Category Archives: wanita dan anjing

Seorang wanita berhubungan seks dengan seekor anjing

Moci, Simpanse Tersayang

Copyright 2001, by 17th.com

(Wanita dan Simpanse, Wanita dan Anjing, Biseksual)

Namaku Herlin. Aku adalah seorang pegawai swasta di sebuah perusahaan jasa kontraktor di Sorong, Irian Jaya. Ibuku dari Solo dan Papa dari Manado. Sudah hampir 4 tahun aku tinggal di Sorong, Irian Jaya. Tadinya aku sekedar ikut suamiku yang kebetulan Pegawai Negeri di Dinas Kehutanan yang dipindahkan bertugas di Sorong. Daripada menganggur, setahun setelah kami pindah aku melamar kerja dan ternyata diterima. Mas Johan, suamiku pun tidak keberatan kalau aku bekerja. Hitung-hitung cari pengalaman, katanya.

Kisahku ini mungkin agak menggelikan dan menjijikkan, tetapi ini bukan basa-basi loh..! Di kota yang terbilang indah tetapi sepi ini, aku mempunyai seorang teman akrab, Susan namanya. Susan itu istri Marcel, teman sekantor suamiku. Nah, jika suamiku dan Marcel sedang tugas di luar Sorong, biasanya Susan menginap di rumahku. Atau kadang aku yang menginap di rumahnya. Kami pun jadi sangat akrab seperti saudara. Maklum, kami juga sama-sama belum dikaruniai anak, jadi rasa senasib terasa benar di antara kami.

Cerita ini berawal saat bulan Juni 2 tahun lalu, Mas Johan dan Marcel, suami Susan dapat panggilan pendidikan di Denpasar. Kami pun memutuskan bahwa aku lah yang harus menginap di rumah Susan selama dua minggu. Hari-hari pertama tidak ada yang ganjil bagiku. Rumah Susan menyenangkan. Maklum suaminya yang hobi mengoleksi hewan langka begitu pandai menata rumahnya.

Ada dua binatang kesayangan Marcel yang juga kesayangan Susan. Blacky si anjing herder jantan dan Moci si simpanse, jantan pula. Blacky anjing yang pintar dan Moci pun Simpanse yang cerdik, jadi mereka tetap akur. Saking sayangnya Susan dan Marcel pada mereka, mereka dibiarkan terlepas tidak terikat, apalagi dikurung.

Nah, suatu sore, sepulang aku dari kantorku, aku langsung mandi. Susan yang katanya lagi kangen berat sama Marcel tengah asyik nonton VCD. Tidak tahu apa filmnya, tetapi yang jelas Susan suka drama yang romantis. Usai mandi aku menemani Susan menonton VCD. Tentu saja Moci dan Blacky setia menemani kami.

“Wuih seriusnya. Film apaan sih San..?” tanyaku.

“Dramanya Robert de Niro nih, Lin. Lagi seru. Eh, tadi si Ivon kemari ngasih titipan buat kamu, tuh ada di meja tengah..!” jawab Susan sekaligus memberitahuku kalau si Ivon memberikan titipan.

Ivon itu kenalan baruku, pemilik Salon Ivon. Dan ternyata yang dibawanya adalah titipan Mas Johan, VCD porno, he.. he.. he..!

“Apaan tuh Lin..?” tanya Susan saat aku membuka koran bungkusan VCD itu.

“Eh, ini San.. titipannya Mas Johan. Film BF..” jawabku sekenanya.

Tanpa basa basi, Susan langsung merebut 3 keping VCD porno itu dari tanganku.

“Kita nonton yuk..! Buat hiburan..” katanya.

Yah, sore itu 3 film BF kami lihat bersama-sama, Moci dan Blacky seperti biasa menemani kami di dalam kamar.

