Category Archives: seks alam gaib

Seorang wanita berhubungan seks dengan seorang lelaki di bawah pengaruh gaib

Dukun Durjana

Copyright 2007, by Pak Lah dan Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com)

(Pemaksaan, Istri Selingkuh, Keroyokan, Cerita Tradisional Malaysia)

Namaku Salmiah. Aku seorang guru berusia 28 tahun. Di kampungku di daerah Terengganu, aku lebih dikenal dengan panggilan Bu Miah. Aku ingin menceritakan satu pengalaman hitam yang terjadi pada diriku sejak enam bulan yang lalu dan terus berlanjut hingga kini. Ini semua terjadi karena kesalahanku sendiri. Kisahnya begini, kira-kira enam bulan yang lalu aku mendengar cerita kalau suamiku ada hubungan gelap dengan seorang guru di sekolahnya.

Suamiku juga seorang guru di sekolah menengah di kampungku. Dia lulusan perguruan tinggi lokal sedangkan aku cuma seorang guru pembantu. Tanpa mencek lebih lanjut kebenarannya, aku langsung mempercayai cerita tersebut. Yang terbayangkan saat itu cuma nasib dua anakku yang masih kecil. Secara fisik, sebetulnya aku masih menawan karena kedua anakku menyusu botol. Cuma biasalah yang namanya lelaki, walau secantik apapun isterinya, tetap akan terpikat dengan orang lain, pikirku.

Diam-diam aku pergi ke rumah seorang dukun yang pernah kudengar ceritanya dari rekan-rekanku di sekolah. Aku pergi tanpa pengetahuan siapa pun, walau teman karibku sekalipun. Pak Itam adalah seorang dukun yang tinggal di kampung seberang, jadi tentulah orang-orang kampungku tidak akan tahu rahasia aku berjumpa dengannya. Di situlah berawalnya titik hitam dalam hidupku hingga hari ini.

Pak Itam orangnya kurus dan pendek. Tingginya mungkin tak jauh dari 150 cm. Kalau berdiri, ia hanya sedadaku. Usianya kutaksir sekitar 40-an, menjelang setengah abad. Ia mempunyai janggut putih yang cukup panjang. Gigi dan bibirnya menghitam karena suka merokok.

Aku masih ingat saat itu Pak Itam mengatakan bahwa suamiku telah terkena guna-guna orang. Ia lalu membuat suatu ramuan yang katanya air penawar untuk mengelakkan diriku dari terkena santet wanita tersebut dan menyuruhku meminumnya. Setelah kira-kira lima menit meminum air penawar tersebut kepalaku menjadi ringan. Perasaan gairah yang tidak dapat dibendung melanda diriku secara tiba-tiba.

Pak Itam kemudian menyuruhku berbaring telentang di atas tikar ijuk di ruang tamu rumahnya. Setelah itu ia mulai membacakan sesuatu yang tidak kupahami dan menghembus berulang kali ke seluruh badanku. Saat itu aku masih lengkap berpakaian baju kurung untuk mengajar ke sekolah pada petangnya.

Setelah itu aku merasa agak mengkhayal. Antara terlena dan terjaga aku merasakan tangan Pak Itam bermain-main di kancing baju kurungku. Aku tidak berdaya berbuat apa-apa melainkan merasakan gairah yang amat sangat dan amat memerlukan belaian lelaki. Kedua buah dadaku terasa amat tegang di bawah braku. Putingku terasa menonjol. Celah kemaluanku terasa hangat dan mulai becek.

Aku dapat merasakan Pak Itam mengangkat kepalaku ke atas bantal sambil membetulkan tudungku. Selanjutnya ia menanggalkan pakaianku satu-persatu. Setelah aku berbaring tanpa sehelai pakaian pun kecuali tudungku, Pak itam mulai menjilat bagian dadaku dahulu dan selanjutnya mengulum puting tetekku dengan rakus. Ketika itu aku terasa amat berat untuk membuka mata.

Setelah aku mendapat sedikit tenaga kembali, aku merasa sangat bergairah. Kemaluanku sudah mulai banjir. Aku berhasil menggerakkan tanganku dan terus menggapai kepala Pak Itam yang sedang berada di celah selangkanganku. Aku menekan-nekan kepala Pak Itam dengan agak kuat supaya jilatannya lidahnya masuk lebih dalam lagi. Aku mengerang sambil membuka mataku yang lama terpejam.

Alangkah terkejutnya aku saat aku membuka mataku terlihat dalam samar-samar ada dua sosok lain sedang duduk bersila menghadapku dan memandangku dengan mata yang tidak berkedip.

“Bu Miah,” tegur seorang lelaki yang masih belum kukenali, yang duduk di sebelah kanan badanku yang telanjang bulat. Setelah kuamat-amati barulah aku bisa mengenalinya.

“Leman,” jeritku dalam hati. Leman adalah anak Pak Semail tukang kebun sekolahku yang baru saja habis ujian akhirnya. Aku agak kalang kabut dan malu. Aku coba meronta untuk melepaskan diri dari genggaman Pak Itam.

Menyadari bahwa aku telah sadarkan diri, Pak Itam mengangkat kepalanya dari celah selangkanganku dan bersuara.

“Tak apa Bu, mereka berdua ini anak murid saya,” ujarnya sambil jarinya bermain kembali menggosok-gosok kemaluanku yang basah kuyup.

Sebelah lagi tangannya digunakan untuk mendorong kembali kepalaku ke bantal. Aku seperti orang yang sudah kena sihir terus berbaring kembali dan melebarkan kangkanganku tanpa disuruh. Aku memejamkan mata kembali. Pak Itam mengangkat kedua kakiku dan diletakkannya ke atas bahunya. Saat dia menegakkan bahunya, pantatku juga ikut terangkat.

Pak Itam mulai menjilat kembali bibir vaginaku dengan rakus dan terus dijilat hingga ke ruang antara vagina dan
duburku. Saat lidahnya yang basah itu tiba di bibir duburku, terasa sesuatu yang menggelikan bergetar-getar di situ. Aku merasa kegelian serta nikmat yang amat sangat.

“Leman, Kau pergi ambil minyak putih di ujung tempat tidur. Kau Ramli, ambil kemenyan dan bekasnya sekalian di ujung itu,” perintah Pak Itam kepada kedua anak muridnya.

Aku tersentak dan terus membuka mata.

“Bu ini rawatan pertama, duduk ya,” perintah Pak Itam kepadaku.

Aku seperti kerbau dicocok hidung langsung mengikuti perintah Pak Itam. Aku duduk sambil sebelah tangan menutup buah dadaku yang tegang dan sebelah lagi menggapai pakaianku yang berserakan untuk menutup bagian kemaluanku yang terbuka.

Setelah menggapai baju kurungku, kututupi bagian pinggang ke bawah dan kemudian membetulkan tudungku untuk menutupi buah dadaku.

Setelah barang-barang yang diminta tersedia di hadapan Pak Itam, beliau menerangkan rawatannya. Kedua muridnya malu-malu mencuri pandang ke arah dadaku yang kucoba tutupi dengan tudung tetapi tetap jelas kelihatan kedua payudaraku yang besar dan bulat di bawah tudung tersebut.

“Ini saya beritahu Ibu bahwa ada sihir yang sudah mengenai bagian-bagian tertentu di badan Ibu. Pantat Ibu sudah terkena penutup nafsu dan perlu dibuang.”

Aku cuma mengangguk.

“Sekarang Ibu silakan tengkurep.”

Aku memandang tepat ke arah Pak itam dan kemudian pandanganku beralih kepada Leman dan Ramli.

“Nggak apa-apa, Bu… mereka ini sedang belajar, haruslah mereka lihat,” balas Pak Itam seakan-akan mengerti perasaanku.

Aku pun lalu tengkurep di atas tikar ijuk itu. Pak Itam menarik kain baju kurungku yang dirasa mengganggunya lalu dilempar ke samping. Perlahan-lahan dia mengurut pantatku yang pejal putih berisi dengan minyak yang tadi diambilkan Leman. Aku merasa berkhayal kembali, pantatku terasa tegang menahan kenikmatan lumuran minyak Pak Itam. Kemudian kurasakan tangan Pak Itam menarik bagian pinggangku ke atas seakan-akan menyuruh aku menungging dalam keadaan tengkurep tersebut. Aku memandang ke arah Pak itam yang duduk di sebelah kiri pantatku.

“Ya, angkat pantatnya,” jelasnya seakan memahami keraguanku.

Aku menurut kemauannya. Sekarang aku berada dalam posisi tengkurep, muka dan dada di atas tikar sambil pantatku terangkat ke atas. Pak Itam mendorong kedua kakiku agar berjauhan dan mulai melumurkan minyak ke celah-celah bagian rekahan pantatku yang terbuka.

Tanpa dapat dikontrol, satu erangan kenikmatan terluncur dari mulutku. Pak Itam menambahkan lagi minyak di tangannya dan mulai bermain di bibir duburku. Aku meremas bantal karena kenikmatan. Sambil melakukan itu, jarinya berusaha mencolok lubang duburku.

“Jangan tegang, biarkan saja,” terdengar suara Pak Itam yang agak serak.

Aku coba merilekskan otot duburku dan menakjubkan… jari Pak Itam yang licin berminyak dengan mudah masuk sehingga ke pangkal. Setelah berhasil memasukkan jarinya, Pak Itam mulai menggerakkan jarinya keluar masuk lubang duburku.

Aku coba membuka mataku yang kuyu karena kenikmatan untuk melihat Leman dan Ramli yang sedang membetulkan sesuatu di dalam celana mereka. Aku jadi merasakan semacam kenikmatan pula melihat mereka sedang memperhatikan aku diterapi Pak Itam. Perasaan malu terhadap kedua muridku berubah menjadi gairah tersembunyi yang seolah melompat keluar setelah lama terkekang!

Setelah perjalanan jari Pak Itam lancar keluar masuk duburku dan duburku mulai beradaptasi, dia mulai berdiri di belakangku sambil jarinya masih terbenam mantap dalam duburku. Aku memandang Pak Itam yang sekarang menyingkap kain sarungnya ke atas dengan satu tangannya yang masih bebas. Terhunuslah kemaluannya yang panjang dan bengkok ke atas itu. Tampak sudah sekeras batang kayu!

“Bbbbuat apa ini, Pak….” tanyaku dengan gugup.

“Jangan risau… ini buat buang sihir,” katanya sambil melumur minyak ke batang kemaluannya yang cukup besar bagi seorang yang kurus dan pendek. Selesai berkata-kata, Pak Itam menarik jarinya keluar dan sebagai gantinya langsung menusukkan batangnya ke lubang duburku.

“ARRrgggghhggh…” spontan aku terjerit kengiluan sambil mengangkat kepala dan dadaku ke atas. Kaki bawahku pun refleks terangkat ke atas.

“Jangan tegang, lemaskan sedikit!” perintah Pak Itam sambil merenggangkan daging pantatku. Aku berusaha menuruti perintahnya. Setelah aku melemaskan sedikit ototku, hampir separuh batang Pak Itam terbenam ke dalam duburku.

Aku melihat Leman dan Ramli sedang meremas sesuatu di dalam celana masing-masing. Setelah berhasil memasukkan setengah zakarnya Pak itam menariknya keluar kembali dan lalu memasukkannya kembali sehingga semua zakarnya masuk ke dalam rongga duburku. Dia berhenti di situ.

“Sekarang Ibu merangkak mengelilingi bara kemenyan ini tiga kali,” perintahnya sambil zakarnya masih terbenam mantap dalam duburku.

Aku sekarang seakan-akan binatang yang berjalan merangkak sambil zakar Pak Itam masih tertanam dengan mantapnya di dalam duburku. Pak Itam bergerak mengikutiku sambil memegangi pinggangku.

“Pelan-pelan saja, Bu,” perintahnya sambil menahan pinggangku supaya tidak bergerak terlalu cepat. Rupanya ia takut penisnya terlepas keluar dari lubang duburku saat aku bergerak. Aku pun mematuhinya dengan bergerak secara perlahan.

Kulihat kedua murid Pak Itam sekarang telah mengeluarkan zakar masing-masing sambil bermasturbasi dengan melihat tingkahku. Aku merasa sangat malu tetapi di lain pihak terlalu nikmat rasanya. Zakar Pak Itam terasa berdenyut-denyut di dalam duburku. Aku terbayang wajah suamiku seakan-akan sedang memperhatikan tingkah lakuku yang sama seperti binatang itu.

Sementara aku merangkak sesekali Pak Itam menyuruhku berhenti sejenak lalu menarik senjatanya keluar dan lalu menusukku kembali dengan ganas sambil mengucapkan mantera-mantera. Setiap kali menerima tusukan Pak Itam setiap kali itu pula aku mengerang kenikmatan. Lalu Pak Itam pun akan menyuruhku untuk kembali merangkak maju. Demikian berulang-ulang ritual yang kami lakukan sehingga tiga keliling pun terasa cukup lama.

Setelah selesai tiga keliling, Pak Itam menyuruhku berhenti dan mulai menyetubuhiku di dubur dengan cepat. Sebelah tangannya memegang pinggangku kuat-kuat dan sebelah lagi menarik tudungku ke belakang seperti peserta rodeo. Aku menurut gerakan Pak Itam sambil menggoyang-goyangkan pantatku ke atas dan ke bawah.

Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang panas mengalir di dalam rongga duburku. Banyak sekali kurasakan cairan tersebut. Aku memainkan kelentitku dengan jariku sendiri sambil Pak Itam merapatkan badannya memelukku dari belakang. Tiba-tiba sisi kiri pinggangku pun terasa panas dan basah. Leman rupanya baru saja orgasme dan air maninya muncrat membasahi tubuhku.

Lalu giliran Ramli mendekatiku dan merapatkan zakarnya yang berwarna gelap ke sisi buah dadaku. Tak lama kemudian air maninya muncrat membasahi ujung putingku. Aku terus mengemut-ngemut zakar Pak Itam yang masih tertanam di dalam duburku dan bekerja keras untuk mencapai klimaks.

“Arghhhhhhhrgh…” Aku pun akhirnya klimaks sambil tengkurep di atas tikar ijuk.

“Ya, bagus, Bu…” kata Pak Itam yang mengetahui kalau aku mengalami orgasme. “Dengan begitu nanti guna-gunanya akan cepat hilang.”

Pak Itam lalu mencabut zakarnya dan melumurkan semua cairan yang melekat di zakarnya ke atas pantatku sampai batangnya cukup kering.

“Jangan basuh ini sampai waktu magrib ya,” katanya mengingatkanku sambil membetulkan kain sarungnya.

Aku masih lagi tengkurep dengan tudung kepalaku sudah tertarik hingga ke leher. Aku merasakan bibir duburku sudah longgar dan berusaha mengemut untuk menetralkannya kembali. Setelah itu aku bangun dan memunguti pakaianku yang berserakan satu per satu.

Selesai mengenakan pakaian dan bersiap untuk pulang setelah dipermalukan sedemikian rupa, Pak Itam berpesan.

“Besok pagi datang lagi ya, bawa sedikit beras bakar.”

Aku seperti orang bodoh hanya mengangguk dan memungut tas sekolahku lalu terus menuruni tangga rumah Pak itam.

Sejak itu sampai hari ini, dua kali seminggu aku rutin mengunjungi Pak Itam untuk menjalani terapi yang bermacam-macam. Leman dan Ramli yang sedang belajar pada Pak Itam sedikit demi sedikit juga mulai ditugaskan Pak Itam untuk ikut menterapiku. Walaupun tidak tahu pasti, aku merasa bahwa suamiku perlahan-lahan mulai meninggalkan affairnya. Yang pasti, kini sulit rasanya bagiku untuk menyudahi terapiku bersama Pak Itam dan murid-muridnya. Sepertinya aku sudah kecanduan untuk menikmati terapi seperti itu.

TAMAT

Kisah Di Sebuah Pulau

Copyright 2002, by Ayeng Waldesi <awaldesi@yahoo.com>

(Pemaksaan, Istri Selingkuh)

Sebagai seorang pimpinan cabang di suatu bank daerah, Yeni mendapat tugas di sebuah daerah yang baru menjadi kabupaten di propinsi Sumatera Barat. Jika dipikir, sebetulnya Yeni tidak suka dipindah ke pulau itu, namun tugasnya sebagai pegawai negeri tidak bisa ditolak. Bagaimanapun Yeni tidak ingin karir yang sudah dirintisnya selama beberapa tahun harus habis.

Untuk itu ia harus berkorban dan rela meninggalkan suaminya yang bekerja di ibukota propinsi. Bagaimanapun mereka adalah pasangan suami istri yang masih menjalani masa pengantin baru.

Untuk menempuh kabupaten tersebut harus melalui laut dan naik boat yang setiap minggu hanya ada 1 kali pelayaran. Saat Yeni menempati kantor barunya, Beni ikut serta mengantar ke pulau itu. Bagaimanapun ia khawatir akan istrinya yang memang cantik itu. Apalagi kalau ia ingat saat menaiki boat, hampir semua mata anak buah boat itu memandang lain kepada Yeni. Namun Beni tidak mengambil peduli. Ia amat mendukung karir istrinya itu.

Sesampainya di pulau, Yeni langsung menuju ke rumah dinasnya di sana. Di pulau itu kehidupan masyarakatnya memang tergolong masih terbelakang. Selama satu minggu Beni berada di pulau itu mendampingi istrinya yang mulai bekerja di kantor bank pemerintah daerah. Selama satu minggu itu pula Beni selalu menyirami Yeni dengan kemesraan yang biasa mereka lakukan sebagai suami istri. Beni menyadari Yeni tidak bisa terlalu sering datang ke kota propinsi. Jika ia rindu, Beni saja yang datang ke pulau itu untuk memberikan jatah seksnya kepada Yeni.

Karena Beni mendapatkan tugas belajar ke luar negeri dari kantornya, maka saat itu komunikasi Yeni dan Beni agak terhenti dan membuat Yeni tidak dapat menerima belaian dan kemesraan dari Beni. Hanya hubungan telepon yang mereka lakukan.

Pernah satu saat Yeni dengan teman-teman sesama karyawan di bank ia bekerja pulang ke kota propinsi dan menumpang kapal yang biasa mereka tumpangi, diganggu oleh anak buah kapal yang memang dari pertama kali Yeni datang selalu memperhatikan tindak-tanduk Yeni. Namanya Salube. Salube adalah penduduk asli di pulau itu. Salube selalu merperhatikan saat Yeni bersama Beni dan saat itu bersama 2 orang temannya yang seluruhnya perempuan yang akan pulang ke kota.

Di antara mereka bertiga hanya Yeni yang amat mengundang minat para lelaki di atas kapal itu, sedang yang lainnya sudah pada berumur dan tidak begitu menggoda. Kalau dilihat sosok Yeni, memang cantik. Selain itu ia memiliki tubuh yang semampai. Yeni berumur 27 tahun  kulit putih dan dada yang seimbang dengan bentuk tubuhnya. Bibirnya juga mengundang pria untuk mengulumnya. Yeni memiliki leher yang jenjang dan di tengkuknya ditutupi oleh rambut halus sehingga menonjol sekali kecantikannya ditambah sepasang kaki yang panjang bak belalang.

Sedang Salube, sebagai anak kapal amat bertolak belakang dengan Yeni. Selain kulitnya hitam dan badannya pendek, mukanya juga amat menakutkan jika terus dipandang. Belum lagi jika berpapasan baunya amat menyengat hidung.

Selama perjalanan pulang Yeni tidak mengubris godaan dari Salube. Yeni serasa mau muntah jika dekat Salube, namun Salube tetap menggodanya. Untunglah jarak dengan kota telah dekat.

Saat Yeni akan berangkat kembali ke pulau itu untuk bekerja, mau tidak mau Yeni harus menumpang kapal itu lagi. Selama perjalanan Yeni amat khawatir terhadap Salube. Sebagai seorang wanita, ia tidak mungkin membentak Salube, namun Salube kembali mencoba menggoda Yeni dengan kata-kata rayuan supaya Yeni mau berteman dengannya. Yeni selalu membuang muka. Ingin rasanya ia mengadukan perbuatan Salube itu kepada nakhoda kapal itu, namun tidak mungkin. Bagaimanapun Yeni bekerja di daerah yang notabene tempat kelahiran Salube. Akhirnya Yeni menerangkan kepada Salube.

“Saya mohon jangan diganggu, soalnya saya memiliki suami dan saya ke sini untuk kerja. Harap anda maklum,” Yeni menerangkan.

Sedang Salube hanya tersenyum, dan berkata, “Kak, jangan sombong.. di pulau ini… segalanya bisa terjadi.. Saya tau suami kakak.. tidak ada, namun tolong terima saya sebagai kawan dan anggap saya sahabat kakak…..” Salube menerangkan.

Dengan marah Yeni meludah dan berkata “Apa kata kamu… Kamu kira kamu bisa apa.. Kamu jangan ancam saya seperti itu… Kamu bisa repot… Bapak suamiku orang berpengaruh di kota. Kamu bisa ditangkap tau!” kata Yeni ketus.

Lalu Salube berkata, “Baiklah kita liat saja dalam beberapa waktu nanti Kakak pasti bertekuk lutut ke saya minta belas kasian…”

Yeni hanya diam memperhatikan Salube berlalu dan membiarkan ancamannya. Setelah kejadian itu, seperti biasa Yeni bekerja dan melakukan aktifitasnya di kantornya. Jarak rumah dan kantornya tidak terlalu jauh hanya 5 menit jika jalan kaki. Sesampai di luar kantornya, Yeni berpapasan dengan Salube, yang saat itu hanya berjalan seorang diri.

Yeni hanya memalingkan muka tidak ingin bertatapan mata dengan Salube, padahal saat itu Salube baru saja datang dari tempat gurunya untuk minta ramuan pemikat sukma. Bagaimanapun ia amat sakit hati dilecehkan Yeni. Dengan mantra dari gurunya Salube mencoba memanggil nama Yeni…

“Yeni, kamu mau kemana?”

Ajaib, Yeni yang sebelumnya amat membenci Salube dan jijik kepadanya tiba-tiba berhenti lalu berpaling menatap Salube…. Sambil memandang wajah laki-laki itu, dijawabnya pertanyaan Salube.

“Saya mau pulang ke rumah, Be.” katanya.

“Boleh saya antar kamu sampai ke rumah?” Dalam hatinya, Salube merasa girang. Mantra dari gurunya tampaknya akan berhasil.

Yeni menatap mata Salube selama beberapa saat. Lalu ia pun tersenyum manis.

“Silakan…. jika tidak keberatan.” Segala kebencian Yeni saat itu sirna dan rasa simpatinya muncul. Yeni tidak menyadari bahwa sukmanya telah dipermainkan oleh Salube.

Sesampainya di rumah dinasnya, Yeni mempersilakan Salube masuk.

“Silakan masuk, Be…” kata Yeni. “Duduk aja dulu, ya? Saya mau ke belakang sebentar…”.

Yeni menutup kembali dan mengunci pintu rumah dinasnya yang terletak agak jauh dari rumah penduduk lainnya.

Salube duduk di ruang tamu sambil terus membaca mantra. Di pulau itu Salube amat ditakuti. Dengan bantuan gurunya, semua wanita di pulau itu yang menarik hatinya telah pernah ia gauli, tak peduli masih gadis maupun sudah jadi istri orang. Kini, ia bertekad sepenuh hati untuk melakukan hal yang sama terhadap Yeni. Sejak datang ke pulau itu bersama suaminya, Yeni tidak luput dari perhatian Salube. Ia ingin menaklukkan Yeni.

Salube pun pernah mengintip saat Yeni berhubungan badan dengan suaminya. Itulah salah satu faktor yang membuat Salube ingin merasakan tubuh Yeni. Di pulau itu tidak satu pun orang yang akan melarang perbuatan Salube. Ia juga pernah menggauli seorang dokter wanita yang ditugaskan ke pulau itu beberapa tahun lalu. Namun sang dokter yang ayu itu kini telah pindah tugas ke kota.

Beberapa saat kemudian Yeni datang dan membawa air minum untuk Salube.

“Diminum airnya ya, Be?”

Lalu Yeni duduk di depan Salube dan bertanya.

“Dari mana, Be?”

“Saya dari kapal” jawab Salube.

Secara tak sengaja rok kerja Yeni tersingkap dan terlihatlah CD merah Yeni oleh Salube. Yeni tidak sadar dari tadi Salube terus memperhatikan belahan paha Yeni. Yeni terus berbicara mengenai kantornya dan ia belum sempat salin pakaian kerjanya.

Salube berkata, “Yen, tukar aja dulu pakaian kamu.”

Yeni menuruti perkataan Salube. Ia lalu berjalan ke kamar. Salube pun mengikuti dari belakang. Yeni membiarkan Salube mengikutinya ke kamar. Bagaimanapun saat itu Yeni telah berada dalam pengaruh Salube.

Di kamar, Yeni lalu membuka blouse kerjanya bagian atas, sedang Salube terus memperhatikan dengan seksama, sambil air liurnya naik turun. Sebentar lagi Yeni akan berada di dekapannya…. Setelah blouse terlepas dari tubuh Yeni dan yang tertinggal hanya BH pink 34b itu, Salube berdiri menuju Yeni.

Dari belakang, ia belai bahu dan tengkuk Yeni yang putih mulus itu. Bulu-bulu halus di tengkuk Yeni ia ciumi dengan mulutnya sehingga aroma parfum Yeni yang telah bercampur bau tubuh Yeni menambah nafsu Salube. Yeni memejamkan mata. Sekarang ia berada dalam pengaruh gairah Salube. Suaminya tidak ia ingat lagi.

Lalu Salube membuka pengait BH Yeni itu dan membuangnya ke lantai sehingga kedua payudara Yeni jadi terbuka. Dengan kedua tangannya Salube meremas dan memilin puting susu itu dari belakang, sementara mulut Salube terus menciumi leher jenjang yang terawat itu.

Rambut Yeni ia sisipkan ke tepi supaya Salube dengan mudah dapat meciumi tengkuk dan leher Yeni.

Setelah Yeni terbangkitkan gairahnya, Salube membawanya ke tempat tidur di kamar Yeni. Ia baringkan tubuh Yeni. Salube terus membelai dada putih itu. Memerahlah kedua payudara Yeni karena kenakalan tangan Salube.

Yeni telah melupakan ketakutannya kepada Salube. Juga ia tidak merasa jijik jika berdekatan dengan Salube. Buktinya, saat itu Salube leluasa menjamah tubuh mulusnya dengan rakus.

Salube berpindah ke kaki Yeni. Ia ciumi jari kaki itu, lalu naik ke betis dan sampailah ke lutut dan paha Yeni. Ini amat membangkitkan sensasi tersendiri bagi Yeni. Yeni hanya pasrah, biarlah Salube yang mengambil peranan sejak saat itu.

Tangan Salube membuka rok kerja Yeni yang masih melekat. Rok itu menggangu kegiatan Salube. Yeni belum sempat menukar rok kerjanya saat itu.

Setelah rok itu tanggal, terpampanglah sepasang paha yang ditutupi segi tiga pengaman berwarna merah. CD merah itu lalu ia turunkan dari kedua kaki Yeni dan terlihatlah sejumbut bulu halus yang menutupi lobang vagina Yeni.

Dengan jari tangannya, lobang itu ia korek. Yeni merasakan terbang ke awang-awang. Daging kecil di belahan vagina Yeni ia pilin dan lobang itu pun mulai basah oleh air kenikmatan Yeni.

Sementara itu di tubuh Yeni yang telanjang mulai banyak mengeluarkan keringat menandakan Yeni telah terangsang hebat. Salube pun menghentikan permainannya. Ia tanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.

Ia minta Yeni untuk memegang penisnya, “Yen, pegang ini punya saya…”

Yeni diam dan mencoba memegangnya. Ia amat takjub… Penis Salube amat besar dan panjang, bewarna hitam sedang kepala bajanya cukup lebar. Ia sempat bergidik karena miliknya amat kecil dan belum pernah¬† melahirkan. Milik suaminya juga tidak terlalu panjang dan besar.

Salube meminta Yeni untuk mengulumnya dengan posisi 69. Dengan sedikit jijik, Yeni membawa penis Salube ke mulutnya. Yeni mulai menjilatinya, lalu ia kulum maju mundur. Salube sendiri terus memainkan lobang kemaluan Yeni. Ia pilin-pilin daging kecil itu. Sesekali tangannya meremas susu Yeni yang bergoyang karena gerakan tubuh Yeni menahan gairah.

Kurang lebih 18 menit Yeni telah dua kali mengalami orgasme, sedamg Salube memiliki ketahanan yang lama. Baru saat akan memasuki menit ke-20 ia muntahkan spermanya di mulut Yeni. Setelah itu Yeni berdiri ke kamar mandi dan muntah karena ia jijik akan sperma Salube yang sempat tertelan olehnya.

Salube hanya diam menunggu Yeni di tempat tidur sambil menaikkan kembali penisnya supaya tegak. Ia percaya Yeni tidak akan bisa menolak pengaruhnya. Beberapa saat kemudian Yeni masuk ke kamar dan kembali ia duduk di pinggiran ranjang.

Salube kembali menaikkan nafsu Yeni dengan memilin puting susu Yeni sehingga puting itu tegak menantang menandakan Yeni sudah kembali bergairah. Lalu tangan Salube merengkuh pinggang Yeni. Salah satu jarinya masuk ke dalam lobang vagina Yeni. Yeni menuruti saja kemauan Salube.

Salube ingin permainan ranjang itu dilanjutkan dengan masuknya penisnya ke dalam lobang Yeni. Salube lalu merengkuh sebuah bantal dan meletakkannya di pinggul Yeni sehingga vagina Yeni terbuka. Namun Yeni kembali menutupkannya dengan merapatkan kedua kakinya, sambil berkata, “Be…, saya tak ingin kamu masukkan punyamu ke dalam saya. Saya takut hamil. Saat ini saya tidak memakai alat KB.”

Yeni yang meskipun telah diliputi nafsu masih sempat berpikir untuk tidak mau beresiko dalam hubungan seks dengan Salube. Ia khawatir akan hamil akibat Salube. Jika dengan Beni ia tidak ambil peduli, ia ingin hubungannya dengan Beni tetap normal dan ia pun ingin terus setia dengan lembaga perkawinannya.

Lalu Salube berkata, “Tenang saja, kamu takkan hamil, ya? Nah buka lagi, Yen?” sambil tangannya membuka kedua kaki Yeni yang berbetis indah itu.

Setelah kedua kaki Yeni terbuka, lalu ia tekuk ke atas dan penisnya yang dari tadi tegak menantang ia arahkan ke bibir vagina Yeni. Agak hati-hati ia geserkan penisnya, sedang Yeni hanya menahan nafas ia sadar sebentar lagi vaginanya akan diaduk penis Salube yang amat besar itu. Penis Salube masuk setengah dan ia dorong terus. Yeni sesenggukan menahan nyeri di lobangnya.

“…Auuggggghhhhh…..auuuuuhhh, sakit… Salube..!!” jerit Yeni.

Salube tidak mempedulikan jeritan Yeni. Ia genjot terus pinggulnya sehingga seluruh penisnya masuk ke dalam vagina Yeni. Salube terus menggenjot dan Yeni amat tersiksa karenanya.

Inilah saat-saat yang diingini Salube. Ia penasaran saat melihat Yeni bersetubuh dengan suaminya. Amat mempesona Salube… maka ia terus genjot Yeni selama 20 menit… Yeni hanya mendengus antara rasa nyeri dan kenikmatan. Salube melampiaskan nafsunya ke tubuh Yeni karena ia amat cemburu melihat Yeni saat bersebadan dengan Beni, di kamar dan ranjang yang sama.

Salube termasuk tipe laki-laki hiperseks yang sanggup bertahan lama dalam berhubungan seks. Apalagi dengan wanita secantik Yeni.

Keringat membasahi kedua tubuh telanjang yang sedang berdempet itu amat kontras. Tubuh putih mulus Yeni ditunggangi oleh tubuh hitam yang berbulu milik Salube. Pada menit ke-25 barulah Salube muntahkan spermanya yang banyak ke dalam vagina Yeni.

Yeni sejak tadi telah beberapa kali mengalami klimaks orgasme sehingga ia tidak menyadari bahwa Salube telah menumpahkan spermanya ke dalam rahimnya. Karena Yeni tidak mencegahnya, Salube sengaja membiarkan saja penisnya terus tertanam di dalam tubuh Yeni. Baginya, hal itu terasa sangat nikmat karena mencerminkan keberhasilan penaklukannya dan pelampiasan nafsunya terhadap Yeni secara total.

Setelah itu tubuh Salube terhempas di atas tubuh Yeni yang mulus itu. Penisnya ia biarkan masih di dalam vagina Yeni. Salube lalu tertidur, begitu pula Yeni. Mereka begitu kelelahan setelah keduanya mengeluarkan energi yang begitu banyak untuk bersenggama. Di luar rumah mereka hujan turun dengan deras.

Menjelang pagi Salube bersama Yeni kembali mengulang permainan ranjang itu. Yeni yang semula agak malu-malu dan amat jijik kepada Salube, sejak saat itu aktif mengambil peranan dalam memuaskan nafsunya. Dengan tidak malu-malu Yeni telah bisa mengulum dan menjilat setiap inci tubuh Salube. Tidak terkecuali penis Salube. Begitu juga sebaliknya dengan Salube.

Sejak kejadian itu Salube dan Yeni terus melakukan hubungan seks. Mereka melakukannya baik di rumah Yeni atau pun di gubuk Salube di hutan bakau pulau itu. Tindakan Yeni ini tidak diketahui oleh teman-temannya di bank. Ia dan Salube benar-benar menyimpan rapi affair mereka. Selama Beni tugas belajar, Yeni dan Salube tidak pernah absen melakukan hubungan seks.

Yeni sebenarnya menyadari, dan khawatir kalau-kalau ia akan hamil. Karena itu akhirnya Salube terlebih dahulu selalu memberikan pil KB untuk diminum Yeni sebelum bersenggama dengannya sehingga Yeni tidak akan hamil.

Sampai Beni pulang dari luar negeri pun Yeni tetap melayani Salube. Baginya Salube amat perkasa dan jantan.

TAMAT

Buah Dari Keangkuhan

Copyright 2003, Ayeng Waldesi (awaldesi@yahoo.com)

(Pemaksaan, Istri Selingkuh)

Sebagai seorang ibu muda, kehidupan Lisa amatlah monoton, tidak ada yang menonjol. Hari-harinya dilalui untuk merawat dan mengasuh kedua anaknya yang lucu-lucu. Suaminya adalah seorang eksekutif di sebuah perusahaan yang bonafid di jakarta.

Lisa adalah seorang ibu rumahtangga yang berumur 28 tahun. Ia amat memperhatikan perawatan dan kecantikan tubuhnya, sesuai anjuran dari ibunya sejak ia remaja. Ia memiliki wajah yang cantik, ditunjang pula dengan bentuk tubuh yang ramping dan kulit yang putih.

Lisa amat memperhatikan penampilannya, ia tidak ingin suaminya Rudi akan berpaling kepada wanita lain, hanya dengan alasan klasik yaitu kecantikan dan penampilannya sebagai istri. Di rumahnya yang terbilang megah, Lisa menghabiskan waktu dengan senam untuk menjaga kebugaran.

Akhir-akhir ini Rudi amat sibuk dengan pekerjaan kantornya sehingga membutuhkan perhatian dan kerja ekstra. Hampir tidak ada waktu lowong bagi Rudi untuk bermesraan dan libur dengan anak-anaknya.

Seiring dengan menanjaknya karir Rudi, pria itu diangkat sebagai manager di daerah baru, kawasan timur Indonesia. Dengan sendirinya Rudi mengajak pindah keluarganya ke daerah itu.

Di daerah baru itu Rudi menempati sebuah rumah dinas yang amat megah dan luas. Di rumah dinasnya itu telah tersedia segala perabotan dan kendaraan yang dibutuhkan oleh Rudi sekeluarga, juga telah ada seorang pembantu dan tukang kebun yang merangkap satpam di rumah itu.

Seperti biasanya, Rudi terus larut dengan kesibukannya dengan kunjungan ke daerah yang merupakan daerah kepulauan itu. Setiap perjalanannya biasa memakan waktu sekitar 1-2 minggu. Tidak heran jika Lisa sering ditinggal di rumah sendirian. Lisa sebetulnya sangat khawatir akan keselamatan Rudi.

Kehidupan rumah tangga mereka yang telah berjalan lebih kurang 8 tahun telah mereka lalui dengan penuh kemesraan dan keserasian sehingga membuat iri teman-teman Rudi. Rudi tidak melupakan kehidupan seks dan rutin menjaga kemesraannya dengan Lisa.

Karena pengaruh kehidupan kota yang egois, sering membuat kedua pembantunya tersinggung. Bagaimanapun Lisa adalah seorang wanita yang dibesarkan di dalam lingkungan keluarga berada dan segala keinginannya slalu didapatkan begitu juga dengan Rudi memiliki latar belakang yang sama.

Rudi pun sering menghardik Pak Martin tukang kebunnya. Pak Martin adalah tukang kebun di rumah itu telah lama bekerja, tidak pernah ia diremehkan oleh majikannya terdahulu, tidak seperti Rudi dan Lisa yang sering memandang rendah kepadanya.

Kalau dilihat usia pak Martin seusia orang tua Rudi yang telah berumur 58 tahun. Pak Martin adalah penduduk asli di daerah itu. Masa mudanya Pak Martin amat ditakuti oleh masyarakat sekitarnya. Dulunya ia adalah seorang penjahat dan gembong rampok yang memiliki ilmu yang tinggi dan sudah beberapa kali keluar masuk penjara di daerah itu, tidak heran hampir seluruh badannya dipenuhi tato.

Suatu hari Rudi dan Lisa pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dan pulannya ia mendapati pak Martin sedang tidur sehingga pintu pagar rumah itu tidak ada yang membuka, setelah di gedor beberapa kali , akhirnya pak Martin bangun dan dengan kasar dan marah2 Lisa memaki maki pak Martin.

“Dasar tua bangka, malas, apa saja, kerja kamu hahh,” sengit Lisa yang disaksikan Rudi dari atas mobilnya.

“Maaf , nyak.. saya tertidur, skali lagi maafkan saya nyak..” kata Martin memohon.

“Cih,” Lisa meludahi wajah Martin lalu berlalu,kamu tak perlu di beri maaf..”

“Kamu kerja saya gaji, masa masih malas?” sahut Lisa berlalu dari hadapan Martin.

Martin hanya menunduk dan merasakan amat pedih di dadanya dihina dan direndahkan oleh kedua suami istri itu. Lalu timbullah pikiran jahat di dalam hatinya, padahal ia telah lama berusaha untuk selalu berbuat benar dan lurus, bagaimanapun naluri jahat dalam dirinya kembali muncul.

Ia akan membalas perlakuan Rudi dan Lisa itu yang telah kelewatan. Ia tahu, Rudi sering ke luar kota untuk saat yang lama, sedang Lisa tinggal di rumah itu dengan kedua anaknya. ia ingin Lisa bertekuk lutut minta belas kasihan kepadanya, bagaimanapun usianya saat ini ia masih mampu untuk menaklukkan wanita ditunjang dengan ilmu mistis yang dimilikinya.

Ia tahu, Lisapun pada saat-saat tertentu pasti membutuhkan kemesraan dari Rudi. Martin amat berpengalaman dalam soal seks. Ia tahu Lisa termasuk dalam katagori wanita yang tidak bisa menahan nafsu apalagi jika sering ditinggal suaminya beberapa hari.

Pada hari itu, Rudi berangkat ke daerah untuk meninjau proyek yang ia tangani di sebuah pulau yang memakan waktu beberapa hari. Saat itulah yang dinanti-nanti Martin. Di kamarnya ia telah menyiapkan beberapa sesajen untuk mengadakan ritual memantapkan ajian pemikat yang ia miliki.

Saat itu Lisa sedang berada di dalam kamarnya yang luas, dilengkapi AC yang bersuhu dingin itu amat kedinginan. Gairah nafsunya menghentak hentak, padahal sebelum berangkat Rudi telah menyirami batin Lisa beberapa kali ronde, namun aneh saat itu ia ingin kembali mengulangnya.

Kemudian Lisa berjalan ke luar kamarnya, terlihat tubuh mulusnya terbungkus baju tidur sutra yang halus sehingga lekuk tubuhnya yang indah itu terbentuk. Ia lihat di sekeliling ruang rumahnya, semua pada tidur dan hanya ia yang masih bangun. Ingin rasanya ia bermasturbasi namun ia sadar tidak akan memuaskannya,

Lisa berpikir keras untuk meredam nafsunya itu. Semakin malam hari semakin dingin dan begitu juga nafsunya ingin di salurkan namun kepada siapa? Sedang Rudi saat ini masih berada di luar kota.

Di kamarnya pak Martin terus mengadakan ritual mistis, ia ingin agar Lisa benar-benar datang minta belas kasihan kepadanya. Martin sudah tidak dapat lagi menahan nafsu dendamnya kepada Rudi dan Lisa, meskipun selama ini ia sering melihat Lisa yang cantik dan menggairahkan itu dalam kamar dan rumahnya , namun Martin selalu dapat mengatasinya. Secara lahiriyah ia akui Lisa amat menggoda gairahnya, namun pikiran itu ia buang jauh-jauh. Ia tidak ingin membuat masalah. Bisa saja dari dulu-dulu ia pelet Lisa dan ia gauli sesukanya namun ia tak pernah melakukannya. Sekarang, karena tindakan Rudi dan Lisa yang sudah amat kelewatan saja maka ia berbuat itu.

Kemudian Lisa menuruni anak tangga rumahnya dan berjalan ke ruang tamunya. Di luar hari mulai hujan dan diiringi petir. Ia berjalan ke kamar pembantunya, Mbok Ijah, namun Mbok Ijah telah tidur. Kamar Martin terletak di samping garasi rumah itu.

Lalu Lisa berjalan ke arah kamar Martin. Secara tiba-tiba pintu kamar Martin terbuka. Lisa sempat mencium aroma menyan yang dibakar Martin saat itu. Dari dalam kamarnya, Martin memanggil Lisa dengan suara serak. Martin saat itu telah tahu bahwa Lisa akan mendatanginya.

Lisa melihat ke dalam kamar itu. Ia lihat kamar itu hanya diterangi lampu 5 watt sehingga samar-samar saja ia melihat Martin duduk bersila di lantai kamar.

“Lisa, masuk… duduklah, Lisa…” kata Martin serak. Lalu Lisa jongkok dan duduk di atas karpet merah yang telah disediakan Martin.

Sambil komat-kamit, Martin memerintahkan Lisa untuk memandang matanya.

“Nah, pandanglah mata saya, Lisa,” kata Martin lagi.

Inilah kesalahan fatal bagi Lisa. Ia tatap mata Martin. Lalu Martin yang saat itu hanya mengenakan sarung, berdiri dan berjalan kearah pintu untuk menguncinya dari dalam.

Lisa yang telah terpaku oleh pengaruh Martin, hanya duduk diam. Nafasnya nampak naik turun, karena gairah nafsunya amat menghentak-hentak kepalanya.

Melalui baju tidur sutra tipis itu tampak kulit tubuh Lisa yang amat menggoda. Warna lampu 5 watt amat mempengaruhi kecantikan Lisa. Martin lalu berjalan ke arah belakang badan Lisa.

Tangannya langsung meraih jemari Lisa. Sambil memeluk dari belakang, ia ciumi tengkuk yang berbulu halus itu dengan syahdu. Mata Lisa hanya merem melek menikmati sentuhan Martin yang nota bene adalah pembantunya itu.

Selama ia berada di daerah itu ia belum sekalipun dirinya menginjakkan kakinya di kamar Martin. Pengaruh pelet dari Martin ternyata mampu membuatnya mendatangi kamar itu.

Masih dari belakang tubuh Lisa, Martin lalu meraih kedua payudara Lisa yang terbungkus baju tidur. Tangan Martin meremas dan memilin bukit ranum itu. Lalu mulutnya ia geser ke depan dan ia kulum bibir Lisa yang merah jambu itu. Di bibir itu Martin mencari-cari lidah Lisa. Dengan nafasnya ia hirup lidah Lisa hingga Lisa merasa sesak nafas.

Tangan Martin tidak mau kalah. Dari dada Lisa, tangan itu terus turun ke paha dan terus bergeser ke arah pangkal paha Lisa. Baju tidur perempuan itu ia singkapkan sehingga paha mulusnya terlihat jelas. Lisa memakai CD putih tipis berenda. Jari-jemari Martin lalu bermain di dalam rongga kemaluan Lisa dan mulai mengorek-ngorek isi vaginanya.

Di atas karpet merah itu, sangat kontras terlihat tubuh putih mulus Lisa yang mengenakan baju sutra tipis itu duduk bersila. Lalu Martin membuka kedua tali yang menahan baju itu dari bahu Lisa sehingga baju itu terlepas ke bawah. Terpampanglah bahu putih serta payudara yang masih tertutup BH 34c milik Lisa. Baju itu ia turunkan terus, sementara tali BH itu ia buka pengaitnya dari belakang sehingga kedua bukit salju Lisa terlihat jelas.

