Category Archives: cerita JIL

Cerita yang dibuat JIL, salah satu afiliasi KHIS

Reisa – Skandal di Pulau Mentawai

Copyright 2008, By Mario Soares & East Life

(Selingkuh, Seks dengan Pria Tua)

Hubungan Jonas Banak dan Reisa mengalir seperti air. Tiada lagi penghalang hubungan mereka di pulau itu meskipun masih bersifat sepihak karena tak diketahui oleh kedua orang tua Reisa di Padang. Kini mereka berdua menjalani hubungan sebagaimana layaknya suami istri.

Sayangnya kebahagiaan mereka tak bertahan lama. Hanya dalam waktu sebulan, tiba-tiba Jonas mendapat surat panggilan untuk segera pulang ke Semarang. Ia tak diberi toleransi sama sekali untuk mengulurnya. Walaupun merasa berat hati karena masih menjalani manisnya madu perkawinan dengan Reisa di pulau itu, Jonas terpaksa mematuhinya. Tentu saja Reisa tak mungkin ikut ke Semarang. Di pulau ini ia sudah mempunyai tugas dan kewajiban sendiri. Lagipula apa kata kedua orang tuanya nanti jika tiba-tiba ia pindah ke Semarang?

Pada malam terakhirnya di pulau Mentawai, Jonas memberikan Reisa siraman batin yang sempurna. Berkali-kali ia menghantarkan Reisa ke puncak kepuasan sebagai wanita dewasa di atas peraduan mereka berdua. Di kamar itu hanya cahaya temaram lampu, deritan ranjang, dan desahan serta lenguhan keduanya yang menjadi saksi pergumulan dua insan yang tak lama lagi akan terpisah oleh jarak yang jauh.

Dalam kebisuan malam yang dingin dan tenang itu, hanya terdengar lenguhan Reisa dan Jonas yang masih berpacu dalan birahi. Beberapa kali Reisa melenguh histeris menerima sodokan kemaluan Jonas di dalam rahimnya.

Menjelang pagi mereka menyudahi persetubuhan itu dan tertidur dengan saling berpelukan. Keringat membasahi tubuh keduanya. Masih terlihat bercak-bercak merah gigitan Jonas di leher dan payudara Reisa. Begitu juga di tubuh Jonas terlihat bekas cakaran kuku Reisa saat mendapatkan orgasme.

***

Sore hari itu dengan diantar Reisa dan keluarga Pak Nurfea Sabaggalet, Jonas menaiki kapal yang akan membawanya ke Padang, untuk kemudian diteruskan ke Jakarta lalu Semarang. Entah kenapa, Reisa hari itu memilih mengenakan busana yang nyaris serba hitam. Kemeja lengan panjang dan kerudungnya berwarna hitam. Hanya celana panjangnya yang berwarna abu-abu.

Ada gurat kesedihan di mata kedua anak manusia itu karena akan berpisah. Seakan tak mau melepas kepergian Jonas, Reisa sempat menitikkan air matanya. Jonas sempat mencium lama bibir Reisa di depan Pak dan Bu Nur sebelum ia naik ke kapal. Tak lama kemudian kapal itu bergerak menjauh meninggalkan pelabuhan Tua Pejat menuju Pelabuhan Muaro Padang.

Setelah kapal tak terlihat lagi, Reisa dan kedua suami istri itu kembali pulang ke tempatnya. Reisa menumpang sebuah sepeda motor ojek. Sedang Bu Nur berboncengan dengan Pak Nur.

dr Reisa dalam Kostum Kerjanya

dr Reisa dalam Kostum Kerjanya

Kini selama di tempat tugasnya Reisa melewatkan hari-harinya dengan rasa sepi. Tak terlihat lagi rona keceriaan di wajahnya, Reisa seolah kehilangan belahan jiwanya selama ini. Untunglah dengan adanya alat komunikasi, Reisa sering bertelepon atau SMS dengan Jonas. Rutinitas kembali dijalaninya seperti biasa. Sebagai tenaga medis yang profesional ia tak boleh meninggalkan pekerjaannya.

Berangsur hari demi hari Reisa mulai bisa melupakan kegundahannya. Hanya jika ia dan Bu Nur masuk ke pedalaman tempat bekas Jonas biasa bertugas, maka rasa sedih akan muncul kembali, teringat akan kenangan indah bersama Jonas. Cuma hiburan dari Bu Nur yang akhirnya bisa membuat Reisa menerima keadaan. Reisa sering main ke rumah Bu Nur untuk sekedar mengisi waktunya yang lowong. Terkadang Reisa suka bermain-main dengan anak Bu Nur yang masih berusia 5 tahun itu.

Minggu demi minggu berlalu. SMS dan telepon dari Jonas pun sedikit demi sedikit mulai berkurang. Apalagi kini Jonas ditempatkan di pedalaman Pulau Sulawesi. Selain jarak yang semakin jauh, hubungan telekomunikasi pun semakin sulit. Reisa akhirnya hanya bisa pasrah. Belum tentu ia bisa bertemu kembali dengan Jonas walaupun hanya setahun sekali.

Di luar pengetahuan Reisa dan Jonas, yang menyebabkan perpisahan mereka sebenarnya adalah Pak Nurfea. Tindakan ini dilakukannya karena ia cemburu melihat hubungan mesra kedua anak manusia itu.

Selama ini Pak Nur melihat Reisa seperti seorang bidadari yang diturunkan di pulau itu untuk mengabdi di bidang kesehatan. Sejauh ini ia belum punya keberanian untuk sekedar berdekatan apalagi menggoda Reisa. Keadaan mulai berbalik sejak ia menyaksikan hubungan antara Reisa dan Jonas yang sudah terlalu jauh.

Pak Nur merasa sangat tak nyaman jika Jonas terlalu sering menginap di tempat Reisa. Tidak jarang jika Jonas sedang bermalam di tempat Reisa, Pak Nur berusaha untuk mengintip apa yang dilakukan pasangan itu di kamar berdua. Hatinya semakin panas ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa mereka berdua melakukan hubungan intim seperti layaknya suami istri. Apalagi Reisa jadi semakin akrab dengan Jonas setelah rutin diintimi pemuda NTT itu.

Rasa iri dan dengki Pak Nur mencapai puncaknya setelah ikatan Jonas dan Reisa disahkan secara kristiani, walaupun belum sah secara hukum negara maupun menurut agama yang dianut Reisa. Sejak itu Jonas semakin bebas bermalam dan berhubungan dengan dokter muda itu dan Pak Nur semakin sulit tidur di malam hari karena rasa cemburunya.

Akhirnya Pak Nur menyusun rencana tersembunyi dalam benaknya. Disuratinya pihak seminari di Semarang untuk mengganti Jonas dan menariknya ke Semarang. Dikarangnya cerita bohong yang didukung oleh sekumpulan masyarakat sekitar yang bisa dipengaruhinya. Betapa senangnya hati Pak Nur ketika Jonas akhirnya dipindahkan jauh dari Reisa. Satu langkah sudah sukses ditempuhnya. Kini tinggal melanjut ke langkah berikutnya!

***

Kini Reisa sudah bisa menerima kenyataan ditinggalkan Jonas meski tentu saja ia jadi kehilangan kenikmatan badani yang biasa diberikan kekasihnya itu. Untuk melupakan kebutuhan biologisnya yang sudah beberapa bulan tak terpenuhi, Reisa jadi semakin larut dalam rutinitasnya.

Hubungannya dengan keluarga Bu Nur pun semakin dekat. Hanya dengan merekalah Reisa secara rutin berhubungan dan berkomunikasi setiap hari. Bu Nur merasa kasihan melihat Reisa yang tinggal sendirian di rumahnya. Berhubung masih ada satu kamar kosong, Bu Nur sering meminta Reisa menginap di rumahnya. Bahkan akhirnya Reisa menaruh sebagian barang-barangnya di situ sehingga ia bisa sewaktu-waktu bermalam di rumah keluarga Bu Nur.

Pak Nur yang selama ini memang mempunyai maksud tersembunyi jadi semakin senang ketika Reisa sering bermalam di rumahnya. Apalagi Reisa memang selalu melepas kerudungnya jika berada di dalam rumah, termasuk di rumah keluarga Pak Nur. Bahkan di malam hari biasanya Reisa hanya mengenakan gaun tidur one-piece-nya yang berwarna terang dan menempel di kulit. Dalam gaun tidurnya, kedua paha beserta bahu dan kedua lengan Reisa yang putih tak tertutupi. Tak heran Pak Nur sangat doyan ngobrol semalaman bersama Reisa jika dokter cantik itu menginap di rumahnya.

Suatu ketika Pak Nur harus berangkat ke desa asalnya di pedalaman. Di sana akan diadakan pesta rakyat sehubungan dengan perayaan adat yang akan diadakan warganya. Sebagai salah seorang yang dituakan dalam adatnya, Pak Nur diharuskan hadir. Kebetulan Bu Nur tak bisa datang menyertai Pak Nur karena anaknya kurang sehat. Untuk pergi ke desa itu harus naik perahu menyusuri hutan bakau dan cukup lama. Bu Nur menyarankan agar Pak Nur mengajak Reisa saja yang saat itu kebetulan sedang tak ada kegiatan di Puskesmas. Reisa tak kuasa menolak ajakan orang yang sudah dia anggap orangtua di daerah itu.

Selama perjalanan perahu dikayuh oleh nelayan setempat dan Pak Nur duduk di belakang Reisa. Reisa amat takjub akan pemandangan hutan bakau yang masih asli dan kicau burung yang sering terdengar. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan dengan perahu, mereka sampai di desa asal Pak Nur. Mereka lalu mengemasi barang bawaannya dan bersiap menuju rumah Pak Nur.

Selama perjalanan ke rumah Pak Nur, tak henti-hentinya Reisa mengagumi keindahan alam desa tersebut. Ia amat terkesan akan suasana desa yang tenteram dan segar. Reisa bergumam dalam hati bahwa ia amat bersyukur bisa bertugas di desa itu sambil berlibur seperti ini.

Rumah Pak Nurfea di Pedalaman Mentawai

Rumah Pak Nurfea di Pedalaman Mentawai

Dengan berjalan kaki, sampailah mereka di rumah keluarga Pak Nur. Rumah panggung itu terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Di dalamnya ada beberapa kamar yang dibatasi papan seadanya. Setiba di rumahnya, Pak Nur disambut oleh saudara-saudaranya. Tak lupa Pak Nur mengenalkan Reisa pada mereka, meski Reisa tak mengerti bahasa mereka, namun ia dapat menangkap maksud dari kata-kata Pak Nur dan saudara-saurdaranya itu. Mereka lalu dipersilakan naik ke atas rumah panggung.

Reisa disediakan sebuah kamar tersendiri untuk beristirahat. Seorang wanita seusianya mengantarkan Reisa ke kamarnya. Reisa meletakkan tas ransel bawaannya di salah satu sudut kamar. Di dalam kamar ada satu dipan kayu yang cukup sederhana dan hanya beralaskan kain tebal. Namun saat Reisa mencoba duduk diatasnya, terasa cukup nyaman.

Dari dalam kamar Reisa dapat melihat ke sekitar rumah. Tak jauh dari rumah itu ada sebuah kandang babi yang hanya dipagari dengan bambu. Bagi masyarakat desa itu, babi adalah hewan ternak dan melambangkan status sosial mereka. Dilihatnya babi yang dimiliki Pak Nur cukup banyak, menandakan status sosial Pak Nur yang cukup tinggi di antara warganya.

Reisa keluar dari kamar dan duduk bersama-sama para wanita yang saat itu sedang mempersiapkan pesta untuk malam nanti. Ibu-ibu dan gadis-gadisnya sedang membuat bumbu masak juga menyediakan peralatan pesta. Sementara bapak-bapak dan pemuda sibuk menyiapkan alat-alat di lapangan tak jauh dari rumah panggung itu. Reisa tak melihat Pak Nur lagi.

Senja itu dimulailah acara pesta tersebut. Dengan mengenakan pakaian adatnya, mereka semua keluar rumah. Tua, muda, anak kecil, dewasa, semuanya larut dalam acara tersebut. Mereka memenuhi lapangan yang kini dipenuhi orang-orang yang akan melakukan ritual acara adat itu. Bunyi tetabuhan alat musik jelas terdengar.

Reisa keluar dari rumah untuk menyaksikan acara tersebut dari kejauhan. Sengaja Reisa tak mengenakan kerudungnya. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan tergerai bebas. Ia hanya mengenakan t-shirt polos berlengan pendek yang menempel ketat di tubuhnya beserta celana pendek, supaya tak nampak terlalu berbeda dengan masyarakat di sekitarnya yang juga berpakaian seadanya.

Kaum bapak pada umumnya hanya memakai secarik kain cawat menutupi selangkangan mereka. Berbagai kalung dan hiasan kepala tradisional menghiasi tubuh mereka yang dipenuhi tattoo dan tindikan.

Reisa tak ketinggalan melihat Pak Nurfea yang juga mengenakan pakaian adatnya. Diam-diam Reisa mengagumi tubuh Pak Nur yang tampak liat berotot dan dipenuhi tattoo dalam keadaan nyaris telanjang. Baru kali itu ia melihat tubuh Pak Nur hampir seutuhnya tanpa mengenakan pakaian. Fisiknya yang tua tidak tampak sebagai kelemahan, bahkan sebaliknya menyiratkan kewibawaan dan karisma yang tinggi. Diam-diam matanya tak lepas mengawasi Pak Nur yang sedang berada di tengah-tengah warganya.

Tarian Magis Mentawai

Tarian Magis Mentawai

Tari-tarian dimulai dengan semakin kerasnya suara tetabuhan. Semakin malam acara semakin terasa kental hawa magisnya. Sebagian warga lainnya sibuk dengan acara memanggang babi.

Para warga desa larut dengan hiburan dan acara ritual malam itu. Pak Nurfea lalu mendatangi Reisa dan mengajaknya untuk turun di dalam keramaian dan kegembiraan masyarakat. Sambil menarik tangan Reisa ke dalam arena tari-tarian, mereka membaur dengan sorak-sorai warga desa.

Puncak pesta malam itu adalah makan-makan. Para warga berebut makan babi panggang. Reisa tentu saja tak ikut serta, namun Pak Nur memberinya makanan lain.

Malam semakin larut dan acara pun berakhir. Reisa disarankan Pak Nur pulang ke rumah. Reisa menurut dan pulang sendiri ke rumah Pak Nur yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari pusat acara. Ia langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa letih karena ikut menari. Baru kali ini ia merasakan eksotisnya menari bersama warga pedalaman di tengah hutan belantara. Ia begitu larut dalam acara tersebut dan seperti merasakan kebebasan dari segala macam beban.

Di dalam rumah, ia tak melihat penghuni lain. Beberapa saat kemudian saat Reisa sudah terbaring di dipan di dalam kamarnya, ia mendengar suara Pak Nur masuk ke rumah. Ia bersama seorang perempuan. Tampaknya perempuan itu adalah salah seorang gadis yang tadi siang ikut menyiapkan acara. Reisa mulai bisa mengenali suaranya karena mereka sempat ngobrol cukup lama.

Reisa merasa heran kenapa gadis itu juga masuk ke kamar sebelah bersama Pak Nur. Terdengar suara mereka yang saling tertawa dan berbisik-bisik. Reisa jadi tak bisa tidur dan mau tak mau ikut mendengarkan suara-suara dari kamar sebelah karena suasana malam yang sudah sunyi. Beberapa saat kemudian, Resa mulai bisa mendengarkan dengusan dua orang yang akan melakukan hubungan badan. Suara-suara itu memancingnya untuk mengetahui lebih lanjut apa yang dilakukan Pak Nur dan wanita itu di kamar sebelah.

Melalui celah papan di dinding kamarnya, dengan dada yang berdebar Reisa mengintip yang dilakukan Pak Nur. Untunglah kamar Pak Nur diterangi lilin sehingga walaupun temaram, Reisa dapat melihat jelas apa yang terjadi. Tampak tubuh Pak Nur yang meski tak muda lagi itu, sudah telanjang bulat, begitu juga dengan wanita itu. Mereka sama-sama bugil. Reisa semakin yakin bahwa gadis yang di kamar Pak Nur saat itu adalah wanita yang siang tadi bersamanya dan bahkan mengobrol akrab dengannya.

Dengan berdebar-debar, Reisa mengintip kelakuan dua orang berlainan jenis itu di kamar. Disaksikannya kedua tubuh telanjang itu akhirnya melakukan hubungan badan. Reisa sempat tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Apa mungkin Pak Nur yang ia nilai amat setia dengan bu Nur sampai melakukan hubungan seks dengan perempuan lain? Apa yang dilihatnya saat itu bukanlah mimpi? Sempat Reisa mencubit pipinya meyakinkan dirinya tentang apa yang dilihatnya saat itu. Ia tidak mimpi! Dengan jelas Reisa menyaksikan hubungan kelamin kedua orang di kamar sebelahnya.

Reisa bisa melihat dengan jelas saat Pak Nurfea memegang kemaluannya yang cukup perkasa itu akan memasuki liang kelamin wanita yang kini berada di bawahnya. Dada Reisa semakin tak kuat menyaksikan semua itu. Ia menjauh dan merebahkan dirinya di dipan kayu.

Reisa tak mampu memejamkan matanya, apalagi suara-suara persebadanan dua orang berbeda jenis dan usia itu amat mengganggu naluri kewanitaannya. Reisa jadi ingat saat-saat ia melakukan hubungan badan dengan Jonas dulu yang kini sudah tak bisa ia dapatkan lagi. Ia ingin merasakan kembali saat-saat indah bersama Jonas dulu. Ia rindu akan siraman untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Khayalan Reisa terhenti karena mendengar suara dengus dan jeritan orgasme si wanita yang berbarengan dengan suara Pak Nurfea. Reisa merasa menggigil jika membayangkan hal itu terjadi lagi pada dirinya. Dada Reisa terasa ikut berdebar-debar dan nafasnya ikut terengah-engah karena hasratnya yang ikut terangkat. Dari suara wanita itu, ia dapat tahu bahwa si wanita telah orgasme dan disusul oleh Pak Nur. Kemudian suara diam dan hanya deru nafas kedua manusia di kamar sebelah.

Suasana diam malam itu hanya sebentar, tak lama kemudian Reisa mendengar kembali kegiatan kedua manusia itu. Reisa merasa heran kenapa Pak Nur masih saja kuat untuk melakukan hubungan seks kembali. Bukankah barusan ia sudah klimaks. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Namun ia tak mendapatkan jawaban yang cukup karena suara-suara di kamar sebelahnya kembali menganggu pikirannya.

Kembali terdengar suara derit dipan kayu dan dengus keduanya. Kini tak hanya dengus namun suara pertemuan kedua paha yang besentuhan semakin jelas. Reisa tak terlalu sulit menelaah apa yang terjadi di sebelah kamarnya saat itu, sebab ia juga pernah melakukan itu dulu bersama Jonas. Reisa cuma semakin heran dengan suara-suara nafas Pak Nur yang semakin kuat dan goyangan dipan yang seakan mau patah. Betapa besarnya nafsu seks Pak Nur! Reisa tak sampai hati membayangkan apa yang terjadi pada gadis itu. Ia tahu persis bagaimana sosok gadis yang sedang disenggamai Pak Nur. Gadis itu terbilang masih muda dan jauh sekali jarak usianya dan Pak Nur.

Pak Nurfea Sabaggalet dengan Kostum Adatnya

Pak Nurfea Sabaggalet dengan Kostum Adatnya

Reisa tak habis pikir kenapa orang tua gadis itu mengizinkan anaknya bersebadan dengan Pak Nur yang memang sudah tua dan berpengalaman. Apakah karena Pak Nur adalah seorang yang dituakan dan terpandang di tengah masyarakatnya sehingga bersetubuh dengan Pak Nur bisa dianggap sebagai sebuah kehormatan? Apakah ini tradisi biasa di sini?

Sayup-sayup terdengar suara si gadis yang merengek minta ampun dan berhenti agar Pak Nur tak lagi menggagahinya. Tampaknya Pak Nur tak mempedulikannya. Suara deritan dipan dan lenguhan nafas Pak Nur terus terdengar. Semakin lama suara wanita itu semakin melemah dan nyaris tak terdengar lagi. Yang kini terdengar hanya suara Pak Nur yang masih terus berpacu dengan deritan dipan. Apakah gadis itu tak sadarkan diri?

Suara deritan dipan tak kunjung berhenti, seolah digerakkan secara teratur oleh mesin. Reisa mulai tak sabar menunggu suara itu berakhir. Beberapa saat kemudian, suara nafas berat Pak Nur terdengar semakin mengeras. Akhirnya terdengar geraman suara Pak Nur. Tampaknya ia sedang mencapai puncaknya. Selanjutnya sepi, tak ada bunyi apa pun yang terdengar lagi. Reisa berusaha mengintip kembali.

Ia dapat melihat dengan jelas si wanita telah tergolek mengangkang sedangkan Pak Nur yang berada di atasnya berusaha menarik kemaluannya dari liang wanita itu. Reisa juga menyaksikan benda milik Pak Nur masih saja tegak walaupun sudah klimaks di dalam liang rahim wanita itu. Lalu Pak Nur merebahkan tubuhnya di samping wanita itu. Reisa kembali ke dipannya dan merebahkan diri. Di tengah kepenatan dan berbagai pikiran yang berkecamuk, Reisa akhirnya tertidur.

***

Suara kokok ayam dan dinginnya udara pagi membangunkan Reisa dari tidurnya. Pagi itu Reisa bangun dan membuka jendela kamarnya. Tampak di luar rumah Pak Nur sedang melihat-lihat babi peliharaannya. Sambil memberi aba-aba dengan tangannya, Pak Nur memanggil Reisa agar ikut bersamanya. Reisa merapikan dipannya dan mengambil sabun juga sikat gigi berikut odol. Reisa tak menemukan orang lain di rumah itu namun ia turun juga dari rumah dan menuju Pak Nur.

Reisa menanyakan kamar mandi untuknya membersihkan badan. Pak Nur bilang di situ hanya ada sebuah tempat mandi di sungai. Sambil menunjukkan arahnya, Pak Nur menemani Reisa. Ternyata sungai itu terletak tepat di belakang rumah Pak Nur. Tampak air sungai amat jernih dan bening. Reisa lalu menggosok giginya dengan sikat gigi yang ia bawa. Sungai itu biasa digunakan masyarakat setempat untuk mencuci dan mandi. Tempat mandinya ditutupi oleh dinding bambu.

Setelah membersihkan mulut dan cuci muka, Reisa berlalu bersama Pak Nur ke rumah. Reisa agak terkejut karena di lantai telah tersedia makanan. Tampak wanita yang malam tadi bersebadan dengan Pak Nur sedang menyiapkan makanan. Wajahnya cukup manis dengan badan yang sedikit lebih pendek dari Reisa. Usianya paling tidak 5 tahun lebih muda dari Reisa. Jalannya pagi itu tampak sedikit pincang. Reisa maklum karena tahu ia telah dikerjai Pak Nur dengan hebatnya semalam. Rupanya di rumah itu hanya ada mereka bertiga.

Setelah semuanya tersaji, gadis itu, yang belakangan diketahui Reisa bernama Yuli, mempersilakan mereka makan. Reisa hanya makan nasi yang berlaukkan ikan, sebab di antara sajian itu ia yakin ada daging babinya. Pak Nur makan dengan lahap, berbeda dengan Reisa yang makan untuk menganjal perutnya saja. Selesai makan, gadis tadi dipanggil Pak Nur untuk membereskan makanan yang tersaji.

Reisa beranjak ke tempat lain di rumah panggung itu. Sedang Pak Nur masih memandang keluar rumah melalui jendela. Pak Nur bertanya kepada Reisa tentang suasana alam desanya. Reisa menjawab bahwa ia amat senang tinggal di desa itu.

Sampai menjelang siang tak banyak kegiatan yang bisa mereka lakukan. Sinyal HP tidak ada di desa Pak Nur itu. Pak Nur lalu mengajak Reisa untuk berjalan untuk melihat-lihat ladang yang dimiliki keluarga Pak Nur. Reisa setuju saja sebab mereka sudah harus kembali ke tempatnya keesokan harinya.

Siang itu, Reisa dan Pak Nur menyusuri hutan menuju ladang milik Pak Nur. Tak jauh memang dari kampung itu. Masih di tengah hutan yang masih penuh oleh pohon-pohon yang lebat. Ladang Pak Nur amat luas dan ditumbuhi aneka macam tanaman seperti kacang-kacangan, lada, juga sayuran. Pak Nur mengatakan bahwa tak lama lagi ia akan panen. Reisa semakin salut dan simpatik karena Pak Nur dapat memanfaatkan lahan yang ia miliki untuk menambah pendapatannya. Jadi selama ini jika tak ada kesibukan Pak Nur selalu ke desanya untuk melihat-lihat ladangnya.

Setelah capai berjalan-jalan, Pak Nur mengajak Reisa singgah di sebuah gubuk yang biasa digunakan untuk beristirahat atau terkadang untuk bermalam jika menjaga ladang di malam hari. Di dalam gubuknya, Pak Nur juga menyediakan sebuah dipan dari rotan. Reisa suka sekali dengan suasana di tengah ladang itu. Suasananya yang tenang dan alami membuat nyaman pikirannya. Reisa menghenyakkan pantatnya di dipan itu.

Pak Nur sendiri mencari kelapa muda yang memang sudah mulai banyak di ladang itu. Ia membawa dua buah kelapa muda sebagai pelepas dahaga mereka. Dengan golok yang dibawa Pak Nur, kelapa itu ia kupas dan keluarkan airnya. Satunya di berikan pada Reisa sedangkan yang satunya lagi ia minum sendiri.

Hawa angin sejuk yang membelai kulitnya membuat Reisa merasa ngantuk. Di samping karena tadi malam ia terlambat tidur akibatgangguan dari sebelah kamarnya. Pak Nur lalu menyuruh Reisa untuk istirahat. Pak Nur sendiri pergi ke ladang lagi untuk mengatapel burung untuk makan malam.

Reisa lalu rebahan di dipan kayu itu sementara Pak Nur keluar pondok untuk mulai mencari burung. Di tengah tidurnya Reisa tak sadar bahwa cuaca mulai mendung dan akan turun hujan. Tanpa disadarinya, gerimis mulai turun dan hujan turun semakin deras.

Reisa terbangun karena ada suara hujan dan hawa dingin yang menerpa tubuhnya. Ia tak menemukan Pak Nur padahal jam di arlojinya menunjukkan jam 5 sore. Mereka harus segera kembali ke rumah Pak Nur.

Tak lama kemudian Pak Nur muncul dengan basah kuyup sambil membawa beberapa ekor burung hasil buruannya. Pria itu masuk pondok dan melepaskan bajunya yang basah. Bajunya ia jemur di tali yang berada di serambi pondok. Ia masuk ke pondok. Didapatinya Reisa sudah bangun dan duduk di tepi dipan. Dengan masih bertelanjang dada Pak Nur bertanya pada Reisa.

“Dik Reisa… Apa kita pulang sekarang saja atau tunggu hujan berhenti?”

“Nanti saja Pak, biar hujannya reda dulu,” jawab dokter muda itu.

Akhirnya Pak Nur kembali keluar pondok. Sambil menunggu hujan reda, ia membersihkan burung hasil tangkapannya dengan pisau dan dicucinya dengan air hujan.

Burung-burung hasil tangkapannya telah dibersihkan dan siap untuk dimasaknya. Setelah dibersihkan burung burung itu diikatnya dan digantung di atap pondok rumbia itu. Reisa asik memperhatikan Pak Nur yang dengan cekatan membersihkan hewan tangkapannya itu. Lalu Pak Nur masuk ke pondok, karena hujan kembali datang dengan disertai angin kencang. Reisa telah lebih dahulu masuk dan duduk di atas dipan. Pak Nur lalu duduk di samping Reisa. Ia menggerutu karena hujan belum juga reda padahal ia ingin sekali membakar burung itu.

Hawa dingin dan hujan membuat kedua tubuh anak manusia itu semakin didera rasa dingin yang amat sangat. Pak Nur yang tidak memakai baju karena bajunya basah berusaha merapatkan tubuhnya ke tubuh Reisa. Dengan sedikit penolakan dari Reisa Pak Nur tak merapatkan diri lagi. Ia hanya menyilangkan kedua tangannya di dadanya karena dingin.

Pak Nur akhirnya berdiri menutupkan kain lusuh yang menutupi jendela sebab air hujan masuk juga melalui jendela itu. Setelah menutup jendela, Pak Nur kembali ke samping Reisa. Sambil berkata pada Reisa bagaimana jika mereka pulang saja sebab hujan seperti tak akan berhenti dalam waktu dekat dan mereka bisa terjebak semalaman di dalam pondok. Reisa masih diam memandang ke arah Pak Nur. Ia meminta agar menunggu beberapa waktu lagi.

Waktu sekarang telah menunjukkan pukul 6 sore. Hutan semakin gelap dan hujan tetap tak reda sedikitpun. Pondok seolah mau roboh oleh angin kencang. Akhirnya Pak Nur dan Reisa sepakat untuk berusaha pulang dengan menerobos derasnya hujan. Dengan memegang tangan Reisa, Pak Nur lalu keluar pondok.

Tubuh keduanya semakin basah kuyup oleh siraman hujan di hutan itu. Ternyata hujan malah semakin deras. Petir menyambar sebuah pohon di dekat mereka dan mengagetkan keduanya. Rasa dingin dan cemas akan kondisi cuaca yang buruk membuat keduanya semakin merapat dan tak memperdulikan dengan siapa mereka bersama. Reisa tak lagi malu merapatkan tubuhnya pada tubuh Pak Nur, begitu juga sebaliknya. Pak Nur dapat dengan nyata merasakan sentuhan tubuh Reisa dan tonjolan kedua payudaranya. Dalam suasana seperti itu kembali mereka melanjutkan perjalanan sambil berangkulan takut terjatuh karena jalanan setapak yang licin.

Perjalanan menuju rumah Pak Nur masih jauh. Di tengah jalan mereka menemukan sebuah tempat yang terlindung dari hujan di antara kaki bukit dalam hutan itu. Karena perjalanan masih jauh sementara mereka sudah basah kuyup dan capai, keduanya sepakat untuk berteduh sejenak. Meskipun tak terlalu luas namun cukup untuk mereka berdua berteduh dari hujan yang semakin deras.

Mereka masuk ke dalam celah batuan yang menyerupai goa itu untuk berteduh. Pak Nur meletakkan tas yang berisi hewan buruannya tadi. Lalu tanpa merasa sungkan sedikitpun, ia melepaskan baju dan celananya yang basah kuyup oleh hujan sehingga kini ia telanjang bulat. Reisa spontan merasa malu melihat keadaan Pak Nur. Ia hanya melengoskan wajahnya ke arah lain.

Pak Nur berkata pada Reisa agar mengeringkan bajunya agar tak sakit nantinya. Reisa merasa malu untuk melepas busananya, apalagi saat itu ada pria asing. Pak Nur mengingatkan Reisa untuk tak perlu malu padanya sebab kesehatan lebih penting. Saat itu seluruh bajunya sudah basah semua. Reisa sempat merasa malu karena dialah yang dokter dan seharusnya lebih memperhatikan masalah kesehatan.

Seakan mengerti, Pak Nur lalu berusaha mencari tempat lain agar Reisa tak merasa dilihat olehnya. Reisa masih merasa tak enak hati jika harus bugil di depan Pak Nur.

Setelah merasa aman dari pandangan Pak Nur, secara perlahan Reisa melepaskan kerudungnya, lalu busana atasnya, juga kaos dalam yang selalu ia pakai. Kini tinggal BH putihnya yang tersisa pada bagian atas tubuhnya. Terlihat belahan dadanya yang putih dan mulus itu basah oleh hujan. Reisa lalu menjemur kerudung dan bajunya dengan meletakkannya di atas batu yang masih kering dalam goa itu.

Pak Nur tanpa sepengetahuan Reisa sebenarnya masih memperhatikan tubuh Reisa dari jauh. Ia amat menikmati menonton Reisa melepaskan pakaiannya satu per satu dan melihat putih dan halusnya kulit tubuh Reisa yang sepanjang hari ini tertutup rapat. Tubuh putih itu lalu melepas celana panjangnya dan tinggal tersisa celana dalamnya. Celana panjangnya ia jemur dekat baju atasannya. Kini Reisa hanya memakai celana dalam dan bra. Dengan kedua tangannya ia tutupi benda kenyal miliknya itu dengan rapat karena ia masih merasa malu kepada Pak Nur.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Pak Nur mendekatinya. Reisa terlihat kaget dan makin merapatkan silangan di dadanya.

Pak Nur mencoba ngobrol dengan Reisa dalam usahanya memberikan Reisa rasa tenang dan nyaman.

Reisa masih diam saja. Kondisi tubuhnya tak memungkinkan ia bergerak banyak sebab akan membuat bagian-bagain vital dari tubuhnya terlihat. Pak Nur mengajak Reisa berbincang-bincang mengenai hubungan Reisa dan Jonas. Reisa menjawab kalau ia sudah lama tak kontak lagi dengan Jonas yang mungkin sudah melupakannya. Emosi Reisa terpancing oleh kata-kata Pak Nur.

Tanpa ia sadari Pak Nur semakin mendekat ke tubuhnya yang tidak mengenakan baju. Dibantu oleh situasi saat itu, kedua tubuh anak manusia itu akhirnya saling bersentuhan dan merapat, seolah berbagi kehangatan yang tersisa di tubuh mereka. Di samping itu Pak Nur sengaja bercakap pelan-pelan di tengah hujan yang sangat lebat itu sehingga mau tak mau mereka berdua harus saling berdekatan ketika berbicara.

Reisa semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Pak Nur. Secara biologis ia memang merindukan kedekatan secara fisik dengan seorang laki-laki. Pak Nur tak melewatkan kesempatan itu, dia tahu apa yang harus ia perbuat pada perempuan bertubuh sintal dan mulus itu.

Pak Nur merebahkan kepala Reisa di bahunya untuk membuatnya merasa nyaman. Reisa pun mengikuti saja bimbingan tangan Pak Nur. Ia lalu rebah di bahu Pak Nur dan memicingkan matanya yang ia rasakan semakin didera rasa ngantuk. Sentuhan kulit dengan kulit antara keduanya memberikan rasa hangat dan tenang.

Tangan Pak Nur meraih jemari Reisa dan meremasnya ingin memberikan kehangatan genggaman pada Reisa. Reisa rela saja menerimanya. Ia pun menyambut genggaman jari tangan kasar milik Pak Nur.

Pak Nur merasa sangat senang begitu tahu Reisa tak menolak genggaman tangannya. Ia lalu menghembuskan hawa nafasnya yang hangat ke balik telinga Reisa. Rasa hangat dan geli dirasakan Reisa. Ia semakin menggenggam erat tangan Pak Nur. Kini Reisa pasrah di pelukan laki-laki seusia ayahnya. Tubuh Pak Nur merasakan dengan nyata detak jantung Reisa yang semakin kencang, apalagi mereka tak dibatasi oleh pakaian apa pun. Kini kulit kedua manusia berlainan jenis dan usia yang jauh itu semakin menempel erat. Rasa hangat yang terasa di antara mereka mulai mampu memercikkan gairah dan birahi yang semakin nyata.

Pak Nur semakin berani melakukan rangsangan seksual secara langsung ke tubuh Reisa. Tanpa malu Pak Nur mulai menciumi pipi dan balik telinga Reisa. Reisa tak menolak perlakuan Pak Nur kepadanya. Reisa hanya membutuhkan kehangatan seorang lelaki yang terasa nyata di sekujur tubuhnya dari tubuh Pak Nur.

Perlahan Pak Nur mengendurkan genggamannya dan jarinya mulai merayap ke arah payudara Reisa yang saat itu hanya tertutup BH. Tangan Pak Nur berusaha melepaskan silangan tangan Reisa. Untungnya tak ada penolakan yang berarti dari Reisa. Kini jari-jemari Pak Nur dengan bebasnya meraba dan meremasi kedua bukit kembar Reisa yang masih tertutup BH. Seakan memiliki mata, jari pak Nur melepaskan cup penutup puting BH yang dikenakan Reisa. BH itu kini terbuka namun masih berada di dada yang putih mulus itu. Jari-jari Pak Nur tak henti-hentinya melilin dan meremas kedua bukit salju yang indah menawan itu.

Perbuatan Pak Nur itu membuat Reisa semakin terpuruk ke jurang birahi yang tak sanggup diungkap dengan kata-kata. Kesempatan itu tak disia-siakan Pak Nur dengan menurunkan wajahnya untuk mengemut dan menjilat kedua bukit kembar yang empuk dan montok itu. Reisa tak mampu melihat perbuatan Pak Nur saat itu. Pikiran sehatnya tak bekerja dengan baik dan malah cenderung menuntunnya untuk menerima dan membalas rabaan dan jilatan Pak Nur tersebut.

Puas di wilayah dada Reisa, perlahan tapi pasti tangan Pak Nur terus turun ke arah selangkangan Reisa yang masih mengenakan celana dalam. Sambil memeluk tubuh Reisa, tangan Pak Nur yang satu lagi langsung masuk ke arah titik intim di tubuh gadis itu. Jari-jari kasar pria setengah baya itu masuk di celah lepitan kelamin Reisa. Jari-jari itu terus masuk di celah itu hingga menemukan daging kecil yang terletak diantara celah kelamin Reisa. Reisa seolah kembali menemukan kenikmatan yang sudah tak ia dapatkan sejak Jonas pergi. Dokter muda itu hanya mampu menerima perlakuan Pak Nur pada tubuhnya dengan memejamkan matanya. Tubuhnya kini sudah di tuntun sepenuhnya oleh Pak Nur. Tak memakan waktu lama bagi Reisa untuk mendapatkan orgasme melalui tangan Pak Nur. Diraihnya kepala Pak Nur yang saat itu sedang berada di belahan dadanya.

Setelah merasakan orgasme yang datang, Pak Nur berupaya melepas celana dalam Reisa. Setelah semuanya terlepas dari pemiliknya tubuh Reisa sudah tak tertutup selembar benang pun. Pak Nur sangat takjub melihat tubuh mulus dan menggairahkan itu yang kini terpampang nyata di depannya. Tubuh dokter muda itu kini tak berdaya dan pasrah menerima yang akan dilakukan si pria setengah baya.

Pak Nur lalu menurunkan wajahnya ke celah yang masih basah oleh cairan orgasme Reisa. Mulutnya melata mencari liang yang selama ini amat ia inginkan. Kembali kesadaran Reisa pulih saat lidah kesat itu perlahan masuk di celah kemaluannya. Rasa geli dan sengatan birahi membuatnya semakin tak mampu menahan laju gairah Pak Nur. Kedua kakinya ia rapatkan agar kepala Pak Nur menjauh dari celah intimnya itu. Namun semuanya percuma. Ketika ia merasakan adanya gejolak dari dalam tubuhnya, tubuhnya seakan merestui perbuatan Pak Nur itu.

Bahasa tubuh Reisa mampu mengalahkan pemberontakan akal sehatnya yang mulai pulih ketika itu. Tak lama memang Reisa merasakan kembali meledakkan cairan di pusat kewanitaanya itu. Liang kemaluannya mengeluarkan cairan pertanda ia sudah mendapatkan orgasme untuk kedua kalinya.

Pak Nur masih sibuk menjilati liang yang kini basah oleh cairan cinta Reisa. Dengan lahap dan tanpa jijik, ia telan lendir yang keluar dari celah kelamin Reisa. Reisa kembali merasakan tubuhnya lemah total dan tak mampu bergerak.

Saat itu hujan sudah berhenti. Pak Nur melepaskan tubuh Reisa dari dempetannya lalu mengambil pakaian Reisa dan menyerahkan pada dokter itu. Ia menyuruh Reisa untuk cepat berbenah agar secepatnya bisa sampai di rumah.

Dengan muka sedikit merah karena malu, Reisa mengenakan kembali pakaiannya. Ia tak mampu memandang kepada Pak Nur karena kini ia sudah merasakan kenikmatan dari laki-laki paruh baya itu. Meskipun mereka belum melakukan hubungan kelamin tapi Reisa sadar kalau ini hanyalah awal. Pada dasarnya tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan dari Pak Nur setelah mereka menjalani saat-saat intim tadi.

Selama perjalanan mereka diam membisu. Tak lama mereka sudah sampai di rumah panggung Pak Nur. Reisa disarankan Pak Nur untuk mandi membersihkan tubuhnya dari perbuatan mereka di goa tadi.

Reisa berjalan ke arah kamar mandi yang terbuat dari bambu itu. Setelah selesai ia menaiki rumah dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Pak Nur sendiri membersihkan burung yang ia buru di ladangnya tadi dan memasaknya.

Malam itu mereka berdua saja makan di lantai. Yuli yang juga ada di rumah itu makan sendiri di belakang. Dengan demikian Pak Nur bisa bebas ngobrol dengan Reisa sampai ke hal-hal yang bersifat pribadi. Setelah mereka selesai, barulah Yuli datang untuk membereskan.

Cahaya lampu di dinding semakin menambah kesan romantis malam itu. Reisa tak melihat Yuli lagi, entah ke mana perginya gadis itu. Pak Nur mendekat ke arah duduk Reisa. Sambil meraih jemari Reisa, ia menarik tangan wanita itu ke bibirnya dan diciumnya.

Reisa awalnya berusaha menolak cumbuan itu, namun Pak Nur terus berkeras. Di samping itu, Reisa sadar kalau ia tak bisa berpura-pura lagi di hadapan Pak Nur. Laki-laki tua itu sudah membuatnya orgasme sore tadi. Mereka sudah tahu sama tahu kalau mereka saling membutuhkan secara ragawi. Pak Nur menarik tubuh Reisa ke pelukannya. Reisa tak bisa menahan tarikan itu hingga tubuhnya kembali rebah di dalam pelukan Pak Nur.

Dengan gencar Pak Nur mengulum bibir tipis milik Reisa. Reisa seakan tak mampu bernafas. Ciuman Pak Nur membuatnya semakin tak mampu lepas dari belitan tangan Pak Nur. Reisa hanya menurut dan membalas ciuman orang yang cukup ia segani dan menjadi tempat berlindungnya itu. Belitan lidah Pak Nur mampu membakar birahi Reisa. Apalagi tangan Pak Nur ikut juga meraba dada Reisa yang masih terbungkus pakaian tidur. Jari-jari itu kembali menggerayangi bukit kembar milik Reisa. Wanita itu menerima semuanya tanpa penolakan sedikitpun karena telah sekian lama ia gersang tak merasakan kenikmatan hubungan biologis lagi.

Pak Nur menghentikan tindakannya itu. Pakaian Reisa sempat acak-acakan. Sambil bangun dari duduk, Pak Nur menarik tubuh Reisa agar berdiri mengikutinya. Kemudian Reisa digiringnya masuk ke kamarnya. Reisa sadar ia akan diperlakukan Pak Nur seperti gadis yang kemarin ia intip.

Sampai di dalam kamar, Pak Nur melepaskan genggaman pada Reisa yang masih berdiri mematung memandangnya. Pak Nur menutup pintu kamar. Reisa lalu diajak ke tepian ranjang kayu milik Pak Nur. Ranjang itu hanya beralaskan tikar pandan namun terasa amat hangat. Saat berhadap-hadapan dengan Pak Nur, Reisa tak mampu memandangnya.

Bak seorang pengantin baru, Pak Nur menciumi bibir Reisa beberapa saat. Reisa hanya menerima dengan pasrah. Kemudian Pak Nur melepaskan satu per satu kancing piyama Reisa hingga lepas dan tinggal BH saja. Kemudian BH itu ia lepaskan dan kini dada mulus milik Reisa terpampang di muka Pak Nur. Dada Reisa masih kencang dan montok, di lehernya teruntai kalung emas yang amat serasi dengan kulit pemiliknya yang putih.

Seperti seorang bayi dewasa, Pak Nur kembali menetek pada dada Reisa yang kini semakin mengeras oleh gerakan mulut Pak Nur. Reisa semakin tenggelam oleh samudera birahinya sendiri. Kedua tangan Pak Nur menahan bahu Reisa agar ia dapat memilin dan memberi cupangan di dada mulus itu. Pria itu lalu merebahkan tubuh Reisa di dipannya.

Ia lalu celana dalam itu dari tubuh pemiliknya. Sama sekali tak sulit karena Reisa tak menolak, bahkan sangat bekerja sama. Tampaknya ia juga ingin melakukan hubungan seks bersama laki-laki tua itu. Kini tubuh dokter itu sudah polos seperti bayi dewasa yang butuh belaian dari laki-laki dewasa.

Pak Nur pun tak mau kalah. Melihat tubuh yang selama ini menjadi khayalannya itu berada di depannya dan siap untuk disetubuhinya, ia lantas juga melepas semua pakaiannya hingga tak tersisa. Dengan bangga Pak Nur ingin agar Reisa merasakan benda miliknya yang sudah banyak makan korban itu. Dibimbingnya tangan Reisa untuk mengusap dan membelai batang kelaminnya yang tegak seperti sebatang kayu. Reisa melakukannya sambil tersipu.

Memang Pak Nur bukanlah orang sembarangan. Dari luar orang hanya tahu ia adalah laki-laki tua yang bertugas di pulau itu dan memiliki seorang istri. Namun semua itu adalah karena kepintarannya menutupi yang sebenarnya. Pak Nur yang saat itu sudah berusia sekitar 50 tahun sudah banyak mengambil korban wanita. Sejak berusia 18 tahun ia telah mencoba berbagai macam wanita untuk ditidurinya. Tak peduli apakah itu anak gadis orang, juga istri orang yang bertugas di pulau itu, juga ada guru yang kini sudah pindah, kadang turis bule yang sering datang ke pulau itu pun ia nikmati. Menaklukkan Reisa bukanlah pekerjaan yang besar baginya.

Bu Nur sendiri sudah tahu betul dan mafhum dengan kelakuan suaminya itu. Memang saat ia dinikahi sekitar 25 tahun yang lalu, Pak Nur sudah terkenal dengan reputasinya sebagai penakluk wanita. Apalagi Pak Nur memang keturunan ketua adat yang secara tradisional memang dianggap memiliki hak lebih dalam hal wanita. Bu Nur sama sekali tak keberatan selama dia tetap sebagai satu-satunya istri Pak Nurfea yang dianggap sah oleh gereja. Wanita yang lainnya tak lebih daripada sekedar gundik Pak Nur, seperti halnya Reisa sekarang ini.

Berbekal pengalamannya selama ini, Pak Nur mulai membakar birahi Reisa. Dokter cantik itu hanya merem merasakan birahinya yang membara disulut Pak Nur. Sekujur tubuh Reisa kini sedang dijilat bibir kasar laki-laki itu, tanpa melewatkan sedikitpun bagian-bagian yang tersembunyi di tubuh dokter itu. Reisa merasakan dirinya semakin terbang di awang-awang, berbeda saat ia mengalaminya bersama Jonas dulu.

Pak Nur lalu membuka kedua paha Reisa yang terlihat mulai basah oleh keringatnya. Butir-butir peluh di paha itu membuat Pak Nur semakin yakin Reisa sudah bisa disetubuhi. Pak Nur kembali menjilat payudara Reisa dan sesekali mengigit putingnya. Kemudian lidahnya turun ke arah lepitan liang kelamin dokter itu. Lidah Pak Nur dengan lancar masuk liang sempit itu meski sudah tak perawan lagi namun Pak Nur masih merasakan jepitannya masih mampu membuat lidahnya tak bebas didalamnya. Reisa semakin terbang di awang-awang merasakan tubuhnya semakin tak kuasa menahan birahinya.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang akan keluar dari liang kemaluannya. Memang kini ia sudah orgasme, cairan kewanitaanya dihisap Pak Nur dengan lahap. Reisa semakin tak berdaya, tubuhnya lemah merasakan orgasme itu. Selesai melahap semua cairan yang keluar dari liang Reisa, Pak Nur memposisikan diri di antara kedua paha jenjang itu. Tak sulit memang, apalagi saat itu Reisa sudah telentang meresapi kenikmatan yang baru ia rasakan.

Pak Nur sadar ia harus kembali memancing gairah Reisa jika ingin menyenggamainya. Perlahan Pak Nur meraba dan memilin kedua payudara yang sudah licin karena keringat sang pemiliknya. Tak lupa Pak Nur mengulum lidah Reisa dan membelitnya. Reisa yang semula hanya pasif merasakan tubuhnya kembali ingin mengikuti kelakuan Pak Nur. Lidah Reisa kini pun membelit lidah Pak Nur. Kedua tubuh bugil itu kini sudah bercampur dan tak dibatasi apapun. Keringat keduanya semakin larut di kulit masing-masing.

Reisa kembali terbakar birahi dan siap melakukan apa yang diingini Pak Nur. Reisa tak lagi merasakan kuatir terhadap apa yang kemarin ia intip. Pak Nur membuka kedua paha Reisa dan membukanya. Kedua paha Reisa dilipatkan keatas agar gampang ia masuki. Kini tubuh pak Pak Nur sudah sejajar lalu berupaya masuk. Reisa tak mampu melihat usaha Pak Nur yang mulai memasuki dirinya itu. Kepala kemaluan Pak Nur perlahan masuk bertahap. Mungkin karena amat besar dan panjang namun Reisa merasakan sedikit geli dan gatal bercampur ngilu. Pak Nur memberi sensasi tersendiri pada Reisa.

Pertemuan alat kelamin mereka mampu membuat Reisa dapat menerima Pak Nur. Pak Nur ingin merasakan kehangatan yang di berikan lipatan kemaluan Reisa. Perlahan meretas jalan hingga semua batang kokohnya amblas. Reisa masih menutupkan matanya. Pak Nur tak menarik kemaluannya dari liang yang masih ia rasakan sempit itu. Kini ia dapat merasakan detak jantung Reisa dan juga nafas berat Reisa dari dekat apalagi mereka telah menyatu. Pak Nur memandang wajah cantik Reisa dari dekat dan dalam hati amat mengaguminya. Ia tak menduga akan dapat merasakan tubuh dokter itu. Nafas berat Reisa membuat Pak Nur semakin dalam merasakan bahwa Reisa sudah bisa menerima dirinya seutuhnya.

Bahu, dada, dan leher Reisa yang jenjang sudah basah oleh keringatnya sendiri. Pak Nur menarik pinggulnya perlahan lalu maju menusuk ke celah sempit itu. Reisa merasa ngilu di kemaluannya semakin hilang. Ia malah merasakan amat nyaman berada di dekapan Pak Nur. Kemudian Pak Nur secara berulang memajumundurkan kemaluannya kedalam vagina wanita itu.

Masih menutupkan matanya, Reisa menggigit bibir bawahnya merasakan nikmat hubungan saat itu. Hujaman Pak Nur amat berbeda dengan yang ia rasakan bersama Jonas dulu. Kedewasaan dan pengalaman Pak Nur yang mampu mengontrol emosi membuat Reisa nyaman menikmati persebadanan itu. Kedua tangan Reisa meraih lengan Pak Nur yang kini semakin intens bergerak memberinya kenikmatan. Juga kedua payudaranya bergerak naik turun. Payudara montok Reisa terlihat sangat indah saat itu apalagi saat basah oleh keringatnya. Reisa merasakan kembali orgasme dan mencengkram lengan Pak Nur dengan keras.

Pak Nur tahu Reisa telah mencapai kenikmatan, namun ia masih belum apa-apa. Pria itu memang amat pintar mengatur tempo persenggamaan. Sampai saat itu Pak Nur masih belum klimaks, padahal Reisa sudah tak kuat lagi merasakan hujaman di dalam rahimnya. Kedua pahanya ia rasakan amat pegal karena terbuka, juga pinggulnya seakan patah.

Reisa sempat memohon kepada Pak Nur agar menyudahi dulu persenggamaan itu, namun Pak Nur bukanlah orang yang gampang disuruh berhenti jika sudah melakukan sesuatu. Reisa semakin lemah dan tak kuat menerima sodokan di kemaluannya. Benar yang ia lihat malam itu, si wanita memohon agar berhenti dan terlihat sempat pingsan. Reisa tak ingin ia mengalami hal yang sama dengan wanita yang ia saksikan bersebadan dengan Pak Nurfea saat itu. Ia akan berusaha sekuat tenaga melayani Pak Nur dan mengimbangi kekuatannya.

Reisa mengakui Pak Nur memang kuat meskipun sudah tua. Ia masih kalah tenaga dengan laki-laki itu, Jonas saja tak mampu seperti itu. Namun rasa orgasme memutus pikirannya saat itu. Reisa orgasme untuk kesekian kalinya. Ia pun meraih lengan Pak Nur dan menarik lehernya ke atas agar dapat menciumi bibir tebal laki-laki itu. Pak Nur tahu Reisa kembali orgasme dan ia sendiri merasakan akan merasakan hal yang sama.

Dengan tak terlalu cepat Pak Nur menghujamkan kemaluannya sedalam mungkin ke liang rahim Reisa dan melepaskan spermanya di dalamnya. Pak Nur baru bisa klimaks setelah hampir beberapa menit menggauli Reisa. Reisa merasakan ada rasa hangat di celah kemaluannya. Pak Nur masih berada di atas tubuh Reisa tanpa melepaskan kemaluannya. Alat kelaminnya bergejolak-gejolak di dalam kemaluan Reisa memompakan semua cairan spermanya sampai habis masuk ke dalam rahim Reisa yang subur.

Kedua tangannya membelai wajah dan dada Reisa. Ia merasakan amat puas bersebadan dengan Reisa. Reisa hanya memandang wajah Pak Nur dari bawah dengan pandangkan sendu seolah kehabisan tenaga. Memang tenaganya terkuras habis saat bersebadan dengan laki-laki tua itu. Seiring waktu kemaluan Pak Nur kembali ke sosok semula dan terlepas dari jepitan liang Reisa. Saat itu barulah Pak Nur merebahkan tubuhnya di samping Reisa.

Kedua tubuh telanjang itu akhirnya tertidur dengan saling berpelukan. Jika ada yang melihat merasa janggal sebab laki-laki yang memeluk wanita itu memang sudah tua dan tak pantas bersama wanita muda yang dokter itu. Sebaliknya bagi Pak Nur, yang terjadi di kamar itu adalah pemandangan yang sangat biasa. Di dipannya itu sudah sering ia mengeksekusi wanita yang ia inginkan untuk memenuhi hasrat seksnya. Semua wanita yang diinginkan Pak Nur dari warganya, baik itu masih gadis maupun sudah jadi istri orang, sudah pernah disebadani Pak Nur di atas dipan itu. Bahkan tak jarang Pak Nur membawa orang luar seperti wisatawan bule, dan tak terkecuali Reisa, untuk disebadaninya di situ.

***

Paginya Pak Nur bangun lebih dahulu dan mencari-cari Yuli. Karena tak ketemu, dimintanya orang untuk menyuruh Yuli datang ke rumahnya begitu ia muncul. Pak Nur lalu kembali ke kamarnya dan melepas seluruh pakaiannya untuk kembali menemani dan mendekap Reisa yang masih tidur nyenyak karena kecapaian dalam keadaan bugil.

Beberapa puluh menit kemudian, Reisa terbangun dan menggeliat. Didapatinya Pak Nur sedang mendekapnya dari belakang. Reisa pun tersenyum manis pada Pak Nur sedangkan Pak Nur lalu mengecup bibir Reisa dengan lembut. Keduanya pun berdekapan dengan mesra dalam keadaan bugil. Reisa bisa merasakan alat kelamin Pak Nur perlahan tumbuh dan mengusap-usap kedua pahanya dan pantatnya dari belakang.

Kemesraan mereka tiba-tiba terpotong oleh ketukan di dinding kamar Pak Nur. Pintu kamar Pak Nur hanya ditutupi oleh tirai.

“Masuk…” seru Pak Nur.

Orang di luar tadi menyibak tirai pintu kamar dan tampaklah Yuli berdiri di depan pintu. Reisa sebetulnya agak gelagapan tapi dilihatnya baik Pak Nur maupun Yuli bersikap sangat wajar. Padahal saat itu ia berdua bersama Pak Nur sedang bugil dan berdekapan dengan mesra.

“Selamat pagi, Pak Nur, tadi Bapak mencari saya?” tanya gadis yang kemarin disetubuhi Pak Nur itu.

“Selamat pagi, Mbak Reisa,” kata Yuli lagi sambil tersenyum ke arah Reisa yang dilihatnya sedang bersama Pak Nur.

Reisa jadi tahu bahwa kelakuan Pak Nur itu sudah dianggap normal oleh warga kampungnya. Karena itu ia pun lalu berusaha bersikap wajar. Dibalasnya sapaan ramah dan senyuman tulus Yuli kepadanya.

“Yuli, tolong kau masakkan makanan buat sarapan kami, ya,” kata Pak Nur memerintah. “Pergilah ke dapur, di situ masih ada banyak yang bisa dimasak.”

“Baik, Pak,” kata Yuli patuh sambil sedikit membungkuk hormat.

“Kau bukalah tirai kamarku dan buka semua jendela dan pintu supaya sinar matahari bisa masuk,” perintah Pak Nur lagi.

“Ya, Pak,” kata Yuli lagi.

Reisa pun menggeliat sekali lagi dan sudah bersiap untuk bangkit. Perintah terakhir Pak Nur pada Yuli dianggapnya sebagai suatu tanda untuk bangkit dan membersihkan badan.

Rupanya Reisa salah. Walaupun sekarang semua pintu dan jendela sudah terbuka lebar, rupanya Pak Nur masih menaruh minat pada dirinya. Ditahannya Reisa yang hendak bangkit. Dicumbunya kembali gadis cantik itu. Reisa hanya terkikik sejenak karena geli tapi kemudian ia pun mulai bangkit gairahnya dan membalas cumbuan Pak Nur. Memang rumah itu agak terpencil dari masyarakat sekitar sehingga praktis hanya ada mereka bertiga di sekitar situ. Yuli pun telah pergi ke dapur untuk memasak.

Maka sambil menunggu Yuli memasak, keduanya lalu melanjutkan lagi persetubuhan mereka. Suara babi, burung, aliran air dari sungai di belakang rumah, serta suara Yuli yang sedang memasak menemani hubungan intim mereka. Sama seperti kejadian semalam, kali ini pun Pak Nur menyenggamai Reisa cukup lama sampai Reisa kewalahan. Setelah Reisa beberapa kali orgasme barulah Pak Nur merasa puas. Reisa merasa senggama bersama Pak Nur bagaikan olah raga yang cukup berat, terutama karena ia harus mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dalam waktu yang lama.

Setelah selesai menunaikan hajatnya, Pak Nur pergi dulu keluar untuk buang air kecil. Yuli kemudian muncul di pintu kamar memberi tahu Reisa kalau sarapan sudah siap. Reisa yang masih terbaring di atas dipan bermandikan peluh dan cairan cinta mereka berdua tersenyum dan mencoba bangkit. Ketika berdiri, Reisa sedikit limbung karena selangkangannya terasa agak nyeri sehabis dikerjai Pak Nur. Yuli segera membantu Reisa untuk berdiri.

“Masih nyeri ya, Mbak,” tanya Yuli penuh pengertian. “Duduk saja dulu.”

Reisa hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia lalu dibantu Yuli untuk duduk di tepi dipan.

“Mbak Reisa kuat sekali,” kata Yuli lagi. “Aku kalau sudah melayani Pak Nur semalaman, paginya pasti istirahat sepanjang hari.”

Reisa hanya tersenyum mendengar komentar Yuli.

“Sarapannya nanti saja, Yul. Tunggu Pak Nur dulu,” kata Reisa.

Yuli hanya menganggukkan kepalanya.

“Duduklah di sini bersamaku,” kata Reisa lagi.

Yuli pun ikut duduk di samping Reisa. Karena merasa senasib, yaitu sama-sama melayani nafsu seks Pak Nur, keduanya semakin bertambah akrab. Sambil menunggu Pak Nur kembali, kedua wanita itu ngobrol secara terbuka. Masing-masing memberi tahu kapan dan di mana mereka ketemu Pak Nur pertama kali, sudah berapa kali mereka disetubuhi Pak Nur, dan bagaimana kesannya disetubuhi orang tua itu.

Reisa jadi tahu kalau Yuli memang bekerja menjaga dan membersihkan rumah Pak Nur. Kedua orang tuanya dulu berhutang budi pada Pak Nur sehingga hubungan mereka sudah sangat akrab. Ternyata Yuli pun sudah memiliki tunangan seorang pemuda dari kampung itu juga. Mereka akan menikah dalam waktu dekat ini. Mungkin Pak Nur sendirilah yang nanti bertindak sebagai ketua adat yang akan menikahkan mereka.

Ketika Reisa menanyakan apakah Yuli akan tetap bekerja di rumah Pak Nur dan melayani nafsu seksnya setelah menikah nanti, dengan mantap Yuli mengiyakannya. Reisa hanya manggut-manggut mengetahui budaya sosial di pedalaman itu. Memang salah satu hal yang disukai Reisa dalam melakukan tugas di pedalaman ini adalah mengetahui berbagai budaya baru yang tak pernah diketahuinya sebelumnya.

Tak lama kemudian Pak Nur kembali dan langsung mengajak Reisa sarapan. Yuli kembali membantu Reisa untuk bangkit. Diambilnya gaun tidur Reisa dari dinding kamar dan dibantunya Reisa mengenakan kembali gaun itu untuk menutupi tubuhnya yang bugil. Lalu dengan telaten Yuli membimbing Reisa keluar kamar untuk bergabung dengan Pak Nur. Melihat Reisa dibantu Yuli untuk berjalan, Pak Nur pun bertanya.

“Kamu tak apa-apa, Reisa?”

“Nggak apa-apa kok, Pak,” jawab Reisa tersenyum. “Cuma sedikit nyeri aja selangkanganku. Tadi kan dibuka terus…. Nanti juga insya Allah baik lagi kok.”

Reisa yang Kembali Ceria Sejak Disetubuhi Pak Nur

Reisa yang Kembali Ceria Sejak Disetubuhi Pak Nur

“Syukurlah, mudah-mudahan kamu cepat terbiasa,” timpal Pak Nur. “Soalnya aku masih kepingin. Nanti kita main lagi ya sebelum kita balik ke pulau?”

Reisa hanya tersipu mendengar permintaan orang tua itu. Disenggolnya bahu Pak Nur dengan bahunya sendiri. Ia merasa tersanjung karena Pak Nur menaruh hasrat yang begitu besar terhadap dirinya.

“Jangan khawatir, Pak Nur,” balas Reisa dengan manja.

Pak Nur pun nyengir mempertontonkan giginya yang ompong mendengar kesanggupan gadis cantik itu.

Mereka pun sarapan sambil duduk rapat saling berdekatan. Setelah selesai, barulah Reisa pergi mandi. Siangnya, sebelum berangkat kembali ke pulau, sesuai permintaan Pak Nur, mereka masih menyempatkan berhubungan badan kembali.

Begitu selesai menyirami rahim Reisa dengan air maninya untuk yang kesekian kalinya, mereka langsung berkemas-kemas. Karena seluruh badan Reisa serasa pegal dan kecapaian setelah dikerjai Pak Nur berulang kali, Yuli membantu Reisa mengemasi barang-barangnya dan membersihkan diri. Dengan telaten Yuli membersihkan air mani Pak Nur yang mengalir keluar dari kelamin Reisa dengan handuk hangat. Setelah itu, dibantunya Reisa berpakaian.

Hari itu Reisa memilih mengenakan kerudung putih yang dipadu dengan baju kurung khas Melayu yang berwarna cerah. Secerah hatinya saat itu. Walaupun capai, Reisa merasakan memuncaknya kembali gairah hidupnya yang sempat turun sejak ditinggal Jonas. Begitu selesai membantu Reisa mengenakan kerudungnya, spontan Yuli memuji penampilan Reisa yang tampak anggun. Pak Nur yang mengamati pun ikut memuji. Dipeluknya dokter muda itu sambil dicium mesra. Reisa pun membalasnya dengan senang. Sambil terus saling berangkulan layaknya pengantin baru, mereka pun pamit pada Yuli dan meninggalkan rumah panggung itu.

***

Sejak disetubuhi Pak Nur di kampungnya, otomatis Reisa semakin akrab dengan Pak Nur. Selama perjalanan pulang, Reisa pun semakin terbuka ngobrol tentang segala hal dengan Pak Nur. Kebetulan nelayan yang mendayung perahu mereka tak begitu lancar berbahasa Indonesia. Kalaupun mengerti, ia pun adalah warga desa Pak Nur, jadi Reisa tak merasa khawatir berbicara tentang hal-hal yang sangat pribadi sifatnya.

Pak Nur menceritakan tentang kehidupan seksnya yang bebas sejak usia mudanya dulu, tentang hubungannya dengan Bu Nur, dan juga tentang masa depan hubungan mereka berdua yang baru saja dirajut.

Reisa semula cemas bila hubungan mereka diketahui Bu Nur. Pak Nur pun menenangkan Reisa dengan mengatakan bahwa Bu Nur sudah terbiasa dengan gaya hidupnya itu.

“Jangan khawatir, Reisa. Istriku itu sudah sejak puluhan tahun yang lalu melihatku berhubungan dengan berbagai wanita lain.”

“O ya?” tanya Reisa seolah tak percaya.

“Tanyakanlah sendiri padanya kalau kau pulang nanti,” timpal Pak Nur mantap sambil tersenyum.

“Justru dia senang kalau ada wanita lain yang bisa kujadikan tempat melampiaskan nafsuku. Soalnya dia itu semakin tua, sudah tidak kuat lagi mengimbangi kekuatanku,” sambung Pak Nur datar.

Reisa mau tak mau tergelak mendengar perkataan terakhir Pak Nur itu.

“Eh, benarlah… Aku tak berbohong,” tanggap Pak Nur dengan mimik serius.

“Buat istriku itu yang penting aku tidak punya istri lagi,” terang Pak Nur lebih lanjut. Reisa pun manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Nur. Disandarkannya kepalanya di bahu lelaki tua itu.

“Iyalah, Pak Nur… Jangan khawatir, aku tak akan minta dinikahi oleh Pak Nur kok,” tanggap Reisa. “Lagian kan aku sudah nikah di bawah tangan dengan Jonas.”

“Tapi kalau dikawin mau kan…?”

Reisa mencubit perut Pak Nur dengan gemas sambil tersenyum. Pak Nur pun tertawa nakal sambil mempererat pelukannya.

***

Saat Bu Nur menyuruh Reisa untuk pergi ke pedalaman bersama suaminya, ia memang sudah mengira kalau Reisa akan dikerjai Pak Nur di sana dan dijadikan sebagai salah seorang gundiknya. Bahkan sejak pertama bertemu Reisa, ia tahu cepat lambat hal itu akan terjadi juga. Gadis cantik seperti Reisa biasanya akan mendapat giliran merasakan kejantanan suaminya itu.

Tadinya Bu Nur memang berharap kalau Reisa dan Jonas bisa langgeng menjadi pasangan suami istri. Itulah yang terbaik menurutnya. Karena Jonas rasanya sudah tak mungkin kembali dan Reisa tampak cukup terpukul, Bu Nur pun merelakan Reisa dijadikan gundik oleh suaminya. Paling tidak dalam pandangannya itu lebih baik daripada Reisa balik kembali kepada tunangannya, Dino. Bu Nur tak menyukai Dino sedangkan ia menghendaki Reisa tetap mengabdikan dirinya di pulau. Kalau Reisa menjadi gundik suaminya, paling tidak masih ada ikatan yang membuat Reisa tetap tinggal di Mentawai.

Ia tahu kalau suaminya membawa Reisa sendirian ke kampungnya, besar kemungkinan suaminya akan bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menyetubuhi Reisa. Itulah sebabnya ketika kesempatan itu datang, Bu Nur sengaja mencari-cari alasan untuk tak ikut serta supaya suaminya leluasa mengerjai Reisa.

Karena itu, ia pun biasa saja ketika diberitahu suaminya tentang apa yang terjadi di kampungnya. Sejak peristiwa di kampung Pak Nur, lelaki tua itu semakin mudah menikmati kehangatan tubuh dokter cantik itu di manapun dan kapanpun ia mau. Kini Reisa dan Pak Nur sudah seperti suami istri yang bebas melakukan hubungan seks meski diketahui oleh Bu Nur.

Transformasi yang Dialami Reisa Karena Pak Nurfea

Transformasi yang Dialami Reisa Karena Pak Nurfea

Reisa pun kini bila bermalam di rumah keluarga Pak Nur tak lagi sekedar bercengkerama dengan Bu Nur atau bermain-main dengan anak mereka tapi lebih dari itu, kini ia juga memiliki kesibukan baru yang tak kalah asyiknya, yaitu melayani Pak Nur. Bu Nur cuma sering mengingatkan suaminya sebelum ia dan Reisa masuk ke kamar mereka untuk tidak mengerjai Reisa semalam suntuk karena keesokan harinya dokter muda itu harus kembali bertugas.

Selain melakukan hubungan intim di rumah keluarga Pak Nur dan di rumah Reisa, kadang Pak Nur sengaja mendatangi Reisa di ruang prakteknya. Tentu saja di sana mereka tak bisa bersenggama terlalu lama karena mereka harus melakukannya di sela-sela antrian pasien Reisa. Tak jarang pula Pak Nur membawa Reisa ke berbagai tempat yang sepi seperti ke hutan, ke sungai di pedalaman, atau ke pantai yang sepi, khusus untuk disetubuhi.

TAMAT