Category Archives: satu wanita dan banyak pria bergantian

Seorang wanita berhubungan seks dengan beberapa lelaki secara bergantian

Anissa 08 – Hubby dan Ayam

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh, Permainan Bertiga, Biseksual)

Dua minggu telah berlalu dari kejadianku di boardroom sore itu. Selama dua minggu ini aku sebelum pulang ke rumah mampir apartemennya Aldi dulu. Ya, aku telah menjadi budak nafsunya Aldi dan istrinya, Nadya. Setiap malam aku diperlakukan seperti pelacurnya Aldi.

Kadang-kadang aku beruntung diperbolehkan untuk menyepong penisnya Aldi sampai ia muncrat di tenggorokanku. Hari-hari lain, aku hanya boleh menonton bagaimana ia mengentot Nadya dan aku diperbolehkan membersihkan spermanya dari lubang-lubang istrinya yang cantik itu.

Beberapa kali aku benar-benar beruntung karena aku dientot oleh Aldi, walaupun kasar dan tidak mempedulikan orgasmeku. Aku juga jadi sedikit nyandu coccaine. Karena setiap kali aku datang kesana, selalu aku disuguhkan bubuk putih itu.

Namun, the worst thing is, aku belum berani juga cerita kepada Tom. Aku tahu ia sudah curiga, kalau aku punya affair, namun aku benar-benar takut kalau ia marah if he finds out that I’m a cum-loving slave for his friend, Aldi!

Hubunganku dengan hubby makin lama makin renggang. Sekarang Tom sering sekali pulang malam. Badannya selalu terlihat lemas seperti abis ngentot. Aku sudah ngira kalau dia suka makai ‘ayam’ bersama dengan teman-teman bule-nya yang lain.

Hari jumat yang lalu terjadi hal yang cukup gila juga menurutku. Seperti biasa aku pulang dari tempatnya Aldi sekitar pukul 10 malam. Malam itu aku sial. Aku hanya diperbolehkan menjilat-jilat kakinya Nadya sambil menonton bagaimana ia dientot oleh suaminya.

Aku neken coke cukup banyak malam itu. Jadi saat aku sampai rumah, aku sudah setengah sadar. Tom seperti biasa belum pulang. Tanpa mandi aku hanya membuka bajuku (aku selalu tidur naked!) dan ambruk di tempat tidur.

Kira-kira jam 4 pagi aku setengah terbangun mendengar tawa cekikikan seorang perempuan. Juga suara Tom yang berat.

“Oh my god! Who’s this?” tanya si cewek dengan logat indo yg jelas – pasti ‘ayam’, sempat terlintas di otakku yang masih burem.

“That’s my wife!” kata hubby-ku tertawa, “Don’t bother ’bout her. She’s fuckin’ stoned!”

Tom menidurkan pereknya di sampingku. Dengan posisiku yang menghadap ke jendela aku memunggungi dia. Aku tak kuat untuk bangun namun aku bisa mendengar Tom mengentotnya dengan kasar.

“Please, go slowly baby!”

Tom hanya mendengus. Memang Tom suka sekali ‘memakai’ cewek dengan kasar!

“Fuck baby, you hurt me! God! You split me open!”

Tiba-tiba tubuh cewek itu menekan ke punggungku. Toketnya yang besar dan kenyal terasa menempel di belakangku. Ia mulai menangis: “Please baby! Slower! My ass hurts!” Sentakan-sentakan Tom terasa di punggungku. Setiap kali ia memasukkan kontolnya ke anus pereknya, terasa toketnya menekan punggungku. Aku terfikir untuk bangun tapi aku terlalu lemas.

“Ahhhhrggg, tolong! Jangan! Jangan!” ia teriak-teriak tak karuan.

Karena tak tahan merasakan sakitnya perkosaan Tom di lubang pantatnya, ia mencengkramkan kuku-kuku jarinya yang panjang ke pundak dan toketku. Aku masih teringat mendengar Tom melenguh puas.

Besok paginya aku terbangun dengan sesosok wanita yang telanjang merangkulku dari belakang. Aku baru sadar bahwa ini adalah perek yang dibawa oleh suamiku tadi malam. Aku terduduk. Tom sudah pergi kantor.

Ada beberapa uang ratusan ribu di samping cewek itu di atas tempat tidur. Aku membelai rambutnya. Ia lumayan cantik buat seorang pelacur – sedikit ‘kampungan’ mungkin tapi masih sangat muda. Paling-paling baru 16 tahun. Ia berkulit hitam gelap, dengan muka khas Jawa.

Ada satu hal yang luar biasa di tubuhnya. Toket yang gede banget buat badannya. Aku penasaran. Aku remas toketnya tapi ia tidak bergeming. Aku cubit nipple-nya. Ia tetap diam. Mungkin ia terlalu capek buat bangun, pikirku.

Aku mulai horny melihatnya tak berdaya seperti itu. Aku membelai perut, pinggang dan pinggulnya, turun ke pantatnya. Ia begitu muda. Aku baru ingat, ia semalam disodomi sama Tom! Aku buka perlahan-lahan buah pantatnya dan terlihat lubang anusnya yang merah menganga. Cairan peju suamiku masih mengalir keluar dan menggenang di kasur.

Aku mulai memainkan memekku. Dua jariku dari tanganku satunya lagi aku selipkan ke dalam lubang anusnya. Setelah basah aku tusukkan jari-jariku tadi ke dalam memeknya. Badannya bergerak sedikit. Terasa sekali otot memeknya yang menjepit jari-jariku.

Aku baru sadar kalau di dekat memeknya banyak bekas cupang. Entah Tom, atau customer lain. Aku entot memeknya pelan-pelan dengan jari-jariku. Ia melenguh dengan lemas. Aku meludah ke memeknya. Jadi licin sekali! Aku masukkan 3, terus 4 jari. Aku suka sekali melihat memeknya yang muda itu menjepit dengan keras jari-jariku. Aku keluar-masukin lebih cepat lagi.

Aku melihat bagaimana lubang pantatnya tertekan dan sperma di dalamnya membusa keluar. Gemes aku rasanya! Horny sekali!

“Hari ini aku bakal bolos kerja nih kaya’nya,” pikirku. Aku memejamkan mataku dan kujulurkan lidahku ke dalam lubang anus yang penuh sperma di depanku….

TAMAT

Anissa 07 – Kado Dari Aldi

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh, Biseksual, Keroyokan)

Tanpa dipuaskan sama sekali aku pulang ke rumah. Tom malam itu tidak pulang. Sepertinya dia dapat perek yang bisa dientot olehnya. Lucky guy!

Aku tidak ada pilihan lain selain masturbasi lagi sambil membayangkan dientot sama Aldi. Aku juga tidak bisa melupakan tatapan Nadya yang horny saat ia membersihkan kontol suaminya.

Paginya sebelum aku berangkat kerja, Tom pun pulang.

“Baby, I missed you so much!” kataku sambil merangkulnya!

Ia masih kesal namun aku paksa dia untuk mengentotku saat itu, disitu juga. Akhirnya aku pun keluar! Finally. Tapi sepertinya Tom tidak keluar banyak. Aku tidak tau perek bule mana yang sekarang jalan-jalan dengan memek becek karena suamiku.

Kegiatan pagi hariku di kantor benar-benar membosankan. Aku diajak pergi lunch dengan Pete dan Mark (orang departemen Media) ke JW Marriot. Sepanjang lunch Pete meremas-remas pahaku terus menerus. Aku biarkan, namun tidak aku tanggapi juga.

Kira-kira 30 menit setelah lunch, aku dapat telepon dari resepsionis. Katanya ada orang mau ketemu denganku. Karena emang aku menunggu tamu orang dari production house, aku pun ke lobby.

Betapa kagetnya diriku melihat Nadya duduk menungguku. Ia dandan benar-benar seperti supermodel. Sendal berhak tinggi, rok super-mini, tank-top yang aku kira dipakainya tanpa BH dan dandanan yang cukup rapi. Kecantikannya benar-benar luar biasa sehingga ia tidak terlihat murahan sedikit pun. Aku juga baru menyadari betapa besar dan kencangnya kedua toketnya.

Saat melihatku ia berdiri. Aku bingung harus berkata apa. Untung aku dapat akal untuk membawa dia ke ruang meeting yang kosong – daripada jadi awkward dan orang-orang mulai gosip aneh-aneh lagi!

Aku tutup pintunya. Ketika aku berbalik, ternyata Nadya sudah duduk di atas meja. Sebelum aku sempat bertanya apa-apa, ia berkata: “Ada kado dari Aldi. Aku disuruh mengantarkannya ke kamu…”

Aku baru sekali ini mendengar suaranya. Lembut, lemah, hampir seperti ABG.

Aku tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya. Tiba-tiba ia mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Mengangkang selebar-lebarnya! Astaga! I can’t believe it! Nadya tidak memakai panties! Dari jarak 1 meter aku bisa mencium bau khas memek yang basah tercampur dengan bau peju! Benar saja… Ternyata memeknya Nadya sepertinya abis dientot dan dijadikan penampungan sperma!

Sambil membuka lubang vaginanya dengan jarinya ia menatapku dengan sayu: “Kamu harus habisin katanya Aldi, kalau besok-besok mau datang ke rumah lagi!”

Aku tak tau lagi harus bagaimana? Aku merasa kotor sekali melakukannya namun aku juga terangsang tiada taranya! Aku langsung menyambar memeknya Nadya! Mulutku kutempelkan di bibir memeknya sambil aku sedot-sedot isi sperma yang ada. Hidungku bergesekan dengan klitorisnya! Iya, aku memang pelacur murahan yang gunanya hanya untuk menelan sperma!

“Hmmmmgh….hmmmgh…” Nadya mengerang kecil…

Tangannya menahan kepalaku agar menghisap lebih kuat lagi. Otot-otot memeknya berkontraksi sehingga menekan keluar sperma di memeknya…

“Ohhhh… Nadya… I love your pussy! Basah sekali, sayang! Basah sekali!”

Pahanya yang halus dan langsing menjepit kepalaku. Aku menjilat memeknya dari bawah ke atas, menjilat-jilat dari dekat lubang anusnya sampai ke klitorisnya… Nadya mengerang cukup keras.

”Oh my god…” kataku diantara jilatan. ”..Banyak sekali spermanya! I can’t believe this!”

Memang sepertinya sperma yang tertampung di dalam memek Nadya jauh lebih banyak daripada waktu terakhir saat aku ‘membersihkannya’.

Ia berbisik ke telingaku dengan terengah-engah: “Kamu heran ya, kok spermanya banyak begini?”

Aku hanya menganggukkan kepala sambil terus menyedot cairan asin peju dari lubang kenikmatannya yang tiada habisnya.

“… Karena… Ini… Sperma…kumpulan… dari 4 cowok yang berbeda… yang baru saja mengentotku sebelum aku ke sini…”

Aku seperti mau pingsan! Pelacur paling rendahan pun mungkin tidak akan melakukan ini! Empat orang! Tanpa menyentuh memekku pun aku orgasme! Bersamaan dengan Nadya yang membanjiri mulutku dengan asamnya cairan kewanitaannya!

Dengan muka belepotan sperma aku terhempas di salah satu kursi ruang meeting. Nadya mencium bibirku. Lidahnya menjulur-julur ke dalam mulutku menyedot-nyedot sisa-sisa sperma yang ada di mulutku. Ia juga menjilat-jilat lelehan sperma yang mengalir ke daguku. Sepertinya lidahnya udah jago sekali dalam jilat-menjilat.

Ia mencium keningku dengan penuh kasih sayang dan meninggalkanku di ruangan meeting itu tanpa berkata apa-apa. Sambil membersihkan mukaku aku bertanya-tanya pada diriku mengapa aku bisa jatuh serendah ini.

TAMAT

Anissa 06 – Gak Tahan!

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh, Permainan Bertiga)

Satu minggu pas berlalu tanpa ada kabar dari Aldi. Weekend berlalu tanpa kejadian yang seru. Hari Senin itu aku suntuk sekali karena harus lembur sampai jam 8 malam dengan tim-nya Emir yang tak henti-hentinya nyengir-nyengir kaya’ anak SD setiap kali aku lewat depan cubicle mereka.

Waktu berlalu pelan sekali. Akhirnya kerjaan kita selesai juga dan aku naik mobilku untuk pulang. Di jalan ku telepon ke rumah. Sepertinya Tom juga belum pulang. Paling juga dia nyari ‘ayam’ karena gak aku kasih udah satu minggu ini. Dasar bule!

Aku pun dapat ide nekat. Aku putar balik ke arah apartemennya Aldi. Sepanjang jalan ke arah apartmennya aku merinding membayangkan aku bakal diapakan olehnya.

Aku pencet tombol bel apartemen. Terdengar suara langkah kaki. Aku senewen sekali.

Sesosok wanita di usia akhir 20 tahun-an, yang memakai gaun mandi silk berwarna merah maroon membukakan pintuku. Terlihat cleavage-nya yang dalam dan puting susunya yang tercetak di bahan gaun. Rambutnya acak-acakan dan matanya terbuka sayu. Ia hanya memandangku dengan pouty lips-nya yang sexy abis – Nadya! Baru sekarang aku melihat dengan jelas wanita yang waktu itu kujilat habis-habisan lubang pantatnya yang penuh sperma!

Kami hanya berpandangan.

“Datang juga kamu akhirnya!”

Lamunanku buyar mendengar suara Aldi memanggil dari dalam kamar.

“Nadya, baby! Biarkan dia masuk!”

Tanpa berkata apa-apa Nadya mempersilakan aku masuk. Baru sekarang aku bisa melihat Aldi. Ia melilitkan handuk di pinggangnya. Sepertinya ia baru saja habis mandi.

“Aku pikir kamu nggak mau kesini lagi, say? Waktu itu kamu manggil aku bajingan, ternyata doyan juga ya?” tanyanya dengan dingin.

Aldi menghampiriku dan mencium mulutku. Kujulurkan lidahku sedalam mungkin. Aku benar-benar kangen! Ia meremas-remas pantat dan toketku dari luar baju kantorku. Terasa tonjolan kontolnya yang keras.

Sementara itu Nadya hanya menundukkan kepalanya, seakan merasa tidak sopan kalau menonton kami bercumbuan seperti itu. Aku benar-benar terangsang making-out dengan Aldi di depan istrinya yang nerima saja kelakuan suaminya yang gila begitu.

Aldi mendorong tubuhku untuk berjongkok. Aku sudah mengerti dan melepas handuknya sehingga batang kontolnya yang tegang mencuat ke atas. Aku sedot-sedot sebisaku sambil meraba-raba otot paha dan pinggulnya yang kekar. Aku ingin ia cepat-cepat keluar di mulutku agar aku bisa merasakan spermanya yang nikmat itu. Namun setelah kira-kira dua atau tiga menit ia mencabutnya dari mulutku. Kontolnya diarahkan ke mukaku sehingga muncrat membasahi mukaku. Aku berusaha menangkap sebagian spermanya dengan mulutku namun hanya sedikit yang tertelan olehku.

Tanpa ba-bi-bu, Aldi menjauh dariku dan duduk di sofa.

“Sini Nad, bersihin!” perintahnya dengan santai.

Istrinya pun datang dengan nurut. Tanpa mengatakan apa-apa ia tiduran di samping Aldi dengan kepalanya di pangkuan Aldi. Sambil memandangku penuh birahi Nadya menjilat-jilat dan membersihkan kontolnya Aldi yang basah dengan spermanya. Aku iri sekali rasanya. Aku bangun untuk ikut menjilatnya namun Nadya mendorongku agar menjauh dengan kakinya. Seakan-akan ingin menikmatinya sendiri.

“Di… Please aku butuh dientot!” rengekku, udah nggak ada rasa malu atau harga diri lagi… “Please dong… Entot aku!”

Aldi hanya menatapku dingin dan berkata: “Kamu pulang dulu deh, Nissa. Aku lagi males ngentotin kamu. Udah! Pulang sana!”

Untuk kedua kalinya aku diusir dari tempat itu. Namun aku tahu ini bukan yang terakhir.

TAMAT

Anissa 05 – Kangen

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh)

Sejak malam itu tidak ada kabar apa pun dari Aldi. Sepertinya dia memang bajingan yang hanya ingin memanfaatkanku untuk sex.  Tapi entah kenapa aku menunggu-nunggu dia sms atau telfon. Aneh, padahal physically dia sama sekali bukan tipeku. Di sisi lain aku juga masih terlalu sakit hati untuk make the first move. Aku yakinkan saja diriku kalau aku tidak mau ketemu bajingan itu lagi seumur hidup.

Entah kenapa aku pun tidak cerita tentang pengalamanku dengan Aldi sama suamiku. Padahal aku ngentot sama laki-laki siapa pun juga pasti cerita kepada Tom – namanya juga kita menganut paham swinging lifestyle! Mungkin aku merasa terlalu hina untuk menceritakan ke Tom, bahwa aku membersihkan lubang pantat istrinya Aldi dengan lidahku. Aku takut setoleran-tolerannya suamiku, ia pun mungkin merasa jijik terhadapku.

Kira-kira empat hari berlalu tanpa kejadian apa-apa. Di kantor orang-orang semakin memandangku dengan aneh. Pete juga mulai genit-genit lagi denganku. Namun semua itu tidak kupedulikan. Yang ada di kepalaku hanyalah kejadian malam itu… Setiap kali aku memikirkannya memekku jadi basah dan aku harus pergi ke wc buat masturbasi. Hari Rabu aku sampai 4 kali masturbasi!

Menjelang akhir minggu aku rasanya ingin sekali menelepon Aldi. Malam harinya aku tidak bisa tidur. Tom mengajakku having sex tapi aku menolak. Dengan menggerutu dia tertidur. Aku benar-benar tidak bisa tidur. Akhirnya aku memain-mainkan memekku sambil sekali lagi aku membayangkan dientot oleh Aldi. Kangen rasanya. Ingin sekali aku merasakan asinnya sperma Aldi sekali lagi.

TAMAT

Anissa 04 – Lubang Pantat Nadya

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh, Biseksual)

Seharian aku nggak bisa konsentrasi di kantor. Sepertinya saat ini separuh kantorku sudah diceritakan sama Emir dan Michael, kalau aku seorang ‘bispak’. Tapi aku tidak memikirkan hal itu. Yang ada di benakku hanyalah ‘date’-ku sama Aldi yang ia bikin sepihak.

Aku dari pagi udah siap-siap dengan lingerie yang sexy di bawah baju kantorku. Terasa memekku semakin sore semakin basah. Akhirnya kerjaanku pun selesai dan aku meluncur ke alamatnya Aldi.

Apartemennya cukup megah namun terlihat masih baru dan masih kosong penghuninya. Aku pun naik lift ke lantai 22. Di dalam lift aku memasukkan tanganku ke dalam rok miniku. Gila, Udah banjir! Pasti udah keliatan noda basah cairan memek dari luar panties-ku!

Pelan-pelan kuketok pintu apartemen. Sejenak tidak ada yang menjawab dan aku pun berniat untuk kabur saja. Ternyata terdengar suara dari dalam:

“Anissa, silakan masuk! Dan kunci pintunya!”

Sialan. There’s no escape now! Aku beranikan diriku dan membuka pintu. Di dalam semuanya gelap. Kamar-kamar pun masih cukup kosong. Sepertinya si Aldi baru pindahan kesini!

Aku mengikuti lorong menuju kamar tidur. Di sana kulihat seorang wanita berbadan tinggi dengan rambut coklat panjang terurai telungkup di atas tempat tidur yang besar. Ia telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun. Sepertinya ia sedang tidur atau sedang tidak sadar.

Di belakangnya, sambil bersender di tembok, Aldi duduk dengan santai. Ia sepertinya sedang high dan terlihat ia sedang menyiapkan strip coccaine di atas meja kaca di samping tempat tidur.

“Ah, akhirnya kamu datang!” sapanya. “Perkenalkan, ini istriku Nadya. Sayang dia udah gak sadar. Kamu sih telat datangnya! Cantik nggak dia?”

Aku hanya mengangguk. Ia menghirup strip coccaine-nya dengan hidungnya. Ia menikmati rasanya sejenak.

“Kamu mau juga?” ia menawarkan strip berikutnya untukku.

Sudah lama sekali aku tidak ‘neken’ coccaine. Abis mahal juga sih! Aku mengangguk dan mendekati meja. Aku duduk di lantai dan menghirup habis strip buatku. Rasanya langsung naik ke kepala. Enak sekali. Aku terasa seperti melayang. Aku tersenyum nakal ke arah Aldi sambil menjilat bibirku. Aldi menarik badanku ke atas kasur dan mencium bibirku… Ia menjulurkan lidahnya yang hangat ke dalam mulutku. Aku hanya melenguh.

“Mau lagi?” tanyanya sambil meremas-remas buah dadaku.

Aku mengangguk. Ia sisihkan lagi satu baris buatku di atas meja kaca. Tapi, waktu aku mau bergerak untuk menghirup bubuk tersebut kepalaku didorongnya dengan kasar! Aku bingung.

“Nanti dulu! Kamu kok nggak mikirin tuan rumah sih. Kamu nggak kasihan tuh sama si Nadya?” ia menunjuk ke arah bagian pantat Nadya. Aku baru melihat bahwa di sekitar lubang pantatnya menggenang sperma banyak sekali.

“Sana! Kamu bersihin dulu. Baru kamu boleh neken lagi!”

Antara rasa jijik dan pengen dapat bubuk setan itu sekali lagi aku benar-benar bingung. Dengan iri aku melihat Aldi menghirup coccaine yang tadinya untukku.

”Ayo, say, jangan malu-malu!” katanya sambil tertawa mengejek.

Sepertinya aku udah nggak bisa mikir panjang. Aku naik ke atas tempat tidur dan pelan-pelan membuka pahanya Nadya. Banyak sekali sperma yang keluar dari lubang pantatnya. Aku melihat sekali lagi ke Aldi. Ia hanya tersenyum. Aku menundukkan kepalaku sambil membayangkan bagaimana Aldi tadi mengentot pantat istrinya sampai ia muncrat di dalam duburnya yang sempit. Bau khas yang tajam menusuk hidungku.

Aku mulai menjulurkan lidahku dan dengan sedikit ragu-ragu mulai menjilat sperma yang ada di sekitar lubang pantat wanita tersebut. Gila! Aku sudah benar-benar gila! Nggak tahu kenapa sepertinya aku sangat terangsang melakukan ini.

Tidak lama kemudian aku mulai menjilat tanpa ragu-ragu. Nadya benar-benar cewek yang cantik. Pantatnya indah sekali. Penuh dan sekel. Aku benar-benar jadi buas menelan semua spermanya Aldi yang kental itu. Aldi hanya memandangku dengan dingin.

“Ayo, say, di dalam pantatnya masih banyak kok!”

Aku merasa kotor sekali… Menjilati sperma laki-laki yang aku hampir tidak kenal dari lubang pantat istrinya…. Entah kenapa memekku berdenyut-denyut pengen dientot. Aku semakin gila menjilatinya. Aku tusukkan lidahku ke dalam lubang pantatnya Nadya yang licin. Benar saja! Di dalam lubangnya masih ada banyak lagi spermanya Aldi! Aku membuka lubangnya dengan jari-jariku. Keluarlah meleleh peju yang banyak yang langsung kutelan.

Aku dengar Nadya melenguh dalam tidurnya dan mengencangkan otot anusnya. Lidahku terasa terjepit dan aku tusukkan lebih dalam lagi hingga wajahku menempel ke buah pantatnya yang berlendir. Aku memainkan memekku dari luar baju. Aku tidak bisa menghentikan permainan ini. Aku menempelkan bibirku seperti french-kissing dengan lubang pantatnya Nadya. Spermanya Aldi mengalir tanpa hentinya ke dalam mulutku!

”Please give me some coke!” rengekku sambil mendongakkan wajahku. Aku baru sadar kalau Aldi sedang memrekam semuanya dengan handycam yang dia sembunyikan sebelumnya. Aku sudah tidak peduli.

”You can do it better, babe! Ayo terusin!” paksanya sambil mengeluarkan kontolnya yang udah tegang. Aku menjulurkan lidahku dan menusukkannya ke dalam pantatnya Nadya sambil tetap melihat nakal ke kamera. Aku memutar-mutar lidahku di sekitar otot anusnya.

”Please…” rengekku.

Aldi hanya tersenyum. Sambil terus merekam adegan tadi, ia membuka sekantong cocaine dan menaburkannya ke atas batang kontolnya yang ia basahkan dengan ludahnya. Aku langsung melahap kontolnya dengan mulutku. Rasanya nikmat sekali! Aku menyepongnya dengan keras. Aku maju-mundurkan kepalaku sampai terasa kontolnya di tenggorokanku.

”Mpppppppphhhhhh….” aku hanya melenguh… benar-benar high….

Aku mengocoknya sekuat tenaga dan tidak lama kemudian spermanya muncrat ke dalam tenggorokanku. Aku tersedak namun Aldi menahan kepalaku. Aku terbatuk-batuk, hampir kehabisan udara.

Aldi hanya memandangku dengan dingin.

”Bajingan kamu!” umpatku sambil terbatuk-batuk. Aldi hanya tersenyum.

”Ya udah, pergi sana!”

Aku bingung. Mungkin karena aku masih high banget, tapi mungkin juga karena aku tidak pernah diperlakukan sekasar ini.

”Udah keluar sana! Pulang ke suamimu!”

”Bajingan!” umpatku sambil menangis. Dengan muka yang masih basah oleh spermanya aku berlari keluar apartemennya Aldi. Belum pernah aku diperlakukan serendah itu.

TAMAT

Anissa 03 – Clubbing!

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh)

Dua weekend yang lalu aku diajak oleh Tom, suamiku, pergi clubbing bersama teman-teman bulenya. Kita mulai dari jam 9 di Dragonfly, minum-minum wine dengan sopan, terus pindah ke Vertigo setelah jam 11. Aku senang juga pindah ke sana, apalagi setelah tahu bahwa temanku Citra, bakal ada di sana juga.

Di mana ada si Citra, di situ pula ada ecstasy! Aku bukan junkie tulen, tapi kadang-kadang aku suka juga nelen pil gila itu. Sama juga seperti friday night itu! I really wanted to go crazy, dan ada E, udah pasti gila!

Kita berangkat bersama tiga orang temennya Tom: Shane, Robert, atau Rob dan Aldi, orang Indo. Shane dan Robert berbadan besar selayaknya bule dan masih single. Well, shane sebenarnya punya girlfriend tapi ia tinggal di Bangkok (paling juga local prostitute di sana lah, pikirku selalu). Sedangkan Aldi seperti cowok indonesia rata-rata. Udah married. Mukanya cukup keren namun badannya tegap tapi biasa aja.

Sampai di Vertigo, aku langsung meninggalkan cowok-cowok itu untuk mencari si Citra. Ternyata dia udah asiknya goyang-goyang sendiri di pojokan bersama laki-laki yang tidak kukenal. Aku diberinya sebutir E olehnya yang langsung kutelan diam-diam dan aku langsung pamit untuk kembali ke Tom dan kawan-kawan.

Belum terasa apa-apa aku terus dancing-dancing sensual di depan cowok-cowok bule tadi. Aku tahu mereka memperhatikan badanku yg terbalut tube-dress putih yg menyala karena UV-light di Vertigo. Terutama Aldi sepertinya cukup horny memperhatikan liuk-liukan tubuhku. Ia terus-menerus memandangiku dengan tatapan yang tajam. Walaupun aku tidak tertarik secara fisik dengannya, aku sengaja mau teasing dia dengan berciuman dengan Tom yang bernafsu sambil menatap mata Aldi dalam-dalam. Ia hanya menatapku dengan dingin.

Tak lama kemudian inex di badanku mulai ‘on’! Aku sudah tidak peduli apa-apa dan naik ke meja kami. Aku goyang tanpa malu. Shane juga naik ke atas meja dan kita bikin pertunjukan hebat selama (aku kira-kira) 1 jam lebih.

Aku keringatan tak karuan dan tubuhku benar-benar capek. Efek E juga sudah mulai buyar. Aku terduduk di sofa dan memejamkan mata sebentar. Karena efek obat gilaku, aku dapat melihat pola-pola yang aneh di kegelapan mataku.

Saat aku dengan lemas membuka mataku kembali, kulihat di kejauhan Shane sudah hook-up dengan cewek di bar. Robert entah di mana. Tom juga sedang tertawa-tawa dengan cewek yang baru ditemuinya. Aldi ada di sebelahku, duduk di sofa corner yg cukup redup. Aku menghadap ke arahnya dan bengong melihat jendolan kontolnya di jeans-nya. Ia mengusap pipiku.

Aku tidak bisa berhenti melihat ke selangkangan Aldi. Sepertinya kontolnya udah keras sekali. Tanpa sepatah katapun ia menarik badanku ke dekatnya. Dibukanya kakiku dengan kasarnya. Aku terkejut sekali. Jari-jarinya yang kasar menyusup ke balik dress-ku. Terus, terus naik menyusup dari samping panties-ku ke liang memekku. Dengan kasar jempolnya dimasukkan ke dalam memekku dan telunjuknya mengorek-ngorek lubang pantatku. Ia tersenyum dingin.

Aku melirik ke arah Tom. Ia sedang tidak melihat ke arahku.

“Please stop, nanti ada yg lihat!” pintaku.

Aldi mencabut jari dan jempolnya dan memasukkan keduanya ke dalam mulutku. Entah kenapa aku mengulum jari-jarinya. Ia tertawa merendahkan. Seakan-akan aku seorang perek yg senang kalau dibayar hanya Rp 5000,00.

Tidak banyak yang kuingat dari malam itu. Paginya aku terbangun di samping Tom, yang sepertinya mengentotku sewaktu aku sedang tidur lelap. Aku langsung bangun dan mandi. Kepalaku masih terasa berat sekali waktu ada bunyi sms di HP-ku.

Aku baca, dan cukup kaget juga: “Datang ke apartemenku besok malam!” Tertulis alamat di bilangan Kuningan. “Jangan lupa pakai baju yang sexy. -Aldi-“

TAMAT

Anissa 02 – Pesan Nyasar yang Bikin Lembur

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh, Keroyokan, Antar Ras, Perkosaan)

Setelah kejadian di pesta kantor, Pete belaga seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku kesel. Enak aja dia bisa ngentotin memekku tanpa ada tanda-tanda terima kasih sedikit pun! Aku berkali-kali mencoba mengajak ngomong bosku soal kejadian malam itu namun ia selalu mengelak. Nggak usah ngobrol berdua, satu ruangan pun dengan aku sendiri, Pete langsung mencari alasan untuk pergi! Aku benar-benar gemes dan kesal melihat tingkahnya.

Sekali waktu aku balik dari lunch lebih cepat daripada teman-teman yang lain. Tidak ada siapa-siapa di satu lantai kantor kami, kecuali satu atau dua orang yang sedang asik chatting via YM di cubicle mereka.

Waktu aku melewati ruangan Pete, sepertinya ia pun belum balik dari lunch. Aku tersenyum sendiri.

“Isengin ah!” kataku dalam hati! Pelan-pelan aku masuk ke dalam ruangannya. Aku tutup pintu agar tidak ada yang bisa melihat ke dalam. Sambil nyengir jahil aku membuka g-string renda yang aku pakai hari itu dan kuletakkan di atas laptop Pete yang ada di atas mejanya. Aku tertawa sendiri.

“Kalau dia tetap ‘gak ingat’ juga sama malam itu sih keterlaluan!” tawaku dalam hati. Tetapi aku terdiam. Sepertinya ada yang masih kurang – surprise-ku kaya’nya belum perfect!

Aku mengambil kembali g-string-ku dan mengangkang sedikit. Sambil sedikit jongkok aku gesek-gesek celana dalamku di permukaan memekku yang basah berlendir. Sialan, aku jadi konak!

Setelah cukup basah, aku cium g-string tersebut…. Hmmm… Benar-benar bau memek! Hahaha! Terdengar orang-orang yang kembali dari lunch. Cepat-cepat aku taro g-string-ku di atas laptop si bos, terus aku kabur.

Aku benar-benar tidak sabar menunggu reaksinya Pete. Ngebayangin dia mencium-cium g-string yang bekas aku pakai saja bikin aku horny sekali.

Sejam berlalu, kuperhatikan dari cubicle-ku bahwa bosku telah mondar-mandir keluar masuk ruangan berkali-kali. Kok mukanya ‘lempeng’ aja ya? Aku benar-benar bingung. Apa dia nggak lihat? Sepertinya nggak mungkin deh! Aku semakin kesal dan frustrasi.

Hariku berlalu seperti biasa. Jam menunjukkan pukul enam sore. Aku siap-siap untuk pulang waktu Emir, seorang Junior Art Director yang jauh lebih muda dariku menghampiriku.

“Nissa, loe udah mau balik?”

“Iya. Udah kelar semua kerjaan gue. Mo balik ah!” jawabku. Aneh. Jarang sekali si Emir mengajak aku ngobrol.

“Loe mau nebeng gue?”

“Nggak.”

Bukannya menyudahi small-talknya Emir hanya terdiam sambil nyengir-nyengir di hadapanku. Matanya memperhatikan belahan rok mini-ku yang cukup berani.

“Nis, loe di kantor gak pernah kedinginan ya?” Aku terdiam.

“Maksud loe?”

“Iya, aneh aja. Orang lain bilang AC kantor kita terlalu dingin… Kok elo malah pake buka-buka celana dalam loe segala sih?”

Ia menatapku sambil menyengir.

“Gue, gak tau, loe ngomong apa, Mir!” kataku, dan melangkah pergi dari cubicle-ku. Tiba-tiba tangan Emir menangkap lenganku.

“Anissa… Jangan pergi gitu dong, say. Gue tadi nemuin barang di ruangan si bos. Kalau gue gak tahu ini barang punya siapa, kan harusnya gue kasih ke bagian HRD. Tapi gue takutnya ntar jadi bikin masalah…”

Sambil mendekatkan mulutnya ke telingaku ia berkata, sedikit bisik-bisik: “Dan gue yakin, loe orang yang nggak suka masalah, kan?”

Aku hanya menunduk mengalah: “Loe mau apa, Mir?”

“Gue? Oh, gue maksud loe? Enggak. Gue gak mau apa-apa kok, Nis. Lagi pengen ngobrol aja sama loe. Gue harus begadang nih ngerjain layout buat client gue. Loe mau nemenin gue kan?” Aku hanya mengangguk. Kalau aku tidak menurut sama Emir, mungkin dia bisa merepotkan posisiku di kantor.

Akhirnya aku ikut ke cubicle-nya Emir. Di sana orang-orang mulai pulang satu per satu. Aku duduk di sebelahnya, pura-pura memperhatikan apa yang Emir kerjakan di layar macintosh-nya.

Jam menunjukkan pukul 8. Aku sudah menelepon suamiku, untuk memberitahukan aku ada kerja lembur. Dia sudah biasa. Emir dari tadi hanya sibuk dengan layoutnya, sama sekali tidak memperhatikan aku ada disana.

Jam 9. Di kantor tinggal ada Emir dan Michael, anak magang yang disuruh ikut lembur sama Emir. Michael, yang duduk di cubicle seberang, adalah anak keturunan chinese yang sedikit tambun. Lampu-lampu sudah redup. AC sudah dimatikan. Satu-satunya cahaya adalah layar-layar komputer dan lampu-lampu gedung-gedung tinggi di luar.

“Eh, udah malam ya?” tanya si Emir dengan nada dibuat-buat. “Gue sampai lupa ada elo, Nis!”

Aku benar-benar kesal! Maunya apa sih ini orang?

“Ya udah deh. Loe kan mau pulang… Mendingan loe mulai deh. Gue biasanya lama lho keluarnya…”

Aku hanya terdiam. Gila ini orang.

“Eh, Nissa, loe denger gak sih gue ngomong? Ayo jongkok depan gue. Mulai loe!”

Kasar sekali orang ini. Aku malu dan terhina. Anak kecil ini, yang biasanya secara hierarchy kantor di bawah aku, menyuruh-nyuruhku seperti pelacur murahan.

“Hei, bengong lu! Buruan!”

“Mir… Masih ada Michael…”

“Trus emang kenapa? Oh, loe kasian sama dia? Iya juga sih, anak magang kasihan kalo kita suruh kerja rodi mlulu. Dia kan pengen belajar juga.” Emir memanggil Michael ke tempat kita. Aku rasanya mau pingsan. Hina sekali diriku…

“Mike, duduk sini loe! Loe liatin ya! Kalo loe nanti udah jadi pegawai di sini loe boleh juga diisep sama si Anissa… Nis! Jangan bengong loe! Cepetan! Gue masih banyak kerjaan nih!”

Aku merasa seperti di dalam mimpi (nightmare mungkin ya?) saat aku jongkok di depan Emir. Aku membuka resleting celana jeansnya dan aku keluarkan kontolnya yang hitam. Cukup panjang juga buat orang Indonesia, cuma kurang lebar kalau menurut seleraku. Aku buka mulutku lebar-lebar dan memasukkan seluruh batangnya ke dalam mulutku. Aku menyepongnya sekuat tenaga… Maju, mundur, maju, mundur…

Dibantu dengan lidahku yang menari-nari di bagian bawah batangnya. Aku berharap ia cepat-cepat menyemburkan spermanya ke dalam mulutku, agar aku bisa cepat pulang. Tangan Emir meremas-remas toketku dari luar baju. Pasti terasa olehnya putingku yang mengeras. Tetapi si brengsek ini hanya terus ngobrol sama si Michael, mengomentari layoutnya. Si Mike sepertinya sulit untuk konsentrasi!

‘Dicuekin’ seperti itu aku merasa semakin tertantang. Tanpa kusadari aku mengocok kontolnya semakin cepat, semakin dalam… Sekali-sekali terasa mentok di tenggorokanku. Terdengar suara kecipak-kecipak yang benar-benar jorok! Tanpa kusadari aku memainkan klitorisku. Tanganku yang kiri menumpu badanku yang sedang jongkok, sedangkan yang kanan menggosok-gosok memekku yang sudah benar-benar licin.

“Wah, bos,” sahut Michael ke Emir. “Liat tuh, dia memeknya kebuka banget!”

“Eh, loe! Lagi gue ajarin ngelay-out, perhatiin dong! Dasar anak magang! Susah deh emang kalo udah ada pelacur di kantor! Jadi gak ada yang bisa konsentrasi.”

Aku sudah bodo amat. Memekku terasa menegang dan berdenyut-denyut. Tanganku yang tadinya hanya memainkan klitoris, kini aku sumpel dalam-dalam ke liang memekku. Seperti orang yang lagi dientot, aku merasa memekku mencengkram jari-jariku. Tidak lama kemudian aku orgasme!

“Ummmmmmpff!” Aku tidak bisa teriak karena kontolnya Emir yang menyumbat tenggorokanku.

“Sialan ini perek!” umpat Emir. “Belom gue suruh udah keluar! Paling males gue ngewe sama cewek yang memeknya udah keseringan dientot.”

Emir menampar pipiku yang masih saja mengisap-isap kontolnya.

“Bangun loe! Nggak enak banget disepong sama loe! Sini nungging di meja! Buang waktu gue aja loe!”

Aku udah seperti orang dungu mengikutinya. Aku menungging dengan badan atasku terlungkup di atas meja kantor yang dingin.

Aku melihat Michael yang memegang-megang kontolnya dari luar celana. Mukanya sudah merah sekali.

Emir mengangkat rok miniku.

“Wah, udah ngira gue! Lihat nih pantat. Udah sering dipake juga nih.”

Dengan kasarnya ia menusukkan jarinya ke dalam anusku. Aku menjerit kecil. Tapi, iya, memang. Siapa saja yang telah melihat bentuk lobang pantatku pasti bakal tahu, kalau aku sering sekali disodomi. Terutama oleh Tom, suamiku.

Aku merasa penuh sekali dengan dua jari Emir yang keluar masuk lubang pantatku.

“Please… udahan dong!” rengekku.

“Dasar perek. Mikirin diri sendiri aja loe!”

Jari-jarinya ditarik keluar. Terasa udara dingin di sekitar lubang pantatku yang sekarang terbuka menganga. Tetapi anusku tidak lama kosong. Terasa ujung kontolnya Emir menusuk dengan kasar, membuka lebih lebar lagi lubang pantatku.

“Aghhhhhh…. Entot pantat gue, Mir!”

“Diem lu! Pelacur! Pasti gaji loe gede karena suka ngentot sama si bule deh! Perek!”

Sambil memaki-makiku Emir memukul-mukul buah pantatku. Aku hanya memajumundurkan pantatku agar ia cepat keuar. Untuk menghilangkan rasa nyeri di pantatku, aku gesek-gesek klitorisku lagi. Aku merasa hina sekali. Ternyata aku terangsang juga ‘diperkosa’ seperti ini.

“Perek bule loe, Nis! Ini bakal gue certain ke semua anak di kantor biar loe tahu rasa dientot sama satu kantor! Agghhhhhhh…..”

Emir menegang dan terasa kontolnya mengeluarkan sperma ke dalam lubang pantatku. Aku pun keluar sekali lagi. Biarpun orgasmeku tidak sehebat sebelumnya, aku mengerang cukup keras. Hangat terasa cairan spermanya yang langsung mengalir keluar lagi, seiring dengan dicabutnya kontol yang panjang itu.

Aku lelah sekali. Terdiam aku di posisi nunggingku, sambil memain-mainkan memekku yang memar serta sperma yang menetes ke lantai.

“Perek!” sahut Emir.

Ia meludah ke arah lubang pantatku. Sepertinya ia punya dendam terhadapku. Aneh, padahal aku jarang sekali bicara dengannya.

Masih lemas sekali terdengar olehku bisik-bisik antara Michael dan Emir.

“Terserah loe, Mike! Loe mau keluarin di mana kek! Emang gue peduli?” katanya sambil tertawa.

Aku menoleh ke belakang dan kulihat Michael sedang mengocok kontolnya yang kecil namun sudah tegang sekali. Ia mengarahkan kontolnya ke arah lubang pantatku. Aku hanya memejamkan mata. Terasa cipratan spermanya mengenai lubang pantatku yang terbuka menganga.

TAMAT