Category Archives: wanita dan hewan

Seorang wanita berhubungan seks dengan seekor hewan

Bestiality Dalam Kehidupan Kita

Copyright 1998, by Golda M. Santi

1. Pengantar

Salah satu variasi hubungan seks yang unik dan sudah sangat tua umurnya adalah bestiality atau zoosex. Secara umum, bestiality berarti persetubuhan atau hubungan seks yang dilakukan oleh manusia dengan hewan. Dalam kenyataannya, orang-orang yang melakukan praktek ini kadang bukan sekedar melakukan persetubuhan, melainkan juga membina hubungan cinta dengan hewan. Pada kasus seperti ini, istilah yang biasanya digunakan adalah zoophilia.

Kasus-kasus yang tercatat biasanya adalah hubungan seksual yang terjadi antara wanita dan anjing, kuda maupun keledai. Kebanyakan kasus semacam ini terjadi di daerah peternakan dan di daerah-daerah yang terpencil.

Walaupun sudah dilakukan orang sejak zaman prasejarah, tetap saja hubungan seks antara wanita dan hewan dianggap bukan sebagai suatu hal yang dipraktekkan secara meluas. Karenanya dibandingkan dengan variasi-variasi hubungan seks lainnya, bestiality relatif lebih jarang terjadi. Alfred Kinsey dan kawan-kawan pada awal tahun 1950-an melaporkan sekitar 3,5 persen wanita pernah melakukan kontak seksual dengan hewan. Sedangkan Masters dan Johnson melaporkan bahwa jumlah wanita yang pernah bersetubuh dengan hewan (terutama anjing) jumlahnya tak sampai 2 persen. Akan tetapi para ahli yang lain memperkirakan angka yang sebenarnya sangat mungkin lebih tinggi daripada angka-angka hasil survei tersebut – bayangkanlah jika Anda adalah seorang bestialist yang dikenal oleh masyarakat sebagai orang “normal” seperti seorang wanita karir yang sukses misalnya, lalu datang seorang asing yang bertanya “Apakah Anda pernah bersetubuh dengan hewan?” Apakah Anda akan mengatakan yang sebenarnya?

2. Seks komersial

Kekecualian ada pada kasus-kasus yang sifatnya eksibisionis, yang dilakukan oleh kalangan prostitusi profesional untuk menghibur para pelanggannya. Mereka biasa melakukannya secara live di atas panggung maupun dengan cara direkam pada video dan diperjualbelikan. Untuk kasus yang terakhir ini, jenis hewan yang digunakan jelas lebih bervariasi mulai dari anjing, kuda, keledai, zebra, sapi, kambing, tapir, babi, beruang, bermacam-macam monyet sampai ke ular, belut, oktopus, bahkan siput dan ikan! Tentu saja praktek ini pun dilakukan di lingkungan yang terbatas karena bestiality merupakan perbuatan yang terlarang dan melanggar hukum di banyak negara di dunia. Segelintir negara yang membolehkannya di antaranya adalah Belanda, negara-negara Skandinavia, Brasil dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat.

Sedangkan di negara-negara yang melarangnya, bestiality yang sifatnya eksibisionis biasanya muncul dalam bentuk yang sangat ringan seperti tarian ular. Sebagaimana pernah diungkap di majalah Kartini edisi Oktober 1991, para penari ular selalu memperagakan tarian di atas panggung yang memperlihatkan seolah-olah mereka sedang bercinta dengan hewan-hewan melata itu. Entah karena malu untuk mengakuinya atau karena alasan lain, umumnya mereka mengatakan tak merasakan rangsangan apa-apa ketika melakukan tarian itu. Konon mereka melakukannya semata-mata demi uang dan seni sehingga tak memperdulikan rangsangan seksual yang mungkin saja timbul dari pertunjukan mereka. Namun ada pula yang berani berterus terang bahwa ia bisa terhanyut dalam tariannya dan merasa terangsang secara seksual oleh belaian hewan-hewan itu!

3. Bestiality di sekitar kita

Bestiality mungkin memang jarang dipraktekkan secara murni oleh para wanita. Contohnya adalah para profesional di atas yang melakukannya untuk kepentingan komersial semata. Bagaimanapun, khayalan-khayalan tentang wanita yang digoda secara seksual oleh hewan sebenarnya merupakan suatu hal yang akrab bagi setiap orang.

Indikasi yang baik tentang bagaimana seks bestial telah mengobsesi khayalan manusia sepanjang zaman adalah frekuensi munculnya bentuk hubungan ini dalam literatur dan mitologi populer. Dongeng-dongeng dan mitos-mitos kuno penuh dengan karakter-karakter makhluk setengah manusia dan setengah hewan seperti centaur (manusia kuda), sphinx (manusia singa) maupun dewa-dewa Yunani kuno yang perawakannya berupa manusia hewan, dan kisah cinta antara wanita dan hewan di mana sang hewan biasanya adalah dewa atau pangeran yang berubah wujud untuk sementara.

Di zaman sekarang khayalan-khayalan seperti itu terus berlangsung dalam dunia hiburan populer. Dalam kisah-kisah petualangan di hutan, seperti Tarzan dan sebagainya, gambaran sang tokoh wanita dibawa kabur oleh kera-kera raksasa – secara implisit tentunya untuk memuaskan nafsu seks hewani mereka – sudah begitu populer dengan para penonton segala usia. Siapa pula yang belum pernah mendengar kisah tentang “King Kong” yang jatuh cinta kepada seorang wanita kulit putih cantik yang berambut pirang?

Bahkan menurut majalah “Fangoria” di Amerika Serikat pada masa pasca perang dunia II, yaitu antara tahun 40-an sampai dengan 50-an, banyak beredar buku-buku cerita horror maupun fiksi ilmiah yang sampul depannya kebanyakan menggambarkan seorang wanita cantik sedang diculik oleh monster atau hewan-hewan yang mengerikan. Bahkan kisah-kisah tentang “Frog Prince” (Pangeran Katak), “Beauty and the Beast”, maupun “Leda and The Swan” yang terkenal sampai ke seluruh dunia pun tak luput dari unsur bestiality.

Menurut banyak penulis, termasuk Freud, bilamana bestiality telah begitu merasuk dalam khayalan manusia, pastilah ada kejadian-kejadian sebenarnya yang dipraktekkan secara merata, karena impian manusia adalah cerminan dari hasrat-hasrat mereka di kehidupan nyata.

Mengapa khayalan-khayalan seperti itu bisa beredar luas di dalam masyarakat? Para psikolog berpendapat bahwa secara tak sadar baik pria maupun wanita kadang merasa iri dengan kebebasan terhadap nilai-nilai yang dimiliki oleh seekor hewan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan erotisnya. Sang hewan dianggap merepresentasikan kebebasan seksual dari batasan-batasan yang dibuat oleh peradaban dan kemanusiaan.

4. Hewan yang memperkosa

Dari uraian di atas terlihat bahwa kasus-kasus bestiality, baik yang eksibisionis maupun bukan, dilakukan atas inisiatif dari pihak manusia.

Di samping itu, ada pula beberapa kasus menarik yang jarang terjadi. Dalam kasus semacam ini, seekor hewan berhasil membuat seorang wanita “normal” untuk bersetubuh dengannya. Jadi pihak hewanlah yang mengambil inisiatif. Sedangkan pihak manusianya terpaksa menuruti, biasanya karena berada di bawah tekanan fisik. Seekor anjing Great Dane yang ukuran tubuhnya sebesar lelaki dewasa tercatat pernah memperkosa majikan wanitanya sendiri.

Sementara itu Kelly Martin yang berasal dari Seattle, Amerika Serikat mengaku pernah pula disetubuhi oleh seekor makhluk menyerupai kera raksasa (dikenal oleh masyarakat setempat sebagai yeti) yang ukurannya lebih besar daripada manusia. Saat itu, di bulan Juli 1987, wanita yang berprofesi sebagai sekretaris ini sedang berkemah sendirian di hutan lindung Mount Rainier. Bahkan hubungan singkat mereka yang berlangsung berkali-kali selama satu minggu sampai membuahkan seorang anak.

Anak yang dilahirkan pada tanggal 28 April 1988 itu perawakannya seperti manusia pada umumnya namun berbulu lebat pada wajahnya. Kekuatan fisiknya pun melebihi manusia biasa. Para ahli yang memeriksa anak itu mengakui bahwa mereka menemukan ciri genetik dari makhluk bukan manusia pada anak tersebut. Suatu hal yang menarik tentunya, karena sebenarnya perkawinan silang antara manusia dan hewan sangat kecil kemungkinannya untuk menghasilkan keturunan.

Sedangkan kasus yang terjadi belum lama ini, seperti dilaporkan oleh majalah Outside terbitan Mei 1998, bertempat di Kamp Leakey di pedalaman Kalimantan. Seekor orangutan jantan bernama Gundul, yang pernah diasuh oleh Galdika (seorang primatologist wanita yang terkenal) di kamp itu, menyerang seorang wanita Dayak yang bekerja di sana sebagai seorang jurumasak.

Galdika dengan sia-sia berusaha sekuat tenaga untuk menarik pergi orangutan itu sampai akhirnya ia menyadari bahwa hewan itu tak bermaksud menyakiti si jurumasak. Sebaliknya tampak jelas kalau orangutan ini memiliki suatu niat yang lain dalam pikirannya. Akhirnya si jurumasak berhenti melawan dan meyakinkan Galdika bahwa ia tak apa-apa. Ia hanya berbaring di dalam dekapan Galdika dengan si Gundul di atasnya. Dengan tenang si Gundul kemudian menyetubuhi wanita itu!

5. Internet sebagai media

Pelaku bestiality di seluruh dunia mungkin memang sedikit sekali jumlahnya, namun mereka ternyata cukup vokal mengkampanyekan gaya hidup mereka. Memanfaatkan kemajuan teknologi internet, dengan mudah mereka menyebarluaskan materi-materi tentang bestiality ke seluruh dunia. Dapat ditemukan banyak situs mereka yang memberikan berbagai informasi berupa artikel, cerita maupun gambar dengan cuma-cuma. Mereka juga memiliki forum di antara mereka sendiri untuk saling bertukar e-mail maupun “ngobrol” secara on-line (chatting). Bahkan tanpa sungkan-sungkan mereka pun menulis berbagai panduan detail bagi para wanita untuk melakukan hubungan seks dengan anjing dan kuda! (Termasuk situs ini :-) KHISmistress)

SEKIAN