan mereka tak bertahan lama. Hanya dalam waktu sebulan, tiba-tiba Jonas mendapat surat panggilan untuk segera pulang ke Semarang. Ia tak diberi toleransi sama sekali untuk mengulurnya. Walaupun merasa berat hati karena masih menjalani manisnya madu perkawinan dengan Reisa di pulau itu, Jonas terpaksa mematuhinya. Tentu saja Reisa tak mungkin ikut ke Semarang. Di pulau ini ia sudah mempunyai tugas dan kewajiban sendiri. Lagipula apa kata kedua orang tuanya nanti jika tiba-tiba ia pindah ke Semarang?

Pada malam terakhirnya di pulau Mentawai, Jonas memberikan Reisa siraman batin yang sempurna. Berkali-kali ia menghantarkan Reisa ke puncak kepuasan sebagai wanita dewasa di atas peraduan mereka berdua. Di kamar itu hanya cahaya temaram lampu, deritan ranjang, dan desahan serta lenguhan keduanya yang menjadi saksi pergumulan dua insan yang tak lama lagi akan terpisah oleh jarak yang jauh.

Dalam kebisuan malam yang dingin dan tenang itu, hanya terdengar lenguhan Reisa dan Jonas yang masih berpacu dalan birahi. Beberapa kali Reisa melenguh histeris menerima sodokan kemaluan Jonas di dalam rahimnya.

Menjelang pagi mereka menyudahi persetubuhan itu dan tertidur dengan saling berpelukan. Keringat membasahi tubuh keduanya. Masih terlihat bercak-bercak merah gigitan Jonas di leher dan payudara Reisa. Begitu juga di tubuh Jonas terlihat bekas cakaran kuku Reisa saat mendapatkan orgasme.

***

Sore hari itu dengan diantar Reisa dan keluarga Pak Nurfea Sabaggalet, Jonas menaiki kapal yang akan membawanya ke Padang, untuk kemudian diteruskan ke Jakarta lalu Semarang. Entah kenapa, Reisa hari itu memilih mengenakan busana yang nyaris serba hitam. Kemeja lengan panjang dan kerudungnya berwarna hitam. Hanya celana panjangnya yang berwarna abu-abu.

Ada gurat kesedihan di mata kedua anak manusia itu karena akan berpisah. Seakan tak mau melepas kepergian Jonas, Reisa sempat menitikkan air matanya. Jonas sempat mencium lama bibir Reisa di depan Pak dan Bu Nur sebelum ia naik ke kapal. Tak lama kemudian kapal itu bergerak menjauh meninggalkan pelabuhan Tua Pejat menuju Pelabuhan Muaro Padang.

Setelah kapal tak terlihat lagi, Reisa dan kedua suami istri itu kembali pulang ke tempatnya. Reisa menumpang sebuah sepeda motor ojek. Sedang Bu Nur berboncengan dengan Pak Nur.

dr Reisa dalam Kostum Kerjanya

dr Reisa dalam Kostum Kerjanya

Kini selama di tempat tugasnya Reisa melewatkan hari-harinya dengan rasa sepi. Tak terlihat lagi rona keceriaan di wajahnya, Reisa seolah kehilangan belahan jiwanya selama ini. Untunglah dengan adanya alat komunikasi, Reisa sering bertelepon atau SMS dengan Jonas. Rutinitas kembali dijalaninya seperti biasa. Sebagai tenaga medis yang profesional ia tak boleh meninggalkan pekerjaannya.

Berangsur hari demi hari Reisa mulai bisa melupakan kegundahannya. Hanya jika ia dan Bu Nur masuk ke pedalaman tempat bekas Jonas biasa bertugas, maka rasa sedih akan muncul kembali, teringat akan kenangan indah bersama Jonas. Cuma hiburan dari Bu Nur yang akhirnya bisa membuat Reisa menerima keadaan. Reisa sering main ke rumah Bu Nur untuk sekedar mengisi waktunya yang lowong. Terkadang Reisa suka bermain-main dengan anak Bu Nur yang masih berusia 5 tahun itu.

Minggu demi minggu berlalu. SMS dan telepon dari Jonas pun sedikit demi sedikit mulai berkurang. Apalagi kini Jonas ditempatkan di pedalaman Pulau Sulawesi. Selain jarak yang semakin jauh, hubungan telekomunikasi pun semakin sulit. Reisa akhirnya hanya bisa pasrah. Belum tentu ia bisa bertemu kembali dengan Jonas walaupun hanya setahun sekali.

Di luar pengetahuan Reisa dan Jonas, yang menyebabkan perpisahan mereka sebenarnya adalah Pak Nurfea. Tindakan ini dilakukannya karena ia cemburu melihat hubungan mesra kedua anak manusia itu.

Selama ini Pak Nur melihat Reisa seperti seorang bidadari yang diturunkan di pulau itu untuk mengabdi di bidang kesehatan. Sejauh ini ia belum punya keberanian untuk sekedar berdekatan apalagi menggoda Reisa. Keadaan mulai berbalik sejak ia menyaksikan hubungan antara Reisa dan Jonas yang sudah terlalu jauh.

Pak Nur merasa sangat tak nyaman jika Jonas terlalu sering menginap di tempat Reisa. Tidak jarang jika Jonas sedang bermalam di tempat Reisa, Pak Nur berusaha untuk mengintip apa yang dilakukan pasangan itu di kamar berdua. Hatinya semakin panas ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa mereka berdua melakukan hubungan intim seperti layaknya suami istri. Apalagi Reisa jadi semakin akrab dengan Jonas setelah rutin diintimi pemuda NTT itu.

Rasa iri dan dengki Pak Nur mencapai puncaknya setelah ikatan Jonas dan Reisa disahkan secara kristiani, walaupun belum sah secara hukum negara maupun menurut agama yang dianut Reisa. Sejak itu Jonas semakin bebas bermalam dan berhubungan dengan dokter muda itu dan Pak Nur semakin sulit tidur di malam hari karena rasa cemburunya.

Akhirnya Pak Nur menyusun rencana tersembunyi dalam benaknya. Disuratinya pihak seminari di Semarang untuk mengganti Jonas dan menariknya ke Semarang. Dikarangnya cerita bohong yang didukung oleh sekumpulan masyarakat sekitar yang bisa dipengaruhinya. Betapa senangnya hati Pak Nur ketika Jonas akhirnya dipindahkan jauh dari Reisa. Satu langkah sudah sukses ditempuhnya. Kini tinggal melanjut ke langkah berikutnya!

***

Kini Reisa sudah bisa menerima kenyataan ditinggalkan Jonas meski tentu saja ia jadi kehilangan kenikmatan badani yang biasa diberikan kekasihnya itu. Untuk melupakan kebutuhan biologisnya yang sudah beberapa bulan tak terpenuhi, Reisa jadi semakin larut dalam rutinitasnya.

Hubungannya dengan keluarga Bu Nur pun semakin dekat. Hanya dengan merekalah Reisa secara rutin berhubungan dan berkomunikasi setiap hari. Bu Nur merasa kasihan melihat Reisa yang tinggal sendirian di rumahnya. Berhubung masih ada satu kamar kosong, Bu Nur sering meminta Reisa menginap di rumahnya. Bahkan akhirnya Reisa menaruh sebagian barang-barangnya di situ sehingga ia bisa sewaktu-waktu bermalam di rumah keluarga Bu Nur.

Pak Nur yang selama ini memang mempunyai maksud tersembunyi jadi semakin senang ketika Reisa sering bermalam di rumahnya. Apalagi Reisa memang selalu melepas kerudungnya jika berada di dalam rumah, termasuk di rumah keluarga Pak Nur. Bahkan di malam hari biasanya Reisa hanya mengenakan gaun tidur one-piece-nya yang berwarna terang dan menempel di kulit. Dalam gaun tidurnya, kedua paha beserta bahu dan kedua lengan Reisa yang putih tak tertutupi. Tak heran Pak Nur sangat doyan ngobrol semalaman bersama Reisa jika dokter cantik itu menginap di rumahnya.

Suatu ketika Pak Nur harus berangkat ke desa asalnya di pedalaman. Di sana akan diadakan pesta rakyat sehubungan dengan perayaan adat yang akan diadakan warganya. Sebagai salah seorang yang dituakan dalam adatnya, Pak Nur diharuskan hadir. Kebetulan Bu Nur tak bisa datang menyertai Pak Nur karena anaknya kurang sehat. Untuk pergi ke desa itu harus naik perahu menyusuri hutan bakau dan cukup lama. Bu Nur menyarankan agar Pak Nur mengajak Reisa saja yang saat itu kebetulan sedang tak ada kegiatan di Puskesmas. Reisa tak kuasa menolak ajakan orang yang sudah dia anggap orangtua di daerah itu.

Selama perjalanan perahu dikayuh oleh nelayan setempat dan Pak Nur duduk di belakang Reisa. Reisa amat takjub akan pemandangan hutan bakau yang masih asli dan kicau burung yang sering terdengar. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan dengan perahu, mereka sampai di desa asal Pak Nur. Mereka lalu mengemasi barang bawaannya dan bersiap menuju rumah Pak Nur.

Selama perjalanan ke rumah Pak Nur, tak henti-hentinya Reisa mengagumi keindahan alam desa tersebut. Ia amat terkesan akan suasana desa yang tenteram dan segar. Reisa bergumam dalam hati bahwa ia amat bersyukur bisa bertugas di desa itu sambil berlibur seperti ini.

Rumah Pak Nurfea di Pedalaman Mentawai

Rumah Pak Nurfea di Pedalaman Mentawai

Dengan berjalan kaki, sampailah mereka di rumah keluarga Pak Nur. Rumah panggung itu terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Di dalamnya ada beberapa kamar yang dibatasi papan seadanya. Setiba di rumahnya, Pak Nur disambut oleh saudara-saudaranya. Tak lupa Pak Nur mengenalkan Reisa pada mereka, meski Reisa tak mengerti bahasa mereka, namun ia dapat menangkap maksud dari kata-kata Pak Nur dan saudara-saurdaranya itu. Mereka lalu dipersilakan naik ke atas rumah panggung.

Reisa disediakan sebuah kamar tersendiri untuk beristirahat. Seorang wanita seusianya mengantarkan Reisa ke kamarnya. Reisa meletakkan tas ransel bawaannya di salah satu sudut kamar. Di dalam kamar ada satu dipan kayu yang cukup sederhana dan hanya beralaskan kain tebal. Namun saat Reisa mencoba duduk diatasnya, terasa cukup nyaman.

Dari dalam kamar Reisa dapat melihat ke sekitar rumah. Tak jauh dari rumah itu ada sebuah kandang babi yang hanya dipagari dengan bambu. Bagi masyarakat desa itu, babi adalah hewan ternak dan melambangkan status sosial mereka. Dilihatnya babi yang dimiliki Pak Nur cukup banyak, menandakan status sosial Pak Nur yang cukup tinggi di antara warganya.

Reisa keluar dari kamar dan duduk bersama-sama para wanita yang saat itu sedang mempersiapkan pesta untuk malam nanti. Ibu-ibu dan gadis-gadisnya sedang membuat bumbu masak juga menyediakan peralatan pesta. Sementara bapak-bapak dan pemuda sibuk menyiapkan alat-alat di lapangan tak jauh dari rumah panggung itu. Reisa tak melihat Pak Nur lagi.

Senja itu dimulailah acara pesta tersebut. Dengan mengenakan pakaian adatnya, mereka semua keluar rumah. Tua, muda, anak kecil, dewasa, semuanya larut dalam acara tersebut. Mereka memenuhi lapangan yang kini dipenuhi orang-orang yang akan melakukan ritual acara adat itu. Bunyi tetabuhan alat musik jelas terdengar.

Reisa keluar dari rumah untuk menyaksikan acara tersebut dari kejauhan. Sengaja Reisa tak mengenakan kerudungnya. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan tergerai bebas. Ia hanya mengenakan t-shirt polos berlengan pendek yang menempel ketat di tubuhnya beserta celana pendek, supaya tak nampak terlalu berbeda dengan masyarakat di sekitarnya yang juga berpakaian seadanya.

Kaum bapak pada umumnya hanya memakai secarik kain cawat menutupi selangkangan mereka. Berbagai kalung dan hiasan kepala tradisional menghiasi tubuh mereka yang dipenuhi tattoo dan tindikan.

Reisa tak ketinggalan melihat Pak Nurfea yang juga mengenakan pakaian adatnya. Diam-diam Reisa mengagumi tubuh Pak Nur yang tampak liat berotot dan dipenuhi tattoo dalam keadaan nyaris telanjang. Baru kali itu ia melihat tubuh Pak Nur hampir seutuhnya tanpa mengenakan pakaian. Fisiknya yang tua tidak tampak sebagai kelemahan, bahkan sebaliknya menyiratkan kewibawaan dan karisma yang tinggi. Diam-diam matanya tak lepas mengawasi Pak Nur yang sedang berada di tengah-tengah warganya.

Tarian Magis Mentawai

Tarian Magis Mentawai

Tari-tarian dimulai dengan semakin kerasnya suara tetabuhan. Semakin malam acara semakin terasa kental hawa magisnya. Sebagian warga lainnya sibuk dengan acara memanggang babi.

Para warga desa larut dengan hiburan dan acara ritual malam itu. Pak Nurfea lalu mendatangi Reisa dan mengajaknya untuk turun di dalam keramaian dan kegembiraan masyarakat. Sambil menarik tangan Reisa ke dalam arena tari-tarian, mereka membaur dengan sorak-sorai warga desa.

Puncak pesta malam itu adalah makan-makan. Para warga berebut makan babi panggang. Reisa tentu saja tak ikut serta, namun Pak Nur memberinya makanan lain.

Malam semakin larut dan acara pun berakhir. Reisa disarankan Pak Nur pulang ke rumah. Reisa menurut dan pulang sendiri ke rumah Pak Nur yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari pusat acara. Ia langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa letih karena ikut menari. Baru kali ini ia merasakan eksotisnya menari bersama warga pedalaman di tengah hutan belantara. Ia begitu larut dalam acara tersebut dan seperti merasakan kebebasan dari segala macam beban.

Di dalam rumah, ia tak melihat penghuni lain. Beberapa saat kemudian saat Reisa sudah terbaring di dipan di dalam kamarnya, ia mendengar suara Pak Nur masuk ke rumah. Ia bersama seorang perempuan. Tampaknya perempuan itu adalah salah seorang gadis yang tadi siang ikut menyiapkan acara. Reisa mulai bisa mengenali suaranya karena mereka sempat ngobrol cukup lama.

Reisa merasa heran kenapa gadis itu juga masuk ke kamar sebelah bersama Pak Nur. Terdengar suara mereka yang saling tertawa dan berbisik-bisik. Reisa jadi tak bisa tidur dan mau tak mau ikut mendengarkan suara-suara dari kamar sebelah karena suasana malam yang sudah sunyi. Beberapa saat kemudian, Resa mulai bisa mendengarkan dengusan dua orang yang akan melakukan hubungan badan. Suara-suara itu memancingnya untuk mengetahui lebih lanjut apa yang dilakukan Pak Nur dan wanita itu di kamar sebelah.

Melalui celah papan di dinding kamarnya, dengan dada yang berdebar Reisa mengintip yang dilakukan Pak Nur. Untunglah kamar Pak Nur diterangi lilin sehingga walaupun temaram, Reisa dapat melihat jelas apa yang terjadi. Tampak tubuh Pak Nur yang meski tak muda lagi itu, sudah telanjang bulat, begitu juga dengan wanita itu. Mereka sama-sama bugil. Reisa semakin yakin bahwa gadis yang di kamar Pak Nur saat itu adalah wanita yang siang tadi bersamanya dan bahkan mengobrol akrab dengannya.

Dengan berdebar-debar, Reisa mengintip kelakuan dua orang berlainan jenis itu di kamar. Disaksikannya kedua tubuh telanjang itu akhirnya melakukan hubungan badan. Reisa sempat tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Apa mungkin Pak Nur yang ia nilai amat setia dengan bu Nur sampai melakukan hubungan seks dengan perempuan lain? Apa yang dilihatnya saat itu bukanlah mimpi? Sempat Reisa mencubit pipinya meyakinkan dirinya tentang apa yang dilihatnya saat itu. Ia tidak mimpi! Dengan jelas Reisa menyaksikan hubungan kelamin kedua orang di kamar sebelahnya.

Reisa bisa melihat dengan jelas saat Pak Nurfea memegang kemaluannya yang cukup perkasa itu akan memasuki liang kelamin wanita yang kini berada di bawahnya. Dada Reisa semakin tak kuat menyaksikan semua itu. Ia menjauh dan merebahkan dirinya di dipan kayu.

Reisa tak mampu memejamkan matanya, apalagi suara-suara persebadanan dua orang berbeda jenis dan usia itu amat mengganggu naluri kewanitaannya. Reisa jadi ingat saat-saat ia melakukan hubungan badan dengan Jonas dulu yang kini sudah tak bisa ia dapatkan lagi. Ia ingin merasakan kembali saat-saat indah bersama Jonas dulu. Ia rindu akan siraman untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Khayalan Reisa terhenti karena mendengar suara dengus dan jeritan orgasme si wanita yang berbarengan dengan suara Pak Nurfea. Reisa merasa menggigil jika membayangkan hal itu terjadi lagi pada dirinya. Dada Reisa terasa ikut berdebar-debar dan nafasnya ikut terengah-engah karena hasratnya yang ikut terangkat. Dari suara wanita itu, ia dapat tahu bahwa si wanita telah orgasme dan disusul oleh Pak Nur. Kemudian suara diam dan hanya deru nafas kedua manusia di kamar sebelah.

Suasana diam malam itu hanya sebentar, tak lama kemudian Reisa mendengar kembali kegiatan kedua manusia itu. Reisa merasa heran kenapa Pak Nur masih saja kuat untuk melakukan hubungan seks kembali. Bukankah barusan ia sudah klimaks. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Namun ia tak mendapatkan jawaban yang cukup karena suara-suara di kamar sebelahnya kembali menganggu pikirannya.

Kembali terdengar suara derit dipan kayu dan dengus keduanya. Kini tak hanya dengus namun suara pertemuan kedua paha yang besentuhan semakin jelas. Reisa tak terlalu sulit menelaah apa yang terjadi di sebelah kamarnya saat itu, sebab ia juga pernah melakukan itu dulu bersama Jonas. Reisa cuma semakin heran dengan suara-suara nafas Pak Nur yang semakin kuat dan goyangan dipan yang seakan mau patah. Betapa besarnya nafsu seks Pak Nur! Reisa tak sampai hati membayangkan apa yang terjadi pada gadis itu. Ia tahu persis bagaimana sosok gadis yang sedang disenggamai Pak Nur. Gadis itu terbilang masih muda dan jauh sekali jarak usianya dan Pak Nur.

Pak Nurfea Sabaggalet dengan Kostum Adatnya

Pak Nurfea Sabaggalet dengan Kostum Adatnya

Reisa tak habis pikir kenapa orang tua gadis itu mengizinkan anaknya bersebadan dengan Pak Nur yang memang sudah tua dan berpengalaman. Apakah karena Pak Nur adalah seorang yang dituakan dan terpandang di tengah masyarakatnya sehingga bersetubuh dengan Pak Nur bisa dianggap sebagai sebuah kehormatan? Apakah ini tradisi biasa di sini?

Sayup-sayup terdengar suara si gadis yang merengek minta ampun dan berhenti agar Pak Nur tak lagi menggagahinya. Tampaknya Pak Nur tak mempedulikannya. Suara deritan dipan dan lenguhan nafas Pak Nur terus terdengar. Semakin lama suara wanita itu semakin melemah dan nyaris tak terdengar lagi. Yang kini terdengar hanya suara Pak Nur yang masih terus berpacu dengan deritan dipan. Apakah gadis itu tak sadarkan diri?

Suara deritan dipan tak kunjung berhenti, seolah digerakkan secara teratur oleh mesin. Reisa mulai tak sabar menunggu suara itu berakhir. Beberapa saat kemudian, suara nafas berat Pak Nur terdengar semakin mengeras. Akhirnya terdengar geraman suara Pak Nur. Tampaknya ia sedang mencapai puncaknya. Selanjutnya sepi, tak ada bunyi apa pun yang terdengar lagi. Reisa berusaha mengintip kembali.

Ia dapat melihat dengan jelas si wanita telah tergolek mengangkang sedangkan Pak Nur yang berada di atasnya berusaha menarik kemaluannya dari liang wanita itu. Reisa juga menyaksikan benda milik Pak Nur masih saja tegak walaupun sudah klimaks di dalam liang rahim wanita itu. Lalu Pak Nur merebahkan tubuhnya di samping wanita itu. Reisa kembali ke dipannya dan merebahkan diri. Di tengah kepenatan dan berbagai pikiran yang berkecamuk, Reisa akhirnya tertidur.

***

Suara kokok ayam dan dinginnya udara pagi membangunkan Reisa dari tidurnya. Pagi itu Reisa bangun dan membuka jendela kamarnya. Tampak di luar rumah Pak Nur sedang melihat-lihat babi peliharaannya. Sambil memberi aba-aba dengan tangannya, Pak Nur memanggil Reisa agar ikut bersamanya. Reisa merapikan dipannya dan mengambil sabun juga sikat gigi berikut odol. Reisa tak menemukan orang lain di rumah itu namun ia turun juga dari rumah dan menuju Pak Nur.

Reisa menanyakan kamar mandi untuknya membersihkan badan. Pak Nur bilang di situ hanya ada sebuah tempat mandi di sungai. Sambil menunjukkan arahnya, Pak Nur menemani Reisa. Ternyata sungai itu terletak tepat di belakang rumah Pak Nur. Tampak air sungai amat jernih dan bening. Reisa lalu menggosok giginya dengan sikat gigi yang ia bawa. Sungai itu biasa digunakan masyarakat setempat untuk mencuci dan mandi. Tempat mandinya ditutupi oleh dinding bambu.

Setelah membersihkan mulut dan cuci muka, Reisa berlalu bersama Pak Nur ke rumah. Reisa agak terkejut karena di lantai telah tersedia makanan. Tampak wanita yang malam tadi bersebadan dengan Pak Nur sedang menyiapkan makanan. Wajahnya cukup manis dengan badan yang sedikit lebih pendek dari Reisa. Usianya paling tidak 5 tahun lebih muda dari Reisa. Jalannya pagi itu tampak sedikit pincang. Reisa maklum karena tahu ia telah dikerjai Pak Nur dengan hebatnya semalam. Rupanya di rumah itu hanya ada mereka bertiga.

Setelah semuanya tersaji, gadis itu, yang belakangan diketahui Reisa bernama Yuli, mempersilakan mereka makan. Reisa hanya makan nasi yang berlaukkan ikan, sebab di antara sajian itu ia yakin ada daging babinya. Pak Nur makan dengan lahap, berbeda dengan Reisa yang makan untuk menganjal perutnya saja. Selesai makan, gadis tadi dipanggil Pak Nur untuk membereskan makanan yang tersaji.

Reisa beranjak ke tempat lain di rumah panggung itu. Sedang Pak Nur masih memandang keluar rumah melalui jendela. Pak Nur bertanya kepada Reisa tentang suasana alam desanya. Reisa menjawab bahwa ia amat senang tinggal di desa itu.

Sampai menjelang siang tak banyak kegiatan yang bisa mereka lakukan. Sinyal HP tidak ada di desa Pak Nur itu. Pak Nur lalu mengajak Reisa untuk berjalan untuk melihat-lihat ladang yang dimiliki keluarga Pak Nur. Reisa setuju saja sebab mereka sudah harus kembali ke tempatnya keesokan harinya.

Siang itu, Reisa dan Pak Nur menyusuri hutan menuju ladang milik Pak Nur. Tak jauh memang dari kampung itu. Masih di tengah hutan yang masih penuh oleh pohon-pohon yang lebat. Ladang Pak Nur amat luas dan ditumbuhi aneka macam tanaman seperti kacang-kacangan, lada, juga sayuran. Pak Nur mengatakan bahwa tak lama lagi ia akan panen. Reisa semakin salut dan simpatik karena Pak Nur dapat memanfaatkan lahan yang ia miliki untuk menambah pendapatannya. Jadi selama ini jika tak ada kesibukan Pak Nur selalu ke desanya untuk melihat-lihat ladangnya.

Setelah capai berjalan-jalan, Pak Nur mengajak Reisa singgah di sebuah gubuk yang biasa digunakan untuk beristirahat atau terkadang untuk bermalam jika menjaga ladang di malam hari. Di dalam gubuknya, Pak Nur juga menyediakan sebuah dipan dari rotan. Reisa suka sekali dengan suasana di tengah ladang itu. Suasananya yang tenang dan alami membuat nyaman pikirannya. Reisa menghenyakkan pantatnya di dipan itu.

Pak Nur sendiri mencari kelapa muda yang memang sudah mulai banyak di ladang itu. Ia membawa dua buah kelapa muda sebagai pelepas dahaga mereka. Dengan golok yang dibawa Pak Nur, kelapa itu ia kupas dan keluarkan airnya. Satunya di berikan pada Reisa sedangkan yang satunya lagi ia minum sendiri.

Hawa angin sejuk yang membelai kulitnya membuat Reisa merasa ngantuk. Di samping karena tadi malam ia terlambat tidur akibatgangguan dari sebelah kamarnya. Pak Nur lalu menyuruh Reisa untuk istirahat. Pak Nur sendiri pergi ke ladang lagi untuk mengatapel burung untuk makan malam.

Reisa lalu rebahan di dipan kayu itu sementara Pak Nur keluar pondok untuk mulai mencari burung. Di tengah tidurnya Reisa tak sadar bahwa cuaca mulai mendung dan akan turun hujan. Tanpa disadarinya, gerimis mulai turun dan hujan turun semakin deras.

Reisa terbangun karena ada suara hujan dan hawa dingin yang menerpa tubuhnya. Ia tak menemukan Pak Nur padahal jam di arlojinya menunjukkan jam 5 sore. Mereka harus segera kembali ke rumah Pak Nur.

Tak lama kemudian Pak Nur muncul dengan basah kuyup sambil membawa beberapa ekor burung hasil buruannya. Pria itu masuk pondok dan melepaskan bajunya yang basah. Bajunya ia jemur di tali yang berada di serambi pondok. Ia masuk ke pondok. Didapatinya Reisa sudah bangun dan duduk di tepi dipan. Dengan masih bertelanjang dada Pak Nur bertanya pada Reisa.

“Dik Reisa… Apa kita pulang sekarang saja atau tunggu hujan berhenti?”

“Nanti saja Pak, biar hujannya reda dulu,” jawab dokter muda itu.

Akhirnya Pak Nur kembali keluar pondok. Sambil menunggu hujan reda, ia membersihkan burung hasil tangkapannya dengan pisau dan dicucinya dengan air hujan.

Burung-burung hasil tangkapannya telah dibersihkan dan siap untuk dimasaknya. Setelah dibersihkan burung burung itu diikatnya dan digantung di atap pondok rumbia itu. Reisa asik memperhatikan Pak Nur yang dengan cekatan membersihkan hewan tangkapannya itu. Lalu Pak Nur masuk ke pondok, karena hujan kembali datang dengan disertai angin kencang. Reisa telah lebih dahulu masuk dan duduk di atas dipan. Pak Nur lalu duduk di samping Reisa. Ia menggerutu karena hujan belum juga reda padahal ia ingin sekali membakar burung itu.

Hawa dingin dan hujan membuat kedua tubuh anak manusia itu semakin didera rasa dingin yang amat sangat. Pak Nur yang tidak memakai baju karena bajunya basah berusaha merapatkan tubuhnya ke tubuh Reisa. Dengan sedikit penolakan dari Reisa Pak Nur tak merapatkan diri lagi. Ia hanya menyilangkan kedua tangannya di dadanya karena dingin.

Pak Nur akhirnya berdiri menutupkan kain lusuh yang menutupi jendela sebab air hujan masuk juga melalui jendela itu. Setelah menutup jendela, Pak Nur kembali ke samping Reisa. Sambil berkata pada Reisa bagaimana jika mereka pulang saja sebab hujan seperti tak akan berhenti dalam waktu dekat dan mereka bisa terjebak semalaman di dalam pondok. Reisa masih diam memandang ke arah Pak Nur. Ia meminta agar menunggu beberapa waktu lagi.

Waktu sekarang telah menunjukkan pukul 6 sore. Hutan semakin gelap dan hujan tetap tak reda sedikitpun. Pondok seolah mau roboh oleh angin kencang. Akhirnya Pak Nur dan Reisa sepakat untuk berusaha pulang dengan menerobos derasnya hujan. Dengan memegang tangan Reisa, Pak Nur lalu keluar pondok.

Tubuh keduanya semakin basah kuyup oleh siraman hujan di hutan itu. Ternyata hujan malah semakin deras. Petir menyambar sebuah pohon di dekat mereka dan mengagetkan keduanya. Rasa dingin dan cemas akan kondisi cuaca yang buruk membuat keduanya semakin merapat dan tak memperdulikan dengan siapa mereka bersama. Reisa tak lagi malu merapatkan tubuhnya pada tubuh Pak Nur, begitu juga sebaliknya. Pak Nur dapat dengan nyata merasakan sentuhan tubuh Reisa dan tonjolan kedua payudaranya. Dalam suasana seperti itu kembali mereka melanjutkan perjalanan sambil berangkulan takut terjatuh karena jalanan setapak yang licin.

Perjalanan menuju rumah Pak Nur masih jauh. Di tengah jalan mereka menemukan sebuah tempat yang terlindung dari hujan di antara kaki bukit dalam hutan itu. Karena perjalanan masih jauh sementara mereka sudah basah kuyup dan capai, keduanya sepakat untuk berteduh sejenak. Meskipun tak terlalu luas namun cukup untuk mereka berdua berteduh dari hujan yang semakin deras.

Mereka masuk ke dalam celah batuan yang menyerupai goa itu untuk berteduh. Pak Nur meletakkan tas yang berisi hewan buruannya tadi. Lalu tanpa merasa sungkan sedikitpun, ia melepaskan baju dan celananya yang basah kuyup oleh hujan sehingga kini ia telanjang bulat. Reisa spontan merasa malu melihat keadaan Pak Nur. Ia hanya melengoskan wajahnya ke arah lain.

Pak Nur berkata pada Reisa agar mengeringkan bajunya agar tak sakit nantinya. Reisa merasa malu untuk melepas busananya, apalagi saat itu ada pria asing. Pak Nur mengingatkan Reisa untuk tak perlu malu padanya sebab kesehatan lebih penting. Saat itu seluruh bajunya sudah basah semua. Reisa sempat merasa malu karena dialah yang dokter dan seharusnya lebih memperhatikan masalah kesehatan.

Seakan mengerti, Pak Nur lalu berusaha mencari tempat lain agar Reisa tak merasa dilihat olehnya. Reisa masih merasa tak enak hati jika harus bugil di depan Pak Nur.

Setelah merasa aman dari pandangan Pak Nur, secara perlahan Reisa melepaskan kerudungnya, lalu busana atasnya, juga kaos dalam yang selalu ia pakai. Kini tinggal BH putihnya yang tersisa pada bagian atas tubuhnya. Terlihat belahan dadanya yang putih dan mulus itu basah oleh hujan. Reisa lalu menjemur kerudung dan bajunya dengan meletakkannya di atas batu yang masih kering dalam goa itu.

Pak Nur tanpa sepengetahuan Reisa sebenarnya masih memperhatikan tubuh Reisa dari jauh. Ia amat menikmati menonton Reisa melepaskan pakaiannya satu per satu dan melihat putih dan halusnya kulit tubuh Reisa yang sepanjang hari ini tertutup rapat. Tubuh putih itu lalu melepas celana panjangnya dan tinggal tersisa celana dalamnya. Celana panjangnya ia jemur dekat baju atasannya. Kini Reisa hanya memakai celana dalam dan bra. Dengan kedua tangannya ia tutupi benda kenyal miliknya itu dengan rapat karena ia masih merasa malu kepada Pak Nur.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Pak Nur mendekatinya. Reisa terlihat kaget dan makin merapatkan silangan di dadanya.

Pak Nur mencoba ngobrol dengan Reisa dalam usahanya memberikan Reisa rasa tenang dan nyaman.

Reisa masih diam saja. Kondisi tubuhnya tak memungkinkan ia bergerak banyak sebab akan membuat bagian-bagain vital dari tubuhnya terlihat. Pak Nur mengajak Reisa berbincang-bincang mengenai hubungan Reisa dan Jonas. Reisa menjawab kalau ia sudah lama tak kontak lagi dengan Jonas yang mungkin sudah melupakannya. Emosi Reisa terpancing oleh kata-kata Pak Nur.

Tanpa ia sadari Pak Nur semakin mendekat ke tubuhnya yang tidak mengenakan baju. Dibantu oleh situasi saat itu, kedua tubuh anak manusia itu akhirnya saling bersentuhan dan merapat, seolah berbagi kehangatan yang tersisa di tubuh mereka. Di samping itu Pak Nur sengaja bercakap pelan-pelan di tengah hujan yang sangat lebat itu sehingga mau tak mau mereka berdua harus saling berdekatan ketika berbicara.

Reisa semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Pak Nur. Secara biologis ia memang merindukan kedekatan secara fisik dengan seorang laki-laki. Pak Nur tak melewatkan kesempatan itu, dia tahu apa yang harus ia perbuat pada perempuan bertubuh sintal dan mulus itu.

Pak Nur merebahkan kepala Reisa di bahunya untuk membuatnya merasa nyaman. Reisa pun mengikuti saja bimbingan tangan Pak Nur. Ia lalu rebah di bahu Pak Nur dan memicingkan matanya yang ia rasakan semakin didera rasa ngantuk. Sentuhan kulit dengan kulit antara keduanya memberikan rasa hangat dan tenang.

Tangan Pak Nur meraih jemari Reisa dan meremasnya ingin memberikan kehangatan genggaman pada Reisa. Reisa rela saja menerimanya. Ia pun menyambut genggaman jari tangan kasar milik Pak Nur.

Pak Nur merasa sangat senang begitu tahu Reisa tak menolak genggaman tangannya. Ia lalu menghembuskan hawa nafasnya yang hangat ke balik telinga Reisa. Rasa hangat dan geli dirasakan Reisa. Ia semakin menggenggam erat tangan Pak Nur. Kini Reisa pasrah di pelukan laki-laki seusia ayahnya. Tubuh Pak Nur merasakan dengan nyata detak jantung Reisa yang semakin kencang, apalagi mereka tak dibatasi oleh pakaian apa pun. Kini kulit kedua manusia berlainan jenis dan usia yang jauh itu semakin menempel erat. Rasa hangat yang terasa di antara mereka mulai mampu memercikkan gairah dan birahi yang semakin nyata.

Pak Nur semakin berani melakukan rangsangan seksual secara langsung ke tubuh Reisa. Tanpa malu Pak Nur mulai menciumi pipi dan balik telinga Reisa. Reisa tak menolak perlakuan Pak Nur kepadanya. Reisa hanya membutuhkan kehangatan seorang lelaki yang terasa nyata di sekujur tubuhnya dari tubuh Pak Nur.

Perlahan Pak Nur mengendurkan genggamannya dan jarinya mulai merayap ke arah payudara Reisa yang saat itu hanya tertutup BH. Tangan Pak Nur berusaha melepaskan silangan tangan Reisa. Untungnya tak ada penolakan yang berarti dari Reisa. Kini jari-jemari Pak Nur dengan bebasnya meraba dan meremasi kedua bukit kembar Reisa yang masih tertutup BH. Seakan memiliki mata, jari pak Nur melepaskan cup penutup puting BH yang dikenakan Reisa. BH itu kini terbuka namun masih berada di dada yang putih mulus itu. Jari-jari Pak Nur tak henti-hentinya melilin dan meremas kedua bukit salju yang indah menawan itu.

Perbuatan Pak Nur itu membuat Reisa semakin terpuruk ke jurang birahi yang tak sanggup diungkap dengan kata-kata. Kesempatan itu tak disia-siakan Pak Nur dengan menurunkan wajahnya untuk mengemut dan menjilat kedua bukit kembar yang empuk dan montok itu. Reisa tak mampu melihat perbuatan Pak Nur saat itu. Pikiran sehatnya tak bekerja dengan baik dan malah cenderung menuntunnya untuk menerima dan membalas rabaan dan jilatan Pak Nur tersebut.

Puas di wilayah dada Reisa, perlahan tapi pasti tangan Pak Nur terus turun ke arah selangkangan Reisa yang masih mengenakan celana dalam. Sambil memeluk tubuh Reisa, tangan Pak Nur yang satu lagi langsung masuk ke arah titik intim di tubuh gadis itu. Jari-jari kasar pria setengah baya itu masuk di celah lepitan kelamin Reisa. Jari-jari itu terus masuk di celah itu hingga menemukan daging kecil yang terletak diantara celah kelamin Reisa. Reisa seolah kembali menemukan kenikmatan yang sudah tak ia dapatkan sejak Jonas pergi. Dokter muda itu hanya mampu menerima perlakuan Pak Nur pada tubuhnya dengan memejamkan matanya. Tubuhnya kini sudah di tuntun sepenuhnya oleh Pak Nur. Tak memakan waktu lama bagi Reisa untuk mendapatkan orgasme melalui tangan Pak Nur. Diraihnya kepala Pak Nur yang saat itu sedang berada di belahan dadanya.

Setelah merasakan orgasme yang datang, Pak Nur berupaya melepas celana dalam Reisa. Setelah semuanya terlepas dari pemiliknya tubuh Reisa sudah tak tertutup selembar benang pun. Pak Nur sangat takjub melihat tubuh mulus dan menggairahkan itu yang kini terpampang nyata di depannya. Tubuh dokter muda itu kini tak berdaya dan pasrah menerima yang akan dilakukan si pria setengah baya.

Pak Nur lalu menurunkan wajahnya ke celah yang masih basah oleh cairan orgasme Reisa. Mulutnya melata mencari liang yang selama ini amat ia inginkan. Kembali kesadaran Reisa pulih saat lidah kesat itu perlahan masuk di celah kemaluannya. Rasa geli dan sengatan birahi membuatnya semakin tak mampu menahan laju gairah Pak Nur. Kedua kakinya ia rapatkan agar kepala Pak Nur menjauh dari celah intimnya itu. Namun semuanya percuma. Ketika ia merasakan adanya gejolak dari dalam tubuhnya, tubuhnya seakan merestui perbuatan Pak Nur itu.

Bahasa tubuh Reisa mampu mengalahkan pemberontakan akal sehatnya yang mulai pulih ketika itu. Tak lama memang Reisa merasakan kembali meledakkan cairan di pusat kewanitaanya itu. Liang kemaluannya mengeluarkan cairan pertanda ia sudah mendapatkan orgasme untuk kedua kalinya.

Pak Nur masih sibuk menjilati liang yang kini basah oleh cairan cinta Reisa. Dengan lahap dan tanpa jijik, ia telan lendir yang keluar dari celah kelamin Reisa. Reisa kembali merasakan tubuhnya lemah total dan tak mampu bergerak.

Saat itu hujan sudah berhenti. Pak Nur melepaskan tubuh Reisa dari dempetannya lalu mengambil pakaian Reisa dan menyerahkan pada dokter itu. Ia menyuruh Reisa untuk cepat berbenah agar secepatnya bisa sampai di rumah.

Dengan muka sedikit merah karena malu, Reisa mengenakan kembali pakaiannya. Ia tak mampu memandang kepada Pak Nur karena kini ia sudah merasakan kenikmatan dari laki-laki paruh baya itu. Meskipun mereka belum melakukan hubungan kelamin tapi Reisa sadar kalau ini hanyalah awal. Pada dasarnya tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan dari Pak Nur setelah mereka menjalani saat-saat intim tadi.

Selama perjalanan mereka diam membisu. Tak lama mereka sudah sampai di rumah panggung Pak Nur. Reisa disarankan Pak Nur untuk mandi membersihkan tubuhnya dari perbuatan mereka di goa tadi.

Reisa berjalan ke arah kamar mandi yang terbuat dari bambu itu. Setelah selesai ia menaiki rumah dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Pak Nur sendiri membersihkan burung yang ia buru di ladangnya tadi dan memasaknya.

Malam itu mereka berdua saja makan di lantai. Yuli yang juga ada di rumah itu makan sendiri di belakang. Dengan demikian Pak Nur bisa bebas ngobrol dengan Reisa sampai ke hal-hal yang bersifat pribadi. Setelah mereka selesai, barulah Yuli datang untuk membereskan.

Cahaya lampu di dinding semakin menambah kesan romantis malam itu. Reisa tak melihat Yuli lagi, entah ke mana perginya gadis itu. Pak Nur mendekat ke arah duduk Reisa. Sambil meraih jemari Reisa, ia menarik tangan wanita itu ke bibirnya dan diciumnya.

Reisa awalnya berusaha menolak cumbuan itu, namun Pak Nur terus berkeras. Di samping itu, Reisa sadar kalau ia tak bisa berpura-pura lagi di hadapan Pak Nur. Laki-laki tua itu sudah membuatnya orgasme sore tadi. Mereka sudah tahu sama tahu kalau mereka saling membutuhkan secara ragawi. Pak Nur menarik tubuh Reisa ke pelukannya. Reisa tak bisa menahan tarikan itu hingga tubuhnya kembali rebah di dalam pelukan Pak Nur.

Dengan gencar Pak Nur mengulum bibir tipis milik Reisa. Reisa seakan tak mampu bernafas. Ciuman Pak Nur membuatnya semakin tak mampu lepas dari belitan tangan Pak Nur. Reisa hanya menurut dan membalas ciuman orang yang cukup ia segani dan menjadi tempat berlindungnya itu. Belitan lidah Pak Nur mampu membakar birahi Reisa. Apalagi tangan Pak Nur ikut juga meraba dada Reisa yang masih terbungkus pakaian tidur. Jari-jari itu kembali menggerayangi bukit kembar milik Reisa. Wanita itu menerima semuanya tanpa penolakan sedikitpun karena telah sekian lama ia gersang tak merasakan kenikmatan hubungan biologis lagi.

Pak Nur menghentikan tindakannya itu. Pakaian Reisa sempat acak-acakan. Sambil bangun dari duduk, Pak Nur menarik tubuh Reisa agar berdiri mengikutinya. Kemudian Reisa digiringnya masuk ke kamarnya. Reisa sadar ia akan diperlakukan Pak Nur seperti gadis yang kemarin ia intip.

Sampai di dalam kamar, Pak Nur melepaskan genggaman pada Reisa yang masih berdiri mematung memandangnya. Pak Nur menutup pintu kamar. Reisa lalu diajak ke tepian ranjang kayu milik Pak Nur. Ranjang itu hanya beralaskan tikar pandan namun terasa amat hangat. Saat berhadap-hadapan dengan Pak Nur, Reisa tak mampu memandangnya.

Bak seorang pengantin baru, Pak Nur menciumi bibir Reisa beberapa saat. Reisa hanya menerima dengan pasrah. Kemudian Pak Nur melepaskan satu per satu kancing piyama Reisa hingga lepas dan tinggal BH saja. Kemudian BH itu ia lepaskan dan kini dada mulus milik Reisa terpampang di muka Pak Nur. Dada Reisa masih kencang dan montok, di lehernya teruntai kalung emas yang amat serasi dengan kulit pemiliknya yang putih.

Seperti seorang bayi dewasa, Pak Nur kembali menetek pada dada Reisa yang kini semakin mengeras oleh gerakan mulut Pak Nur. Reisa semakin tenggelam oleh samudera birahinya sendiri. Kedua tangan Pak Nur menahan bahu Reisa agar ia dapat memilin dan memberi cupangan di dada mulus itu. Pria itu lalu merebahkan tubuh Reisa di dipannya.

Ia lalu celana dalam itu dari tubuh pemiliknya. Sama sekali tak sulit karena Reisa tak menolak, bahkan sangat bekerja sama. Tampaknya ia juga ingin melakukan hubungan seks bersama laki-laki tua itu. Kini tubuh dokter itu sudah polos seperti bayi dewasa yang butuh belaian dari laki-laki dewasa.

Pak Nur pun tak mau kalah. Melihat tubuh yang selama ini menjadi khayalannya itu berada di depannya dan siap untuk disetubuhinya, ia lantas juga melepas semua pakaiannya hingga tak tersisa. Dengan bangga Pak Nur ingin agar Reisa merasakan benda miliknya yang sudah banyak makan korban itu. Dibimbingnya tangan Reisa untuk mengusap dan membelai batang kelaminnya yang tegak seperti sebatang kayu. Reisa melakukannya sambil tersipu.

Memang Pak Nur bukanlah orang sembarangan. Dari luar orang hanya tahu ia adalah laki-laki tua yang bertugas di pulau itu dan memiliki seorang istri. Namun semua itu adalah karena kepintarannya menutupi yang sebenarnya. Pak Nur yang saat itu sudah berusia sekitar 50 tahun sudah banyak mengambil korban wanita. Sejak berusia 18 tahun ia telah mencoba berbagai macam wanita untuk ditidurinya. Tak peduli apakah itu anak gadis orang, juga istri orang yang bertugas di pulau itu, juga ada guru yang kini sudah pindah, kadang turis bule yang sering datang ke pulau itu pun ia nikmati. Menaklukkan Reisa bukanlah pekerjaan yang besar baginya.

Bu Nur sendiri sudah tahu betul dan mafhum dengan kelakuan suaminya itu. Memang saat ia dinikahi sekitar 25 tahun yang lalu, Pak Nur sudah terkenal dengan reputasinya sebagai penakluk wanita. Apalagi Pak Nur memang keturunan ketua adat yang secara tradisional memang dianggap memiliki hak lebih dalam hal wanita. Bu Nur sama sekali tak keberatan selama dia tetap sebagai satu-satunya istri Pak Nurfea yang dianggap sah oleh gereja. Wanita yang lainnya tak lebih daripada sekedar gundik Pak Nur, seperti halnya Reisa sekarang ini.

Berbekal pengalamannya selama ini, Pak Nur mulai membakar birahi Reisa. Dokter cantik itu hanya merem merasakan birahinya yang membara disulut Pak Nur. Sekujur tubuh Reisa kini sedang dijilat bibir kasar laki-laki itu, tanpa melewatkan sedikitpun bagian-bagian yang tersembunyi di tubuh dokter itu. Reisa merasakan dirinya semakin terbang di awang-awang, berbeda saat ia mengalaminya bersama Jonas dulu.

Pak Nur lalu membuka kedua paha Reisa yang terlihat mulai basah oleh keringatnya. Butir-butir peluh di paha itu membuat Pak Nur semakin yakin Reisa sudah bisa disetubuhi. Pak Nur kembali menjilat payudara Reisa dan sesekali mengigit putingnya. Kemudian lidahnya turun ke arah lepitan liang kelamin dokter itu. Lidah Pak Nur dengan lancar masuk liang sempit itu meski sudah tak perawan lagi namun Pak Nur masih merasakan jepitannya masih mampu membuat lidahnya tak bebas didalamnya. Reisa semakin terbang di awang-awang merasakan tubuhnya semakin tak kuasa menahan birahinya.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang akan keluar dari liang kemaluannya. Memang kini ia sudah orgasme, cairan kewanitaanya dihisap Pak Nur dengan lahap. Reisa semakin tak berdaya, tubuhnya lemah merasakan orgasme itu. Selesai melahap semua cairan yang keluar dari liang Reisa, Pak Nur memposisikan diri di antara kedua paha jenjang itu. Tak sulit memang, apalagi saat itu Reisa sudah telentang meresapi kenikmatan yang baru ia rasakan.

Pak Nur sadar ia harus kembali memancing gairah Reisa jika ingin menyenggamainya. Perlahan Pak Nur meraba dan memilin kedua payudara yang sudah licin karena keringat sang pemiliknya. Tak lupa Pak Nur mengulum lidah Reisa dan membelitnya. Reisa yang semula hanya pasif merasakan tubuhnya kembali ingin mengikuti kelakuan Pak Nur. Lidah Reisa kini pun membelit lidah Pak Nur. Kedua tubuh bugil itu kini sudah bercampur dan tak dibatasi apapun. Keringat keduanya semakin larut di kulit masing-masing.

Reisa kembali terbakar birahi dan siap melakukan apa yang diingini Pak Nur. Reisa tak lagi merasakan kuatir terhadap apa yang kemarin ia intip. Pak Nur membuka kedua paha Reisa dan membukanya. Kedua paha Reisa dilipatkan keatas agar gampang ia masuki. Kini tubuh pak Pak Nur sudah sejajar lalu berupaya masuk. Reisa tak mampu melihat usaha Pak Nur yang mulai memasuki dirinya itu. Kepala kemaluan Pak Nur perlahan masuk bertahap. Mungkin karena amat besar dan panjang namun Reisa merasakan sedikit geli dan gatal bercampur ngilu. Pak Nur memberi sensasi tersendiri pada Reisa.

Pertemuan alat kelamin mereka mampu membuat Reisa dapat menerima Pak Nur. Pak Nur ingin merasakan kehangatan yang di berikan lipatan kemaluan Reisa. Perlahan meretas jalan hingga semua batang kokohnya amblas. Reisa masih menutupkan matanya. Pak Nur tak menarik kemaluannya dari liang yang masih ia rasakan sempit itu. Kini ia dapat merasakan detak jantung Reisa dan juga nafas berat Reisa dari dekat apalagi mereka telah menyatu. Pak Nur memandang wajah cantik Reisa dari dekat dan dalam hati amat mengaguminya. Ia tak menduga akan dapat merasakan tubuh dokter itu. Nafas berat Reisa membuat Pak Nur semakin dalam merasakan bahwa Reisa sudah bisa menerima dirinya seutuhnya.

Bahu, dada, dan leher Reisa yang jenjang sudah basah oleh keringatnya sendiri. Pak Nur menarik pinggulnya perlahan lalu maju menusuk ke celah sempit itu. Reisa merasa ngilu di kemaluannya semakin hilang. Ia malah merasakan amat nyaman berada di dekapan Pak Nur. Kemudian Pak Nur secara berulang memajumundurkan kemaluannya kedalam vagina wanita itu.

Masih menutupkan matanya, Reisa menggigit bibir bawahnya merasakan nikmat hubungan saat itu. Hujaman Pak Nur amat berbeda dengan yang ia rasakan bersama Jonas dulu. Kedewasaan dan pengalaman Pak Nur yang mampu mengontrol emosi membuat Reisa nyaman menikmati persebadanan itu. Kedua tangan Reisa meraih lengan Pak Nur yang kini semakin intens bergerak memberinya kenikmatan. Juga kedua payudaranya bergerak naik turun. Payudara montok Reisa terlihat sangat indah saat itu apalagi saat basah oleh keringatnya. Reisa merasakan kembali orgasme dan mencengkram lengan Pak Nur dengan keras.

Pak Nur tahu Reisa telah mencapai kenikmatan, namun ia masih belum apa-apa. Pria itu memang amat pintar mengatur tempo persenggamaan. Sampai saat itu Pak Nur masih belum klimaks, padahal Reisa sudah tak kuat lagi merasakan hujaman di dalam rahimnya. Kedua pahanya ia rasakan amat pegal karena terbuka, juga pinggulnya seakan patah.

Reisa sempat memohon kepada Pak Nur agar menyudahi dulu persenggamaan itu, namun Pak Nur bukanlah orang yang gampang disuruh berhenti jika sudah melakukan sesuatu. Reisa semakin lemah dan tak kuat menerima sodokan di kemaluannya. Benar yang ia lihat malam itu, si wanita memohon agar berhenti dan terlihat sempat pingsan. Reisa tak ingin ia mengalami hal yang sama dengan wanita yang ia saksikan bersebadan dengan Pak Nurfea saat itu. Ia akan berusaha sekuat tenaga melayani Pak Nur dan mengimbangi kekuatannya.

Reisa mengakui Pak Nur memang kuat meskipun sudah tua. Ia masih kalah tenaga dengan laki-laki itu, Jonas saja tak mampu seperti itu. Namun rasa orgasme memutus pikirannya saat itu. Reisa orgasme untuk kesekian kalinya. Ia pun meraih lengan Pak Nur dan menarik lehernya ke atas agar dapat menciumi bibir tebal laki-laki itu. Pak Nur tahu Reisa kembali orgasme dan ia sendiri merasakan akan merasakan hal yang sama.

Dengan tak terlalu cepat Pak Nur menghujamkan kemaluannya sedalam mungkin ke liang rahim Reisa dan melepaskan spermanya di dalamnya. Pak Nur baru bisa klimaks setelah hampir beberapa menit menggauli Reisa. Reisa merasakan ada rasa hangat di celah kemaluannya. Pak Nur masih berada di atas tubuh Reisa tanpa melepaskan kemaluannya. Alat kelaminnya bergejolak-gejolak di dalam kemaluan Reisa memompakan semua cairan spermanya sampai habis masuk ke dalam rahim Reisa yang subur.

Kedua tangannya membelai wajah dan dada Reisa. Ia merasakan amat puas bersebadan dengan Reisa. Reisa hanya memandang wajah Pak Nur dari bawah dengan pandangkan sendu seolah kehabisan tenaga. Memang tenaganya terkuras habis saat bersebadan dengan laki-laki tua itu. Seiring waktu kemaluan Pak Nur kembali ke sosok semula dan terlepas dari jepitan liang Reisa. Saat itu barulah Pak Nur merebahkan tubuhnya di samping Reisa.

Kedua tubuh telanjang itu akhirnya tertidur dengan saling berpelukan. Jika ada yang melihat merasa janggal sebab laki-laki yang memeluk wanita itu memang sudah tua dan tak pantas bersama wanita muda yang dokter itu. Sebaliknya bagi Pak Nur, yang terjadi di kamar itu adalah pemandangan yang sangat biasa. Di dipannya itu sudah sering ia mengeksekusi wanita yang ia inginkan untuk memenuhi hasrat seksnya. Semua wanita yang diinginkan Pak Nur dari warganya, baik itu masih gadis maupun sudah jadi istri orang, sudah pernah disebadani Pak Nur di atas dipan itu. Bahkan tak jarang Pak Nur membawa orang luar seperti wisatawan bule, dan tak terkecuali Reisa, untuk disebadaninya di situ.

***

Paginya Pak Nur bangun lebih dahulu dan mencari-cari Yuli. Karena tak ketemu, dimintanya orang untuk menyuruh Yuli datang ke rumahnya begitu ia muncul. Pak Nur lalu kembali ke kamarnya dan melepas seluruh pakaiannya untuk kembali menemani dan mendekap Reisa yang masih tidur nyenyak karena kecapaian dalam keadaan bugil.

Beberapa puluh menit kemudian, Reisa terbangun dan menggeliat. Didapatinya Pak Nur sedang mendekapnya dari belakang. Reisa pun tersenyum manis pada Pak Nur sedangkan Pak Nur lalu mengecup bibir Reisa dengan lembut. Keduanya pun berdekapan dengan mesra dalam keadaan bugil. Reisa bisa merasakan alat kelamin Pak Nur perlahan tumbuh dan mengusap-usap kedua pahanya dan pantatnya dari belakang.

Kemesraan mereka tiba-tiba terpotong oleh ketukan di dinding kamar Pak Nur. Pintu kamar Pak Nur hanya ditutupi oleh tirai.

“Masuk…” seru Pak Nur.

Orang di luar tadi menyibak tirai pintu kamar dan tampaklah Yuli berdiri di depan pintu. Reisa sebetulnya agak gelagapan tapi dilihatnya baik Pak Nur maupun Yuli bersikap sangat wajar. Padahal saat itu ia berdua bersama Pak Nur sedang bugil dan berdekapan dengan mesra.

“Selamat pagi, Pak Nur, tadi Bapak mencari saya?” tanya gadis yang kemarin disetubuhi Pak Nur itu.

“Selamat pagi, Mbak Reisa,” kata Yuli lagi sambil tersenyum ke arah Reisa yang dilihatnya sedang bersama Pak Nur.

Reisa jadi tahu bahwa kelakuan Pak Nur itu sudah dianggap normal oleh warga kampungnya. Karena itu ia pun lalu berusaha bersikap wajar. Dibalasnya sapaan ramah dan senyuman tulus Yuli kepadanya.

“Yuli, tolong kau masakkan makanan buat sarapan kami, ya,” kata Pak Nur memerintah. “Pergilah ke dapur, di situ masih ada banyak yang bisa dimasak.”

“Baik, Pak,” kata Yuli patuh sambil sedikit membungkuk hormat.

“Kau bukalah tirai kamarku dan buka semua jendela dan pintu supaya sinar matahari bisa masuk,” perintah Pak Nur lagi.

“Ya, Pak,” kata Yuli lagi.

Reisa pun menggeliat sekali lagi dan sudah bersiap untuk bangkit. Perintah terakhir Pak Nur pada Yuli dianggapnya sebagai suatu tanda untuk bangkit dan membersihkan badan.

Rupanya Reisa salah. Walaupun sekarang semua pintu dan jendela sudah terbuka lebar, rupanya Pak Nur masih menaruh minat pada dirinya. Ditahannya Reisa yang hendak bangkit. Dicumbunya kembali gadis cantik itu. Reisa hanya terkikik sejenak karena geli tapi kemudian ia pun mulai bangkit gairahnya dan membalas cumbuan Pak Nur. Memang rumah itu agak terpencil dari masyarakat sekitar sehingga praktis hanya ada mereka bertiga di sekitar situ. Yuli pun telah pergi ke dapur untuk memasak.

Maka sambil menunggu Yuli memasak, keduanya lalu melanjutkan lagi persetubuhan mereka. Suara babi, burung, aliran air dari sungai di belakang rumah, serta suara Yuli yang sedang memasak menemani hubungan intim mereka. Sama seperti kejadian semalam, kali ini pun Pak Nur menyenggamai Reisa cukup lama sampai Reisa kewalahan. Setelah Reisa beberapa kali orgasme barulah Pak Nur merasa puas. Reisa merasa senggama bersama Pak Nur bagaikan olah raga yang cukup berat, terutama karena ia harus mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dalam waktu yang lama.

Setelah selesai menunaikan hajatnya, Pak Nur pergi dulu keluar untuk buang air kecil. Yuli kemudian muncul di pintu kamar memberi tahu Reisa kalau sarapan sudah siap. Reisa yang masih terbaring di atas dipan bermandikan peluh dan cairan cinta mereka berdua tersenyum dan mencoba bangkit. Ketika berdiri, Reisa sedikit limbung karena selangkangannya terasa agak nyeri sehabis dikerjai Pak Nur. Yuli segera membantu Reisa untuk berdiri.

“Masih nyeri ya, Mbak,” tanya Yuli penuh pengertian. “Duduk saja dulu.”

Reisa hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia lalu dibantu Yuli untuk duduk di tepi dipan.

“Mbak Reisa kuat sekali,” kata Yuli lagi. “Aku kalau sudah melayani Pak Nur semalaman, paginya pasti istirahat sepanjang hari.”

Reisa hanya tersenyum mendengar komentar Yuli.

“Sarapannya nanti saja, Yul. Tunggu Pak Nur dulu,” kata Reisa.

Yuli hanya menganggukkan kepalanya.

“Duduklah di sini bersamaku,” kata Reisa lagi.

Yuli pun ikut duduk di samping Reisa. Karena merasa senasib, yaitu sama-sama melayani nafsu seks Pak Nur, keduanya semakin bertambah akrab. Sambil menunggu Pak Nur kembali, kedua wanita itu ngobrol secara terbuka. Masing-masing memberi tahu kapan dan di mana mereka ketemu Pak Nur pertama kali, sudah berapa kali mereka disetubuhi Pak Nur, dan bagaimana kesannya disetubuhi orang tua itu.

Reisa jadi tahu kalau Yuli memang bekerja menjaga dan membersihkan rumah Pak Nur. Kedua orang tuanya dulu berhutang budi pada Pak Nur sehingga hubungan mereka sudah sangat akrab. Ternyata Yuli pun sudah memiliki tunangan seorang pemuda dari kampung itu juga. Mereka akan menikah dalam waktu dekat ini. Mungkin Pak Nur sendirilah yang nanti bertindak sebagai ketua adat yang akan menikahkan mereka.

Ketika Reisa menanyakan apakah Yuli akan tetap bekerja di rumah Pak Nur dan melayani nafsu seksnya setelah menikah nanti, dengan mantap Yuli mengiyakannya. Reisa hanya manggut-manggut mengetahui budaya sosial di pedalaman itu. Memang salah satu hal yang disukai Reisa dalam melakukan tugas di pedalaman ini adalah mengetahui berbagai budaya baru yang tak pernah diketahuinya sebelumnya.

Tak lama kemudian Pak Nur kembali dan langsung mengajak Reisa sarapan. Yuli kembali membantu Reisa untuk bangkit. Diambilnya gaun tidur Reisa dari dinding kamar dan dibantunya Reisa mengenakan kembali gaun itu untuk menutupi tubuhnya yang bugil. Lalu dengan telaten Yuli membimbing Reisa keluar kamar untuk bergabung dengan Pak Nur. Melihat Reisa dibantu Yuli untuk berjalan, Pak Nur pun bertanya.

“Kamu tak apa-apa, Reisa?”

“Nggak apa-apa kok, Pak,” jawab Reisa tersenyum. “Cuma sedikit nyeri aja selangkanganku. Tadi kan dibuka terus…. Nanti juga insya Allah baik lagi kok.”

Reisa yang Kembali Ceria Sejak Disetubuhi Pak Nur

Reisa yang Kembali Ceria Sejak Disetubuhi Pak Nur

“Syukurlah, mudah-mudahan kamu cepat terbiasa,” timpal Pak Nur. “Soalnya aku masih kepingin. Nanti kita main lagi ya sebelum kita balik ke pulau?”

Reisa hanya tersipu mendengar permintaan orang tua itu. Disenggolnya bahu Pak Nur dengan bahunya sendiri. Ia merasa tersanjung karena Pak Nur menaruh hasrat yang begitu besar terhadap dirinya.

“Jangan khawatir, Pak Nur,” balas Reisa dengan manja.

Pak Nur pun nyengir mempertontonkan giginya yang ompong mendengar kesanggupan gadis cantik itu.

Mereka pun sarapan sambil duduk rapat saling berdekatan. Setelah selesai, barulah Reisa pergi mandi. Siangnya, sebelum berangkat kembali ke pulau, sesuai permintaan Pak Nur, mereka masih menyempatkan berhubungan badan kembali.

Begitu selesai menyirami rahim Reisa dengan air maninya untuk yang kesekian kalinya, mereka langsung berkemas-kemas. Karena seluruh badan Reisa serasa pegal dan kecapaian setelah dikerjai Pak Nur berulang kali, Yuli membantu Reisa mengemasi barang-barangnya dan membersihkan diri. Dengan telaten Yuli membersihkan air mani Pak Nur yang mengalir keluar dari kelamin Reisa dengan handuk hangat. Setelah itu, dibantunya Reisa berpakaian.

Hari itu Reisa memilih mengenakan kerudung putih yang dipadu dengan baju kurung khas Melayu yang berwarna cerah. Secerah hatinya saat itu. Walaupun capai, Reisa merasakan memuncaknya kembali gairah hidupnya yang sempat turun sejak ditinggal Jonas. Begitu selesai membantu Reisa mengenakan kerudungnya, spontan Yuli memuji penampilan Reisa yang tampak anggun. Pak Nur yang mengamati pun ikut memuji. Dipeluknya dokter muda itu sambil dicium mesra. Reisa pun membalasnya dengan senang. Sambil terus saling berangkulan layaknya pengantin baru, mereka pun pamit pada Yuli dan meninggalkan rumah panggung itu.

***

Sejak disetubuhi Pak Nur di kampungnya, otomatis Reisa semakin akrab dengan Pak Nur. Selama perjalanan pulang, Reisa pun semakin terbuka ngobrol tentang segala hal dengan Pak Nur. Kebetulan nelayan yang mendayung perahu mereka tak begitu lancar berbahasa Indonesia. Kalaupun mengerti, ia pun adalah warga desa Pak Nur, jadi Reisa tak merasa khawatir berbicara tentang hal-hal yang sangat pribadi sifatnya.

Pak Nur menceritakan tentang kehidupan seksnya yang bebas sejak usia mudanya dulu, tentang hubungannya dengan Bu Nur, dan juga tentang masa depan hubungan mereka berdua yang baru saja dirajut.

Reisa semula cemas bila hubungan mereka diketahui Bu Nur. Pak Nur pun menenangkan Reisa dengan mengatakan bahwa Bu Nur sudah terbiasa dengan gaya hidupnya itu.

“Jangan khawatir, Reisa. Istriku itu sudah sejak puluhan tahun yang lalu melihatku berhubungan dengan berbagai wanita lain.”

“O ya?” tanya Reisa seolah tak percaya.

“Tanyakanlah sendiri padanya kalau kau pulang nanti,” timpal Pak Nur mantap sambil tersenyum.

“Justru dia senang kalau ada wanita lain yang bisa kujadikan tempat melampiaskan nafsuku. Soalnya dia itu semakin tua, sudah tidak kuat lagi mengimbangi kekuatanku,” sambung Pak Nur datar.

Reisa mau tak mau tergelak mendengar perkataan terakhir Pak Nur itu.

“Eh, benarlah… Aku tak berbohong,” tanggap Pak Nur dengan mimik serius.

“Buat istriku itu yang penting aku tidak punya istri lagi,” terang Pak Nur lebih lanjut. Reisa pun manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Nur. Disandarkannya kepalanya di bahu lelaki tua itu.

“Iyalah, Pak Nur… Jangan khawatir, aku tak akan minta dinikahi oleh Pak Nur kok,” tanggap Reisa. “Lagian kan aku sudah nikah di bawah tangan dengan Jonas.”

“Tapi kalau dikawin mau kan…?”

Reisa mencubit perut Pak Nur dengan gemas sambil tersenyum. Pak Nur pun tertawa nakal sambil mempererat pelukannya.

***

Saat Bu Nur menyuruh Reisa untuk pergi ke pedalaman bersama suaminya, ia memang sudah mengira kalau Reisa akan dikerjai Pak Nur di sana dan dijadikan sebagai salah seorang gundiknya. Bahkan sejak pertama bertemu Reisa, ia tahu cepat lambat hal itu akan terjadi juga. Gadis cantik seperti Reisa biasanya akan mendapat giliran merasakan kejantanan suaminya itu.

Tadinya Bu Nur memang berharap kalau Reisa dan Jonas bisa langgeng menjadi pasangan suami istri. Itulah yang terbaik menurutnya. Karena Jonas rasanya sudah tak mungkin kembali dan Reisa tampak cukup terpukul, Bu Nur pun merelakan Reisa dijadikan gundik oleh suaminya. Paling tidak dalam pandangannya itu lebih baik daripada Reisa balik kembali kepada tunangannya, Dino. Bu Nur tak menyukai Dino sedangkan ia menghendaki Reisa tetap mengabdikan dirinya di pulau. Kalau Reisa menjadi gundik suaminya, paling tidak masih ada ikatan yang membuat Reisa tetap tinggal di Mentawai.

Ia tahu kalau suaminya membawa Reisa sendirian ke kampungnya, besar kemungkinan suaminya akan bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menyetubuhi Reisa. Itulah sebabnya ketika kesempatan itu datang, Bu Nur sengaja mencari-cari alasan untuk tak ikut serta supaya suaminya leluasa mengerjai Reisa.

Karena itu, ia pun biasa saja ketika diberitahu suaminya tentang apa yang terjadi di kampungnya. Sejak peristiwa di kampung Pak Nur, lelaki tua itu semakin mudah menikmati kehangatan tubuh dokter cantik itu di manapun dan kapanpun ia mau. Kini Reisa dan Pak Nur sudah seperti suami istri yang bebas melakukan hubungan seks meski diketahui oleh Bu Nur.

Transformasi yang Dialami Reisa Karena Pak Nurfea

Transformasi yang Dialami Reisa Karena Pak Nurfea

Reisa pun kini bila bermalam di rumah keluarga Pak Nur tak lagi sekedar bercengkerama dengan Bu Nur atau bermain-main dengan anak mereka tapi lebih dari itu, kini ia juga memiliki kesibukan baru yang tak kalah asyiknya, yaitu melayani Pak Nur. Bu Nur cuma sering mengingatkan suaminya sebelum ia dan Reisa masuk ke kamar mereka untuk tidak mengerjai Reisa semalam suntuk karena keesokan harinya dokter muda itu harus kembali bertugas.

Selain melakukan hubungan intim di rumah keluarga Pak Nur dan di rumah Reisa, kadang Pak Nur sengaja mendatangi Reisa di ruang prakteknya. Tentu saja di sana mereka tak bisa bersenggama terlalu lama karena mereka harus melakukannya di sela-sela antrian pasien Reisa. Tak jarang pula Pak Nur membawa Reisa ke berbagai tempat yang sepi seperti ke hutan, ke sungai di pedalaman, atau ke pantai yang sepi, khusus untuk disetubuhi.

TAMAT

Reisa – Asmara di Pulau Mentawai

Copyright 2008, By Mario Soares & East Life

(Selingkuh, Seks Antar Ras)

Sore itu terlihat rutinitas keramaian di pelabuhan Muaro, Kota Padang. Pelabuhan itu adalah sarana perhubungan orang dan barang dari Padang ke Mentawai dan sebaliknya. Senja itu orang-orang akan berangkat ke pulau Mentawai yang berjarak 80 mil tenggara pantai barat Sumatera Barat.

Di antara keramaian orang, satu keluarga mengantar kepergian salah seorang anggotanya. Dari mobil Camry plat merah yang digunakannya, bisa dilihat kalau orang yang mengantar itu bukanlah orang sembarangan.

Si ibu tak henti-hentinya memeluk anak gadisnya. Rupanya ibu itu merasa berat hati melepas kepergian anak gadisnya yang bernama Reisa, yang usianya baru menginjak 24 tahun. Reisa adalah seorang dokter yang akan ditugaskan PTT di kepulauan tersebut, tepatnya di Pulau Sipora. Ayahnya sengaja ikut mendampingi putrinya ke pulau dengan harapan bisa melihat langsung lokasi tempat kerja anak kesayangannya. Apalagi dari kabar yang ia tahu selama ini, daerah itu masih terisolasi dan terpencil.

Terdengar aba-aba memberitahukan calon penumpang untuk segera menaiki kapal karena kapal akan berangkat. Reisa melepas pelukan ibunya dan menuju kapal dengan ditemani ayahnya yang merupakan seorang pejabat tinggi di daerah tersebut. Sambil membetulkan kerudungnya, Reisa meraih tangan seorang pria tampan yang berdiri di sampingnya saat itu. Pria tersebut adalah Dino, tunangan gadis itu.

Kapal mulai bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Muaro Padang menuju ke Kepulauan Mentawai. Perjalanan ke Mentawai akan memakan waktu kurang lebih 12 jam. Jika cuaca baik, kapal akan merapat di pelabuhan Tua Pejat keesokan paginya.

Deru ombak Samudera Hindia sangat kuat menguncang kapal yang mereka tumpangi. Mereka mendapat tempat di kelas yang cukup sederhana karena memang hanya itu yang ada kalau ke Mentawai. Dengan beralaskan bed cover yang dibawanya dari Padang, Reisa merebahkan tubuhnya di kamar kapal itu, sementara ayahnya berselonjor di atas dipan. Goyangan kapal membuat mereka merasa tak terlalu nyaman. Selama perjalanan si ayah tak henti-hentinya berbincang dengan Reisa.

Keesokan harinya kapal merapat di pelabuhan Tua Pejat di Pulau Sipora. Pantainya amat indah. Setelah menurunkan barang bawaannya, Reisa dan ayahnya disambut oleh perangkat desa tempatnya akan menetap. Orang itu adalah petugas kesehatan yang bertugas di puskesmas desa tersebut dan bernama Pak Nurfea Sabaggalet, atau biasa dipanggil Pak Nur. Dia ditugaskan untuk menjemput Reisa dan ayahnya. Pak Nur membantu mengemasi barang bawaan Reisa ke sepeda motornya, sedangkan untuk Reisa dan ayahnya telah disediakan dua buah ojek.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan melalui jalan yang tidak begitu mulus, sampailah mereka di desa tempat Reisa bertugas. Di sana Reisa dan ayahnya dibawa ke rumah yang telah disediakan. Rumah itu amat bersih dan tertata dengan rapi. Rumah semi permanen itu terletak tak jauh dari puskesmas yang akan ditempati Reisa.

Tak lama kemudian datanglah istri Pak Nur yang membawa air minum dan makanan kecil. Pak Nur mengenalkan istrinya kepada Reisa dan ayahnya.

“Selamat datang, Bu Dokter,” kata Bu Nur dengan suka cita. “Akhirnya datang juga dokter yang sudah lama kami nanti-nantikan. Amboi… dapat yang cantik pula.”

“Ah, Ibu bisa aja… Terima kasih, Bu atas sambutannya,” kata Reisa tersipu.

“Iya, Ibu serius kok. Tampang Bu Dokter mirip sekali sama bintang sinetron itu… Siapa ya namanya? Asmirandah!” kata Bu Nur.

Spontan Reisa dan ayahnya tertawa sementara Pak Nur hanya manggut-manggut mengiyakan perkataan istrinya.

“Ibu nih tahu aja Asmirandah, memangnya suka nonton tivi ya, Bu?” timpal Reisa di sela tawanya.

“Iya, Bu Dokter, kita juga ada tivi dan parabola di sini walaupun kadang harus pakai genset,” kata Pak Nur menjelaskan sambil tersenyum ramah.

Dengan cepat Reisa merasa akrab dengan keluarga Pak Nur. Ternyata istri Pak Nur juga menguasai seluk-beluk masalah kesehatan. Dialah yang akan membantu tugas-tugas Reisa selama di sana. Ayah Reisa mulai lega setelah melihat langsung situasi tempat anaknya bertugas.

Esok harinya mulailah Reisa masuk ke puskesmas dengan didampingi oleh perangkat desa termasuk kepala desa dan Bu Nur. Reisa amat senang dengan sambutan yang begitu akrab. Apalagi menurut Pak kepala desa, hampir 2 tahun ini tidak ada lagi dokter yang masuk di puskesmas itu. Kedatangan Reisa diharapkan bisa membawa peningkatan taraf kesehatan masyarakatnya.

Hari itu mulailah Reisa melakukan tugas-tugasnya pertamanya. Ia banyak bertanya pada Bu Nur tentang masalah-masalah kesehatan di desa itu. Reisa juga banyak bertanya mengenai bahasa setempat yang kurang begitu ia pahami. Walaupun sedikit-sedikit, ia berusaha mempelajarinya.

Melihat Reisa sudah dapat beradaptasi dalam melaksanakan tugasnya, sesuai jadwal ayahnya kembali ke Padang. Sore itu Reisa mengantar ayahnya ke pelabuhan didampingi Pak dan Bu Nur. Ayah Reisa menitipkan putrinya kepada Pak dan Bu Nur. Ia berpesan agar Reisa bisa membawa diri dan menjaga harkatnya sebagai wanita dan juga sebagai dokter. Reisa menganggukkan kepalanya menuruti pesan ayahnya.

***

Setiap hari libur Reisa selalu diajak Pak dan Bu Nur keliling pulau melihat keindahan pantai yang cukup terkenal itu. Reisa amat menyukai pemandangan di pulau yang cantik ini. Biasanya mereka jalan pagi, sebelum Pak dan Bu Nur melakukan kebaktian di gereja. Memang sebagian besar penduduk di situ memeluk agama Kristen.

Reisa tak hanya melakukan tugasnya di puskesmas. Ia mempunyai jadwal untuk melaksanakan tugas medis dan penyuluhan kesehatan ke desa-desa di pelosok. Tak jarang ia melakukan perjalanan ke pedalaman dengan menggunakan perahu motor dengan ditemani Bu Nur. Awalnya ia cukup kaget dan kuatir melihat hutan bakau dan suasana hutan yang tak biasa ia temui. Dengan dorongan semangat dan bantuan dari Bu Nur, lambat laun ia bisa beradaptasi.

Suatu hari ketika Reisa dan Bu Nur masuk ke pedalaman, mereka dikejutkan oleh panggilan dari penduduk desa yang membutuhkan bantuan. Dengan segera mereka menuju tempat yang ditunjukkan masyarakat pedalaman tersebut.

Sesampai di sana terlihat seorang pria terbaring di dalam rumah kayu dengan luka yang cukup serius. Pria itu baru saja tertimpa pohon yang tumbang karena angin. Reisa dengan dibantu Bu Nur segera melakukan pengobatan. Melihat kedaan pria itu yang cukup parah, diputuskan kalau pria itu harus dibawa ke puskesmas.

Penduduk kampung itu beramai-ramai memapah laki-laki itu ke perahu yang biasa digunakan Reisa untuk meninjau pedalaman. Selama perjalanan, Reisa dan Bu Nur berusaha menghentikan pendarahan di kepala pria itu. Sesampainya di puskesmas, Reisa melakukan pembedahan kecil.

Pria itu kini tertidur karena pengaruh obat penenang. Reisa meminta Bu Nur untuk menjaga pria itu sebab ia mau pulang sebentar untuk membersihkan tubuhnya yang kotor.

Beberapa saat kemudian pria itu siuman. Bu Nur lalu menanyakan identitas pria tersebut. Ia bernama Jonas Banak, berasal dari Ende, NTT. Ia sampai di pulau Sipora dalam rangka praktek kerohanian dari Seminari di Semarang, Jawa Tengah. Usianya sekitar 26 tahun.

Di saat Bu Nur sedang berbincang dengan Jonas, muncullah Reisa yang telah kembali dari rumahnya. Dengan sapaan lembut ia menanyakan keadaan pasiennya. Bu Nur lalu mengenalkan pria itu pada Reisa. Pria itu menjabat erat tangan halus dokter yang telah menyelamatkannya. Dalam hati ia terpana menyaksikan kecantikan Reisa yang terpancar dari balik kerudung putihnya. Dipadu dengan seragam dokternya yang juga berwarna putih, Reisa tak hanya tampak cantik melainkan juga anggun.

Karena Reisa telah tiba, Bu Nur lalu minta izin pulang. Reisa mengizinkannya sebab malamnya Bu Nur akan kembali bertugas menjaga pasien tersebut.

Setelah Bu Nur pulang, Reisa menanyakan sebab Jonas mengalami kecelakaan. Jonas menerangkan awal kejadian yang menimpanya. Reisa akhirnya tahu bahwa Jonas adalah seorang calon pendeta yang ditugaskan ke pedalaman untuk memberikan pelayanan rohani di pulau itu. Ternyata Jonas adalah orang yang supel dan pandai berbicara. Tak hanya itu, ia pun pandai mendengarkan orang lain bicara. Perbincangan Reisa dan Jonas menjadi sangat akrab, seperti dua kawan lama yang baru bertemu kembali.

Reisa akhirnya pamit untuk pulang saat Bu Nur tiba kembali ke puskesmas. Sambil mengecek kondisi Jonas, Reisa memberi beberapa arahan kepada Bu Nur.

Selama beberapa hari Jonas menginap di puskesmas itu sampai ia dinyatakan boleh pulang. Ia dijemput oleh temannya yang juga ditugaskan di kepulauan Mentawai. Jonas mengucapkan terima kasih atas bantuan dr Reisa dan Bu Nur. Tak lupa ia meminta nomor telepon selular Reisa agar mereka bisa tetap saling kontak.

***

Hari-hari berikutnya Reisa tenggelam dalam rutinitas melakukan penyuluhan dan pengobatan hingga ke pedalaman pulau itu. Dengan dibantu Bu Nur aktifitas Reisa semakin lancar.

Di suatu kesempatan di pedalaman Reisa kembali bertemu Jonas. Reisa dan Bu Nur diajak Jonas untuk singgah di pondok tempat tinggal Jonas. Pondok itu dibuat oleh para pendeta yang telah kembali ke kota dan kini hanya ditempati oleh Jonas seorang. Pondok itu terbuat dari kayu hutan yang disusun rapi, atapnya terbuat dari rumbia yang cukup bagus menahan air dan hawa panas. Lantainya juga terbuat dari papan yang tertata rapi dan bersih. Kesan di dalam pondok itu amat sejuk dan nyaman.

Meskipun berada di pedalaman namun perabot di dalamnya lumayan lengkap. Ada kompor, meja kerja, juga sebuah kamar lengkap dengan tempat tidur kayu yang diselubungi kelambu sebagai pelindung dari serangga. Ventilasinya cukup bagus sehingga udara dapat keluar masuk dengan sempurna. Hanya karena belum tersentuh aliran listrik, penerangan masih menggunakan lampu petromaks. Jonas hanya memiliki sebuah accu yang cukup untuk menghidupkan televisi kecil dan mengisi baterai HP-nya.

Saat pulang, Jonas mengantar mereka ke perahu. Perlahan perahu bergerak menjauh dari daerah itu.

Malam itu setelah mandi dan makan malam, Reisa bersiap untuk tidur. Tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Rupanya itu SMS dari Jonas yang ingin mengetahui keadaan Reisa.

Jonas amat terkesan pada Reisa yang cantik, namun juga tangguh dan berani karena mau ditugaskan di pulau yang masih terisolasi itu demi tugas mulia memberikan perawatan kesehatan pada masyarakat. Sebaliknya, Reisa pun terkesan pada Jonas yang berasal dari wilayah timur Indonesia tapi mau ditempatkan di pulau yang sangat jauh dari daerah asalnya.

Malam itu Reisa dan Jonas saling berkirim SMS sampai larut malam. Tak pelak, perbincangan lewat SMS itu akhirnya mengarah pada hal-hal pribadi. Dengan terus terang Reisa menceritakan tentang tunangannya Dino yang akan segera menikahinya.

Dengan sedikit cemburu Jonas membaca pesan dari Reisa tentang tunangannya. Ia menyadari kalau dirinya mulai menaruh hati pada dokter yang cantik itu. Sejauh ini Jonas masih berusaha menyembunyikan perasaannya. Hanya saja ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa akrab dengan Reisa dengan sering mengadakan kontak dengannya. Reisa mulai merasa Jonas enak untuk dijadikan teman untuk saling berbagi dan curhat.

***

Tanpa terasa Reisa telah menghabiskan bulan pertamanya di pulau itu. Ia mendapatkan waktu pulang ke Padang untuk pertama kalinya. Ia amat rindu dengan keluarganya dan tentu saja tunangannya Dino. Reisa berangkat Jumat sore itu dengan menumpang kapal yang hanya berlayar ke pulau itu dua kali seminggu.

Sabtu pagi Reisa sampai di pelabuhan Muaro Padang. Di sana ia telah dijemput tunangannya Dino. Sambil memeluk Reisa, Dino meraih barang bawaan Reisa yang kemudian dimasukkannya ke dalam mobil.

Sesampainya di rumah, Reisa langsung disambut ayah ibunya. Di rumah besar dan mewah itu, orang tuanya banyak bertanya tentang pengalaman Reisa selama sebulan di pulau. Dengan penuh semangat Reisa menceritakan tugas-tugasnya dan keramah-tamahan penduduk di sana.

Selama di Padang Reisa memanfaatkan semaksimal mungkin saat berduaan dengan kekasihnya untuk saling melepas rindu dengan sering berpelukan. Walaupun kangen, mereka masih menjauhkan diri dari hal-hal yang terlarang untuk dilakukan menurut agama yang mereka anut.

Hingga tibalah harinya Reisa harus kembali ke pulau untuk bertugas. Dengan izin dari orang tua Reisa, Dino ikut serta mengantar kekasihnya ke pulau itu. Orang tua Reisa amat percaya pada Dino karena tak lama lagi Dino juga akan menjadi suami anaknya itu. Pembicaraan antar orang tua mereka sudah terjadi dan tinggal menentukan hari pernikahan yang tepat setelah Reisa selesai PTT.

Selama perjalanan pasangan ini tak lepas-lepasnya memandang keindahan pantai Padang yang segera mereka tinggalkan. Dino merasa salut akan tekad Reisa yang sangat bulat bertugas di pulau itu. Dino bisa merasakan sendiri beratnya perjalanan selama naik kapal motor itu.

Pagi itu sesampainya di pulau, Reisa harus langsung masuk kerja karena antrian pasien yang menunggu sudah cukup panjang. Setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, ia beranjak ke puskesmas yang hanya beberapa meter dari rumahnya. Dino ditinggalnya di rumah untuk beristirahat setelah penat melakukan perjalanan semalaman.

Sepulang bertugas, Reisa mengajak kekasihnya itu keluar rumah untuk melihat keindahan pantai Pulau Sipora. Sepulangnya dari pantai Reisa mengajak Dino ke rumah Pak dan Bu Nur. Dengan berjalan kaki mereka menuju ke rumah suami istri itu.

Saat itu Pak Nur sedang duduk santai di depan rumahnya. Bu Nur yang sedang memasak keluar dari dapurnya. Reisa mengenalkan Dino kepada Pak Nur yang juga merupakan sesepuh warga di situ.

Setelah merasa cukup mengenalkan tunangannya pada Pak dan Bu Nur, Reisa minta diri.

“Dik Dino, kalau mau boleh bermalam di sini lho,” kata Bu Nur. “Di rumah dr Reisa kan kamarnya hanya satu.”

“Makasih, Bu. Nggak usah repot-repot,” balas Dino dengan sopan. “Saya biasa tidur di ruang tamu kok.”

“Jadi kapan kalian akan menikah?” tanya Pak Nur ingin tahu.

“Yah, insya Allah setelah selesai PTT, Pak,” jawab Reisa singkat sambil tersenyum.

“Wah, yang perempuan cantik, yang pria ganteng. Hati-hati lho dik Reisa, abangnya kalau ditinggal lama-lama nanti direbut orang,” canda Bu Nur.

Reisa hanya tersenyum dan pamit untuk pulang.

Sebelum meninggalkan rumah keluarga Pak Nur, Dino sempat menanyakan kepada Pak dan Bu Nur apakah ada masjid di sekitar situ. Bu Nur menggelengkan kepalanya karena menurutnya hampir semua penduduk di situ beragama Kristen. Dino tak bisa menyembunyikan kekecewaan di wajahnya mendengar jawaban Bu Nur.

Mereka berjalan kaki pulang ke rumah Reisa sambil bergandengan tangan dengan mesra.

Mereka tidak menyadari tak jauh dari mereka ada sepasang mata yang terlihat sedih. Sepasang mata itu milik Jonas yang saat itu ingin berkunjung ke tempat Reisa. Walaupun cemburu, perasaan itu dikuburnya di dalam hatinya saja.

Jonas lalu menemui kedua sejoli itu. Dengan sapaan lembut dipanggilnya gadis itu. Reisa menoleh ke arah suara itu. Gadis itu tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat melihat Jonas. Dikenalkannya Dino kepada Jonas.

Reisa menerangkan pada Dino kalau Jonas adalah bekas pasiennya. Jonas pun menjabat tangan Dino. Entah kenapa, tampaknya Dino sedikit kurang senang dengan Jonas. Dengan sikap agak dingin Dino menerima uluran tangan Jonas.

“Jonas, tumben kau ada di sini. Ada acara apa?” tanya Reisa.

“Aku ada pelayanan di rumah warga hari ini, Reisa”, kata Jonas berbohong. Ia tak menceritakan niat awalnya yang ingin datang ke rumah Reisa untuk bertemu dengannya. Jonas tak tahu kalau tunangan gadis itu datang ke pulau.

“Kalau begitu, singgahlah dulu ke rumah,” kata Reisa.

“Ah tak usahlah, Reisa. Terima kasih, kebetulan aku harus balik sebelum hari gelap,” tolak Jonas. Ia bisa merasakan sikap dingin Dino.

Jonas berlalu dengan perasaan dongkol karena niatnya untuk berduaan dengan Reisa tak kesampaian. Sementara Reisa dan Dino kembali melanjutkan perjalanan mereka ke rumahnya.

Malamnya, sehabis makan bersama Reisa dan Dino segera beristirahat. Seperti yang diucapkannya pada Bu Nur, Dino memang tidur di sofa di ruang tamu sedangkan Reisa tidur sendiri di kamar. Dino memang berusaha menjaga kehormatan tunangannya dengan menjauhi hal-hal yang mendekati perzinahan.

Keesokan harinya Dino sudah harus kembali ke Padang. Sebelum pergi, Dino mengajak Reisa berbicara tentang kelanjutan hubungan mereka. Dino juga mengutarakan keberatannya jika Reisa terlalu dekat dengan Jonas. Dino merasa Jonas bukanlah seorang pria baik-baik walaupun ia calon pendeta.

Dengan sabar dan hati-hati, Reisa berusaha menenangkan Dino. Ia juga minta Dino untuk jangan terlalu cemburu, sebab profesinya menuntutnya akrab dengan berbagai macam orang, apapun latar belakangnya. Lagipula Dino tak bisa menjelaskan alasannya tak menyukai Jonas.

“Din, kamu jangan bersikap kekanak-kanakan, dong. Kita kan sudah berpacaran lebih dari 3 tahun. Kita juga sudah bertunangan dan tak lama lagi akan menikah,” pinta Reisa.

Dino akhirnya bisa menerima alasan Reisa. Ia yakin akan kesetiaan Reisa. Apalagi ia berpikir mana mungkin Reisa yang seorang dokter dan memiliki fisik yang menawan itu akan terpikat oleh Jonas yang jelek dan kampungan.

Di pelabuhan mereka tak henti-hentinya bergandengan tangan. Saat Dino akan berangkat, diciumnya bibir kekasihnya itu. Kapal pun beranjak meninggalkan pelabuhan Tua Pejat menuju Muaro Padang.

***

Reisa kembali bertugas seperti biasanya. Di suatu kesempatan mengunjungi pedalaman, Reisa kembali bertemu Jonas yang baru selesai memberikan pelayanan rohani kepada warga pedalaman. Reisa dan Bu Nur kembali ditawari singgah ke pondokannya sebelum pulang ke puskesmas. Reisa semakin terbiasa mengunjungi Jonas di pondokannya.

Jonas sangat rajin menghubungi Reisa untuk sekedar mengetahui keadaan di tempat Reisa atau menanyakan kabarnya. Ia tak segan membantu Reisa menghadapi warga pedalaman yang kadang mensalahartikan kedatangannya. Dengan sikapnya yang santun tapi tegas dan berwibawa, Jonas biasanya selalu bisa mengatasi masalah dengan masyarakat. Hubungan Jonas dan Reisa jadi semakin dekat.

Jonas semakin berani mendekati Reisa. Ia sering mengunjungi Reisa di puskesmas. Bahkan akhirnya ia sering mengajak Reisa berjalan-jalan ke pantai atau makan di rumah Bu Nur.

Keakraban Jonas dan Reisa sudah diketahui Bu Nur. Bu Nur sama sekali tak keberatan dengan kedekatan mereka berdua. Lagipula sebagai sesama aktifis gereja Bu Nur menyukai Jonas yang memang sangat pandai dalam ilmu agama. Ia percaya Jonas akan mampu membimbing Reisa.

Karena keakrabannya dengan Jonas, Reisa dan Bu Nur semakin sering melakukan pelayanan kesehatan ke desa tempat Jonas bertugas. Setiap minggu Reisa pasti berada di sana.

Seperti biasa, Reisa hampir setiap bulan selalu pulang ke Padang untuk bertemu keluarga dan tunangannya. Bulan itu kebetulan Jonas pun akan ke pergi Padang untuk suatu hal sehingga mereka naik kapal bersama-sama. Selama perjalanan Reisa tak pernah terpisah dari Jonas. Untuk mengisi waktu mereka ngobrol tentang apa saja.

Suatu saat karena ngantuk, Reisa tertidur dan kepalanya jatuh tersandar di bahu bidang Jonas. Jonas tentu saja senang sekali bahunya disandari Reisa. Meskipun mereka bukan pasangan kekasih, Jonas sempat memeluk tubuh Reisa yang kecapaian selama perjalanan dengan kapal. Jonas menikmati sepuas-puasnya raut wajah cantik Reisa dari sangat dekat walaupun kepala Reisa ditutupi kerudung putih seperti biasanya. Dipandanginya kulit wajahnya yang putih dan pipinya yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Dilihatnya juga tangan Reisa yang ditumbuhi rambut halus yang tampak serasi dengan kulitnya yang putih.

Sebagai lelaki ia merasa tergoda untuk bertindak lebih jauh terhadap Reisa namun niatnya itu diurungkan. Jonas tak mau melakukan hal yang bisa menyebabkan hubungannya dengan Reisa memburuk. Ia belum merasa tepat saatnya untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Beberapa lama kemudian Reisa terbangun dan sadar ia telah rebah di bahu Jonas. Dengan mengucap maaf Reisa menyatakan penyesalannya telah tertidur di bahu Jonas. Jonas segera menenangkannya dan mengatakan itu bukan masalah sama sekali. Reisa hanya tersenyum mendengar pengertian Jonas. Sesampainya di Pelabuhan Muaro Padang, barulah mereka berpisah.

Selama di Padang, tentu saja Reisa menyempatkan waktu berduaan dengan tunangannya. Tanpa Reisa tahu sebabnya Dino ternyata berubah jadi amat protektif dan sangat cemburuan. Perubahan sikap itu menyebabkan suasana yang tak enak. Puncaknya malah terjadi pertengkaran di antara mereka. Keduanya saling berdiam diri. Reisa tidak merasa melakukan hal yang berlawanan dengan komitmen mereka. Karena itu perasaan cemburu Dino yang berlebihan membuatnya jadi tak nyaman.

Reisa sempat mengadukan masalah itu kepada ibunya. Dengan lembut ibunya hanya berharap agar putrinya bisa bersabar. Akhirnya selama di Padang Reisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya sendiri.

Saat Reisa berangkat kembali ke pulau Dino bahkan tak ikut mengantarnya. Reisa merasa Dino masih marah kepadanya. Selama di atas kapal Reisa berusaha menghubungi Dino namun teleponnya tak pernah diangkat. Reisa amat sedih dengan sikap tunangannya itu.

Setibanya di pulau, Reisa masih selalu berusaha menghubungi HP Dino atau telepon rumahnya. Semuanya tak pernah diangkat Dino. Suatu malam Reisa menelepon ke rumah Dino dan diangkat oleh ibu Dino. Akhirnya Dino bersedia menerima telepon Reisa. Ternyata pembicaraan terasa dingin dan tak berlangsung lama. Perbuatan Dino yang menelantarkannya itu membuat Reisa sedih. Karena kesibukannya saja ia bisa sedikit melupakan masalah pribadinya itu.

Sementara itu Reisa semakin sering dikunjungi Jonas. Jonas yang simpatik dan penuh perhatian sedikit banyak mampu membuat Reisa melupakan kegundahannya. Tak terasa Reisa jadi sering curhat pada lelaki itu. Akhirnya bahkan masalah pribadinya dengan Dino pun terungkap kepada Jonas.

Jonas yang memang menaruh minat pada Reisa dengan pintarnya segera memanfaatkan keadaan. Segala cara dilakukannya untuk menghibur gadis itu supaya ia bisa melupakan masalah pribadinya dengan Dino. Jonas sering memberi perhatian pada Reisa bahkan untuk hal-hal yang kecil. Kebetulan Jonas memiliki selera humor yang tinggi dan sering melontarkan guyonan yang membuat Reisa tertawa.

Jonas semakin berani dan terang-terangan menunjukkan pendekatannya kepada Reisa. Paling tidak ia sengaja datang dua kali seminggu ke puskesmas untuk menjenguk dokter muda itu. Ada saja alasan yang dicarinya sehingga orang lain tidak curiga. Hanya Reisa yang tahu maksud kedatangan Jonas sebenarnya.

Biasanya Jonas akan mengantarkan Reisa pulang dan lalu ngobrol lama di rumah Reisa. Karena jika di rumah Reisa selalu melepas kerudungnya, maka ketika Jonas bertamu lama di rumahnya, Reisa selalu menemaninya tanpa memakai kerudung. Saat pertama kali melihat Reisa tanpa kerudungnya, Jonas spontan memujinya.

“Wah, Reisa, aku tak tahu kalau kau cantik sekali tanpa kerudungmu itu,” kata Jonas terpana. “Rambutmu yang hitam itu sangat tebal dan panjang… Persis seperti bidadari!”

Reisa tersipu senang mendengar pujian Jonas.

Selama bertamu di rumah Reisa, Jonas selalu berusaha semakin akrab dengan gadis itu. Mereka selalu duduk bersama di sofa sambil berpandangan mata. Jonas juga mulai berani untuk saling bergenggaman tangan. Mulanya gadis itu merasa malu. Karena ketekunannya, Jonas berhasil membuat Reisa terbiasa. Jonas sangat menikmati meremas-remas tangan Reisa yang lembut dan putih, demikian pula sebaliknya.

Jonas semakin sering mengajak Reisa jalan keluar bersama. Kadang mereka berjalan menyusuri pantai. Bahkan kadang mereka melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang indah di pulau itu.

Keakraban mereka sudah lebih dari sekedar teman biasa. Reisa jadi menemukan teman bicara dan curhat yang mengerti dirinya. Tanpa menghiraukan statusnya yang sudah bertunangan dan terikat dengan sesorang pria, Reisa mulai terbiasa menerima genggaman kokoh tangan Jonas yang hitam itu setiap saat mereka berjalan bersama. Bahkan Jonas sudah berani pula memeluk tubuh Reisa. Reisa merasa senang diperlakukan seperti itu sehingga membiarkannya saja.

Di suatu sore, seperti biasa Jonas mengajak Reisa jalan-jalan ke pantai. Mereka berjalan dan ngobrol sampai menjelang matahari terbenam. Saat matahari mulai terbenam, mereka terdiam berdua di tepi pantai. Dalam keremangan cahaya yang indah itu, tiba-tiba Jonas memberanikan diri mencium pipi Reisa. Perbuatan Jonas itu membuat Reisa gelagapan namun Jonas menahan suara Reisa dengan telunjuknya seakan menyuruhnya diam. Reisa tak tahu harus berbuat apa kecuali menurutinya.

Ternyata tanpa minta persetujuan Reisa, Jonas mendekat ke arah bibir Reisa dan mengulumnya beberapa saat. Reisa semakin terkejut. Ia tak menduga Jonas akan melakukan itu terhadapnya. Lelaki dengan wajah yang cukup membuat orang jijik itu berhasil mengulum dan melumat bibirnya. Reisa hanya menutup matanya selama diperlakukan seperti itu.

Jonas dan Reisa berjalan pulang tanpa ada kata yang terucap. Diantarnya Reisa sampai di pintu rumahnya. Sepeninggal Jonas, Reisa termenung di kamarnya. Reisa sadar jika Jonas menaruh hati padanya. Ia tak mengerti mengapa dirinya membiarkan saja semua ini terjadi. Apakah ini gara-gara kesepiannya jauh dari Dino ataukah ia memang sudah mulai suka pada Jonas yang bersikap melindungi. Padahal menurut akal sehatnya Reisa tak menginginkan Jonas jatuh cinta padanya karena bermacam perbedaan di antara mereka.

Sebetulnya Reisa belum melupakan Dino tunangannya yang masih ia cintai dan kelak akan jadi suaminya. Ia masih berusaha menghubungi kekasihnya itu. Sayangnya Dino seperti jadi membuat jarak dan kurang perhatian lagi padanya. Kini di lubuk hatinya mulai berperang antara perasaan kepada tunangannya atau Jonas.

Satu fakta yang tak bisa dipungkiri Reisa adalah bahwa Jonas dan dirinya sekarang sudah seperti sepasang kekasih. Memang tak pernah seorang pun di antara mereka yang menyatakannya dengan kata-kata tapi insiden ciuman di pantai dalam suasana yang romantis itu sudah cukup jadi bukti yang kuat. Begitu pula dengan kebiasaan Reisa kini yang sudah leluasa membuka kerudungnya di hadapan Jonas jika berduaan saja di dalam rumah.

***

Suatu siang selepas tugasnya di puskesmas dan berganti pakaian sebentar di rumahnya, Reisa menuju rumah Bu Nur. Di rumah Bu Nur telah menunggu Jonas. Sore itu Reisa akan melihat-lihat kegiatan warga yang berada di tempat Jonas melaksanakan praktek kerohaniannya. Bu Nur juga sebetulnya diundang. Akan tetapi karena karena anaknya sedang sakit dan Pak Nur sedang di Sibolga, Bu Nur tak bisa ikut. Maka Reisa berangkat hanya bersama Jonas ke pedalaman dengan naik perahu. Reisa sangat menikmati keindahan alam selama perjalanan menempuh rawa dan hutan bakau. Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai.

Di dusun itu ibu-ibu dan anak-anak ramai melakukan acara dengan gembira. Mereka merayakan hasil ladang dan tangkapan ikannya yang melimpah dengan atraksi tari-tarian dan diakhiri dengan acara makan bersama. Berbagai masakan dari babi, seperti babi panggang, dihidangkan untuk dimakan bersama. Reisa mengatakan ke Jonas, bahwa ia tak boleh makan makanan itu. Dengan bijaksana Jonas memberikan Reisa ikan bakar. Jonas tahu bagi Reisa babi adalah hewan yang haram.

Tak terasa ternyata acara baru usai di malam harinya. Reisa tak mungkin pulang ke tempatnya, apalagi malam itu juga malam bulan purnama. Jadi malam itu air laut akan pasang naik dan tak mungkin Reisa diantar dengan perahu. Langit diselimuti awan kelam seolah akan turun hujan.

Jonas menyarankan Reisa untuk bermalam di pondoknya saja. Kebetulan keesokan harinya adalah hari libur. Reisa setuju dan menghubungi Bu Nur mengabarkan bahwa ia tak pulang malam ini karena kemalaman. Jonas lalu membawa Reisa ke pondok kediamannya.

“Reisa, kau tidur dikamarku saja. Biar aku tidur di luar,” kata Jonas.

“Aduh, maaf ya, Bang. Aku jadi merepotkanmu,” balas Reisa.

“Ah, tak apa. Kadang aku pun tidur di ruang depan kok.”

Suasana pondok kayu itu terasa alami sekali. Apalagi tak ada listrik yang menerangi. Hanya ada lampu teplok di dinding kayu. Malam itu terdengar suara jangkrik dan binatang malam yang saling bersahutan. Sambil menikmati teh, Reisa duduk-duduk dulu di ruang depan bersama Jonas. Mereka berbincang tentang keluarga masing-masing. Reisa jadi tahu kalau Jonas yang berasal dari daerah timur itu tak pernah mengenal kedua orang tuanya. Dia diasuh dan disekolahkan oleh pihak gereja. Tak terasa mereka berdua ngobrol sampai larut malam.

Semakin malam, perbincangan mereka sampailah pada topik mengenai hubungan laki-laki dan wanita. Dalam keremangan Jonas melingkarkan tangannya ke bahu Reisa. Reisa membiarkan saja sikap Jonas itu. Malah ia merebahkan kepalanya di dada bidang Jonas. Reisa seakan menemukan kehangatan yang sudah lama tidak ia dapatkan dari tunangannya.

Dengan sikap hati-hati Jonas berusaha membuka kerudung Reisa. Ia tak mau Reisa tersinggung dengan perlakuannya. Ternyata Reisa diam saja. Maka dengan lembut tapi mantap Jonas melepaskan kerudung itu dari kepala Reisa. Sejenak keduanya berpandangan mata dalam jarak yang sangat dekat dan saling tersenyum. Perlahan Jonas melepaskan ikatan di rambut Reisa sehingga rambut hitam sebahu dan harum itu kini tergerai lepas. Reisa tampak semakin cantik. Kini kedua anak manusia tersebut saling ngobrol dengan sangat intim dan tak ada lagi jarak di antara mereka.

Jonas membelai rambut Reisa yang sebahu itu. Tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Jonas, Reisa semakin merapatkan tubuhnya. Ia merasa damai dan mendapat kehangatan dari Jonas. Apalagi Jonas juga membelai anak-anak rambut di tengkuknya sehingga membuat Reisa merasa geli dan terangsang.

Jonas berusaha meraih wajah Reisa yang saat itu amat pasrah kepadanya. Tak sulit bagi Jonas untuk mengulum bibir Reisa yang mungil namun ranum itu.

Inilah kedua kalinya bibir tipisnya dikulum Jonas. Saat ini Reisa dapat dengan penuh ikhlas menerimanya. Tak membutuhkan waktu lama akhirnya Reisa malah menyambut dan balas mengulum lidah yang dimainkan Jonas.

Tenteram rasanya mengetahui bahwa dirinya masih dibutuhkan dan diinginkan oleh seorang pria. Sikap Dino sebagai calon suaminya selama ini telah membuat dirinya merasa dicampakkan dan tak berguna. Reisa merasakan aliran birahi mulai menyerang dirinya.

Cukup lama mereka saling menjilat dan mengulum hingga mampu menggiring nafsu keduanya untuk meningkat ke arah selanjutnya. Tangan Jonas dengan lincah berusaha memasuki busana Reisa… dan berhasil! Tangannya menemukan segumpal daging lembut di dada Reisa dan membelainya. Hawa hangat tangan Jonas membuat Reisa larut dalam birahinya. Jonas senang sekali karena Reisa ternyata sama sekali tak menolak diperlakukan seperti itu.

Saat itulah Jonas mulai mendapatkan kepercayaan diri sepenuhnya. Ia segera berpikir bahwa ia harus memperawani Reisa malam itu juga. Sekarang atau tidak selamanya. Ia harus kuat dan berani melakukannya, apapun resikonya. Reisa sudah pasrah menanti bimbingannya.

Jonas berusaha melepaskan kancing kemeja Reisa. Reisa tak menolak sedikit pun perbuatan Jonas yang berusaha melepas busananya. Malah Jonas sendiri yang karena kegugupannya jadi sulit dan lama melakukan pekerjaannya. Reisa sendiri dengan sabar menunggu.

“Tenang aja, Bang…” bisiknya menenangkan di telinga Jonas.

Kini busana atas Reisa telah terlepas dari tubuh putih indahnya dan diletakkan di samping sofa. Reisa benar-benar berada dalam birahi. Jonas seakan telah menghipnotisnya. Kini tubuh indahnya hanya tertutup BH dan masih mengenakan celana panjang. Keindahan payudaranya yang putih mulus membuat Jonas semakin meningkatkan serangannya.

Jonas menjilat-jilat dinding payudara Reisa yang kini hanya terkulai dalam dekapan Jonas. Reisa memejamkan matanya menikmati belaian lidah Jonas. Tubuh Reisa masih memancarkan bau khas wewangian mahal yang selalu ia pakai. Bau wangi Reisa seolah menjadi obat perangsang lelaki yang membuat gairah Jonas terbangkitkan.

Jonas benar-benar yakin kalau Reisa telah pasrah kepadanya. Jonas melihat Reisa juga menikmati apa yang ia lakukan saat itu. Lelaki itu sangat yakin kalau ia akan bisa menikmati tubuh tunangan Dino itu malam ini juga.

Jonas lalu meraih tangan Reisa untuk berdiri. Reisa balik menggenggam tangan Jonas dan mengikuti Jonas berjalan ke dalam kamar. Jonas menyuruh Reisa untuk pergi ke dipan kayu yang tertutup kelambu itu. Ia sendiri menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya. Reisa hanya duduk diam di pinggiran dipan yang beralaskan kain sprei putih bersih itu. Sekali lagi Jonas semakin merasa percaya diri. Dilihatnya kalau Reisa sama sekali tak protes membiarkan dirinya mengurung mereka berdua di dalam kamar tidurnya.

Jonas mendekati Reisa, lalu mengangkat dagu Reisa dan kembali mengulumnya. Ia pun duduk di samping Reisa. Sebetulnya di dalam lubuk hatinya Reisa tahu apa yang dilakukannya bersama Jonas adalah perbuatan terlarang. Apa daya birahi dan nafsu seksnya terlalu dahsyat untuk dilawan. Ia siap melakukan perbuatan dosa itu bersama Jonas.

Kembali Jonas melingkarkan tangannya di bahu Reisa. Tanpa kata-kata yang terucap Jonas kembali menciumi anak-anak rambut Reisa di tengkuknya. Reisa merasa geli dan semakin pasrah. Ciuman Jonas yang bertubi-tubi pada leher dan bibirnya membuat Reisa jadi terpacu untuk mengimbanginya.

Jonas bukanlah laki-laki kemarin sore. Ia sudah bertahun-tahun merasakan nikmatnya bersetubuh dengan perempuan. Ia sering melakukan itu sejak sekolah seminari di Semarang dulu dan ia tak akan berhenti melakukannya. Pindah ke Mentawai sebetulnya sempat membuatnya menderita karena ia jadi semakin sulit menemukan perempuan yang bisa diajaknya bersetubuh. Pertemuannya dengan Reisa seolah menghadirkan setetes embun harapan. Untunglah karena pada dasarnya Jonas adalah seorang pemuda yang keras keinginannya. Malam ini harapannya itu tampaknya akan jadi kenyataan. Ia yakin akan bisa menaklukkan Reisa sepenuhnya.

Jonas tak ingin melewatkan momentum itu. Dengan cekatan dilepaskannya BH berukuran 34B yang masih melekat di dada Reisa. Tak sulit sama sekali karena sudah tak ada lagi perlawanan dari gadis cantik itu. Dengan sedikit melepas pengait yang berada di punggung Reisa, Jonas dapat melihat keindahan kedua bukit salju yang selama ini belum pernah terlihat olehnya.

Secara spontan Reisa menyilangkan tangannya menutupi kedua buah dadanya. Sebagai seorang perawan ia masih merasa malu dalam keadaan seperti itu di hadapan Jonas. Inilah pertama kalinya ia mempertontonkan payudaranya yang indah kepada seorang lelaki dewasa. Bahkan selama bertahun-tahun berpacaran dengan Dino ia tak pernah melakukan hal seperti itu karena sebetulnya Dino adalah seorang yang cukup taat beragama walaupun sifatnya masih sering kekanak-kanakan.

Dengan penuh pengertian, Jonas membelai-belai tangan Reisa yang menutupi kedua bukitnya. Perlahan tapi pasti, sambil terus membelai tangannya, Jonas membimbing tangan yang putih dan halus itu untuk meninggalkan kedua payudaranya. Sementara tangannya yang satu lagi memulai pekerjaannya membelai kedua gundukan yang padat dan kenyal itu. Dimainkannya juga kedua puting Reisa sehingga mulai mengeras. Semua bulu roma di kulit putih Reisa seolah berdiri merasakan jelajahan tangan Jonas.

Jonas lalu meraba celana panjang Reisa dan mencari resletingnya. Begitu ditemukan, langsung dibukanya celana berwarna putih itu dan dilolosinya melalui kedua kaki Reisa yang jenjang.

Setelah itu Jonas menggiring tubuh Reisa masuk ke dalam dipan yang diselimuti kelambu itu. Reisa hanya mengikuti kemauan Jonas yang sudah amat bernafsu karena sudah melihat dengan nyata semua keindahan ragawi Reisa yang selama ini hanya ia nikmati dari angan-angannya.

Di atas dipan kayu itu, Jonas membaringkan tubuh Reisa. Bibirnya melata di atas permukaan kulit dada Reisa. Ia berlama-lama bermain di kedua bukit yang menjulang indah itu. Ia ingin membuat Reisa merasa nyaman dulu sehingga nanti benar-benar siap saat dimasukinya. Hasilnya segera terlihat, kedua puting Reisa semakin mengeras.
Jonas tak bisa dibohongi. Berdasarkan pengalamannya, jelas kalau Reisa sudah terangsang dan sebentar lagi tentu akan siap untuk disetubuhinya.

Jonas beberapa kali menggigit dada Reisa sehingga menimbulkan jejak-jejak cupangan di wilayah dada dokter muda yang cantik itu. Reisa hanya mampu memejamkan matanya. Rabaan dan pilinan juga cupangan Jonas membuatnya terbang di awang-awang. Ini adalah pengalaman pertamanya melakukan itu dengan seorang laki-laki. Dulu saat bersama Dino tunangannya, Reisa bercumbu dengan sikap was-was takut kebablasan. Anehnya kini ia malah bisa melakukannya bersama Jonas sampai sejauh ini dengan nyaman tanpa rasa was-was yang berlebihan. Malah Reisa semakin tak sabar menunggu apa yang akan dilakukan Jonas terhadap dirinya selanjutnya.

Reisa semakin pasrah dan patuh. Tubuh bagian atas Reisa mulai lembab karena air lidah Jonas dan keringatnya sendiri yang bercampur dengan keringat Jonas. Ia merasakan tubuhnya panas, mengalahkan suasana dingin malam di pedalaman itu.

Jonas berhenti sesaat untuk melepas bajunya, lalu celana panjang dan celana dalamnya. Perasaan Reisa bercampur baur saat melihat untuk pertama kalinya lelaki keriting itu dalam keadaan bugil. Tubuhnya kekar dan gempal, hanya perutnya buncit karena kebiasaannya minum bir. Dadanya yang bidang ditumbuhi bulu lebat. Tubuhnya yang hitam sedikit lebih pendek daripada tubuh Reisa. Sangat kontras dengan tubuh Reisa yang jenjang dan putih seperti seorang peragawati.

Satu hal yang paling menyita perhatian Reisa adalah kemaluan Jonas. Di bawah temaram lampu teplok, dilihatnya bongkahan daging yang gemuk itu melambai-lambai dari balik bulu pubisnya yang lebat seolah mengucapkan salam kepada dirinya. Benda tumpul yang tampak seperti belalai gajah itu tak dikhitan.

Tanpa malu-malu Jonas mendekat ke tubuh Reisa yang bertelanjang dada. Saat tubuh Jonas merangkak di atas tubuhnya, terasa batang kemaluannya yang panjang membelai kaki Reisa mulai dari betis, lalu sampai ke paha, dan akhirnya menyentuh selangkangannya.

“Ya Tuhan, lelaki ini akan memperawaniku malam ini juga kalau tak ada suatu kekuatan yang menghalanginya,” hanya itu pikiran yang ada di dalam benak Reisa.

Kini di atas dipan yang diselimuti kelambu itu kedua tubuh anak manusia itu mulai terlihat seperti sepasang pengantin yang sedang memulai malam pertamanya.

Tiba-tiba sejenak kembali Reisa merasa malu berada dalam situasi seperti itu bersama Jonas. Dalam hatinya berkecamuk pikiran tentang masa depan pertunangannya dengan Dino, karirnya maupun perbedaan agama di antara mereka berdua. Yang terpenting, ia tahu perbuatan mereka berdua saat itu dilarang dalam agamanya. Saat Jonas berusaha menyentuhnya, Reisa menunjukkan tanda-tanda penolakan.

Sayang semuanya sudah terlambat! Jonas yang melihat sekilas perubahan sikap Reisa segera mengambil tindakan. Dijatuhkannya tubuh telanjangnya sehingga menghimpit tubuh Reisa yang juga hampir bugil. Digenggamnya kedua tangan Reisa dengan kedua tangannya kuat-kuat. Dibekapnya mulut gadis itu dengan bibirnya yang tebal dan mulai dikulumnya dengan penuh nafsu. Sejenak dirasakannya adanya pemberontakan dari Reisa namun apalah daya gadis itu dibandingkan kekuatan fisik Jonas. Jonas memang sudah sangat pengalaman dalam menangani seorang perawan seperti Reisa. Kadang paksaan secara fisik memang diperlukan pada saat yang tepat.

Setelah beberapa lama terbukti apa yang dilakukan Jonas adalah benar. Reisa yang kembali terbakar birahinya karena diperlakukan seperti itu berhasil dimatikan akal sehatnya. Gadis itu mulai menbalas kuluman Jonas dengan tak kalah bernafsunya. Tangannya yang halus juga balas menggenggam tangan Jonas yang kasar dan kokoh.

Perlahan Jonas melepaskan kulumannya dari bibir Reisa dan kepalanya bergerak turun ke bawah. Mulutnya menjelajahi tubuh gadis itu mulai dari dagu, leher, sampai ke dada. Reisa membiarkan saja dan malah menahan kepala Jonas agar tak menjauh dari belahan dadanya. Jonas terus mengeksplorasi wilayah sensitif itu. Di samping itu, tangannya pun mulai beraksi. Jari-jarinya langsung masuk ke dalam celana dalam Reisa.

Jonas merasa senang sekali berhasil menyentuh alat kelamin Reisa tanpa penghalang lagi. Inilah pertama kalinya ia melakukannya. Dengan pengalamannya yang segudang, dirangsanginya klitoris Reisa sampai perlahan-lahan ia mulai merasakan vagina gadis itu mulai basah. Jonas sama sekali tak menyembunyikan kegirangannya. Ia tersenyum lebar pada Reisa dan menciumi bibirnya. Reisa sama sekali tak menolaknya.

Gadis itu sedikit gelisah. Jonas tahu kalau sekarang Reisa gelisah bukan karena malu kepadanya. Ia gelisah karena sudah setengah jalan dirangsangi oleh Jonas dan sekarang sudah tak sabar untuk dituntaskan birahinya!

Merasakan Reisa sudah pasrah bulat-bulat padanya, Jonas lalu menarik celana dalam putih Reisa yang sudah basah di sekitar belahannya hingga terlepas. Reisa tak menahannya sama sekali. Jonas lalu melempar CD Reisa jauh-jauh.

Tubuh dokter muda itu kini sudah polos tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya seolah telah menjadi milik pemuda hitam tersebut. Jonas tahu Reisa sudah tak mampu lagi menolak perbuatannya. Ia turun dan membuka kedua paha Reisa. Jonas kini telah berada di antara kedua kaki yang jenjang dan mulus itu. Ia lantas menumpukan kedua lutut dan punggung tangannya ke atas tempat tidur, tepat di atas tubuh Reisa.

Wajah Reisa hanya berjarak beberapa centimeter dari wajah Jonas. Sebelum melanjutkan pekerjaannya, Reisa dapat melihat dengan jelas bahwa Jonas memanjatkan doa terlebih dahulu. Ia memohon agar Tuhan Yesus memberkati dan membimbing persetubuhan mereka, supaya persetubuhan ini bisa menjadi titik balik baik bagi Jonas maupun Reisa.

Reisa terkesima dengan perbuatan Jonas itu. Ia merasa seolah menjadi bagian dari suatu upacara yang sakral. Entah karena doa Jonas dikabulkan atau karena sebab lain, begitu Jonas menyelesaikan doanya dalam waktu beberapa detik, Reisa benar-benar memasrahkan dirinya dibimbing oleh Jonas.

Jonas akan melakukan melakukan penetrasi di liang kemaluan Reisa. Gadis itu sudah pasrah kepadanya. Perlahan batang kemaluan Jonas menegang menampakkan wujudnya yang perkasa. Benda hitam tumpul dan tidak disunat itu bersiap memasuki liang perawan milik Reisa.

Tanpa membuang waktu, Jonas segera menuju gerbang yang selama ini amat ia impikan. Gerbang yang masih perawan dan belum pernah dijamah oleh tangan laki-laki, bahkan oleh tunangannya Dino sekalipun. Gerbang perawan itu ditumbuhi sedikit buku-bulu halus yang tertata rapi menandakan pemiliknya adalah orang yang amat telaten merawat dan menjaga area kewanitaannya. Liangnya mulai basah karena libido pemiliknya yang mulai bangkit.

Jonas dengan tangannya berusaha menempelkan batang kemaluannya ke liang Reisa yang masih sempit dan sudah berlendir itu. Jonas tahu kalau liang kemaluan Reisa telah siap untuk dimasukinya.

Reisa tak sanggup memandang Jonas yang kini berada di atas tubuhnya. Reisa merasakan seluruh permukaan kulitnya merinding menantikan pertemuan kedua kelamin mereka. Ia merasakan bulu-bulu halus di tangannya yang putih dan diseluruh tubuhnya seolah berdiri. Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan hal seperti ini.

Jonas lalu meraih kedua tangan Reisa dan mengenggamnya. Kedua tangan Reisa dibukanya ke samping kiri dan kanan. Kedua lutut hitam dan penuh bulu milik Jonas menahan paha Reisa agar tak merapat. Jelas sekali perbedaan warna kulit kedua sosok anak manusia yang sedang melakukan perkawinan itu. Jonas mengarahkan kemaluannya ke liang Reisa secara hati-hati.

Ia tak berhasil juga memasuki celah sempit itu. Jonas semakin tak sabar ingin segera merasakan celah perawan milik Reisa. Usahanya belum menampakkan keberhasilan.

Sebagai laki-laki yang sudah beberapa kali merasakan hubungan badan dengan gadis-gadis perawan selama di Semarang dulu, Jonas seakan harus bersabar lagi. Kini semua tinggal bergantung pada kesabaran Jonas sebab Reisa sendiri sudah pasrah menyerahkan keperawanannya padanya. Maka lelaki itu semakin berusaha mendapatkan keperawanan Reisa yang dirasakan sebagai haknya.

Dengan penuh kesabaran, Jonas akhirnya dapat meretas jalan bagi kemaluannya di celah sempit itu. Seakan membuat jalan baru, Jonas melakukannya penuh kehati-hatian. Kepala kemaluannya mulai masuk di celah itu. Reisa mulai merasakan ngilu dan terpekik.

“Aduhhhh…. ssaakiitt…. Banggg!” jerit Reisa tertahan. Reisa berusaha mendorong tubuh dan dada Jonas yang berbulu itu.

Tentu saja Reisa tak mampu melepaskan diri dari himpitan Jonas saat itu. Kedua paha Reisa tak berdaya menolak kuncian dari lutut Jonas. Apalagi kedua tangannya dipegang dengan erat oleh kedua tangan Jonas. Kedua tubuh anak manusia itu basah oleh keringat. Lelehan keringat di tubuh Jonas jatuh ke tubuh mulus Reisa dan bercampur.

Jonas memandangi dengan penuh hasrat ekspresi wajah Reisa saat melepas keperawanannya. Badannya menggigil sedangkan wajahnya tampak tegang dan bergetar.

Tubuh putih mulus Reisa saat itu tak bisa terlalu banyak bergerak. Sedikit gerakan maju pada pinggul Jonas membuat batang kemaluannya amblas ke dalam celah kemaluan Reisa yang perawan. Reisa merasakan ngilu dan perih. Sambil mendengus, ia menjerit tertahan.

“Aduhhhhh…. mmmaaaak… aduhhh… sakiit. Ammmmpppunnn…. Bang!!” Reisa meracau kesakitan seperti hewan yang sedang disembelih.

Suara hujan yang deras disusul suara geledek seolah menandakan sedang terjadinya peristiwa perkawinan di malam itu.

Di tempat itu hanya mereka berdualah manusia yang ada dalam radius beberapa kilometer. Jadi malam itu tak ada seorang pun yang mendengar jerit sakit dan ngilu yang dirasakan Reisa. Kedua bola matanya terlihat memutih menahan rasa ngilu saat melepas keperawanannya. Wajahnya menggigil dan bergetar. Kedua tangannya yang mulus menggenggam keras-keras tangan Jonas. Jonas sangat menikmati saat-saat itu.

Jonas merasakan adanya sesuatu yang robek dan lepas di saat benda tumpul miliknya memasuki Reisa. Sebagai laki-laki berpengalaman ia tahu bahwa ia telah berhasil merobek keperawanan dokter muda itu. Reisa adalah gadis perawan ke-5 yang berhasil diperdaya Jonas.

Selama ini kebanyakan gadis yang berhasil ia gauli hanyalah siswi SMA dan mahasiswa di kota Semarang. Sungguh di luar dugaan kalau saat praktek di pulau itu ia bisa mendapatkan keperawanan seorang gadis cantik yang berprofesi dokter. Hal itu membuatnya sangat bangga.

Jonas mendiamkan posisinya sejenak. Ia memperhatikan Reisa yang kini hanya bisa meneteskan air matanya. Tampak Reisa seperti menyesal telah melepaskan kegadisannya kepadanya. Jonas maklum kalau sebagai seorang muslimah, Reisa ingin mempersembahkan keperawanannya hanya kepada suaminya kelak. Sebaliknya, Jonas merasa sangat senang sudah berhasil memperawani Reisa. Ia ingin menghibur dan membawa Reisa turut serta dalam kesenangan badani yang dirasakannya saat itu.

Sambil sesenggukan Reisa berusaha memandang Jonas saat itu. Kedua matanya dibasahi air mata namun ia tak berusaha melepaskan kedua tangannya dari genggaman tangan Jonas. Tangan Reisa hanya memegang jari-jari Jonas dengan sangat lemah. Jonas tahu kalau Reisa menangisi dirinya yang sudah bukan perawan lagi.

Reisa masih sesenggukan menahan rasa perih dan ngilu di liang kehormatannya itu saat tiba-tiba Jonas menarik kemaluannya sejenak untuk kemudian mulai mendorongnya keluar masuk. Reisa kembali mengatupkan kedua bibirnya menahan sesuatu yang ngilu di selangkangannya. Tanpa ampun, Jonas terus memajumundurkan pinggulnya ke dalam rahim Reisa. Dipaksanya gadis itu untuk terus bersetubuh.

Reisa sudah tak menahan gerakannya lagi. Gadis itu benar-benar sudah pasrah disetubuhi Jonas. Tubuhnya sudah bukan miliknya lagi. Sambil mengemut kedua payudara Reisa dengan mulutnya, Jonas terus bergerak menarik dan menusuk kelamin Reisa. Kedua tangannya kini meremasi kedua payudara Reisa yang licin dan basah oleh keringat dan ludah.

Reisa sudah melalui masa sulitnya dalam perkawinannya dengan Jonas malam itu. Rasa sakit di kemaluannya tak lagi dirasakan. Kini ia hanya merasakan gejolak birahi dan gelombang nikmat yang mendera tubuhnya. Dengan masih memejamkan matanya Reisa hanya mampu memegang kedua lengan Jonas yang berotot itu. Reisa semakin dapat menerima hunjaman kemaluan Jonas di dalam rahimnya. Kini yang keluar dari bibir tipisnya hanyalah dengus nafas yang berat menikmati semua itu.

Kedua kakinya membelit rapat pinggang Jonas. Tubuhnya bergoyang-goyang mengikuti irama goyangan tubuh Jonas yang menghunjam-hunjam kelaminnya. Suara paha keduanya yang beradu tampak jelas terdengar.

Beberapa menit kemudian Reisa semakin kuat mendengus. Ia merasakan akan meledak orgasmenya. Tubuh putih mulusnya melengkung ke arah Jonas dan semakin merapatkan tubuhnya memeluk tubuh telanjang Jonas. Reisa kini memeluk rapat tubuh Jonas. Tak lama kemudian Reisa melepaskan orgasmenya. Di saat yang hampir bersamaan, Jonas juga memuntahkan spermanya ke dalam rahim Reisa yang sudah siap ia buahi.

Reisa merangkul tubuh Jonas dan mengigit lengan lelaki itu. Setelah mengalami gelombang kepuasan dalam berhubungan badan, kedua tubuh telanjang itu terkulai lemas dengan posisi masih saling berdempet.

Reisa telentang di dipan kayu yang diselimuti kelambu di kamar jonas. Hujan masih turun rintik-rintik seolah menandakan peristiwa besar perkawinan kedua anak manusia itu telah usai. Perlahan kemaluan Jonas mengkerut kembali dan terlepas dari liang kemaluan Reisa. Perlahan-lahan tampak air mani Jonas yang putih dan kental mengalir keluar dari liang senggama Reisa. Jonas tergolek di samping Reisa. Sambil berpelukan bak suami istri keduanya lelap tertidur hingga paginya.

***

Pagi itu masih dingin dan terdengar suara kicauan burung-burung dalam hutan bakau di pedalaman itu. Jonas telah lebih dulu bangun dari tempat tidurnya. Di saat bangun ia memperhatikan wajah cantik Reisa yang tadi malam ia perawani dan semakin terlihat kecantikannya. Dengan selimut ditutupinya tubuh Reisa yang masih telanjang.

Kemudian ia menutup tirai kelambu dan juga menutup pintu kamarnya, lalu keluar rumah untuk mandi dan masak. Setelah beres, Jonas masuk kembali ke dalam pondoknya.

Reisa tampak masih tertidur pulas. Rupanya ia kecapaian dengan persebadanan yang pertama kalinya itu. Jonas masuk kembali ke kamarnya. Pagi itu belum terlihat cahaya matahari yang menerangi bumi karena masih mendung.

Jonas membuka selubung kelambu dan membelai rambut dan pipi Reisa dengan lembut sambil membangunkannya. Merasa ada yang membelai pipinya yang halus, Reisa perlahan membuka matanya. Perlahan-lahan ia bisa mengingat kembali apa yang telah dilakukannya bersama Jonas semalaman. Reisa berusaha duduk dan menutupkan selimut pada dadanya yang terbuka.

Walaupun ia telah melakukan hubungan badan dengan Jonas malam tadi, namun ia merasa tetap harus menutupi dadanya. Jonas menyarankan agar Reisa bersih-bersih dulu supaya segar mumpung cuaca tak hujan. Jonas memberikan handuk dan kemeja lengan panjang beserta celana pendek miliknya untuk dikenakan Reisa.

Saat Reisa berusaha turun dari dipan itu ia masih merasa ngilu di selangkangannya. Dengan mimik sedikit meringis ia berusaha berjalan. Jonas membantu Reisa bangun dari dipan dengan lembut dan membimbingnya ke kamar mandi. Dalam hati ia merasa sangat senang melihat wanita cantik yang baru disetubuhinya semalaman itu berjalan tertatih-tatih. Itulah hasil perbuatannya yang sungguh sangat membanggakan!

Reisa menyiram tubuhnya dengan air yang berada di kamar mandi itu. Tubuhnya mulai terasa segar meski merasa sedikit letih. Jonas kembali ke kamarnya dan mengganti kain seprei dipannya yang sudah kusut di sana sini. Ia juga melihat ada tetesan darah perawan Reisa yang sudah mulai mengering. Tak banyak memang, namun membuatnya bangga, bukan saja darah, namun ada juga lendir spermanya dan cairan orgasme Reisa di kain putih itu. Jonas melipat kain itu dengan rapi dan lalu menyimpannya. Ia tak mau mencuci kain itu sama sekali.

Kemudian ia ganti dengan kain seprei yang baru. Kini dipan dikamarnya sudah rapi kembali. Jonas mendapati celana dalam dan BH Reisa yang tercecer di bawah dipannya. Kedua benda itu ia kumpulkan di atas meja.

Selesai mandi, Reisa dan Jonas makan bersama. Reisa merasa sedikit canggung dengan suasana saat itu. Bangun tidur bersama seorang laki-laki, lalu sarapan bersama. Bahkan kemeja yang dikenakannya sekarang pun adalah kemeja seorang lelaki! Inikah rasanya menjalani kehidupan pernikahan?

Reisa hanya memandangi Jonas saat lelaki itu membereskan meja makan. Reisa masih membayangkan kejadian yang tadi malam ia alami bersama Jonas. Ia seakan tak percaya kalau hubungan mereka bisa sampai sejauh itu hingga ia rela melepaskan kehormatannya kepada Jonas. Padahal selama ini ia mampu menjaga mahkotanya itu bahkan saat bersama Dino tunangannya sekalipun. Bahkan hubungannya dengan Dino terbilang sangatlah sopan jika dibandingkan dengan hubungannya dengan Jonas yang jelas-jelas bukan apa-apanya. Reisa bahkan tak pernah sekalipun membuka pakaiannya atau telanjang di hadapan Dino.

Dalam kecamuk pikirannya itu, Reisa dikejutkan oleh sapaan Jonas yang amat lembut. Jonas mengajak Reisa pindah ke teras untuk menyaksikan tumbuhan di halaman pondoknya. Dibawanya secangkir teh untuk Reisa. Jonas sendiri membawa sebotol bir. Gerimis yang turun lambat laun berubah menjadi hujan yang cukup deras. Sambil duduk-duduk, Jonas menyalakan sebatang rokok untuk menghangatkan tubuhnya.

Sambil dipeluk Jonas, Reisa menghubungi Bu Nur lewat telepon genggamnya. Ia mengabarkan kalau tak bisa pulang hari itu sebab cuaca amat buruk. Bu Nur memahaminya dan menyuruh Reisa tetap tinggal di tempat Jonas dahulu.

Di samping itu, Reisa menerima sebuah SMS dari Dino tunangannya. Dalam SMS-nya, Dino meminta maaf atas kelakuannya selama ini dan memohon supaya Reisa mau melanjutkan kembali hubungan mereka. Jonas yang duduk di samping Reisa ikut membacanya. Walaupun merasa cemburu tapi ia tak berkomentar sedikitpun.

Reisa termenung sebentar membaca SMS itu. Dalam hati ia mengutuki Dino karena baru minta maaf sekarang padahal ia sudah berusaha mendekati dan berbaik-baik dengan tunangannya itu sejak lama tapi selalu tidak diacuhkan. Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Reisa sudah menyerahkan kehormatannya kepada Jonas. Reisa yang sudah lebih memilih Jonas sekarang hanya membalas singkat dengan mengatakan ia butuh waktu untuk sendiri dulu dan kalau sekarang ia sedang sibuk. Jonas merasa cukup puas dengan jawaban Reisa kepada tunangannya itu.

Selesai Reisa mengirim SMS balasan, Jonas langsung mengulum bibir Reisa seolah menghargai tanggapannya kepada tunangannya itu. Reisa membalas mengulum bibir Jonas dengan tulus.

Reisa duduk berdampingan dengan Jonas di tengah pagi yang disiram hujan lebat itu. Mereka seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Reisa seolah tak lagi menghiraukan hubungannya dengan Dino tunangannya. Sebaliknya, Reisa malah membiarkan Jonas memperlakukan dirinya seperti istrinya sendiri karena bagaimanapun Jonas lah yang telah memperawaninya semalam.

Sesekali mereka terlibat pembicaraan yang serius terkadang saling tertawa dan berpelukan. Reisa tak menolak jika tangannya selalu digenggam Jonas. Ia juga tak melarang Jonas menciumi bibirnya atau merabai kedua payudaranya. Malah rabaan Jonas itu mampu membuat mukanya bersemu merah menahan gejolak dalam dadanya.

Seperti mengerti apa yang diinginkan Reisa, setelah menghabiskan dua puntung rokok dan sebotol bir, Jonas menggiring Reisa ke dalam kamarnya. Reisa lalu dibaringkannya di atas dipan yang sudah ia bersihkan itu. Perlahan tapi pasti, Jonas melepaskan kemeja dan celana pendek yang ia pinjamkan pada Reisa itu dari tubuh sintalnya. Karena tak mengenakan bra dan celana dalam, Reisa kini sudah bugil total. Jonas pun melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya.

Mereka kini saling memilin dan merangsang. Tak ada lagi penolakan dari Reisa. Ia sudah tak mempedulikan statusnya lagi. Ia kini bukanlah Reisa yang kemarin yang masih perawan, tunangan seorang alim dan anak seorang pejabat tinggi. Kini ia menyerahkan seutuhnya tubuh dan jiwanya kepada calon pendeta dari Indonesia timur itu.

Jonas lalu mengajarkan Reisa untuk melakukan oral sex kepadanya. Tangannya yang kekar menggiring kepala Reisa ke arah selangkangannya. Digosok-gosokkannya penisnya yang hitam dan panjang ke muka Reisa. Dengan lembut dan berwibawa, Jonas meminta Reisa mengulum penisnya itu. Reisa merasa terkejut tak menduga permintaan Jonas itu tapi akhirnya ia mencoba melakukan oral sex pada kemaluan Jonas.

Perlahan ia mendekatkan bibirnya pada batang milik Jonas yang cukup panjang itu. Hampir tak muat di bibirnya. Berulang kali ia coba dan bisa dikulumnya namun tak semuanya karena panjangnya. Batang Jonas mengganjal langit-langit mulutnya. Hanya sampai di situlah kemampuan Reisa saat itu. Perlahan ia menjilat dan mengulum batang yang hitam dan tak dikhitan itu. Ada bau aneh yang dirasakannya saat itu. Bau khas kemaluan laki laki. Ia tak pernah tahu bau itu selama ini. Ia hanya tahu bentuk anatomi laki laki di saat kuliah dan praktek di rumah sakit beberapa waktu yang lalu.

Reisa merasa tak sanggup membuat Jonas puas dengan oral sex. Ia melepaskan kuluman di mulutnya. Jonas maklum saja melihat tingkah Reisa.

Lalu Jonas menarik tubuh Reisa sejajar dengannya. Jonas membaringkan Reisa kembali. Tubuh putih mulus itu ia telentangkan di dipan. Jonas lalu merabai payudara Reisa beberapa saat sehingga membuat Reisa terbakar birahi. Puas dengan bibir dan payudara Reisa, Jonas semakin turun ke arah kemaluan Reisa yang sudah ia jebol malam tadi. Lidahnya mulai melata masuk dan menjilat-jilat klitoris dokter muda itu. Mendapat perlakuan demikian, Reisa semakin melebarkan kedua kakinya dan menggerumas rambut ikal Jonas. Ia merasakan geli yang bercampur nikmat yang amat sangat.

Puas melihat Reisa yang sudah siap untuk melakukan senggama, wajah Jonas lalu menjauh dari celah itu. Kini ia tepat di atas tubuh Reisa yang terbuka. Setelah tubuh mereka sejajar, Jonas mengarahkan batang kemaluannya itu ke liang kemaluan Reisa. Perlahan benda tumpul itu masuk ke dalam vagina Reisa.

Kini gerakan Jonas perlahan dan amat penuh perasaan maju mudur. Reisa dapat merasakan pergesekan pertemuan alat kelamin mereka. Reisa semakin membuka dan membelit pinggang Jonas dengan erat. Jonas merasakan Reisa sudah menerima dirinya. Beberapa kali memang Jonas maju mundur dari perlahan hingga mulai cepat. Reisa hanya mampu memicingkan matanya. Yang kini ia rasakan adalah kenikmatan hubungan ragawi yang sangat dahsyat.

Tiba-tiba ia merasakan sengatan jutaan watt dari kenikmatan yang melandanya hingga ia mencengkeram bahu Jonas dengan amat kuat. Tubuhnya melengkung ke atas. Lehernya yang jenjang dan wajah cantiknya itu menengadah ke arah Jonas seolah memberi tahu akan kenikmatan yang melandanya. Jonas menyambut wajah Reisa dengan mengulum bibirnya. Akhirnya pegangan Reisa di tubuh Jonas pun lepas.

Reisa merasa tubuhnya semakin lemah tak bertenaga namun gerakan Jonas semakin kuat dan cepat menusuk-nusuk ke dalam kemaluannya. Reisa sudah tak mampu melayani gerakan Jonas. Kini ia hanya merasakan tubuhnya ringan seperti kapas dan gampang dilanda gelombang birahi. Dalam kebisuan Reisa saat itu hanya terdengar dengus tertahan… uhh… mmm… ugghhhh.. Seolah memohon agar Jonas secepatnya menyudahi persenggamaan itu.

Jonas terus melakukannya hingga tak lama kemudian ia memuncratkan spermanya membasahi liang senggama wanita itu. Reisa merasakan aliran panas air mani Jonas masuk ke dalam rahimnya. Ia cukup merasakan capai dan puas atas pelayanan Jonas saat itu. Begitupun Jonas menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh putih Reisa. Reisa tak mampu menolak tubuh kokoh Jonas yang menghimpit tubuhnya. Hanya waktu yang membuat kelamin keduanya terlepas.

Keduanya terkulai lemas lalu tertidur. Permainan seks di antara kedua anak manusia itu pun berhenti hingga keduanya terbangun siang harinya.

Karena cuaca hujan yang masih belum berhenti, maka mereka hanya menghabiskan waktu di dalam pondok saja berdua. Mereka seperti pengantin baru yang baru saja menunaikan hak dan kewajibannya. Reisa dan Jonas mengisi waktu hanya dengan duduk bercengkerama sambil makan dan bermesraan, dan diselang-seling dengan hubungan seks sepanjang hari itu.

Sampai malam harinya, mereka terus melakukan hubungan badan seolah ingin menghabiskan energi yang tersisa di tubuhnya. Reisa ternyata mampu melayani keinginan Jonas yang memang memiliki gairah seks di atas rata-rata itu. Tak bosan-bosannya Jonas terus melakukannya pada dokter muda dan cantik itu.

Minggu pagi setelah beres menunaikan kewajibannya terhadap Jonas, dan membersihkan tubuhnya sendiri, Reisa bersiap pulang ke pulau tempatnya tugas. Jonas sendiri, hanya dengan mencuci mukanya begitu selesai menyebadani Reisa untuk terakhir kalinya, langsung pergi untuk memimpin kebaktian di pedalaman itu. Reisa dengan setia menunggu Jonas pulang dari kebaktiannya.

Jonas lalu mengantar Reisa ke tempat tugasnya dengan perahu. Melalui sungai yang di selubungi hutan bakau dan rawa, mereka menyusuri sungai-sungai kecil. Tak memakan waktu lama, mereka sampai di tempat tugas Reisa. Reisa diantar Jonas ke rumahnya. Di tengah jalan mereka bertemu Bu Nur yang baru pulang dari gereja.

Dengan sapaan lembut, Bu Nur menawari Jonas dan Reisa singgah di rumahnya. Setelah ngobrol sebentar, Reisa melanjutkan perjalanan pulang bersama Jonas. Sesampai di rumah, Jonas beristirahat sejenak di rumah Reisa sambil menghisap sebatang rokok.

Di rumah Reisa itu, Jonas kembali mengajak Reisa melakukan hubungan badan. Mulanya Reisa sempat menolak karena tak enak jika diketahui oleh warga sekitar apalagi Bu Nur tahu Jonas sedang mengantarnya ke rumah. Karena Jonas ngotot, meski hanya sebentar, akhirnya dokter muda itu meluluskan permintaan Jonas di kamar tidurnya.

Di kamar rumah dinasnya itu kembali Reisa dihantarkan Jonas hingga orgasme. Selesai melakukan persebadanan, Jonas bersiap pulang ke pedalaman. Mereka sepakat untuk bertemu minimal seminggu sekali. Kini Reisa sudah tak merasa malu lagi pada Jonas. Sambil bugil tanpa penutup apa pun, Reisa mengantar Jonas sampai ke depan pintu. Sebelum pulang, tak lupa Jonas mendekap erat sambil mengulum bibir kekasih gelapnya itu dengan penuh perasaan.

***

Setelah takluknya Reisa pada Jonas hubungan mereka semakin intim. Saat Reisa pulang ke Padang pada bulan ketiga ia di pulau itu Jonas mengantarnya walau tak sampai ke rumahnya. Ia hanya mengantar dengan taksi dan melanjutkan ke penginapan. Selama di Padang Jonas menunggu Reisa pulang ke pulau bersamanya.

Hubungan Reisa dan Dino tunangannya semakin memburuk apalagi setelah Dino kedapatan oleh salah seorang saudara Reisa menggandeng wanita lain di mall. Akibatnya, selain karena secara psikologis Reisa sudah dipengaruhi Jonas, secara sepihak Reisa memutuskan hubungan pertunangannya dengan Dino.

Sebetulnya Dino masih ingin mempertahankan pertunangan mereka. Ia berdalih bahwa wanita itu hanya mantan teman kuliahnya yang baru bertemu kembali. Orang tua dari kedua belah pihak pun meminta Reisa memikirkan baik-baik keputusannya. Karena saat itu Reisa tak mau mengubah pendiriannya, sementara Dino masih berusaha mempertahankannya, maka hubungan mereka akhirnya jadi menggantung. Rencana pernikahan mereka yang biasanya menjadi salah satu topik pembicaraan saat Reisa balik ke Padang, untuk pertama kalinya tak dibahas sama sekali. Ia bahkan tak mau menemui Dino sama sekali.

Sebaliknya, hampir setiap hari Reisa malah mendatangi penginapan tempat Jonas menunggunya. Di penginapan itu, kembali kedua anak manusia berbeda suku dan agama itu melakukan hubungan badan untuk kesekian kalinya. Mereka melakukannya tanpa paksaan dan murni keinginan mereka. Tak ada lagi perbedaan warna kulit, suku ataupun agama yang mereka berdua permasalahkan. Mereka saling memberi kepuasan kepada pasangannya. Dengan terbuka, Reisa menceritakan secara rinci hubungannya dengan tunangannya Dino kepada Jonas.

Walaupun demikian, hingga saat itu Reisa masih belum berani mengutarakan hubungannya dengan Jonas kepada kedua orang tuanya. Padahal Jonas ingin berbicara terus terang kepada kedua orangtua Reisa. Ia siap melamar gadis cantik itu ke pelaminan. Hanya saja Reisa melarang keinginan Jonas itu karena situasi hubungan Reisa dan Dino di mata keluarganya yang masih tak jelas dan menggantung. Reisa pun ingin memberitahukan hubungannya itu pada orangtuanya suatu saat kelak, tapi bukan sekarang. Ia ingin agar pada saatnya nanti, apapun konsekuensinya ia akan siap menerimanya.

Saat tiba waktunya untuk kembali ke Mentawai, Reisa diantar ayahnya ke pelabuhan Muaro. Ayah Reisa merasa putrinya sudah tak perlu lagi diantar sampai ke pulau. Dari kejauhan Jonas memandang anak dan ayah itu saling melambai saat Reisa menaiki kapal.

Tanpa sepengetahuan keluarga Reisa, Reisa dan Jonas telah memesan satu kamar di kapal untuk mereka berdua. Di atas kapal, mereka amat mesra dan tak jarang saling berciuman. Hampir sepanjang perjalanan mereka berdua mengunci diri di dalam kamar. Apalagi yang diperbuat kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu selain melakukan persebadanan. Tentu saja Reisa harus menahan diri untuk tidak menjerit saat mengalami orgasme karena ada banyak orang di sekeliling mereka yang hanya dibatasi oleh dinding-dinding kamar kapal yang tipis.

Di atas kapal, tak seorang pun yang tahu bahwa mereka bukanlah pasangan resmi. Reisa tertidur telanjang bulat di bahu Jonas yang bidang itu.

***

Paginya mereka sampai di pulau dan langsung ke rumah Reisa. Reisa bergegas menuju kamar mandi dan bersiap ke puskesmas. Jonas lalu menyusul Reisa untuk mandi bersama.

Selesai mandi, Reisa langsung berdandan dan memakai baju kerja lengkap dengan kerudung putihnya. Sementara Jonas masih beristirahat beberapa saat sambil merokok sebelum ia balik ke tempatnya di pedalaman. Sebelum Reisa pergi meninggalkan rumah, Jonas sempat memberikan ciuman di kening Reisa. Reisa tampak sangat bahagia dan balas mencium Jonas dengan mesra sambil tersenyum dengan manisnya.

Sejak itu hampir tiap akhir pekan Reisa berkunjung ke tempat Jonas dengan menumpang perahu nelayan. Biasanya ia baru kembali pada hari minggu sorenya. Reisa selalu memberitahu Bu Nur saat ia akan pergi ke pedalaman.

Dengan naluri kewanitaannya, Bu Nur bisa menebak sudah sejauh mana hubungan Reisa dan Jonas. Suatu hari, setelah dipancing-pancing, Reisa pun curhat kepada Bu Nur tentang semua hal yang menyangkut hubungannya dengan Jonas, dan juga dengan Dino.

Bu Nur merestui hubungan Jonas dan Reisa sepenuhnya. Bahkan Bu Nur meyakinkan Reisa kalau tindakannya berhubungan dengan Jonas adalah tepat. Reisa merasa senang ada seorang yang dituakannya yang mendukungnya. Tanpa setahu Reisa selama ini, Bu Nur sebetulnya sangat berharap Reisa dan Jonas bisa menjadi pasangan suami istri yang mengabdi di pulau itu. Apalagi Reisa kini secara sepihak telah memutuskan hubungan dengan tunangannya dan semakin dekat dengan Jonas.

Bu Nur sendiri sebetulnya kurang menyukai Dino yang dipandangnya terlalu fanatik. Sedangkan di dalam pandangan Bu Nur, Jonas adalah sosok pemuda yang beriman dan berbakat jadi pemimpin. Ia yakin Jonas dapat membimbing Reisa seandainya mereka berdua jadi suami istri.

***

Sabtu sore itu, seperti biasa Reisa berkunjung ke tempat Jonas di pedalaman. Setibanya di sana, Reisa disambut Jonas yang telah menyiapkan berbagai hidangan. Terdapat berbagai hidangan hasil laut dan makanan khas pulau itu, di antaranya babi panggang dengan bumbu pedas. Jonas hanya mengatakan pada Reisa kalau itu adalah daging rusa. Ia takut Reisa akan menolak memakannya jika diberi tahu yang sebenarnya. Tindakan Jonas itu terbukti tepat karena hidangan yang disuguhkannya terbukti mampu mendongkrak gairah seks mereka.

Begitu selesai makan, Reisa langsung membuka celana Jonas dan menundukkan kepalanya ke selangkangan Jonas yang terbuka. Reisa ingin memperlihatkan kalau dirinya sekarang sudah mampu melakukan oral sex dengan baik kepada Jonas yang berwajah buruk itu. Jonas merasa sangat bahagia dan menempelkan tangan-tangannya yang kekar ke leher dan kepala Reisa seolah tak rela kepala Reisa meninggalkan selangkangannya.

Seperti biasa, malam itu Reisa menginap di tempat Jonas dan baru pulang esok harinya. Jonas dengan muka berseri-seri menerima Reisa dengan tangan terbuka. Tentu saja malam itu mereka tak lupa melakukan persebadanan dengan penuh rasa cinta.

Sebaliknya, Jonas pun sering menginap di tempat Reisa jika ia berada di pulau kediaman Reisa. Meskipun hubungan mereka tidak memiliki status namun cukup membuat Reisa dan Jonas berbahagia. Kini yang dilakukan Reisa bukan lagi sekedar melepaskan hajat kewanitaan. Ia sudah mendapatkan rasa cinta yang mendalam dari Jonas dan memberikan segenap hati dan perasaannya demi Jonas. Selama ini ia tak mendapatkan itu semua dari tunangannya Dino.

Reisa tak lagi memandang perbedaan mendasar di antara keduanya, ia juga sudah ikhlas menerima sosok Jonas yang secara fisik dan status sosial mungkin tak pantas untuknya. Segala rasa minder, tak enak pun hilang dengan sendirinya jika Reisa telah bersua dan melepas rindu bersama Jonas. Sesuai dengan kesepakatan di antara mereka berdua, Jonas tidak memaksa Reisa untuk menikah atau berpindah agama. Bahkan walaupun Jonas merasa bersyukur karena Reisa telah memutuskan pertunangannya secara sepihak dengan Dino, ia tak pernah memanas-manasi Reisa untuk melakukan hal itu. Jonas benar-benar memberikan Reisa kebebasan.

Dengan hubungan yang sudah sejauh itu, Reisa masih belum memberitahu orangtuanya tentang hubungan cintanya yang baru bersama Jonas. Reisa masih menunggu saat yang tepat untuk memberi tahu kedua orang tuanya. Reisa tahu hubungan mereka itu akan ditentang dan dilarang kedua orang tuanya. Demi kelangsungan hubungan dengan Jonas itulah, makanya Reisa masih mengambangkan hubungan itu.

Ia masih sering pulang ke Padang sebulan sekali. Dino pun masih sering berusaha menghubunginya atau mengiriminya SMS tapi sekarang giliran Reisa yang tak mempedulikan Dino.

***

Sementara itu, Reisa dan Jonas semakin sulit dipisahkan satu sama lainnya. Hubungan mereka itu telah diketahui oleh Pak dan Bu Nur. Sejauh ini, hanya mereka berdualah yang tahu rahasia kedua sejoli itu.

Sebagai orang yang dituakan di daerah itu, Pak Nur pernah menanyakan hubungan itu pada Jonas. Jonas mengatakan bahwa dia siap untuk meresmikan hubungan dengan Reisa asal disetujui orang tua Reisa. Namun ia tak mau nantinya malah terpisah dengan Reisa. Begitu juga dengan Reisa saat ditanyai oleh Bu Nur, jawabannya sama persis.

Akhirnya demi pertimbangan kebaikan mereka berdua, Jonas berencana untuk menikahi Reisa secara diam-diam. Jonas setuju dengan berbagai syarat yang diajukan Reisa, di antaranya bahwa ia akan tetap memegang agamanya sendiri. Pernikahan diam-diam itu dilakukan di tempat Jonas. Kebetulan saat itu ada pendeta senior Jonas dari Medan yang sedang berkunjung ke Mentawai. Sang Pendeta Batak itulah yang menikahkan Reisa dan Jonas. Bapak dan Ibu Nur bertindak sebagai saksi dari pihak Reisa. Tanpa memakan waktu lama akhirnya Reisa resmi menjadi Nyonya Jonas atau Nyonya Reisa Banak.

Semua yang hadir merasa sangat gembira dan menyambut Reisa dengan setulus hati. Mereka merasa Reisa telah menjadi bagian dari mereka karena telah dinikahi oleh seorang calon pendeta yang berbakat. Walaupun Reisa tak melepas keyakinannya aslinya, tapi mereka tahu betapa cintanya Reisa kepada Jonas dan mereka yakin bahwa Jonas akan bisa membimbing istri barunya itu.

Sejak itu meskipun terpisah tempat bertugasnya, Jonas dan Reisa dapat mereguk kenikmatan ragawi dengan sempurna tanpa ada lagi halangan.

TAMAT

Balan

Copyright 2007, by Rajazah and Mario Soares

(Pemaksaan, Istri Selingkuh, Antar Ras, Cerita Tradisional Malaysia)

Malu sebenarnya aku untuk menceritakan ini tapi aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa dari pengalaman yang satu ini. Tak tahan rasanya kalau terus-menerus dipendam sendiri saja. Aku seorang ibu rumah tangga Melayu yang tinggal di daerah Gombak, di sebelah Utara Kuala Lumpur. Usiaku 26 tahun. Kami sudah berumah tangga selama dua tahun tapi sampai saat ini belum dikaruniai anak. Suamiku bekerja di sebuah perusahaan perhutanan.

Hari itu hari Jumat di tahun 2006. Sebelum pergi kerja paginya suamiku bilang kalau dia akan singgah di rumah untuk makan siang sebelum outstation petangnya. Dia minta saya masak untuk dia dan beberapa kawannya.

Pukul 12.30 tengah hari suami saya sampai di rumah dengan Trooper kantor. Bersama dia ada 4 orang lagi. Semuanya katanya kawan sekantor yang harus pergi outstation.

“Mau makan dulu, Bang?” tanyaku.

“Ah, nantilah, dik… sekarang sudah telat. Harus pergi sembahyang Jumat dulu. Balik sembahyang nanti, baru makan,” kata suamiku.

Sehabis makan nanti mereka mau terus berangkat ke Penang. Dari empat orang, salah seorangnya tak pergi sembahyang Jumat sebab dia Hindu. Namanya Balan. Orangnya jangkung kurus dan hitam. Kumisnya cukup tebal. Di pergelangan tangannya melingkar gelang seperti layaknya orang India. Jadi dia ini menunggu di rumah. Balan menonton TV di depan sambil duduk atas sofa.

Tak lama setelah suami dan ketiga orang kawannya pergi ke masjid, Balan minta kain handuk padaku karena mau buang air katanya.

Kuberikan handuk padanya, lalu kuteruskan kerja mencuci piring.

Waktu Balan keluar dari kamar mandi, entah bagaimana kain handuknya tersangkut pada kursi makan tepat di belakangku sehingga terjatuh bersama kursi. Brukkkkkk!!!! Aku terkejut dan spontan melihat ke arahnya. Aku langsung terdiam terpaku begitu melihat batang Balan yang besar dan hitam berkilat. Tak potong. Aku tertegun…. karena tak pernah melihat senjata lelaki sebesar itu sebelumnya.

“Maaf Kak,” kata Balan memecah kesunyian.

Sambil sedikit gemetar kuambil handuknya yang terjatuh di dekatku dari lantai dan perlahan kuberikan kembali kepada Balan. Entah bagaimana waktu aku menyodorkan handuk itu tiba-tiba Balan menarik dan menciumku. Aku mencoba lari tapi dia terus memelukku.

“Maaf sekali lagi Kak, saya suka sama akak punya body…akak jangan marah, saya tak tahan.”

Balan merayu diriku yang kini sudah berada dalam dekapannya. Dijelaskannya kenapa ia begitu bernafsu melihatku. Aku baru sadar kalau sejak datang Balan sudah mengamati tubuhku yang memang tak memakai pakaian dalam dan terpatri cukup jelas melalui baju kurung sutra dengan corak polos dan warna terang yang kupakai. Ia juga rupanya mengamati kulitku yang putih bersih dan wajahku yang kata orang memang cantik walaupun sebenarnya aku mengenakan tudung.

Tak panjang-panjang lelaki India itu bercerita, Balan kembali menciumiku dengan penuh nafsu…. rasanya merinding. Aku begitu terpana dengan kejadian yang cepat itu dan tak berdaya menampik serangan-serangannya. Handuk itu pun terlepas dari tanganku. Balan ternyata sangat pandai memainkan kedua putingku yang masih berada di balik baju. Salahku juga yang tak memakai BH saat itu. Sebenarnya celana dalam pun aku tak pakai, walaupun aku memakai baju kurung dengan tudung….

Aku pun tak tahu apakah aku harus marah kepadanya. Walaupun jelas ia tak bisa menahan nafsunya terhadap diriku tapi tadi ia berkali-kali berkata minta maaf padaku. Juga dari caranya menciumi diriku, seperti layaknya seorang yang sangat merindukan kekasihnya. Begitu hangat dan penuh perasaan. Terus terang aku jadi mulai terhanyut.

Balan rasanya bisa melihat kalau aku mulai kepayahan dan tak berdaya menolaknya. Ia pun semakin gencar mengulum bibirku sehingga aku tak mampu berkata-kata. Sementara tangannya bergerilya ke sekujur tubuhku.

Aku merasa semakin merinding sebab Balan mulai memasukkan tangannya ke dalam kainku. Tubuhku serasa bergetar dengan hebatnya. Sebenarnya sudah 18 hari saat itu aku tak bercinta dengan suamiku. Tak tahu apa sebabnya suamiku jarang mau bersetubuh denganku.

Karena itu sebetulnya dalam hati aku merasa amat tersanjung bertemu dengan lelaki yang langsung ingin menyetubuhiku padahal kami baru saja bertemu beberapa menit yang lalu. Apalagi yang mau disetubuhinya itu adalah istri teman sekerjanya sendiri dan kami hanya punya waktu yang singkat saja. Begitu besar risiko yang harus ditempuhnya hanya untuk menyalurkan hasratnya kepadaku. Tiba-tiba aku merasa sangat bergairah.

Balan tampak senang mengetahui aku tak memakai celana dalam. Dimain-mainkannya kelentitku dengan lihainya. Aku serasa terbang ke awang-awang. Di dalam pelukannya, aku membiarkan dia mempermainkan jemarinya di vaginaku. Mataku mulai merem melek. Tak sadar erangan nikmat mengalir dari mulutku. Balan tampak semakin senang melihat kepasrahanku.

“Akak jangan takut, saya akan pelan-pelan…” janji Balan tentang caranya dia akan menyetubuhiku.

Karena itu akhirnya aku sama sekali tak menolak ketika Balan membawaku ke ruang tengah dan berbaring di atas lantai di depan TV. Dia buka tudung dan bajuku. Lalu dia buka pula semua bajunya. Lucunya entah karena gugup atau begitu nafsunya, Balan memerlukan waktu agak lama untuk melucuti pakaiannya sendiri. Aku pun menunggu dengan harap-harap cemas dalam keadaan sudah bugil di atas lantai sambil memandangi penisnya yang kuncup dan tegang.

Kami pun kembali berciuman dengan penuh nafsu. Kali ini dalam keadaan bugil. Aku bisa merasakan tubuhnya yang dipenuhi rambut tebal menyentuh tubuh bugilku. Geli dan menggairahkan…! Beda rasanya dengan tubuh suamiku yang bersih dari rambut. Aku juga bisa merasakan penisnya yang besar seperti ular merayapi pahaku. Penis yang hitam dan tak dikhitan.

Jarinya masuk ke dalam vaginaku. Aku tersentak dan mengerang karena kenikmatan. Dia juga menciumi seluruh tubuhku. Balan benar-benar pandai dan tahu cara memperlakukan seorang perempuan. Aku makin tak tahan. Balan lalu menjilati vaginaku…. Aku pun memohon. Aku benar-benar tak tahan.

“Balan cepat….”

Lalu Balan memasukkan batangnya yang sudah sangat keras ke dalam vaginaku yang sudah basah kuyup rasanya. Dalam hal ini pun dia sangat pandai… dimasukkannya pelan-pelan, tarik-keluar tarik-keluar. Sedaaap sekali rasanya…. Tuhan saja yang tahu. Batangnya sangat besar sehingga penuhlah rasanya lubang kemaluanku. Aku mengangkat punggung setiap kali Balan menghenyakkan batangnya.

Setelah itu aku seperti orang gila saja. Tak pernah aku merasakan kenikmatan seperti itu. Lebih kurang lima menit aku merasa seperti mau kencing. Aku tahu aku sudah orgasme. Ooohh… nikmat sekali rasanya… kutarik badan Balan dan kudorong punggungku ke atas. Lalu kulilitkan kakiku ke pinggang Balan. Balan pun saat itu menghentak lagi dengan kuat….

Aku seperti meraung waktu itu. Sedappp… lalu muncratlah… Setelah terpancur air maninya, satu menit kami tak bergerak. Hanya saling berpelukan dengan erat. Nafas kami terengah-engah. Pandanganku nanar seakan terbang melayang ke langit ketujuh. Selama beberapa saat aku merasakan ketenangan, kenyamanan, dan perasaan puas bercampur aduk. Vaginaku terasa sangat panas dan basah kuyup. Penis Balan berdenyut-denyut di dalam alat kelaminku.

Setelah itu Balan menarik keluar batangnya dari dalam vaginaku… Ia tampak seperti ular sawah yang tertidur setelah selesai menyantap mangsanya…. terkulai.

Balan lalu berkata sambil mengecup dahiku, “Terima kasih akak!”

Aku tersenyum senang dan berbaring bugil bersamanya di depan TV. Tangan Balan melingkari leherku yang telanjang. Kurebahkan kepalaku di dadanya. Lalu sebelah tanganku menggapai kemaluan Balan yang masih basah setelah selesai digunakan untuk menyetubuhiku. Aku memandangi dan mengagumi batangnya yang kuncup dan begitu perkasa. Kubelai-belai penis Balan dengan lembut. Sementara itu bibirku menciumi dadanya yang hitam bidang dan dipenuhi rambut. Balan sendiri masih terbaring mengumpulkan kembali tenaganya tapi tampak jelas kalau ia sangat senang dengan perlakuanku.

Dibelai-belainya punggungku yang putih mulus dan juga rambutku yang hitam panjang. Dia tersenyum sambil memandangiku.

Aku terus mengusap-usap kemaluannya yang panjang dan kuncup itu. Dalam waktu yang tak berapa lama, aku bisa merasakan batang yang hitam itu sedikit demi sedikit mengeras kembali karena belaian dan rangsanganku. Senang sekali melihatnya…!

Sebelum suamiku dan kawan-kawannya kembali, Balan masih sempat menyetubuhiku sekali lagi. Kami berdua memang sama-sama ingin melakukannya lagi. Persetubuhan ronde kedua ini berlangsung cukup singkat. Dalam waktu 5 menit aku sudah berhasil mencapai orgasme. Beberapa detik kemudian Balan pun menggeram dan memuntahkan air maninya kembali di dalam rahimku. Aku belum pernah merasakan sensasi dan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Karena itu setelah Balan selesai menyetubuhiku untuk kedua kalinya, aku langsung memeluk dan mencium bibirnya dengan ikhlas sebagai tanda terima kasih.

Tangan Balan menjangkau marker yang tergeletak di atas meja kerja suamiku. Aku bertanya-tanya dalam hati apa yang akan dilakukannya. Rupanya ia menuliskan sesuatu di paha dalamku yang putih, dekat vaginaku.

Aku agak tersentak karena kaget tapi Balan menenangkan diriku. Aku diam saja karena percaya kepadanya. Rupanya ia menuliskan nomor HP!

“Akak, ini nomor HP-ku, nanti jangan lupa kita kontak-kontak lagi ya…” katanya sambil menatapku.

Aku jadi tersenyum malu. Dengan mantap aku menganggukkan kepala. Kurebut marker itu dari tangannya dan aku pun menuliskan nomor HP-ku di paha dalamnya yang legam, dekat dengan penisnya yang panjang dan mengagumkan. Balan hanya tersenyum senang melihat tingkahku.

Ia segera memeluk diriku yang telanjang erat-erat sambil mencium bibirku dengan nafsunya. Senangnya aku diperlakukan demikian! Suamiku tak pernah sedemikian bernafsunya pada diriku…. Aku tersenyum senang dan takjub begitu ia melepas bibirku dan menatapku dalam-dalam.

Kami mendengar suara Trooper memasuki pekarangan rumah tepat saat aku baru saja mengenakan kembali baju kurungku. Untunglah tadi begitu selesai ronde kedua Balan langsung menyuruhku bergegas berpakaian kembali tanpa kami sempat membersihkan diri dulu. Rupanya benarlah sarannya. Sambil mengenakan tudungku, aku segera menyiapkan hidangan di meja makan sementara Balan duduk di depan TV seolah tak pernah terjadi apa pun.

Kalau kupikir-pikir dengan akal sehat, sungguh nekat apa yang telah kulakukan tadi bersama Balan! Apalagi kalau kuingat pintu rumah kami pun dalam keadaan terbuka lebar! Untung saja tak ada seorang pun yang datang saat kami bersetubuh tadi… Kebetulan lokasi rumah kami memang agak jauh dari para tetangga maupun jalan raya.

Apa yang kami berdua lakukan tadi sebenarnya relatif sangat singkat. Kalau dihitung sejak Balan keluar dari kamar mandi sampai kami berpakaian kembali total waktunya hanya sekitar setengah jam. Walaupun singkat tapi benar-benar memuaskan dan menegangkan!

Aku agak gugup sebetulnya waktu melayani suamiku dan kawan-kawannya di meja makan. Maklum, inilah pertama kalinya aku berselingkuh terhadap suamiku. Apalagi lelaki yang baru saja menyetubuhiku ikut duduk pula semeja bersama kami. Aku pun masih merasakan air mani Balan mengalir keluar dari vaginaku yang basah kuyup karena aku belum sempat membersihkan diri sama sekali.

Untunglah Balan orangnya sangat periang dan banyak bicara. Suamiku dan kawan-kawannya lalu asyik makan sambil mengobrol dengan serunya. Sementara aku sendiri tidak terlalu banyak bicara karena masih terbayang-bayang baru saja disetubuhi secara hebat oleh Balan.

Begitu suamiku mengecup dahiku berpamitan dan pergi bersama kawan-kawannya, aku segera mengunci pintu dan melepas semua pakaianku.

Aku bermasturbasi membayangkan persetubuhanku bersama Balan tadi. Sungguh luar biasa dan menegangkan! Jemariku menembus vaginaku dan masih mendapatkan air mani Balan yang hampir mengering. Terasa lengket menempel di jemariku yang halus. Dengan nikmat kujilati jemariku dan kutelan perlahan-lahan sperma yang rasanya kuat beraroma kari itu…

Seharian itu sampai malamnya aku tak pergi mandi karena terus-menerus bermasturbasi membayangkan saat aku disetubuhi Balan. Kukirim SMS pada pemuda Hindu itu. Ia begitu senang membaca SMS-ku dan membalasnya bertubi-tubi dengan kata-kata cabul yang menggairahkan. Tak dipedulikannya jika ia sedang duduk di belakang suamiku.

Aku sangat senang membaca SMS dari Balan. Kata-katanya begitu cabul menyanjungi diriku dan membantuku melakukan masturbasi. Malamnya, saat sudah berada sendirian di dalam kamar, Balan meneleponku. Aku begitu senang mendengar suaranya, melebihi senangnya menerima telepon dari suamiku sendiri!

Tak terasa hampir satu jam kami berbincang dengan mesra dan saling merangsangi melalui percakapan telepon. Aku menyanjunginya sebagai jauh lebih hebat daripada suamiku sendiri. Ia pun menyebut diriku bagaikan dewi yang turun dari kahyangan! Akhirnya kami masing-masing melakukan masturbasi sambil terus bercakap-cakap. Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa! Aku tidur malam itu dengan badan penuh keringat dan hati yang luar biasa puas!

Aku jadi ingin kembali bersetubuh dengan Balan. Sayang suamiku belum ada lagi tugas outstation setelah kejadian itu.

Itulah pertama kalinya aku merasakan batang lelaki lain selain milik suami. Aku merasakan kenikmatan dan sensasi yang luar biasa. Jadi timbul keinginan untuk merasakan batang yang lain lagi.

Balan mengetahui keinginan terpendamku itu karena aku semakin sering curhat padanya. Balan sangat open-minded sehingga aku bisa curhat bahkan tentang hal-hal tabu yang tak mungkin kuceritakan pada suamiku sendiri. Ia berjanji untuk memperkenalkanku kepada teman-teman sepermainannya di Brickfields kalau suamiku pergi outstation lagi. Duuh, senangnya aku mendengar janjinya.  Tak sabar rasanya…

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Dukun Durjana

Copyright 2007, by Pak Lah dan Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com)

(Pemaksaan, Istri Selingkuh, Keroyokan, Cerita Tradisional Malaysia)

Namaku Salmiah. Aku seorang guru berusia 28 tahun. Di kampungku di daerah Terengganu, aku lebih dikenal dengan panggilan Bu Miah. Aku ingin menceritakan satu pengalaman hitam yang terjadi pada diriku sejak enam bulan yang lalu dan terus berlanjut hingga kini. Ini semua terjadi karena kesalahanku sendiri. Kisahnya begini, kira-kira enam bulan yang lalu aku mendengar cerita kalau suamiku ada hubungan gelap dengan seorang guru di sekolahnya.

Suamiku juga seorang guru di sekolah menengah di kampungku. Dia lulusan perguruan tinggi lokal sedangkan aku cuma seorang guru pembantu. Tanpa mencek lebih lanjut kebenarannya, aku langsung mempercayai cerita tersebut. Yang terbayangkan saat itu cuma nasib dua anakku yang masih kecil. Secara fisik, sebetulnya aku masih menawan karena kedua anakku menyusu botol. Cuma biasalah yang namanya lelaki, walau secantik apapun isterinya, tetap akan terpikat dengan orang lain, pikirku.

Diam-diam aku pergi ke rumah seorang dukun yang pernah kudengar ceritanya dari rekan-rekanku di sekolah. Aku pergi tanpa pengetahuan siapa pun, walau teman karibku sekalipun. Pak Itam adalah seorang dukun yang tinggal di kampung seberang, jadi tentulah orang-orang kampungku tidak akan tahu rahasia aku berjumpa dengannya. Di situlah berawalnya titik hitam dalam hidupku hingga hari ini.

Pak Itam orangnya kurus dan pendek. Tingginya mungkin tak jauh dari 150 cm. Kalau berdiri, ia hanya sedadaku. Usianya kutaksir sekitar 40-an, menjelang setengah abad. Ia mempunyai janggut putih yang cukup panjang. Gigi dan bibirnya menghitam karena suka merokok.

Aku masih ingat saat itu Pak Itam mengatakan bahwa suamiku telah terkena guna-guna orang. Ia lalu membuat suatu ramuan yang katanya air penawar untuk mengelakkan diriku dari terkena santet wanita tersebut dan menyuruhku meminumnya. Setelah kira-kira lima menit meminum air penawar tersebut kepalaku menjadi ringan. Perasaan gairah yang tidak dapat dibendung melanda diriku secara tiba-tiba.

Pak Itam kemudian menyuruhku berbaring telentang di atas tikar ijuk di ruang tamu rumahnya. Setelah itu ia mulai membacakan sesuatu yang tidak kupahami dan menghembus berulang kali ke seluruh badanku. Saat itu aku masih lengkap berpakaian baju kurung untuk mengajar ke sekolah pada petangnya.

Setelah itu aku merasa agak mengkhayal. Antara terlena dan terjaga aku merasakan tangan Pak Itam bermain-main di kancing baju kurungku. Aku tidak berdaya berbuat apa-apa melainkan merasakan gairah yang amat sangat dan amat memerlukan belaian lelaki. Kedua buah dadaku terasa amat tegang di bawah braku. Putingku terasa menonjol. Celah kemaluanku terasa hangat dan mulai becek.

Aku dapat merasakan Pak Itam mengangkat kepalaku ke atas bantal sambil membetulkan tudungku. Selanjutnya ia menanggalkan pakaianku satu-persatu. Setelah aku berbaring tanpa sehelai pakaian pun kecuali tudungku, Pak itam mulai menjilat bagian dadaku dahulu dan selanjutnya mengulum puting tetekku dengan rakus. Ketika itu aku terasa amat berat untuk membuka mata.

Setelah aku mendapat sedikit tenaga kembali, aku merasa sangat bergairah. Kemaluanku sudah mulai banjir. Aku berhasil menggerakkan tanganku dan terus menggapai kepala Pak Itam yang sedang berada di celah selangkanganku. Aku menekan-nekan kepala Pak Itam dengan agak kuat supaya jilatannya lidahnya masuk lebih dalam lagi. Aku mengerang sambil membuka mataku yang lama terpejam.

Alangkah terkejutnya aku saat aku membuka mataku terlihat dalam samar-samar ada dua sosok lain sedang duduk bersila menghadapku dan memandangku dengan mata yang tidak berkedip.

“Bu Miah,” tegur seorang lelaki yang masih belum kukenali, yang duduk di sebelah kanan badanku yang telanjang bulat. Setelah kuamat-amati barulah aku bisa mengenalinya.

“Leman,” jeritku dalam hati. Leman adalah anak Pak Semail tukang kebun sekolahku yang baru saja habis ujian akhirnya. Aku agak kalang kabut dan malu. Aku coba meronta untuk melepaskan diri dari genggaman Pak Itam.

Menyadari bahwa aku telah sadarkan diri, Pak Itam mengangkat kepalanya dari celah selangkanganku dan bersuara.

“Tak apa Bu, mereka berdua ini anak murid saya,” ujarnya sambil jarinya bermain kembali menggosok-gosok kemaluanku yang basah kuyup.

Sebelah lagi tangannya digunakan untuk mendorong kembali kepalaku ke bantal. Aku seperti orang yang sudah kena sihir terus berbaring kembali dan melebarkan kangkanganku tanpa disuruh. Aku memejamkan mata kembali. Pak Itam mengangkat kedua kakiku dan diletakkannya ke atas bahunya. Saat dia menegakkan bahunya, pantatku juga ikut terangkat.

Pak Itam mulai menjilat kembali bibir vaginaku dengan rakus dan terus dijilat hingga ke ruang antara vagina dan
duburku. Saat lidahnya yang basah itu tiba di bibir duburku, terasa sesuatu yang menggelikan bergetar-getar di situ. Aku merasa kegelian serta nikmat yang amat sangat.

“Leman, Kau pergi ambil minyak putih di ujung tempat tidur. Kau Ramli, ambil kemenyan dan bekasnya sekalian di ujung itu,” perintah Pak Itam kepada kedua anak muridnya.

Aku tersentak dan terus membuka mata.

“Bu ini rawatan pertama, duduk ya,” perintah Pak Itam kepadaku.

Aku seperti kerbau dicocok hidung langsung mengikuti perintah Pak Itam. Aku duduk sambil sebelah tangan menutup buah dadaku yang tegang dan sebelah lagi menggapai pakaianku yang berserakan untuk menutup bagian kemaluanku yang terbuka.

Setelah menggapai baju kurungku, kututupi bagian pinggang ke bawah dan kemudian membetulkan tudungku untuk menutupi buah dadaku.

Setelah barang-barang yang diminta tersedia di hadapan Pak Itam, beliau menerangkan rawatannya. Kedua muridnya malu-malu mencuri pandang ke arah dadaku yang kucoba tutupi dengan tudung tetapi tetap jelas kelihatan kedua payudaraku yang besar dan bulat di bawah tudung tersebut.

“Ini saya beritahu Ibu bahwa ada sihir yang sudah mengenai bagian-bagian tertentu di badan Ibu. Pantat Ibu sudah terkena penutup nafsu dan perlu dibuang.”

Aku cuma mengangguk.

“Sekarang Ibu silakan tengkurep.”

Aku memandang tepat ke arah Pak itam dan kemudian pandanganku beralih kepada Leman dan Ramli.

“Nggak apa-apa, Bu… mereka ini sedang belajar, haruslah mereka lihat,” balas Pak Itam seakan-akan mengerti perasaanku.

Aku pun lalu tengkurep di atas tikar ijuk itu. Pak Itam menarik kain baju kurungku yang dirasa mengganggunya lalu dilempar ke samping. Perlahan-lahan dia mengurut pantatku yang pejal putih berisi dengan minyak yang tadi diambilkan Leman. Aku merasa berkhayal kembali, pantatku terasa tegang menahan kenikmatan lumuran minyak Pak Itam. Kemudian kurasakan tangan Pak Itam menarik bagian pinggangku ke atas seakan-akan menyuruh aku menungging dalam keadaan tengkurep tersebut. Aku memandang ke arah Pak itam yang duduk di sebelah kiri pantatku.

“Ya, angkat pantatnya,” jelasnya seakan memahami keraguanku.

Aku menurut kemauannya. Sekarang aku berada dalam posisi tengkurep, muka dan dada di atas tikar sambil pantatku terangkat ke atas. Pak Itam mendorong kedua kakiku agar berjauhan dan mulai melumurkan minyak ke celah-celah bagian rekahan pantatku yang terbuka.

Tanpa dapat dikontrol, satu erangan kenikmatan terluncur dari mulutku. Pak Itam menambahkan lagi minyak di tangannya dan mulai bermain di bibir duburku. Aku meremas bantal karena kenikmatan. Sambil melakukan itu, jarinya berusaha mencolok lubang duburku.

“Jangan tegang, biarkan saja,” terdengar suara Pak Itam yang agak serak.

Aku coba merilekskan otot duburku dan menakjubkan… jari Pak Itam yang licin berminyak dengan mudah masuk sehingga ke pangkal. Setelah berhasil memasukkan jarinya, Pak Itam mulai menggerakkan jarinya keluar masuk lubang duburku.

Aku coba membuka mataku yang kuyu karena kenikmatan untuk melihat Leman dan Ramli yang sedang membetulkan sesuatu di dalam celana mereka. Aku jadi merasakan semacam kenikmatan pula melihat mereka sedang memperhatikan aku diterapi Pak Itam. Perasaan malu terhadap kedua muridku berubah menjadi gairah tersembunyi yang seolah melompat keluar setelah lama terkekang!

Setelah perjalanan jari Pak Itam lancar keluar masuk duburku dan duburku mulai beradaptasi, dia mulai berdiri di belakangku sambil jarinya masih terbenam mantap dalam duburku. Aku memandang Pak Itam yang sekarang menyingkap kain sarungnya ke atas dengan satu tangannya yang masih bebas. Terhunuslah kemaluannya yang panjang dan bengkok ke atas itu. Tampak sudah sekeras batang kayu!

“Bbbbuat apa ini, Pak….” tanyaku dengan gugup.

“Jangan risau… ini buat buang sihir,” katanya sambil melumur minyak ke batang kemaluannya yang cukup besar bagi seorang yang kurus dan pendek. Selesai berkata-kata, Pak Itam menarik jarinya keluar dan sebagai gantinya langsung menusukkan batangnya ke lubang duburku.

“ARRrgggghhggh…” spontan aku terjerit kengiluan sambil mengangkat kepala dan dadaku ke atas. Kaki bawahku pun refleks terangkat ke atas.

“Jangan tegang, lemaskan sedikit!” perintah Pak Itam sambil merenggangkan daging pantatku. Aku berusaha menuruti perintahnya. Setelah aku melemaskan sedikit ototku, hampir separuh batang Pak Itam terbenam ke dalam duburku.

Aku melihat Leman dan Ramli sedang meremas sesuatu di dalam celana masing-masing. Setelah berhasil memasukkan setengah zakarnya Pak itam menariknya keluar kembali dan lalu memasukkannya kembali sehingga semua zakarnya masuk ke dalam rongga duburku. Dia berhenti di situ.

“Sekarang Ibu merangkak mengelilingi bara kemenyan ini tiga kali,” perintahnya sambil zakarnya masih terbenam mantap dalam duburku.

Aku sekarang seakan-akan binatang yang berjalan merangkak sambil zakar Pak Itam masih tertanam dengan mantapnya di dalam duburku. Pak Itam bergerak mengikutiku sambil memegangi pinggangku.

“Pelan-pelan saja, Bu,” perintahnya sambil menahan pinggangku supaya tidak bergerak terlalu cepat. Rupanya ia takut penisnya terlepas keluar dari lubang duburku saat aku bergerak. Aku pun mematuhinya dengan bergerak secara perlahan.

Kulihat kedua murid Pak Itam sekarang telah mengeluarkan zakar masing-masing sambil bermasturbasi dengan melihat tingkahku. Aku merasa sangat malu tetapi di lain pihak terlalu nikmat rasanya. Zakar Pak Itam terasa berdenyut-denyut di dalam duburku. Aku terbayang wajah suamiku seakan-akan sedang memperhatikan tingkah lakuku yang sama seperti binatang itu.

Sementara aku merangkak sesekali Pak Itam menyuruhku berhenti sejenak lalu menarik senjatanya keluar dan lalu menusukku kembali dengan ganas sambil mengucapkan mantera-mantera. Setiap kali menerima tusukan Pak Itam setiap kali itu pula aku mengerang kenikmatan. Lalu Pak Itam pun akan menyuruhku untuk kembali merangkak maju. Demikian berulang-ulang ritual yang kami lakukan sehingga tiga keliling pun terasa cukup lama.

Setelah selesai tiga keliling, Pak Itam menyuruhku berhenti dan mulai menyetubuhiku di dubur dengan cepat. Sebelah tangannya memegang pinggangku kuat-kuat dan sebelah lagi menarik tudungku ke belakang seperti peserta rodeo. Aku menurut gerakan Pak Itam sambil menggoyang-goyangkan pantatku ke atas dan ke bawah.

Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang panas mengalir di dalam rongga duburku. Banyak sekali kurasakan cairan tersebut. Aku memainkan kelentitku dengan jariku sendiri sambil Pak Itam merapatkan badannya memelukku dari belakang. Tiba-tiba sisi kiri pinggangku pun terasa panas dan basah. Leman rupanya baru saja orgasme dan air maninya muncrat membasahi tubuhku.

Lalu giliran Ramli mendekatiku dan merapatkan zakarnya yang berwarna gelap ke sisi buah dadaku. Tak lama kemudian air maninya muncrat membasahi ujung putingku. Aku terus mengemut-ngemut zakar Pak Itam yang masih tertanam di dalam duburku dan bekerja keras untuk mencapai klimaks.

“Arghhhhhhhrgh…” Aku pun akhirnya klimaks sambil tengkurep di atas tikar ijuk.

“Ya, bagus, Bu…” kata Pak Itam yang mengetahui kalau aku mengalami orgasme. “Dengan begitu nanti guna-gunanya akan cepat hilang.”

Pak Itam lalu mencabut zakarnya dan melumurkan semua cairan yang melekat di zakarnya ke atas pantatku sampai batangnya cukup kering.

“Jangan basuh ini sampai waktu magrib ya,” katanya mengingatkanku sambil membetulkan kain sarungnya.

Aku masih lagi tengkurep dengan tudung kepalaku sudah tertarik hingga ke leher. Aku merasakan bibir duburku sudah longgar dan berusaha mengemut untuk menetralkannya kembali. Setelah itu aku bangun dan memunguti pakaianku yang berserakan satu per satu.

Selesai mengenakan pakaian dan bersiap untuk pulang setelah dipermalukan sedemikian rupa, Pak Itam berpesan.

“Besok pagi datang lagi ya, bawa sedikit beras bakar.”

Aku seperti orang bodoh hanya mengangguk dan memungut tas sekolahku lalu terus menuruni tangga rumah Pak itam.

Sejak itu sampai hari ini, dua kali seminggu aku rutin mengunjungi Pak Itam untuk menjalani terapi yang bermacam-macam. Leman dan Ramli yang sedang belajar pada Pak Itam sedikit demi sedikit juga mulai ditugaskan Pak Itam untuk ikut menterapiku. Walaupun tidak tahu pasti, aku merasa bahwa suamiku perlahan-lahan mulai meninggalkan affairnya. Yang pasti, kini sulit rasanya bagiku untuk menyudahi terapiku bersama Pak Itam dan murid-muridnya. Sepertinya aku sudah kecanduan untuk menikmati terapi seperti itu.

TAMAT

Pengalamanku Diperkosa

Copyright 2004, by Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com) and pka_bloomenstein (pka_bloomenstein@yahoo.com)

(Pemaksaan, Antar Ras, Berbagi Istri, Keroyokan, Cerita Tradisional Malaysia)

Namaku Dina Rozana, biasa dipanggil Dina…. Aku berasal dari ras Melayu dan tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia. Sehari-hari, aku bekerja sebagai seorang customer service di sebuah Islamic Bank terkemuka di downtown KL.

Suamiku bekerja sebagai seorang engineer di sebuah big multi-national company. Pekerjaannya membuat suamiku sering berkeliling ke banyak negara dan memiliki pergaulan internasional. Pembawaan suamiku yang supel dan ramah membuatnya memiliki banyak sahabat karib yang multi-ras.

Banyak orang bilang, kalau aku dapat dikategorikan sebagai wanita yang memiliki rupa dan tubuh menarik. Walau tidak secantik ratu dunia, tapi kalau lelaki lihat pasti menoleh sedikitnya dua kali. Ini bukan sombong, melainkan kenyataannya memang begitu.

Tak heran kalau aku tak mengalami kesulitan sama sekali ketika melamar pekerjaan sebagai seorang customer service. Aku pun selalu mendapat pujian dari kawan-kawan suamiku setiap kali mereka berjumpa dengan kami. Tentu saja sebagai seorang wanita aku merasa tersanjung.

Kebetulan walaupun sering berkerudung, aku gemar pula mengenakan pakaian ketat yang menampakkan lekuk-lekuk bentuk tubuhku. Tentu saja aku berpakaian seperti itu hanya di luar jam kerja. Biasanya jika ada acara party atau sekedar kumpul-kumpul bersama kawan-kawan suamiku.

Memang suamiku sudah bersahabat dengan kawan-kawannya jauh sebelum menikah denganku. Keakraban mereka seperti sudah melebihi saudara sendiri. Setelah kami menikah, mau tak mau aku mulai mengakrabi mereka juga. Lambat laun, aku pun terbiasa dengan tingkah laku mereka….

Malah di antara mereka ada pula yang berani mengajakku bergurau dengan cara porno. Kebetulan mereka pun tahu kalau kami suami isteri memang open-minded dan tidak kolot. Aku melayaninya saja karena aku berusaha menghargai latar belakang budaya teman-teman suamiku itu yang keturunan China dan India, yang tentu saja lebih liberal daripada lingkungan keluargaku yang muslim.

Bagaimanapun, sampai sejauh itu aku hanya berani di mulut. Kalau ada yang coba-coba iseng ingin menciumku atau mencuri kesempatan lebih jauh lagi, aku pasti menolak juga. Paling jauh, aku hanya membiarkan mereka memelukku atau menyentuhku dalam batas-batas yang wajar. Di luar itu, bagiku kehormatanku hanya untuk lelaki yang jadi suamiku.

Di kesempatan ini, aku mau berbagi cerita tentang pengalamanku dikerjai oleh teman-teman suamiku. Waktu itu aku aku baru menikah dan belum punya anak. Saat itu hari ulang tahun pernikahanku yang pertama. Kami rayakan dalam satu pesta sederhana dengan teman-teman sekantor suamiku. Kawan-kawan suamiku itu ada yang masih bujang dan ada pula yang sudah menikah.

Karena acara ini adalah private party, malam itu aku memakai baju yang seksi sedikit… dengan tali halus dan leher lebar yang leluasa menampakkan pangkal buah dadaku yang ranum dan padat… rok pendek sampai pangkal paha… warna hitam lagi.. Sementara kubiarkan rambutku yang sebahu mengembang bebas terbuka… Hitung-hitung sekedar selingan dari kostum sehari-hariku yang mengharuskanku berkerudung… Lagipula, ini adalah perayaan ulang tahun pernikahan kami… Aku merasa wajib untuk tampil secantik dan semenarik mungkin… Dengan make up yang simple nampaklah jelas kecantikan alamiku.

Walaupun sudah bersuami tapi kami jarang dapat bersama karena suami sering tugas ke luar negeri. Jadi tubuhku masihlah kencang seperti saat gadis sebab tak terlalu sering dijamah oleh suamiku… tapi aku tetap bahagia dengannya.

Singkat cerita, kami pun sampai di rumah kawan yang menyelenggarakan acara itu. Aku bersalaman dengan kawan-kawan suamiku. Kebetulan mereka sudah lengkap hadir di sana… Teman-teman suamiku itu berjumlah 8 orang… tapi aku agak heran sebab tak ada wanita lain selain aku.

Ketika kutanya mereka, katanya istri mereka sedang tidak free, ada yang harus jaga anak demamlah, ada yang harus beresin sesuatu dirumahlah. Pokoknya ada saja alasan masing-masing.

Jadi acara makan dan potong kue pun dimulai. Aku tidak sangka mereka menghidangkan minuman keras juga… Sepengetahuanku, suamiku adalah seorang yang tak pernah suka minuman keras… tapi malam itu suamiku bisa minum sampai mabuk, juga termasuk aku….. Sebenarnya aku tidak mau minum, tetapi setelah dipaksa kawan-kawan suamiku dan demi menjaga perasaan mereka dan suami (nanti dikata aku tak ikut memeriahkan suasana). Jadi aku pun minumlah… walaupun itulah pertama kalinya aku menyentuh minuman seperti itu…

Samar-samar kuingat minuman itu cognac atau… entah apalah, aku tak begitu paham… Yang aku tahu, dalam waktu singkat sudah banyak botol minuman keras yang habis tergeletak di atas meja…

Lebih kurang pukul 11 malam aku mulai merasa agak pusing, biarpun sebenarnya aku tidak banyak minum. Paling-paling hanya dua gelas kecil. Aku memang berhati-hati supaya jangan sampai mabuk. Di samping aku pun tidak begitu suka minuman keras. Sementara itu kulihat suamiku sudah tergeletak ketiduran di atas kursi panjang di sudut ruangan.

Sementara di televisi terlihat tayangan film porno. Salah sorang kawan suamiku yang keturunan India, kalau tak salah… Nathan, bertanya padaku.

“Apa Cik Dina mau berbaring di kamar dulu?”

“Tak lah, biar aku duduk di samping suamiku saja…..” kataku.

Jadi aku pun duduk… tapi ketika akan duduk, entah bagaimana aku hampir terjatuh dan secara spontan Nathan yang berada di sampingku menarik tanganku buru-buru… tapi ikut tertarik tali bajuku yang halus itu… Seketika putuslah sebelah tali baju itu. Jadi bajuku terbuka sedikit dan kelihatanlah gundukan buah dadaku yang sebelah…

Seketika pandangan Nathan nanar tertuju pada buah dadaku yang terbuka sebelah itu dan kelihatan dia mulai bernafsu. Itu terlihat dari tarikan nafasnya yang tiba-tiba menjadi cepat. Maklumlah aku rasa malam itu semua orang sudah minum minuman keras agak banyak dan kelihatan sudah mulai mabuk. Jadi aku mencoba menenangkannya dan membuat suasana kembali normal.

“Tidak apa-apa…” kataku pada Nathan sambil tersenyum dan cepat-cepat menarik bajuku untuk menutupi dadaku yang terbuka……

Anehnya, si Nathan itu tidak juga melepaskan tangannya yang masih memegang tanganku. Malah dia makin mendekat dan berusaha memelukku, dengan pura-pura menjaga supaya aku tidak jatuh…..

Aku rasa dia sengaja mengambil kesempatan untuk memelukku, jadi aku menepis tangannya. Sayangnya dia malah semakin berani dan semakin kuat memelukku begitu merasa ada perlawanan.

Sementara itu teman-temannya yang lain hanya tertawa melihat kelakuan Nathan. Malah terdengar ada yang menganjurkan Nathan supaya berusaha memelukku lebih kuat lagi.

Aku mencoba meminta pertolongan dari suamiku, tapi tak ada reaksi apa-apa darinya. Kelihatannya dia sudah tertidur dengan nyenyak karena terlalu mabuk. Tadi dia memang minum tak henti-henti.

Merasa tidak ada jawaban dari suamiku, aku bergegas lari dan mencoba masuk ke dalam sebuah kamar dekat ruang duduk, tapi para lelaki yang lain segera mengepung sekelilingku.

Aku menjerit tapi siapalah yang akan mendengarnya. Suara dari sound system yang begitu keras menutupi suara jeritanku… Dalam hati aku dapat merasakan sesuatu yang buruk pasti akan terjadi…

Aku kemudian mencoba membujuk mereka supaya jangan mengapa-apakan aku dan mengingatkan mereka bahwa aku adalah istri teman mereka. Tapi mungkin karena mereka terlalu mabuk, mereka tidak mengindahkan perkataanku…

Malah Nathan akhirnya berhasil menangkapku dan memeluk tubuhku dengan erat dari belakang. Sementara 2-3 orang temannya yang lain menangkap kaki dan memegang tanganku… Mereka lalu mengangkat tubuhku dan membaringkanku pada lantai yang berkapet tebal itu… Sakit juga kepalaku terantuk pada lantai…

Mereka terus memegang tangan kiri dan kananku. Sementara kedua kakiku mereka kangkangkan lebar-lebar, membuat bajuku terangkat ke atas dan memperlihatkan kedua pahaku yang putih mulus itu…

Nathan mulai bertindak dengan ganas dan menarik pakaianku dengan kasar… hingga koyak terbuka. Aku hanya bisa menjerit-jerit. Kemudian seorang dari mereka membekap mulutku dengan robekan bajuku… Aku jadi makin sesak nafas…

Aku dapat merasakan celana dalamku ditarik orang… Kemudian aku merasakan ada tangan-tangan kasar mulai meraba dan meremas-remas seluruh badanku. Buah dadaku, perutku, pinggul, paha dan kemaluanku menjadi sasaran tangan-tangan kotor mereka…

Aku hanya bisa meronta-ronta, tapi tak berdaya sebab empat orang dari mereka dengan kuatnya memegangi aku. Dua orang masing-masing pada kedua tanganku. Dua yang lain pada kedua kakiku yang dibiarkan tetap terkangkang lebar oleh mereka.

Kemudian aku dengar mereka bersorak sambil menyebut-nyebut:

“Nathan….Nathan….Nathan….!!!!!”

Aku melirik ke bagian bawah tubuhku dan melihat muka Nathan terseyum. Dia sedang berlutut di antara kedua pahaku, sambil kedua tangannya memegang pinggulku. Sementara tubuhku yang tergeletak telah telanjang bulat tanpa sepotong benang pun…..

Aku tahu persis apa yang akan mereka lakukan dan akan segera terjadi padaku…. Aku masih mencoba meronta dan menjerit dengan kuat, berusaha mempertahankan kehormatanku, tapi sayangnya mulutku tersumbat kain. Tangan dan kakiku pun dipegang kuat-kuat oleh mereka. Hanya badanku yang mengeliat-geliat, tapi itupun tidak bisa apa-apa karena kedua tangan Nathan memegang pinggulku erat-erat.

Dalam keputusasaanku tidak terasa ada perasaan aneh yang mulai melanda tubuhku, yang membuat kemaluanku mulai basah…… Sementara itu pula aku merasakan kemaluanku panas dan basah…

Aku mencoba melirik ke bawah kembali. Kulihat kepala Nathan sedang berada di atas perutku. Terasa lidahnya mulai menjilat-jilat belahan kemaluanku dengan rakus. Sementara kawannya yang dua lagi sedang membuka pakaian mereka masing-masing… Dan kemudian kelihatanlah batang kemaluan mereka yang telah mengacung dengan tegang dan kerasss…

Oooohhhhhh……kelihatan sangat besar-besar. Rata-rata lebih besar daripada kemaluan suamiku yang selama ini hanya satu-satunya yang pernah kulihat dengan nyata.

“Ayo, Nathan… masuki dia… campuri dia..!!!” suara kawan-kawan suamiku mulai terdengar keras dan liar… menyemangati Nathan yang tampaknya diharapkan memimpin mereka menyetubuhiku.

Aku makin takutt… dan…… mulai menangis…… tapi tangisanku sedikit pun tidak mereka hiraukan. Mereka terus mengusap-usap kemaluan mereka masing-masing. Kemudian aku mulai merasakan benda tumpul besar lagi keras mendesak masuk membelah bibir-bibir kemaluanku. Rupanya Nathan sedang mencoba medesak memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluanku…….

“Ooooooooohhhhhhhhh………hhhhhhhmmmmmmm………!!!!!!” suara tertahan keluar dari mulutku yang masih tersumbat kain. Aku…aku merasa sakit dan perih… karena dia memaksa masuk batang kemaluannya yang berukuran sangat besar dengan rakus sekali…… membuat badanku tersentak-sentak. Benar-benar besar dan panjang dibandingkan dengan milik suamiku…

Nathan masih terus juga memaksa memasuki diriku. Perlahan-lahan tapi pasti batang kemaluannya mulai membelah masuk ke dalam kemaluanku. Mula-mula kepalanya… kemudian diikuti oleh batangnya…. perlahan-lahan….. makin dalam….. dalam…. teruuusss….. terasa tidak habis-habisnya…… Sambil mulutnya tak henti-henti memuji begitu ketatnya lobang kemaluanku menjepit kepala dan batang kemaluannya…. membuat teman-temannya tak sabar menunggu giliran mereka…

Ia diam sejenak setelah akhirnya berhasil memasukkan seluruh batang penisnya ke dalam tubuhku… Aku merasa gemetar, bukan saja tubuhku… melainkan juga kemaluanku…!! Perasaanku bercampur aduk antara malu karena kemaluanku ternyata memberikan respon spontan yang berbeda dengan pikiranku… dan kenikmatan yang terasa mulai menjalari sekujur tubuhku…

Nathan kembali memuji liang kemaluanku yang basah dan berdenyut-denyut memijiti kemaluannya… Sementara yang lainnya terus menghisap dan meremas-remas buah dadaku… Akibatnya tak terhindarkan, kedua putingku pun jadi semakin mengeras… Yang lainnya lagi mengelus-elus tubuhku. Pahaku, pantatku.. pokoknya seluruh bagian badanku yang dapat dijangkau mereka…

Dalam waktu yang sama Nathan mulai meningkatkan aksinya dengan terus-menerus menusuk dan mencabut batang kemaluannya. Mula-mula perlahan-lahan… makin lama makin cepat…. cepat…… cepaaatttttt dannnnnn….

Ooooohhhhhhh…. badanku tergetar-getar….sementara aku…… Aaaaaaaaddduuuuuhhhh….. Apa yang terrrrrjaaadiii… iiiinnniiiiii….. oooooohhhhhh…….. badanku menggeliat dengan kuat dannnn….. aku mengalami orgasme terdahsyat yang pernah aku rasakan selama ini……

“Aaaaaaaaaddddddddduuuuuuuu…………!!!!!!!” Badanku terhempas lunglai.

Melihat keadaanku itu, Nathan jadi makin bersemangat serta makin kuat dan cepat saja gerakan pantatnya… sehingga keluar masuk batang kemaluannya berdecap-decap karena lobang kemaluanku telah basah oleh cairan kenikmatan dari orgasme yang dahsyat yang kualami….

Aku hanya terlentang pasrah dengan badan lemas. Sekali-sekali badanku menggeliat lemah apabila sodokan kemaluannya menyentuh bagian terdalam dinding dasar kemaluanku……

Walaupun aku tahu aku sedang diperkosa mereka tapi karena telah mengalami orgasme yang dahsyat, aku akhirnya hanya bisa pasrah dan tidak ada lagi perlawanan. Lama-kelamaan rontaanku makin lemah… Malah aku membiarkan mereka melakukan apa saja yang mereka mau pada tubuh dan badanku… Termasuk ketika mereka satu per satu mulai pula menciumi dan menikmati bibirku secara bergantian….

Ada 20 menit kemudian Nathan mencapai puncaknya dan sambil menjerit kenikmatan.. dia menyemburkan air maninya membanjiri kemaluanku sambil menghentakkan dan membenamkan kuat-kuat batang kemaluannya ke dalam lobang kemaluanku… sehingga kembali tubuhku terhentak… Oooooohhhhhhhhh…….

Dibenamkannya terus kemaluannya itu sampai benar-benar mengkerut dan keluar dengan sendirinya dari dalam kemaluanku.

Begitu kemaluan Nathan tercabut dan ia terbaring lemas disampingku, tiba-tiba seorang dari kawannya dengan cepat menaikiku. Tanpa basa-basi, ia langsung membenamkan kemaluannya yang sudah mengeras ke dalam kemaluanku yang telah basah kuyup oleh air mani Nathan bercampur dengan cairan kenikmatanku…… Dia terus mengayunkan tubuhnya berkali-kali dan tak sampai 10 menit kemudian dia pun menyemburkan air maninya dalam kemaluanku…

Kemudian seorang demi seorang mereka berganti-ganti menyetubuhiku. Sementara aku hanya bisa terbaring lemas dengan kedua paha terkangkang lebar-lebar dan mata terpejam tak berdaya…

Selepas lelaki ketiga menyemburkan air maninya ke dalam kemaluanku, lelaki keempat tidak langsung menyetubuhiku. Dia bersihkan dulu sisa air mani yang ada dan mulai menjilat-jilat kemaluanku… Setelah puas, dia kemudian menyetubuhiku. Seperti yang lain, dia juga menyemprotkan air maninya ke dalam kemaluanku. Demikian seterusnya lelaki kelima, keenam, ketujuh, dan kedelapan melakukan hal yang sama…..

Sementara itu aku… entah mendapat tenaga dari mana, ketika lelaki keenam sedang memperkosaku, aku bukan sekedar diam, malah aku minta dia berbaring dan aku naik di atasnya… Aku tunggangi lelaki itu dan aku ayunkan tubuhku dengan cepat hingga aku mencapai klimaks berkali-kali… Lelaki yang lain, yang sedang berbaring di sekeliling, berseru gembira sebab aku memberi respons yang tidak mereka duga…

Malah sambil aku menunggang lelaki tadi, aku hisap kemaluan salah seorang lelaki yang masih menunggu giliran… Aku makin bergairah dan bertindak liar… Mereka makin suka… terus ada yang menjilat pantatku dan memasukkan jarinya ke dalam lubang anusku… Aku merasakan makin sedap dan klimaks entah sampai berapa kali… Adegan seterusnya berlangsung hingga kesemua lelaki merasa puas dangan layananku.

Kemudian tak disangka-sangka Nathan sekali lagi merangkulku dan membenamkan kemaluannya yang telah tegang lagi… Aku melayani Nathan hampir satu jam… Seingatku dari pukul 11 malam sampai 2 pagi kemaluanku dikerjai oleh delapan orang lelaki India, China dan Melayu itu bergantian… Aku betul-betul kecapekan disetubuhi mereka. Nasib baik bagiku, anusku tidak diapa-apain mereka… Mereka hanya mencolok-colok dengan jarinya.

Selesai aku digilir beramai-ramai, mereka pun keletihan termasuk aku sendiri. Kami terlelap di situ, masih dalam keadaan telanjang bulat. Hingga kira-kira jam 10 pagi keesokan harinya baru aku tersadar. Itu pun setelah dibangunkan oleh suamiku.

Aku cuma bisa menangis dalam pelukan suami sambil menceritakan apa yang telah terjadi semalam padaku, saat aku diperkosa beramai-ramai oleh teman-temannya. Sayangnya suamiku tidak terlalu menanggapi, seolah-olah dia merestui kelakuan teman-temannya memperkosa aku…

Setelah itu kemudian seorang demi seorang teman-temannya bangun dan bergegas mengenakan pakaian masing-masing. Aku melihat Nathan sudah menyiapkan minuman pagi.

Selesai minum pagi, baru aku mengetahui bahwa suamiku sebenarnya telah bersepakat dengan Nathan. Suamiku bilang juga kejadian itu merupakan hadiah bagi hari ulang tahun pernikahan kami yang pertama, karena aku dulu pernah menceritakan padanya tentang imajinasi nakalku… yaitu ingin diperkosa oleh lebih dari lima lelaki… Rupanya cerita khayalanku itu ditanggapi serius oleh suamiku. Bersama kawan-kawannya, mereka merencanakan kejutan tersebut padaku… Itulah sebabnya suamiku pura-pura mabuk tadi malam…

Karena sudah telanjur dan pada dasarnya aku juga merasa ketagihan, sekali lagi hari itu aku dikerjai oleh sembilan lelaki termasuk suamiku sendiri. Kali ini aku yang merelakan diri untuk dikerjai oleh para lelaki itu… Dengan bermacam aksi dan style aku diperlakukan mereka. Acara orgy itu berlangsung hampir 4 jam lamanya karena mereka masing-masing menyetubuhiku sepuas-puasnya dan selama waktu yang mereka mampu bertahan… Nathan adalah yang terbaik di antara semuanya…

Hari itu aku tidak pergi ke mana-mana selain bersetubuh dengan mereka itu secara bergilir. Sementara menanti lelaki kesembilan menyelesaikan permainannya, lelaki pertama kembali tegang dan kembali menyetubuhi aku sekali lagi sesudahnya… Pendek kata, hari itu seharian penuh tubuh badan dan kemaluanku bermandi air mani lelaki… Nampak bahwa suamiku adalah orang yang paling gembira melihat impianku menjadi kenyataan… Aku juga turut gembira karena dapat merasakan kontol lain selain milik suamiku…

Keesokan harinya aku demam… Hampir seminggu baru aku kembali pulih… Bagaimana tidak koleps, sembilan lelaki mengerjaiku habis-habisan dan berkali-kali. Rasanya setiap orang itu menyetubuhiku paling tidak tiga kali… Bayangkan betapa lelahnya aku. Sampai bengkak kemaluanku dikerjai mereka…

Nasib baik tak membuatku mengandung… Kalau sampai kejadian, aku tak tahu anak siapa yang kukandung itu, begitu pikirku saat itu.

Sebulan sejak kejadian itu aku teruskan hubunganku dengan Nathan…

Suamiku kemudian seolah-olah merestui perbuatanku itu… Malah dia sering sengaja menitipkan diriku pada teman-temannya itu saat dia bepergian ke luar negeri. Setiap kali suamiku ke luar negeri, Nathan dan teman-teman suamiku yang lainnya selalu menjagaku dan memenuhi kebutuhanku, seperti mengantar jemput aku ke kantor, mengantarku berbelanja, dan sebagainya. Tentu saja termasuk menemaniku di malam hari dan memenuhi kebutuhan seksku…

Hal itu berkelanjutan hingga Nathan menikah. Walaupun masing-masing sudah memiliki keluarga sendiri tapi mereka tetap setia kepadaku. Aku pun tak tahu kenapa mereka menaruh hasrat yang begitu tinggi terhadap diriku. Minimal seminggu sekali mereka akan datang menemuiku untuk bersetubuh. Kegiatan itu akhirnya sudah menjadi tradisi di dalam keluarga kami. Kadang-kadang suamiku jadi penonton saat aku bersetubuh dengan lelaki lain….

Aku pun kemudian melahirkan dua anak lelaki, yang aku tak tahu anak siapa sebenarnya… sebab selain Nathan dan suamiku, ada juga 2-3 orang lelaki lain yang secara teratur sering menyetubuhiku dengan kerelaanku sendiri…. Yang jelas aku yakin keduanya bukan anak suamiku karena si sulung agak keling sedangkan si bungsu agak sipit dan berkulit terang. Tak ada yang bertampang melayu asli seperti suamiku. Jadi si Ahmad kemungkinan besar adalah anakku bersama Nathan atau Gopal. Sedangkan si Nazri kemungkinan adalah anakku bersama Joseph atau Shing-Tung.

Untunglah suamiku cukup berbesar hati dan konsisten mencintaiku dan kedua anakku dengan sepenuh hatinya. Secara resmi, kedua anakku tetap menyandang nama suamiku. Bahkan ia sekarang sedang aktif mencarikan pejantan baru untukku karena Nathan dan Shin-Tung sudah dipindahtugaskan ke Eropa.

Aku tak tahu sampai kapan perkara ini berlanjutan. Suamiku tampaknya sangat menikmati permainan ini. Sebagai istri yang baik tentu saja aku akan berusaha sebisa mungkin untuk mematuhinya. Walaupun sejujurnya, bukan perkara sulit bagiku untuk mematuhinya karena aku pun ternyata sama-sama menikmati semua ini….

TAMAT

Reni – Kekeliruanku I

Copyright 2004, by Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com) and eastgloryid@yahoo.com

(Istri Selingkuh)

Namaku Reni, usia 27 tahun. Kulitku kuning langsat dengan rambut panjang dan lurus. Tinggiku 165 cm dan berat 51 kg. Aku telah menikah setahun lebih. Aku berasal dari keluarga Minang yang terpandang. Banyak yang bilang kalau wajahku mirip dengan aktris dan model Mira Asmara. Saat ini aku bekerja pada sebuah Bank pemerintah yang cukup terkenal.

Suamiku Ikhsan adalah seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang. Di samping itu, ia juga memiliki beberapa usaha perbengkelan.

Kami menikah setelah sempat berpacaran kurang lebih tiga tahun. Perjuangan kami cukup berat dalam mempertahankan cinta dan kasih sayang. Di antara sekian banyak halangan yang kami temui adalah ketidaksetujuan dari pihak orang tua kami. Sebelumnya aku telah dijodohkan oleh orang tuaku dengan seorang pengusaha.

Bagaimanapun, kami dapat juga melalui semua itu dengan keyakinan yang kuat hingga kami akhirnya bersatu. Kami memutuskan untuk menikah tapi kami sepakat untuk menunda dulu punya anak. Aku dan Bang Ikhsan cukup sibuk sehingga takut nantinya tak dapat mengurus anak.

Kehidupan kami sehari-hari cukup mapan dengan keberhasilan kami memiliki sebuah rumah yang asri di sebuah lingkungan yang elite dan juga memiliki dua unit mobil sedan keluaran terbaru hasil usaha kami berdua. Begitu juga dalam kehidupan seks tiada masalah di antara kami. Ranjang kami cukup hangat dengan 4-5 kali seminggu kami berhubungan suami istri. Aku memutuskan untuk memakai program KB dulu agar kehamilanku dapat kuatur.

Aku pun rajin merawat kecantikan dan kebugaran tubuhku agar suamiku tidak berpaling dan kehidupan seks kami lancar.

Suatu waktu, atas loyalitas dan prestasi kerjaku yang dinilai bagus, maka pimpinan menunjukku untuk menempati kantor baru di sebuah kabupaten baru yang merupakan sebuah kepulauan di daerah Mentawai. Aku merasa bingung untuk menerimanya dan tidak berani memutuskannya sendiri. Aku harus merundingkannya dulu dengan suamiku. Bagiku naik atau tidaknya statusku sama saja, yang penting untukku adalah keluarga dan perkawinanku.

Tanpa aku duga, suamiku ternyata sangat mendorongku agar tidak melepaskan kesempatan ini. Inilah saatnya bagiku untuk meningkatkan kinerjaku yang biasa-biasa saja selama ini, katanya. Aku bahagia sekali. Rupanya suamiku orangnya amat bijaksana dan pengertian. Sayang orang tuaku kurang suka dengan keputusan itu. Begitu juga mertuaku. Bagaimanapun, kegundahan mereka akhirnya dapat diatasi oleh suamiku dengan baik. Bahkan akhirnya mereka pun mendorongku agar maju dan tegar. Suamiku hanya minta agar aku setiap minggu pulang ke Padang agar kami dapat berkumpul. Aku pun setuju dan berterima kasih padanya.

Aku pun pindah ke pulau yang jika ditempuh dengan naik kapal motor dari Padang akan memerlukan waktu selama 5 jam saat cuacanya bagus. Suamiku turut serta mengantarku. Ia menyediakan waktu untuk bersamaku di pulau selama seminggu.

Di pulau itu aku disediakan sebuah rumah dinas lengkap dengan prasarananya kecuali kendaraan. Jarak antara kantor dan rumahku hanya dapat ditempuh dengan naik ojek karena belum adanya angkutan di sana.

Hari pertama kerja aku diantar oleh suamiku dan sorenya dijemput. Suamiku ingin agar aku betah dan dapat secepatnya menyesuaikan diri di pulau ini. Memang prasarananya belum lengkap. Rumah-rumah dinas yang lainnya pun masih banyak yang kosong.

Selama di pulau suamiku tidak lupa memberiku nafkah batin karena nantinya kami hanya akan bertemu seminggu sekali. Aku menyadari benar hal itu. Karena itu kami pun mereguk kenikmatan badaniah sepuas-puasnya selama suamiku ada di pulau ini.

Suamiku dalam tempo singkat telah dapat berkenalan dengan beberapa tetangga yang jaraknya lumayan jauh. Ia juga mengenal beberapa tukang ojek hingga tanpa kusangka suatu hari ia menjemputku pakai sepeda motor. Rupanya ia meminjamnya dari tukang ojek kenalannya.

Salah satu tukang ojek yang dikenal suamiku adalah Pak Sitorus. Pak Sitorus ini adalah laki-laki berusia 50 tahun. Ia tinggal sendirian di pulau itu sejak istrinya meninggal dan kedua anaknya pergi mencari kerja ke Jakarta.

Laki-laki asal tanah Batak itu harus memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya di pulau itu dengan kerja sebagai tukang ojek. Pak Sitorus, yang biasa dipanggil Pak Sitor, orangnya sekilas terlihat kasar dan keras namun jika telah kenal, sebetulnya ia cukup baik. Menurut suamiku, yang sempat bicara panjang lebar dengan Pak Sitor, dulunya ia pernah tinggal di Padang yaitu di Muara Padang sebagai buruh pelabuhan. Suatu saat ia ingin mengubah nasibnya dengan berdagang namun bangkrut. Untunglah ia masih punya sepeda motor sehingga menjadi tukang ojek.

Hampir tiap akhir pekan aku pulang ke Padang untuk berkumpul dengan suamiku. Yang namanya pasangan muda tentu saja kami tidak melewatkan saat kebersamaan di ranjang. Saat aku pulang, aku menitipkan rumah dinasku pada Pak Sitor karena suamiku bilang ia dapat dipercaya. Aku pun menuruti kata-kata suamiku.

Kadang-kadang aku diberi kabar oleh suamiku bahwa aku tidak usah pulang karena ia yang akan ke pulau. Sering kali suamiku bolak-balik ke pulau hanya karena kangen padaku. Sering kali pula ia memakai sepeda motor Pak Sitor dan memberinya uang lebih.

Suamiku telah menganggap Pak Sitor sebagai sahabatnya karena sesekali saat ia ke pulau, Pak Sitor diajaknya makan ke rumah. Sebaliknya, Pak Sitor pun sering mengajak suamiku jalan-jalan di pantai yang cukup indah itu.

Suamiku sering memberi Pak Sitor uang lebih karena ia akan menjagaku dan rumahku jika aku ditinggal. Sejak saat itu aku pun rutin diantar jemput Pak Sitor jika ke kantor. Tidak jarang ia membawakanku penganan asli pulau itu. Aku pun menerimanya dengan senang hati dan berterima kasih. Kadang aku pun membawakannya oleh-oleh jika aku baru pulang dari Padang.

***

Setelah beberapa bulan aku tugas di pulau itu dan melalui rutinitas seperti biasanya, suamiku datang dan memberiku kabar bahwa ia akan disekolahkan ke Australia selama 1,5 tahun. Ini merupakan bea siswa untuk menambah pengetahuannya. Aku tahu bea siswa ini merupakan obsesinya sejak lama. Aku pun bisa menerimanya. Aku pikir itu demi masa depan dan kebahagiaan kami juga nantinya sehingga tidak jadi masalah bagiku.

Sebelum berangkat, suamiku sempat berpesan agar aku jangan segan-segan minta tolong kepada Pak Sitor sebab suamiku telah meninggalkan pesan pada Pak Sitor untuk menjagaku. Suamiku pun menitipkan uang yang harus aku serahkan pada Pak Sitor.

Sejak suamiku di luar negeri, kami sering telpon-teleponan. Kadang aku bermasturbasi bersama suamiku lewat telepon. Itu sering kami lakukan untuk memenuhi libido kami berdua. Akibatnya, tagihan telepon pun meningkat. Aku tidak memperdulikannya. Saat melakukannya dengan suamiku, aku mengkhayalkan dia ada dekatku. Tidak masalah jarak kami berjauhan.

Aku mulai jarang pulang ke Padang karena suamiku tidak ada. Paling aku pulang sebulan sekali. Itu pun aku cuma ke rumah orang tuaku. Rumahku di Padang aku titipkan pada saudaraku.

Aku melewatkan hari-hariku di pulau dengan kesibukan seperti biasanya. Begitu juga Pak Sitor yang rutin mengantarjemputku.

Suatu saat ketika aku pulang, Pak Sitor mengajakku untuk jalan-jalan keliling pantai. Aku tahu ia dulu memang sering membawa suamiku jalan-jalan ke pantai. Tapi saat ia mengajakku, kutolaknya dengan halus. Aku merasa tidak enak. Apa nanti kata teman kantorku jika melihatnya. Kebetulan saat itu pun aku sedang tidak mood sehingga aku merasa lebih tenang di rumah saja. Di rumah aku beres-beres dan berbenah pekerjaan kantor.

Akhir-akhir ini, aku merasakan bahwa Pak Sitor amat memperhatikanku. Tidak jarang sore-sore ia datang sekedar memastikan aku tidak apa-apa. Ia dapat dipercaya untuk masalah keamanan sebab di pulau itu ia amat disegani dan berpengaruh.

Kusadari kadang saat berboncengan, tanpa sengaja dadaku terdorong ke punggung Pak Sitor. Biasanya itu terjadi saat ia menghindari lubang atau saat ia mengerem. Aku maklum, itulah risikonya jika aku berboncengan sepeda motor. Semakin lama, hal seperti itu semakin sering terjadi sehingga akhirnya aku jadi terbiasa. Sesekali aku juga merangkul pinggangnya jika aku duduknya belum pas di atas jok motornya. Aku rasa Pak Sitor pun sempat merasakan kelembutan payudaraku yang bernomer 34b ini. Aku menerima saja kondisi ini sebab di pulau ini memang tak ada angkutan. Jadi aku harus bisa membiasakan diri dan menjalaninya. Tak bisa dibandingkan dengan di Padang di mana aku terbiasa menyetir sendiri kalau pergi ke kantor.

Pada suatu Jumat sore sehabis jam kerja, Pak Sitor datang kerumahku. Seperti biasanya, ia dengan ramah menyapaku dan menanyakan keadaanku. Ia pun kupersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.

Sore itu aku telah selesai mandi dan sedang menonton televisi. Kembali Pak Sitor mengajakku jalan ke pantai. Aku keberatan sebab aku masih agak capai. Lagipula aku agak kesal dengan kesibukan suamiku dalam beberapa pekan terakhir ini. Tiap kali kutelepon, seperti yang terakhir kulakukan tadi, ia tidak bisa terlalu lama berbincang-bincang. Alasannya lagi sibuk menyiapkan thesis. Aku mulai merasa kurang diperhatikan.

“Kalau gitu, kita main catur saja, Bu… Gimana?” Pak Sitor mencoba mencari alternatif.

Dulu ia memang sering main catur dengan suamiku. Akhirnya aku pun setuju. Lumayanlah, untuk menghilangkan kesuntukanku saat itu. Aku lalu main catur dengan laki-laki itu.

Tak terasa, waktu berlalu sangat cepat. Sudah beberapa ronde kami bermain. Beberapa kali pula aku mengalahkannya. Taruhannya adalah siapa yang kalah harus dikalungi lehernya dengan sebuah botol yang diikat tali. Semakin sering kalah, semakin banyak botol yang harus dikalungkan padanya.

Aku pun tertawa-tawa karena semakin banyak botol yang dikalungkan ke leher Pak Sitor. Aku sendiri sampai saat itu cuma dikalungi satu botol.

Seumur hidupku, baru kali ini aku mau bicara bebas dan akrab dengan laki-laki selain suamiku. Biasanya tidak semua laki-laki dapat bebas berbicara denganku. Aku termasuk tipe orang yang membatasi dalam berhubungan dengan lawan jenis sehingga tidak heran jika aku sering dicap sombong oleh kebanyakan lelaki yang kurang kukenal. Anehnya, dengan Pak Sitor aku bisa bicara apa adanya, akrab dan ceplas-ceplos. Mungkin karena kami telah saling mengenal dan juga karena aku merasa membutuhkan tenaganya di pulau ini.

Tanpa terasa, telah lama kami bermain catur sejak sore tadi. Jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Di luar rupanya telah turun hujan deras diiringi petir yang bersahut-sahutan. Kami pun mengakhiri permainan catur kami. Aku lalu membersihkan mukaku ke belakang.

“Pak, kita ngopi dulu, yuk..? Biar nggak ngantuk,” kataku menawarinya.

Saat itu di pulau penduduknya telah pada tidur. Yang terdengar hanya suara hujan dan petir. Setelah menghabiskan kopinya, Pak Sitor minta izin pulang karena hari telah larut. Aku tidak sampai hati sebab cuaca tidak memungkinkan ia pulang. Rumahnya pun cukup jauh. Lagi pula aku kuatir jika nanti ia tersambar petir.

Lalu aku tawarkan agar ia tidur di ruang tamuku saja. Akhirnya ia menerima tawaranku. Aku memberinya sebuah bantal dan selimut karena cuaca sangat dingin saat itu.

Tiba-tiba listrik padam. Aku sempat kaget. Baru kuingat, di pulau itu jika hujan lebat biasanya aliran listrik sering padam. Untunglah Pak Sitor punya korek api dan membantuku mencari lampu minyak di ruang tengah. Lampu kami hidupkan. Satu untuk di kamarku dan yang satu lagi untuk di ruang tamu tempat Pak Sitor tidur.

Aku lalu minta diri untuk lebih dulu tidur sebab aku merasa capai. Aku pun pergi ke kamar untuk tidur. Di luar hujan turun dengan derasnya seolah pulau ini akan tenggelam.

Aku berusaha untuk tidur namun ternyata tidak bisa. Ada rasa gelisah yang menghalangiku untuk terlelap. Petir menggelegar begitu kerasnya.

Akhirnya kuputuskan pergi ke ruang tamu saja. Hitung-hitung memancing kantuk dengan ngobrol bareng Pak Sitor. Rasa khawatirku pun bisa berkurang sebab aku merasa ada yang melindungi.

Sesampainya di ruang tamu, kulihat Pak Sitor masih berbaring namun matanya belum tidur. Ia kaget, disangkanya aku telah tidur. Aku lalu duduk di depannya dan bilang nggak bisa tidur.

Ia cuma tersenyum dan bilang mungkin aku ingat suamiku.

Padahal saat itu aku masih sebal dengan kelakuan suamiku. Aku cuma tersenyum kecut dan mengatakan kalau badanku rasanya pegal-pegal.

“Kalau begitu, biar saya pijati, Bu,” kata Pak Sitor sigap.

“Orang-orang bilang, pijatan saya enak, lho,” katanya lagi sambil mengacungkan jempol.

Aku tersenyum mendengar promosinya. Aku lalu duduk membelakanginya sementara Pak Sitor memijatiku, mulai dari kepala, kedua pundakku, sampai kedua lenganku. Mau tak mau harus kuakui, pijatannya memang mantap.

Sambil memijatiku, Pak Sitor mengajakku ngobrol tentang apa saja, terutama tentang keluargaku dan suamiku.

Karena masih kesal dengan suamiku, tanpa sengaja kucurahkan kekesalanku. Aku tahu, mestinya aku tidak boleh bilang suasana hatiku saat itu tentang suamiku pada Pak Sitor namun entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja. Aku merasa senang mendapatkan teman untuk curhat. Pak Sitor mendengarkan dengan seksama semua detail ceritaku. Tak terasa sudah hampir satu jam aku membeberkan semua rahasia pernikahanku kepada Pak Sitor.

Dengan cara bijaksana dan kebapakan tanpa sama sekali berkesan menggurui, sesekali ia menanggapi dan menyemangati aku yang belum banyak merasakan asam garam perkawinan. Dalam suasana cahaya lampu yang temaram dan obrolan kami yang cukup hangat, aku tidak menyadari kapan Pak Sitor pindah duduk ke sampingku.

Aku pun membiarkan saja saat Pak Sitor, sambil terus memijatiku, meraih jemariku yang dilingkari cincin berlian perkawinanku dan meremas-remasnya. Lalu aku malah merebahkan kepalaku di dadanya. Aku merasa terlindungi dan merasa ada yang menampung beban pikiranku selama ini.

Pak Sitor pun membelai rambutku seakan aku adalah istrinya. Bibirnya terus bergerak ke balik telingaku dan menghembuskan nafasnya yang hangat. Aku terlena dan membiarkannya berbuat seperti itu. Perlahan ia mulai menciumi telingaku. Aku mulai terangsang ketika ia terus melakukannya dengan lembut.

Bibirnya pun terus bergeser sedikit demi sedikit ke bibirku. Saat kedua bibir kami bertemu, seperti ada aliran listrik yang mengaliri sekujur tubuhku.

Aku seperti terhipnotis. Aku seperti tak peduli bahwa saat itu aku sedang dicumbui oleh laki-laki yang bukan suamiku. Aku tahu itu adalah perbuatan yang terlarang… tapi aku tak kuasa menolaknya. Aku melakukannya dalam kesadaran penuh… dan aku pun menikmatinya. Aku mulai merasakan basah di sekitar pangkal pahaku…

Mungkin aku telah salah langkah dan salah menilai orang. Jelas bahwa Pak Sitor sama sekali tak merasa sungkan memperlakukanku seperti itu. Ia pun seolah tahu benar apa yang harus diperbuatnya terhadap diriku untuk membuatku terbuai dalam dekapannya. Seolah-olah ia telah menyimpan hasrat yang mendalam terhadap diriku selama ini.

Malam ini adalah kesempatan yang telah ditunggu-tunggunya… Anehnya, aku seperti tak mampu menahan sepak terjangnya. Padahal yang pantas berbuat seperti itu terhadapku hanyalah suamiku tercinta. Sepertinya telah tertutup mata hatiku oleh nafsu dan gairahku yang juga menuntut pelampiasan.

Dengan demikian, Pak Sitor pun bebas mengulum bibirku beberapa saat. Aku tak tahu setan apa yang telah merasuki kami berdua. Yang jelas, aku pun membalas ciumannya sambil menutup kedua mataku menikmatinya.

Sementara itu, tangan Pak Sitor juga tidak mau tinggal diam. Melihat penerimaanku, ia pun semakin berani. Dengan alasan meneruskan pijatannya, ia mulai merabai buah dadaku yang terbungkus BH dan pakaian tidur.

Aku pun mendesah di dalam pelukannya. Aku benar-benar terlena menikmati gerayangan tangannya di tubuhku. Pak Sitor pun tampak semakin bergairah karenanya.

Dalam hati aku takjub kami bisa berhubungan sampai sejauh itu tanpa pernah kami bayangkan sebelumnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Semuanya mengalir begitu saja secara naluriah di antara sepasang manusia berlainan jenis kelamin yang masing-masing memiliki nafsu birahi terpendam. Apalagi suasana malam yang gelap yang diguyur hujan lebat di pedalaman sebuah pulau benar-benar mendukung kegiatan kami. Aku pun merasa nyaman dalam pelukan dan buaian Pak Sitor.

“Bu Reni,” tiba-tiba Pak Sitor berkata pelan.

“Pijatannya diteruskan di kamar Ibu saja, ya?” pintanya. “Biar Ibu saya pijat seluruh badan sambil diluluri dengan body lotion…”

Sebetulnya aku terkejut dengan permintaannya. Itu berarti aku harus dipijat telanjang oleh Pak Sitor. Akan tetapi entah mengapa, aku malah jadi bergairah menerima tawarannya. Apalagi suasana malam itu yang gelap dan diiringi hujan lebat begitu mendukung.

“Boleh, Pak…” kataku pelan dengan suara serak karena gairah yang menghentak.

Aku menurut saja saat dibimbing Pak Sitor ke kamar tidur sambil bergandengan tangan. Direbahkannya tubuhku di atas ranjang yang biasa kugunakan untuk bercinta hanya dengan suamiku. Namun kini yang berada di sampingku bukanlah suamiku, melainkan seorang laki-laki tukang ojek sepantaran ayahku yang seharusnya tidak pantas untukku.

Saat itu juga aku tahu akan terjadi sesuatu yang terlarang di antara kami berdua. Aku tak pernah telanjang di hadapan laki-laki, kecuali suamiku. Entah apa yang menyihirku, yang membuatku memasrahkan diri pada laki-laki ini. Semuanya seolah berjalan begitu cepat dan mengalir begitu saja. Aku pun terhanyut terbawa aliran nafsu yang dibangkitkan Pak Sitor.

Pak Sitor lalu menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Sedang lampu di luar telah ia matikan tadi.

Aku diam saja menanti apa yang akan diperbuatnya padaku. Padahal selama ini aku tidak pernah sekali pun memberi hati jika ada laki-laki lain yang iseng merabaku dan menggodaku. Saat di Padang dulu, sebetulnya banyak rekan sekerjaku yang masih muda dan gagah berusaha iseng menggodaku. Kadang mereka dengan gigih mengajakku kencan atau sekedar makan berdua walau tahu aku sudah bersuami. Aku tak pernah melayani mereka. Aku termasuk wanita yang menjunjung tinggi kesucian dan kehormatan sesuai dengan yang selalu diajarkan orang tua dan agamaku.

Sekarang semua itu musnah tak berbekas. Di hadapan Pak Sitor, aku sudah terbaring tak berdaya. Pasrah untuk mengikuti apa yang akan diperbuatnya terhadapku. Aku akan ditelanjangi. Seluruh tubuhku akan dipijati dan dirabainya. Aku tahu aku melakukan pencemaran terhadap pernikahanku… tapi aku pun tak bisa menahan rasa basah yang mulai menggelora di sekitar pangkal pahaku…

Pak Sitor mulai melepaskan pakaianku satu per satu, mulai dari kaosku, lalu celana panjangku. Aku hanya memejamkan mataku saat ditelanjangi oleh Pak Sitor. Aku semakin buta oleh nafsu yang mulai menggebu-gebu merasuki jiwa dan tubuhku. Bahkan sepertinya aku tak sabar menanti tindakan Pak Sitor selanjutnya. Akhirnya bra dan celana dalam kremku pun terlempar ke lantai. Lengkaplah sudah sekarang kepolosanku di hadapannya. Sejenak sempat kulihat Pak Sitor menelan ludah menatap tubuh bugilku yang putih mulus.

Selesai menelanjangi aku, gantian dirinya yang melepaskan pakaiannya satu per satu hingga lapis terakhir. Aku merasa tegang saat menungguinya mencopoti pakaiannya sambil terbaring bugil di ranjang. Rasanya lama sekali. Vaginaku terasa basah karena menahan gairah. Kuperhatikan tubuhnya yang hitam. Meskipun sudah tua namun ototnya masih terukir jelas. Ada gambar tattoo tengkorak di lengannya.

Saat Pak Sitor membuka celana dalamnya, di bawah temaram lampu, aku bisa melihat ternyata penisnya tidak disunat! Aku berusaha menyembunyikan keterkejutanku dan bersikap wajar supaya ia tak merasa tersinggung.

Jantungku semakin berdebar-debar saat kami sudah sama-sama bugil dan ia mendekati tubuhku.

Kurasa dia adalah laki-laki yang keras dan hanya sedikit memiliki kelembutan. Itu aku ketahui saat ia mulai merabai tubuhku yang polos.

Aku tersentak ketika Ia mulai memeluk dan menciumiku. Diciuminya aku dari leher hingga belahan dadaku dengan kasar. Digigitinya bagian-bagian sensitifku sehingga menimbulkan cupangan. Rabaan tangannya yang kasar mulanya membuatku kesakitan tapi akhirnya aku pun jadi terangsang.

Suamiku jika merabaiku cukup hati-hati. Nyata perbedaannya dengan Pak Sitor yang lebih kasar. Tampaknya ia sudah lama tidak berhubungan badan dengan wanita. Sekarang akulah yang jadi sarana pelampiasan nafsunya setelah sekian lama. Aku tak kuasa menolak tindakannya pada diriku. Yang jelas aku merasa sangat terangsang disentuh dengan cara yang berbeda dari yang biasa dilakukan oleh suamiku. Birahiku pun naik.

Tiba-tiba air mataku sempat menetes karena tersirat penyesalan telah menodai perkawinanku. Namun percuma saja, sekarang semuanya sudah terlambat. Pak Sitor semakin asyik dengan tindakannya. Tiap jengkal tubuhku dijamahnya tanpa terlewatkan seinci pun. Kekuatan Pak Sitor telah menguasai diriku. Aku membiarkan saja ia terus merangsangi diriku. Tubuhku pun berkeringat tidak tahan terhadap rasa geli bercampur gairah.

Lalu mulutnya turun ke selangkanganku. Ia sibakkan kedua kakiku yang putih bersih itu. Di situ lidahnya bermain menjilati klitorisku. Kepalaku miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang melandaku. Peganganku hanya kain sprei yang aku tarik karena desakan itu. Kedua kakiku pun menerjang dan menghentak tidak tahan atas gairah yang melandaku.

Beberapa menit kemudian aku orgasme. Pak Sitor dengan mulutnya menelan air orgasmeku itu. Badanku lemas tak bertenaga. Mataku pun terpejam.

Setelah beristirahat beberapa saat, aku kembali dibangkitkan oleh Pak Sitor dengan cara diciumi balik telingaku hingga liang kehormatanku. Di sana jarinya ia masukkan. Ia pun mulai mengacak-acak liang kewanitaanku lalu mempermainkan celahnya.

Sambil menikmati goyangan jari-jarinya di dalam vaginaku, aku semakin sadar jika Pak Sitor telah lama merencanakan ini. Bisa jadi telah lama ia berobsesi untuk meniduriku karena sama sekali tak nampak keraguan dalam seluruh tindakannya mencabuliku. Berarti ia memang telah berencana melanggar amanat suamiku dan menguasaiku.

Di satu pihak aku memandangnya sebagai ular berkepala dua. Anehnya, di lain pihak, aku ikut merasa senang ia berhasil mewujudkan rencana rahasianya itu terhadapku! Sekarang aku menikmati sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya…

Pikiran yang memenuhi benakku pun terputus karena aku lalu mengalami orgasme untuk yang kedua kalinya oleh tangan Pak Sitor. Badanku telah basah oleh keringat. Aku benar-benar merasa lemas.

Pak Sitor lalu mengambil gelas dan menuangkan air putih dari sebotol air mineral yang ada di mejaku. Dibantunya aku untuk duduk dan minum. Dalam beberapa teguk, air dalam gelas itu kuhabiskan. Pak Sitor lalu menuangkan lagi air untuk diminumnya sendiri ke gelas yang sama. Aku duduk di tempat tidur sambil bersandar ke dinding memperhatikannya.

“Ibu masih mau minum lagi?” tanya Pak Sitor selesai menghabiskan air di gelas.

Karena masih haus, aku pun mengangguk. Pelan-pelan kuminum air dari gelas yang baru saja dipakai oleh Pak Sitor. Nikmat sekali rasanya. Sekarang giliran Pak Sitor yang memperhatikanku menghabiskan minumanku sambil tangannya mengelus-elus pundak dan leherku. Aku mulai merasa nyaman berada dalam dekapan lelaki itu.

“Sudah?” tanyanya saat kuulurkan gelas yang kosong kepadanya.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum malu karena Pak Sitor yang bugil itu menatap mataku dalam-dalam sambil mendekap tubuhku yang juga bugil. Lalu dilepaskannya dekapannya dari tubuhku untuk meletakkan gelas kosong kembali ke atas meja.

Saat kembali ke ranjang, Pak Sitor minta izin padaku untuk memasukkan penisnya ke lubang kehormatanku. Walaupun kami sudah sama-sama bugil dan aku pun telah dicabuli oleh Pak Sitor, aku masih merasa ragu.

Aku lalu menggeleng tidak setuju karena khawatir konsekuensinya. Liang kehormatanku akan tercemar oleh cairan laki-laki lain. Aku merasa telah terlalu jauh berkhianat pada suamiku. Bagiku cukuplah tindakannya tadi dan tidak usah diteruskan lagi hingga penetrasi.

Aku mengambil pakaianku yang berceceran dan bersiap mengenakannya kembali.

Dari luar, Pak Sitor tampak mau menerima perkataanku dan tidak meneruskan niatnya. Akan tetapi, aku bisa melihat ada rasa kecewa yang dalam di matanya. Ia tampak gelisah. Aku bisa bayangkan dirinya yang telah terobsesi untuk menyenggamaiku. Aku lihat penisnya sebetulnya telah siap memasuki diriku jika aku izinkan. Panjangnya melebihi milik suamiku dan agak bengkok dengan diameter yang melebar.

Akhirnya Pak Sitor minta aku untuk membantunya klimaks dengan mengulum penisnya. Satu kali saja, katanya, sebelum kami menyudahi permainan terlarang kami malam itu.

Aku ragu. Aku dan suamiku saja selama ini tak pernah saling melakukan oral sex. Suamiku tak pernah melakukannya kepadaku, demikian juga sebaliknya. Padahal kami selalu menjaga kebersihan wilayah sensitif kami. Sedangkan aroma penis Pak Sitor lebih bau. Kelihatannya sih tak terlalu bersih. Selain nampaknya Pak Sitor memang kurang menjaga kebersihan, tentunya itu juga karena penisnya yang tak disunat. Akhirnya, aku kembali menggeleng.

Walaupun aku menolaknya, Pak Sitor tak menyerah dan terus merengek memohon-mohon padaku. Ia merasa sangat tersiksa karena belum berhasil mengeluarkan hasrat birahinya yang terpendam.

Lama-kelamaan aku merasa kasihan juga. Tidak adil rasanya bagiku yang telah dibantunya sampai dua kali orgasme untuk membiarkannya seperti itu. Aku merasa diriku egois. Timbullah perasaan bersalah di dalam diriku.

Akhirnya aku pun menyerah. Bukankah tadi Pak Sitor juga telah membantuku masturbasi dengan tangan dan mulutnya? Jadi kupikir sekarang hitung-hitung balas budi.

“Ya sudahlah, Pak…. Sekali ini saja, ya..?” kataku pelan tanpa daya sambil memegang pahanya yang kasar.

Tampak sekali kegirangan terpancar di wajah Pak Sitor. Seperti seorang anak yang baru saja diberikan mainan oleh ibunya.

Kuletakkan kembali pakaianku yang baru saja kukumpulkan dan tadinya sudah siap kukenakan kembali.

Perlahan kutundukkan wajahku mendekati selangkangan Pak Sitor. Dengan sedikit jijik kubuka mulutku. Akhirnya, kuberanikan untuk mengulum batang penisnya namun tidak muat seluruhnya ke dalam rongga mulutku. Hanya sampai setengah batangnya, kepala penisnya sudah mentok sampai pangkal tenggorokanku. Mulutku pun serasa mau robek karena besarnya penis Pak Sitor.

Baru beberapa kali kulum aku serasa mual dan mau muntah oleh aroma kelamin Pak Sitor itu. Aku maklum saja karena ia kurang bersih. Penisnya yang tidak disunat, seperti kebiasaan laki-laki Batak, memang membuatnya agak kotor. Selain itu, kurasa itu juga disebabkan oleh makanannya yang tidak beraturan. Walaupun demikian, aku berusaha sekuat tenaga menyembunyikan perasaan jijikku. Aku tak ingin membuatnya tersinggung.

Sementara kepalaku menunduk dan mengulumi penisnya, mataku kerap melirik ke atas mengamati ekspresi Pak Sitor. Awalnya aku merasa tak percaya diri apakah dapat memuaskan Pak Sitor. Sementara aku bekerja, tangan Pak Sitor yang satu mengelus-elus pundak dan leherku. Tangannya yang satu lagi diletakkannya di kepalaku. Semakin lama kurasakan tangannya semakin erat memegangi kepalaku, seolah tak menghendaki kepalaku berpindah dari selangkangannya. Untuk sementara, aku jadi lega karena itu artinya Pak Sitor sejauh ini puas dengan pelayananku.

Satu menit, dua menit… lima menit berlalu…. Entah berapa lama lagi setelah itu aku mengulumi penis Pak Sitor sampai basah dan bersih oleh air liurku… Aku lalu menyerah dan melepaskan penis Pak Sitor dari mulutku.

Aku heran Pak Sitor ini sampai sekian lama kok tidak juga klimaks. Padahal akibat kulumanku, penisnya semakin lama semakin keras seperti sebatang kayu. Entahlah, mungkin aku juga yang belum pandai melakukan oral sex… Maklumlah, ini baru pertama kali kulakukan.

Akhirnya aku sadar bahwa stamina Pak Sitor yang luar biasa besarnya itu memang harus disalurkan dengan cara bersebadan… Mungkin karena belum berpengalaman, kulumanku sekedar mengeraskan penis Pak Sitor tapi tak mampu membuatnya orgasme.

Selain salut akan staminanya, aku juga salut atas sikapnya yang menghargai wanita dengan tidak memaksakan kehendak. Padahal dalam keadaan seperti ini, aku bisa saja dipaksanya untuk disetubuhi, yang mana hal itu tidak ia lakukan karena aku menolaknya.

Aku jadi semakin merasa bersalah. Karena itu timbul keinginanku untuk membantunya saat itu juga. Di dalam pikiranku berperang antara birahi dan moral. Akhirnya, kupikir sudah terlanjur basah. Di samping itu, aku tidak ingin menambah masalah antara aku dan Pak Sitor. Jika aku larang terus nantinya Pak Sitor bisa saja memperkosaku. Seorang laki-laki yang telah naik birahinya sampai di ubun-ubun sering bertindak nekad. Lagi pula aku sendirian.

Akhirnya, dengan pertimbangan demi kebaikan kami berdua, maka aku izinkan dia melakukan penetrasi ke dalam rahimku. Kupikir lebih baik hal itu kami lakukan atas dasar suka sama suka daripada aku nanti diperkosanya. Lagipula pikiran untuk disetubuhi lelaki lain untuk pertama kalinya mulai menggoda benakku. Ya, aku membulatkan tekadku untuk menerima Pak Sitor mengintimiku…

“Hmmm… Pak Sitor…. Begini deh… Kalau Bapak memang benar-benar mau mencampuri saya… Boleh, Pak….”

Pak Sitor pun tampaknya gembira sekali. Padahal tadi sempat kulihat wajahnya tegang sekali.

“Ibu benar-benar ikhlas…?” tanya Pak Sitor menatap dalam-dalam mataku dengan penuh birahi. Tangannya membelai rambutku. Aku membalas tatapannya sambil tersenyum, lalu mengangguk dengan pasti.

Pak Sitor mencium dan mengulum bibirku dalam-dalam… Seolah menyatakan rasa terima kasihnya atas kesediaanku. Aku merasa dihargai sebagai seorang wanita. Walaupun perilakunya keras namun ia tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita. Kubalas ciumannya dengan tulus. Aku pun semakin mantap untuk menyerahkan diriku bulat-bulat kepadanya…

Setelah dilepaskannya pagutannya dari mulutku, kami pun berpandangan dan saling tersenyum seperti sepasang kekasih. Sepasang kekasih yang bersiap-siap untuk menunaikan malam pertamanya. Ada perasaan tegang dan senang yang melanda diriku saat menyerahkan diriku pada Pak Sitor.

“Sebentar ya, Pak… dikerasin lagi penisnya, biar gampang nanti masukinnya…” kataku sambil kembali menundukkan kepalaku ke arah selangkangan Pak Sitor.

Selama beberapa saat kukulumi kembali penis Pak Sitor. Tangan Pak Sitor membelai-belai rambutku saat aku bekerja. Tampak sekali kalau ia sangat menikmatinya. Setelah batang penisnya benar-benar keras, barulah kulepaskan mulutku…

Aku lalu berbaring dan membuka kedua pahaku, memberinya jalan memasuki rahimku. Tubuh kami berdua saat itu telah sama-sama berkeringat. Rambutku telah kusut. Dari temaram lampu dinding aku lihat Pak Sitor bersiap-siap mengarahkan penisnya. Posisinya pas di atas tubuhku. Tubuhnya yang telah basah oleh keringat hingga membuat badannya hitam berkilat. Tampaknya ia masih berusaha menahan untuk ejakulasi. Di luar, derasnya hujan seakan tidak mau kalah dengan gelombang nafsu kami berdua.

Pak Sitor dengan hati-hati menempelkan kepala penisnya. Ia tahu jika tergesa-gesa akan membuatku kesakitan sebab punyaku masih kecil dan belum pernah melahirkan.

Aku pun berusaha memperlebar kedua pahaku supaya mudah dimasuki kejantanan Pak Sitor. Aku melihat kejantanannya panjang dan agak bengkok jadi aku bersiap-siap agar aku jangan kesakitan.

“Pelan-pelan ya, Pak…” Aku sempat bilang kepadanya untuk jangan cepat-cepat.

“Jangan khawatir, Bu…” katanya sambil memegang lututku mengambil ancang-ancang.

Dengan bertahap, ia mulai memasukan penisnya. Aku memejamkan mata dan merasakan sentuhan pertama pertemuan kemaluan kami. Aku merasa seperti pengantin baru yang sedang diperawani. Hatiku dag dig dug. Untuk pertama kalinya aku dimasuki oleh laki-laki lain selain suamiku! Aku punya perasaan ini akan lebih sensasional daripada malam pertamaku bersama Bang Ikhsan…

Untuk melancarkan jalannya, kakiku ia angkat hingga melilit badannya, lalu langsung penisnya masuk ke rahimku dengan lambat. Aku terkejut dan merasakan ngilu di bibir rahimku.

“Auuch… ooh.. auuch…” Aku meracau kesakitan. Pak Sitor membungkam mulutku dengan mulutnya. Kedua tubuh bugil kami pun sepenuhnya bertemu dan menempel. Aku memeluk tubuh Pak Sitor yang kekar itu erat-erat.

Tidak lama kemudian seluruh penisnya masuk ke rahimku dan ia mulai melakukan gerak maju mundur. Aku merasakan tulangku bagai lolos, sama seperti yang kualami saat menjalani malam pertama dengan Bang Ikhsan dulu…. Bahkan sekarang lebih terasa…. Perasaan yang belakangan ini sudah tak pernah lagi kualami bersama suamiku. Kini aku bisa menikmatinya kembali bersama Pak Sitor!

Aku pun mulai merasakan kenikmatan. Cairan vaginaku mulai keluar banyak dan melumasi penis besar Pak Sitor yang terus keluar masuk liang kemaluanku. Mulut pak Sitor pun lepas dari mulutku karena aku tidak kesakitan lagi. Aku tersengal-sengal setelah selama beberapa waktu mulutku disumpalnya.

Mulutku yang telah bebas kini mulai mengeluarkan erangan-erangan karena menikmati genjotan lelaki itu. Aku merasa melambung dibawa Pak Sitor ke surga dunia. Karenanya aku benar-benar percaya dan menyerahkan diriku padanya. Tampak Pak Sitor sangat bahagia melihat penerimaanku itu.

Kekuatan laki-laki ini membuatku amat salut. Genjotannya sampai membuat ranjang dan badanku bergetar semua seperti kapal yang diserang badai. Aku sampai menikmati orgasme yang luar biasa karenanya. Seolah aku telah dilahirkan kembali dan diberikan kehidupan lain yang sama sekali berbeda…

Kurang lebih 15 menit kemudian gerakan Pak Sitor bertambah cepat. Tubuhnya menegang hebat. Aku merasakan basah di dalam rahimku oleh cairan hangat. Akhirnya kesampaian juga obsesi Pak Sitor terhadapku. Sekarang rahimku sudah menerima cairan spermanya yang panas dan membludak. Resmilah sudah aku menjadi miliknya….

Tubuhnya lalu rebah di atas tubuhku tanpa melepaskan penisnya dari dalam rahimku. Aku pun dari tadi telah sempat kembali orgasme. Butiran keringat kami membuat basah kain sprei yang telah kusut di sana-sini.

Beberapa waktu kemudian Pak Sitor menggulingkan badannya ke samping sambil menarikku sehingga kami berbaring berhadap-hadapan pada sisi tubuh kami masing-masing. Aku terkagum-kagum karena dalam posisi itu, penis Pak Sitor tetap berada dalam kepitan lubang kemaluanku. Satu hal yang tak pernah kudapatkan saat bersama Bang Ikhsan suamiku.

Ini bisa terjadi karena penis Pak Sitor panjang. Selain itu, juga kurasa karena ia begitu terangsang dengan diriku sehingga penisnya terus mengeras walaupun sudah memuncratkan air mani dalam jumlah banyak. Alasan yang terakhir ini tentu saja membuatku merasa sangat tersanjung dan merasa sangat berharga di hadapannya. Aku ternyata bisa membuat Pak Sitor terangsang dengan begitu hebatnya… Otomatis aku pun merasa sangat senang sudah bisa menyenangkan dan memuaskan nafsu seks Pak Sitor.

Kami lalu tertidur dengan alat kelamin kami masih bersatu, sementara di luar hujan masih saja turun.

Entah berapa lama kami tertidur. Mestinya tak terlalu lama tapi saat bangun aku merasa sangat segar. Aku terbangun karena gerakan-gerakan Pak Sitor yang rupanya telah bangun terlebih dahulu. Sambil mengumpulkan kembali memoriku yang beterbangan saat tertidur, aku mulai menyadari kembali keadaanku saat itu. Penis Pak Sitor ternyata masih mantap tertancap di kemaluanku, bahkan terasa keras sekali…

Sejenak akal sehatku kembali mampir. Gila! Aku telah bersetubuh dengan lelaki selain suamiku…! Sepanjang tidur tadi tubuhku telah dimasuki penis dan sperma Pak Sitor… Satu hal yang sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya! Di sisi lain aku pun sadar kalau semuanya sudah telanjur. Aku tak mungkin kembali lagi. Sudahlah, biarlah semuanya mengalir begitu saja… Nafsuku yang sudah dikendalikan Pak Sitor lalu kembali menguasai diriku.

Dalam keadaan belum seratus persen sadar, aku segera tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus bersiap-siap karena Pak Sitor akan menyetubuhiku lagi… Ya, kami sedang menjalani malam pertama kami… Pak Sitor pasti ingin kulayani lagi. Aku harus memastikan dia mendapatkan haknya atas diriku. Benar saja, tak lama Pak Sitor segera mengambil posisi di atas tubuhku. Genjotan kenikmatannya pun kembali dilancarkan terhadap diriku…

Saat itu tidak ada lagi batas di antara kami. Dalam hati, aku sebetulnya merasa telah berdosa kepada suamiku. Bagaimanapun, pikiran dan akal sehatku ternyata tetap tidak bisa menahan tubuh dan nafsuku yang telah dikuasai dan dikendalikan sepenuhnya oleh Pak Sitor.

Hingga tengah malam Pak Sitor kembali menggauliku sepuasnya. Aku pun tidak merasa sungkan lagi. Saat itu kami berdua telah mencapai titik paling intim dalam hubungan kami. Kami berdua sudah tidak merasa asing lagi satu sama lain. Aku mulai berpartisipasi secara aktif untuk saling memuaskan nafsu badani kami.

Dalam waktu singkat, aku pun sudah tidak merasa jijik lagi jika melakukan oral sex untuk Pak Sitor, seolah itu adalah salah satu menu biasa yang harus kutunaikan untuknya. Bahkan ketika ia mengutarakan niatnya untuk orgasme di dalam mulutku, aku serta merta menyanggupinya dengan sukarela. Malam itu untuk pertama kalinya aku mencicipi rasa air mani seorang lelaki dan menyantapnya dengan lahap…!

***

Sejak kejadian malam itu, hidupku berubah. Bagi seorang wanita seperti aku, sangat sulit rasanya untuk melepaskan diri dari situasi ini. Yang jelas, penyesalan sudah tak ada gunanya. Dari luar, orang-orang memandangku sebagai seorang istri yang berwibawa dan menjaga kehormatan. Akan tetapi semua itu jadi tak ada artinya di hadapan Pak Sitor. Ia telah berhasil menemukan celah yang tepat untuk menguasaiku. Ia telah berhasil menggauliku. Menjadikan diriku pemuas nafsu badaninya. Kehormatan dan perkawinan yang aku junjung pun luntur sudah. Apa lagi yang bisa kuperbuat…

Pak Sitor kini telah merasa jadi pemenang dengan kemampuannya menaklukkanku hingga aku tidak berdaya. Aku semakin tidak berdaya jika ia telah berada di dalam kamarku, untuk bersebadan dengannya. Kapan pun ia datang menagih jatahnya, pasti aku penuhi. Hanya jika aku sedang haid, aku bisa menolaknya.

Di hadapannya, posisiku tak lebih sebagai gundiknya. Hebatnya, ia bisa membuatku menikmati peranku sebagai pemuas nafsunya. Di sisi lain, aku pun sangat berterima kasih padanya karena semua itu tetap hanya jadi rahasia kami berdua. Di luar tembok rumahku dan rumahnya, kami kembali menjalani peran masing-masing di masyarakat.

Aku benar-benar terlena dan terbuai oleh gelombang gairah yang dipancarkan Pak Sitor. Aku heran karena Pak Sitor yang seusia dengan ayahku ini masih mampu mengalahkanku di ranjang dan membuatku orgasme berkali-kali. Tidak seperti suamiku yang hanya bisa membuatku orgasme sekali saja.

Kuakui aku jadi mendapat pengalaman baru yang memupuskan pendapatku selama ini bahwa laki-laki paro baya akan hilang keperkasaannya.

Suatu saat, sehabis kami berhubungan badan, aku bertanya padanya bagaimana ia bisa sekuat itu di usianya yang sudah tak muda lagi.

Pak Sitor bercerita bahwa ia sangat suka mengkonsumsi makanan khas Batak, nanigota, yang berupa sup daging dan darah anjing. Makanan itu diyakininya dapat menjaga dan menambah vitalitas pria.

Aku bergidik jijik dan mau muntah mendengarnya. Aku jadi ingat, pantas saja saat bersebadan dengannya bau keringatnya lain. Juga saat aku mengulum kemaluannya terasa panas dan amis. Rupanya selama ini Pak Sitor sering memakan makanan yang di agamaku diharamkan.

Pernah suatu kali aku kurang enak badan padahal Pak Sitor ngotot ingin mengajakku untuk bersetubuh. Aku pun dibelikannya makanan berupa sate. Saat aku santap, rasanya sedikit aneh. Setelah makan beberapa tusuk, aku merasakan tubuhku panas dan badanku seakan fit kembali. Setelah sate itu aku habiskan, kami pun melakukan persetubuhan dengan amat panas dan bergairah hingga aku mengalami orgasme sampai tiga kali. Tubuhku seakan segar bugar kembali dan enak sekali.

Setelah persetubuhan, Pak Sitor bilang bahwa yang aku makan tadi adalah sate daging anjing. Aku marah dan ingin memuntahkannya karena jijik dan kotor. Hanya karena pandainya ia memberiku pengertian, ditambah sedikit rayuan, aku jadi bisa menerimanya. Tetap saja kemudian aku memintanya untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Aku tak ingin memakannya lagi walaupun terus terang, aku pun mau tak mau harus mengakui khasiatnya… Ia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi tanpa seizinku.

***

Selama aku bertugas di pulau itu hampir satu tahun, kami telah sering melakukan hubungan seks dengan sangat rapi. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Untungnya pula, akibat perbuatan kami ini aku tidak sampai hamil. Aku memang disiplin ber-KB supaya Pak Sitor bebas menumpahkan spermanya di rahimku.

Kapanpun dan di manapun, kami sering melakukannya. Kadang di rumahku, kadang di rumah Pak Sitor. Kadang kalau kupikir, alangkah bodohnya aku mau saja digauli di atas dipan kayu yang cuma beralaskan tikar usang. Kenyataannya, semua itu tak kupedulikan lagi. Yang penting bagiku hasratku terpenuhi dan Pak Sitor pun bisa memberinya.

Pernah suatu hari setelah kami bersebadan di rumahnya, Pak Sitor melamarku! Ia minta kepadaku untuk mau menikah dan hidup dengannya di pulau itu. Lamaran Pak Sitor ini tentu mengejutkanku. Rupanya Pak Sitor mulai mencintaiku sejak ia dengan bebas dapat menggauliku.

Memang selama hampir setahun terakhir ini kami berdua sudah menjalani hidup nyaris seperti sepasang suami istri namun tetap saja rasanya itu tidak mungkin sebab aku masih terikat perkawinan dengan suamiku dan aku pun tidak ingin menghancurkannya.

Lagi pula Pak Sitor seusia dengan ayahku. Apa jadinya jika ayahku tahu.

Di samping itu, keyakinan kami pun berbeda karena Pak Sitor seorang Protestan. Bagiku ini juga satu masalah. Memang, sejak berhubungan intim dengannya, aku tak lagi menjalankan agamaku dengan taat. Aku tak pernah sembahyang jika bersama Pak Sitor. Kebiasaan Pak Sitor menyantap daging anjing dan babi, juga menenggak tuak, sedikit demi sedikit mulai kuikuti.

Sekarang aku telah mahir pula memasakkan nanigota ataupun masakan lainnya yang sejenis untuk Pak Sitor. Ia sering memuji kalau masakanku jauh lebih enak daripada masakan di lapo di daerah kami. Beberapa kali ia bahkan mengundang kawan-kawannya dari luar pulau untuk dijamu dengan masakan khas Batak buatanku. Satu hal yang membuatku merasa bangga tentunya.

Kadang aku ikut pula menikmati makanan seperti itu. Sekedar menemaninya dan sebagai wujud toleransiku padanya. Lagipula, khasiat itu semua terhadap gairah seks kami telah terbukti… Entah sugesti atau bukan, yang jelas setiap kali aku ikut mencicipi masakan itu, akan langsung diikuti oleh persetubuhan yang hebat antara aku dan Pak Sitor semalam suntuk… Pak Sitor pun mengetahui hal itu. Karena itulah Pak Sitor selalu berusaha mati-matian membujukku untuk bersamanya menikmati hidangan itu setiap kali kami akan berhubungan badan.

Apapun, perbedaan agama itu tetap saja terasa menjadi ganjalan. Apalagi Pak Sitor bersikukuh untuk tidak meninggalkan keyakinannya. Ia mempersilakanku untuk tetap pada keyakinanku saat ini atau mengikuti keyakinannya jika aku mau hidup bersamanya. Buatnya itu tak jadi masalah.

Suatu saat, sepulangnya aku dari kerja, Pak Sitor ”menembakku”. Saat itu aku baru saja diantarnya pulang ke rumah dan aku sedang berganti pakaian di hadapannya. Di situ ia menyatakan cintanya padaku dan menanyakan apakah aku mencintainya juga. Tentu saja aku agak gelagapan memberinya jawaban. Aku berusaha menjawabnya sebijaksana mungkin.

Masih dalam keadaan setengah bugil, aku menghentikan aktifitasku. Kuraih tangannya dan kuajaknya duduk berdampingan di sisi tempat tidurku.

“Pak Sitor, aku pun mencintai Bapak dan yang jelas aku pun sangat menyukai nafkah batin yang Pak Sitor berikan padaku selama di sini,” kataku pelan-pelan sambil menatap matanya dalam-dalam untuk menyatakan ketulusan ucapanku.

“Tapi kuharap Pak Sitor juga paham kalau di lain pihak aku masih terikat pernikahan dengan Bang Ikhsan yang kunikahi atas dasar cinta pula…” lanjutku.

Suasana jadi hening sejenak. Kurasakan genggaman tangannya agak menguat meremas-remas tanganku yang halus.

“Yaah… seandainya saja, kita bertemu waktu Bu Reni masih gadis,” keluh Pak Sitor. “Mungkin…”

“Mungkin apa, Pak?”

“Mungkin sekarang kita sudah menikah… bukan sekedar kawin…” katanya sambil mengelus pundakku yang telanjang.

Mukaku jadi memerah karena tersipu.

“Pak Sitor….” kataku pelan sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.

“Bu Reni,” kata Pak Sitor lagi sambil menegakkan kepalaku perlahan menatap kedua matanya.

“Ya, Pak..?”

“Bu Reni lebih mencintai yang mana…. Aku atau suami Ibu…?”

Mukaku yang putih bersih pun kembali memerah karena tersipu. Kali ini kurasa benar-benar seperti udang rebus.

“Aaaa…aah, Pak Sitoor…. Pertanyaannya kok susah-susah sih…?” jawabku manja sambil mencubit tangannya.

Pak Sitor jadi gemas melihat reaksiku yang mesra dan manja. Apalagi aku sudah dalam keadaan nyaris bugil. Kurasa nafsunya sudah naik sampai ke ubun-ubun. Ia pun segera membantuku melolosi sisa pakaian yang tersisa ditubuhku sebelum ia mencopoti pakaiannya sendiri.

Asyiik… aku akan disetubuhi lagi, pikirku girang. Tentu saja aku senang. Aku tak pernah tidak senang dalam melayani Pak Sitor. Di samping itu, kini dengan melayaninya di ranjang, aku jadi tak perlu menjawab pertanyaan terakhirnya yang susah tadi.

Pak Sitor pernah menanyakan padaku kenapa aku tidak hamil padahal setiap ia menyebadaniku spermanya selalu ia tumpahkan di dalam. Diutarakannya keinginannya yang kuat untuk mendapatkan anak dari rahimku. Aku jadi terharu karena itu membuktikan betapa besarnya cintanya padaku. Sebagai seorang istri yang sah dari suamiku, tentu saja aku jadi mengalami dilema.

Aku tidak memberitahunya jika aku ber-KB karena tidak ingin mengecewakannya. Jelas ia sebenarnya menginginkan aku hamil agar memuluskan langkahnya untuk memilikiku. Bahkan ia berusaha meyakinkanku untuk melihat siapa yang akan lebih dulu berhasil menghamiliku, dirinya atau suamiku. Seandainya ia yang berhasil pertama kali, Pak Sitor berkeras untuk menikahiku. Minimal secara adat. Tak peduli apakah aku harus bercerai dulu dengan Bang Ikhsan atau tidak. Satu permintaan yang wajar sebetulnya. Untuk menyenangkan dirinya, aku pun menyanggupinya.

Bukan main girangnya Pak Sitor mendengar kesanggupanku itu. Sejak itu, ia pun berusaha sekuat tenaga untuk membuatku hamil. Dengan rajinnya aku sering dibawakannya ramuan khas Batak untuk meningkatkan kesuburan. Entah terbuat dari apa saja, aku tak tahu. Untuk menyenangkan dirinya, dengan patuh semuanya selalu kuminum. Bagaimanapun, aku tetap lebih percaya dengan khasiat pil KB yang kuminum diam-diam secara teratur.

Ia bahkan sampai hafal kapan saat-saat suburku. Jika saat itu datang, ia telah memesan padaku bahwa itu adalah jatahnya. Sampai saat ini aku masih bisa mengabulkannya, dengan catatan jika nanti Bang Ikhsan telah pulang dan ia menagih jatahnya padaku tepat pada masa suburku, aku harus mendahulukannya. Pak Sitor cukup fair untuk menerima perjanjian itu.

Akan tetapi bukan Pak Sitor namanya kalau tidak lihai dan cerdik.

“Suami Ibu kan biasanya minta jatah malam hari,” katanya.

“Nah, berarti kalau siangnya jatahku, kan…?” tanyanya tersenyum nakal. Aku pun tak bisa berkutik menanggapi permintaannya.

Itulah sebabnya, saat tiba masa suburku, aku membiasakan diri minta izin untuk tak masuk kantor dengan berbagai alasan. Tujuan sebenarnya tentu saja untuk memenuhi keinginan Pak Sitor yang ingin menyetubuhiku seharian.

Bagaimanapun, aku tetap harus menyiasati agar ia tidak bermimpi untuk menikahiku. Kurasa hubungan ini hanya sebagai pelarianku dari kesepian selama jauh dari suamiku. Aku tak ingin sampai terjerumus lebih jauh lagi, walaupun selama ini apapun yang diminta Pak Sitor dari diriku sebisa mungkin selalu aku sanggupi.

Kuakui, sedikit banyak hubungan emosional antara diriku dengan Pak Sitor tetap ada. Ada keinginan yang tulus dari diriku untuk menyenangkannya dan melihatnya bahagia. Tentu saja selama aku tidak sampai mengorbankan jatah suamiku. Toh, aku pun secara tak langsung mendapat manfaatnya jika aku bisa menyenangkan dan memuaskan Pak Sitor. Aku jadi memiliki pelindung setia selama tinggal di pulau yang terpencil dan keras ini. Jadi keamananku terjamin, sesuai dengan yang diamanatkan suamiku kepada Pak Sitor. Tapi tentu saja tak boleh lebih jauh dari itu.

Jadi aku menjelaskannya pada Pak Sitor dengan lembut dan baik-baik suatu saat seusai kami berhubungan badan.

Aku bilang jika kelak aku pindah kerja, ia harus rela hubungan ini putus. Selama aku dinas di pulau ini dan suamiku tidak ada, ia kuberi kebebasan untuk memilikiku dan menggauliku. Syaratnya, asal jangan berbuat macam-macam di depan teman-teman kantorku yang kebetulan hampir semuanya penduduk asli pulau ini.

Akhirnya ia mau mengerti dan menerima alasanku. Ia berjanji akan menutup rapat rahasia kami jika aku pindah. Ia pun menerima segala persyaratanku karena rasa cintanya padaku.

Demikianlah, selama aku tugas di pulau ini, Pak Sitor terus memberiku kenikmatan ragawi tanpa ada batas sama sekali di antara kami. Walaupun demikian, aku tetap berusaha memegang prinsip bahwa cintaku hanya untuk suamiku. Kalau diibaratkan perjalanan, Pak Sitor adalah satu stasiun persinggahan yang harus aku singgahi.

Dalam hatiku, aku berjanji untuk menutup rapat rahasia ini karena tetap masih ada setitik penyesalan dalam diriku. Kadang aku mengganggap diriku kotor karena telah merusak kesucian pernikahan kami… Tapi sudahlah, mungkin ini memang tahapan kehidupan yang harus aku lewati…

TAMAT