Malam harinya, setelah makan malam, rasanya aku mengantuk sekali. Aku pun langsung tidur. Aku terjaga sekitar pukul 12 malam, biasa, kebelet pipis. Eh, tiba-tiba aku sadar kalau si Susan tidak ada di sisiku. Kemana ya..? Ah, aku langsung saja ke kamar mandi untuk pipis. Setelah itu baru aku cari Susan. Aku mencarinya hingga ke dapur tetapi tetap tidak ada.

Aku sedikit tersentak ketika melihat bayangan di ruang kerja Marcel. Aku juga mendengar erangan Susan. Sepertinya lagi dilanda birahi yang sangat tinggi. Aku mendekat ke arah pintu ruangan itu, dan kuintip dari lubang pintu. Astaga, dalam keremangan itu aku melihat Susan yang sudah tidak berbusana tengah dicumbui oleh Moci, simpanse kesayangannya.

“Ohh.. hsst.. nggghh.. Moci sayankhhh..” ceracau Susan tidak karuan.

Moci yang tingginya sekitar 160 cm dan berbadan besar itu tengah mengarahkan mulutnya ke selangkangan Susan. Susan sendiri matanya terpejam dan mengangkangkan kakinya sambil tiduran. Ihh serem..!

Aktifitas Moci makin menggila. Susan dibopongnya dan dibantingnya kembali ke sofa sehingga posisi Susan jadi membelakanginya. Lalu.. wow..! Batang penis Moci yang sudah mekar membesar itu langsung disodokkan ke arah liang senggamanya Susan.

“Ahhh.. hhsst… ayoo Moci..!” perintah Susan. Bagaikan budak yang baik, Moci langsung memompa pantatnya maju mundur sehingga batang kemaluannya yang berbulu menerobos masuk keluar vagina Susan.

“Oarghhk.. rgggkkk..” Moci mengerang ganas.

Susan terpontang-panting, kepalanya bergoyang-goyang. Kupikir, pastilah Susan merasakan kenikmatan luar biasa dari penis Moci. Aku yang melihat adegan Moci dan Susan menjadi tidak kuasa menahan gejolak yang mulai menjalari tubuhku.

Ah.. bersetubuh dengan hewan..? Tanpa sadar aku meraba-raba sendiri payudaraku. Lalu tanganku menyusup ke selangkanganku yang memang sudah tidak terbungkus (kalau tidur aku memang malas pakai CD dan Bra).

“Ooohh.. nikmatnya..” sambil mataku tetap memandangi tubuh Susan yang tengah digagahi Moci.

Tapi tiba-tiba aku dikejutkan oleh jilatan-jilatan halus di betisku. Astaga.. si Blacky tengah menjilati betisku. Aku ingin marah tetapi saat itu aku merasa kenikmatan tersendiri dari lidah Blacky. Aku pun membiarkan Blacky menjilati betisku dan mataku kembali ke lubang pintu, melihat Susan dan Moci.

Susan kini sudah ganti posisi. Kulihat dia telentang di sofa, sementara Moci menggenjotnya dari atas.

“Teruuss, Moci sayang.. aku kenikmataaann niiih..!” desah Susan.

Pemandangan di dalam ruang kerja Marcel itu membat birahiku segera memuncak. Apalagi jilatan Blacky sudah mulai naik hingga ke belahan pantatku yang memang menjorok ke belakang, karena aku sedang mengintip. Blacky nampaknya tengah birahi pula, pikirku.

“Hiissst.. Blacckkiiih..” desahku tanpa sadar.

Blacky memang pintar menaikan birahiku. Daerah betis hingga belahan pantatku terus saja dijilati lidahnya yang berstruktur agak kasar. Lama-lama aku sudah tidak konsentrasi lagi dengan Susan dan Moci.

Aku melangkah perlahan ke kamar tidur, sedangkan Blacky terus mengikutiku sambil menjilati pahaku. Kadang jilatan itu sampai juga ke vaginaku yang mulai berlendir. Aku duduk di tepi ranjang dengan kaki ternganga lebar. Kubiarkan Blacky kini menjilati vaginaku dengan leluasa.

“Lakukanlah Black.. aku milikmu sayang..!” rintihku.

Blacky semakin agresif menjilati vaginaku. Yang kurasakan saat itu tulang-tulangku seakan luluh lemas dan ingin segera menuju puncak kenikmatan.

“Ohhh.. Black.. sssttt.. yyeaahh..” desahku nikmat.

Kemudian mendadak Blacky berhenti beraksi.

“Grrrhhkkk..” dia menggumam seperti marah padaku.

Mulanya aku agak takut tetapi aku segera mengerti. Blacky rupanya ingin cepat-cepat menyetubuhiku. Aku pun segera turun dari ranjang dan merangkak membelakangi Blacky. Tidak lama kemudian Blacky mengangkat dua kaki depannya dan menekan pinggangku. Kini posisi kami layaknya sepasang anjing yang akan kawin.

“Auuhhhssstt.. ohhh..” desahku ketika merasakan ada benda yang agak kasar menerobos masuk di lubang senggamaku. Blacky memang sudah birahi dan langsung memompa kemaluanku dengan batang kemaluannya yang dua kali lebih besar dari milik Mas Johan suamiku. Vaginaku terasa sesak dan penuh oleh kemaluan anjing Herder itu.

Lima belas menit kemudian.

“Ohhh.. Blacky sayanggkkkhh.. aku keluar sayanghkkk..” teriakku histeris saat merasakan seluruh otot vaginaku berkontraksi cepat. Yaaa, aku orgasme. Tidak lama kemudian aku terkulai lemas seperti bersujud. Blacky masih aktif memompaku. Aku tersadar, kini posisi Blacky membelakangiku. Kami saling adu pantat, dengan kelamin bertemu (seperti anjing kawin itu lho).

Dalam keadaan tak berdaya, tiba-tiba pintu terbuka dan kudengar suara teriakan Susan.

“Ehh.. Herlin.. Kamuu..?” Susan kaget saat mendapatiku dalam posisi kawin anjing begitu.

Aku pun kaget tapi kupikir tak ada yang perlu disembunyikan. Aku tahu Susan pun melakukan hal yang sama dengan Moci.

“Kamu juga kan San..? Sama si Moci..?” jawabku kelelahan.

Susan pun tersenyum penuh pengertian.

“Mmmh, tadi kamu lihat aku ya…?”

Susan mendekatiku. Dibelainya rambut dan tubuhku yang masih nungging lemas tak berdaya. Tampak jelas ia mengamati dengan kagum penis Blacky yang terkunci di dalam vaginaku. Aku pun merasa tenang dan puas.

Ketika alat kelaminku dan Blacky akhirnya terpisah, aku dan Susan saling berciuman seperti sepasang kekasih. Padahal, sumpah, kami tak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya…! Karena sama-sama capek, kami berdua tidur berangkulan dalam kondisi bugil.

Paginya kami mandi berdua membersihkan sisa persetubuhan kami dengan hewan-hewan piaraan Susan dan Marcel. Awalnya Susan cuma pamit padaku saat akan pergi ke kamar mandi tapi, entah gimana, spontan aku berkata.

“San, kita mandi bareng aja yuk…?”

Susan cuma membelalakkan matanya sambil tersenyum lebar. Ia pun langsung mengiyakan dan menarik lenganku untuk bangun dari tempat tidur. Sambil mandi, tak lupa kami kembali saling bercumbu dan memuaskan hasrat seks kami. Kali ini Moci dan Blacky tentu saja tak ikut serta.

Sejak saat itu, selama dua minggu suami kami pergi pendidikan ke Denpasar, kami selalu dapat menuai kenikmatan dari binatang kesayangan Marcel dan Susan itu. Di samping kami berdua pun mulai menikmati hubungan lesbian kami. Yah.. hitung-hitung selingkuh tidak berisiko lah..!

TAMAT

Cerita Yang Mirip: