Category Archives: berbagi istri

Seorang suami dengan sukarela berbagi istrinya untuk disetubuhi lelaki lain

Binalnya Nana, Istriku

Original Writer: Unknown

Rewritten by Mario Soares

(Berbagi Istri, Istri Selingkuh, Antar Ras, Permainan Bertiga)

Akhirnya kuselesaikan juga tugas dinasku selama empat bulan penuh di Australia. Aku pulang membawa setumpuk laporan hasil kerja yang nantinya kuserahkan pada boss.

Beruntung tadi malam aku masih sempat jalan jalan di pusat kota Perth dan tak lupa mengunjungi sex shop terbesar disana seperti yang dipromosikan teman-teman. Kubeli beberapa sex toys dan puluhan DVD bokep sebagai cenderamata buat istri tercinta dan beberapa kolega. Harganya relatif lebih murah dibandingkan di dalam negeri.

Pukul enam pagi waktu setempat aku terbang kembali ke negeri tercinta. Setelah transit di beberapa bandara akhirnya jam empat sore aku mendarat di bandara Ahmad Yani.

Setelah kudapatkan semua barang bawaanku, aku selekasnya beranjak keluar. Kulihat istriku berdiri di ujung koridor. Ia mengenakan kaus ketat tanpa lengan yang dipadu blouse mini setengah paha membuat ia terlihat sangat cantik dan menggairahkan. Ada sebatang rokok tergamit di jarinya.

Kami berpelukan sejenak melepas setumpuk kerinduan. Lalu kukecup bibirnya. Setelah itu aku bermaksud mengajaknya pulang.

“Kenalin dulu, Ko! ini Edo….” Ujar istriku menunjuk pada seorang pria muda yang berdiri tepat di sisinya, sembari mengisap dalam-dalam rokok A Mild mentholnya.

“Tadi kebetulan kita berdua nunggu bareng…” sambungnya menjelaskan.

“Jay…” kataku tersenyum sambil mengulurkan tangan.

“Edo,” balasnya dengan simpatik.

“Jemput siapa nih, Do?” tanyaku basa-basi.

“Justru aku sebetulnya lagi nunggu jemputan… Sejak tadi aku kontak kantor cabang tapi engga nyambung terus. Linenya lagi rusak kali.”

“Ke mana sih tujuan kamu?”

Dia menyebut sebuah kantor di jalan Gajah Mada.

“Kebetulan itu searah dengan kami…. Mau ikut?” aku menawarkan diri.

Edo setuju lalu kami berjalan menuju tempat parkir. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua puluhan menit kami saling ngobrol mengakrabkan diri.

Ia ternyata dari Indonesia Timur. Seorang manager pada sebuah perusahaan pembiayaan yang berpusat di kotaku ini. Meski warna kulitnya hitam keling namun terlihat wajahnya sangat ramah dan bersahabat. Ia tidak ganteng tapi cukup menarik. Edo bilang kalau dua tiga tahun sekali ia harus terbang ke kantor pusat untuk memberi laporan hasil pekerjaannya di kantor cabang di NTT sana.

Kuturunkan dirinya tepat di depan gedung yang ditujunya. Sebelum berpisah kami sempat bertukar nomor hape. Kemudian aku meneruskan perjalanan ke rumah.

“Kayaknya sekarang kamu banyak berubah deh, Say….” ujarku pada istriku.

“Maksud Koko?” tanyanya sembari mengerinyitkan dahi.

Kukatakan padanya kalau dulu ia tidak suka mengenakan pakaian yang sexy di tempat umum kecuali di acara pesta. Dulu ia juga bukan pecandu rokok. Dulu ia kurang welcome dengan orang asing tapi tadi kayaknya ia begitu cepat akrab dengan Edo seperti sudah kenal bertahun-tahun saja.

“Ahh… Koko terlalu sensi saja…. Tapi bolehkan kalau aku sedikit mengubah gaya?” tanyanya sembari menghembuskan asap rokoknya yang segera terhisap keluar lewat celah jendela mobil yang sedikit dibuka.

“Iya engga apa-apa toh, Say! Aku malah tambah suka koq! Kamu jadi terlihat semakin sexy dan menggemaskan aja sekarang! Oh ya…. Ayo cerita dong petualanganmu selama kutinggal!”

Kemudian dengan polos Nana menceritakan semuanya. Bagaimana ia dikerjai di sebuah ruang karaoke, lalu pengalaman bercinta dengan Mark, lalu pengalaman ber-threesome bersama Mark dan istrinya. Serta beberapa petualangan lain.

Saat menyimak pengalaman istriku bukannya aku menjadi jealous malahan aku menjadi begitu horny. Sudah tidak waraskah diriku???

Begitu sampai di rumah, aku selekasnya menarik masuk Nana ke dalam kamar. Saat itu aku benar-benar sedang kasmaran. Kudekap dirinya. Kuciumi bibirnya, lehernya dan sepanjang lekuk tubuhnya. Satu persatu kupreteli pembalut di tubuhnya hingga ia telanjang bulat.

Kubalikkan tubuhnya. Kulingkarkan tangan pada pinggangnya lalu kuciumi punggungnya. Ia meraih tanganku untuk mengajakku berbaring di ranjang. Kuusap-usap pipinya, dagunya lalu kuraba lekuk payudaranya yang sangat montok dan kencang.

Nana meraih bajuku kemudian melepasinya. Ia mulai menciumi dadaku yang sedikit ditumbuhi bulu. Kami bergulingan di atas ranjang….. saling menyentuh, menjilati, dan menghisap.

Aku berguling ke atas tubuhnya lalu menyurukkan muka tepat di selangkangannya. Kuamati vaginanya telah basah memerah dan menganga lebar penuh hasrat birahi. Kujulurkan lidah ke dalam, menggerakkannya berkeliling, dan menggetarkan dinding-dinding vaginanya. Saat kugelitikkan lidahku, Nana melengkungkan punggung penuh rasa nikmat dan kulakukan terus-menerus sampai lendir birahinya membanjir keluar.

Kutindih tubuhnya sambil melesakkan batang kemaluan yang sudah sangat tegang itu ke dalam liang surgawinya. Kugerakkan pinggulku naik turun dengan sangat cepat seperti sedang kesetanan saking kangennya diriku padanya. Aku terus memompa seperti gerakan sebuah piston, makin lama makin cepat.

Nana mencapai puncaknya sambil mengangkat pinggulnya ke atas. Ia dekap erat-erat diriku seolah-olah sangat takut kehilangan. Selanjutnya ia dekatkan mulutnya ke batang kemaluanku. Ia keluar masukkan dengan sangat gemas. Ia juga menghisapinya dengan rakus. Sebelum aku mencapai klimaks, kutarik tubuhnya dan menempatkannya di atasku.

Ia mengggoyangkan pantatnya maju mundur seperti sedang menggilas pakaian. Saat itu tanpa sadar ia merendahkan tubuhnya ke depan sehingga aku dapat membenamkan mukaku ke dalam belahan payudaranya dan dengan bebas dapat mengisap putingnya.

Istriku terus bergerak. Aku juga menghentak-hentakkan pinggul dari bawah. Sangat liarrrrr….. sampai tubuh kami bergetar dan bersama-sama memancarkan cairan orgasme.

Kami beristirahat sebentar sambil ngobrol dan merokok. Kuminta istriku bercerita lagi tentang petualangan asmaranya dengan pria-pria lain. Ada setidaknya enam orang lelaki yang pernah berkencan dengannya.

Wuih! Ternyata istriku menjadi pecandu seks juga sekarang. Semua terjadi hanya dalam waktu empat bulan saja. Kembali aku menjadi sangat terangsang saat mendengarkannya. Penisku yang semula loyo berangsur mulai menegang dan mengeras.

Kami saling merapatkan bibir, berpagutan, saling meraba dengan tingkat perangsangan lembut. Kugelitik payudaranya dan menghisapi putingnya. Aku terus meremas dan merangsang buah dadanya sampai putingnya berdiri mengeras.

Lalu aku beralih pada selangkangannya. Kulumat dan kucumbu bagian tubuhnya yang sangat kurindukan siang malam selama empat bulan. Bulu-bulu kemaluannya yang tumbuh lebat masih terawat dengan baik. Aroma khas vaginanya juga masih menjadi bau yang menyalakan nafsu birahiku. Liangnya sudah merekah bagai kelopak bunga, tampak becek dan sangat licin karena lendir cintanya yang deras mengalir keluar. Kukitari bibir liang itu beberapa saat sebelum kugelitiki klitorisnya dengan ujung lidah.

“Ooooh! Ayolah, Koooo!” ujarnya penuh tuntutan.

Kutarik tubuhnya membuatnya merangkak membelakangiku. Kubenamkan penisku dari belakang. Zakarku menepuk-nepuk pantatnya setiap kali aku memompa vaginanya. Kunikmati denyutan-denyutan dinding vaginanya yang membuat tusukanku bertambah nikmat ribuan kali. Nana terus mendesah. Setiap kali ia mendesah lebih keras aku mendorong penisku lebih dalam. Aku mengakhiri perjalanan birahinya dengan sebuah desakan kuat dan sedalam-dalamnya.

“Aaaaaagggggggccc…!” Nana memekik penuh kepuasan.

Kutarik tubuhnya ke tepi ranjang. Kutelentangkan ia disana, lalu kunaikkan kakinya ke atas bahuku. Dalam posisi berdiri kumasuki vaginanya kembali. Nana menggoyangkan pinggulnya secara mendatar setiap kali aku mendorong batang kemaluanku. Semakin lama goyangannya semakin menghentak-hentak. Liang senggamanya memang luar biasa nikmatnya sehingga aku ingin menikmatinya semalaman. Namun karena sudah sangat terangsang akhirnya kami sama-sama menjerit penuh ketegangan disertai memancarnya lendir orgasme kami dalam waktu yang hampir bersamaan.

***

Dua hari berlalu. Siang itu Nana meneleponku saat aku sedang menyelesaikan laporan di kantor. Tidak seperti biasanya. Pasti ada hal yang spesial pikirku. Ternyata memang benar adanya.

“Ko….. tadi Edo kontak ke hapeku. Ia bilang kalau pesawatnya di-cancel sampai besok sore… Dia juga bilang lagi kesulitan mencari hotel untuk sekedar transit… Kalau….”

“kita suruh ia nginap di rumah aja bagaimana. Itu khan maksud elu?” potongku.

“Iya.. iya, Ko… kasihan khan kalau ia bener-bener ga dapat hotel?” jawab istriku yang tiba-tiba menjadi sangat perhatian.

“Kasihan dia apa kasihan kamu, Na? Apa kamu pingin nyoba pisang hitam panjang, nih?” tanyaku menggoda.

“Engga… engga! Masa Koko berpikir begitu sih? Gimana, Ko. Boleh engga Edo kita suruh nginap di rumah?” kata istriku terus membujuk.

Akhirnya aku menyerah juga.

“Ya, bolehlah kalau kamu emang menyukainya.”

“Kamu memang suami yang luar biasa, Kooo…! Trims ya. I love you! Cup! Cup!Cup!”

Lalu telepon diputus. Saat itu jam satu lewat dua puluh menitan. Akupun sibuk meneruskan pekerjaanku. Sekitar jam empat mendadak aku pingin nelepon istriku sekedar menyapanya. Rupanya ponselnya sedang tidak diaktifkan. Kucoba beberapa kali namun tetap tidak bisa. Lalu kucoba menghubungi kantornya . Kebetulan aku sudah mengenal operator yang bertugas saat itu.

“Hallo Shanti! Nana ada?”

“Engga tuh, Mas Jay. Hari ini doi cuman dateng lalu berpamitan mau jenguk famili yang sakit.”

Hah? Famili sakit? Apa pula ini??? Aneh…….!

“Apa engga jalan bareng toh, Masss?” tanya Shanti sedikit ragu.

“Engga sih, Shan. Gue lagi sibuk di kantor. Okey gitu dulu, Shan. Thanks yaaaa….”

Lalu kuputuskan kontak.

Sialan! Bener-bener istriku jadi binal! Pasti ia telah bersama Edo seharian ini, atau malah mungkin sejak kemarin.

“Dasarrrr wanita gatel!” omelku dalam hati.

Membayangkan keduanya lagi bercinta membuat aku terangsang sendiri sehingga kucoba mempercepat pekerjaanku yang masih setumpuk. Sayang baru jam setengah tujuh malam aku bisa merampungkannya. Secepat kilat kupacu mobilku menuju rumah. Di benakku hanya ada keinginan untuk melakukan threesome dengan istriku dan Edo.

Hari sudah mulai gelap saat aku sampai. Teras rumahku sudah terang benderang oleh temaramnya lampu yang dinyalakan. Nana keluar menyambutku. Ia menyapaku dengan senyuman yang sangat manis dan manja. Kami berciuman sejenak sebelum kutarik masuk tubuhnya.

Saat itu ia hanya mengenakan gaun tidur model kimono dari bahan satin yang dihiasi renda-renda di bagian dadanya. Puting susunya tampak menyembul dan tercetak jelas pada gaun itu sehingga dengan mudah kutebak kalau ia tidak mengenakan pakaian dalam. Masih tersisa peluh di dahinya sebagaimana seorang yang habis berolah raga atau bekerja keras.

“Habis kerja keras nih!” sindirku.

“AH! Koko bisa aja,” sahutnya dengan pipi yang tersipu.

“Edo dimana, Na?”

“Kayaknya lagi mandi….”

Kutarik tangannya menuju sofa yang ada di ruangan tengah. Aku mengajaknya berciuman sebentar sebelum kulanjutkan bertanya.

“Lelaki itu hebat, Na?”.

Ia tidak menjawab melainkan hanya membeliakkan mata ke arahku.

“Berapa kali kamu dapat klimaks? Enam, delapan?” sambungku yang juga tidak dijawabnya. Bikin aku makin gemes aja.

Kembali kulumat bibirnya dan mulai menggerayangi bagian dadanya. Nana menolak dengan halus karena ia ingin aku mandi terlebih dahulu sementara ia akan menyiapkan makan malam. Aku setuju.

Selesai mandi aku keluar menuju ruang tengah dengan mengenakan kimono mandi dan celana dalam saja. Edo dan istriku sudah duduk berdampingan di meja makan menungguku. Saat melihatku datang, Edo tampak wajar dan tenang saja seolah tak ada kejadian apa-apa. Padahal ia tentunya ngeh kalau aku sudah tahu ia baru saja menyetubuhi istriku. Jelas istriku sudah menceritakan semuanya.

Kami bersantap malam sambil berbincang-bincang mengenai banyak hal. Setelah selesai Nana memunguti piring-piring kotor untuk dibawanya ke dapur. Sementara itu aku dan Edo melangkah ke ruang tengah. Aku duduk di sofa panjang, sedang ia duduk di sofa single di seberangku.

“Bagaimana istriku, Do?” tanyaku dengan nada sengaja kupelankan agar tidak terdengar oleh Nana yang masih sibuk mencuci piring.

“Luar biasa, Jay! Elu bener-bener suami yang sangat beruntung punya bini secantik dia…. “

“Berapa kali kalian melakukannya?”

“Mungkin tiga atau empat kali, aku engga ingat. soalnya “V” bini elu sungguh sangat nikmat. Kenyal dan pulennnn…. Belum lagi service-nya yang benar-benar luar biasaaa…. Aku jadi ketagihan berat padanya!”

“Sialan kalian! Lagi ngomongin gue, yaaa!” omel Nana yang mendadak telah berdiri di sisiku. Ia lalu kutarik duduk di sebelahku.

“Edo bilang aku suami yang beruntung punya bini sesempurna dirimu, Say….” ujarku.

“Biasa… lelaki kalau ada maunya pasti ngumbar rayuan mauttt…” cibir istriku.

“Bukan gitu, Na…. tapi emang kamu istri yang sangat sempurna koq.” lanjutku membela Edo seraya menempelkan bibirku ke bibirnya.

Istriku kembali menolakku dengan halus. Ia mengusulkan untuk lebih dulu menonton DVD porno yang kubeli di Perth tempo hari. Aku kembali setuju.

Dengan santai kami bertiga menikmati adegan-adegan penggugah nafsu itu. Belum sampai selesai film yang kami tonton, kulihat Nana mulai tidak tenang duduknya. Berkali-kali ia geser-geser dan ubah-ubah posisi kakinya, seolah-olah ada sesuatu yang aneh di pangkal pahanya.

Kuciumi lehernya sambil merabakan tanganku pada tonjolan buah dadanya yang masih terbalut kimono satinnya. Kali ini istriku tidak menolak. Bahkan ia sangat menikmati ciuman dan remasanku. Putingnya menjadi semakin mengeras dan semakin menyembul.

Edo sejauh ini masih menahan diri dengan hanya menonton adegan mesra kami berdua.

Dengan sangat gampang kutarik lepas tali pengikat kimononya kemudian kusibakkan ujung-ujungnya ke kanan dan ke kiri. Kutatap dengan penuh kekaguman kedua payudaranya yang montok dan ranum sebelum kujilati serta kuisapi. Ketika kuselipkan tangan pada pangkal pahanya kutemukan sebuah celah yang sudah sangat becek penuh lendir birahi.

“Uuuhhhhfsss……….” desahnya perlahan namun terdengar sangat nikmat.

Nana meraih kepalaku lalu menggiringnya ke arah selangkangannya. Akupun menurut. Sembari bergerak, kuciumi setiap bagian tubuhnya yang kulewati. Perutnya. Pusarnya. Bulu-bulu kemaluannya yang lebat, serta bongkahan vaginanya yang membulat sempurna bak cangkang penyu. Kutelusuri bibir liang yang telah terkuak lebar itu kemudian kujulurkan lidah menggelitik kelentitnya yang telah sangat menonjol.

Istriku menggerinjal serta melenguh sangat nikmat setiap aku melakukannya.

Edo bangkit mendekati kami dengan tubuh yang sudah bertelanjang bulat. Tampaknya ia akhirnya tak tahan juga hanya menjadi penonton. Batang kemaluannya yang hitam panjang dan kekar itu terlihat sudah sangat tegang, mendongak minta jatah.

Ia mengajak istriku berciuman. Istriku secara spontan langsung menyambutnya mesra dengan bibirnya. Tangan Edo mulai meremas-remas buah dada istriku sementara tangan istriku telah menggenggam batang kemaluannya yang lebih gemuk daripada milikku.

Kujulurkan lidah dan kubenamkan berulangkali pada liang kemaluan istriku yang seolah tanpa ujung itu. Kutusuk-tusukkan sambil menikmati setiap aliran lendir asmaranya. Desah mulut Nana menjadi semakin keras terdengar.

Edo bangkit menyodorkan kemaluannya ke mulut Nana. Batang sepanjang dua puluhan centi itu disambut istriku dengan lidah yang terjulur. Lalu dengan sangat lahap istriku mulai mengulumnya.

Kusibakkan kimono mandiku dan kupelorotkan celana dalamku. Kugenggam dan kuurut-urut otot sepanjang lima belas centi yang menyembul di antara kedua pahaku sambil menyaksikan istriku sedang melumat penis hitam Edo yang panjang itu penuh nafsu. Aku menjadi semakin terangsang dan ingin segera menyetubuhi istriku. Kuangkat kedua kakinya kemudian kudorong batang kemaluanku ke depan. Kubenamkan batang itu dengan penuh perasaan ke dalam liang syahwat istriku, sambil menikmati setiap gesekan lembut dengan dinding-dinding dalam vaginanya.

Inci demi inci. Sekonyong-konyong aku disergap berjuta-juta gelombang kenikmatan selama proses pemasukan itu. Bermula dari ujung penisku lalu menjalar ke batangnya lalu menyebar ke seluruh bagian tubuhku. Kucoba mengeksplorasi kenikmatan yang lebih besar dengan tak henti hentinya menggali….. menggali….. dan menggali liang itu lebih dalam lagi.

Sementara itu istriku masih asyik mengulum black banana yang ada dalam genggaman tangannya. Nana terus-menerus mengerang nikmat saat tubuhnya bergoyang maju mundur diombang-ambingkan gelombang birahi yang kuciptakan.

Kemudian ia mengejang. Seluruh otot di tubuhnya berkontraksi hebat saat dirinya dilanda puncak ketegangan. Ia menjerit panjangggg pada saat badai orgasme tiba-tiba meledak dan menyambar dirinya! Cairan kenikmatannya memancar dan melumasi seluruh batang kemaluanku yang masih terbenam di sana.

Kami lalu berganti posisi. Aku duduk di sofa sedangkan Nana menyurukkan mukanya ke selangkanganku, ia mengisapi dengan lahap batang kemaluanku yang masih basah kuyub oleh lendir orgasmenya. Giliran Edo yang menyetubuhi istriku dari belakang. Benda sepanjang sembilan inci itu digerakkan keluar masuk dengan sangat cepat. Terdengar suara “plok!plok! plok!” setiap kali zakar Edo menepuk-nepuk pantat istriku.

“Oooghttt….oooghffff….” desah istriku tanpa melepaskan batang kemaluanku dari mulutnya. Setiap kali istriku mendesah lebih keras, Edo melesakkan batang kemaluannya lebih dalam lagi.

Edo tidak membiarkan dirinya segera mencapai puncak. Ia menarik dirinya dari dalam tubuh Nana. Tanpa minta izin terlebih dulu, ia langsung mengambil istriku dari diriku untuk dinikmatinya sendiri saja. Aku membiarkannya saja sambil istirahat mengocok-ngocok batangku dan menonton aksi mereka berdua. Ia menelentangkan tubuh istriku di atas sofa.

Ia buka kedua kaki istriku lalu menaikkannya ke atas bahunya sambil membenamkan kembali batang kemaluannya. Keduanya bergerak dalam irama yang selaras melaju dengan pasti menuju ke puncak tertinggi. Istriku tampak begitu menikmati setiap hunjaman kemaluan Edo. Ia menyambutnya dengan goyangan pinggulnya yang menghentak-hentak.

Denyutan nikmat yang diciptakan Nana membuat Edo tambah bersemangat. Ia percepat gerakan keluar masuknya seperti sedang memacu seekor kuda balap. Terdengar napas keduanya terengah-engah saling mengerang dan melenguh penuh nikmat.

Beberapa menit kemudian istriku kembali memekik penuh kepuasan sambil mendekap erat-erat tubuh Edo. Tampak kontras sekali kedua tubuh bugil mereka yang sedang bersatu. Istriku begitu putih sedangkan Edo berkulit gelap. Edo masih memompa dengan sangat cepat dan berusaha secepatnya mencapai klimaks.

Beberapa detik sebelum terjadinya pancaran klimaks, Edo mencabut penisnya kemudian menghampiri wajah istriku. Ia merancap dengan sangat cepat sampai terdengar lenguhannya yang keras ketika ujung batang kemaluannya menyemburkan cairan kental berwarna putih pekat yang sengaja diarahkan ke bibir Nana. Setelah pancuran spermanya mereda, istriku menjilati ujung kemaluan Edo sampai bersih.

Aku sejak tadi hanya bisa terpesona menyaksikan pergulatan keduanya sambil terus mengurut-urut batang kemaluanku sendiri. Melihat celah vagina Nana yang menganga dan mengkilap karena lendir birahinya membuat aku sangat terangsang dan ingin memasukinya.

Begitu Edo menggeliat ke samping untuk beristirahat, kutancapkan kemaluanku ke dalam vagina istriku dengan sangat bernafsu. Meskipun liang senggama itu kini terasa sedikit longgar, tetap saja ia mampu memberi rasa nikmat yang luar biasa. Kulumat liang itu dengan sangat bergairah. Nana kembali menggoyang pinggulnya membuat liang vaginanya terasa bertambah nikmat ribuan kali.

Aku semakin kesetanan saat menyetubuhinya. Apa yang kulakukan rupanya menyebabkan menyalanya kembali gairah istriku. Kini kami berdua saling menuntut kepuasan puncak dengan saling menggesek dan meraba. Sekian menit kemudian kupercepat gerakan pinggulku saat terasa desakan yang sangat kuat di ujung penisku.

Istriku memekik dengan keras ketika ia lebih dahulu sampai di puncak. Nyaris berbarengan, kurasakan ujung penisku bergetar hebat. Kucoba menekan pinggulku lebih dalam lagi. Akhirnya batang kemaluanku menggelepar-gelepar sembari memuntahkan cairan kenikmatan dalam jumlah yang sangat banyak di antara himpitan liang vagina Nana. Saking banyaknya hingga meluber keluar dan meleleh di atas sofa.

Setelah beristirahat sejenak, kami bertiga melanjutkan permainan di dalam kamar. Secara bergantian aku dan Edo menggarap Nana. Malam itu belasan kali istriku mencapai klimaks disertai jeritan panjang penuh kepuasan.

TAMAT

Petunjuk Untuk Menjalani Gaya Hidup Berbagi Istri (Untuk Wanita)

Copyright 1999, by KHIS Mistress

1. Prinsip-prinsip umum

Dalam gaya hidup berbagi istri ada beberapa aturan umum:

  • Berbagi Istri

    Berbagi Istri

    Kesetiaan cinta dan kesetiaan seksual itu tidak sama. Anda harus selalu menjaga kesetiaan cinta Anda terhadap suami (dan anak-anak Anda, jika Anda telah memilikinya). Bagaimanapun itu bukan berarti Anda tak boleh berhubungan seks dengan lelaki lain selain suami Anda. Anda DAPAT melakukannya tanpa mengganggu keutuhan rumah tangga Anda.

  • Gaya hidup berbagi istri pada intinya adalah salah satu bentuk hubungan (relasi) sosial antarmanusia. Antara Anda dengan pasangan tetap (suami) Anda. Antara Anda dengan lelaki-lelaki lain selain suami Anda. Juga antara suami Anda dengan lelaki-lelaki lain itu. Sama saja dengan bentuk-bentuk hubungan sosial lainnya.
  • Selalu pertahankan hubungan Anda yang utama, yaitu dengan suami Anda. Anda boleh berhubungan seks dengan sebanyak mungkin lelaki lain, dan bahkan Anda pun boleh saja jatuh cinta kepada mereka. Bagaimanapun, cinta Anda yang utama tetap hanya untuk suami Anda. Menjaga keutuhan rumah tangga adalah prioritas Anda yang paling tinggi.
  • Rasa tak aman pribadi tak mendapat tempat di sini. Bebaskanlah diri Anda dari segala macam hambatan, terutama hambatan mental, yang merintangi diri Anda. Bersikaplah santai dan tanpa beban. Jika Anda belum dapat menghilangkan rasa tak aman Anda dalam menjalani gaya hidup ini, bagaimana Anda mengharapkan suami Anda melakukan hal yang sama?
  • Jika hubungan Anda dengan suami tak berjalan dengan baik, jangan lakukan gaya hidup ini.
  • Jangan pernah memulai gaya hidup ini sampai suami Anda siap menerimanya.
  • Selalu pulihkan kembali rasa aman pada suami Anda. Yakinkanlah bahwa Anda adalah miliknya yang tak dapat direbut orang lain, walaupun orang lain itu telah menyetubuhi Anda. Anda dapat melakukan ini misalnya dengan mengatakan secara tulus betapa Anda mencintai dirinya. Lakulanlah ini terutama pada saat-saat Anda selesai disetubuhi oleh teman kencan Anda.
  • Bersikap jujur dan berterusteranglah, jangan sekali-kali bersikap licik dan memperdayakan suami Anda. Ceritakanlah dengan jujur siapa saja teman kencan Anda, kapan saja Anda berkencan dan berhubungan seks dengan mereka. Bahkan jika perlu ceritakanlah secara rinci bagaimana Anda melayani mereka secara seksual. Percayalah, Anda akan terkejut mendapatkan bagaimana terangsangnya suami Anda mendengarkan itu semua, dan dengan demikian terus merestui kegiatan Anda. Tentu saja Anda tak perlu “melaporkan” SETIAP kencan Anda kepadanya. Yang penting di sini adalah bahwa Anda selalu bersikap jujur dan terbuka kepada suami Anda sebagai orang yang paling Anda cintai.
  • Jangan pernah mengancam. Yang seperti itu tak akan pernah membawa manfaat terhadap hubungan Anda dengan suami Anda.

2. Kontak dengan calon teman kencan Anda

Jika Anda melakukan kencan dengan seseorang yang sudah Anda kenal, mungkin Anda dapat melakukannya dengan baik. Lain halnya jika calon teman kencan Anda itu seseorang yang belum Anda kenal. Mungkin Anda mendapatkan nama dan alamatnya dari teman kencan Anda yang lain, atau dari internet, dan sebagainya.

Anda mungkin telah menulis surat yang baik, Anda mengikuti instruksi, dan Anda menunjukkan selera yang baik. Akan tetapi, Anda akan menghancurkan segalanya jika Anda memberinya aturan kontak yang berbelit, misalnya: “…jika kamu menelepon dan yang menjawab kebetulan atasanku, berpura-puralah kamu dari perusahaan lain.” Jangan lakukan itu! Itu dapat menjatuhkan reputasi Anda. Permudah aturannya. Biarkan mereka menelepon Anda di rumah dan berikan mereka waktu kapan saja mereka dapat menghubungi Anda.

Jujurlah tentang diri Anda dan keluarga Anda. Tak apa-apa jika Anda mengatakan kepada mereka bahwa Anda sudah memiliki anak, atau saat itu Anda sedang hamil, dan sebagainya.

3. Pertemuan, gagasan … dan mungkin yang lainnya

Sering aku ditanya orang. “Apa yang kamu lakukan ketika pertama kali bertemu dengan calon teman kencanmu?” Jawabanku biasanya adalah, “Apa yang kamu biasanya lakukan ketika bertemu orang yang bertamu di rumahmu?”

Ingatlah prinsip di atas bahwa gaya hidup berbagi istri pada dasarnya adalah suatu bentuk hubungan sosial juga. Teman kencan Anda yang datang berkunjung ke rumah sama saja seperti teman keluarga Anda yang lainnya. Pertama-tama tentunya ia akan memperkenalkan dirinya kepada Anda dan demikian pula sebaliknya. Lalu ia akan berkenalan juga dengan suami Anda, dan mungkin anak-anak Anda, jika ada. Lalu Anda semua akan terlibat dalam sedikit basa-basi untuk mengakrabkan suasana, dan seterusnya. Bedanya tentu saja bahwa ia nantinya, diharapkan, akan terlibat dalam hubungan yang lebih jauh lagi, yaitu hubungan intim dengan Anda tanpa melibatkan suami Anda.

4. Petunjuk Teknis

  • Selalu praktekkan “safe sex”. Jika Anda tak bisa memastikan “kebersihan” teman kencan Anda, selalu minta padanya untuk menggunakan kondom saat Anda berdua berhubungan seks. Jika Anda yakin bahwa Anda dan teman kencan Anda bersih dari segala penyakit kelamin, melalui serangkaian pemeriksaan medis tentunya, dan Anda berdua lebih menyukai hubungan seks yang alami, silakan singkirkan kondom dari kegiatan Anda.
  • Nah, sekarang – tanpa kondom – Anda berdua telah menikmati sentuhan kulit dengan kulit secara langsung. Harus diakui, inilah sebenarnya cara berhubungan seks yang paling nikmat. Bagaimanapun, dengan cara seperti ini ada satu hal yang harus Anda pertimbangkan: apakah Anda bersedia dihamili atau tidak oleh teman kencan Anda? Jika tidak, maka pertama, Anda harus dapat memastikan bahwa teman kencan Anda adalah seorang gentleman yang mau memahami keinginan Anda itu. Kedua, Anda berdua harus memahami teknik-teknik untuk mencegah kehamilan sebagai berikut:
    • Jangan sampai teman kencan Anda berejakulasi di dalam tubuh Anda, kecuali jika ia menyetubuhi Anda melalui mulut atau lubang anus Anda. Tentu saja tak menjadi masalah jika ia tak menarik penisnya keluar sama sekali dan memasukkan sperma sebanyak apa pun ke dalam tubuh Anda melalui kedua lubang tersebut. Teknik ejakulasi di luar ini sebaiknya digunakan terutama jika Anda sedang berada pada masa subur, yaitu pada saat sel-sel telur Anda sedang masak dan siap untuk dibuahi sehingga Anda dapat mengandung seorang bayi. Bagaimanapun, jika Anda merasa tak nyaman dengan cara ini, Anda boleh mundur kembali dengan menggunakan kondom.
    • Bagaimanapun, mungkin saja Anda justru lebih menyukai teman kencan Anda untuk berejakulasi di dalam tubuh Anda ketika berhubungan seks. Hal itu bisa dimengerti karena sensasi yang didapatkan ketika merasakan air mani dari lelaki selain suami Anda mengalir ke dalam tubuh Anda. Belum lagi suasana yang lebih intim yang bisa Anda dapatkan. Setelah teman kencan Anda mengalami klimaks, penisnya masih tertanam di dalam tubuh Anda dan masih terus menyemprotkan sisa-sisa sperma hasil percintaan Anda berdua. Pada saat itu, Anda bisa saling berpelukan mesra dan saling berciuman dengan dalam, maupun sekedar saling berpandangan menikmati keintiman itu bersama-sama. Jika suasana seperti itu yang Anda inginkan, dan Anda tetap tak ingin hamil, maka ada dua cara yang bisa ditempuh:
      • Pastikan Anda melakukan hubungan seks pada saat Anda tidak berada pada masa subur, atau:
      • Minumlah pil anti hamil secara teratur.
    • Penghamilan oleh Partner Anda

      Penghamilan oleh Partner Anda

      Bagian ini hanya ditujukan bagi Anda yang sudah memasuki tingkat “lanjut” (advanced), yaitu: Anda sama sekali tak keberatan, bahkan bersedia dihamili oleh teman kencan Anda! Nah, kalau Anda termasuk ke dalam kategori ini, tentunya Anda bisa mengabaikan semua teknik yang telah kami uraikan di atas, dengan catatan Anda berdua barus sama-sama terbebas dari segala macam penyakit kelamin. Yang paling penting bila Anda melakukan dengan cara ini, Anda harus mendapatkan persetujuan dari suami Anda. Seperti Anda ketahui, salah satu prinsip yang harus Anda patuhi jika ingin menempuh gaya hidup ini adalah bahwa Anda harus tetap mempertahankan hubungan Anda yang utama, yaitu dengan suami Anda. Kondisi yang paling ideal adalah jika Anda dan suami Anda benar-benar saling mencintai dan suami Anda bersedia untuk membesarkan anak-anak yang Anda lahirkan tak peduli dari benih siapa pun juga. Sementara itu, hubungan Anda dengan teman-teman kencan Anda hanyalah sebatas untuk kenikmatan seksual. Kalaupun sampai melibatkan cinta, tetap saja kadar cinta Anda kepada suami harus melebihi kadar cinta Anda terhadap teman-teman kencan Anda. Karena dasar hubungan Anda dengan teman-teman kencan Anda adalah seksual, maka sama sekali tak salah bila Anda sebagai wanita menunjukkan sikap penyerahan diri (submisif) total terhadap teman-teman kencan Anda, dengan cara dihamili oleh mereka. Tentu saja, sekali lagi, suami Anda harus seide dengan Anda dalam hal yang satu ini.


SEKIAN

Sinta – Ilmu Gaib Penakluk Sukma (Bagian 2)

Original Author: Unknown

Remake: Copyright 2010, by Mario Soares

(Berbagi Istri, Seks dengan Pria Tua, Penghamilan)

Setelah seminggu berlalu, pada hari yang telah dijanjikan Ki Dargo, Sinta mengunjunginya kembali beserta suaminya. Pasangan suami istri itu sampai di rumah Ki Dargo menjelang maghrib. Mereka diharuskan menginap malam itu karena akan ada pengobatan dan ritual untuk segera mendapatkan anak.

Sehabis makan malam, tepatnya pukul 8 malam, suami perempuan itu diberi ramuan untuk diminum. Sesaat setelah meminum ramuan tersebut, Rama merasakan tubuhnya segar dan ringan, seolah tak ada beban pikiran yang memberatkannya. Tanpa disadarinya, ternyata ramuan mantera itu juga telah membuat Rama tunduk dan patuh pada Ki Dargo. Karena itu saat Ki Dargo memberi perintah kepada Sinta untuk bertelanjang bulat di hadapan sang dukun, suaminya tak keberatan sama sekali.

“Kemarilah, kemarilah budakku yang cantik, akan kutunjukkan bagaimana aku dapat membuatmu terhempas dalam badai kenikmatan,” kata Ki Dargo seraya tangannya dengan bebasnya meremas-remas buah dada istri Rama yang mengkal dan segar karena belum pernah menyusui anak.

Inilah kesempatan sang dukun untuk menggarap habis-habisan tubuh molek ibu muda cantik itu di hadapan suaminya sendiri. Sang dukun seperti bayi raksasa yang kehausan saat mengisap-isap puting susu yang masih segar milik Sinta. Tangan kirinya memeluk tubuh Sinta sambil sesekali jari-jarinya yang kasar meremas-remas dan memulin puting susu perempuan itu. Sementara tangan kanannya dengan penuh perasaan bergerak ke bawah, mengelus dan menusuk-nusuk lubang kenikmatannya.

Sinta yang memang sudah pernah disetubuhi oleh Ki Dargo maupun Setan Kober suruhannya, tak merasa sungkan diperlakukan seperti itu di depan suaminya sendiri. Bahkan ia tampak menikmati sekali pencabulan yang dilakukan dukun tua itu terhadapnya.

Seperti kerbau dicucuk hidung, sang suami hanya terperangah tanpa protes sama sekali. Bahkan Rama ikut terhanyut melihat cumbuan-cumbuan Ki Dargo kepada tubuh istrinya yang seksi. Ia seperti menonton sebuah permainan yang amat menyenangkan dan membuatnya ikut terangsang juga.

“Bagaimana, Rama?” kata sang dukun pada suami perempuan itu.

“Eh, eh… ya, Ki…” kata lelaki itu tergagap.

“Gimana, Rama, kalau aku menyetubuhi istrimu? Apakah kau senang atau marah padaku?” tanyanya dengan tegas dan tajam.

“Eh, eh… ya, Ki Dargo. Aku sangat senang, Ki,” kata Rama seperti orang tolol.

Ilmu pengikat sukma Ki Dargo memang ampuh dan telah membuat Rama tunduk patuh pada kehendaknya. Rama menurut saja saat Ki Dargo menyuruhnya untuk melakukan onani.

“Ayo, Rama! Kocok batang kemaluanmu sambil menonton permainanku dengan istrimu!”

Rama pun menuruti perintah itu. Sinta hanya memandangi perbuatan suaminya sambil tetap memeluk Ki Dargo yang saat itu dengan jemarinya masih mengobok-obok lubang kemaluannya.

“Ayo, ibu muda cantik, peganglah dan belai dengan mesra batang kejantananku ini dengan jari-jari lentikmu….” suruh Ki Dargo pada Sinta untuk mengocok batang kemaluannya, di saat bersamaan suaminya juga sedang mengocok batang kemaluannya sendiri.

Sinta dengan patuh melakukannya sementara Ki Dargo membelai-belai rambutnya yang hitam panjang.

“Nah, begitu, manis…” puji dukun sakti itu senang.

Sungguh suatu pemandangan yang begitu indah dan serasi! Suami istri melakukan kegiatan yang sama secara bersamaan. Sang suami mengocok dirinya sendiri sedangkan sang istri mengocok si dukun sakti.

Sementara Sinta tetap mengocok penis Ki Dargo yang panjang, lidah serta bibir Ki Dargo menyelusuri seluruh tubuh molek istri Rama dengan buasnya. Sinta sampai merem melek dibuatnya karena terangsang dengan hebat.

“Oh yeah, ouuuh… ampuuun…. Aaaaku sudah gak tak tahan lagi, Dargo” ceracau perempuan itu. Dia sudah tak memanggilnya Ki lagi. Mungkin karena sekarang dia sudah merasa lebih mesra dan intim dengannya sehingga tak sungkan menyebut namanya saja.

“Ayo, Dargo, puaskan aku dengan batang kejantananmu yang besar ini. Ayo, Dargo!”

Erangan ibu muda cantik itu melengking tinggi saat Ki Dargo menjilati klitorisnya dengan penuh gairah.

“Ampuuuuun, Dargo! Yeah, Oh, Dargo pejantanku! Jangan kau siksa aku dengan permainanmu. Akuuuuu sudah tak tahaaaan, Dargo. Ayolah, Dargo! Aku budak nafsumu, Dargo. Aku budak nafsumu, Dargo. Yeaaah….!”

Blees, saat itulah batang kejantanan Ki Dargo yang hitam besar dan panjang masuk separuh ke dalam liang kenikmatan istrinya Rama.

Mata perempuan itu terbeliak terbalik ke atas saat kejantanan itu menghunjamnya. Tubuhnya langsung menegang dan terpaku sejenak. Rama pun terperangah dibuatnya. Tak lama kemudian Sinta tampak begitu nyaman menerima susupan batang Ki Dargo di dalam tubuhnya. Saat istrinya mengerang kenikmatan di dalam pelukan dukun tua itu, ia pun ikut terangsang dan terpana dibuatnya.

Saat itu posisi istrinya berhadap-hadapan dengan sang dukun. Mereka bersetubuh dalam keadaan berdiri. Kaki kiri istrinya dinaikkan ke atas meja tamu oleh sang dukun. Istrinya berdiri dengan kaki kanannya. Keduanya berpelukan erat dalam keadaan bugil seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara.

Ia melihat wajah istrinya semakin manis dan mempesona dalam keadaan menuju orgasme karena merasakan kenikmatan seks. Bila ingin melihat kecantikan seorang wanita, lihatlah saat ia sedang dalam kenikmatan saat disetubuhi. Sejak ia mengenal Sinta, belum pernah sekali pun Rama melihat istrinya secantik saat itu! Yakinlah Rama seyakin-yakinnya kalau tempat istrinya yang pas memang di sisi dukun sakti mandra guna itu. Rama semakin bergairah penuh nafsu birahi saat melihat istrinya bersetubuh dengan liar dan buas bersama sang dukun.

Dengan bebasnya kini Ki Dargo mengayun-ayunkan pantatnya maju mundur dengan irama teratur dan kuat sambil mengulum puting susu istrinya yang menjulang indah itu. Posisi demikian amat menyenangkan bagi Ki Dargo. Dengan kedua kakinya yang kokoh dan kekar, Ki Dargo mampu menyetubuhi ibu muda cantik budak nafsunya itu dengan sempurna sekali pada posisi demikian.

Perempuan itu merasakan ujung kepala batang kejantanan Ki Dargo yang besar dan panjang mampu menyentuh leher rahim peranakannya. Rasa nikmatnya mengalir deras sampai ke ubun-ubun.

“Oh yeah, Dargo! Terus, terus….” pintanya merengek-rengek.

Sang ibu muda binal mulai merasakan dinding Vaginanya berdenyut-denyut seakan-akan hendak meledak. Tubuhnya mulai gemetaran saking hebatnya kenikmatan itu melanda dirinya. Ia merasakan sebentar lagi akan mencapai orgasme…. tapi…

Tiba-tiba saja Ki dargo melepaskan batang kemaluannya dari lubang surgawi milik istri Rama. Tampak jelas raut kecewa di muka Sinta karena perjalanannya menuju orgasme tiba-tiba terputus, padahal ia masih merasakan horny yang luar biasa!

Dukun sakti itu dengan tenaganya yang kuat lalu membopong tubuh molek Sinta. Dibawanya perempuan itu masuk ke dalam kamarnya sambil membentak suami ibu muda cantik itu.

“Rama, budakku! Kemarilah ikut masuk ke dalam kamar ini. Aku akan mengobati kemandulanmu. Ayo, cepat, Rama!”

Rama dengan patuh mengikuti perintah sang dukun sakti itu. Pada saat itu gairah nafsu bercinta istrinya sedang menggantung di ubun-ubunnya. Kini istrinya telentang penuh nafsu birahi yang minta segera dituntaskan. Nafsu syahwatnya mendera dan menyiksa batinnya karena tergantung di tengah permainan panas yang telah dikobarkan oleh Ki Dargo tadi.

“Ayolah, Dargo, sayang, hempaskanlah aku ke pantai nafsumu, Dargo,” ceracau manja istrinya merayu dukun sakti itu untuk segera menyetubuhinya kembali. Akan tetapi sang dukun dengan tegasnya memberi perintah kepada suaminya.

“Rama! Ayo, setubuhilah istrimu dan buahilah kandungan istrimu dengan air manimu. Cepatlah, Rama. Lihatlah istrimu sudah tak tahan lagi memendam rasa gairahnya. Nanti setelah engkau mengeluarkan manimu di dalam liang kenikmatan istrimu, aku akan menyempurnakannya dengan ilmuku agar kau mendapatkan keturunan yang kauharapkan.”

Dengan tubuh gemetaran karena menahan nafsunya, Rama mendekati istrinya. Gairah bercinta Rama menggebu-gebu setelah melihat persetubuhan istrinya yang sangat panas dengan sang dukun dalam posisi berdiri tadi.

“Ayolah, Mas Rama! Peluklah aku, Mas. Berilah aku kemesraan, Mas!”  ceracau istrinya tanpa malu-malu lagi karena desakan birahinya yang begitu memuncak. Keluarlah kata-kata kotor dari mulut istrinya sendiri yang membangkitkan gairah Rama.

Dengan sangat bernafsu Rama memasukkan kemaluannya secara terburu-buru ke dalam vagina istrinya yang cantik dan seksi itu. Disebabkan nafsunya yang tinggi dan permainan Rama yang begitu tergesa-gesa, hanya dalam waktu sekitar tiga menit Rama sudah tak dapat lagi membendung lahar kemesraannya.

“Oh, aku keluar…. Maaf, sayangku… Aku tak sanggup lagi… Maafkan aku yang loyo ini, sayangku,” keluh Rama di puncak kenikmatannya dengan nada menyesal.

Rama pun terkulai lemas dalam kenikmatan setelah menyetubuhi istrinya dalam waktu yang singkat di hadapan Ki Dargo. Air mani Rama yang tertumpah ke dalam liang istrinya sangat encer dan sedikit sekali.

Tampak jelas raut kecewa di wajah istrinya. Saat Ki Dargo mendekatinya, Sinta meliriknya dengan penuh harapan. Tubuhnya serasa kembali panas didera oleh hawa nafsu.

“Ini tak mungkin dapat membuahkan kandungan istrimu,” kata Ki Dargo saat jemarinya menelaah liang vagina Sinta yang baru saja disetubuhi suaminya secara singkat. Ki Dargo bahkan hampir tak dapat merasakan air mani Rama di liang kelamin istrinya itu.

“Aku akan melakukan sesuatu untuk mengantarkan air manimu yang masih muda dan encer itu ke pintu rahim istrimu dengan bantuan ilmu yang kumiliki,” tegasnya sambil mengangkangkan kedua paha Sinta.

Sebelum memulai, Ki Dargo meminumkan secangkir jamu ramuannya kepada istri Rama. Efeknya tampak nyata dalam hitungan detik. Wajah Sinta tampak begitu binal seperti betina yang sedang dalam puncak kesuburannya dan siap untuk dibuahi. Badannya gemetaran seolah tak sabar untuk dimasuki Ki Dargo.

“Lihatlah! Lihatlah, Rama! Bagaimana aku akan menyetubuhi istrimu yang cantik ini. Bagaimana aku akan melakukannya dengan penuh kemesraan, dengan batang kejantananku yang besar dan perkasa ini, yang akan mampu menerbangkan sukma istrimu mencapai puncak nirwana bersama-sama denganku dalam badai gairah kami berdua.”

“Istrimu akan kubuat berkelojotan dalam badai gairah bercintanya. Istrimu akan selalu merindukan persetubuhan ini. Ia akan selalu membayangkan dan merindukan batang kejantananku yang besar dan panjang ini. Bagaimana Rama?”

Dengan lesunya Rama menjawab.

“Baik, Ki Dargo…. Setubuhilah istriku! Berilah ia kenikmatan yang tak bisa kuberikan. Buahilah kandungannya melalui ragamu, Ki…”

Entah bagaimana bisa Rama mengucapkan kata-kata demikian itu padahal batinnya bertolak belakang dengan ucapannya sendiri. Itu dikarenakan pengaruh ilmu penguasa sukma Ki Dargo yang amat ampuh untuk menundukkan setiap orang yang telah bersedia menjadi budaknya.

“Rama, kau berani bersumpah?” kata Ki Dargo lagi.

“Sumpah, Ki! Aku menikmatinya saat engkau menyetubuhi istriku dengan kebuasan gairah nafsumu. Silakan, Ki! Engkaulah yang dapat menolong kami dalam pengobatan ini….”

“Dargo, kau dengar izin dari suamiku? Kau berhak sepenuhnya atas tubuhku… Aku sangat ingin kau setubuhi…” desah Sinta spontan menanggapi perkataan suaminya.

Sangat kontras perbedaan antara Rama yang dengan hormatnya memanggil Ki kepada dukun sakti itu dengan istrinya yang sudah begitu intim dengannya sehingga cukup memanggil namanya.

Ibu muda cantik itu sudah tidak sabar lagi menunggu kemesraan yang akan diberikan oleh Ki Dargo. Ia dengan gelisah berkelojotan menanti sentuhan mesra dari Ki Dargo. Perempuan itu telah kecewa serta frustrasi karena saat ia bersenggama dengan suaminya, sang suami tak dapat menuntaskan dengan sempurna ke puncak nafsunya. Maka ia merengek-rengek memohon kepada Ki Dargo.

“Dargo, sayangku! Aku adalah budak nafsumu. Ayo, Dargo! Berilah aku kejantananmu yang hitam dan besar ini. Nikmatilah tubuhku, Dargo! Puaskanlah aku, Dargo! Aku kekasihmu yang selalu akan merindukan percintaan ini…”

Tentu serta merta rengekan ibu muda itu telah membuat dukun tua perkasa yang sakti itu tambah bergairah liar dan buas.

Meskipun usia Ki Dargo sudah 50 tahunan, daya tahan Ki Dargo tiada tandingannya dalam hal olah asmara gama. Sedangkan Rama yang baru berusia 35 tahun sangat jauh kemampuannya di bawah Ki Dargo. Sedangkan ibu muda cantik itu sedang ranum-ranumnya dan harum-harumnya, ibarat buah mangga yang matang. Di usianya yang ke-28 tahun, wanita seumur istri Rama itu sedang berada dalam puncak gairah birahinya. Ibarat sekuntum bunga mawar yang sedang mekar-mekarnya, yang mengeluarkan keharuman yang menyengat birahi setiap lelaki yang memandangnya.

Rama telah menyia-nyiakan bunga cantik itu. Karena kesalahannya sendiri, kini bunga cantik miliknya itu telah jatuh ke tangan dukun yang amat sakti mandra guna, Ki Dargo.

“Oh, betina cantikku, apakah kau ingin menikmati manisnya tubuhku? Ayo, jilatilah seluruh tubuhku dengan lidahmu, sayang… Di situ dirimu akan mendapatkan manis dan nikmatnya gairah nafsumu yang tak terbendung lagi.”

Dengan patuh dan penuh perasaan, perempuan itu menjilati sekujur tubuh Ki Dargo di hadapan suaminya sendiri. Bau badan dukun sakti itu begitu khas. Pada penciuman Rama, baunya hampir seperti bangkai tapi sebaliknya pada penciuman istrinya, bagaikan harum cendana. Keringatnya terasa bagaikan manisnya madu di lidah istri Rama.

Setelah sekujur tubuh dukun itu habis dijilati oleh ibu muda cantik itu, akhirnya sampailah perempuan cantik itu ke sumber sarang madu yang terletak di selangkangan dukun tua itu. Tubuhnya bergetar sangat hebat saat ia menjilati batang kejantanan Ki Dargo yang besar dan panjang. Di situlah terletak puncak sari madu yang dijanjikan sang dukun.

Batang kejantanan itu dengan perlahan dan pasti mulai tegak dengan gagah perkasa saat jemari lentiknya membelai dengan penuh perasaan. Tubuh Sinta bergetar hebat. Dinding vaginanya serasa berdenyut-denyut manakala hangatnya serta aroma khas kejantanan, yang besar panjang dan hitam legam itu terhirup hidungnya. Gelora kedutan batang kejantanan itu menjalari telapak tangannya.

“Oh, sayangku, Dargo! Cepatlah, terbangkan aku dalam badai gairah nafsu liarmu,” pinta Sinta dengan penuh harap.

Ki Dargo menjilati puting susu istrinya Rama yang cantik itu dengan lidahnya yang kasar. Dengan kedua tangannya yang kekar, Ki Dargo mulai membuka jalan pendakian dengan merentangkan kedua kaki budak nafsunya disertai dengan belaian yang memabukkan.

Ibu muda cantik itu mengerang nikmat dan manja saat batang yang besar dan perkasa itu mulai menyeruak bibir vaginanya yang sempit. Padahal batang kemaluan Ki Dargo ukurannya amat luar biasa besar dan panjang.

Istri Rama yang cantik itu berkelojotan saat kejantanan Ki Dargo digesek-gesekkan dengan lembut di sela-sela bibir vaginanya dengan menyenggol-nyenggolkan kepala kejantanannya pada klitoris perempuan itu. Dipegangnya erat-erat pantat dukun tua itu seolah tak mau kedua kelamin mereka terpisah.

Budak nafsu sang dukun itu kini mengerang nikmat dengan histeris saat kejantanannya masuk setengahnya ke dalam liangnya yang sempit.

“Oh, yeah! Enak… eeenak, Dargo!”

Perih bercampur dengan kenikmatan serasa mengalir dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubunnya.

“Oh, Dargo, ammmmpuuuun, ammmpuuuun! Tuanku yang perkasa, cepat benamkanlah diriku dalam badai gairah nafsumu, Dargo.”

Ibu muda cantik itu kini menceracau tak karuan saat batang kejantanan sang dukun itu menghentak-hentak ke dasar rahimnya. Sempurnalah kini kepasrahan Rama sang suami saat ia melihat istrinya berkelojotan disetubuhi Ki Dargo dengan permainan yang meluluhlantakkan tubuh istrinya yang cantik.

Kini Rama menyadari kelemahan dirinya yang tak setangguh Ki Dargo. Ada rasa minder menghinggapi dirinya, baik dari segi keperkasaan maupun ukuran kemaluannya yang jauh di bawah Ki Dargo. Ia malah ikut menikmati persetubuhan istrinya dengan sang dukun sakti itu.

Kini Ki Dargo mencapai puncaknya bersama-sama dengan budak nafsunya yang cantik itu.

“Yeeeeah….!!!!” geramnya dengan suara yang berat memenuhi ruangan itu.

Croot….. croot…..

Tubuh istrinya yang cantik itu bergetar hebat saat air kenikmatan sang dukun menyemburkan kehangatan ke dalam liang senggama milik istrinya. Perempuan itu mendesis nikmat. Rasanya sampai ke ubun-ubun. Ki Dargo ikut terbeliak biji matanya saat batang kejantanannya diurut-urut oleh kedutan vagina yang sempit dan peret milik istri Rama. Nikmat sekali! Benar-benar persetubuhan yang sempurna!

Ibu muda cantik itu masih dalam keadaan tertindih di bawah tubuh kekar milik Ki Dargo untuk meresapi kenikmatan yang meluluhlantakkan sukma dan raganya. Ki Dargo pun belum mau mencabut batang kejantanannya dari lubang kenikmatan itu.

Ia masih merasakan betapa panjang dan lamanya kedutan vagina ibu muda yang cantik ini. Otot-otot vaginanya masih mengurut-urut batang kejantanannya yang tak pernah melemas walaupun telah meledakKan lahar panasnya.

Itu semua berkat ramuan yang diolahnya beserta mantera-mantera Asmara Gama yang dirapalkannya saat menyetubuhi ibu muda cantik istri Rama itu. Perempuan itu kini telah menjadi budak yang setia dan patuh padanya. Ki Dargo berbisik dengan mesranya di kuping Sinta.

“Apakah kau menikmati kejantananku, sayang?”

“Ya, tuanku yang perkasa! Aku menikmatinya. Aku akan selalu menikmatinya bersamamu dan juga bersama makhluk yang bertanduk itu. Kalian berdua telah mebuka mata hatiku. Selama ini hanyalah kegersangan yang kudapatkan dari suamiku. Kini aku tahu betapa dahsyatnya kenikmatan yang telah kalian berdua berikan kepadaku. Oh, kekasih perkasaku, Tuan Dargo… Aku puas. Terima kasih, Tuan. Aku sangat menikmati disetubuhi olehmu,” kata istri Rama sungguh-sungguh sambil menatap dalam-dalam mata Ki Dargo yang menindih tubuhnya.

Ki Dargo sangat senang mendengar pengakuan gundiknya yang tulus itu. Dikecupnya kening dan bibir istri Rama itu.

“Baiklah! Engkau akan segera mendapatkan anak dengan bantuan air maniku yang telah menyuburkan air mani suamimu saat ia tanamkan ke dalam rahimmu,” kata Ki Dargo.

“Air maniku akan mendewasakan air mani suamimu yang encer itu. Dengan masuknya air maniku ke dalam rahimmu, kau akan hamil, sayangku,” kata Ki Dargo sambil mengelus-elus rambut ibu muda itu dengan lembut.

Dengan mengerang manja, ibu muda cantik itu memeluk erat tubuh kekar dukun sakti itu. Ia mengerang kenikmatan karena batang kejantanan Ki Dargo mengayun dan menghentak-hentak lembut di liang vaginanya saat berbisik di telinganya. Ujung kejantanan itu berkedut-kedut di pintu dasar rahimnya.

Dengan masih terbenamnya batang kemaluannya di liang ibu muda Sinta, Ki Dargo memanggil suami perempuan itu.

“Rama, kemarilah! Cumbuilah istrimu ini. Ayo, cepat!”

Dengan patuhnya Rama menjalani perintah itu. Ia mendekati sepasang manusia berbeda kelamin yang sedang bersetubuh itu dari atas kepala si perempuan.

“Ciumlah bibirnya, Rama!”

Rama pun mecium bibir istrinya. Sinta membalasnya dengan ciuman yang mesra pula.

Sementara suami istri itu berciuman bibir dengan romantisnya, Ki Dargo dengan perlahan mulai menggenjot liang kenikmatan perempuan itu. Dukun sakti itu kembali menyetubuhi Sinta yang sedang bermesraan dengan suaminya!

“Ayo, Rama, hisaplah puting susunya!” perintah Ki Dargo setelah mereka berada dalam posisi itu selama beberapa menit.

Dengan patuhnya Rama mengisap-isapnya sehingga istrinya menggelinjang kenikmatan dengan mengeluarkan suara desahan-desahan birahi.

“Oh, sayangku, oh tuanku yang perkasa, Dargo darrrrrgo, ammmmpun… Oh yeah, dargo kekasihku yang perkasa, akuuuu sudah mau keluar. Cepat hempaskanlah aku dalam pusaran badai nafsumu.”

Ibu muda itu sudah tak menghiraukan lagi Rama walaupun suaminya itu ikut juga mencumbuinya. Baginya, keintimannya dengan Ki Dargo lah yang memberinya kepuasan total. Dengan menceracau tak keruan perempuan itu berbisik pada suaminya.

“Oh, Mas Rama, batang kejantanan Ki Dargo ini enak, Mas. Aku senang disetubuhi olehnya. Aku akan selalu merindukan kenikmatan ini, Mas…” kata perempuan itu membuat pengakuannya yang jujur sambil menatap dalam-dalam suaminya.

Kata-katanya segera terputus dan matanya kembali terpejam karena menahan kenikmatan dari genjotan Ki Dargo pada lubang kelaminnya. Ia hanya menggenggam erat-erat kedua tangan suaminya sambil memasrahkan tubuhnya kepada dukun durjana itu.

Rama hanya bengong tak bisa berbuat apa-apa seperti orang bodoh melihat istrinya yang sedang berjuang mendapatkan puncak kenikmatan. Peluh istrinya beserta peluh Ki Dargo tampak sudah bersatu menyelimuti tubuh keduanya. Ia lalu sedikit menjaga jarak supaya tak mengganggu Ki Dargo yang sedang asyik menyebadani istrinya yang cantik itu. Dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri betapa bahagianya istrinya dibawa Ki Dargo mengarungi samudera birahi. Ia hanya bisa ikut bahagia melihat istrinya seperti itu.

Memang perempuan itu hanya akan menikmati rasa manis madu birahi dari sang dukun Ki Dargo. Satu-satunya manusia laki-laki yang telah membuat dirinya melambung kembali ke awang-awang indahnya persetubuhan. Kenikmatan yang tak pernah didapatkannya dari suaminya yang loyo. Ki Dargo menggeram hebat lagi saat ia melepaskan lahar panasnya.

“Ayo, budak nafsuku, nikmatilah kejantananku! Ayooo, yeeeah, yeah!! Ayo, cantikku! Mana yang jantan, aku atau Rama? Ayo, jawablah, budak manisku…” kata Ki Dargo dengan kurang ajarnya.

“Oh, yeeah…. ammmmpuuun! Engkaulah yang jantan, Darrrrgoooo…..!!!” jerit Sinta histeris di depan mata suaminya.

Maka jebollah bendungan lahar panasnya Ki Dargo. Panas dirasakan oleh istrinya Rama di dalam perutnya sampai ke ubun-ubun.

Segera dilepaskannya genggaman tangannya pada suaminya. Kedua tangannya serta merta berganti memeluk tubuh Ki Dargo erat-erat. Perempuan itu tampak mencapai orgasme yang kesekian kalinya di tangan dukun tua itu.

Vaginanya terasa berkedut-kedut sehingga memijat-mijat penis Ki Dargo yang masih menyemprotkan air maninya. Dengan tubuh berkelojotan dan mata mendelik ke atas, ibu muda itu menerima kenikmatan yang amat dahsyat dari sang perkasa dukun sakti mandra guna.

Keduanya lantas berciuman bibir dengan nafsunya, seperti dua orang yang sudah lama sekali tak bertemu. Batang kemaluan Ki Dargo masih berdenyut-denyut memompa sisa-sisa air kenikmatannya di dalam liang kemaluan istri Rama. Vagina perempuan itu pun masih memijat-mijat batang kelamin kekasihnya. Keduanya berpelukan erat sekali. Kedua mulut mereka terus bersatu saling bertukar ludah dan membelit lidah.

Mereka berdua bertahan pada posisi itu selama sepuluh menit, sebelum keduanya lalu tidur berpelukan dalam keadaan bugil. Rama melihat senyuman manis menyungging di bibir istrinya. Nampak sekali betapa bahagianya perempuan yang disayanginya itu! Ki Dargo pulas sambil mengeluarkan dengkuran yang sangat keras tapi ibu muda Sinta tampak sama sekali tak terganggu di dalam pelukannya.

Rama hanya duduk merapat ke pojok kamar sambil terus memperhatikan istrinya yang terlelap telanjang bulat di dalam dekapan Ki Dargo yang juga bugil. Ia tak mau mengganggu ketenangan dan kebahagiaan mereka berdua.

Lebih dari dua jam kemudian barulah keduanya bangun. Istri Rama segera mengenakan kembali semua pakaiannya tanpa membersihkan dirinya sama sekali. Tibalah saatnya suami istri itu berpamitan pulang sambil mengucapkan terima kasih kepada Ki Dargo.

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Lihat Istri Dipijat

Original Writer: Unknown

Remake: Copyright 2010, by Mario Soares

(Pijat, Istri Selingkuh, Seks Antar Ras)

Pada hari Selasa, kebetulan aku dan istriku cuti kerja. Kami berniat untuk mencari makan siang di luar. Di dekat tempat makan tersebut, ternyata ada satu ruko pijat refleksi. Di tempat refleksi tersebut, menurut penjelasan pemijatnya, tidak hanya kaki yang dipijat melainkan juga seluruh badan, dari kepala, pundak, sampai kaki. Ternyata semua pemijatnya laki-laki.

Kebetulan karena hari kerja dan belum waktunya makan siang, suasana masih sepi dan cuma ada dua pemijat. Di tempat itu ada dua kamar yang hanya ditutup kain untuk yang mau dipijat seluruh badan dan beberapa tempat duduk untuk yang mau dipijat kakinya saja.

Tadinya istriku mau kuantar ke Bersih Sehat tapi karena di sini juga ada tempat pijat, akhirnya kami putuskan kalau ia dipijat di sini saja. Aku sih paling geli dan tidak mau dipijat oleh lelaki, makanya kusuruh istriku saja yang masuk untuk dipijat.

“Ya sudah, sana gih kamu aja yang dipijat, Mah.”

“Papah gak mau coba juga?”

“Gak ah… ngapain juga dipijet cowok?” tukasku.

Istriku cuma mencibir gemas mendengar jawabanku. Ia sudah tahu kelakuanku emang.

“Ntar aku makan dulu ya ke luar. Laper nih. Kamu ambil yang paket 2 jam aja, Mah,” suruhku.

“Gak kelamaan?”

“Gak, aku kan nanti sekalian jalan-jalan dulu cari aksesoris buat mobil.”

Sebelum pergi kulihat dulu seperti apa sih dipijatnya. Pemijat yang bertugas saat itu tampaknya seorang pemuda Jawa berusia 20-an. Berkulit legam, bertubuh agak gempal dengan tinggi badan sekitar 160-an. Ia mengenakan seragam batik lengan pendek. Istriku yang hanya memakai celana pendek dan kaos ketat tanpa lengan memang kelihatan seksi sekali. Istriku kemudian berbaring dengan santai. Yang pertama-tama dipijat adalah telapak kaki. Setelah beberapa saat memperhatikan barulah aku pergi. Kubilang pada mereka kalau aku akan kembali dua jam lagi setelah pijatnya selesai.

Setelah selesai makan, aku balik lagi ke tempat refleksi itu. Kulihat tidak ada orang lagi di depan. Jadi aku langsung masuk saja ke dalam. Karena aku ternyata datang lebih awal dan tidak mau mengganggu istriku, aku hanya duduk-duduk di depan kamar tempat istriku dipijat.

Sekilas kudengar suara lenguhan istriku. Mungkin karena enak dipijat tapi karena penasaran akhirnya kucoba intip apa yang terjadi di balik kain yang menutupi kamar tersebut. Kebetulan di luar kamar memang cukup gelap tapi di dalam ruangan ada lampu yang memberi cukup penerangan.

Ternyata istriku memang sedang menikmati pijatan sang pemijat. Pemijat tersebut sedang memijati kaki istriku yang putih, mulai dari betis sampai paha. Entah kenapa, ada perasaan terangsang melihat istriku disentuh oleh lelaki lain.

Setelah beberapa lama memijat kedua kaki istriku, ia meminta dengan sopan agar celana pendeknya dibuka saja karena mengganggu. Istriku awalnya menolak.

Setelah diberi keterangan yang menyakinkan, akhirnya istriku mau juga membuka celananya tapi dengan syarat ditutupi selimut. Waktu kulihat istriku membuka celananya, langsung jantungku berdebar kencang. Entah kenapa, aku merasa terangsang melihat istriku telanjang di depan lelaki lain.

Setelah ditutupi kain putih, si pemijat langsung memijat kembali di daerah paha. Hanya saja sekarang mulai sesekali menyentuh pantat dan selangkangan istriku. Istriku entah percaya sama si pemijat atau memang jadi menikmatinya. Soalnya dia tidak protes sama sekali.

Rupanya ini membuat si pemijat akhirnya cuma berkonsentrasi memijat kedua paha istriku dan daerah selangkangannya. Melihat itu aku jadi tambah gila sambil menggosok si adik yang memang sudah tegang berat.

Entah sengaja atau tidak, si pemijat membuat kain penutup istriku bergeser dan akhirnya terjatuh sehingga dia bisa melihat tubuh bagian bawah istriku yang putih mulus yang terbungkus CD. Sempat si pemijat terdiam melihat pemandangan indah tersebut.

Kuperhatikan ada tanda basah di CD istriku. Mungkin karena keenakan, istriku terus dipijat tanpa dilindungi kain. Ini membuat si pemijat makin berani memijat daerah pantat dan selangkangan istriku. Cukup lama ia menjelajahi daerah vital istriku sampai kudengar jelas istriku mendesah-desah karena merasa nikmat diperlakukan seperti itu.

Yang membuatku kaget, si pemijat lalu meminta istriku untuk membuka bajunya karena akan dipijat daerah punggung dan lehernya. Yang lebih membuatku kaget, istriku langsung membuka bajunya tanpa perlu diberi pengertian lagi sehingga sekarang ia hanya menggunakan BH dan CD. Entah apa yang membuat dia berani seperti itu, apa ada unsur hipnotis ya? Yang jelas, lebih gila lagi, ternyata aku sangat menikmati pemandangan ini.

Setelah beberapa saat memijat daerah punggung, si pemijat meminta izin untuk membuka bra istriku karena punggungnya akan diolesi minyak. Istriku cuma mengganguk. Begitu mendapat restu istriku, si pemijat langsung membuka kait bra istriku dengan tangkasnya. Sementara istriku diam saja. Kini si pemijat mulai menggosok punggung istriku tanpa ada penghalang apa-apa lagi. Kulihat si pemijat juga sesekali melihat pinggiran tetek istriku yang kini kelihatan karena BH-nya sudah terlepas ke samping. Bahkan sesekali ia pun menyentuhnya!

Kemudian si pemijat memijat leher istriku dengan sentuhan yang lembut. Kayakya ini membuat istriku terangsang, terdengar dari suaranya yang mendesah. Melihat situasi itu si pemijat kembali memijat daerah pantat dan sekitarnya. Ini membuat istriku tambah terangsang. Istriku yang tadinya diam saja mulai menggeliat-geliat karena selangkangannya dirangsangi si pemijat.

Tanpa minta izin lagi, si pemijat dengan halus membuka CD istriku! Sama sekali tak kulihat penolakan dari istriku. Mungkin pikirannya sudah hilang karena keenakan dirangsangi. Si pemijat mulai menyentuh kemaluan istriku dan kulihat ia langsung memasukkan jarinya ke dalam vagina istriku!

“Oouuh…. jangan…” sempat kudengar istriku berbisik tertahan saat vaginanya ditembus jemari si pemijat.

“Nggak apa-apa, Ci… santai aja… dinikmatin aja…” bisik si pemijat dengan penuh percaya diri sambil satu tangannya dengan lembut mengusapi punggung istriku yang telanjang. Sementara dengan tangannya yang satu lagi, ia menambah jarinya yang masuk ke dalam vagina istriku.

Kulihat istriku langsung tak berdaya sama sekali mendapatkan serangan seperti itu. Tak kudengar lagi protesnya. Yang kudengar kini hanya desahannya dan geliat tubuhnya yang merespons rangsangan hebat yang diterimanya dari si pemijat. Sementara satu tangannya tanpa ampun mengobok-obok vagina istriku, tangannya yang satu lagi menggerayangi dan mengusapi seluruh tubuh istriku dengan lembut.

Aku bingung kok istriku nurut saja. Ada perasaan cemburu tapi masih kalah dengan rangsangan hebat melihat istriku disentuh dan dirangsangi oleh orang lain (apa ini kelainan ya?).

Akhirnya setelah beberapa lama, si pemijat meningkatkan intensitas permainan jemarinya di dalam vagina istriku. Akibatnya, kulihat istriku menegang dan seperti kesetrum. Badannya bergoyang-goyang seperti ayam disembelih. Suaranya terpekik tertahan-tahan menahan gejolak orgasme yang melanda sekujur tubuhnya. Si pemijat dengan tangannya yang bebas menggenggam tangan istriku. Tampak istriku balas menggenggam tangan si pemijat dengan keras sekali. Aku benar-benar terangsang melihat istriku akhirnya mencapai puncaknya dengan jari-jemari si pemijat.

Beberapa saat kemudian, tubuh istriku kelihatan melemah. Dadanya tampak jelas naik turun kecapekan. Nafasnya terdengar tersengal-sengal. Tangan istriku dan si pemijat masih saling menggenggam dan meremas-remas. Tampak istriku tersenyum kepada si pemijat manis sekali. Sementara itu, tangan si pemijat yang satu lagi masih memainkan jari-jemarinya di dalam vagina istriku yang tampak basah kuyup. Kali ini tentu saja iramanya sudah jauh lebih lembut. Istriku tampak sangat menikmati diperlakukan seperti itu.

Setelah beberapa lama, si pemijat lalu membuka celananya dengan satu tangan karena tangan yang satu lagi masih saja menggosok-gosok daerah klitoris di selangkangan istriku. Terlihat kontol si pemijat sudah ngaceng berat dan ukurannya cukup besar dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat, mungkin baru dicukur.

Ketika akan membuka bajunya, si pemijat mengangkat pantat istriku sedikit dan langsung menjilati vaginanya sebagai ganti jarinya yang sudah bekerja keras dari tadi. Karena kedua tangannya sudah bebas, sekarang si pemijat dapat membuka bajunya.

Selesai membuka bajunya, si pemijat masih terus dengan rakus menjilati bagian vital istriku. Istriku yang dijilati mekinya langsung kelihatan seperti tersengat aliran listrik. Tidak berapa lama kemudian kelihatan istriku mengejang karena mencapai klimaks untuk kedua kalinya.

Si pemijat tersenyum senang, karena telah berhasil membuat istriku mengalami multi orgasme. Setelah sama-sama telanjang, si pemijat membalikkan badan istriku, sehingga kelihatanlah payudaranya yang indah dengan puting berwarna hitam yang sudah menegang.

Walaupun keduanya kini sudah sama-sama bugil dan si pemijat tampak sudah siap benar untuk menyetubuhi istriku, istriku kelihatannya masih ragu-ragu untuk bermain lebih jauh. Dengan masih malu-malu istriku menutupi dadanya.

“Jangan, ah…. nanti gimana kalo kepergok suamiku…?” terdengar istriku berkata lirih.

“Gak usah takut, Ci. Suaminya Cici kan masih makan di luar. Baru dua jam lagi dia datang kemari…” kata si pemijat dengan halus.

“Lagian tempat ini terkenal aman koq… Sudah banyak yang coba dan belum sekalipun ada yang ketahuan suaminya….” lanjutnya mantap.

Selesai berkata begitu, si pemijat mendekatkan mukanya ke muka istriku. Dengan lembut tapi penuh nafsu, dikulumnya bibir istriku yang ranum. Istriku tampak dengan pasrah membalasnya! Mereka bahkan sampai bermain lidah dan bertukar ludah. Sementara itu satu tangan si pemijat kembali memainkan klitoris istriku. Benar-benar seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara…

Karena terus diberi cumbuan yang panas dan rangsangan yang hebat di klitorisnya, istriku akhirnya menyerah. Dibukanya kedua tangannya dengan sukarela. Oleh si pemijat tangan istriku diletakkan ke samping kepala istriku dan dipegangnya erat-erat, sehingga dengan leluasa si pemijat bisa melihat dada dan ketiak istriku yang mulus dan wangi.

Si pemijat mungkin penggemar ketiak karena ketiak istriku dijilati dan diciumi terus-menerus sehingga istriku kegelian dan semakin terangsang hebat. Si pemijat mulai melepas tangan istriku tapi posisi tangannya tetap terlentang di samping kepala. Lalu ia mulai menciumi payudara istriku yang masih kencang karena kami belum mempunyai anak. Istriku kelihatan sangat menikmati putingnya diisap dan dijilati.

Selesai menikmati payudara istriku dia mulai menjilati vagina istriku yang sudah basah kuyup.
Mungkin karena sudah tidak tahan, akhirnya si pemijat bersiap-siap memasukkan kontolnya. Istriku sudah pasrah saja tak memberikan perlawanan apa pun. Sebelum melakukan penetrasi, dia melap vagina istriku, mungkin karena sudah basah dengan cairan vagina dan ludahnya.

Ketika mau masuk, istriku kelihatan tersentak agak kaget. Mungkin karena agak sakit sebab kontolnya si pemijat lebih besar dari aku punya tapi kelihatannya dia sama sekali tidak menolak. Bahkan dengan tangannya, ia membantu si pemijat memasukkan kontolnya ke dalam lubang mekinya pelan-pelan.

Mungkin itu yang ingin dirasakan oleh istriku. Istriku pernah bilang kalau kontolku nggak besar dan dia kurang menikmatinya tapi mau gimana lagi, karena sudah dikasihnya seperti ini.

Si pemijat akhirnya berhasil memasukkan kontolnya dan mulai menyodoknya sambil tidak lupa menciumi payudara istriku dan juga ketiaknya secara bergantian. Aku yang sudah tidak tahan akhirnya mengocok dan mengeluarkan maniku di kertas tisu yang aku bawa.

Si pemijat setelah sekitar 10 menit kelihatannya mau klimaks.

“Jangan dibuang di dalam ya?” Istriku yang sudah melihat gelagat si pemijat mau orgasme buru-buru ngomong.

“Ya udah, kalo gitu buka mulutnya cepat, Ci!” Perintah si pemijat.

Tanpa disuruh dua kali, istriku langsung membuka mulutnya dengan pasrah seolah mau diperiksa dokter gigi.

Akhirnya si pemijat mencabut kontolnya dan membuang maninya di muka istriku, sampai tertelan ke mulutnya segala. Istriku kelihatan puas sekali. Tampak keduanya tak lepas saling bertatapan mata selama si pemijat menghabiskan muncratan spermanya ke wajah istriku.

Begitu habis semprotannya, istriku langsung menelan semua cairan yang terkumpul di dalam mulutnya. Ia melakukan itu sambil tersenyum memandangi wajah si pemijat yang tampak kelelahan. Si pemijat berdiri mematung karena kecapekan sambil mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya. Sementara itu istriku dengan telaten membersihkan sisa-sisa air mani yang menyelimuti batang kontol si pemijat sampai bersih!

Aku benar-benar merasa cemburu melihatnya karena selama ini istriku tak pernah mau menelan air maniku dan sekarang ia menikmati air mani si pemijat dengan sukacita. Tapi anehnya di satu sisi aku jadi malah terangsang hebat melihat ia melakukan hal itu bersama pria lain!

Setelah dilihatnya istriku selesai membersihkan penisnya, si pemijat menarik tangan istriku yang masih duduk bersimpuh di hadapannya supaya berdiri. Keduanya lalu saling berpelukan erat sekali sambil berdiri. Seolah keduanya saling mengucapkan terima kasih atas kenikmatan yang telah diberikan masing-masing.

Si pemijat lalu membimbing istriku untuk berbaring berdua di atas kasur sambil masih bertelanjang bulat. Istriku membaringkan kepalanya di dada si pemijat yang bidang. Terlihat kontras antara kulit istriku yang kuning langsat dengan si pemijat yang hitam gempal berotot. Dipeluknya tubuh pemuda itu erat-erat. Sementara si pemijat membelai-belai rambut dan punggung istriku.

Setelah beberapa saat istirahat, kulihat mereka mulai duduk dan beres-beres. Saat itu belum habis waktunya dua jam. Tentunya mereka berdua mengira aku masih di tempat makan.

Si pemijat dengan mesra melap air mani di tubuh dan muka istriku. Sesekali ia membersihkan air mani dari tubuh atau wajah istriku dengan jarinya dan lalu dimasukkannya ke dalam mulut istriku! Istriku tampak tersenyum dan menerimanya dengan ikhlas! Dikulumnya jemari si pemijat yang dibaluri air maninya dan diisapnya sampai bersih.

Karena masih ada waktu sekitar seperempat jam, mereka berdua masih duduk-duduk telanjang bulat di atas kasur sambil ngobrol. Setelah beberapa saat, si pemijat memakaikan BH istriku sambil sebelumnya meremas-remas lagi kedua payudaranya dengan gemas. Selesai memakaikan BH, ia menciumi leher jenjang istriku dengan mesranya, disusul dengan french kiss yang cukup lama, sekitar 5 menit. Tampak jelas mereka masih ingin melanjutkan french kiss-nya kalau saja tidak mengingat waktu dua jam yang sudah hampir habis.

Karena takut kalau-kalau aku keburu datang, mereka cepat-cepat membereskan semuanya dengan rapi. Sementara itu aku diam-diam langsung keluar dari ruko itu. Di luar aku merokok sebentar untuk menghilangkan keteganganku setelah menonton permainan panas istriku dengan si pemijat. Tak lama kemudian aku masuk lagi.

Saat aku masuk, kulihat istriku dengan wajah cerah dan berseri-seri sedang duduk di bangku ruang tunggu. Mukanya tampak bersih, sedangkan rambutnya tersisir rapi dan badannya wangi oleh parfum. Sama sekali tak nampak kalau ia baru saja bersetubuh dengan hebatnya dengan si pemijat! Benar-benar lihai istriku ini… Ternyata diam-diam dia kayak suaminya juga…

Istriku langsung mengajakku pulang.

“Nggak mau makan dulu?” tanyaku.

“Gak ah, lagi nggak laper, Pah,” tukasnya. “Nanti makan snack aja di mobil sambil pulang.”

Istriku memang biasa makan besar cuma waktu sarapan saja. Siang cuma makan kecil atau bahkan kadang dilewati. Ia memang tipe cewek yang selalu berusaha menjaga keseksian tubuhnya, terutama kalau ada sesuatu yang memotivasinya…. Atau mungkin juga karena ia sudah cukup banyak minum protein dari sperma si pemijat hari ini?

Kugandeng tangan istriku dengan mesra untuk keluar dari panti pijat itu. Setelah basa-basi menyapa laki-laki yang baru saja menyetubuhi istriku, yang kini sedang berjaga di bagian resepsionis, istriku berkata padaku.

“Pah, lain kali Mamah dipijatnya di sini aja ya, sekalian Papah bisa jalan-jalan kan liat aksesoris mobil?”

“Oh gitu, jadi gak mau lagi ke Bersih Sehat?”

“Nggak, ah… Di sini juga enak koq…” kata istriku sambil menggelayut mesra di tanganku.

“Ya, udah. Terserah Mamah aja…” kataku datar pura-pura tidak tahu akal bulusnya.

Melalui kaca gelap dari pintu keluar yang memantulkan bayangan, sekilas bisa kulihat istriku menoleh ke si pemijat dan mereka saling mengedipkan mata setelah mendengar persetujuanku. Pastinya mereka sudah janjian untuk ketemu lagi. Istriku memang maniak pijat, sama seperti diriku. Paling tidak seminggu dua minggu sekali dia kuantar ke panti pijat.

Kami lalu keluar bangunan ruko dan berjalan bergandengan dengan mesra ke mobil kami.

TAMAT

Beruk Kakekku

Copyright 2007, by Roslan BH and Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com)

(Wanita dan Monyet, Berbagi Istri, Cerita Tradisional Malaysia)

Kisah ini memaparkan tentang keinginan seks yang sangat unik dari isteriku. Ita memang mempunyai keinginan atau daya seks yang ‘advance’.

Peristiwa ini kutuliskan berdasarkan kisah yang terjadi saat aku dan Ita pulang liburan di kampung. Kampungku terletak di kota T, lebih kurang 45 kilometer jauhnya dari Kuala Lumpur. Setelah sampai, kami berdua berjalan-jalan melawat ke rumah Kakekku yang bernama Ali.

Sesampainya di situ, Pak Ali sedang memberi makan beruknya yang bernama Jantan. Setelah ngobrol-ngobrol, aku diminta Kakek untuk menjaga si Jantan karena esoknya Kakekku hendak mengantar anaknya ke Kuala Lumpur. Aku dan Ita setuju saja.

Sebelum pulang, aku pergi menengok si Jantan, beruk Kakekku itu. Beruk itu kelihatan garang dan bengis saat aku mendekatinya. Anehnya, beruk itu kelihatan manja bila Ita yang mendekatinya.

“Beruk itu baik kok. Kau jangan lupa beri dia makan ya!” jerit Kakek dari atas rumah.

Aku mengganguk saja tanda setuju.

Ita memberanikan diri memegang tangan si Jantan. Beruk itu menjerit-jerit saat Ita mengulurkan tangannya. Tangan Ita ditarik dengan kuat oleh beruk itu. Ita pun tertarik ke dekat beruk itu.

Aku terkejut. Beruk Kakek terdiam, mungkin terkejut. Tangan isteriku betul-betul terjatuh mengenai bagian pribadi beruk itu. Ita cepat-cepat mengalihkan tangannya dari menyentuh batang beruk itu.Setelah itu kami berdua pun balik ke rumah kami. Ita hanya tersenyum setelah kejadian itu.

Keesokan harinya kira-kira pukul sepuluh aku dan Ita membawa nasi dan air untuk diberikan kepada beruk Kakek. Pagi itu Ita memakai kain batik dan t-shirt saja. Biasanya dia tidak akan memakai celana dalam kalau memakai kain batik. Kami sampai ke rumah Kakek yang sudah terkunci. Kakek telah berangkat ke Kuala Lumpur pagi-pagi sekali dengan mobil.

Sesampainya kami ke rumah, beruk Kakek menjerit-jerit. Aku sengaja menyuruh Ita untuk memberikan nasi dan air kepada beruk itu. Ita pun meletakkan nasi dan air di hadapan beruk Kakek. Beruk itu kelihatan tidak mengindahkan makanan yang diberikan Ita. Ita mengusap-ngusap kepala beruk itu.

“Bang, beruk ini nggak mau makan, Bang,” kata Ita kepadaku.

Aku pun mencoba memberi beruk itu nasi tapi beruk itu tetap tak peduli.

“Mungkin Kakek sudah memberinya makan ya?” kataku.

“Tapi nggak kelihatan ada bekas makanan di sini, Bang,” jawab isteriku.

“Iya, nggak juga ya,” kataku. “Ita cobalah bujuk beruk itu,” kataku kepada Ita.

“Baiklah, Bang,” jawab Ita. Ita lalu mengusap-usap kepala beruk itu perlahan-lahan. Saat itu Ita duduk bersimpuh. Tiba-tiba tangan beruk itu meraba-raba buah dada Ita.

“Bang, beruk ini meraba punya Ita,” kata Ita.

Aku melihat tangan beruk itu meremas t-shirt Ita.

“Biarlah kalau dia mau raba, mungkin beruk itu teringat akan bininya,” jawabku.

“Bang mungkin beruk ini sedang mengalami musim kawin. Karena itulah Ita rasa dia tak berselera untuk makan,” kata Ita. Aku cuma mengangguk saja.

“Bang, boleh Ita beri beruk ini raba ‘barang’ Ita?” tanya Ita kepada aku.

“Hati-hati sedikit, nanti digigitnya,” kataku kepada Ita.

Aku lihat Ita mengangkat t-shirtnya hingga ke pangkal dada. Buah dada Ita ditutupi oleh BH-nya saja. Memang kawasan rumah Kakekku itu jauh dari jalan orang berlalu-lalang. Jadi tak mungkin ada orang melihat apa yang sedang Ita perbuat. Lagipula kawasan tempat tidur beruk itu terlindung oleh garasi mobil Kakek.

Begitu Ita membuka t-shirtnya, beruk itu langsung saja menggondol buah dada Ita sehingga menyebabkan Ita terjatuh ke belakang karena terkejut. Aku cepat-cepat membantu Ita bangun.

“Bang, tolong Ita!!” jerit Ita kepadaku. Aku cepat-cepat membantu Ita bangun. “Itulah, lain kali hati-hatilah,” kataku kepada Ita.

“Beruk ini ganas sekali kalau melihat tetek Ita,” jawab Ita.

“Nggak apalah biar Abang tolong,” kataku.

Perlahan-lahan Ita memajukan buah dadanya kepada beruk itu. Tangan beruk itu langsung meremas buah dada Ita dengan kuat sambil mendengus-dengus. Buah dada Ita jadi kemerahan karena diremas dengan kuat oleh beruk itu.

Kulihat Ita menanggalkan BH-nya. Kemudian Ita berbaring di atas tanah dengan beralaskan t-shirtnya.

“Bang, Ita ingin memberi beruk ini merasakan barang Ita ya, Bang,” kata Ita.

“cobalah Ita beri, dia mau atau tidak,” jawabku.

Aku mulai penasaran ingin lihat beruk itu menyetubuhi isteriku. Peristiwa ini jelas sangat langka terjadi. Setelah Ita terbaring dia memainkan zakar beruk itu. Zakarnya lebih kurang 4 inci, dan kulitnya lebih kurang 1 inci setengah saja. Zakarnya berwarna kemerahan bila keluar dari kulupnya. Penis beruk itu terus dimainkan Ita sehingga beruk itu menjerit-jerit.

“Ita, Abang coba letakkan beruk ini di atas badan Ita,” kataku.

Ita lalu menyingkapkan kainnya sehingga menampakkan memeknya yang sudah kukerjai tadi pagi. Kain batik Ita disingkapkan hingga pangkal perutnya. Aku menyeret beruk Kakek menuju ke arah celah selangkangan isteriku yang sedang terlentang itu.

Setelah betul-betul berada di depan celah selangkangan Ita, aku meniarapkan beruk itu di atas perut Ita. Sementara itu aku membetulkan penis beruk itu agar masuk terus ke dalam vagina Ita. Sementara aku membetulkan kedudukan penis beruk itu, kulihat vagina Ita sudah tergenang air. Mungkin karena dia juga sudah terangsang untuk mengadakan hubungan seks dengan beruk ini.

Perlahan-lahan penis beruk itu kutusukkan ke dalam vagina Ita. Penis beruk itu perlahan-lahan membelah alur tebing kemaluan Ita dan terus menghunjam ke dasarnya. Beruk itu saat merasakan ada benda yang mengapit kemaluannya secara otomatis langsung menggenjot buntutnya.

Beruk itu terus menggenjot buntutnya dan penisnya keluar masuk ke dalam vagina Ita.

“Sedap juga, Bang, penis beruk ini,” kata Ita. Ita memeluk kepala beruk itu sementara aku terus membantu beruk itu menyetubuhi Ita.

“Sedapnya, Bang….!!!” jerit Ita. Aku lihat cairan putih semakin banyak keluar dari vagina Ita.

“Ooooo, sedaplah, Baaang…..” jerit Ita. Walaupun batang beruk itu kecil tapi beruk itu terus-menerus menikam dan menarik penisnya ke dalam vagina Ita kira-kira 15 menit tanpa henti. Kalau manusia tentu sudah muncratlah air maninya tapi beruk ini terus mengayunkan zakarnya seperti biasa. Kuat juga daya seks beruk ini, kataku dalam hati.

“Bang, Ita tak tahan lagi…. Ita rasa mau keluarlah Bang.”

Tiba-tiba kulihat tangan Ita terlepas dari memegang kepala beruk itu.

“Ita sudah keluar….” jerit Ita dengan lesu. Tangannya terjatuh lemas ke atas tanah.

“Sedap betul lah, Bang. Lama juga beruk ini menyetubuhi Ita,” kata Ita.

Ita keletihan. Kangkangan kakinya terjatuh menyebabkan jepitan vaginanya melonggar. Tiba-tiba beruk itu menjerit kuat sebagai protes dan Ita pun segera mengemut kuat vaginanya sampai terasa ada cairan keluar laju masuk ke dalam vaginanya

(Diceritakan oleh Ita) Ita rasa mungkin beruk itu telah memuncratkan air maninya ke dalam vagina Ita. Ita terus mengemut penis beruk itu dalam vagina Ita agar beruk itu betul-betul merasakan nikmatnya seks. Mungkin inilah seks pertama dan terakhir yang dirasakan oleh beruk ini.

Setelah semenit penis beruk itu di dalam vagina Ita, tiba-tiba beruk itu bangkit dan mencabut keluar penisnya. Aku lihat cairan putih jernih keluar mengalir dari dalam vagina Ita. Banyak juga cairan itu hingga membasahi kain dan baju Ita.

“Banyak sekali air mani beruk ini, Ita,” kataku kepada Ita yang masih terbaring keletihan. “Mungkin dia tak pernah mengeluarkannya, Bang, memang banyak,” jawab Ita.

“Bagaimana rasa penis beruk itu tadi, sedap?” tanyaku kepada Ita sambil mengulurkan BH-nya.

“Kalau boleh Ita mau simpan beruk ini sebagai teman Ita, Bang,” jawab Ita.

“Mana bisa, Kakek pasti nggak mau memberikan beruknya untuk tinggal di kota,” kataku kepada Ita.

Ita terus meraba-raba vaginanya yang basah kuyup itu. Dia mengikat kembali kain batik dan menyarungkan t-shirtnya yang kotor terkena tanah tadi. Setelah itu dia mengusap kepala si Jantan, beruk Kakekku yang telah dilayani oleh Ita. Kulihat beruk itu kini memakan habis semua nasi yang kami bawa tadi. Pastilah dia telah kehilangan tenaga karena lama menyetubuhi Ita sehingga sekarang makan dengan rakusnya.

Aku dan Ita meninggalkan rumah Kakek ketika matahari di atas kepala. Ita tersenyum dengan seribu kepuasan sementara aku tersenyum puas karena berhasil melihat isteriku disetubuhi oleh beruk. Sedapnya…..

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Hwa – Aku, Istriku, dan Temanku

Copyright 1996, by An

(Berbagi Istri, Antar Ras)

Sebenarnya aku sudah lebih kurang 10 tahun berumah tangga dan kehidupan kami baik-baik saja. Aku sendiri berusia 10 tahun lebih tua dari pada istriku yang saat ini berusia 30 tahun dan sudah beranak seorang laki-laki berusia 7 tahun. Walaupun sudah beranak, tetapi istriku tetap mempunyai wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang indah sebab sering senam dan merawat wajah, rambut ke salon dan juga karena anaknya dulu minum susu kaleng sehingga bentuk buah dadanya yang besar itu tetap indah dan masih kencang serta kenyal. Juga lubang memeknya saat habis melahirkan langsung dijahit sehingga lubangnya kembali seperti saat masih perawan. Jadi hubungan seks kami tetap indah.

Suatu hari di tahun 1995, kami diajak sebelah tetangga untuk nonton blue film karena baru beli laser disc. Kami dan suami istri tetangga nonton film itu yang cukup seram karena ada seorang wanita bule disetubuhi oleh dua orang Negro, mereka bergantian memasukkan kontolnya yang seorang ke memeknya dan yang seorang ke mulutnya untuk diisap.

Melihat adegan itu rupanya istriku jadi naik birahinya sehingga memegang tanganku erat-erat dan berbisik, “Waah rupanya enak sekaligus lubang atas dan bawah kemasukan penis.”

Kutanya pelan-pelan, “Apakah kamu kepingin adegan begitu?” Istriku dengan malu-malu menganggukkan kepalanya.

Setelah selesai memutar laser disc, kami segera pamit pulang. Karena nafsu birahi kami sudah memuncak segera kami puaskan dengan bersetubuh malam itu.

Sambil bersetubuh, aku ulangi tanya lagi padanya, “Mi, apakah kamu kepingin disetubuhi sekaligus dengan dua laki-laki?”

Istriku memandangiku sambil malu-malu manggut-manggut kepalanya.

Kutanya lagi, “Kalau lakinya dua, satunya kamu ingin dengan siapa?”

Istriku menjawab, “Terserah sama papi aja.”

Aku teringat punya dua teman baik sejak sekolah di SMA, yaitu Lud seorang anak turunan Ambon dengan Belanda dan Tono seorang Cina seperti kami.

Lalu kutanya lagi, “Kalau Lud atau Tono mau?”

Dia menggangguk juga.

Lalu kujelaskan lagi, “Mami senang yang kontolnya besar, lebih besar dari aku punya atau yang kira-kira sama?”

Istriku menjawab, “Enak yang besar saja, seperti di film tadi.”

“Oh kalau gitu ya si Lud saja sebab dia punya panjang dan besar.”

Memang kita dulu pernah mandi sama-sama bertiga saat masih sekolah ternyata Lud punya kontol dalam keadaan mati saja lpbesar dan panjang hanya warnanya agak hitam lalu bulu jembutnya juga banyak sampai nyambung kebawah pusar juga dadanya penuh dengan bulu. Maklum orang Ambon.

Besok paginya segera kuinterlokal Lud yang ada di Jakarta dan kuceritakan maksudku, ternyata Lud menyambut dengan antusias dan sanggup datang besok sore sebab hari Sabtu kantor di Jakarta tutup. Aku kemudian booking motel yang terdiri dari dua kamar dan sebuah ruang tamu/TV.

Hari Sabtu sore aku menjemput Lud di airport bersama istriku setelah menitipkan anak kami pada pembantu. Istriku sudah siap membawa tas dengan membawa perlengkapan baju tidur segala saat itu istriku memakai rok panjang warna coklat tapi bagian atas terbuka sampai dada hanya memakai kemben tipis (modelnya Yuni Sara). Rok bagian bawah ada belahannya agak tinggi di depan sehingga kalau jalan atau duduk pahanya terlihat putih menggairahkan. Juga bagian atasnya terlihat sedikit belahan buah dadanya, karena istriku hanya memakai bra strepples tanpa tali. Di airpot banyak mata laki-laki curi pandang lihat belahan buah dadanya istriku, apalagi kalau tangannya didekapkan dibawah buah dadanya maka buah dadanya makin menyembul keatas. Makin syuur..!!!

Tepat pk. 17.15 pesawat Merpati dari Jakarta mendarat, dari penumpang yang turun kulihat Lud menuruni tangga pesawat dengan menenteng tas kecil. Dia memakai T shirt dan celana jeans.

Setelah keluar pintu airport segera kusalami dia, dia menepuk-nepuk bahuku dan berkata dengan logat Ambonnya, “Waah, nanti malam kita betul-betul ke nirwana.”

Kemudian dia memeluk istriku sambil mencium pipi kiri & kanan yang mulus dan putih dari istriku.

“Apa kabar Hwa?” tanyanya pada istriku. Dia kalau panggil istriku dengan Hwa.

Kita berjalan menuju parkir dan naik mobil, untuk sementara dia duduk belakang sendirian dulu sambil kita cari makan. Istriku usul makan sate kambing saja biar hot katanya. Dan usul itu kita setuju semua.

Saat makan sate kambing, istriku dan aku duduk bersebelahan dan Lud duduk depan istriku. Tak beda dengan laki-laki lain, Lud juga memandangi terus bagian dada istriku, apalagi istriku tangannya didekapkan terus ke dadanya hingga menopang buah dadanya yang montok itu menjadi mencuat ke atas sehingga membuat panas dingin laki-laki yang matanya melihat.

Selesai makan kita naik mobil langsung menuju motel di atas Candi. Kali ini aku dijadikan sopir sebab Lud minta agar Hwa menemaninya duduk di belakang.

Baru semenit mobil berjalan, suasana di belakang terasa sepi. Kucoba lihat dari kaca spion, ee…eeeh ternyata tangan kanan Lud sudah melingkar di leher istriku. Ujung jari-jarinya mengusap-usap dada serta bagian atas buah dada sebelah kanan istriku yang terbuka itu. Sementar itu mulutnya terus menciumi pipi, telinga dan leher istriku. Tangan kirinya meraba-raba paha kiri istriku yang terbuka karena rok belahannya. Sementara itu tangan kiri istriku menumpang di paha serta memijit-mijit paha kanan Lud dengan wajah malu-malu serta mesem-mesem terus. Aku jadi tersirap naik nafsuku lihat pandangan itu.

Terdengar Lud berkata, “Hwa, kamu jauh berbeda dengan istriku yang kerempeng itu sedang kamu betul-betul padat berisi, sebenarnya sudah lama aku ingin menikmati tubuhmu tapi takut ngomong sama suamimu, ternyata ada tawaran yang mengagetkan aku untuk ikut menikmati tubuhmu. Yaaah seperti ada petir disiang hari bolong rasanya!”

Mendengar ucapan itu aku lihat lagi ke kaca spion, aku lihat Lud dengan gemas dan mesra memeluk erat-erat dan mengecup bibir istriku serta kadang-kadang tangan kirinya meraba-raba buah dada dan turun kepinggang sampai ke paha istriku yang terbuka itu. Kulihat istriku sangat menikmatinya. Ia sudah tidak malu-malu lagi.

Karena situasi lalu lintas ramai aku terpaksa konsentrasi ke jalan lagi, hanya sebentar-sebentar curi pandang lewat spion.

Suatu saat aku melihat buah dada istriku sebelah kanan bisa bergerak-gerak naik turun. Saat aku menoleh ke belakang ternyata tangan kanan temanku melingkar di punggung istriku dan memijit-mijit buah dada kanan istriku naik turun.

Setelah sampai motel kita segera check in. Temanku sebagai tamu kuberi kamar yang besar dengan king size bed sekaligus untuk tempat bermain seks ria nanti. Tentu saja istriku kebagian tidur di kamar yang sama. Sedangkan aku sendirian di kamar yang lebih kecil.

Baru saja aku selesai dari kamar kecil menuju ruang TV yang bersebelahan dengan kamar Lud yang masih terbuka pintunya, aku lihat Lud memeluk istriku dari belakang menghadap kaca rias sambil tangannya meremas-remas buah dada istriku sehingga kedua pentil buah dadanya yang coklat kemerah-merahan itu menyembul keluar sambil menciumi pipi istriku yang wajahnya menengadah kewajah Lud. Tangan Lud yang kanan kadang-kadang terus meraba turun ke perut dan terus turun untuk disusupkan ke belahan atas dari rok istriku untuk meraba pangkal paha serta memek istriku. Tampak istriku mulai mendesis kenikmatan serta menggeliat dengan tangan kanannya coba memijit kontolnya yang masih pakai jeans itu. Adegan ini masih berlangsung beberapa saat walaupun mereka tahu aku di dekatnya.

“Mi, enak ya permainannya Lud?” tanyaku pada istriku ingin tahu.

“Waaah, aku nggak tahan lagi nih Pi, habis sejak dalam mobil tadi Lud terus mempermainkan dan meremas buah dadaku terus,” aku istriku malu-malu.

Memang istriku kalau buah dadanya sudah dipermainkan maka nafsunya akan meroket naik. Mungkin itu ciri khas wanita-wanita yang punya buah dada besar.

Karena Lud mau mandi dulu, maka aku dan istriku yang sudah mandi dari rumah duduk di sofa menonton TV dulu.

Istriku berkata padaku, “Waaah Pi, pertama aku dirangkul dan diciumi oleh Lud badanku rasanya mrinding dan panas dingin. Habis bulunya tangan dan kumisnya begitu geli rasanya waktu menggesek tubuh dan pipiku.”

“Tapi Mami bisa nafsu ya dengan Lud?” tanyaku.

Istriku dengan malu manggut-manggut. Aku merasa lega. Istriku nampaknya akan bisa beradaptasi dengan Lud sehingga rencana kami seharusnya bisa berjalan dengan baik. Kalau aku sih dengan Lud sudah jadi sahabat karib sejak kecil jadi tak ada masalah.

Lalu dia bilang lagi, “Kalau nanti malam Papi tidur sendirian bagaimana? Sebab katanya aku akan diajak tidur dengannya semalam.”

Bisa kutangkap ada sedikit keraguan dalam nada suara istriku.

“Nggak apa-apa, yang penting Mami bisa keturutan mendapat kepuasan,” jawabku meyakinkannya. Istriku diam saja.

Memang entah kenapa perasaanku saat melihat Lud memeluk dan meremas buah dada istriku aku tidak cemburu, bahkan nafsuku menjadi berkobar. Apa mungkin aku punya kelainan seks, pikirku dalam hati.

“Tadi Lud bilang kalau nanti malam air maninya akan disemprotkan terus ke seluruh tubuhku dan memekku sampai habis. Dan lendir santanku akan dikuras sampai kering dengan kontolnya,” kata istriku lagi memecah keheningan.

Aku pesan pada istriku agar satu hal yang jangan dilakukan adalah minum air mani Lud walaupun nanti kalau nyemprot saat diisap. Jadi harus diludahkan. Beberapa saat Lud selesai mandi dan dia keluar hanya pakai celana santai yang pendek sehingga dadanya yang penuh bulu telihat.

“Ck.. ck… ck,” suara istriku mengagumi tubuh Lud sambil geleng-geleng kepala.

Setelah menggantung handuknya dia ikut duduk di kursi sebelah sofa. Lud panggil pelayan untuk pesan minuman dan makanan kecil. Dia pesan whisky untuk dirinya sendiri karena aku tak suka.

Beberapa saat kemudian pelayan datang dengan membawa pesanan Lud. Lalu kita semua bersama-sama makan mente goreng sambil minum air jeruk kecuali Lud yang minum whisky.

“Naaah, ini untuk menikmati tubuh yang indah dari istri teman baikku, aku harus bersiap supaya benar-benar bisa memberikan kenikmatan yang diharapkan,” katanya bersulang.

“Kapan An kamu penghabisan main sama Hwa?” tanyanya padaku.

“Oh, sudah seminggu lebih sejak istriku mens sebab kalau mens dia sampai 4-5 hari,” sahutku.

“Waaah kebetulan sekali nih, sebab sekarang pasti air santannya Hwa lagi kental-kentalnya dan banyak nanti aku yang akan menghabiskannya. Dan kebetulan juga tanggalnya tidak pas saat subur, nanti aku bisa semprotkan maniku sampai ke dalam mulut rahimnya Hwa,” katanya.

“Ach, kamu porno ngomongnya, Lud,” kata istriku risih merasa dijadikan sebagai objek pembicaraan.

Lud hanya tertawa dengan suara yang keras. Kami pun melanjutkan ngobrol. Beberapa saat kemudian Lud tanya pada istriku.

“Hwa, apakah kamu tak bawa pakaian tidur? Tapi kalau tak bawa ya tak apa-apa sebab nanti malam kan tak ada pakaian yang boleh menempel di tubuhmu. Sebagai gantinya, tubuhmu akan kuselimuti dengan tubuhku.”

“Macam-macam kamu,” sahut istriku gemas karena Lud dari tadi mengucapkan kata-kata yang jorok pada dirinya. Aku tentu saja tak pernah berkata seperti itu padanya. Tapi kelihatannya istriku senang juga diperlakukan seperti itu oleh Lud.

Lalu istriku masuk ke kamar untuk ganti pakaian dan sikat gigi. Aku juga masuk kamar untuk lepas pakaian dan hanya pakai CD. Sebentar istriku sudah selesai dan keluar dengan mengenakan pakaian tidur dari bahan tipis warna pink hingga terlihat CD mininya warna merah juga branya yang mini juga dari renda warna merah.

Melihat istriku keluar dengan pakaian yang sensual sekali, Lud geleng-geleng kepala sambil pegang-pegang kontolnya.

“Waaah aku bisa langsung ngaceng, lho.”

Lalu istriku duduk di sofa sebelahku. Tangan Lud ditariknya untuk diajaknya ikut duduk di sofa juga. Sekarang istriku diapit sebelah kiri olehku dan kanan oleh Lud. Tangan istriku dipegang Lud dan digosokkan ke bulunya di bawah pusar sampai nyambung ke jembutnya.

“Wuuuiiihhh… ck… ck… ck,” gumam istriku sambil menarik tangannya.

Sambil nonton TV tanganku dan tangan Lud mulai bekerja. Lud menciumi pipi, telinga dan leher istriku sehingga istriku menyandarkan kepalanya ke bahu Lud dan menegadah untuk terus menerima ciuman-ciuman yang disertai permainan lidah Lud. Tangan kanan Lud mulai terus meraba dan meremas buah dada sebelah kanan dan naik turun ke paha istriku.

Aku sendiri segera melepas kancing atas baju tidur istriku dan kurogoh buah dadanya sebelah kiri untuk segera kuisap pentilnya. Tangan kiriku meraba paha kirinya dan memeknya bergantian dengan tangan Lud. Istriku tak tahan terus menggeliat-geliat sambil tangan kirinya memijit kontolku dan tangan kanannya merogoh ke dalam celana santainya Lud untuk memegang kontolnya. Adegan ini tak berlangsung lama, hanya sekitar 5 menit, karena istriku tak tahan dan minta memeknya langsung ditancap dengan kontol.

Lalu kita sama-sama masuk kamar. Aku lepas CD-ku. Ternyata Lud hanya pakai celana santai tanpa CD, sebab begitu dilorot celananya langsung nampak kontolnya. Walaupun belum hidup kontolnya cukup panjang kira-kira ada 15 cm dan besar sekali dan kepalanya sudah nongol keluar karena dia disunat, tetapi kantong pelirnya agak kecil. Punyaku panjang dan besarnya hanya kira-kira 65%-nya saja.

Istriku juga sudah bugil benar-benar lalu dia ditarik Lud ke hadapannya. Tubuhnya dirapatkan ke tubuh istriku maka menempellah buah dada istriku dengan ketat ke dadanya yang penuh bulu. Lalu Lud berpegang pada kedua lengan Hwa dan badannya digeser-geserkan naik turun, ke kiri dan kanan sehingga bulunya menggesek ke seluruh tubuh depan Hwa. Juga jembutnya kulihat sempat menggesek memek istriku hingga istriku kenikmatan sambil memejamkan mata. Aku jadi syuur melihatnya.

“Addduuuh Lud, gila bener gesekan bulu atas bawahmu itu. Gak tahan memek dan buah dadaku kena gesekannya” kata istriku.

Selesai itu lalu Lud tidur dan istriku diminta menungging agak di bawahnya sehingga mulutnya pas depan kontolnya dan aku diminta mengerjai memeknya dengan kontolku. Saat menungging kelihatan buah dadanya istriku menggantung bebas dan langsung saja ditangkap oleh kedua tangan Lud dan terus diremas-remasnya.

Istriku tanpa perlu dikomando langsung mencaplok kontolnya Lud yang mulai agak ngaceng dan mempermainkannya dengan mulut dan lidahnya. Lubang kontolnya dibuka-buka dengan ujung lidahnya dan kadang-kadang dikocok naik turun dengan mulutnya sehingga Lud mengerang nikmat. Aku sendiri langsung ngaceng keras dan terus kuhujamkan maju mundur ke memeknya. Mendapat dua kontol yang sekaligus mengisi lubang atas dan bawah, apalagi yang satu gede buanget istriku tampak bernafsu sekali. Nafasnya kelihatan terus memburu sedang memeknya mulai keluar santannya yang kental sekali.

Kulihat istriku kadang-kadang tak mengisap kontolnya Lud tapi memepetkan buah dadanya ke kontol Lud dan ditaruhnya dibelahan buah dadanya dan digosok-gosok dengan buah dadanya. Melihat itu lalu kupegang pantatnya istriku dan langsung kugoyangkan maju mundur sehingga sekaligus buah dadanya bisa menggosok-gosok kontolnya Lud dan memeknya mengocok kontolku. Praktis kami laki berdua diam hanya dengan goyangan pada pantatnya sudah sudah membuat nikamt kontol dua laki-laki dan kulihat memeknya makin banyak dengan santan kental yang berwarna putih seperti susu.

Aku bilang, “Waduuuh Lud, santannya Hwa mulai keluar dan kental sekali Lud.”

Langsung dia bilang, “Aku juga ngaceng banget kontolku disedot-sedot dan dipermainkan lubangnya oleh Hwa, ayo kita ganti posisi.”

Temanku usul supaya istriku jangan capai sebab masih terus akan dikerjai semalam suntuk. Maka disuruhnya istriku yang tiduran tapi pantatnya di ujung bawah kasur hingga kakinya bisa menapak ke lantai. Temanku nanti akan menancapkan memeknya dari bawah sambil memegang dan mementangkan kedua kaki istriku. Dan aku yang bertugas mengisi mulut atas dengan kontolku dengan jongkok tepat di atas buah dadanya sehingga kontolku tepat di hadapan mulutnya.

Kontolku juga langsung dicaplok oleh Hwa yang sudah memuncak nafsunya. Baru juga beberapa saat, Hwa sudah melepas kontolku dan mengaduh.

“Aaaachhh….Lud!”

Aku melongok ke belakang ternyata Lud masih sibuk mau memasukkan kontolnya yang belum bisa masuk. Yaaah karena kelewat besar bendolan kepala kontolnya saat ngaceng banget itu kira-kira ada 5 cm diameternya.

“Sulit banget An masuknya coba kuberi minyak sedikit dulu,” katanya menenangkan istriku yang tampak agak kesakitan.

“Masak toch padahal sudah kemasukan kontolku dan sudah ada santannya lho” sahutku.

Lalu temanku mengambil botol kecil berisi minyak. Diolesnya kepala kontolnya dengan minyak lalu dia mengambil semacam longsong dari karet dengan bagian dinding luarnya penuh bulu dari karet, kira-kira panjangnya 1 cm. Longsong itu lebarnya kira-kira 10 cm. Kemudian dipakaikan ke kontolnya hingga batang kontolnya sebagian tertutup dengan longsong berbulu itu.

“Ini supaya Hwa mendapat kenikmatan yang lebih hebat. Mau coba ya, Hwa?” katanya sambil ditunjukkan ke istriku kontolnya yang sudah gede dan panjang lagi item itu dilonsongi dengan gelang karet putih berbulu itu sehingga benar-benar menakjubkan kelihatannya.

Istriku bilang, “Waaaah kaya apa rasanya nanti Lud, aku belum bisa membayangkan. Tapi pokoknya habisi ya, Lud, air mani dan santanku!”

“Oke,” sahutnya. Lalu Lud mengangkat dan mementang lagi kedua kaki istriku. Ujung kontolnya ditempelkan tepat di lubang memek istriku yang mulai mengganga itu dan disentakkan ke dalam.

“Aaaaaaacch….Lud, masuk Lud kontolmu,” kata istriku. Memang kepala kontolnya Lud sudah masuk lalu digoyang-goyangkan keluar masuk pelan-pelan kepala kontolnya supaya agak terbiasa.

“Waduh Lud, Pi, rasanya seret sekali bibir memekku bisa merasakan bentuk kontolmu Lud,” kata istriku sambil matanya terpejam dan menggigit bibir. Setelah itu baru dimasukkan seluruh batang kontolnya yang tertutup gelang bulu itu pelan-pelan.

Setelah terbenam semuanya, istriku mendesis lagi, “Aduh Pi, kontolnya Lud mentok sampai dalam kepalanya rasanya menyodok mulut rahimku. Enaknya luar biasa dan gelinya juga hebat kena gelang bulu itu.”

Dengan kontol tetap terbenam penuh, Lud mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun bergantian dengan kiri-kanan sehingga kontolnya menyapu seluruh dinding memek istriku.

Tangan istriku mulai meremas kain sprei dan minta kontolku untuk diisapnya. Kontolku juga dipermainkan dengan lidah, lubangnya dibuka-buka dengan lidah enaknya luar biasa. Aku sambil melihat ke belakang, kulihat kontol Lud mulai digoyangkan keluar masuk sehingga bulu karetnya menyentuh clitnya juga. Terlihat di bulunya banyak santan istriku yang nempel. Setelah kontolnya gampang masuk keluar, maka kaki istriku disuruh membuka dengan telapak kakinya manjat di pinggir kasur sehingga tangannya Lud langsung meremas buah dada yang ada di bawah pantatku.

Baru 3 menit jalan adegan ini, istriku sudah mengaduh, “Aaah..aaah, aku mau klimaks, Lud, Pi!”

Benar juga, sekejap kemudian istriku tampak lemas sehingga mengisapnya kendor.

“Gila An, pijitan memek istrimu kuat sekali di kontolku,” kata Lud dengan mata membelalak.

Memang kalau klimaks istriku memeknya memijit kontol dengan kuat dan enak rasanya. Tampak Lud merem melek menikmati pijatan memek istriku yang sedang orgasme.

Setelah agak kuat, istriku bilang, “Pi, Lud tolong semprotkan semua manimu ya, aku sudah pengin rasain hangatnya manimu sekalian.”

Aku tanya pada istriku, “Mi, gimana Mami nikmat dan puas keinginan Mami untuk merasakan dua kontol sekaligus terlaksana?”

“Ya Pi, Mami puas banget dan memang enaknya dan grengnya luar biasa sekaligus melihat, memegang dan menikmati dua kontol, apalagi ada yang gede-gede. Mami jadi kepingin terus” sahutnya.

Lalu Lud sudah mulai menggenjot lagi memek Hwa dengan kontolnya. Kontolku diisap lagi sambil dibantu dikocok dengan tangan. Setelah 5 menit kemudian, istriku mencapai klimaks lagi.

Lalu temanku bilang, “Ayo An, sekarang kita puaskan Hwa dengan semprotan mani secara berbarengan”

Lud mulai menggerakkan lagi keluar masuk dan kadang memutar sehingga istriku sering menggelinjang tubuhnya dan kontolku mulai diisap lagi sambil kadang-kadang dikocok dengan tangan, sedang buah dada istriku tetap menjadi bagian dari tangannya Lud yang tak bosan-bosan meremas-remasnya. Makin lama Lud makin cepat dan makin keras menghunjamkan kontolnya ke memeknya Hwa dan mulai mendengus-dengus seperti sapi.

Melihat itu jadi memuncaklah nafsuku, apalagi dengan kontol terus dikocok oleh istriku. Maka air maniku pun tak tertahan lagi…. Creet….creet….cret…. Maniku nyemprot masuk ke mulut istriku. Karena seminggu tak bersetubuh maka maniku banyak serta kental sehingga mulut istriku penuh dengan mani yang putih seperti cendol itu. Lalu kontolku kukeluarkan dari mulutnya dan mani yang masih menetes dari lubang kontolku kugeser-geserkan ke bibir istriku dan langsung ditelannya semua maniku.

Baru saja habis menelan maniku terdengar suara mengaduh dari temanku.

“UUUUuuuuh…….uuuuuhhh……uuuuuhhhh…” geramnya sambil menekankan kuat-kuat kontolnya yang terbenam itu ke memek istriku. Dan tiap kali Lud mengaduh istriku pun ikut mengaduh.

“Aaah Lud…aaaahh Lud…aaah Lud.”

Rupanya tiap semprotan mani Lud terasa sekali nikmatnya oleh istriku.

Aku lalu rebah tiduran di sebelah istriku. Temanku juga langsung rebah menindihi tubuh istriku yang baru selesai disetubuhinya. Walaupun dengan napas yang masih memburu tangan temanku masih tetap meremasi buah dada Hwa.

Kemudian tubuh Lud dipeluk erat-erat oleh istriku. Kakinya pun dilipatkan erat-erat ke pantat Lud dengan maksud agar kontolnya jangan buru-buru dicabut dari memeknya.

Kira-kira sampai 5 menit kita bertiga terdiam dalam posisi itu tanpa kata-kata, hanya napas kami yang tersengal-sengal. Baru kemudian aku turun menuju kamar mandi untuk cuci. Ternyata Lud dengan merangkul istriku juga ikut ke kamar mandi untuk cuci bersama. Istrikulah yang bertugas untuk mencuci kontol-kontol kami. Karena kepunyaan Lud yang banyak belepotan santan dan maninya istriku maka kontolnya dia yang dicuci dulu. Kulihat dari memek Hwa meleleh sedikit mani yang keluar ke pahanya. Kulihat bibir memeknya pun memerah.

Istriku bilang, ” Ya Pi, bibir memekku merah kan? Itu gara-gara kontol temanmu itu tuh yang seretnya bukan main. Mulai dari bibir memek sampai dinding dalam memek seret terus, sehingga memekku bisa merasakan lekuk-lekuk kontolnya Lud.”

“Tapi enak dan nikmat toch, sayang?” balas Lud.

Istriku tertawa tanda setuju. Wajahnya memerah karena Lud mulai memanggil sayang padanya. Ia terus mencuci kontol Lud dan kemudian kontolku.

Setelah itu giliran istriku memeknya mau dicuci oleh temanku. Istriku duduk di closet dengan kaki terbuka lebar kemudian memeknya dicuci. Jari tengah Lud dimasukkan pelan-pelan untuk mengambil mani yang menempel di dalam. Ternyata ada yang menempel di jarinya dan ditunjukkannya ke istriku.

Istriku tersenyum ketika Lud mendekatkan jarinya ke dekat muka istriku.

Istriku bilang, “Wah Pi, maninya Lud ngendon dalam memekku nih sebab tadi semprotannya banyak, sampai tiga kali. Tapi yang keluar kok sedikit ya? Mungkin masuk ke rahim sebab dalam perutku masih terasa hangat dan saat nyemprot ujung lobangnya benar-benar disodokkan sampai rasanya masuk lubang rahimku. Gimana ya, Pi?”

“Biarin saja lama-lama kan keluar sendiri. Sekarang dikeluarin juga percuma. Nanti malam kamu kan masih akan disemprot lagi,” kataku menenangkannya.

“Bukan malam ini saja. Mungkin sampai besok pagi akan kusemprotkan sampai habis maniku ke memekmu,” sahut Lud sambil menatap tajam kedua mata istriku sementara jarinya masih mengobok-obok vagina istriku.

“Betul Lud, biar kamu kembali ke rumah sama istrimu nanti sudah kosong, tinggal botolnya doang. Jadi manimu dua hari ini harus dihabiskan sampai tuntas buat aku ya,” istriku menjawab nakal menggoda Lud sambil balas menatap matanya.

Lud menjawabnya dengan tiba-tiba menggesek-gesek klitoris istriku sehingga istriku menjerit kecil. Dipukulnya tangan Lud. Lalu keduanya tertawa cekikikan dan berciuman dengan mesra di depanku. Aku jadi horny dan senang melihat mereka berdua bermesraan.

Sebetulnya, sebelumnya aku sedikit khawatir kalau istriku tak bisa beradaptasi dengan perilaku Lud yang agak kasar. Tapi sekarang aku melihat sendiri ternyata istriku bisa jadi berteman akrab dengan sobat karibku itu.

Setelah selesai cuci, kita bertiga duduk berbugil ria di sofa sambil makan dan menonton TV. Istriku duduk di tengah-tengah sementara Lud memeluknya. Istriku meletakkan tangan kirinya di atas kemaluan Lud sambil kadang mengusap-usapnya. Tangan kanannya menyuapi Lud karena tangan Lud yang satu lagi memegangi tangan kiri istriku supaya jangan beranjak dari selangkangannya.

“An kamu beruntung sekali punya istri dia. Walaupun sudah punya anak tapi buah dadanya masih berdiri menantang tidak jatuh, juga perut dan pahanya mulus sekali tidak keriput. Siapa yang tak ngaceng terus lihat tubuh seindah ini. Apalagi isapannya juga yahut, kalau jadi istriku tiap hari bisa kusetubuhi minimum dua kali!” kata Lud bertubi-tubi memuji istriku, membuat istriku jadi tersipu.

“Sudah kesampaian keinginanku untuk melayani nafsu birahi dua laki-laki sekaligus,” bisik istriku mesra padaku. “Dan ternyata memang tambah besar nafsunya. Nikmatnya pun tambah.”

“Oya Pi, malam ini aku tak tidur denganmu, ya. Aku akan melayani Lud untuk menyalurkan nafsu seksnya sepuas-puasnya supaya temanmu ini tak kecewa kalau balik ke Jakarta,” istriku memohon izin padaku dengan penuh harap. Lud pun ikut memandang padaku dengan penuh harap.

“Boleh saja, Lud malam ini Hwa biar melayani kamu supaya kamu bisa melampiaskan semua nafsu binatangmu padanya,” jawabku. Mereka berdua kontan tertawa lebar mendengar restuku.

“Makasih Pa,” kata istriku sambil mengecup pipiku.

“Memang sejak aku makan di restoran sate kambing, aku sudah minta supaya dia malam ini dan besok pagi melayani nafsu binatangku,” kata Lud.

Kemudian istriku minta tiduran, kepalanya di pangkuan Lud sedang pahanya di pangkuanku sambil tangannya memegang-megang kontol Lud digosokan ke pipinya dan diciuminya. Tangan Lud diletakan di buah dada istriku sambil mengusap, meremas dan kadang menunduk untuk mengecup bibir istriku. Dia kalau mengecup sampai lama hingga istriku sampai sulit bernapas dan minta dilepas kecupannya. Sedang bagianku adalah mempermainkan clitnya dan memasukkan jari tengahku ke dalam lubangnya dan kontolku sambil digesek-gesek dengan betisnya. Lud kadang-kadang memeluk tubuh istriku dan kemudian menciumi pipi dan mengecup kening dan bibir istriku. Tangannya istriku pun mengusap-usap dadanya yang berbulu itu.

Kemudian Lud berkata padaku, “An, sebenarnya aku sudah lama tiap kali bertemu dengan Hwa, aku kepingin menikmati tubuhnya. Ternyata malam ini jadi kenyataan. Untuk itu malam ini istrimu kupinjam untuk menemani tidur sebab aku akan melampiaskan seluruh nafsu binatangku pada Hwa dan kontolku akan kusimpan dalam memeknya sepanjang malam. Aku akan memberikan kenikmatan dan kepuasan yang tak terkira pada Hwa.”

“Boleh Lud, malam ini istriku biar melayanimu agar kamu benar-benar puas,” sahutku.

“Tapi kalau nanti malam Papi butuh, ya Papi ikut masuk saja sebab Mami tetap mau melayani Papi juga kok malam ini. Untuk itu nanti pintu kamarnya biar terbuka saja ya. Jadi Papi dapat lihat kami dan dapat masuk buat ikutan juga kalau mau,” kata istriku seperti berusaha menenangkanku.

Aku tersenyum mendengar pengertian istriku.

“Apakah kamu sudah fit untuk main lagi, say?” tanya Lud pada istriku setelah itu.

“Aku selalu siap setiap saat untuk melayanimu, say,” jawab istriku yang jadi ikut-ikutan menyapa temanku dengan sebutan sayang sambil tersenyum.

“Malam ini aku benar-benar merasa sehat. Makin mendapat semprotan mani makin sehat rasanya. Manimu tadi yang keluar lagi dariku baru sedikit. Lainnya masih berada di dalam. Rasanya masih hangat di dalam perutku, say.”

Setelah itu Lud berdiri sambil membopong istriku dibawa masuk kekamar dan ditidurkannya.

Lud memanggilku untuk menemani istriku dulu karena dia akan ke toilet dulu. Kesempatan itu aku pakai untuk mencium dan mengecup bibirnya dan mengulangi pesanku.

“Mi, jangan lupa kalau maninya Lud disemprotkan ke dalam mulut hati-hati jangan sampai tertelan dan jangan mau kalau kontolnya di masukkan ke dalam lubang anusmu!”

“Iya Pi, akan aku ingat terus pesan Papi,” sahut istriku.

“Selamat menikmati kontol Lud yang gede ya, Mi. Nanti Papi dikasih tahu ceritanya, ya,” kataku.

Saat itu Lud sudah balik masuk kamar dan aku duduk lagi ruang TV sambil nonton, juga mau nonton adegan permainan Lud dengan istriku karena pintu kamarnya terbuka.

Lud naik ke tempat tidur dengan posisi di atas istriku. Kemudian dadanya yang penuh bulu digesek-gesekkan ke buah dada istriku sehingga istriku menggelinjang kegelian. Terus digesekkannya ke bawah yaitu perut, dan memeknya. Setelah itu Lud naik lagi lalu mulai menciumi kening, hidung, dan pipi istriku. Lalu ia mencium telinga istriku dengan mengeluarkan lidahnya untuk mengorek lubang telinga istriku sampai istriku meronta karena geli.

Tangannya istriku segera meraih kontol Lud yang selama ini menggelantung dan ujungnya menggesek-gesek paha istriku. Segera dipijit-pijitnya kontol Lud dan kadang-kadang dikocok juga serta kantung buah pelirnya diremas-remas juga. Hal itu membuat Lud lebih ganas dia segera mencucupi puting buah dada istriku sambil tanganya meremas-remas buah dadanya dengan harapan ada air susunya yang keluar. Walaupun buah dada istriku montok tapi tak keluar air susunya kalau diperas.

Kontol Lud dipermainkan oleh istriku sehingga tampak ngaceng dan panjang banget. Lalu Lud mengambil posisi gaya 69, hingga mulutnya pas di memek dan kontolnya tepat di wajah istriku. Keduanya yang langsung beraksi, kontolnya yang gede segera dijilati dan dilumat dengan lidah seluruh bagian kepalanya yang nampak gempelo besar itu sambil batang kontolnya dipijit terus oleh istriku dan dia terus mencucup clit dan lubang memek istriku.

Lebih kurang 10 menit adegan ini lalu ganti Lud yang tiduran dan istriku yang duduk di atas kontolnya tepat dengan memeknya. Kepala kontolnya dimasukkan ke dalam memek istriku lalu mulai diputar pantatnya sehingga kontolnya berputar dengan dipegang bibir memek istriku. Sedang tangan Lud tetap meremas buah dada istriku.

Kira-kira sudah 10 menit lewat maninya Lud tetap belum nyemprot dan istriku juga belum klimaks. Lalu oleh istriku mulai digoyang naik turun pantatnya. Kadang-kadang pelan, kadang-kadang cepat sehingga kontolnya keluar masuk memek seperti dikocok dengan memek.

Dengan posisi ini baru 5 menit istriku klimaks. Otot-ototnya tampak menegang. Dia diam terduduk di atas kontolnya Lud dengan memeknya memijit kontol.

“Oooh… shiii..iit,” umpat Lud yang kembali menikmati pijatan memek istriku pada kontolnya.

Setelah fit lagi, digoyang lagi sampai klimaks lagi istriku. Akhirnya istriku menarik Lud untuk duduk dan istriku tetap duduk di kontolnya dan kakinya diselonjorkan di antara tubuh Lud. Lalu Lud yang ganti menggoyangkan pantat istriku maju mundur sambil kadang-kadang istriku ditidurkan ke belakang dan Lud tetap mendekapnya. Dalam waktu 15 menit dengan posisi ini istriku sudah mengerang karena klimaks sampai dua kali.

Puas dengan posisi ini ganti istriku ditelentangkan lalu Lud menindihi istriku setelah kontolnya dimasukkan semuanya ke memek istriku. Lalu pantatnya digoyang memutar sehingga jembutnya menggesek clit dan seluruh memek istriku. Kontolnya memutar di dalam lubang memek sehingga istriku menggelinjang lagi dengan tangannya menarik lepas sprei sedangkan mau mengerang sulit karena bibirnya dikecup kuat-kuat oleh Lud.

Yaah menonton itu kontolku jadi ngaceng terus sampai kemeng rasanya. Adegan ini berjalan cukup lama sampai kira-kira 10 menit lebih. Dan dalam waktu 10 menit itu paling tidak istriku sudah mencapai klimaks sampai dua kali.

Setelah itu kakinya yang kekar itu keduanya ditumpangkan ke kedua kaki istriku yang ramping dan indah itu lalu pantatnya yang digoyangkan naik turun hingga kontolnya ikut juga. Dengan posisi ini kontolnya betul-betul kecepit dengan bibir memek istriku sehingga gesekannya betul-betul terasa di memek istriku sampai istriku berulang kali menelan air liurnya dan geleng-geleng kepala saat klimaks.

Lud minta ganti posisi lagi. Sekarang dia agak mengangkat pantatnya dan ganti istriku yang harus menggoyangkan pantatnya memutar hingga kontol Lud diputar dengan memek istriku.

Aku yakin setelah ini istriku banyak belajar gaya ML yang macam-macam dari Lud. Beberapa gaya yang dilakukan oleh Lud bersama istriku bahkan belum pernah dipraktekkan kami berdua sebelumnya. Hebatnya lagi, setiap mencoba satu gaya baru, Lud berhasil membuat istriku orgasme. Tentu saja Lud pun senang karena setiap kali klimaks, memek istriku akan memijati kontolnya dengan keras. Lud yang baru tahu kemampuan istriku itu kelihatannya senang sekali dan jadi kecanduan. Tampaknya aku tak salah mengundang Lud untuk bergabung bersama kami.

Kira-kira 5 menit lewat masih belum lepas juga maninya, padahal kalau aku yang diputar kontolnya oleh istriku kurang 5 menit langsung muncrat maniku. Akhirnya malah istriku sendiri yang klimaks lagi.

“Aduuh Lud…aduh Lud….nikmatnya luar biasa… Aku sudah tak kuat menahannya lagi. Semprotkan manimu, Lud,” pinta istriku.

Baru kemudian posisi istriku ditarik ke bawah sehingga pantatnya di pinggir kasur. Kemudian Lud turun dan kaki istriku diminta mentang lebar-lebar dan diangkat tinggi. Lalu Lud menancapkan kontolnya dari bawah dengan sedikit membungkuk agar tangannya bisa meremas buah dada istriku.

Lalu mulailah ditembaknya memek istriku dengan kontolnya, pertama mulai pelan-pelan. Lalu tambah lama tambah keras dan cepat nembaknya, sampai tiap kali ditekan pantat istriku terpental naik. Untuk itu terpaksa tangannya melepas buah dada istriku dan memegang pinggangnya supaya kalau ditembak keras memeknya, maka pantatnya tak naik, melainkan kontolnya yang deras menghunjam masuk menerobos sampai mulut rahim istriku.

“Aduuh Lud…aduh Lud…enak banget kontolmu Lud, tapi aku tak kuat nahan nikmatnya Lud…aku butuh manimu Lud… kontolmu sudah makin hangat, Lud,” teriak istriku.

Akhirnya “Huuuuh…” desis Lud dan cruttt maninya muncrat.

“Huuuh…” desis Lud lagi dan cruttt maninya muncrat lagi dan tiap kali maninya muncrat istriku mengerang, “Aaach…sseeett!”

Setelah itu Lud tengkurap di tubuh istriku.

“Lud, tubuhku hangat rasanya kena semprotan manimu,” kata istriku sambil membelai rambut Lud.

Kemudian tubuh istriku diangkat naik ke tempat tidur dan Lud segera tidur di sebelahnya dengan memeluk istriku. Kontolnya yang masih ngaceng itu dimasukkan lagi ke dalam memek istriku. Kemudian dengan kaki dan tangannya Lud menarik selimut sehingga kedua tubuh yang bugil itu diselimuti. Melihat itu walaupun kantolku ngaceng aku tak ikut masuk sebab kupikir istriku capai. Apalagi memeknya masih disumpal dengan kontolnya Lud dan mereka berdua pun tampak berpelukan erat di balik selimut. Aku tak mau mengganggu mereka. Jadi terpaksa aku masuk kamar dan tidur.

Suatu saat aku terbangun karena terasa kontolku di-pijit-pijit. Ketika membuka mata ternyata istriku dengan masih dibopong di muka berpelukan oleh Lud tangannya istriku me-mijit-mijit kontolku.

Ketika aku bangun, istriku bilang, “Ayo Oi, jangan tidur saja. Mami mau disemprot mani lagi berdua berbarengan.”

Eeeh ternyata pikiranku tadi meleset. Kukira istriku yang lemah lembut itu sudah capai tadi. Ternyata masih ingin dikerjain berdua lagi. Aku lihat ternyata memek istriku tetap didongkrak dengan kontolnya Lud.

Jam saat itu sudah jam 1 tengah malam jadi aku sudah tidur dua jam.

Kemudian istriku ditidurkan Lud di bawahku dan langsung Lud mulai menembak memek istriku dengan kontolnya yang gede itu dan aku terpaksa bangun mendekatkan kontolku kemulutnya istriku untuk diisap. Kontolku terus dijilati disedot lubangnya sambil kantong pelirku diremas-remas dan rambut bawah kantong pelirku ditarik-tarik juga pinggiran lubang anusku dielus-elus dengan jarinya hingga aku terus bernafsu dan ngaceng lagi.

Memang kalau kita main bertiga ini tambah terangsang demikian juga Lud yang menembakkan kontolnya makin seru dan nafasnya mulai ngos-ngos-an dan crot…crot…crot maninya muncrat ke dalam memeknya istriku. Aku yang melihat itu tak tahan juga. Langsung maniku kulepaskan juga dan memenuhi mulut istriku. Setelah ditelan, mulutnya dibuka ditunjukkan padaku kalau maniku sudah habis masuk. Dan Lud pun lalu menelungkup di atas istriku untuk istirahat, tapi mulutnya masih sempat mengisap-isap pentil istriku.

Lalu istriku bilang, “Waaah Pi, maninya Lud rupanya masuk terus ke dalam rahimku sebab tiap nyemprot tak pernah keluar lagi, apa karena memekku disumpal terus dengan kontolnya Lud ya, Pi? Sebab biasanya kalau punya Papi paling 1 jam sudah mengalir keluar lagi walupun nyemprotnya keras banget..”

Belum sempat aku jawab, Lud bilang, “Gila, istrimu itu minta disumpal terus memeknya, pokoknya kontolku malam ini tak boleh lepas dari memeknya.”

“Nggak, Pi. Lud yang minta dulu supaya kontolnya dipendam semalam suntuk dalam memekku, dan aku setuju,” jawab istriku.

“Kontolnya terasa hangat terus di memekku, dan kalau mulai tegang terasa mulai goyang-goyang dan makin keras yang nyodok-nyodoknya, Pi. Kalau tidur walaupun sudah tidur pula kontolnya tetapi kepala kontolnya tetap nyantol di bibir memekku jadi tak mau lepas seperti papi punya biasanya lepas sendiri kalau tidur,” kata istriku menjelaskan pengalaman barunya.

Setelah fit kembali istriku dibopong lagi dengan masih disodok memeknya dengan kontolnya dan dibawa balik ke kamar depan. Aku pun tertidur lagi karena ngantuk. Seperti biasa aku selalu bangun jam 4.30 pagi. Selain kebiasaan kadang-kadang kontolku ngaceng sendiri jam-jam itu. Pagi itu kontolku juga ngaceng lalu aku bangun dengan maksud mau naik istriku. Aku masuk ke kamarnya ternyata istriku masih tidur berpelukan dengan Lud dengan tubuh diselimuti. Aku coba mendekat kepala istriku dan kubelai-belai pipinya dan kucium bibirnya. Ada bau alkohol. Kelihatannya malam tadi istriku ikut minum whisky bersama Lud. Padahal setahuku, seperti diriku, ia jarang minum minuman keras. Istriku terbangun.

Aku bilang, “Kontolku ngaceng ini. Yo tak semprotkan ke memekmu.”

“Aduuuh, Pi. Kontolnya Lud masih menancap terus dalam memekku kalau tak ditarik tak bisa lepas sebab nyantol kepalanya,” bisik istriku yang tak mau mengganggu ketenangan Lud yang masih tidur nyenyak.

“Papi tak isap saja ya kontolnya?”

“Oke,” sahutku.

Lalu istriku menengadah dan kudekatkan kontolku supaya bisa masuk ke mulutnya. Lalu kukocok sendiri kontolku dan ku-gosok-gosokkan kepalanya ke bibirnya dan kadang-kadang kumasukkan dalam-dalam ke mulutnya. Karena sudah cukup lama ngacengnya tak lama hanya 5 menit maniku sudah muncrat lagi ke dalam mulut istriku. Kemudian seluruh bagian kepala kontolku dijilati untuk membersihkan maniku dan setelah itu baru ditelan semua maniku.

Aku bertanya, “Mami tidak nelan maninya Lud toch dan tak dimasuki lubang anusnya juga kan?”

“Tidak, Pie. Semua maninya Lud masuk ke dalam memekku dan sampai sekarang belum keluar sehingga rasanya ada sesuatu barang dalam perutku yang hangat! Lud hanya mencabut kontolnya kalau minta diisap setelah itu dimasukkan kembali ke memekku,” jawab istriku.

Aku kecup bibirnya dan aku bisiki, “Baik-baik ya, Mi. Semoga dapat kenikmatan lagi!”

Istriku hanya tersenyum. Kelihatannya ia bahagia sekali. Lalu dipejamkannya kembali matanya menemani Lud yang masih tidur dari tadi. Tangannya memeluk tubuh Lud yang hitam dan berbulu.

Lalu aku keluar kamar dan tiduran lagi. Aku terbangun lagi pukul 6 pagi langsung aku pergi mandi dan kemudian duduk di sofa nonton TV. Ternyata rupanya istriku baru saja diajak bersetubuh lagi oleh Lud, karena baru saja berada di atas istriku kemudian tidur lagi dengan berangkulan lagi.

Karena bosan lihat TV lalu aku pergi keluar untuk lihat pemandangan alam dan jalan-jalan ditaman.

Kira-kira sejam kemudian aku balik ke motel dan aku lihat kamarnya sudah kosong. Rupanya mereka mandi berdua.

Aku masuk kamar dan melihat di tempat tidur ada gelang karet berbulu yang dipakai Lud dan ada cincin dari bulu buntut kuda. Aku nonton TV lagi, rupanya lama sekali mereka mandi.

Aku coba mendekat ke pintu kamar mandi dan menempelkan kupingku di pintu. Oh, ternyata mereka main lagi dalam kamar mandi sebab terdengar rintihan istriku.

“Aduuuh Lud…aduuh Lud…enaknya kontolmu Lud…nikmat banget Lud rasanya.”

Kemudian suaranya Lud, “Aaaach…Hwa, memekmu juga nikmat…aku kangen terus dengan memek dan payudaramu yang kenyal ini Hwa!”

Aku balik nonton TV lagi jadinya. Kira-kira 30 menit lagi mereka keluar dari kamar mandi dengan masing-masing berbalut handuk tubuhnya. Sekarang mereka sudah pisah, tidak nyantol lagi kontolnya di memek istriku.

Melihat diriku, mereka pun menyapaku. Kubalas sapaannya sambil tersenyum. Lalu mereka masuk kamar dan ganti pakaian. Aku lihat istriku pakai celana dalam G-String merahnya dan pakai bra mini merahnya juga. Lalu ia pakai rok mini warna hitam dan kaos pink tanpa lengan yang pendek, hanya sampai bawah bra. Jadi perutnya yang langsing putih kelihatan dari luar.

Melihat istriku pakai kaos ketat, Lud bilang, “Hwa, kamu jangan pakai bra saja. Jadinya lebih bagus karena kaosmu ketat.”

Istriku pertama menolak, “Aaah katanya mau keluar makan dan nanti kan mau pulang. Nggak enak kalau tak pakai BH.”

Lud bilang, “Kita kan hanya makan di restoran sini saja, blm pulang. Sebab nanti aku masih mau main lagi sama kamu, Hwa. Lagian aku mau memamerkan kamu sama pengunjung restoran yang lain.”

Jadi terpaksa istriku menurut dengan melepas lagi BH mininya. Eeeehhhh ternyata betul juga pendapat Lud, sebab tanpa BH pun ternyata buah dada istriku tetap tegak menantang. Hanya bedanya putingnya nampak jelas tercetak dari kaosnya dan kalau jalan kelihatan sedikit bergoyang-goyang buah dadanya.

Setelah semua siap kami pergi makan ke restoran hotel pukul 8.15. Lud dan Hwa berjalan bergandengan tangan dengan mesra seolah merekalah yang merupakan pasangan suami isteri. Di sana kita lihat ada dua pasangan lagi yang rupanya juga bermalam di hotel itu sebab yang cewek ada yang masih pakai pakaian tidur segala. Aku bisa melihat yang cowok dari kedua pasangan itu curi-curi pandang ke arah istriku. Dalam hati aku senang juga punya istri seksi seperti itu. Dalam hati aku juga berterima kasih pada Lud yang sudah memberi saran yang bagus pada istriku. Terus terang, aku merasa banyak belajar dari Lud.

Selesai makan kita jalan-jalan di taman sebentar sambil ngobrol-ngobrol lalu balik ke motel dan duduk untuk nonton TV. Baru beberapa menit perutku terasa sakit. Terpaksa aku ke kamar mandi untuk beol. Selesai beol aku mau nonton TV lagi.

Ternyata mereka berdua sudah tak ada dan masuk kamar lagi. Aku melihat istriku sudah tak mengenakan kaos lagi tapi sedang memakai BH mininya. Sedang Lud sedang melepas celana dan kemudian bajunya lalu dia menarik istriku dan ditidurkannya ke ranjang lalu ditindihnya lagi istriku.

Yaaah rupanya mau main lagi mereka. Ternyata benar, rok mini istriku dilepasnya lalu CD mininya disingkap ke pinggir pangkal paha. Lalu kontolnya dikeluarkan dari CD nya dan dimasukkan ke memek istriku. Jadi Lud main dengan masih pakai CD dan istriku pakai BH dan CD mini.

Karena branya mini, otomatis payu daranya istriku mencuat keluar ketika kena remasan tangannya Lud sambil pantatnya terus menggenjot naik turun terus dengan cepatnya.

Hampir 10 menit kemudian terdengar istriku berteriak, “Aduuuh Lud, hangatnya manimu….lepaskan semua manimu Lud!”

Seblmnya istriku cuma mendesis terus kenikmatan. Nampak sesaat kemudian Lud jatuh menelungkup di atas istriku. Karena sudah hampir jam 10 aku bangunin mereka sebab Lud hrs berangkat pulang dengan pesawat jam 11.

Aku selesaikan semua rekening hotel sementara mereka berpakaian lagi. Kita langsung menuju airport.

Tepat sampai airport pk 10.30. lalu kita ngomong sebentar dan Lud usul pada istriku kalau lain kali kita main berempat bagaimana. Awalnya istriku keberatan sebab aku tak boleh main dengan wanita lain. Tapi Lud menjelaskan kalau wanita itu adalah keponaannya sendiri yang kerja jadi sekretarisnya dan kadang-kadang melayani tamu-tamunya yang membutuhkan hiburan.

Jadi pasti bersih dan usianya masih muda, baru 19 tahun. Cukup seksi hanya buah dadanya agak sedikit lebih kecil dari istriku. Kalau istri Lud pasti kurang rame karena agak kerempeng dan tidak ceria, jadi aku dikhawatirkan tak bisa ngaceng.

“Jadi bisa rame, Hwa. Kita main dua pasang dalam satu kamar pasti hot” kata Lud.

Akhirnya istriku setuju kapan-kapan main berempat. Tiba-tiba istriku pergi lari-lari ke kamar mandi.

Setelah balik dari kamar mandi, aku tanya, “Ada apa.”

Dia jawab sambil menunjukkan CD mininya yang digenggamnya.

“Waaah, maninya Lud mulai keluar. CD-ku sampai basah dan lengket jadi tak enak dipakai. Mungkin rok ku juga basah belakangnya.”

Ternyata betul, bagian bawah memeknya basah. Karena Lud sudah hampir check in lalu kami berdua langsung pamit pulang setelah istriku terlebih dahulu dipeluk dan dikecup bibirnya oleh Lud.

Kami segera menuju mobil. Jok tempat istriku duduk dilembari dengan kertas koran. Hampir sampai dirumah istriku mengeluh lagi.

“Aduh pie, maninya keluar lagi rasanya basah dan lengket semua pahaku. Cepat dikit, Pi.”

Aku kebut terus dan sampai di rumah mobil kuparkir tepi jalan dan istriku turun pencet bel. Setelah dibuka oleh pembantuku, segera istriku masuk ke kamar utama kami dan masuk ke kamar mandi dalam tanpa ditutup pintunya. Karena anakku sedang tidur dikamarnya, aku langsung masuk ke kamar utama. Kulihat istriku lagi melepas rok mininya lalu duduk di closet.

Melihat aku datang, istriku bilang, “Papi sini, lho. Lihat Pie pahaku kena cendol maninya Lud dan itu keluar terus banyak.”

Aku lihat pahanya istriku dan jembutnya basah kena mani. Dari lubang vaginanya keluar jatuh maninya Lud yang seperti cendol itu. Melihat itu aku malah jadi nafsu kontolku jadi ngaceng terpaksa aku melepas semua pakaianku.

“Papi ngaceng toch kalau lihat vaginaku belepotan mani begini,” kata istriku sambil mulai memegang kontolku. Lalu aku tarik lepas kaos istriku.

“BH-nya jangan dulu ya supaya Papi lebih terangsang kalau Papi mainan payudara Mamie,” kata istriku.

Istriku bilang kalau tadi malam sampai pagi tadi dia disemprot maninya Lud sampai 7 kali, yaitu jam 8 malam saat bareng dengan saya. Jam 11 malam saat main saya nonton. Jam 1 tengah malam waktu main di kamar saya. Jam 3 fajar waktu kontolnya Lud ngaceng sendiri. Jam 6 pagi sehabis saya nyemprot ke mulutnya. Jam 8 pagi saat dalam kamar mandi dan jam 10 pagi waktu mau pulang.

“Hebatnya Lud itu sejak dari awal sampai yang terakhir semprotannya keras terus dan kental serta hangatnya dan banyaknya sama. Makanya rasanya penuh sekali dalam perutku tadi, sampai suatu saat aku tekan perutku dan mulai keluar terus maninya,” kata istriku.

“Mie, kalau sudah habis cuci dulu vaginanya, aku sudah nggak tahan nih.”

Istriku buru-buru mencucinya dan mengeringkan dengan handuk, lalu aku angkat dia dan kuletakkan di atas tempat tidur. Tanpa tunggu macam-macam aku segera naiki istriku dan kutancapkan kontolku ke vaginanya.

“Waaah mie, memekmu masih seret juga buat kontolku, aku kira jadi longgar kemasukan kontol gedenya Lud,” kataku.

Istriku lalu cerita, “Waktu kontolnya Lud ditanam semalam suntuk dalam memekku, begitu mulai kurang ngacengnya memekku mulai kurenggangkan sehingga sampai kepalanya saja yang nyantol di bibir vaginaku dengan maksud supaya jangan sampai longgar liangnya.”

“Apalagi Lud selalu pakai cincin bulu kuda itu. Waktu di dalam, geli banget rasanya kalau goyang sedikit. Kalau di luar kurang gelinya sebab yang kena cuma bibir vagina saja.”

“Kalau mainnya Papi dan Lud sama saja, hanya Lud kalau sudah nafsu banget agak kasar mainnya. Lain dengan Papie tetap semangat tapi mesra. Hanya Papi punya kalah besar dan panjangnya saja, tapi Mami mau belikan alat yang bisa buat memperbesar dan memperpanjang kontol, tiap pagi nanti Mami yang melakukannya supaya punya Papi bisa jadi panjang dan besar.”

“Memang saat Lud mau nyemprot Mami selalu tekan pantatnya mamie ke atas supaya kontolnya bisa ambles masuk semua sebab kalau nyemprotnya di dalam rasanya hangat enak dan nikmat. Papi punya kalau nyemprotnya keras dan kebetulan maninya agak encer juga bisa langsung kena mulut rahimku jadi hangatnya enak, Pie.”

“Pie, ini lho selain leher, buah dadaku juga dicupang oleh Lud tapi nanti Mami gosok dengan minyak kayu putih supaya cepat hilang,” kata istriku sambil memperlihatkan buah dadanya yang dicupang.

“Ah, gak usah, Mi. Biarin aja,” kataku melarangnya.

Mendengar cerita istriku, aku makin menggebu angkat turunnya pantat dan segera hak BH istriku yang terletak di bagian depan itu kubuka hingga buah dadanya yang makin kencang itu tak tertutup lagi yang sebelah kuremas dan yang sebelah kukecupi dan kugigit-gigit putingnya.

“Aduuuuh pie, nikmat banget pie, aku sudah kangen dengan kontolnya Papi sejak Papi minta tadi malam. Masih seret ya, Pie. Aku masih merasakan seret gesekan kontolnya Papi. Pie mau keluar ya…? Kok sudah anget banget kontolnya,” kata istriku. Benar juga tak lama lagi creeett….creeettt, maniku nyemprot.

“Waaah… maninya Papi nyemprot ke dalam, sebab semprotannya keras tapi agak encer. Bisa jadi satu dengan Lud punya nih!” kata istriku.

Karena capai kami berdua tiduran tapi akhirnya tertidur juga.

TAMAT

Hwa – Gara-Gara Krismon

Copyright 1998, by Hwa

(Berbagi Istri)

Karena krismon suamiku terkena PHK 4 bulan yang lalu. Hal itu menyebabkan suamiku sampai dirawat di rumah sakit karena stress. Diabetesnya naik tinggi, apalagi suamiku malas diet.

Walaupun masih cukup muda tetapi akibat sarafnya tergganggu oleh diabetnya, maka suamiku terkena semi impotensi. Aku jadi kurang sekali dapat kucuran air mani sekarang. Padahal di usiaku yang 30 tahun ini sedang butuh-butuhnya siraman air mani supaya bisa tetap segar. Aku sendiri kasihan pada suamiku saat ia mau menyetubuhiku. Nafsunya bergelora tapi senjatanya tak mau tegang.

Untung ada seorang teman baik kami yang punya pabrik plastik membantunya, Ludwig namanya. Diangkatnya suamiku menjadi kepala pabrik sejak sebulan yang lalu.

Suatu malam saat suamiku sedang rapat di RT, Ludwig menelepon ke rumah. Karena suamiku pergi, dia ngomong-ngomong denganku dan bertanya.

“Hwa (panggilan akrabku), apakah kamu masih sering disirami oleh suamimu?”

“Siraman apa?” tanyaku.

“Yaah siraman kejantanan yang hangat itu,” katanya.

“Acch …Lud, kamu kok tanyanya macam itu,” sahutku.

“Gini lho, kalau kamu mau, aku bersedia membantu menyiram. Suamimu sudah tahu kok karena kamu pasti membutuhkannya,” jawabnya.

“Hwa, aku sekarang sudah steril jadi kamu gak perlu takut hamil olehku. Karena itulah suamimu setuju,” tambahnya lagi.

“Jangan ngaco lho, Lud. Nanti suamiku marah,” balasku.

“O, silahkan tanya dulu sama suamimu. Oke. Selamat malam,” sahutnya.

Memang Ludwig kalau ngomong terbuka, karena ia seorang Indo Belanda.

Malam harinya saat mau tidur aku tanya suamiku.

“Pa, kenapa Ludwig tanya begitu padaku?”

Suamiku menjawab bahwa dia menyadari tidak dapat memberikan siraman yang cukup karena penyakitnya padahal aku membutuhkan itu. Jadi terserah aku. Kalau setuju, ya boleh saja.

Selang beberapa hari saat suamiku di kantor, Ludwig telpon aku dan menanyakan keputusanku. Aku hanya menjawab begini.

“Terserah kalian berdua. Kalau aku sih menurut saja.”

Hari itu suamiku pulang lebih awal dari biasanya. Kuceritakan padanya tentang pembicaraanku dengan Ludwig dan kutanya apa dia sudah bicara lagi dengan suamiku. Suamiku mengiyakannya dan bilang kalau nanti malam Ludwig mau bermalam di rumah kami, padahal dengan keluarganya pamit mau bisnis ke luar kota.

kira-kira jam 8 malam Ludwig datang ke rumahku tanpa bawa sopir. Aku malam itu memakai BH dan CD mini dari renda warna merah lalu kupakai pakaian tidur warna pink yang tipis setengah paha sehingga BH dan CD-ku terlihat jelas dari luar. Kita bertiga duduk di sofa nonton TV. Aku duduk di tengah. Sambil nonton kita ngobrol-ngobrol dan tangannya Ludwig mulai menggenggam tanganku erat-erat.

Tepat jam 9 malam, Ludwig pamit kepada suamiku untuk mengajak aku masuk ke kamarnya yang telah kusiapkan. Begitu masuk kamar aku langsung dipeluk oleh Ludwig. Bibirku langsung dicium dan dilumat habis-habisan. Sementara tangannya dengan liarnya meraba ke seluruh bagian tubuhku, terutama daerah-daerah yang erotis.

Aku menyambut hangat lumatan bibirnya sambil menyerahkan tubuhku untuk diraba dengan kedua tangannya yang tegap itu. Kubalas rabaan di kemaluannya yang terasa sudah mulai tegang.

Habis itu aku ditarik ke depan kaca rias. Aku dipeluk dari belakang dengan kedua tangannya meremas kedua buah dadaku hingga mencuat keluar dari BH-ku. Kadang-kadang tangannya turun ke bawah, disusupkan dari paha masuk ke dalam CD. Memekku dimasuki dua jarinya. Ia mengutik-utik kelentitku hingga aku mengangkat sebelah kakiku agar jarinya bisa bebas bermain di kemaluanku.

Leherku diciuminya. Sementara itu remasan-remasan pada buah dadaku yang membuat birahiku bergelora apalagi aku bisa melihat bagaimana buah dadaku diremas dari kaca.

Aku sebenarnya paginya baru disetubuhi oleh Oom Anton (langganan salonku) tanpa sepengetahuan suamiku. Hanya saja karena nafsuku cukup besar aku tetap semangat dan terangsang lagi dengan Ludwig.

Memang sebetulnya sebelum suamiku dan Ludwig memberikan tawaran ini, aku diam-diam sudah punya beberapa gebetan untuk memenuhi kebutuhan seksku. Jadi selain suamiku, aku juga sudah menikmati 4 kemaluan laki-laki, lain yaitu Oom Anton dengan bosnya, Benny adik iparku, dan sekarang Ludwig ini.

Pakaian tidurku dilepasnya lalu dia melepas seluruh pakaiannya sendiri hingga telanjang bulat. Kulihat kemaluannya cukup besar tapi tak sebesar kepunyaan Oom Anton. Hanya saja rambutnya lebat sekali dan keriting. Itu bisa menggelitik kelentitku kalau kemaluannya sudah masuk ke lubangku.

Setelah telanjang dia memelukku lagi sambil meraba, memijit dengan bernafsu bagian-bagian erotis dari tubuhku. Ia lalu melepas BH dan CD-ku hingga kami berdua sekarang berpelukan dalam keadaan bugil tanpa ada secuil kainpun yang menghalanginya.

Dia kemudian tengkurap di tempat tidur dan aku diminta tengkurap juga di atasnya sambil menggeserkan puting kedua buah dadaku mulai dari pundak terus menggeser ke punggung, pinggang, kedua pahanya dan berakhir dibetisnya kemudian naik lagi. Ludwig terasa geli dan nikmat sekali mendapat geseran kedua puting buah dadaku itu sedang aku sendiri juga merasakan nikmat di kedua puting buah dadaku bersentuhan dengan tubuhnya. Benar-benar pengalaman baru dan indah bagiku dengan permainan ini.

Kemudian Ludwig telentang dan puting buah dadaku juga diminta untuk digeserkan mulai pundak, dada, perut dan di kemaluannya. Kedua puting buah dadaku kugoyang-goyangkan untuk memukul-mukul kepala kemaluannya lalu kugeserkan lagi sampai ke pahanya. Puting buah dadaku terasa geli sekali saat bergeser di dadanya dan daerah kemaluannya yang penuh bulu.

Itu menyebabkan birahiku meletup-letup hingga aku tidur telentang minta segera disetubuhi. Ludwig tahu maksudku lalu dia menancapkan senjatanya ke lubangku yang sudah mulai membuka dan basah.

Baru beberapa kali kemaluan Ludwig masuk keluar di lubangku, tiba-tiba suamiku masuk kamar dalam keadaan bugil dan senjatanya berdiri tegak. Melihat itu Ludwig segera mencabut kemaluannya dari lubangku dan mempersilakan suamiku ganti untuk menyetubuhiku.

Yaah teman-teman, baru sekali ini aku merasakan kemaluan suamiku begitu tegang dan keras seperti ini sejak ia sakit diabetes. Sayangnya baru beberapa kali kemaluannya masuk keluar di lubangku, air maninya sudah menyemprot keluar dan menjadi lemas lagi. Tapi kali ini air maninya betul-betul masuk ke dalam lubangku sebab terasa hangatnya dalam perutku tidak seperti biasanya yang hanya di pinggir luar sehingga langsung tumpah keluar kalau kemaluannya dicabut.

Rupa-rupanya suamiku bisa tegang itu karena mengintip dari pintu saat aku bermain roman dan akan disetubuhi oleh Ludwig.

Langsung Ludwig memasukkan kemaluannya lagi setelah suamiku selesai dan dia terus menggenjot lubangku dengan kemaluannya. Ternyata Ludwig tahan lama sebab aku sudah klimaks 2 kali hingga lubangku basah kuyup oleh cairan cintaku ditambah air mani suamiku yang mulai mengalir keluar tapi Ludwig belum nyemprot juga maninya.

Karena kelewat basahnya lubangku, timbullah suara yang merangsang saat kemaluan Ludwig masuk keluar di kemaluanku. Suamiku masih di dalam kamar melihat Ludwig menyetubuhiku dan mendengarkan rintihan-rintihan nikmat dariku. Tanpa disangka kemaluan suamiku bisa tegang lagi. Ia pun minta Ludwig untuk berhenti dulu. Kembali suamiku ganti yang menancapkan kemaluannya lagi ke lubangku.

Kali ini juga hanya berlangsung kira-kira 2 menit air maninya sudah keluar lagi. Aku kemudian diminta menungging di tempat tidur hingga air mani suamiku yang bercampur dengan lendirku meleleh keluar di pahaku.

Lalu Ludwig memasukkan kemaluannya dari belakang sambil membungkuk dengan kedua tangannya meremas kedua buah dadaku yang bergantungan. Ludwig makin lama makin keras dan cepat menghunjam-hunjamkan kemaluannya ke lubangku hingga aku 2 kali lagi mencapai klimaks. Baru setelah itu air maninya yang kurasakan kental sekali dan banyak itu berhamburan ke dalam lubangku, membuat hangat tubuhku dan menjadikan kedua lututku lemas sekali.

Malam itu aku tidur di samping Ludwig, sementara suamiku tidur sendiri karena saat suamiku pergi tidur, kemaluan Ludwig tegang lagi dan aku diminta untuk melayaninya lagi. Kali ini dia bisa menyalurkan nafsu seksnya padaku sepenuhnya tanpa diganggu oleh suamiku. Setelah air maninya keluar tuntas, cukup lama kami ngobrol dan tertawa-tawa bersama sambil berpelukan bugil di tempat tidur.

Sejak itu hampir tiap minggu sekali Ludwig bermalam di rumahku untuk memberi siraman
padaku dan merangsang nafsu seks suamiku. Bila pembantuku pulang Ludwig datang agak sore-sore dan pulangnya agak siang jadi bisa bersetubuh 2-3 kali di sore sampai malam hari, sementara fajar sampai jam 10 pagi bisa 2-3 kali lagi masih ditambah dengan suamiku 2-3 kali tapi hanya sebentar-sebentar.

Dalam 6 kali bersetubuh dengan Ludwig itu aku bisa orgasme sampai 20 kali lebih sedang Ludwig hanya nyemprot sekali maninya tiap bersetubuh. Hanya saja kalau sudah pagi maninya agak sedikit dan encer juga kurang hangat kalau pertama kali bentuknya menyerupai cendol dan banyak serta hangat sekali.

Dengan kehadiran Ludwig, kehidupan rumah tanggaku sama sekali tidak terganggu. Aku tetap mencintai suamiku sedang dengan Ludwig tak ada perasaan apa-apa hanya nafsu untuk saling memberikan kepuasan seks. Inilah teman-teman pengalamanku yang baru terjadi sejak dua bulan ini.

TAMAT