Category Archives: pelet/guna-guna

Seorang wanita berhubungan seks dengan seorang lelaki di bawah pengaruh pelet/guna-guna

Dukun Durjana

Copyright 2007, by Pak Lah dan Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com)

(Pemaksaan, Istri Selingkuh, Keroyokan, Cerita Tradisional Malaysia)

Namaku Salmiah. Aku seorang guru berusia 28 tahun. Di kampungku di daerah Terengganu, aku lebih dikenal dengan panggilan Bu Miah. Aku ingin menceritakan satu pengalaman hitam yang terjadi pada diriku sejak enam bulan yang lalu dan terus berlanjut hingga kini. Ini semua terjadi karena kesalahanku sendiri. Kisahnya begini, kira-kira enam bulan yang lalu aku mendengar cerita kalau suamiku ada hubungan gelap dengan seorang guru di sekolahnya.

Suamiku juga seorang guru di sekolah menengah di kampungku. Dia lulusan perguruan tinggi lokal sedangkan aku cuma seorang guru pembantu. Tanpa mencek lebih lanjut kebenarannya, aku langsung mempercayai cerita tersebut. Yang terbayangkan saat itu cuma nasib dua anakku yang masih kecil. Secara fisik, sebetulnya aku masih menawan karena kedua anakku menyusu botol. Cuma biasalah yang namanya lelaki, walau secantik apapun isterinya, tetap akan terpikat dengan orang lain, pikirku.

Diam-diam aku pergi ke rumah seorang dukun yang pernah kudengar ceritanya dari rekan-rekanku di sekolah. Aku pergi tanpa pengetahuan siapa pun, walau teman karibku sekalipun. Pak Itam adalah seorang dukun yang tinggal di kampung seberang, jadi tentulah orang-orang kampungku tidak akan tahu rahasia aku berjumpa dengannya. Di situlah berawalnya titik hitam dalam hidupku hingga hari ini.

Pak Itam orangnya kurus dan pendek. Tingginya mungkin tak jauh dari 150 cm. Kalau berdiri, ia hanya sedadaku. Usianya kutaksir sekitar 40-an, menjelang setengah abad. Ia mempunyai janggut putih yang cukup panjang. Gigi dan bibirnya menghitam karena suka merokok.

Aku masih ingat saat itu Pak Itam mengatakan bahwa suamiku telah terkena guna-guna orang. Ia lalu membuat suatu ramuan yang katanya air penawar untuk mengelakkan diriku dari terkena santet wanita tersebut dan menyuruhku meminumnya. Setelah kira-kira lima menit meminum air penawar tersebut kepalaku menjadi ringan. Perasaan gairah yang tidak dapat dibendung melanda diriku secara tiba-tiba.

Pak Itam kemudian menyuruhku berbaring telentang di atas tikar ijuk di ruang tamu rumahnya. Setelah itu ia mulai membacakan sesuatu yang tidak kupahami dan menghembus berulang kali ke seluruh badanku. Saat itu aku masih lengkap berpakaian baju kurung untuk mengajar ke sekolah pada petangnya.

Setelah itu aku merasa agak mengkhayal. Antara terlena dan terjaga aku merasakan tangan Pak Itam bermain-main di kancing baju kurungku. Aku tidak berdaya berbuat apa-apa melainkan merasakan gairah yang amat sangat dan amat memerlukan belaian lelaki. Kedua buah dadaku terasa amat tegang di bawah braku. Putingku terasa menonjol. Celah kemaluanku terasa hangat dan mulai becek.

Aku dapat merasakan Pak Itam mengangkat kepalaku ke atas bantal sambil membetulkan tudungku. Selanjutnya ia menanggalkan pakaianku satu-persatu. Setelah aku berbaring tanpa sehelai pakaian pun kecuali tudungku, Pak itam mulai menjilat bagian dadaku dahulu dan selanjutnya mengulum puting tetekku dengan rakus. Ketika itu aku terasa amat berat untuk membuka mata.

Setelah aku mendapat sedikit tenaga kembali, aku merasa sangat bergairah. Kemaluanku sudah mulai banjir. Aku berhasil menggerakkan tanganku dan terus menggapai kepala Pak Itam yang sedang berada di celah selangkanganku. Aku menekan-nekan kepala Pak Itam dengan agak kuat supaya jilatannya lidahnya masuk lebih dalam lagi. Aku mengerang sambil membuka mataku yang lama terpejam.

Alangkah terkejutnya aku saat aku membuka mataku terlihat dalam samar-samar ada dua sosok lain sedang duduk bersila menghadapku dan memandangku dengan mata yang tidak berkedip.

“Bu Miah,” tegur seorang lelaki yang masih belum kukenali, yang duduk di sebelah kanan badanku yang telanjang bulat. Setelah kuamat-amati barulah aku bisa mengenalinya.

“Leman,” jeritku dalam hati. Leman adalah anak Pak Semail tukang kebun sekolahku yang baru saja habis ujian akhirnya. Aku agak kalang kabut dan malu. Aku coba meronta untuk melepaskan diri dari genggaman Pak Itam.

Menyadari bahwa aku telah sadarkan diri, Pak Itam mengangkat kepalanya dari celah selangkanganku dan bersuara.

“Tak apa Bu, mereka berdua ini anak murid saya,” ujarnya sambil jarinya bermain kembali menggosok-gosok kemaluanku yang basah kuyup.

Sebelah lagi tangannya digunakan untuk mendorong kembali kepalaku ke bantal. Aku seperti orang yang sudah kena sihir terus berbaring kembali dan melebarkan kangkanganku tanpa disuruh. Aku memejamkan mata kembali. Pak Itam mengangkat kedua kakiku dan diletakkannya ke atas bahunya. Saat dia menegakkan bahunya, pantatku juga ikut terangkat.

Pak Itam mulai menjilat kembali bibir vaginaku dengan rakus dan terus dijilat hingga ke ruang antara vagina dan
duburku. Saat lidahnya yang basah itu tiba di bibir duburku, terasa sesuatu yang menggelikan bergetar-getar di situ. Aku merasa kegelian serta nikmat yang amat sangat.

“Leman, Kau pergi ambil minyak putih di ujung tempat tidur. Kau Ramli, ambil kemenyan dan bekasnya sekalian di ujung itu,” perintah Pak Itam kepada kedua anak muridnya.

Aku tersentak dan terus membuka mata.

“Bu ini rawatan pertama, duduk ya,” perintah Pak Itam kepadaku.

Aku seperti kerbau dicocok hidung langsung mengikuti perintah Pak Itam. Aku duduk sambil sebelah tangan menutup buah dadaku yang tegang dan sebelah lagi menggapai pakaianku yang berserakan untuk menutup bagian kemaluanku yang terbuka.

Setelah menggapai baju kurungku, kututupi bagian pinggang ke bawah dan kemudian membetulkan tudungku untuk menutupi buah dadaku.

Setelah barang-barang yang diminta tersedia di hadapan Pak Itam, beliau menerangkan rawatannya. Kedua muridnya malu-malu mencuri pandang ke arah dadaku yang kucoba tutupi dengan tudung tetapi tetap jelas kelihatan kedua payudaraku yang besar dan bulat di bawah tudung tersebut.

“Ini saya beritahu Ibu bahwa ada sihir yang sudah mengenai bagian-bagian tertentu di badan Ibu. Pantat Ibu sudah terkena penutup nafsu dan perlu dibuang.”

Aku cuma mengangguk.

“Sekarang Ibu silakan tengkurep.”

Aku memandang tepat ke arah Pak itam dan kemudian pandanganku beralih kepada Leman dan Ramli.

“Nggak apa-apa, Bu… mereka ini sedang belajar, haruslah mereka lihat,” balas Pak Itam seakan-akan mengerti perasaanku.

Aku pun lalu tengkurep di atas tikar ijuk itu. Pak Itam menarik kain baju kurungku yang dirasa mengganggunya lalu dilempar ke samping. Perlahan-lahan dia mengurut pantatku yang pejal putih berisi dengan minyak yang tadi diambilkan Leman. Aku merasa berkhayal kembali, pantatku terasa tegang menahan kenikmatan lumuran minyak Pak Itam. Kemudian kurasakan tangan Pak Itam menarik bagian pinggangku ke atas seakan-akan menyuruh aku menungging dalam keadaan tengkurep tersebut. Aku memandang ke arah Pak itam yang duduk di sebelah kiri pantatku.

“Ya, angkat pantatnya,” jelasnya seakan memahami keraguanku.

Aku menurut kemauannya. Sekarang aku berada dalam posisi tengkurep, muka dan dada di atas tikar sambil pantatku terangkat ke atas. Pak Itam mendorong kedua kakiku agar berjauhan dan mulai melumurkan minyak ke celah-celah bagian rekahan pantatku yang terbuka.

Tanpa dapat dikontrol, satu erangan kenikmatan terluncur dari mulutku. Pak Itam menambahkan lagi minyak di tangannya dan mulai bermain di bibir duburku. Aku meremas bantal karena kenikmatan. Sambil melakukan itu, jarinya berusaha mencolok lubang duburku.

“Jangan tegang, biarkan saja,” terdengar suara Pak Itam yang agak serak.

Aku coba merilekskan otot duburku dan menakjubkan… jari Pak Itam yang licin berminyak dengan mudah masuk sehingga ke pangkal. Setelah berhasil memasukkan jarinya, Pak Itam mulai menggerakkan jarinya keluar masuk lubang duburku.

Aku coba membuka mataku yang kuyu karena kenikmatan untuk melihat Leman dan Ramli yang sedang membetulkan sesuatu di dalam celana mereka. Aku jadi merasakan semacam kenikmatan pula melihat mereka sedang memperhatikan aku diterapi Pak Itam. Perasaan malu terhadap kedua muridku berubah menjadi gairah tersembunyi yang seolah melompat keluar setelah lama terkekang!

Setelah perjalanan jari Pak Itam lancar keluar masuk duburku dan duburku mulai beradaptasi, dia mulai berdiri di belakangku sambil jarinya masih terbenam mantap dalam duburku. Aku memandang Pak Itam yang sekarang menyingkap kain sarungnya ke atas dengan satu tangannya yang masih bebas. Terhunuslah kemaluannya yang panjang dan bengkok ke atas itu. Tampak sudah sekeras batang kayu!

“Bbbbuat apa ini, Pak….” tanyaku dengan gugup.

“Jangan risau… ini buat buang sihir,” katanya sambil melumur minyak ke batang kemaluannya yang cukup besar bagi seorang yang kurus dan pendek. Selesai berkata-kata, Pak Itam menarik jarinya keluar dan sebagai gantinya langsung menusukkan batangnya ke lubang duburku.

“ARRrgggghhggh…” spontan aku terjerit kengiluan sambil mengangkat kepala dan dadaku ke atas. Kaki bawahku pun refleks terangkat ke atas.

“Jangan tegang, lemaskan sedikit!” perintah Pak Itam sambil merenggangkan daging pantatku. Aku berusaha menuruti perintahnya. Setelah aku melemaskan sedikit ototku, hampir separuh batang Pak Itam terbenam ke dalam duburku.

Aku melihat Leman dan Ramli sedang meremas sesuatu di dalam celana masing-masing. Setelah berhasil memasukkan setengah zakarnya Pak itam menariknya keluar kembali dan lalu memasukkannya kembali sehingga semua zakarnya masuk ke dalam rongga duburku. Dia berhenti di situ.

“Sekarang Ibu merangkak mengelilingi bara kemenyan ini tiga kali,” perintahnya sambil zakarnya masih terbenam mantap dalam duburku.

Aku sekarang seakan-akan binatang yang berjalan merangkak sambil zakar Pak Itam masih tertanam dengan mantapnya di dalam duburku. Pak Itam bergerak mengikutiku sambil memegangi pinggangku.

“Pelan-pelan saja, Bu,” perintahnya sambil menahan pinggangku supaya tidak bergerak terlalu cepat. Rupanya ia takut penisnya terlepas keluar dari lubang duburku saat aku bergerak. Aku pun mematuhinya dengan bergerak secara perlahan.

Kulihat kedua murid Pak Itam sekarang telah mengeluarkan zakar masing-masing sambil bermasturbasi dengan melihat tingkahku. Aku merasa sangat malu tetapi di lain pihak terlalu nikmat rasanya. Zakar Pak Itam terasa berdenyut-denyut di dalam duburku. Aku terbayang wajah suamiku seakan-akan sedang memperhatikan tingkah lakuku yang sama seperti binatang itu.

Sementara aku merangkak sesekali Pak Itam menyuruhku berhenti sejenak lalu menarik senjatanya keluar dan lalu menusukku kembali dengan ganas sambil mengucapkan mantera-mantera. Setiap kali menerima tusukan Pak Itam setiap kali itu pula aku mengerang kenikmatan. Lalu Pak Itam pun akan menyuruhku untuk kembali merangkak maju. Demikian berulang-ulang ritual yang kami lakukan sehingga tiga keliling pun terasa cukup lama.

Setelah selesai tiga keliling, Pak Itam menyuruhku berhenti dan mulai menyetubuhiku di dubur dengan cepat. Sebelah tangannya memegang pinggangku kuat-kuat dan sebelah lagi menarik tudungku ke belakang seperti peserta rodeo. Aku menurut gerakan Pak Itam sambil menggoyang-goyangkan pantatku ke atas dan ke bawah.

Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang panas mengalir di dalam rongga duburku. Banyak sekali kurasakan cairan tersebut. Aku memainkan kelentitku dengan jariku sendiri sambil Pak Itam merapatkan badannya memelukku dari belakang. Tiba-tiba sisi kiri pinggangku pun terasa panas dan basah. Leman rupanya baru saja orgasme dan air maninya muncrat membasahi tubuhku.

Lalu giliran Ramli mendekatiku dan merapatkan zakarnya yang berwarna gelap ke sisi buah dadaku. Tak lama kemudian air maninya muncrat membasahi ujung putingku. Aku terus mengemut-ngemut zakar Pak Itam yang masih tertanam di dalam duburku dan bekerja keras untuk mencapai klimaks.

“Arghhhhhhhrgh…” Aku pun akhirnya klimaks sambil tengkurep di atas tikar ijuk.

“Ya, bagus, Bu…” kata Pak Itam yang mengetahui kalau aku mengalami orgasme. “Dengan begitu nanti guna-gunanya akan cepat hilang.”

Pak Itam lalu mencabut zakarnya dan melumurkan semua cairan yang melekat di zakarnya ke atas pantatku sampai batangnya cukup kering.

“Jangan basuh ini sampai waktu magrib ya,” katanya mengingatkanku sambil membetulkan kain sarungnya.

Aku masih lagi tengkurep dengan tudung kepalaku sudah tertarik hingga ke leher. Aku merasakan bibir duburku sudah longgar dan berusaha mengemut untuk menetralkannya kembali. Setelah itu aku bangun dan memunguti pakaianku yang berserakan satu per satu.

Selesai mengenakan pakaian dan bersiap untuk pulang setelah dipermalukan sedemikian rupa, Pak Itam berpesan.

“Besok pagi datang lagi ya, bawa sedikit beras bakar.”

Aku seperti orang bodoh hanya mengangguk dan memungut tas sekolahku lalu terus menuruni tangga rumah Pak itam.

Sejak itu sampai hari ini, dua kali seminggu aku rutin mengunjungi Pak Itam untuk menjalani terapi yang bermacam-macam. Leman dan Ramli yang sedang belajar pada Pak Itam sedikit demi sedikit juga mulai ditugaskan Pak Itam untuk ikut menterapiku. Walaupun tidak tahu pasti, aku merasa bahwa suamiku perlahan-lahan mulai meninggalkan affairnya. Yang pasti, kini sulit rasanya bagiku untuk menyudahi terapiku bersama Pak Itam dan murid-muridnya. Sepertinya aku sudah kecanduan untuk menikmati terapi seperti itu.

TAMAT

Kisah Di Sebuah Pulau

Copyright 2002, by Ayeng Waldesi <awaldesi@yahoo.com>

(Pemaksaan, Istri Selingkuh)

Sebagai seorang pimpinan cabang di suatu bank daerah, Yeni mendapat tugas di sebuah daerah yang baru menjadi kabupaten di propinsi Sumatera Barat. Jika dipikir, sebetulnya Yeni tidak suka dipindah ke pulau itu, namun tugasnya sebagai pegawai negeri tidak bisa ditolak. Bagaimanapun Yeni tidak ingin karir yang sudah dirintisnya selama beberapa tahun harus habis.

Untuk itu ia harus berkorban dan rela meninggalkan suaminya yang bekerja di ibukota propinsi. Bagaimanapun mereka adalah pasangan suami istri yang masih menjalani masa pengantin baru.

Untuk menempuh kabupaten tersebut harus melalui laut dan naik boat yang setiap minggu hanya ada 1 kali pelayaran. Saat Yeni menempati kantor barunya, Beni ikut serta mengantar ke pulau itu. Bagaimanapun ia khawatir akan istrinya yang memang cantik itu. Apalagi kalau ia ingat saat menaiki boat, hampir semua mata anak buah boat itu memandang lain kepada Yeni. Namun Beni tidak mengambil peduli. Ia amat mendukung karir istrinya itu.

Sesampainya di pulau, Yeni langsung menuju ke rumah dinasnya di sana. Di pulau itu kehidupan masyarakatnya memang tergolong masih terbelakang. Selama satu minggu Beni berada di pulau itu mendampingi istrinya yang mulai bekerja di kantor bank pemerintah daerah. Selama satu minggu itu pula Beni selalu menyirami Yeni dengan kemesraan yang biasa mereka lakukan sebagai suami istri. Beni menyadari Yeni tidak bisa terlalu sering datang ke kota propinsi. Jika ia rindu, Beni saja yang datang ke pulau itu untuk memberikan jatah seksnya kepada Yeni.

Karena Beni mendapatkan tugas belajar ke luar negeri dari kantornya, maka saat itu komunikasi Yeni dan Beni agak terhenti dan membuat Yeni tidak dapat menerima belaian dan kemesraan dari Beni. Hanya hubungan telepon yang mereka lakukan.

Pernah satu saat Yeni dengan teman-teman sesama karyawan di bank ia bekerja pulang ke kota propinsi dan menumpang kapal yang biasa mereka tumpangi, diganggu oleh anak buah kapal yang memang dari pertama kali Yeni datang selalu memperhatikan tindak-tanduk Yeni. Namanya Salube. Salube adalah penduduk asli di pulau itu. Salube selalu merperhatikan saat Yeni bersama Beni dan saat itu bersama 2 orang temannya yang seluruhnya perempuan yang akan pulang ke kota.

Di antara mereka bertiga hanya Yeni yang amat mengundang minat para lelaki di atas kapal itu, sedang yang lainnya sudah pada berumur dan tidak begitu menggoda. Kalau dilihat sosok Yeni, memang cantik. Selain itu ia memiliki tubuh yang semampai. Yeni berumur 27 tahun  kulit putih dan dada yang seimbang dengan bentuk tubuhnya. Bibirnya juga mengundang pria untuk mengulumnya. Yeni memiliki leher yang jenjang dan di tengkuknya ditutupi oleh rambut halus sehingga menonjol sekali kecantikannya ditambah sepasang kaki yang panjang bak belalang.

Sedang Salube, sebagai anak kapal amat bertolak belakang dengan Yeni. Selain kulitnya hitam dan badannya pendek, mukanya juga amat menakutkan jika terus dipandang. Belum lagi jika berpapasan baunya amat menyengat hidung.

Selama perjalanan pulang Yeni tidak mengubris godaan dari Salube. Yeni serasa mau muntah jika dekat Salube, namun Salube tetap menggodanya. Untunglah jarak dengan kota telah dekat.

Saat Yeni akan berangkat kembali ke pulau itu untuk bekerja, mau tidak mau Yeni harus menumpang kapal itu lagi. Selama perjalanan Yeni amat khawatir terhadap Salube. Sebagai seorang wanita, ia tidak mungkin membentak Salube, namun Salube kembali mencoba menggoda Yeni dengan kata-kata rayuan supaya Yeni mau berteman dengannya. Yeni selalu membuang muka. Ingin rasanya ia mengadukan perbuatan Salube itu kepada nakhoda kapal itu, namun tidak mungkin. Bagaimanapun Yeni bekerja di daerah yang notabene tempat kelahiran Salube. Akhirnya Yeni menerangkan kepada Salube.

