Category Archives: wanita dan hewan

Seorang wanita berhubungan seks dengan seekor hewan

Bestiality Dalam Kehidupan Kita

Copyright 1998, by Golda M. Santi

1. Pengantar

Salah satu variasi hubungan seks yang unik dan sudah sangat tua umurnya adalah bestiality atau zoosex. Secara umum, bestiality berarti persetubuhan atau hubungan seks yang dilakukan oleh manusia dengan hewan. Dalam kenyataannya, orang-orang yang melakukan praktek ini kadang bukan sekedar melakukan persetubuhan, melainkan juga membina hubungan cinta dengan hewan. Pada kasus seperti ini, istilah yang biasanya digunakan adalah zoophilia.

Kasus-kasus yang tercatat biasanya adalah hubungan seksual yang terjadi antara wanita dan anjing, kuda maupun keledai. Kebanyakan kasus semacam ini terjadi di daerah peternakan dan di daerah-daerah yang terpencil.

Walaupun sudah dilakukan orang sejak zaman prasejarah, tetap saja hubungan seks antara wanita dan hewan dianggap bukan sebagai suatu hal yang dipraktekkan secara meluas. Karenanya dibandingkan dengan variasi-variasi hubungan seks lainnya, bestiality relatif lebih jarang terjadi. Alfred Kinsey dan kawan-kawan pada awal tahun 1950-an melaporkan sekitar 3,5 persen wanita pernah melakukan kontak seksual dengan hewan. Sedangkan Masters dan Johnson melaporkan bahwa jumlah wanita yang pernah bersetubuh dengan hewan (terutama anjing) jumlahnya tak sampai 2 persen. Akan tetapi para ahli yang lain memperkirakan angka yang sebenarnya sangat mungkin lebih tinggi daripada angka-angka hasil survei tersebut – bayangkanlah jika Anda adalah seorang bestialist yang dikenal oleh masyarakat sebagai orang “normal” seperti seorang wanita karir yang sukses misalnya, lalu datang seorang asing yang bertanya “Apakah Anda pernah bersetubuh dengan hewan?” Apakah Anda akan mengatakan yang sebenarnya?

2. Seks komersial

Kekecualian ada pada kasus-kasus yang sifatnya eksibisionis, yang dilakukan oleh kalangan prostitusi profesional untuk menghibur para pelanggannya. Mereka biasa melakukannya secara live di atas panggung maupun dengan cara direkam pada video dan diperjualbelikan. Untuk kasus yang terakhir ini, jenis hewan yang digunakan jelas lebih bervariasi mulai dari anjing, kuda, keledai, zebra, sapi, kambing, tapir, babi, beruang, bermacam-macam monyet sampai ke ular, belut, oktopus, bahkan siput dan ikan! Tentu saja praktek ini pun dilakukan di lingkungan yang terbatas karena bestiality merupakan perbuatan yang terlarang dan melanggar hukum di banyak negara di dunia. Segelintir negara yang membolehkannya di antaranya adalah Belanda, negara-negara Skandinavia, Brasil dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat.

Sedangkan di negara-negara yang melarangnya, bestiality yang sifatnya eksibisionis biasanya muncul dalam bentuk yang sangat ringan seperti tarian ular. Sebagaimana pernah diungkap di majalah Kartini edisi Oktober 1991, para penari ular selalu memperagakan tarian di atas panggung yang memperlihatkan seolah-olah mereka sedang bercinta dengan hewan-hewan melata itu. Entah karena malu untuk mengakuinya atau karena alasan lain, umumnya mereka mengatakan tak merasakan rangsangan apa-apa ketika melakukan tarian itu. Konon mereka melakukannya semata-mata demi uang dan seni sehingga tak memperdulikan rangsangan seksual yang mungkin saja timbul dari pertunjukan mereka. Namun ada pula yang berani berterus terang bahwa ia bisa terhanyut dalam tariannya dan merasa terangsang secara seksual oleh belaian hewan-hewan itu!

3. Bestiality di sekitar kita

Bestiality mungkin memang jarang dipraktekkan secara murni oleh para wanita. Contohnya adalah para profesional di atas yang melakukannya untuk kepentingan komersial semata. Bagaimanapun, khayalan-khayalan tentang wanita yang digoda secara seksual oleh hewan sebenarnya merupakan suatu hal yang akrab bagi setiap orang.

Indikasi yang baik tentang bagaimana seks bestial telah mengobsesi khayalan manusia sepanjang zaman adalah frekuensi munculnya bentuk hubungan ini dalam literatur dan mitologi populer. Dongeng-dongeng dan mitos-mitos kuno penuh dengan karakter-karakter makhluk setengah manusia dan setengah hewan seperti centaur (manusia kuda), sphinx (manusia singa) maupun dewa-dewa Yunani kuno yang perawakannya berupa manusia hewan, dan kisah cinta antara wanita dan hewan di mana sang hewan biasanya adalah dewa atau pangeran yang berubah wujud untuk sementara.

Di zaman sekarang khayalan-khayalan seperti itu terus berlangsung dalam dunia hiburan populer. Dalam kisah-kisah petualangan di hutan, seperti Tarzan dan sebagainya, gambaran sang tokoh wanita dibawa kabur oleh kera-kera raksasa – secara implisit tentunya untuk memuaskan nafsu seks hewani mereka – sudah begitu populer dengan para penonton segala usia. Siapa pula yang belum pernah mendengar kisah tentang “King Kong” yang jatuh cinta kepada seorang wanita kulit putih cantik yang berambut pirang?

Bahkan menurut majalah “Fangoria” di Amerika Serikat pada masa pasca perang dunia II, yaitu antara tahun 40-an sampai dengan 50-an, banyak beredar buku-buku cerita horror maupun fiksi ilmiah yang sampul depannya kebanyakan menggambarkan seorang wanita cantik sedang diculik oleh monster atau hewan-hewan yang mengerikan. Bahkan kisah-kisah tentang “Frog Prince” (Pangeran Katak), “Beauty and the Beast”, maupun “Leda and The Swan” yang terkenal sampai ke seluruh dunia pun tak luput dari unsur bestiality.

Menurut banyak penulis, termasuk Freud, bilamana bestiality telah begitu merasuk dalam khayalan manusia, pastilah ada kejadian-kejadian sebenarnya yang dipraktekkan secara merata, karena impian manusia adalah cerminan dari hasrat-hasrat mereka di kehidupan nyata.

Mengapa khayalan-khayalan seperti itu bisa beredar luas di dalam masyarakat? Para psikolog berpendapat bahwa secara tak sadar baik pria maupun wanita kadang merasa iri dengan kebebasan terhadap nilai-nilai yang dimiliki oleh seekor hewan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan erotisnya. Sang hewan dianggap merepresentasikan kebebasan seksual dari batasan-batasan yang dibuat oleh peradaban dan kemanusiaan.

4. Hewan yang memperkosa

Dari uraian di atas terlihat bahwa kasus-kasus bestiality, baik yang eksibisionis maupun bukan, dilakukan atas inisiatif dari pihak manusia.

Di samping itu, ada pula beberapa kasus menarik yang jarang terjadi. Dalam kasus semacam ini, seekor hewan berhasil membuat seorang wanita “normal” untuk bersetubuh dengannya. Jadi pihak hewanlah yang mengambil inisiatif. Sedangkan pihak manusianya terpaksa menuruti, biasanya karena berada di bawah tekanan fisik. Seekor anjing Great Dane yang ukuran tubuhnya sebesar lelaki dewasa tercatat pernah memperkosa majikan wanitanya sendiri.

Sementara itu Kelly Martin yang berasal dari Seattle, Amerika Serikat mengaku pernah pula disetubuhi oleh seekor makhluk menyerupai kera raksasa (dikenal oleh masyarakat setempat sebagai yeti) yang ukurannya lebih besar daripada manusia. Saat itu, di bulan Juli 1987, wanita yang berprofesi sebagai sekretaris ini sedang berkemah sendirian di hutan lindung Mount Rainier. Bahkan hubungan singkat mereka yang berlangsung berkali-kali selama satu minggu sampai membuahkan seorang anak.

Anak yang dilahirkan pada tanggal 28 April 1988 itu perawakannya seperti manusia pada umumnya namun berbulu lebat pada wajahnya. Kekuatan fisiknya pun melebihi manusia biasa. Para ahli yang memeriksa anak itu mengakui bahwa mereka menemukan ciri genetik dari makhluk bukan manusia pada anak tersebut. Suatu hal yang menarik tentunya, karena sebenarnya perkawinan silang antara manusia dan hewan sangat kecil kemungkinannya untuk menghasilkan keturunan.

Sedangkan kasus yang terjadi belum lama ini, seperti dilaporkan oleh majalah Outside terbitan Mei 1998, bertempat di Kamp Leakey di pedalaman Kalimantan. Seekor orangutan jantan bernama Gundul, yang pernah diasuh oleh Galdika (seorang primatologist wanita yang terkenal) di kamp itu, menyerang seorang wanita Dayak yang bekerja di sana sebagai seorang jurumasak.

Galdika dengan sia-sia berusaha sekuat tenaga untuk menarik pergi orangutan itu sampai akhirnya ia menyadari bahwa hewan itu tak bermaksud menyakiti si jurumasak. Sebaliknya tampak jelas kalau orangutan ini memiliki suatu niat yang lain dalam pikirannya. Akhirnya si jurumasak berhenti melawan dan meyakinkan Galdika bahwa ia tak apa-apa. Ia hanya berbaring di dalam dekapan Galdika dengan si Gundul di atasnya. Dengan tenang si Gundul kemudian menyetubuhi wanita itu!

5. Internet sebagai media

Pelaku bestiality di seluruh dunia mungkin memang sedikit sekali jumlahnya, namun mereka ternyata cukup vokal mengkampanyekan gaya hidup mereka. Memanfaatkan kemajuan teknologi internet, dengan mudah mereka menyebarluaskan materi-materi tentang bestiality ke seluruh dunia. Dapat ditemukan banyak situs mereka yang memberikan berbagai informasi berupa artikel, cerita maupun gambar dengan cuma-cuma. Mereka juga memiliki forum di antara mereka sendiri untuk saling bertukar e-mail maupun “ngobrol” secara on-line (chatting). Bahkan tanpa sungkan-sungkan mereka pun menulis berbagai panduan detail bagi para wanita untuk melakukan hubungan seks dengan anjing dan kuda! (Termasuk situs ini :-) KHISmistress)

SEKIAN

Petunjuk Untuk Berhubungan Seks Dengan Anjing Jantan (Khusus Untuk Wanita)

Copyright 1999, by KHIS Mistress

Hal-hal yang sering ditanyakan (FAQ)

Ada beberapa jenis hubungan seks yang dapat dilakukan oleh seorang wanita dengan seekor anjing jantan. Jenis-jenis tersebut adalah: seks vaginal, anal dan oral.

1. Seks vaginal dengan anjing

Seks vaginal adalah seks dengan cara penetrasi penis anjing ke dalam vagina wanita. Bagaimana pun, melakukan hubungan seks dengan hewan khususnya anjing tidaklah sepenuhnya sama dengan melakukan hubungan seks dengan manusia. Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan jika Anda dikawini oleh seekor anjing jantan.

Salah satu hal utama yang harus Anda pahami adalah anatomi dari sistem reproduksi seekor anjing jantan. Penis seekor anjing tak seperti penis manusia. Bentuk, tekstur dan sensitivitasnya sangat berbeda. Pada saat terangsang, penis anjing yang terekspos pada umumnya berwarna merah menyala dengan pembuluh-pembuluh darah yang tampak jelas.

Saat tak tegang, penis seekor anjing mungkin akan tampak kecil (lebih kecil daripada penis seorang manusia) dan tersembunyi di dalam sarungnya. Akan tetapi, setelah terangsang, penis itu akan keluar dari sarungnya dan bisa membesar beberapa kali lipat bahkan melebihi ukuran penis rata-rata lelaki Indonesia (statistik lengkapnya dapat dilihat pada tabel di bagian akhir artikel ini). Bahkan penis seekor anjing mungkin baru akan mencapai ukuran terbesarnya setelah ia berada di dalam tubuh seorang wanita. Jadi selama ia menyetubuhi seorang wanita, penis itu akan terus membesar di dalamnya.

Untuk lebih mengenalnya, cobalah Anda raba dan perhatikan penis seekor anjing mulai dari ujung depan sampai ke dasarnya di dekat biji zakarnya. Penis seekor anjing berbentuk tumpul dengan sedikit sudut atau tonjolan lancip di ujungnya. Sudut itu ada karena – tidak seperti manusia – anjing, tentu saja, tidak ada yang disunat. Biasanya penis anjing berukuran besar di ujung depannya, yaitu sekitar 2/5 bagian pertamanya, lalu sedikit demi sedikit menajam sampai Anda mencapai bengkakan atau gumpalan pada bagian dasar penis yang terekspos dan tak tersarungi.

Bengkakan atau gumpalan ini adalah kelenjar yang membesar pada dasar penis anjing, yang dipakai untuk melakukan ikatan atau jeratan antara seekor anjing jantan dengan seorang wanita atau seekor anjing betina selama berhubungan seks. Ikatan yang terjadi selama berhubungan seks itu adalah suatu hal yang alami dalam kehidupan seksual anjing maupun beberapa jenis hewan yang lain.

Ada pun maksud terjadinya ikatan ini adalah supaya sperma si anjing jantan yang telah disemprotkan tak banyak terbuang keluar dari dalam vagina sehingga memiliki waktu yang cukup banyak untuk mencapai sel-sel telur si wanita atau pun anjing betina yang dikawininya dan, dengan demikian, menghamilinya.

Pada seekor anjing German Shepherd, ukuran keliling normalnya adalah sekitar 7.5 sampai 9 cm, segenggaman tangan penuh. Gumpalan yang besar ini dapat ikut masuk ke dalam lubang vagina Anda sewaktu Anda berhubungan seks dengan seekor anjing dan akan menjadikan penis anjing itu sulit untuk dilepaskan dari tubuh Anda selama ia masih tegang dan mengeras. Keaadaan seperti itulah yang disebut sebagai terjadinya ikatan atau jeratan.

Jika Anda ingin berhubungan seks dengan seekor anjing jantan, paling tidak ada dua hal yang harus menjadi perhatian utama Anda, yaitu: gumpalan pada dasar penis dan penis os. Jika Anda membiarkan seekor anjing jantan menaiki dan menyetubuhi Anda, ada kemungkinan yang cukup besar Anda akan terikat dengannya – artinya gumpalan itu (juga dikenal dengan knot/simpul) akan masuk ke dalam lubang vagina Anda dan membuat Anda terjerat bersama anjing Anda.

Hal ini perlu Anda perhatikan karena Anda tak akan menjumpai keadaan seperti ini jika berhubungan seks dengan sesama manusia. Jika terjadi ikatan, setelah anjing Anda mengalami orgasme penisnya akan tetap mengeras dan sulit untuk dikeluarkan dari tubuh Anda. Anda harus menunggu selama 15 sampai 30 menit sampai ia dapat menariknya keluar. Sedangkan penis os adalah tulang yang ada di dalam batang penis seekor anjing.

Jika seekor anjing terangsang birahi yang meledak-ledak dan mulai memompa Anda dengan kencang dan penuh nafsu sehingga tak terkendali, Anda dapat tertohok olehnya. Dan jika Anda mengalaminya, percayalah, Anda tak akan bisa duduk dengan nyaman selama berhari-hari.

Setelah memperhatikan beberapa hal di atas, sekarang kita beralih pada bagaimana caranya Anda memulai hubungan seks dengan seekor anjing jantan. Posisi yang paling alamiah bagi seekor anjing adalah Anda berlutut membelakanginya sambil bertumpu dengan kedua tangan Anda, lalu biarkan anjing Anda menaiki atau menunggangi punggung Anda dan melakukan penetrasi ke dalam vagina Anda. Posisi ini dikenal luas sebagai “gaya anjing” (doggie-style) karena memang begitulah cara anjing maupun kebanyakan hewan lainnya menyetubuhi betinanya. Jika Anda ingin menjadi betina untuk seekor anjing dan disetubuhi olehnya, maka Anda pun harus mengikuti aturannya!

Untuk membuat seekor anjing menaiki dan menyetubuhi Anda, raihlah sarung penis anjing Anda dengan lembut dan gosoklah dasarnya, yang terletak dekat biji zakarnya. Anjing Anda seharusnya, pada saat itu, akan mulai memompa. Banyak anjing akan serta merta mencoba menaiki Anda saat itu juga. Ingatlah, jika ini adalah pengalaman pertamanya menyetubuhi seorang wanita, anjing itu akan memerlukan sedikit bimbingan dari Anda.

Bahkan beberapa anjing yang sudah sedemikian terlatih untuk mengawini wanita manusia tetap memerlukan bimbingan. Jika anjing Anda tak berusaha untuk menaiki punggung Anda, cobalah tarik dia ke atas dan tetap gosok penisnya saat ia berdiri di belakang Anda. Jika ia tetap tak mau menaiki punggung Anda, cobalah berbaring telentang, lalu angkat kedua kaki Anda dari atas tempat tidur atau sofa, dan biarkan ia berbaring di atas tubuh Anda, tepatnya di atas perut Anda dan cobalah dengan cara demikian. Begitu Anda telah membuatnya menaiki Anda, usahakanlah untuk membimbing penisnya masuk ke dalam alat kelamin Anda. Ingatlah, jika ia luput, penis os itu bisa menyakiti Anda.

Begitu penis anjing Anda telah berada dalam tubuh Anda, Anda dapat menyerahkan hampir semua sisanya kepada hewan itu. Mulai saat itu, ia akan memegang kendali atas diri Anda. Anda tinggal mengikuti apa saja yang dilakukannya terhadap diri Anda untuk memuaskan birahinya, dan menikmatinya. Jika selama berhubungan seks ia terjerat bersama Anda, adalah keharusan bahwa ia TIDAK menarik penisnya dari dalam tubuh Anda sampai birahinya turun dan penisnya mengecil kembali. Jika tidak, Anda bisa menjadi cerita yang menggemparkan di ruang darurat rumah sakit. Kecuali jika Anda memang menyukai ekhibisionisme (karena tertangkap basah melakukan hubungan seks dengan kekasih hewan Anda) dan sado-masochisme (karena mengalami penderitaan sebagai akibat hubungan seks) …. :-), tapi yang demikian sama sekali tidak kami anjurkan.

Setelah terjadi ikatan, seekor anjing mungkin akan berusaha berbalik sehingga Anda akan beradu pantat dengan pantat bersamanya. Ini adalah perilaku yang naluriah sifatnya. Jika ia mencoba untuk menarik penisnya keluar atau menjadi panik, genggamlah kakinya yang mana saja yang bisa Anda raih dan peganglah dia menempel tubuh Anda sehingga ia tidak keluar dari tubuh Anda. Adalah ide yang baik jika ada seseorang lain yang mendampingi Anda untuk berjaga-jaga saat Anda mengalami pertama kalinya terikat bersama seekor anjing.

Nah, sekarang Anda telah terikat dengan anjing Anda. Santailah, nikmatilah 15 sampai 30 menit kenikmatan dan keintiman bersama. Menurut sebagian besar wanita yang pernah mengalaminya, saat-saat seperti itu termasuk salah satu kelebihan utama jika Anda berhubungan seks dengan seekor anjing. Bayangkanlah, Anda terkunci bersama seekor hewan dalam posisi bersetubuh. Apalagi jika Anda melakukannya dengan doggie-style yang menunjukkan si hewan dalam posisi dominan dan Anda dalam posisi submisif. Lalu, karena ikatan itu, Anda tak mempunyai pilihan lain kecuali harus membiarkan si hewan mengosongkan seluruh spermanya ke dalam rahim Anda untuk berusaha membuahi sel-sel telur Anda yang subur.

Para wanita mengatakan bahwa tak pernah sebelumnya mereka merasa begitu dimiliki dan didominasi seperti itu. Pikiran seperti itu saja yang terlintas selama Anda menjalani ikatan bersama anjing Anda dapat mendatangkan serangkaian orgasme. Karena itu nikmatilah! Anda tak akan mendapatkan pengalaman seperti itu jika hanya berhubungan seks dengan sesama manusia.

Lalu, begitu penisnya mulai mengecil, biarkanlah anjing Anda menariknya keluar dari dalam tubuh Anda. Setelah itu mungkin ia akan menjilati vagina Anda. Biarkanlah ia melakukannya, dan nikmatilah!

Kebanyakan anjing jantan sangat senang jika diberi kesempatan untuk menaiki dan menyetubuhi Anda. Akan tetapi ada sebagian pula yang tak terlalu antusias. Tidak semua anjing akan mengalami ikatan ketika berhubungan seks dengan Anda. Tidak semua anjing juga akan berbalik membelakangi Anda selama ia terikat bersama Anda. Itu semua bergantung kepada tiap anjing.

2. Seks anal dengan anjing

Seks anal adalah seks dengan cara penetrasi penis anjing ke dalam lubang pantat wanita. Petunjuk yang sama seperti nomor satu dapat diterapkan untuk melakukan seks anal. Para wanita yang telah mempraktekkan seks anal dengan anjing jantan banyak memuji partner anjing mereka.

Hanya saja ada beberapa hal yang berbeda dengan seks vaginal yang harus Anda ketahui. Lubang pantat Anda tak mengeluarkan cairan sebagai pelumas alami dan, pada umumnya, lubang pantat Anda lebih kecil daripada lubang vagina Anda. Karena itu, pertama, Anda sebaiknya menyiapkan pelumas yang baik untuk menghindarkan terjadinya kelecetan akibat gesekan. Dan kedua, Anda pun harus mempersiapkan dengan baik kemampuan lubang pantat Anda untuk menerima penis seekor anjing yang cukup besar, terutama jika selama melakukan hubungan seks anal Anda mengalami ikatan bersama anjing Anda, yaitu gumpalan si anjing ikut masuk ke dalam lubang pantat Anda.

Jika ikatan itu terjadi dan Anda telah mempersiapkan diri dengan baik, Anda akan mengalami 15 sampai 30 menit kenikmatan dengan serangkaian orgasme. Jika sebaliknya, Anda akan berada dalam 15 sampai 30 menit penderitaan. Mulailah biasakan diri Anda menggunakan alat bantu apa pun yang dapat masuk ke dalam lubang pantat Anda. Alat bantu paling baik adalah dildo yang berukuran cukup besar. Tunggulah sampai Anda terbiasa dengan benda panjang yang paling sedikit berkeliling 7.5 cm berada di dalam lubang pantat Anda, sebelum Anda melakukannya dengan seekor anjing.

3. Seks oral dengan anjing; menerima

Seks oral (menerima) adalah seks dengan cara si anjing menjilati vagina wanita. Banyak anjing adalah penjilat alami yang akan menjilati apa saja dan akan terus menjilatinya. Namun ada pula anjing yang hampir tak pernah menjilat apa pun sepanjang hidupnya. Sekali lagi, anjing sebagai individu akan berperilaku berbeda dalam situasi yang berbeda-beda. Cara terbaik untuk mengetahui bagaimana anjing Anda akan bereaksi adalah dengan memberinya kesempatan. Jika anjing Anda tak seberapa antusias untuk menjilat, cobalah gunakan selai kacang atau mentega atau apa saja yang kira-kiranya disenangi oleh anjing Anda. JANGAN gunakan coklat atau produk-produk yang menggunakan coklat karena coklat dalam jumlah banyak dapat meracuni anjing. Para wanita yang mempraktekkannya telah memberikan kesaksian tentang kenikmatan yang didapat dari menerima seks oral dari seekor anjing.

4. Seks oral dengan anjing; memberi

Seks oral (memberi) adalah seks dengan cara penetrasi penis anjing ke dalam mulut wanita. Penis seekor anjing sangat sensitif, jadi hati-hatilah ketika memegangnya. Ketika diekspos, penis anjing bisa mengering jika tidak terus-menerus dibasahi. Untuk itu, Anda dapat menggunakan ludah Anda. Usahakanlah untuk tidak menggunakan tangan ketika melumasi penis anjing dengan ludah Anda. Bagaimanapun jika Anda langsung menggunakan lidah akan lebih menyenangkan :)

Untuk menaikkan birahi seekor anjing, gunakan proses yang sama seperti dijelaskan pada nomor satu di atas. Genggamlah gumpalan yang terselubung sarung di pangkal penisnya, dekat biji zakarnya, dan mulailah menggosok dengan tempo yang cepat. Anda akan dapat merasakan gumpalan yang Anda pegang akan semakin mengembang di dalam sarungnya dan Anda harus menarik kembali sarungnya sebelum gumpalan itu menjadi terlalu besar dan tak muat lagi. Jika tidak, anjing Anda akan merasa tak nyaman sampai ereksinya terpenuhi.

Ketika mengocok, Anda dapat membawa penis si anjing ke dalam mulut Anda ataupun terus saja menggosok-gosok di bagian gumpalannya. Anda harus berhati-hati jika memilih untuk membawa penis si anjing ke dalam mulut Anda, mengingat betapa sensitifnya organ itu. Anda harus tetap menjaga supaya penis anjing Anda tetap dapat keluar masuk dengan nyaman di antara gigi Anda. Ketika penis si anjing telah tegang dan mengeras sepenuhnya, bereksperimenlah!

Kebanyakan anjing hanya berdiri dan terengah-engah dengan senangnya ketika Anda menjilati, mengisap atau menggosoki penis mereka. Anda dapat berharap penisnya tetap tegang selama 5 sampai 15 menit rata-rata. Air mani anjing rasanya cukup enak, biasanya manis sedikit pahit, dan akan terus menyemprot sejak penisnya setengah mengeras serta keluar dari sarungnya, sampai ketika ia mulai balik lagi ke dalam sarung itu. Lihatlah daftar di bawah untuk mengetahui jumlah volume air maninya.

5. Seks oral dengan anjing jantan yang sudah disterilisasi

Mungkin suatu saat Anda hanya mendapatkan seekor anjing jantan yang sudah disterilisasi yang dapat diajak untuk berhubungan seks. Jika demikian, ada beberapa hal yang harus Anda ketahui. Kebanyakan anjing yang sudah disterilisasi kehilangan ketertarikannya terhadap seks. Ada sebagian yang masih mampu mempertahankan setengah-ereksi untuk periode yang singkat dan mengejakulasikan cairan yang bercampur dengan cairan prostat.

Jika Anda bertemu dengan anjing jantan yang telah disterilisasi dan mencoba membantunya untuk bermasturbasi, hentikanlah jika ia tampaknya merasa tidak nyaman. Sebagian akan menikmatinya, tapi sebagian lagi tidak. Jangan berharap seekor anjing jantan yang telah disterilisasi akan berperilaku seksual seperti anjing jantan yang masih subur. Tidak demikian kenyataannya.

6. Dapatkah seorang wanita dihamili seekor anjing?

Secara umum, hampir tidak mungkin seorang wanita dihamili oleh seekor hewan. Ini disebabkan sperma hewan hampir tak memiliki kemampuan untuk membuahi sel telur seorang wanita, karena perbedaan spesies. Itu pula sebabnya para wanita bestialist (para wanita yang suka melakukan hubungan seks dengan hewan) tak pernah ragu-ragu untuk terjerat bersama kekasih hewannya selama melakukan hubungan seks dan membiarkan kekasih hewannya itu berejakulasi di dalam tubuh mereka tanpa mengenakan pelindung apa pun seperti kondom atau pil anti hamil.

Bagaimanapun, berdasarkan laporan-laporan tak resmi yang terkumpul sepanjang sejarah manusia, bukan hal yang mustahil pula hubungan seorang wanita dengan seekor hewan menghasilkan keturunan, walaupun kemungkinannya sangat kecil. Bahkan bagi sebagian wanita bestialist, kemungkinan seperti itulah yang mereka cari, untuk menunjukkan penyerahan diri yang total terhadap kekasih hewannya!

7. Apa yang terkandung di dalam air mani anjing?

(Bagian ini dikompilasi oleh Dogzoo (dogzoo@teleport.com))

Volume 7-10 cc dengan varian dari 0.5 s/d 20 cc persentase air 97% (yang tertinggi di antara semua hewan, sedangkan manusia hanya 90% atau yang terendah)

Kandungan: abu, protein, lipid, potassium, sodium, kalsium, magnesium, fosfor, besi, klorida, sulfur, asam amino, albumen, proteos, nukleoprotein, mucin, albumos, gumpalan lemak, thiamin, riboflavin, asam pantothenik, niacin, asam askorbik, vitamin C, enzym, dan fruktosa. Cairan prostat banyak mengandung alkalin, yang akan menetralisir asam di dalam vagina si wanita yang disetubuhinya. Biasanya anjing yang lebih besar akan memproduksi air mani yang lebih banyak daripada anjing yang lebih kecil.

Referensi: “Vet obstetrics and genital diseases”, S. Roberts, Edwards Brothers Publishing

8. Seberapa besar penis seekor anjing?

(Bagian ini dikompilasi oleh Dogzoo (dogzoo@teleport.com))

Tabel Ukuran dan Jenis
Jenis Panjang yang dapat digunakan (cm) Diameter (cm)
Cocker Spaniel 5.00- 7.60 1.27-2.54
Greyhound 6.35- 7.60 1.27-2.54
Bulldog 6.35-12.70 2.54
Dalmatian 7.60-11.40 2.54
Collie 10.20-12.70 2.54
Labrador 10.20-15.25 2.54
Irish Setter 10.20-15.25 2.54
German Shepherd 12.70-17.80 3.80
Great Dane 12.70-17.80 3.80
Saint Bernard 17.80-22.90 3.80-4.50
Mastiff 19 3.80-4.50
SEKIAN

Beruk Kakekku

Copyright 2007, by Roslan BH and Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com)

(Wanita dan Monyet, Berbagi Istri, Cerita Tradisional Malaysia)

Kisah ini memaparkan tentang keinginan seks yang sangat unik dari isteriku. Ita memang mempunyai keinginan atau daya seks yang ‘advance’.

Peristiwa ini kutuliskan berdasarkan kisah yang terjadi saat aku dan Ita pulang liburan di kampung. Kampungku terletak di kota T, lebih kurang 45 kilometer jauhnya dari Kuala Lumpur. Setelah sampai, kami berdua berjalan-jalan melawat ke rumah Kakekku yang bernama Ali.

Sesampainya di situ, Pak Ali sedang memberi makan beruknya yang bernama Jantan. Setelah ngobrol-ngobrol, aku diminta Kakek untuk menjaga si Jantan karena esoknya Kakekku hendak mengantar anaknya ke Kuala Lumpur. Aku dan Ita setuju saja.

Sebelum pulang, aku pergi menengok si Jantan, beruk Kakekku itu. Beruk itu kelihatan garang dan bengis saat aku mendekatinya. Anehnya, beruk itu kelihatan manja bila Ita yang mendekatinya.

“Beruk itu baik kok. Kau jangan lupa beri dia makan ya!” jerit Kakek dari atas rumah.

Aku mengganguk saja tanda setuju.

Ita memberanikan diri memegang tangan si Jantan. Beruk itu menjerit-jerit saat Ita mengulurkan tangannya. Tangan Ita ditarik dengan kuat oleh beruk itu. Ita pun tertarik ke dekat beruk itu.

Aku terkejut. Beruk Kakek terdiam, mungkin terkejut. Tangan isteriku betul-betul terjatuh mengenai bagian pribadi beruk itu. Ita cepat-cepat mengalihkan tangannya dari menyentuh batang beruk itu.Setelah itu kami berdua pun balik ke rumah kami. Ita hanya tersenyum setelah kejadian itu.

Keesokan harinya kira-kira pukul sepuluh aku dan Ita membawa nasi dan air untuk diberikan kepada beruk Kakek. Pagi itu Ita memakai kain batik dan t-shirt saja. Biasanya dia tidak akan memakai celana dalam kalau memakai kain batik. Kami sampai ke rumah Kakek yang sudah terkunci. Kakek telah berangkat ke Kuala Lumpur pagi-pagi sekali dengan mobil.

Sesampainya kami ke rumah, beruk Kakek menjerit-jerit. Aku sengaja menyuruh Ita untuk memberikan nasi dan air kepada beruk itu. Ita pun meletakkan nasi dan air di hadapan beruk Kakek. Beruk itu kelihatan tidak mengindahkan makanan yang diberikan Ita. Ita mengusap-ngusap kepala beruk itu.

“Bang, beruk ini nggak mau makan, Bang,” kata Ita kepadaku.

Aku pun mencoba memberi beruk itu nasi tapi beruk itu tetap tak peduli.

“Mungkin Kakek sudah memberinya makan ya?” kataku.

“Tapi nggak kelihatan ada bekas makanan di sini, Bang,” jawab isteriku.

“Iya, nggak juga ya,” kataku. “Ita cobalah bujuk beruk itu,” kataku kepada Ita.

“Baiklah, Bang,” jawab Ita. Ita lalu mengusap-usap kepala beruk itu perlahan-lahan. Saat itu Ita duduk bersimpuh. Tiba-tiba tangan beruk itu meraba-raba buah dada Ita.

“Bang, beruk ini meraba punya Ita,” kata Ita.

Aku melihat tangan beruk itu meremas t-shirt Ita.

“Biarlah kalau dia mau raba, mungkin beruk itu teringat akan bininya,” jawabku.

“Bang mungkin beruk ini sedang mengalami musim kawin. Karena itulah Ita rasa dia tak berselera untuk makan,” kata Ita. Aku cuma mengangguk saja.

“Bang, boleh Ita beri beruk ini raba ‘barang’ Ita?” tanya Ita kepada aku.

“Hati-hati sedikit, nanti digigitnya,” kataku kepada Ita.

Aku lihat Ita mengangkat t-shirtnya hingga ke pangkal dada. Buah dada Ita ditutupi oleh BH-nya saja. Memang kawasan rumah Kakekku itu jauh dari jalan orang berlalu-lalang. Jadi tak mungkin ada orang melihat apa yang sedang Ita perbuat. Lagipula kawasan tempat tidur beruk itu terlindung oleh garasi mobil Kakek.

Begitu Ita membuka t-shirtnya, beruk itu langsung saja menggondol buah dada Ita sehingga menyebabkan Ita terjatuh ke belakang karena terkejut. Aku cepat-cepat membantu Ita bangun.

“Bang, tolong Ita!!” jerit Ita kepadaku. Aku cepat-cepat membantu Ita bangun. “Itulah, lain kali hati-hatilah,” kataku kepada Ita.

“Beruk ini ganas sekali kalau melihat tetek Ita,” jawab Ita.

“Nggak apalah biar Abang tolong,” kataku.

Perlahan-lahan Ita memajukan buah dadanya kepada beruk itu. Tangan beruk itu langsung meremas buah dada Ita dengan kuat sambil mendengus-dengus. Buah dada Ita jadi kemerahan karena diremas dengan kuat oleh beruk itu.

Kulihat Ita menanggalkan BH-nya. Kemudian Ita berbaring di atas tanah dengan beralaskan t-shirtnya.

“Bang, Ita ingin memberi beruk ini merasakan barang Ita ya, Bang,” kata Ita.

“cobalah Ita beri, dia mau atau tidak,” jawabku.

Aku mulai penasaran ingin lihat beruk itu menyetubuhi isteriku. Peristiwa ini jelas sangat langka terjadi. Setelah Ita terbaring dia memainkan zakar beruk itu. Zakarnya lebih kurang 4 inci, dan kulitnya lebih kurang 1 inci setengah saja. Zakarnya berwarna kemerahan bila keluar dari kulupnya. Penis beruk itu terus dimainkan Ita sehingga beruk itu menjerit-jerit.

“Ita, Abang coba letakkan beruk ini di atas badan Ita,” kataku.

Ita lalu menyingkapkan kainnya sehingga menampakkan memeknya yang sudah kukerjai tadi pagi. Kain batik Ita disingkapkan hingga pangkal perutnya. Aku menyeret beruk Kakek menuju ke arah celah selangkangan isteriku yang sedang terlentang itu.

Setelah betul-betul berada di depan celah selangkangan Ita, aku meniarapkan beruk itu di atas perut Ita. Sementara itu aku membetulkan penis beruk itu agar masuk terus ke dalam vagina Ita. Sementara aku membetulkan kedudukan penis beruk itu, kulihat vagina Ita sudah tergenang air. Mungkin karena dia juga sudah terangsang untuk mengadakan hubungan seks dengan beruk ini.

Perlahan-lahan penis beruk itu kutusukkan ke dalam vagina Ita. Penis beruk itu perlahan-lahan membelah alur tebing kemaluan Ita dan terus menghunjam ke dasarnya. Beruk itu saat merasakan ada benda yang mengapit kemaluannya secara otomatis langsung menggenjot buntutnya.

Beruk itu terus menggenjot buntutnya dan penisnya keluar masuk ke dalam vagina Ita.

“Sedap juga, Bang, penis beruk ini,” kata Ita. Ita memeluk kepala beruk itu sementara aku terus membantu beruk itu menyetubuhi Ita.

“Sedapnya, Bang….!!!” jerit Ita. Aku lihat cairan putih semakin banyak keluar dari vagina Ita.

“Ooooo, sedaplah, Baaang…..” jerit Ita. Walaupun batang beruk itu kecil tapi beruk itu terus-menerus menikam dan menarik penisnya ke dalam vagina Ita kira-kira 15 menit tanpa henti. Kalau manusia tentu sudah muncratlah air maninya tapi beruk ini terus mengayunkan zakarnya seperti biasa. Kuat juga daya seks beruk ini, kataku dalam hati.

“Bang, Ita tak tahan lagi…. Ita rasa mau keluarlah Bang.”

Tiba-tiba kulihat tangan Ita terlepas dari memegang kepala beruk itu.

“Ita sudah keluar….” jerit Ita dengan lesu. Tangannya terjatuh lemas ke atas tanah.

“Sedap betul lah, Bang. Lama juga beruk ini menyetubuhi Ita,” kata Ita.

Ita keletihan. Kangkangan kakinya terjatuh menyebabkan jepitan vaginanya melonggar. Tiba-tiba beruk itu menjerit kuat sebagai protes dan Ita pun segera mengemut kuat vaginanya sampai terasa ada cairan keluar laju masuk ke dalam vaginanya

(Diceritakan oleh Ita) Ita rasa mungkin beruk itu telah memuncratkan air maninya ke dalam vagina Ita. Ita terus mengemut penis beruk itu dalam vagina Ita agar beruk itu betul-betul merasakan nikmatnya seks. Mungkin inilah seks pertama dan terakhir yang dirasakan oleh beruk ini.

Setelah semenit penis beruk itu di dalam vagina Ita, tiba-tiba beruk itu bangkit dan mencabut keluar penisnya. Aku lihat cairan putih jernih keluar mengalir dari dalam vagina Ita. Banyak juga cairan itu hingga membasahi kain dan baju Ita.

“Banyak sekali air mani beruk ini, Ita,” kataku kepada Ita yang masih terbaring keletihan. “Mungkin dia tak pernah mengeluarkannya, Bang, memang banyak,” jawab Ita.

“Bagaimana rasa penis beruk itu tadi, sedap?” tanyaku kepada Ita sambil mengulurkan BH-nya.

“Kalau boleh Ita mau simpan beruk ini sebagai teman Ita, Bang,” jawab Ita.

“Mana bisa, Kakek pasti nggak mau memberikan beruknya untuk tinggal di kota,” kataku kepada Ita.

Ita terus meraba-raba vaginanya yang basah kuyup itu. Dia mengikat kembali kain batik dan menyarungkan t-shirtnya yang kotor terkena tanah tadi. Setelah itu dia mengusap kepala si Jantan, beruk Kakekku yang telah dilayani oleh Ita. Kulihat beruk itu kini memakan habis semua nasi yang kami bawa tadi. Pastilah dia telah kehilangan tenaga karena lama menyetubuhi Ita sehingga sekarang makan dengan rakusnya.

Aku dan Ita meninggalkan rumah Kakek ketika matahari di atas kepala. Ita tersenyum dengan seribu kepuasan sementara aku tersenyum puas karena berhasil melihat isteriku disetubuhi oleh beruk. Sedapnya…..

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Tumbal

Copyright 2005, by Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com)

(Wanita dan Kera, Wanita dan Gendruwo, Keroyokan, Istri Selingkuh)

Sapto adalah seorang buruh pekerja bangunan lepas. Pria muda kelahiran sebuah dusun terpencil di Jawa Tengah ini terpaksa mengadu nasib ke Jakarta karena di daerah asalnya pun ia menganggur tak punya pekerjaan. Kekeringan yang berkepanjangan melanda kampung halamannya. Sawah-sawah tidak produktif lagi. Banyak petani yang kehilangan pekerjaannya, termasuk Sapto.

Di usianya yang kedelapan belas saat masih di kampungnya, ia telah menikahi seorang wanita cantik bernama Maya. Wanita yang usianya selisih dua tahun lebih muda ini adalah tetangganya sendiri di kampung. Sama seperti Sapto, Maya pun berasal dari keluarga yang sangat sederhana.

Walaupun kehidupan yang menanti di Jakarta belum menentu, Sapto nekat mengajak istrinya untuk pergi ke kota harapan itu saat usia pernikahan mereka masih seumur jagung. Ia malu terus-menerus membebani kedua orang tuanya maupun mertuanya yang sama-sama kekurangan.

Pria ini beruntung mendapatkan pekerjaan pada seorang kontraktor kecil-kecilan di daerah pinggiran ibukota. Sapto mengenal majikannya dari sesama temannya di kampung yang kebetulan pernah bekerja pada beliau. Dengan kemampuan seadanya, ia belajar menjadi kuli bangunan. Pekerjaannya pun tak tentu, bergantung pada order yang diterima majikannya.

Dengan penghasilan yang seadanya, tentu saja kehidupan Sapto dan Maya di kota yang keras itu masih tetap prihatin.

Kesulitan ekonomi semakin terasa setelah Maya melahirkan anaknya yang pertama, tepat dua tahun setelah kepindahan mereka ke Jakarta. Sapto pun semakin pontang-panting menghidupi keluarganya yang telah bertambah anggotanya.

Sapto sebenarnya beruntung memiliki istri seperti Maya. Wanita itu sangat sabar dan mau sepenuhnya mengerti kesusahan yang mereka alami bersama. Ia tak pernah mengeluh dan menuntut macam-macam. Walau ia pun tak mampu berbuat banyak untuk membantu suaminya, tak hentinya ia memotivasi suaminya untuk bersabar dan tidak tergoda menempuh jalan yang tidak benar dalam mengatasi kemiskinan mereka.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Keadaan ternyata berkembang jadi semakin sulit setelah majikan tempat Sapto bekerja bangkrut. Otomatis Sapto pun kehilangan satu-satunya mata pencahariannya. Dengan kemampuan yang terbatas, jelas ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan mata pencaharian yang baru.

Dalam keadaan putus asa, Sapto mengambil jalan pintas. Suatu hari ia nongkrong dengan sesama temannya yang juga menganggur. Saat ngobrol, temannya menceritakan tentang pesugihan yang diyakini dapat memberikan pelakunya kekayaan yang melimpah ruah. Dari sekedar iseng, Sapto jadi mulai tertarik dengan cerita itu. Diajaknya temannya untuk sama-sama menjalani pesugihan tersebut.

Walaupun tertarik juga, temannya menolak untuk melakukannya. Ia takut karena syaratnya sangat berat. Begitu pula konsekuensi yang harus ditanggung jika syaratnya tak terpenuhi. Belum lagi mengingat cara itu adalah jalan yang dikutuk oleh agama.

Sapto yang telah buntu pikirannya tetap berkeras untuk mencobanya. Temannya yang telah mencoba mengingatkannya tak mampu berbuat apa-apa. Setelah dipaksa Sapto, temannya lalu menceritakan bagaimana cara melakukan pesugihan itu, yang disebut pesugihan Ki Edan.

Pesugihan itu harus dilakukan dengan memuja jin bernama Ki Edan. Tempatnya adalah di sebuah gua terpencil di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Dengan alasan mencari pekerjaan, Sapto pamit kepada istrinya untuk pergi ke luar kota selama beberapa hari. Dititipkannya anak dan istrinya kepada tetangganya.

Dengan berdebar-debar Sapto menemui juru kunci tempat itu untuk minta petunjuk dan bimbingan dalam menjalaninya. Sebelum melakukan itu, sama seperti yang telah dilakukan oleh temannya, si juru kunci mengingatkan Sapto akan semua konsekuensi yang harus diterimanya. Pria tua itu mengatakan bahwa Sapto masih dapat mundur saat itu seandainya ia masih ragu-ragu. Merasa kepalang tanggung, Sapto tetap menyanggupinya. Ia pun menjalani ritual yang disiapkan oleh si juru kunci untuk melakukan perjanjian dengan Ki Edan.

Ki Edan adalah sejenis jin tingkat tinggi yang memiliki kesaktian mandraguna. Usianya telah mencapai ribuan tahun. Berbagai macam manusia dari puluhan generasi sudah pernah ditemuinya. Ia hidup di tengah hutan Lawang bersama para pengikutnya. Pengikutnya berasal dari berbagai golongan jin dan hewan liar yang hidup di hutan itu. Ia tak akan membantu sembarang orang. Syarat yang ditetapkannya pun berat.

Saat melakukan ritual di dalam gua, Sapto pun berkesempatan untuk bertatap muka dengan jin itu.

Badan Ki Edan berwujud manusia tapi bagian paha ke bawah menyerupai kaki belakang seekor lembu. Tubuhnya yang jangkung tampak tegap didukung oleh badannya yang kekar dan berwarna gelap kemerahan. Wajahnya berbentuk segitiga dengan ujung dagu yang sangat lancip. Kedua matanya tajam dan berwarna merah. Sepasang tanduk besar menyerupai tanduk kerbau jantan menghiasi kepalanya yang gundul.

Sapto bergidik melihat penampakan jin tua yang mengerikan itu.

“Hai manusia, ceritakan apa yang kau mau,” suara jin tua itu terdengar menggema di dalam gua.

“A..a.. ku ingin mendapatkan kekayaan, Ki,” kata Sapto terbata-bata.

Mata Ki Edan yang tajam menatap dalam-dalam pada Sapto yang agak merinding.

“Kau tahu apa syaratnya?” tanya jin itu.

“Apa itu, Ki?” tanya Sapto gemetar. “Aku akan menyanggupinya…”

“Setiap purnama kau harus mempersembahkan mayat bayi yang baru saja dikuburkan…”

Sapto terdiam.

“Jika kau lalai…. Bukan hanya kekayaanmu yang akan kutarik kembali….” lanjut Ki Edan.

Sapto menanti lanjutan kata-kata jin tua itu dengan harap-harap cemas.

“…Melainkan juga orang yang sangat kausayangi akan kuambil….” Ki Edan menutup penjelasannya yang singkat.

“Baiklah, Ki…” jawab Sapto yang sudah gelap matanya menyanggupi.

Setelah perjanjian diikat, Sapto pun kembali ke Jakarta.

Aneh, tak lama kemudian Sapto pun mendapatkan rezeki. Ada orang yang menawarinya modal untuk membuka usaha. Sapto pun membuka warung dan bengkel. Usahanya ternyata maju sehingga dalam waktu singkat Sapto dapat mengembalikan modalnya dan memiliki sendiri seluruh usahanya. Kehidupan ekonomi mereka pun semakin membaik. Tentu saja Sapto tak pernah menceritakan peristiwa yang sebenarnya kepada Maya.

Sementara itu, setiap menjelang bulan purnama, Sapto memiliki kebiasaan baru. Ia akan mendatangi kuburan dan menggali makam bayi yang baru saja dikuburkan. Jasad bayi yang masih baru itu lalu dipersembahkannya kepada Ki Edan sebagai tumbal.

Bulan demi bulan pun berlalu. Semakin lama Sapto pun semakin merasa sulit untuk memenuhi janjinya. Bukan saja ia harus mencari mayat bayi ke daerah yang semakin jauh, penduduk pun mulai resah dan curiga dengan maraknya penggalian kuburan bayi yang baru meninggal. Akibatnya, Keamanan pun semakin diperketat. Ruang gerak Sapto pun semakin terbatas.

Sampai suatu ketika, Sapto akhirnya gagal memenuhi janjinya pada Ki Edan tepat pada malam bulan purnama yang ketujuh sejak perjanjiannya.

Saat itu sudah lewat tengah malam. Sapto merasa sangat gelisah karena tahu akan terjadi sesuatu. Maya yang saat itu sedang di sampingnya juga merasa curiga melihat gelagat suaminya yang dari tadi tampak menyembunyikan sesuatu. Wanita itu baru saja selesai menyusui anaknya yang sempat terbangun beberapa waktu yang lalu.

Tanpa ada tanda apa pun, Ki Edan tiba-tiba muncul diikuti oleh para pengikutnya. Walau sudah menduga hal itu, Sapto tetap saja merasa terkejut. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada istrinya. Maya yang tak mengetahui pokok permasalahannya tentu saja tak kalah terkejutnya.

“Sapto, kau tahu apa yang telah kau lalaikan malam ini?” suara Ki Edan terdengar menggema di tengah malam yang hening.

Sapto hanya diam dengan tubuh gemetar dan tegang.

“Kalau kau tak mampu memenuhi janjimu dalam pesugihan ini, aku sudah mengatakannya dengan jelas apa yang harus kau bayar…”

“Aku akan mengambil nyawa anakmu sebagai tumbal…” kata jin tua itu mengingatkan.

“Atau akan mengambil istrimu untuk menjadi budakku di alam gaib sana… sebagai ganti atas semua kekayaan yang telah kuberikan padamu…”

Maya yang terkejut mendapati kenyataan itu tentu saja tak merelakan nyawa anak semata wayangnya diambil oleh Ki Edan.

“Mas Sapto…. Benarkah…?” tanya Maya seperti tak percaya sambil memandang ke arah suaminya. “Teganya kau… Jadi selama ini….?”

Ia tak mampu melanjutkan kata-katanya.

Sapto hanya menunduk. Ia tak berani membalas pandangan istrinya. Tubuhnya terasa gemetar.

“Baiklah, sekarang aku akan mengambil anakmu…” kata Ki Edan sambil melangkah mendekati ranjang tempat anak Sapto dan Maya sedang tidur.

Maya sangat terkejut mendapati kenyataan anaknya akan diambil secara paksa. Dihalanginya jin tua yang besar itu dalam langkahnya menuju ranjang. Naluri keibuannya untuk melindungi anaknya serta merta muncul.

“Aku tak rela nyawa anakku hilang demi melunasi hutangmu…” tegas wanita itu sambil memandang suaminya.

“Biar aku saja yang ikut dia untuk menebusnya…”

Sejenak setelah mengucapkan kata-kata itu, Maya sempat terkejut. Bagaimana bisa ia membuat keputusan seperti itu? Keputusan yang spontan dikeluarkannya untuk melindungi jiwa putri satu-satunya. Dalam hati ia sebetulnya sangat khawatir akan nasibnya jika mengikuti setan itu. Bagaimanapun, saat itu ia tak melihat cara lain sebagai jalan keluarnya.

“Baiklah, tak masalah bagiku,” kata Ki Edan sambil memeluk bahu Maya yang ada di dekatnya.

“Anakmu atau istrimu, salah satu saja…. Sudah cukup bagiku…” kata Ki Edan.

Sapto tak mampu berkata apa-apa. Mulutnya serasa terkunci.

Ki Edan lalu melucuti seluruh pakaian Maya. Maya sama sekali tak menolak… Maya tak tahu mengapa ia tak melawan saat direndahkan seperti itu…. Apakah ia berada di bawah pengaruh hipnotis?

Sapto hanya bisa memandangi peristiwa itu tanpa daya sama sekali. Begitu istrinya telah bugil, ia melihat Ki Edan mengeluarkan seuntai rantai yang besar lalu mengalungkannya ke leher wanita cantik itu…

Siluman sakti itu kemudian menyerahkan rantai itu kepada seekor kera jantan besar yang setia mengikutinya. Entah dari mana datangnya, segumpal asap yang tebal tiba-tiba muncul memenuhi ruangan. Ki Edan pun berjalan menembus asap itu. Diikuti oleh si kera besar yang menuntun istrinya… menghilang ditelan kegelapan….

Sapto hanya bisa memandang seluruh kejadian itu sambil menangis… Kedua kakinya benar-benar kaku tak bisa digerakkan. Sekujur badannya gemetar menahan perasaan takut, geram, dan tak berdaya yang bercampur aduk. Beban yang demikian beratnya membuatnya terjatuh. Perlahan-lahan asap pun menghilang tanpa bekas. Sama seperti istrinya yang raib dibawa Ki Edan… Pandangannya pun menjadi gelap. Ia pun pingsan tak sadarkan diri.

Maya memulai kehidupan barunya di alam jin. Setelah melalui asap tebal yang mengantarkannya meninggalkan alam manusia, sampailah ia di kediaman jin tua itu. Tempat tinggal Ki Edan ada di tengah-tengah hutan. Hutan yang aneh dalam pandangannya sebagai manusia. Semua tumbuhan dan hewan yang ada di situ tak pernah dijumpainya di alam manusia. Semuanya dari jenis yang berbeda…

Pondok Ki Edan terbuat dari kayu dan menyatu dengan sebuah pohon besar yang dikelilingi oleh sepetak lapangan yang agak luas. Lapangan yang merupakan pekarangan rumah itu menjadi pemisah antara rumah dengan hutan lebat yang mengitarinya.

Ki Edan membawa Maya berkeliling meninjau rumahnya yang cukup besar dan pekarangan di sekelilingnya. Dijelaskannya satu per satu tugas yang akan menjadi kewajibannya sehari-hari.

Dengan penuh perhatian wanita itu menyimak setiap penjelasan dan instruksi dari tuan barunya. Dengan hati yang berdebar-debar ia menunggu-nunggu sesuatu dari penjelasan jin tua itu.

Sampai Ki Edan selesai menjelaskan, apa yang ditunggunya dengan harap-harap cemas ternyata tak juga keluar.

Jelas bahwa Ki Edan sama sekali tak berniat untuk ‘menyentuh’-nya. Padahal Maya tadinya mengira ia juga harus melayani jin itu di tempat tidur. Wajar saja jika ia mengira demikian. Saat ia diambil dari suaminya, Ki Edan telah melucutinya hingga bugil. Begitu pula saat memberikan penjelasan, Ki Edan telah menegaskan padanya bahwa ia tak diperkenankan mengenakan sehelai kain pun untuk menutupi tubuhnya selama berada di alam gaib itu. Suasana yang dibangun memang seolah mengarahkannya untuk menjadi seorang pelayan seks.

Nyatanya ia hanya harus melayani Ki Edan seperti seorang pembantu rumah tangga atau baby sitter. Ia tiap hari harus memasak makanan untuk Ki Edan, membersihkan rumahnya, mencuci pakaiannya, menyiapkan segala peralatan dan kebutuhan sehari-harinya… tapi tidak melayani nafsu birahinya…

Seolah bisa membaca pikiran wanita itu, Ki Edan menceritakan penyebabnya. Rupanya jin tua itu sedang menjalani ritual tertentu yang tidak memungkinkannya untuk melakukan hubungan seks sama sekali.

Sejenak Maya menarik nafas lega… Memang sejak dibawa oleh Ki Edan ia telah mengantisipasi jika dirinya akan dijadikan sebagai pelayan seks. Toh ia tetap merasa gentar juga saat semakin sering berdekatan dengan Ki Edan dan dapat melihat ukuran penisnya. Alat kelamin itu menggelantung-gelantung seperti belalai gajah di balik kain tipis yang menutupi pangkal pahanya…

Sayangnya kelegaan wanita itu tak berlangsung lama. Ki Edan rupanya menyadari sosok wanita yang ada di hadapannya itu benar-benar cantik dengan postur tubuh yang sangat indah. Sangat mubazir jika tidak dimanfaatkan. Dengan demikian, bukan berarti Maya benar-benar bebas dari kewajiban yang berhubungan dengan seks…. karena ternyata Ki Edan akhirnya menghadiahkan Maya kepada Wanara, kera jantan piaraannya…

Dengan demikian kera peliharaan Ki Edan lah yang akhirnya ketiban untung mendapatkan Maya.

Itu pun sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi Maya. Sudah jadi pengetahuan umum, birahi seekor hewan lebih tinggi frekuensinya daripada seorang manusia.

Belakangan Maya belajar bahwa lima kali hubungan seks adalah jatah minimal yang harus diberikannya kepada hewan itu tiap harinya. Maya pun jelas harus bersusah payah beradaptasi dengan kebiasaan itu. Dulu saat masih di alam manusia, tidak setiap hari ia harus melayani Sapto suaminya.

Sekarang dengan frekuensi hubungan seks minimal lima kali sehari, Maya biasanya hanya dapat ikut menikmati sampai hubungan yang kedua atau ketiga. Selebihnya, dirasakannya semata-mata untuk memenuhi kewajibannya melayani birahi kera itu.

Untunglah Ki Edan pun mengamati hal itu. Suatu hari ia memberikan wanita itu ramuan untuk meningkatkan daya tahan dan nafsu seksualnya supaya ia bisa mengimbangi pasangan barunya itu…

“Minumlah…” kata Ki Edan pada Maya.

“Apa ini, Ki…?” tanya Maya sambil melihat minuman berwarna kecoklatan yang disodorkan padanya.

“Jamu ramuanku… untuk menambah daya tahan tubuhmu dan meningkatkan birahimu…” kata Ki Edan tersenyum.

“Aku lihat kau agak kewalahan melayani si Wanara…” lanjutnya.

Maya tersipu malu. Mukanya yang putih bersemu kemerahan seperti udang rebus. Ia baru sadar bahwa Ki Edan mengamati setiap aktifitasnya bersama kera itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh majikannya itu.

“Minumlah, tak usah ragu… Setelah kau rutin minum ramuan ini… bahkan nanti kau lah yang akan minta jatah kepada keraku itu…” jelas Ki Edan.

“Sekarang ini kan dialah yang selalu mendatangimu untuk minta bersetubuh… Nanti bisa terbalik…” kata jin tua itu sambil terkekeh.

Dalam hati Maya agak sangsi dengan kata-kata Ki Edan. Benarkah bisa seperti itu? Sekarang saja rasanya ia sudah sangat kewalahan melayani nafsu seks kera jantan itu. Alat kelaminnya pun rasanya hampir-hampir lecet karena terus-menerus digunakan sepanjang hari…

“Kita lihat saja nanti kalau kau tak percaya,” lanjut Ki Edan.

“Kalau alat kelaminmu yang terasa lecet, itu masalah biasa… karena kau selama ini tak menggunakannya secara maksimum,” jelas Ki Edan seolah bisa membaca pikiran Maya.

“Seperti kau berolah raga, kau harus membiasakannya sedikit demi sedikit… Kemampuan tubuhmu akan beradaptasi sendiri nantinya…”

“Memang aku tahu, selama ini suamimu jarang memanfaatkanmu semaksimal mungkin…” goda Ki Edan.

Maya pun kembali tersipu malu. Ia akhirnya bisa menerima penjelasan Ki Edan. Lagipula apa salahnya ia mencoba ramuan itu. Jika benar apa yang dikatakan jin tua itu, bukankah manfaatnya juga bagi dirinya sendiri. Karena itu ia pun memutuskan meminumnya tanpa banyak pikir lagi.

Rasanya bercampur antara pahit dan pedas. Terasa hangat di tenggorokan seperti arak.

“Minumlah ramuan itu tiap hari. Cukup sekali saja sehari. Nanti kutunjukkan tempat penyimpanannya,” kata Ki Edan setelah wanita itu menghabiskan isi gelasnya.

Maya hanya mengangguk sambil tersenyum berterima kasih.

Baru saja Maya meletakkan kembali gelasnya di atas meja, tiba-tiba terdengar bunyi pintu dibuka dengan keras. Ternyata Wanara telah berdiri di muka pintu dengan wajah yang beringas menahan nafsu… Maya tersenyum melihat kekasih barunya itu… Ia tahu kalau kera itu bermaksud meminta jatah padanya.

“Maaf, Ki Edan… Permisi dulu,” katanya meminta izin pada jin tua itu sambil geli melihat raut wajah kera itu yang tampaknya sudah tak kuat lagi membendung nafsunya….

“Waah, panjang umur… baru saja kauminum ramuanku, ternyata sekarang kau bisa praktekkan langsung… Baiklah, selamat bersenang-senang….” jawab Ki Edan penuh pengertian.

Wanara bergegas melompat mendekati gendaknya. Tangannya yang panjang kekar dan berbulu menggapai ke atas menyentuh punggung Maya yang telanjang lalu mendorongnya. Maya yang sudah mengerti segera mengubah posisinya dari berdiri jadi menyentuh lantai dengan kedua lutut dan tangannya sambil membelakangi kera itu. Wanita itu mengambil posisi untuk disebadani oleh Wanara dari belakang, sebagaimana layaknya sepasang hewan yang akan kawin.

Maya memang selalu siap untuk disetubuhi setiap saat karena selama tinggal di kediaman Ki Edan, ia tak pernah mengenakan pakaian sehelai pun, alias senantiasa bugil… Satu-satunya aksesori yang menempel di tubuhnya adalah seuntai kalung yang mirip kalung anjing. Itu dikenakannya sebagai penanda bahwa ia adalah piaraan Ki Edan. Wanara pun mengenakan kalung yang sama pula.

Maya tersenyum nikmat ketika merasakan penis kekasihnya yang besar dan tumpul memasuki dirinya… Inilah yang memang ditunggu-tunggunya… Terasa panas dan kasar…

Maya mendesis merasakan kekasihnya menyentuh dan memasuki dirinya…

Maya merasakan rambutnya yang panjang terurai itu ditarik Wanara ke belakang… Ia pun memasrahkan sepenuhnya tubuhnya kepada kera jantan yang sedang birahi itu… Sementara tangannya memegangi rambut Maya, pinggul Wanara mulai bergerak maju mundur menggesekkan penisnya di dalam alat kelamin wanita itu…

Maya pun sesekali tertahan nafasnya. Matanya merem melek sambil mendesis-desis merasakan kenikmatan itu…

Beberapa waktu kemudian, Wanara meningkatkan genjotannya pada tubuh wanita itu. Demikian kuatnya hingga tubuh putih mulus itu terhempas-hempas… Kedua tangan Wanara yang kekar lalu memegangi pinggang Maya supaya tak terlepas. Maya pun tak kuat untuk tak mengeluarkan suara-suara erangan dan jeritan nikmat sebagai reaksi genjotan itu… Vagina Maya terasa makin panas… Runtutan orgasme pun tak terelakkan lagi… Sementara kedua tangannya mencengkeram lantai, jeritan-jeritan nikmat pun terlontar dari mulutnya…

Ki Edan hanya tersenyum mengamati tingkah polah kedua makhluk yang berbeda spesies dan berbeda kelamin itu. Lalu ditinggalkannya sepasang kekasih yang sedang kawin di ruang tamu itu…

Wanara adalah seekor kera jantan bertubuh kekar. Bulu-bulunya yang berwarna kelam bertekstur kasar dan lebat. Tinggi badannya hanya sebatas dada Maya. Akan tetapi tenaganya menyamai kekuatan dua orang pria yang kuat. Demikian pula kekuatan seksnya yang beberapa kali lipat kekuatan seorang pria normal.

Berhubungan seks dengan seekor kera tentu saja berbeda dengan melakukannya bersama seorang pria. Maya harus membiasakan diri bertempelan dengan bulu-bulu Wanara yang kasar… Ia pun harus membiasakan diri dengan bau badan seekor kera yang tentu saja berbeda jauh dengan bau badan seorang manusia…

Belum lagi wajah seekor kera yang tentu saja jauh dari gambaran ketampanan seorang pria yang ada di dalam benak seorang wanita muda seperti Maya…

Satu hal yang sangat terasa adalah kekuatan seksual Wanara. Kera itu dapat menyetubuhinya dalam waktu yang lama hingga Maya dapat mengalami orgasme berkali-kali sebelum kera itu menyudahinya dengan menyemprotkan cairan spermanya yang banyak ke dalam rahimnya…. Selain seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa kera itu membutuhkan hubungan seks dalam frekuensi yang tinggi tiap harinya…

Hal lain yang harus dibiasakan oleh Maya adalah perilaku Wanara yang tak mengenal tempat jika ingin menuntaskan birahinya kepadanya… Saat hidup bersama Sapto, Maya biasa melakukannya hanya di seputar tempat tidur. Sekarang, bersama Wanara, praktis mereka bisa melakukannya di mana saja… Di dalam rumah, di pekarangan, di dalam hutan, di sungai, di atas pohon… dan sebagainya…

Maya pun harus membiasakan dirinya untuk berhubungan seks di muka umum. Tak jarang sehabis ia menyiapkan makanan bagi Ki Edan, Wanara langsung menaiki dirinya untuk meminta jatah. Maka, biasanya saat itu juga mereka akan menuntaskan nafsu birahinya di depan Ki Edan.

Sebenarnya awalnya Maya merasa malu… Pada mulanya ia selalu mengajak kera itu untuk mencari tempat yang tersembunyi terlebih dahulu. Akan tetapi Ki Edan sendiri yang mengajarkan Maya untuk tidak menunda-nunda hajat kera itu terhadap dirinya. Karena sekarang ia telah diperistri oleh kera itu, sudah jadi kewajiban Maya untuk melayaninya sesegera mungkin…

“Sebenarnya aku malu, Ki… makanya aku selalu mengajaknya pergi dulu mencari tempat yang tersembunyi… Barulah kubiarkan ia menyebadaniku…” kata Maya suatu waktu.

“Lagipula apakah kegiatan kami tak akan mengganggu seandainya dilakukan di depan Ki Edan?” tanya wanita itu.

“Tentu saja tidak… Kau kira aku tidak terbiasa melihat pasangan yang sedang kawin?” kata Ki Edan sambil tersenyum.

“Lakukan saja langsung jika si Wanara menginginkannya… Anggap saja itu tontonan pengantar makanku…” kata Ki Edan penuh pengertian.

Sebenarnya Maya khawatir jika Ki Edan jadi tergoda saat melihat aksinya yang panas bersama kera itu. Padahal tentulah ia sungguh-sungguh ingin menuntaskan ritual itu untuk menyempurnakan kesaktiannya. Bagaimanapun, karena Ki Edan sendiri sudah menyatakan tak keberatan, Maya pun mengikutinya saja.

“Baiklah, Ki… Kalau begitu,” kata Maya menyanggupi instruksi majikannya. Sejak itulah wanita itu akan serta-merta melayani Wanara kapan saja dan di mana saja kera itu menginginkannya.

Untunglah ada jamu ramuan Ki Edan yang kini rutin diminum oleh Maya. Benarlah apa kata jin tua itu… Maya tak pernah merasakan gairahnya setinggi ini seumur hidupnya. Setiap hari birahinya selalu naik sampai ke ubun-ubun… Jika itu terjadi, maka harus segera dilampiaskan… Jika tidak, pusinglah kepalanya ditambah dengan rasa gelisah yang tak henti-henti…

Maya bersyukur karena di situ ada Wanara yang kini memiliki libido yang sama dengannya dan dengan demikian mengerti akan kebutuhan seks dirinya… Ki Edan tentu saja tak bisa memenuhi kebutuhannya karena sedang menjalankan ritualnya. Bahkan Maya pun berandai-andai, jika Sapto suaminya ada di sini, tentulah ia pun kewalahan dan tak akan sanggup melayani nafsunya yang sekarang jadi menggebu-gebu.

Kini Wanara dan Maya jadi bergantian saling meminta terlebih dahulu untuk berhubungan seks. Jika kera itu yang birahi, ia akan segera mencari Maya yang biasanya beristirahat di pondok Ki Edan jika sedang tak ada pekerjaan. Sebaliknya, jika Maya sudah merasa suntuk dan pusing, dialah yang akan mencari Wanara di pepohonan atau di pekarangan rumah Ki Edan untuk minta disetubuhi saat itu juga di tempat.

Jika kera itu sedang tidak bernafsu, Maya tak segan untuk berusaha membangkitkan nafsunya dengan segala cara. Biasanya ia akan menggodanya dengan membelai-belai dan menciumi seluruh tubuh kera jantan itu lalu mengulumi penisnya sampai benar-benar berdiri mengeras…

Tenyata kebiasaan mereka bersetubuh di tempat terbuka dan disaksikan oleh siapa saja yang berada di sekitarnya itu memicu suatu peristiwa. Peristiwa yang akan mengubah hidup Maya di alam gaib itu…

Suatu hari sesosok gendruwo bernama Ki Gendeng berkunjung ke kediaman Ki Edan. Gendruwo adalah golongan jin tingkat rendah yang dikenal sangat tinggi hasrat birahinya dan juga doyan pada bangsa manusia. Saat itu kebetulan Wanara sedang mendapatkan jatah rutinnya dari Maya dan terlihat oleh Ki Gendeng. Wanita yang cantik itu tampak sedang pasrah ditunggangi oleh kera jantan yang sedang birahi itu.

Ki Gendeng pun mau tak mau berhenti dulu menyaksikan tontonan gratis itu dari kejauhan sebelum menjalankan niatnya menemui Ki Edan. Maya yang sedang digenjot Wanara pun sebenarnya sempat melihat sosok makhluk itu lalu bertatapan mata dengannya selama beberapa detik. Sejak terbiasa disetubuhi oleh Wanara di depan umum, Maya biasanya jadi lebih bergairah bila tahu ada yang menontonnya. Karena itu saat tahu ada pendatang asing yang memperhatikan aktifitasnya, wanita itu sama sekali tak merasa terganggu.

Sang gendruwo menyimak setiap detik perkawinan si wanita dan kera itu tanpa berkedip. Dilihatnya betapa wanita itu mengalami orgasme yang hebat sebelum si kera pun menyemprotkan spermanya ke dalam tubuh gendaknya itu. Ki Gendeng sampai meneteskan air liur melihatnya dan tak terasa air maninya pun ikut muncrat…

Begitu bertemu Ki Edan, ia pun mengadukan apa yang dilihatnya.

“Ki Edan, aku lihat kau memiliki piaraan seorang wanita cantik di pekaranganmu… Siapakah dia?”

“Ooh… Ya… Itu adalah tumbal pesugihanku yang tak dapat memenuhi janjinya…” jelas Ki Edan.

“Ia adalah istri dari si pelaku…” lanjutnya.

Ki Gendeng pun manggut-manggut mendengarnya.

“Tapi mengapa ia kauberikan begitu saja pada kera piaraanmu? Tidakkah kau suka lagi pada manusia?
Apalagi wanita itu sangatlah cantik…” tanya Ki Gendeng terheran-heran.

Ki Edan tersenyum.

“Tentu saja aku masih suka wanita dari bangsa manusia… Mataku pun tak buta, Ki Gendeng…”

“Aku tahu wanita itu sangat cantik…” lanjutnya. “Tapi saat ini aku sedang menjalani laku wesi geni untuk meningkatkan kesaktianku… selama 12 bulan purnama…”

“Selama itu pulalah aku harus menahan nafsu birahiku….”
Kembali gendruwo itu manggut-manggut mendengar penjelasan Ki Edan.

“Buatku tak masalah…” jelas Ki Edan lebih lanjut. “Tak sulit bagiku untuk mendapatkan wanita dari bangsa manusia untuk di lain waktu…”

“Kalau begitu, berikan saja wanita itu padaku, Ki Edan…” minta Ki Gendeng spontan.

“Sayang sekali kalau manusia secantik itu hanya untuk melayani nafsu seekor kera… Kau kan tahu kalau aku sangat doyan wanita…”

“Aku sudah langsung jatuh cinta padanya begitu melihat kecantikannya dan juga tahi lalat yang ada di tubuhnya… Sepertinya wanita itu benar-benar diciptakan khusus untukku, Ki…”

Ki Edan tampak termenung memikirkan permintaan itu. Sementara gendruwo itu tak bisa menyembunyikan keinginannya yang kuat dari wajahnya.

“Wanara adalah pengikutku yang sangat setia… Walaupun hanya seekor kera, ia telah banyak berjasa bagiku…”

“Mengambil wanita itu dari sisinya tentu akan berat baginya…. Kesedihannya adalah kesedihanku juga… Kira-kira apa yang bisa kau tawarkan padaku untuk menggantinya?”

“Aku akan membawa semua kaumku untuk mengabdi padamu, Ki Edan…”

“Apa pun akan kulakukan untuk mendapatkan wanita itu…. Aku sangat ingin menikmatinya dan mendapatkan keturunan darinya…”

Ki Edan kembali termenung sejenak.

“Baiklah, begini saja… Kuterima tawaranmu… Kau akan kuberikan wanita itu…” kata Ki Edan. Sontak wajah Ki Gendeng pun berubah senang…

“Tapi… supaya adil,” lanjut Ki Edan. “Akan kubiarkan Wanara mendapatkan terlebih dahulu persis seperti yang kauinginkan dari wanita itu…”

“Yaitu…?” tukas Ki Gendeng dengan wajah bertanya-tanya.

“Biarkan Wanara mendapatkan keturunannya terlebih dahulu dari wanita itu… barulah setelah itu giliranmu…”

Ki Gendeng termangu sejenak. Tentu saja itu berarti ia harus menunda hasratnya… namun tampaknya ia tak punya pilihan lain.

“Bagaimana… Cukup adil?” tanya Ki Edan meminta penegasan.

“Baiklah, Ki…. Aku terima…” tanggap gendruwo itu akhirnya.

Keduanya lalu berjabat tangan erat sambil tersenyum lebar menyikapi kesepakatan itu.

Sepeninggal Ki Gendeng, Ki Edan pun mengabarkan berita itu kepada Wanara dan Maya.

Wanara tentu saja sedih. Apalagi Maya telah mulai terbiasa dengan kebutuhan nafsu birahinya pada wanita itu. Wanita itu sudah benar-benar mengerti kapan dan bagaimana harus memuaskan hasrat birahinya. Ia bahkan sudah tak perlu meminum ramuan dari Ki Edan untuk bisa mengimbangi kebutuhan seks kera itu. Mereka sudah sampai ke tahapan saling menikmati hubungan seks mereka dengan frekuensi dan irama yang sama. Kera itu pun sudah mulai ketagihan menyetubuhi wanita cantik itu dan tidak bernafsu lagi terhadap makhluk sesama speciesnya.

Anehnya, Maya pun merasakan hal yang kurang lebih sama. Memang mereka berdua tak bisa saling berkomunikasi secara lisan. Bagaimanapun, selama ia diperistri oleh Wanara telah terjalin tak hanya hubungan fisik melainkan juga hubungan batin. Tentu saja di lain pihak ia pun tak mampu menolak perintah dari Ki Edan. Apapun, statusnya di alam itu adalah tetap sebagai piaraan Ki Edan. Ia harus pasrah dan mematuhi semua yang diperintahkan jin tua itu.

Wanara pun akhirnya mau menerima keputusan tuannya. Apalagi setelah ia diberi tahu bahwa wanita itu tak akan diserahkan kepada sang gendruwo sebelum ia berhasil menghamilinya.

Maka kehidupan kedua makhluk itu berjalan normal kembali seperti semula. Sampai suatu kejadian yang tak masuk akal pun akhirnya terjadilah.

Semakin hari Maya semakin sering merasakan mual. Ia pun semakin lama bisa merasakan adanya kehidupan baru di dalam perutnya… Ya, Maya telah hamil… Wanita itu pun mengabarkan berita itu untuk pertama kali kepada Wanara. Ia tak peduli apakah kera itu mengerti kata-katanya, yang jelas ia terus bercerita tentang kehamilannya. Tampaknya Wanara pun bisa mengerti. Ia pun tampak senang sambil mengelus-elus perut Maya dengan lembut. Mereka berdua pun lalu berciuman mesra.

Maya sebenarnya tak habis pikir, bagaimana bisa ia mengandung bayi seekor kera? Ia dan Wanara berasal dari spesies yang berbeda. Tentulah itu adalah suatu mukjizat yang hanya terjadi sekali di antara beberapa ribu atau bahkan beberapa juta kemungkinan…

Maya dan Wanara merasa gembira karena percintaan mereka ternyata membuahkan hasil. Namun mereka juga sadar bahwa itu menandai semakin berkurangnya hari-hari yang bisa mereka lewati berdua… Karena itulah mereka seolah ingin menikmati setiap detik kebersamaan mereka sebaik-baiknya. Di samping tentu saja sekarang mereka harus lebih berhati-hati dalam berhubungan intim karena adanya bayi yang dikandung oleh Maya…

Semakin hari perut Maya pun semakin besar. Ki Edan dengan penuh pengertian mengurangi pekerjaan yang harus ditangani Maya sehari-hari.

“Terima kasih, Ki..” kata Maya ketika diberitahu Ki Edan hal itu.

“Ya, kau jagalah kandunganmu… dan kauuruslah kera piaraanku,” kata Ki Edan.

“Baik, Ki..” angguk Maya mematuhinya.

Pada waktunya, Maya pun melahirkan bayinya yang berwujud seekor kera sebagai hasil hubungannya dengan Wanara.

Walaupun bayinya adalah seekor kera, naluri keibuan Maya serta-merta muncul. Disayanginya bayi kera itu sepenuh hatinya karena bagaimana pun darah manusianya ikut mengalir pula di dalamnya.

Setelah menyusui bayinya selama enam bulan, Ki Gendeng pun datang menagih janjinya.

Dengan berat hati Maya menitipkan bayinya pada Wanara dan Ki Edan. Lalu dengan pasrah ia mengikuti Ki Gendeng untuk memulai hidup barunya bersama gendruwo itu.

Ki Gendeng adalah gendruwo kelas rendah yang hidupnya di tempat lembab dan gelap. Berbeda dengan Ki Edan yang berasal dari jenis jin tingkat tinggi dan memiliki kecerdasan yang tinggi.

Wujud fisik Ki Gendeng sebenarnya lebih menyerupai monster. Kepalanya mirip kepala babi hutan dengan dua telinga yang besar dan lancip. Serangkaian taring menghiasi mulutnya. Kedua bola matanya besar dan berwarna merah menyala. Tubuhnya pun buncit seperti tubuh babi. Bulu-bulu hitam dan kasar tumbuh mulai dari kepalanya sampai memenuhi punggung dan kedua lengannya. Kedua lengan gendruwo itu panjang dan kekar seperti lengan Wanara, mantan kekasihnya. Kedua kakinya besar dan dilapisi oleh kulit yang tebal bersisik seperti kulit badak. Kakinya yang besar tidak diimbangi oleh panjangnya yang hanya sekitar separuh panjang lengannya.

Ada satu keistimewaan Ki Gendeng yang luar biasa. Penis gendruwo itu ternyata berukuran jumbo. Ukuran dan bentuknya tak jauh beda dengan alat kelamin seekor kuda.

Tak hanya itu, ternyata gendruwo itu pandai pula memanfaatkan ukuran alat vitalnya untuk memuaskan lawan mainnya. Memiliki ukuran penis yang besar, jika tak mampu mengaturnya, hanya akan menyakitkan wanita pasangannya. Dengan Ki Gendeng, Maya tak memiliki masalah itu.

Nafsu birahi Ki Gendeng pun tak kalah tingginya dibandingkan Wanara. Untunglah Maya sudah terbiasa melayani Wanara sehingga ia bisa langsung beradaptasi saat dituntut melayani hasrat seks yang menggebu-gebu dari gendruwo itu.

Perbedaan yang jelas antara Ki Gendeng dan Wanara adalah bahwa Maya bisa berkomunikasi lisan dengan gendruwo itu. Tak jarang mereka berdua terus ngobrol setelah selesai berhubungan badan. Akibatnya tak bisa dihindari, keintiman antara Maya dan Ki Gendeng mulai terjalin. Perlahan-lahan, Maya pun belajar untuk mencintai majikan barunya itu. Kemesraan semakin lama semakin mewarnai hubungan kedua makhluk itu.

Perbedaan lain yang kemudian diketahui Maya adalah bahwa Ki Gendeng tak pernah puas dengan satu orang wanita. Ia tahu kalau gendruwo itu sering masuk ke alam manusia dan mengganggu manusia. Biasanya yang diganggunya adalah ibu rumah tangga yang sedang ditinggal pergi oleh suaminya. Ki Gendeng biasa menyaru sebagai suami si wanita sehingga dengan leluasa menyebadaninya…

Pada awalnya Maya merasa cemburu.

“Saat kau menyebadani wanita-wanita itu, kau harus menyaru sebagai suami mereka… Karena kalau tidak mereka akan ketakutan dan menolakmu…” protes Maya.

“Denganku, kau bisa leluasa memperlihatkan wujud aslimu… dan aku melayanimu sepenuh hatiku…” lanjutnya sambil merajuk.

“Bahkan jika kau mau jujur membandingkan, aku rasa wajahku jauh lebih cantik daripada wanita-wanita yang kautiduri itu…” cerocos Maya tak mau berhenti.

Ki Gendeng tersenyum mendengar celotehan gundiknya yang cemburu itu.

“Semua yang kaukatakan itu benar, Sayangku…”

“Tapi kau harus ingat, bangsa kami memang tak pernah puas menyetubuhi wanita manusia… Setiap ada kesempatan, kami pasti akan melakukannya..”

“Bagaimana pun kau adalah gundikku yang paling istimewa… Kau sengaja kubawa kemari, setelah aku bersusah payah memintamu dari pelukan kera itu…” jelas Ki Gendeng. “Sementara wanita lainnya tak ada yang kuperlakukan seistimewa itu…”

Maya hanya terdiam mendengar penjelasan gendruwo itu. Diam-diam ia membenarkan perkataan Ki Gendeng. Ialah satu-satunya wanita yang beruntung dijadikan sebagai gundik gendruwo itu di alamnya. Wanita-wanita yang lain tetap tinggal bersama suami mereka di alam manusia dan hanya dikunjungi oleh Ki Gendeng sewaktu-waktu.

“Kau juga harus belajar berbagi, Maya…” kata Ki Gendeng mengajari wanita itu.

“Aku harus membagi kenikmatan seksual kepada istri-istri yang kesepian itu… Mereka jarang atau bahkan tak pernah menikmati kehidupan seks bersama suaminya… Karena itulah aku membantu mereka…” kata Ki Gendeng menjelaskan perilakunya.

“Demikian juga halnya dengan kau,” lanjut Ki Gendeng. “Jangan kira kau hanya akan melayani aku sendiri… Nanti kau juga harus belajar melayani teman-teman dan kerabatku sesama gendruwo…”

Maya terkejut mendengar kalimat Ki Gendeng yang terakhir… Melayani gendruwo yang lain?

“Ya, Maya… Tenang sajalah… Pelan-pelan dulu, nanti akan kukenalkan teman-temanku satu per satu kepadamu…” kata Ki Gendeng seolah bisa membaca pikiran wanita itu.

“B.. Baiklah… Ki….” kata Maya tergagap mencoba mematuhinya.

Lambat laun Maya pun memahami konsep berbagi yang diajarkan gendruwo itu padanya. Kini ia tak cemburu lagi jika Ki Gendeng mendatangi wanita-wanita lain untuk disetubuhinya.

Demikian pula dengan dirinya yang mulai belajar untuk tak hanya berhubungan seks dengan Ki Gendeng. Satu demi satu, Ki Gendeng memperkenalkan Maya dengan gendruwo-gendruwo lainnya yang beraneka ragam bentuknya… Ada yang seperti gorila, seperti orang Afrika, seperti serigala, dan lain-lain…

Mulanya Maya memang merasa risih… Namun dengan bimbingan Ki Gendeng yang penuh kesabaran, wanita itu akhirnya mau juga belajar membagi tubuh dan cintanya kepada makhluk-makhluk itu.

Sejak diajari oleh Wanara untuk bersetubuh di muka umum, Maya pun tahu kalau makhluk-makhluk yang kebetulan menontonnya sebenarnya jadi tergiur juga untuk ikut menyetubuhi dirinya. Cuma selama ini memang mereka takut terhadap Wanara dan Ki Edan sehingga mereka sebatas jadi penonton saja, tidak pernah ikut nimbrung.

Bagaimanapun, melihat minat para penontonnya, lama-kelamaan Maya mulai berfantasi disetubuhi juga oleh mereka. Ia mulai membayangkan nikmatnya disebadani oleh lebih dari satu pejantan. Tidak disangkanya kalau sekarang, setelah hidup bersama Ki Gendeng, khayalannya itu malah menjadi kenyataan. Maka Maya pun mulai membiasakan diri terhadap anjuran Ki Gendeng untuk berganti-ganti pasangan dalam bersetubuh.

Apalagi ketika Maya mulai belajar bahwa makhluk-makhluk itu ternyata menaruh hasrat yang sangat luar biasa kepada wanita manusia. Bagi mereka, bersetubuh dengan Maya adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Mereka sangat memuja wanita cantik itu dan menganggapnya seolah-olah dewi seks. Maya jadi tersanjung dan sebagai timbal baliknya, ia merasa berkewajiban untuk melayani mereka sebaik mungkin… Membagi kesenangan dan kenikmatan badani kepada sebanyak mungkin gendruwo yang mungkin selama ini tak semuanya memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung apalagi berhubungan seks dengan wanita manusia.

Beberapa purnama telah berlalu. Sebagai akibat hubungan asmara dengan Ki Gendeng dan kawan-kawannya, Maya pun akhirnya hamil. Ki Gendeng dan gerombolannya tetap setia memberikan nafkah batin kepada Maya sekaligus juga memuaskan nafsu birahi mereka sendiri sampai akhirnya Maya melahirkan bayi hasil benih cinta mereka bersama.

Diberinya nama anak laki-laki itu Dalbo. Anak itu wujudnya mirip manusia namun berbulu lebat di beberapa bagian tubuhnya. Sebagian kulitnya pun terasa keras seperti kulit badak. Saat lahir, seluruh giginya telah lengkap. Inilah bayi ketiga yang dilahirkan wanita itu dari rahimnya. Semuanya memiliki ayah yang berbeda-beda dan dari jenis makhluk yang berbeda-beda pula…

Dengan penuh kasih sayang, Maya menyusui anak ketiganya itu secara rutin. Dilakukannya hal itu di sela-sela kesibukannya melayani hasrat para ayahnya yang tak habis-habis.

Selama hidup di alam gaib, Maya telah mengalami diperistri oleh makhluk-makhluk selain manusia. Mulai dari hewan sampai gendruwo. Dari sisi kehidupan seksual, wanita itu tak mengalami masalah sama sekali. Malah ia merasakan kenikmatan yang lebih daripada saat kehidupannya berumah tangga dengan Sapto. Ia pun merasa beruntung telah mendapatkan pengalaman yang langka tersebut.

Namun, bagaimana pun bervariasinya kehidupan seksnya di alam sana, ia tetap tak bisa melepaskan ingatannya dari Sapto, suaminya yang sah. Hinggap dari pelukan demit yang satu ke demit yang lain memang memberikannya kepuasan seksual yang tiada tara. Namun ia pun tetap merindukan kehidupan normalnya di alam manusia. Ia tahu keberadaannya di alam ini bukanlah karena salahnya, melainkan karena kesalahan suaminya.

Seandainya saja suaminya mau bertobat, ia pun ingin dapat kembali ke kehidupannya yang biasa-biasa saja di alam manusia. Maya pun tentu saja rindu dengan putri satu-satunya di sana. Rasanya sudah lama sekali ia hidup di alam jin ini. Bagaimanakah kiranya kabar dan rupa putrinya itu kini? Masihkah ia ingat akan dirinya sebagai ibu kandungnya?

Di lain pihak, kebetulan pula Ki Edan mendapatkan kabar bahwa Sapto telah melakukan pertobatan. Ia benar-benar telah menyesali segala perbuatannya. Tak hanya itu, ia pun melakukan segala daya upaya untuk mendapatkan istrinya kembali. Dimintanya bantuan seorang kiai untuk melakukan hal itu.

Di alam manusia, Sapto yang sangat stress dan mengalami depresi menjalani kehidupan yang sangat berat. Hampir saja ia mati karena tak kuat menahan cobaan itu sendirian. Untunglah ada seorang Kiai bernama Kiai Badrun yang mau menolong Sapto. Kiai itu kebetulan tinggal di lingkungan yang sama dengan Sapto dan telah mengetahui cerita tentang pria malang itu dari para tetangganya.

Kiai Badrun pelan-pelan membimbing Sapto untuk bertobat dan mulai menjalani perintah agama. Sangat berat usaha yang dilakukannya untuk menolong pria itu walaupun akhirnya berhasil juga. Setelah Sapto berhasil disembuhkannya, barulah mereka mulai fokus untuk menyelamatkan istri Sapto.

Melalui kekuatan batinnya, Kiai Badrun sebenarnya mengetahui persis apa yang telah dialami oleh Maya selama di alam gaib namun ia tak memberitahukan itu sama sekali kepada suaminya. Ia tahu, jika Maya tak segera diselamatkan, wanita itu akan selamanya menjadi budak para dedemit. Karena itu ia berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan istri Sapto itu ke alam asalnya. Paling tidak di alam manusia ini ia akan bisa berusaha membimbing wanita itu sama seperti yang sudah dilakukannya terhadap suaminya.

Ki Edan pun tak bisa berbuat banyak. Jika orang yang mencari pesugihan kepadanya telah benar-benar bertobat, ia tak akan bisa menggunakan kekuasaannya untuk menguasai orang itu lagi. Begitu juga apa yang telah diambilnya dari Sapto, yaitu Maya istrinya, harus pula ia kembalikan.

Karena tak punya pilihan lain, Ki Edan pun menghubungi Ki Gendeng. Diberitahukannya kabar itu dan disarankannya untuk segera merelakan gundiknya pergi karena ia akan diambil kembali oleh suaminya.

Ki Gendeng tentu saja merasa terpukul. Ia telah begitu intim dengan Maya dan bahkan telah mendapatkan keturunan pula dari wanita itu. Ki Gendeng mengatakan pada Ki Edan, kalau Maya diambil, bukan hanya dirinya yang akan kehilangan, melainkan juga seluruh gendruwo pria dalam kaumnya. Itu dapat dipahami karena selama ini Ki Gendeng telah berbaik hati untuk membagi Maya kepada seluruh kerabat dan temannya. Dengan demikian, bukan cuma dia seorang yang mendapat kenikmatan bersetubuh dengan wanita cantik itu, melainkan juga seluruh gendruwo lelaki di dalam kaumnya.

Bagaimanapun Ki Gendeng sadar bahwa ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Pengaruh pertobatan Sapto terasa sangat kuat. Semakin hari semakin kuat. Jika Maya tak segera dikembalikan ke dunianya, risiko yang harus mereka tanggung terlalu besar. Kerajaan dan kekuatan mereka lambat laun akan tergerogoti.

Akhirnya mereka pun sepakat untuk mengembalikan Maya kepada suaminya. Sekedar untuk penghibur, mereka meyakinkan diri mereka sendiri bahwa masih banyak kesempatan untuk mendapatkan lagi wanita manusia yang bisa mereka jadikan sebagai pemuas birahi. Bagaimana pun, memang tak mudah untuk mendapatkan yang secantik, seseksi, dan sepatuh Maya.

Pada waktu yang telah disepakati, Ki Gendeng dan rombongannya mengantarkan Maya kembali kepada Ki Edan. Rombongan yang panjang itu terdiri dari seluruh gendruwo laki-laki yang pernah mengawini Maya selama wanita itu diperistri oleh Ki Gendeng. Maya lalu menitipkan bayi laki-lakinya kepada Ki Gendeng untuk diurus. Kejadian saat Maya harus meninggalkan Wanara untuk dibawa Ki Gendeng seakan berulang. Kini Ki Gendeng lah yang harus ditinggal oleh Maya supaya ia bisa dikembalikan kepada Sapto, suaminya yang sah.

Maya tentu saja ingin dikembalikan kepada suaminya yang sah. Bagaimanapun, di lain pihak ia pun merasa sedih harus meninggalkan gerombolan gendruwo pimpinan Ki Gendeng yang selama ini telah mengurusnya dan memberinya kepuasan seksual. Yang paling membuatnya sedih adalah harus meninggalkan Dalbo, darah dagingnya hasil percampuran dengan gendruwo tersebut.

Saat diserahterimakan kembali kepada Ki Edan, Maya melihat jin tua itu menggenggam sesuatu di tangannya. Sesuatu yang sangat familiar dengannya, yaitu seuntai kalung yang biasa dikenakan oleh wanita itu saat masih tinggal di situ. Kalung yang menandakan pemakainya adalah milik Ki Edan. Ya, walaupun Maya hanya transit di kediaman Ki Edan sebelum dikembalikan kepada suaminya, status dirinya saat itu adalah kembali di bawah kekuasaan Ki Edan. Ia pun dapat memahaminya.

Maka ketika Ki Edan mendekati dirinya untuk menyematkan kalung itu kembali ke lehernya, Maya segera menyibakkan rambutnya yang hitam panjang untuk memudahkan jin tua itu melakukan pekerjaannya.

Setelah berpamitan, gerombolan Ki Gendeng berlalu meninggalkan kediaman Ki Edan. Ki Edan pun membawa Maya masuk ke rumahnya yang telah ditinggalkan oleh wanita itu selama beberapa lama.

Pandangan Maya menerawang menjelajahi rumah jin tua yang eksotis itu. Ada nostalgia yang muncul kembali di benaknya. Secara fisik tak banyak yang berubah. Hanya ada suasana berbeda yang dirasakannya. Ada semacam keheningan dan kekosongan…

Ki Edan bisa merasakan apa yang ada dalam pikiran Maya.

“Wanara sekarang tak ada di sini lagi. Ia sudah kukirim kembali ke alam manusia….” kata Ki Edan.

Maya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ki Edan. Ia mengerti sekarang kenapa suasana di situ dirasanya lebih sepi. Itu menjelaskan semuanya.

“Ia gelisah terus sejak dirinya kautinggalkan. Karena itulah kuiizinkan ia bersama anak kalian pergi ke alam manusia,” lanjut Ki Edan. “Harapannya, ia dapat menemukan wanita lain sebagai pengganti dirimu. Ia telah ketagihan menyetubuhi wanita manusia. Jika di sini terus, tentu ia tak akan mungkin melakukannya…. Aku hanya berharap ia berhasil menemukan jodohnya di sana…”

Maya hanya tercenung mendengar penjelasan Ki Edan. Ada sedikit perasaan bersalah tersirat di dalam hatinya. Apa daya, waktu itu ia hanya menjalankan perintah dari Ki Edan sebagai tuannya. Maya hanya bisa berharap kera itu segera menemukan wanita lain di sana. Kalau tidak, mungkin ia terpaksa mencari mantan kekasihnya itu saat sudah dikembalikan Ki Edan ke alam yang sama.

Maya sadar ia masih memiliki perhatian pada mantan kekasihnya itu. Ia ingin tahu bagaimana kondisi mantan belahan jiwanya itu sekarang. Jika ia baik-baik saja dan telah menemukan wanita lain yang bisa dijadikan sebagai pemenuh kebutuhan birahinya, ia akan merasa turut senang. Jika tidak, ia ingin sekali dapat menghiburnya dan memberikan tubuhnya kembali untuk disenggamai oleh kera yang malang itu sebagai pemuas dahaganya untuk sementara saja, sampai ia mendapatkan penggantinya. Bukannya ia tak mau hidup bersama Wanara lagi tapi di alam manusia sana ia telah mempunyai Sapto sebagai suaminya.

“Lalu, bagaimana dengan anakku…?” Naluri keibuan Maya segera muncul kembali.

“Jangan khawatir… Wanara akan menitipkannya kepada keluarganya untuk diurus dengan sebaik-baiknya… sementara ia melakukan pencariannya….”

Sedikit banyak Maya merasa lega mendengar penjelasan itu.

Maya lalu mohon izin kepada Ki Edan untuk mandi karena ia baru saja bersih kembali dari haidnya.

Satu hal yang tak disadari Maya, bahwa Ki Edan telah berubah… Saat itu Ki Edan telah merampungkan ilmunya. Sekarang ia tak perlu lagi menahan nafsu birahinya. Ia sekarang sudah lebih sakti dan dapat kembali ke sifat asalnya yang senang mengumbar birahi….

Maya yang tak menyadari itu membiarkan saja ketika Ki Edan menatapinya selama ia mandi di pancuran. Ia sudah terbiasa bugil dan mempertontonkan keindahan tubuhnya di hadapan tuannya itu.

Ki Edan baru menyadari betapa cantiknya Maya. Timbullah keinginannya untuk juga melampiaskan birahinya kepada wanita itu.

“Maya, kau cantik sekali…” desah Ki Edan mengutarakan kekagumannya.

“Ada apa, Ki…?” tanya Maya keheranan sambil berdiri di bawah pancuran. “Kau telah begitu baik kepadaku selama ini… tapi rasa-rasanya kau jarang memujiku seperti itu….”

“Aku telah berbuat baik kepadamu…?” tanya Ki Edan seolah meminta penjelasan.

“Ya, Ki… Kau telah mencarikanku jodoh selama tinggal di sini dan mengajariku banyak hal…” jelas wanita itu sambil tersipu.

“Aaah… itu bukan apa-apa, Sayangku…” kata Ki Edan. “Memang itulah salah satu tujuanku membawamu kemari…”

“Kau suka dengan apa yang telah kulakukan padamu selama ini?”

Maya mengangguk sambil tersenyum.

“Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, Ki…”

“Yaitu?”

“Mengapa kau tiba-tiba memujiku…”

“Maya, aku ingin kau tahu satu hal…”

“Aku telah menyelesaikan ritualku… Kini aku semakin sakti… dan dapat menyalurkan hasrat seksualku lagi seperti biasa…” lanjut Ki Edan.

Mata Maya terbelalak mendengar penjelasan itu. Entah kenapa rasanya ia senang sekali mendengarnya. Tanpa berkata apa-apa, Ki Edan pun berjalan mendekati wanita itu. Keduanya saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seakan ada suatu kontak batin yang kuat sedikit demi sedikit terjalin di antara mereka berdua. Lalu entah siapa yang memulai, tiba-tiba kedua makhluk itu pun saling berpelukan dan berpagutan di bawah pancuran…

Momen yang terjadi sekilas dan tiba-tiba itu ternyata membawa Maya ke suatu titik balik. Suatu hal besar yang di luar pemikiran dan perkiraannya telah terjadi. Hal itu tiba-tiba terlintas di dalam benaknya. Membuatnya tiba-tiba mampu membuat suatu keputusan berani yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya.

“Ki, bawalah aku…” tiba-tiba Maya berkata setelah mereka berciuman beberapa lama.

“Aku rela tidak kaukembalikan kepada suamiku… asal bisa mengikuti dan mengabdikan diriku padamu…” katanya mantap sambil menatap ke arah mata tuannya yang sekaligus ia harapkan mau menjadi kekasihnya pula…

Maya baru sadar bahwa ia sebenarnya telah mengagumi jin tua yang gagah perkasa itu sejak pertemuan pertama mereka. Sekarang ia baru sadar bahwa ternyata ia juga mencintainya dan rela dijadikan sebagai apa pun olehnya.

Ki Edan balas menatap dalam-dalam mata wanita yang berada dalam pelukannya itu. Dilihatnya pancaran mata yang tulus dan jujur dari seorang wanita yang tengah jatuh cinta….

“Sayang… aku tahu perasaanmu… Hanya saja untuk sementara ini aku terpaksa mengembalikan dirimu kepada suamimu. Ada banyak konsekuensinya jika itu tidak kulakukan…” Ki Edan mencoba menjelaskan.

Ada gurat kekecewaan tergambar dalam mata wanita itu. Ki Edan bisa melihatnya dengan jelas.

“Tapi jangan khawatir… Sebelum kau kukembalikan kepada suamimu, kita tetap bisa menjalani malam pengantin bersama…” hibur Ki Edan.

“Oooh… Ki…” desah Maya.

Mereka pun berpelukan erat di bawah pancuran air.

Tak sulit bagi Ki Edan untuk membimbing Maya supaya mau melayaninya sehingga ia akhirnya berkesempatan menuntaskan nafsunya pada wanita cantik itu. Kebetulan Maya pun sedang berada di puncak birahinya karena baru memasuki masa subur.

Di ruangan pribadi Ki Edan yang bernuansa hutan, kedua makhluk berbeda alam itu pun memadu kasih seperti layaknya sepasang pengantin baru. Maya seakan baru tersadar bahwa inilah sebetulnya saat yang ditunggu-tunggunya sejak pertama kali ia dibawa ke alam jin.

“Ki Edan, akhirnya kita bisa bersatu juga…” desah Maya yang terbaring pasrah tak berdaya dalam pelukan Ki Edan.

“Sejak pertama bertemu denganmu… aku sudah ingin merasakan kejantananmu…” jelas Maya membuka rahasianya.

“Walaupun keramu yang terlebih dahulu mendapatkan diriku… Aku lega karena akhirnya kita pun bisa bersetubuh di ranjang ini…” kata Maya mencurahkan isi hatinya.

“Maya….” balas Ki Edan haru sambil memagut bibir wanita itu. Mereka pun berciuman dengan dalam seperti sepasang kekasih yang sudah lama terpisahkan…

Ki Edan menyisipkan penisnya yang berukuran besar ke dalam vagina Maya. Wanita itu menahan nafas. Ia menantikan kenikmatan yang sudah lama diidam-idamkannya. Maya merasa badannya bergetar saat penis Ki Edan bersatu secara utuh dengan vaginanya… Untunglah Maya sudah terbiasa melayani Ki Gendeng dan teman-temannya. Kebetulan gendruwo-gendruwo itu semuanya memiliki ukuran penis yang besar melebihi ukuran penis manusia. Bagaimanapun penis Ki Edan memang masih lebih besar lagi…

Setelah Maya terbiasa menerima alat kelamin Ki Edan di dalam tubuhnya, jin itu pun mulai menggenjotnya. Maya pun menikmati setiap detik dari persenggamaan mereka.

Keduanya menjalani persenggamaan seperti layaknya sepasang pengantin baru. Seperti sudah diduga oleh Maya, Ki Edan adalah pecinta yang sangat hebat di atas ranjang. Dengan pengalamannya yang sudah mencapai ribuan tahun, dibawanya Maya ke puncak orgasme sampai berulang-ulang dengan berbagai teknik yang membuat wanita itu terkagum-kagum.

Hingga saat Maya sudah kelelahan dalam kubangan orgasme yang datang beruntun, Ki Edan memberi kesempatan wanita itu untuk beristirahat sejenak. Masih dengan alat kelaminnya yang tegang tertancap teguh di dalam kemaluan Maya, jin tua itu mendekatkan wajahnya ke wajah Maya yang ada persis di bawahnya.

“Maya, kinilah saatnya…. aku titipkan keturunanku di dalam rahimmu…”

“Baik, Ki… anak kita berdua…” balas wanita itu dengan mesra.

“Aku berjanji… aku berjanji akan merawatnya sebaik mungkin… Lepaskanlah… lepaskanlah spermamu ke dalam rahimku, Ki” kata Maya memohon.

“Tentu, gendakku….” balas Ki Edan sambil meningkatkan genjotannya yang membuat kemaluan Maya terasa semakin panas… Akibatnya, orgasme yang beruntun pun tak terelakkan lagi menerpa tubuh wanita itu… Maya pun merasa semua tulang belulangnya bercopotan. Suasana yang memabukkan menghempas dirinya yang bugil dalam pelukan jin tua itu….

“Ooooouuuuu….uuuuhhh…..” desah wanita itu berkepanjangan sambil satu tangannya meremas seprai ranjang tempat mereka memadu kasih. Sementara tangannya yang lain mendekap tubuh besar jin tua itu yang menindih tubuhnya.

Tak lama kemudian, Maya pun merasakan jin itu melepaskan semprotan air maninya ke dalam rahimnya.

Ki Edan melenguh panjang. Maya pun tersenyum bahagia dengan lebarnya. Mereka lalu saling berpagutan sambil berpelukan. Beberapa lama mereka berdua terpaku dalam posisi Ki Edan menindih tubuh Maya. Kedua alat kelamin mereka masih bersatu. Cairan sperma jin tua itu tampak mengalir keluar dari dalam vagina Maya saking banyaknya… Membasahi seprai putih yang mereka tiduri.

Ki Edan puas karena akhirnya ia berhasil pula mencicipi tubuh Maya walaupun terlambat. Ia pun sebetulnya masih ingin lebih jauh lagi menikmati wanita itu. Apa daya tuntutan dari suaminya yang telah bertobat harus dipenuhinya terlebih dahulu.

Bagaimanapun, Ki Edan sadar bahwa walaupun Sapto sekarang telah kuat, kebalikannyalah yang terjadi dengan istrinya. Istrinya memang tidak pernah meminta pesugihan. Namun pengalamannya hidup di alam gaib dan diperistri oleh berbagai macam makhluk tentulah sedikit banyak telah membawa pengaruh.

Maya yang sekarang berbeda dengan Maya yang dulu pada saat ia diambil dari sisi suaminya. Wanita itu kini telah terbuka matanya terhadap semua ajaran dan praktek kebebasan seksual yang dilakukan oleh bangsa demit dan jin. Ia telah menjadi bagian dari mereka. Apalagi Maya pun telah melahirkan anak-anaknya di alam gaib ini. Ini membuat ikatan yang kuat antara wanita itu dengan alam ini.

Karena alasan itulah, Ki Edan percaya sepenuhnya dengan pengakuan Maya yang tulus sebelum mereka memulai persetubuhan tadi.

Ki Edan percaya bahwa dia masih akan bisa bersua kembali dengan Maya di lain kesempatan. Itu pula sebabnya ia begitu percaya diri untuk menitipkan spermanya di dalam rahim wanita itu. Ia tak mau ketinggalan dari para hamba pengikutnya yang telah mendapatkan keturunan dari wanita cantik yang subur itu. Setiap makhluk di alam jin itu akan naik derajat dan wibawanya jika berhasil mendapatkan keturunan dari seorang wanita manusia. Untunglah mereka melakukan persenggamaan itu bertepatan dengan mulainya masa subur Maya… Harapannya, jika Maya telah kembali kepada suaminya, ia akan hamil dan melahirkan anak sebagai hasil hubungan cinta mereka malam itu.

Dua hari dua malam Ki Edan menyetubuhi Maya. Kamar tidur Ki Edan pun menjadi saksi bulan madu dari pasangan yang sedang dimabuk kepayang itu. Saat itulah Maya sadar bahwa hidupnya telah ditakdirkan untuk sepenuhnya menghamba kepada jin tua yang perkasa itu.

Walau apa pun yang telah terjadi dalam waktu yang singkat itu, Ki Edan adalah makhluk yang mau menepati janjinya. Setelah puas menikmati malam pengantinnya bersama Maya, Ki Edan mengingatkan wanita cantik itu untuk bersiap-siap. Hari itu ia akan mengembalikan wanita itu kepada suaminya.

Ki Edan dan Maya berjalan berpegangan tangan menyusuri gua persemedian Ki Edan. Udara dalam gua itu semakin ke dalam semakin dingin. Maya yang tubuhnya tak dilapisi sehelai kain pun merasa merinding. Hari itu Ki Edan akan menepati janjinya untuk mengembalikan Maya ke alam manusia.

Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, sampailah mereka ke sebuah kolam yang bening di dalam gua itu. Kolam yang cukup besar itu begitu tenang airnya. Ribuan stalagtit dan stalagmit tampak mengitarinya.

Ki Edan menyuruh Maya untuk mengambil posisi semedi di atas sebuah batu besar di tengah kolam itu.

“Duduklah di atas batu itu dan bersemedilah, supaya aku bisa mengembalikanmu ke alam manusia..” kata Ki Edan.

“Baiklah, Ki…. Aku pamit dulu untuk kembali ke duniaku,” kata Maya.

Maya mencium tangan Ki Edan sebelum melakukannya. Ki Edan pun lalu meraih wajah Maya dan memagut bibirnya lama. Tubuh keduanya pun berdekapan erat.

Saat berdekapan, Maya merasa penis Ki Edan tumbuh membesar… Ia tahu, jin itu terangsang karena bersentuhan dengan tubuh telanjangnya… Maya pun merasakan getaran birahi yang sama. Wanita itu lalu dengan sengaja menggoda dan merangsangi kembali majikannya dengan cara menggerak-gerakkan badannya di dalam pelukan jin itu sampai birahinya benar-benar naik.

“Ki… Kumohon, setubuhilah aku untuk yang terakhir kalinya….” pinta Maya dengan penuh harap.

Maka di tempat itu, Maya yang sudah memasrahkan dirinya kembali disetubuhi si jin tua. Selain menyimpan spermanya ke dalam rahim Maya yang subur, Ki Edan pun sempat mengguyurkan spermanya yang luar biasa banyaknya itu ke sekujur tubuh Maya.

Maya yang sudah telanjur jatuh cinta kepada jin tua itu masih merasa sulit untuk berpisah dengannya. Wanita itu terus memeluk Ki Edan yang baru saja menyetubuhinya. Setelah Ki Edan menyetubuhinya untuk yang kedua kalinya dan berjanji untuk menemuinya lagi saat ia telah kembali ke alam manusia, barulah Maya bersedia untuk berpisah.

“Maya, karena keberadaanmu di sini adalah karena ulah suamimu dan sekarang suamimu telah bertobat, maka aku berkewajiban untuk mengembalikanmu sekarang,” jelas Ki Edan.

“Tapi setelah kau kembali ke duniamu, aku akan menemuimu lagi,” janji Ki Edan. “Dan jika saat itu kau masih tetap ingin ikut denganku dan mengabdi padaku, tak ada lagi yang bisa menghalangi kita.”

“Hubungilah aku, Ki…. Temuilah aku…. Aku akan merindukanmu…” Maya memohon penuh harap.

“Aku berjanji akan mengikutimu bila kau datang menjemputku kelak….” kata wanita itu memastikan niatnya pada kekasihnya.

Ki Edan tersenyum penuh makna mendengar janji gendaknya yang cantik rupawan itu.

“Sesampainya di sana, mungkin kau akan melupakan semua yang telah terjadi di dunia gaib ini… tapi aku akan menghubungimu,” jawab Ki Edan.

“Aku tak akan membersihkan sperma hasil persetubuhan kita yang terakhir ini… Mudah-mudahan sesampainya di alamku aku masih akan mengingatmu dengan melihat ini semua…”

Ki Edan kembali tersenyum mendengar kesetiaan gundiknya. Dalam hati ia meneguhkan niatnya untuk menghubungi Maya kembali. Akhirnya tibalah saat perpisahan. Ki Edan melepaskan kalung yang melingkar di leher Maya yang selama ini menandakan wanita itu adalah miliknya. Dalam dadanya, Maya merasa sesak karena ada perasaan tak rela…

Tanpa berkata-kata lagi, Ki Edan pun bergerak menjauh. Tinggallah kini wanita itu sendirian.

Maya duduk di atas batu itu dan bersemedi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dan meletakkannya di depan dadanya.

Matanya terpejam dan dikosongkannya pikirannya. Cukup lama ia berada dalam keadaan bugil di posisi itu sampai di sekelilingnya terasa gelap. Perlahan-lahan, terasa air kolam seperti meningkat naik dan menyelimuti dirinya. Anehnya ia tetap dapat bernafas. Seolah ada suatu selaput gaib yang menyelubungi dirinya. Sementara air di sekelilingnya terasa berputar perlahan-lahan mengelilingi dirinya. Makin lama makin kencang.

Maya merasa ia tenggelam di pusaran air. Pusingan air membuat kepalanya menjadi pening. Tak lama kemudian ia tak sadarkan diri.

Sapto pun menemukan kembali istrinya yang sudah lama hilang. Kiai Badrun yang selama ini membantu Sapto untuk bertobat dan berusaha mengambil kembali istrinya, sebelumnya telah mengingatkannya untuk bersiap-siap pada malam itu. Berdasarkan penerawangan gaibnya ia tahu istri Sapto akan dikembalikan malam itu.

Sapto terkejut ketika mendengar suara guntur menggelegar seperti tepat di dalam rumahnya yang kecil. Bumi pun terasa bergoyang selama beberapa detik… Tengah malam itu ia sedang berkontemplasi sambil berjaga-jaga. Seberkas cahaya yang sangat terang berkelebat dari dalam kamar mandi. Didapatinya Maya tergolek tak sadarkan diri di lantai kamar mandi dalam keadaan basah kuyup terbungkus selaput kental di sekujur tubuhnya yang bugil. Lapisan itu terasa seperti lendir…. seperti sperma sapi… hanya dalam jumlah yang sangat banyak…. Sapto tak tahu benda apa itu.

Yang dikhawatirkannya saat itu hanyalah kondisi istrinya. Dilihatnya istrinya tak bergerak. Ia takut kalau-kalau istrinya telah mati. Ia sangat bersyukur ketika mendapati jantung istrinya masih berdetak. Ia hanya pingsan.

Sambil menunggu istrinya bangun, pelan-pelan dibersihkannya tubuh istrinya dari lendir yang lengket itu. Dibasuhnya dengan air bersih dan sabun lalu dikeringkannya. Dibopongnya tubuh yang lunglai itu ke atas tempat tidur. Diambilnya gaun tidur istrinya yang sudah lama tak digunakan lalu dikenakannya dengan hati-hati.

Tak lama kemudian, Maya pun terbangun dari tidur panjangnya. Dilihatnya suaminya berada di sampingnya.

“Mas Sapto…” seru Maya lemah sambil berusaha bangkit. Badannya terasa lemas semua.

“Sayangku…,” sambut Sapto yang dari tadi duduk di sampingnya. Dipeluknya tubuh istrinya yang terasa tak bertenaga. Ditumpahkannya kerinduannya yang telah lama ditahannya.

“Maafkan aku, sayang… Maafkan…” Sapto meminta maaf pada istrinya sambil terisak-isak.

“Ada apa, Mas… Apa yang telah terjadi…?” desah Maya kebingungan. Ia rasanya seperti baru kembali dari tidur yang panjang. Rasanya seperti orang linglung. Tak ada satu pun pengalamannya di dunia gaib sana yang diingatnya. Tubuhnya lemas bukan main. Seluruh tulangnya serasa bercopotan. Capek sekali…

Sekilas ia ingat dibawa pergi oleh sesosok makhluk gaib yang mengerikan sebagai tumbal pesugihan suaminya. Itu saja…. Mengingat itu Maya pun menangis… Lalu mengapa sekarang ia bisa berada di sini? Apakah semuanya hanya mimpi?

“Mas… Bagaimana ini bisa terjadi…? Kau sudah…?” isak Maya terbata-bata. Sekilas wanita itu melihat perbedaan pada suaminya. Wajahnya seperti jadi lebih rapi, lebih bercahaya dan bijaksana. Apakah suaminya telah berubah?

“Jangan khawatir, sayang… Semuanya sudah usai… Sudah usai… Tak perlu kaupikirkan lagi…” kata Sapto sambil menangis.

Sepasang suami isteri itu pun saling berpelukan melepaskan kerinduan. Mencoba melupakan masa lalu. Sambil berusaha bangkit untuk memulai hidup baru….

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Moci, Simpanse Tersayang

Copyright 2001, by 17th.com

(Wanita dan Simpanse, Wanita dan Anjing, Biseksual)

Namaku Herlin. Aku adalah seorang pegawai swasta di sebuah perusahaan jasa kontraktor di Sorong, Irian Jaya. Ibuku dari Solo dan Papa dari Manado. Sudah hampir 4 tahun aku tinggal di Sorong, Irian Jaya. Tadinya aku sekedar ikut suamiku yang kebetulan Pegawai Negeri di Dinas Kehutanan yang dipindahkan bertugas di Sorong. Daripada menganggur, setahun setelah kami pindah aku melamar kerja dan ternyata diterima. Mas Johan, suamiku pun tidak keberatan kalau aku bekerja. Hitung-hitung cari pengalaman, katanya.

Kisahku ini mungkin agak menggelikan dan menjijikkan, tetapi ini bukan basa-basi loh..! Di kota yang terbilang indah tetapi sepi ini, aku mempunyai seorang teman akrab, Susan namanya. Susan itu istri Marcel, teman sekantor suamiku. Nah, jika suamiku dan Marcel sedang tugas di luar Sorong, biasanya Susan menginap di rumahku. Atau kadang aku yang menginap di rumahnya. Kami pun jadi sangat akrab seperti saudara. Maklum, kami juga sama-sama belum dikaruniai anak, jadi rasa senasib terasa benar di antara kami.

Cerita ini berawal saat bulan Juni 2 tahun lalu, Mas Johan dan Marcel, suami Susan dapat panggilan pendidikan di Denpasar. Kami pun memutuskan bahwa aku lah yang harus menginap di rumah Susan selama dua minggu. Hari-hari pertama tidak ada yang ganjil bagiku. Rumah Susan menyenangkan. Maklum suaminya yang hobi mengoleksi hewan langka begitu pandai menata rumahnya.

Ada dua binatang kesayangan Marcel yang juga kesayangan Susan. Blacky si anjing herder jantan dan Moci si simpanse, jantan pula. Blacky anjing yang pintar dan Moci pun Simpanse yang cerdik, jadi mereka tetap akur. Saking sayangnya Susan dan Marcel pada mereka, mereka dibiarkan terlepas tidak terikat, apalagi dikurung.

Nah, suatu sore, sepulang aku dari kantorku, aku langsung mandi. Susan yang katanya lagi kangen berat sama Marcel tengah asyik nonton VCD. Tidak tahu apa filmnya, tetapi yang jelas Susan suka drama yang romantis. Usai mandi aku menemani Susan menonton VCD. Tentu saja Moci dan Blacky setia menemani kami.

“Wuih seriusnya. Film apaan sih San..?” tanyaku.

“Dramanya Robert de Niro nih, Lin. Lagi seru. Eh, tadi si Ivon kemari ngasih titipan buat kamu, tuh ada di meja tengah..!” jawab Susan sekaligus memberitahuku kalau si Ivon memberikan titipan.

Ivon itu kenalan baruku, pemilik Salon Ivon. Dan ternyata yang dibawanya adalah titipan Mas Johan, VCD porno, he.. he.. he..!

“Apaan tuh Lin..?” tanya Susan saat aku membuka koran bungkusan VCD itu.

“Eh, ini San.. titipannya Mas Johan. Film BF..” jawabku sekenanya.

Tanpa basa basi, Susan langsung merebut 3 keping VCD porno itu dari tanganku.

“Kita nonton yuk..! Buat hiburan..” katanya.

Yah, sore itu 3 film BF kami lihat bersama-sama, Moci dan Blacky seperti biasa menemani kami di dalam kamar.

Malam harinya, setelah makan malam, rasanya aku mengantuk sekali. Aku pun langsung tidur. Aku terjaga sekitar pukul 12 malam, biasa, kebelet pipis. Eh, tiba-tiba aku sadar kalau si Susan tidak ada di sisiku. Kemana ya..? Ah, aku langsung saja ke kamar mandi untuk pipis. Setelah itu baru aku cari Susan. Aku mencarinya hingga ke dapur tetapi tetap tidak ada.

Aku sedikit tersentak ketika melihat bayangan di ruang kerja Marcel. Aku juga mendengar erangan Susan. Sepertinya lagi dilanda birahi yang sangat tinggi. Aku mendekat ke arah pintu ruangan itu, dan kuintip dari lubang pintu. Astaga, dalam keremangan itu aku melihat Susan yang sudah tidak berbusana tengah dicumbui oleh Moci, simpanse kesayangannya.

“Ohh.. hsst.. nggghh.. Moci sayankhhh..” ceracau Susan tidak karuan.

Moci yang tingginya sekitar 160 cm dan berbadan besar itu tengah mengarahkan mulutnya ke selangkangan Susan. Susan sendiri matanya terpejam dan mengangkangkan kakinya sambil tiduran. Ihh serem..!

Aktifitas Moci makin menggila. Susan dibopongnya dan dibantingnya kembali ke sofa sehingga posisi Susan jadi membelakanginya. Lalu.. wow..! Batang penis Moci yang sudah mekar membesar itu langsung disodokkan ke arah liang senggamanya Susan.

“Ahhh.. hhsst… ayoo Moci..!” perintah Susan. Bagaikan budak yang baik, Moci langsung memompa pantatnya maju mundur sehingga batang kemaluannya yang berbulu menerobos masuk keluar vagina Susan.

“Oarghhk.. rgggkkk..” Moci mengerang ganas.

Susan terpontang-panting, kepalanya bergoyang-goyang. Kupikir, pastilah Susan merasakan kenikmatan luar biasa dari penis Moci. Aku yang melihat adegan Moci dan Susan menjadi tidak kuasa menahan gejolak yang mulai menjalari tubuhku.

Ah.. bersetubuh dengan hewan..? Tanpa sadar aku meraba-raba sendiri payudaraku. Lalu tanganku menyusup ke selangkanganku yang memang sudah tidak terbungkus (kalau tidur aku memang malas pakai CD dan Bra).

“Ooohh.. nikmatnya..” sambil mataku tetap memandangi tubuh Susan yang tengah digagahi Moci.

Tapi tiba-tiba aku dikejutkan oleh jilatan-jilatan halus di betisku. Astaga.. si Blacky tengah menjilati betisku. Aku ingin marah tetapi saat itu aku merasa kenikmatan tersendiri dari lidah Blacky. Aku pun membiarkan Blacky menjilati betisku dan mataku kembali ke lubang pintu, melihat Susan dan Moci.

Susan kini sudah ganti posisi. Kulihat dia telentang di sofa, sementara Moci menggenjotnya dari atas.

“Teruuss, Moci sayang.. aku kenikmataaann niiih..!” desah Susan.

Pemandangan di dalam ruang kerja Marcel itu membat birahiku segera memuncak. Apalagi jilatan Blacky sudah mulai naik hingga ke belahan pantatku yang memang menjorok ke belakang, karena aku sedang mengintip. Blacky nampaknya tengah birahi pula, pikirku.

“Hiissst.. Blacckkiiih..” desahku tanpa sadar.

Blacky memang pintar menaikan birahiku. Daerah betis hingga belahan pantatku terus saja dijilati lidahnya yang berstruktur agak kasar. Lama-lama aku sudah tidak konsentrasi lagi dengan Susan dan Moci.

Aku melangkah perlahan ke kamar tidur, sedangkan Blacky terus mengikutiku sambil menjilati pahaku. Kadang jilatan itu sampai juga ke vaginaku yang mulai berlendir. Aku duduk di tepi ranjang dengan kaki ternganga lebar. Kubiarkan Blacky kini menjilati vaginaku dengan leluasa.

“Lakukanlah Black.. aku milikmu sayang..!” rintihku.

Blacky semakin agresif menjilati vaginaku. Yang kurasakan saat itu tulang-tulangku seakan luluh lemas dan ingin segera menuju puncak kenikmatan.

“Ohhh.. Black.. sssttt.. yyeaahh..” desahku nikmat.

Kemudian mendadak Blacky berhenti beraksi.

“Grrrhhkkk..” dia menggumam seperti marah padaku.

Mulanya aku agak takut tetapi aku segera mengerti. Blacky rupanya ingin cepat-cepat menyetubuhiku. Aku pun segera turun dari ranjang dan merangkak membelakangi Blacky. Tidak lama kemudian Blacky mengangkat dua kaki depannya dan menekan pinggangku. Kini posisi kami layaknya sepasang anjing yang akan kawin.

“Auuhhhssstt.. ohhh..” desahku ketika merasakan ada benda yang agak kasar menerobos masuk di lubang senggamaku. Blacky memang sudah birahi dan langsung memompa kemaluanku dengan batang kemaluannya yang dua kali lebih besar dari milik Mas Johan suamiku. Vaginaku terasa sesak dan penuh oleh kemaluan anjing Herder itu.

Lima belas menit kemudian.

“Ohhh.. Blacky sayanggkkkhh.. aku keluar sayanghkkk..” teriakku histeris saat merasakan seluruh otot vaginaku berkontraksi cepat. Yaaa, aku orgasme. Tidak lama kemudian aku terkulai lemas seperti bersujud. Blacky masih aktif memompaku. Aku tersadar, kini posisi Blacky membelakangiku. Kami saling adu pantat, dengan kelamin bertemu (seperti anjing kawin itu lho).

Dalam keadaan tak berdaya, tiba-tiba pintu terbuka dan kudengar suara teriakan Susan.

“Ehh.. Herlin.. Kamuu..?” Susan kaget saat mendapatiku dalam posisi kawin anjing begitu.

Aku pun kaget tapi kupikir tak ada yang perlu disembunyikan. Aku tahu Susan pun melakukan hal yang sama dengan Moci.

“Kamu juga kan San..? Sama si Moci..?” jawabku kelelahan.

Susan pun tersenyum penuh pengertian.

“Mmmh, tadi kamu lihat aku ya…?”

Susan mendekatiku. Dibelainya rambut dan tubuhku yang masih nungging lemas tak berdaya. Tampak jelas ia mengamati dengan kagum penis Blacky yang terkunci di dalam vaginaku. Aku pun merasa tenang dan puas.

Ketika alat kelaminku dan Blacky akhirnya terpisah, aku dan Susan saling berciuman seperti sepasang kekasih. Padahal, sumpah, kami tak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya…! Karena sama-sama capek, kami berdua tidur berangkulan dalam kondisi bugil.

Paginya kami mandi berdua membersihkan sisa persetubuhan kami dengan hewan-hewan piaraan Susan dan Marcel. Awalnya Susan cuma pamit padaku saat akan pergi ke kamar mandi tapi, entah gimana, spontan aku berkata.

“San, kita mandi bareng aja yuk…?”

Susan cuma membelalakkan matanya sambil tersenyum lebar. Ia pun langsung mengiyakan dan menarik lenganku untuk bangun dari tempat tidur. Sambil mandi, tak lupa kami kembali saling bercumbu dan memuaskan hasrat seks kami. Kali ini Moci dan Blacky tentu saja tak ikut serta.

Sejak saat itu, selama dua minggu suami kami pergi pendidikan ke Denpasar, kami selalu dapat menuai kenikmatan dari binatang kesayangan Marcel dan Susan itu. Di samping kami berdua pun mulai menikmati hubungan lesbian kami. Yah.. hitung-hitung selingkuh tidak berisiko lah..!

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Nafsu Tabu Anjing Siluman

Copyright 2003, by Mario Soares

(Paranormal – Wanita dan Anjing Siluman, Selingkuh)

(Telah dimuat di Tabloid ‘GHAIB’ edisi 103, 29 Maret – 04 April 2003)
Ratri adalah seorang ibu muda berusia 23 tahun yang tinggal di sebuah desa kecil di bagian selatan Jawa Barat. Ia mengikuti suaminya yang bertugas di sana. Ia sendiri sebenarnya sejak kecil sampai kuliah terbiasa hidup di kota besar.

Pekerjaan suaminya sebagai aktivis sebuah LSM yang menangani community development mengharuskannya pergi ke pelosok-pelosok. Karena itu, wajarlah jika dalam seminggu Ratri harus ditinggal pergi oleh suaminya minimal selama tiga hari. Itu pun sudah lumayan karena Ratri telah memutuskan mengikuti suaminya untuk tinggal di desa yang masih berada di dalam wilayah kerja suaminya. Dengan demikian, perpisahan antara mereka berdua dapat diminimimalkan.

Di desa itu, mereka menempati sebuah rumah sederhana yang disewa dari penduduk setempat. Daerah yang mereka huni masih cukup terbelakang dan belum dimasuki oleh listrik. Suasana yang sepi dan tetangga yang letaknya cukup berjauhan sebenarnya cukup membuat Ratri merasa tersiksa namun apa hendak dikata. Sebagai seorang istri, ia merasa wajib mengikuti suaminya ke mana pun ia pergi.

Saat-saat yang menyenangkan tentu saja adalah ketika mereka berdua saja di rumah mereka yang terpencil itu dan melakukan kegiatan suami istri. Maklumlah, mereka baru saja menikah beberapa bulan sebelumnya. Jadi boleh dikata masih pengantin baru. Belum adanya kehadiran anak-anak membuat kegiatan seksual menjadi hiburan utama mereka saat bersama-sama. Sayangnya kegiatan itu tak dapat mereka lakukan terlampau sering disebabkan kesibukan tugas sang suami.

Kebahagiaan rumah tangga mereka tampaknya akan terus berlanjut, sampai satu ketika datanglah ujian menimpa diri Ratri. Tempat tinggal mereka yang terpencil ternyata sebenarnya merupakan tempat yang cukup angker dan menyimpan misteri-misteri gaib. Kejadian berikut merupakan bukti hal tersebut.

Malam itu, sekitar pukul delapan, Ratri bersiap-siap untuk pergi tidur. Di desa kecil, waktu seperti itu sebenarnya sudah terbilang sangat larut. Ia hanya sendirian saja di rumah. Suaminya telah pergi pagi tadi dan baru akan kembali esok sorenya. Penerangan yang ada hanya berasal dari dua buah lampu tempel yang berbahan bakar minyak tanah.

Ratri mengenakan gaun tidurnya yang berwarna putih. Senada dengan warna kulitnya yang juga putih bersih. Seperti biasa, ia mengunci seluruh pintu termasuk pintu kamar tidurnya. Setelah membersihkan tubuh dan menyisir rambutnya, ia menyiapkan tempat peraduannya.

Baru saja ia berada di pinggir tempat tidur, tiba-tiba dirasakannya seolah udara di dalam kamar berubah menjadi dingin. Ratri terdiam sejenak mengalami perubahan yang mendadak itu. Tak bisa dihindari, bulu tengkuknya serasa seperti berdiri.

Sambil gemetar, matanya menyapu seisi kamar. Penerangan yang ada tak terlampau banyak. Karena itu ia memicingkan matanya menatapi pojok-pojok kamar yang gelap. Sampai pada suatu pojok, entah mengapa pandangan Ratri seperti terhenti. Seolah ada sesuatu di sana….

Ya, seperti ada sesuatu di sana… Ratri tak yakin apa… tapi jantungnya serasa berdebar-debar. Ia menunggu, akankah terjadi sesuatu?

Dari dalam kegelapan, tiba-tiba muncullah sesosok hewan besar berkaki empat. Ratri terkejut dan merinding. Dari manakah datangnya makhluk itu? Saat itu ia berada di dalam kamar tidur berukuran 4×4 meter yang tertutup rapat semua pintu dan jendelanya. Ia sangat yakin tak ada lubang yang terbuka untuk masuk ke kamar itu, selain lubang-lubang ventilasi yang ukurannya sangat kecil.

Sosok makhluk itu semakin mendekati ibu muda yang duduk ketakutan di pinggir tempat tidur itu. Makin lama, di bawah temaram lampu tempel, makin jelaslah sosok makhluk itu. Ternyata ia berwujud seekor anjing raksasa berwarna hitam legam. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada ukuran seorang laki-laki dewasa normal. Sorot matanya tajam berwarna kemerahan, seperti sepasang mata setan…

Dari mulutnya yang dihiasi gigi-gigi tajam, keluar geraman-geraman halus diiringi air liur yang menetes pelan.

Ketakutan yang sangat mencekam meliputi diri ibu muda itu. Ternyata ia tidak sendirian di dalam kamar itu. Ada makhluk besar menakutkan yang dapat muncul secara gaib. Ratri yakin makhluk itu bukanlah seekor anjing biasa. Mungkinkah ia jin atau sebangsa makhluk gaib lainnya yang menjaga rumah itu? Sosok anjing hitam yang begitu menakutkan itu kini tampak mengancam persis di hadapannya.

Anehnya, kemudian seperti ada sesuatu yang membisiki atau mengilhami pikiran Ratri. Untuk mengatasi ketakutannya, tangan ibu muda itu perlahan menggapai tali gaun tidurnya dan melepaskannya dari pundaknya. Lalu diloloskannya gaun tidurnya dari tubuhnya. Semuanya itu seolah dibimbing oleh suatu kekuatan gaib. Karena sambil ketakutan, Ratri melakukan itu secara perlahan-lahan. Sementara itu matanya tetap mengawasi anjing hitam raksasa yang ada di hadapannya.

Kejadian aneh segera menyusul tindakannya itu. Ternyata seiring dicomotinya gaun tidur dari tubuhnya, Ratri mulai merasakan rasa takutnya perlahan sirna, berganti dengan suatu perasaan nyaman yang aneh dan tak tergambarkan… Sampai ketika ibu muda itu telah dalam kondisi bugil, rasa takutnya pun hilang sama sekali. Hanya saja, ia seolah terpaku duduk di pinggir tempat tidur tanpa bisa bangkit sama sekali.

Tubuhnya yang bugil serasa merinding. Kini bukan karena ketakutan ataupun kedinginan. melainkan seolah ada gairah yang mengaliri sekujur tubuhnya. Dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Seperti aliran listrik yang membawa sensasi tersendiri…

Getaran itu semakin tinggi ketika anjing siluman itu perlahan mendekatinya. Tanpa terasa, sosok hitam legam itu telah begitu dekat dengannya. Ia kini berada di antara kedua paha mulus ibu muda itu yang seolah mengangkang begitu saja membukakan jalan.

Kejadian selanjutnya sangat mengejutkan dan tak pernah dibayangkan sama sekali oleh ibu muda yang cantik itu…. Anjing itu ternyata menjulurkan lidahnya yang panjang dan mulai menjilati selangkangan Ratri yang terbuka…

Ratri tersentak dan menjerit karena kaget tapi seolah tak bisa bergerak atau pun menolaknya. Akhirnya dibiarkannya saja makhluk itu melakukan kegiatannya selama beberapa lama.

Efeknya tentu saja ibu muda itu akhirnya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Gerakan-gerakan lidah makhluk siluman itu begitu liar mengaduk-aduk gua kenikmatan yang ada di hadapannya. Tak lama, selangkangan Ratri telah basah kuyup. Ratri tak kuasa menahan erangan-erangan yang otomatis keluar dari mulutnya.

Pada puncaknya, Ratri merasakan sekujur tubuhnya lemas seperti tak bertulang. Nikmat yang luar biasa menjalari sekujur tubuhnya. Sambil mengerang panjang, badannya lalu terhempas ke belakang ke tempat tidur yang empuk. Pikiran dan kesadarannya seolah melayang ke awang-awang.

Selang beberapa saat, barulah Ratri bisa mengendalikan kembali kesadarannya. Perlahan, dengan tangannya ia mampu mengangkat badannya dari atas kasur.

Dilihatnya anjing setan itu masih saja berdiri di dalam keremangan di hadapannya. Lidahnya yang lebar dan panjang tampak menjulur. Air liurnya tampak menggantung dari mulutnya. Tatapan matanya yang tajam berwarna merah menyala saja yang membuatnya jelas berbeda dari seekor anjing biasa. Siluman itu terus menatap tajam pada Ratri yang baru saja bisa mengendalikan diri sehabis mengalami orgasme.

Ibu muda itu jadi bingung akan apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Tatapan mata siluman itu seakan menyampaikan suatu makna padanya. Ratri secara samar sepertinya bisa menangkapnya, tapi ia pun tak begitu yakin.

Karena anjing siluman itu diam saja, Ratri lalu berinisiatif mengambil posisi nungging dan bertumpu dengan kedua punggung tangannya di tempat tidur. Ia tak tahu pasti mengapa ia melakukan hal itu. Semuanya dilakukan secara naluriah saja. Ibu muda itu lalu menunggu dengan harap-harap cemas. Sebentar kemudian, barulah ada reaksi dari anjing siluman itu. Legalah hatinya ketika anjing itu tiba-tiba naik ke atas tempat tidur lalu menaikkan kedua kaki depannya ke pinggul Ratri dan mencengkeramnya. Sementara kedua pinggul mereka pun bersatu…

Anjing siluman mencampuri seorang ibu muda

Anjing siluman mencampuri seorang ibu muda

Ratri tak habis pikir bagaimana ia bisa menyerahkan dirinya begitu saja kepada makhluk itu. Akan tetapi memang demikianlah kejadiannya. Secara spontan, terjadilah persetubuhan antara ibu muda yang cantik dan makhluk siluman berwujud anjing hitam itu.

Ratri merasakan sensasi yang sangat berbeda dibandingkan bila bersetubuh dengan suaminya sendiri yang manusia. Bentuk dan perilaku alat kelamin makhluk itu sendiri sangat berbeda dari milik manusia. Kejantanan makhluk itu terasa semakin membesar dan membengkak sewaktu telah berada di dalam tubuhnya. Belum lagi suhunya yang terasa begitu panas…

Ada satu lagi kejadian menarik yang baru kali itu dialami Ratri. Setelah anjing siluman itu mengalami orgasme, rupanya ia tak dapat begitu saja terpisah dari tubuh ibu muda itu. Hal itu disebabkan alat kelamin makhluk itu telah tumbuh membesar di dalam tubuh Ratri sehingga tak mudah untuk ditarik begitu saja. Ratri sudah sering melihat bagaimana kalau dua ekor anjing kawin. Rupanya kini ia pun dapat mengalaminya sendiri… Luar biasa…

Setelah lima belas menit, ketika kejantanan anjing siluman itu telah cukup menciut, barulah tubuh mereka berdua dapat terpisah. Ratri merasakan kepuasan yang luar biasa dari persetubuhan itu. Bukan hanya sekali, melainkan serangkaian orgasme telah didapatkannya selama melakukan persetubuhan yang tabu itu… Keletihan dan kenikmatan yang menjadi satu akhirnya mengantarkan ibu muda itu ke dalam tidur yang lelap…

Ketika Ratri bangun keesokan harinya, didapatinya bahwa anjing siluman itu telah raib entah ke mana. Sinar matahari tampak menembus lubang ventilasi. Pintu dan jendela pun masih rapi terkunci dari dalam.

Apakah kejadian semalam hanya mimpi? Rasanya tidak. Ratri menemukan vaginanya basah oleh cairan tubuhnya yang bercampur dengan cairan mani makhluk itu. Demikian pula seprai putih tempat tidurnya basah kuyup dan acak-acakan. Tidak, kejadian malam itu benar-benar nyata…

Pagi itu Ratri segera membersihkan tubuhnya dan mencuci seprainya sambil tak habis-habisnya memikirkan kejadian semalam. Ada semacam perasaan takut yang bercampur dengan perasaan rindu dan penasaran.

Akhirnya, kejadian pada malam itu terulang lagi pada malam-malam berikutnya. Setiap kali suaminya pergi bertugas, anjing siluman itu pun muncul secara gaib ke kamar tidur Ratri untuk menagih jatahnya…

Ratri pun senang saja melayani kekasih barunya itu. Apalagi ia sangat kesepian saat ditinggal pergi sendirian oleh suaminya. Tak terlintas dalam pikirannya rasa jijik karena harus melayani makhluk gaib yang berwujud seekor anjing. Yang nyata terbayang adalah kenikmatan luar biasa yang tidak didapatnya dari suaminya sendiri.

Selang beberapa waktu, Ratri pun mulai mengalami terlambat bulan. Melalui pemeriksaan, akhirnya dipastikan bahwa ibu muda itu mengandung anaknya yang pertama. Perutnya pun dari minggu ke minggu semakin membuncit. Suaminya tentu saja senang bukan main, walaupun karena tuntutan tugasnya, tetap saja ia harus sering meninggalkan istrinya tercinta.

Anehnya, sejak saat itu, anjing siluman itu seolah mulai jarang mengunjungi Ratri. Bahkan akhirnya jadi tak pernah sama sekali ketika usia kandungannya telah menginjak bulan ketujuh. Bagaimanapun, saat itu kemampuan Ratri untuk beraktivitas seksual pun mulai terbatas. Kebutuhannya yang tak terlampau banyak itu sudah bisa dicukupi oleh suaminya sendiri sehingga ketidakhadiran kekasih gaibnya tak terlalu dirisaukannya.

Ratri pun semakin berhati-hati dalam menjaga kandungannya. Apalagi pemeriksaan dan kontrol secara medis agak sulit didapatkan di tempat seperti itu. Yang ada paling hanya bidan atau dukun beranak.

Sayang sekali, kisah bahagia itu kemudian harus berakhir ketika pada bulan kesembilan kehamilannya, Ratri mengalami suatu kejadian misterius. Janin yang ada di dalam kandungannya seolah raib tanpa bekas. Pagi itu, ketika terbangun dari tidurnya, ibu muda itu merasakan sesuatu yang aneh pada perutnya. Terkejutlah ia ketika disadarinya bahwa perutnya yang sedang hamil tua itu ternyata telah kempes…

Ke manakah hilangnya kandungannya? Peristiwa itu tentu saja menggegerkan masyarakat di sekitarnya. Ratri sampai jatuh sakit selama beberapa hari karena kejadian itu.

Akhirnya, dari hasil penerawangan seorang paranormal di daerah itu, diperkirakan bahwa janin yang ada di dalam kandungan Ratri sebenarnya adalah hasil dari hubungannya dengan suatu makhluk dari alam gaib. Ketika usia kandungannya telah mencukupi, maka bayi hasil hubungan itu pun diambil secara gaib oleh ayah kandungnya untuk dibawa ke alamnya.

Ratri dan suaminya tentu saja terkejut dan sedih mendengarnya. Untunglah suami Ratri sangat pengertian dalam menghadapi musibah yang menimpa keluarga mereka dan tidak mengambil tindakan yang negatif atau pun sembrono. Dengan setia dihiburnya istrinya yang tampak sangat terpukul dengan kejadian itu.

Beberapa waktu kemudian, untuk melupakan hal itu, Ratri dan suaminya memilih untuk pindah dari desa tempat mereka tinggal. Kebetulan suaminya mendapatkan pekerjaan yang lumayan di kota.

Di tempatnya yang baru mereka pun memulai lagi kehidupannya dari awal. Segala suka dan duka mereka lewati bersama. Tak lama kemudian, Ratri pun hamil kembali, kali ini benar-benar oleh suaminya yang sah. Karena sikap yang positiflah akhirnya mereka dapat meraih kembali kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga. Empat tahun telah berlalu sejak kejadian itu dan kini keluarga mereka telah dikaruniai dua orang putra-putri yang lucu-lucu.

(Seperti diceritakan Ratri kepada Rio)

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Betina untuk si Bruno

Copyright 1998, 1999, by Phil Phantom & KHISmistress

(Wanita dan Anjing, Berbagi Istri)

Kehidupan bersama Beni memang membosankan, secara seksual maksudnya. Beni sebenarnya seorang yang baik dan bertanggung jawab. Semua kebutuhan rumah tangga telah dipenuhi olehnya sehingga aku tak perlu bekerja. Kenyataannya, itu justru menjadi bagian dari masalahku. Sebagai seorang wanita berusia 22 tahun tanpa anak, yang menikah dengan seorang pria pekerja yang konservatif berusia 35 tahun, membuatku mempunyai sangat banyak waktu untuk berkhayal macam-macam. Aku juga mempunyai sangat banyak waktu untuk bermasturbasi.

Jika mau berusaha, mungkin aku bisa saja mencari seorang kekasih gelap. Aku memiliki wajah dan tubuh yang lebih dari cukup untuk kupakai guna menarik lelaki mana pun yang aku mau, tapi aku tak pernah melakukannya. Alasan utama untuk tak melakukan hal semacam itu adalah karena pendidikan moral yang sangat ketat yang kuterima sejak kecil. Aku menjalani masa kecilku dalam sebuah keluarga Katolik yang taat di pedalaman Jawa Tengah. Walaupun ibuku orang Belanda, namun beliau sangatlah puritan.

Keadaan di tempat tinggalku sekarang tidak lebih baik, tapi paling tidak tak ada seorang pun yang mengenalku di sini. Kami tinggal di daerah yang asalnya direncanakan sebagai kota baru di luar kota Jakarta. Krisis moneter menyebabkan pembangunan kota baru ini terhenti total. Perusahaan pengembangnya pun telah bangkrut, padahal pembangunannya belum lagi mencapai 15% dari rencana semula. Rumah mungil kami terletak di lingkungan yang terpencil dekat sebuah pabrik. Hanya sedikit orang di sini yang berhubungan dengan tetangganya. Kebanyakan tetangga kami bekerja di pabrik itu, sedangkan suamiku bekerja di Jakarta. Mereka tak bersosialisasi dengan ‘orang luar’ seperti kami. Rumah-rumah di sini terpisah cukup jauh satu sama lainnya. Hanya ada satu rumah yang terletak tepat di seberang rumah kami. Rumah itu pun sudah lama kosong.

Ketika rumah itu akhirnya ditempati oleh sepasang suami isteri, aku merasa kegirangan. Kuputuskan untuk melakukan usaha supaya dapat bertemu mereka. Mereka adalah pasangan tua. Usia mereka sekitar 50-an, tapi aku selalu dapat bergaul dengan orang-orang yang lebih tua. Nampaknya mereka baik dan ramah. Mungkin mereka ingin menghabiskan masa pensiunnya di tempat yang terpencil ini. Kupikir mereka bisa menjadi sahabat yang baik.

Setelah suamiku berangkat ke kantor, aku berdandan dan mengenakan gaun satu potong yang berukuran mini. Udara di sini memang panas. Setelah mengumpulkan segenap keberanian, kuambil sekeranjang buah-buahan yang telah kusiapkan dan menuju rumah mereka. Bawaanku lumayan berat sehingga aku harus memegangnya dengan kedua tanganku.

Ketika si suami membukakan pintu, kuucapkan salam dan kuperkenalkan diriku. Lelaki itu memintaku menunggu sebentar lalu menutup pintu persis di depanku. Aku berdiri tertegun mendapatkan sambutan seperti itu dan merasa sedikit tersinggung.

Aku menunggu beberapa menit. Baru saja aku hendak beranjak pergi, ketika pintu kembali terbuka dan mereka berdua berdiri di sana mempersilakanku untuk masuk. Aku tersenyum sambil melangkah masuk, berharap seseorang mengambil keranjang buah dari tanganku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu masuk ke dalam rokku dari arah belakang. Sesuatu yang basah menyentuh paha bagian dalamku, dekat selangkangan. Ketika jilatan hangat dari lidah yang basah menjalari selangkanganku, barulah aku sadar kalau mereka memiliki seekor anjing. Anjing yang besar. Anjing yang besar dan cabul. Aku tak habis pikir, mengapa mereka tak menempatkan hewan yang nakal seperti itu di luar sebelum mengundang seorang wanita masuk ke dalam rumah mereka.

Aku berusaha untuk tak gelagapan dengan harapan si istri melihat apa yang terjadi dan menolongku. Sayangnya ia tampaknya malah sibuk mengagumi buah-buahan yang kubawa. Akhirnya aku menggeserkan sedikit badanku sehingga seharusnya ia dapat melihat di mana anjing miliknya meletakkan kepalanya. Akan tetapi ternyata ia bersikap seolah-olah tidak melihatnya, dan kenyataan itu benar-benar menggangguku. Sementara itu, tanganku mulai terasa pegal dan lututku terasa lemas.

Si anjing pindah ke hadapanku dan mulai mengendus-endus ke dalam rokku lagi. Kali ini ia menempelkan moncongnya ke klitorisku yang serasa membara dan menjilatinya dengan lebih keras lagi. Kali ini aku benar-benar yakin, pasangan ini mengetahui tingkah laku anjingnya, karena mereka justru memberi ruang bagi si anjing untuk mengakses diriku. Selama tanganku memegang keranjang, aku tak dapat berbuat apa-apa dan sepenuhnya berada di dalam kendali anjing mereka, dan mereka sengaja membiarkan itu terjadi! Kenyataan itu serasa menyiramkan aliran listrik yang menggetarkan seluruh urat syarafku. Mereka membiarkanku menyesuaikan diri dengan jilatan-jilatan cabul anjing mereka dengan mengajakku ngobrol sekedar berbasa-basi, dan aku pun melayaninya!

Beberapa menit berlalu sudah. Ketika mereka melihat bahwa aku tak menunjukkan tanda-tanda akan kabur ke arah pintu, si istri mengambil keranjang buah itu dari tanganku. Tinggallah aku berdiri di hadapan mereka dengan kepala anjing mereka bergerak-gerak dengan kencangnya di dalam rokku. Saat itu juga aku menginginkan keranjang buah itu kembali karena aku tak tahu apa yang harus kuperbuat dengan kedua tanganku.

Aku harus melakukan sesuatu, maka kudorong kepala anjing yang sedang birahi itu. Sedikit menunjukkan penolakan rasanya merupakan tindakan yang tepat dalam situasi seperti itu. Usaha itu sia-sia. Aku tahu wajahku sudah seperti udang rebus, namun pertolongan dari pasangan itu tak kunjung datang. Aku bahkan bisa melihat mata mereka terfokus pada selangkanganku dengan seringai gembira ketika ujung rokku terlempar ke atas pada setiap sentakan kepala anjing mereka.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Perlahan, aku berhenti melawan. Lidah anjing itu membuatku gila. Sentakan-sentakan dari daging lembut panjang yang basah dan hangat itu membawaku ke puncak kenikmatan. Aku tak ingin jilatan-jilatan yang nikmat itu berhenti. Sandra dan Parulian Simanjuntak, pasangan suami istri itu terus mengajakku ngobrol seolah-olah tak ada sesuatu yang luar biasa yang terjadi. Aku pun tetap melayani mereka. Situasi ini menambah rangsangan pada diriku. Mereka memainkan semacam permainan denganku dan aku mulai menyukai permainan ini.

Setelah puas ngobrol, Sandra mendekatiku dan menawariku untuk duduk. Dia memeluk pundakku dan membimbingku ke sofa.

Aku melangkah dengan hati-hati supaya tak mengganggu aktifitas anjing mereka. Ketika aku terduduk, anjing itu segera membuatku terkejut. Anjing labrador hitam yang besar itu mencengkeram paha kananku yang terbuka dan mulai memompa kemaluannya seolah-olah sedang bersetubuh dengan seekor betina. Aku dapat merasakan penisnya yang panjang dan tebal bergerak menggesek-gesek kaki mulusku yang telanjang. Sandra dan Parulian duduk mengapitku sementara anjing mereka terus mengunci kakiku dan memompanya.

Kepala anjing itu berada tepat di atas payudara kananku, air liurnya menetes ke atas dadaku yang terbuka. Sekilas aku menengok ke bawah dan melihat penis yang besar dan merah menyala bergesekan dengan kaki bagian dalamku. Penisnya terasa begitu panas, licin dan keras.

Parulian menepuk-nepuk kepala anjing itu. Dia sebenarnya mengarahkan kepala anjingnya sehingga lidahnya terus-menerus meneteskan air liur tepat di antara belahan dadaku. Posisi wajahku berada sangat dekat dengan mulut anjing itu. Aku dapat merasakan hembusan nafas anjingnya menerpa wajahku. Air liurnya pun kadang terpercik ke mukaku. Kejadian ini benar-benar porno dan cabul, tapi sekaligus juga merangsang birahiku. Aku berusaha keras menahan keinginan untuk mengisap lidah anjing itu yang tergantung-gantung. Akhirnya anjing itu menyemprotkan air maninya dalam jumlah yang besar ke sekujur kaki kananku.

Anjing itu menjilati mukaku sementara otot-otot mulutku mengendur. Lidahnya menyusup masuk ke dalam mulutku, membuatku terkejut. Ia berulang-ulang menjilati bagian dalam mulutku, sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh seekor anjing pun terhadapku. Aku membiarkannya melakukan apa pun yang diinginkannya. Dengan sadar kubiarkan mulutku tetap terbuka untuk meneruskan french kiss yang tak lazim ini.

Sandra berkata, “Menyenangkan ya, sayang? Bruno kini memiliki seorang teman wanita.” Bruno, anjing itu, lalu melepaskan kakiku yang basah kuyup karena air maninya. Suami istri itu terus mengajakku ngobrol sementara air mani anjing mereka bergerak turun menelusuri kakiku yang terekspos sampai ke selangkangan. Aku berusaha tetap bersikap normal walaupun mata mereka hampir-hampir tak lepas menatap kakiku. Aku tak merasa perlu untuk merapikan rokku yang berantakan.

“Kami sangat menghargaimu karena mau melayani anjing kami yang berperilaku buruk. Kebanyakan wanita tak mau melakukan hal itu. Kami khususnya menghargaimu karena mengizinkan Bruno untuk melepaskan birahimu pada kakimu yang indah. Bukankah kaki Maria indah, sayang?” kata Sandra.

“Sangat indah. Aku yakin Bruno sangat terpuaskan dengannya,” jawab Parulian.

Mereka menolongku berdiri dan membimbingku ke pintu. Masih dengan penampilan yang berantakan dan birahi yang bergejolak, aku melangkah melewati pintu. Saat itu Sandra berkata, “Kembalilah kapan saja ada waktu. Aku yakin Bruno akan senang menemuimu lagi.”

Setelah itu pintu pun tertutup dan sayup-sayup dapat kudengar tawa senang mereka di baliknya. Aku menyeberangi jalan dengan setengah berlari. Aku benar-benar merasa shock. Setibanya di rumah aku bermasturbasi sambil mandi di pancuran, lalu di atas tempat tidur setelah mandi, ketika memasak makan malam dan dua kali lagi sebelum akhirnya aku beristirahat. Kejadian pagi itu benar-benar membangkitkan fantasi yang luar biasa bagi diriku.

Dua hari kemudian, aku kembali ke rumah pasangan Simanjuntak. Ketika melihatku, mereka tahu persis maksud kedatanganku. Aku yakin mereka tahu. Mereka tak perlu lagi penjelasan. Parulian mempersilakan aku untuk masuk sementara Sandra pergi ke belakang untuk memanggil anjing mereka.
Hal yang sama kembali terulang, hanya kali ini aku jauh lebih siap. Aku tak mengenakan pakaian dalam sama sekali di balik gaun satu potong ketat dan mini yang kupakai. Aku telah kehilangan rasa malu yang menghambatku. Pasangan Simanjuntak tampak kaget dan senang mengetahui hal ini. Apalagi ketika Bruno mengalami orgasme dan semprotan air maninya sampai ke vaginaku dan membasahinya.

Setelah itu, aku semakin berani. Kami meneruskan acara dengan berdiri dan berjalan mengelilingi seisi rumah. Sementara Bruno dengan setia mengikutiku. Kepalanya senantiasa menyusup ke dalam rokku yang sangat pendek. Kami semua bersikap seolah mengabaikan anjing itu. Dengan gaun satu potong yang sangat ketat menempel di badan, sodokan moncong Bruno yang terus-menerus dari depan maupun belakang mengakibatkan terdorongnya rokku sampai ke pinggul. Aku tak pernah merapikannya kembali dan terus membiarkan Bruno menelanjangi dan menjilati selangkanganku.

Sekali-sekali mereka memberikan komentar seperti, “Aku tak dapat mengatakan betapa senangnya kami menemukan seorang wanita yang mau melayani anjing kami,” atau yang sejenisnya. Aku membiarkan mereka tahu kalau aku menikmati pernyataan-pernyataan yang kasar dan cabul itu.

Sandra kemudian berkata, “Ya begitu. Apa lidah si Bruno masuk ke dalam memekmu, Maria?”

“Ya, langsung ke dalam rahimku, kurasa,” jawabku.

Ia tersenyum dan berkata, “Kau benar-benar manis mau melakukan itu untuknya. Aku tak tahu ada wanita sepertimu di sini. Kami tadinya sudah siap-siap untuk menyewa seorang wanita profesional, tapi di mana kau bisa temukan wanita yang mau menyewakan tubuhnya sendiri sebagai betina untuk memuaskan birahi seekor anjing piaraan?”

Aku menyukainya. Aku mengatakan padanya bahwa aku dengan senang hati mau bertindak sebagai betina untuk anjing jantan mereka dengan gratis. Sandra berkata, “Maria, kupikir Bruno lebih senang jika kau melakukan pelayanan ini dengan bugil. Seekor betina tidak mengenakan pakaian, bukan?” Aku pun melucuti pakaianku. Sejak itu, mereka menyebutku sebagai betina, atau betina si Bruno.

Keintiman antara aku dan Bruno semakin bertambah. Aku dapat mengetahui bahwa pasangan Simanjuntak sangat menyukai melihat kami berperilaku sebagai sepasang kekasih. Karena itu aku pun berperilaku sesuai sudut pandang itu. Kami membiasakan diri untuk bercumbu seperti yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih. Membuat Bruno untuk menciumku sangatlah mudah. Aku tak tahu, kadang aku berpikir anjing itu benar-benar mencintaiku sebagai kekasihnya. Bruno dapat mencium mulutku dalam-dalam, sementara aku memegang kepalanya dan mencium balik, kadang sambil mengisapi lidahnya.

Karena seks oral adalah bagian dari cumbuan dan permainan pembuka yang biasa dilakukan oleh manusia, dan Bruno telah melakukannya padaku, aku merasa berkewajiban untuk memberinya pelayanan intim yang sama. Mengisap dan menjilati penis seekor anjing benar-benar merupakan hal paling cabul dan tak bermoral yang pernah kulakukan sampai saat ini. Anehnya kecabulan itu benar-benar membawaku pada suatu birahi tertinggi yang pernah kualami. Sementara itu pasangan Simanjuntak terus menyaksikan dengan seksama adegan demi adegan percintaan kami.

Menyenangkan pasangan Simanjuntak sekarang merupakan urutan tertinggi dalam daftar prioritasku. Aku mencintai pasangan ini. Sandra khususnya, sudah seperti seorang ibu bagiku. Sedangkan Parulian tak pernah memanfaatkan keintiman yang kami bagi bersama, walaupun sebenarnya aku sudah tak keberatan dan berharap ia melakukannya. Dalam waktu yang singkat ini, telah tumbuh cinta di antara kami bertiga. Melihat mereka senang atas semua perbuatanku selama ini adalah satu-satunya yang kubutuhkan untuk melakukan yang lebih lagi. Karena itu aku langsung mengikut apa yang mereka inginkan ketika suatu saat akhirnya Sandra menegurku.

“Kau belum melakukannya dengan baik, Maria. Kau belum belajar bagaimana melayani Bruno dengan benar. Kupikir kau mengerti apa yang kumaksud kan?”

“Kau ingin agar ia menyetubuhiku dan mengawiniku serta mengisi rahimku dengan benih anjingnya?”

“Tepat sekali, Maria. Itulah pelayanan yang kami harapkan dari seorang betina manusia. Dan bukankah itu perananmu?”

“Ya, Nyonya Simanjuntak. Aku adalah betina untuk anjing Anda.”

“Kau bukanlah betina yang baik kalau ia tak dapat mengawinimu dan menyemprotkan air mani anjingnya ke dalam memekmu, tempat semestinya ia berada.”

“Nyonya Simanjuntak, Bruno adalah kekasihku, dan aku adalah betinanya. Ia kini berhak atas memekku, dan aku tak memiliki hak untuk menolaknya mengakses milikku yang paling pribadi itu. Sperma anjing Anda tempatnya adalah di dalam rahimku. Bahkan ia kini lebih berhak daripada suamiku sendiri. Hubunganku dengan suamiku semata-mata hanyalah karena ikatan pernikahan, sedangkan anjing Anda adalah kekasihku.”

“Ya, itu sangat penting. Kebutuhan Bruno harus dilayani lebih dulu, selalu. Akan lebih baik kalau suaminya mengetahui kenyataan ini,” Parulian menimpali.

“Bagaimana seandainya aku menyuruh Beni untuk selalu terlebih dulu meminta konfirmasi kepada Anda kalau-kalau Bruno ingin menyetubuhiku sebelum ia melakukan hal yang sama terhadap diriku? Apakah itu cukup memuaskan?”

“Akankah suamimu melakukan hal itu?” Tanya Parulian.

Aku tersenyum dan mengangguk.

“Kau yakin?” Sandra ikut bertanya.

“Aku tak akan memberikan tawaran jika aku tak dapat memenuhinya. Aku akan menceritakan semuanya kepada suamiku. Aku akan membuatnya mengerti bahwa Bruno adalah kekasihku dan kebutuhannya harus dipenuhi lebih dulu. Aku akan mengatakan pada Beni bahwa ia hanya dapat menyetubuhiku setelah Bruno melakukannya terhadapku terlebih dahulu. Dia akan selalu mendapatkan tubuhku yang habis pakai, dan memekku yang masih bersih dan wangi hanya disediakan bagi Bruno. Aku akan menyuruhnya menelepon Anda untuk mengatakan langsung secara pribadi bahwa ia dapat memahami keadaan yang berlaku mulai sekarang. Sekarang bolehkah aku bersetubuh dengan anjing Anda?” aku memohon.

“Oh tidak secepat itu,” kata Sandra. “Apakah kau sudah memasuki masa suburmu saat ini?”

Aku menggeleng karena aku memang baru akan memasukinya sebentar lagi.

“Nah, kau kembalilah lagi ke sini kalau sudah memasuki masa suburmu, sehingga sel-sel telur di dalam rahimmu sudah matang dan siap untuk menerima benih-benih dari anjing kami.”

Aku seperti tersetrum oleh aliran listrik mendengar ide itu. Gairahku meledak-ledak. Walaupun kecewa karena tak dapat bersetubuh dengan anjing mereka hari ini, aku setuju untuk mengikuti kehendaknya.

“Baiklah, Nyonya Simanjuntak. Aku akan kembali lagi pada saat tubuhku sudah benar-benar siap untuk dibuahi oleh benih anjing Anda dan pada saat birahiku sedang mengalami puncaknya. Untuk itu, mulai sekarang aku akan menghentikan pemakaian pil kontrasepsiku.”

“Bagus, tapi jangan lupa. Sampai masa suburmu habis bulan ini, jangan sekali-kali kau bersetubuh dengan suamimu, dan selama masa suburmu berlangsung, kau boleh datang kemari tiap hari untuk menemui kekasihmu dan kawin dengannya.”

“Terima kasih, Nyonya Simanjuntak. Mulai sekarang, setiap datang masa suburku tempatku adalah di sini bersama Bruno. Beni tak berhak menyentuhku selama itu.”

“Sebelum kau pulang, bawalah ini dan minumlah secara teratur. Ini adalah jamu yang manjur untuk meningkatkan kesuburan wanita,””Parulian memberiku sekotak jamu yang diambilnya dari dalam lemari.

“Terima kasih. Aku harap aku dapat mengandung dan melahirkan anak-anak Bruno,” aku tersenyum.

“Nah, sekarang pulanglah. Bawalah pakaian dan sepatumu, tapi kau tak boleh mengenakannya. Pulanglah dalam keadaan bugil,” kata Sandra. “Begitu pula lain kali kau datang kemari, tak perlu mengenakan pakaian apa pun juga. Mengerti?”

Bukan main, pasangan ini selalu memiliki ide-ide yang mengejutkanku. Bagaimanapun, aku setuju untuk mengikuti aturannya. Aku pun tersenyum dan mengangguk. “Ya, Nyonya Simanjuntak.”

Aku menyeberangi jalan dengan jantung yang berdebar kencang sekali. Selain rumahku dan rumah keluarga Simanjuntak yang berseberangan, rumah-rumah yang lain terletak cukup jauh. Bagaimanapun, setidaknya ada lima rumah di sekitar situ yang dari dalamnya penghuninya dapat melihat adanya seorang wanita bugil sedang menyeberang jalan di tempat terbuka pada siang hari bolong. Tentu saja jika mereka kebetulan memperhatikannya. Yang jelas jarak ke rumahku yang tak sampai sepuluh meter serasa jauh sekali.

Begitu tiba di pekarangan rumah, tiba-tiba terdengar suara mobil mendekat. Bulu kudukku segera berdiri? Aku belum lagi membuka pintu rumah ketika mobil itu melewatiku. Aku hanya bisa berdiri terpaku tanpa bergerak sedikit pun. Setelah mobil itu berlalu, barulah aku menengok ke belakang dan menyadari bahwa pasangan yang ada di dalam mobil itu bahkan tak melihat sedikit pun ke arahku. Perasaan lega dan luapan gairah segera membanjiri diriku. Aku pun segera masuk ke dalam rumah.

Dua hari kemudian, aku telah memasuki masa suburku. Sampai saat itu aku sama sekali tak pernah melayani Beni. Sementara pil-pil kontrasepsi tak pernah lagi kutelan. Sebaliknya jamu pemberian Parulian kuminum teratur tiga kali sehari. Setelah membuat janji dengan keluarga Simanjuntak, dengan hati yang mantap aku keluar rumah dalam keadaan bugil. Rasa takut terlihat oleh orang lain telah menguap bersamaan dengan panasnya cuaca di sini. Aku tak lagi peduli. Gairah karena berjalan bugil menyeberangi jalan di siang hari bolong dengan keluarga Simanjuntak memperhatikannya membuat tubuhku bergetar senang bercampur tegang.

Perjalananku terinterupsi oleh sebuah mobil yang lewat ketika aku hampir mencapai pintu rumah keluarga Simanjuntak. Aku yakin si pria pengemudi mobil melihatku. Mobilnya melambat di depanku. Ketika satu mobil lagi lewat, aku merunduk di balik semak-semak. Lingkungan rumahku yang sepi tiba-tiba menjadi ramai. Saat itulah aku sadar bahwa sekarang adalah waktu penggantian shift di pabrik. Para buruh mulai keluar ke jalan. Begitu pintu rumah keluarga Simanjuntak terbuka, aku pun segera menyelinap masuk.

Mereka membawaku ke meja makan untuk pemeriksaan. Mereka membaringkanku seperti bahan percobaan di laboratorium dan menggunakan pena cahaya untuk melihat ke dalam celah vaginaku. Sandra menyatakan semuanya kelihatan bagus dan bersih.

Bruno mencakar-cakarkan kedua kaki depannya pada pintu kaca meminta masuk, seolah tak sabar untuk memenuhi hasratnya mendapatkan diriku. Sandra memutar tubuhku sehingga memekku langsung menghadap ke arah anjing itu. Sambil memainkan jari-jemarinya di vaginaku, ia berkata, “Lihat Bruno, kami membawakanmu memek untuk kausetubuhi. Dia akan jadi betina yang baik mulai saat ini dan akan mengizinkanmu memompa kontolmu ke dalam memeknya. Kau bisa kosongkan semua air mani yang kau punya ke dalam rahim pelacur betina yang cabul ini kapan saja kau mau, sayang.”

“Ayolah, sayang. Kita sudah memisahkan dua kekasih ini cukup lama. Tidakkah kau lihat keduanya sudah sangat ingin kawin? Lihat denyutan memeknya yang kencang tandanya sudah siap untuk menerima kontol anjing kita. Dan lihat cairan yang keluar itu, memeknya sudah ngiler untuk dimasuki kontol anjing. Kau menginginkan kontol anjing itu kan, pelacur betina?”

“Ya, ya! Aku sangat ingin merasakan kontol anjing itu di dalam memekku. Aku butuh disetubuhi oleh seekor hewan. Memekku akan mengisap kontolnya sampai kering.”

“Oh, tidak, sebelum mulutmu membuat kontol anjing kami mengeras dan tegang,” kata Sandra. Ia membuka pintu kaca sementara suaminya membantuku berdiri. Bruno melonjak-lonjak kegirangan dan memakan memekku sementara aku membukakan bibir vaginaku untuknya, sambil berkata, “O ya, sayang. Itu milikmu sepenuhnya sekarang.”

Bruno tampak lebih kegirangan daripada hari-hari sebelumnya, dan penisnya yang panjang menjuntai keluar dari dalam sarungnya yang berbulu sementara ia mengelilingiku. Ketika Sandra merasa kami berdua sudah siap, ia mengangkat kedua kaki depan Bruno. Anjing itu berdiri di hadapanku dengan kedua kaki belakangnya, kontolnya yang menegang menjulur ke depan. Aku segera berlutut di hadapannya dan mulai mengisapi kontolnya dengan rakus, menelan seluruhnya sampai masuk ke tenggorokanku sementara kedua tanganku memijati kedua biji zakarnya. Ternyata penis Bruno semakin lama semakin tumbuh berkembang di dalam mulutku. Aku takjub mengamati besarnya yang jauh melebihi penis Beni. Bentuknya pun tampak gemuk dengan warna pun merah menyala.

Aku benar-benar merasa direndahkan serendah-rendahnya dan dipermalukan dengan berada dalam keadaan bugil bersimpuh di hadapan seekor anjing, memberinya pelayanan seks oral sambil diperhatikan oleh pasangan Simanjuntak. Sepertinya aku benar-benar menghambakan diriku kepada mereka dan anjingnya. Dan aku menyukainya?.!!

Sandra berkata, “Aku seharusnya membiarkan dia berejakulasi di dalam mulutmu.”

Aku mendongakkan wajahku dengan penuh harap untuk berkata, “Anda harus. Ya, Anda harus membiarkan anjing Anda melakukan itu!?

Suami istri itu saling tersenyum. Sandra berkata, “Baiklah, betina yang cabul. Kalau kau memang ingin meminum dan mandi dengan air mani kekasihmu, aku mengizinkannya.”

Aku tersenyum senang dan mengangguk.

Tak lama kemudian, Bruno menyiramkan spermanya ke dalam mulutku. Dengan lahap aku menelannya. Sebagian lagi mengucur keluar dari mulutku dan jatuh melalui daguku ke dadaku yang telanjang. Semprotan air mani yang encer tapi pekat itu tersebar ke rambut dan seluruh wajahku, bahkan sampai ke bahu dan kedua payudaraku. Aku merasa puas sekali.

Sementara itu Parulian sejak awal mengabadikan adegan percintaan kami dengan sebuah handycam. Setelah selesai, dengan wajah dan badan yang berantakan karena basah kuyup oleh air mani anjing, aku aku tersenyum dengan manis ke arah handycam Parulian. Lidahku sesekali masih menjilati penis Bruno maupun air maninya yang membasahi jari-jariku. Sementara itu Parulian meng-close up wajahku selama beberapa saat.

Kupikir aku harus menunggu beberapa lama untuk memulai ronde berikutnya. Yang kutahu, seorang manusia lelaki bila telah mengalami orgasme akan menjadi lemas. Ternyata tidak demikian dengan kekasih hewanku. Penisnya masih cukup keras. Sandra menyuruhku untuk menambah keras lagi penis Bruno dengan mulutku. Aku melakukannya, dan dalam waktu singkat penis itu telah kembali ke ukuran maksimalnya. Aku merasa takjub dan senang memiliki kekasih yang perkasa seperti itu.

“Bagus. Nah, sekarang kita harus membuatmu dibuahi oleh sperma anjing,” kata Sandra yang merasa puas dengan pekerjaanku. Ia membimbingku ke sofa dan mendudukkan diriku di antara mereka berdua. Aku segera mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi dan mereka mengambil kakiku masing-masing satu dan mengangkangkan kakiku lebar-lebar, menawarkan memekku kepada Bruno. Bruno melompat menaiki tubuhku dan memegangiku dengan kedua kaki depannya tepat di bahuku. Tanganku menggapai ke bawah dan meraih penisnya yang keras, serta membimbing ujungnya ke dalam lubang vaginaku.

Goyangan pinggul Bruno segera memompa kontol anjingnya yang panjangnya hampir mencapai 16 cm ke dalam tempatnya, yaitu lubang memekku. Aku merintih-rintih kenikmatan dibuatnya. Aku kehilangan kontrol. Tak kusadari aku menjeritkan kata-kata kotor yang hanya pantas diucapkan oleh pelacur murahan yang tak bermoral. “Oh, ya… Rasanya enak sekali… Aaaaah, Jesus, enak sekali dikawini anjing…… Ya, ya…. setubuhi aku terus. Pompa…. ya, pompa lagi anjingku…. kekasihku…. Ooooooh. Aku milikmu, setubuhi terus betinamu…. Ooooh, hamili aku……. Hamili aku!!!”

Anjing itu terus memompaku dengan keras dan cepat selama sepuluh menit sebelum menyemprotkan air maninya yang banyak sekali ke dalam diriku. Aku dapat merasakan air maninya yang hangat menghujani rahimku. Aku baru menyadari kalau air mani anjing terasa lebih panas daripada air mani manusia.

Bruno berusaha menarik kontolnya dari dalam memekku setelah puas melampiaskan nafsunya terhadap diriku, tetapi ia tak bisa melakukannya. Kami telah terikat bersama. Kedua alat kelamin kami tak bisa dipisahkan!

Seekor anjing jantan memiliki buhul atau gumpalan yang besar, di sekitar pangkal penisnya. Buhul itu dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa penis si anjing jantan tetap berada di dalam vagina betinanya dalam waktu yang cukup lama ketika mereka bersetubuh. Dengan demikian sperma si anjing jantan mempunyai cukup waktu untuk mencapai sel-sel telur betinanya. Tanpa mekanisme itu, sebagian besar air mani yang masuk ke dalam vagina si betina akan langsung keluar lagi sehingga memperkecil kemungkinan si betina untuk hamil. Kedua sejoli ini baru bisa terpisah setelah penis si jantan mengerut kembali, dan ini memakan waktu antara 15 sampai 45 menit. Paling tidak demikianlah menurut berbagai literatur tentang perkawinan anjing yang sempat kubaca dalam rangka menghadapi perkawinanku dengan Bruno.

Dengan demikian aku sama sekali tak terkejut ketika kami tak terpisahkan setelah selesai bersetubuh. Justru peristiwa inilah yang kuharap-harapkan. Aku benar-benar menikmati saat-saat yang sangat intim tersebut. Belum pernah sebelumnya aku merasa begitu dimiliki dan dikuasai. Belum pernah juga sebelumnya aku merasa begitu pasrah menyerahkan diriku untuk dihamili, apalagi oleh seekor anjing. Pikiran-pikiran itu saja membuatku mengalami orgasme.

Sandra meletakkan kedua kaki depan Bruno di pundakku selama kami menunggu. Sementara aku mengelus-elus tubuh kekasih hewanku yang berbulu dan kami pun berciuman dengan mesra dan intim. Pasangan Simanjuntak dapat melihat dengan jelas kedua alat kelamin kami yang saling terhubung.

Setelah kami berdua terpiah setengah jam kemudian, Parulian bertanya kepadaku, “Maria, apakah kamu benar-benar bisa mengatur suamimu supaya ia tak mendahului Bruno jika ingin menyetubuhimu?”

Aku memandang Parulian dan berkata, “Itu bisa membuat Anda terangsang, ya kan?”

“Ya. Itu membuat kami berdua terangsang.”

“Aku merasa senang jika memang demikian. Ya, aku percaya dapat melakukannya. Apa yang sebenarnya Anda inginkan?”

“Oke, kami akan sangat menyukainya jika kamu dapat menetapkan bahwa suamimu tak dapat mengintimimu sebelum Bruno mengintimimu. Dengan sepengetahuan kami tentunya.”

“Ada lagi. Kami ingin ada jaminan bahwa kau tak akan melanggar aturan itu. Kami tak dapat menerima jika kau berbohong dan berselingkuh terhadap anjing kami,” Sandra menambahkan.

“Tentu saja tidak. Apa usulan Anda untuk itu?”

“Sabuk kesucian, dengan kuncinya kami sendiri yang memegang.”

“Sabuk kesucian! Kedengarannya ide yang sangat bagus. Apakah Anda memilikinya?”

Sandra tersenyum dan berkata, “Tunggu sebentar.”

Ia kembali dengan sebuah alat yang aneh. Aku berdiri untuk memeriksa alat itu. Nampaknya seperti bagian bawah dari bikini tali, hanya saja terbuat dari kombinasi sabuk metal dan rantai besar yang terbentang di tengah-tengah sabuk itu. Sandra memakaikan sabuk itu di sekeliling pinggulku dengan erat dan melewatkan rantai itu dari bagian belakang sabuk melalui celah pantatku, terus menutupi lubang vaginaku di bagian depan, lalu mengaitkannya kembali ke sabuk bagian depan dengan ketat dan menguncinya. Dengan kondisi seperti itu, aku benar-benar tak dapat lagi disetubuhi.

“Nah, begitulah. Kau tetap bisa buang air kecil dan besar dengan sabuk itu terpasang pada tubuhmu. Hanya saja kau harus bekerja ekstra untuk membersihkannya. Kau selalu bisa datang kemari dan kami akan membukakan kuncinya.”

Aku segera pulang ke rumah setelah itu. Beni belum lama tiba di rumah dan baru saja hendak menonton TV sambil membawa beberapa kaleng bir dan sepiring cemilan. Ia terpaku di tempatnya dan memandangi sekujur tubuhku. Hampir saja kaleng-kaleng bir itu terlepas dari tangannya. “Sayang, apa yang terjadi?”

Aku berjalan ke arahnya. Pandangan kedua mata suamiku tertuju pada alat yang terpasang pada selangkanganku, lalu pada cairan yang mengalir menuruni kedua kakiku.

“Ini air mani anjing, Beni. Aku baru saja bersetubuh dengan anjing tetangga kita.”

Aku segera berlalu dari hadapannya menuju pancuran untuk mandi membersihkan diriku. Beni mengikutiku persis seperti yang kuharapkan. Sementara itu aku menyalakan keran air dan mulai mandi di bawahnya.

“Maukah kau memperjelas apa yang kaukatakan barusan?”

“Kata-kata apa yang tidak kau mengerti?”

“Kau bersetubuh dengan seekor anjing?”

“Bagus, Beni. Kurasa kau mengerti maksudku.”

“Mengapa?”

“Karena ia menyetubuhiku lebih baik dan lebih lama daripada kamu. Ia adalah pemain seks yang hebat. Aku adalah betinanya. Ia adalah kekasihku. Ada pertanyaan yang lain?”

“Apakah tetangga kita tahu?”

“Justru merekalah yang merencanakannya. Tugasku adalah melayani anjing mereka. Dan aku mengerjakan tugasku dengan sungguh-sungguh.”

“Lalu alat apa itu dan kenapa kamu berkeliaran bugil di luar?”

“Aku tidak bugil. Aku mengenakan sabuk kesucian.”

“Sabuk kesucian? Itu kan untuk perawan-perawan di zaman dulu.”

“Bukan, sabuk ini untuk mencegah penis yang tak berhak mengakses vagina dan lubang pantat yang sudah dimiliki secara pribadi.”

“Siapa yang memegang kuncinya?”

“Keluarga Simanjuntak, tentu saja.”

“Lalu bagaimana caranya kalau aku ingin menyetubuhimu?”

“Yah, itulah masalahnya. Tetangga kita mempunyai aturan. Bruno, anjing mereka, akan selalu mendapat jatah pertama. Kau baru boleh menyetubuhiku setelah itu. Mereka bilang mereka mau saja mengizinkanmu untuk menyetubuhiku selama kamu mau mengikuti aturan ini dan aku sudah menjamin mereka dan mengatakan pada mereka bahwa mereka tak perlu khawatir.”

Aku sebetulnya agak terkejut – sekaligus gembira – ketika Beni ternyata tak bereaksi negatif. Pandangan matanya tak terlepas sedikit pun dari sabuk kesucianku.

Ia memintaku untuk menjelaskan secara rinci kejadiannya. Birahinya yang menggebu mengkhianati perasaannya yang seharusnya timbul akibat perbuatanku mengambil seekor anjing sebagai kekasih. Aku pun memberinya penjelasan secara rinci tentang semua peristiwa yang terjadi dan efeknya terhadap diriku. Ia hampir saja berejakulasi di celananya ketika kusebutkan bahwa Bruno akan selalu mendapatkan jatah memek yang segar dan bersih, sedangkan ia akan selalu mendapatkan bagian sesudahnya hanya jika pasangan Simanjuntak merasa puas dengan penerimaannya yang total dan sungguh-sungguh atas aturan yang berlaku ini. Malamnya, ia sudah sangat siap untuk menelepon keluarga Simanjuntak dan menjelaskan bahwa ia sudah memahami peranannya.

Aku hampir-hampir mengalami orgasme hanya mendengarkan suamiku memberi tahu mereka bahwa ia akan selalu mendahulukan Bruno dan bahwa aku adalah kekasih dan betina si Bruno yang nomor satu. Mereka lalu menyuruh Beni untuk membawaku ke sana untuk dikawini lagi oleh Bruno.

Beni pada awalnya tak suka berjalan bersamaku yang hanya mengenakan sabuk kesucian, tapi aku tak memberinya pilihan lain. Selesai berkenalan dengan suamiku, pasangan Simanjuntak melepaskan sabuk kesucianku dan menyuruhku merendahkan diriku dalam posisi merangkak untuk memberikan pelayanan seks oral kepada anjing mereka di depan suamiku.

Setelah itu Bruno menyetubuhiku dari belakang dengan gaya anjing dan mengisi peranakanku dengan benih-benihnya. Seperti sebelumnya, setelah usai aku terikat dengan Bruno selama sekitar setengah jam. Beni sepenuhnya menikmati menontonku kawin dengan hewan liar itu. Begitu aku dan Bruno terpisah, pasangan Simanjuntak menyerahkan sebuah kalung anjing kepada Beni yang langsung memasangkannya di leherku. Mereka menyuruh Beni supaya aku selalu mengenakan kalung anjing itu. Kalung itu mempunyai sebuah tempat nama yang menggantung dengan tulisan “Betina si Bruno” yang tertulis di kedua sisinya dengan huruf-huruf besar yang mudah dibaca dari jarak beberapa meter. Aku mengenakan kalung itu dengan bangga dan bermaksud untuk memakainya terus setiap saat. Parulian mengaitkan seutas tali ke kalung anjingku dan menyerahkan ujungnya kepada Beni.

Sejak saat itu, Beni tak pernah menyetubuhiku sebelum Bruno mendapatkan bagiannya. Jika masa suburku tiba, minimal selama tiga hari aku selalu menginap di rumah keluarga Parulian supaya bisa kawin setiap saat dengan anjing mereka. Juga untuk meyakinkan bahwa tak ada benih suamiku yang bisa menghamiliku selama masa itu. Aku mencintai suamiku, aku senang menjadi istrinya dan sama sekali tak mempunyai keinginan untuk bercerai dengannya, tapi aku juga sudah tak ingin lagi memiliki anak darinya karena aku sudah mempunyai kekasih baru, Bruno. Jika aku harus hamil, biarlah itu berasal dari benih anjing kekasihku.

Selama aku menginap di rumah keluarga Simanjuntak aku tak pernah mengenakan pakaian apa pun kecuali kalung anjingku. Bahkan ketika pergi ke rumah mereka pun aku tak membawa pakaian secuil pun. Demikian pula ketika aku pulang kembali ke rumah suamiku setelah masa suburku lewat.

Beni tampak senang menjalani kehidupan seperti itu. Kami mulai memiliki segudang koleksi foto dan video tentang kehidupan cintaku bersama Bruno, kebanyakan berisi adegan-adegan percintaan seksual secara eksplisit. Kadang-kadang Beni dan pasangan Simanjuntak membawaku dan Bruno ke hutan kecil dekat rumah kami untuk berjalan-jalan. Kami pergi bermobil ke sana dan memarkir mobil di pinggiran hutan, lalu berjalan kaki masuk ke dalamnya. Tentu saja aku tak mengenakan apa-apa kecuali kalung anjingku dan seutas tali kekang yang terkait padanya. Lalu mereka bertiga berjalan-jalan mengelilingi hutan sambil memegang tali-tali yang terikat pada leherku dan leher Bruno. Aku diperlakukan sama seperti anjing karena aku adalah betina Bruno. Jika Bruno tiba-tiba muncul birahinya maka ia akan segera mengawiniku saat itu juga tanpa mempedulikan tempatnya. Sementara itu suamiku dan pasangan Simanjuntak pun akan berhenti sejenak dan mengabadikan seluruh adegan itu dengan kamera dan handycam mereka. Yah, begitulah kehidupan seekor anjing …….. Dan aku sangat menikmatinya!

TAMAT

Cerita Yang Mirip: