Category Archives: reni

Cerita dengan Reni sebagai tokoh utamanya

Reni – Tongkat Pak Satpam

Copyright 2004, by Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com) and Eastgloryid (eastgloryid@yahoo.com)

(Istri Selingkuh)

Para pembaca tentu masih ingat aku, Reni, yang pada kisah ” Kekeliruanku ” telah terjebak dalam pusaran gairah seorang pengojek di kepulauan di Sumatra saat ditugaskan sebagai pimpinan unit sebuah bank BUMN. Bagi yang belum pernah membaca akan saya perkenalkan lagi diri saya, nama saya Reni (samaran) saat ini usia 28 tahun. Kata orang saya memiliki segalanya kekayaan, kecantikan dan keindahan tubuh yang menjadi idaman setiap wanita. Dengan tinggi 165 cm dan berat 51 menjadikan aku memiliki pesona bagi lelaki mana saja. Apalagi wajahku boleh dibilang cantik dengan kulit kuning langsat dan rambut sebahu. Aku telah menikah setahun lebih.

Latar belakang keluargaku adalah dari keluarga Minang yang terpandang. Sedangkan suamiku, sebut saja Ikhsan adalah seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang.

Setelah suamiku menyelesaikan studinya di luar negeri, aku mengusulkan untuk mengajukan pindah ke kota Padang agar dapat berkumpul lagi dengan keluarga. Setelah melalui birokrasi yang cukup memusingkan ditambah sogok sana sogok sini akhirnya aku bisa pindah di kantor pusat di Kota Padang.

Sebagai orang baru, aku tentu saja harus bekerja keras untuk menunjukkan kemampuanku. Apalagi tugas baruku di kantor pusat ini adalah sebagai kepala bagian. Aku harus mampu menunjukkan kepada anak buahku bahwa aku memang layak menempati posisi ini. Sebagai konsekuensinya aku harus rela bekerja hingga larut malam menyeleseaikan tugas-tugas yang sangat berbeda saat aku bertugas di kepulauan dahulu. Hal ini membuat aku harus selalu pulang larut malam karena jarak rumah kami dengan kantor yang cukup jauh yang harus kutempuh selama kurang lebih 30 menit dengan mobilku.

Akibatnya aku jadi jarang sekali bercengkerama dengan suamiku yang juga mulai semakin sibuk sejak karirnya meningkat. Praktis kami hanya bertemu saat menjelang tidur dan saat sarapan pagi.

Atas kebijakan pimpinan aku selalu dikawal satpam jika hendak pulang. Sebut saja namanya Pak Marsan, satpam yang kerap mengawalku dengan sepeda motor bututnya yang mengiringi mobilku dari belakang hingga ke depan halaman rumahku untuk memastikan aku aman sampai ke rumah. Dengan demikian aku selalu merasa aman untuk bekerja hingga selarut apapun karena pulangnya selalu di antar. Tak jarang aku memintanya mampir untuk sekedar memberinya secangkir kopi hingga suamiku pun mengenalnya dengan baik. Bahkan suamiku pun kerap kali memberinya beberapa bungkus rokok Gudang Garam kesukaannya.

Pak Marsan adalah lelaki berusia 40 tahunan. Tubuhnya cukup kekar dengan kulit kehitaman khas orang Jawa. Ia memang asli Jawa dan katanya pernah menjadi preman di Pasar Senen Jakarta. Ia sudah menjadi satpam di bank tempat saya bekerja selama 8 tahun. Ia sudah beristri yang sama-sama berasal dari Jawa. Akupun sudah kenal dengan istrinya, Yu Sarni.

Suatu hari, saat aku selesai lembur. Aku kaget saat yang mengantarku bukan Pak Marsan, tetapi orang lain yang belum cukup kukenal.

“Lho Pak Marsan di mana, Bang?” tanyaku pada satpam yang mengantarku.

“Anu, Bu, Pak Marsan hari ini minta ijin tidak masuk. Katanya istrinya melahirkan,” katanya dengan sopan.

Akhirnya aku tahu kalau yang mengantarku adalah Pak Sardjo, satpam yang biasanya masuk pagi.

“Kapan istrinya melahirkan?” tanyaku lagi.

“Katanya sih hari ini atau mungkin besok, Bu,” jawabnya.

Akhirnya hari itu aku pulang dengan diiringi Pak Sardjo.
Awal Perselingkuhan

Sudah dua hari aku selalu dikawal Pak Sardjo karena Pak Marsan tidak masuk kerja. Hari Minggu aku bersama suamiku memutuskan untuk menjenguk istri Pak Marsan di Rumah Sakit Umum. Akhirnya aku mengetahui kalau Yu Sarni mengalami pendarahan yang cukup parah atau bleeding. Dengan kondisinya itu ia terpaksa menginap di Rumah Sakit untuk waktu yang agak lumayan setelah post partum. Atas saran suamiku aku ikut membantu biaya perawatan istri Pak Marsan, dengan pertimbangan selama ini Pak Marsan telah setia mengawalku setiap pulang kerja.

Sejak saat itu hubungan keluargaku dengan keluarga Pak Marsan seperti layaknya saudara saja. Kadangkala Yu Sarni mengirimkan pisang hasil panen di kebunnya ke rumahku. Walaupun harganya tidak seberapa, tetapi aku merasa ada nilai lebih dari sekedar harga pisang itu. Ya, rasa persaudaraan! Itulah yang lebih berharga dibanding materi sebanyak apapun. Sering pula aku mengirimi biskuit dan sirup ke rumahnya yang sangat sederhana dan terpencil. Memang rumahnya berada di tengah kebun yang penuh ditanami pisang dan kelapa.

Karena seringnya aku berkunjung ke rumahnya maka tetangga yang letaknya agak berjauhan sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarga Pak Marsan.

Suatu hari, saat aku pulang lembur seperti biasa aku diantar Pak Marsan. Begitu sampai ke depan rumah tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya hingga kusuruh Pak Marsan untuk menunggu hujan reda.

Aku suruh pembantuku, Mbok Rasmi yang sudah tua untuk membuatkan kopi baginya. Sementara Pak Marsan menikmati kopinya aku pun masuk ke kamar mandi untuk mandi. Merupakan kebiasaanku untuk mandi sebelum tidur.

Hujan tidak kunjung reda hingga aku selesai mandi, kulihat Pak Marsan masih duduk menikmati kopinya dan rokok kesukaannya di teras sambil menerawang hujan. Hanya dengan mengenakan baju tidur babydoll, aku ikut duduk di teras untuk sekedar menemaninya ngobrol. Kebetulan lampu terasku memang lampunya agak remang-remang. Memang sengaja kuatur demikian dengan suamiku agar enak menikmati suasana.

“Gimana sekarang punya anak, Pak? Bahagia kan?” tanyaku membuka percakapan.

“Yach.. bahagia sekali, Bu..! Habis dulu istri saya pernah keguguran saat kehamilan pertama, jadi ini benar-benar anugrah yang tak terhingga buat saya, Bu.. Apalagi kami berdua sudah tidak muda lagi…”

“Memang, Pak… Aku sendiri sebenarnya sudah ingin punya anak, tetapi…” Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku karena jengah juga membicarakan kehidupan seksualku di depan orang lain.

“Tetapi kenapa, Bu… Ibu kan sudah punya segalanya.. Mobil ada… Rumah juga sudah ada… Apa lagi,” timpalnya seolah-olah ikut prihatin.

“Yach…itu lah pak… dari materi memang kami tidak kekurangan, tetapi dalam hal yang lain mungkin kehidupan Yu Sarni lebih bahagia.”

“Mmm maksud ibu…” tanyanya terheran-heran.

“Itu lho pak… Pak Marsan kan tahu kalau saya selalu kerja sampai malam sedangkan Bang Ikhsan juga sering tugas ke luar kota jadi kami jarang bisa berkumpul setiap hari. Sekarang aja Bang Ikhsan sedang tugas ke Jakarta sudah seminggu dan rencananya baru empat hari lagi baru kembali ke Padang.”

“Yachh.. memang itulah rahasia kehidupan, Bu… Kami yang orang kecil seperti ini selalu kesusahan mikir apa yang hendak dimakan besok pagi… sedangkan keluarga Ibu yang tidak kekurangan materi malah bingung tidak dapat kumpul.”

Matanya sempat melirikku yang saat itu mengenakan babydoll dari satin berwarna pink. Dalam balutan pakaian itu, pundak dan pahaku yang putih memang terbuka. Aku mengenakan pakaian itu karena memang tadinya niatnya akan langsung tidur. Di samping itu aku sudah merasa dekat dengan Pak Marsan yang selama ini selalu bersikap sopan padaku. Istrinya pun sudah dekat denganku. Demikian pula sebaliknya suamiku dengan Pak Marsan. Jadi aku tak merasa risih berpakaian seperti itu di depan Pak Marsan.

Baru kusadar sewaktu melihat jakunnya naik turun melihat kemolekan tubuhku. Aku sadar tubuhku yang terbuka telah membuatnya terangsang. Bagaimanapun, ia tetaplah seorang lelaki normal…

Mungkin karena hujan yang semakin deras dan aku pun jarang dijamah suamiku membuat gairah nakalku bangkit.

Aku sengaja mengubah posisi dudukku sehingga pakaianku yang sudah mini itu jadi tersingkap. Pahaku yang mulus kini sepenuhnya kelihatan. Hal ini membuat duduknya semakin gelisah. Matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah pahaku.

“Sebentar Pak, saya ambil minuman dulu,” kataku sambil bangkit dan berjalan masuk. Aku sadar bahwa pakaian yang kukenakan saat itu agak tipis sehingga bila aku berjalan ke tempat terang tubuhku akan membayang di balik gaun tipisku.

“Oh ya, Pak Marsan masuk saja ke dalam soalnya hujan kan… Di luar dingin…”

“I..iya, Bu..” jawab Pak Marsan agak tergagap karena lamunannya terputus oleh undanganku tadi.

Jakunnya semakin naik turun dengan cepat. Aku tahu ia tentu sudah lama tidak menyentuh istrinya sejak melahirkan bulan kemarin, karena usia kelahiran bayinya belum genap 40 hari. Suasana sepi di rumahku ditambah dengan dinginnya malam membuat gairahku bergejolak menuntut penuntasan.

Apa boleh buat aku harus berhasil menggoda Pak Marsan, apapun caranya. Demikian tekad nakalku menari-nari dalam kepalaku.

Pak Marsan pun masuk dan duduk di sofa ruang tamuku. Mbok Sarmi sudah terlelap di kamarnya di belakang. Aku yang semakin gelisah sibuk mencari-cari akal bagaimana menundukkan Pak Marsan yang tentu saja tidak mungkin berani untuk memulai karena aku adalah bosnya di kantor.

Setelah mengambil minuman, aku duduk di ruang tamu berhadap-hadapan dengan Pak Marsan. Duduknya semakin gelisah melihat penampilanku yang sangat segar habis mandi tadi. Akhirnya mungkin karena tidak tahan atau karena udara dingin ia minta ijin untuk ke kamar kecil.

“Eh.. anu, Bu.. Boleh minta ijin ke kamar kecil, Bu.”

“Silakan, Pak.. Pakai yang di dalam saja.”

“Ah.. enggak, Bu saya enggak berani.”

“Enggak apa-apa… Itu, Pak Marsan masuk aja, nanti ada di dekat ruang tengah itu.”

“Baik, Bu…”

Sambil berdiri ia membetulkan celana seragam dinasnya yang ketat. Aku melihat ada tonjolan besar yang mengganjal di sela-sela pahanya. Aku membayangkan mungkin isinya sebesar tongkat pentungan yang selalu dibawa-bawanya saat berjaga… atau bahkan mungkin lebih besar lagi.

Agak ragu-ragu ia melangkah masuk hingga aku berjalan di depannya sebagai pemandu jalan. Akhirnya kutunjukkan kamar kecil yang bisa dipakainya. Begitu ia masuk aku pun pergi ke dapur untuk mencari makanan kecil, sementara di luar hujan semakin lebat diiringi petir yang menyambar-nyambar.

Aku terkejut saat aku keluar dari dapur tiba-tiba ada tangan kekar yang memelukku dari belakang. Toples kue hampir saja terlepas dari tanganku karena kaget. Rupanya aku salah menduga. Pak Marsan yang kukira tidak mempunyai keberanian ternyata tanpa kumulai sudah mendahului dengan cara mendekapku. Napasnya yang keras menyapu-nyapu kudukku hingga membuatku merinding.

“Ma..maaf, Bu.. say.. saya sudah tidak tahan…” desisnya diiringi dengus napasnya yang menderu.

Lidahnya menjilat-jilat tengkukku hingga aku menggeliat sementara tangannya yang kukuh secara menyilang mendekap kedua dadaku. Untuk menjaga wibawaku aku pura-pura marah.

“Pak Marsan… apa-apaan ini” suaraku agak kukeraskan sementara tanganku mencoba menahan laju tangan Pak Marsan yang semakin liar meremas payudaraku dari luar gaunku.

“Ma..af, Bu.. say.. saya.. sudah tidak tahan lagi..” diulanginya ucapanya yang tadi tetapi tangannya semakin liar bergerak meremas dan kedua ujung ibu jarinya memutar-mutar kedua puting payudaraku dari luar gaun tipisku.

Perlawananku semakin melemah karena terkalahkan oleh desakan napsuku yang menuntut pemenuhan. Apalagi tonjolan di balik celana Pak Marsan yang keras menekan kuat di belahan kedua belah buah pantatku. Hal ini semakin membuat nafsuku terbangkit ditambah dinginnya malam dan derasnya hujan di luar sana. Suasana sangat mendukung bagi setan untuk menggoda dan menggelitik nafsuku.

Tubuhku semakin merinding dan kurasakan seluruh bulu romaku berdiri saat jilatan lidah Pak Marsan yang panas menerpa tulang belakangku. Tubuhku didorong Pak Marsan hingga tengkurap di atas meja makan dekat dapur yang kokoh karena memang terbuat dari kayu jati pilihan. Saat itulah tiba-tiba salah satu tangan Pak Marsan beralih menyingkap gaunku dan meremas kedua buah pantatku.

Aku semakin terangsang hebat saat tangan Pak Marsan yang kasar menyusup celana dalam nylonku dan meremas pantatku dengan gemas. Sesekali jarinya yang nakal menyentuh lubang anusku.

Gila..!! Benar-benar lelaki yang kasar dan liar. Tapi aku senang karena suamiku biasanya memperlakukanku bak putri saat bercinta denganku. Ia selalu mencumbuku dengan lembut. Ini sensasi lain..!! Kasar dan liar…apa lagi samar-samar kucium aroma keringat Pak Marsan yang berbau khas lelaki! Tanpa parfum…gila aku jadi terobsesi dengan bau khas seperti ini. Hal ini mengingatkanku pada saat aku bermain gila dengan Pak Sitor di kepulauan dahulu.

“Akhh..pakk..Marsannhh jangg…anhhhh” desahku antara pura-pura menolak dan meminta.

Ya, harus kuakui kalau aku benar-benar rindu pada jamahan lelaki kasar macam Pak Marsan. Pak Marsan yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mempedulikan apa-apa lagi. Dengan beringas dan agak kasar digigitnya punggungku di sana-sini sehingga membuat aku menggeliat dan menggelepar seperti ikan kekurangan air. Apalagi saat bibirnya yang ditumbuhi kumis tebal seperti kumisnya pak Raden mulai menjilat-jilat pantatku.

“Akhh..pakk..akhh..jang..akhh”

Kepura-puraanku akhirnya hilang saat dengan agak kasar mulut Pak Marsan dengan rakusnya menggigiti kedua belah pantatku!! Luar biasa sensasi yang kurasakan saat itu. Pantatku bergoyang-goyang ke kanan dan kiri menahan geli saat digigit Pak Marsan. Mungkin kalau disyuting lebih dahsyat dibanding goyang ngebornya si Inul yang terkenal itu.

“Emhh..pantat ibu indahh…” kudengar Pak Marsan menggumam mengagumi keindahan pantatku. Lalu tanpa rasa jijik sedikitpun lidahnya menyelusup ke dalam lubang anusku dan jilat sana jilat sini.

“Ouch…shh…Am..ampunnhhh” aku mendesis karena tidak tahan dengan rangsangan yang diberikan lelaki kasar yang sebenarnya harus menghormati kedudukanku di kantor. Aku benar-benar pasrah total.

Liang vaginaku sudah berkedut-kedut seolah tak sabar menanti disodok-sodok. Rangsangan semakin hebat kurasakan saat tiba-tiba kepala Pak Marsan menyeruak di sela-sela pahaku dan mulutnya yang rakus mencium dan menyedot-nyedot liang vaginaku dari arah belakang.

Secara otomatis kakiku melebar untuk memberikan ruang bagi kepalanya agar lebih leluasa menyeruak masuk. Aku sepertinya semakin gila. Karena baru kali ini aku bermain gila di rumahku sendiri. Tapi aku tak peduli yang penting gejolak nafsuku terpenuhi. Titik!

“Ouch… shh…terushhh.. Ohhh, Pak Marsanhhh…”

Dari menolak aku menjadi meminta! Benar-benar gila!! Pantatku semakin liar bergoyang saat lidah Pak Marsan menyelusup ke dalam alur sempit di selangkanganku yang sudah sangat basah dan menjilat-jilat kelentitku yang sudah sangat mengembang karena birahi. Aku merasakan ada suatu desakan maha dahsyat yang menggelora, tubuhku seolah mengawang dan ringan sekali seperti terbang ke langit kenikmatan. Tubuhku berkejat-kejat menahan terpaan gelora kenikmatan.

Pak Marsan semakin liar menjilat dan sesekali menyedot kelentitku dengan bibirnya hingga akhirnya aku tak mampu lagi menahan syahwatku.

“Akhhh…Pak Marsannnhhh akhhh…”

Aku mendesis melepas orgasmeku yang pertama sejak seminggu kepergian suamiku ini. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku bergerak liar untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam karena lemas. Napasku masih memburu saat Pak Marsan melepaskan bibirnya dari gundukan bukit di selangkanganku. Lalu masih dengan posisi tengkurap di atas meja makan dengan setengah menungging tubuhku kembali ditindih Pak Marsan.

Kali ini ia rupanya sudah menurunkan celana dinasnya karena aku merasakan ada benda hangat dan keras yang menempel ketat di belahan pantatku. Gila panas sekali benda itu! Aku terlalu lemas untuk bereaksi.

Beberapa saat kemudian aku merasakan benda itu mengosek-osek belahan kemaluanku yang sudah basah dan licin. Sedikit demi sedikit benda keras itu menerobos kehangatan liang kemaluanku. Sesak sekali rasanya. Mungkin apa yang kubayangkan tadi benar!! Karena selama ini aku belum pernah melihat ukuran, bentuk maupun warnanya! Tapi aku yakin kalau warnanya hitam seperti si empunya!!

Aku kembali terangsang saat benda hangat itu menyeruak masuk dalam kehangatan bibir kemaluanku.

“Hkkk…hhh.. shhh.. mem..mekhh Bu.. Ren..ni benar-benar legithhhh…” Gumam Pak Marsan di sela-sela napasnya yang memburu. Didesakkannya batang kemaluan Pak Marsan ke dalam lubang kemaluanku. Ouhhh lagi-lagi sensasi yang luar biasa menerpaku. Di kedinginan malam dan terpaan deru hujan kami berdua justru berkeringat…

Gila… Pak Marsan menyetubuhiku di ruang makan tempat aku biasanya sarapan pagi bersama suamiku! Gaunku tidak dilepas semuanya, hanya disingkap bagian bawahnya sedangkan celana dalam nylonku sudah terbang entah kemana dilempar Pak Marsan.

“Ouhh Pak Marsann.. ahhhh….”

Aku hanya mampu merintih menahan nikmat yang amat sangat saat Pak Marsan mulai memompaku dari belakang! Dengan posisi setengah menungging dan bertumpu pada meja makan, tubuhku disodok-sodok Pak Marsan dengan gairah meluap-luap.

Tubuhku tersentak ke depan saat Pak Marsan dengan semangat menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam jepitan liang kemaluanku! Lalu dengan agak kasar ditekannya punggungku hingga dadaku agak sesak menekan permukaan meja! Tangan kiri Pak Marsan menekan punggungku sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah pantatku dengan gemasnya.

Tanpa kusadari tubuhku ikut bergoyang seolah-olah menyambut dorongan batang kemaluan Pak Marsan. Pantatku bergoyang memutar mengimbangi tusukan-tusukan batang kemaluan Pak Marsan yang menghunjam dalam-dalam.

Suara benturan pantatku dengan tulang kemaluan Pak Marsan yang terdengar di sela-sela suara gemuruh hujan menambah gairahku kian berkobar. Apalagi bau keringat Pak Marsan semakin tajam tercium hidungku. Oh..inikah surga dunia… Tanpa sadar mulutku bergumam dan menceracau liar.

“Ouhmmm terushh.. terushh.. yang kerashhh..”

Aku menceracau dan menggoyang pantatku kian liar saat aku merasakan detik-detik menuju puncak.

“Putar, Bu…putarrrhh”

Kudengar pula Pak Marsan menggeram memberiku instruksi untuk memuaskan birahinya sambil meremas pantatku kian keras. Batang kemaluannya semakin keras menyodok liang kemaluanku yang sudah kian licin. Aku merasakan batang kemaluan Pak Marsan mulai berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku.

Aku sendiri merasa semakin dekat mencapai orgasmeku yang kedua. Tubuhku serasa melayang. Mataku membeliak menahan nikmat yang amat sangat. Tubuh kami terus bergoyang dan beradu, sementara gaunku sudah basah oleh keringatku sendiri. Pak Marsan semakin keras dan liar menghunjamkan batang kemaluannya yang terjepit erat liang kemaluanku. Lalu tiba-tiba tubuhnya mengejat-ngejat dan mulutnya menggeram keras.

“Arghhh… terushhh, Buu… goyangghhhh… arghh…”

Batang kemaluannya yang terjepit erat dalam liang kemaluanku berdenyut kencang dan akhirnya aku merasakan adanya semprotan hangat di dalam tubuhku…

Serr.. serr.. serr…

Beberapa kali air mani Pak Marsan menyirami rahimku seolah menjadi pengobat dahaga liarku. Tubuhnya kian berkejat-kejat liar dan tangannya semakin keras mencengkeram pantatku hingga aku merasa agak sakit dibuatnya. Tapi aku tak peduli. Tubuhku pun seolah terkena aliran listrik yang dahsyat dan pantatku bergerak liar menyongsong hunjaman batang kemaluan Pak Marsan yang masih menyemprotkan sisa-sisa air maninya.

“Ouch… akhh.. terushh.. Pak Mar..sanhhh…”

Tanpa malu atau sungkan aku sudah meminta Pak Marsan untuk lebih kuat menggoyang pantatnya untuk menuntaskan dahagaku.

Akhirnya aku benar-benar terkapar. Tulang-belulangku serasa terlepas semua. Benar-benar lemas aku dibuat oleh Pak Marsan. Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami peroleh.

Batang kemaluan Pak Marsan kurasakan mulai mengkerut dalam jepitan liang kemaluanku. Perlahan namun pasti akhirnya batang kemaluan itu terdorong keluar dan terkulai menempel di depan bibir kemaluanku yang basah oleh cairan kami berdua.

Gila, banyak sekali Pak Marsan mengeluarkan air maninya! Aku tahu itu karena banyaknya tumpahan air mani yang menetes dari lubang kemaluanku ke lantai ruang makan.

“Ibu benar-benar hebat… Saya jadi sayang Ibu…” bisik Pak Marsan di telingaku.

Aku hanya diam antara menyesal telah melakukan kesalahan lagi terhadap suamiku dan terpuaskan hasrat liarku. Ya, aku baru saja disetubuhi oleh seorang laki-laki yang bukan suamiku… Aku hanya bisa termenung memikirkan bahwa sejak hubunganku dengan Pak Sitor, betapa mudahnya kini aku menyerahkan diriku dan melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain.

Aaah…. tiba-tiba aku jadi sangat rindu dengan Pak Sitor… Ia benar-benar tahu cara memperlakukan dan membimbing seorang wanita. Sebagai pelampiasannya, kuremas tangan Pak Marsan yang sedang memeluk tubuh bugilku. Ia tentu tak tahu kalau aku sebetulnya sedang memikirkan lelaki lain. Pak Marsan dengan mesra lalu menciumi tengkuk dan telingaku.

Memang sejak Pak Sitor membuka mataku, aku jadi sangat menyukai seks… Aku pun mulai sadar bahwa untuk memuaskannya, sekarang aku jadi terbuka untuk melakukannya dengan laki-laki lain selain suamiku… Sangat luar biasa bahwa aku telah diajari untuk bersikap open-minded oleh seorang lelaki tua dari pedalaman yang tak berpendidikan seperti Pak Sitor.

“Su.. sudah, Pak… Nanti Mbok Sarmi bangun,” kulepas tangan Pak Marsan yang masih memelukku.

Aku berusaha melepaskan diri dari jepitan tubuh Pak Marsan yang kekar. Lalu aku meninggalkan Pak Marsan yang masih bugil dan lemas begitu saja untuk bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Sekali lagi aku mandi di malam yang dingin itu.

Di bawah pancuran air dingin, aku terdiam memikirkan lagi apa yang sudah terjadi barusan. Ada beban biologis besar yang rasanya terlepas dari dalam diriku. Pak Marsan sudah benar-benar mengeluarkannya dengan cara yang hebat… Di lain pihak, akal sehatku mulai kembali. Aku tahu aku telah kembali mengkhianati suamiku. Belum lagi memikirkan Pak Marsan sebagai bawahanku yang kini telah terlibat hubungan intim denganku… Sejenak aku merasa bingung dengan sikapku sekeluarnya dari kamar mandi nanti… Setelah termenung beberapa lama di bawah pancuran air, akhirnya aku memutuskan untuk bersikap setenang mungkin. Semuanya pasti bisa ditangani….

Aku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan babydollku yang sebetulnya agak kotor kena keringat. Baru kusadari betapa kacaunya ruang makanku! Meja makanku sudah bergeser tak karuan. Sementara kulihat celana dalam nylonku terlempar ke sudut ruangan dekat kulkas. Pak Marsan masih membetulkan celana dinasnya.

“Bu, saya.. boleh numpang mandi, Bu…”

“Silakan, Pak.. Handuknya ada di dalam.”

Aku mengambil kain pel dan membersihkan cairan sisa-sisa persenggamaanku dengan Pak Marsan yang berceceran di lantai. Sementara itu Pak Marsan mandi di kamar mandi yang baru saja kupakai.
Permainan Kedua

Aku masih mengepel cairan sisa-sisa perjuangan kami tadi yang masih menempel di lantai. Tanpa kusadari tiba-tiba Pak Marsan yang hanya mengenakan handuk memelukku lagi dari belakang.

Gila! Orang ini benar-benar bernafsu kuda!! Tubuhku diangkatnya dan hendak dibawa masuk ke kamar mandi.

“Jangan di situ, Pak…” bisikku. “Aku tidak mau bersetubuh di lantai kamar mandi yang dingin! Bisa-bisa masuk angin nanti!”

“Ke kamar tidur depan aja, Pak…”

Aku tahu tak mungkin aku menolak keinginan Pak Marsan! Apalagi aku juga menyukainya. Jadi aku menurut saja saat ia ingin menyetubuhiku lagi…

Akhirnya tubuhku dibopong ke kamar tidur depan yang memang khusus untuk tamu bila ada yang menginap. Kamar tamuku fasilitasnya komplit sesuai standar rumah berkelas. Kamar tamuku dilengkapi tempat tidur springbed, dan kamar mandi di dalam, serta AC!

Setelah menutup pintu kamar dengan kakinya, Pak Marsan menurunkan tubuhku di lantai dan bibirnya mulai mencari-cari bibirku.

Aku diam saja saat bibirnya menyedot-nyedot bibirku. Kumisnya yang tebal terasa geli mengais-ngais hidungku. Aku semakin geli saat lidahnya berusaha menyusup ke dalam mulutku dan mengais-ngasi didalamnya. Tanpa sadar lidahku ikut menyambut lidah Pak Marsan yang mendesak-desak dalam mulutku. Akhirnya kami saling pagut dengan liar dan menggelora.

Aku sudah tak peduli kalau Pak Marsan itu adalah anak buahku. Yang kutahu adalah nafsuku mulai bangkit lagi. Apalagi tangan Pak Marsan mulai menyingkap gaun baby dollku ke atas dan melepaskannya melalui kepalaku hingga aku telanjang bulat di depannya! Gila aku telah telanjang bulat di depan anak buahku sendiri!! Aku memang belum sempat memakai celana dalam dan BH setelah mandi tadi. Lalu dengan sekali tarik Pak Marsan melepas handuk yang melilit di pinggangnya hingga ia juga telanjang bulat di depanku!

Benar dugaanku! Ternyata batang kemaluannya berwarna hitam dengan rambut yang sangat lebat. Topi bajanya tampak mengkilat dan mengacung ke atas dengan gagahnya! Mungkin bila dijajarkan dengan pentungan yang biasa dibawanya ukurannya sedikit lebih besar!! Makanya tadi kurasakan betapa sempitnya liang vaginaku menjepit benda itu!! Aku jadi tak merasa rugi menyerahkan tubuhku padanya…

Aku tidak sempat berlama-lama melihat pemandangan itu, karena sekali lagi Pak Marsan menyergapku. Mulutnya dengan ganas melumat bibirku sementara tangannya memeluk erat tubuh telanjangku. Aku merasa kegelian saat tangannya meremas-remas pantatku yang telanjang. Aku semakin menggelinjang saat bibirnya mulai turun ke leher dan terus ke dua buah dadaku yang padat menjadi sasaran mulutnya yang bergairah!

Gila.. Liar dan panas! Itulah yang dapat kugambarkan. Betapa tidak! Pak Marsan mencumbuku dengan semangat yang begitu bergelora seolah-oleh harimau lapar menemukan daging! Agak sakit tapi nikmat saat kedua buah dadaku secara bergantian digigit dan disedot dengan liar oleh mulut Pak Marsan.

Tanganku pun dibimbing Pak Marsan untuk dipegangkan ke batang kemaluannya yang tegak menjulang.

“Ouch… shhh… enakhhh..”

Mulutku tak sadar berbicara saat lidah Pak Marsan yang panas dengan liar mempermainkan puting payudaraku yang sudah mengeras. Sambil masih tetap memeluk tubuhku dan menciumi payudaraku, Pak Marsan duduk di pinggir tempat tidur.

Dilepaskannya mulutnya dari payudaraku dan kembali diciuminya bibirku dengan ganasnya. Aku jadi terjongkok didepan tubuh telanjang Pak Marsan yang sudah duduk di pembaringan, aku jadi berdiri di atas kedua lututku. Payudaraku yang kencang menjepit batang kemaluan Pak Marsan yang hitam dan keras itu!

“Hhh…sssshh”

Pak Marsan mendesis saat batang kemaluannya yang besar dan hitam itu terjepit payudaraku. Dipeluknya tubuhku dengan semakin ketat dan ditekankannya hingga payudaraku semakin erat menjepit batang kemaluannya. Aku merasa kegelian saat bulu-bulu kemaluan Pak Marsan yang sangat lebat menggesek-gesek pangkal payudaraku. Apalagi batang kemaluannya yang keras terjepit di tengah belahan kedua buah payudaraku, hal ini menimbulkan sensasi yang lain daripada yang lain.

Aku tidak sempat berlama-lama merasakan sensasi itu saat tangan Pak Marsan yang kokoh menekan kepalaku ke bawah. Diarahkannya kepalaku ke arah kemaluannya, sementara tangan satunya memegang batang kemaluannya yang berdiri gagah di depan wajahku. Aku tahu ia menginginkan aku untuk mengulum batang kemaluannya.

Tanpa perasaan malu lagi kubuka mulutku dan kujilati batang kemaluan Pak Marsan yang mengkilat. Gila besar sekali!! Mulutku hampir tidak muat dimasuki benda itu.

“Arghh..ter..terushhh, Buu…”

Mulut Pak Marsan mengoceh tak karuan saat kumasukkan batang kemaluannya yang sangat besar itu ke dalam mulutku. Kujilati lubang di ujung kemaluannya hingga ia mendesis-desis seperti orang kepedasan. Sementara itu, kedua tangan Pak Marsan terus memegangi kepalaku seolah takut aku akan menarik kepalaku dari selangkangannya.

Setelah beberapa lama, dengan halus kubelai tangan Pak Marsan dan kulepaskan cengkeramannya dari kepalaku. Setelah itu, sambil mulut dan tanganku terus bekerja memanjakan penisnya, mataku senantiasa menatap mata Pak Marsan. Sesekali aku pun melempar senyum manisku padanya jika mulutku sedang tak dipenuhi oleh alat vitalnya. Dengan begitu, aku seolah ingin mengatakan padanya.

“Jangan khawatir. Aku tak akan menjauhkan kepalaku dari selangkanganmu. Aku akan terus memanjakan penismu yang besar dan indah ini dengan mulut dan kedua tanganku….”

Pak Marsan pun jadi lebih santai dan menikmati pekerjaanku yang kulakukan dengan penuh ketulusan.

Tidak puas bermain-main dengan batang kemaluannya saja, mulutku lalu bergeser ke bawah menyusuri guratan urat yang memanjang dari ujung kepala kemaluan Pak Marsan hingga ke pangkalnya. Pak Marsan semakin blingsatan menerima layananku! Tubuhnya semakin liar bergerak saat bibirku menyedot kedua biji telor Pak Marsan secara bergantian.

“Ib.. Ibu.. heb..bathh… ohhh… sssshh.. akhhh…”

Aku semakin nakal, bibirku tidak hanya menyedot kantung zakarnya melainkan lidahku sesekali mengais-ngais anus Pak Marsan yang ditumbuhi rambut. Pak Marsan semakin membuka kakinya lebar-lebar agar aku lebih leluasa memuaskannya.

Aku tahu aku telah bertindak sangat gila. Aku yakin telah mengalahkan pelacur yang manapun saat memberikan layanan kepada pelanggannya. Seorang pelacur bahkan dibayar untuk melakukan itu semua. Sedangkan aku memberikannya secara gratis kepada Pak Marsan! Aku yakin Pak Marsan pun belum pernah mendapatkan layanan istimewa ini dari wanita manapun, termasuk dari istrinya… Pastilah ini karena rasa horny yang telah menyelimuti sekujur tubuhku!

Beberapa saat kemudian tubuhku ditarik Pak Marsan dan dilemparkannya ke tempat tidur.

Aku masih tengkurap saat tubuh telanjangku ditindih tubuh telanjang Pak Marsan. Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dengan kakinya. Otomatis batang kemaluannya kini terjepit antara perutnya sendiri dan pantatku. Ditekannya pantatnya hingga batang kemaluannya semakin ketat menempel di belahan pantatku.

Tubuhku menggelinjang hebat saat lidahnya kembali menyusuri tulang belakangku dari leher terus turun ke punggung dan turun lagi ke arah pantatku.

Tanpa rasa jijik sedikitpun, lidah Pak Marsan kini mempermainkan lubang anusku. Aku merasakan kegelian yang amat sangat tetapi aku tidak dapat bergerak karena pantatku ditekannya kuat-kuat. Aku hanya pasrah dan menikmati gairahnya…

Aku tahu Pak Marsan melakukan itu karena aku pun telah melakukan hal yang sama padanya barusan. Aku sama sekali tak mengharapkan balas budi seperti itu, tapi tentu saja aku sangat berterima kasih pada Pak Marsan karena aku pun kini dapat menikmatinya.

Seluruh tubuhku dijilatinya tanpa terlewatkan seincipun. Dari lubang anus, lidahnya menjalar ke bawah pahaku terus ke lutut dan akhirnya seluruh ujung jariku dikulumnya. Benar-benar gila!! Rasa geli dan nikmat berbaur menjadi satu.

Setelah puas melumat seluruh jari kakiku, Pak Marsan membalikkan tubuh telanjangku hingga kini aku terlentang di tempat tidur. Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dan ia sekali lagi menindihku. Kali ini posisi kami saling berhadap-hadapan dengan tubuhku ditindih tubuh kekarnya.

Lidahnya kembali bergerak liar menjilati tubuhku. Sasarannya kali ini adalah daerah sensitif di belakang leherku. Aku menggelinjang kegelian. Bibir Pak Marsan dengan ganasnya menyedot-nyedot daerah itu.

“Jang..jang..an dimerah ya, Pak…” erangku memohon padanya.

Tentu saja aku tidak mau disedot sampai merah soalnya besok pasti orang sekantor pada ribut.

“Tidak.. Bu…. saya cuma gemasss!!” desis Pak Marsan sambil tetap menjilati bagian belakang telingaku.

“Tapi kalo di sini boleh kan?” katanya nakal sambil tiba-tiba menyedot payudaraku.

“Aaaauuwwww…..” jeritku terkejut karena gerakannya yang tiba-tiba.

Rupanya Pak Marsan dengan sengaja meninggalkan cupangan merah yang banyak di seputar kedua payudaraku. Tingkah lakunya seperti ingin menandai bahwa tubuhku sekarang telah jadi miliknya juga… Aku kegelian dan semakin bertambah horny karena aksinya itu. Aku hanya bisa berharap agar semua cupang itu telah hilang saat Bang Ikhsan pulang nanti.

Sementara itu tangannya terus bergerak liar meremas payudaraku bergantian. Aku semakin mendesis liar saat mulut Pak Marsan dengan liar dan gemas menyedot payudaraku bergantian. Kedua puting payudaraku dipermainkan oleh lidahnya yang panas sementara tangannya bergerak turun ke bawah dan mulai bermain-main di selangkanganku yang sudah basah. Liang vaginaku berdenyut-denyut karena terangsang hebat, saat jari-jari tangan Pak Marsan menguak labia mayoraku dan menggesek-gesekkan jarinya di dinding lubang kemaluanku yang sudah semakin licin.

Sensasi hebat kembali menderaku saat dengan liar mulut Pak Marsan menggigit-gigit perut bagian bawahku yang masih rata. Perutku memang rata karena aku rajin berlatih kebugaran selain itu aku belum mempunyai anak hingga tubuhku masih sempurna.

“Akhh.. Pak…ouchh..” Aku mendesis saat bibir Pak Marsan menelusuri gundukan bukit kemaluanku.

Lidahnya menyapu-nyapu celah di selangkanganku dari atas ke bawah hingga dekat lubang anusku. Lidahnya terus bergerak liar seolah tak ingin melewatkan apa yang ada di sana.

Tubuhku tersentak saat lidah Pak Marsan yang panas menyusup ke dalam liang kemaluanku dan menyapu-nyapu dinding kemaluanku. Kakiku dibentangkannya lebar-lebar hingga wajah Pak Marsan bebas menempel gundukan kemaluanku. Rasa geli yang tak terhingga menderaku. Apalagi kumisnya yang tebal kadang ikut menggesek dinding lubang kemaluanku membuat aku semakin kelabakan.

Tubuhku serasa kejang karena kegelian saat wajah Pak Marsan dengan giat menggesek-gesek bukit kemaluanku yang terbuka lebar. Perutku serasa kaku dan mataku terbeliak lebar. Kugigit bibirku sendiri karena menahan nikmat yang amat sangat.

“Akhhh Pakk…Marsannhh…ak..ku..ohhhh…”

Aku tak kuasa meneruskan kata kataku karena aku sudah keburu orgasme saat lidah Pak Marsan dengan liar menggesek-gesek kelentitku. Tubuhku seolah terhempas dalam nikmat. Aku tak bisa bergerak karena kedua pahaku ditindih lengan Pak Marsan yang kokoh.

Tubuhku masih terasa lemas dan seolah tak bertulang saat kedua kakiku ditarik Pak Marsan hingga pantatku berada di tepi tempat tidur dan kedua kakiku menjuntai ke lantai. Pak Marsan lalu menguakkan kedua kakiku dan memposisikan dirinya di tengah-tengahnya.

Sejenak ia tersenyum menatapku yang masih terengah-engah tak berdaya di bawahnya. Sebuah senyum kemenangan karena ia telah berhasil mengalahkanku satu ronde! Aku pun tentu saja sangat senang diperlakukan seperti itu oleh seorang laki-laki. Maka aku pasrah saja membiarkannya berbuat apa pun yang disukainya untuk melampiaskan nafsunya pada diriku sekarang.

Kemudian ia mencucukkan batang kemaluannya yang sudah sangat keras ke bibir kemaluanku yang sudah sangat basah karena cairanku sendiri.

Aku menahan napas saat Pak Marsan mendorong pantatnya hingga ujung kemaluannya mulai menerobos masuk ke dalam jepitan liang kemaluanku. Seinci demi seinci, batang kemaluan Pak Marsan mulai melesak ke dalam jepitan liang kemaluanku. Aku menggoyangkan pantatku untuk membantu memudahkan penetrasinya.

Rupanya Pak Marsan sangat berpengalaman dalam hal seks. Hal ini terbukti bahwa ia tidak terburu-buru melesakkan seluruh batang kemaluannya tetapi dilakukannya secara bertahap dengan diselingi gesekan-gesekan kecil ditarik sedikit lalu didorong maju lagi hingga tanpa terasa seluruh batang kemaluannya sudah terbenam seluruhnya ke dalam liang kemaluanku.

Kami terdiam beberapa saat untuk menikmati kebersamaan menyatunya tubuh kami.

Kami bisa melihat saat-saat yang indah itu secara utuh melalui cermin besar yang ada di kamar tidur tamu. Tiba-tiba aku melihat bahwa kami adalah pasangan yang sangat serasi. Terlihat tubuh Pak Marsan yang bugil memiliki otot-otot yang keras dengan kulit yang berwarna gelap. Tubuhku yang bugil pun terlihat bagus dengan kulit yang putih dan otot-otot yang kencang karena sering berolah raga secara teratur. Kami betul-betul terlihat sangat serasi. Karena itu, kupikir Pak Marsan benar-benar berhak atas tubuhku dan demikian pula sebaliknya.

Mungkin hanya status sosial dan status pernikahan kami masing-masing yang tak memungkinkan kami untuk menjadi sepasang suami istri. Tapi sepanjang kami dapat menikmati persetubuhan ini dengan leluasa, rasanya tak ada masalah.

Bibir Pak Marsan memagut bibirku dan akupun membalas tak kalah liarnya. Aku merasakan betapa batang kemaluan Pak Marsan yang terjepit dalam liang kemaluanku mengedut-ngedut.

Kami saling berpandangan dan tersenyum mesra. Tubuhku tersentak saat tiba-tiba Pak Marsan menarik batang kemaluannya dari jepitan liang kemaluanku.

“Akhh..” aku menjerit tertahan. Rupanya Pak Marsan nakal juga!!

“Enak, Bu..?” bisiknya.

“Kamu nakal Pak Marsanhhh…ohhh…”

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Pak Marsan mendorong kembali pantatnya kuat-kuat hingga seolah-olah ujung kemaluannya menumbuk dinding rahimku di dalam sana.

Aku tidak diberinya kesempatan untuk bicara. Bibirku kembali dilumatnya sementara kemaluanku digenjot lagi dengan tusukan-tusukan nikmat dari batang kemaluannya yang besar, sangat besar untuk ukuran orang Indonesia.

Setelah puas melumat bibirku, kini giliran payudaraku yang dijadikan sasaran lumatan bibir Pak Marsan. Kedua puting payudaraku kembali dijadikan bulan-bulanan lidah dan mulut Pak Marsan. Pantas tubuhnya kekar begini habis neteknya sangat bernafsu sampai-sampai mengalahkan anak kecil!!

Tubuhku mulai mengejang… Gawat, aku hampir orgasme lagi. Kulihat Pak Marsan masih belum apa-apa!! Ini tidak boleh dibiarkan… pikirku. Aku paling suka kalau posisi di atas sehingga saat orgasme bisa full sensation. Lalu tanpa rasa malu lagi kubisikkan sesuatu di telinga Pak Marsan.

“Giliran aku di atas, Sayang….”

Gila…! Aku sudah mulai sayang-sayangan dengan satpam di kantorku!

Pak Marsan meluluskan permintaanku dan menghentikan tusukan-tusukannya. Lalu tanpa melepaskan batang kemaluannya dari jepitan liang kemaluanku, ia menggulingkan tubuhnya ke samping. Kini aku sudah berada di atas tubuhnya.

Aku sedikit berjongkok dengan kedua kakiku di sisi pinggulnya. Kemudian perlahan-lahan aku mulai menggoyangkan pantatku. Mula-mula gerakanku maju mundur lalu berputar seperti layaknya bermain hula hop. Kulihat mata Pak Marsan mulai membeliak saat batang kemaluannya yang terjepit dalam liang kemaluanku kuputar dan kugoyang. Pantat Pak Marsan pun ikut bergoyang mengikuti iramaku.

“Shhh… oughh… terushh.. Buuu… arghhhh…!”

Pak Marsan mulai menggeram. Tangannya yang kokoh mencengkeram kedua pantatku dan ikut membantu menggoyangnya.

Gerakan kami semakin liar. Napas kami pun semakin menderu seolah menyaingi gemuruh hujan yang masih turun di luar sana. Cengkeraman Pak Marsan semakin kuat menekan pantatku hingga aku terduduk di atas kemaluannya. Kelentitku semakin kuat tergesek batang kemaluannya hingga aku tak dapat menahan diri lagi.

Tubuhku bergerak semakin liar dan kepalaku tersentak ke belakang saat puncak orgasmeku untuk yang kesekian kalinya tercapai. Tubuhku mengejat-ngejat di atas perut Pak Marsan. Ada semacam arus listrik yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.

“Akhh… ohhh… ter..rushhh, Pakkkkk… ohhh…”

Aku menjerit melepas orgasmeku meminta Pak Marsan untuk semakin kuat memutar pantatnya. Akhirnya aku benar-benar ambruk di atas perut Pak Marsan. Tulang belulangku seperti dilolosi. Tubuhku lemas tak bertenaga. Napasku ngos-ngosan seperti habis mengangkat beban yang begitu berat.

Aku hanya pasrah saat Pak Marsan yang belum orgasme mengangkat tubuhku dan membalikkannya. Ia mengganjal perutku dengan beberapa bantal hingga aku seperti tengkurap di atas bantal. Kemudian Pak Marsan menempatkan diri di belakangku. Dicucukkannya batang kemaluannya di belahan kemaluanku dari belakang. Rupanya ia paling menyukai doggy style.

Setelah tepat sasaran, Pak Marsan mulai menekan pantatnya hingga batang kemaluannya amblas tertelan lubang kemaluanku. Ia diam beberapa saat untuk menikmati sensasi indahnya jepitan liang kemaluanku. Dengan bertumpu pada kedua lututnya, Pak Marsan mulai menggenjot lubang kemaluanku dari arah belakang.

Kembali terdengar suara tepukan beradunya pantatku dengan tulang kemaluan Pak Marsan yang semakin lama semakin cepat mengayunkan pantatnya maju mundur. Kurang puas dengan jepitan liang kemaluanku, kedua pahaku yang terbuka dikatupkannya hingga kedua kakiku berada diantara kedua paha Pak Marsan.

Kembali ia mengayunkan pantatnya maju mundur. Aku merasakan betapa jepitan liang kemaluanku kian erat menjepit kemaluannya. Aku bermaksud menggerakkan pantatku mengikuti gerakannya, tetapi tekanan tangannya terlalu kuat untuk kulawan hingga aku pasrah saja.

Aku benar-benar dibawah penguasaannya secara total. Tempat tidurku ikut bergoyang seiring dengan ayunan batang kemaluan Pak Marsan yang menghunjam ke dalam liang kemaluanku.

Nafsuku mulai terbangkit lagi. Perlahan-lahan gairahku meningkat saat batang kemaluan Pak Marsan menggesek-gesek kelentitku.

“Ugh..ugh..uhhh…”

Terdengar suara Pak Marsan mendengus saat memacu menggerakkan pantatnya menghunjamkan kemaluannya.

“Terushhh… terushh, Pak… terushhh… ahhh…”

Kembali tubuhku bergetar melepas orgasmeku.

Kepalaku terdongak ke belakang, sementara Pak Marsan tetap menggerakkan kemaluannya dalam jepitian liang kemaluanku. Kini tubuhnya sepenuhnya menindihku. Kepalaku yang terdongak ke belakang didekapnya dan dilumatnya bibirku sambil tetap menggoyangkan pantatnya maju mundur. Aku yang sedikit terbebas dari tekanannya ikut memutar pantatku untuk meraih kenikmatan lebih banyak.

Kami terus bergerak sambil saling berpagutan bibir dan saling mendorong lidah kami. Entah sudah berapa kali aku mencapai orgasme selama bersetubuh dengan Pak Marsan ini. Hebatnya ia baru sekali mengalami ejakulasi saat persetubuhan pertama tadi.

Tubuhku terasa loyo sekali. Aku sudah tidak mampu bergerak lagi. Pak Marsan melepaskan batang kemaluannya dari jepitan kemaluanku dan mengangkat tubuhku hingga posisi terlentang.

Aku sudah pasrah. Dibentangkannya kedua pahaku lebar-lebar lalu kembali Pak Marsan menindihku.

Lubang kemaluanku yang sudah sangat licin disekanya dengan handuk kecil yang ada di tempat tidur. Kemudian ia kembali menusukkan batang kemaluannya ke bibir kemaluanku. Perlahan namun pasti, seperti gayanya tadi dikocoknya batang kemaluannya hingga sedikit demi sedikit kembali terbenam dalam kehangatan liang kemaluanku. Tubuh kami yang sudah basah oleh peluh kembali bergumul.

“Pak Marsan..hebatthhh..” bisikku.

“Biasa, Bu.. kalau ronde kedua saya suka susah keluarnya…” demikian kilahnya.

Namun kami tidak dapat berbicara lagi karena lagi-lagi bibir Pak Marsan sudah melumat bibirku dengan ganasnya. Lidah kami saling dorong-mendorong sementara pantat Pak Marsan kembali menggenjotku sekuat-kuatnya hingga tubuhku timbul tenggelam dalam busa springbed yang kami gunakan.

Kulihat tonjolan urat di kening Pak Marsan semakin jelas menunjukkan napsunya sudah mulai meningkat. Napas Pak Marsan semakin mendengus seperti kerbau gila. Aku yang sudah lemas tak mampu lagi mengimbangi gerakan Pak Marsan.

“Ugh… ughh… uhhhh…”

Dengus napasnya semakin bergemuruh terdengar di telingaku. Bibirnya semakin ketat melumat bibirku. Lalu kedua tangan Pak Marsan menopang pantatku dan menggenjot lubang kemaluanku dengan tusukan-tusukan batang kemaluannya. Aku tahu sebentar lagi ia akan sampai. Aku pun menggerakkan pantatku dengan sisa-sisa tenagaku. Benar saja, tiba-tiba ia menggigit bibirku dan menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam ke dalam liang kemaluanku.

Crrt… crrtt.. cratt… crattt.. crrat… Ada lima kali mungkin ia menyemprotkan spermanya ke dalam rahimku. Ia masih bergerak beberapa saat seperti berkelojotan, lalu ambruk di atas perutku. Aku yang sudah kehabisan tenaga tak mampu bergerak lagi.

Kami tetap berpelukan menuntaskan rasa nikmat yang baru kami raih. Batang kemaluan Pak Marsan yang masih kencang tetap menancap ke dalam liang kemaluanku. Keringat kami melebur menjadi satu. Akhirnya kami tertidur sambil tetap berpelukan dengan batang kemaluan Pak Marsan tetap tertancap dalam liang kemaluanku.

Paginya kami sempat bersetubuh lagi sebelum Pak Marsan pulang kembali ke kantor.

Kami sepakat bahwa kami akan berlaku wajar seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara kami.
Mulai Saling Merindu

Sudah hampir dua bulan sejak persetubuhanku dengan Pak Marsan kami tidak melakukannya lagi. Hal ini disebabkan karena suamiku selalu ada di rumah. Di samping itu, aku juga sempat dinas luar sehingga tidak ada kesempatan bertemu secara bebas. Lama-lama aku merasa kangen juga dengan tongkat Pak Marsan. Aku sudah merindukan keliarannya, bau keringatnya dan juga kejantanannya.

Akhirnya kesempatan yang kutunggu-tunggu datang juga. Itulah yang namanya rezeki, tidak perlu dikejar dan tidak dapat pula ditolak. Kalau sudah waktunya pasti akan datang dengan sendirinya.

Hari itu hari Sabtu jadi kantor libur. Kebetulan pula suamiku sedang seminar di Pekanbaru dan
pulang Minggu sore. Karena suntuk di rumah, aku mencoba datang ke kantor. Siapa tahu ketemu
Pak Marsan.

Sesampai di kantor, ternyata dia tidak ada. Selidik punya selidik ternyata Pak Marsan sedang mengambil cuti tahunan, jadi ia libur selama satu minggu.

Terdorong kerinduanku, aku memberanikan diri mendatangi rumahnya. Toh aku sudah biasa datang ke sana dan sudah kenal baik dengan istrinya. Setelah membeli biskuit dan gula serta susu buat bayinya, aku meluncur ke rumahnya yang kalau kutempuh dari kantor kira-kira memakan waktu 45 menit. Lumayan jauh.

Suasana tampak sepi saat mobilku memasuki halaman rumah Pak Marsan yang sudah sangat kukenal. Aku mengenal seluk beluk rumah itu, seluruh penghuninya dan tetangganya karena aku memang sering datang ke situ.

Setelah memarkir mobilku di samping rumahnya, aku mencoba memanggil-manggil si penghuni rumah.

“Yu…yu Sarni… ini aku Reni…”

Berulang-ulang kupanggil nama istri Pak Marsan, namun tidak ada jawaban. Rumah tidak terkunci namun tidak ada orang.

Aku lalu memutuskan untuk memutar ke belakang rumah siapa tahu mereka berada di kebun belakang rumah. Tetapi tidak ada orang satu pun di kebun belakang rumah.

Sayup-sayup kudengar suara berkecipak air di kamar mandi yang terletak di sudut belakang rumah Pak Marsan. Jangan berpikiran kalau kamar mandi di perkampungan sama seperti di kota-kota. Kamar mandi milik Pak Marsan hanya dibatasi anyaman bambu tanpa atap, sehingga bila hujan selalu kehujanan dan kalau panas selalu kepanasan. Untungnya lokasinya berada di bawah pohon rambutan sehingga agak terlindung dari panas.

Kudengar suara parau mendendangkan lagu dangdut yang tidak begitu kukenal. Aku memang tidak suka sama musik dangdut jadi kurang begitu kenal dengan lagu yang dinyanyikan dengan suara fals itu. Itu suara Pak Marsan yang sangat kukenal di telingaku.

Dengan rasa iseng kuintip Pak Marsan yang sedang mandi lewat celah-celah anyaman bambu yang agak longgar. Kulihat tubuh Pak Marsan yang kekar nampak mengkilat terkena busa sabun. Batang kemaluannya yang besar tampak menggantung dipenuhi busa sabun dan kelihatan lucu, seperti badut. Batang kemaluannya bergoyang-goyang seperti jam dinding kuno seiring dengan gerakan Pak Marsan yang menyabuni tubuhnya.

Pak Marsan yang hanya berbalut handuk tampak kaget melihatku sudah duduk di bangku panjang yang terletak di beranda belakang rumahnya.

“Lho… Bu Reni… Sudah lama datangnya?”

Ia melongo seolah tak percaya dengan kedatanganku.

“Enggak, baru saja sampai kok. Orang-orang pada kemana, kok sepi?”

“Em.. anu, Bu Sarni sedang ke Jawa menengok ibunya. Katanya ibunya kangen sama cucunya.”

“Lho kok enggak bareng sama Pak Marsan?”

“Enggak, soalnya biar irit ongkosnya, Bu. Silahkan masuk, Bu…”

Aku pun masuk ke rumah melalui dapur dengan diiringi Pak Marsan. Begitu pintu ditutup, Pak Marsan langsung memeluk tubuhku dari belakang. Diciuminya tengkukku dengan ganas seperti biasanya.

“Saya.. kangen sama Bu Reni…” bisiknya di telingaku.

Aku sendiri juga kangen dengan Pak Marsan. Kangen dengan cumbuannya dan kangen dengan tongkatnya, tetapi aku tetap berpura-pura menjaga wibawaku.

“Ahh… Pak Marsan bisa saja… Kan sudah ada Yu Sarni…”

“Memang sih… tapi benar saya kangen sama Ibu…”

Tangannya yang terampil segera melepas blazerku dan melemparkannya ke kursi. Mulutnya tak henti-hentinya menciumi tengkukku hingga membuatku menggerinjal karena geli. Ia tahu benar kelemahanku. Dijilatinya daerah belakang telingaku lalu tangannya melepas kancing baju atasanku satu demi satu dan dilemparkannya ke kursi tempat ia melempar blazerku tadi.

Begitu punggungku terbuka, dengan serta merta dicumbunya punggungku dengan jilatan-jilatan dan gigitan-gigitannya yang membuatku kangen. Kemudian dengan mulutnya digigitnya kaitan bra ku hingga terlepas. Tangannya yang kekar menyusup ke dalam kutangku dan meremas isinya yang penuh. Jari-jarinya dengan lincah memainkan kedua puting payudaraku.

Setelah puas, dilepasnya kutangku dan dilemparkannya jadi satu dengan blazerku tadi. Kini aku hanya mengenakan celana panjang sementara tubuh atasku sudah terbuka sama sekali.

Jilatan lidah Pak Marsan terus merangsek seluruh punggungku dengan ganas. Seolah-olah orang yang sedang kelaparan mendapatkan makanan lezat. Kumisnya yang tebal terasa geli menggesek-gesek kulit punggungku.

“Jangan di sini, Pak Marsan…hhh…”

Aku yang sudah mulai terangsang masih mampu menahan diri untuk tidak disetubuhi di ruang tengah yang agak terbuka.

Tanpa banyak bicara didorongnya tubuhku masuk ke kamar satu-satunya yang ada di rumah itu. Di situ tidak ada tempat tidur seperti di rumahku. Yang ada hanya kasur yang sudah agak kumal yang terhampar di lantai yang dilapisi karpet plastik serta lemari pakaian plastik di dekatnya. Tubuhku didorong hingga punggungku memepet tembok tanpa plester di kamarnya. Kali ini bibirku langsung disosornya dengan ganas. Dilumatnya bibirku dan disisipkannya lidahnya masuk ke dalam mulutku mencari-cari lidahku.

Aku semakin gelagapan mendapatkan serangan-serangannya. Apalagi kedua payudaraku diremas-remas dengan ganas oleh tangannya yang kasar. Bibirnya mulai merayap turun dari bibirku ke dagu lalu leherku dijilat-jilatnya dengan ganas. Aku semakin menggelinjang. Napasnya yang mendengus-dengus menerpa kulit leherku membuat seluruh bulu romaku berdiri. Dari leher bibirnya terus turun ke bawah dan berhenti di dadaku. Sekarang giliran payudaraku yang dijadikan bulan-bulanan serbuan bibirnya. Kumisnya terasa geli menyentuh dan mengilik-ngilik payudaraku. Aku merasa semakin terangsang dengan ulahnya itu.

Dengan masih berdiri memepet tembok, celanaku dilucuti oleh tangan terampil Pak Marsan. Aku membantunya melepas celana panjangku dengan mengangkat kaki dan menendang jauh-jauh. Tanganku pun tak tinggal diam, kutarik handuk yang melilit di pinggang Pak Marsan hingga ia telanjang bulat didepanku. Rupanya ia tidak mengenakan celana dalam!! Batang kemaluannya yang panjang, besar dan berwarna hitam gagah nampak tegak berdiri. Benar-benar jantan kelihatannya.

Tanpa disuruh, tanganku pun segera menggenggam batang kemaluannya dan meremas serta mengurutnya.

“Oughhh…terushh, Bu…”

Pak Marsan mendengus keenakan saat kuremas-remas batang kemaluannya yang membuat aku tergila-gila.

“Akhhh…ouchh….”

Kini giliranku yang mendesis kenikmatan saat kurasakan tangan Pak Marsan menyusup ke dalam celana dalamku dan meremas-remas gundukan kemaluanku yang sudah basah. Tidak Cuma itu… jarinya mengorek-ngorek ke dalam celah vaginaku dan mempermainkan tonjolan kecil di celah vaginaku. Aku semakin liar bergoyang saat jari-jari Pak Marsan semakin masuk ke dalam liang vaginaku. Rasanya liang vaginaku semakin basah oleh cairan akibat rangsangannya itu.

Aku agak kecewa saat tiba-tiba ia menghentikan rangsangan di selangkanganku. Tangannya kini bergerak ke belakang dan meremas buah pantatku. Sementara itu mulutnya terus turun ke arah perutku dan lidahnya mengosek-ngosek pusarku membuat aku kembali terangsang hebat. Tiba-tiba Pak Marsan melepaskan tanganku dari batang kemaluannya dan bersimpuh di depanku yang masih berdiri. Serta-merta digigitnya celana dalamku dan ditarik dengan giginya ke bawah hingga teronggok di pergelangan kakiku. Aku membantunya melepaskan satu-satunya penutup tubuhku dan menendangnya jauh-jauh.

Kini mulut Pak Marsan sibuk menggigit dan menjilat daerah selangkanganku. Dikuakkannya kakiku lebar-lebar hingga ia lebih leluasa menggarap selangkanganku. Dengan bersimpuh Pak Marsan mulai menjilati labia mayoraku sementara tangannya meremas pantatku dan menekannya ke depan hingga wajahnya lebih ketat menyuruk ke bukit kemaluanku.

“Akhh. Terushhh..ohhh..”

Aku hanya bisa merintih sat lidah Pak Marsan menyeruak ke dalam liang kemaluanku yang sudah sangat licin. Ditekankannya wajahnya ke selangkanganku hingga lidahnya semakin dalam menyeruak ke dalam liang kemaluanku. Aku semakin menggelinjang saat lidah Pak Marsan dengan nakalnya mempermainkan kelentitku. Sesekali ia menyedot kelentitku dan mengosek-kosek kelentitku dengan lidahnya. Gila… tubuhku mulai mengejang dan perutku seakan-akan diaduk-aduk karena harus menahan kenikmatan.

Pak Marsan sudah tidak peduli dengan keadaanku yang kepayahan menahan nikmat. Lidahnya bahkan semakin liar mempermainkan tonjolan di ujung atas liang vaginaku. Akhirnya aku tak mampu menahan gempuran badai birahi yang melandaku. Tubuhku berkelojotan. Mataku membeliak menahan nikmat yang amat sangat. Tubuhku melayang…

“Akhhh….terr..ushhhh…”

Tubuhku terus berkejat-kejat sampai titik puncaknya dan kurasakan ada sesuatu yang meledak di dalam sana. Tubuhku melemas seolah tak bertenaga. Aku hanya bersandar dengan lemas ke dinding kamar tanpa mampu bergerak lagi.

Pak Marsan lalu berdiri di hadapanku.

“Bagaimana, Bu..?” bisiknya di telingaku.

“Ohh..luar biasa..Pak Marsan hebbb …bathh,” desahku.

Masih dengan posisi berdiri dengan aku menyandar dinding, Pak Marsan menyergap bibirku lagi. Pak Marsan menempatkan dirinya di antara kedua pahaku yang terbuka lalu dicucukkannya batang kemaluannya ke lubang kemaluanku yang sudah sangat basah. Dengan tangannya Pak Marsan menggosok-gosokkan kepala kemaluannya ke lubang kemaluanku. Tubuhku kembali bergetar. Aku mulai terangsang lagi, saat kepala kemaluan Pak Marsan menggesek-gesek tonjolan kecil di lubang kemaluanku.

Dengan perlahan Pak Marsan mendorong pantatnya ke depan hingga batang kemaluannya menyeruak ke dalam liang kemaluanku.

“Hmmhh…”

Hampir bersamaan kami mendengus saat batang kemaluan Pak Marsan menerobos liang kemaluanku dan menggesek dinding liang vaginaku yang sudah sangat licin. Lidah kami saling bertaut, saling mendorong dan saling melumat. Tubuhku tersentak-sentak mengikuti hentakan dorongan pantat Pak Marsan. Pak Marsan terus menekan dan mendorong pantatnya menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam liang kemaluanku dengan posisi berdiri.

Entah karena kurang leluasa atau kurang nyaman, tiba-tiba Pak Marsan mencabut batang kemaluannya yang terjepit liang kemaluanku. Ia membalikkan tubuhku menghadap dinding dan ia sekarang berdiri di belakangku. Tubuhku sedikit ditunggingkan dengan kedua tangan menopang tembok. Dibentangkannya kedua kakiku lebar-lebar, lalu ditusukkannya batang kemaluannya ke lubang kemaluanku dari belakang. Kali ini gerakanku dan gerakannya agak lebih leluasa.

Kedua tangan Pak Marsan meremas dan memegang erat pantatku sambil mengayunkan pantatnya maju mundur. Batang kemaluannya semakin lancar keluar masuk liang kemaluanku yang sudah sangat licin.

“Ughh..ughhh…” Kudengar Pak Marsan mendengus-dengus seperti kereta sedang menanjak.

Aku pun mengimbangi gerakan ayunan pantat Pak Marsan dengan sedikit memutar pantatku dengan gaya ngebor.

Napas Pak Marsan semakin menderu saat kulakukan gaya ngeborku. Batang kemaluannya seperti kupilin dalam jepitan liang kemaluanku. Nafsuku yang sudah terbangkit semakin mengelora. Desakan-desakan kuat di dalam tubuh bagian bawahku semakin menekan. Kugoyang pantatku semakin liar menyongsong sodokan batang kemaluan Pak Marsan.

“Terusss.. Buu…terusshhh” Pak Marsan mendesis-desis dan tangannya semakin kuat mencengkeram pantatku membantuku bergoyang semakin kencang.

“Arghh..arghhh.. akhhh.. say..saya… keluarhhh, Buuu…”

Kudengar Pak Marsan menggeram saat batang kemaluannya mengedut-ngedut dalam jepitan liang kemaluanku. Aku pun merasa sudah di ambang puncak kenikmatanku. Kugoyangkan pantatku semakin liar dan akhirnya kuayunkan pantatku ke belakang menyongsong tusukan Pak Marsan hingga batang kemaluannya melesak sedalam-dalamnya seolah-olah menumbuk mulut rahimku. Aku seperti melayang begitu puncak kenikmatan itu datang mengaliri sekujur tubuhku. Baru saja aku menikmati orgasmeku, kurasakan ada semburan cairan hangat dari batang kemaluan Pak Marsan di dalam liang vaginaku.

Crat…crrtt..crutt…crttt..crott..!!

Banyak sekali cairan sperma Pak Marsan yang tersembur menyiram rahimku, hingga sebagian menetes ke karpet kamar tidurnya.

Kami tetap terdiam sambil mengatur napas. Tangan Pak Marsan memeluk dadaku dan batang kemaluannya masih mengedut-ngedut menyemburkan sisa-sisa air mani ke dalam liang kemaluanku. Akhirnya kami berdua menggelosor ambruk ke kasur kumal yang biasa ditiduri Pak Marsan dan istrinya.

Kami berbaring dengan Pak Marsan masih memeluk tubuhku dari belakang. Batang kemaluan Pak Marsan yang sudah terkulai menempel di belahan pantatku. Kurasakan ada semacam cairan pekat yang menempel ke pantatku dari batang kemaluan Pak Marsan. Aku tak tahu dengan kain apa Pak Marsan menyeka lubang kemaluanku untuk membersihkan cairan sperma yang menetes dari labia mayoraku. Aku terlalu lemas untuk memperhatikan. Akhirnya aku tertidur kelelahan setelah digempur habis-habisan oleh Pak Marsan.

Aku tidak tahu berapa lama aku telah tertidur di kasur Pak Marsan. Aku tersadar saat ada sesuatu benda lunak yang memukul-mukul bibirku. Saat kulirik aku terkejut ternyata benda yang memukul-mukul bibirku tadi adalah batang kemaluan Pak Marsan yang sudah setengah ereksi.

Ternyata ia sedang berjongkok dengan mengangkangi mukaku. Tangannya memegangi batang kemaluannya sambil dipukul-pukulkannya pelan-pelan ke bibirku. Begitu melihat aku terbangun, serta-merta Pak Marsan memegang bagian belakang kepalaku dan mencoba memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulutku. Aku menjadi gelagapan karena bangun-bangun sudah disodori batang kemaluan laki-laki!! Gila. Aku pun tak mempunyai pilihan lain kecuali menyambutnya dengan mulut terbuka…

Kurasakan ada sedikit asin-asin yang agak aneh saat bibirku mulai mengulum batang kemaluan Pak Marsan yang disodorkan padaku. Belakangan aku baru tahu bahwa Pak Marsan langsung kencing ke belakang begitu bangun. Sekembalinya ke kamar, ia langsung terangsang melihat diriku yang masih tertidur dalam keadaan bugil.

Demikianlah selanjutnya, ia membangunkanku dengan memukul-mukulkan penisnya ke mukaku supaya aku bisa segera memuaskan nafsunya kembali. Walaupun sedikit gelagapan, tentu saja aku melakukannya dengan setulus hati. Sedikit demi sedikit batang kemaluan itu semakin mengeras dalam kulumanku.

Beberapa saat kemudian Pak Marsan membalikkan posisinya. Batang kemaluannya masih kukulum dengan liar kemudian ia menundukkan tubuhnya dan wajahnya kini menghadap selangkanganku.

Dibentangkannya kedua pahaku kemudian lidahnya mulai bekerja menjilat dan melumat gundukan kemaluanku. Aku semakin gelagapan karena merasa kegelian diselangkanganku sementara mulutku tersumpal batang kemaluan Pak Marsan.

Aku ikut menyedot batang kemaluannya saat Pak Marsan menyedot kemaluanku. Kami saling menjilat dan menyedot kemaluan kami masing-masing dengan posisi pak wajah Marsan menyeruak ke selangkanganku dan wajahku dikangkangi Pak Marsan.

Aku semakin menggelinjang liar saat lidah Pak Marsan mengais-ngais lubang anusku dengan menekuk kedua pahaku ke atas. Aku sangat terangsang dengan perlakuannya itu. Apalagi saat lidahnya dimasukkan dalam-dalam ke lubang vaginaku. Aku tak mampu menjerit karena mulutku tersumpal batang kemaluannya.

Tubuhku bergetar hebat menahan kenikmatan yang menyergapku. Pak Marsan dengan ganas menjilat-jilat tonjolan kecil di lubang kemaluanku dengan kedua tangannya membuka lebar-lebar labia mayoraku ke arah berlawanan. Aku tak mampu bertahan lama atas perlakuannya itu. Tubuhku mengejan dan berkelejat seperti cacing kepanasan. Lalu tubuhku tersentak selama beberapa saat dan akhirnya terdiam. Aku mengalami orgasme lagi dengan cepatnya.

Pak Marsan masih membiarkan batang kemaluannya menyumpal mulutku sambil sesekali lidahnya menyapu-nyapu dinding vulvaku. Setelah aku mulai dapat mengatur napasku, Pak Marsan menggulingkan tubuhnya ke samping dan menarik tubuhku agar naik ke perutnya. Ia bergeser ke arah dekat dinding dan menumpuk beberapa bantal di belakang punggungnya hingga posisinya kini setengah duduk.

Tubuhku ditariknya hingga menduduki perutnya lalu diangkatnya pantatku dan dicucukannya batang kemaluannya ke lubang kemaluanku. Dengan pelan aku menurunkan pantatku hingga batang kemaluan Pak Marsan secara perlahan melesak ke dalam jepitan liang kemaluanku. Aku menahan napas menikmati gesekan batang kemaluannya di dinding lubang kemaluanku. Setelah beberapa kocokan yang kulakukan akhirnya amblaslah seluruh batang kemaluan Pak Marsan ke dalam lubang kemaluanku.

Kini aku duduk di atas perut Pak Marsan yang setengah duduk dengan punggung diganjal bantal. Dengan tangan bertumpu dinding tembok aku mulai bergerak menaik-turunkan pantatku secara perlahan. Sementara itu tangan Pak Marsan mencengkeram pantatku membantu menggerakkan pantatku naik turun, mulutnya sibuk menetek payudaraku.

Posisi di atas merupakan salah satu posisi favoritku. Karena dengan posisi ini aku dapat mengontrol sentuhan-sentuhan pada daerah sensitifku dengan batang kemaluan laki-laki yang menancap di lubang kemaluanku.

“Akhh… shhh… terushhh.. Pak Mar..sanhhh”

Aku mendesis-desis saat Pak Marsan ikut mengimbangi goyanganku sambil kedua tangannya menekan kedua payudaraku hingga kedua putingku masuk ke dalam mulut Pak Marsan. Kedua putingku dijilat-jilat dan disedot secara bersamaan hingga membuat nafsuku meningkat secara cepat. Aku semakin liar menggerakkan pantatku di pangkuan Pak Marsan. Tubuhku kembali mengejat-ngejat dan seperti terhantam aliran listrik.

“Terusshhh..terusshhh … ouchhh….”

Aku semakin liar mendesis saat kurasakan sesuatu meledak-ledak. Tubuhku terasa terhempas ke tempat kosong lalu akhirnya aku ambruk di dada Pak Marsan.

Pak Marsan lalu bangkit dan berganti menindihku dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya dari jepitan lubang kemaluanku. Bantal yang tadi mengganjal punggungku ditaruhnya untuk mengganjal pantatku hingga gundukan kemaluanku semakin membukit. Aku yang sudah lemas kembali dijadikan bulan-bulanan genjotan batang kemaluannya.

Bibirnya tak henti-hentinya melumat bibirku dan pantatnya dengan mantap memompa batang kemaluannya menusuk-nusuk lubang kemaluanku. Kedua tangan Pak Marsan mengganjal bongkahan pantatku hingga tusukannya kurasakan sangat dalam menumbuk perutku.

“Ughh..ughhh… putarrrhhh… Buu…putarrrhhh… ugghhh…”

Kudengar Pak Marsan mendengus memerintahku memutar pantatku.

Aku mematuhi perintahnya memutar pantatku dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.

“Terushhh.. terushhh ter…oughhhh!!”

Akhirnya dengan diiringi dengusan panjang tubuh Pak Marsan berkelojotan. Tubuhnya tersentak-sentak dan hunjaman batang kemaluannya serasa menghantam sangat dalam karena didorong sekuat tenaga olehnya. Batang kemaluannya berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku.

Crottt…crott..crott…

Batang kemaluannya menyemburkan cairan kenikmatan ke dalam liang kemaluanku. Aku merasa ada desiran hangat menyembur beberapa kali dalam lubang kemaluanku. Nikmat sekali rasanya. Tubuh Pak Marsan masih berkelojotan untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam.

“Oughh… Bu.. Ren..ni hebattthhhh…” bisiknya di telingaku dengan napas yang masih ngos-ngosan.

Tubuh kekarnya ambruk menindih tubuh telanjangku. Batang kemaluannya dibiarkannya tertancap erat dalam jepitan liang kemaluanku. Kami berdua sama-sama diam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami raih.

Hari sudah menjelang sore saat aku bangun dari kasur Pak Marsan. Aku kaget saat mau kupakai celana dalamku ternyata sudah basah oleh lendir yang masih menempel. Rupanya tadi Pak Marsan menyeka lubang vaginaku dengan celana dalamku! Sialan juga terpaksa aku tidak memakai celana dalam.

Dengan memakai celana dan baju atasanku aku keluar ke kamar mandi dan cebok membersihkan lubang kemaluanku dari sisa-sisa lendir sehabis persetubuhan tadi.

Aku baru saja mau berdiri dan menaikkan celanaku saat tiba-tiba Pak Marsan yang hanya dililit handuk ikut masuk ke kamar mandi. Belum selesai membanahi celanaku lagi-lagi Pak Marsan merangsekku di kamar mandinya yang terbuka.

Diturunkannya lagi celanaku hingga sebatas lutut lalu didekapnya aku dari belakang. Bibirnya dengan ganas dan rakus menjilat dan mencumbu daerah belakang telingaku hingga gairahku mulai terbangkit lagi.

Melihat aku sudah dalam genggamannya, dilepasnya lilitan handuknya hingga ia telanjang bulat. Batang kemaluannya yang sudah setengah keras menempel ketat di belahan pantatku. Aku sengaja menekan pantatku mundur hingga menggencet batang kemaluannya semakin terbenam di antara kedua belah buah pantatku. Kugeser-geser pantatku dengan lembut hingga lama-kelamaan batang itu mulai mengeras lagi.

Setelah keras, dicucukkannya batang kemaluannya ke celah-celah sempit di gundukan bukit kemaluanku lalu dikosek-kosekkannya ujungnya ke alur sempit itu yang sudah mulai basah.

Sekali lagi kami bersetubuh dengan hanya menurunkan celana panjangku sebatas lutut dan Pak Marsan menggenjotku lagi dengan posisi berdiri. Aku harus bertumpu pada bak mandi yang terbuat dari gentong tanah sambil setengah nungging sementara Pak Marsan menggenjot dari belakang.

Gila. Pak satpam satu ini memang gila! Bagaimana tidak ia punya dua tongkat satu dapat membuat orang kesakitan sedangkan yang satunya dapat membuat orang merem-melek keenakan! Aku pun jadi ketagihan dibuatnya dan resmilah Pak Marsan menjadi kekasih gelapku.
***

Kisah ini kupersembahkan khusus buat Ibu D di salah satu bank BUMN terkenal di kota Padang yang kisah pribadinya menjadi inspirasi cerita ini.

TAMAT

Reni – Kekeliruanku I

Copyright 2004, by Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com) and eastgloryid@yahoo.com

(Istri Selingkuh)

Namaku Reni, usia 27 tahun. Kulitku kuning langsat dengan rambut panjang dan lurus. Tinggiku 165 cm dan berat 51 kg. Aku telah menikah setahun lebih. Aku berasal dari keluarga Minang yang terpandang. Banyak yang bilang kalau wajahku mirip dengan aktris dan model Mira Asmara. Saat ini aku bekerja pada sebuah Bank pemerintah yang cukup terkenal.

Suamiku Ikhsan adalah seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang. Di samping itu, ia juga memiliki beberapa usaha perbengkelan.

Kami menikah setelah sempat berpacaran kurang lebih tiga tahun. Perjuangan kami cukup berat dalam mempertahankan cinta dan kasih sayang. Di antara sekian banyak halangan yang kami temui adalah ketidaksetujuan dari pihak orang tua kami. Sebelumnya aku telah dijodohkan oleh orang tuaku dengan seorang pengusaha.

Bagaimanapun, kami dapat juga melalui semua itu dengan keyakinan yang kuat hingga kami akhirnya bersatu. Kami memutuskan untuk menikah tapi kami sepakat untuk menunda dulu punya anak. Aku dan Bang Ikhsan cukup sibuk sehingga takut nantinya tak dapat mengurus anak.

Kehidupan kami sehari-hari cukup mapan dengan keberhasilan kami memiliki sebuah rumah yang asri di sebuah lingkungan yang elite dan juga memiliki dua unit mobil sedan keluaran terbaru hasil usaha kami berdua. Begitu juga dalam kehidupan seks tiada masalah di antara kami. Ranjang kami cukup hangat dengan 4-5 kali seminggu kami berhubungan suami istri. Aku memutuskan untuk memakai program KB dulu agar kehamilanku dapat kuatur.

Aku pun rajin merawat kecantikan dan kebugaran tubuhku agar suamiku tidak berpaling dan kehidupan seks kami lancar.

Suatu waktu, atas loyalitas dan prestasi kerjaku yang dinilai bagus, maka pimpinan menunjukku untuk menempati kantor baru di sebuah kabupaten baru yang merupakan sebuah kepulauan di daerah Mentawai. Aku merasa bingung untuk menerimanya dan tidak berani memutuskannya sendiri. Aku harus merundingkannya dulu dengan suamiku. Bagiku naik atau tidaknya statusku sama saja, yang penting untukku adalah keluarga dan perkawinanku.

Tanpa aku duga, suamiku ternyata sangat mendorongku agar tidak melepaskan kesempatan ini. Inilah saatnya bagiku untuk meningkatkan kinerjaku yang biasa-biasa saja selama ini, katanya. Aku bahagia sekali. Rupanya suamiku orangnya amat bijaksana dan pengertian. Sayang orang tuaku kurang suka dengan keputusan itu. Begitu juga mertuaku. Bagaimanapun, kegundahan mereka akhirnya dapat diatasi oleh suamiku dengan baik. Bahkan akhirnya mereka pun mendorongku agar maju dan tegar. Suamiku hanya minta agar aku setiap minggu pulang ke Padang agar kami dapat berkumpul. Aku pun setuju dan berterima kasih padanya.

Aku pun pindah ke pulau yang jika ditempuh dengan naik kapal motor dari Padang akan memerlukan waktu selama 5 jam saat cuacanya bagus. Suamiku turut serta mengantarku. Ia menyediakan waktu untuk bersamaku di pulau selama seminggu.

Di pulau itu aku disediakan sebuah rumah dinas lengkap dengan prasarananya kecuali kendaraan. Jarak antara kantor dan rumahku hanya dapat ditempuh dengan naik ojek karena belum adanya angkutan di sana.

Hari pertama kerja aku diantar oleh suamiku dan sorenya dijemput. Suamiku ingin agar aku betah dan dapat secepatnya menyesuaikan diri di pulau ini. Memang prasarananya belum lengkap. Rumah-rumah dinas yang lainnya pun masih banyak yang kosong.

Selama di pulau suamiku tidak lupa memberiku nafkah batin karena nantinya kami hanya akan bertemu seminggu sekali. Aku menyadari benar hal itu. Karena itu kami pun mereguk kenikmatan badaniah sepuas-puasnya selama suamiku ada di pulau ini.

Suamiku dalam tempo singkat telah dapat berkenalan dengan beberapa tetangga yang jaraknya lumayan jauh. Ia juga mengenal beberapa tukang ojek hingga tanpa kusangka suatu hari ia menjemputku pakai sepeda motor. Rupanya ia meminjamnya dari tukang ojek kenalannya.

Salah satu tukang ojek yang dikenal suamiku adalah Pak Sitorus. Pak Sitorus ini adalah laki-laki berusia 50 tahun. Ia tinggal sendirian di pulau itu sejak istrinya meninggal dan kedua anaknya pergi mencari kerja ke Jakarta.

Laki-laki asal tanah Batak itu harus memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya di pulau itu dengan kerja sebagai tukang ojek. Pak Sitorus, yang biasa dipanggil Pak Sitor, orangnya sekilas terlihat kasar dan keras namun jika telah kenal, sebetulnya ia cukup baik. Menurut suamiku, yang sempat bicara panjang lebar dengan Pak Sitor, dulunya ia pernah tinggal di Padang yaitu di Muara Padang sebagai buruh pelabuhan. Suatu saat ia ingin mengubah nasibnya dengan berdagang namun bangkrut. Untunglah ia masih punya sepeda motor sehingga menjadi tukang ojek.

Hampir tiap akhir pekan aku pulang ke Padang untuk berkumpul dengan suamiku. Yang namanya pasangan muda tentu saja kami tidak melewatkan saat kebersamaan di ranjang. Saat aku pulang, aku menitipkan rumah dinasku pada Pak Sitor karena suamiku bilang ia dapat dipercaya. Aku pun menuruti kata-kata suamiku.

Kadang-kadang aku diberi kabar oleh suamiku bahwa aku tidak usah pulang karena ia yang akan ke pulau. Sering kali suamiku bolak-balik ke pulau hanya karena kangen padaku. Sering kali pula ia memakai sepeda motor Pak Sitor dan memberinya uang lebih.

Suamiku telah menganggap Pak Sitor sebagai sahabatnya karena sesekali saat ia ke pulau, Pak Sitor diajaknya makan ke rumah. Sebaliknya, Pak Sitor pun sering mengajak suamiku jalan-jalan di pantai yang cukup indah itu.

Suamiku sering memberi Pak Sitor uang lebih karena ia akan menjagaku dan rumahku jika aku ditinggal. Sejak saat itu aku pun rutin diantar jemput Pak Sitor jika ke kantor. Tidak jarang ia membawakanku penganan asli pulau itu. Aku pun menerimanya dengan senang hati dan berterima kasih. Kadang aku pun membawakannya oleh-oleh jika aku baru pulang dari Padang.

***

Setelah beberapa bulan aku tugas di pulau itu dan melalui rutinitas seperti biasanya, suamiku datang dan memberiku kabar bahwa ia akan disekolahkan ke Australia selama 1,5 tahun. Ini merupakan bea siswa untuk menambah pengetahuannya. Aku tahu bea siswa ini merupakan obsesinya sejak lama. Aku pun bisa menerimanya. Aku pikir itu demi masa depan dan kebahagiaan kami juga nantinya sehingga tidak jadi masalah bagiku.

Sebelum berangkat, suamiku sempat berpesan agar aku jangan segan-segan minta tolong kepada Pak Sitor sebab suamiku telah meninggalkan pesan pada Pak Sitor untuk menjagaku. Suamiku pun menitipkan uang yang harus aku serahkan pada Pak Sitor.

Sejak suamiku di luar negeri, kami sering telpon-teleponan. Kadang aku bermasturbasi bersama suamiku lewat telepon. Itu sering kami lakukan untuk memenuhi libido kami berdua. Akibatnya, tagihan telepon pun meningkat. Aku tidak memperdulikannya. Saat melakukannya dengan suamiku, aku mengkhayalkan dia ada dekatku. Tidak masalah jarak kami berjauhan.

Aku mulai jarang pulang ke Padang karena suamiku tidak ada. Paling aku pulang sebulan sekali. Itu pun aku cuma ke rumah orang tuaku. Rumahku di Padang aku titipkan pada saudaraku.

Aku melewatkan hari-hariku di pulau dengan kesibukan seperti biasanya. Begitu juga Pak Sitor yang rutin mengantarjemputku.

Suatu saat ketika aku pulang, Pak Sitor mengajakku untuk jalan-jalan keliling pantai. Aku tahu ia dulu memang sering membawa suamiku jalan-jalan ke pantai. Tapi saat ia mengajakku, kutolaknya dengan halus. Aku merasa tidak enak. Apa nanti kata teman kantorku jika melihatnya. Kebetulan saat itu pun aku sedang tidak mood sehingga aku merasa lebih tenang di rumah saja. Di rumah aku beres-beres dan berbenah pekerjaan kantor.

Akhir-akhir ini, aku merasakan bahwa Pak Sitor amat memperhatikanku. Tidak jarang sore-sore ia datang sekedar memastikan aku tidak apa-apa. Ia dapat dipercaya untuk masalah keamanan sebab di pulau itu ia amat disegani dan berpengaruh.

Kusadari kadang saat berboncengan, tanpa sengaja dadaku terdorong ke punggung Pak Sitor. Biasanya itu terjadi saat ia menghindari lubang atau saat ia mengerem. Aku maklum, itulah risikonya jika aku berboncengan sepeda motor. Semakin lama, hal seperti itu semakin sering terjadi sehingga akhirnya aku jadi terbiasa. Sesekali aku juga merangkul pinggangnya jika aku duduknya belum pas di atas jok motornya. Aku rasa Pak Sitor pun sempat merasakan kelembutan payudaraku yang bernomer 34b ini. Aku menerima saja kondisi ini sebab di pulau ini memang tak ada angkutan. Jadi aku harus bisa membiasakan diri dan menjalaninya. Tak bisa dibandingkan dengan di Padang di mana aku terbiasa menyetir sendiri kalau pergi ke kantor.

Pada suatu Jumat sore sehabis jam kerja, Pak Sitor datang kerumahku. Seperti biasanya, ia dengan ramah menyapaku dan menanyakan keadaanku. Ia pun kupersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.

Sore itu aku telah selesai mandi dan sedang menonton televisi. Kembali Pak Sitor mengajakku jalan ke pantai. Aku keberatan sebab aku masih agak capai. Lagipula aku agak kesal dengan kesibukan suamiku dalam beberapa pekan terakhir ini. Tiap kali kutelepon, seperti yang terakhir kulakukan tadi, ia tidak bisa terlalu lama berbincang-bincang. Alasannya lagi sibuk menyiapkan thesis. Aku mulai merasa kurang diperhatikan.

“Kalau gitu, kita main catur saja, Bu… Gimana?” Pak Sitor mencoba mencari alternatif.

Dulu ia memang sering main catur dengan suamiku. Akhirnya aku pun setuju. Lumayanlah, untuk menghilangkan kesuntukanku saat itu. Aku lalu main catur dengan laki-laki itu.

Tak terasa, waktu berlalu sangat cepat. Sudah beberapa ronde kami bermain. Beberapa kali pula aku mengalahkannya. Taruhannya adalah siapa yang kalah harus dikalungi lehernya dengan sebuah botol yang diikat tali. Semakin sering kalah, semakin banyak botol yang harus dikalungkan padanya.

Aku pun tertawa-tawa karena semakin banyak botol yang dikalungkan ke leher Pak Sitor. Aku sendiri sampai saat itu cuma dikalungi satu botol.

Seumur hidupku, baru kali ini aku mau bicara bebas dan akrab dengan laki-laki selain suamiku. Biasanya tidak semua laki-laki dapat bebas berbicara denganku. Aku termasuk tipe orang yang membatasi dalam berhubungan dengan lawan jenis sehingga tidak heran jika aku sering dicap sombong oleh kebanyakan lelaki yang kurang kukenal. Anehnya, dengan Pak Sitor aku bisa bicara apa adanya, akrab dan ceplas-ceplos. Mungkin karena kami telah saling mengenal dan juga karena aku merasa membutuhkan tenaganya di pulau ini.

Tanpa terasa, telah lama kami bermain catur sejak sore tadi. Jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Di luar rupanya telah turun hujan deras diiringi petir yang bersahut-sahutan. Kami pun mengakhiri permainan catur kami. Aku lalu membersihkan mukaku ke belakang.

“Pak, kita ngopi dulu, yuk..? Biar nggak ngantuk,” kataku menawarinya.

Saat itu di pulau penduduknya telah pada tidur. Yang terdengar hanya suara hujan dan petir. Setelah menghabiskan kopinya, Pak Sitor minta izin pulang karena hari telah larut. Aku tidak sampai hati sebab cuaca tidak memungkinkan ia pulang. Rumahnya pun cukup jauh. Lagi pula aku kuatir jika nanti ia tersambar petir.

Lalu aku tawarkan agar ia tidur di ruang tamuku saja. Akhirnya ia menerima tawaranku. Aku memberinya sebuah bantal dan selimut karena cuaca sangat dingin saat itu.

Tiba-tiba listrik padam. Aku sempat kaget. Baru kuingat, di pulau itu jika hujan lebat biasanya aliran listrik sering padam. Untunglah Pak Sitor punya korek api dan membantuku mencari lampu minyak di ruang tengah. Lampu kami hidupkan. Satu untuk di kamarku dan yang satu lagi untuk di ruang tamu tempat Pak Sitor tidur.

Aku lalu minta diri untuk lebih dulu tidur sebab aku merasa capai. Aku pun pergi ke kamar untuk tidur. Di luar hujan turun dengan derasnya seolah pulau ini akan tenggelam.

Aku berusaha untuk tidur namun ternyata tidak bisa. Ada rasa gelisah yang menghalangiku untuk terlelap. Petir menggelegar begitu kerasnya.

Akhirnya kuputuskan pergi ke ruang tamu saja. Hitung-hitung memancing kantuk dengan ngobrol bareng Pak Sitor. Rasa khawatirku pun bisa berkurang sebab aku merasa ada yang melindungi.

Sesampainya di ruang tamu, kulihat Pak Sitor masih berbaring namun matanya belum tidur. Ia kaget, disangkanya aku telah tidur. Aku lalu duduk di depannya dan bilang nggak bisa tidur.

Ia cuma tersenyum dan bilang mungkin aku ingat suamiku.

Padahal saat itu aku masih sebal dengan kelakuan suamiku. Aku cuma tersenyum kecut dan mengatakan kalau badanku rasanya pegal-pegal.

“Kalau begitu, biar saya pijati, Bu,” kata Pak Sitor sigap.

“Orang-orang bilang, pijatan saya enak, lho,” katanya lagi sambil mengacungkan jempol.

Aku tersenyum mendengar promosinya. Aku lalu duduk membelakanginya sementara Pak Sitor memijatiku, mulai dari kepala, kedua pundakku, sampai kedua lenganku. Mau tak mau harus kuakui, pijatannya memang mantap.

Sambil memijatiku, Pak Sitor mengajakku ngobrol tentang apa saja, terutama tentang keluargaku dan suamiku.

Karena masih kesal dengan suamiku, tanpa sengaja kucurahkan kekesalanku. Aku tahu, mestinya aku tidak boleh bilang suasana hatiku saat itu tentang suamiku pada Pak Sitor namun entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja. Aku merasa senang mendapatkan teman untuk curhat. Pak Sitor mendengarkan dengan seksama semua detail ceritaku. Tak terasa sudah hampir satu jam aku membeberkan semua rahasia pernikahanku kepada Pak Sitor.

Dengan cara bijaksana dan kebapakan tanpa sama sekali berkesan menggurui, sesekali ia menanggapi dan menyemangati aku yang belum banyak merasakan asam garam perkawinan. Dalam suasana cahaya lampu yang temaram dan obrolan kami yang cukup hangat, aku tidak menyadari kapan Pak Sitor pindah duduk ke sampingku.

Aku pun membiarkan saja saat Pak Sitor, sambil terus memijatiku, meraih jemariku yang dilingkari cincin berlian perkawinanku dan meremas-remasnya. Lalu aku malah merebahkan kepalaku di dadanya. Aku merasa terlindungi dan merasa ada yang menampung beban pikiranku selama ini.

Pak Sitor pun membelai rambutku seakan aku adalah istrinya. Bibirnya terus bergerak ke balik telingaku dan menghembuskan nafasnya yang hangat. Aku terlena dan membiarkannya berbuat seperti itu. Perlahan ia mulai menciumi telingaku. Aku mulai terangsang ketika ia terus melakukannya dengan lembut.

Bibirnya pun terus bergeser sedikit demi sedikit ke bibirku. Saat kedua bibir kami bertemu, seperti ada aliran listrik yang mengaliri sekujur tubuhku.

Aku seperti terhipnotis. Aku seperti tak peduli bahwa saat itu aku sedang dicumbui oleh laki-laki yang bukan suamiku. Aku tahu itu adalah perbuatan yang terlarang… tapi aku tak kuasa menolaknya. Aku melakukannya dalam kesadaran penuh… dan aku pun menikmatinya. Aku mulai merasakan basah di sekitar pangkal pahaku…

Mungkin aku telah salah langkah dan salah menilai orang. Jelas bahwa Pak Sitor sama sekali tak merasa sungkan memperlakukanku seperti itu. Ia pun seolah tahu benar apa yang harus diperbuatnya terhadap diriku untuk membuatku terbuai dalam dekapannya. Seolah-olah ia telah menyimpan hasrat yang mendalam terhadap diriku selama ini.

Malam ini adalah kesempatan yang telah ditunggu-tunggunya… Anehnya, aku seperti tak mampu menahan sepak terjangnya. Padahal yang pantas berbuat seperti itu terhadapku hanyalah suamiku tercinta. Sepertinya telah tertutup mata hatiku oleh nafsu dan gairahku yang juga menuntut pelampiasan.

Dengan demikian, Pak Sitor pun bebas mengulum bibirku beberapa saat. Aku tak tahu setan apa yang telah merasuki kami berdua. Yang jelas, aku pun membalas ciumannya sambil menutup kedua mataku menikmatinya.

Sementara itu, tangan Pak Sitor juga tidak mau tinggal diam. Melihat penerimaanku, ia pun semakin berani. Dengan alasan meneruskan pijatannya, ia mulai merabai buah dadaku yang terbungkus BH dan pakaian tidur.

Aku pun mendesah di dalam pelukannya. Aku benar-benar terlena menikmati gerayangan tangannya di tubuhku. Pak Sitor pun tampak semakin bergairah karenanya.

Dalam hati aku takjub kami bisa berhubungan sampai sejauh itu tanpa pernah kami bayangkan sebelumnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Semuanya mengalir begitu saja secara naluriah di antara sepasang manusia berlainan jenis kelamin yang masing-masing memiliki nafsu birahi terpendam. Apalagi suasana malam yang gelap yang diguyur hujan lebat di pedalaman sebuah pulau benar-benar mendukung kegiatan kami. Aku pun merasa nyaman dalam pelukan dan buaian Pak Sitor.

“Bu Reni,” tiba-tiba Pak Sitor berkata pelan.

“Pijatannya diteruskan di kamar Ibu saja, ya?” pintanya. “Biar Ibu saya pijat seluruh badan sambil diluluri dengan body lotion…”

Sebetulnya aku terkejut dengan permintaannya. Itu berarti aku harus dipijat telanjang oleh Pak Sitor. Akan tetapi entah mengapa, aku malah jadi bergairah menerima tawarannya. Apalagi suasana malam itu yang gelap dan diiringi hujan lebat begitu mendukung.

“Boleh, Pak…” kataku pelan dengan suara serak karena gairah yang menghentak.

Aku menurut saja saat dibimbing Pak Sitor ke kamar tidur sambil bergandengan tangan. Direbahkannya tubuhku di atas ranjang yang biasa kugunakan untuk bercinta hanya dengan suamiku. Namun kini yang berada di sampingku bukanlah suamiku, melainkan seorang laki-laki tukang ojek sepantaran ayahku yang seharusnya tidak pantas untukku.

Saat itu juga aku tahu akan terjadi sesuatu yang terlarang di antara kami berdua. Aku tak pernah telanjang di hadapan laki-laki, kecuali suamiku. Entah apa yang menyihirku, yang membuatku memasrahkan diri pada laki-laki ini. Semuanya seolah berjalan begitu cepat dan mengalir begitu saja. Aku pun terhanyut terbawa aliran nafsu yang dibangkitkan Pak Sitor.

Pak Sitor lalu menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Sedang lampu di luar telah ia matikan tadi.

Aku diam saja menanti apa yang akan diperbuatnya padaku. Padahal selama ini aku tidak pernah sekali pun memberi hati jika ada laki-laki lain yang iseng merabaku dan menggodaku. Saat di Padang dulu, sebetulnya banyak rekan sekerjaku yang masih muda dan gagah berusaha iseng menggodaku. Kadang mereka dengan gigih mengajakku kencan atau sekedar makan berdua walau tahu aku sudah bersuami. Aku tak pernah melayani mereka. Aku termasuk wanita yang menjunjung tinggi kesucian dan kehormatan sesuai dengan yang selalu diajarkan orang tua dan agamaku.

Sekarang semua itu musnah tak berbekas. Di hadapan Pak Sitor, aku sudah terbaring tak berdaya. Pasrah untuk mengikuti apa yang akan diperbuatnya terhadapku. Aku akan ditelanjangi. Seluruh tubuhku akan dipijati dan dirabainya. Aku tahu aku melakukan pencemaran terhadap pernikahanku… tapi aku pun tak bisa menahan rasa basah yang mulai menggelora di sekitar pangkal pahaku…

Pak Sitor mulai melepaskan pakaianku satu per satu, mulai dari kaosku, lalu celana panjangku. Aku hanya memejamkan mataku saat ditelanjangi oleh Pak Sitor. Aku semakin buta oleh nafsu yang mulai menggebu-gebu merasuki jiwa dan tubuhku. Bahkan sepertinya aku tak sabar menanti tindakan Pak Sitor selanjutnya. Akhirnya bra dan celana dalam kremku pun terlempar ke lantai. Lengkaplah sudah sekarang kepolosanku di hadapannya. Sejenak sempat kulihat Pak Sitor menelan ludah menatap tubuh bugilku yang putih mulus.

Selesai menelanjangi aku, gantian dirinya yang melepaskan pakaiannya satu per satu hingga lapis terakhir. Aku merasa tegang saat menungguinya mencopoti pakaiannya sambil terbaring bugil di ranjang. Rasanya lama sekali. Vaginaku terasa basah karena menahan gairah. Kuperhatikan tubuhnya yang hitam. Meskipun sudah tua namun ototnya masih terukir jelas. Ada gambar tattoo tengkorak di lengannya.

Saat Pak Sitor membuka celana dalamnya, di bawah temaram lampu, aku bisa melihat ternyata penisnya tidak disunat! Aku berusaha menyembunyikan keterkejutanku dan bersikap wajar supaya ia tak merasa tersinggung.

Jantungku semakin berdebar-debar saat kami sudah sama-sama bugil dan ia mendekati tubuhku.

Kurasa dia adalah laki-laki yang keras dan hanya sedikit memiliki kelembutan. Itu aku ketahui saat ia mulai merabai tubuhku yang polos.

Aku tersentak ketika Ia mulai memeluk dan menciumiku. Diciuminya aku dari leher hingga belahan dadaku dengan kasar. Digigitinya bagian-bagian sensitifku sehingga menimbulkan cupangan. Rabaan tangannya yang kasar mulanya membuatku kesakitan tapi akhirnya aku pun jadi terangsang.

Suamiku jika merabaiku cukup hati-hati. Nyata perbedaannya dengan Pak Sitor yang lebih kasar. Tampaknya ia sudah lama tidak berhubungan badan dengan wanita. Sekarang akulah yang jadi sarana pelampiasan nafsunya setelah sekian lama. Aku tak kuasa menolak tindakannya pada diriku. Yang jelas aku merasa sangat terangsang disentuh dengan cara yang berbeda dari yang biasa dilakukan oleh suamiku. Birahiku pun naik.

Tiba-tiba air mataku sempat menetes karena tersirat penyesalan telah menodai perkawinanku. Namun percuma saja, sekarang semuanya sudah terlambat. Pak Sitor semakin asyik dengan tindakannya. Tiap jengkal tubuhku dijamahnya tanpa terlewatkan seinci pun. Kekuatan Pak Sitor telah menguasai diriku. Aku membiarkan saja ia terus merangsangi diriku. Tubuhku pun berkeringat tidak tahan terhadap rasa geli bercampur gairah.

Lalu mulutnya turun ke selangkanganku. Ia sibakkan kedua kakiku yang putih bersih itu. Di situ lidahnya bermain menjilati klitorisku. Kepalaku miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang melandaku. Peganganku hanya kain sprei yang aku tarik karena desakan itu. Kedua kakiku pun menerjang dan menghentak tidak tahan atas gairah yang melandaku.

Beberapa menit kemudian aku orgasme. Pak Sitor dengan mulutnya menelan air orgasmeku itu. Badanku lemas tak bertenaga. Mataku pun terpejam.

Setelah beristirahat beberapa saat, aku kembali dibangkitkan oleh Pak Sitor dengan cara diciumi balik telingaku hingga liang kehormatanku. Di sana jarinya ia masukkan. Ia pun mulai mengacak-acak liang kewanitaanku lalu mempermainkan celahnya.

Sambil menikmati goyangan jari-jarinya di dalam vaginaku, aku semakin sadar jika Pak Sitor telah lama merencanakan ini. Bisa jadi telah lama ia berobsesi untuk meniduriku karena sama sekali tak nampak keraguan dalam seluruh tindakannya mencabuliku. Berarti ia memang telah berencana melanggar amanat suamiku dan menguasaiku.

Di satu pihak aku memandangnya sebagai ular berkepala dua. Anehnya, di lain pihak, aku ikut merasa senang ia berhasil mewujudkan rencana rahasianya itu terhadapku! Sekarang aku menikmati sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya…

Pikiran yang memenuhi benakku pun terputus karena aku lalu mengalami orgasme untuk yang kedua kalinya oleh tangan Pak Sitor. Badanku telah basah oleh keringat. Aku benar-benar merasa lemas.

Pak Sitor lalu mengambil gelas dan menuangkan air putih dari sebotol air mineral yang ada di mejaku. Dibantunya aku untuk duduk dan minum. Dalam beberapa teguk, air dalam gelas itu kuhabiskan. Pak Sitor lalu menuangkan lagi air untuk diminumnya sendiri ke gelas yang sama. Aku duduk di tempat tidur sambil bersandar ke dinding memperhatikannya.

“Ibu masih mau minum lagi?” tanya Pak Sitor selesai menghabiskan air di gelas.

Karena masih haus, aku pun mengangguk. Pelan-pelan kuminum air dari gelas yang baru saja dipakai oleh Pak Sitor. Nikmat sekali rasanya. Sekarang giliran Pak Sitor yang memperhatikanku menghabiskan minumanku sambil tangannya mengelus-elus pundak dan leherku. Aku mulai merasa nyaman berada dalam dekapan lelaki itu.

“Sudah?” tanyanya saat kuulurkan gelas yang kosong kepadanya.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum malu karena Pak Sitor yang bugil itu menatap mataku dalam-dalam sambil mendekap tubuhku yang juga bugil. Lalu dilepaskannya dekapannya dari tubuhku untuk meletakkan gelas kosong kembali ke atas meja.

Saat kembali ke ranjang, Pak Sitor minta izin padaku untuk memasukkan penisnya ke lubang kehormatanku. Walaupun kami sudah sama-sama bugil dan aku pun telah dicabuli oleh Pak Sitor, aku masih merasa ragu.

Aku lalu menggeleng tidak setuju karena khawatir konsekuensinya. Liang kehormatanku akan tercemar oleh cairan laki-laki lain. Aku merasa telah terlalu jauh berkhianat pada suamiku. Bagiku cukuplah tindakannya tadi dan tidak usah diteruskan lagi hingga penetrasi.

Aku mengambil pakaianku yang berceceran dan bersiap mengenakannya kembali.

Dari luar, Pak Sitor tampak mau menerima perkataanku dan tidak meneruskan niatnya. Akan tetapi, aku bisa melihat ada rasa kecewa yang dalam di matanya. Ia tampak gelisah. Aku bisa bayangkan dirinya yang telah terobsesi untuk menyenggamaiku. Aku lihat penisnya sebetulnya telah siap memasuki diriku jika aku izinkan. Panjangnya melebihi milik suamiku dan agak bengkok dengan diameter yang melebar.

Akhirnya Pak Sitor minta aku untuk membantunya klimaks dengan mengulum penisnya. Satu kali saja, katanya, sebelum kami menyudahi permainan terlarang kami malam itu.

Aku ragu. Aku dan suamiku saja selama ini tak pernah saling melakukan oral sex. Suamiku tak pernah melakukannya kepadaku, demikian juga sebaliknya. Padahal kami selalu menjaga kebersihan wilayah sensitif kami. Sedangkan aroma penis Pak Sitor lebih bau. Kelihatannya sih tak terlalu bersih. Selain nampaknya Pak Sitor memang kurang menjaga kebersihan, tentunya itu juga karena penisnya yang tak disunat. Akhirnya, aku kembali menggeleng.

Walaupun aku menolaknya, Pak Sitor tak menyerah dan terus merengek memohon-mohon padaku. Ia merasa sangat tersiksa karena belum berhasil mengeluarkan hasrat birahinya yang terpendam.

Lama-kelamaan aku merasa kasihan juga. Tidak adil rasanya bagiku yang telah dibantunya sampai dua kali orgasme untuk membiarkannya seperti itu. Aku merasa diriku egois. Timbullah perasaan bersalah di dalam diriku.

Akhirnya aku pun menyerah. Bukankah tadi Pak Sitor juga telah membantuku masturbasi dengan tangan dan mulutnya? Jadi kupikir sekarang hitung-hitung balas budi.

“Ya sudahlah, Pak…. Sekali ini saja, ya..?” kataku pelan tanpa daya sambil memegang pahanya yang kasar.

Tampak sekali kegirangan terpancar di wajah Pak Sitor. Seperti seorang anak yang baru saja diberikan mainan oleh ibunya.

Kuletakkan kembali pakaianku yang baru saja kukumpulkan dan tadinya sudah siap kukenakan kembali.

Perlahan kutundukkan wajahku mendekati selangkangan Pak Sitor. Dengan sedikit jijik kubuka mulutku. Akhirnya, kuberanikan untuk mengulum batang penisnya namun tidak muat seluruhnya ke dalam rongga mulutku. Hanya sampai setengah batangnya, kepala penisnya sudah mentok sampai pangkal tenggorokanku. Mulutku pun serasa mau robek karena besarnya penis Pak Sitor.

Baru beberapa kali kulum aku serasa mual dan mau muntah oleh aroma kelamin Pak Sitor itu. Aku maklum saja karena ia kurang bersih. Penisnya yang tidak disunat, seperti kebiasaan laki-laki Batak, memang membuatnya agak kotor. Selain itu, kurasa itu juga disebabkan oleh makanannya yang tidak beraturan. Walaupun demikian, aku berusaha sekuat tenaga menyembunyikan perasaan jijikku. Aku tak ingin membuatnya tersinggung.

Sementara kepalaku menunduk dan mengulumi penisnya, mataku kerap melirik ke atas mengamati ekspresi Pak Sitor. Awalnya aku merasa tak percaya diri apakah dapat memuaskan Pak Sitor. Sementara aku bekerja, tangan Pak Sitor yang satu mengelus-elus pundak dan leherku. Tangannya yang satu lagi diletakkannya di kepalaku. Semakin lama kurasakan tangannya semakin erat memegangi kepalaku, seolah tak menghendaki kepalaku berpindah dari selangkangannya. Untuk sementara, aku jadi lega karena itu artinya Pak Sitor sejauh ini puas dengan pelayananku.

Satu menit, dua menit… lima menit berlalu…. Entah berapa lama lagi setelah itu aku mengulumi penis Pak Sitor sampai basah dan bersih oleh air liurku… Aku lalu menyerah dan melepaskan penis Pak Sitor dari mulutku.

Aku heran Pak Sitor ini sampai sekian lama kok tidak juga klimaks. Padahal akibat kulumanku, penisnya semakin lama semakin keras seperti sebatang kayu. Entahlah, mungkin aku juga yang belum pandai melakukan oral sex… Maklumlah, ini baru pertama kali kulakukan.

Akhirnya aku sadar bahwa stamina Pak Sitor yang luar biasa besarnya itu memang harus disalurkan dengan cara bersebadan… Mungkin karena belum berpengalaman, kulumanku sekedar mengeraskan penis Pak Sitor tapi tak mampu membuatnya orgasme.

Selain salut akan staminanya, aku juga salut atas sikapnya yang menghargai wanita dengan tidak memaksakan kehendak. Padahal dalam keadaan seperti ini, aku bisa saja dipaksanya untuk disetubuhi, yang mana hal itu tidak ia lakukan karena aku menolaknya.

Aku jadi semakin merasa bersalah. Karena itu timbul keinginanku untuk membantunya saat itu juga. Di dalam pikiranku berperang antara birahi dan moral. Akhirnya, kupikir sudah terlanjur basah. Di samping itu, aku tidak ingin menambah masalah antara aku dan Pak Sitor. Jika aku larang terus nantinya Pak Sitor bisa saja memperkosaku. Seorang laki-laki yang telah naik birahinya sampai di ubun-ubun sering bertindak nekad. Lagi pula aku sendirian.

Akhirnya, dengan pertimbangan demi kebaikan kami berdua, maka aku izinkan dia melakukan penetrasi ke dalam rahimku. Kupikir lebih baik hal itu kami lakukan atas dasar suka sama suka daripada aku nanti diperkosanya. Lagipula pikiran untuk disetubuhi lelaki lain untuk pertama kalinya mulai menggoda benakku. Ya, aku membulatkan tekadku untuk menerima Pak Sitor mengintimiku…

“Hmmm… Pak Sitor…. Begini deh… Kalau Bapak memang benar-benar mau mencampuri saya… Boleh, Pak….”

Pak Sitor pun tampaknya gembira sekali. Padahal tadi sempat kulihat wajahnya tegang sekali.

“Ibu benar-benar ikhlas…?” tanya Pak Sitor menatap dalam-dalam mataku dengan penuh birahi. Tangannya membelai rambutku. Aku membalas tatapannya sambil tersenyum, lalu mengangguk dengan pasti.

Pak Sitor mencium dan mengulum bibirku dalam-dalam… Seolah menyatakan rasa terima kasihnya atas kesediaanku. Aku merasa dihargai sebagai seorang wanita. Walaupun perilakunya keras namun ia tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita. Kubalas ciumannya dengan tulus. Aku pun semakin mantap untuk menyerahkan diriku bulat-bulat kepadanya…

Setelah dilepaskannya pagutannya dari mulutku, kami pun berpandangan dan saling tersenyum seperti sepasang kekasih. Sepasang kekasih yang bersiap-siap untuk menunaikan malam pertamanya. Ada perasaan tegang dan senang yang melanda diriku saat menyerahkan diriku pada Pak Sitor.

“Sebentar ya, Pak… dikerasin lagi penisnya, biar gampang nanti masukinnya…” kataku sambil kembali menundukkan kepalaku ke arah selangkangan Pak Sitor.

Selama beberapa saat kukulumi kembali penis Pak Sitor. Tangan Pak Sitor membelai-belai rambutku saat aku bekerja. Tampak sekali kalau ia sangat menikmatinya. Setelah batang penisnya benar-benar keras, barulah kulepaskan mulutku…

Aku lalu berbaring dan membuka kedua pahaku, memberinya jalan memasuki rahimku. Tubuh kami berdua saat itu telah sama-sama berkeringat. Rambutku telah kusut. Dari temaram lampu dinding aku lihat Pak Sitor bersiap-siap mengarahkan penisnya. Posisinya pas di atas tubuhku. Tubuhnya yang telah basah oleh keringat hingga membuat badannya hitam berkilat. Tampaknya ia masih berusaha menahan untuk ejakulasi. Di luar, derasnya hujan seakan tidak mau kalah dengan gelombang nafsu kami berdua.

Pak Sitor dengan hati-hati menempelkan kepala penisnya. Ia tahu jika tergesa-gesa akan membuatku kesakitan sebab punyaku masih kecil dan belum pernah melahirkan.

Aku pun berusaha memperlebar kedua pahaku supaya mudah dimasuki kejantanan Pak Sitor. Aku melihat kejantanannya panjang dan agak bengkok jadi aku bersiap-siap agar aku jangan kesakitan.

“Pelan-pelan ya, Pak…” Aku sempat bilang kepadanya untuk jangan cepat-cepat.

“Jangan khawatir, Bu…” katanya sambil memegang lututku mengambil ancang-ancang.

Dengan bertahap, ia mulai memasukan penisnya. Aku memejamkan mata dan merasakan sentuhan pertama pertemuan kemaluan kami. Aku merasa seperti pengantin baru yang sedang diperawani. Hatiku dag dig dug. Untuk pertama kalinya aku dimasuki oleh laki-laki lain selain suamiku! Aku punya perasaan ini akan lebih sensasional daripada malam pertamaku bersama Bang Ikhsan…

Untuk melancarkan jalannya, kakiku ia angkat hingga melilit badannya, lalu langsung penisnya masuk ke rahimku dengan lambat. Aku terkejut dan merasakan ngilu di bibir rahimku.

“Auuch… ooh.. auuch…” Aku meracau kesakitan. Pak Sitor membungkam mulutku dengan mulutnya. Kedua tubuh bugil kami pun sepenuhnya bertemu dan menempel. Aku memeluk tubuh Pak Sitor yang kekar itu erat-erat.

Tidak lama kemudian seluruh penisnya masuk ke rahimku dan ia mulai melakukan gerak maju mundur. Aku merasakan tulangku bagai lolos, sama seperti yang kualami saat menjalani malam pertama dengan Bang Ikhsan dulu…. Bahkan sekarang lebih terasa…. Perasaan yang belakangan ini sudah tak pernah lagi kualami bersama suamiku. Kini aku bisa menikmatinya kembali bersama Pak Sitor!

Aku pun mulai merasakan kenikmatan. Cairan vaginaku mulai keluar banyak dan melumasi penis besar Pak Sitor yang terus keluar masuk liang kemaluanku. Mulut pak Sitor pun lepas dari mulutku karena aku tidak kesakitan lagi. Aku tersengal-sengal setelah selama beberapa waktu mulutku disumpalnya.

Mulutku yang telah bebas kini mulai mengeluarkan erangan-erangan karena menikmati genjotan lelaki itu. Aku merasa melambung dibawa Pak Sitor ke surga dunia. Karenanya aku benar-benar percaya dan menyerahkan diriku padanya. Tampak Pak Sitor sangat bahagia melihat penerimaanku itu.

Kekuatan laki-laki ini membuatku amat salut. Genjotannya sampai membuat ranjang dan badanku bergetar semua seperti kapal yang diserang badai. Aku sampai menikmati orgasme yang luar biasa karenanya. Seolah aku telah dilahirkan kembali dan diberikan kehidupan lain yang sama sekali berbeda…

Kurang lebih 15 menit kemudian gerakan Pak Sitor bertambah cepat. Tubuhnya menegang hebat. Aku merasakan basah di dalam rahimku oleh cairan hangat. Akhirnya kesampaian juga obsesi Pak Sitor terhadapku. Sekarang rahimku sudah menerima cairan spermanya yang panas dan membludak. Resmilah sudah aku menjadi miliknya….

Tubuhnya lalu rebah di atas tubuhku tanpa melepaskan penisnya dari dalam rahimku. Aku pun dari tadi telah sempat kembali orgasme. Butiran keringat kami membuat basah kain sprei yang telah kusut di sana-sini.

Beberapa waktu kemudian Pak Sitor menggulingkan badannya ke samping sambil menarikku sehingga kami berbaring berhadap-hadapan pada sisi tubuh kami masing-masing. Aku terkagum-kagum karena dalam posisi itu, penis Pak Sitor tetap berada dalam kepitan lubang kemaluanku. Satu hal yang tak pernah kudapatkan saat bersama Bang Ikhsan suamiku.

Ini bisa terjadi karena penis Pak Sitor panjang. Selain itu, juga kurasa karena ia begitu terangsang dengan diriku sehingga penisnya terus mengeras walaupun sudah memuncratkan air mani dalam jumlah banyak. Alasan yang terakhir ini tentu saja membuatku merasa sangat tersanjung dan merasa sangat berharga di hadapannya. Aku ternyata bisa membuat Pak Sitor terangsang dengan begitu hebatnya… Otomatis aku pun merasa sangat senang sudah bisa menyenangkan dan memuaskan nafsu seks Pak Sitor.

Kami lalu tertidur dengan alat kelamin kami masih bersatu, sementara di luar hujan masih saja turun.

Entah berapa lama kami tertidur. Mestinya tak terlalu lama tapi saat bangun aku merasa sangat segar. Aku terbangun karena gerakan-gerakan Pak Sitor yang rupanya telah bangun terlebih dahulu. Sambil mengumpulkan kembali memoriku yang beterbangan saat tertidur, aku mulai menyadari kembali keadaanku saat itu. Penis Pak Sitor ternyata masih mantap tertancap di kemaluanku, bahkan terasa keras sekali…

Sejenak akal sehatku kembali mampir. Gila! Aku telah bersetubuh dengan lelaki selain suamiku…! Sepanjang tidur tadi tubuhku telah dimasuki penis dan sperma Pak Sitor… Satu hal yang sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya! Di sisi lain aku pun sadar kalau semuanya sudah telanjur. Aku tak mungkin kembali lagi. Sudahlah, biarlah semuanya mengalir begitu saja… Nafsuku yang sudah dikendalikan Pak Sitor lalu kembali menguasai diriku.

Dalam keadaan belum seratus persen sadar, aku segera tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus bersiap-siap karena Pak Sitor akan menyetubuhiku lagi… Ya, kami sedang menjalani malam pertama kami… Pak Sitor pasti ingin kulayani lagi. Aku harus memastikan dia mendapatkan haknya atas diriku. Benar saja, tak lama Pak Sitor segera mengambil posisi di atas tubuhku. Genjotan kenikmatannya pun kembali dilancarkan terhadap diriku…

Saat itu tidak ada lagi batas di antara kami. Dalam hati, aku sebetulnya merasa telah berdosa kepada suamiku. Bagaimanapun, pikiran dan akal sehatku ternyata tetap tidak bisa menahan tubuh dan nafsuku yang telah dikuasai dan dikendalikan sepenuhnya oleh Pak Sitor.

Hingga tengah malam Pak Sitor kembali menggauliku sepuasnya. Aku pun tidak merasa sungkan lagi. Saat itu kami berdua telah mencapai titik paling intim dalam hubungan kami. Kami berdua sudah tidak merasa asing lagi satu sama lain. Aku mulai berpartisipasi secara aktif untuk saling memuaskan nafsu badani kami.

Dalam waktu singkat, aku pun sudah tidak merasa jijik lagi jika melakukan oral sex untuk Pak Sitor, seolah itu adalah salah satu menu biasa yang harus kutunaikan untuknya. Bahkan ketika ia mengutarakan niatnya untuk orgasme di dalam mulutku, aku serta merta menyanggupinya dengan sukarela. Malam itu untuk pertama kalinya aku mencicipi rasa air mani seorang lelaki dan menyantapnya dengan lahap…!

***

Sejak kejadian malam itu, hidupku berubah. Bagi seorang wanita seperti aku, sangat sulit rasanya untuk melepaskan diri dari situasi ini. Yang jelas, penyesalan sudah tak ada gunanya. Dari luar, orang-orang memandangku sebagai seorang istri yang berwibawa dan menjaga kehormatan. Akan tetapi semua itu jadi tak ada artinya di hadapan Pak Sitor. Ia telah berhasil menemukan celah yang tepat untuk menguasaiku. Ia telah berhasil menggauliku. Menjadikan diriku pemuas nafsu badaninya. Kehormatan dan perkawinan yang aku junjung pun luntur sudah. Apa lagi yang bisa kuperbuat…

Pak Sitor kini telah merasa jadi pemenang dengan kemampuannya menaklukkanku hingga aku tidak berdaya. Aku semakin tidak berdaya jika ia telah berada di dalam kamarku, untuk bersebadan dengannya. Kapan pun ia datang menagih jatahnya, pasti aku penuhi. Hanya jika aku sedang haid, aku bisa menolaknya.

Di hadapannya, posisiku tak lebih sebagai gundiknya. Hebatnya, ia bisa membuatku menikmati peranku sebagai pemuas nafsunya. Di sisi lain, aku pun sangat berterima kasih padanya karena semua itu tetap hanya jadi rahasia kami berdua. Di luar tembok rumahku dan rumahnya, kami kembali menjalani peran masing-masing di masyarakat.

Aku benar-benar terlena dan terbuai oleh gelombang gairah yang dipancarkan Pak Sitor. Aku heran karena Pak Sitor yang seusia dengan ayahku ini masih mampu mengalahkanku di ranjang dan membuatku orgasme berkali-kali. Tidak seperti suamiku yang hanya bisa membuatku orgasme sekali saja.

Kuakui aku jadi mendapat pengalaman baru yang memupuskan pendapatku selama ini bahwa laki-laki paro baya akan hilang keperkasaannya.

Suatu saat, sehabis kami berhubungan badan, aku bertanya padanya bagaimana ia bisa sekuat itu di usianya yang sudah tak muda lagi.

Pak Sitor bercerita bahwa ia sangat suka mengkonsumsi makanan khas Batak, nanigota, yang berupa sup daging dan darah anjing. Makanan itu diyakininya dapat menjaga dan menambah vitalitas pria.

Aku bergidik jijik dan mau muntah mendengarnya. Aku jadi ingat, pantas saja saat bersebadan dengannya bau keringatnya lain. Juga saat aku mengulum kemaluannya terasa panas dan amis. Rupanya selama ini Pak Sitor sering memakan makanan yang di agamaku diharamkan.

Pernah suatu kali aku kurang enak badan padahal Pak Sitor ngotot ingin mengajakku untuk bersetubuh. Aku pun dibelikannya makanan berupa sate. Saat aku santap, rasanya sedikit aneh. Setelah makan beberapa tusuk, aku merasakan tubuhku panas dan badanku seakan fit kembali. Setelah sate itu aku habiskan, kami pun melakukan persetubuhan dengan amat panas dan bergairah hingga aku mengalami orgasme sampai tiga kali. Tubuhku seakan segar bugar kembali dan enak sekali.

Setelah persetubuhan, Pak Sitor bilang bahwa yang aku makan tadi adalah sate daging anjing. Aku marah dan ingin memuntahkannya karena jijik dan kotor. Hanya karena pandainya ia memberiku pengertian, ditambah sedikit rayuan, aku jadi bisa menerimanya. Tetap saja kemudian aku memintanya untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Aku tak ingin memakannya lagi walaupun terus terang, aku pun mau tak mau harus mengakui khasiatnya… Ia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi tanpa seizinku.

***

Selama aku bertugas di pulau itu hampir satu tahun, kami telah sering melakukan hubungan seks dengan sangat rapi. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Untungnya pula, akibat perbuatan kami ini aku tidak sampai hamil. Aku memang disiplin ber-KB supaya Pak Sitor bebas menumpahkan spermanya di rahimku.

Kapanpun dan di manapun, kami sering melakukannya. Kadang di rumahku, kadang di rumah Pak Sitor. Kadang kalau kupikir, alangkah bodohnya aku mau saja digauli di atas dipan kayu yang cuma beralaskan tikar usang. Kenyataannya, semua itu tak kupedulikan lagi. Yang penting bagiku hasratku terpenuhi dan Pak Sitor pun bisa memberinya.

Pernah suatu hari setelah kami bersebadan di rumahnya, Pak Sitor melamarku! Ia minta kepadaku untuk mau menikah dan hidup dengannya di pulau itu. Lamaran Pak Sitor ini tentu mengejutkanku. Rupanya Pak Sitor mulai mencintaiku sejak ia dengan bebas dapat menggauliku.

Memang selama hampir setahun terakhir ini kami berdua sudah menjalani hidup nyaris seperti sepasang suami istri namun tetap saja rasanya itu tidak mungkin sebab aku masih terikat perkawinan dengan suamiku dan aku pun tidak ingin menghancurkannya.

Lagi pula Pak Sitor seusia dengan ayahku. Apa jadinya jika ayahku tahu.

Di samping itu, keyakinan kami pun berbeda karena Pak Sitor seorang Protestan. Bagiku ini juga satu masalah. Memang, sejak berhubungan intim dengannya, aku tak lagi menjalankan agamaku dengan taat. Aku tak pernah sembahyang jika bersama Pak Sitor. Kebiasaan Pak Sitor menyantap daging anjing dan babi, juga menenggak tuak, sedikit demi sedikit mulai kuikuti.

Sekarang aku telah mahir pula memasakkan nanigota ataupun masakan lainnya yang sejenis untuk Pak Sitor. Ia sering memuji kalau masakanku jauh lebih enak daripada masakan di lapo di daerah kami. Beberapa kali ia bahkan mengundang kawan-kawannya dari luar pulau untuk dijamu dengan masakan khas Batak buatanku. Satu hal yang membuatku merasa bangga tentunya.

Kadang aku ikut pula menikmati makanan seperti itu. Sekedar menemaninya dan sebagai wujud toleransiku padanya. Lagipula, khasiat itu semua terhadap gairah seks kami telah terbukti… Entah sugesti atau bukan, yang jelas setiap kali aku ikut mencicipi masakan itu, akan langsung diikuti oleh persetubuhan yang hebat antara aku dan Pak Sitor semalam suntuk… Pak Sitor pun mengetahui hal itu. Karena itulah Pak Sitor selalu berusaha mati-matian membujukku untuk bersamanya menikmati hidangan itu setiap kali kami akan berhubungan badan.

Apapun, perbedaan agama itu tetap saja terasa menjadi ganjalan. Apalagi Pak Sitor bersikukuh untuk tidak meninggalkan keyakinannya. Ia mempersilakanku untuk tetap pada keyakinanku saat ini atau mengikuti keyakinannya jika aku mau hidup bersamanya. Buatnya itu tak jadi masalah.

Suatu saat, sepulangnya aku dari kerja, Pak Sitor ”menembakku”. Saat itu aku baru saja diantarnya pulang ke rumah dan aku sedang berganti pakaian di hadapannya. Di situ ia menyatakan cintanya padaku dan menanyakan apakah aku mencintainya juga. Tentu saja aku agak gelagapan memberinya jawaban. Aku berusaha menjawabnya sebijaksana mungkin.

Masih dalam keadaan setengah bugil, aku menghentikan aktifitasku. Kuraih tangannya dan kuajaknya duduk berdampingan di sisi tempat tidurku.

“Pak Sitor, aku pun mencintai Bapak dan yang jelas aku pun sangat menyukai nafkah batin yang Pak Sitor berikan padaku selama di sini,” kataku pelan-pelan sambil menatap matanya dalam-dalam untuk menyatakan ketulusan ucapanku.

“Tapi kuharap Pak Sitor juga paham kalau di lain pihak aku masih terikat pernikahan dengan Bang Ikhsan yang kunikahi atas dasar cinta pula…” lanjutku.

Suasana jadi hening sejenak. Kurasakan genggaman tangannya agak menguat meremas-remas tanganku yang halus.

“Yaah… seandainya saja, kita bertemu waktu Bu Reni masih gadis,” keluh Pak Sitor. “Mungkin…”

“Mungkin apa, Pak?”

“Mungkin sekarang kita sudah menikah… bukan sekedar kawin…” katanya sambil mengelus pundakku yang telanjang.

Mukaku jadi memerah karena tersipu.

“Pak Sitor….” kataku pelan sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.

“Bu Reni,” kata Pak Sitor lagi sambil menegakkan kepalaku perlahan menatap kedua matanya.

“Ya, Pak..?”

“Bu Reni lebih mencintai yang mana…. Aku atau suami Ibu…?”

Mukaku yang putih bersih pun kembali memerah karena tersipu. Kali ini kurasa benar-benar seperti udang rebus.

“Aaaa…aah, Pak Sitoor…. Pertanyaannya kok susah-susah sih…?” jawabku manja sambil mencubit tangannya.

Pak Sitor jadi gemas melihat reaksiku yang mesra dan manja. Apalagi aku sudah dalam keadaan nyaris bugil. Kurasa nafsunya sudah naik sampai ke ubun-ubun. Ia pun segera membantuku melolosi sisa pakaian yang tersisa ditubuhku sebelum ia mencopoti pakaiannya sendiri.

Asyiik… aku akan disetubuhi lagi, pikirku girang. Tentu saja aku senang. Aku tak pernah tidak senang dalam melayani Pak Sitor. Di samping itu, kini dengan melayaninya di ranjang, aku jadi tak perlu menjawab pertanyaan terakhirnya yang susah tadi.

Pak Sitor pernah menanyakan padaku kenapa aku tidak hamil padahal setiap ia menyebadaniku spermanya selalu ia tumpahkan di dalam. Diutarakannya keinginannya yang kuat untuk mendapatkan anak dari rahimku. Aku jadi terharu karena itu membuktikan betapa besarnya cintanya padaku. Sebagai seorang istri yang sah dari suamiku, tentu saja aku jadi mengalami dilema.

Aku tidak memberitahunya jika aku ber-KB karena tidak ingin mengecewakannya. Jelas ia sebenarnya menginginkan aku hamil agar memuluskan langkahnya untuk memilikiku. Bahkan ia berusaha meyakinkanku untuk melihat siapa yang akan lebih dulu berhasil menghamiliku, dirinya atau suamiku. Seandainya ia yang berhasil pertama kali, Pak Sitor berkeras untuk menikahiku. Minimal secara adat. Tak peduli apakah aku harus bercerai dulu dengan Bang Ikhsan atau tidak. Satu permintaan yang wajar sebetulnya. Untuk menyenangkan dirinya, aku pun menyanggupinya.

Bukan main girangnya Pak Sitor mendengar kesanggupanku itu. Sejak itu, ia pun berusaha sekuat tenaga untuk membuatku hamil. Dengan rajinnya aku sering dibawakannya ramuan khas Batak untuk meningkatkan kesuburan. Entah terbuat dari apa saja, aku tak tahu. Untuk menyenangkan dirinya, dengan patuh semuanya selalu kuminum. Bagaimanapun, aku tetap lebih percaya dengan khasiat pil KB yang kuminum diam-diam secara teratur.

Ia bahkan sampai hafal kapan saat-saat suburku. Jika saat itu datang, ia telah memesan padaku bahwa itu adalah jatahnya. Sampai saat ini aku masih bisa mengabulkannya, dengan catatan jika nanti Bang Ikhsan telah pulang dan ia menagih jatahnya padaku tepat pada masa suburku, aku harus mendahulukannya. Pak Sitor cukup fair untuk menerima perjanjian itu.

Akan tetapi bukan Pak Sitor namanya kalau tidak lihai dan cerdik.

“Suami Ibu kan biasanya minta jatah malam hari,” katanya.

“Nah, berarti kalau siangnya jatahku, kan…?” tanyanya tersenyum nakal. Aku pun tak bisa berkutik menanggapi permintaannya.

Itulah sebabnya, saat tiba masa suburku, aku membiasakan diri minta izin untuk tak masuk kantor dengan berbagai alasan. Tujuan sebenarnya tentu saja untuk memenuhi keinginan Pak Sitor yang ingin menyetubuhiku seharian.

Bagaimanapun, aku tetap harus menyiasati agar ia tidak bermimpi untuk menikahiku. Kurasa hubungan ini hanya sebagai pelarianku dari kesepian selama jauh dari suamiku. Aku tak ingin sampai terjerumus lebih jauh lagi, walaupun selama ini apapun yang diminta Pak Sitor dari diriku sebisa mungkin selalu aku sanggupi.

Kuakui, sedikit banyak hubungan emosional antara diriku dengan Pak Sitor tetap ada. Ada keinginan yang tulus dari diriku untuk menyenangkannya dan melihatnya bahagia. Tentu saja selama aku tidak sampai mengorbankan jatah suamiku. Toh, aku pun secara tak langsung mendapat manfaatnya jika aku bisa menyenangkan dan memuaskan Pak Sitor. Aku jadi memiliki pelindung setia selama tinggal di pulau yang terpencil dan keras ini. Jadi keamananku terjamin, sesuai dengan yang diamanatkan suamiku kepada Pak Sitor. Tapi tentu saja tak boleh lebih jauh dari itu.

Jadi aku menjelaskannya pada Pak Sitor dengan lembut dan baik-baik suatu saat seusai kami berhubungan badan.

Aku bilang jika kelak aku pindah kerja, ia harus rela hubungan ini putus. Selama aku dinas di pulau ini dan suamiku tidak ada, ia kuberi kebebasan untuk memilikiku dan menggauliku. Syaratnya, asal jangan berbuat macam-macam di depan teman-teman kantorku yang kebetulan hampir semuanya penduduk asli pulau ini.

Akhirnya ia mau mengerti dan menerima alasanku. Ia berjanji akan menutup rapat rahasia kami jika aku pindah. Ia pun menerima segala persyaratanku karena rasa cintanya padaku.

Demikianlah, selama aku tugas di pulau ini, Pak Sitor terus memberiku kenikmatan ragawi tanpa ada batas sama sekali di antara kami. Walaupun demikian, aku tetap berusaha memegang prinsip bahwa cintaku hanya untuk suamiku. Kalau diibaratkan perjalanan, Pak Sitor adalah satu stasiun persinggahan yang harus aku singgahi.

Dalam hatiku, aku berjanji untuk menutup rapat rahasia ini karena tetap masih ada setitik penyesalan dalam diriku. Kadang aku mengganggap diriku kotor karena telah merusak kesucian pernikahan kami… Tapi sudahlah, mungkin ini memang tahapan kehidupan yang harus aku lewati…

TAMAT