“Saya mohon jangan diganggu, soalnya saya memiliki suami dan saya ke sini untuk kerja. Harap anda maklum,” Yeni menerangkan.

Sedang Salube hanya tersenyum, dan berkata, “Kak, jangan sombong.. di pulau ini… segalanya bisa terjadi.. Saya tau suami kakak.. tidak ada, namun tolong terima saya sebagai kawan dan anggap saya sahabat kakak…..” Salube menerangkan.

Dengan marah Yeni meludah dan berkata “Apa kata kamu… Kamu kira kamu bisa apa.. Kamu jangan ancam saya seperti itu… Kamu bisa repot… Bapak suamiku orang berpengaruh di kota. Kamu bisa ditangkap tau!” kata Yeni ketus.

Lalu Salube berkata, “Baiklah kita liat saja dalam beberapa waktu nanti Kakak pasti bertekuk lutut ke saya minta belas kasian…”

Yeni hanya diam memperhatikan Salube berlalu dan membiarkan ancamannya. Setelah kejadian itu, seperti biasa Yeni bekerja dan melakukan aktifitasnya di kantornya. Jarak rumah dan kantornya tidak terlalu jauh hanya 5 menit jika jalan kaki. Sesampai di luar kantornya, Yeni berpapasan dengan Salube, yang saat itu hanya berjalan seorang diri.

Yeni hanya memalingkan muka tidak ingin bertatapan mata dengan Salube, padahal saat itu Salube baru saja datang dari tempat gurunya untuk minta ramuan pemikat sukma. Bagaimanapun ia amat sakit hati dilecehkan Yeni. Dengan mantra dari gurunya Salube mencoba memanggil nama Yeni…

“Yeni, kamu mau kemana?”

Ajaib, Yeni yang sebelumnya amat membenci Salube dan jijik kepadanya tiba-tiba berhenti lalu berpaling menatap Salube…. Sambil memandang wajah laki-laki itu, dijawabnya pertanyaan Salube.

“Saya mau pulang ke rumah, Be.” katanya.

“Boleh saya antar kamu sampai ke rumah?” Dalam hatinya, Salube merasa girang. Mantra dari gurunya tampaknya akan berhasil.

Yeni menatap mata Salube selama beberapa saat. Lalu ia pun tersenyum manis.

“Silakan…. jika tidak keberatan.” Segala kebencian Yeni saat itu sirna dan rasa simpatinya muncul. Yeni tidak menyadari bahwa sukmanya telah dipermainkan oleh Salube.

Sesampainya di rumah dinasnya, Yeni mempersilakan Salube masuk.

“Silakan masuk, Be…” kata Yeni. “Duduk aja dulu, ya? Saya mau ke belakang sebentar…”.

Yeni menutup kembali dan mengunci pintu rumah dinasnya yang terletak agak jauh dari rumah penduduk lainnya.

Salube duduk di ruang tamu sambil terus membaca mantra. Di pulau itu Salube amat ditakuti. Dengan bantuan gurunya, semua wanita di pulau itu yang menarik hatinya telah pernah ia gauli, tak peduli masih gadis maupun sudah jadi istri orang. Kini, ia bertekad sepenuh hati untuk melakukan hal yang sama terhadap Yeni. Sejak datang ke pulau itu bersama suaminya, Yeni tidak luput dari perhatian Salube. Ia ingin menaklukkan Yeni.

Salube pun pernah mengintip saat Yeni berhubungan badan dengan suaminya. Itulah salah satu faktor yang membuat Salube ingin merasakan tubuh Yeni. Di pulau itu tidak satu pun orang yang akan melarang perbuatan Salube. Ia juga pernah menggauli seorang dokter wanita yang ditugaskan ke pulau itu beberapa tahun lalu. Namun sang dokter yang ayu itu kini telah pindah tugas ke kota.

Beberapa saat kemudian Yeni datang dan membawa air minum untuk Salube.

“Diminum airnya ya, Be?”

Lalu Yeni duduk di depan Salube dan bertanya.

“Dari mana, Be?”

“Saya dari kapal” jawab Salube.

Secara tak sengaja rok kerja Yeni tersingkap dan terlihatlah CD merah Yeni oleh Salube. Yeni tidak sadar dari tadi Salube terus memperhatikan belahan paha Yeni. Yeni terus berbicara mengenai kantornya dan ia belum sempat salin pakaian kerjanya.

Salube berkata, “Yen, tukar aja dulu pakaian kamu.”

Yeni menuruti perkataan Salube. Ia lalu berjalan ke kamar. Salube pun mengikuti dari belakang. Yeni membiarkan Salube mengikutinya ke kamar. Bagaimanapun saat itu Yeni telah berada dalam pengaruh Salube.

Di kamar, Yeni lalu membuka blouse kerjanya bagian atas, sedang Salube terus memperhatikan dengan seksama, sambil air liurnya naik turun. Sebentar lagi Yeni akan berada di dekapannya…. Setelah blouse terlepas dari tubuh Yeni dan yang tertinggal hanya BH pink 34b itu, Salube berdiri menuju Yeni.

Dari belakang, ia belai bahu dan tengkuk Yeni yang putih mulus itu. Bulu-bulu halus di tengkuk Yeni ia ciumi dengan mulutnya sehingga aroma parfum Yeni yang telah bercampur bau tubuh Yeni menambah nafsu Salube. Yeni memejamkan mata. Sekarang ia berada dalam pengaruh gairah Salube. Suaminya tidak ia ingat lagi.

Lalu Salube membuka pengait BH Yeni itu dan membuangnya ke lantai sehingga kedua payudara Yeni jadi terbuka. Dengan kedua tangannya Salube meremas dan memilin puting susu itu dari belakang, sementara mulut Salube terus menciumi leher jenjang yang terawat itu.

Rambut Yeni ia sisipkan ke tepi supaya Salube dengan mudah dapat meciumi tengkuk dan leher Yeni.

Setelah Yeni terbangkitkan gairahnya, Salube membawanya ke tempat tidur di kamar Yeni. Ia baringkan tubuh Yeni. Salube terus membelai dada putih itu. Memerahlah kedua payudara Yeni karena kenakalan tangan Salube.

Yeni telah melupakan ketakutannya kepada Salube. Juga ia tidak merasa jijik jika berdekatan dengan Salube. Buktinya, saat itu Salube leluasa menjamah tubuh mulusnya dengan rakus.

Salube berpindah ke kaki Yeni. Ia ciumi jari kaki itu, lalu naik ke betis dan sampailah ke lutut dan paha Yeni. Ini amat membangkitkan sensasi tersendiri bagi Yeni. Yeni hanya pasrah, biarlah Salube yang mengambil peranan sejak saat itu.

Tangan Salube membuka rok kerja Yeni yang masih melekat. Rok itu menggangu kegiatan Salube. Yeni belum sempat menukar rok kerjanya saat itu.

Setelah rok itu tanggal, terpampanglah sepasang paha yang ditutupi segi tiga pengaman berwarna merah. CD merah itu lalu ia turunkan dari kedua kaki Yeni dan terlihatlah sejumbut bulu halus yang menutupi lobang vagina Yeni.

Dengan jari tangannya, lobang itu ia korek. Yeni merasakan terbang ke awang-awang. Daging kecil di belahan vagina Yeni ia pilin dan lobang itu pun mulai basah oleh air kenikmatan Yeni.

Sementara itu di tubuh Yeni yang telanjang mulai banyak mengeluarkan keringat menandakan Yeni telah terangsang hebat. Salube pun menghentikan permainannya. Ia tanggalkan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.

Ia minta Yeni untuk memegang penisnya, “Yen, pegang ini punya saya…”

Yeni diam dan mencoba memegangnya. Ia amat takjub… Penis Salube amat besar dan panjang, bewarna hitam sedang kepala bajanya cukup lebar. Ia sempat bergidik karena miliknya amat kecil dan belum pernah¬† melahirkan. Milik suaminya juga tidak terlalu panjang dan besar.

Salube meminta Yeni untuk mengulumnya dengan posisi 69. Dengan sedikit jijik, Yeni membawa penis Salube ke mulutnya. Yeni mulai menjilatinya, lalu ia kulum maju mundur. Salube sendiri terus memainkan lobang kemaluan Yeni. Ia pilin-pilin daging kecil itu. Sesekali tangannya meremas susu Yeni yang bergoyang karena gerakan tubuh Yeni menahan gairah.

Kurang lebih 18 menit Yeni telah dua kali mengalami orgasme, sedamg Salube memiliki ketahanan yang lama. Baru saat akan memasuki menit ke-20 ia muntahkan spermanya di mulut Yeni. Setelah itu Yeni berdiri ke kamar mandi dan muntah karena ia jijik akan sperma Salube yang sempat tertelan olehnya.

Salube hanya diam menunggu Yeni di tempat tidur sambil menaikkan kembali penisnya supaya tegak. Ia percaya Yeni tidak akan bisa menolak pengaruhnya. Beberapa saat kemudian Yeni masuk ke kamar dan kembali ia duduk di pinggiran ranjang.

Salube kembali menaikkan nafsu Yeni dengan memilin puting susu Yeni sehingga puting itu tegak menantang menandakan Yeni sudah kembali bergairah. Lalu tangan Salube merengkuh pinggang Yeni. Salah satu jarinya masuk ke dalam lobang vagina Yeni. Yeni menuruti saja kemauan Salube.

Salube ingin permainan ranjang itu dilanjutkan dengan masuknya penisnya ke dalam lobang Yeni. Salube lalu merengkuh sebuah bantal dan meletakkannya di pinggul Yeni sehingga vagina Yeni terbuka. Namun Yeni kembali menutupkannya dengan merapatkan kedua kakinya, sambil berkata, “Be…, saya tak ingin kamu masukkan punyamu ke dalam saya. Saya takut hamil. Saat ini saya tidak memakai alat KB.”

Yeni yang meskipun telah diliputi nafsu masih sempat berpikir untuk tidak mau beresiko dalam hubungan seks dengan Salube. Ia khawatir akan hamil akibat Salube. Jika dengan Beni ia tidak ambil peduli, ia ingin hubungannya dengan Beni tetap normal dan ia pun ingin terus setia dengan lembaga perkawinannya.

Lalu Salube berkata, “Tenang saja, kamu takkan hamil, ya? Nah buka lagi, Yen?” sambil tangannya membuka kedua kaki Yeni yang berbetis indah itu.

Setelah kedua kaki Yeni terbuka, lalu ia tekuk ke atas dan penisnya yang dari tadi tegak menantang ia arahkan ke bibir vagina Yeni. Agak hati-hati ia geserkan penisnya, sedang Yeni hanya menahan nafas ia sadar sebentar lagi vaginanya akan diaduk penis Salube yang amat besar itu. Penis Salube masuk setengah dan ia dorong terus. Yeni sesenggukan menahan nyeri di lobangnya.

“…Auuggggghhhhh…..auuuuuhhh, sakit… Salube..!!” jerit Yeni.

Salube tidak mempedulikan jeritan Yeni. Ia genjot terus pinggulnya sehingga seluruh penisnya masuk ke dalam vagina Yeni. Salube terus menggenjot dan Yeni amat tersiksa karenanya.

Inilah saat-saat yang diingini Salube. Ia penasaran saat melihat Yeni bersetubuh dengan suaminya. Amat mempesona Salube… maka ia terus genjot Yeni selama 20 menit… Yeni hanya mendengus antara rasa nyeri dan kenikmatan. Salube melampiaskan nafsunya ke tubuh Yeni karena ia amat cemburu melihat Yeni saat bersebadan dengan Beni, di kamar dan ranjang yang sama.

Salube termasuk tipe laki-laki hiperseks yang sanggup bertahan lama dalam berhubungan seks. Apalagi dengan wanita secantik Yeni.

Keringat membasahi kedua tubuh telanjang yang sedang berdempet itu amat kontras. Tubuh putih mulus Yeni ditunggangi oleh tubuh hitam yang berbulu milik Salube. Pada menit ke-25 barulah Salube muntahkan spermanya yang banyak ke dalam vagina Yeni.

Yeni sejak tadi telah beberapa kali mengalami klimaks orgasme sehingga ia tidak menyadari bahwa Salube telah menumpahkan spermanya ke dalam rahimnya. Karena Yeni tidak mencegahnya, Salube sengaja membiarkan saja penisnya terus tertanam di dalam tubuh Yeni. Baginya, hal itu terasa sangat nikmat karena mencerminkan keberhasilan penaklukannya dan pelampiasan nafsunya terhadap Yeni secara total.

Setelah itu tubuh Salube terhempas di atas tubuh Yeni yang mulus itu. Penisnya ia biarkan masih di dalam vagina Yeni. Salube lalu tertidur, begitu pula Yeni. Mereka begitu kelelahan setelah keduanya mengeluarkan energi yang begitu banyak untuk bersenggama. Di luar rumah mereka hujan turun dengan deras.

Menjelang pagi Salube bersama Yeni kembali mengulang permainan ranjang itu. Yeni yang semula agak malu-malu dan amat jijik kepada Salube, sejak saat itu aktif mengambil peranan dalam memuaskan nafsunya. Dengan tidak malu-malu Yeni telah bisa mengulum dan menjilat setiap inci tubuh Salube. Tidak terkecuali penis Salube. Begitu juga sebaliknya dengan Salube.

Sejak kejadian itu Salube dan Yeni terus melakukan hubungan seks. Mereka melakukannya baik di rumah Yeni atau pun di gubuk Salube di hutan bakau pulau itu. Tindakan Yeni ini tidak diketahui oleh teman-temannya di bank. Ia dan Salube benar-benar menyimpan rapi affair mereka. Selama Beni tugas belajar, Yeni dan Salube tidak pernah absen melakukan hubungan seks.

Yeni sebenarnya menyadari, dan khawatir kalau-kalau ia akan hamil. Karena itu akhirnya Salube terlebih dahulu selalu memberikan pil KB untuk diminum Yeni sebelum bersenggama dengannya sehingga Yeni tidak akan hamil.

Sampai Beni pulang dari luar negeri pun Yeni tetap melayani Salube. Baginya Salube amat perkasa dan jantan.

TAMAT

Buah Dari Keangkuhan

Copyright 2003, Ayeng Waldesi (awaldesi@yahoo.com)

(Pemaksaan, Istri Selingkuh)

Sebagai seorang ibu muda, kehidupan Lisa amatlah monoton, tidak ada yang menonjol. Hari-harinya dilalui untuk merawat dan mengasuh kedua anaknya yang lucu-lucu. Suaminya adalah seorang eksekutif di sebuah perusahaan yang bonafid di jakarta.

Lisa adalah seorang ibu rumahtangga yang berumur 28 tahun. Ia amat memperhatikan perawatan dan kecantikan tubuhnya, sesuai anjuran dari ibunya sejak ia remaja. Ia memiliki wajah yang cantik, ditunjang pula dengan bentuk tubuh yang ramping dan kulit yang putih.

Lisa amat memperhatikan penampilannya, ia tidak ingin suaminya Rudi akan berpaling kepada wanita lain, hanya dengan alasan klasik yaitu kecantikan dan penampilannya sebagai istri. Di rumahnya yang terbilang megah, Lisa menghabiskan waktu dengan senam untuk menjaga kebugaran.

Akhir-akhir ini Rudi amat sibuk dengan pekerjaan kantornya sehingga membutuhkan perhatian dan kerja ekstra. Hampir tidak ada waktu lowong bagi Rudi untuk bermesraan dan libur dengan anak-anaknya.

Seiring dengan menanjaknya karir Rudi, pria itu diangkat sebagai manager di daerah baru, kawasan timur Indonesia. Dengan sendirinya Rudi mengajak pindah keluarganya ke daerah itu.

Di daerah baru itu Rudi menempati sebuah rumah dinas yang amat megah dan luas. Di rumah dinasnya itu telah tersedia segala perabotan dan kendaraan yang dibutuhkan oleh Rudi sekeluarga, juga telah ada seorang pembantu dan tukang kebun yang merangkap satpam di rumah itu.

Seperti biasanya, Rudi terus larut dengan kesibukannya dengan kunjungan ke daerah yang merupakan daerah kepulauan itu. Setiap perjalanannya biasa memakan waktu sekitar 1-2 minggu. Tidak heran jika Lisa sering ditinggal di rumah sendirian. Lisa sebetulnya sangat khawatir akan keselamatan Rudi.

Kehidupan rumah tangga mereka yang telah berjalan lebih kurang 8 tahun telah mereka lalui dengan penuh kemesraan dan keserasian sehingga membuat iri teman-teman Rudi. Rudi tidak melupakan kehidupan seks dan rutin menjaga kemesraannya dengan Lisa.

Karena pengaruh kehidupan kota yang egois, sering membuat kedua pembantunya tersinggung. Bagaimanapun Lisa adalah seorang wanita yang dibesarkan di dalam lingkungan keluarga berada dan segala keinginannya slalu didapatkan begitu juga dengan Rudi memiliki latar belakang yang sama.

Rudi pun sering menghardik Pak Martin tukang kebunnya. Pak Martin adalah tukang kebun di rumah itu telah lama bekerja, tidak pernah ia diremehkan oleh majikannya terdahulu, tidak seperti Rudi dan Lisa yang sering memandang rendah kepadanya.

Kalau dilihat usia pak Martin seusia orang tua Rudi yang telah berumur 58 tahun. Pak Martin adalah penduduk asli di daerah itu. Masa mudanya Pak Martin amat ditakuti oleh masyarakat sekitarnya. Dulunya ia adalah seorang penjahat dan gembong rampok yang memiliki ilmu yang tinggi dan sudah beberapa kali keluar masuk penjara di daerah itu, tidak heran hampir seluruh badannya dipenuhi tato.

Suatu hari Rudi dan Lisa pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dan pulannya ia mendapati pak Martin sedang tidur sehingga pintu pagar rumah itu tidak ada yang membuka, setelah di gedor beberapa kali , akhirnya pak Martin bangun dan dengan kasar dan marah2 Lisa memaki maki pak Martin.

“Dasar tua bangka, malas, apa saja, kerja kamu hahh,” sengit Lisa yang disaksikan Rudi dari atas mobilnya.

“Maaf , nyak.. saya tertidur, skali lagi maafkan saya nyak..” kata Martin memohon.

“Cih,” Lisa meludahi wajah Martin lalu berlalu,kamu tak perlu di beri maaf..”

“Kamu kerja saya gaji, masa masih malas?” sahut Lisa berlalu dari hadapan Martin.

Martin hanya menunduk dan merasakan amat pedih di dadanya dihina dan direndahkan oleh kedua suami istri itu. Lalu timbullah pikiran jahat di dalam hatinya, padahal ia telah lama berusaha untuk selalu berbuat benar dan lurus, bagaimanapun naluri jahat dalam dirinya kembali muncul.

Ia akan membalas perlakuan Rudi dan Lisa itu yang telah kelewatan. Ia tahu, Rudi sering ke luar kota untuk saat yang lama, sedang Lisa tinggal di rumah itu dengan kedua anaknya. ia ingin Lisa bertekuk lutut minta belas kasihan kepadanya, bagaimanapun usianya saat ini ia masih mampu untuk menaklukkan wanita ditunjang dengan ilmu mistis yang dimilikinya.

Ia tahu, Lisapun pada saat-saat tertentu pasti membutuhkan kemesraan dari Rudi. Martin amat berpengalaman dalam soal seks. Ia tahu Lisa termasuk dalam katagori wanita yang tidak bisa menahan nafsu apalagi jika sering ditinggal suaminya beberapa hari.

Pada hari itu, Rudi berangkat ke daerah untuk meninjau proyek yang ia tangani di sebuah pulau yang memakan waktu beberapa hari. Saat itulah yang dinanti-nanti Martin. Di kamarnya ia telah menyiapkan beberapa sesajen untuk mengadakan ritual memantapkan ajian pemikat yang ia miliki.

Saat itu Lisa sedang berada di dalam kamarnya yang luas, dilengkapi AC yang bersuhu dingin itu amat kedinginan. Gairah nafsunya menghentak hentak, padahal sebelum berangkat Rudi telah menyirami batin Lisa beberapa kali ronde, namun aneh saat itu ia ingin kembali mengulangnya.

Kemudian Lisa berjalan ke luar kamarnya, terlihat tubuh mulusnya terbungkus baju tidur sutra yang halus sehingga lekuk tubuhnya yang indah itu terbentuk. Ia lihat di sekeliling ruang rumahnya, semua pada tidur dan hanya ia yang masih bangun. Ingin rasanya ia bermasturbasi namun ia sadar tidak akan memuaskannya,

Lisa berpikir keras untuk meredam nafsunya itu. Semakin malam hari semakin dingin dan begitu juga nafsunya ingin di salurkan namun kepada siapa? Sedang Rudi saat ini masih berada di luar kota.

Di kamarnya pak Martin terus mengadakan ritual mistis, ia ingin agar Lisa benar-benar datang minta belas kasihan kepadanya. Martin sudah tidak dapat lagi menahan nafsu dendamnya kepada Rudi dan Lisa, meskipun selama ini ia sering melihat Lisa yang cantik dan menggairahkan itu dalam kamar dan rumahnya , namun Martin selalu dapat mengatasinya. Secara lahiriyah ia akui Lisa amat menggoda gairahnya, namun pikiran itu ia buang jauh-jauh. Ia tidak ingin membuat masalah. Bisa saja dari dulu-dulu ia pelet Lisa dan ia gauli sesukanya namun ia tak pernah melakukannya. Sekarang, karena tindakan Rudi dan Lisa yang sudah amat kelewatan saja maka ia berbuat itu.

Kemudian Lisa menuruni anak tangga rumahnya dan berjalan ke ruang tamunya. Di luar hari mulai hujan dan diiringi petir. Ia berjalan ke kamar pembantunya, Mbok Ijah, namun Mbok Ijah telah tidur. Kamar Martin terletak di samping garasi rumah itu.

Lalu Lisa berjalan ke arah kamar Martin. Secara tiba-tiba pintu kamar Martin terbuka. Lisa sempat mencium aroma menyan yang dibakar Martin saat itu. Dari dalam kamarnya, Martin memanggil Lisa dengan suara serak. Martin saat itu telah tahu bahwa Lisa akan mendatanginya.

Lisa melihat ke dalam kamar itu. Ia lihat kamar itu hanya diterangi lampu 5 watt sehingga samar-samar saja ia melihat Martin duduk bersila di lantai kamar.

“Lisa, masuk… duduklah, Lisa…” kata Martin serak. Lalu Lisa jongkok dan duduk di atas karpet merah yang telah disediakan Martin.

Sambil komat-kamit, Martin memerintahkan Lisa untuk memandang matanya.

“Nah, pandanglah mata saya, Lisa,” kata Martin lagi.

Inilah kesalahan fatal bagi Lisa. Ia tatap mata Martin. Lalu Martin yang saat itu hanya mengenakan sarung, berdiri dan berjalan kearah pintu untuk menguncinya dari dalam.

Lisa yang telah terpaku oleh pengaruh Martin, hanya duduk diam. Nafasnya nampak naik turun, karena gairah nafsunya amat menghentak-hentak kepalanya.

Melalui baju tidur sutra tipis itu tampak kulit tubuh Lisa yang amat menggoda. Warna lampu 5 watt amat mempengaruhi kecantikan Lisa. Martin lalu berjalan ke arah belakang badan Lisa.

Tangannya langsung meraih jemari Lisa. Sambil memeluk dari belakang, ia ciumi tengkuk yang berbulu halus itu dengan syahdu. Mata Lisa hanya merem melek menikmati sentuhan Martin yang nota bene adalah pembantunya itu.

Selama ia berada di daerah itu ia belum sekalipun dirinya menginjakkan kakinya di kamar Martin. Pengaruh pelet dari Martin ternyata mampu membuatnya mendatangi kamar itu.

Masih dari belakang tubuh Lisa, Martin lalu meraih kedua payudara Lisa yang terbungkus baju tidur. Tangan Martin meremas dan memilin bukit ranum itu. Lalu mulutnya ia geser ke depan dan ia kulum bibir Lisa yang merah jambu itu. Di bibir itu Martin mencari-cari lidah Lisa. Dengan nafasnya ia hirup lidah Lisa hingga Lisa merasa sesak nafas.

Tangan Martin tidak mau kalah. Dari dada Lisa, tangan itu terus turun ke paha dan terus bergeser ke arah pangkal paha Lisa. Baju tidur perempuan itu ia singkapkan sehingga paha mulusnya terlihat jelas. Lisa memakai CD putih tipis berenda. Jari-jemari Martin lalu bermain di dalam rongga kemaluan Lisa dan mulai mengorek-ngorek isi vaginanya.

Di atas karpet merah itu, sangat kontras terlihat tubuh putih mulus Lisa yang mengenakan baju sutra tipis itu duduk bersila. Lalu Martin membuka kedua tali yang menahan baju itu dari bahu Lisa sehingga baju itu terlepas ke bawah. Terpampanglah bahu putih serta payudara yang masih tertutup BH 34c milik Lisa. Baju itu ia turunkan terus, sementara tali BH itu ia buka pengaitnya dari belakang sehingga kedua bukit salju Lisa terlihat jelas.

Kedua putingnya berwarna merah jambu. Dengan mulutnya, bukit indah itu dijilat inci demi inci, sesekali ia gigit dengan lembut sehingga menambah kenikmatan dan sensasi tersendiri bagi Lisa. Dari mulutnya hanya terdengar dengusan kenikmatan. Ia ingin permainan itu diteruskan segera oleh Martin. Martin yang telah berpengalaman itu tahu semua titik kelemahan Lisa. Ia terus memancing setiap inci dari tubuh Lisa dengan lidahnya. Lalu ia buka CD Lisa dan terlihatlah sorga kenikmatan Lisa yang masih rapet itu.

Meskipun Lisa telah melahirkan namun liang vaginanya masih rapat. Itu karena setiap melahirkan, ia melakukan bedah caesar sehingga tidak mempengaruhi bentuk vaginanya. Di samping itu, ia juga rajin olah kebugaran hingga perutnya tetap rata dan kencang.

Martin menggeser mulutnya ke bawah pusar Lisa dan berhenti di lobang yang di tutup oleh bulu halus terawat itu. Lobang vagina Lisa ia obok-obok dengan lidahnya. Lubang kelamin Lisa memiliki bau yang khas, yang memancing gairah Martin.

Lalu Martin mengambil posisi membelakangi Lisa. Ia arahkan penisnya yang panjang dan tidak dikhitan sehingga menyerupai pisang flores itu ke mulut Lisa. Melalui bibir Lisa, penis itu menerobos masuk masuk perlahan ke dalam mulut istri Rudi itu. Lisa menerima kepala penis itu dengan pasrah dan mengulumnya hingga tuntas.

Penis itu terus ia kocok di dalam mulutnya hingga kepala penis yang telah lama tidak dipakai dan menghitam itu terlihat licin mengkilat. Akhirnya penis Martin memuntahkan larvanya karena dikocok secara intensif oleh mulut Lisa selama 15 menit. Lisa menelan sperma Martin sampai habis. Bahkan setelah semua sperma kental itu berpindah ke dalam perutnya, ia masih terus menjilati kepala baja hitam itu.

Martin terus memanjakan lobang vagina Lisa berulang-ulang. Ia tidak peduli Lisa telah beberapa kali orgasme, yang ditandai dengan adanya lonjakan-lonjakan panjang pada tubuh Lisa.

Lalu Martin merubah posisinya. Ia berhadap- hadapan dengan Lisa yang masih terbaring di atas karpet tebal di dalam kamar Martin. Dengan tangannya Martin memasuki lobang Lisa. Ia korek-korek kelintit Lisa.

Lisa meregang menahan geli dan nafsu, sedangkan tubuh putih mulus itu telah basah bersimbah keringat karena permainan pemulaan itu. Martin merasa yakin Lisa telah terbangkitkan nafsunya.

Ia lalu membuka kedua kaki Lisa dan meletakkan bantal di bawah pantat Lisa. Ia tidak ingin penetrasi yang ia inginkan itu gagal. Telah lama ia
mengimpikan saat ini, menanamkan benihnya ke dalam rahim Lisa. Sesekali tangannya meraih payudara yang mulai tegak memerah itu. Kepala Lisa menggeleng-geleng. Ia menarik kepalanya menahan nikmat yang menjalari lobang kewanitaannya.

Martin membuka kaki Lisa sehingga lobang kemaluannya jelas terlihat. Ia kangkangkan kedua kaki Lisa. Penis yang telah tegak menghitam itu serta merta terarah ke lobang vagina Lisa. Saat baru saja kepala baja itu masuk ada rasa nyeri pada Lisa.

“Aaauuuuu…. nyilu, Pak!!” kata Lisa.

“Diam dulu, Lisa, hanya sebentar….”

Lalu Martin mendorong seluruh batang kejantanannya masuk ke dalam lobang memek Lisa. Ia genjot terus tanpa menghiraukan keluhan dan rasa nyeri pada lobang Lisa. Lisa hanya menuruti setiap gerakan Martin yang maju mundur di dalam lobang vaginanya.

Keringat membasahi tubuh kedua mahluk berlainan suku itu. Di antara kedua kaki Lisa tampak kaki Martin yang terus bertumpu menahan gerakan pinggulnya yang maju mundur. Kedua kaki Lisa terus menerjang ke kiri dan ke kanan. Ia merasakan kenikmatan yang amat dalam. Kedua tangan Lisa mencari-cari pegangan, lalu ia bertumpu pada bahu Martin. Ia mencengkeram bahu Martin karena merasakan nikmat yang tidak terhingga.

Gerakan penis Martin terus mengaduk-aduk lobang kewanitaan Lisa, maju mundur. Meskipun telah berusia senja, Martin masih memiliki kemampuan untuk berhubungan seks yang luar biasa. Lisa sendiri mengakui kalau tenaganya tidak kalah dengan Rudi.

Dalam kepala Martin saat itu adalah ia harus terus mengenjot Lisa sehingga Lisa mengalami beberapa kali orgasme. Ia amat sakit hati diperlakukan sewenang-wenang oleh Lisa dan Rudi. Dengan cara itulah ia membalasnya.

Lisa terus digenjot Martin. Tulang-belulangnya serasa dilolosi Martin. Permainan seks itu telah berlangsung hampir setengah jam namun Martin belum juga memuntahkan maninya. Ia terus melakukan gerakan berputar-putar pada saat penisnya masih di dalam lobang Lisa. Ia pegang kedua tangan Lisa, sementara mulutnya terus berada pada puting susu Lisa.

Akhirnya setelah lewat setengah jam ia genjot, barulah mani Martin tumpah di dalam lobang vagina Lisa sebanyak-banyaknya. Penis besar itu masih terus tertanam dalam lobang kemaluan Lisa sementara ia memuncratkan cairan pembuat bayinya di dalam tubuh istri Rudi. Lisa amat puas. Belum pernah ia merasakan kepuasan yang seperti itu selama ia berhubungan seks dengan Rudi. Suaminya tak ada apa-apanya dibandingkan Pak Martin. Pak Martin amat pandai mengatur tempo permainan. Rudi yang juga memiliki segudang cara dalam bersenggama tetap jauh tertinggal dari Pak Martin ini.

Menjelang pagi Martin terus mempermainkan nafsu dan gairah Lisa sampai 3 kali. Saat itu cuaca amat berpihak pada Martin. Selain hujan badai di luar rumah, pembantu dan anak-anak Lisa tidak terbangun. Inilah yang amat mengembirakan Martin sehingga ia bisa berasyik masyuk berdua saja bersama Lisa.

Setelah subuh barulah Lisa selesai dikerjai Pak Martin. Perempuan itu bangun dari karpet dan memakai CD dan BH-nya. Lalu ia kenakan kembali baju tidurnya. Terlihat keletihan yang mendalam pada wajah Lisa.

Ia keluar dari kamar Pak Martin dan naik ke kamarnya di lantai atas. Lalu ia membersihkan badan dan mandi. Masih banyak sisa sperma Martin pada bibirnya dan pada kedua pahanya.

Sejak itu hubungan Lisa dan Martin semakin intim. Saat Rudi tak ada di rumah, mereka berdua terus mengayuh biduk kemesraan di kamar Martin ataupun di ranjang Lisa dan Rudi.

Martin selalu melakukan aji penglimunan sehingga seluruh penghuni rumah itu tertidur kecuali Lisa dan dirinya. Jika Martin sedang berhasrat untuk melakukan hubungan seks, ia akan memanggil Lisa dengan caranya yang unik.

Pernah gairahnya terhadap Lisa tiba-tiba menghentak-hentak, padahal saat itu hari Minggu pagi dan Rudi sedang ada di rumah. Pasangan suami istri itu baru saja bangun tidur, sedangkan anak-anak mereka masih tertidur pulas. Begitu Rudi masuk ke kamar mandi, Pak Martin melafazkan mantranya. Maka Lisa langsung datang ke kamarnya seolah tahu Pak Martin sedang ngebet membutuhkannya. Begitu dilihatnya perempuan itu, Pak Martin langsung menerkamnya dan, tanpa banyak omong, saat itu juga ia menuntaskan nafsunya ke tubuh Lisa, sementara suaminya sedang asyik mandi.

Walaupun Lisa sudah berada dalam gengamannya, ia tidak menginginkan perkawinan Lisa dan Rudi hancur. Makanya Martin berusaha pandai-pandai mengatur saat-saat kebersamaannya dengan Lisa. Lisa pun selalu menurut kepada perintah Martin. Keduanya begitu kompak menjaga rahasia ini.

Sejak saat itu, apa pun keinginan Martin, baik tubuh Lisa atau uang, selalu terpenuhi. Ia tinggal minta kepada Lisa yang seolah sudah tak bisa lepas lagi dari Martin. Martin memang amat pandai mengatur siasat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Sementara itu, Lisa pun terus melayani Rudi suaminya sebagaimana biasa. Tidak ada keganjilan yang ditangkap Rudi. Martin sendiri tidak terlalu cemburu karena tahu Lisa tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh peletnya dan pasti akan selalu kembali kepadanya. Lama-kelamaan, Rudi pun secara tidak langsung telah masuk ke dalam pengaruh Martin.

Martin memanglah seorang pria yang dilahirkan berkemampuan seks luar biasa. Saat jadi penjahat dulu, tidak sedikit pelacur maupun wanita baik-baik yang ia gauli, tidak peduli masih perawan atau pun istri orang.

Sampai saat ini Lisa masih terus digauli Martin sesuka hatinya, tidak memandang tempat dan waktu.

TAMAT

Erotic Black Magic

Copyright 2002, by Dewi Setyowati (mediterania2000@yahoo.com)

(Pemaksaan, Istri Selingkuh)

Selama ini aku menjalani kehidupanku dengan normal, baik dalam rumah tangga maupun lingkungan kerjaku. Suamiku orangnya amat pengertian dan memenuhi segala kebutuhanku baik lahir maupun batin. Aku dan Mas Hendra menikah setamat kuliah karena kami telah cukup lama berpacaran sebelumnya.

Aku dilahirkan dalam lingkungan yang memegang teguh agama Katolik dan adat Jawa. Kehidupanku boleh dibilang berkecukupan. Ayahku adalah seorang pamong di daerah Jawa Tengah. Sedangkan orang tua Mas Hendra pun terbilang orang cukup berada dan menetap di Jakarta.

Selama bersama-sama menempuh kehidupan berumah tangga sekitar satu setengah tahun, kami belum memiliki anak. Sejak awal kami memang sengaja menundanya. Mas Hendra ingin aku mencurahkan perhatianku kepada pekerjaan. Di samping kami pun ingin tetap menikmati kehidupan berdua tanpa diganggu anak dulu.

Saat ini usiaku menginjak 27 tahun. Kulitku sawo matang. Tinggiku 168 cm dengan rambut yang panjang dan lurus. Kata teman-temanku, wajah dan bentuk tubuhku mirip Diah Permatasari yang juga asli Jawa.

Tidak heran selama aku kuliah dulu di daerah Surakarta, banyak teman sekampusku yang coba mendekati. Walaupun demikian, hatiku akhirnya terpaut pada Mas Hendra saja. Bukan materi yang aku kejar pada dirinya, melainkan sikapnya yang santun terhadap diriku.

Kebetulan memang kalau Mas Hendra datang ke kostku selalu pakai BMW atau Mercy milik orang tuanya. Walau sebetulnya aku lebih suka jika ia datang dan menjemputku pakai sepeda motor saja.

Kehidupan seksualku berjalan normal. Mas Hendra pun tahu seleraku. Ia amat mengerti kapan kami biasa berhubungan badan dan kapan tidak. Aku juga tidak mau Mas Hendra terlalu memforsir tenaganya untuk melakukan kewajibannya. Sebagai wanita Jawa aku dituntut untuk nrimo dan pasrah saja.

Kami tinggal di Surakarta dan menempati rumah pemberian orang tua Mas Hendra. Di rumah yang luas dan asri ini, kami tinggal dan ditemani dua orang pembantu suami istri. Kedua pembantu itu telah lama ikut dengan orang tua Mas Hendra. Umur mereka kira-kira 65 tahun. Yang perempuan bernama Mbok Lastri dan yang laki-laki Pak Bidin. Kami mempercayakan rumah kepada mereka jika kami pergi kerja.

Setiap hari aku ke kantor kadang diantar Mas Hendra dan kadang aku nyetir sendiri. Suatu saat ketika pulang kantor dan mau ke rumah, aku tanpa sengaja menyerempet sebuah sepeda yang dikemudikan oleh seorang pria paro baya. Pria itu jatuh.

Karena takut dan kaget, maka aku larikan saja mobilku ke arah rumah. Sesampai di rumah, kumasukkan mobil dan diam di kamar. Masih terbayang olehku saat pria itu jatuh dan memanggil-manggil aku untuk berhenti namun aku tancap gas.

Di rumah perasaanku tak tenang. Aku tak menceritakan kejadian itu kepada Mas Hendra.

Keesokan harinya aku minta diantar ke kantor oleh Mas Hendra.

Anehnya, lalu hampir tiap malam aku bermimpi bertemu dengan pria yang kutabrak itu. Sampai-sampai Mas Hendra heran akan sikapku yang berubah dingin dan gelisah. Lalu Mas Hendra menanyakan sebab perubahan sikapku itu.

Aku pun akhirnya berterus terang dan menceritakan semuanya. Mas Hendra bisa memahaminya. Lalu ia sarankan aku untuk mengambil seorang sopir untuk mengantarku. Aku pun setuju sebab sejak saat itu aku memang trauma menyetir sendiri.

Beberapa hari kemudian, datanglah sopir yang dicari Mas Hendra itu. Alangkah kagetnya aku, soalnya ia adalah orang yang aku tabrak tempo hari. Ia pun kaget, namun aku berusaha mengatur sikapku. Aku yakin ia pun masih ingat denganku saat kutabrak. Supaya Mas Hendra tak curiga pada orang yang kutabrak itu, maka aku setuju saja jika ia jadi sopirku. Aku pikir hitung-hitung balas jasa atas kesalahanku saat itu. Namanya Pak Ronggo, umurnya kira2 66 tahun, namun masih kuat dan sehat.

Sejak saat itu aku selalu diantar Pak Ronggo ke mana pun aku pergi, baik ke kantor atau belanja. Setiap pagi ia telah ada di rumah, dan siap-siap membersihkan mobilku. Sedang suamiku telah akrab dengan Pak Ronggo.

Suatu hari, saat mengantar aku ke kantor sambil bincang-bincang, Pak Ronggo bilang padaku.

“Bu, kalau ndak salah, Ibu dulu nabrak saya dengan mobil ini, kan?”

Aku terdiam tak mampu ngomong apa-apa.

“Ibu kejam dan tidak bertanggung jawab,” kata Pak Ronggo.

Seketika mulutku terasa kelu. Badanku terasa gemetar tapi tak mampu untuk bergerak.

“Maaf, Pak.. Waktu itu memang saya salah… Saya tergesa-gesa saat itu,” jawabku akhirnya.

“Alaaahhh… kalian orang kaya memang begitu… Menganggap orang lain sampah,” lanjutnya.

“Jangan gitu, Pak… Saya waktu itu benar-benar khilaf,” kataku setengah memohon.

Lalu ia diam… Aku pun diam saja saat itu, hingga sampai di rumah.

Sejak kejadian itu sikapnya terhadapku jadi lain. Aku berusaha untuk tidak ambil pusing tapi aku tahu aku tak mampu berbuat seperti itu.

Aneh memang, kenapa sejak Pak Ronggo bertanya kepadaku saat itu, aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres di pikiranku.

Sejak itu, ada sensasi tersendiri dalam hatiku saat menatap matanya. Perasaanku kepada Pak Ronggo serasa ingin terus bersama dengannya. Jika ia pulang sore harinya,aku merasa ada yang hilang dalam hidupku. Dan pagi jika ia datang untuk mengantarku rasa itu jadi senang dan seperti kasmaran. Padahal perasaanku kepada Mas Hendra malah biasa saja.

Suatu Jumat sore, saat ia menjemputku, entah kenapa aku minta Pak Ronggo untuk mampir dulu untuk singgah di sebuah restoran. Di situ aku mengambil tempat agak ke sudut dan suasananya amat romantis. Pak Ronggo kuajak makan.

Kami duduk berhadap-hadapan. Ia pandangi terus mataku. Aku pun demikian seperti aku memandangi Mas Hendra. Begitulah yang terjadi sepanjang kami berdua makan. Tanpa ada kata-kata, ia lalu mulai menggenggam jemariku. Aku merasa tenang, seperti gadis remaja yang sedang bermesraan berdua dengan pasangannya.

Pak Ronggo lalu meraih tanganku dan menciumnya. Baru kali ini, tanganku dipegang orang selain suamiku. Ada rasa hangat yang mengalir di sekujur tubuhku. Beberapa saat kami menikmati suasana yang sebetulnya tak kuhendaki itu. Setelah itu kami keluar dari restoran dan menuju ke mobil.

Dalam mobiku, aku terdiam dan bingung dengan kejadian barusan. Otakku tidak berjalan sebagaimana mestinya, soalnya aku bermesraan dengan sopirku yang tidak sepadan denganku. Ia pun begitu bebasnya meraih, meremas, dan menciumi tanganku.

Sebelum menjalankan mobil, Pak Ronggo menoleh ke arahku dan kembali meraih jemariku. Lalu ia rengkuh tubuhku dan dikecupnya bibirku. Aku kembali seperti orang linglung.

Sesampai di rumah, aku terus terbayang sensasi kejadian tadi sore itu. Alangkah kurang ajarnya sopirku itu, bisik hatiku.

Malam harinya, dengan separo hati, aku layani suamiku seadanya. Tidak ada lagi rasa nikmat yang aku rasakan saat Mas Hendra mencumbu dan menyebadaniku. Di dalam hatiku selalu terbayang wajah Pak Ronggo. Dengan akal sehatku, aku berpikir apa istimewanya Pak Ronggo? Gak ada rasanya, tapi aku selalu terbayang wajahnya. Sampai-sampai, saat suamiku berada di atas tubuhku melakukan hubungan badan, aku kira Pak Ronggo yang berada di atas tubuhku. Untunglah aku masih bisa menguasai diri.

Besoknya aku seperti biasa diantar olehnya. Ia tambah berani saja dengan meraba paha dan dadaku. Tangannya aku tepiskan namun ia hanya tersenyum.

Setiap hari, matanya tidak luput memandangiku dari ujung rambut sampai kaki. Aku merasa ditelanjangi oleh sikapnya yang seperti itu. Anehnya aku tak kuasa menolak. Seolah ada pancaran energi dari matanya yang mengaliri sekujur tubuhku dan memberikan sensasi yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Di samping itu, ia pun selalu mencuri-curi kesempatan. Ada-ada saja yang ia pegang dari tubuhku. Kadang dadaku, pahaku. Kadang ia cium bibirku. Namun aku tidak berontak.

Lama-kelamaan aku mulai terbiasa dirabai dan diciuminya. Setiap ada kesempatan berduaan, Pak Ronggo sudah tak tahu malu lagi. Ia pasti akan mendekati dan menyentuhku.

Suatu ketika, sepulang kantor, mobil tidak ia arahkan ke rumahku melainkan ke rumahnya di kawasan Kartosuro. Di sana suasananya sepi dan jarang ada rumah penduduk. Entah kenapa, aku mau saja diajak turun dan masuk ke rumahnya, yang dikelilingi pohon-pohon besar.

Rumahnya terbuat dari kayu dan beratap genteng yang telah tua. Di dalam rumah hanya ada dipan beralaskan tikar dengan sebuah bantal. Lalu Pak Ronggo menutup pintu rumah. Dipersilakannya aku duduk di pinggiran dipan. Kalau dilihat, gubuknya seperti rumah dukun. Di dindingnya ada berbagai macam tulang-belulang. Bau menyan sudah tercium sejak kami memasuki rumah.

Pak Ronggo pergi ke belakang. Tidak lama kemudian ia muncul kembali dan duduk di sampingku.

“Bu… Beginilah keadaan saya,” katanya.

“Oooo… ndak apa lah, Pak?” jawabku.

Tiba-tiba ia menepuk pundakku. Aku tersentak. Lalu ia melingkarkan tangannya di bahuku. Aku tiba-tiba merasa tidak enak.

“Bu… Saya ingin… merasakan kehangatan tubuh Ibu…” katanya tanpa basa-basi.

Aku terkejut setengah mati mendengar ucapannya yang lugas itu. Tapi entah kenapa, aku tidak bereaksi negatif menanggapi keinginannya itu. Seolah aku dihipnotisnya.

“Dulunya istri saya masih hidup dan sedang sakit keras. Jika saja Ibu tidak tabrak saya saat itu, saya masih bisa menolongnya. Namun Ibu telah membuat saya terlambat… dan istri saya pun mati,” terangnya.

Aku terdiam mendengar penjelasannya. Rasanya pikiranku saat itu sudah kosong.

Sekonyong-konyong Pak Ronggo mengambil potongan batok kelapa yang ada di meja di samping dipan tempat kami duduk. Dituangkannya cairan dari dalam sebuah kendi yang ada di meja itu ke dalam batok kelapa. Cairan itu encer dan berwarna kuning gelap. Sejenak mulutnya tampak komat-kamit sambil berkonsentrasi menatap batok kelapa. Beberapa detik kemudian, ia meludah ke dalam cairan tersebut.

Tanpa berkata-kata, Pak Ronggo kembali merangkul pundakku. Kali ini lebih kuat. Sementara tangannya yang satu lagi berusaha meminumkan cairan di dalam batok kelapa itu kepadaku.

Mulanya aku berontak. Lagipula aku tak tahu cairan apa itu. Baunya sangat pesing. Aku mau muntah saat Pak Ronggo mendekatkan batok kelapa itu ke bibirku. Entah kenapa, aku tak bisa menolaknya. Aku seperti tak punya pilihan.

Pelan-pelan kuminum cairan itu. Rasanya sangat tak enak. Setelah minum seteguk, aku sempat terbatuk dan berusaha menjauhkan mulutku dari batok itu. Mengetahui hal itu, Pak Ronggo segera memaksaku untuk menghabiskan cairan yang ada di dalam batok itu. Sambil memejamkan mataku, perlahan-lahan kuhabiskan juga isi batok itu.

Melihat aku masih kuat, Pak Ronggo kemudian menuangkan lagi cairan dari dalam kendi itu ke dalam batok. Ritual yang sama dilakukannya kembali sebelum untuk kedua kalinya menyuruhku menghabiskan isi batok itu.

Ia baru saja akan mengisi kembali batok itu untuk yang ketiga kalinya ketika aku merasakan panas yang luar biasa dari dalam tubuhku. Seluruh badanku terasa ringan dan tanpa terasa aku menjatuhkan kepalaku dalam dekapan Pak Ronggo. Melihat hal itu, Pak Ronggo mengurungkan niatnya untuk menyuruhku kembali minum cairan aneh itu.

Aku berkeringat. Nafasku terengah-engah. Di dalam diriku ada semacam gairah yang menghentak untuk dituntaskan dan dilepaskan.

“Karena istri saya sudah tak ada…. Sekarang Ibulah yang harus menggantikannya…” Pak Ronggo kembali berkata.

Setelah berkata begitu, ia menatap dalam-dalam mataku. Aku jadi tak berdaya. Tangannya yang kasar lalu meraih kancing busana kantor yang kukenakan. Satu per satu pakaianku jatuh ke lantai sehingga aku sama sekali tidak berpenutup lagi.

Sambil melucuti busanaku, setiap inci tubuhku ia raih dan jamah. Aku merasakan kepasrahan dan sensasi yang luar biasa. Ada desakan dari dalam diriku yang membuatku tak sabar untuk segera disetubuhinya.

Pak Ronggo membaringkan tubuh bugilku di dipan kayu itu. Lalu ia buka pakaiannya sendiri hingga ia sama-sama bugil denganku. Aku bisa melihat sisa-sisa ototnya yang liat di tengah tubuhnya yang mulai keriput.

Laki-laki tua itu mulai menggumuliku. Ia meraih inci demi inci dari setiap lekuk di tubuhku dengan mulutnya yang rakus. Aku pun tak kuat dan mengerang kenikmatan.

Akhirnya tibalah saat yang dinanti-nantikan. Ia perlahan-lahan menyisipkan batang kemaluannya yang ternyata sangat keras ke dalam lubang kemaluanku dan mulai menyetubuhiku. Dihunjamkan kejantanannya ke dalam rahimku berkali-kali sehingga dipan tua itu berderit-derit. Aku hanya bisa mendengus dan serasa dijadikan kuda pacu. Ooh… rasanya enaak… sekali…

Entah berapa lama kami menikmati persenggamaan itu. Tubuh mulusku dijamah Pak Ronggo berulang-ulang hingga akhirnya ia pancarkan cairan pembuat bayinya yang hangat di dalam kemaluanku. Ada rasa panas dan tegang di tempat bersatunya alat kelamin kami saat ia sampai klimaks. Tanpa bisa kubayangkan sebelumnya, aku pun ternyata mencapai klimaks berkali-kali.

Tubuhku saat itu penuh dengan keringatku sendiri yang bercampur dengan keringat Pak Ronggo. Aku merasakan perih dan nyeri pada selangkanganku karena kejantanan Pak Ronggo panjang dan besar juga. Hampir seluruh kulit tubuhku merah-merah dan putingku serasa panas akibat gigitan Pak Ronggo.

Di lain pihak, badanku pun terasa lemas luar biasa karena orgasme beruntun yang kualami. Aku membiarkan saja Pak Ronggo tertidur di atas tubuhku. Dengkurannya yang keras segera terdengar. Alat vitalnya masih terjepit oleh kemaluanku. Bisa kurasakan air maninya menetes keluar dari dalam rongga kemaluanku.

Tak sampai setengah jam kemudian Pak Ronggo terbangun. Kondisi fisikku pun sudah pulih kembali walaupun aku tak sampai tertidur seperti Pak Ronggo. Tanpa membersihkan badan terlebih dahulu, aku disuruh berpakaian dan berbenah seperti biasa lagi. CD-ku sengaja kumasukkan ke dalam tas tangan karena aku seolah masih saja merasakan air mani Pak Ronggo merembes mengalir keluar dari dalam vaginaku. Aku lalu diantarnya pulang dengan mobilku.

Di dalam mobil aku jadi merasa menyesal karena telah mengkhianati Mas Hendra. Inilah untuk pertama kalinya aku bersetubuh dengan lelaki lain selain suamiku. Namun apa dayaku, Pak Ronggo ternyata telah menguasai diriku hingga ia berhasil menelanjangi dan menyetubuhiku.

Setibanya di rumah, aku masih bisa merasakan dan mencium bau keringat serta sperma Pak Ronggo yang menempel di sekujur tubuhku. Aku sampai menghabiskan waktu satu jam lebih di kamar mandi untuk meyakinkan bau keringat Pak Ronggo tak lagi menempel di badanku sehingga suamiku tak akan curiga.

Sejak kejadian itu, Pak Ronggo selalu mengulangi kembali perbuatan nistanya itu terhadapku. Anehnya, aku pun tak menolaknya. Aku pasti akan melayaninya dengan sepenuh hati setiap ia mendatangiku. Setiap ada kesempatan, seperti saat aku pulang kantor, Pak Ronggo akan selalu meminta jatahnya. Apalagi jika suamiku ke Jakarta, pastilah ia dengan seenaknya menginap di rumahku. Jika sudah begitu, aku akan bersebadan bersama Pak Ronggo di atas ranjang milikku dan Mas Hendra sepanjang waktu.

Setiap Pak Ronggo menggauliku, aku selalu merasakan kepuasan, walaupun setelah itu aku juga merasakan pegal-pegal pada selangkanganku. Soalnya Pak Ronggo biasanya membuatku harus terus mengangkang selama sekitar satu jam. Dengan Mas Hendra, kalau bisa lebih dari sepuluh menit pun sudah bagus.

Aku sebetulnya takut kalau para pembantuku, Mbok Lastri dan Pak Bidin, tahu hubungan terlarang kami tapi Pak Ronggo menenangkanku. Mereka memang pasti bisa menebak perbuatan kami berdua karena Pak Ronggo begitu bebasnya masuk ke kamar tidur pribadiku setiap ada kesempatan dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dalamnya.

Pak Ronggo tampaknya bisa menutup mulut kedua pembantuku. Ia meyakinkanku bahwa mereka tak akan membocorkan rahasia kami kepada suamiku. Bahkan belakangan aku baru tahu kalau mereka berdua entah bagaimana caranya telah dibuat Pak Ronggo bekerja sama melanggengkan hubungannya denganku.

Contohnya, kalau Mas Hendra kebetulan sedang keluar kota, seperti biasa aku akan menghabiskan waktuku untuk disebadani Pak Ronggo. Jika aku sedang tanggung melayani Pak Ronggo di kamar dan tiba-tiba suamiku meneleponku ke rumah, Mbok Lastri sudah terbiasa untuk menjawabnya dan mengatakan berbagai macam alasan untuk menutupi kegiatanku bersama Pak Ronggo. Dengan demikian Pak Ronggo tak perlu terganggu karena aku harus menjawab telepon suamiku dulu.

Aku baru mengetahui kebiasaan itu karena biasanya Mbok Lastri akan melapor padaku begitu aku keluar kamar. Ia tahu kalau aku keluar kamar, berarti aku telah selesai menjalankan tugasku melayani Pak Ronggo.

“Bu, dua jam yang lalu Bapak telepon mau cari Ibu. Aku bilang Ibu sedang silaturahmi ke rumah Bu Hadi. Nanti beliau telepon lagi jam 7 malam.”

Mbok Lastri sampai hafal jam berapa aku masuk kamar bersama Pak Ronggo, jam berapa biasanya kami keluar sehingga kalau suamiku menelepon, ia bisa mengatur kapan suamiku harus menelepon kembali. Tanpa kusangka, ternyata ia benar-benar berperan seperti sekretarisku padahal aku tak pernah mengajarinya. Aku tak tahu bagaimana cara Pak Ronggo membuatnya jadi begitu, padahal Mbok Lastri dan Pak Bidin adalah pembantu yang setia pada keluarga Mas Hendra sejak lama.

Hampir selama setahun aku menjadi bulan-bulanan nafsu Pak Ronggo. Bagaimanapun, aku merasa sedikit tenang dalam melakukan hubungan gelap dengannya. Aku tahu tidak bakalan hamil karena aku sudah memasang spiral. Itu sengaja kulakukan karena setiap kali Pak Ronggo berhubungan seks denganku, ia selalu mengeluarkan air maninya di dalam rahimku. Tak mungkin aku mencegahnya melakukan hal itu. Karena itulah, sekitar dua minggu sejak aku pertama kali disetubuhi Pak Ronggo, aku berinisiatif memasang spiral untuk mencegah jangan sampai aku dihamilinya.

Walaupun sudah terbiasa disebadani Pak Ronggo, aku tetap selalu mencium bau tidak enak saat ia berada di atas tubuhku. Bau keringatnya memang amat busuk. Aku selalu mengganti seprei ranjangku setiap ia selesai meniduriku. Kalau tidak, bau keringatnya akan tinggal di kain seprei itu.

Kamar pun aku semprot dengan wewangian. Jika aku sedang bersebadan dengan Pak Ronggo, AC-nya kubiarkan selalu menyala. Kalau kamar sedang tak dipakai, semua jendela dan pintu akan kubuka lebar-lebar sehingga ada sirkulasi udara.

Mbok Lastri dan Pak Bidin pun sudah hafal kalau sekarang aku menyuruh mereka untuk mencuci seprei tiap hari. Mereka tahu kalau aku harus bertugas melayani Pak Ronggo tiap hari. Justru kalau satu hari aku tak menyerahkan cucian, mereka akan bertanya dengan lugunya.

“Hari ini ndak dinas ya, Bu? Tadi siang pulang ndak diantar Pak Ronggo?”

Mereka selalu menyebut ‘dinas’ untuk mengistilahkan tugas harianku melayani Pak Ronggo di ranjang. Mereka sudah tahu kalau jadwal harianku melayaninya biasanya sepulang kantor sehingga aku biasa menyerahkan cucian sore harinya sebelum Mas Hendra pulang.

“Oh, ndak, Mbok… Bapak sore ini mau ke Jakarta selama dua hari. Aku tadi pulang diantar Bapak. Pak Ronggo nanti kemari lagi sesudah mengantar Bapak ke bandara.”

Jika sudah kuberitahu seperti itu, mereka akan langsung mengerti kalau malam itu mereka harus menyiapkan makan malam untuk dua orang ke kamar tidurku dan setelah itu mereka bisa tidur cepat. Soalnya semalaman aku pasti harus kerja lembur melayani Pak Ronggo. Barulah esok harinya sebelum aku berangkat ke kantor diantar Pak Ronggo, mereka harus mencuci seprei yang dua kali lipat baunya karena semalaman habis dipakai sebagai alas kami bersetubuh.

Tak heran kalau badan Pak Ronggo sangat bau. Semakin lama aku intim dengannya, aku jadi tahu kalau ia memang jarang mandi. Belum tentu tiap hari ia mandi. Bahkan setelah selesai menyetubuhiku, ia tak pernah mandi. Setiap selesai menuntaskan nafsu seksnya padaku, ia selalu menyuruhku untuk mengisap dan menjilati penisnya sampai bersih dari sisa-sisa air maninya. Hanya seperti itulah caranya mandi sehabis menyebadaniku.

Setelah sekian lama, barulah aku mengetahui dari seorang pintar di tempat kerjaku bahwa Pak Ronggo adalah seorang dukun dan aku telah diguna-gunanya. Temanku itu dapat melihat semua yang terjadi pada diriku dan dengan tulus hati berniat menolongku.

Pengaruh guna-guna Pak Ronggo atas diriku ternyata sangat kuat karena dulu aku sudah meminum air kencingnya yang telah diberi jampi-jampi. Guna-guna seperti itu luar biasa kuat karena tentu tak mudah untuk menyuruh seorang gadis meminum air kencing si pemeletnya. Pak Ronggo sangat beruntung saat itu karena bisa membuatku melakukannya.

Di lain pihak, aku pun sebetulnya beruntung karena hanya meminum dua cawan air kencing Pak Ronggo. Seandainya saja dulu aku minum lebih banyak lagi, tentulah Pak Ronggo bisa menguasaiku secara permanen.

Atas bantuan dan usaha keras rekan kerjaku itu, kini aku telah terbebas dari guna-guna Pak Ronggo. Usahanya itu sendiri memakan waktu yang cukup lama karena harus dilakukan secara perlahan-lahan dan bertahap. Tak mudah untuk membuat Pak Ronggo mau melepaskan diriku. Ia sudah jadi terbiasa hidup enak karena aku senantiasa melayani nafsu seksnya yang masih menggebu-gebu di usianya yang sudah senja.

Setelah aku benar-benar terbebas dari guna-gunanya, Pak Ronggo pun akhirnya kupecat. Satu hal yang tak mungkin kulakukan saat aku masih berada dalam pengaruh gaibnya.

Ia sempat mengancam akan membongkar hubungan seks kami kepada suamiku kalau aku berani memecatnya. Sebetulnya aku takut juga. Setelah bernegosiasi, dengan diberi duit sekitar 20 juta dari tabunganku, aku minta dia keluar baik-baik. Tampaknya dia mau menerimanya. Sejak saat itu ia tak pernah muncul lagi.

Aku hanya berharap Pak Ronggo bisa melewati masa tuanya dengan tenang dan tak menggangguku lagi. Aku pun mencabut spiralku dan berharap bisa melupakan semua kejadian ini. Aku ingin membina kembali kehidupan yang normal bersama Mas Hendra.

TAMAT