Kedua putingnya berwarna merah jambu. Dengan mulutnya, bukit indah itu dijilat inci demi inci, sesekali ia gigit dengan lembut sehingga menambah kenikmatan dan sensasi tersendiri bagi Lisa. Dari mulutnya hanya terdengar dengusan kenikmatan. Ia ingin permainan itu diteruskan segera oleh Martin. Martin yang telah berpengalaman itu tahu semua titik kelemahan Lisa. Ia terus memancing setiap inci dari tubuh Lisa dengan lidahnya. Lalu ia buka CD Lisa dan terlihatlah sorga kenikmatan Lisa yang masih rapet itu.

Meskipun Lisa telah melahirkan namun liang vaginanya masih rapat. Itu karena setiap melahirkan, ia melakukan bedah caesar sehingga tidak mempengaruhi bentuk vaginanya. Di samping itu, ia juga rajin olah kebugaran hingga perutnya tetap rata dan kencang.

Martin menggeser mulutnya ke bawah pusar Lisa dan berhenti di lobang yang di tutup oleh bulu halus terawat itu. Lobang vagina Lisa ia obok-obok dengan lidahnya. Lubang kelamin Lisa memiliki bau yang khas, yang memancing gairah Martin.

Lalu Martin mengambil posisi membelakangi Lisa. Ia arahkan penisnya yang panjang dan tidak dikhitan sehingga menyerupai pisang flores itu ke mulut Lisa. Melalui bibir Lisa, penis itu menerobos masuk masuk perlahan ke dalam mulut istri Rudi itu. Lisa menerima kepala penis itu dengan pasrah dan mengulumnya hingga tuntas.

Penis itu terus ia kocok di dalam mulutnya hingga kepala penis yang telah lama tidak dipakai dan menghitam itu terlihat licin mengkilat. Akhirnya penis Martin memuntahkan larvanya karena dikocok secara intensif oleh mulut Lisa selama 15 menit. Lisa menelan sperma Martin sampai habis. Bahkan setelah semua sperma kental itu berpindah ke dalam perutnya, ia masih terus menjilati kepala baja hitam itu.

Martin terus memanjakan lobang vagina Lisa berulang-ulang. Ia tidak peduli Lisa telah beberapa kali orgasme, yang ditandai dengan adanya lonjakan-lonjakan panjang pada tubuh Lisa.

Lalu Martin merubah posisinya. Ia berhadap- hadapan dengan Lisa yang masih terbaring di atas karpet tebal di dalam kamar Martin. Dengan tangannya Martin memasuki lobang Lisa. Ia korek-korek kelintit Lisa.

Lisa meregang menahan geli dan nafsu, sedangkan tubuh putih mulus itu telah basah bersimbah keringat karena permainan pemulaan itu. Martin merasa yakin Lisa telah terbangkitkan nafsunya.

Ia lalu membuka kedua kaki Lisa dan meletakkan bantal di bawah pantat Lisa. Ia tidak ingin penetrasi yang ia inginkan itu gagal. Telah lama ia
mengimpikan saat ini, menanamkan benihnya ke dalam rahim Lisa. Sesekali tangannya meraih payudara yang mulai tegak memerah itu. Kepala Lisa menggeleng-geleng. Ia menarik kepalanya menahan nikmat yang menjalari lobang kewanitaannya.

Martin membuka kaki Lisa sehingga lobang kemaluannya jelas terlihat. Ia kangkangkan kedua kaki Lisa. Penis yang telah tegak menghitam itu serta merta terarah ke lobang vagina Lisa. Saat baru saja kepala baja itu masuk ada rasa nyeri pada Lisa.

“Aaauuuuu…. nyilu, Pak!!” kata Lisa.

“Diam dulu, Lisa, hanya sebentar….”

Lalu Martin mendorong seluruh batang kejantanannya masuk ke dalam lobang memek Lisa. Ia genjot terus tanpa menghiraukan keluhan dan rasa nyeri pada lobang Lisa. Lisa hanya menuruti setiap gerakan Martin yang maju mundur di dalam lobang vaginanya.

Keringat membasahi tubuh kedua mahluk berlainan suku itu. Di antara kedua kaki Lisa tampak kaki Martin yang terus bertumpu menahan gerakan pinggulnya yang maju mundur. Kedua kaki Lisa terus menerjang ke kiri dan ke kanan. Ia merasakan kenikmatan yang amat dalam. Kedua tangan Lisa mencari-cari pegangan, lalu ia bertumpu pada bahu Martin. Ia mencengkeram bahu Martin karena merasakan nikmat yang tidak terhingga.

Gerakan penis Martin terus mengaduk-aduk lobang kewanitaan Lisa, maju mundur. Meskipun telah berusia senja, Martin masih memiliki kemampuan untuk berhubungan seks yang luar biasa. Lisa sendiri mengakui kalau tenaganya tidak kalah dengan Rudi.

Dalam kepala Martin saat itu adalah ia harus terus mengenjot Lisa sehingga Lisa mengalami beberapa kali orgasme. Ia amat sakit hati diperlakukan sewenang-wenang oleh Lisa dan Rudi. Dengan cara itulah ia membalasnya.

Lisa terus digenjot Martin. Tulang-belulangnya serasa dilolosi Martin. Permainan seks itu telah berlangsung hampir setengah jam namun Martin belum juga memuntahkan maninya. Ia terus melakukan gerakan berputar-putar pada saat penisnya masih di dalam lobang Lisa. Ia pegang kedua tangan Lisa, sementara mulutnya terus berada pada puting susu Lisa.

Akhirnya setelah lewat setengah jam ia genjot, barulah mani Martin tumpah di dalam lobang vagina Lisa sebanyak-banyaknya. Penis besar itu masih terus tertanam dalam lobang kemaluan Lisa sementara ia memuncratkan cairan pembuat bayinya di dalam tubuh istri Rudi. Lisa amat puas. Belum pernah ia merasakan kepuasan yang seperti itu selama ia berhubungan seks dengan Rudi. Suaminya tak ada apa-apanya dibandingkan Pak Martin. Pak Martin amat pandai mengatur tempo permainan. Rudi yang juga memiliki segudang cara dalam bersenggama tetap jauh tertinggal dari Pak Martin ini.

Menjelang pagi Martin terus mempermainkan nafsu dan gairah Lisa sampai 3 kali. Saat itu cuaca amat berpihak pada Martin. Selain hujan badai di luar rumah, pembantu dan anak-anak Lisa tidak terbangun. Inilah yang amat mengembirakan Martin sehingga ia bisa berasyik masyuk berdua saja bersama Lisa.

Setelah subuh barulah Lisa selesai dikerjai Pak Martin. Perempuan itu bangun dari karpet dan memakai CD dan BH-nya. Lalu ia kenakan kembali baju tidurnya. Terlihat keletihan yang mendalam pada wajah Lisa.

Ia keluar dari kamar Pak Martin dan naik ke kamarnya di lantai atas. Lalu ia membersihkan badan dan mandi. Masih banyak sisa sperma Martin pada bibirnya dan pada kedua pahanya.

Sejak itu hubungan Lisa dan Martin semakin intim. Saat Rudi tak ada di rumah, mereka berdua terus mengayuh biduk kemesraan di kamar Martin ataupun di ranjang Lisa dan Rudi.

Martin selalu melakukan aji penglimunan sehingga seluruh penghuni rumah itu tertidur kecuali Lisa dan dirinya. Jika Martin sedang berhasrat untuk melakukan hubungan seks, ia akan memanggil Lisa dengan caranya yang unik.

Pernah gairahnya terhadap Lisa tiba-tiba menghentak-hentak, padahal saat itu hari Minggu pagi dan Rudi sedang ada di rumah. Pasangan suami istri itu baru saja bangun tidur, sedangkan anak-anak mereka masih tertidur pulas. Begitu Rudi masuk ke kamar mandi, Pak Martin melafazkan mantranya. Maka Lisa langsung datang ke kamarnya seolah tahu Pak Martin sedang ngebet membutuhkannya. Begitu dilihatnya perempuan itu, Pak Martin langsung menerkamnya dan, tanpa banyak omong, saat itu juga ia menuntaskan nafsunya ke tubuh Lisa, sementara suaminya sedang asyik mandi.

Walaupun Lisa sudah berada dalam gengamannya, ia tidak menginginkan perkawinan Lisa dan Rudi hancur. Makanya Martin berusaha pandai-pandai mengatur saat-saat kebersamaannya dengan Lisa. Lisa pun selalu menurut kepada perintah Martin. Keduanya begitu kompak menjaga rahasia ini.

Sejak saat itu, apa pun keinginan Martin, baik tubuh Lisa atau uang, selalu terpenuhi. Ia tinggal minta kepada Lisa yang seolah sudah tak bisa lepas lagi dari Martin. Martin memang amat pandai mengatur siasat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Sementara itu, Lisa pun terus melayani Rudi suaminya sebagaimana biasa. Tidak ada keganjilan yang ditangkap Rudi. Martin sendiri tidak terlalu cemburu karena tahu Lisa tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh peletnya dan pasti akan selalu kembali kepadanya. Lama-kelamaan, Rudi pun secara tidak langsung telah masuk ke dalam pengaruh Martin.

Martin memanglah seorang pria yang dilahirkan berkemampuan seks luar biasa. Saat jadi penjahat dulu, tidak sedikit pelacur maupun wanita baik-baik yang ia gauli, tidak peduli masih perawan atau pun istri orang.

Sampai saat ini Lisa masih terus digauli Martin sesuka hatinya, tidak memandang tempat dan waktu.

TAMAT

Tumbal

Copyright 2005, by Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com)

(Wanita dan Kera, Wanita dan Gendruwo, Keroyokan, Istri Selingkuh)

Sapto adalah seorang buruh pekerja bangunan lepas. Pria muda kelahiran sebuah dusun terpencil di Jawa Tengah ini terpaksa mengadu nasib ke Jakarta karena di daerah asalnya pun ia menganggur tak punya pekerjaan. Kekeringan yang berkepanjangan melanda kampung halamannya. Sawah-sawah tidak produktif lagi. Banyak petani yang kehilangan pekerjaannya, termasuk Sapto.

Di usianya yang kedelapan belas saat masih di kampungnya, ia telah menikahi seorang wanita cantik bernama Maya. Wanita yang usianya selisih dua tahun lebih muda ini adalah tetangganya sendiri di kampung. Sama seperti Sapto, Maya pun berasal dari keluarga yang sangat sederhana.

Walaupun kehidupan yang menanti di Jakarta belum menentu, Sapto nekat mengajak istrinya untuk pergi ke kota harapan itu saat usia pernikahan mereka masih seumur jagung. Ia malu terus-menerus membebani kedua orang tuanya maupun mertuanya yang sama-sama kekurangan.

Pria ini beruntung mendapatkan pekerjaan pada seorang kontraktor kecil-kecilan di daerah pinggiran ibukota. Sapto mengenal majikannya dari sesama temannya di kampung yang kebetulan pernah bekerja pada beliau. Dengan kemampuan seadanya, ia belajar menjadi kuli bangunan. Pekerjaannya pun tak tentu, bergantung pada order yang diterima majikannya.

Dengan penghasilan yang seadanya, tentu saja kehidupan Sapto dan Maya di kota yang keras itu masih tetap prihatin.

Kesulitan ekonomi semakin terasa setelah Maya melahirkan anaknya yang pertama, tepat dua tahun setelah kepindahan mereka ke Jakarta. Sapto pun semakin pontang-panting menghidupi keluarganya yang telah bertambah anggotanya.

Sapto sebenarnya beruntung memiliki istri seperti Maya. Wanita itu sangat sabar dan mau sepenuhnya mengerti kesusahan yang mereka alami bersama. Ia tak pernah mengeluh dan menuntut macam-macam. Walau ia pun tak mampu berbuat banyak untuk membantu suaminya, tak hentinya ia memotivasi suaminya untuk bersabar dan tidak tergoda menempuh jalan yang tidak benar dalam mengatasi kemiskinan mereka.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Keadaan ternyata berkembang jadi semakin sulit setelah majikan tempat Sapto bekerja bangkrut. Otomatis Sapto pun kehilangan satu-satunya mata pencahariannya. Dengan kemampuan yang terbatas, jelas ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan mata pencaharian yang baru.

Dalam keadaan putus asa, Sapto mengambil jalan pintas. Suatu hari ia nongkrong dengan sesama temannya yang juga menganggur. Saat ngobrol, temannya menceritakan tentang pesugihan yang diyakini dapat memberikan pelakunya kekayaan yang melimpah ruah. Dari sekedar iseng, Sapto jadi mulai tertarik dengan cerita itu. Diajaknya temannya untuk sama-sama menjalani pesugihan tersebut.

Walaupun tertarik juga, temannya menolak untuk melakukannya. Ia takut karena syaratnya sangat berat. Begitu pula konsekuensi yang harus ditanggung jika syaratnya tak terpenuhi. Belum lagi mengingat cara itu adalah jalan yang dikutuk oleh agama.

Sapto yang telah buntu pikirannya tetap berkeras untuk mencobanya. Temannya yang telah mencoba mengingatkannya tak mampu berbuat apa-apa. Setelah dipaksa Sapto, temannya lalu menceritakan bagaimana cara melakukan pesugihan itu, yang disebut pesugihan Ki Edan.

Pesugihan itu harus dilakukan dengan memuja jin bernama Ki Edan. Tempatnya adalah di sebuah gua terpencil di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Dengan alasan mencari pekerjaan, Sapto pamit kepada istrinya untuk pergi ke luar kota selama beberapa hari. Dititipkannya anak dan istrinya kepada tetangganya.

Dengan berdebar-debar Sapto menemui juru kunci tempat itu untuk minta petunjuk dan bimbingan dalam menjalaninya. Sebelum melakukan itu, sama seperti yang telah dilakukan oleh temannya, si juru kunci mengingatkan Sapto akan semua konsekuensi yang harus diterimanya. Pria tua itu mengatakan bahwa Sapto masih dapat mundur saat itu seandainya ia masih ragu-ragu. Merasa kepalang tanggung, Sapto tetap menyanggupinya. Ia pun menjalani ritual yang disiapkan oleh si juru kunci untuk melakukan perjanjian dengan Ki Edan.

Ki Edan adalah sejenis jin tingkat tinggi yang memiliki kesaktian mandraguna. Usianya telah mencapai ribuan tahun. Berbagai macam manusia dari puluhan generasi sudah pernah ditemuinya. Ia hidup di tengah hutan Lawang bersama para pengikutnya. Pengikutnya berasal dari berbagai golongan jin dan hewan liar yang hidup di hutan itu. Ia tak akan membantu sembarang orang. Syarat yang ditetapkannya pun berat.

Saat melakukan ritual di dalam gua, Sapto pun berkesempatan untuk bertatap muka dengan jin itu.

Badan Ki Edan berwujud manusia tapi bagian paha ke bawah menyerupai kaki belakang seekor lembu. Tubuhnya yang jangkung tampak tegap didukung oleh badannya yang kekar dan berwarna gelap kemerahan. Wajahnya berbentuk segitiga dengan ujung dagu yang sangat lancip. Kedua matanya tajam dan berwarna merah. Sepasang tanduk besar menyerupai tanduk kerbau jantan menghiasi kepalanya yang gundul.

Sapto bergidik melihat penampakan jin tua yang mengerikan itu.

“Hai manusia, ceritakan apa yang kau mau,” suara jin tua itu terdengar menggema di dalam gua.

“A..a.. ku ingin mendapatkan kekayaan, Ki,” kata Sapto terbata-bata.

Mata Ki Edan yang tajam menatap dalam-dalam pada Sapto yang agak merinding.

“Kau tahu apa syaratnya?” tanya jin itu.

“Apa itu, Ki?” tanya Sapto gemetar. “Aku akan menyanggupinya…”

“Setiap purnama kau harus mempersembahkan mayat bayi yang baru saja dikuburkan…”

Sapto terdiam.

“Jika kau lalai…. Bukan hanya kekayaanmu yang akan kutarik kembali….” lanjut Ki Edan.

Sapto menanti lanjutan kata-kata jin tua itu dengan harap-harap cemas.

“…Melainkan juga orang yang sangat kausayangi akan kuambil….” Ki Edan menutup penjelasannya yang singkat.

“Baiklah, Ki…” jawab Sapto yang sudah gelap matanya menyanggupi.

Setelah perjanjian diikat, Sapto pun kembali ke Jakarta.

Aneh, tak lama kemudian Sapto pun mendapatkan rezeki. Ada orang yang menawarinya modal untuk membuka usaha. Sapto pun membuka warung dan bengkel. Usahanya ternyata maju sehingga dalam waktu singkat Sapto dapat mengembalikan modalnya dan memiliki sendiri seluruh usahanya. Kehidupan ekonomi mereka pun semakin membaik. Tentu saja Sapto tak pernah menceritakan peristiwa yang sebenarnya kepada Maya.

Sementara itu, setiap menjelang bulan purnama, Sapto memiliki kebiasaan baru. Ia akan mendatangi kuburan dan menggali makam bayi yang baru saja dikuburkan. Jasad bayi yang masih baru itu lalu dipersembahkannya kepada Ki Edan sebagai tumbal.

Bulan demi bulan pun berlalu. Semakin lama Sapto pun semakin merasa sulit untuk memenuhi janjinya. Bukan saja ia harus mencari mayat bayi ke daerah yang semakin jauh, penduduk pun mulai resah dan curiga dengan maraknya penggalian kuburan bayi yang baru meninggal. Akibatnya, Keamanan pun semakin diperketat. Ruang gerak Sapto pun semakin terbatas.

Sampai suatu ketika, Sapto akhirnya gagal memenuhi janjinya pada Ki Edan tepat pada malam bulan purnama yang ketujuh sejak perjanjiannya.

Saat itu sudah lewat tengah malam. Sapto merasa sangat gelisah karena tahu akan terjadi sesuatu. Maya yang saat itu sedang di sampingnya juga merasa curiga melihat gelagat suaminya yang dari tadi tampak menyembunyikan sesuatu. Wanita itu baru saja selesai menyusui anaknya yang sempat terbangun beberapa waktu yang lalu.

Tanpa ada tanda apa pun, Ki Edan tiba-tiba muncul diikuti oleh para pengikutnya. Walau sudah menduga hal itu, Sapto tetap saja merasa terkejut. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada istrinya. Maya yang tak mengetahui pokok permasalahannya tentu saja tak kalah terkejutnya.

“Sapto, kau tahu apa yang telah kau lalaikan malam ini?” suara Ki Edan terdengar menggema di tengah malam yang hening.

Sapto hanya diam dengan tubuh gemetar dan tegang.

“Kalau kau tak mampu memenuhi janjimu dalam pesugihan ini, aku sudah mengatakannya dengan jelas apa yang harus kau bayar…”

“Aku akan mengambil nyawa anakmu sebagai tumbal…” kata jin tua itu mengingatkan.

“Atau akan mengambil istrimu untuk menjadi budakku di alam gaib sana… sebagai ganti atas semua kekayaan yang telah kuberikan padamu…”

Maya yang terkejut mendapati kenyataan itu tentu saja tak merelakan nyawa anak semata wayangnya diambil oleh Ki Edan.

“Mas Sapto…. Benarkah…?” tanya Maya seperti tak percaya sambil memandang ke arah suaminya. “Teganya kau… Jadi selama ini….?”

Ia tak mampu melanjutkan kata-katanya.

Sapto hanya menunduk. Ia tak berani membalas pandangan istrinya. Tubuhnya terasa gemetar.

“Baiklah, sekarang aku akan mengambil anakmu…” kata Ki Edan sambil melangkah mendekati ranjang tempat anak Sapto dan Maya sedang tidur.

Maya sangat terkejut mendapati kenyataan anaknya akan diambil secara paksa. Dihalanginya jin tua yang besar itu dalam langkahnya menuju ranjang. Naluri keibuannya untuk melindungi anaknya serta merta muncul.

“Aku tak rela nyawa anakku hilang demi melunasi hutangmu…” tegas wanita itu sambil memandang suaminya.

“Biar aku saja yang ikut dia untuk menebusnya…”

Sejenak setelah mengucapkan kata-kata itu, Maya sempat terkejut. Bagaimana bisa ia membuat keputusan seperti itu? Keputusan yang spontan dikeluarkannya untuk melindungi jiwa putri satu-satunya. Dalam hati ia sebetulnya sangat khawatir akan nasibnya jika mengikuti setan itu. Bagaimanapun, saat itu ia tak melihat cara lain sebagai jalan keluarnya.

“Baiklah, tak masalah bagiku,” kata Ki Edan sambil memeluk bahu Maya yang ada di dekatnya.

“Anakmu atau istrimu, salah satu saja…. Sudah cukup bagiku…” kata Ki Edan.

Sapto tak mampu berkata apa-apa. Mulutnya serasa terkunci.

Ki Edan lalu melucuti seluruh pakaian Maya. Maya sama sekali tak menolak… Maya tak tahu mengapa ia tak melawan saat direndahkan seperti itu…. Apakah ia berada di bawah pengaruh hipnotis?

Sapto hanya bisa memandangi peristiwa itu tanpa daya sama sekali. Begitu istrinya telah bugil, ia melihat Ki Edan mengeluarkan seuntai rantai yang besar lalu mengalungkannya ke leher wanita cantik itu…

Siluman sakti itu kemudian menyerahkan rantai itu kepada seekor kera jantan besar yang setia mengikutinya. Entah dari mana datangnya, segumpal asap yang tebal tiba-tiba muncul memenuhi ruangan. Ki Edan pun berjalan menembus asap itu. Diikuti oleh si kera besar yang menuntun istrinya… menghilang ditelan kegelapan….

Sapto hanya bisa memandang seluruh kejadian itu sambil menangis… Kedua kakinya benar-benar kaku tak bisa digerakkan. Sekujur badannya gemetar menahan perasaan takut, geram, dan tak berdaya yang bercampur aduk. Beban yang demikian beratnya membuatnya terjatuh. Perlahan-lahan asap pun menghilang tanpa bekas. Sama seperti istrinya yang raib dibawa Ki Edan… Pandangannya pun menjadi gelap. Ia pun pingsan tak sadarkan diri.

Maya memulai kehidupan barunya di alam jin. Setelah melalui asap tebal yang mengantarkannya meninggalkan alam manusia, sampailah ia di kediaman jin tua itu. Tempat tinggal Ki Edan ada di tengah-tengah hutan. Hutan yang aneh dalam pandangannya sebagai manusia. Semua tumbuhan dan hewan yang ada di situ tak pernah dijumpainya di alam manusia. Semuanya dari jenis yang berbeda…

Pondok Ki Edan terbuat dari kayu dan menyatu dengan sebuah pohon besar yang dikelilingi oleh sepetak lapangan yang agak luas. Lapangan yang merupakan pekarangan rumah itu menjadi pemisah antara rumah dengan hutan lebat yang mengitarinya.

Ki Edan membawa Maya berkeliling meninjau rumahnya yang cukup besar dan pekarangan di sekelilingnya. Dijelaskannya satu per satu tugas yang akan menjadi kewajibannya sehari-hari.

Dengan penuh perhatian wanita itu menyimak setiap penjelasan dan instruksi dari tuan barunya. Dengan hati yang berdebar-debar ia menunggu-nunggu sesuatu dari penjelasan jin tua itu.

Sampai Ki Edan selesai menjelaskan, apa yang ditunggunya dengan harap-harap cemas ternyata tak juga keluar.

Jelas bahwa Ki Edan sama sekali tak berniat untuk ‘menyentuh’-nya. Padahal Maya tadinya mengira ia juga harus melayani jin itu di tempat tidur. Wajar saja jika ia mengira demikian. Saat ia diambil dari suaminya, Ki Edan telah melucutinya hingga bugil. Begitu pula saat memberikan penjelasan, Ki Edan telah menegaskan padanya bahwa ia tak diperkenankan mengenakan sehelai kain pun untuk menutupi tubuhnya selama berada di alam gaib itu. Suasana yang dibangun memang seolah mengarahkannya untuk menjadi seorang pelayan seks.

Nyatanya ia hanya harus melayani Ki Edan seperti seorang pembantu rumah tangga atau baby sitter. Ia tiap hari harus memasak makanan untuk Ki Edan, membersihkan rumahnya, mencuci pakaiannya, menyiapkan segala peralatan dan kebutuhan sehari-harinya… tapi tidak melayani nafsu birahinya…

Seolah bisa membaca pikiran wanita itu, Ki Edan menceritakan penyebabnya. Rupanya jin tua itu sedang menjalani ritual tertentu yang tidak memungkinkannya untuk melakukan hubungan seks sama sekali.

Sejenak Maya menarik nafas lega… Memang sejak dibawa oleh Ki Edan ia telah mengantisipasi jika dirinya akan dijadikan sebagai pelayan seks. Toh ia tetap merasa gentar juga saat semakin sering berdekatan dengan Ki Edan dan dapat melihat ukuran penisnya. Alat kelamin itu menggelantung-gelantung seperti belalai gajah di balik kain tipis yang menutupi pangkal pahanya…

Sayangnya kelegaan wanita itu tak berlangsung lama. Ki Edan rupanya menyadari sosok wanita yang ada di hadapannya itu benar-benar cantik dengan postur tubuh yang sangat indah. Sangat mubazir jika tidak dimanfaatkan. Dengan demikian, bukan berarti Maya benar-benar bebas dari kewajiban yang berhubungan dengan seks…. karena ternyata Ki Edan akhirnya menghadiahkan Maya kepada Wanara, kera jantan piaraannya…

Dengan demikian kera peliharaan Ki Edan lah yang akhirnya ketiban untung mendapatkan Maya.

Itu pun sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi Maya. Sudah jadi pengetahuan umum, birahi seekor hewan lebih tinggi frekuensinya daripada seorang manusia.

Belakangan Maya belajar bahwa lima kali hubungan seks adalah jatah minimal yang harus diberikannya kepada hewan itu tiap harinya. Maya pun jelas harus bersusah payah beradaptasi dengan kebiasaan itu. Dulu saat masih di alam manusia, tidak setiap hari ia harus melayani Sapto suaminya.

Sekarang dengan frekuensi hubungan seks minimal lima kali sehari, Maya biasanya hanya dapat ikut menikmati sampai hubungan yang kedua atau ketiga. Selebihnya, dirasakannya semata-mata untuk memenuhi kewajibannya melayani birahi kera itu.

Untunglah Ki Edan pun mengamati hal itu. Suatu hari ia memberikan wanita itu ramuan untuk meningkatkan daya tahan dan nafsu seksualnya supaya ia bisa mengimbangi pasangan barunya itu…

“Minumlah…” kata Ki Edan pada Maya.

“Apa ini, Ki…?” tanya Maya sambil melihat minuman berwarna kecoklatan yang disodorkan padanya.

“Jamu ramuanku… untuk menambah daya tahan tubuhmu dan meningkatkan birahimu…” kata Ki Edan tersenyum.

“Aku lihat kau agak kewalahan melayani si Wanara…” lanjutnya.

Maya tersipu malu. Mukanya yang putih bersemu kemerahan seperti udang rebus. Ia baru sadar bahwa Ki Edan mengamati setiap aktifitasnya bersama kera itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh majikannya itu.

“Minumlah, tak usah ragu… Setelah kau rutin minum ramuan ini… bahkan nanti kau lah yang akan minta jatah kepada keraku itu…” jelas Ki Edan.

“Sekarang ini kan dialah yang selalu mendatangimu untuk minta bersetubuh… Nanti bisa terbalik…” kata jin tua itu sambil terkekeh.

Dalam hati Maya agak sangsi dengan kata-kata Ki Edan. Benarkah bisa seperti itu? Sekarang saja rasanya ia sudah sangat kewalahan melayani nafsu seks kera jantan itu. Alat kelaminnya pun rasanya hampir-hampir lecet karena terus-menerus digunakan sepanjang hari…

“Kita lihat saja nanti kalau kau tak percaya,” lanjut Ki Edan.

“Kalau alat kelaminmu yang terasa lecet, itu masalah biasa… karena kau selama ini tak menggunakannya secara maksimum,” jelas Ki Edan seolah bisa membaca pikiran Maya.

“Seperti kau berolah raga, kau harus membiasakannya sedikit demi sedikit… Kemampuan tubuhmu akan beradaptasi sendiri nantinya…”

“Memang aku tahu, selama ini suamimu jarang memanfaatkanmu semaksimal mungkin…” goda Ki Edan.

Maya pun kembali tersipu malu. Ia akhirnya bisa menerima penjelasan Ki Edan. Lagipula apa salahnya ia mencoba ramuan itu. Jika benar apa yang dikatakan jin tua itu, bukankah manfaatnya juga bagi dirinya sendiri. Karena itu ia pun memutuskan meminumnya tanpa banyak pikir lagi.

Rasanya bercampur antara pahit dan pedas. Terasa hangat di tenggorokan seperti arak.

“Minumlah ramuan itu tiap hari. Cukup sekali saja sehari. Nanti kutunjukkan tempat penyimpanannya,” kata Ki Edan setelah wanita itu menghabiskan isi gelasnya.

Maya hanya mengangguk sambil tersenyum berterima kasih.

Baru saja Maya meletakkan kembali gelasnya di atas meja, tiba-tiba terdengar bunyi pintu dibuka dengan keras. Ternyata Wanara telah berdiri di muka pintu dengan wajah yang beringas menahan nafsu… Maya tersenyum melihat kekasih barunya itu… Ia tahu kalau kera itu bermaksud meminta jatah padanya.

“Maaf, Ki Edan… Permisi dulu,” katanya meminta izin pada jin tua itu sambil geli melihat raut wajah kera itu yang tampaknya sudah tak kuat lagi membendung nafsunya….

“Waah, panjang umur… baru saja kauminum ramuanku, ternyata sekarang kau bisa praktekkan langsung… Baiklah, selamat bersenang-senang….” jawab Ki Edan penuh pengertian.

Wanara bergegas melompat mendekati gendaknya. Tangannya yang panjang kekar dan berbulu menggapai ke atas menyentuh punggung Maya yang telanjang lalu mendorongnya. Maya yang sudah mengerti segera mengubah posisinya dari berdiri jadi menyentuh lantai dengan kedua lutut dan tangannya sambil membelakangi kera itu. Wanita itu mengambil posisi untuk disebadani oleh Wanara dari belakang, sebagaimana layaknya sepasang hewan yang akan kawin.

Maya memang selalu siap untuk disetubuhi setiap saat karena selama tinggal di kediaman Ki Edan, ia tak pernah mengenakan pakaian sehelai pun, alias senantiasa bugil… Satu-satunya aksesori yang menempel di tubuhnya adalah seuntai kalung yang mirip kalung anjing. Itu dikenakannya sebagai penanda bahwa ia adalah piaraan Ki Edan. Wanara pun mengenakan kalung yang sama pula.

Maya tersenyum nikmat ketika merasakan penis kekasihnya yang besar dan tumpul memasuki dirinya… Inilah yang memang ditunggu-tunggunya… Terasa panas dan kasar…

Maya mendesis merasakan kekasihnya menyentuh dan memasuki dirinya…

Maya merasakan rambutnya yang panjang terurai itu ditarik Wanara ke belakang… Ia pun memasrahkan sepenuhnya tubuhnya kepada kera jantan yang sedang birahi itu… Sementara tangannya memegangi rambut Maya, pinggul Wanara mulai bergerak maju mundur menggesekkan penisnya di dalam alat kelamin wanita itu…

Maya pun sesekali tertahan nafasnya. Matanya merem melek sambil mendesis-desis merasakan kenikmatan itu…

Beberapa waktu kemudian, Wanara meningkatkan genjotannya pada tubuh wanita itu. Demikian kuatnya hingga tubuh putih mulus itu terhempas-hempas… Kedua tangan Wanara yang kekar lalu memegangi pinggang Maya supaya tak terlepas. Maya pun tak kuat untuk tak mengeluarkan suara-suara erangan dan jeritan nikmat sebagai reaksi genjotan itu… Vagina Maya terasa makin panas… Runtutan orgasme pun tak terelakkan lagi… Sementara kedua tangannya mencengkeram lantai, jeritan-jeritan nikmat pun terlontar dari mulutnya…

Ki Edan hanya tersenyum mengamati tingkah polah kedua makhluk yang berbeda spesies dan berbeda kelamin itu. Lalu ditinggalkannya sepasang kekasih yang sedang kawin di ruang tamu itu…

Wanara adalah seekor kera jantan bertubuh kekar. Bulu-bulunya yang berwarna kelam bertekstur kasar dan lebat. Tinggi badannya hanya sebatas dada Maya. Akan tetapi tenaganya menyamai kekuatan dua orang pria yang kuat. Demikian pula kekuatan seksnya yang beberapa kali lipat kekuatan seorang pria normal.

Berhubungan seks dengan seekor kera tentu saja berbeda dengan melakukannya bersama seorang pria. Maya harus membiasakan diri bertempelan dengan bulu-bulu Wanara yang kasar… Ia pun harus membiasakan diri dengan bau badan seekor kera yang tentu saja berbeda jauh dengan bau badan seorang manusia…

Belum lagi wajah seekor kera yang tentu saja jauh dari gambaran ketampanan seorang pria yang ada di dalam benak seorang wanita muda seperti Maya…

Satu hal yang sangat terasa adalah kekuatan seksual Wanara. Kera itu dapat menyetubuhinya dalam waktu yang lama hingga Maya dapat mengalami orgasme berkali-kali sebelum kera itu menyudahinya dengan menyemprotkan cairan spermanya yang banyak ke dalam rahimnya…. Selain seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa kera itu membutuhkan hubungan seks dalam frekuensi yang tinggi tiap harinya…

Hal lain yang harus dibiasakan oleh Maya adalah perilaku Wanara yang tak mengenal tempat jika ingin menuntaskan birahinya kepadanya… Saat hidup bersama Sapto, Maya biasa melakukannya hanya di seputar tempat tidur. Sekarang, bersama Wanara, praktis mereka bisa melakukannya di mana saja… Di dalam rumah, di pekarangan, di dalam hutan, di sungai, di atas pohon… dan sebagainya…

Maya pun harus membiasakan dirinya untuk berhubungan seks di muka umum. Tak jarang sehabis ia menyiapkan makanan bagi Ki Edan, Wanara langsung menaiki dirinya untuk meminta jatah. Maka, biasanya saat itu juga mereka akan menuntaskan nafsu birahinya di depan Ki Edan.

Sebenarnya awalnya Maya merasa malu… Pada mulanya ia selalu mengajak kera itu untuk mencari tempat yang tersembunyi terlebih dahulu. Akan tetapi Ki Edan sendiri yang mengajarkan Maya untuk tidak menunda-nunda hajat kera itu terhadap dirinya. Karena sekarang ia telah diperistri oleh kera itu, sudah jadi kewajiban Maya untuk melayaninya sesegera mungkin…

“Sebenarnya aku malu, Ki… makanya aku selalu mengajaknya pergi dulu mencari tempat yang tersembunyi… Barulah kubiarkan ia menyebadaniku…” kata Maya suatu waktu.

“Lagipula apakah kegiatan kami tak akan mengganggu seandainya dilakukan di depan Ki Edan?” tanya wanita itu.

“Tentu saja tidak… Kau kira aku tidak terbiasa melihat pasangan yang sedang kawin?” kata Ki Edan sambil tersenyum.

“Lakukan saja langsung jika si Wanara menginginkannya… Anggap saja itu tontonan pengantar makanku…” kata Ki Edan penuh pengertian.

Sebenarnya Maya khawatir jika Ki Edan jadi tergoda saat melihat aksinya yang panas bersama kera itu. Padahal tentulah ia sungguh-sungguh ingin menuntaskan ritual itu untuk menyempurnakan kesaktiannya. Bagaimanapun, karena Ki Edan sendiri sudah menyatakan tak keberatan, Maya pun mengikutinya saja.

“Baiklah, Ki… Kalau begitu,” kata Maya menyanggupi instruksi majikannya. Sejak itulah wanita itu akan serta-merta melayani Wanara kapan saja dan di mana saja kera itu menginginkannya.

Untunglah ada jamu ramuan Ki Edan yang kini rutin diminum oleh Maya. Benarlah apa kata jin tua itu… Maya tak pernah merasakan gairahnya setinggi ini seumur hidupnya. Setiap hari birahinya selalu naik sampai ke ubun-ubun… Jika itu terjadi, maka harus segera dilampiaskan… Jika tidak, pusinglah kepalanya ditambah dengan rasa gelisah yang tak henti-henti…

Maya bersyukur karena di situ ada Wanara yang kini memiliki libido yang sama dengannya dan dengan demikian mengerti akan kebutuhan seks dirinya… Ki Edan tentu saja tak bisa memenuhi kebutuhannya karena sedang menjalankan ritualnya. Bahkan Maya pun berandai-andai, jika Sapto suaminya ada di sini, tentulah ia pun kewalahan dan tak akan sanggup melayani nafsunya yang sekarang jadi menggebu-gebu.

Kini Wanara dan Maya jadi bergantian saling meminta terlebih dahulu untuk berhubungan seks. Jika kera itu yang birahi, ia akan segera mencari Maya yang biasanya beristirahat di pondok Ki Edan jika sedang tak ada pekerjaan. Sebaliknya, jika Maya sudah merasa suntuk dan pusing, dialah yang akan mencari Wanara di pepohonan atau di pekarangan rumah Ki Edan untuk minta disetubuhi saat itu juga di tempat.

Jika kera itu sedang tidak bernafsu, Maya tak segan untuk berusaha membangkitkan nafsunya dengan segala cara. Biasanya ia akan menggodanya dengan membelai-belai dan menciumi seluruh tubuh kera jantan itu lalu mengulumi penisnya sampai benar-benar berdiri mengeras…

Tenyata kebiasaan mereka bersetubuh di tempat terbuka dan disaksikan oleh siapa saja yang berada di sekitarnya itu memicu suatu peristiwa. Peristiwa yang akan mengubah hidup Maya di alam gaib itu…

Suatu hari sesosok gendruwo bernama Ki Gendeng berkunjung ke kediaman Ki Edan. Gendruwo adalah golongan jin tingkat rendah yang dikenal sangat tinggi hasrat birahinya dan juga doyan pada bangsa manusia. Saat itu kebetulan Wanara sedang mendapatkan jatah rutinnya dari Maya dan terlihat oleh Ki Gendeng. Wanita yang cantik itu tampak sedang pasrah ditunggangi oleh kera jantan yang sedang birahi itu.

Ki Gendeng pun mau tak mau berhenti dulu menyaksikan tontonan gratis itu dari kejauhan sebelum menjalankan niatnya menemui Ki Edan. Maya yang sedang digenjot Wanara pun sebenarnya sempat melihat sosok makhluk itu lalu bertatapan mata dengannya selama beberapa detik. Sejak terbiasa disetubuhi oleh Wanara di depan umum, Maya biasanya jadi lebih bergairah bila tahu ada yang menontonnya. Karena itu saat tahu ada pendatang asing yang memperhatikan aktifitasnya, wanita itu sama sekali tak merasa terganggu.

Sang gendruwo menyimak setiap detik perkawinan si wanita dan kera itu tanpa berkedip. Dilihatnya betapa wanita itu mengalami orgasme yang hebat sebelum si kera pun menyemprotkan spermanya ke dalam tubuh gendaknya itu. Ki Gendeng sampai meneteskan air liur melihatnya dan tak terasa air maninya pun ikut muncrat…

Begitu bertemu Ki Edan, ia pun mengadukan apa yang dilihatnya.

“Ki Edan, aku lihat kau memiliki piaraan seorang wanita cantik di pekaranganmu… Siapakah dia?”

“Ooh… Ya… Itu adalah tumbal pesugihanku yang tak dapat memenuhi janjinya…” jelas Ki Edan.

“Ia adalah istri dari si pelaku…” lanjutnya.

Ki Gendeng pun manggut-manggut mendengarnya.

“Tapi mengapa ia kauberikan begitu saja pada kera piaraanmu? Tidakkah kau suka lagi pada manusia?
Apalagi wanita itu sangatlah cantik…” tanya Ki Gendeng terheran-heran.

Ki Edan tersenyum.

“Tentu saja aku masih suka wanita dari bangsa manusia… Mataku pun tak buta, Ki Gendeng…”

“Aku tahu wanita itu sangat cantik…” lanjutnya. “Tapi saat ini aku sedang menjalani laku wesi geni untuk meningkatkan kesaktianku… selama 12 bulan purnama…”

“Selama itu pulalah aku harus menahan nafsu birahiku….”
Kembali gendruwo itu manggut-manggut mendengar penjelasan Ki Edan.

“Buatku tak masalah…” jelas Ki Edan lebih lanjut. “Tak sulit bagiku untuk mendapatkan wanita dari bangsa manusia untuk di lain waktu…”

“Kalau begitu, berikan saja wanita itu padaku, Ki Edan…” minta Ki Gendeng spontan.

“Sayang sekali kalau manusia secantik itu hanya untuk melayani nafsu seekor kera… Kau kan tahu kalau aku sangat doyan wanita…”

“Aku sudah langsung jatuh cinta padanya begitu melihat kecantikannya dan juga tahi lalat yang ada di tubuhnya… Sepertinya wanita itu benar-benar diciptakan khusus untukku, Ki…”

Ki Edan tampak termenung memikirkan permintaan itu. Sementara gendruwo itu tak bisa menyembunyikan keinginannya yang kuat dari wajahnya.

“Wanara adalah pengikutku yang sangat setia… Walaupun hanya seekor kera, ia telah banyak berjasa bagiku…”

“Mengambil wanita itu dari sisinya tentu akan berat baginya…. Kesedihannya adalah kesedihanku juga… Kira-kira apa yang bisa kau tawarkan padaku untuk menggantinya?”

“Aku akan membawa semua kaumku untuk mengabdi padamu, Ki Edan…”

“Apa pun akan kulakukan untuk mendapatkan wanita itu…. Aku sangat ingin menikmatinya dan mendapatkan keturunan darinya…”

Ki Edan kembali termenung sejenak.

“Baiklah, begini saja… Kuterima tawaranmu… Kau akan kuberikan wanita itu…” kata Ki Edan. Sontak wajah Ki Gendeng pun berubah senang…

“Tapi… supaya adil,” lanjut Ki Edan. “Akan kubiarkan Wanara mendapatkan terlebih dahulu persis seperti yang kauinginkan dari wanita itu…”

“Yaitu…?” tukas Ki Gendeng dengan wajah bertanya-tanya.

“Biarkan Wanara mendapatkan keturunannya terlebih dahulu dari wanita itu… barulah setelah itu giliranmu…”

Ki Gendeng termangu sejenak. Tentu saja itu berarti ia harus menunda hasratnya… namun tampaknya ia tak punya pilihan lain.

“Bagaimana… Cukup adil?” tanya Ki Edan meminta penegasan.

“Baiklah, Ki…. Aku terima…” tanggap gendruwo itu akhirnya.

Keduanya lalu berjabat tangan erat sambil tersenyum lebar menyikapi kesepakatan itu.

Sepeninggal Ki Gendeng, Ki Edan pun mengabarkan berita itu kepada Wanara dan Maya.

Wanara tentu saja sedih. Apalagi Maya telah mulai terbiasa dengan kebutuhan nafsu birahinya pada wanita itu. Wanita itu sudah benar-benar mengerti kapan dan bagaimana harus memuaskan hasrat birahinya. Ia bahkan sudah tak perlu meminum ramuan dari Ki Edan untuk bisa mengimbangi kebutuhan seks kera itu. Mereka sudah sampai ke tahapan saling menikmati hubungan seks mereka dengan frekuensi dan irama yang sama. Kera itu pun sudah mulai ketagihan menyetubuhi wanita cantik itu dan tidak bernafsu lagi terhadap makhluk sesama speciesnya.

Anehnya, Maya pun merasakan hal yang kurang lebih sama. Memang mereka berdua tak bisa saling berkomunikasi secara lisan. Bagaimanapun, selama ia diperistri oleh Wanara telah terjalin tak hanya hubungan fisik melainkan juga hubungan batin. Tentu saja di lain pihak ia pun tak mampu menolak perintah dari Ki Edan. Apapun, statusnya di alam itu adalah tetap sebagai piaraan Ki Edan. Ia harus pasrah dan mematuhi semua yang diperintahkan jin tua itu.

Wanara pun akhirnya mau menerima keputusan tuannya. Apalagi setelah ia diberi tahu bahwa wanita itu tak akan diserahkan kepada sang gendruwo sebelum ia berhasil menghamilinya.

Maka kehidupan kedua makhluk itu berjalan normal kembali seperti semula. Sampai suatu kejadian yang tak masuk akal pun akhirnya terjadilah.

Semakin hari Maya semakin sering merasakan mual. Ia pun semakin lama bisa merasakan adanya kehidupan baru di dalam perutnya… Ya, Maya telah hamil… Wanita itu pun mengabarkan berita itu untuk pertama kali kepada Wanara. Ia tak peduli apakah kera itu mengerti kata-katanya, yang jelas ia terus bercerita tentang kehamilannya. Tampaknya Wanara pun bisa mengerti. Ia pun tampak senang sambil mengelus-elus perut Maya dengan lembut. Mereka berdua pun lalu berciuman mesra.

Maya sebenarnya tak habis pikir, bagaimana bisa ia mengandung bayi seekor kera? Ia dan Wanara berasal dari spesies yang berbeda. Tentulah itu adalah suatu mukjizat yang hanya terjadi sekali di antara beberapa ribu atau bahkan beberapa juta kemungkinan…

Maya dan Wanara merasa gembira karena percintaan mereka ternyata membuahkan hasil. Namun mereka juga sadar bahwa itu menandai semakin berkurangnya hari-hari yang bisa mereka lewati berdua… Karena itulah mereka seolah ingin menikmati setiap detik kebersamaan mereka sebaik-baiknya. Di samping tentu saja sekarang mereka harus lebih berhati-hati dalam berhubungan intim karena adanya bayi yang dikandung oleh Maya…

Semakin hari perut Maya pun semakin besar. Ki Edan dengan penuh pengertian mengurangi pekerjaan yang harus ditangani Maya sehari-hari.

“Terima kasih, Ki..” kata Maya ketika diberitahu Ki Edan hal itu.

“Ya, kau jagalah kandunganmu… dan kauuruslah kera piaraanku,” kata Ki Edan.

“Baik, Ki..” angguk Maya mematuhinya.

Pada waktunya, Maya pun melahirkan bayinya yang berwujud seekor kera sebagai hasil hubungannya dengan Wanara.

Walaupun bayinya adalah seekor kera, naluri keibuan Maya serta-merta muncul. Disayanginya bayi kera itu sepenuh hatinya karena bagaimana pun darah manusianya ikut mengalir pula di dalamnya.

Setelah menyusui bayinya selama enam bulan, Ki Gendeng pun datang menagih janjinya.

Dengan berat hati Maya menitipkan bayinya pada Wanara dan Ki Edan. Lalu dengan pasrah ia mengikuti Ki Gendeng untuk memulai hidup barunya bersama gendruwo itu.

Ki Gendeng adalah gendruwo kelas rendah yang hidupnya di tempat lembab dan gelap. Berbeda dengan Ki Edan yang berasal dari jenis jin tingkat tinggi dan memiliki kecerdasan yang tinggi.

Wujud fisik Ki Gendeng sebenarnya lebih menyerupai monster. Kepalanya mirip kepala babi hutan dengan dua telinga yang besar dan lancip. Serangkaian taring menghiasi mulutnya. Kedua bola matanya besar dan berwarna merah menyala. Tubuhnya pun buncit seperti tubuh babi. Bulu-bulu hitam dan kasar tumbuh mulai dari kepalanya sampai memenuhi punggung dan kedua lengannya. Kedua lengan gendruwo itu panjang dan kekar seperti lengan Wanara, mantan kekasihnya. Kedua kakinya besar dan dilapisi oleh kulit yang tebal bersisik seperti kulit badak. Kakinya yang besar tidak diimbangi oleh panjangnya yang hanya sekitar separuh panjang lengannya.

Ada satu keistimewaan Ki Gendeng yang luar biasa. Penis gendruwo itu ternyata berukuran jumbo. Ukuran dan bentuknya tak jauh beda dengan alat kelamin seekor kuda.

Tak hanya itu, ternyata gendruwo itu pandai pula memanfaatkan ukuran alat vitalnya untuk memuaskan lawan mainnya. Memiliki ukuran penis yang besar, jika tak mampu mengaturnya, hanya akan menyakitkan wanita pasangannya. Dengan Ki Gendeng, Maya tak memiliki masalah itu.

Nafsu birahi Ki Gendeng pun tak kalah tingginya dibandingkan Wanara. Untunglah Maya sudah terbiasa melayani Wanara sehingga ia bisa langsung beradaptasi saat dituntut melayani hasrat seks yang menggebu-gebu dari gendruwo itu.

Perbedaan yang jelas antara Ki Gendeng dan Wanara adalah bahwa Maya bisa berkomunikasi lisan dengan gendruwo itu. Tak jarang mereka berdua terus ngobrol setelah selesai berhubungan badan. Akibatnya tak bisa dihindari, keintiman antara Maya dan Ki Gendeng mulai terjalin. Perlahan-lahan, Maya pun belajar untuk mencintai majikan barunya itu. Kemesraan semakin lama semakin mewarnai hubungan kedua makhluk itu.

Perbedaan lain yang kemudian diketahui Maya adalah bahwa Ki Gendeng tak pernah puas dengan satu orang wanita. Ia tahu kalau gendruwo itu sering masuk ke alam manusia dan mengganggu manusia. Biasanya yang diganggunya adalah ibu rumah tangga yang sedang ditinggal pergi oleh suaminya. Ki Gendeng biasa menyaru sebagai suami si wanita sehingga dengan leluasa menyebadaninya…

Pada awalnya Maya merasa cemburu.

“Saat kau menyebadani wanita-wanita itu, kau harus menyaru sebagai suami mereka… Karena kalau tidak mereka akan ketakutan dan menolakmu…” protes Maya.

“Denganku, kau bisa leluasa memperlihatkan wujud aslimu… dan aku melayanimu sepenuh hatiku…” lanjutnya sambil merajuk.

“Bahkan jika kau mau jujur membandingkan, aku rasa wajahku jauh lebih cantik daripada wanita-wanita yang kautiduri itu…” cerocos Maya tak mau berhenti.

Ki Gendeng tersenyum mendengar celotehan gundiknya yang cemburu itu.

“Semua yang kaukatakan itu benar, Sayangku…”

“Tapi kau harus ingat, bangsa kami memang tak pernah puas menyetubuhi wanita manusia… Setiap ada kesempatan, kami pasti akan melakukannya..”

“Bagaimana pun kau adalah gundikku yang paling istimewa… Kau sengaja kubawa kemari, setelah aku bersusah payah memintamu dari pelukan kera itu…” jelas Ki Gendeng. “Sementara wanita lainnya tak ada yang kuperlakukan seistimewa itu…”

Maya hanya terdiam mendengar penjelasan gendruwo itu. Diam-diam ia membenarkan perkataan Ki Gendeng. Ialah satu-satunya wanita yang beruntung dijadikan sebagai gundik gendruwo itu di alamnya. Wanita-wanita yang lain tetap tinggal bersama suami mereka di alam manusia dan hanya dikunjungi oleh Ki Gendeng sewaktu-waktu.

“Kau juga harus belajar berbagi, Maya…” kata Ki Gendeng mengajari wanita itu.

“Aku harus membagi kenikmatan seksual kepada istri-istri yang kesepian itu… Mereka jarang atau bahkan tak pernah menikmati kehidupan seks bersama suaminya… Karena itulah aku membantu mereka…” kata Ki Gendeng menjelaskan perilakunya.

“Demikian juga halnya dengan kau,” lanjut Ki Gendeng. “Jangan kira kau hanya akan melayani aku sendiri… Nanti kau juga harus belajar melayani teman-teman dan kerabatku sesama gendruwo…”

Maya terkejut mendengar kalimat Ki Gendeng yang terakhir… Melayani gendruwo yang lain?

“Ya, Maya… Tenang sajalah… Pelan-pelan dulu, nanti akan kukenalkan teman-temanku satu per satu kepadamu…” kata Ki Gendeng seolah bisa membaca pikiran wanita itu.

“B.. Baiklah… Ki….” kata Maya tergagap mencoba mematuhinya.

Lambat laun Maya pun memahami konsep berbagi yang diajarkan gendruwo itu padanya. Kini ia tak cemburu lagi jika Ki Gendeng mendatangi wanita-wanita lain untuk disetubuhinya.

Demikian pula dengan dirinya yang mulai belajar untuk tak hanya berhubungan seks dengan Ki Gendeng. Satu demi satu, Ki Gendeng memperkenalkan Maya dengan gendruwo-gendruwo lainnya yang beraneka ragam bentuknya… Ada yang seperti gorila, seperti orang Afrika, seperti serigala, dan lain-lain…

Mulanya Maya memang merasa risih… Namun dengan bimbingan Ki Gendeng yang penuh kesabaran, wanita itu akhirnya mau juga belajar membagi tubuh dan cintanya kepada makhluk-makhluk itu.

Sejak diajari oleh Wanara untuk bersetubuh di muka umum, Maya pun tahu kalau makhluk-makhluk yang kebetulan menontonnya sebenarnya jadi tergiur juga untuk ikut menyetubuhi dirinya. Cuma selama ini memang mereka takut terhadap Wanara dan Ki Edan sehingga mereka sebatas jadi penonton saja, tidak pernah ikut nimbrung.

Bagaimanapun, melihat minat para penontonnya, lama-kelamaan Maya mulai berfantasi disetubuhi juga oleh mereka. Ia mulai membayangkan nikmatnya disebadani oleh lebih dari satu pejantan. Tidak disangkanya kalau sekarang, setelah hidup bersama Ki Gendeng, khayalannya itu malah menjadi kenyataan. Maka Maya pun mulai membiasakan diri terhadap anjuran Ki Gendeng untuk berganti-ganti pasangan dalam bersetubuh.

Apalagi ketika Maya mulai belajar bahwa makhluk-makhluk itu ternyata menaruh hasrat yang sangat luar biasa kepada wanita manusia. Bagi mereka, bersetubuh dengan Maya adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Mereka sangat memuja wanita cantik itu dan menganggapnya seolah-olah dewi seks. Maya jadi tersanjung dan sebagai timbal baliknya, ia merasa berkewajiban untuk melayani mereka sebaik mungkin… Membagi kesenangan dan kenikmatan badani kepada sebanyak mungkin gendruwo yang mungkin selama ini tak semuanya memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung apalagi berhubungan seks dengan wanita manusia.

Beberapa purnama telah berlalu. Sebagai akibat hubungan asmara dengan Ki Gendeng dan kawan-kawannya, Maya pun akhirnya hamil. Ki Gendeng dan gerombolannya tetap setia memberikan nafkah batin kepada Maya sekaligus juga memuaskan nafsu birahi mereka sendiri sampai akhirnya Maya melahirkan bayi hasil benih cinta mereka bersama.

Diberinya nama anak laki-laki itu Dalbo. Anak itu wujudnya mirip manusia namun berbulu lebat di beberapa bagian tubuhnya. Sebagian kulitnya pun terasa keras seperti kulit badak. Saat lahir, seluruh giginya telah lengkap. Inilah bayi ketiga yang dilahirkan wanita itu dari rahimnya. Semuanya memiliki ayah yang berbeda-beda dan dari jenis makhluk yang berbeda-beda pula…

Dengan penuh kasih sayang, Maya menyusui anak ketiganya itu secara rutin. Dilakukannya hal itu di sela-sela kesibukannya melayani hasrat para ayahnya yang tak habis-habis.

Selama hidup di alam gaib, Maya telah mengalami diperistri oleh makhluk-makhluk selain manusia. Mulai dari hewan sampai gendruwo. Dari sisi kehidupan seksual, wanita itu tak mengalami masalah sama sekali. Malah ia merasakan kenikmatan yang lebih daripada saat kehidupannya berumah tangga dengan Sapto. Ia pun merasa beruntung telah mendapatkan pengalaman yang langka tersebut.

Namun, bagaimana pun bervariasinya kehidupan seksnya di alam sana, ia tetap tak bisa melepaskan ingatannya dari Sapto, suaminya yang sah. Hinggap dari pelukan demit yang satu ke demit yang lain memang memberikannya kepuasan seksual yang tiada tara. Namun ia pun tetap merindukan kehidupan normalnya di alam manusia. Ia tahu keberadaannya di alam ini bukanlah karena salahnya, melainkan karena kesalahan suaminya.

Seandainya saja suaminya mau bertobat, ia pun ingin dapat kembali ke kehidupannya yang biasa-biasa saja di alam manusia. Maya pun tentu saja rindu dengan putri satu-satunya di sana. Rasanya sudah lama sekali ia hidup di alam jin ini. Bagaimanakah kiranya kabar dan rupa putrinya itu kini? Masihkah ia ingat akan dirinya sebagai ibu kandungnya?

Di lain pihak, kebetulan pula Ki Edan mendapatkan kabar bahwa Sapto telah melakukan pertobatan. Ia benar-benar telah menyesali segala perbuatannya. Tak hanya itu, ia pun melakukan segala daya upaya untuk mendapatkan istrinya kembali. Dimintanya bantuan seorang kiai untuk melakukan hal itu.

Di alam manusia, Sapto yang sangat stress dan mengalami depresi menjalani kehidupan yang sangat berat. Hampir saja ia mati karena tak kuat menahan cobaan itu sendirian. Untunglah ada seorang Kiai bernama Kiai Badrun yang mau menolong Sapto. Kiai itu kebetulan tinggal di lingkungan yang sama dengan Sapto dan telah mengetahui cerita tentang pria malang itu dari para tetangganya.

Kiai Badrun pelan-pelan membimbing Sapto untuk bertobat dan mulai menjalani perintah agama. Sangat berat usaha yang dilakukannya untuk menolong pria itu walaupun akhirnya berhasil juga. Setelah Sapto berhasil disembuhkannya, barulah mereka mulai fokus untuk menyelamatkan istri Sapto.

Melalui kekuatan batinnya, Kiai Badrun sebenarnya mengetahui persis apa yang telah dialami oleh Maya selama di alam gaib namun ia tak memberitahukan itu sama sekali kepada suaminya. Ia tahu, jika Maya tak segera diselamatkan, wanita itu akan selamanya menjadi budak para dedemit. Karena itu ia berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan istri Sapto itu ke alam asalnya. Paling tidak di alam manusia ini ia akan bisa berusaha membimbing wanita itu sama seperti yang sudah dilakukannya terhadap suaminya.

Ki Edan pun tak bisa berbuat banyak. Jika orang yang mencari pesugihan kepadanya telah benar-benar bertobat, ia tak akan bisa menggunakan kekuasaannya untuk menguasai orang itu lagi. Begitu juga apa yang telah diambilnya dari Sapto, yaitu Maya istrinya, harus pula ia kembalikan.

Karena tak punya pilihan lain, Ki Edan pun menghubungi Ki Gendeng. Diberitahukannya kabar itu dan disarankannya untuk segera merelakan gundiknya pergi karena ia akan diambil kembali oleh suaminya.

Ki Gendeng tentu saja merasa terpukul. Ia telah begitu intim dengan Maya dan bahkan telah mendapatkan keturunan pula dari wanita itu. Ki Gendeng mengatakan pada Ki Edan, kalau Maya diambil, bukan hanya dirinya yang akan kehilangan, melainkan juga seluruh gendruwo pria dalam kaumnya. Itu dapat dipahami karena selama ini Ki Gendeng telah berbaik hati untuk membagi Maya kepada seluruh kerabat dan temannya. Dengan demikian, bukan cuma dia seorang yang mendapat kenikmatan bersetubuh dengan wanita cantik itu, melainkan juga seluruh gendruwo lelaki di dalam kaumnya.

Bagaimanapun Ki Gendeng sadar bahwa ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Pengaruh pertobatan Sapto terasa sangat kuat. Semakin hari semakin kuat. Jika Maya tak segera dikembalikan ke dunianya, risiko yang harus mereka tanggung terlalu besar. Kerajaan dan kekuatan mereka lambat laun akan tergerogoti.

Akhirnya mereka pun sepakat untuk mengembalikan Maya kepada suaminya. Sekedar untuk penghibur, mereka meyakinkan diri mereka sendiri bahwa masih banyak kesempatan untuk mendapatkan lagi wanita manusia yang bisa mereka jadikan sebagai pemuas birahi. Bagaimana pun, memang tak mudah untuk mendapatkan yang secantik, seseksi, dan sepatuh Maya.

Pada waktu yang telah disepakati, Ki Gendeng dan rombongannya mengantarkan Maya kembali kepada Ki Edan. Rombongan yang panjang itu terdiri dari seluruh gendruwo laki-laki yang pernah mengawini Maya selama wanita itu diperistri oleh Ki Gendeng. Maya lalu menitipkan bayi laki-lakinya kepada Ki Gendeng untuk diurus. Kejadian saat Maya harus meninggalkan Wanara untuk dibawa Ki Gendeng seakan berulang. Kini Ki Gendeng lah yang harus ditinggal oleh Maya supaya ia bisa dikembalikan kepada Sapto, suaminya yang sah.

Maya tentu saja ingin dikembalikan kepada suaminya yang sah. Bagaimanapun, di lain pihak ia pun merasa sedih harus meninggalkan gerombolan gendruwo pimpinan Ki Gendeng yang selama ini telah mengurusnya dan memberinya kepuasan seksual. Yang paling membuatnya sedih adalah harus meninggalkan Dalbo, darah dagingnya hasil percampuran dengan gendruwo tersebut.

Saat diserahterimakan kembali kepada Ki Edan, Maya melihat jin tua itu menggenggam sesuatu di tangannya. Sesuatu yang sangat familiar dengannya, yaitu seuntai kalung yang biasa dikenakan oleh wanita itu saat masih tinggal di situ. Kalung yang menandakan pemakainya adalah milik Ki Edan. Ya, walaupun Maya hanya transit di kediaman Ki Edan sebelum dikembalikan kepada suaminya, status dirinya saat itu adalah kembali di bawah kekuasaan Ki Edan. Ia pun dapat memahaminya.

Maka ketika Ki Edan mendekati dirinya untuk menyematkan kalung itu kembali ke lehernya, Maya segera menyibakkan rambutnya yang hitam panjang untuk memudahkan jin tua itu melakukan pekerjaannya.

Setelah berpamitan, gerombolan Ki Gendeng berlalu meninggalkan kediaman Ki Edan. Ki Edan pun membawa Maya masuk ke rumahnya yang telah ditinggalkan oleh wanita itu selama beberapa lama.

Pandangan Maya menerawang menjelajahi rumah jin tua yang eksotis itu. Ada nostalgia yang muncul kembali di benaknya. Secara fisik tak banyak yang berubah. Hanya ada suasana berbeda yang dirasakannya. Ada semacam keheningan dan kekosongan…

Ki Edan bisa merasakan apa yang ada dalam pikiran Maya.

“Wanara sekarang tak ada di sini lagi. Ia sudah kukirim kembali ke alam manusia….” kata Ki Edan.

Maya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ki Edan. Ia mengerti sekarang kenapa suasana di situ dirasanya lebih sepi. Itu menjelaskan semuanya.

“Ia gelisah terus sejak dirinya kautinggalkan. Karena itulah kuiizinkan ia bersama anak kalian pergi ke alam manusia,” lanjut Ki Edan. “Harapannya, ia dapat menemukan wanita lain sebagai pengganti dirimu. Ia telah ketagihan menyetubuhi wanita manusia. Jika di sini terus, tentu ia tak akan mungkin melakukannya…. Aku hanya berharap ia berhasil menemukan jodohnya di sana…”

Maya hanya tercenung mendengar penjelasan Ki Edan. Ada sedikit perasaan bersalah tersirat di dalam hatinya. Apa daya, waktu itu ia hanya menjalankan perintah dari Ki Edan sebagai tuannya. Maya hanya bisa berharap kera itu segera menemukan wanita lain di sana. Kalau tidak, mungkin ia terpaksa mencari mantan kekasihnya itu saat sudah dikembalikan Ki Edan ke alam yang sama.

Maya sadar ia masih memiliki perhatian pada mantan kekasihnya itu. Ia ingin tahu bagaimana kondisi mantan belahan jiwanya itu sekarang. Jika ia baik-baik saja dan telah menemukan wanita lain yang bisa dijadikan sebagai pemenuh kebutuhan birahinya, ia akan merasa turut senang. Jika tidak, ia ingin sekali dapat menghiburnya dan memberikan tubuhnya kembali untuk disenggamai oleh kera yang malang itu sebagai pemuas dahaganya untuk sementara saja, sampai ia mendapatkan penggantinya. Bukannya ia tak mau hidup bersama Wanara lagi tapi di alam manusia sana ia telah mempunyai Sapto sebagai suaminya.

“Lalu, bagaimana dengan anakku…?” Naluri keibuan Maya segera muncul kembali.

“Jangan khawatir… Wanara akan menitipkannya kepada keluarganya untuk diurus dengan sebaik-baiknya… sementara ia melakukan pencariannya….”

Sedikit banyak Maya merasa lega mendengar penjelasan itu.

Maya lalu mohon izin kepada Ki Edan untuk mandi karena ia baru saja bersih kembali dari haidnya.

Satu hal yang tak disadari Maya, bahwa Ki Edan telah berubah… Saat itu Ki Edan telah merampungkan ilmunya. Sekarang ia tak perlu lagi menahan nafsu birahinya. Ia sekarang sudah lebih sakti dan dapat kembali ke sifat asalnya yang senang mengumbar birahi….

Maya yang tak menyadari itu membiarkan saja ketika Ki Edan menatapinya selama ia mandi di pancuran. Ia sudah terbiasa bugil dan mempertontonkan keindahan tubuhnya di hadapan tuannya itu.

Ki Edan baru menyadari betapa cantiknya Maya. Timbullah keinginannya untuk juga melampiaskan birahinya kepada wanita itu.

“Maya, kau cantik sekali…” desah Ki Edan mengutarakan kekagumannya.

“Ada apa, Ki…?” tanya Maya keheranan sambil berdiri di bawah pancuran. “Kau telah begitu baik kepadaku selama ini… tapi rasa-rasanya kau jarang memujiku seperti itu….”

“Aku telah berbuat baik kepadamu…?” tanya Ki Edan seolah meminta penjelasan.

“Ya, Ki… Kau telah mencarikanku jodoh selama tinggal di sini dan mengajariku banyak hal…” jelas wanita itu sambil tersipu.

“Aaah… itu bukan apa-apa, Sayangku…” kata Ki Edan. “Memang itulah salah satu tujuanku membawamu kemari…”

“Kau suka dengan apa yang telah kulakukan padamu selama ini?”

Maya mengangguk sambil tersenyum.

“Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, Ki…”

“Yaitu?”

“Mengapa kau tiba-tiba memujiku…”

“Maya, aku ingin kau tahu satu hal…”

“Aku telah menyelesaikan ritualku… Kini aku semakin sakti… dan dapat menyalurkan hasrat seksualku lagi seperti biasa…” lanjut Ki Edan.

Mata Maya terbelalak mendengar penjelasan itu. Entah kenapa rasanya ia senang sekali mendengarnya. Tanpa berkata apa-apa, Ki Edan pun berjalan mendekati wanita itu. Keduanya saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seakan ada suatu kontak batin yang kuat sedikit demi sedikit terjalin di antara mereka berdua. Lalu entah siapa yang memulai, tiba-tiba kedua makhluk itu pun saling berpelukan dan berpagutan di bawah pancuran…

Momen yang terjadi sekilas dan tiba-tiba itu ternyata membawa Maya ke suatu titik balik. Suatu hal besar yang di luar pemikiran dan perkiraannya telah terjadi. Hal itu tiba-tiba terlintas di dalam benaknya. Membuatnya tiba-tiba mampu membuat suatu keputusan berani yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya.

“Ki, bawalah aku…” tiba-tiba Maya berkata setelah mereka berciuman beberapa lama.

“Aku rela tidak kaukembalikan kepada suamiku… asal bisa mengikuti dan mengabdikan diriku padamu…” katanya mantap sambil menatap ke arah mata tuannya yang sekaligus ia harapkan mau menjadi kekasihnya pula…

Maya baru sadar bahwa ia sebenarnya telah mengagumi jin tua yang gagah perkasa itu sejak pertemuan pertama mereka. Sekarang ia baru sadar bahwa ternyata ia juga mencintainya dan rela dijadikan sebagai apa pun olehnya.

Ki Edan balas menatap dalam-dalam mata wanita yang berada dalam pelukannya itu. Dilihatnya pancaran mata yang tulus dan jujur dari seorang wanita yang tengah jatuh cinta….

“Sayang… aku tahu perasaanmu… Hanya saja untuk sementara ini aku terpaksa mengembalikan dirimu kepada suamimu. Ada banyak konsekuensinya jika itu tidak kulakukan…” Ki Edan mencoba menjelaskan.

Ada gurat kekecewaan tergambar dalam mata wanita itu. Ki Edan bisa melihatnya dengan jelas.

“Tapi jangan khawatir… Sebelum kau kukembalikan kepada suamimu, kita tetap bisa menjalani malam pengantin bersama…” hibur Ki Edan.

“Oooh… Ki…” desah Maya.

Mereka pun berpelukan erat di bawah pancuran air.

Tak sulit bagi Ki Edan untuk membimbing Maya supaya mau melayaninya sehingga ia akhirnya berkesempatan menuntaskan nafsunya pada wanita cantik itu. Kebetulan Maya pun sedang berada di puncak birahinya karena baru memasuki masa subur.

Di ruangan pribadi Ki Edan yang bernuansa hutan, kedua makhluk berbeda alam itu pun memadu kasih seperti layaknya sepasang pengantin baru. Maya seakan baru tersadar bahwa inilah sebetulnya saat yang ditunggu-tunggunya sejak pertama kali ia dibawa ke alam jin.

“Ki Edan, akhirnya kita bisa bersatu juga…” desah Maya yang terbaring pasrah tak berdaya dalam pelukan Ki Edan.

“Sejak pertama bertemu denganmu… aku sudah ingin merasakan kejantananmu…” jelas Maya membuka rahasianya.

“Walaupun keramu yang terlebih dahulu mendapatkan diriku… Aku lega karena akhirnya kita pun bisa bersetubuh di ranjang ini…” kata Maya mencurahkan isi hatinya.

“Maya….” balas Ki Edan haru sambil memagut bibir wanita itu. Mereka pun berciuman dengan dalam seperti sepasang kekasih yang sudah lama terpisahkan…

Ki Edan menyisipkan penisnya yang berukuran besar ke dalam vagina Maya. Wanita itu menahan nafas. Ia menantikan kenikmatan yang sudah lama diidam-idamkannya. Maya merasa badannya bergetar saat penis Ki Edan bersatu secara utuh dengan vaginanya… Untunglah Maya sudah terbiasa melayani Ki Gendeng dan teman-temannya. Kebetulan gendruwo-gendruwo itu semuanya memiliki ukuran penis yang besar melebihi ukuran penis manusia. Bagaimanapun penis Ki Edan memang masih lebih besar lagi…

Setelah Maya terbiasa menerima alat kelamin Ki Edan di dalam tubuhnya, jin itu pun mulai menggenjotnya. Maya pun menikmati setiap detik dari persenggamaan mereka.

Keduanya menjalani persenggamaan seperti layaknya sepasang pengantin baru. Seperti sudah diduga oleh Maya, Ki Edan adalah pecinta yang sangat hebat di atas ranjang. Dengan pengalamannya yang sudah mencapai ribuan tahun, dibawanya Maya ke puncak orgasme sampai berulang-ulang dengan berbagai teknik yang membuat wanita itu terkagum-kagum.

Hingga saat Maya sudah kelelahan dalam kubangan orgasme yang datang beruntun, Ki Edan memberi kesempatan wanita itu untuk beristirahat sejenak. Masih dengan alat kelaminnya yang tegang tertancap teguh di dalam kemaluan Maya, jin tua itu mendekatkan wajahnya ke wajah Maya yang ada persis di bawahnya.

“Maya, kinilah saatnya…. aku titipkan keturunanku di dalam rahimmu…”

“Baik, Ki… anak kita berdua…” balas wanita itu dengan mesra.

“Aku berjanji… aku berjanji akan merawatnya sebaik mungkin… Lepaskanlah… lepaskanlah spermamu ke dalam rahimku, Ki” kata Maya memohon.

“Tentu, gendakku….” balas Ki Edan sambil meningkatkan genjotannya yang membuat kemaluan Maya terasa semakin panas… Akibatnya, orgasme yang beruntun pun tak terelakkan lagi menerpa tubuh wanita itu… Maya pun merasa semua tulang belulangnya bercopotan. Suasana yang memabukkan menghempas dirinya yang bugil dalam pelukan jin tua itu….

“Ooooouuuuu….uuuuhhh…..” desah wanita itu berkepanjangan sambil satu tangannya meremas seprai ranjang tempat mereka memadu kasih. Sementara tangannya yang lain mendekap tubuh besar jin tua itu yang menindih tubuhnya.

Tak lama kemudian, Maya pun merasakan jin itu melepaskan semprotan air maninya ke dalam rahimnya.

Ki Edan melenguh panjang. Maya pun tersenyum bahagia dengan lebarnya. Mereka lalu saling berpagutan sambil berpelukan. Beberapa lama mereka berdua terpaku dalam posisi Ki Edan menindih tubuh Maya. Kedua alat kelamin mereka masih bersatu. Cairan sperma jin tua itu tampak mengalir keluar dari dalam vagina Maya saking banyaknya… Membasahi seprai putih yang mereka tiduri.

Ki Edan puas karena akhirnya ia berhasil pula mencicipi tubuh Maya walaupun terlambat. Ia pun sebetulnya masih ingin lebih jauh lagi menikmati wanita itu. Apa daya tuntutan dari suaminya yang telah bertobat harus dipenuhinya terlebih dahulu.

Bagaimanapun, Ki Edan sadar bahwa walaupun Sapto sekarang telah kuat, kebalikannyalah yang terjadi dengan istrinya. Istrinya memang tidak pernah meminta pesugihan. Namun pengalamannya hidup di alam gaib dan diperistri oleh berbagai macam makhluk tentulah sedikit banyak telah membawa pengaruh.

Maya yang sekarang berbeda dengan Maya yang dulu pada saat ia diambil dari sisi suaminya. Wanita itu kini telah terbuka matanya terhadap semua ajaran dan praktek kebebasan seksual yang dilakukan oleh bangsa demit dan jin. Ia telah menjadi bagian dari mereka. Apalagi Maya pun telah melahirkan anak-anaknya di alam gaib ini. Ini membuat ikatan yang kuat antara wanita itu dengan alam ini.

Karena alasan itulah, Ki Edan percaya sepenuhnya dengan pengakuan Maya yang tulus sebelum mereka memulai persetubuhan tadi.

Ki Edan percaya bahwa dia masih akan bisa bersua kembali dengan Maya di lain kesempatan. Itu pula sebabnya ia begitu percaya diri untuk menitipkan spermanya di dalam rahim wanita itu. Ia tak mau ketinggalan dari para hamba pengikutnya yang telah mendapatkan keturunan dari wanita cantik yang subur itu. Setiap makhluk di alam jin itu akan naik derajat dan wibawanya jika berhasil mendapatkan keturunan dari seorang wanita manusia. Untunglah mereka melakukan persenggamaan itu bertepatan dengan mulainya masa subur Maya… Harapannya, jika Maya telah kembali kepada suaminya, ia akan hamil dan melahirkan anak sebagai hasil hubungan cinta mereka malam itu.

Dua hari dua malam Ki Edan menyetubuhi Maya. Kamar tidur Ki Edan pun menjadi saksi bulan madu dari pasangan yang sedang dimabuk kepayang itu. Saat itulah Maya sadar bahwa hidupnya telah ditakdirkan untuk sepenuhnya menghamba kepada jin tua yang perkasa itu.

Walau apa pun yang telah terjadi dalam waktu yang singkat itu, Ki Edan adalah makhluk yang mau menepati janjinya. Setelah puas menikmati malam pengantinnya bersama Maya, Ki Edan mengingatkan wanita cantik itu untuk bersiap-siap. Hari itu ia akan mengembalikan wanita itu kepada suaminya.

Ki Edan dan Maya berjalan berpegangan tangan menyusuri gua persemedian Ki Edan. Udara dalam gua itu semakin ke dalam semakin dingin. Maya yang tubuhnya tak dilapisi sehelai kain pun merasa merinding. Hari itu Ki Edan akan menepati janjinya untuk mengembalikan Maya ke alam manusia.

Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, sampailah mereka ke sebuah kolam yang bening di dalam gua itu. Kolam yang cukup besar itu begitu tenang airnya. Ribuan stalagtit dan stalagmit tampak mengitarinya.

Ki Edan menyuruh Maya untuk mengambil posisi semedi di atas sebuah batu besar di tengah kolam itu.

“Duduklah di atas batu itu dan bersemedilah, supaya aku bisa mengembalikanmu ke alam manusia..” kata Ki Edan.

“Baiklah, Ki…. Aku pamit dulu untuk kembali ke duniaku,” kata Maya.

Maya mencium tangan Ki Edan sebelum melakukannya. Ki Edan pun lalu meraih wajah Maya dan memagut bibirnya lama. Tubuh keduanya pun berdekapan erat.

Saat berdekapan, Maya merasa penis Ki Edan tumbuh membesar… Ia tahu, jin itu terangsang karena bersentuhan dengan tubuh telanjangnya… Maya pun merasakan getaran birahi yang sama. Wanita itu lalu dengan sengaja menggoda dan merangsangi kembali majikannya dengan cara menggerak-gerakkan badannya di dalam pelukan jin itu sampai birahinya benar-benar naik.

“Ki… Kumohon, setubuhilah aku untuk yang terakhir kalinya….” pinta Maya dengan penuh harap.

Maka di tempat itu, Maya yang sudah memasrahkan dirinya kembali disetubuhi si jin tua. Selain menyimpan spermanya ke dalam rahim Maya yang subur, Ki Edan pun sempat mengguyurkan spermanya yang luar biasa banyaknya itu ke sekujur tubuh Maya.

Maya yang sudah telanjur jatuh cinta kepada jin tua itu masih merasa sulit untuk berpisah dengannya. Wanita itu terus memeluk Ki Edan yang baru saja menyetubuhinya. Setelah Ki Edan menyetubuhinya untuk yang kedua kalinya dan berjanji untuk menemuinya lagi saat ia telah kembali ke alam manusia, barulah Maya bersedia untuk berpisah.

“Maya, karena keberadaanmu di sini adalah karena ulah suamimu dan sekarang suamimu telah bertobat, maka aku berkewajiban untuk mengembalikanmu sekarang,” jelas Ki Edan.

“Tapi setelah kau kembali ke duniamu, aku akan menemuimu lagi,” janji Ki Edan. “Dan jika saat itu kau masih tetap ingin ikut denganku dan mengabdi padaku, tak ada lagi yang bisa menghalangi kita.”

“Hubungilah aku, Ki…. Temuilah aku…. Aku akan merindukanmu…” Maya memohon penuh harap.

“Aku berjanji akan mengikutimu bila kau datang menjemputku kelak….” kata wanita itu memastikan niatnya pada kekasihnya.

Ki Edan tersenyum penuh makna mendengar janji gendaknya yang cantik rupawan itu.

“Sesampainya di sana, mungkin kau akan melupakan semua yang telah terjadi di dunia gaib ini… tapi aku akan menghubungimu,” jawab Ki Edan.

“Aku tak akan membersihkan sperma hasil persetubuhan kita yang terakhir ini… Mudah-mudahan sesampainya di alamku aku masih akan mengingatmu dengan melihat ini semua…”

Ki Edan kembali tersenyum mendengar kesetiaan gundiknya. Dalam hati ia meneguhkan niatnya untuk menghubungi Maya kembali. Akhirnya tibalah saat perpisahan. Ki Edan melepaskan kalung yang melingkar di leher Maya yang selama ini menandakan wanita itu adalah miliknya. Dalam dadanya, Maya merasa sesak karena ada perasaan tak rela…

Tanpa berkata-kata lagi, Ki Edan pun bergerak menjauh. Tinggallah kini wanita itu sendirian.

Maya duduk di atas batu itu dan bersemedi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dan meletakkannya di depan dadanya.

Matanya terpejam dan dikosongkannya pikirannya. Cukup lama ia berada dalam keadaan bugil di posisi itu sampai di sekelilingnya terasa gelap. Perlahan-lahan, terasa air kolam seperti meningkat naik dan menyelimuti dirinya. Anehnya ia tetap dapat bernafas. Seolah ada suatu selaput gaib yang menyelubungi dirinya. Sementara air di sekelilingnya terasa berputar perlahan-lahan mengelilingi dirinya. Makin lama makin kencang.

Maya merasa ia tenggelam di pusaran air. Pusingan air membuat kepalanya menjadi pening. Tak lama kemudian ia tak sadarkan diri.

Sapto pun menemukan kembali istrinya yang sudah lama hilang. Kiai Badrun yang selama ini membantu Sapto untuk bertobat dan berusaha mengambil kembali istrinya, sebelumnya telah mengingatkannya untuk bersiap-siap pada malam itu. Berdasarkan penerawangan gaibnya ia tahu istri Sapto akan dikembalikan malam itu.

Sapto terkejut ketika mendengar suara guntur menggelegar seperti tepat di dalam rumahnya yang kecil. Bumi pun terasa bergoyang selama beberapa detik… Tengah malam itu ia sedang berkontemplasi sambil berjaga-jaga. Seberkas cahaya yang sangat terang berkelebat dari dalam kamar mandi. Didapatinya Maya tergolek tak sadarkan diri di lantai kamar mandi dalam keadaan basah kuyup terbungkus selaput kental di sekujur tubuhnya yang bugil. Lapisan itu terasa seperti lendir…. seperti sperma sapi… hanya dalam jumlah yang sangat banyak…. Sapto tak tahu benda apa itu.

Yang dikhawatirkannya saat itu hanyalah kondisi istrinya. Dilihatnya istrinya tak bergerak. Ia takut kalau-kalau istrinya telah mati. Ia sangat bersyukur ketika mendapati jantung istrinya masih berdetak. Ia hanya pingsan.

Sambil menunggu istrinya bangun, pelan-pelan dibersihkannya tubuh istrinya dari lendir yang lengket itu. Dibasuhnya dengan air bersih dan sabun lalu dikeringkannya. Dibopongnya tubuh yang lunglai itu ke atas tempat tidur. Diambilnya gaun tidur istrinya yang sudah lama tak digunakan lalu dikenakannya dengan hati-hati.

Tak lama kemudian, Maya pun terbangun dari tidur panjangnya. Dilihatnya suaminya berada di sampingnya.

“Mas Sapto…” seru Maya lemah sambil berusaha bangkit. Badannya terasa lemas semua.

“Sayangku…,” sambut Sapto yang dari tadi duduk di sampingnya. Dipeluknya tubuh istrinya yang terasa tak bertenaga. Ditumpahkannya kerinduannya yang telah lama ditahannya.

“Maafkan aku, sayang… Maafkan…” Sapto meminta maaf pada istrinya sambil terisak-isak.

“Ada apa, Mas… Apa yang telah terjadi…?” desah Maya kebingungan. Ia rasanya seperti baru kembali dari tidur yang panjang. Rasanya seperti orang linglung. Tak ada satu pun pengalamannya di dunia gaib sana yang diingatnya. Tubuhnya lemas bukan main. Seluruh tulangnya serasa bercopotan. Capek sekali…

Sekilas ia ingat dibawa pergi oleh sesosok makhluk gaib yang mengerikan sebagai tumbal pesugihan suaminya. Itu saja…. Mengingat itu Maya pun menangis… Lalu mengapa sekarang ia bisa berada di sini? Apakah semuanya hanya mimpi?

“Mas… Bagaimana ini bisa terjadi…? Kau sudah…?” isak Maya terbata-bata. Sekilas wanita itu melihat perbedaan pada suaminya. Wajahnya seperti jadi lebih rapi, lebih bercahaya dan bijaksana. Apakah suaminya telah berubah?

“Jangan khawatir, sayang… Semuanya sudah usai… Sudah usai… Tak perlu kaupikirkan lagi…” kata Sapto sambil menangis.

Sepasang suami isteri itu pun saling berpelukan melepaskan kerinduan. Mencoba melupakan masa lalu. Sambil berusaha bangkit untuk memulai hidup baru….

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Erotic Black Magic

Copyright 2002, by Dewi Setyowati (mediterania2000@yahoo.com)

(Pemaksaan, Istri Selingkuh)

Selama ini aku menjalani kehidupanku dengan normal, baik dalam rumah tangga maupun lingkungan kerjaku. Suamiku orangnya amat pengertian dan memenuhi segala kebutuhanku baik lahir maupun batin. Aku dan Mas Hendra menikah setamat kuliah karena kami telah cukup lama berpacaran sebelumnya.

Aku dilahirkan dalam lingkungan yang memegang teguh agama Katolik dan adat Jawa. Kehidupanku boleh dibilang berkecukupan. Ayahku adalah seorang pamong di daerah Jawa Tengah. Sedangkan orang tua Mas Hendra pun terbilang orang cukup berada dan menetap di Jakarta.

Selama bersama-sama menempuh kehidupan berumah tangga sekitar satu setengah tahun, kami belum memiliki anak. Sejak awal kami memang sengaja menundanya. Mas Hendra ingin aku mencurahkan perhatianku kepada pekerjaan. Di samping kami pun ingin tetap menikmati kehidupan berdua tanpa diganggu anak dulu.

Saat ini usiaku menginjak 27 tahun. Kulitku sawo matang. Tinggiku 168 cm dengan rambut yang panjang dan lurus. Kata teman-temanku, wajah dan bentuk tubuhku mirip Diah Permatasari yang juga asli Jawa.

Tidak heran selama aku kuliah dulu di daerah Surakarta, banyak teman sekampusku yang coba mendekati. Walaupun demikian, hatiku akhirnya terpaut pada Mas Hendra saja. Bukan materi yang aku kejar pada dirinya, melainkan sikapnya yang santun terhadap diriku.

Kebetulan memang kalau Mas Hendra datang ke kostku selalu pakai BMW atau Mercy milik orang tuanya. Walau sebetulnya aku lebih suka jika ia datang dan menjemputku pakai sepeda motor saja.

Kehidupan seksualku berjalan normal. Mas Hendra pun tahu seleraku. Ia amat mengerti kapan kami biasa berhubungan badan dan kapan tidak. Aku juga tidak mau Mas Hendra terlalu memforsir tenaganya untuk melakukan kewajibannya. Sebagai wanita Jawa aku dituntut untuk nrimo dan pasrah saja.

Kami tinggal di Surakarta dan menempati rumah pemberian orang tua Mas Hendra. Di rumah yang luas dan asri ini, kami tinggal dan ditemani dua orang pembantu suami istri. Kedua pembantu itu telah lama ikut dengan orang tua Mas Hendra. Umur mereka kira-kira 65 tahun. Yang perempuan bernama Mbok Lastri dan yang laki-laki Pak Bidin. Kami mempercayakan rumah kepada mereka jika kami pergi kerja.

Setiap hari aku ke kantor kadang diantar Mas Hendra dan kadang aku nyetir sendiri. Suatu saat ketika pulang kantor dan mau ke rumah, aku tanpa sengaja menyerempet sebuah sepeda yang dikemudikan oleh seorang pria paro baya. Pria itu jatuh.

Karena takut dan kaget, maka aku larikan saja mobilku ke arah rumah. Sesampai di rumah, kumasukkan mobil dan diam di kamar. Masih terbayang olehku saat pria itu jatuh dan memanggil-manggil aku untuk berhenti namun aku tancap gas.

Di rumah perasaanku tak tenang. Aku tak menceritakan kejadian itu kepada Mas Hendra.

Keesokan harinya aku minta diantar ke kantor oleh Mas Hendra.

Anehnya, lalu hampir tiap malam aku bermimpi bertemu dengan pria yang kutabrak itu. Sampai-sampai Mas Hendra heran akan sikapku yang berubah dingin dan gelisah. Lalu Mas Hendra menanyakan sebab perubahan sikapku itu.

Aku pun akhirnya berterus terang dan menceritakan semuanya. Mas Hendra bisa memahaminya. Lalu ia sarankan aku untuk mengambil seorang sopir untuk mengantarku. Aku pun setuju sebab sejak saat itu aku memang trauma menyetir sendiri.

Beberapa hari kemudian, datanglah sopir yang dicari Mas Hendra itu. Alangkah kagetnya aku, soalnya ia adalah orang yang aku tabrak tempo hari. Ia pun kaget, namun aku berusaha mengatur sikapku. Aku yakin ia pun masih ingat denganku saat kutabrak. Supaya Mas Hendra tak curiga pada orang yang kutabrak itu, maka aku setuju saja jika ia jadi sopirku. Aku pikir hitung-hitung balas jasa atas kesalahanku saat itu. Namanya Pak Ronggo, umurnya kira2 66 tahun, namun masih kuat dan sehat.

Sejak saat itu aku selalu diantar Pak Ronggo ke mana pun aku pergi, baik ke kantor atau belanja. Setiap pagi ia telah ada di rumah, dan siap-siap membersihkan mobilku. Sedang suamiku telah akrab dengan Pak Ronggo.

Suatu hari, saat mengantar aku ke kantor sambil bincang-bincang, Pak Ronggo bilang padaku.

“Bu, kalau ndak salah, Ibu dulu nabrak saya dengan mobil ini, kan?”

Aku terdiam tak mampu ngomong apa-apa.

“Ibu kejam dan tidak bertanggung jawab,” kata Pak Ronggo.

Seketika mulutku terasa kelu. Badanku terasa gemetar tapi tak mampu untuk bergerak.

“Maaf, Pak.. Waktu itu memang saya salah… Saya tergesa-gesa saat itu,” jawabku akhirnya.

“Alaaahhh… kalian orang kaya memang begitu… Menganggap orang lain sampah,” lanjutnya.

“Jangan gitu, Pak… Saya waktu itu benar-benar khilaf,” kataku setengah memohon.

Lalu ia diam… Aku pun diam saja saat itu, hingga sampai di rumah.

Sejak kejadian itu sikapnya terhadapku jadi lain. Aku berusaha untuk tidak ambil pusing tapi aku tahu aku tak mampu berbuat seperti itu.

Aneh memang, kenapa sejak Pak Ronggo bertanya kepadaku saat itu, aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres di pikiranku.

Sejak itu, ada sensasi tersendiri dalam hatiku saat menatap matanya. Perasaanku kepada Pak Ronggo serasa ingin terus bersama dengannya. Jika ia pulang sore harinya,aku merasa ada yang hilang dalam hidupku. Dan pagi jika ia datang untuk mengantarku rasa itu jadi senang dan seperti kasmaran. Padahal perasaanku kepada Mas Hendra malah biasa saja.

Suatu Jumat sore, saat ia menjemputku, entah kenapa aku minta Pak Ronggo untuk mampir dulu untuk singgah di sebuah restoran. Di situ aku mengambil tempat agak ke sudut dan suasananya amat romantis. Pak Ronggo kuajak makan.

Kami duduk berhadap-hadapan. Ia pandangi terus mataku. Aku pun demikian seperti aku memandangi Mas Hendra. Begitulah yang terjadi sepanjang kami berdua makan. Tanpa ada kata-kata, ia lalu mulai menggenggam jemariku. Aku merasa tenang, seperti gadis remaja yang sedang bermesraan berdua dengan pasangannya.

Pak Ronggo lalu meraih tanganku dan menciumnya. Baru kali ini, tanganku dipegang orang selain suamiku. Ada rasa hangat yang mengalir di sekujur tubuhku. Beberapa saat kami menikmati suasana yang sebetulnya tak kuhendaki itu. Setelah itu kami keluar dari restoran dan menuju ke mobil.

Dalam mobiku, aku terdiam dan bingung dengan kejadian barusan. Otakku tidak berjalan sebagaimana mestinya, soalnya aku bermesraan dengan sopirku yang tidak sepadan denganku. Ia pun begitu bebasnya meraih, meremas, dan menciumi tanganku.

Sebelum menjalankan mobil, Pak Ronggo menoleh ke arahku dan kembali meraih jemariku. Lalu ia rengkuh tubuhku dan dikecupnya bibirku. Aku kembali seperti orang linglung.

Sesampai di rumah, aku terus terbayang sensasi kejadian tadi sore itu. Alangkah kurang ajarnya sopirku itu, bisik hatiku.

Malam harinya, dengan separo hati, aku layani suamiku seadanya. Tidak ada lagi rasa nikmat yang aku rasakan saat Mas Hendra mencumbu dan menyebadaniku. Di dalam hatiku selalu terbayang wajah Pak Ronggo. Dengan akal sehatku, aku berpikir apa istimewanya Pak Ronggo? Gak ada rasanya, tapi aku selalu terbayang wajahnya. Sampai-sampai, saat suamiku berada di atas tubuhku melakukan hubungan badan, aku kira Pak Ronggo yang berada di atas tubuhku. Untunglah aku masih bisa menguasai diri.

Besoknya aku seperti biasa diantar olehnya. Ia tambah berani saja dengan meraba paha dan dadaku. Tangannya aku tepiskan namun ia hanya tersenyum.

Setiap hari, matanya tidak luput memandangiku dari ujung rambut sampai kaki. Aku merasa ditelanjangi oleh sikapnya yang seperti itu. Anehnya aku tak kuasa menolak. Seolah ada pancaran energi dari matanya yang mengaliri sekujur tubuhku dan memberikan sensasi yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Di samping itu, ia pun selalu mencuri-curi kesempatan. Ada-ada saja yang ia pegang dari tubuhku. Kadang dadaku, pahaku. Kadang ia cium bibirku. Namun aku tidak berontak.

Lama-kelamaan aku mulai terbiasa dirabai dan diciuminya. Setiap ada kesempatan berduaan, Pak Ronggo sudah tak tahu malu lagi. Ia pasti akan mendekati dan menyentuhku.

Suatu ketika, sepulang kantor, mobil tidak ia arahkan ke rumahku melainkan ke rumahnya di kawasan Kartosuro. Di sana suasananya sepi dan jarang ada rumah penduduk. Entah kenapa, aku mau saja diajak turun dan masuk ke rumahnya, yang dikelilingi pohon-pohon besar.

Rumahnya terbuat dari kayu dan beratap genteng yang telah tua. Di dalam rumah hanya ada dipan beralaskan tikar dengan sebuah bantal. Lalu Pak Ronggo menutup pintu rumah. Dipersilakannya aku duduk di pinggiran dipan. Kalau dilihat, gubuknya seperti rumah dukun. Di dindingnya ada berbagai macam tulang-belulang. Bau menyan sudah tercium sejak kami memasuki rumah.

Pak Ronggo pergi ke belakang. Tidak lama kemudian ia muncul kembali dan duduk di sampingku.

“Bu… Beginilah keadaan saya,” katanya.

“Oooo… ndak apa lah, Pak?” jawabku.

Tiba-tiba ia menepuk pundakku. Aku tersentak. Lalu ia melingkarkan tangannya di bahuku. Aku tiba-tiba merasa tidak enak.

“Bu… Saya ingin… merasakan kehangatan tubuh Ibu…” katanya tanpa basa-basi.

Aku terkejut setengah mati mendengar ucapannya yang lugas itu. Tapi entah kenapa, aku tidak bereaksi negatif menanggapi keinginannya itu. Seolah aku dihipnotisnya.

“Dulunya istri saya masih hidup dan sedang sakit keras. Jika saja Ibu tidak tabrak saya saat itu, saya masih bisa menolongnya. Namun Ibu telah membuat saya terlambat… dan istri saya pun mati,” terangnya.

Aku terdiam mendengar penjelasannya. Rasanya pikiranku saat itu sudah kosong.

Sekonyong-konyong Pak Ronggo mengambil potongan batok kelapa yang ada di meja di samping dipan tempat kami duduk. Dituangkannya cairan dari dalam sebuah kendi yang ada di meja itu ke dalam batok kelapa. Cairan itu encer dan berwarna kuning gelap. Sejenak mulutnya tampak komat-kamit sambil berkonsentrasi menatap batok kelapa. Beberapa detik kemudian, ia meludah ke dalam cairan tersebut.

Tanpa berkata-kata, Pak Ronggo kembali merangkul pundakku. Kali ini lebih kuat. Sementara tangannya yang satu lagi berusaha meminumkan cairan di dalam batok kelapa itu kepadaku.

Mulanya aku berontak. Lagipula aku tak tahu cairan apa itu. Baunya sangat pesing. Aku mau muntah saat Pak Ronggo mendekatkan batok kelapa itu ke bibirku. Entah kenapa, aku tak bisa menolaknya. Aku seperti tak punya pilihan.

Pelan-pelan kuminum cairan itu. Rasanya sangat tak enak. Setelah minum seteguk, aku sempat terbatuk dan berusaha menjauhkan mulutku dari batok itu. Mengetahui hal itu, Pak Ronggo segera memaksaku untuk menghabiskan cairan yang ada di dalam batok itu. Sambil memejamkan mataku, perlahan-lahan kuhabiskan juga isi batok itu.

Melihat aku masih kuat, Pak Ronggo kemudian menuangkan lagi cairan dari dalam kendi itu ke dalam batok. Ritual yang sama dilakukannya kembali sebelum untuk kedua kalinya menyuruhku menghabiskan isi batok itu.

Ia baru saja akan mengisi kembali batok itu untuk yang ketiga kalinya ketika aku merasakan panas yang luar biasa dari dalam tubuhku. Seluruh badanku terasa ringan dan tanpa terasa aku menjatuhkan kepalaku dalam dekapan Pak Ronggo. Melihat hal itu, Pak Ronggo mengurungkan niatnya untuk menyuruhku kembali minum cairan aneh itu.

Aku berkeringat. Nafasku terengah-engah. Di dalam diriku ada semacam gairah yang menghentak untuk dituntaskan dan dilepaskan.

“Karena istri saya sudah tak ada…. Sekarang Ibulah yang harus menggantikannya…” Pak Ronggo kembali berkata.

Setelah berkata begitu, ia menatap dalam-dalam mataku. Aku jadi tak berdaya. Tangannya yang kasar lalu meraih kancing busana kantor yang kukenakan. Satu per satu pakaianku jatuh ke lantai sehingga aku sama sekali tidak berpenutup lagi.

Sambil melucuti busanaku, setiap inci tubuhku ia raih dan jamah. Aku merasakan kepasrahan dan sensasi yang luar biasa. Ada desakan dari dalam diriku yang membuatku tak sabar untuk segera disetubuhinya.

Pak Ronggo membaringkan tubuh bugilku di dipan kayu itu. Lalu ia buka pakaiannya sendiri hingga ia sama-sama bugil denganku. Aku bisa melihat sisa-sisa ototnya yang liat di tengah tubuhnya yang mulai keriput.

Laki-laki tua itu mulai menggumuliku. Ia meraih inci demi inci dari setiap lekuk di tubuhku dengan mulutnya yang rakus. Aku pun tak kuat dan mengerang kenikmatan.

Akhirnya tibalah saat yang dinanti-nantikan. Ia perlahan-lahan menyisipkan batang kemaluannya yang ternyata sangat keras ke dalam lubang kemaluanku dan mulai menyetubuhiku. Dihunjamkan kejantanannya ke dalam rahimku berkali-kali sehingga dipan tua itu berderit-derit. Aku hanya bisa mendengus dan serasa dijadikan kuda pacu. Ooh… rasanya enaak… sekali…

Entah berapa lama kami menikmati persenggamaan itu. Tubuh mulusku dijamah Pak Ronggo berulang-ulang hingga akhirnya ia pancarkan cairan pembuat bayinya yang hangat di dalam kemaluanku. Ada rasa panas dan tegang di tempat bersatunya alat kelamin kami saat ia sampai klimaks. Tanpa bisa kubayangkan sebelumnya, aku pun ternyata mencapai klimaks berkali-kali.

Tubuhku saat itu penuh dengan keringatku sendiri yang bercampur dengan keringat Pak Ronggo. Aku merasakan perih dan nyeri pada selangkanganku karena kejantanan Pak Ronggo panjang dan besar juga. Hampir seluruh kulit tubuhku merah-merah dan putingku serasa panas akibat gigitan Pak Ronggo.

Di lain pihak, badanku pun terasa lemas luar biasa karena orgasme beruntun yang kualami. Aku membiarkan saja Pak Ronggo tertidur di atas tubuhku. Dengkurannya yang keras segera terdengar. Alat vitalnya masih terjepit oleh kemaluanku. Bisa kurasakan air maninya menetes keluar dari dalam rongga kemaluanku.

Tak sampai setengah jam kemudian Pak Ronggo terbangun. Kondisi fisikku pun sudah pulih kembali walaupun aku tak sampai tertidur seperti Pak Ronggo. Tanpa membersihkan badan terlebih dahulu, aku disuruh berpakaian dan berbenah seperti biasa lagi. CD-ku sengaja kumasukkan ke dalam tas tangan karena aku seolah masih saja merasakan air mani Pak Ronggo merembes mengalir keluar dari dalam vaginaku. Aku lalu diantarnya pulang dengan mobilku.

Di dalam mobil aku jadi merasa menyesal karena telah mengkhianati Mas Hendra. Inilah untuk pertama kalinya aku bersetubuh dengan lelaki lain selain suamiku. Namun apa dayaku, Pak Ronggo ternyata telah menguasai diriku hingga ia berhasil menelanjangi dan menyetubuhiku.

Setibanya di rumah, aku masih bisa merasakan dan mencium bau keringat serta sperma Pak Ronggo yang menempel di sekujur tubuhku. Aku sampai menghabiskan waktu satu jam lebih di kamar mandi untuk meyakinkan bau keringat Pak Ronggo tak lagi menempel di badanku sehingga suamiku tak akan curiga.

Sejak kejadian itu, Pak Ronggo selalu mengulangi kembali perbuatan nistanya itu terhadapku. Anehnya, aku pun tak menolaknya. Aku pasti akan melayaninya dengan sepenuh hati setiap ia mendatangiku. Setiap ada kesempatan, seperti saat aku pulang kantor, Pak Ronggo akan selalu meminta jatahnya. Apalagi jika suamiku ke Jakarta, pastilah ia dengan seenaknya menginap di rumahku. Jika sudah begitu, aku akan bersebadan bersama Pak Ronggo di atas ranjang milikku dan Mas Hendra sepanjang waktu.

Setiap Pak Ronggo menggauliku, aku selalu merasakan kepuasan, walaupun setelah itu aku juga merasakan pegal-pegal pada selangkanganku. Soalnya Pak Ronggo biasanya membuatku harus terus mengangkang selama sekitar satu jam. Dengan Mas Hendra, kalau bisa lebih dari sepuluh menit pun sudah bagus.

Aku sebetulnya takut kalau para pembantuku, Mbok Lastri dan Pak Bidin, tahu hubungan terlarang kami tapi Pak Ronggo menenangkanku. Mereka memang pasti bisa menebak perbuatan kami berdua karena Pak Ronggo begitu bebasnya masuk ke kamar tidur pribadiku setiap ada kesempatan dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dalamnya.

Pak Ronggo tampaknya bisa menutup mulut kedua pembantuku. Ia meyakinkanku bahwa mereka tak akan membocorkan rahasia kami kepada suamiku. Bahkan belakangan aku baru tahu kalau mereka berdua entah bagaimana caranya telah dibuat Pak Ronggo bekerja sama melanggengkan hubungannya denganku.

Contohnya, kalau Mas Hendra kebetulan sedang keluar kota, seperti biasa aku akan menghabiskan waktuku untuk disebadani Pak Ronggo. Jika aku sedang tanggung melayani Pak Ronggo di kamar dan tiba-tiba suamiku meneleponku ke rumah, Mbok Lastri sudah terbiasa untuk menjawabnya dan mengatakan berbagai macam alasan untuk menutupi kegiatanku bersama Pak Ronggo. Dengan demikian Pak Ronggo tak perlu terganggu karena aku harus menjawab telepon suamiku dulu.

Aku baru mengetahui kebiasaan itu karena biasanya Mbok Lastri akan melapor padaku begitu aku keluar kamar. Ia tahu kalau aku keluar kamar, berarti aku telah selesai menjalankan tugasku melayani Pak Ronggo.

“Bu, dua jam yang lalu Bapak telepon mau cari Ibu. Aku bilang Ibu sedang silaturahmi ke rumah Bu Hadi. Nanti beliau telepon lagi jam 7 malam.”

Mbok Lastri sampai hafal jam berapa aku masuk kamar bersama Pak Ronggo, jam berapa biasanya kami keluar sehingga kalau suamiku menelepon, ia bisa mengatur kapan suamiku harus menelepon kembali. Tanpa kusangka, ternyata ia benar-benar berperan seperti sekretarisku padahal aku tak pernah mengajarinya. Aku tak tahu bagaimana cara Pak Ronggo membuatnya jadi begitu, padahal Mbok Lastri dan Pak Bidin adalah pembantu yang setia pada keluarga Mas Hendra sejak lama.

Hampir selama setahun aku menjadi bulan-bulanan nafsu Pak Ronggo. Bagaimanapun, aku merasa sedikit tenang dalam melakukan hubungan gelap dengannya. Aku tahu tidak bakalan hamil karena aku sudah memasang spiral. Itu sengaja kulakukan karena setiap kali Pak Ronggo berhubungan seks denganku, ia selalu mengeluarkan air maninya di dalam rahimku. Tak mungkin aku mencegahnya melakukan hal itu. Karena itulah, sekitar dua minggu sejak aku pertama kali disetubuhi Pak Ronggo, aku berinisiatif memasang spiral untuk mencegah jangan sampai aku dihamilinya.

Walaupun sudah terbiasa disebadani Pak Ronggo, aku tetap selalu mencium bau tidak enak saat ia berada di atas tubuhku. Bau keringatnya memang amat busuk. Aku selalu mengganti seprei ranjangku setiap ia selesai meniduriku. Kalau tidak, bau keringatnya akan tinggal di kain seprei itu.

Kamar pun aku semprot dengan wewangian. Jika aku sedang bersebadan dengan Pak Ronggo, AC-nya kubiarkan selalu menyala. Kalau kamar sedang tak dipakai, semua jendela dan pintu akan kubuka lebar-lebar sehingga ada sirkulasi udara.

Mbok Lastri dan Pak Bidin pun sudah hafal kalau sekarang aku menyuruh mereka untuk mencuci seprei tiap hari. Mereka tahu kalau aku harus bertugas melayani Pak Ronggo tiap hari. Justru kalau satu hari aku tak menyerahkan cucian, mereka akan bertanya dengan lugunya.

“Hari ini ndak dinas ya, Bu? Tadi siang pulang ndak diantar Pak Ronggo?”

Mereka selalu menyebut ‘dinas’ untuk mengistilahkan tugas harianku melayani Pak Ronggo di ranjang. Mereka sudah tahu kalau jadwal harianku melayaninya biasanya sepulang kantor sehingga aku biasa menyerahkan cucian sore harinya sebelum Mas Hendra pulang.

“Oh, ndak, Mbok… Bapak sore ini mau ke Jakarta selama dua hari. Aku tadi pulang diantar Bapak. Pak Ronggo nanti kemari lagi sesudah mengantar Bapak ke bandara.”

Jika sudah kuberitahu seperti itu, mereka akan langsung mengerti kalau malam itu mereka harus menyiapkan makan malam untuk dua orang ke kamar tidurku dan setelah itu mereka bisa tidur cepat. Soalnya semalaman aku pasti harus kerja lembur melayani Pak Ronggo. Barulah esok harinya sebelum aku berangkat ke kantor diantar Pak Ronggo, mereka harus mencuci seprei yang dua kali lipat baunya karena semalaman habis dipakai sebagai alas kami bersetubuh.

Tak heran kalau badan Pak Ronggo sangat bau. Semakin lama aku intim dengannya, aku jadi tahu kalau ia memang jarang mandi. Belum tentu tiap hari ia mandi. Bahkan setelah selesai menyetubuhiku, ia tak pernah mandi. Setiap selesai menuntaskan nafsu seksnya padaku, ia selalu menyuruhku untuk mengisap dan menjilati penisnya sampai bersih dari sisa-sisa air maninya. Hanya seperti itulah caranya mandi sehabis menyebadaniku.

Setelah sekian lama, barulah aku mengetahui dari seorang pintar di tempat kerjaku bahwa Pak Ronggo adalah seorang dukun dan aku telah diguna-gunanya. Temanku itu dapat melihat semua yang terjadi pada diriku dan dengan tulus hati berniat menolongku.

Pengaruh guna-guna Pak Ronggo atas diriku ternyata sangat kuat karena dulu aku sudah meminum air kencingnya yang telah diberi jampi-jampi. Guna-guna seperti itu luar biasa kuat karena tentu tak mudah untuk menyuruh seorang gadis meminum air kencing si pemeletnya. Pak Ronggo sangat beruntung saat itu karena bisa membuatku melakukannya.

Di lain pihak, aku pun sebetulnya beruntung karena hanya meminum dua cawan air kencing Pak Ronggo. Seandainya saja dulu aku minum lebih banyak lagi, tentulah Pak Ronggo bisa menguasaiku secara permanen.

Atas bantuan dan usaha keras rekan kerjaku itu, kini aku telah terbebas dari guna-guna Pak Ronggo. Usahanya itu sendiri memakan waktu yang cukup lama karena harus dilakukan secara perlahan-lahan dan bertahap. Tak mudah untuk membuat Pak Ronggo mau melepaskan diriku. Ia sudah jadi terbiasa hidup enak karena aku senantiasa melayani nafsu seksnya yang masih menggebu-gebu di usianya yang sudah senja.

Setelah aku benar-benar terbebas dari guna-gunanya, Pak Ronggo pun akhirnya kupecat. Satu hal yang tak mungkin kulakukan saat aku masih berada dalam pengaruh gaibnya.

Ia sempat mengancam akan membongkar hubungan seks kami kepada suamiku kalau aku berani memecatnya. Sebetulnya aku takut juga. Setelah bernegosiasi, dengan diberi duit sekitar 20 juta dari tabunganku, aku minta dia keluar baik-baik. Tampaknya dia mau menerimanya. Sejak saat itu ia tak pernah muncul lagi.

Aku hanya berharap Pak Ronggo bisa melewati masa tuanya dengan tenang dan tak menggangguku lagi. Aku pun mencabut spiralku dan berharap bisa melupakan semua kejadian ini. Aku ingin membina kembali kehidupan yang normal bersama Mas Hendra.

TAMAT

Nafsu Tabu Anjing Siluman

Copyright 2003, by Mario Soares

(Paranormal – Wanita dan Anjing Siluman, Selingkuh)

(Telah dimuat di Tabloid ‘GHAIB’ edisi 103, 29 Maret – 04 April 2003)
Ratri adalah seorang ibu muda berusia 23 tahun yang tinggal di sebuah desa kecil di bagian selatan Jawa Barat. Ia mengikuti suaminya yang bertugas di sana. Ia sendiri sebenarnya sejak kecil sampai kuliah terbiasa hidup di kota besar.

Pekerjaan suaminya sebagai aktivis sebuah LSM yang menangani community development mengharuskannya pergi ke pelosok-pelosok. Karena itu, wajarlah jika dalam seminggu Ratri harus ditinggal pergi oleh suaminya minimal selama tiga hari. Itu pun sudah lumayan karena Ratri telah memutuskan mengikuti suaminya untuk tinggal di desa yang masih berada di dalam wilayah kerja suaminya. Dengan demikian, perpisahan antara mereka berdua dapat diminimimalkan.

Di desa itu, mereka menempati sebuah rumah sederhana yang disewa dari penduduk setempat. Daerah yang mereka huni masih cukup terbelakang dan belum dimasuki oleh listrik. Suasana yang sepi dan tetangga yang letaknya cukup berjauhan sebenarnya cukup membuat Ratri merasa tersiksa namun apa hendak dikata. Sebagai seorang istri, ia merasa wajib mengikuti suaminya ke mana pun ia pergi.

Saat-saat yang menyenangkan tentu saja adalah ketika mereka berdua saja di rumah mereka yang terpencil itu dan melakukan kegiatan suami istri. Maklumlah, mereka baru saja menikah beberapa bulan sebelumnya. Jadi boleh dikata masih pengantin baru. Belum adanya kehadiran anak-anak membuat kegiatan seksual menjadi hiburan utama mereka saat bersama-sama. Sayangnya kegiatan itu tak dapat mereka lakukan terlampau sering disebabkan kesibukan tugas sang suami.

Kebahagiaan rumah tangga mereka tampaknya akan terus berlanjut, sampai satu ketika datanglah ujian menimpa diri Ratri. Tempat tinggal mereka yang terpencil ternyata sebenarnya merupakan tempat yang cukup angker dan menyimpan misteri-misteri gaib. Kejadian berikut merupakan bukti hal tersebut.

Malam itu, sekitar pukul delapan, Ratri bersiap-siap untuk pergi tidur. Di desa kecil, waktu seperti itu sebenarnya sudah terbilang sangat larut. Ia hanya sendirian saja di rumah. Suaminya telah pergi pagi tadi dan baru akan kembali esok sorenya. Penerangan yang ada hanya berasal dari dua buah lampu tempel yang berbahan bakar minyak tanah.

Ratri mengenakan gaun tidurnya yang berwarna putih. Senada dengan warna kulitnya yang juga putih bersih. Seperti biasa, ia mengunci seluruh pintu termasuk pintu kamar tidurnya. Setelah membersihkan tubuh dan menyisir rambutnya, ia menyiapkan tempat peraduannya.

Baru saja ia berada di pinggir tempat tidur, tiba-tiba dirasakannya seolah udara di dalam kamar berubah menjadi dingin. Ratri terdiam sejenak mengalami perubahan yang mendadak itu. Tak bisa dihindari, bulu tengkuknya serasa seperti berdiri.

Sambil gemetar, matanya menyapu seisi kamar. Penerangan yang ada tak terlampau banyak. Karena itu ia memicingkan matanya menatapi pojok-pojok kamar yang gelap. Sampai pada suatu pojok, entah mengapa pandangan Ratri seperti terhenti. Seolah ada sesuatu di sana….

Ya, seperti ada sesuatu di sana… Ratri tak yakin apa… tapi jantungnya serasa berdebar-debar. Ia menunggu, akankah terjadi sesuatu?

Dari dalam kegelapan, tiba-tiba muncullah sesosok hewan besar berkaki empat. Ratri terkejut dan merinding. Dari manakah datangnya makhluk itu? Saat itu ia berada di dalam kamar tidur berukuran 4×4 meter yang tertutup rapat semua pintu dan jendelanya. Ia sangat yakin tak ada lubang yang terbuka untuk masuk ke kamar itu, selain lubang-lubang ventilasi yang ukurannya sangat kecil.

Sosok makhluk itu semakin mendekati ibu muda yang duduk ketakutan di pinggir tempat tidur itu. Makin lama, di bawah temaram lampu tempel, makin jelaslah sosok makhluk itu. Ternyata ia berwujud seekor anjing raksasa berwarna hitam legam. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada ukuran seorang laki-laki dewasa normal. Sorot matanya tajam berwarna kemerahan, seperti sepasang mata setan…

Dari mulutnya yang dihiasi gigi-gigi tajam, keluar geraman-geraman halus diiringi air liur yang menetes pelan.

Ketakutan yang sangat mencekam meliputi diri ibu muda itu. Ternyata ia tidak sendirian di dalam kamar itu. Ada makhluk besar menakutkan yang dapat muncul secara gaib. Ratri yakin makhluk itu bukanlah seekor anjing biasa. Mungkinkah ia jin atau sebangsa makhluk gaib lainnya yang menjaga rumah itu? Sosok anjing hitam yang begitu menakutkan itu kini tampak mengancam persis di hadapannya.

Anehnya, kemudian seperti ada sesuatu yang membisiki atau mengilhami pikiran Ratri. Untuk mengatasi ketakutannya, tangan ibu muda itu perlahan menggapai tali gaun tidurnya dan melepaskannya dari pundaknya. Lalu diloloskannya gaun tidurnya dari tubuhnya. Semuanya itu seolah dibimbing oleh suatu kekuatan gaib. Karena sambil ketakutan, Ratri melakukan itu secara perlahan-lahan. Sementara itu matanya tetap mengawasi anjing hitam raksasa yang ada di hadapannya.

Kejadian aneh segera menyusul tindakannya itu. Ternyata seiring dicomotinya gaun tidur dari tubuhnya, Ratri mulai merasakan rasa takutnya perlahan sirna, berganti dengan suatu perasaan nyaman yang aneh dan tak tergambarkan… Sampai ketika ibu muda itu telah dalam kondisi bugil, rasa takutnya pun hilang sama sekali. Hanya saja, ia seolah terpaku duduk di pinggir tempat tidur tanpa bisa bangkit sama sekali.

Tubuhnya yang bugil serasa merinding. Kini bukan karena ketakutan ataupun kedinginan. melainkan seolah ada gairah yang mengaliri sekujur tubuhnya. Dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Seperti aliran listrik yang membawa sensasi tersendiri…

Getaran itu semakin tinggi ketika anjing siluman itu perlahan mendekatinya. Tanpa terasa, sosok hitam legam itu telah begitu dekat dengannya. Ia kini berada di antara kedua paha mulus ibu muda itu yang seolah mengangkang begitu saja membukakan jalan.

Kejadian selanjutnya sangat mengejutkan dan tak pernah dibayangkan sama sekali oleh ibu muda yang cantik itu…. Anjing itu ternyata menjulurkan lidahnya yang panjang dan mulai menjilati selangkangan Ratri yang terbuka…

Ratri tersentak dan menjerit karena kaget tapi seolah tak bisa bergerak atau pun menolaknya. Akhirnya dibiarkannya saja makhluk itu melakukan kegiatannya selama beberapa lama.

Efeknya tentu saja ibu muda itu akhirnya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Gerakan-gerakan lidah makhluk siluman itu begitu liar mengaduk-aduk gua kenikmatan yang ada di hadapannya. Tak lama, selangkangan Ratri telah basah kuyup. Ratri tak kuasa menahan erangan-erangan yang otomatis keluar dari mulutnya.

Pada puncaknya, Ratri merasakan sekujur tubuhnya lemas seperti tak bertulang. Nikmat yang luar biasa menjalari sekujur tubuhnya. Sambil mengerang panjang, badannya lalu terhempas ke belakang ke tempat tidur yang empuk. Pikiran dan kesadarannya seolah melayang ke awang-awang.

Selang beberapa saat, barulah Ratri bisa mengendalikan kembali kesadarannya. Perlahan, dengan tangannya ia mampu mengangkat badannya dari atas kasur.

Dilihatnya anjing setan itu masih saja berdiri di dalam keremangan di hadapannya. Lidahnya yang lebar dan panjang tampak menjulur. Air liurnya tampak menggantung dari mulutnya. Tatapan matanya yang tajam berwarna merah menyala saja yang membuatnya jelas berbeda dari seekor anjing biasa. Siluman itu terus menatap tajam pada Ratri yang baru saja bisa mengendalikan diri sehabis mengalami orgasme.

Ibu muda itu jadi bingung akan apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Tatapan mata siluman itu seakan menyampaikan suatu makna padanya. Ratri secara samar sepertinya bisa menangkapnya, tapi ia pun tak begitu yakin.

Karena anjing siluman itu diam saja, Ratri lalu berinisiatif mengambil posisi nungging dan bertumpu dengan kedua punggung tangannya di tempat tidur. Ia tak tahu pasti mengapa ia melakukan hal itu. Semuanya dilakukan secara naluriah saja. Ibu muda itu lalu menunggu dengan harap-harap cemas. Sebentar kemudian, barulah ada reaksi dari anjing siluman itu. Legalah hatinya ketika anjing itu tiba-tiba naik ke atas tempat tidur lalu menaikkan kedua kaki depannya ke pinggul Ratri dan mencengkeramnya. Sementara kedua pinggul mereka pun bersatu…

Anjing siluman mencampuri seorang ibu muda

Anjing siluman mencampuri seorang ibu muda

Ratri tak habis pikir bagaimana ia bisa menyerahkan dirinya begitu saja kepada makhluk itu. Akan tetapi memang demikianlah kejadiannya. Secara spontan, terjadilah persetubuhan antara ibu muda yang cantik dan makhluk siluman berwujud anjing hitam itu.

Ratri merasakan sensasi yang sangat berbeda dibandingkan bila bersetubuh dengan suaminya sendiri yang manusia. Bentuk dan perilaku alat kelamin makhluk itu sendiri sangat berbeda dari milik manusia. Kejantanan makhluk itu terasa semakin membesar dan membengkak sewaktu telah berada di dalam tubuhnya. Belum lagi suhunya yang terasa begitu panas…

Ada satu lagi kejadian menarik yang baru kali itu dialami Ratri. Setelah anjing siluman itu mengalami orgasme, rupanya ia tak dapat begitu saja terpisah dari tubuh ibu muda itu. Hal itu disebabkan alat kelamin makhluk itu telah tumbuh membesar di dalam tubuh Ratri sehingga tak mudah untuk ditarik begitu saja. Ratri sudah sering melihat bagaimana kalau dua ekor anjing kawin. Rupanya kini ia pun dapat mengalaminya sendiri… Luar biasa…

Setelah lima belas menit, ketika kejantanan anjing siluman itu telah cukup menciut, barulah tubuh mereka berdua dapat terpisah. Ratri merasakan kepuasan yang luar biasa dari persetubuhan itu. Bukan hanya sekali, melainkan serangkaian orgasme telah didapatkannya selama melakukan persetubuhan yang tabu itu… Keletihan dan kenikmatan yang menjadi satu akhirnya mengantarkan ibu muda itu ke dalam tidur yang lelap…

Ketika Ratri bangun keesokan harinya, didapatinya bahwa anjing siluman itu telah raib entah ke mana. Sinar matahari tampak menembus lubang ventilasi. Pintu dan jendela pun masih rapi terkunci dari dalam.

Apakah kejadian semalam hanya mimpi? Rasanya tidak. Ratri menemukan vaginanya basah oleh cairan tubuhnya yang bercampur dengan cairan mani makhluk itu. Demikian pula seprai putih tempat tidurnya basah kuyup dan acak-acakan. Tidak, kejadian malam itu benar-benar nyata…

Pagi itu Ratri segera membersihkan tubuhnya dan mencuci seprainya sambil tak habis-habisnya memikirkan kejadian semalam. Ada semacam perasaan takut yang bercampur dengan perasaan rindu dan penasaran.

Akhirnya, kejadian pada malam itu terulang lagi pada malam-malam berikutnya. Setiap kali suaminya pergi bertugas, anjing siluman itu pun muncul secara gaib ke kamar tidur Ratri untuk menagih jatahnya…

Ratri pun senang saja melayani kekasih barunya itu. Apalagi ia sangat kesepian saat ditinggal pergi sendirian oleh suaminya. Tak terlintas dalam pikirannya rasa jijik karena harus melayani makhluk gaib yang berwujud seekor anjing. Yang nyata terbayang adalah kenikmatan luar biasa yang tidak didapatnya dari suaminya sendiri.

Selang beberapa waktu, Ratri pun mulai mengalami terlambat bulan. Melalui pemeriksaan, akhirnya dipastikan bahwa ibu muda itu mengandung anaknya yang pertama. Perutnya pun dari minggu ke minggu semakin membuncit. Suaminya tentu saja senang bukan main, walaupun karena tuntutan tugasnya, tetap saja ia harus sering meninggalkan istrinya tercinta.

Anehnya, sejak saat itu, anjing siluman itu seolah mulai jarang mengunjungi Ratri. Bahkan akhirnya jadi tak pernah sama sekali ketika usia kandungannya telah menginjak bulan ketujuh. Bagaimanapun, saat itu kemampuan Ratri untuk beraktivitas seksual pun mulai terbatas. Kebutuhannya yang tak terlampau banyak itu sudah bisa dicukupi oleh suaminya sendiri sehingga ketidakhadiran kekasih gaibnya tak terlalu dirisaukannya.

Ratri pun semakin berhati-hati dalam menjaga kandungannya. Apalagi pemeriksaan dan kontrol secara medis agak sulit didapatkan di tempat seperti itu. Yang ada paling hanya bidan atau dukun beranak.

Sayang sekali, kisah bahagia itu kemudian harus berakhir ketika pada bulan kesembilan kehamilannya, Ratri mengalami suatu kejadian misterius. Janin yang ada di dalam kandungannya seolah raib tanpa bekas. Pagi itu, ketika terbangun dari tidurnya, ibu muda itu merasakan sesuatu yang aneh pada perutnya. Terkejutlah ia ketika disadarinya bahwa perutnya yang sedang hamil tua itu ternyata telah kempes…

Ke manakah hilangnya kandungannya? Peristiwa itu tentu saja menggegerkan masyarakat di sekitarnya. Ratri sampai jatuh sakit selama beberapa hari karena kejadian itu.

Akhirnya, dari hasil penerawangan seorang paranormal di daerah itu, diperkirakan bahwa janin yang ada di dalam kandungan Ratri sebenarnya adalah hasil dari hubungannya dengan suatu makhluk dari alam gaib. Ketika usia kandungannya telah mencukupi, maka bayi hasil hubungan itu pun diambil secara gaib oleh ayah kandungnya untuk dibawa ke alamnya.

Ratri dan suaminya tentu saja terkejut dan sedih mendengarnya. Untunglah suami Ratri sangat pengertian dalam menghadapi musibah yang menimpa keluarga mereka dan tidak mengambil tindakan yang negatif atau pun sembrono. Dengan setia dihiburnya istrinya yang tampak sangat terpukul dengan kejadian itu.

Beberapa waktu kemudian, untuk melupakan hal itu, Ratri dan suaminya memilih untuk pindah dari desa tempat mereka tinggal. Kebetulan suaminya mendapatkan pekerjaan yang lumayan di kota.

Di tempatnya yang baru mereka pun memulai lagi kehidupannya dari awal. Segala suka dan duka mereka lewati bersama. Tak lama kemudian, Ratri pun hamil kembali, kali ini benar-benar oleh suaminya yang sah. Karena sikap yang positiflah akhirnya mereka dapat meraih kembali kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga. Empat tahun telah berlalu sejak kejadian itu dan kini keluarga mereka telah dikaruniai dua orang putra-putri yang lucu-lucu.

(Seperti diceritakan Ratri kepada Rio)

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Vivi dan Gendruwo

Copyright 1999, by KHISmistress

(Paranormal – Wanita dan Gendruwo, Sedarah – Ibu dan Anak Laki-Laki, Permainan Bertiga, Selingkuh)

Vivi, seorang ibu rumah tangga muda berusia 27 tahun, sering mengalami mimpi aneh sejak beberapa malam terakhir ini. Ia mendapati dirinya sedang berbaring dalam keadaan bugil di dalam sebuah ruangan yang gelap yang ditutupi oleh kain-kain batik. Dari dalam kegelapan muncul sesosok tubuh hitam berbulu. Lengannya panjang seperti kera. Giginya bertaring. Tingginya sebahu Vivi. Vivi ketakutan melihatnya. Mimpi yang sama terus berulang sepanjang minggu.

Minggu berikutnya mimpi-mimpi itu berlanjut. Dalam mimpi yang sekarang, entah dari mana awalnya, Vivi dan makhluk itu sudah saling bersentuhan. Vivi seolah dapat merasakan kulit makhluk itu yang tebal berkerut seperti kulit gajah. Sedikit demi sedikit perasaan takut Vivi berganti dengan suatu perasaan yang aneh. Seakan ada ikatan emosional di antara keduanya. Perasaan ingin tahu, tegang, dan iba bercampur menjadi satu. Makhluk itu tak pernah berbicara. Hanya lenguhan-lenguhan aneh seperti bayi menangis yang keluar dari mulutnya. Sentuhan dimulai dari saling menggenggam tangan dan lama-kelamaan makhluk itu mulai mendekap di dada Vivi. Secara refleks karena naluri keibuannya, Vivi membelai lembut kepala makhluk itu. Mimpi ini pun terus berulang sepanjang minggu.

Minggu berikutnya, mimpi itu berlanjut lebih jauh lagi. Kali ini dalam mimpinya mereka saling menempelkan wajah masing-masing. Entah siapa yang memulai, kedua bibir mereka saling bersentuhan. Vivi pun tak dapat mengelakkan diri dari berciuman dengan makhluk itu. Ciuman mereka berlangsung dengan hangat. Tiba-tiba mereka telah bercumbu seperti sepasang kekasih. Puncaknya, mereka pun bersetubuh. Vivi merasa puas dengan organ genital kekasih barunya yang berukuran raksasa. Paginya, ketika bangun, Vivi merasakan vaginanya basah kuyup dengan cairan kental seperti air mani. Seolah-olah mimpi yang dialaminya malam itu benar-benar nyata. Mimpi itu terus berulang pada malam-malam selanjutnya tanpa bisa ditolaknya. Vivi kebingungan menghadapi masalah ini.

Vivi mencurahkan isi hatinya kepada sahabat karibnya, Tia. Tia mengajak Vivi untuk menemui seorang paranormal kenalannya, Pujo. Pujo menghipnotis Vivi untuk mengetahui semua yang terpendam di dalam pikiran bawah sadar Vivi.

Pujo mendapatkan bahwa sekitar delapan tahun yang lalu Vivi pernah menghilang di hutan selama 10 bulan. Kejadian itu terjadi hanya sehari setelah ia menikah dengan suaminya sekarang. Ketika ditemukan kembali, ia tak bisa mengingat sama sekali apa yang terjadi. Bahkan ia tak menyadari sama sekali bahwa ia telah “menghilang” selama 10 bulan. Karena tak bisa mengungkapnya, pihak keluarga pun kemudian merahasiakan kejadian ini. Mereka menganggap seolah tak terjadi apa-apa dan berharap kejadian itu bisa dilupakan. Apalagi suami Vivi yang sangat mencintainya tetap bersedia menerima Vivi apa adanya.

Melalui penyelidikan yang berliku-liku, Pujo akhirnya mengetahui bahwa menghilangnya Vivi dahulu adalah karena diculik oleh gendruwo penunggu hutan. Gendruwo itu jatuh cinta pada Vivi dan nekat mengambilnya sebelum ia sempat menjalani malam pengantinnya.

Vivi diperistri oleh gendruwo itu sampai hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang juga berwujud gendruwo. Sebenarnya Vivi tidak benar-benar menjadi isteri gendruwo itu karena gendruwo itu hanya mengawininya tanpa pernah menikahinya. Kira-kira hanya seperti seorang gundik bagi tuannya. Begitu anak mereka lahir, Vivi pun dilepas oleh “suami baru”-nya kembali ke alam manusia. Sebelum itu sang suami berjanji akan mengizinkan anak mereka untuk menemui Vivi jika ia sudah cukup besar.

Saat kembali ke alam manusia, ingatan Vivi selama tinggal di alam jin telah ditutup sehingga ia tak bisa mengingat apa pun yang telah terjadi di sana. Yang ia tahu, ia sedang jalan-jalan ke hutan seusai acara pernikahannya dan tertidur. Ia ditemukan orang ketika terbangun dari tidurnya di pinggiran hutan.

Vivi pun menjalani kehidupan normalnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Suaminya yang dahulu ternyata masih setia menunggunya dan masih sangat mencintainya. Itu sebabnya ia tak mau bertanya banyak kepada Vivi tentang apa saja yang dialaminya selama hilang di hutan. Ia hanya pasrah dan menganggap itu sebagai ujian hidup yang harus mereka hadapi.

Pujo akhirnya mengetahui bahwa gendruwo kecil yang selalu mendatangi Vivi selama sebulan terakhir dalam mimpi-mimpinya itu adalah anaknya sendiri. Ia telah dianggap cukup besar oleh bapaknya untuk pergi menemui ibunya dan melepas kerinduannya. Ia dikirim menemui Vivi dalam rangka mengajaknya kembali ke alam jin dan hidup bersama di sana untuk selama-lamanya.

Vivi terkejut mendengar itu semua. Akan tetapi lambat laun ia pun mulai bisa mengingat semua masa lalunya yang telah ditutup oleh suami gendruwonya. Ia pun menangis ketika dapat mengingat kembali semua itu. Pujo dan Tia tak dapat berbuat apa pun selain membiarkannya terus menangis dan menghiburnya.

Apa yang dikatakan Pujo ternyata benar. Esoknya, Vivi ditinggal oleh suaminya yang pergi ke luar kota selama seminggu. Ketika Vivi sedang sendirian di rumah, gendruwo kecil yang selalu mendatanginya dalam mimpinya tiap malam tiba-tiba muncul menampakkan dirinya dalam wujud fisik. Kali ini ia datang bersama gendruwo lain yang lebih besar: ayahnya, yang tak lain adalah gendruwo yang dahulu menculik Vivi dan memperistrinya.

Ayah, ibu dan anak saling melepas kerinduannya. Dari berpelukan dan berciuman, akhirnya secara alami bapak dan anak bersama-sama melucuti seluruh pakaian Vivi.
Keduanya lalu mencumbu dan menyetubuhi wanita itu. Terjadilah permainan bertiga yang ganjil dan tabu.

Kedua gendruwo itu melepaskan kerinduannya dengan menikmati tubuh Vivi selama dua hari dua malam. Selama itu pula mereka melarang Vivi untuk mengenakan pakaian apa pun untuk menutupi tubuhnya yang bugil. Selain itu, mereka pun melarang Vivi untuk mandi sehingga tubuhnya penuh dengan campuran air mani gendruwo dan anaknya sendiri serta keringat mereka bertiga. Akan tetapi Vivi seolah tak peduli lagi. Ia mengalami suatu kenikmatan badani yang tiada taranya yang tak pernah didapatkan dari suami resminya.

Akhirnya ketika bapak dan anak mengajak Vivi untuk kembali bersama mereka ke alam jin, Vivi pun tak menolaknya. Demikianlah akhirnya Vivi menghabiskan seluruh hidupnya mengabdi di sana untuk melayani kebutuhan seks gendruwo anak-beranak itu. Kadang-kadang ia pun “dipinjamkan” kepada teman-teman gendruwo dan makhluk halus yang lainnya sekedar untuk disetubuhi, atau dihamili.

TAMAT

Cerita Yang Mirip: