Category Archives: istri/tunangan selingkuh

Istri/tunangan berhubungan seks dengan lelaki selain suami/tunangannya

Anissa 02 – Pesan Nyasar yang Bikin Lembur

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh, Keroyokan, Antar Ras, Perkosaan)

Setelah kejadian di pesta kantor, Pete belaga seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku kesel. Enak aja dia bisa ngentotin memekku tanpa ada tanda-tanda terima kasih sedikit pun! Aku berkali-kali mencoba mengajak ngomong bosku soal kejadian malam itu namun ia selalu mengelak. Nggak usah ngobrol berdua, satu ruangan pun dengan aku sendiri, Pete langsung mencari alasan untuk pergi! Aku benar-benar gemes dan kesal melihat tingkahnya.

Sekali waktu aku balik dari lunch lebih cepat daripada teman-teman yang lain. Tidak ada siapa-siapa di satu lantai kantor kami, kecuali satu atau dua orang yang sedang asik chatting via YM di cubicle mereka.

Waktu aku melewati ruangan Pete, sepertinya ia pun belum balik dari lunch. Aku tersenyum sendiri.

“Isengin ah!” kataku dalam hati! Pelan-pelan aku masuk ke dalam ruangannya. Aku tutup pintu agar tidak ada yang bisa melihat ke dalam. Sambil nyengir jahil aku membuka g-string renda yang aku pakai hari itu dan kuletakkan di atas laptop Pete yang ada di atas mejanya. Aku tertawa sendiri.

“Kalau dia tetap ‘gak ingat’ juga sama malam itu sih keterlaluan!” tawaku dalam hati. Tetapi aku terdiam. Sepertinya ada yang masih kurang – surprise-ku kaya’nya belum perfect!

Aku mengambil kembali g-string-ku dan mengangkang sedikit. Sambil sedikit jongkok aku gesek-gesek celana dalamku di permukaan memekku yang basah berlendir. Sialan, aku jadi konak!

Setelah cukup basah, aku cium g-string tersebut…. Hmmm… Benar-benar bau memek! Hahaha! Terdengar orang-orang yang kembali dari lunch. Cepat-cepat aku taro g-string-ku di atas laptop si bos, terus aku kabur.

Aku benar-benar tidak sabar menunggu reaksinya Pete. Ngebayangin dia mencium-cium g-string yang bekas aku pakai saja bikin aku horny sekali.

Sejam berlalu, kuperhatikan dari cubicle-ku bahwa bosku telah mondar-mandir keluar masuk ruangan berkali-kali. Kok mukanya ‘lempeng’ aja ya? Aku benar-benar bingung. Apa dia nggak lihat? Sepertinya nggak mungkin deh! Aku semakin kesal dan frustrasi.

Hariku berlalu seperti biasa. Jam menunjukkan pukul enam sore. Aku siap-siap untuk pulang waktu Emir, seorang Junior Art Director yang jauh lebih muda dariku menghampiriku.

“Nissa, loe udah mau balik?”

“Iya. Udah kelar semua kerjaan gue. Mo balik ah!” jawabku. Aneh. Jarang sekali si Emir mengajak aku ngobrol.

“Loe mau nebeng gue?”

“Nggak.”

Bukannya menyudahi small-talknya Emir hanya terdiam sambil nyengir-nyengir di hadapanku. Matanya memperhatikan belahan rok mini-ku yang cukup berani.

“Nis, loe di kantor gak pernah kedinginan ya?” Aku terdiam.

“Maksud loe?”

“Iya, aneh aja. Orang lain bilang AC kantor kita terlalu dingin… Kok elo malah pake buka-buka celana dalam loe segala sih?”

Ia menatapku sambil menyengir.

“Gue, gak tau, loe ngomong apa, Mir!” kataku, dan melangkah pergi dari cubicle-ku. Tiba-tiba tangan Emir menangkap lenganku.

“Anissa… Jangan pergi gitu dong, say. Gue tadi nemuin barang di ruangan si bos. Kalau gue gak tahu ini barang punya siapa, kan harusnya gue kasih ke bagian HRD. Tapi gue takutnya ntar jadi bikin masalah…”

Sambil mendekatkan mulutnya ke telingaku ia berkata, sedikit bisik-bisik: “Dan gue yakin, loe orang yang nggak suka masalah, kan?”

Aku hanya menunduk mengalah: “Loe mau apa, Mir?”

“Gue? Oh, gue maksud loe? Enggak. Gue gak mau apa-apa kok, Nis. Lagi pengen ngobrol aja sama loe. Gue harus begadang nih ngerjain layout buat client gue. Loe mau nemenin gue kan?” Aku hanya mengangguk. Kalau aku tidak menurut sama Emir, mungkin dia bisa merepotkan posisiku di kantor.

Akhirnya aku ikut ke cubicle-nya Emir. Di sana orang-orang mulai pulang satu per satu. Aku duduk di sebelahnya, pura-pura memperhatikan apa yang Emir kerjakan di layar macintosh-nya.

Jam menunjukkan pukul 8. Aku sudah menelepon suamiku, untuk memberitahukan aku ada kerja lembur. Dia sudah biasa. Emir dari tadi hanya sibuk dengan layoutnya, sama sekali tidak memperhatikan aku ada disana.

Jam 9. Di kantor tinggal ada Emir dan Michael, anak magang yang disuruh ikut lembur sama Emir. Michael, yang duduk di cubicle seberang, adalah anak keturunan chinese yang sedikit tambun. Lampu-lampu sudah redup. AC sudah dimatikan. Satu-satunya cahaya adalah layar-layar komputer dan lampu-lampu gedung-gedung tinggi di luar.

“Eh, udah malam ya?” tanya si Emir dengan nada dibuat-buat. “Gue sampai lupa ada elo, Nis!”

Aku benar-benar kesal! Maunya apa sih ini orang?

“Ya udah deh. Loe kan mau pulang… Mendingan loe mulai deh. Gue biasanya lama lho keluarnya…”

Aku hanya terdiam. Gila ini orang.

“Eh, Nissa, loe denger gak sih gue ngomong? Ayo jongkok depan gue. Mulai loe!”

Kasar sekali orang ini. Aku malu dan terhina. Anak kecil ini, yang biasanya secara hierarchy kantor di bawah aku, menyuruh-nyuruhku seperti pelacur murahan.

“Hei, bengong lu! Buruan!”

“Mir… Masih ada Michael…”

“Trus emang kenapa? Oh, loe kasian sama dia? Iya juga sih, anak magang kasihan kalo kita suruh kerja rodi mlulu. Dia kan pengen belajar juga.” Emir memanggil Michael ke tempat kita. Aku rasanya mau pingsan. Hina sekali diriku…

“Mike, duduk sini loe! Loe liatin ya! Kalo loe nanti udah jadi pegawai di sini loe boleh juga diisep sama si Anissa… Nis! Jangan bengong loe! Cepetan! Gue masih banyak kerjaan nih!”

Aku merasa seperti di dalam mimpi (nightmare mungkin ya?) saat aku jongkok di depan Emir. Aku membuka resleting celana jeansnya dan aku keluarkan kontolnya yang hitam. Cukup panjang juga buat orang Indonesia, cuma kurang lebar kalau menurut seleraku. Aku buka mulutku lebar-lebar dan memasukkan seluruh batangnya ke dalam mulutku. Aku menyepongnya sekuat tenaga… Maju, mundur, maju, mundur…

Dibantu dengan lidahku yang menari-nari di bagian bawah batangnya. Aku berharap ia cepat-cepat menyemburkan spermanya ke dalam mulutku, agar aku bisa cepat pulang. Tangan Emir meremas-remas toketku dari luar baju. Pasti terasa olehnya putingku yang mengeras. Tetapi si brengsek ini hanya terus ngobrol sama si Michael, mengomentari layoutnya. Si Mike sepertinya sulit untuk konsentrasi!

‘Dicuekin’ seperti itu aku merasa semakin tertantang. Tanpa kusadari aku mengocok kontolnya semakin cepat, semakin dalam… Sekali-sekali terasa mentok di tenggorokanku. Terdengar suara kecipak-kecipak yang benar-benar jorok! Tanpa kusadari aku memainkan klitorisku. Tanganku yang kiri menumpu badanku yang sedang jongkok, sedangkan yang kanan menggosok-gosok memekku yang sudah benar-benar licin.

“Wah, bos,” sahut Michael ke Emir. “Liat tuh, dia memeknya kebuka banget!”

“Eh, loe! Lagi gue ajarin ngelay-out, perhatiin dong! Dasar anak magang! Susah deh emang kalo udah ada pelacur di kantor! Jadi gak ada yang bisa konsentrasi.”

Aku sudah bodo amat. Memekku terasa menegang dan berdenyut-denyut. Tanganku yang tadinya hanya memainkan klitoris, kini aku sumpel dalam-dalam ke liang memekku. Seperti orang yang lagi dientot, aku merasa memekku mencengkram jari-jariku. Tidak lama kemudian aku orgasme!

“Ummmmmmpff!” Aku tidak bisa teriak karena kontolnya Emir yang menyumbat tenggorokanku.

“Sialan ini perek!” umpat Emir. “Belom gue suruh udah keluar! Paling males gue ngewe sama cewek yang memeknya udah keseringan dientot.”

Emir menampar pipiku yang masih saja mengisap-isap kontolnya.

“Bangun loe! Nggak enak banget disepong sama loe! Sini nungging di meja! Buang waktu gue aja loe!”

Aku udah seperti orang dungu mengikutinya. Aku menungging dengan badan atasku terlungkup di atas meja kantor yang dingin.

Aku melihat Michael yang memegang-megang kontolnya dari luar celana. Mukanya sudah merah sekali.

Emir mengangkat rok miniku.

“Wah, udah ngira gue! Lihat nih pantat. Udah sering dipake juga nih.”

Dengan kasarnya ia menusukkan jarinya ke dalam anusku. Aku menjerit kecil. Tapi, iya, memang. Siapa saja yang telah melihat bentuk lobang pantatku pasti bakal tahu, kalau aku sering sekali disodomi. Terutama oleh Tom, suamiku.

Aku merasa penuh sekali dengan dua jari Emir yang keluar masuk lubang pantatku.

“Please… udahan dong!” rengekku.

“Dasar perek. Mikirin diri sendiri aja loe!”

Jari-jarinya ditarik keluar. Terasa udara dingin di sekitar lubang pantatku yang sekarang terbuka menganga. Tetapi anusku tidak lama kosong. Terasa ujung kontolnya Emir menusuk dengan kasar, membuka lebih lebar lagi lubang pantatku.

“Aghhhhhh…. Entot pantat gue, Mir!”

“Diem lu! Pelacur! Pasti gaji loe gede karena suka ngentot sama si bule deh! Perek!”

Sambil memaki-makiku Emir memukul-mukul buah pantatku. Aku hanya memajumundurkan pantatku agar ia cepat keuar. Untuk menghilangkan rasa nyeri di pantatku, aku gesek-gesek klitorisku lagi. Aku merasa hina sekali. Ternyata aku terangsang juga ‘diperkosa’ seperti ini.

“Perek bule loe, Nis! Ini bakal gue certain ke semua anak di kantor biar loe tahu rasa dientot sama satu kantor! Agghhhhhhh…..”

Emir menegang dan terasa kontolnya mengeluarkan sperma ke dalam lubang pantatku. Aku pun keluar sekali lagi. Biarpun orgasmeku tidak sehebat sebelumnya, aku mengerang cukup keras. Hangat terasa cairan spermanya yang langsung mengalir keluar lagi, seiring dengan dicabutnya kontol yang panjang itu.

Aku lelah sekali. Terdiam aku di posisi nunggingku, sambil memain-mainkan memekku yang memar serta sperma yang menetes ke lantai.

“Perek!” sahut Emir.

Ia meludah ke arah lubang pantatku. Sepertinya ia punya dendam terhadapku. Aneh, padahal aku jarang sekali bicara dengannya.

Masih lemas sekali terdengar olehku bisik-bisik antara Michael dan Emir.

“Terserah loe, Mike! Loe mau keluarin di mana kek! Emang gue peduli?” katanya sambil tertawa.

Aku menoleh ke belakang dan kulihat Michael sedang mengocok kontolnya yang kecil namun sudah tegang sekali. Ia mengarahkan kontolnya ke arah lubang pantatku. Aku hanya memejamkan mata. Terasa cipratan spermanya mengenai lubang pantatku yang terbuka menganga.

TAMAT

Anissa 01 – Office Party, An Affair with My Boss

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh, Antar Ras)

Slutty Anissa: Istri muda yang ketagihan selingkuh, yang doyan ngentot dan dientot!

It’s Anissa…

Hi semuanya, my name’s Anissa. Aku seorang cewek Jakarta yang suka sekali sama yang namanya sex – dalam segala bentuk dan rupa! Gak ada salahnya kan? Aku senang sekali kalau memekku ini dimasukkin kontol-kontol yang panjang dan keras… Di blog ini kalian semua akan bisa membaca segala kenakalanku sehari-hari! Kalau jadi horny, salah sendiri yaaa!

Udah horny belom? Jangan malu-malu yaa… kalau mau ngocok kontol kamu atau nyelipin jarimu ke memek kamu yang basah…. kerjain aja!

Kadang-kadang orang emang suka punya banyak prejudice sama cewek Indonesia yang kawin sama bule. Kerasa banget samaku, kalau orang kita emang kadang-kadang mikir kalo cewek kaya’ aku nikah sama bule hanya karena hartanya.

Emang kebetulan Tom, suami tercintaku, bukan orang yang kekurangan. Sebagai expat yang bekerja di bidang marketing suatu perusahaan multi-national dia memang cukup sukses. Akan tetapi, kalau aku ditanya kenapa aku gak kawin sama orang Indonesia aja, alasan uang mungkin buatku alasan yang ke 13 ato 27. Hihihihi… bener-bener gak sebegitu pentingnya buatku.

Yang benar-benar berarti bagiku adalah pandangan Tom terhadap perilaku sex-ku. Jujur aja, aku doyan sex. Aku gak pernah bisa setia 100%. Aku gak akan munafik. Biarpun sudah menikah selama 2 tahun, aku sering banget getting laid sama orang lain. Mungkin orang pada bilang aku ini nymphomaniac, atau perek – but, hey, that’s what I am!

Tentang physical appearance-ku: tinggiku 1,65 meter, tapi aku selalu pakai high-heels yang tinggiii banget dan aku rasa aku cukup langsing untuk masuk ke baju manapun. Bulu memekku selalu kucukur a-la Brazillian. Kalo nggak, aku sisakan segaris yang menunjuk ke arah klitorisku. Oh iya, dan aku suka banget sama tattoo. Anyway, you guys will see it sooner or later….

Office Party – An Affair with My Boss

Dua bulan yang lalu aku memulai affair dengan bosku di kantor. Sebenarnya Peter atau Pete bukan bosku langsung melainkan bos departemen client-service di advertising agency tempat aku bekerja.

Awalnya aku kesel banget sama kelakuannya yang sok merintah-merintah siapa saja kalau dia lagi kesel. Akan tetapi suatu malam, waktu kita habis merayakan masuknya new business ke agency kami, kita satu team pergi ke Wwwok! di Kemang buat sedikit minum-minum.

Mungkin karena bosku stress banget setelah dua atau tiga minggu kerja non-stop, dia sedikit keterlaluan maboknya. Anak-anak kantor seperti biasa cuma ketawa-ketawa saja liat tingkahnya yang tidak bisa berhenti ngajak orang ngobrol kalau sudah mabok.

Tidak ada yang menyadari bahwa dia selalu mencoba untuk merayuku. Dari mulai matanya yang tidak bisa lepas dari cleavage-ku saat berbicara denganku, sampai dengan tangannya yang terkadang mengelus buah pantatku dari luar rok ketatku.

Waktu ia pergi ke toilet pun aku bisa merasakan ereksinya bergesek dengan pahaku. Jujur aku jadi horny juga. Terpikir olehku untuk ke kamar kecil untuk membuka g-string-ku yang sudah lepek banget.

Setelah anak-anak yang lain mulai bubar, aku menawarkan untuk mengantar Pete pulang, mengingat keadaannya yang sedemikian parahnya. Dia setuju dan kami pun menuju pelataran parkir. Waktu itu sudah hampir pagi, jadi tinggal ada mas-mas penjaga parkiran aja yang ada di dekat mobilku.

Pete tidak berhenti juga nyerocos sambil mabok, padahal jalan saja sudah susah dan harus bertumpu di bahuku. Kadang-kadang jahilnya datang dan ia meremas toketku dari luar tank-top yang aku pakai waktu itu. Tukang parkir yang menunggu dekat mobilku tertegun melihat nipple-ku keluar dari bungkusnya karena tertarik sama tangan si pemabok. Aku hanya tersenyum nakal saja. Aku paling suka kalau bikin cowok tersipu-sipu oleh badanku!

Aku menyalakan mobil dan langsung cabut. Tukang parkir tidak kubayar – enak aja, kan udah liat toket gratis! Baru sampai Jalan Prapanca, bosku melepas seatbelt-nya. Aku pertama bingung. Dia ternyata membenamkan mukanya di selangkangan aku, sambil menarik rokku ke atas! Aku hampir menabrakkan mobilku ke trotoar. I was horny as hell!

Sambil terus ngoceh, si bos menjilat pahaku… makin lama makin ke atas…

”Pete, please stop it!” kataku sambil memijit-mijit memekku yang basah dengan merapatkan pahaku.

Dia tidak mempedulikanku! Terus, naik, naik, naik, sampai dekat sekali dengan memekku yang basah…

”I can smell your wet cunt, Anissa!”

Ia berusaha merenggangkan pahaku dan menarik g-string-ku sampai putus di pinggulku. Aku pun merenggangkan pahaku. Terasa mukanya dengan bulu-bulu jenggot pendek yang kasar dibenamkan di antara kedua pahaku.

Lidahnya menjulur-julur ke dalam memekku yang benar-benar sudah banjir! Karena aku harus menyetir mobilku, aku sulit sekali untuk terus mengangkangkan pahaku seperti yang kumau sehingga permainannya terputus-putus. Aku kesel banget!

Untung tidak lama kemudian kami sampai di rumahnya. Mobil kuparkir di jalanan di depan rumahnya.

Saat aku hendak membuka pintuku, ia berkata: ”Babe, sorry, but you can’t come in. My wife’s at home and it would be… you know….”

“Sialan!” Umpatku dalam hati.

Udah dibikin horny gini, sekarang aku gak boleh masuk ke rumahnya! Aku sudah benar-benar butuh dientot banget. Aku tidak akan bisa nunggu sampai rumah untuk dientot sama suamiku. Akhirnya aku nyerah deh!

Aku menghadap ke jendela samping sebelah kanan dan menunggingkan pantatku ke arah si Pete. Dia sedikit bingung sepertinya. Aku angkat rokku keatas dan terpampanglah vagina dan lubang pantatku yang sudah basah dari cairan memekku yang banjir.

”Just fuck me, Pete. Stick your dick up my pussy! Please!” desahku.

Aku tetap duduk menyamping sambil menunggingkan pantatku ke arahnya. Aku sudah masa bodo kalau ada orang yang mungkin bisa memergoki kami. Aku hanya ingin memekku diisi kontol bosku yang keras itu. Sambil menunggu kontolnya menyusup ke memekku, aku memainkan klitorisku dengan jari-jariku, sambil membuka lebar lubang kenikmatanku.

Aku mendengar resletingnya dibuka. Tak lama kemudian, kontol raksasanya Pete masuk dengan satu sentakan ke dalam memekku yang super-licin.

”Ooohhhh god!” gumamku.

Bosku hanya menggeram sambil mengeluarmasukkan kontolnya dengan kasar sekali. Terasa panjangnya… Bisa kurasakan setiap urat-urat yang ada di kontolnya, seakan membuat memekku semakin lebar. Tidak lama kemudian kontolnya menegang keras dan berdenyut-denyut.

”Keluarin di dalam, Pete… Fill me up with your cum, baby!” aku meracau tidak jelas.

Terasa semburan demi semburan memenuhi rahimku, mengalir keluar dan meleleh ke pahaku. Bosku langsung mencabut kontolnya. Terdengar bunyi ’plop’.

Si bajingan itu langsung menutup resleting celananya dan keluar dari mobilku, meninggalkanku dengan memek basah kuyup penuh dengan spermanya dalam posisi menungging seperti pelacur. Aku melihat bagaimana ia sempoyongan masuk ke dalam rumahnya.

Aku mengumpat tapi apa boleh buat? Tidak lama kemudian, aku menurunkan rokku dan memacu mobilku ke arah rumahku sendiri. Sepanjang jalan sperma bosku terus mengalir keluar dari lubang vaginaku. Di setiap lampu merah aku masukkan jariku ke dalam liang memekku. Kubersihkan sisa-sisa spermanya dari jariku dengan mengisap-isap jariku sampai bersih. Aku membayangkan sedang menyepong kontolnya si Pete yang gede itu.

Tom, suamiku membukakan pintu rumah. Rupanya dia sudah sempat tertidur.

”Wow! What happened to you? You’re a mess! Are you okay, baby?” sepertinya ia sedikit khawatir melihat penampilanku.

”Nggak apa-apa kok, baby! Aku cuma abis dipake sama bosku,” jawabku nakal sambil berjalan ke kamar tidur kami sambil mengayunkan pinggul, ”I’ll tell you all about it, while you fuck my ass ’til I cum… You wanna do that?”

TAMAT

Sinta – Ilmu Gaib Penakluk Sukma (Bagian 2)

Original Author: Unknown

Remake: Copyright 2010, by Mario Soares

(Berbagi Istri, Seks dengan Pria Tua, Penghamilan)

Setelah seminggu berlalu, pada hari yang telah dijanjikan Ki Dargo, Sinta mengunjunginya kembali beserta suaminya. Pasangan suami istri itu sampai di rumah Ki Dargo menjelang maghrib. Mereka diharuskan menginap malam itu karena akan ada pengobatan dan ritual untuk segera mendapatkan anak.

Sehabis makan malam, tepatnya pukul 8 malam, suami perempuan itu diberi ramuan untuk diminum. Sesaat setelah meminum ramuan tersebut, Rama merasakan tubuhnya segar dan ringan, seolah tak ada beban pikiran yang memberatkannya. Tanpa disadarinya, ternyata ramuan mantera itu juga telah membuat Rama tunduk dan patuh pada Ki Dargo. Karena itu saat Ki Dargo memberi perintah kepada Sinta untuk bertelanjang bulat di hadapan sang dukun, suaminya tak keberatan sama sekali.

“Kemarilah, kemarilah budakku yang cantik, akan kutunjukkan bagaimana aku dapat membuatmu terhempas dalam badai kenikmatan,” kata Ki Dargo seraya tangannya dengan bebasnya meremas-remas buah dada istri Rama yang mengkal dan segar karena belum pernah menyusui anak.

Inilah kesempatan sang dukun untuk menggarap habis-habisan tubuh molek ibu muda cantik itu di hadapan suaminya sendiri. Sang dukun seperti bayi raksasa yang kehausan saat mengisap-isap puting susu yang masih segar milik Sinta. Tangan kirinya memeluk tubuh Sinta sambil sesekali jari-jarinya yang kasar meremas-remas dan memulin puting susu perempuan itu. Sementara tangan kanannya dengan penuh perasaan bergerak ke bawah, mengelus dan menusuk-nusuk lubang kenikmatannya.

Sinta yang memang sudah pernah disetubuhi oleh Ki Dargo maupun Setan Kober suruhannya, tak merasa sungkan diperlakukan seperti itu di depan suaminya sendiri. Bahkan ia tampak menikmati sekali pencabulan yang dilakukan dukun tua itu terhadapnya.

Seperti kerbau dicucuk hidung, sang suami hanya terperangah tanpa protes sama sekali. Bahkan Rama ikut terhanyut melihat cumbuan-cumbuan Ki Dargo kepada tubuh istrinya yang seksi. Ia seperti menonton sebuah permainan yang amat menyenangkan dan membuatnya ikut terangsang juga.

“Bagaimana, Rama?” kata sang dukun pada suami perempuan itu.

“Eh, eh… ya, Ki…” kata lelaki itu tergagap.

“Gimana, Rama, kalau aku menyetubuhi istrimu? Apakah kau senang atau marah padaku?” tanyanya dengan tegas dan tajam.

“Eh, eh… ya, Ki Dargo. Aku sangat senang, Ki,” kata Rama seperti orang tolol.

Ilmu pengikat sukma Ki Dargo memang ampuh dan telah membuat Rama tunduk patuh pada kehendaknya. Rama menurut saja saat Ki Dargo menyuruhnya untuk melakukan onani.

“Ayo, Rama! Kocok batang kemaluanmu sambil menonton permainanku dengan istrimu!”

Rama pun menuruti perintah itu. Sinta hanya memandangi perbuatan suaminya sambil tetap memeluk Ki Dargo yang saat itu dengan jemarinya masih mengobok-obok lubang kemaluannya.

“Ayo, ibu muda cantik, peganglah dan belai dengan mesra batang kejantananku ini dengan jari-jari lentikmu….” suruh Ki Dargo pada Sinta untuk mengocok batang kemaluannya, di saat bersamaan suaminya juga sedang mengocok batang kemaluannya sendiri.

Sinta dengan patuh melakukannya sementara Ki Dargo membelai-belai rambutnya yang hitam panjang.

“Nah, begitu, manis…” puji dukun sakti itu senang.

Sungguh suatu pemandangan yang begitu indah dan serasi! Suami istri melakukan kegiatan yang sama secara bersamaan. Sang suami mengocok dirinya sendiri sedangkan sang istri mengocok si dukun sakti.

Sementara Sinta tetap mengocok penis Ki Dargo yang panjang, lidah serta bibir Ki Dargo menyelusuri seluruh tubuh molek istri Rama dengan buasnya. Sinta sampai merem melek dibuatnya karena terangsang dengan hebat.

“Oh yeah, ouuuh… ampuuun…. Aaaaku sudah gak tak tahan lagi, Dargo” ceracau perempuan itu. Dia sudah tak memanggilnya Ki lagi. Mungkin karena sekarang dia sudah merasa lebih mesra dan intim dengannya sehingga tak sungkan menyebut namanya saja.

“Ayo, Dargo, puaskan aku dengan batang kejantananmu yang besar ini. Ayo, Dargo!”

Erangan ibu muda cantik itu melengking tinggi saat Ki Dargo menjilati klitorisnya dengan penuh gairah.

“Ampuuuuun, Dargo! Yeah, Oh, Dargo pejantanku! Jangan kau siksa aku dengan permainanmu. Akuuuuu sudah tak tahaaaan, Dargo. Ayolah, Dargo! Aku budak nafsumu, Dargo. Aku budak nafsumu, Dargo. Yeaaah….!”

Blees, saat itulah batang kejantanan Ki Dargo yang hitam besar dan panjang masuk separuh ke dalam liang kenikmatan istrinya Rama.

Mata perempuan itu terbeliak terbalik ke atas saat kejantanan itu menghunjamnya. Tubuhnya langsung menegang dan terpaku sejenak. Rama pun terperangah dibuatnya. Tak lama kemudian Sinta tampak begitu nyaman menerima susupan batang Ki Dargo di dalam tubuhnya. Saat istrinya mengerang kenikmatan di dalam pelukan dukun tua itu, ia pun ikut terangsang dan terpana dibuatnya.

Saat itu posisi istrinya berhadap-hadapan dengan sang dukun. Mereka bersetubuh dalam keadaan berdiri. Kaki kiri istrinya dinaikkan ke atas meja tamu oleh sang dukun. Istrinya berdiri dengan kaki kanannya. Keduanya berpelukan erat dalam keadaan bugil seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara.

Ia melihat wajah istrinya semakin manis dan mempesona dalam keadaan menuju orgasme karena merasakan kenikmatan seks. Bila ingin melihat kecantikan seorang wanita, lihatlah saat ia sedang dalam kenikmatan saat disetubuhi. Sejak ia mengenal Sinta, belum pernah sekali pun Rama melihat istrinya secantik saat itu! Yakinlah Rama seyakin-yakinnya kalau tempat istrinya yang pas memang di sisi dukun sakti mandra guna itu. Rama semakin bergairah penuh nafsu birahi saat melihat istrinya bersetubuh dengan liar dan buas bersama sang dukun.

Dengan bebasnya kini Ki Dargo mengayun-ayunkan pantatnya maju mundur dengan irama teratur dan kuat sambil mengulum puting susu istrinya yang menjulang indah itu. Posisi demikian amat menyenangkan bagi Ki Dargo. Dengan kedua kakinya yang kokoh dan kekar, Ki Dargo mampu menyetubuhi ibu muda cantik budak nafsunya itu dengan sempurna sekali pada posisi demikian.

Perempuan itu merasakan ujung kepala batang kejantanan Ki Dargo yang besar dan panjang mampu menyentuh leher rahim peranakannya. Rasa nikmatnya mengalir deras sampai ke ubun-ubun.

“Oh yeah, Dargo! Terus, terus….” pintanya merengek-rengek.

Sang ibu muda binal mulai merasakan dinding Vaginanya berdenyut-denyut seakan-akan hendak meledak. Tubuhnya mulai gemetaran saking hebatnya kenikmatan itu melanda dirinya. Ia merasakan sebentar lagi akan mencapai orgasme…. tapi…

Tiba-tiba saja Ki dargo melepaskan batang kemaluannya dari lubang surgawi milik istri Rama. Tampak jelas raut kecewa di muka Sinta karena perjalanannya menuju orgasme tiba-tiba terputus, padahal ia masih merasakan horny yang luar biasa!

Dukun sakti itu dengan tenaganya yang kuat lalu membopong tubuh molek Sinta. Dibawanya perempuan itu masuk ke dalam kamarnya sambil membentak suami ibu muda cantik itu.

“Rama, budakku! Kemarilah ikut masuk ke dalam kamar ini. Aku akan mengobati kemandulanmu. Ayo, cepat, Rama!”

Rama dengan patuh mengikuti perintah sang dukun sakti itu. Pada saat itu gairah nafsu bercinta istrinya sedang menggantung di ubun-ubunnya. Kini istrinya telentang penuh nafsu birahi yang minta segera dituntaskan. Nafsu syahwatnya mendera dan menyiksa batinnya karena tergantung di tengah permainan panas yang telah dikobarkan oleh Ki Dargo tadi.

“Ayolah, Dargo, sayang, hempaskanlah aku ke pantai nafsumu, Dargo,” ceracau manja istrinya merayu dukun sakti itu untuk segera menyetubuhinya kembali. Akan tetapi sang dukun dengan tegasnya memberi perintah kepada suaminya.

“Rama! Ayo, setubuhilah istrimu dan buahilah kandungan istrimu dengan air manimu. Cepatlah, Rama. Lihatlah istrimu sudah tak tahan lagi memendam rasa gairahnya. Nanti setelah engkau mengeluarkan manimu di dalam liang kenikmatan istrimu, aku akan menyempurnakannya dengan ilmuku agar kau mendapatkan keturunan yang kauharapkan.”

Dengan tubuh gemetaran karena menahan nafsunya, Rama mendekati istrinya. Gairah bercinta Rama menggebu-gebu setelah melihat persetubuhan istrinya yang sangat panas dengan sang dukun dalam posisi berdiri tadi.

“Ayolah, Mas Rama! Peluklah aku, Mas. Berilah aku kemesraan, Mas!”  ceracau istrinya tanpa malu-malu lagi karena desakan birahinya yang begitu memuncak. Keluarlah kata-kata kotor dari mulut istrinya sendiri yang membangkitkan gairah Rama.

Dengan sangat bernafsu Rama memasukkan kemaluannya secara terburu-buru ke dalam vagina istrinya yang cantik dan seksi itu. Disebabkan nafsunya yang tinggi dan permainan Rama yang begitu tergesa-gesa, hanya dalam waktu sekitar tiga menit Rama sudah tak dapat lagi membendung lahar kemesraannya.

“Oh, aku keluar…. Maaf, sayangku… Aku tak sanggup lagi… Maafkan aku yang loyo ini, sayangku,” keluh Rama di puncak kenikmatannya dengan nada menyesal.

Rama pun terkulai lemas dalam kenikmatan setelah menyetubuhi istrinya dalam waktu yang singkat di hadapan Ki Dargo. Air mani Rama yang tertumpah ke dalam liang istrinya sangat encer dan sedikit sekali.

Tampak jelas raut kecewa di wajah istrinya. Saat Ki Dargo mendekatinya, Sinta meliriknya dengan penuh harapan. Tubuhnya serasa kembali panas didera oleh hawa nafsu.

“Ini tak mungkin dapat membuahkan kandungan istrimu,” kata Ki Dargo saat jemarinya menelaah liang vagina Sinta yang baru saja disetubuhi suaminya secara singkat. Ki Dargo bahkan hampir tak dapat merasakan air mani Rama di liang kelamin istrinya itu.

“Aku akan melakukan sesuatu untuk mengantarkan air manimu yang masih muda dan encer itu ke pintu rahim istrimu dengan bantuan ilmu yang kumiliki,” tegasnya sambil mengangkangkan kedua paha Sinta.

Sebelum memulai, Ki Dargo meminumkan secangkir jamu ramuannya kepada istri Rama. Efeknya tampak nyata dalam hitungan detik. Wajah Sinta tampak begitu binal seperti betina yang sedang dalam puncak kesuburannya dan siap untuk dibuahi. Badannya gemetaran seolah tak sabar untuk dimasuki Ki Dargo.

“Lihatlah! Lihatlah, Rama! Bagaimana aku akan menyetubuhi istrimu yang cantik ini. Bagaimana aku akan melakukannya dengan penuh kemesraan, dengan batang kejantananku yang besar dan perkasa ini, yang akan mampu menerbangkan sukma istrimu mencapai puncak nirwana bersama-sama denganku dalam badai gairah kami berdua.”

“Istrimu akan kubuat berkelojotan dalam badai gairah bercintanya. Istrimu akan selalu merindukan persetubuhan ini. Ia akan selalu membayangkan dan merindukan batang kejantananku yang besar dan panjang ini. Bagaimana Rama?”

Dengan lesunya Rama menjawab.

“Baik, Ki Dargo…. Setubuhilah istriku! Berilah ia kenikmatan yang tak bisa kuberikan. Buahilah kandungannya melalui ragamu, Ki…”

Entah bagaimana bisa Rama mengucapkan kata-kata demikian itu padahal batinnya bertolak belakang dengan ucapannya sendiri. Itu dikarenakan pengaruh ilmu penguasa sukma Ki Dargo yang amat ampuh untuk menundukkan setiap orang yang telah bersedia menjadi budaknya.

“Rama, kau berani bersumpah?” kata Ki Dargo lagi.

“Sumpah, Ki! Aku menikmatinya saat engkau menyetubuhi istriku dengan kebuasan gairah nafsumu. Silakan, Ki! Engkaulah yang dapat menolong kami dalam pengobatan ini….”

“Dargo, kau dengar izin dari suamiku? Kau berhak sepenuhnya atas tubuhku… Aku sangat ingin kau setubuhi…” desah Sinta spontan menanggapi perkataan suaminya.

Sangat kontras perbedaan antara Rama yang dengan hormatnya memanggil Ki kepada dukun sakti itu dengan istrinya yang sudah begitu intim dengannya sehingga cukup memanggil namanya.

Ibu muda cantik itu sudah tidak sabar lagi menunggu kemesraan yang akan diberikan oleh Ki Dargo. Ia dengan gelisah berkelojotan menanti sentuhan mesra dari Ki Dargo. Perempuan itu telah kecewa serta frustrasi karena saat ia bersenggama dengan suaminya, sang suami tak dapat menuntaskan dengan sempurna ke puncak nafsunya. Maka ia merengek-rengek memohon kepada Ki Dargo.

“Dargo, sayangku! Aku adalah budak nafsumu. Ayo, Dargo! Berilah aku kejantananmu yang hitam dan besar ini. Nikmatilah tubuhku, Dargo! Puaskanlah aku, Dargo! Aku kekasihmu yang selalu akan merindukan percintaan ini…”

Tentu serta merta rengekan ibu muda itu telah membuat dukun tua perkasa yang sakti itu tambah bergairah liar dan buas.

Meskipun usia Ki Dargo sudah 50 tahunan, daya tahan Ki Dargo tiada tandingannya dalam hal olah asmara gama. Sedangkan Rama yang baru berusia 35 tahun sangat jauh kemampuannya di bawah Ki Dargo. Sedangkan ibu muda cantik itu sedang ranum-ranumnya dan harum-harumnya, ibarat buah mangga yang matang. Di usianya yang ke-28 tahun, wanita seumur istri Rama itu sedang berada dalam puncak gairah birahinya. Ibarat sekuntum bunga mawar yang sedang mekar-mekarnya, yang mengeluarkan keharuman yang menyengat birahi setiap lelaki yang memandangnya.

Rama telah menyia-nyiakan bunga cantik itu. Karena kesalahannya sendiri, kini bunga cantik miliknya itu telah jatuh ke tangan dukun yang amat sakti mandra guna, Ki Dargo.

“Oh, betina cantikku, apakah kau ingin menikmati manisnya tubuhku? Ayo, jilatilah seluruh tubuhku dengan lidahmu, sayang… Di situ dirimu akan mendapatkan manis dan nikmatnya gairah nafsumu yang tak terbendung lagi.”

Dengan patuh dan penuh perasaan, perempuan itu menjilati sekujur tubuh Ki Dargo di hadapan suaminya sendiri. Bau badan dukun sakti itu begitu khas. Pada penciuman Rama, baunya hampir seperti bangkai tapi sebaliknya pada penciuman istrinya, bagaikan harum cendana. Keringatnya terasa bagaikan manisnya madu di lidah istri Rama.

Setelah sekujur tubuh dukun itu habis dijilati oleh ibu muda cantik itu, akhirnya sampailah perempuan cantik itu ke sumber sarang madu yang terletak di selangkangan dukun tua itu. Tubuhnya bergetar sangat hebat saat ia menjilati batang kejantanan Ki Dargo yang besar dan panjang. Di situlah terletak puncak sari madu yang dijanjikan sang dukun.

Batang kejantanan itu dengan perlahan dan pasti mulai tegak dengan gagah perkasa saat jemari lentiknya membelai dengan penuh perasaan. Tubuh Sinta bergetar hebat. Dinding vaginanya serasa berdenyut-denyut manakala hangatnya serta aroma khas kejantanan, yang besar panjang dan hitam legam itu terhirup hidungnya. Gelora kedutan batang kejantanan itu menjalari telapak tangannya.

“Oh, sayangku, Dargo! Cepatlah, terbangkan aku dalam badai gairah nafsu liarmu,” pinta Sinta dengan penuh harap.

Ki Dargo menjilati puting susu istrinya Rama yang cantik itu dengan lidahnya yang kasar. Dengan kedua tangannya yang kekar, Ki Dargo mulai membuka jalan pendakian dengan merentangkan kedua kaki budak nafsunya disertai dengan belaian yang memabukkan.

Ibu muda cantik itu mengerang nikmat dan manja saat batang yang besar dan perkasa itu mulai menyeruak bibir vaginanya yang sempit. Padahal batang kemaluan Ki Dargo ukurannya amat luar biasa besar dan panjang.

Istri Rama yang cantik itu berkelojotan saat kejantanan Ki Dargo digesek-gesekkan dengan lembut di sela-sela bibir vaginanya dengan menyenggol-nyenggolkan kepala kejantanannya pada klitoris perempuan itu. Dipegangnya erat-erat pantat dukun tua itu seolah tak mau kedua kelamin mereka terpisah.

Budak nafsu sang dukun itu kini mengerang nikmat dengan histeris saat kejantanannya masuk setengahnya ke dalam liangnya yang sempit.

“Oh, yeah! Enak… eeenak, Dargo!”

Perih bercampur dengan kenikmatan serasa mengalir dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubunnya.

“Oh, Dargo, ammmmpuuuun, ammmpuuuun! Tuanku yang perkasa, cepat benamkanlah diriku dalam badai gairah nafsumu, Dargo.”

Ibu muda cantik itu kini menceracau tak karuan saat batang kejantanan sang dukun itu menghentak-hentak ke dasar rahimnya. Sempurnalah kini kepasrahan Rama sang suami saat ia melihat istrinya berkelojotan disetubuhi Ki Dargo dengan permainan yang meluluhlantakkan tubuh istrinya yang cantik.

Kini Rama menyadari kelemahan dirinya yang tak setangguh Ki Dargo. Ada rasa minder menghinggapi dirinya, baik dari segi keperkasaan maupun ukuran kemaluannya yang jauh di bawah Ki Dargo. Ia malah ikut menikmati persetubuhan istrinya dengan sang dukun sakti itu.

Kini Ki Dargo mencapai puncaknya bersama-sama dengan budak nafsunya yang cantik itu.

“Yeeeeah….!!!!” geramnya dengan suara yang berat memenuhi ruangan itu.

Croot….. croot…..

Tubuh istrinya yang cantik itu bergetar hebat saat air kenikmatan sang dukun menyemburkan kehangatan ke dalam liang senggama milik istrinya. Perempuan itu mendesis nikmat. Rasanya sampai ke ubun-ubun. Ki Dargo ikut terbeliak biji matanya saat batang kejantanannya diurut-urut oleh kedutan vagina yang sempit dan peret milik istri Rama. Nikmat sekali! Benar-benar persetubuhan yang sempurna!

Ibu muda cantik itu masih dalam keadaan tertindih di bawah tubuh kekar milik Ki Dargo untuk meresapi kenikmatan yang meluluhlantakkan sukma dan raganya. Ki Dargo pun belum mau mencabut batang kejantanannya dari lubang kenikmatan itu.

Ia masih merasakan betapa panjang dan lamanya kedutan vagina ibu muda yang cantik ini. Otot-otot vaginanya masih mengurut-urut batang kejantanannya yang tak pernah melemas walaupun telah meledakKan lahar panasnya.

Itu semua berkat ramuan yang diolahnya beserta mantera-mantera Asmara Gama yang dirapalkannya saat menyetubuhi ibu muda cantik istri Rama itu. Perempuan itu kini telah menjadi budak yang setia dan patuh padanya. Ki Dargo berbisik dengan mesranya di kuping Sinta.

“Apakah kau menikmati kejantananku, sayang?”

“Ya, tuanku yang perkasa! Aku menikmatinya. Aku akan selalu menikmatinya bersamamu dan juga bersama makhluk yang bertanduk itu. Kalian berdua telah mebuka mata hatiku. Selama ini hanyalah kegersangan yang kudapatkan dari suamiku. Kini aku tahu betapa dahsyatnya kenikmatan yang telah kalian berdua berikan kepadaku. Oh, kekasih perkasaku, Tuan Dargo… Aku puas. Terima kasih, Tuan. Aku sangat menikmati disetubuhi olehmu,” kata istri Rama sungguh-sungguh sambil menatap dalam-dalam mata Ki Dargo yang menindih tubuhnya.

Ki Dargo sangat senang mendengar pengakuan gundiknya yang tulus itu. Dikecupnya kening dan bibir istri Rama itu.

“Baiklah! Engkau akan segera mendapatkan anak dengan bantuan air maniku yang telah menyuburkan air mani suamimu saat ia tanamkan ke dalam rahimmu,” kata Ki Dargo.

“Air maniku akan mendewasakan air mani suamimu yang encer itu. Dengan masuknya air maniku ke dalam rahimmu, kau akan hamil, sayangku,” kata Ki Dargo sambil mengelus-elus rambut ibu muda itu dengan lembut.

Dengan mengerang manja, ibu muda cantik itu memeluk erat tubuh kekar dukun sakti itu. Ia mengerang kenikmatan karena batang kejantanan Ki Dargo mengayun dan menghentak-hentak lembut di liang vaginanya saat berbisik di telinganya. Ujung kejantanan itu berkedut-kedut di pintu dasar rahimnya.

Dengan masih terbenamnya batang kemaluannya di liang ibu muda Sinta, Ki Dargo memanggil suami perempuan itu.

“Rama, kemarilah! Cumbuilah istrimu ini. Ayo, cepat!”

Dengan patuhnya Rama menjalani perintah itu. Ia mendekati sepasang manusia berbeda kelamin yang sedang bersetubuh itu dari atas kepala si perempuan.

“Ciumlah bibirnya, Rama!”

Rama pun mecium bibir istrinya. Sinta membalasnya dengan ciuman yang mesra pula.

Sementara suami istri itu berciuman bibir dengan romantisnya, Ki Dargo dengan perlahan mulai menggenjot liang kenikmatan perempuan itu. Dukun sakti itu kembali menyetubuhi Sinta yang sedang bermesraan dengan suaminya!

“Ayo, Rama, hisaplah puting susunya!” perintah Ki Dargo setelah mereka berada dalam posisi itu selama beberapa menit.

Dengan patuhnya Rama mengisap-isapnya sehingga istrinya menggelinjang kenikmatan dengan mengeluarkan suara desahan-desahan birahi.

“Oh, sayangku, oh tuanku yang perkasa, Dargo darrrrrgo, ammmmpun… Oh yeah, dargo kekasihku yang perkasa, akuuuu sudah mau keluar. Cepat hempaskanlah aku dalam pusaran badai nafsumu.”

Ibu muda itu sudah tak menghiraukan lagi Rama walaupun suaminya itu ikut juga mencumbuinya. Baginya, keintimannya dengan Ki Dargo lah yang memberinya kepuasan total. Dengan menceracau tak keruan perempuan itu berbisik pada suaminya.

“Oh, Mas Rama, batang kejantanan Ki Dargo ini enak, Mas. Aku senang disetubuhi olehnya. Aku akan selalu merindukan kenikmatan ini, Mas…” kata perempuan itu membuat pengakuannya yang jujur sambil menatap dalam-dalam suaminya.

Kata-katanya segera terputus dan matanya kembali terpejam karena menahan kenikmatan dari genjotan Ki Dargo pada lubang kelaminnya. Ia hanya menggenggam erat-erat kedua tangan suaminya sambil memasrahkan tubuhnya kepada dukun durjana itu.

Rama hanya bengong tak bisa berbuat apa-apa seperti orang bodoh melihat istrinya yang sedang berjuang mendapatkan puncak kenikmatan. Peluh istrinya beserta peluh Ki Dargo tampak sudah bersatu menyelimuti tubuh keduanya. Ia lalu sedikit menjaga jarak supaya tak mengganggu Ki Dargo yang sedang asyik menyebadani istrinya yang cantik itu. Dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri betapa bahagianya istrinya dibawa Ki Dargo mengarungi samudera birahi. Ia hanya bisa ikut bahagia melihat istrinya seperti itu.

Memang perempuan itu hanya akan menikmati rasa manis madu birahi dari sang dukun Ki Dargo. Satu-satunya manusia laki-laki yang telah membuat dirinya melambung kembali ke awang-awang indahnya persetubuhan. Kenikmatan yang tak pernah didapatkannya dari suaminya yang loyo. Ki Dargo menggeram hebat lagi saat ia melepaskan lahar panasnya.

“Ayo, budak nafsuku, nikmatilah kejantananku! Ayooo, yeeeah, yeah!! Ayo, cantikku! Mana yang jantan, aku atau Rama? Ayo, jawablah, budak manisku…” kata Ki Dargo dengan kurang ajarnya.

“Oh, yeeah…. ammmmpuuun! Engkaulah yang jantan, Darrrrgoooo…..!!!” jerit Sinta histeris di depan mata suaminya.

Maka jebollah bendungan lahar panasnya Ki Dargo. Panas dirasakan oleh istrinya Rama di dalam perutnya sampai ke ubun-ubun.

Segera dilepaskannya genggaman tangannya pada suaminya. Kedua tangannya serta merta berganti memeluk tubuh Ki Dargo erat-erat. Perempuan itu tampak mencapai orgasme yang kesekian kalinya di tangan dukun tua itu.

Vaginanya terasa berkedut-kedut sehingga memijat-mijat penis Ki Dargo yang masih menyemprotkan air maninya. Dengan tubuh berkelojotan dan mata mendelik ke atas, ibu muda itu menerima kenikmatan yang amat dahsyat dari sang perkasa dukun sakti mandra guna.

Keduanya lantas berciuman bibir dengan nafsunya, seperti dua orang yang sudah lama sekali tak bertemu. Batang kemaluan Ki Dargo masih berdenyut-denyut memompa sisa-sisa air kenikmatannya di dalam liang kemaluan istri Rama. Vagina perempuan itu pun masih memijat-mijat batang kelamin kekasihnya. Keduanya berpelukan erat sekali. Kedua mulut mereka terus bersatu saling bertukar ludah dan membelit lidah.

Mereka berdua bertahan pada posisi itu selama sepuluh menit, sebelum keduanya lalu tidur berpelukan dalam keadaan bugil. Rama melihat senyuman manis menyungging di bibir istrinya. Nampak sekali betapa bahagianya perempuan yang disayanginya itu! Ki Dargo pulas sambil mengeluarkan dengkuran yang sangat keras tapi ibu muda Sinta tampak sama sekali tak terganggu di dalam pelukannya.

Rama hanya duduk merapat ke pojok kamar sambil terus memperhatikan istrinya yang terlelap telanjang bulat di dalam dekapan Ki Dargo yang juga bugil. Ia tak mau mengganggu ketenangan dan kebahagiaan mereka berdua.

Lebih dari dua jam kemudian barulah keduanya bangun. Istri Rama segera mengenakan kembali semua pakaiannya tanpa membersihkan dirinya sama sekali. Tibalah saatnya suami istri itu berpamitan pulang sambil mengucapkan terima kasih kepada Ki Dargo.

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Sinta – Ilmu Gaib Penakluk Sukma (Bagian 1)

Original Author: Unknown

Remake: Copyright 2010, by Mario Soares

(Istri Selingkuh, Seks dengan Siluman, Seks dengan Pria Tua)

Pada tengah malam itu Ki Dargo sedang merapalkan mantera-mantera. Di hadapannya ada selembar kain hitam yang di atasnya ada sebuah perapian dupa kemenyan. Di situ juga ada selembar celana dalam dan BH milik Sinta yang tadi siang sudah habis-habisan digarap Ki Dargo.

Dukun itu bertekad untuk tak akan melepaskan ibu muda tersebut begitu saja. Ki Dargo sadar bahwa pasiennya yang satu ini begitu cantik dan seksi, dengan payudaranya yang teramat indah serta bentuk vaginanya yang menggairahkan. Postur tubuh perempuan itu tinggi semampai nyaris 170 cm dengan seraut wajah yang mungil. Bola matanya seakan-akan selalu mengundang gairah laki-laki untuk menidurinya.

Beruntunglah Rama mempunyai seorang istri yang cantik dan menggairahkan. Jika berjalan ia teramat merangsang dan mempesona setiap laki-laki. Ki Dargo langsung bisa mencium keistimewaan Sinta begitu perempuan itu mendatanginya untuk berobat.

Dengan kelicikan dan ilmu hitamnya yang tinggi, Ki Dargo telah memperdaya ibu muda cantik itu habis-habisan siang tadi. Disetubuhinya Sinta dengan buas di kamar prakteknya sebagai syarat untuk mendapatkan keturunan. Padahal Rama, suaminya, sedang menungguinya dengan setia di luar kamar. Sehabis disebadani, perempuan itu lalu memberikan CD dan BH-nya kepada dukun cabul itu untuk ritual mendapatkan keturunan. Sedangkan Ki Dargo memberikan ramuan jamu yang harus diminum rutin oleh Sinta.

Maka malam itu Ki Dargo merapal ajian Pengikat Sukma dan ajian Asmara Gama pembangkit gairah. Selain membantu Sinta segera hamil, Ki Dargo juga bermaksud menguasai jiwa dan raga ibu muda itu dengan ilmu sakti yang didapatnya dari bertapa di gunung Krakatau dulu.

“Hai penghuni elong-elong sejatinya perempuan! Malam ini sukmaku akan mendatangimu untuk memberikan kenikmatan padamu. Maka nikmatilah batang kejantanan Setan Koberku. Nikmatilah bara nafsu birahi makhluk penghuni kegelapan!”

Pada malam itu juga, istri Rama seperti merasa ada bayangan yang menggumulinya. Kali ini dalam ilusinya dia seperti bercumbu dengan seorang lelaki perkasa dan tangguh. Lelaki itu membuat dirinya terasa di awang-awang dengan nafsu birahi yang membara. Lelaki itu adalah perwujudan Setan Kober, jin jahat tingkat tinggi yang sangat tinggi nafsu seksnya.

Batang kejantanan makhluk Krakatau itu telah menghunjam ke dalam lubang kenikmatannya. Ibu muda cantik itu sampai terperangah dibuatnya. Betapa besar dan panjang dirasakannya batang kejantanan itu, seakan-akan hendak merobek vaginanya. Akan tetapi, rasa sakit itu lalu hilang diganti oleh rasa kenikmatan yang tiada taranya.

Makhluk itu menggeram kenikmatan. Perempuan itu mengerang juga kenikmatan seraya tangannya memegangi kepala makhluk tersebut. Ibu muda itu terkejut bukan main. Ketika diraba olehnya, ternyata kepala lelaki tersebut ditumbuhi tanduk. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya sepasang mata merah saga mengerikan, sedang menatap dirinya dengan penuh nafsu gairah yang membara.

Anehnya, rasa takut dan seram dalam jiwanya seketika menghilang saat makhluk laki-laki bertanduk itu meniupi wajahnya dengan hembusan yang lembut seraya berkata.

“Dekaplah aku, sayang. Aku akan memberikan kenikmatan abadi alam ghaib. Kau akan merasakan betapa indahnya gelora asmaraku yang akan kau rasakan malam ini.”

Ibu muda cantik itu pun semakin terpukau dan terangsang oleh bisikan-bisikan gairah dari makhluk itu. Ia mengerang saat ayunan pantat sang pejantan perkasa alam kegelapan semakin buas menghunjami vaginanya tanpa ampun.

“Hmmmm…. yeaaaah….!” Sinta tak mampu menolak kenikmatan yang menyelimuti sekujur tubuhnya.

“Hai, manusia betinaku yang menggairahkan! Kini dirimu telah menjadi pemuas nafsu kegelapanku. Nikmatilah kejantananku malam ini dengan penuh gelora nafsu manusiamu…. Sekarang! sekarang!” desak Setan Kober itu seolah tak sabar.

“Jawablah pertanyaanku, hai betina liarku. Apakah kau bersedia jadi budak nafsuku?” kata makhluk bertanduk itu lagi sementara kedua makhluk berbeda alam itu semakin menyatukan diri mereka.

“Hey! Jawablah, hai betinaku yang cantik. Ayo, cepat katakan kepada sang penguasa sukmamu!” katanya sambil terus menggenjot Sinta yang semakin kewalahan menahan nafsunya.

Pada saat bisikan itu menggema, ibu muda cantik itu sedang mengalami kenikmatan yang begitu dahsyatnya. Kenikmatan yang diberikan oleh makhluk itu sampai ke ubun-ubunnya dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Ia merasa seperti kapas yang tertiup angin, melayang-layang di angkasa dideru nafsu. Tubuhnya sampai melengkung ke depan bagaikan busur panah, sambil memeluk erat pundak sang perkasa kegelapan. Ia pun berkata menuruti kata hatinya yang telah buta oleh kenikmatan yang menderanya.

“Sang perkasa, puaskanlah aku dengan kejantananmu….! Aku adalah budak nafsumu…. selamanya!”

Entah ada kekuatan dari mana yang mendorong Sinta berkata seperti itu. Ia benar-benar memasrahkan dirinya sepenuhnya kepada pejantannya yang berupa Setan Kober.

“Ayolah, sang perkasa, luluh lantakkan aku dengan keperkasaan batang kejantananmu….” desah ibu muda itu.

Saat itu ia telah mengalami beberapa kali orgasme namun nafsu gairah bercintanya tidak pernah surut. Mungkin ini disebabkan ramuan jamu dari Ki Dargo yang diminum olehnya.

Anehnya, suara ceracauan dan erangan ibu muda cantik yang sedang bersetubuh dengan makhluk bertanduk itu tidak sekalipun mengganggu tidur suaminya yang sedang berada di samping mereka. Bahkan ia nampak semakin pulas saja saat sang istri yang sedang disetubuhi sang pejantan kegelapan melihat ke samping ke arah sang suami yang tergolek di dekatnya.

Itu semua karena pengaruh bau badan makhluk lelaki bertanduk itu. Badannya mengeluarkan bau-bauan khas dengan aroma bunga setaman teratai kegelapan yang akan membuat seorang manusia laki-laki tertidur sangat pulas. Di saat yang sama, aroma teratai tersebut memiliki efek yang berbeda terhadap seorang manusia perempuan, yaitu semakin menambah gairah nafsunya untuk bercinta dengan menggebu-gebu. Terbukti nyata efeknya pada kejadian malam itu. Sementara suaminya, Rama, tertidur pulas, istrinya sibuk melayani nafsu sang perkasa kegelapan dari gunung Krakatau.

Makhluk itu lalu melepaskan batang kemaluannya yang panjang dan besar dari lubang kenikmatan sang betina binal. Sang ibu muda cantik itu mengerang saat batang kemaluan makhluk tersebut dicabut secara tiba-tiba. Ia merasa seperti kehilangan sesuatu yang begitu nikmat.

“Ouuuh.. setan…!” jeritnya tertahan seperti kecewa.

“Ayo, betinaku yang cantik, sekarang balikkanlah tubuhmu membelakangiku. Aku akan memberikan kenikmatan yang lebih hebat lagi,” kata Setan Kober seolah memberikan penjelasan.

Tanpa diberi komando untuk kedua kalinya, Sinta menuruti perintah tuannya dengan patuh. Ia tak ingin batang kemaluan pejantan itu terlepas terlalu lama dari tubuhnya.

“Mari, cepatlah budak nafsuku!,” kata setan itu seolah tak sabar menunggu budak cantiknya yang sedang membalikkan badannya dan menumpukan badannya dengan kedua tangan dan kedua lututnya seperti seekor anjing betina yang akan dikawini.

“Rasakanlah ini,” kata si setan tanpa basa-basi. Bless… maka masuklah batang kemaluan sang perkasa ke dalam vaginanya.

Kali ini ibu muda itu mengerang nikmat lebih hebat lagi saat kejantanan makhluk itu menghunjamnya dari belakang. Dengan buasnya sang makhluk bertanduk mengayunkan pantatnya maju mundur dengan kerasnya. Mata perempuan itu terbeliak-beliak ke atas saat menerima kenikmatan. Ceracaunya yang ngawur seperti kesetanan mulai terdengar lagi.

“Oh, yeah, yeah…. oh, kekasihku, sang perkasa! Bawalah aku ke puncak kenikmatan bersama denganmu…. Oh, oh, ampun…. ampun…!”

Ia merasakan dinding vaginanya mulai basah dan berdenyut-denyut karena kenikmatan. Sementara itu sang perkasa semakin buas menghunjaminya tiada henti-henti. Dengan suara serak dan menggeram sang perkasa bertanduk berbisik di telinga perempuan itu.

“Betina liarku yang cantik, aku akan melepaskan air kenikmatanku dan menempatkannya di dalam rahimmu….” katanya menandakan bahwa sebentar lagi mereka akan memulai bagian terpenting dari ritual seks malam itu.

“Haeeerm, air kenikmatanku akan membuatmu tetap cantik dan awet muda dan tak akan pernah tua. Juga tubuhmu akan selalu nampak menggairahkan bagi siapa saja yang memandangmu. Mulai hari ini, kau juga akan membuka dirimu untuk dinikmati oleh setiap lelaki yang tergoda padamu,” kata Setan Kober merapalkan kutukannya kepada wanita cantik itu. Setan itu telah mengutuk Sinta menjadi wanita binal haus seks yang tak akan sungkan untuk bersetubuh dengan tiap lelaki!

Sambil terengah-engah kenikmatan karena vaginanya terus-menerus digenjot pejantan kegelapan, Sinta berusaha mendengarkan dengan seksama semua instruksi kekasih sekaligus tuannya itu.

“Dengarkanlah manusia betinaku, walaupun mulai sekarang kau akan bersetubuh dengan berbagai macam lelaki, kau tak akan pernah puas bercinta dengan manusia lain, kecuali dengan Ki Dargo dan aku sendiri sebagai penguasa kegelapan Mayapada ini,” lanjut setan itu.

Bagaikan dihipnotis, Sinta menanamkan semua perkataan setan itu lekat-lekat di dalam benak bawah sadarnya. Ia yakin sepenuhnya hanya akan mendapatkan kepuasan seks yang sejati dari Ki Dargo dan Setan Kober pengikutnya.

“Kini tibalah saatnya kulepaskan air kenikmatanku ke dalam rahimmu yang subur ini,” kata makhluk bertanduk itu akhirnya.

Saat itu sang ibu muda cantik sudah tak dapat bersuara lagi. Kenikmatan ragawi dirasakan begitu dahsyatnya dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Ia merasa seperti berada di awang-awang, melayang-layang penuh kenikmatan.

Orgasme yang kesekian kalinya ini membuatnya kini hanya samar-samar mendengar ucapan terakhir makhluk bertanduk yang sedang menyetubuhinya dengan penuh kebuasan yang memabukkan itu. Ibu muda cantik itu berkelojotan dengan sensasi kenikmatan yang menggila.

Makhluk bertanduk itu mulai merasakan sesuatu akan keluar dari dalam batang kemaluannya yang besar. Hunjamannya pada lubang kenikmatan budak nafsunya mulai tak teratur lagi, hingga akhirnya sang perkasa mengaum, mengerang nikmat setinggi langit saat lahar panasnya menyembur di dalam lubang kenikmatan sang betina cantik budak setianya.

Ibu muda berparas cantik itu mencapai orgasme yang kelima kalinya, bertepatan saat air mani sang pejantan perkasa menyembur dengan amat derasnya. Cairan itu terasa panas, menghangatkan rahimnya dengan penuh kenikmatan, membuat dirinya berkelojotan nikmat dengan mata terbeliak ke atas. Kepalanya mendongak ke atas karena rambutnya yang panjang dijambak ke belakang oleh Setan Kober. Serasa semburan air mani makhluk itu menembus hingga ke ubun-ubunnya.

Sinta terjatuh tertelungkup telanjang bulat di atas ranjang, tepat di samping suaminya yang masih pulas berpiyama lengkap. Ibu muda itu tampak kecapekan dan akhirnya tertidur pulas setelah menikmati persetubuhan paling hebat yang pernah dialaminya. Air mani Setan Kober sedikit demi sedikit tampak meluber keluar dari lubang vaginanya dan membentuk genangan membasahi ranjang.

Makhluk bertanduk itu tampak puas melihat hasil kerjanya. Ia kini telah selesai menjalankan tugasnya bersekutu dengan seorang dukun yang bernama Ki Dargo untuk memberi ibu muda cantik itu keturunan.

Pada saat itu juga, di tempat Ki Dargo, sang dukun baru saja selesai melepas air kenikmatannya di selembar celana dalam milik ibu muda cantik pasiennya. Saat makhluk bertanduk itu sedang menggumuli Sinta, Ki Dargo juga melakukan ritual dengan merapal mantera-mantera dan bermasturbasi pada selembar celana dalam milik istri Rama.

Dengan melumuri celana dalam Sinta dengan air maninya, sang dukun mengirimkan ilmu pembangkit gairah kepada perempuan yang sedang disetubuhi oleh makhluk bertanduk dari Krakatau itu.

Saat disetubuhi, perempuan itu merasakan kadang-kadang wajah sang perkasa kegelapan berubah-ubah wujudnya. Kadang ia merasa seperti melihat wajah Ki Dargo sedang menyetubuhi dirinya. Kadang ia seperti melihat wajah makhluk itu berubah menjadi suaminya. Di saat ia tengah didera oleh kenikmatan yang diberikan oleh makhluk bertanduk itu, ia masih sempat juga berpikiran jernih walau hanya sesaat. Memang makhluk tersebut adalah suruhan Ki Dargo untuk menggauli dirinya agar mereka berdua bisa mendapatkan kepuasan seksual dari dirinya.

Lengkaplah sudah, ibu muda cantik itu kini telah menjadi budak nafsunya Ki Dargo dan makhluk bertanduk dari alam kegelapan abadi di gunung krakatau.

Pagi harinya ia terbangun agak kesiangan. Tubuhnya masih bugil di bawah selimut. Makhluk bertanduk itu memang menyelimuti tubuhnya dahulu sebelum pergi meninggalkannya semalam. Tidak dijumpainya suaminya yang telah berangkat ke kantor. Tinggallah ia seorang diri di rumah sambil merenungkan kembali apa yang telah terjadi malam tadi.

“Oh, apakah aku bermimpi semalam? Kalau hanya mimpi, kenapa ini seperti benar-benar terjadi?” keluhnya membatin. Memang dirasakan tubuhnya amat letih dan selangkangannya serasa amat nyeri serta memar seperti kena benda yang besar sekali namun nikmatnya serasa masih menjalari seluruh tubuh seksinya.

Lalu ia tuangkan ramuan jamu pemberian Ki Dargo ke dalam gelas. Setelah meminum ramuan tersebut, tubuh perempuan itu terasa mulai segar kembali dan penuh gairah kembali untuk bercinta. Itulah hebatnya khasiat ramuan Ki Dargo si dukun sakti.

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Disetubuhi Makhluk Haus Seks Penghuni Pusaka

Jin khodam Jolodoro yang menghuni pusaka gada kuno itu kerap menyetubuhinya….

Copyright 2010, by Hesti Indra P & Mario Soares

(Istri Selingkuh, Genderuwo)

Kejadian ganjil ini sudah terjadi berulang-ulang namun Yessy tak pernah berburuk sangka. Sejak tiga bulan terakhir, suaminya jadi jauh lebih sering meminta jatah seks kepadanya. Yessy sampai mengira kalau Anton, suaminya itu, meminum obat perangsang semacam viagra tapi ia merasa sungkan bertanya.

Yessy masih sangat ingat awal terjadinya perubahan ini. Suatu malam, di saat Yessy dan Anton terlelap dalam kegelapan, Yessy merasa dibangunkan suaminya. Ia menggelinjang kenikmatan sewaktu dengan buas suaminya mencumbu dirinya sehingga birahi dirinya terbangkitkan.

Yang membuat ia agak terperangah, ukuran “tongkat komando” yang memasuki dirinya terasa sangat lain, jauh lebih besar dari biasanya. Ditambah lagi Anton terasa begitu perkasa mempermainkan batang kelaminnya itu. Benar-benar berbeda dari biasanya! Singkatnya, Yessy benar-benar terpuaskan malam itu. Anehnya, selama persetubuhan berlangsung, mata Yessy tak pernah bisa dibuka.

Apa pun, Yessy merasa sangat senang dengan perubahan ini. Sejak malam itu, Anton yang biasanya hanya minta jatahnya seminggu sekali, kali ini jadi dua kali sehari. Yessy sama sekali tidak merasa kewalahan karena akhirnya ia sadar kalau frekuensi seperti itulah yang paling pas buat dirinya. Karena itu Yessy jadi semakin sayang saja kepada suaminya.

Satu hal yang membuat Yessy heran, tiap paduan kasih itu terjadi, kedua matanya seolah tak pernah bisa dibuka. Ia hanya bisa merasakan sentuhan-sentuhan erotis suaminya yang jadi begitu perkasa, melambungkan dirinya ke puncak kenikmatan sampai berkali-kali.

Anehnya di lain kesempatan ia dapat pula bercinta dengan suaminya dengan mata terbuka. Cuma kok Anton terasa tak sehebat saat matanya tak dapat dibuka? Pada saat seperti itu, Anton jadi terasa biasa-biasa saja.

“Ah, mungkin karena suamiku kadang kelelahan kerja?” pikir Yessy.

Akhirnya hal tersebut sudah menjadi rutinitas Yessy sehari-hari sampai akhirnya Yessy menemukan sesuatu yang sangat mengejutkannya.

Suatu hari Anton harus melakukan bisnis di luar kota sehingga ia pamit tak pulang. Malam itu Yessy tidur sendirian. Saat terlelap, ia merasakan lagi sentuhan-sentuhan perkasa yang sudah terlalu sering ia rasakan. Dalam keadaan setengah tidur, ia melayani permainan yang menggairahkan itu. Malam itu Yessy menjalani hubungan seks yang benar-benar dahsyat sehingga melemaskan seluruh persendiannya. Ia terlelap dalam kepuasan yang tak terkira.

Paginya ketika sudah benar-benar tersadar, mata Yessy terbelalak mendapati dirinya telanjang bulat sendirian di atas tempat tidur. Tak ada seorang pun di sisinya karena ia ingat suaminya memang tak pulang tadi malam. Ketika diraba selangkangannya, terasa berlendir penuh dengan bekas sperma. Jadi itu bukan mimpi, ia memang sudah menjalani persetubuhan yang hebat tadi malam, tapi dengan siapa?

Tak berapa lama kemudian, terdengar pintu diketuk seseorang. Ketika dibuka, ternyata Anton, suaminya, baru pulang. Jadi benarlah kalau yang menyetubuhinya dengan begitu perkasa semalam bukanlah suaminya. Yessy benar-benar dibuat heran, di samping tentu saja terkejut karena menyadari kalau selama ini ia telah menduakan suaminya, dengan melayani nafsu seks lelaki lain.

Malam berikutnya, kejadian serupa kembali terulang. Saat ia tidur bersama Anton di ranjang, Yessy merasakan matanya tak dapat dibuka dan ia kembali menerima serangan cumbuan yang ganas. Walaupun kini Yessy tahu kalau makhluk yang sedang mencumbunya bukan Anton, ia seolah tak kuasa mencegahnya. Ia sudah terlalu terbiasa dengan permainan yang dahsyat itu sehingga merasa ketagihan.

Karena itu, ia sama sekali tak menolak saat makhluk itu mulai menyisipkan batang kelaminnya ke dalam lubang kelaminnya untuk memadu kasih. Bedanya dengan malam-malam sebelumnya, kini Yessy menyadari sepenuhnya kalau ia sedang melakukan persetubuhan dengan lelaki selain suaminya. Anehnya, hal tersebut malah semakin menggairahkan dirinya karena ia tahu suaminya sedang terlelap tidur tepat di sampingnya saat ia bersebadan dengan hebatnya bersama makhluk gaib itu.

Pusaka Godo Kyai Jolodoro, yang khodam penunggunya suka ngeseks (Foto: Hesti Indra P)

Pusaka Godo Kyai Jolodoro, yang khodam penunggunya suka ngeseks (Foto: Hesti Indra P)

Demikianlah, pada malam-malam berikutnya Yessy tidak pernah menolak dan tetap dengan setia melayani kekasih gelapnya. Ia sadar kalau ia sudah mulai berselingkuh. Perasaannya kepada Anton jadi kurang bergairah, sebaliknya ia dengan harap-harap cemas selalu menanti kedatangan kekasih barunya. Timbul rasa rindu yang sangat mendalam untuk disentuh, dicumbu, dimasuki, dan digumuli oleh makhluk halus yang tak jelas bentuk maupun identitasnya itu.

Seolah ada kontak batin, kelihatannya si makhluk halus tahu kalau Yessy sudah menyadari keberadaan dirinya yang bukan suaminya dan sudah bisa menerimanya. Walaupun Yessy tetap tak mampu melihat selama mereka berhubungan seks, makhluk itu lama-kelamaan tidak menyaru lagi dalam wujud suaminya. Melalui indera peraba dan penciumannya, Yessy dapat mengetahui dengan jelas perbedaan fisik makhluk itu dengan suaminya.

Makhluk itu lebih tinggi daripada suaminya, paling tidak mungkin sekitar 180 cm. Badannya lebih berotot dan keras, beda dengan tubuh suaminya yang lembek karena jarang berolah raga. Yessy bisa merasakan juga perut kekasihnya yang buncit, seperti perut orang yang sering minum bir.

Sekujur tubuh makhluk itu seolah dilapisi minyak, termasuk di bagian batang kelaminnya yang ekstra besar. Minyak di bagian terakhir ini terutama sangat dirasakan manfaatnya saat mereka berdua bercinta. Walaupun besar, penis kekasihnya itu bisa keluar masuk kemaluan Yessy dengan relatif mudah sehingga tidak menimbulkan rasa sakit. Sebaliknya, malah memberikan sensasi luar biasa yang tak pernah dirasakan Yessy sebelumnya dari suaminya.

Bau badan kekasih gelapnya itu pun berbeda dari suaminya, bercampur antara bau keringat yang menyengat dan bau sangit. Anehnya, Yessy sama sekali tak menganggapnya sebagai bau yang tak sedap. Malah sebalikya bau badan itu seolah membangkitkan gairahnya untuk berhubungan seks. Benar-benar hal yang tak bisa dijelaskan oleh akal sehat!

Saat berciuman, Yessy juga bisa merasakan gigi kekasihnya yang besar bahkan memiliki taring! Awalnya Yessy merasa takut tapi hal itu bisa diatasinya karena makhluk itu adalah pencium yang sangat handal. Mereka berdua bisa berciuman mulut selama setengah jam tanpa henti! Saling mengulum, saling membelitkan lidah, dan saling menyedot lidah dan ludah lawan mainnya. Yessy sangat menikmati keintiman seperti itu, apalagi jika kekasihnya melakukan french kiss sambil menggenjoti dirinya…

Selain mengungkapkan bentuk fisik aslinya, makhluk itu pun mulai membuka perilaku aslinya yang maniak seks kepada Yessy. Tak jarang makhluk itu menyisipkan penisnya ke dalam lubang anus Yessy untuk melakukan seks anal, ataupun menyetubuhi ibu muda itu di mulutnya yang mungil. Walaupun awalnya kaget, Yessy hanya bisa pasrah dibimbing kekasihnya untuk ikut serta melakukan praktek-praktek seks yang gila itu, yang tak pernah dilakukannya sebelumnya dengan orang lain termasuk dengan suaminya sendiri.

Yessy mulai belajar banyak hal, seperti mencapai orgasme melalui anal seks maupun meminum cairan kental sperma kekasihnya yang rasanya bercampur antara asin dan menyengat. Makin lama Yessy merasa semakin dekat dengan kekasih gelapnya itu. Sebaliknya ia bisa merasakan kalau makhluk itu pun semakin mencintainya!

Yessy bahkan sudah punya panggilan sayang sendiri bagi makhluk itu. Kalau sebelumnya ia memanggilnya dengan “Anton” karena menyangka ia adalah suaminya, kini ia selalu memanggil makhluk itu dengan panggilan “Mas” karena ia tak tahu namanya tapi logat asli makhluk itu seperti lelaki Jawa. Beda dengan dirinya maupun suaminya yang keturunan China Medan.

Walaupun sebetulnya sudah merasa nyaman menjalani kehidupan barunya, tetap saja ibu muda yang belum memiliki anak itu penasaran akan identitas kekasih gelapnya itu. Mulailah Yessy mencari tahu kenapa hal tersebut terjadi. Ia berpikir, apa mungkin rumahnya angker? Kalau benar angker, kenapa baru terjadi sekitar tiga bulan belakangan ini? Mereka berdua sudah mendiami rumah itu beberapa tahun lamanya. Banyak pertanyaan berkecamuk dalam benaknya namun ia tak mampu memecahkan misteri kenikmatan itu.

Merasa ada yang ganjil dalam kehidupan ranjangnya, Yessy lalu mendatangi seorang pewaskita di daerah Matesih. Dari paranormal itu ia mendapat penjelasan tentang peristiwa aneh yang dialaminya selama ini.

Sekitar tiga atau empat bulan sebelumnya, Yessy ingat kalau Anton didatangi sahabatnya yang bernama Bambang Rongsok. Ia dijuluki “Rongsok” karena suka berburu barang-barang yang menurut kebanyakan orang rongsokan tapi menurut pendapat pribadinya adalah barang berharga. Waktu itu Bambang membawa dua buah kayu pemukul seperti gada.

“Kayu apa ini, Mbang?” tanya Anton agak heran.

“Ini pusaka peninggalan ayahku.”

“Pusaka? Kok berbentuk kayu?” tanya Anton lagi.

Mulailah Bambang Rongsok bercerita mengenai dua buah pusaka gada kayu tersebut, Katanya, semasa penjajahan Belanda dahulu, banyak para pejuang mencari sipat kandel, senjata yang sekaligus berfungsi sebagai jimat kekebalan, termasuk Pak Supan, ayah Bambang. Dengan dua buah pusakanya ini ia berjuang mengusir Belanda. Entah sudah berapa korban meninggal akibat dikepruk hancur kepalanya dengan gada ini.

Pak Supan pernah bercerita pada Bambang mengenai sejarah dua buah pusakanya itu. Yang besar, berasal dari kayu jati Donoloyo yang terkenal kekeramatannya. Benda itu didapat Pak Supan saat ia disuruh gurunya bertapa kungkum di Bengawan Solo. Sebagai jawaban dari laku tirakatnya, ada kayu watang (terapung) yang selalu menyangkut di tubuhnya. Meski dihanyutkan, anehnya kayu watang itu kembali lagi dan menyangkut lagi di tubuhnya. Akhirnya pusaka itu dibawa ke tempat guru spiritualnya.

Oleh gurunya dibenarkan, kalau memang pusaka ini akan ampuh digunakan untuk sipat kandel dan yang paling tepat dibuat semacam alat pemukul atau disebut godo alias gada. Menurut sang guru, kayu watang ini berasal dari hutan keramat Donoloyo. Kayu ini konon dijaga sesosok makhluk gaib (jin) yang berwujud laki-laki hitam tinggi besar, sangat perkasa, memiliki taring dan bermata merah menyala.

Kelemahan gada ini, jin khodamnya paling tidak tahan menahan nafsu seksualnya bila dekat dengan wanita. Makanya saat menyimpan agar dijauhkan dari para wanita. Untuk meredam energi negatifnya itu, sang guru memberi pusaka pendamping berupa gada kecil yang terbuat dari Galih Asem. Asal saat menyimpannya selalu disandingkan dengan Galih Asem, energi jahat gada jati itu dapat teredam.

“Pusaka ini maksudmu mau diapakan?” tanya Anton.

“Sejak Bapakku meninggal, lalu pusaka ini kurawat, keluargaku malah sakit-sakitan melulu. Oleh pewaskita, disarankan agar pusaka ini diserahkan saja pada yang kuat merawatnya. Batinku selalu berkata, kamulah orangnya,” jelas Bambang.

Sejak itu, dua pusaka tersebut beralih tuan. Baru satu minggu di rumah Anton, datang dua orang perwira TNI, satu berpangkat Letda dan satunya Sersan. Ia menanyakan apakah Anton punya gada Galih Asem.

Karena memang punya, Anton mengiyakannya dengan jujur. Kalau diperbolehkan, salah seorang anggota TNI itu menyampaikan niatnya ingin merawat gada Galih Asem.

Karena lupa dengan petuah Bambang dan tak terpikir akan efek buruknya, Anton memberikan saja Galih Asem itu kepada perwira tersebut. Saat itu Anton diberi mas kawin sebesar 500 ribu rupiah. Lumayan, pikirnya, mengingat dulu ia mendapatkannya dari Bambang dengan cuma-cuma. Tak tahunya, uang itulah yang akhirnya menjadi mahar perkawinan singkat antara sang khodam haus seks dengan Yessy, istrinya.

Tanpa disadari oleh Anton, sejak gada Galih Asem itu berpindah tangan, mulailah bangkit energi negatif dari pusaka gada kayu jati Donoloyo, sebab energi peredamnya telah pergi.

“Ada sebuah pusaka yang dijaga khodam yang cukup kuat. Khodam Jolodoro itulah yang selalu meniduri kamu, sebab pusaka peredamnya sudah tak ada di sampingnya. Sudah dijual suamimu,” tutur pewaskita itu.

Disarankan agar pusaka itu dikembalikan ke habitat asalnya, yaitu Bengawan Solo, alias dilabuh atau dibuang saja.

Hanya saja Yessy merasa takut mengatakan hal ini pada suaminya sebab ia tahu Anton sangat menyukai pusaka gada pemberian sahabatnya itu. Di samping itu ia merasa bersalah karena telah menikmati perselingkuhannya dengan sang makhluk halus. Jadi ia takut tak bisa menyampaikan pesannya dengan baik kepada suaminya.

Yessy lalu menceritakan semuanya kepadaku. Aku tahu sebetulnya ia merasa bimbang. Di satu sisi, jika ia memberi tahu suaminya tentang gada itu dan akhirnya suaminya sepakat untuk membuangnya, ia akan kehilangan kenikmatan yang sudah terlanjur dirasakannya selama ini. Di sisi yang lain, ia pun tahu kalau perselingkuhannya tak bisa dibenarkan dan harus diakhiri.

Aku mendukung dan meyakinkan Yessy untuk mengakhiri saja semua ini dan menerima suaminya apa adanya. Setelah Yessy sepakat, akhirnya diputuskan akulah yang menjadi “juru bicara” baginya untuk menyampaikan hal ini kepada Anton. Kebetulan aku sudah kenal baik dengan kedua-duanya sejak mereka belum menikah. Aku sudah dianggap sebagai kakak sendiri oleh mereka berdua.

Godo Kecil Galih Asem, untuk peredam nafsu seks khodam penunggu Kyai Jolodoro

Godo Kecil Galih Asem, untuk peredam nafsu seks khodam penunggu Kyai Jolodoro (Foto: Hesti Indra P)

Singkat kata, aku menceritakan semuanya kepada Anton, atau lebih tepatnya, hampir semuanya. Tentu saja aku harus berbohong di bagian hubungan antara istrinya dengan sang penunggu gada. Aku tak menceritakan sama sekali kalau Yessy sudah disetubuhi sang makhluk halus tiap hari selama tiga bulan terakhir ini. Aku hanya menyampaikan keganjilan yang ditemui Yessy saat Anton melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Aku mengatakan kalau Yessy saat itu segera sadar dan menolaknya. Beruntung, ceritaku dipercaya Anton. Ia seperti tersadar kembali akan petuah Bambang dan langsung setuju untuk membuang pusaka itu.

Anton memuji istrinya yang menurutnya setia dengan menolak ajakan mesum sang makhluk halus. Aku hanya tersenyum melihat Anton yang tampak sangat bersyukur dan memeluk istrinya. Yessy sendiri tampak memerah pipi serta telinganya. Anton tampak senang melihatnya, dikiranya istrinya yang polos tersipu malu mendengar pujiannya, padahal aku tahu persis itu sebetulnya karena Yessy merasa salah tingkah dan bersalah sudah berselingkuh di belakang suaminya. Anton mencium mesra Yessy yang masih tetap tersenyum salah tingkah.

Aku tersenyum geli memandang adegan itu. Memang kadang-kadang kebohongan diperlukan untuk tujuan yang lebih besar dan baik. Aku berharap peristiwa ini bisa jadi semacam ujian yang membuat pernikahan Anton dan Yessy semakin tahan banting dan langgeng.

Satu hal yang masih kukhawatirkan adalah tentang informasi yang sebelumnya dikatakan Yessy kepadaku kalau ia sudah terlambat haid hampir sebulan ini. Kalaupun ia hamil, mudah-mudahan itu memang benar-benar benih suaminya sendiri, yang memang sudah menanti-nantikan kehadiran seorang bayi dalam tiga tahun terakhir ini. Bukan benih dari jin khodam Kyai Jolodoro yang sudah setia disiramkan secara rutin ke dalam rahim Yessy dua kali sehari tanpa henti selama tiga bulan terakhir ini.

Pusaka gada yang bernama Kyai Jolodoro itu akhirnya kubawa pulang untuk dilabuh. Hari berikutnya, persis saat aku mau pergi ke Bengawan Solo untuk melabuh, seorang temanku datang. Rupanya ia sudah pernah mendengar kisah mistis negatif di balik pusaka tersebut. Dia justru tertarik ingin memiliki pusaka itu saat tahu aku memilikinya dan hendak membuangnya. Katanya, ia telah memiliki penangkalnya berupa gada kecil Galih Asem, warisan dari mertuanya.

Kalau sudah begini, apa lagi yang bisa kulakukan. Akhirnya kuberikan pusaka itu kepada sang teman. Padahal aku tahu ia memiliki seorang istri yang cantik. Apalagi adik perempuannya yang juga cantik dan belum menikah, ikut tinggal pula bersamanya. Yang jelas aku sudah peringatkan dia akan risikonya tapi dia tetap ngotot untuk merawat pusaka itu. Bila kelak terjadi apa-apa, biarlah dia tanggung sendiri akibatnya.

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Nikmatnya Istri Karyawanku

Original Writer: Unknown

Remake: Copyright 2010, by Mario Soares

(Istri Selingkuh, Seks Antar Ras)

Hari itu salah seorang direktur perusahaan, Pak Tanu, sedang mengadakan resepsi pernikahan anaknya di sebuah hotel bintang lima di kawasan Senayan. Sebagai seorang General Manager yang masih ada hubungan keluarga, baik dengan Pak Tanu maupun pemilik perusahaan, akupun diundang. Tentu saja aku harus datang, apalagi paginya aku tak sempat menghadiri pemberkatan pasangan pengantin di gereja karena ada acara lain dengan klien yang cukup penting. Malam itu aku meluncur menuju tempat resepsi diadakan.

Aku pergi bersama dengan Jason, temanku waktu kuliah di Amerika dulu, yang kami pekerjakan sebagai ekspatriat di perusahaan kami. Sesampainya di hotel, kami langsung antri menemui pasangan pengantin dan kedua orang tuanya. Selesai basa-basi, kami berbaur dengan para tamu lainnya.

Tampak para undangan sebagian besar membawa pasangannya masing-masing. Iri juga melihat mereka ditemani oleh istri dan anak mereka. Sedangkan aku, karena masih bujangan, ditemani oleh si bule ini.

“Selamat malam, Pak…” sapa seseorang agak mengagetkanku.

Aku menoleh, ternyata Lia sekretarisku yang menyapaku. Dia datang bersama tunangannya. Tampak sexy dan cantik sekali dia malam itu, disamping juga anggun. Berbeda sekali jika dibandingkan saat aku sedang menikmati tubuhnya… liar dan nakal. Walaupun ia tampak menjaga perilakunya, dengan gaun malam yang berdada rendah, belahan buah dadanya yang besar tampak menggoda.

“Malam, Lia” balasku. Mata Jason tak henti-hentinya menatap Lia, dengan pandangan kagum. Lia tersenyum manis saja dilihati dengan penuh nafsu seperti itu. Tampak dia menjaga tingkah lakunya, karena tunangannya berada di sampingnya.

Kami lalu berbincang-bincang sekedarnya. Lalu aku permisi meninggalkan mereka karena hendak menyapa para undangan lain yang datang, terutama para klienku.

“Malam, Pak Robert..” seorang wanita cantik tiba-tiba menyapaku. Dia adalah Jihan, istri dari Pak Arief, manager keuangan di kantorku. Mereka baru menikah sekitar tiga bulan yang lalu.

“Oh, Jihan… Malam,” kataku. “Pak Arief dimana?”

“Sedang ke restroom. Sendirian aja, Pak?” tanyanya.

“Sama teman,” jawabku sambil memandangi Jihan yang malam itu tampak sangat cantik dengan gaun malamnya dengan anggun. Belahan gaunnya yang tinggi memamerkan pahanya yang putih menggiurkan. Dadanya walaupun tak sebesar Lia, tampak membusung menantang.

“Makanya, cari istri dong, Pak.. Biar ada yang nemenin,” katanya sambil tersenyum manis.

“Belum ada yang mau nih.”

“Ahh.. Bapak bisa saja… Pasti banyak banget cewek yang mau sama bapak. Kalau belum married, saya juga mau, lho..” jawabnya menggoda.

Memang Jihan ini kelihatannya punya perasaan tertentu padaku. Tampak dari cara bicaranya dan cara dia memandangku.

“Oh, Kalau saya sih mau lho sama kamu biarpun kamu sudah married,” kataku menantang sambil menatap wajahnya yang cantik.

“Ah, Pak Robert. Bisa aja…” jawabnya sambil tersipu malu.

“Bener, lho. Mau aku buktiin?” godaku.

“Janganlah, Pak… Nanti kalau ketahuan suamiku bisa gawat,” jawabnya perlahan sambil tersenyum. Tampaknya dia menanggapi candaku dengan serius.

“Kalau nggak ketahuan gimana. Nggak apa khan?” rayuku lagi semakin berani.

Jihan tampak tersipu malu. Wah, Aku mendapat angin nih. Memang sejak berkenalan dengan Jihan beberapa bulan yang lalu, aku sudah membayangkan nikmatnya menyetubuhi wanita ini. Dengan kulit putih, khas cewek Bandung, rambut sebahu, bibir tipis, dan masih muda lagi. Dia baru berumur 24 tahunan.

“Gimana nih setelah kawin. Enak nggak? Pasti masih hot, ya,” godaku lagi.

“Biasa aja kok Pak. Kadang enak. Kadang nggak. Tergantung moodnya,” jawabnya lirih.

Eh, nggak disangka dia malahan curhat kepadaku. Aku pun menyimaknya dengan penuh perhatian. Dari jawabannya aku duga bahwa Pak Arief ini tidak begitu memuaskannya di atas tempat tidur. Mungkin karena usia Pak Arief yang sudah berumur dibandingkan dengan dirinya yang masih penuh gejolak hasrat seksual wanita muda. Pasti jarang sekali dia mengalami orgasme. Uh, kasihan sekali pikirku.

Bawahanku itu memang orangnya selalu serius, jujur, dan sangat konservatif. Mungkin karena ketaatannya dalam menjalankan agamanya. Karena itulah kami menunjuknya sebagai manager keuangan. Saking serius dan konservatifnya sampai-sampai ia kurang memperhatikan kebutuhan biologis istrinya yang lebih muda darinya dan masih menyimpan gelora seksual yang membara.

Tak lama Pak Arief datang dari kejauhan.

“Wah, Pak Arief.. Punya istri cantik begini kok ditinggal sendiri,” kataku menggoda.

Jihan tampak senang aku memujinya seperti itu. Tampak dari tatapan matanya yang haus akan kehangatan laki-laki tulen seperti aku.

“Iya, Pak. Habis dari belakang, nih,” jawabnya.

Tatapan matanya tampak curiga melihat aku sedang mengobrol dengan istrinya yang jelita itu. Mungkin dia sudah dengar kabar di kantor tentang reputasiku sebagai playboy. Secara fisik sebetulnya aku biasa-biasa saja, bahkan tampangku sebetulnya tidak terlalu ganteng dengan mata yang sipit dan pipi yang agak tembem. Tapi untuk urusan seks aku berani diadu dengan siapa pun. Apalagi ditambah statusku sebagai single yang banyak duit, tak sulit untuk menarik hati seorang wanita, termasuk istrinya Pak Arief.

“Ok, saya tinggal dulu ya, Pak Arief… Jihan,” kataku lagi sambil ngeloyor pergi menuju tempat hidangan.

Aku menyantap makanan dengan nikmat. Maklum perutku sudah keroncongan, terlalu banyak basa-basi dengan para tamu undangan tadi. Kulihat si Jason masih ngobrol dengan Lia dan tunangannya.

Ketika aku mencari Jihan dengan pandanganku, dia juga sedang mencuri pandang padaku sambil tersenyum. Pak Arief tampak sedang mengobrol dengan tamu yang lain. Memang payah juga bapak yang satu ini, tidak bisa membahagiakan istrinya.

Jihan kemudian berjalan mengambil hidangan. Aku pun pura-pura menambah hidanganku.

“Jihan, kita terusin ngobrolnya di luar, yuk,” ajakku berbisik padanya.

“Nanti saya dicari suami saya gimana, Pak…” tanyanya pelan. Tampak ekspresinya bercampur antara ragu dan senang.

“Bilang aja kamu sakit perut. Perlu ke toilet. Aku tunggu di luar,” kataku sambil menahan nafsu melihat lehernya yang putih jenjang, dan lengannya yang berbulu halus.

Tak lama Jihan pun keluar ruangan resepsi menyusulku. Kami pergi ke lantai atas, menuju toilet. Aku berencana untuk bermesraan dengannya di sana. Kebetulan aku tahu suasananya pasti sepi.

Sebelum sampai di toilet, kulihat ada sebuah ruangan kosong yang terbuka pintunya, sebuah meeting room.

“Wah, kebetulan nih,” pikirku. “Ada saja jalannya untuk mengintimi istri orang….”

Kutarik Jihan ke dalam dan kututup pintunya. Tanpa basa-basi lagi, kucium bibirnya yang indah itu dengan penuh nafsu. Benarlah dugaanku kalau istri Pak Arief ini pun menaruh hati padaku. Ia langsung membalas dengan penuh gairah.

Tanganku lalu bergerak merambahi buah dadanya. Tanganku yang satu lagi mencari kaitan retsleting di belakang tubuhnya. Kulepas gaunnya sebagian sehingga tampak buah dadanya yang ranum hanya tertutup BH mungil berwarna krem.

Kuciumi leher Jihan yang jenjang itu, lalu kusibakkan cup BH-nya ke bawah sehingga buah dadanya mencuat keluar sampai nampak putingnya yang sudah mengeras. Langsung kujilati dengan rakus buah dada itu. Kuhisap dan kupermainkan putingnya yang mengeras dengan lidahku.

“Oh.. Pak Robertt..” desah Jihan sambil menggeliat.

“Enak, Jihan..?”

“Enak, Pak… Terus, Pak…” desahnya lirih.

Tanganku meraba pahanya yang mulus dan sampailah pada celana dalamnya. Tampak Jihan sudah begitu bergairah sehingga celananya sudah lembab oleh cairan kewanitaannya.

Jihan tampak tak sabar. Ia membuka kancing kemeja batikku. Dicium dan dijilatinya putingku. Lalu terus ke bawah ke perutku. Kemudian dia berlutut dan dibukanya retsleting celanaku. Tangannya yang lentik berbulu halus itu merogoh ke dalam mengeluarkan kemaluanku dari celana dalamnya. Memang kami sengaja tidak mau telanjang bulat karena kondisi yang tidak memungkinkan.

“Ohh.. Besar sekali, Pak Robert.. Jihan suka..” katanya dengan mulut menganga sambil mengagumi kemaluanku dari dekat.

“Memang punya suamimu seberapa?” tanyaku tersenyum menggoda.

“Mungkin cuma separuhnya, Pak Robert. Oh… Jihan suka…” katanya tak melanjutkan lagi jawabannya karena mulutnya yang mungil itu sudah mengulum kemaluanku.

Aku pun mengerang sambil merem melek menikmati kuluman istri Pak Arief di batang kemaluanku. Kadang lidahnya menjilati penisku yang mengeras. Tangannya sibuk meremas-remas buah zakarku.

Setelah beberapa saat dia berhenti sejenak sambil memandang ke atas kepadaku.

“Enak, Pak?” tanyanya sambil melirik nakal.

“Enak, sayang… Ayo isap lagi,” jawabku menahan rasa nikmat yang menjalar hebat.

Dia tampak senang sekali menerima pujianku. Dengan patuh dimasukkannya kembali penisku ke dalam mulutnya lalu diisapnya dengan kuat sampai aku mengerang. Kedua tangannya meremas-remas pantatku.

Sungguh sangat sexy melihat pemandangan itu. Seorang wanita cantik yang sudah bersuami dan bertubuh padat, sedang berlutut didepanku dengan pipi yang menggelembung mengisap kemaluanku seperti vacuum cleaner. Terlebih setiap kali kemaluanku terselip keluar dari mulutnya, tanpa menggunakan tangannya dan hanya menggerakkan kepalanya mengikuti gerak kemaluanku, Jihan mengulumnya kembali.

“Hmmm… tongkol Bapak enak banget… Jihan suka tongkol yang besar begini,” desahnya penuh nafsu.

Tiba-tiba terdengar bunyi handphone. Jihan pun terpaksa menghentikan isapannya tapi tangannya yang satu masih tetap memegangi batang kemaluanku.

“Iya Mas.. Ada apa?” jawabnya. Tampaknya Pak Arief yang sedang menelepon istrinya. Aku mengelus-elus rambut dan kepala Jihan sementara ia berbicara dengan suaminya.

“Lho, Mas udah pikun ya.. Khan Jihan tadi udah bilang, Jihan mau ke toilet. Sakit perut. Gimana, sih,” kata Jihan dengan nada suara yang tinggi dan tampak tidak sabar. Kelihatannya ia agak kesal kepada suaminya yang tak sabar menunggu.

Sambil bicara begitu kepada suaminya, tangan Jihan yang satu tetap meraba dan mengocok-ngocok kemaluan atasan suaminya ini. Aku senang sekali melihat sikap Jihan yang jelas-jelas lebih loyal kepadaku daripada kepada suaminya. Tampak sekali ia tidak mau kenikmatan yang kurasakan terputus gara-gara ia harus berbicara dengan suaminya.

“Iya Mas… Mungkin salah makan nih… Sebentar lagi ya, Mas.. Sabar, ya…” katanya berusaha sabar sambil menurunkan nada bicaranya.

Kemudian suaminya berbicara agak panjang di telepon. Tampak kalau Jihan tak terlalu berminat mendengarkannya sehingga waktu tersebut dimanfaatkannya untuk kembali mengulum kemaluanku sementara tangannya masih memegang handphonenya. Aku tersenyum senang dan semakin bergairah melihat tingkah istri bawahanku.

Beberapa saat kemudian dilepaskannya penisku dari cengkeraman mulutnya. Rupanya ia mau bicara kepada suaminya.

“Iya, Mas. Jihan juga cinta sama Mas,” katanya sambil langsung menutup teleponnya. Tampaknya suaminya baru saja selesai meneleponnya.

“Suamiku sudah nunggu. Tapi biarin aja deh dia nunggu agak lama, soalnya Jihan pengin puas dulu,” tukasnya sambil tersenyum nakal. Aku merasa puas dengan sikapnya dan mengacungkan kedua jempolku sebagai pujian.

Aku membimbing kepala Jihan kembali ke selangkanganku. Istri Pak Arief itu kembali menjilati kemaluanku sebelum memasukkannya lagi ke dalam mulutnya yang kecil. Diisapinya batang kemaluanku dengan santai dan telaten.

Setelah beberapa saat, aku tak sabar sudah ingin menikmati kehangatan tubuh wanita istri bawahanku ini. Kutarik tangannya agar berdiri dan aku pun tiduran di atas meja meeting di ruangan itu.

Tanpa perlu dikomando lagi, Jihan menaiki tubuhku dan menyibak gaun dan celana dalamnya sehingga vaginanya tepat berada di atas kemaluanku yang sudah menjulang menahan gairah.

Jihan kemudian menurunkan tubuhnya sehingga kemaluanku akhirnya bisa menerobos liang vaginanya yang masih sempit itu.

“Oh.. My god..” jeritnya tertahan.

Kupegang pinggangnya dan kemudian aku naik-turunkan sehingga kemaluanku maju mundur menjelajahi liang nikmat istri cantik Pak Arief ini.

Tanganku bergerak meremas buah dadanya yang bergoyang saat Jihan bergerak naik turun di atas tubuhku. Sesekali kutarik badannya sehingga buah dadanya bergerak ke depan wajahku untuk kemudian aku hisap dengan gemas.

“Ohh, Pak Robertt… Bapak memang jantan…” desahnya.

“Ayo, Pak… Puaskan Jihan, Pak..” Jihan berkata sambil menggoyang-goyangkan badannya maju mundur di atas kemaluanku. Setelah itu dia kembali menggerakkan badannya naik turun mengejar kepuasan bercinta yang tak didapatkan dari suaminya.

Setelah beberapa menit aku turunkan tubuhnya dan aku suruh dia menungging sambil berpegangan pada tepian meja. Aku sibakkan gaunnya, dan tampak pantatnya yang putih menggairahkan hanya tertutup oleh celana dalam yang sudah tersibak kesamping. Kuarahkan kemaluanku ke vaginanya, dan langsung kugenjot dia, sambil tanganku meremas-remas rambutnya yang hitam itu.

“Kamu suka, Say?” kataku sambil menarik rambutnya ke belakang.

“Suka, Pak Robert.. Suka…”

“Suamimu memang nggak bisa, ya?”

“Dia lemah, Pak… Ya, Tuhan… Enak Pak… Ohh…”

“Ayo bilang… Kamu lebih suka ngentotin suamimu atau aku?” tanyaku sambil mencium wajahnya yang mendongak ke belakang karena rambutnya kutarik.

“Jihan lebih suka dientotin Pak Robert… Pak Robert jantan… Suamiku lemah… Ohh.. Tuhan…” jawabnya.

“Kamu suka tongkol besar ya?” tanyaku lagi.

“Iya Pak… Oh… Terus Pak.. Punya suamiku kecil, Pak… Oh yeah… Pak Robert besar… Ohh yeah oh… Tuhan. Suamiku jelek… Pak Robert ganteng… Oh enakhh…” Jihan mulai meracau kenikmatan.

“Oh… Pak… Jihan hampir sampai, Pak… Ayo Pak, puasin Jihan, Pak..” jeritnya.

“Tentu, Sayang… Aku bukan suamimu yang lemah itu…” jawabku sambil terus mengenjot dia dari belakang. Tangankupun sibuk meremas-remas buah dadanya yang bergoyang menggemaskan.

“Ahh… Jihan sampai, Pak…” Jihan melenguh ketika gelombang orgasme menerpanya. Aku menghentikan sementara genjotanku sambil menjambak rambutnya.

Aku bisa merasakan vaginanya bergetar menyempit sehingga menjepit batang penisku. Paha dalamnya terasa menegang dan punggungnya menekuk. Sekejap badannya tampak kelojotan seperti dialiri listrik.

Aku senang sekali melihat istri bawahanku berhasil kubuat orgasme. Sebentar kemudian kembali kugenjot tubuhnya. Jihan yang sudah mendapatkan bagiannya tampak lebih santai dan melihat ke belakang kepadaku sambil tersenyum manis. Tampak sekali kebahagiaan memancar di wajahnya.

Akhirnya aku pun hampir sampai. Kemaluanku sudah berdenyut-denyut ingin mengeluarkan laharnya.

Kutarik tubuh Jihan hingga dia kembali berlutut di depanku. Seolah tahu apa yang kumau, ia langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Aku memang tak mau menumpahkan cairan pembuat bayiku di dalam rahim Jihan. Apa kata dunia kalau dia melahirkan seorang bayi yang bermata sipit?

Kukocok-kocok kemaluanku sementara Jihan membantuku dengan meraba-raba buah zakar dan pantatku. Tak lama kemudian tersemburlah spermaku ke wajahnya yang cantik dan ke dalam mulutnya yang sudah siap dari tadi. Kuoles- oleskan sisa-sisa cairan dari kemaluanku ke seluruh wajahnya. Kemudian Jihanpun mengulum dan menjilati kemaluanku hingga bersih.

“Terima kasih, Pak Robert… Jihan puas sekali,” katanya saat dia membersihkan wajahnya dengan tisu.

“Sama-sama, Jihan sayang. Aku hanya berniat membantu, kok,” jawabku menggombal sambil bergegas membetulkan pakaianku kembali.

“Ngomong-ngomong, kamu pintar sekali blowjob. Sering latihan, ya?” tanyaku penasaran.

“Jihan sering lihat di VCD aja Pak. Kalau sama suami sih jarang Jihan mau begitu. Habis nggak nafsu sih lihatnya…”

Wah, Kasihan juga Pak Arief, pikirku geli. Malah aku yang dapat menikmati enaknya dioral oleh istrinya yang cantik jelita itu.

“Kapan kita bisa melakukan lagi, Pak?” kata Jihan mengharap ketika kami keluar ruangan meeting itu. Aku berpikir sejenak sebelum menimpalinya.

“Gimana kalau minggu depan aku suruh suamimu ke luar kota jadi kita bisa bebas bersama?” usulku nakal.

“Hihihi.. Ide bagus tuh, Pak… Janji, ya…” Jihan tampak gembira mendengarnya.

“Iya, dong,” kataku tersenyum sambil memeluknya mesra.

Sebelum kembali ke ruang resepsi, kami bertukaran nomor handphone. Jihan kusuruh turun terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, barulah aku menyusul. Sesampai di ruang resepsi tampak Jason sedang mencari aku.

“Hey, man… Where have you been? I’ve been looking for you.”

“Sorry, man. I had to go to the restroom. I had a stomachache,” jawabku memohon maaf.

Tak lama Jihan datang bersama Pak Arief suaminya.

“Pak Robert, kami mau pamit dahulu. Ini Jihan nggak enak badan. Sakit perut dari tadi katanya.”

“Oh ya, Pak Arief, silakan. Istri bapak yang cantik harus benar-benar dirawat lho…”

Jihan tampak tersenyum mendengar perkataanku itu, sementara wajah Pak Arief menunjukkan rasa curiga.

He.. He.. Kasihan, pikirku. Mungkin dia akan syok berat bila tahu aku baru saja menyetubuhi istrinya yang cantik itu.

Tak lama kemudian, aku dan Jason pun pulang. Sebelum pulang aku berpapasan dengan Lia, sekretarisku. Kusuruh dia mendaftarkan Pak Arief untuk training ke singapura. Memang baru-baru ini aku mendapat tawaran training ke sana dari salah satu perusahaan. Lebih baik Pak Arief saja yang pergi, pikirku. Toh memang dia yang mengerjakan pekerjaan itu di kantor, sedangkan aku akan menolong istrinya yang cantik mengarungi lautan birahi selama dia pergi nanti.

Tak sabar aku menanti minggu depan datang. Dengan tidak adanya batas waktu karena terburu-buru, tentu aku akan lebih bisa menikmati dirinya.

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Lihat Istri Dipijat

Original Writer: Unknown

Remake: Copyright 2010, by Mario Soares

(Pijat, Istri Selingkuh, Seks Antar Ras)

Pada hari Selasa, kebetulan aku dan istriku cuti kerja. Kami berniat untuk mencari makan siang di luar. Di dekat tempat makan tersebut, ternyata ada satu ruko pijat refleksi. Di tempat refleksi tersebut, menurut penjelasan pemijatnya, tidak hanya kaki yang dipijat melainkan juga seluruh badan, dari kepala, pundak, sampai kaki. Ternyata semua pemijatnya laki-laki.

Kebetulan karena hari kerja dan belum waktunya makan siang, suasana masih sepi dan cuma ada dua pemijat. Di tempat itu ada dua kamar yang hanya ditutup kain untuk yang mau dipijat seluruh badan dan beberapa tempat duduk untuk yang mau dipijat kakinya saja.

Tadinya istriku mau kuantar ke Bersih Sehat tapi karena di sini juga ada tempat pijat, akhirnya kami putuskan kalau ia dipijat di sini saja. Aku sih paling geli dan tidak mau dipijat oleh lelaki, makanya kusuruh istriku saja yang masuk untuk dipijat.

“Ya sudah, sana gih kamu aja yang dipijat, Mah.”

“Papah gak mau coba juga?”

“Gak ah… ngapain juga dipijet cowok?” tukasku.

Istriku cuma mencibir gemas mendengar jawabanku. Ia sudah tahu kelakuanku emang.

“Ntar aku makan dulu ya ke luar. Laper nih. Kamu ambil yang paket 2 jam aja, Mah,” suruhku.

“Gak kelamaan?”

“Gak, aku kan nanti sekalian jalan-jalan dulu cari aksesoris buat mobil.”

Sebelum pergi kulihat dulu seperti apa sih dipijatnya. Pemijat yang bertugas saat itu tampaknya seorang pemuda Jawa berusia 20-an. Berkulit legam, bertubuh agak gempal dengan tinggi badan sekitar 160-an. Ia mengenakan seragam batik lengan pendek. Istriku yang hanya memakai celana pendek dan kaos ketat tanpa lengan memang kelihatan seksi sekali. Istriku kemudian berbaring dengan santai. Yang pertama-tama dipijat adalah telapak kaki. Setelah beberapa saat memperhatikan barulah aku pergi. Kubilang pada mereka kalau aku akan kembali dua jam lagi setelah pijatnya selesai.

Setelah selesai makan, aku balik lagi ke tempat refleksi itu. Kulihat tidak ada orang lagi di depan. Jadi aku langsung masuk saja ke dalam. Karena aku ternyata datang lebih awal dan tidak mau mengganggu istriku, aku hanya duduk-duduk di depan kamar tempat istriku dipijat.

Sekilas kudengar suara lenguhan istriku. Mungkin karena enak dipijat tapi karena penasaran akhirnya kucoba intip apa yang terjadi di balik kain yang menutupi kamar tersebut. Kebetulan di luar kamar memang cukup gelap tapi di dalam ruangan ada lampu yang memberi cukup penerangan.

Ternyata istriku memang sedang menikmati pijatan sang pemijat. Pemijat tersebut sedang memijati kaki istriku yang putih, mulai dari betis sampai paha. Entah kenapa, ada perasaan terangsang melihat istriku disentuh oleh lelaki lain.

Setelah beberapa lama memijat kedua kaki istriku, ia meminta dengan sopan agar celana pendeknya dibuka saja karena mengganggu. Istriku awalnya menolak.

Setelah diberi keterangan yang menyakinkan, akhirnya istriku mau juga membuka celananya tapi dengan syarat ditutupi selimut. Waktu kulihat istriku membuka celananya, langsung jantungku berdebar kencang. Entah kenapa, aku merasa terangsang melihat istriku telanjang di depan lelaki lain.

Setelah ditutupi kain putih, si pemijat langsung memijat kembali di daerah paha. Hanya saja sekarang mulai sesekali menyentuh pantat dan selangkangan istriku. Istriku entah percaya sama si pemijat atau memang jadi menikmatinya. Soalnya dia tidak protes sama sekali.

Rupanya ini membuat si pemijat akhirnya cuma berkonsentrasi memijat kedua paha istriku dan daerah selangkangannya. Melihat itu aku jadi tambah gila sambil menggosok si adik yang memang sudah tegang berat.

Entah sengaja atau tidak, si pemijat membuat kain penutup istriku bergeser dan akhirnya terjatuh sehingga dia bisa melihat tubuh bagian bawah istriku yang putih mulus yang terbungkus CD. Sempat si pemijat terdiam melihat pemandangan indah tersebut.

Kuperhatikan ada tanda basah di CD istriku. Mungkin karena keenakan, istriku terus dipijat tanpa dilindungi kain. Ini membuat si pemijat makin berani memijat daerah pantat dan selangkangan istriku. Cukup lama ia menjelajahi daerah vital istriku sampai kudengar jelas istriku mendesah-desah karena merasa nikmat diperlakukan seperti itu.

Yang membuatku kaget, si pemijat lalu meminta istriku untuk membuka bajunya karena akan dipijat daerah punggung dan lehernya. Yang lebih membuatku kaget, istriku langsung membuka bajunya tanpa perlu diberi pengertian lagi sehingga sekarang ia hanya menggunakan BH dan CD. Entah apa yang membuat dia berani seperti itu, apa ada unsur hipnotis ya? Yang jelas, lebih gila lagi, ternyata aku sangat menikmati pemandangan ini.

Setelah beberapa saat memijat daerah punggung, si pemijat meminta izin untuk membuka bra istriku karena punggungnya akan diolesi minyak. Istriku cuma mengganguk. Begitu mendapat restu istriku, si pemijat langsung membuka kait bra istriku dengan tangkasnya. Sementara istriku diam saja. Kini si pemijat mulai menggosok punggung istriku tanpa ada penghalang apa-apa lagi. Kulihat si pemijat juga sesekali melihat pinggiran tetek istriku yang kini kelihatan karena BH-nya sudah terlepas ke samping. Bahkan sesekali ia pun menyentuhnya!

Kemudian si pemijat memijat leher istriku dengan sentuhan yang lembut. Kayakya ini membuat istriku terangsang, terdengar dari suaranya yang mendesah. Melihat situasi itu si pemijat kembali memijat daerah pantat dan sekitarnya. Ini membuat istriku tambah terangsang. Istriku yang tadinya diam saja mulai menggeliat-geliat karena selangkangannya dirangsangi si pemijat.

Tanpa minta izin lagi, si pemijat dengan halus membuka CD istriku! Sama sekali tak kulihat penolakan dari istriku. Mungkin pikirannya sudah hilang karena keenakan dirangsangi. Si pemijat mulai menyentuh kemaluan istriku dan kulihat ia langsung memasukkan jarinya ke dalam vagina istriku!

“Oouuh…. jangan…” sempat kudengar istriku berbisik tertahan saat vaginanya ditembus jemari si pemijat.

“Nggak apa-apa, Ci… santai aja… dinikmatin aja…” bisik si pemijat dengan penuh percaya diri sambil satu tangannya dengan lembut mengusapi punggung istriku yang telanjang. Sementara dengan tangannya yang satu lagi, ia menambah jarinya yang masuk ke dalam vagina istriku.

Kulihat istriku langsung tak berdaya sama sekali mendapatkan serangan seperti itu. Tak kudengar lagi protesnya. Yang kudengar kini hanya desahannya dan geliat tubuhnya yang merespons rangsangan hebat yang diterimanya dari si pemijat. Sementara satu tangannya tanpa ampun mengobok-obok vagina istriku, tangannya yang satu lagi menggerayangi dan mengusapi seluruh tubuh istriku dengan lembut.

Aku bingung kok istriku nurut saja. Ada perasaan cemburu tapi masih kalah dengan rangsangan hebat melihat istriku disentuh dan dirangsangi oleh orang lain (apa ini kelainan ya?).

Akhirnya setelah beberapa lama, si pemijat meningkatkan intensitas permainan jemarinya di dalam vagina istriku. Akibatnya, kulihat istriku menegang dan seperti kesetrum. Badannya bergoyang-goyang seperti ayam disembelih. Suaranya terpekik tertahan-tahan menahan gejolak orgasme yang melanda sekujur tubuhnya. Si pemijat dengan tangannya yang bebas menggenggam tangan istriku. Tampak istriku balas menggenggam tangan si pemijat dengan keras sekali. Aku benar-benar terangsang melihat istriku akhirnya mencapai puncaknya dengan jari-jemari si pemijat.

Beberapa saat kemudian, tubuh istriku kelihatan melemah. Dadanya tampak jelas naik turun kecapekan. Nafasnya terdengar tersengal-sengal. Tangan istriku dan si pemijat masih saling menggenggam dan meremas-remas. Tampak istriku tersenyum kepada si pemijat manis sekali. Sementara itu, tangan si pemijat yang satu lagi masih memainkan jari-jemarinya di dalam vagina istriku yang tampak basah kuyup. Kali ini tentu saja iramanya sudah jauh lebih lembut. Istriku tampak sangat menikmati diperlakukan seperti itu.

Setelah beberapa lama, si pemijat lalu membuka celananya dengan satu tangan karena tangan yang satu lagi masih saja menggosok-gosok daerah klitoris di selangkangan istriku. Terlihat kontol si pemijat sudah ngaceng berat dan ukurannya cukup besar dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat, mungkin baru dicukur.

Ketika akan membuka bajunya, si pemijat mengangkat pantat istriku sedikit dan langsung menjilati vaginanya sebagai ganti jarinya yang sudah bekerja keras dari tadi. Karena kedua tangannya sudah bebas, sekarang si pemijat dapat membuka bajunya.

Selesai membuka bajunya, si pemijat masih terus dengan rakus menjilati bagian vital istriku. Istriku yang dijilati mekinya langsung kelihatan seperti tersengat aliran listrik. Tidak berapa lama kemudian kelihatan istriku mengejang karena mencapai klimaks untuk kedua kalinya.

Si pemijat tersenyum senang, karena telah berhasil membuat istriku mengalami multi orgasme. Setelah sama-sama telanjang, si pemijat membalikkan badan istriku, sehingga kelihatanlah payudaranya yang indah dengan puting berwarna hitam yang sudah menegang.

Walaupun keduanya kini sudah sama-sama bugil dan si pemijat tampak sudah siap benar untuk menyetubuhi istriku, istriku kelihatannya masih ragu-ragu untuk bermain lebih jauh. Dengan masih malu-malu istriku menutupi dadanya.

“Jangan, ah…. nanti gimana kalo kepergok suamiku…?” terdengar istriku berkata lirih.

“Gak usah takut, Ci. Suaminya Cici kan masih makan di luar. Baru dua jam lagi dia datang kemari…” kata si pemijat dengan halus.

“Lagian tempat ini terkenal aman koq… Sudah banyak yang coba dan belum sekalipun ada yang ketahuan suaminya….” lanjutnya mantap.

Selesai berkata begitu, si pemijat mendekatkan mukanya ke muka istriku. Dengan lembut tapi penuh nafsu, dikulumnya bibir istriku yang ranum. Istriku tampak dengan pasrah membalasnya! Mereka bahkan sampai bermain lidah dan bertukar ludah. Sementara itu satu tangan si pemijat kembali memainkan klitoris istriku. Benar-benar seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara…

Karena terus diberi cumbuan yang panas dan rangsangan yang hebat di klitorisnya, istriku akhirnya menyerah. Dibukanya kedua tangannya dengan sukarela. Oleh si pemijat tangan istriku diletakkan ke samping kepala istriku dan dipegangnya erat-erat, sehingga dengan leluasa si pemijat bisa melihat dada dan ketiak istriku yang mulus dan wangi.

Si pemijat mungkin penggemar ketiak karena ketiak istriku dijilati dan diciumi terus-menerus sehingga istriku kegelian dan semakin terangsang hebat. Si pemijat mulai melepas tangan istriku tapi posisi tangannya tetap terlentang di samping kepala. Lalu ia mulai menciumi payudara istriku yang masih kencang karena kami belum mempunyai anak. Istriku kelihatan sangat menikmati putingnya diisap dan dijilati.

Selesai menikmati payudara istriku dia mulai menjilati vagina istriku yang sudah basah kuyup.
Mungkin karena sudah tidak tahan, akhirnya si pemijat bersiap-siap memasukkan kontolnya. Istriku sudah pasrah saja tak memberikan perlawanan apa pun. Sebelum melakukan penetrasi, dia melap vagina istriku, mungkin karena sudah basah dengan cairan vagina dan ludahnya.

Ketika mau masuk, istriku kelihatan tersentak agak kaget. Mungkin karena agak sakit sebab kontolnya si pemijat lebih besar dari aku punya tapi kelihatannya dia sama sekali tidak menolak. Bahkan dengan tangannya, ia membantu si pemijat memasukkan kontolnya ke dalam lubang mekinya pelan-pelan.

Mungkin itu yang ingin dirasakan oleh istriku. Istriku pernah bilang kalau kontolku nggak besar dan dia kurang menikmatinya tapi mau gimana lagi, karena sudah dikasihnya seperti ini.

Si pemijat akhirnya berhasil memasukkan kontolnya dan mulai menyodoknya sambil tidak lupa menciumi payudara istriku dan juga ketiaknya secara bergantian. Aku yang sudah tidak tahan akhirnya mengocok dan mengeluarkan maniku di kertas tisu yang aku bawa.

Si pemijat setelah sekitar 10 menit kelihatannya mau klimaks.

“Jangan dibuang di dalam ya?” Istriku yang sudah melihat gelagat si pemijat mau orgasme buru-buru ngomong.

“Ya udah, kalo gitu buka mulutnya cepat, Ci!” Perintah si pemijat.

Tanpa disuruh dua kali, istriku langsung membuka mulutnya dengan pasrah seolah mau diperiksa dokter gigi.

Akhirnya si pemijat mencabut kontolnya dan membuang maninya di muka istriku, sampai tertelan ke mulutnya segala. Istriku kelihatan puas sekali. Tampak keduanya tak lepas saling bertatapan mata selama si pemijat menghabiskan muncratan spermanya ke wajah istriku.

Begitu habis semprotannya, istriku langsung menelan semua cairan yang terkumpul di dalam mulutnya. Ia melakukan itu sambil tersenyum memandangi wajah si pemijat yang tampak kelelahan. Si pemijat berdiri mematung karena kecapekan sambil mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya. Sementara itu istriku dengan telaten membersihkan sisa-sisa air mani yang menyelimuti batang kontol si pemijat sampai bersih!

Aku benar-benar merasa cemburu melihatnya karena selama ini istriku tak pernah mau menelan air maniku dan sekarang ia menikmati air mani si pemijat dengan sukacita. Tapi anehnya di satu sisi aku jadi malah terangsang hebat melihat ia melakukan hal itu bersama pria lain!

Setelah dilihatnya istriku selesai membersihkan penisnya, si pemijat menarik tangan istriku yang masih duduk bersimpuh di hadapannya supaya berdiri. Keduanya lalu saling berpelukan erat sekali sambil berdiri. Seolah keduanya saling mengucapkan terima kasih atas kenikmatan yang telah diberikan masing-masing.

Si pemijat lalu membimbing istriku untuk berbaring berdua di atas kasur sambil masih bertelanjang bulat. Istriku membaringkan kepalanya di dada si pemijat yang bidang. Terlihat kontras antara kulit istriku yang kuning langsat dengan si pemijat yang hitam gempal berotot. Dipeluknya tubuh pemuda itu erat-erat. Sementara si pemijat membelai-belai rambut dan punggung istriku.

Setelah beberapa saat istirahat, kulihat mereka mulai duduk dan beres-beres. Saat itu belum habis waktunya dua jam. Tentunya mereka berdua mengira aku masih di tempat makan.

Si pemijat dengan mesra melap air mani di tubuh dan muka istriku. Sesekali ia membersihkan air mani dari tubuh atau wajah istriku dengan jarinya dan lalu dimasukkannya ke dalam mulut istriku! Istriku tampak tersenyum dan menerimanya dengan ikhlas! Dikulumnya jemari si pemijat yang dibaluri air maninya dan diisapnya sampai bersih.

Karena masih ada waktu sekitar seperempat jam, mereka berdua masih duduk-duduk telanjang bulat di atas kasur sambil ngobrol. Setelah beberapa saat, si pemijat memakaikan BH istriku sambil sebelumnya meremas-remas lagi kedua payudaranya dengan gemas. Selesai memakaikan BH, ia menciumi leher jenjang istriku dengan mesranya, disusul dengan french kiss yang cukup lama, sekitar 5 menit. Tampak jelas mereka masih ingin melanjutkan french kiss-nya kalau saja tidak mengingat waktu dua jam yang sudah hampir habis.

Karena takut kalau-kalau aku keburu datang, mereka cepat-cepat membereskan semuanya dengan rapi. Sementara itu aku diam-diam langsung keluar dari ruko itu. Di luar aku merokok sebentar untuk menghilangkan keteganganku setelah menonton permainan panas istriku dengan si pemijat. Tak lama kemudian aku masuk lagi.

Saat aku masuk, kulihat istriku dengan wajah cerah dan berseri-seri sedang duduk di bangku ruang tunggu. Mukanya tampak bersih, sedangkan rambutnya tersisir rapi dan badannya wangi oleh parfum. Sama sekali tak nampak kalau ia baru saja bersetubuh dengan hebatnya dengan si pemijat! Benar-benar lihai istriku ini… Ternyata diam-diam dia kayak suaminya juga…

Istriku langsung mengajakku pulang.

“Nggak mau makan dulu?” tanyaku.

“Gak ah, lagi nggak laper, Pah,” tukasnya. “Nanti makan snack aja di mobil sambil pulang.”

Istriku memang biasa makan besar cuma waktu sarapan saja. Siang cuma makan kecil atau bahkan kadang dilewati. Ia memang tipe cewek yang selalu berusaha menjaga keseksian tubuhnya, terutama kalau ada sesuatu yang memotivasinya…. Atau mungkin juga karena ia sudah cukup banyak minum protein dari sperma si pemijat hari ini?

Kugandeng tangan istriku dengan mesra untuk keluar dari panti pijat itu. Setelah basa-basi menyapa laki-laki yang baru saja menyetubuhi istriku, yang kini sedang berjaga di bagian resepsionis, istriku berkata padaku.

“Pah, lain kali Mamah dipijatnya di sini aja ya, sekalian Papah bisa jalan-jalan kan liat aksesoris mobil?”

“Oh gitu, jadi gak mau lagi ke Bersih Sehat?”

“Nggak, ah… Di sini juga enak koq…” kata istriku sambil menggelayut mesra di tanganku.

“Ya, udah. Terserah Mamah aja…” kataku datar pura-pura tidak tahu akal bulusnya.

Melalui kaca gelap dari pintu keluar yang memantulkan bayangan, sekilas bisa kulihat istriku menoleh ke si pemijat dan mereka saling mengedipkan mata setelah mendengar persetujuanku. Pastinya mereka sudah janjian untuk ketemu lagi. Istriku memang maniak pijat, sama seperti diriku. Paling tidak seminggu dua minggu sekali dia kuantar ke panti pijat.

Kami lalu keluar bangunan ruko dan berjalan bergandengan dengan mesra ke mobil kami.

TAMAT