Klub Hewan dan Istri Selingkuh

Entries categorized as ‘wanita muda dan pria tua’

Skandal di Pulau Mentawai

January 11, 2009 · Leave a Comment

By Mario Soares & East Life

Hubungan Jonas Banak dan Reisa mengalir seperti air. Tiada lagi penghalang hubungan mereka di pulau itu meskipun masih bersifat sepihak karena tak diketahui oleh kedua orang tua Reisa di Padang. Kini mereka berdua menjalani hubungan sebagaimana layaknya suami istri.

Sayangnya kebahagiaan mereka tak bertahan lama. Hanya dalam waktu sebulan, tiba-tiba Jonas mendapat surat panggilan untuk segera pulang ke Semarang. Ia tak diberi toleransi sama sekali untuk mengulurnya. Walaupun merasa berat hati karena masih menjalani manisnya madu perkawinan dengan Reisa di pulau itu, Jonas terpaksa mematuhinya. Tentu saja Reisa tak mungkin ikut ke Semarang. Di pulau ini ia sudah mempunyai tugas dan kewajiban sendiri. Lagipula apa kata kedua orang tuanya nanti jika tiba-tiba ia pindah ke Semarang?

Pada malam terakhirnya di pulau Mentawai, Jonas memberikan Reisa siraman batin yang sempurna. Berkali-kali ia menghantarkan Reisa ke puncak kepuasan sebagai wanita dewasa di atas peraduan mereka berdua. Di kamar itu hanya cahaya temaram lampu, deritan ranjang, dan desahan serta lenguhan keduanya yang menjadi saksi pergumulan dua insan yang tak lama lagi akan terpisah oleh jarak yang jauh.

Dalam kebisuan malam yang dingin dan tenang itu, hanya terdengar lenguhan Reisa dan Jonas yang masih berpacu dalan birahi. Beberapa kali Reisa melenguh histeris menerima sodokan kemaluan Jonas di dalam rahimnya.

Menjelang pagi mereka menyudahi persetubuhan itu dan tertidur dengan saling berpelukan. Keringat membasahi tubuh keduanya. Masih terlihat bercak-bercak merah gigitan Jonas di leher dan payudara Reisa. Begitu juga di tubuh Jonas terlihat bekas cakaran kuku Reisa saat mendapatkan orgasme.

***

Sore hari itu dengan diantar Reisa dan keluarga Pak Nurfea Sabaggalet, Jonas menaiki kapal yang akan membawanya ke Padang, untuk kemudian diteruskan ke Jakarta lalu Semarang. Entah kenapa, Reisa hari itu memilih mengenakan busana yang nyaris serba hitam. Kemeja lengan panjang dan kerudungnya berwarna hitam. Hanya celana panjangnya yang berwarna abu-abu.

Ada gurat kesedihan di mata kedua anak manusia itu karena akan berpisah. Seakan tak mau melepas kepergian Jonas, Reisa sempat menitikkan air matanya. Jonas sempat mencium lama bibir Reisa di depan Pak dan Bu Nur sebelum ia naik ke kapal. Tak lama kemudian kapal itu bergerak menjauh meninggalkan pelabuhan Tua Pejat menuju Pelabuhan Muaro Padang.

Setelah kapal tak terlihat lagi, Reisa dan kedua suami istri itu kembali pulang ke tempatnya. Reisa menumpang sebuah sepeda motor ojek. Sedang Bu Nur berboncengan dengan Pak Nur.

dr Reisa dalam Kostum Kerjanya

dr Reisa dalam Kostum Kerjanya

Kini selama di tempat tugasnya Reisa melewatkan hari-harinya dengan rasa sepi. Tak terlihat lagi rona keceriaan di wajahnya, Reisa seolah kehilangan belahan jiwanya selama ini. Untunglah dengan adanya alat komunikasi, Reisa sering bertelepon atau SMS dengan Jonas. Rutinitas kembali dijalaninya seperti biasa. Sebagai tenaga medis yang profesional ia tak boleh meninggalkan pekerjaannya.

Berangsur hari demi hari Reisa mulai bisa melupakan kegundahannya. Hanya jika ia dan Bu Nur masuk ke pedalaman tempat bekas Jonas biasa bertugas, maka rasa sedih akan muncul kembali, teringat akan kenangan indah bersama Jonas. Cuma hiburan dari Bu Nur yang akhirnya bisa membuat Reisa menerima keadaan. Reisa sering main ke rumah Bu Nur untuk sekedar mengisi waktunya yang lowong. Terkadang Reisa suka bermain-main dengan anak Bu Nur yang masih berusia 5 tahun itu.

Minggu demi minggu berlalu. SMS dan telepon dari Jonas pun sedikit demi sedikit mulai berkurang. Apalagi kini Jonas ditempatkan di pedalaman Pulau Sulawesi. Selain jarak yang semakin jauh, hubungan telekomunikasi pun semakin sulit. Reisa akhirnya hanya bisa pasrah. Belum tentu ia bisa bertemu kembali dengan Jonas walaupun hanya setahun sekali.

Di luar pengetahuan Reisa dan Jonas, yang menyebabkan perpisahan mereka sebenarnya adalah Pak Nurfea. Tindakan ini dilakukannya karena ia cemburu melihat hubungan mesra kedua anak manusia itu.

Selama ini Pak Nur melihat Reisa seperti seorang bidadari yang diturunkan di pulau itu untuk mengabdi di bidang kesehatan. Sejauh ini ia belum punya keberanian untuk sekedar berdekatan apalagi menggoda Reisa. Keadaan mulai berbalik sejak ia menyaksikan hubungan antara Reisa dan Jonas yang sudah terlalu jauh.

Pak Nur merasa sangat tak nyaman jika Jonas terlalu sering menginap di tempat Reisa. Tidak jarang jika Jonas sedang bermalam di tempat Reisa, Pak Nur berusaha untuk mengintip apa yang dilakukan pasangan itu di kamar berdua. Hatinya semakin panas ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa mereka berdua melakukan hubungan intim seperti layaknya suami istri. Apalagi Reisa jadi semakin akrab dengan Jonas setelah rutin diintimi pemuda NTT itu.

Rasa iri dan dengki Pak Nur mencapai puncaknya setelah ikatan Jonas dan Reisa disahkan secara kristiani, walaupun belum sah secara hukum negara maupun menurut agama yang dianut Reisa. Sejak itu Jonas semakin bebas bermalam dan berhubungan dengan dokter muda itu dan Pak Nur semakin sulit tidur di malam hari karena rasa cemburunya.

Akhirnya Pak Nur menyusun rencana tersembunyi dalam benaknya. Disuratinya pihak seminari di Semarang untuk mengganti Jonas dan menariknya ke Semarang. Dikarangnya cerita bohong yang didukung oleh sekumpulan masyarakat sekitar yang bisa dipengaruhinya. Betapa senangnya hati Pak Nur ketika Jonas akhirnya dipindahkan jauh dari Reisa. Satu langkah sudah sukses ditempuhnya. Kini tinggal melanjut ke langkah berikutnya!

***

Kini Reisa sudah bisa menerima kenyataan ditinggalkan Jonas meski tentu saja ia jadi kehilangan kenikmatan badani yang biasa diberikan kekasihnya itu. Untuk melupakan kebutuhan biologisnya yang sudah beberapa bulan tak terpenuhi, Reisa jadi semakin larut dalam rutinitasnya.

Hubungannya dengan keluarga Bu Nur pun semakin dekat. Hanya dengan merekalah Reisa secara rutin berhubungan dan berkomunikasi setiap hari. Bu Nur merasa kasihan melihat Reisa yang tinggal sendirian di rumahnya. Berhubung masih ada satu kamar kosong, Bu Nur sering meminta Reisa menginap di rumahnya. Bahkan akhirnya Reisa menaruh sebagian barang-barangnya di situ sehingga ia bisa sewaktu-waktu bermalam di rumah keluarga Bu Nur.

Pak Nur yang selama ini memang mempunyai maksud tersembunyi jadi semakin senang ketika Reisa sering bermalam di rumahnya. Apalagi Reisa memang selalu melepas kerudungnya jika berada di dalam rumah, termasuk di rumah keluarga Pak Nur. Bahkan di malam hari biasanya Reisa hanya mengenakan gaun tidur one-piece-nya yang berwarna terang dan menempel di kulit. Dalam gaun tidurnya, kedua paha beserta bahu dan kedua lengan Reisa yang putih tak tertutupi. Tak heran Pak Nur sangat doyan ngobrol semalaman bersama Reisa jika dokter cantik itu menginap di rumahnya.

Suatu ketika Pak Nur harus berangkat ke desa asalnya di pedalaman. Di sana akan diadakan pesta rakyat sehubungan dengan perayaan adat yang akan diadakan warganya. Sebagai salah seorang yang dituakan dalam adatnya, Pak Nur diharuskan hadir. Kebetulan Bu Nur tak bisa datang menyertai Pak Nur karena anaknya kurang sehat. Untuk pergi ke desa itu harus naik perahu menyusuri hutan bakau dan cukup lama. Bu Nur menyarankan agar Pak Nur mengajak Reisa saja yang saat itu kebetulan sedang tak ada kegiatan di Puskesmas. Reisa tak kuasa menolak ajakan orang yang sudah dia anggap orangtua di daerah itu.

Selama perjalanan perahu dikayuh oleh nelayan setempat dan Pak Nur duduk di belakang Reisa. Reisa amat takjub akan pemandangan hutan bakau yang masih asli dan kicau burung yang sering terdengar. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan dengan perahu, mereka sampai di desa asal Pak Nur. Mereka lalu mengemasi barang bawaannya dan bersiap menuju rumah Pak Nur.

Selama perjalanan ke rumah Pak Nur, tak henti-hentinya Reisa mengagumi keindahan alam desa tersebut. Ia amat terkesan akan suasana desa yang tenteram dan segar. Reisa bergumam dalam hati bahwa ia amat bersyukur bisa bertugas di desa itu sambil berlibur seperti ini.

Rumah Pak Nurfea di Pedalaman Mentawai

Rumah Pak Nurfea di Pedalaman Mentawai

Dengan berjalan kaki, sampailah mereka di rumah keluarga Pak Nur. Rumah panggung itu terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Di dalamnya ada beberapa kamar yang dibatasi papan seadanya. Setiba di rumahnya, Pak Nur disambut oleh saudara-saudaranya. Tak lupa Pak Nur mengenalkan Reisa pada mereka, meski Reisa tak mengerti bahasa mereka, namun ia dapat menangkap maksud dari kata-kata Pak Nur dan saudara-saurdaranya itu. Mereka lalu dipersilakan naik ke atas rumah panggung.

Reisa disediakan sebuah kamar tersendiri untuk beristirahat. Seorang wanita seusianya mengantarkan Reisa ke kamarnya. Reisa meletakkan tas ransel bawaannya di salah satu sudut kamar. Di dalam kamar ada satu dipan kayu yang cukup sederhana dan hanya beralaskan kain tebal. Namun saat Reisa mencoba duduk diatasnya, terasa cukup nyaman.

Dari dalam kamar Reisa dapat melihat ke sekitar rumah. Tak jauh dari rumah itu ada sebuah kandang babi yang hanya dipagari dengan bambu. Bagi masyarakat desa itu, babi adalah hewan ternak dan melambangkan status sosial mereka. Dilihatnya babi yang dimiliki Pak Nur cukup banyak, menandakan status sosial Pak Nur yang cukup tinggi di antara warganya.

Reisa keluar dari kamar dan duduk bersama-sama para wanita yang saat itu sedang mempersiapkan pesta untuk malam nanti. Ibu-ibu dan gadis-gadisnya sedang membuat bumbu masak juga menyediakan peralatan pesta. Sementara bapak-bapak dan pemuda sibuk menyiapkan alat-alat di lapangan tak jauh dari rumah panggung itu. Reisa tak melihat Pak Nur lagi.

Senja itu dimulailah acara pesta tersebut. Dengan mengenakan pakaian adatnya, mereka semua keluar rumah. Tua, muda, anak kecil, dewasa, semuanya larut dalam acara tersebut. Mereka memenuhi lapangan yang kini dipenuhi orang-orang yang akan melakukan ritual acara adat itu. Bunyi tetabuhan alat musik jelas terdengar.

Reisa keluar dari rumah untuk menyaksikan acara tersebut dari kejauhan. Sengaja Reisa tak mengenakan kerudungnya. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan tergerai bebas. Ia hanya mengenakan t-shirt polos berlengan pendek yang menempel ketat di tubuhnya beserta celana pendek, supaya tak nampak terlalu berbeda dengan masyarakat di sekitarnya yang juga berpakaian seadanya.

Kaum bapak pada umumnya hanya memakai secarik kain cawat menutupi selangkangan mereka. Berbagai kalung dan hiasan kepala tradisional menghiasi tubuh mereka yang dipenuhi tattoo dan tindikan.

Reisa tak ketinggalan melihat Pak Nurfea yang juga mengenakan pakaian adatnya. Diam-diam Reisa mengagumi tubuh Pak Nur yang tampak liat berotot dan dipenuhi tattoo dalam keadaan nyaris telanjang. Baru kali itu ia melihat tubuh Pak Nur hampir seutuhnya tanpa mengenakan pakaian. Fisiknya yang tua tidak tampak sebagai kelemahan, bahkan sebaliknya menyiratkan kewibawaan dan karisma yang tinggi. Diam-diam matanya tak lepas mengawasi Pak Nur yang sedang berada di tengah-tengah warganya.

Tarian Magis Mentawai

Tarian Magis Mentawai

Tari-tarian dimulai dengan semakin kerasnya suara tetabuhan. Semakin malam acara semakin terasa kental hawa magisnya. Sebagian warga lainnya sibuk dengan acara memanggang babi.

Para warga desa larut dengan hiburan dan acara ritual malam itu. Pak Nurfea lalu mendatangi Reisa dan mengajaknya untuk turun di dalam keramaian dan kegembiraan masyarakat. Sambil menarik tangan Reisa ke dalam arena tari-tarian, mereka membaur dengan sorak-sorai warga desa.

Puncak pesta malam itu adalah makan-makan. Para warga berebut makan babi panggang. Reisa tentu saja tak ikut serta, namun Pak Nur memberinya makanan lain.

Malam semakin larut dan acara pun berakhir. Reisa disarankan Pak Nur pulang ke rumah. Reisa menurut dan pulang sendiri ke rumah Pak Nur yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari pusat acara. Ia langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa letih karena ikut menari. Baru kali ini ia merasakan eksotisnya menari bersama warga pedalaman di tengah hutan belantara. Ia begitu larut dalam acara tersebut dan seperti merasakan kebebasan dari segala macam beban.

Di dalam rumah, ia tak melihat penghuni lain. Beberapa saat kemudian saat Reisa sudah terbaring di dipan di dalam kamarnya, ia mendengar suara Pak Nur masuk ke rumah. Ia bersama seorang perempuan. Tampaknya perempuan itu adalah salah seorang gadis yang tadi siang ikut menyiapkan acara. Reisa mulai bisa mengenali suaranya karena mereka sempat ngobrol cukup lama.

Reisa merasa heran kenapa gadis itu juga masuk ke kamar sebelah bersama Pak Nur. Terdengar suara mereka yang saling tertawa dan berbisik-bisik. Reisa jadi tak bisa tidur dan mau tak mau ikut mendengarkan suara-suara dari kamar sebelah karena suasana malam yang sudah sunyi. Beberapa saat kemudian, Resa mulai bisa mendengarkan dengusan dua orang yang akan melakukan hubungan badan. Suara-suara itu memancingnya untuk mengetahui lebih lanjut apa yang dilakukan Pak Nur dan wanita itu di kamar sebelah.

Melalui celah papan di dinding kamarnya, dengan dada yang berdebar Reisa mengintip yang dilakukan Pak Nur. Untunglah kamar Pak Nur diterangi lilin sehingga walaupun temaram, Reisa dapat melihat jelas apa yang terjadi. Tampak tubuh Pak Nur yang meski tak muda lagi itu, sudah telanjang bulat, begitu juga dengan wanita itu. Mereka sama-sama bugil. Reisa semakin yakin bahwa gadis yang di kamar Pak Nur saat itu adalah wanita yang siang tadi bersamanya dan bahkan mengobrol akrab dengannya.

Dengan berdebar-debar, Reisa mengintip kelakuan dua orang berlainan jenis itu di kamar. Disaksikannya kedua tubuh telanjang itu akhirnya melakukan hubungan badan. Reisa sempat tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Apa mungkin Pak Nur yang ia nilai amat setia dengan bu Nur sampai melakukan hubungan seks dengan perempuan lain? Apa yang dilihatnya saat itu bukanlah mimpi? Sempat Reisa mencubit pipinya meyakinkan dirinya tentang apa yang dilihatnya saat itu. Ia tidak mimpi! Dengan jelas Reisa menyaksikan hubungan kelamin kedua orang di kamar sebelahnya.

Reisa bisa melihat dengan jelas saat Pak Nurfea memegang kemaluannya yang cukup perkasa itu akan memasuki liang kelamin wanita yang kini berada di bawahnya. Dada Reisa semakin tak kuat menyaksikan semua itu. Ia menjauh dan merebahkan dirinya di dipan kayu.

Reisa tak mampu memejamkan matanya, apalagi suara-suara persebadanan dua orang berbeda jenis dan usia itu amat mengganggu naluri kewanitaannya. Reisa jadi ingat saat-saat ia melakukan hubungan badan dengan Jonas dulu yang kini sudah tak bisa ia dapatkan lagi. Ia ingin merasakan kembali saat-saat indah bersama Jonas dulu. Ia rindu akan siraman untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Khayalan Reisa terhenti karena mendengar suara dengus dan jeritan orgasme si wanita yang berbarengan dengan suara Pak Nurfea. Reisa merasa menggigil jika membayangkan hal itu terjadi lagi pada dirinya. Dada Reisa terasa ikut berdebar-debar dan nafasnya ikut terengah-engah karena hasratnya yang ikut terangkat. Dari suara wanita itu, ia dapat tahu bahwa si wanita telah orgasme dan disusul oleh Pak Nur. Kemudian suara diam dan hanya deru nafas kedua manusia di kamar sebelah.

Suasana diam malam itu hanya sebentar, tak lama kemudian Reisa mendengar kembali kegiatan kedua manusia itu. Reisa merasa heran kenapa Pak Nur masih saja kuat untuk melakukan hubungan seks kembali. Bukankah barusan ia sudah klimaks. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Namun ia tak mendapatkan jawaban yang cukup karena suara-suara di kamar sebelahnya kembali menganggu pikirannya.

Kembali terdengar suara derit dipan kayu dan dengus keduanya. Kini tak hanya dengus namun suara pertemuan kedua paha yang besentuhan semakin jelas. Reisa tak terlalu sulit menelaah apa yang terjadi di sebelah kamarnya saat itu, sebab ia juga pernah melakukan itu dulu bersama Jonas. Reisa cuma semakin heran dengan suara-suara nafas Pak Nur yang semakin kuat dan goyangan dipan yang seakan mau patah. Betapa besarnya nafsu seks Pak Nur! Reisa tak sampai hati membayangkan apa yang terjadi pada gadis itu. Ia tahu persis bagaimana sosok gadis yang sedang disenggamai Pak Nur. Gadis itu terbilang masih muda dan jauh sekali jarak usianya dan Pak Nur.

Pak Nurfea Sabaggalet dengan Kostum Adatnya

Pak Nurfea Sabaggalet dengan Kostum Adatnya

Reisa tak habis pikir kenapa orang tua gadis itu mengizinkan anaknya bersebadan dengan Pak Nur yang memang sudah tua dan berpengalaman. Apakah karena Pak Nur adalah seorang yang dituakan dan terpandang di tengah masyarakatnya sehingga bersetubuh dengan Pak Nur bisa dianggap sebagai sebuah kehormatan? Apakah ini tradisi biasa di sini?

Sayup-sayup terdengar suara si gadis yang merengek minta ampun dan berhenti agar Pak Nur tak lagi menggagahinya. Tampaknya Pak Nur tak mempedulikannya. Suara deritan dipan dan lenguhan nafas Pak Nur terus terdengar. Semakin lama suara wanita itu semakin melemah dan nyaris tak terdengar lagi. Yang kini terdengar hanya suara Pak Nur yang masih terus berpacu dengan deritan dipan. Apakah gadis itu tak sadarkan diri?

Suara deritan dipan tak kunjung berhenti, seolah digerakkan secara teratur oleh mesin. Reisa mulai tak sabar menunggu suara itu berakhir. Beberapa saat kemudian, suara nafas berat Pak Nur terdengar semakin mengeras. Akhirnya terdengar geraman suara Pak Nur. Tampaknya ia sedang mencapai puncaknya. Selanjutnya sepi, tak ada bunyi apa pun yang terdengar lagi. Reisa berusaha mengintip kembali.

Ia dapat melihat dengan jelas si wanita telah tergolek mengangkang sedangkan Pak Nur yang berada di atasnya berusaha menarik kemaluannya dari liang wanita itu. Reisa juga menyaksikan benda milik Pak Nur masih saja tegak walaupun sudah klimaks di dalam liang rahim wanita itu. Lalu Pak Nur merebahkan tubuhnya di samping wanita itu. Reisa kembali ke dipannya dan merebahkan diri. Di tengah kepenatan dan berbagai pikiran yang berkecamuk, Reisa akhirnya tertidur.

***

Suara kokok ayam dan dinginnya udara pagi membangunkan Reisa dari tidurnya. Pagi itu Reisa bangun dan membuka jendela kamarnya. Tampak di luar rumah Pak Nur sedang melihat-lihat babi peliharaannya. Sambil memberi aba-aba dengan tangannya, Pak Nur memanggil Reisa agar ikut bersamanya. Reisa merapikan dipannya dan mengambil sabun juga sikat gigi berikut odol. Reisa tak menemukan orang lain di rumah itu namun ia turun juga dari rumah dan menuju Pak Nur.

Reisa menanyakan kamar mandi untuknya membersihkan badan. Pak Nur bilang di situ hanya ada sebuah tempat mandi di sungai. Sambil menunjukkan arahnya, Pak Nur menemani Reisa. Ternyata sungai itu terletak tepat di belakang rumah Pak Nur. Tampak air sungai amat jernih dan bening. Reisa lalu menggosok giginya dengan sikat gigi yang ia bawa. Sungai itu biasa digunakan masyarakat setempat untuk mencuci dan mandi. Tempat mandinya ditutupi oleh dinding bambu.

Setelah membersihkan mulut dan cuci muka, Reisa berlalu bersama Pak Nur ke rumah. Reisa agak terkejut karena di lantai telah tersedia makanan. Tampak wanita yang malam tadi bersebadan dengan Pak Nur sedang menyiapkan makanan. Wajahnya cukup manis dengan badan yang sedikit lebih pendek dari Reisa. Usianya paling tidak 5 tahun lebih muda dari Reisa. Jalannya pagi itu tampak sedikit pincang. Reisa maklum karena tahu ia telah dikerjai Pak Nur dengan hebatnya semalam. Rupanya di rumah itu hanya ada mereka bertiga.

Setelah semuanya tersaji, gadis itu, yang belakangan diketahui Reisa bernama Yuli, mempersilakan mereka makan. Reisa hanya makan nasi yang berlaukkan ikan, sebab di antara sajian itu ia yakin ada daging babinya. Pak Nur makan dengan lahap, berbeda dengan Reisa yang makan untuk menganjal perutnya saja. Selesai makan, gadis tadi dipanggil Pak Nur untuk membereskan makanan yang tersaji.

Reisa beranjak ke tempat lain di rumah panggung itu. Sedang Pak Nur masih memandang keluar rumah melalui jendela. Pak Nur bertanya kepada Reisa tentang suasana alam desanya. Reisa menjawab bahwa ia amat senang tinggal di desa itu.

Sampai menjelang siang tak banyak kegiatan yang bisa mereka lakukan. Sinyal HP tidak ada di desa Pak Nur itu. Pak Nur lalu mengajak Reisa untuk berjalan untuk melihat-lihat ladang yang dimiliki keluarga Pak Nur. Reisa setuju saja sebab mereka sudah harus kembali ke tempatnya keesokan harinya.

Siang itu, Reisa dan Pak Nur menyusuri hutan menuju ladang milik Pak Nur. Tak jauh memang dari kampung itu. Masih di tengah hutan yang masih penuh oleh pohon-pohon yang lebat. Ladang Pak Nur amat luas dan ditumbuhi aneka macam tanaman seperti kacang-kacangan, lada, juga sayuran. Pak Nur mengatakan bahwa tak lama lagi ia akan panen. Reisa semakin salut dan simpatik karena Pak Nur dapat memanfaatkan lahan yang ia miliki untuk menambah pendapatannya. Jadi selama ini jika tak ada kesibukan Pak Nur selalu ke desanya untuk melihat-lihat ladangnya.

Setelah capai berjalan-jalan, Pak Nur mengajak Reisa singgah di sebuah gubuk yang biasa digunakan untuk beristirahat atau terkadang untuk bermalam jika menjaga ladang di malam hari. Di dalam gubuknya, Pak Nur juga menyediakan sebuah dipan dari rotan. Reisa suka sekali dengan suasana di tengah ladang itu. Suasananya yang tenang dan alami membuat nyaman pikirannya. Reisa menghenyakkan pantatnya di dipan itu.

Pak Nur sendiri mencari kelapa muda yang memang sudah mulai banyak di ladang itu. Ia membawa dua buah kelapa muda sebagai pelepas dahaga mereka. Dengan golok yang dibawa Pak Nur, kelapa itu ia kupas dan keluarkan airnya. Satunya di berikan pada Reisa sedangkan yang satunya lagi ia minum sendiri.

Hawa angin sejuk yang membelai kulitnya membuat Reisa merasa ngantuk. Di samping karena tadi malam ia terlambat tidur akibatgangguan dari sebelah kamarnya. Pak Nur lalu menyuruh Reisa untuk istirahat. Pak Nur sendiri pergi ke ladang lagi untuk mengatapel burung untuk makan malam.

Reisa lalu rebahan di dipan kayu itu sementara Pak Nur keluar pondok untuk mulai mencari burung. Di tengah tidurnya Reisa tak sadar bahwa cuaca mulai mendung dan akan turun hujan. Tanpa disadarinya, gerimis mulai turun dan hujan turun semakin deras.

Reisa terbangun karena ada suara hujan dan hawa dingin yang menerpa tubuhnya. Ia tak menemukan Pak Nur padahal jam di arlojinya menunjukkan jam 5 sore. Mereka harus segera kembali ke rumah Pak Nur.

Tak lama kemudian Pak Nur muncul dengan basah kuyup sambil membawa beberapa ekor burung hasil buruannya. Pria itu masuk pondok dan melepaskan bajunya yang basah. Bajunya ia jemur di tali yang berada di serambi pondok. Ia masuk ke pondok. Didapatinya Reisa sudah bangun dan duduk di tepi dipan. Dengan masih bertelanjang dada Pak Nur bertanya pada Reisa.

“Dik Reisa… Apa kita pulang sekarang saja atau tunggu hujan berhenti?”

“Nanti saja Pak, biar hujannya reda dulu,” jawab dokter muda itu.

Akhirnya Pak Nur kembali keluar pondok. Sambil menunggu hujan reda, ia membersihkan burung hasil tangkapannya dengan pisau dan dicucinya dengan air hujan.

Burung-burung hasil tangkapannya telah dibersihkan dan siap untuk dimasaknya. Setelah dibersihkan burung burung itu diikatnya dan digantung di atap pondok rumbia itu. Reisa asik memperhatikan Pak Nur yang dengan cekatan membersihkan hewan tangkapannya itu. Lalu Pak Nur masuk ke pondok, karena hujan kembali datang dengan disertai angin kencang. Reisa telah lebih dahulu masuk dan duduk di atas dipan. Pak Nur lalu duduk di samping Reisa. Ia menggerutu karena hujan belum juga reda padahal ia ingin sekali membakar burung itu.

Hawa dingin dan hujan membuat kedua tubuh anak manusia itu semakin didera rasa dingin yang amat sangat. Pak Nur yang tidak memakai baju karena bajunya basah berusaha merapatkan tubuhnya ke tubuh Reisa. Dengan sedikit penolakan dari Reisa Pak Nur tak merapatkan diri lagi. Ia hanya menyilangkan kedua tangannya di dadanya karena dingin.

Pak Nur akhirnya berdiri menutupkan kain lusuh yang menutupi jendela sebab air hujan masuk juga melalui jendela itu. Setelah menutup jendela, Pak Nur kembali ke samping Reisa. Sambil berkata pada Reisa bagaimana jika mereka pulang saja sebab hujan seperti tak akan berhenti dalam waktu dekat dan mereka bisa terjebak semalaman di dalam pondok. Reisa masih diam memandang ke arah Pak Nur. Ia meminta agar menunggu beberapa waktu lagi.

Waktu sekarang telah menunjukkan pukul 6 sore. Hutan semakin gelap dan hujan tetap tak reda sedikitpun. Pondok seolah mau roboh oleh angin kencang. Akhirnya Pak Nur dan Reisa sepakat untuk berusaha pulang dengan menerobos derasnya hujan. Dengan memegang tangan Reisa, Pak Nur lalu keluar pondok.

Tubuh keduanya semakin basah kuyup oleh siraman hujan di hutan itu. Ternyata hujan malah semakin deras. Petir menyambar sebuah pohon di dekat mereka dan mengagetkan keduanya. Rasa dingin dan cemas akan kondisi cuaca yang buruk membuat keduanya semakin merapat dan tak memperdulikan dengan siapa mereka bersama. Reisa tak lagi malu merapatkan tubuhnya pada tubuh Pak Nur, begitu juga sebaliknya. Pak Nur dapat dengan nyata merasakan sentuhan tubuh Reisa dan tonjolan kedua payudaranya. Dalam suasana seperti itu kembali mereka melanjutkan perjalanan sambil berangkulan takut terjatuh karena jalanan setapak yang licin.

Perjalanan menuju rumah Pak Nur masih jauh. Di tengah jalan mereka menemukan sebuah tempat yang terlindung dari hujan di antara kaki bukit dalam hutan itu. Karena perjalanan masih jauh sementara mereka sudah basah kuyup dan capai, keduanya sepakat untuk berteduh sejenak. Meskipun tak terlalu luas namun cukup untuk mereka berdua berteduh dari hujan yang semakin deras.

Mereka masuk ke dalam celah batuan yang menyerupai goa itu untuk berteduh. Pak Nur meletakkan tas yang berisi hewan buruannya tadi. Lalu tanpa merasa sungkan sedikitpun, ia melepaskan baju dan celananya yang basah kuyup oleh hujan sehingga kini ia telanjang bulat. Reisa spontan merasa malu melihat keadaan Pak Nur. Ia hanya melengoskan wajahnya ke arah lain.

Pak Nur berkata pada Reisa agar mengeringkan bajunya agar tak sakit nantinya. Reisa merasa malu untuk melepas busananya, apalagi saat itu ada pria asing. Pak Nur mengingatkan Reisa untuk tak perlu malu padanya sebab kesehatan lebih penting. Saat itu seluruh bajunya sudah basah semua. Reisa sempat merasa malu karena dialah yang dokter dan seharusnya lebih memperhatikan masalah kesehatan.

Seakan mengerti, Pak Nur lalu berusaha mencari tempat lain agar Reisa tak merasa dilihat olehnya. Reisa masih merasa tak enak hati jika harus bugil di depan Pak Nur.

Setelah merasa aman dari pandangan Pak Nur, secara perlahan Reisa melepaskan kerudungnya, lalu busana atasnya, juga kaos dalam yang selalu ia pakai. Kini tinggal BH putihnya yang tersisa pada bagian atas tubuhnya. Terlihat belahan dadanya yang putih dan mulus itu basah oleh hujan. Reisa lalu menjemur kerudung dan bajunya dengan meletakkannya di atas batu yang masih kering dalam goa itu.

Pak Nur tanpa sepengetahuan Reisa sebenarnya masih memperhatikan tubuh Reisa dari jauh. Ia amat menikmati menonton Reisa melepaskan pakaiannya satu per satu dan melihat putih dan halusnya kulit tubuh Reisa yang sepanjang hari ini tertutup rapat. Tubuh putih itu lalu melepas celana panjangnya dan tinggal tersisa celana dalamnya. Celana panjangnya ia jemur dekat baju atasannya. Kini Reisa hanya memakai celana dalam dan bra. Dengan kedua tangannya ia tutupi benda kenyal miliknya itu dengan rapat karena ia masih merasa malu kepada Pak Nur.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Pak Nur mendekatinya. Reisa terlihat kaget dan makin merapatkan silangan di dadanya.

Pak Nur mencoba ngobrol dengan Reisa dalam usahanya memberikan Reisa rasa tenang dan nyaman.

Reisa masih diam saja. Kondisi tubuhnya tak memungkinkan ia bergerak banyak sebab akan membuat bagian-bagain vital dari tubuhnya terlihat. Pak Nur mengajak Reisa berbincang-bincang mengenai hubungan Reisa dan Jonas. Reisa menjawab kalau ia sudah lama tak kontak lagi dengan Jonas yang mungkin sudah melupakannya. Emosi Reisa terpancing oleh kata-kata Pak Nur.

Tanpa ia sadari Pak Nur semakin mendekat ke tubuhnya yang tidak mengenakan baju. Dibantu oleh situasi saat itu, kedua tubuh anak manusia itu akhirnya saling bersentuhan dan merapat, seolah berbagi kehangatan yang tersisa di tubuh mereka. Di samping itu Pak Nur sengaja bercakap pelan-pelan di tengah hujan yang sangat lebat itu sehingga mau tak mau mereka berdua harus saling berdekatan ketika berbicara.

Reisa semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Pak Nur. Secara biologis ia memang merindukan kedekatan secara fisik dengan seorang laki-laki. Pak Nur tak melewatkan kesempatan itu, dia tahu apa yang harus ia perbuat pada perempuan bertubuh sintal dan mulus itu.

Pak Nur merebahkan kepala Reisa di bahunya untuk membuatnya merasa nyaman. Reisa pun mengikuti saja bimbingan tangan Pak Nur. Ia lalu rebah di bahu Pak Nur dan memicingkan matanya yang ia rasakan semakin didera rasa ngantuk. Sentuhan kulit dengan kulit antara keduanya memberikan rasa hangat dan tenang.

Tangan Pak Nur meraih jemari Reisa dan meremasnya ingin memberikan kehangatan genggaman pada Reisa. Reisa rela saja menerimanya. Ia pun menyambut genggaman jari tangan kasar milik Pak Nur.

Pak Nur merasa sangat senang begitu tahu Reisa tak menolak genggaman tangannya. Ia lalu menghembuskan hawa nafasnya yang hangat ke balik telinga Reisa. Rasa hangat dan geli dirasakan Reisa. Ia semakin menggenggam erat tangan Pak Nur. Kini Reisa pasrah di pelukan laki-laki seusia ayahnya. Tubuh Pak Nur merasakan dengan nyata detak jantung Reisa yang semakin kencang, apalagi mereka tak dibatasi oleh pakaian apa pun. Kini kulit kedua manusia berlainan jenis dan usia yang jauh itu semakin menempel erat. Rasa hangat yang terasa di antara mereka mulai mampu memercikkan gairah dan birahi yang semakin nyata.

Pak Nur semakin berani melakukan rangsangan seksual secara langsung ke tubuh Reisa. Tanpa malu Pak Nur mulai menciumi pipi dan balik telinga Reisa. Reisa tak menolak perlakuan Pak Nur kepadanya. Reisa hanya membutuhkan kehangatan seorang lelaki yang terasa nyata di sekujur tubuhnya dari tubuh Pak Nur.

Perlahan Pak Nur mengendurkan genggamannya dan jarinya mulai merayap ke arah payudara Reisa yang saat itu hanya tertutup BH. Tangan Pak Nur berusaha melepaskan silangan tangan Reisa. Untungnya tak ada penolakan yang berarti dari Reisa. Kini jari-jemari Pak Nur dengan bebasnya meraba dan meremasi kedua bukit kembar Reisa yang masih tertutup BH. Seakan memiliki mata, jari pak Nur melepaskan cup penutup puting BH yang dikenakan Reisa. BH itu kini terbuka namun masih berada di dada yang putih mulus itu. Jari-jari Pak Nur tak henti-hentinya melilin dan meremas kedua bukit salju yang indah menawan itu.

Perbuatan Pak Nur itu membuat Reisa semakin terpuruk ke jurang birahi yang tak sanggup diungkap dengan kata-kata. Kesempatan itu tak disia-siakan Pak Nur dengan menurunkan wajahnya untuk mengemut dan menjilat kedua bukit kembar yang empuk dan montok itu. Reisa tak mampu melihat perbuatan Pak Nur saat itu. Pikiran sehatnya tak bekerja dengan baik dan malah cenderung menuntunnya untuk menerima dan membalas rabaan dan jilatan Pak Nur tersebut.

Puas di wilayah dada Reisa, perlahan tapi pasti tangan Pak Nur terus turun ke arah selangkangan Reisa yang masih mengenakan celana dalam. Sambil memeluk tubuh Reisa, tangan Pak Nur yang satu lagi langsung masuk ke arah titik intim di tubuh gadis itu. Jari-jari kasar pria setengah baya itu masuk di celah lepitan kelamin Reisa. Jari-jari itu terus masuk di celah itu hingga menemukan daging kecil yang terletak diantara celah kelamin Reisa. Reisa seolah kembali menemukan kenikmatan yang sudah tak ia dapatkan sejak Jonas pergi. Dokter muda itu hanya mampu menerima perlakuan Pak Nur pada tubuhnya dengan memejamkan matanya. Tubuhnya kini sudah di tuntun sepenuhnya oleh Pak Nur. Tak memakan waktu lama bagi Reisa untuk mendapatkan orgasme melalui tangan Pak Nur. Diraihnya kepala Pak Nur yang saat itu sedang berada di belahan dadanya.

Setelah merasakan orgasme yang datang, Pak Nur berupaya melepas celana dalam Reisa. Setelah semuanya terlepas dari pemiliknya tubuh Reisa sudah tak tertutup selembar benang pun. Pak Nur sangat takjub melihat tubuh mulus dan menggairahkan itu yang kini terpampang nyata di depannya. Tubuh dokter muda itu kini tak berdaya dan pasrah menerima yang akan dilakukan si pria setengah baya.

Pak Nur lalu menurunkan wajahnya ke celah yang masih basah oleh cairan orgasme Reisa. Mulutnya melata mencari liang yang selama ini amat ia inginkan. Kembali kesadaran Reisa pulih saat lidah kesat itu perlahan masuk di celah kemaluannya. Rasa geli dan sengatan birahi membuatnya semakin tak mampu menahan laju gairah Pak Nur. Kedua kakinya ia rapatkan agar kepala Pak Nur menjauh dari celah intimnya itu. Namun semuanya percuma. Ketika ia merasakan adanya gejolak dari dalam tubuhnya, tubuhnya seakan merestui perbuatan Pak Nur itu.

Bahasa tubuh Reisa mampu mengalahkan pemberontakan akal sehatnya yang mulai pulih ketika itu. Tak lama memang Reisa merasakan kembali meledakkan cairan di pusat kewanitaanya itu. Liang kemaluannya mengeluarkan cairan pertanda ia sudah mendapatkan orgasme untuk kedua kalinya.

Pak Nur masih sibuk menjilati liang yang kini basah oleh cairan cinta Reisa. Dengan lahap dan tanpa jijik, ia telan lendir yang keluar dari celah kelamin Reisa. Reisa kembali merasakan tubuhnya lemah total dan tak mampu bergerak.

Saat itu hujan sudah berhenti. Pak Nur melepaskan tubuh Reisa dari dempetannya lalu mengambil pakaian Reisa dan menyerahkan pada dokter itu. Ia menyuruh Reisa untuk cepat berbenah agar secepatnya bisa sampai di rumah.

Dengan muka sedikit merah karena malu, Reisa mengenakan kembali pakaiannya. Ia tak mampu memandang kepada Pak Nur karena kini ia sudah merasakan kenikmatan dari laki-laki paruh baya itu. Meskipun mereka belum melakukan hubungan kelamin tapi Reisa sadar kalau ini hanyalah awal. Pada dasarnya tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan dari Pak Nur setelah mereka menjalani saat-saat intim tadi.

Selama perjalanan mereka diam membisu. Tak lama mereka sudah sampai di rumah panggung Pak Nur. Reisa disarankan Pak Nur untuk mandi membersihkan tubuhnya dari perbuatan mereka di goa tadi.

Reisa berjalan ke arah kamar mandi yang terbuat dari bambu itu. Setelah selesai ia menaiki rumah dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Pak Nur sendiri membersihkan burung yang ia buru di ladangnya tadi dan memasaknya.

Malam itu mereka berdua saja makan di lantai. Yuli yang juga ada di rumah itu makan sendiri di belakang. Dengan demikian Pak Nur bisa bebas ngobrol dengan Reisa sampai ke hal-hal yang bersifat pribadi. Setelah mereka selesai, barulah Yuli datang untuk membereskan.

Cahaya lampu di dinding semakin menambah kesan romantis malam itu. Reisa tak melihat Yuli lagi, entah ke mana perginya gadis itu. Pak Nur mendekat ke arah duduk Reisa. Sambil meraih jemari Reisa, ia menarik tangan wanita itu ke bibirnya dan diciumnya.

Reisa awalnya berusaha menolak cumbuan itu, namun Pak Nur terus berkeras. Di samping itu, Reisa sadar kalau ia tak bisa berpura-pura lagi di hadapan Pak Nur. Laki-laki tua itu sudah membuatnya orgasme sore tadi. Mereka sudah tahu sama tahu kalau mereka saling membutuhkan secara ragawi. Pak Nur menarik tubuh Reisa ke pelukannya. Reisa tak bisa menahan tarikan itu hingga tubuhnya kembali rebah di dalam pelukan Pak Nur.

Dengan gencar Pak Nur mengulum bibir tipis milik Reisa. Reisa seakan tak mampu bernafas. Ciuman Pak Nur membuatnya semakin tak mampu lepas dari belitan tangan Pak Nur. Reisa hanya menurut dan membalas ciuman orang yang cukup ia segani dan menjadi tempat berlindungnya itu. Belitan lidah Pak Nur mampu membakar birahi Reisa. Apalagi tangan Pak Nur ikut juga meraba dada Reisa yang masih terbungkus pakaian tidur. Jari-jari itu kembali menggerayangi bukit kembar milik Reisa. Wanita itu menerima semuanya tanpa penolakan sedikitpun karena telah sekian lama ia gersang tak merasakan kenikmatan hubungan biologis lagi.

Pak Nur menghentikan tindakannya itu. Pakaian Reisa sempat acak-acakan. Sambil bangun dari duduk, Pak Nur menarik tubuh Reisa agar berdiri mengikutinya. Kemudian Reisa digiringnya masuk ke kamarnya. Reisa sadar ia akan diperlakukan Pak Nur seperti gadis yang kemarin ia intip.

Sampai di dalam kamar, Pak Nur melepaskan genggaman pada Reisa yang masih berdiri mematung memandangnya. Pak Nur menutup pintu kamar. Reisa lalu diajak ke tepian ranjang kayu milik Pak Nur. Ranjang itu hanya beralaskan tikar pandan namun terasa amat hangat. Saat berhadap-hadapan dengan Pak Nur, Reisa tak mampu memandangnya.

Bak seorang pengantin baru, Pak Nur menciumi bibir Reisa beberapa saat. Reisa hanya menerima dengan pasrah. Kemudian Pak Nur melepaskan satu per satu kancing piyama Reisa hingga lepas dan tinggal BH saja. Kemudian BH itu ia lepaskan dan kini dada mulus milik Reisa terpampang di muka Pak Nur. Dada Reisa masih kencang dan montok, di lehernya teruntai kalung emas yang amat serasi dengan kulit pemiliknya yang putih.

Seperti seorang bayi dewasa, Pak Nur kembali menetek pada dada Reisa yang kini semakin mengeras oleh gerakan mulut Pak Nur. Reisa semakin tenggelam oleh samudera birahinya sendiri. Kedua tangan Pak Nur menahan bahu Reisa agar ia dapat memilin dan memberi cupangan di dada mulus itu. Pria itu lalu merebahkan tubuh Reisa di dipannya.

Ia lalu celana dalam itu dari tubuh pemiliknya. Sama sekali tak sulit karena Reisa tak menolak, bahkan sangat bekerja sama. Tampaknya ia juga ingin melakukan hubungan seks bersama laki-laki tua itu. Kini tubuh dokter itu sudah polos seperti bayi dewasa yang butuh belaian dari laki-laki dewasa.

Pak Nur pun tak mau kalah. Melihat tubuh yang selama ini menjadi khayalannya itu berada di depannya dan siap untuk disetubuhinya, ia lantas juga melepas semua pakaiannya hingga tak tersisa. Dengan bangga Pak Nur ingin agar Reisa merasakan benda miliknya yang sudah banyak makan korban itu. Dibimbingnya tangan Reisa untuk mengusap dan membelai batang kelaminnya yang tegak seperti sebatang kayu. Reisa melakukannya sambil tersipu.

Memang Pak Nur bukanlah orang sembarangan. Dari luar orang hanya tahu ia adalah laki-laki tua yang bertugas di pulau itu dan memiliki seorang istri. Namun semua itu adalah karena kepintarannya menutupi yang sebenarnya. Pak Nur yang saat itu sudah berusia sekitar 50 tahun sudah banyak mengambil korban wanita. Sejak berusia 18 tahun ia telah mencoba berbagai macam wanita untuk ditidurinya. Tak peduli apakah itu anak gadis orang, juga istri orang yang bertugas di pulau itu, juga ada guru yang kini sudah pindah, kadang turis bule yang sering datang ke pulau itu pun ia nikmati. Menaklukkan Reisa bukanlah pekerjaan yang besar baginya.

Bu Nur sendiri sudah tahu betul dan mafhum dengan kelakuan suaminya itu. Memang saat ia dinikahi sekitar 25 tahun yang lalu, Pak Nur sudah terkenal dengan reputasinya sebagai penakluk wanita. Apalagi Pak Nur memang keturunan ketua adat yang secara tradisional memang dianggap memiliki hak lebih dalam hal wanita. Bu Nur sama sekali tak keberatan selama dia tetap sebagai satu-satunya istri Pak Nurfea yang dianggap sah oleh gereja. Wanita yang lainnya tak lebih daripada sekedar gundik Pak Nur, seperti halnya Reisa sekarang ini.

Berbekal pengalamannya selama ini, Pak Nur mulai membakar birahi Reisa. Dokter cantik itu hanya merem merasakan birahinya yang membara disulut Pak Nur. Sekujur tubuh Reisa kini sedang dijilat bibir kasar laki-laki itu, tanpa melewatkan sedikitpun bagian-bagian yang tersembunyi di tubuh dokter itu. Reisa merasakan dirinya semakin terbang di awang-awang, berbeda saat ia mengalaminya bersama Jonas dulu.

Pak Nur lalu membuka kedua paha Reisa yang terlihat mulai basah oleh keringatnya. Butir-butir peluh di paha itu membuat Pak Nur semakin yakin Reisa sudah bisa disetubuhi. Pak Nur kembali menjilat payudara Reisa dan sesekali mengigit putingnya. Kemudian lidahnya turun ke arah lepitan liang kelamin dokter itu. Lidah Pak Nur dengan lancar masuk liang sempit itu meski sudah tak perawan lagi namun Pak Nur masih merasakan jepitannya masih mampu membuat lidahnya tak bebas didalamnya. Reisa semakin terbang di awang-awang merasakan tubuhnya semakin tak kuasa menahan birahinya.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang akan keluar dari liang kemaluannya. Memang kini ia sudah orgasme, cairan kewanitaanya dihisap Pak Nur dengan lahap. Reisa semakin tak berdaya, tubuhnya lemah merasakan orgasme itu. Selesai melahap semua cairan yang keluar dari liang Reisa, Pak Nur memposisikan diri di antara kedua paha jenjang itu. Tak sulit memang, apalagi saat itu Reisa sudah telentang meresapi kenikmatan yang baru ia rasakan.

Pak Nur sadar ia harus kembali memancing gairah Reisa jika ingin menyenggamainya. Perlahan Pak Nur meraba dan memilin kedua payudara yang sudah licin karena keringat sang pemiliknya. Tak lupa Pak Nur mengulum lidah Reisa dan membelitnya. Reisa yang semula hanya pasif merasakan tubuhnya kembali ingin mengikuti kelakuan Pak Nur. Lidah Reisa kini pun membelit lidah Pak Nur. Kedua tubuh bugil itu kini sudah bercampur dan tak dibatasi apapun. Keringat keduanya semakin larut di kulit masing-masing.

Reisa kembali terbakar birahi dan siap melakukan apa yang diingini Pak Nur. Reisa tak lagi merasakan kuatir terhadap apa yang kemarin ia intip. Pak Nur membuka kedua paha Reisa dan membukanya. Kedua paha Reisa dilipatkan keatas agar gampang ia masuki. Kini tubuh pak Pak Nur sudah sejajar lalu berupaya masuk. Reisa tak mampu melihat usaha Pak Nur yang mulai memasuki dirinya itu. Kepala kemaluan Pak Nur perlahan masuk bertahap. Mungkin karena amat besar dan panjang namun Reisa merasakan sedikit geli dan gatal bercampur ngilu. Pak Nur memberi sensasi tersendiri pada Reisa.

Pertemuan alat kelamin mereka mampu membuat Reisa dapat menerima Pak Nur. Pak Nur ingin merasakan kehangatan yang di berikan lipatan kemaluan Reisa. Perlahan meretas jalan hingga semua batang kokohnya amblas. Reisa masih menutupkan matanya. Pak Nur tak menarik kemaluannya dari liang yang masih ia rasakan sempit itu. Kini ia dapat merasakan detak jantung Reisa dan juga nafas berat Reisa dari dekat apalagi mereka telah menyatu. Pak Nur memandang wajah cantik Reisa dari dekat dan dalam hati amat mengaguminya. Ia tak menduga akan dapat merasakan tubuh dokter itu. Nafas berat Reisa membuat Pak Nur semakin dalam merasakan bahwa Reisa sudah bisa menerima dirinya seutuhnya.

Bahu, dada, dan leher Reisa yang jenjang sudah basah oleh keringatnya sendiri. Pak Nur menarik pinggulnya perlahan lalu maju menusuk ke celah sempit itu. Reisa merasa ngilu di kemaluannya semakin hilang. Ia malah merasakan amat nyaman berada di dekapan Pak Nur. Kemudian Pak Nur secara berulang memajumundurkan kemaluannya kedalam vagina wanita itu.

Masih menutupkan matanya, Reisa menggigit bibir bawahnya merasakan nikmat hubungan saat itu. Hujaman Pak Nur amat berbeda dengan yang ia rasakan bersama Jonas dulu. Kedewasaan dan pengalaman Pak Nur yang mampu mengontrol emosi membuat Reisa nyaman menikmati persebadanan itu. Kedua tangan Reisa meraih lengan Pak Nur yang kini semakin intens bergerak memberinya kenikmatan. Juga kedua payudaranya bergerak naik turun. Payudara montok Reisa terlihat sangat indah saat itu apalagi saat basah oleh keringatnya. Reisa merasakan kembali orgasme dan mencengkram lengan Pak Nur dengan keras.

Pak Nur tahu Reisa telah mencapai kenikmatan, namun ia masih belum apa-apa. Pria itu memang amat pintar mengatur tempo persenggamaan. Sampai saat itu Pak Nur masih belum klimaks, padahal Reisa sudah tak kuat lagi merasakan hujaman di dalam rahimnya. Kedua pahanya ia rasakan amat pegal karena terbuka, juga pinggulnya seakan patah.

Reisa sempat memohon kepada Pak Nur agar menyudahi dulu persenggamaan itu, namun Pak Nur bukanlah orang yang gampang disuruh berhenti jika sudah melakukan sesuatu. Reisa semakin lemah dan tak kuat menerima sodokan di kemaluannya. Benar yang ia lihat malam itu, si wanita memohon agar berhenti dan terlihat sempat pingsan. Reisa tak ingin ia mengalami hal yang sama dengan wanita yang ia saksikan bersebadan dengan Pak Nurfea saat itu. Ia akan berusaha sekuat tenaga melayani Pak Nur dan mengimbangi kekuatannya.

Reisa mengakui Pak Nur memang kuat meskipun sudah tua. Ia masih kalah tenaga dengan laki-laki itu, Jonas saja tak mampu seperti itu. Namun rasa orgasme memutus pikirannya saat itu. Reisa orgasme untuk kesekian kalinya. Ia pun meraih lengan Pak Nur dan menarik lehernya ke atas agar dapat menciumi bibir tebal laki-laki itu. Pak Nur tahu Reisa kembali orgasme dan ia sendiri merasakan akan merasakan hal yang sama.

Dengan tak terlalu cepat Pak Nur menghujamkan kemaluannya sedalam mungkin ke liang rahim Reisa dan melepaskan spermanya di dalamnya. Pak Nur baru bisa klimaks setelah hampir beberapa menit menggauli Reisa. Reisa merasakan ada rasa hangat di celah kemaluannya. Pak Nur masih berada di atas tubuh Reisa tanpa melepaskan kemaluannya. Alat kelaminnya bergejolak-gejolak di dalam kemaluan Reisa memompakan semua cairan spermanya sampai habis masuk ke dalam rahim Reisa yang subur.

Kedua tangannya membelai wajah dan dada Reisa. Ia merasakan amat puas bersebadan dengan Reisa. Reisa hanya memandang wajah Pak Nur dari bawah dengan pandangkan sendu seolah kehabisan tenaga. Memang tenaganya terkuras habis saat bersebadan dengan laki-laki tua itu. Seiring waktu kemaluan Pak Nur kembali ke sosok semula dan terlepas dari jepitan liang Reisa. Saat itu barulah Pak Nur merebahkan tubuhnya di samping Reisa.

Kedua tubuh telanjang itu akhirnya tertidur dengan saling berpelukan. Jika ada yang melihat merasa janggal sebab laki-laki yang memeluk wanita itu memang sudah tua dan tak pantas bersama wanita muda yang dokter itu. Sebaliknya bagi Pak Nur, yang terjadi di kamar itu adalah pemandangan yang sangat biasa. Di dipannya itu sudah sering ia mengeksekusi wanita yang ia inginkan untuk memenuhi hasrat seksnya. Semua wanita yang diinginkan Pak Nur dari warganya, baik itu masih gadis maupun sudah jadi istri orang, sudah pernah disebadani Pak Nur di atas dipan itu. Bahkan tak jarang Pak Nur membawa orang luar seperti wisatawan bule, dan tak terkecuali Reisa, untuk disebadaninya di situ.

***

Paginya Pak Nur bangun lebih dahulu dan mencari-cari Yuli. Karena tak ketemu, dimintanya orang untuk menyuruh Yuli datang ke rumahnya begitu ia muncul. Pak Nur lalu kembali ke kamarnya dan melepas seluruh pakaiannya untuk kembali menemani dan mendekap Reisa yang masih tidur nyenyak karena kecapaian dalam keadaan bugil.

Beberapa puluh menit kemudian, Reisa terbangun dan menggeliat. Didapatinya Pak Nur sedang mendekapnya dari belakang. Reisa pun tersenyum manis pada Pak Nur sedangkan Pak Nur lalu mengecup bibir Reisa dengan lembut. Keduanya pun berdekapan dengan mesra dalam keadaan bugil. Reisa bisa merasakan alat kelamin Pak Nur perlahan tumbuh dan mengusap-usap kedua pahanya dan pantatnya dari belakang.

Kemesraan mereka tiba-tiba terpotong oleh ketukan di dinding kamar Pak Nur. Pintu kamar Pak Nur hanya ditutupi oleh tirai.

“Masuk…” seru Pak Nur.

Orang di luar tadi menyibak tirai pintu kamar dan tampaklah Yuli berdiri di depan pintu. Reisa sebetulnya agak gelagapan tapi dilihatnya baik Pak Nur maupun Yuli bersikap sangat wajar. Padahal saat itu ia berdua bersama Pak Nur sedang bugil dan berdekapan dengan mesra.

“Selamat pagi, Pak Nur, tadi Bapak mencari saya?” tanya gadis yang kemarin disetubuhi Pak Nur itu.

“Selamat pagi, Mbak Reisa,” kata Yuli lagi sambil tersenyum ke arah Reisa yang dilihatnya sedang bersama Pak Nur.

Reisa jadi tahu bahwa kelakuan Pak Nur itu sudah dianggap normal oleh warga kampungnya. Karena itu ia pun lalu berusaha bersikap wajar. Dibalasnya sapaan ramah dan senyuman tulus Yuli kepadanya.

“Yuli, tolong kau masakkan makanan buat sarapan kami, ya,” kata Pak Nur memerintah. “Pergilah ke dapur, di situ masih ada banyak yang bisa dimasak.”

“Baik, Pak,” kata Yuli patuh sambil sedikit membungkuk hormat.

“Kau bukalah tirai kamarku dan buka semua jendela dan pintu supaya sinar matahari bisa masuk,” perintah Pak Nur lagi.

“Ya, Pak,” kata Yuli lagi.

Reisa pun menggeliat sekali lagi dan sudah bersiap untuk bangkit. Perintah terakhir Pak Nur pada Yuli dianggapnya sebagai suatu tanda untuk bangkit dan membersihkan badan.

Rupanya Reisa salah. Walaupun sekarang semua pintu dan jendela sudah terbuka lebar, rupanya Pak Nur masih menaruh minat pada dirinya. Ditahannya Reisa yang hendak bangkit. Dicumbunya kembali gadis cantik itu. Reisa hanya terkikik sejenak karena geli tapi kemudian ia pun mulai bangkit gairahnya dan membalas cumbuan Pak Nur. Memang rumah itu agak terpencil dari masyarakat sekitar sehingga praktis hanya ada mereka bertiga di sekitar situ. Yuli pun telah pergi ke dapur untuk memasak.

Maka sambil menunggu Yuli memasak, keduanya lalu melanjutkan lagi persetubuhan mereka. Suara babi, burung, aliran air dari sungai di belakang rumah, serta suara Yuli yang sedang memasak menemani hubungan intim mereka. Sama seperti kejadian semalam, kali ini pun Pak Nur menyenggamai Reisa cukup lama sampai Reisa kewalahan. Setelah Reisa beberapa kali orgasme barulah Pak Nur merasa puas. Reisa merasa senggama bersama Pak Nur bagaikan olah raga yang cukup berat, terutama karena ia harus mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dalam waktu yang lama.

Setelah selesai menunaikan hajatnya, Pak Nur pergi dulu keluar untuk buang air kecil. Yuli kemudian muncul di pintu kamar memberi tahu Reisa kalau sarapan sudah siap. Reisa yang masih terbaring di atas dipan bermandikan peluh dan cairan cinta mereka berdua tersenyum dan mencoba bangkit. Ketika berdiri, Reisa sedikit limbung karena selangkangannya terasa agak nyeri sehabis dikerjai Pak Nur. Yuli segera membantu Reisa untuk berdiri.

“Masih nyeri ya, Mbak,” tanya Yuli penuh pengertian. “Duduk saja dulu.”

Reisa hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia lalu dibantu Yuli untuk duduk di tepi dipan.

“Mbak Reisa kuat sekali,” kata Yuli lagi. “Aku kalau sudah melayani Pak Nur semalaman, paginya pasti istirahat sepanjang hari.”

Reisa hanya tersenyum mendengar komentar Yuli.

“Sarapannya nanti saja, Yul. Tunggu Pak Nur dulu,” kata Reisa.

Yuli hanya menganggukkan kepalanya.

“Duduklah di sini bersamaku,” kata Reisa lagi.

Yuli pun ikut duduk di samping Reisa. Karena merasa senasib, yaitu sama-sama melayani nafsu seks Pak Nur, keduanya semakin bertambah akrab. Sambil menunggu Pak Nur kembali, kedua wanita itu ngobrol secara terbuka. Masing-masing memberi tahu kapan dan di mana mereka ketemu Pak Nur pertama kali, sudah berapa kali mereka disetubuhi Pak Nur, dan bagaimana kesannya disetubuhi orang tua itu.

Reisa jadi tahu kalau Yuli memang bekerja menjaga dan membersihkan rumah Pak Nur. Kedua orang tuanya dulu berhutang budi pada Pak Nur sehingga hubungan mereka sudah sangat akrab. Ternyata Yuli pun sudah memiliki tunangan seorang pemuda dari kampung itu juga. Mereka akan menikah dalam waktu dekat ini. Mungkin Pak Nur sendirilah yang nanti bertindak sebagai ketua adat yang akan menikahkan mereka.

Ketika Reisa menanyakan apakah Yuli akan tetap bekerja di rumah Pak Nur dan melayani nafsu seksnya setelah menikah nanti, dengan mantap Yuli mengiyakannya. Reisa hanya manggut-manggut mengetahui budaya sosial di pedalaman itu. Memang salah satu hal yang disukai Reisa dalam melakukan tugas di pedalaman ini adalah mengetahui berbagai budaya baru yang tak pernah diketahuinya sebelumnya.

Tak lama kemudian Pak Nur kembali dan langsung mengajak Reisa sarapan. Yuli kembali membantu Reisa untuk bangkit. Diambilnya gaun tidur Reisa dari dinding kamar dan dibantunya Reisa mengenakan kembali gaun itu untuk menutupi tubuhnya yang bugil. Lalu dengan telaten Yuli membimbing Reisa keluar kamar untuk bergabung dengan Pak Nur. Melihat Reisa dibantu Yuli untuk berjalan, Pak Nur pun bertanya.

“Kamu tak apa-apa, Reisa?”

“Nggak apa-apa kok, Pak,” jawab Reisa tersenyum. “Cuma sedikit nyeri aja selangkanganku. Tadi kan dibuka terus…. Nanti juga insya Allah baik lagi kok.”

Reisa yang Kembali Ceria Sejak Disetubuhi Pak Nur

Reisa yang Kembali Ceria Sejak Disetubuhi Pak Nur

“Syukurlah, mudah-mudahan kamu cepat terbiasa,” timpal Pak Nur. “Soalnya aku masih kepingin. Nanti kita main lagi ya sebelum kita balik ke pulau?”

Reisa hanya tersipu mendengar permintaan orang tua itu. Disenggolnya bahu Pak Nur dengan bahunya sendiri. Ia merasa tersanjung karena Pak Nur menaruh hasrat yang begitu besar terhadap dirinya.

“Jangan khawatir, Pak Nur,” balas Reisa dengan manja.

Pak Nur pun nyengir mempertontonkan giginya yang ompong mendengar kesanggupan gadis cantik itu.

Mereka pun sarapan sambil duduk rapat saling berdekatan. Setelah selesai, barulah Reisa pergi mandi. Siangnya, sebelum berangkat kembali ke pulau, sesuai permintaan Pak Nur, mereka masih menyempatkan berhubungan badan kembali.

Begitu selesai menyirami rahim Reisa dengan air maninya untuk yang kesekian kalinya, mereka langsung berkemas-kemas. Karena seluruh badan Reisa serasa pegal dan kecapaian setelah dikerjai Pak Nur berulang kali, Yuli membantu Reisa mengemasi barang-barangnya dan membersihkan diri. Dengan telaten Yuli membersihkan air mani Pak Nur yang mengalir keluar dari kelamin Reisa dengan handuk hangat. Setelah itu, dibantunya Reisa berpakaian.

Hari itu Reisa memilih mengenakan kerudung putih yang dipadu dengan baju kurung khas Melayu yang berwarna cerah. Secerah hatinya saat itu. Walaupun capai, Reisa merasakan memuncaknya kembali gairah hidupnya yang sempat turun sejak ditinggal Jonas. Begitu selesai membantu Reisa mengenakan kerudungnya, spontan Yuli memuji penampilan Reisa yang tampak anggun. Pak Nur yang mengamati pun ikut memuji. Dipeluknya dokter muda itu sambil dicium mesra. Reisa pun membalasnya dengan senang. Sambil terus saling berangkulan layaknya pengantin baru, mereka pun pamit pada Yuli dan meninggalkan rumah panggung itu.

***

Sejak disetubuhi Pak Nur di kampungnya, otomatis Reisa semakin akrab dengan Pak Nur. Selama perjalanan pulang, Reisa pun semakin terbuka ngobrol tentang segala hal dengan Pak Nur. Kebetulan nelayan yang mendayung perahu mereka tak begitu lancar berbahasa Indonesia. Kalaupun mengerti, ia pun adalah warga desa Pak Nur, jadi Reisa tak merasa khawatir berbicara tentang hal-hal yang sangat pribadi sifatnya.

Pak Nur menceritakan tentang kehidupan seksnya yang bebas sejak usia mudanya dulu, tentang hubungannya dengan Bu Nur, dan juga tentang masa depan hubungan mereka berdua yang baru saja dirajut.

Reisa semula cemas bila hubungan mereka diketahui Bu Nur. Pak Nur pun menenangkan Reisa dengan mengatakan bahwa Bu Nur sudah terbiasa dengan gaya hidupnya itu.

“Jangan khawatir, Reisa. Istriku itu sudah sejak puluhan tahun yang lalu melihatku berhubungan dengan berbagai wanita lain.”

“O ya?” tanya Reisa seolah tak percaya.

“Tanyakanlah sendiri padanya kalau kau pulang nanti,” timpal Pak Nur mantap sambil tersenyum.

“Justru dia senang kalau ada wanita lain yang bisa kujadikan tempat melampiaskan nafsuku. Soalnya dia itu semakin tua, sudah tidak kuat lagi mengimbangi kekuatanku,” sambung Pak Nur datar.

Reisa mau tak mau tergelak mendengar perkataan terakhir Pak Nur itu.

“Eh, benarlah… Aku tak berbohong,” tanggap Pak Nur dengan mimik serius.

“Buat istriku itu yang penting aku tidak punya istri lagi,” terang Pak Nur lebih lanjut. Reisa pun manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Nur. Disandarkannya kepalanya di bahu lelaki tua itu.

“Iyalah, Pak Nur… Jangan khawatir, aku tak akan minta dinikahi oleh Pak Nur kok,” tanggap Reisa. “Lagian kan aku sudah nikah di bawah tangan dengan Jonas.”

“Tapi kalau dikawin mau kan…?”

Reisa mencubit perut Pak Nur dengan gemas sambil tersenyum. Pak Nur pun tertawa nakal sambil mempererat pelukannya.

***

Saat Bu Nur menyuruh Reisa untuk pergi ke pedalaman bersama suaminya, ia memang sudah mengira kalau Reisa akan dikerjai Pak Nur di sana dan dijadikan sebagai salah seorang gundiknya. Bahkan sejak pertama bertemu Reisa, ia tahu cepat lambat hal itu akan terjadi juga. Gadis cantik seperti Reisa biasanya akan mendapat giliran merasakan kejantanan suaminya itu.

Tadinya Bu Nur memang berharap kalau Reisa dan Jonas bisa langgeng menjadi pasangan suami istri. Itulah yang terbaik menurutnya. Karena Jonas rasanya sudah tak mungkin kembali dan Reisa tampak cukup terpukul, Bu Nur pun merelakan Reisa dijadikan gundik oleh suaminya. Paling tidak dalam pandangannya itu lebih baik daripada Reisa balik kembali kepada tunangannya, Dino. Bu Nur tak menyukai Dino sedangkan ia menghendaki Reisa tetap mengabdikan dirinya di pulau. Kalau Reisa menjadi gundik suaminya, paling tidak masih ada ikatan yang membuat Reisa tetap tinggal di Mentawai.

Ia tahu kalau suaminya membawa Reisa sendirian ke kampungnya, besar kemungkinan suaminya akan bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menyetubuhi Reisa. Itulah sebabnya ketika kesempatan itu datang, Bu Nur sengaja mencari-cari alasan untuk tak ikut serta supaya suaminya leluasa mengerjai Reisa.

Karena itu, ia pun biasa saja ketika diberitahu suaminya tentang apa yang terjadi di kampungnya. Sejak peristiwa di kampung Pak Nur, lelaki tua itu semakin mudah menikmati kehangatan tubuh dokter cantik itu di manapun dan kapanpun ia mau. Kini Reisa dan Pak Nur sudah seperti suami istri yang bebas melakukan hubungan seks meski diketahui oleh Bu Nur.

Transformasi yang Dialami Reisa Karena Pak Nurfea

Transformasi yang Dialami Reisa Karena Pak Nurfea

Reisa pun kini bila bermalam di rumah keluarga Pak Nur tak lagi sekedar bercengkerama dengan Bu Nur atau bermain-main dengan anak mereka tapi lebih dari itu, kini ia juga memiliki kesibukan baru yang tak kalah asyiknya, yaitu melayani Pak Nur. Bu Nur cuma sering mengingatkan suaminya sebelum ia dan Reisa masuk ke kamar mereka untuk tidak mengerjai Reisa semalam suntuk karena keesokan harinya dokter muda itu harus kembali bertugas.

Selain melakukan hubungan intim di rumah keluarga Pak Nur dan di rumah Reisa, kadang Pak Nur sengaja mendatangi Reisa di ruang prakteknya. Tentu saja di sana mereka tak bisa bersenggama terlalu lama karena mereka harus melakukannya di sela-sela antrian pasien Reisa. Tak jarang pula Pak Nur membawa Reisa ke berbagai tempat yang sepi seperti ke hutan, ke sungai di pedalaman, atau ke pantai yang sepi, khusus untuk disetubuhi.

TAMAT

Categories: istri/tunangan selingkuh · satu wanita dan banyak pria bergantian · seks antar ras · seks di luar nikah · wanita dijadikan gundik · wanita muda dan pria tua
Tagged: , , , , ,

Desahan Santi Dan Kawan-Kawan

July 16, 2007 · Leave a Comment

Copyright 2004, by Erwin

(Gadis dan Pria Tua, Keroyokan)

Nama saya Erwin (23 tahun), WNI keturunan yang tinggal di Bandung dan kuliah ekonomi manajemen di Universitas Maranatha. Kuliahku agak tersendat karena keranjingan membantu orang tuaku menjalankan usaha percetakan keluarga kami, jadi SKS-nya kuambil sedikit-sedikit biar tidak semrawut. Dalam materi aku sama sekali tidak ada masalah, begitupun halnya dalam pergaulan, statusku membuat orang-orang mudah dekat denganku, terutama wanita, sudah beberapa kali aku gonta-ganti pacar dan hampir semua pernah ML denganku. Orang tuaku sudah mempercayai perusahaan ini sepenuhnya padaku sehingga mereka bisa menikmati hari tuanya dengan santai dengan bepergian ke luar negeri atau mengunjungi sanak saudara lainnya. Aku mempunyai seorang cici yang sudah menikah dan ikut suaminya, jadi sekarang aku tinggal sendirian di rumah yang megah ini mengurus bisnis sekaligus kuliah.

Kejadian gila ini terjadi pada bulan Agustus 2004 yang lalu. Waktu itu aku baru putus dengan pacarku. Dalam kesepian itu kalau sudah tidak ada kerjaan aku menghibur diriku dengan nonton bokep, clubbing (tapi tidak sering karena besoknya harus bangun pagi-pagi, malu dong bos kesiangan), ataupun main internet berjam-jam.

Suatu hari aku membaca cerita-cerita ah-uh.tk. Di situ aku menemukan hiburan yang menggairahkan. Aku sangat terkesan dengan cerita-cerita karya penulis wanita seperti Lily Panther, Citra Andani, Dania, Deknas, dan lain-lain di mana wanita-wanita itu terlibat dalam seks liar. Ternyata wanita jaman sekarang tidak kalah berani dari pria.

Lalu aku sampai pada cerita berjudul “Kejutan Untuk Teman-temanku” yang memberiku inspirasi mengadakan acara gila ini. Terbayang-bayang dalam pikiranku di mana cewek putih cantik, sexy, dan imut dikerjai oleh cowok-cowok kasar, tua, hitam, dan jelek yang statusnya lebih rendah darinya. Sungguh suatu kekontrasan seks yang menggairahkan.

Aku kemudian mulai memikirkan rencana untuk mewujudkan fantasi liarku, rencanaku mencari cewek-cewek dari kalangan teman-temanku untuk diadu dengan buruh-buruh bawahanku. Yang pertama harus kulakukan adalah mencari ceweknya dulu, karena cukup sulit dan perlu lobi-lobi yang jitu, kalau untuk prianya itu sih nanti saja, kemungkinan menolaknya pasti kecil, cuma satu banding sepuluh.

Besoknya aku kuliah siang dan membicarakan hal ini dengan seorang teman wanita yang pernah ML denganku, hasilnya nol, ditolak mentah-mentah. Aku jadi malu dan hampir mengurungkan niatku, tapi bintangku mulai bersinar di waktu malam ketika ngedugem. Di sana aku bertemu Santi (22) dan Sandra (22) yang juga sefakultas denganku, mereka akrab denganku maka aku tanpa tendeng aling-aling mengutarakan maksudku pada mereka. Mulanya mereka merasa risih dengan ideku, tapi setelah susah payah kurayu-rayu, akhirnya Santi bangkit juga gairahnya membayangkan hal itu, sedangkan Sandra, meskipun masih ragu-ragu, akhirnya mengiyakan juga karena kudesak terus (duh…kaya salesman aja nih !). Setelah puas ngedugem, aku mengantar Santi pulang (Sandra naik mobil sendiri), sambil menyetir Santi sempat mengoralku sampai keluar dan dihisapnya habis.

Berikutnya aku mencari seorang lagi untuk lebih meriah, kutelepon beberapa teman yang pernah kencan denganku dan mereka-mereka yang bispak (bisa pakai). Dari tiga orang yang kuhubungi akhirnya ada juga yang setuju yaitu Ivana (23), mahasiswi Sastra Inggris yang pernah pacaran singkat denganku, kebetulan waktu itu dia baru putus dengan pacarnya. Phew…akhirnya jerih payahku dengan menebalkan muka tidak sia-sia. Kini tinggal mencari cowoknya, aku keliling pabrikku untuk menyeleksi kandidat yang pas, lima orang saja kurasa cukup, kalau terlalu banyak takutnya berabe, bisa ada kasak-kusuk ga enak. Sebentar saja aku sudah mendapatkan lima kandidat itu, pilihanku jatuh pada : Pak Andang, seorang buruh tua berumur lima puluhan yang telah bekerja sejak usaha kami masih kecil-kecilan, kurasa pantas dia menerima hadiah ini mengingat pengabdiannya, meskipun berusia senja dan sudah mulai beruban, tubuhnya masih tetap fit karena terbiasa kerja keras; Pak Usep, usianya sebaya dengan Pak Andang, sudah menduda, jadi kupikir inilah saatnya sekali-sekali memberi upah biologis padanya; Mang Nurdin, berusia empat puluhan, badannya kekar dan berisi, inilah yang menjadi pertimbanganku memilih dia; Mang Obar, tiga puluhan, tampangnya mirip tikus dengan kumis tipis, kurus tinggi seperti pohon kelapa; Endang, paling muda dari kelimanya, baru dua puluh tiga tahun, bekerja disini baru setahun lebih, tapi rajin dan kerjanya bagus, patut mendapat hadiah ini.

Seusai jam kerja aku memanggil mereka untuk bertemu secara pribadi di kantorku. Awalnya mereka bingung kok dipanggil mendadak seperti ada salah saja. Namun setelah aku menjelaskan maksudku selama beberapa menit, mereka hampir terlompat, antara kaget dan senang, seperti tidak percaya apa yang baru kutawarkan.

“Hah, serius nih tuan ?” Pak Andang dan Mang Obar bertanya hampir bersamaan

“Iya, siapa yang main-main, pokoknya kalian tinggal datang dan nge-jos, apa-apanya saya yang atur, dan satu hal lagi jangan sampai ada yang tau lagi selain kita, atau tidak sama sekali” jawabku meyakinkan.

Seperti yang kuduga, tak satu pun dari mereka ragu atau menolak, tidak sesulit mengajak para ceweknya. Ya, sifat dasar pria lah, siapa sih yang bisa melewatkan kesempatan emas gini lalu begitu saja, apalagi kalau soal perempuan, bahkan Raja Daud yang bijak itu saja tidak bisa menghindar dari godaan seksual, ya kan !

Sebenarnya menurut rencana harusnya besok bisa mulai, tapi karena Santi meng-SMS bilang bahwa ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, terpaksa acara ditunda besok lusa. Duh, aku jadi agak bete, tidak sabar menunggu hari esok, satu jam jadi terasa setahun karena sudah kebelet. Malamnya aku sampai masturbasi saking bergairahnya, tapi sisi positif dari tertundanya acara ini aku bisa mempersiapkan segalanya lebih baik. Ketiga pembantu wanitaku kubebastugaskan hari itu, yang kebetulan sehari sebelum hari kemerdekaan RI, kusuruh saja mereka berkunjung ke sanak saudaranya atau kemana kek, pokoknya tidak mengganggu acara gilaku. Kupompa kasur udaraku yang empuk (beli dari Dr. TV, hehe..promosi nih ceritanya?) dan kuletakkan di ruang tamu sebagai arena pertarungan nanti.

Akhirnya sampai juga hari-H itu, sekitar pukul dua siang aku sudah membereskan segala dokumen yang harus kutangani, sisanya, pekerjaan kecil lainnya kuserahkan pada staffku. Saat itu sudah ada SMS masuk dari Ivana yang mengatakan bahwa dia sudah datang dan sedang menunggu di depan kediamanku.

“Pagi-pagi amat dia datang, baru juga jam segini” pikirku. Aku pun segera menuju ke rumahku yang terletak di samping pabrik, dibatasi dua buah gerbang kayu. Aku memasuki pekarangan rumahku, disana Ivana sedang jongkok mengelus-elus si Buster, kelinci peliharaanku.

“Hoi, Na, cepat amat kesininya, kan gua bilang jam limaan sesudah bubar kerja” sapaku

“Tanggung, kalo pulang, nanti harus bolak-balik jauh lagi” jawabnya

“Naik apa kesini ?”

“Tadi nebeng si Stephanie kan dia di Lingkar Selatan sana”

Hari itu Ivana terlihat cantik sekali, kaos ketatnya tanpa lengan dan celana panjang sedengkulnya semua serba putih, rambutnya yang panjang diikat ekor kuda. Walaupun pernah putus denganku akibat ketidakcocokan sifat, namun kami masih berteman baik, bahkan terkadang kita melakukan hubungan badan. Secara fisik, dia termasuk perfect, buah dadanya sedang saja, standar cewek Asia, tubuhnya langsing bak biola, dia juga jago dancing dan piano.

Kuajak dia masuk ke rumah, disana kami menonton DVD Troy sambil ngobrol dan makan snack menunggu waktu bubaran pabrik. Ketika film lagi seru-serunya, tiba-tiba intercom berbunyi, ada urusan di pabrik yang memintaku datang.

“Gimana sih nih orang-orang, masih butuh gua juga !” omelku dalam hati

“Lu nonton sendiri dulu, gua ada perlu dulu nih, sori yah”

Huh, ternyata cuma ada dokumen yang perlu kutandatangan, cuma itu saja, itulah kenapa aku tidak mengatur acaranya jam segini, ya banyak gangguan seperti ini loh. Aku memeriksa sejenak kegiatan di pabrik, setelah yakin tidak ada apa-apa lagi aku pun kembali ke samping. Waktu keluar dari sana, kulihat Vios hitamnya Santi sudah ada di halaman pabrik. Aku menengok arlojiku, wah…sudah mau jam setengah lima, ga kerasa ya, cepat amat, berarti sebentar lagi pesta gila-gilaan ala Kaisar Caligula akan segera dimulai hehehe…aku jadi ngeres.

“Lho, si Santi mana, tadi ada mobilnya di depan ?” tanyaku pada Ivana karena tidak melihat Santi di rumah

“Tuh, lagi ke WC, masih lama ga nih acaranya Win, gua udah deg-degan nih ?” tanyanya

“Bentar lagi kok, jam lima baru bubar, rileks aja Na, ga usah tegang gitu, ntar juga enjoy” kataku

“Yo, San darimana aja, you are so hot today !” sapaku begitu keluar dari kamar mandi.

Waktu itu Santi memakai tank-top merah yang talinya diikat ke leher dan membiarkan setengah punggungnya terbuka. Bawahnya memakai rok yang mini dari bahan jeans ungu memamerkan pahanya yang putih mulus. Aku terpana beberapa detik menatap tubuh mulus Santi yang tinggi semampai (170cm), wajahnya cantik ala oriental namun ekspesinya agak dingin, sehingga sering terkesan jutek bagi yang belum kenal dekat dengannya, tapi kalau akrab dia enak diajak bicara, blak-blakan dan pendengar yang baik, setahuku dia ini orangnya pilih-pilih dalam memilih patner sex, tapi mau saja menerima tantanganku ini, entah dia yang kepingin atau diplomasiku yang hebat.

“Dari rumahlah, masa dari kampus pake baju glamor gini, eh tinggal si Sandra ya yang belum ada ?” jawabnya

“Iya belum tuh, ga ada berita lagi, tadi gua telepon HPnya ga dinyalain”

“Lu pake ginian bikin gua kepanasan nih San” kataku sambil memandangi dirinya, dibalik celanaku, adikku juga mulai bangun. Tak dapat menahan diri lagi, langsung kupeluk tubuh Santi, tanganku menggerayangi pahanya sambil menyingkap roknya, lalu telapak tanganku bergerak ke belakang meremas pantatnya yang montok.

“Nngghh…buru-buru amat sih, ntar aja ah !” katanya antara menolak dan menerima.

“Sori San…dikit aja, lu bikin gua nafsu sih” sahutku seraya memagut lehernya.

Rambutnya yang pendek model Utada Hikaru memudahkan aku menjilati lehernya yang jenjang hingga ke tenguknya. Dari sana bibirku menjelajah secara erotis ke dagu, pipi, hingga mencaplok bibirnya yang tipis. Dengan kedua tangan meremas pantatnya, aku menciuminya dengan panas, nafas kami yang memburu terasa pada wajah masing-masing. Perhatian Ivana pada layar TV jadi tersita ke arah mantan pacarnya yang berciuman dengan penuh gairah dengan temannya. Dia menatapi kami tanpa berkedip dan terlihat gelisah, tangannya secara sembunyi-sembunyi meremas payudara sendiri. Aku yakin cintanya padaku masih tersisa sedikit walaupun cuma lima persen, dan hal itu tentu menimbulkan sensasi cemburu yang membuatnya horny.

Santi pun mulai merespon dengan meremas selangkanganku yang sudah menonjol. Lagi enak-enak ber-French kiss, tiba-tiba bel musikku berbunyi, kami melepaskan diri. Hhmm…siapa ya, Sandra atau para bawahanku ? Pintu kubuka, ternyata para buruhku, lima-limanya pula, aku memberitahukan bahwa cewek-ceweknya sudah datang tapi dari tiga baru dua yang datang, kuminta agar mereka bisa berbagi jatah dengan adil.

“Ini beneran kan tuan ? kita ga usah keluar uang kan ?” si Endang seakan masih tak percaya, aku cuma mengangguk meyakinkannya.
“Udahlah ga usah banyak bacot, enjoy aja euy !” Pak Usep menepuk punggung pemuda itu.

Kubawa mereka ke ruang tengah dan kupertemukan dengan para cewek. Ivana terlihat nervous, dia tetap duduk di sofa dan memberi senyum dipaksa ketika kuperkenalkan buruh-buruhku satu per satu. Sedangkan Santi, meskipun agak gugup, namun lebih luwes, dia berdiri menyambut kedatangan mereka bahkan menyalami mereka waktu keperkenalkan. Ketika Mang Obar dengan nakal mencolek pantatnya pun, dia membalasnya dengan senyum menggoda.

Setelah saling kenal dan basa-basi sejenak kupersilakan mereka memilih sesuai selera mereka, dengan ini pesta resmi kubuka. Pak Usep dan Endang sepertinya lebih memilih Ivana, mereka pun menghampirinya dan duduk disofa mengapit kanan dan kirinya. Sedangkan sisanya yang memilih Santi mulai berdiri mengerubunginya. Aku sendiri duduk di sebuah sudut yang strategis untuk menyaksikan the hottest live show ini.

Nah, pembaca, dari sini aku sempat bingung bagaimana menguraikan kedua adegan ini secara lengkap dan detail, karena tidak seru kan kalau aku hanya menguraikannya sekilas-sekilas. Akhirnya setelah kupikir-pikir aku memutuskan menceritakannya per adegan plus berdasarkan penuturan mereka, supaya lebih fokus dan pembaca pun turut menghayati kenikmatan yang kurasakan waktu itu, semoga metode berceritaku ini memuaskan pembaca sekalian, aku akan memulainya dengan adegan Santi.

Santi dikerubungi ketiga orang itu Santi nampak tegang, namun dia menutup-nutupi ketegangan itu dengan senyumannya dan juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, terkadang mereka mengajukannya pertanyaan nakal yang membuat wajahnya memerah tersipu-sipu. Pak Andang mulai berani mengelusi punggung Santi yang terbuka.

“Eeemm…geli Pak !” desahnya menggoda.

“Masa digituin aja geli sih Neng, gimana kalo diginiin ?” Mang Obar meremas payudaranya.

Tangan-tangan kasar itu mulai menggerayanginya. Mang Nurdin juga mulai merayapi lekuk tubuh Santi sambil menyingkap rok mininya, paha mulus itu dia raba-raba, tangannya makin merayap ke atas hingga menyentuh selangkangan Santi yang masih tertutup celana dalam biru langit.

“Bapak buka bajunya ya, Neng?”

Tanpa menunggu jawaban Santi, Pak Andang membuka tali leher yang menyangga pakaiannya. Santi tidak memakai bra karena tank top itu mempunyai cup dada didalamnya sehingga begitu melorot payudara montok dengan puting kemerahan itu langsung terekspos. Pak Andang dan Mang Obar mencaplok masing-masing kiri dan kanannya. Mang Nurdin kini berjongkok sedang mengagumi keindahan paha Santi yang jenjang dan mulus itu, tangannya tak henti-hentinya mengelusi paha itu.

“Neng, pahanya mulus amat…putih lagi” puji Mang Nurdin sambil menjilatnya.

Yang tak kalah menarik tentu bagian pangkalnya dan kini tangan Mang Nurdin telah sampai kesitu membelai kemaluannya dari luar. Jari-jarinya lalu menyusup lewat tepi celana dalamnya. Mang Obar mengenyot payudara kanannya. Santi menengadah dengan mata terpejam, mulutnya mengap-mengap mengeluarkan desahan. Dia telah mabuk birahi. Tubuhnya menggelinjang saat Mang Nurdin menggosok vaginanya dengan jari-jarinya sampai terlihat bercak cairan vaginanya di tengah celana dalamnya.

“Pak Andang, disana aja atuh. Cape dong berdiri melulu?” kataku menunjuk kasur pompa yang terletak tak jauh dari situ.

Mereka pun menggiring dan merebahkan tubuh Santi di kasur empuk itu, lalu pakaiannya dilucuti satu persatu hingga tak tersisa apapun lagi di tubuhnya. Tampaklah tubuh mulus Santi yang berpayudara kencang, berperut rata, dan kemaluannya yang masih rapat ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan tercukur rapi. Setelah menelanjanginya, mereka juga membuka baju masing-masing. Tiga batang kemaluan mengarah padanya bak meriam yang siap menembak, Santi sampai terpana menatap ketiga senjata yang akan segera “membantainya” itu. Ketiganya kembali mengerubungi Santi yang terlihat nervous dengan menutupi kemaluan dan payudaranya dengan tangan.

“Hehehe…si neng malu-malu gini bikin saya tambah nafsu aja ah!” kata Mang Nurdin mengangkat tangan kiri Santi yang menutup payudaranya.

“Wah ternyata bodynya amoy bagus banget ya!” kata Mang Obar yang tangannya mulai menjelajahi tubuh mulus itu.

Pak Andang menciumi payudara kanannya sambil tangannya meraba-raba kemaluannya. Dijilatinya seluruh gunung itu sampai basah lalu dengan ujung lidahnya dia main-mainkan putingnya. Jantungku berdebar-debar dan mataku melotot menyaksikan adegan itu, ditambah lagi adegan pada sofa di hadapanku dimana tubuh telanjang Ivana sedang dijilati dan digerayangi. Aku membuka celana pendekku dan mengeluarkan penisku lewat pinggir celana dalam lalu mulai memijatnya, ini jauh lebih spektakuler dari film bokep dengan artis tercantik sekalipun.

Mang Nurdin mencium dan menjilat leher jenjang Santi sambil mengusap-usap payudara satunya, lalu ciumannya bergerak ke atas menggelikitik kupingnya menyebabkan Santi menggeliat dan mendesah nikmat. Dari telinga mulut Mang Nurdin memagut bibir Santi, mulut lebar dengan bibir tebal itu seolah mau menelan bibir Santi yang mungil lagi tipis. Sekonyong-konyong terdengar kecipak ludah dari lidah mereka yang beradu. Santi nampak sudah tidak merasa risih lagi. Yang dirasakannya sekarang adalah birahi yang menggebu-gebu akan pengalaman barunya ini, terlihat dari matanya yang terpejam menghayati permainan ini. Sikapnya yang semula pasif mulai berubah dengan meraih penis Mang Nurdin dalam genggamannya.

Mang Obar sedang berlutut diantara kedua paha Santi, tapi dia belum juga mencoblosnya. Agaknya dia masih belum puas bermain-main dengan tubuh mulus itu. Sekarang dia sedang membelai-belai tubuh bagian bawahnya, terutama pantat dan kemaluannya. Dia mengangkat paha kiri itu, lalu menciumi mulai dekat pangkalnya, terus turun ke betis, pergelangan, dan akhirnya dia emut jari kaki yang lentik itu. Lagi enak-enak nonton live-show sambil ngocok, tiba-tiba ada SMS masuk, kuraih HP-ku, oh…si Sandra, hampir lupa aku sama anak ini saking asyiknya, pesannya berbunyi demikian :

“Win, pstanya jd g? psti lg asyk y? sori nih tlat, td diajak tmn jln2 sih, kl stgh7 gw ksana msh bsa g?”

Brengsek bikin orang nunggu aja, mana datangnya telat banget lagi, tapi aha…terbesit sebuah cara untuk menghukumnya, hihihi…aku nyeringai sambil mereply SMS-nya

“Gile tlat amt sih, y dah u dtg aja, mngkin msh kburu, kl g kta skalian mkn mlm aja, ok”

Wow, kini Santi sedang menjilati secara bergantian penis Pak Andang dan Mang Nurdin yang berlutut di sebelah kiri dan kanan kepalanya. Sementara itu Mang Obar menjilat serta menusuk-nusukkan lidahnya ke dalam vagina Santi, rangsangan itu membuatnya sering mengapitkan kedua paha mulusnya ke kepala Mang Obar. Kini Santi membuka mulut dan mendekatkan kepalanya pada penis Pak Andang, setelah masuk ke mulutnya, dia mulai mengulum benda itu dengan nikmatnya sambil tangan kanannya mengocok pelan penis Mang Nurdin.

Tak lama kemudian Mang Obar menghentikan jilatannya dan merentangkan paha Santi lebih lebar, dia bersiap memasukkan penisnya. Santi juga menghentikan sejenak oral seksnya, menatap penis yang makin mendekati bibir vaginanya dengan deg-degan.

“Pelan-pelan yah, Mang. Saya takut sakit abis kontol Mang gede gitu!” ucap Santi memperingatkan.

“Tenang aja Neng, Mamang ga bakal kasar kok!” hiburnya sambil mengarahkan senjatanya ke liang senggamanya.

Nampaknya Mang Obar kesulitan memasukkan penisnya ke dalam vagina Santi karena ukurannya itu, maka dia lakukan itu dengan gerakan tarik-dorong.

“Aakkhh…nggghhh…sakit !” rintih Santi menahan rasa nyeri, padahal penis itu belum juga masuk seluruhnya.

“Masa pelan gitu sakit sih, Neng?” kata Pak Andang yang memegangi tangannya sambil membelai payudaranya.

“Mungkin si Neng aja yang memeknya kekecilan kali!” sahut Mang Nurdin cengengesan.

“Aaaaahhh…” jeritnya saat Mang Obar menghentakkan pinggulnya ke depan hingga penisnya terbenam seluruhnya ke dalam liang itu. Selanjutnya, tanpa ampun dia menggenjotnya dengan buas tanpa menghiraukan perbandingan ukurannya dengan vagina Santi. Sementara di kiri dan kanannya kedua orang itu tak pernah berhenti menggerayangi tubuhnya.

Mang Nurdin dengan mulutnya yang lebar menelan seluruh susu kanannya yang disedot dan dikulum dengan rakus. Pak Andang menelusuri tubuh itu dengan lidahnya, bagian-bagian sensitif tubuh Santi tidak luput dari jilatannya. Santi mendesah-desah tak karuan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tubuhnya menggelinjang hebat.

Sebentar saja Santi sudah mencapai klimaks, badannya menegang dan menekuk ke atas, desahannya makin hebat. Namun Mang Obar masih belum keluar, dia menaikkan kedua betis Santi ke bahunya dan memacu tubuhnya makin cepat sampai menimbulkan bunyi kecipak. Akhirnya dia menggeram dan menyemprotkan spermanya di dalam vagina Santi, cairan itu nampak menetes dari daerah itu bercampur dengan cairan kewanitaannya.

Santi hanya sempat beristirahat kurang dari lima menit sebelum giliran Pak Andang mencicipi vaginanya. Mula-mula dia meminta Santi membasahi penisnya dulu, setelah dikulum sebentar, dia menindih Santi sambil memasukkan penisnya, pinggulnya mulai bergerak naik-turun diatas tubuhnya, Santi yang gairahnya mulai pulih juga ikut menyeimbangkan irama goyangannya. Pak Andang melumat bibir mungil Santi yang mengap-mengap itu meredam desahannya. Waktu itu aku sudah keluar sekali, kuambil tissue mengelap tanganku yang basah. Mang Obar mengambil aqua gelas yang kusiapkan dan meminumnya, dia duduk di sofa sebelahku.

“Gimana Mang, sip ga ?”

“Enak banget Bos, Mamang ga pernah mimpi bisa dapet kesempatan ini, sering-sering bikin yang kaya gini ya!” komentarnya dengan antusias.

“Tenang Mang, jangan boros tenaga dulu, ntar masih ada satu lagi loh!” nasehatku. Kemudian aku menjelaskan apa yang harus dilakukan pada Sandra kalau dia datang nanti.

Pak Andang tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga Santi kini diatasnya. Dia lalu menegakkan badan sambil terus menaik-turunkan pinggulnya diatas penis yang mengacung bagai pasak itu. Terkadang dia memutar-mutar pinggulnya sehingga penis itu mengaduk-aduk vaginanya. Matanya merem-melek dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Keringat telah membasahi tubuhnya, menempel di dadanya seperti embun, juga menetes-netes dari mukanya.

Mang Nurdin berdiri di sebelahnya lalu mendekatkan penisnya yang masih keras ke mulutnya. Santi mulai menjilatinya dimulai dari kepalanya yang disunat hingga seluruh permukaan batang itu. Buah zakarnya yang besar dia emut beberapa saat.

“Uuuhh…ayo Neng, enak gitu…mmm!” desah Mang Nurdin semakin hanyut dalam lautan birahi. Santi tidak malu-malu lagi mengemut penis itu sambil mengocoknya dengan satu tangan. Payudaranya bergoyang-goyang naik-turun seirama gerak tubuhnya. Dengan gemas Pak Andang menjulurkan kedua tangannya mencaplok gunung kembar itu serta meremasnya.

Saat itu Endang baru saja selesai dengan Ivana. Setelah menyemprot perut Ivana dengan spermanya dia minum dulu dan langsung menuju Santi. Sementara itu Mang Obar mulai mencicipi Ivana. Endang duduk di sebelah kanannya dan meminta ijin Pak Andang yang sedang menguasai kedua payudaranya untuk memberinya jatah satu saja. Sepertinya dia menggigit putingnya karena badan Santi mengejang dan mendesah tertahan di tengah aktivitasnya mengoral Mang Nurdin. Dia mengenyot dan kadang menarik-narik puting itu dengan mulutnya.

“Ooohh…isep Neng…iseepp!!” tiba-tiba Mang Nurdin mendesah panjang dan makin menekan kepala Santi ke selangkangannya. Spermanya menyembur di dalam mulut Santi. Mungkin karena badannya berguncang-guncang, hisapan Santi tidak sempurna. Cairan itu meleleh sebagian di pinggir mulutnya. Mang Nurdin beranjak pergi meninggalkan Santi setelah di-cleaning service. Diambilnya segelas aqua dari meja untuk diminum.

Tiba-tiba goyangan Santi makin gencar lalu berhenti dengan tubuh mengejang. Kepalanya menengadah sambil mendesah panjang. Kedua tangannya memegang erat lengan Pak Andang. Dia telah mencapai klimaks, tapi Pak Andang belum. Dia terus menghentakkan pinggulnya ke atas menusuk Santi.

Tubuh Santi melemas kembali dan ambruk ke depan menindihnya. Saat itu Endang sudah pindah ke belakangnya. Dia meremas pantat yang sekal itu sambil mengorek duburnya. Kemudian dia menindihnya dari belakang. Tangannya menuntun penisnya memasuki liang dubur itu diiringi rintihan pemiliknya. Tubuh Santi kini dihimpit kedua buruh itu seperti sandwich. Kedua penis itu menghunjam-hunjam kedua lubangnya dengan ganas.

“Ooohh….oooh…aakkhh !” gairah Santi mulai bangkit lagi. Vaginanya berdenyut-denyut memijat penis Pak Andang yang sudah di ambang klimaks. Pak Andang lalu melenguh panjang menyemburkan maninya di dalam vagina Santi. Akhirnya dia terbaring lemas di kolong tubuh Santi dengan nafas terengah-engah.

Setelah ditinggalkan Pak Andang, Santi cuma melayani Endang. Pemuda ini lumayan brutal mengerjainya sehingga dia menjerit-jerit. Duburnya disodok-sodok sementara payudaranya yang menggantung diremas dengan kasar. Hal ini berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya sampai keduanya klimaks. Sperma Endang tertumpah di pantatnya sebelum keduanya ambruk tumpang tindih. Keadaan Santi sudah babak-belur. Tubuhnya bersimbah peluh. Bekas-bekas cupangan masih terlihat pada kulitnya yang mulus. Sperma bercampur cairan kewanitaan meleleh dari selangkangannya. Aku jadi kasihan melihatnya, maka aku menghampirinya dengan membawa air dan tissue. Kuangkat tubuhnya dan kusandarkan pada lenganku. Dengan tissue kuseka keringat di dahinya. Minuman yang kuberikan langsung diteguknya habis.

“Udah ya San, kalau dah ga kuat jangan dipaksain lagi, ntar pingsan lu!” saranku. Namun dia cuma tersenyum sambil menggeleng.

“Ga apa-apa,” katanya. “Cuma perlu istirahat sedikit.”

Dia juga bilang rasanya seperti diperkosa massal saja barusan itu. Waktu itu Pak Usep menghampiri kami bermaksud menikmati Santi, tapi kusuruh dia bersabar karena kondisinya belum fit.

Karena tubuh Santi yang sudah lengket-lengket itu, aku menyuruhnya mandi agar lebih segar. Setelah agak pulih, kubantu dia berdiri dan memapahnya ke kamar mandi. Kunyalakan shower air hangat untuknya. Sebelum aku keluar, kami berpelukan. Kucium dia sambil mengorek vaginanya dengan dua jari. Cairan sperma meluber keluar begitu kukeluarkan tanganku sehingga aku harus cuci tangan.

“Dah mandi dulu yang bersih, supaya nanti siap action!” kataku.

Dia cekikikan sambil menyeprotkan shower ke arah kakiku. Aku melompat kecil dan keluar sambil tertawa-tawa.

Begitu aku keluar, waw…gile, Ivana mantan pacarku itu sedang dikerjai kelima orang itu. Dia sudah tidak di sofa lagi, melainkan sudah di lantai beralas karpet. The hottest gangbang I’ve ever seen! Untuk lebih lengkapnya lebih baik kita ikuti kisah Ivana dari awal.

Endang dan Pak Usep duduk mengapit Ivana masing-masing di kanan dan kirinya. Ivana terlihat tegang sekali. Beberapa kali dia memanggil-manggil namaku.

“Kenapa, Na. Kok sekarang tegang gitu… Katanya mau ngebalas pacar lu itu!” kataku.

“Oh, jadi Neng udah punya pacar yah!” kata Pak Usep.

“Ngga, baru putus kok,” jawabnya malu-malu

“Putusnya kenapa Neng ?” tanya Endang.

Ivana cuma menggeleng tanpa menjawabnya.

“Udah ah, lu. Kalau ga mau dijawab jangan maksa!” kata Pak Usep pada rekannya.

“Eh, Neng, sama pacar yang dulu pernah ngentotan ga?” tanya Endang cengengesan.

Rona merah jelas sekali pada wajah Ivana yang putih mulus. Dia hanya mengangguk pelan sebagai jawabnya sambil tersenyum malu-malu.

“Kalo gitu pernah diginiin dong, Neng, hehehe!” Pak Usep tertawa-tawa meremas buah dada Ivana.

“Diginiin juga pernah!” Endang meraih selangkangannya dan meremasnya dari luar.

Ivana menjerit kecil sambil tertawa geli karena kejahilan tangan mereka. Pak Usep makin gemas memijati payudaranya. Si Endang sengaja meniupkan udara ke kupingnya untuk memambangkitkan birahinya perlahan-lahan sambil tangannya membantu Pak Usep meremas payudara yang satunya. Ivana hanya diam menikmatinya dengan mata terpejam. Keduanya mulai menyingkap kaosnya. Ivana sepertinya menurut saja. Dia mengangkat lengannya membiarkan kaos itu dilolosi. Dia tinggal memakai bra warna krem dan celana panjang selututnya.

“Ini dibuka aja ya, Neng,” pinta Endang.

Ivana mengangguk, maka Endang pun dengan cekatan membuka bra-nya sehingga dia telanjang dada. Endang langsung melumat yang kanan dengan rakus.

“Pentilnya bagus ya, Neng. Kecil, merah lagi,” komentar Pak Usep sambil memilin-milin putingnya.

Pak Usep menjulurkan lidahnya, lalu menyapukannya telak pada leher jenjang Ivana, membuatnya merinding dan mendesis. Dia meneruskan rangsangannya dengan mengecup lehernya membuat tanda kemerahan di situ. Rambut Ivana yang terikat ke belakang memudahkannya menyerang daerah itu.

Tangannya pun tak tinggal diam, terus bergerilya di dada kirinya dan pelosok tubuh lainnya. Mendadak Pak Usep menghentikan kegiatannya dan memanggil Endang yang lagi asyik nyusu dengan mencolek kepalanya.

“Eh, Dang, kita taruhan, yu. Yang menang boleh ngentot si Neng duluan!” tantangnya.

“Taruhan apaan, Pak. Saya mah ayu aja.”

“Coba tebak, si Neng ini jembutan ga?” tanyanya dengan nyengir lebar.

Muka Ivana jadi tambah memerah karena kenakalan mereka ini. Aku juga jadi terangsang dibuatnya. Suatu sensasi tersendiri menonton mantan pacarku ini dikerjai orang lain.

“Hmmm…ada ga, Neng?” tanya Endang sambil menatapi selangkangan Ivana.

“Eee… nanya lagi, orang disuruh tebak!” omel Pak Usep menyentil kepalanya. Ivana senyum mesem dan bilang tidak tahu menjawab si Endang.

“Ada aja deh!” tebak si Endang.

“Yuk kita tes, bener ga!” kata Pak Usep dengan menyusupkan tangannya ke balik celana Ivana.

“Eemmhhh…” desis Ivana saat merasakan tangan Pak Usep merabai kemaluannya.

“Weleh…sialan. Bener juga lu, Dang!” gerutunya karena ternyata kemaluan Ivana memangnya berbulu, lebat lagi.

Endang tersenyum penuh kemenangan karena dapat giliran pertama merasakan tubuh Ivana. Mereka pun kembali menggerayangi tubuhnya. Tangan Pak Usep tetap di dalam celananya mengobok-obok kemaluannya sejak mengetes tadi. Endang mulai membuka sabuk yang dikenakan Ivana dan menurunkan resletingnya. Sebelumnya dia menyuruh Pak Usep menyingkirkan tangannya dulu.

Cairan vagina membasahi jari-jarinya begitu dia mengeluarkan tangannya dari sana. Endang turun dari sofa dan jongkok di lantai beralas permadani itu untuk menarik lepas celana Ivana. Tampak kemaluan Ivana dengan bulu-bulu yang tebal dari balik celana dalamnya yang semi transparan. Sesaat kemudian pakaian terakhir dari tubuhnya itu dilepaskannya pula. Jadilah Ivana telanjang bulat terduduk separuh berbaring di sofa.

Keduanya tertegun melihat tubuh putih mulus dan terawat di hadapan mereka. Si Endang masih berjongkok di antara kedua paha Ivana. Tentu dia bisa melihat jelas selangkangan berambut lebat yang tampak menggunung dalam posisi demikian.

“Duh, cantik banget sih Neng ini. Bikin saya ga tahan aja!” kata Pak Usep sambil mendekap tubuhnya.

Bibirnya mencium pipi Ivana. Lalu lidahnya keluar menjilati pipi dan hidungnya, menikmati betapa licin dan mulusnya wajah mantan pacarku itu. Belakangan bibirnya dilumat dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, selalu berpindah-pindah mengelusi punggungnya atau meremas payudaranya. Wajah Endang makin mendekati vagina Ivana sambil kedua tangannya mengelusi paha mulus itu. Tubuh Ivana bergetar ketika jemari Endang mulai menyentuh bibir kemaluannya. Pasti dia bisa merasakan nafas Endang menghembus bagian itu. Perlahan-lahan Endang membuka kedua bibir bawah itu dengan jarinya. Erangan tertahan terdengar dari mulut Ivana yang sedang dilumat Pak Usep, keringatnya mulai bercucuran.

“Wah… asyik, saya baru sekarang pernah liat memeknya amoy. Dalemnya merah muda, seger euy!” komentar Endang mengamati vagina itu.

“Pak Usep, mau liat ga nih. Bagus banget, loh!” sahut Endang padanya.

“Hmmm… iya bagus, ya. Kamu aja dulu, Dang. Saya mau netek dulu!” kata Pak Usep sambil mencucukkan sejenak jari tengah dan telunjuk ke vaginanya. Waktu dia keluarkan, cairan lendirnya menempel di jari itu.

Pak Usep mulai menjilati payudaranya mulai dari pangkal bawah lalu naik menuju putingnya. Dia jilat puting itu lalu dihisapnya kuat-kuat, sementara tangannya memilin-milin putingnya yang lain.

“Hhhnngghh… Mang, oohh!” Ivana mendesah menggigit bibir sambil memeluk erat kepala Pak Usep.

Ivana makin menggelinjang saat wajah Endang makin mendekati selangkangannya.

“Aaaahh…!” desahnya lebih panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, kedua pahanya mengapit kepala Endang.

Pemuda itu telah menyapu bibir vaginanya, lalu lidah itu terus menyeruak masuk menjilati segenap penjuru bagian dalam vaginanya. Klitorisnya tak luput dari lidah itu sehingga tak heran kalau desahannya makin tak karuan, saling bersahut-sahutan dengan desahan Santi yang saat itu baru ditusuk Mang Obar.

“Oi, kalian berdua kok belum buka baju, sih. Kasih liat dong kontolnya ke Neng Ivana. Pasti dah ga sabar dia!” kataku pada Endang dan Pak Usep.

Pak Usep nyengir lalu dia membuka kaos berkerah dan celananya hingga bugil. Dia menggenggam penisnya yang tebal dan hitam itu memamerkannya pada Ivana.

“Nih, Neng, kontol Mamang gede ya, sama pacar Neng punya gede mana?” tanyanya sambil menaruh tangan Ivana pada benda itu.

“Gede yah, Mang… keras,” jawab Ivana yang tangannya sudah mulai mengocoknya.

Ivana yang tadinya malu-malu, hilang rasa malunya saking terangsangnya. Sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitar. Yang dipikirkannya hanya menyelesaikan gairah yang sudah membakar demikian hebat itu.

Hampir sepuluh menit berlalu, tapi Endang masih seperti kelaparan. Belum berhenti menjilati vaginanya sementara Ivana sudah mengapit dan menggesek-gesekkan pahanya pada kepala Endang menahan birahinya yang meninggi.

“Cepetan, dong. Kan kamu harusnya nusuk duluan. Kalo ngga mau, saya tusuk juga nih!” kata Pak Usep yang tidak sabar ingin segera menyetubuhi Ivana.

“Iya sabar atuh Pak, ini udah mau nih,” kata Endang yang mulai menanggalkan pakaiannya.

“Yuk, Neng. Basahin dulu, nih… isep!” Dia sodorkan penisnya ke mulut Ivana sambil memegangi kuncirnya.

Ivana agak ragu memasukkan penis Endang ke dalam mulutnya. Mungkin agak jijik kali karena belum pernah merasakan yang sehitam itu. Namun Endang terus mendesaknya. Apalagi dengan kepala dipegangi seperti itu, akhirnya dengan terpaksa Ivana membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk.

Sebentar kemudian Endang mengeluarkan penisnya dari mulut Ivana. Diangkatnya kaki Ivana ke sofa. Dia kini terbaring di sofa dengan kepala bersandar pada perut tambun Pak Usep. Endang memegang miliknya dan mengarahkannya ke vagina Ivana. Pelan-pelan mulai memasukinya, tubuh Ivana menekuk ke atas.

“Aaakkhh…!” demikian keluar dari mulutnya hingga penis Endang mentok ke dalam vaginanya.

Endang pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan kemudian makin lama makin cepat. Endang melakukannya dalam posisi satu kaki naik sofa dan kaki lainnya berdiri menginjak lantai. Kedua tangannya memegangi betis Ivana.

“Ah-ah-ah….uuhh…!!” desah Ivana dengan mata terpejam

“Enak ya, Neng?” kata Pak Usep dekat telinganya.

Sejak Endang menggenjot Ivana, Pak Usep terus saja menyangga tubuhnya sambil menghujani leher, telinga, dan payudaranya dengan ciuman dan jilatan. Kini dia sedang mengulum daun telinga Ivana dan tangannya meremas kedua payudaranya. Tentu puting Ivana sudah sangat keras karena dari tadi dimain-mainkan. Ivana sendiri tangannya menggenggam penis Pak Usep. Dia mengocok-ngocok penis itu karena horny-nya. Kedua kakinya menjepit pinggang Endang, seolah minta disodok lebih dalam lagi.

Tanpa mencabut penisnya, Endang memiringkan tubuh Ivana sehingga posisinya berbaring menyamping. Satu kakinya dinaikkan ke bahunya. Wow…seru sekali melihat paha Endang bergesekan dengan paha mulus Ivana dan penisnya keluar masuk dari samping. Pak Usep menempelkan penisnya ke wajah dan bibir Ivana, memintanya melakukan oral seks. Ivana masih sangat risih memasukkan benda itu dalam mulutnya. Ia hanya berani mengocoknya dengan tangan. Sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan penis Endang di mulutnya tadi.

Belakangan dia bilang ke aku bahwa dia memang tidak terbiasa dengan penis hitam dan berbau tidak enak seperti itu. Dia juga tidak suka dengan cara mereka yang suka maksa tidak tau diri. Makanya dia tidak pernah mau lagi ngeseks dengan orang-orang kaya gitu. Cukup kali ini saja. Pertama dan terakhir, demikian tegasnya.

“Jilatin dong, Neng. Jangan cuma main tangan aja!” pinta Pak Usep tidak sabar merasakan mulutnya.

“Ngga Mang… jijik… ga mau.. ahh!” gelengnya dengan sedikit mendesah.

“Lho, gimana sih si Neng ini. Tadi kan dia dikasih, masa saya ngga?”

“Ayo dong, Neng. Sebentar aja kok!” Pak Usep terus mendesak dengan menekan kepalanya dengan tangan kanannya ke penis yang dipegang dengan tangan kirinya. Penis itu pun akhirnya memasuki mulut Ivana. Karena mulutnya mengap-mengap mendesah, kesempatan itulah yang dipakai Pak Usep menjejalkan penisnya. Sesudah penisnya terbenam di mulut Ivana, Pak Usep memaju-mundurkan kepalanya dengan menjambak kuncirnya.

“Emmhh.. eehmm… Mang… saya… mmm!” Ivana berusaha protes tapi malah tersendat-sendat karena terus dijejali penis.

“Mmmm… gitu dong, Neng, baru namanya anak manis. Udah lama Mamang ga diginiin, uuh!” Pak Usep melenguh dan merem-melek keenakan dioral Ivana.

Kalau saja ada orang berani berbuat seperti itu padanya setengah tahun lalu, pasti sudah kuhajar sampai masuk ICU. Tapi sekarang berbeda, aku malah terangsang melihat bekas pacarku ini diperlakukan demikian sehingga aku makin cepat mengocok penisku. Apalagi waktu itu Santi juga sedang main kuda-kudaan diatas penis Pak Andang sambil mengoral penis Mang Nurdin dengan bernafsu.

Akhirnya Ivana orgasme duluan. Badannya berkelejotan dan dari mulutnya terdengar erangan tertahan. Pak Usep rupanya cukup pengertian, dia melepaskan dulu penisnya dari mulut Ivana dan membiarkan Ivana menikmati orgasmenya secara utuh. Badannya menegang beberapa saat lamanya. Pak Usep menambah rangsangannya dengan meremasi payudaranya. Sambil orgasme Ivana memegang erat-erat lengan kokoh Pak Usep yang mendekapnya hingga tubuhnya lemas dan terbaring dalam dekapan pria tambun itu.

Endang pun menyusul sekitar tiga menit kemudian, sodokannya makin dahsyat sampai akhirnya dia melepaskan penisnya dan menumpahkan cairan putih di perut yang rata itu. Si Endang cuma duduk sebentar, minum dan menyeka keringat, lalu dia langsung beralih ke Santi seperti yang telah kuceritakan di atas. Posisinya segera digantikan Mang Obar yang baru recovery setelah istirahat. Pak Usep memberikan minum pada Ivana mengambilkan tissue mengelap keringatnya.

“Euleuh… si Endang teh gimana, buang peju sembarangan aja!” gerutu Mang Obar yang baru tiba melihat ceceran sperma di perut Ivana.

Pak Usep sambil tertawa meneteskan sedikit air dan mengelap ceceran sperma itu sampai bersih. Ivana juga ikut tertawa kecil.

“Udah, gampang, Mang. Dibersihin aja kan beres!” hiburku padanya.

Mang Obar langsung mencumbui payudara Ivana yang masih didekap Pak Usep. Mulutnya berpindah-pindah antara payudara kiri dan kanan.

“Ooohh… oohhh!!” desahnya ketika merasakan putingnya digigit dan ditarik-tarik dengan mulut oleh Mang Obar. Tangan satunya di bawah sedang meremasi bongkah pantatnya yang kenyal. Diremasnya berulang kali sekaligus mengelusi paha mulusnya. Dari pantat, tangannya merayap ke kemaluan. Tubuh Ivana bergetar merasakan kenakalan jari Mang Obar yang mengusap-usap klitoris dan bibir kemaluannya. Di belakangnya, Pak Usep sangat getol mencupangi leher, tengkuk dan bahunya.

“Hehehe… liat nih udah basah gini!” sahut Mang Obar mengeluarkan jarinya dari vagina Ivana.

“Emm… enak pisan!” dijilatinya cairan yang blepotan di jari itu. Kemudian Pak Usep menarik pinggang Ivana, mendudukkannya di pangkuannya dengan membelakanginya, satu tangannya meraih vaginanya dan membuka bibirnya.

“Masukin, Neng. Pelan-pelan!” suruhnya.

Ivana tanpa malu-malu memegang penis itu dan mengarahkan ke vaginanya. Lalu dia menekan badannya ke bawah sehingga penis itu terbenam dalam vaginanya. Namun karena besar, penis itu baru masuk kepalanya saja. Itu sudah membuat Ivana merintih-rintih dan meringis menahan nyeri.

“Duh… sakit nih, Mang. Udah, ya!” rintihnya.

“Wah, kagok dong, Neng, kalo gini mah. Ayo dong dikit-dikit pasti bisa kok!” kata Pak Usep.

“Nanti juga enak kok, Neng. Sakitnya bentar aja!” timpal Mang Obar.

Beberapa kali Pak Usep menekan tubuh Ivana juga menghentakkan pinggulnya. Akhirnya masuk juga penis itu ke vaginanya. Mata Ivana sampai berair menahan sakit. Pak Usep mulai menggoyangkan tubuhnya.

“Arrgghh… uuhhh… sempit amat… enak!” gumam Pak Usep di tengah kenikmatan penisnya dipijat vagina Ivana.

Sementara Mang Obar meraih kepala Ivana. Wajahnya mendekat dan hup… mulut mereka bertemu. Lidahnya menerobos masuk mempermainkan lidah Ivana. Dia hanya pasrah menerimanya. Dengan mata terpejam dia coba menikmatinya. Lidahnya, entah secara sadar atau tidak turut beradu dengan lidah lawannya.

Limabelas menit lamanya batang Pak Usep yang perkasa menembus vagina Ivana, runtuhlah pertahanan Ivana, sekali lagi badannya mengejang dan mengeluarkan cairan kewanitaan membasahi penis Pak Usep dan sofa di bawahnya (untung sofanya bahan kulit jadi gampang dibersihkan). Ivana memeluk erat-erat kepala Mang Obar yang sedang mengenyot payudaranya. Sekonyong-konyong terlihat cairan putih meleleh dari selangkangan Ivana, rupanya Pak Usep juga telah orgasme.

Desahan mereka mulai reda. Keduanya melemas kembali. Nampak olehku ketika Pak Usep melepas penisnya, dari vagina Ivana menetes cairan sperma yang telah bercampur cairan cintanya.

Waktu beristirahat baginya cuma sebentar karena Mang Obar langsung menyambar tubuhnya, menindihnya, dan mengarahkan senjatanya ke liang kenikmatan. Segera saja tubuhnya memacu naik-turun diatasnya. Ivana menggelinjang setiap kali dia menghentakkan tubuhnya. Saat itu Mang Nurdin dan Pak Andang mendekati keduanya untuk menonton lebih dekat adegan panas itu. Mereka menyoraki temannya yang sedang berpacu diatas tubuh mantan pacarku itu seperti menonton pertandingan olahraga saja.

Setelah itu aku kehilangan sedikit adegan karena sedang mengantar Santi ke kamar mandi, maka adegan yang hilang ini kuceritakan berdasarkan penuturan Mang Nurdin yang kuanggap paling akurat.

Dari sofa, Mang Obar menurunkan Ivana ke karpet. Dia berlutut di antara paha Ivana dan terus menyodoknya. Mang Nurdin membungkuk agar bisa mengemut payudara yang menggiurkan itu. Pak Andang berlutut di samping kepalanya dan menjejalkan penisnya ke mulutnya. Sambil diemut, dia memegangi payudara Ivana.

Endang dan Pak Usep yang nganggur kembali mendatanginya. Mereka pun ikut bergabung mengerjai Ivana. Tangan-tangan hitam kasar menggerayangi tubuh mulus itu. Ada yang mengelus pahanya, ada yang meremas payudaranya, ada yang memelintir putingnya. Beberapa diantaranya sedang dikocok penisnya oleh Ivana. Ikat rambutnya sudah terbuka sehingga rambutnya tergerai sebahu lebih. Pemandangan itulah yang kulihat ketika keluar dari kamar mandi.

Lebih dari lima menit dia menjadi objek seks kelima buruhku. Mulanya aku sangat menikmati tontonan ini, terlebih ketika sperma mereka muncrat di tubuhnya. Ada yang nyemprot di dada, perut, dan mukanya. Namun aku mulai merasa kasihan ketika mereka memaksanya membersihkan penis-penis mereka dengan mulutnya. Beberapa bahkan menjejalkan paksa ke dalam mulutnya.

Aku terpaksa turun tangan menyudahinya ketika kulihat air matanya mulai menetes. Aku tahu semasa pacaran denganku dulu dia memang tidak terlalu suka oral seks dan menelan sperma. Jijik, katanya. Apalagi sekarang dengan yang hitam-hitam gitu. Tentu saja aku tidak tega melihatnya dipaksa-paksa sampai menangis.

“Udah-udah Mang, cukup… jangan diterusin lagi, nangis nih dia!” kataku membubarkan mereka.

Kemudian aku sandarkan dia di kaki sofa dan kuberinya minum. Kulap sperma yang membasahi mukanya. Dia memelukku dan menangis sesenggukan. Aku balas memeluknya dan menenangkannya. Tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang masih lengket-lengket.

“Duh… maaf banget, Neng. Abis tadi kita kirain Neng nikmatin. Ga taunya nangis beneran!” kata Mang Obar.

“Iya, kalo tau Neng ga suka ngemut kontol, kita juga ga maksa. Tadi Neng reaksinya malu-malu sih, jadi kita juga tambah nafsu,” tambah Pak Usep.

“Sori, sori, Na. Gua lupa bilang tadi. Abis mandi lu pulang aja yah!” hiburku mengelus-elus rambutnya.

“Ngga, ga papa kok, Win. Gua enjoy, cuma tadi gua kaget aja dipaksa-paksa gitu. Gua kan ga suka oral,” katanya setelah lebih tenang sambil membersihkan air mata.

Legalah kami mendengar dia berkata begitu. Kami kira dia bakal trauma atau shock. Aku lalu menyuruhnya mandi dan membantunya bangkit. Dia pun berjalan sempoyongan ke kamar mandi.

Aku dan para buruhku duduk-duduk di ruang tamu merenggangkan otot. Kupersilakan mereka menyantap snack dan minuman sambil menunggu Sandra. Aku ngobrol-ngobrol tentang pendapat mereka sekalian memberi pengarahan apa yang harus dilakukan untuk menghukum Sandra yang terlambat nanti. Sandra memang bukan type yang malu-malu seperti Ivana, tapi aku tetap harus memperingatkan mereka agar tidak bertindak kelewatan. Aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan gara-gara mewujudkan fantasi gilaku.

“Win, Ivana diapain aja sampe nangis gitu?” terdengar suara Santi bertanya dari belakang. Dia berjalan ke arahku dengan handuk kuning terlilit di tubuhnya, rambutnya masih agak basah.

“Ga, kok. Cuma belum biasa dikeroyok aja. Jadi sedikit… ya gitulah!” jawabku sambil meraih pinggangnya mengajak duduk di sebelahku.

Mang Nurdin mengajak Santi duduk disebelahnya saja, tapi Santi menolaknya.

“Nggak ah Pak, mending simpen tenaga aja buat si Sandra!” tolaknya.

Ketika kami ngobrol-ngobrol, ada yang misscall ke HP-ku, si Sandra. Semenit kemudian disusul bunyi bel. Nah pasti ini dia, pikirku. Aku menyuruh buruh-buruhku sembunyi di dapur dengan membawa pakaian masing-masing. Aku berencana membuat surprise sekaligus hukuman baginya. Kupakai celana pendekku untuk menyambutnya (iya dong, kalau ternyata bukan Sandra, masa aku menyambutnya memakai celana dalam).

“Hai, sori yah, telat,” katanya begitu pintu terbuka.

“Gua jadi ga usah main sama buruh-buruh lu, yah?” tanyanya.

“Udah malam gini, kita baru aja bubar. Masuk!” ajakku. “Ngapain aja seharian tadi?”

“Nge-bowling di BSM. Pada minta nambah game melulu, sih. Kan ga enak kalo gua pulang dulu. Sori banget.”

Sandra orangnya cantik, rambut panjang kemerahan direbound. Tinggi kurang lebih 160 cm. Dadanya tegak membusung 34B, lebih montok daripada Ivana dan Santi. Tampangnya sedikit mirip Vivian Chow, artis HK tahun 90-an itu loh. Dengan modal itu dia pantas bekerja paruh waktu sebagai SPG. Hari itu dia memakai baju putih lengan panjang dengan dada rendah dan rok selutut dari bahan jeans.

“Hi, baru lembur nih!” sapanya pada Santi.

Kubiarkan mereka berbasa-basi sebentar sampai aku menarik rambutnya dari belakang sehingga dia merintih kaget.

“Udah arisannya nanti lagi, kaya ga tau lu punya salah aja!”

“Aww…aduh, ngapain sih sakit tau!” rintihnya.

Mohon pembaca jangan salah paham mengira aku ini psikopat atau apa. Dalam bermain sex dengannya aku memang sering memakai cara kasar, karena dia juga menikmati dikasari. Cuma sebatas main jambak dan tampar sih, tidak sampai masokisme dengan pecut, lilin, dan sejenisnya. Karena dia suka variasi seks kasar inilah aku mengajukan tantangan padanya.

Aku mendekapnya dan menciumi bibir dan lehernya habis-habisan sampai nafasnya mulai memburu. Dia pun mulai meraba selangkanganku. Setelah memberi syarat dengan gerakan tangan ke arah dapur, mendadak aku melepas ciumanku dan menepis tangannya dari selangkanganku

“Heh, dasar gatel. Datang-datang udah pengen kontol. Kalo lu mau kontol, gua kasih lu lima sekaligus!” makiku sambil mendorong tubuhnya hingga tersungkur di lantai. Dia menjerit kecil dan begitu menengok ke belakang, di sana sudah berdiri para buruhku yang bugil yang senjatanya sudah di reload, mengacung tegak siap untuk pertempuran selanjutnya. Sebelum sempat bangun dia sudah diterkam kelima orang itu.

“Heeaaa…sikat !” seru mereka sambil menyerbunya.

“Win… sialan lu, gila!!” jeritnya.

“Huehehehe… tenang, San. Gua masih nyisain buat lu, kok. Kan lu suka dikasarin. Coba deh biar tau rasanya diperkosa, dijamin sensasional abis!” aku menyeringai padanya. Sandra meronta-ronta, tapi dia tidak bisa menghindar karena kedua kaki dan tangannya dipegangi mereka, malah itu hanya menambah nafsu mereka. Mereka tertawa-tawa sambil mengeluarkan komentar jorok bagaikan gerombolan serigala melolong-lolong sebelum menyantap mangsanya.

Keributan di sini memancing Ivana melongokkan kepalanya dari kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi. Kupanggil dia, tapi dia bilang nanti, mandinya belum selesai. Pak Usep meremasi payudaranya yang masih terbungkus pakaian.

“Waw…teteknya gede nih, asyik!” komentarnya.

Mang Obar dan Pak Andang yang memegangi kakinya juga tak mau kalah, mereka menyingkap roknya sehingga terlihatlah celana dalamnya yang warna hitam dan pahanya yang putih mulus, tangan-tangan mereka segera mengelus-elus pahanya dan terus naik ke pangkal pahanya, bukan cuma itu, jari-jari itu juga mulai menyelinap lewat pinggir celana dalam itu menggerayangi kemaluannya. Mang Nurdin menyusupkan tangannya lewat bawah kaosnya sehingga dada kirinya menggelembung dan ada yang bergerak-gerak. Si Endang meraih tangan Sandra dan menggenggamkannya pada penisnya.

“Kocok Neng, kocokin yang saya !” suruhnya

“Erwin…mhhpphh…Win…gua…mmm !” desahnya di tengah cecaran bibir Pak Usep yang akhirnya melumat bibirnya.

Aku menyaksikan adegan ini dari jarak satu meteran sambil duduk merangkul Santi.

“Win, dasar kelainan seks lu, tega amat lu ngeliat kita digituin tiko!” katanya sambil mencubit pahaku

“Tapi lu suka kan, gua liat tadi lu hot gitu goyangnya, ngaku lo !” sambil memencet payudaranya.

“Buka ah handuknya ngehalangin aja !” kutarik lepas handuk yang melilit badannya

“Lu juga dong buka, biar adil !” balasnya sambil melepasi pakaianku.

“Sepongin San, sambil nonton si Sandra dismack down nih !” suruhku.

Dengan posisi duduk di sebelahku, dia merunduk menservis penisku, jilatan dan kulumannya menyemarakkan acara yang sedang kusaksikan, seperti popcorn yang menemani nonton di bioskop. Sambil menikmati liveshow dan sepongan, tanganku memijati payudaranya dan menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya.

Rontaan Sandra semakin lemah, dia sudah pasrah bahkan hanyut menikmati ulah mereka. Aku berasumsi dia sudah tenggelam dalam hasrat seksualnya, hasrat terliar dalam dirinya, dia menikmati pagutan bibir Mang Nurdin tanpa ada paksaan, mengocok penis Endang dengan sukarela, juga ketika Pak Usep menempelkan penisnya ke mulutnya, tanpa diminta dia sudah menjilat dan mencium penis itu.

“Telanjangin euy, biar kita bisa ngeliat bodinya !” kata salah seorang dari mereka

“Iya bugilin, bugilin, ewe…ewe !!” timpal yang lain

Mereka bersorak-sorak dan mulai melucuti baju Sandra, pakaiannya beterbangan kesana-kemari hingga akhirnya tak satupun tersisa di tubuhnya yang indah selain arloji, cincin, dan gelang kakinya. Kelimanya memandangi tubuh telanjang Sandra tanpa berkedip.

“Anjrit, kulitnya mulus banget, cantik lagi !” komentar seseorang.

“Wih, teteknya…jadi ga tahan pengen netek eemmm…!” sahut Mang Nurdin yang langsung melahap payudara kanannya

“Sebelah sini juga bagus” sahut Pak Andang membuka lebar kedua belah pahanya.

Bersama Mang Obar dia memandangi daerah kemaluan Sandra yang berbulu lebat dengan tengahnya yang memerah. Keduanya menjilati vaginanya yang mulai becek. Tubuhnya menggelinjang hebat merasakan dua lidah menggelikitik vaginanya. Endang menciumi leher, bahu dan sekitar ketiak, sambil jarinya memilin-milin putingnya. Pak Usep menjilati bagian pinggir tubuhnya sambil tangannya menelusuri punggung dan pantatnya. Sandra hanya bisa menggeliat-geliat dikerubuti lima buruh kasar, mulutnya mengeluarkan suara desahan. Saat itu Ivana baru selesai mandi, dia menjatuhkan pantatnya di sebelahku, seperti Santi tadi dia juga memakai handuk melilit badannya, rambutnya masih agak basah.

“Buka ah ! ngapain sih malu-malu gitu!” kataku menarik lepas handuknya.

Bekas cupangan memerah masih nampak pada kulit payudara dan lehernya yang putih, kurangkul tubuhnya yang mulus itu di sisi kiriku. Santi tidak terlalu menghiraukan kedatangan Ivana, dia terus saja menjilat penisku dengan gerakan perlahan sambil memijat lembut buah pelirnya

“Kasian ih, masa lu tega si Sandra dikeroyok gitu !” kata Ivana.

“Santai aja Na, Sandra kan ga kaya lu, dia sih enjoy aja dikasarin gitu, dah biasa” jawabku santai.

“Ooo… ga kaya gua yah !” sehabis berkata dia langsung menyambar putingku dan menggigitnya

“Adawww…!!” jeritku refleks menepis kepalanya.

“Jahat ih, keras gitu masa gigitnya, putus nanti” kataku mengelus-elus putingku yang nyut-nyutan digigitnya.

Dia malah tertawa melihatku begitu, si Santi juga ikutan ketawa.

“Lho, kan ke Sandra lu bilang suka main kasar, baru digituin aja dah kaya disembelih hihihi !” Santi mengejekku.

“Ini sih bukan kasar, tapi sadisme gila,” gerutuku.

“Dah ah, lu terusin aja sana, jangan ngeledek ah!” kutekan kepalanya ke bawah.

“Sini lo !” kusambar tubuh Ivana yang masih cekikikan ke pelukanku.

Dengan bernafsu kupaguti lehernya dan payudaranya kuremas-remas sehingga dia mendesah-desah kenikmatan.

Bukan cuma menjilat, Mang Obar juga memasukkan jarinya ke liang vagina Sandra, diputar-putar seperti mengaduknya sementara lidahnya terus menjilati bibir vaginanya. Setelah puas menjilat, Mang Obar menyuruh Pak Andang menyingkir, dia angkat sedikit pinggul Sandra dan menekankan penisnya pada belahan kemaluan itu, dia melenguh ketika kepala penisnya sudah mulai masuk, lalu ditekan lagi dan lagi. Sandra menahan nafas dan menggigit bibir merasakan benda sebesar itu menyeruak ke vaginanya.

“Aaakkhh !” erangan panjang keluar dari mulut Sandra saat penis Mang Obar masuk seluruhnya dengan satu hentakan kuat.

Penis itu keluar-masuk dengan cepatnya, suara desahan Sandra seirama dengan ayunan pinggul Mang Obar. Desahan itu sesekali teredam bila ada yang mencium atau memasukkan penis ke mulutnya.

“Hehehe…liat tuh teteknya goyang-goyang, lucu ya!” sahut Pak Usep memperhatikan payudara yang ikut tergoncang karena tubuhnya terhentak-hentak

“Mulutnya enak, hangat, terus Neng, mainin lidahnya!” kata Endang yang lagi keenakan penisnya diemut Sandra.

“Uuuhh…uuhh…iyahh !” jerit klimaks Mang Obar, penisnya dihujamkan dalam-dalam dan menyemprotkan spermanya di dalam sana.

Posisi Mang Obar segera digantikan oleh Pak Andang, dia melakukannya dalam posisi sama dengan rekannya tadi sambil tangannya menggerayangi pahanya dengan liar. Sementara Endang mengerang lebih panjang, wajahnya mendongak ke atas dan meringis. Rupanya dia telah orgasme dan spermanya ditumpahkan ke mulut Sandra, dia menyedotnya, namun sebagian meleleh keluar bibirnya, dikeluarkannya sebentar untuk dikocok dan diperas, maka sperma itu pun nyiprat ke wajahnya. Kemudian dijilatnya lagi penis Endang yang mulai menyusut membersihkannya dari sisa-sisa sperma. Tugas Sandra menjadi sedikit lebih ringan setelah dua orang yang telah dibuatnya orgasme menyingkir, keduanya kini terduduk di pinggirnya, memulihkan tenaga sambil sesekali megang-megang tubuhnya. Tubuh Sandra menggelinjang merasakan sensasi yang selama ini belum dia rasakan, tangannya yang menggenggam penis Pak Usep nampak semakin gencar mengocoknya sehingga pemiliknya melenguh keenakan.

“Aahhh…emm…gitu Neng, enak…oohhh!” sambil tangannya meremasi payudaranya.

Mang Nurdin yang tadi menyusu sekarang mulai menciumi perut Sandra yang rata, tangan kirinya memainkan putingnya, tangan kanannya mengelus pantatnya.

Saat itu aku sedang menikmati penisku dipijati oleh cengkraman vagina Ivana yang duduk di pangkuanku dengan posisi membelakangi. Aku membiarkannya mengendarai penisku sementara aku menikmati Sandra digangbang, menonton sambil melakukan, suatu kenikmatan seks yang sejati. Kudekatkan wajahku ke lehernya dan kuhirup aroma tubuhnya, hhmm..wangi, habis mandi sih, di lehernya masih membekas cupangan mereka, tapi aku tak peduli, kulit lehernya yang mulus kuemut dan kugigiti pelan membuatnya semakin mendesah kesetanan. Tangan kiriku mendekap Santi sambil memutar-mutar putingnya, tapi kemudian Santi bangkit dan berdiri di hadapan kami, dia dekatkan kemaluannya pada Ivana, tanpa disuruh Ivana menjilatinya.

Santi mendesah menikmatinya, dipeganginya kepala Ivana, seolah meminta dia tidak melepaskannya. Aneh si Ivana ini, kalau diminta mengoral punya cowok susah, harus dibujuk-bujuk baru terpaksa diiyakan, tapi ini ke sesama jenisnya tanpa disuruh kok mau, mungkin sih akibat terlalu horny, tapi peduli amat ah, yang penting enjoy aja (emang iklan LA Light ?). Kuminta Santi menepi sedikit karena sempat menghalangi pandanganku terhadap Sandra. Ruang tamuku jadi dipenuhi oleh desah birahi yang sahut menyahut.

Sandra kembali orgasme oleh genjotan Mang Obar, badannya lemas bercucuran keringat, namun mereka terus menggumulinya. Gerakan Mang Obar semakin cepat dan menggumam-gumam tak jelas, tapi sebelum spermanya keluar, dia mencabut penisnya dan langsung menaiki dadanya.

“Misi, minggir dulu dong, tanggung nih, pengen ngentot pake teteknya sebelum ngecret !”

Segera dia jepitkan penisnya diantara dua gunung kembar itu lalu digesek-gesekkannya penisnya disana dengan lancar karena sudah licin oleh cairan cinta. Tak sampai tiga menit spermanya sudah muncrat, cipratannya berceceran di dada, leher, wajah dan sebagian rambut Sandra. Setelahnya dia menyuruh Sandra menjilati penisnya hingga bersih mengkilat. Dua orang lagi yang masih menggumulinya, Mang Nurdin dan Pak Usep, mengangkat tubuhnya dan membaringkannya ke kasur udara tempat Santi digarap. Mang Nurdin membalikkan tubuh Sandra hingga telungkup, pantatnya diangkat hingga menungging, dengan posisi ini dia memasukkan penisnya ke vagina Sandra dari belakang. Disodokkannya benda itu berkali-kali dengan keras, sehingga Sandra mengerang makin histeris.

Pak Usep tidak meneruskan aktivitasnya dengan Sandra, dia meninggalkannya berduaan dengan Mang Nurdin. Sementara dia sendiri menghampiri kami dan kedua tangan gemuknya melingkari perut Santi dari belakang, agaknya dia masih penasaran karena belum sempat menikmati Santi. Telapak tangannya bergerak ke atas membelai payudara Santi, sedangkan yang satunya ke bawah membelai kemaluannya, mulutnya mencupangi bahunya. Santi memejamkan mata menghayati setiap elusan tangan kasar itu pada bagian-bagian sensitifnya, desahan pelan keluar dari mulutnya. Tangannya lalu menarik wajah Santi ke belakang, begitu dia menoleh bibirnya langsung dipagut.

Keduanya terlibat percumbuan yang panas, sedotan-sedotan kuat dan permainan lidah terlibat di dalamnya. Dengan terus berciuman tangan kanannya beraksi di kemaluan Santi, jari-jari itu menggosok-gosok belahan kemaluannya, kadang juga masuk dan berputar-putar di dalamnya. Permainan jari Pak Usep yang lihai membuat tubuh Santi bergetar dan vaginanya melelehkan cairan. Sedangkan tangan kirinya meraba-raba bagian tubuh lainnya, lengan, dada, perut, paha, pantat, dll. Setelah mencumbunya selama beberapa menit, lidah Pak Usep kini menjilati lehernya dan menggelikitik telinganya.

Di pihakku, Ivana menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih kencang, diantara desahannya terdengar kata-kata tak jelas, tanganku juga diraih dan diremaskan ke payudaranya, gelagat ini menunjukkan dia sudah di ambang orgasme.

“Aaahh…Win, dikit lagi nih… enak!” erangnya sambil meremas tanganku.

Aku pun merasa mau keluar juga saat itu, maka kupacu juga pinggulku sampai sofanya ikut goyang, penisku menusuk makin keras dan dalam padanya. Penisku serasa diperas oleh jepitan vaginanya, himpitannya makin lama makin kencang saja. Akhirnya cairan nikmat itu keluar dibarengi desahan yang panjang, aku pun mendapat orgasmeku lima detik setelahnya. Sperma bercampur lendirnya meleleh keluar dari sela-sela vaginanya membasahi selangkangan kami dan sofa di bawahnya. Kami saling berpelukan tersandar lemas di sofa, kubelai-belai lembut rambut dan wajahnya selama cooling down.

“Goyangan lu tambah asyik nih say, bersihin dong pake mulut, boleh ya?” pujiku sekaligus memintanya melakukan cleaning service.

“Nggak mau, lu sendiri aja!” jawabnya sambil manyun.

“Ayo dong say, lu kan baik, please dikit aja, yah…!” mohonku lagi memencet putingnya.

“Ok, tapi cuma bersihin aja yah, ga lebih,” katanya sambil turun dari pangkuanku.

Dia berjongkok diantara kedua kakiku. Dipegangnya penisku, kemudian mulai menjilati sisa-sisa cairan pada penisku hingga bersih.

Di kasur sana, Mang Nurdin menyetubuhi Sandra dengan ganasnya dengan doggie style. Mata Sandra merem-melek dan mendesah tak karuan akibat sodokan-sodokan yang diberikan Mang Nurdin. Mang Obar menghampiri mereka lalu duduk mekangkang di depan Sandra. Tangannya menjenggut rambut Sandra dan menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya, tentu saja benda sebesar dan berdiameter selebar itu tidak muat di mulut Sandra yang mungil. Susah payah Sandra berusaha menyesuaikan diri, pelan-pelan kepalanya mulai naik-turun mengisap benda itu. Desahan tertahan masih terdengar dari mulutnya, pada dinding pipinya kadang terlihat tonjolan dari penis Mang Obar yang bergerak maju-mundur. Mang Obar mengelus punggung dan dadanya sambil menikmati penisnya dikulum Sandra. Mang Nurdin hampir klimaks, genjotannya semakin cepat, tak lama kemudian dia mendesah panjang dengan mencengkram erat bongkahan pantatnya, spermanya menyemprot di dalam vaginanya, ketika dia cabut penisnya, nampak cairan kental itu masih menjuntai seperti benang laba-laba, sebagian meleleh di sekitar pangkal paha Sandra.

Melihat vagina Sandra nganggur, Mang Obar menyuruhnya menghentikan kulumannya dan naik ke pangkuannya. Sandra yang klimaksnya tertunda karena Mang Nurdin sudah keluar duluan segera menaiki penis Mang Obar. Sebelum mulai, pria kurus itu meminta tissue basah pada Endang untuk mengelap ceceran sperma di sekujur tubuh Sandra. Sandra menaik-turunkan pinggulnya dengan gencar di atas penis Mang Obar, payudaranya pun ikut terayun-ayun seiring gerak badan. Pemandangan itu membuat Mang Obar tidak tahan untuk tidak melumatnya, mulutnya menangkap payudara yang kanan dan mengenyot-ngeyotnya, sementara tangannya bergerilya menyusuri lekuk-lekuk tubuh yang indah itu. Keringat sudah bercucuran membasahi tubuh Sandra yang sudah bekerja keras melayani lima pria sekaligus, rambutnya sudah acak-acakan, namun itulah yang menambah pesonanya. Desahan nikmat Sandra memacu Mang Obar untuk terus melahap dada, leher, dan ketiaknya.

Setelah puas melakukan foreplay bersama Santi, Pak Usep menyuruhnya nungging, masih dalam posisi berdiri, Santi mencondongkan badan ke depan dengan tangan bertumpu pada kepala sofa. Santi yang sudah horny berat itu pun tanpa sungkan-sungkan mengulurkan tangan ke belakang membuka bibir vaginanya, gatel minta ditusuk. Mang Obar mengerti bahasa tubuh Santi, dia pun segera melesakkan penisnya masuk ke lubang itu.

“Aarrghh…enak Mang, terus…terus !” jerit Santi

Adegan ini berlangsung tepat di sebelahku sehingga aku dapat mengamati ekpresi wajah Santi yang sedang menikmati sodokan penis Mang Obar, dia merintih-rintih dan sesekali menggigit bibir bawah. dari belakangnya Mang Obar menggerayangi tubuhnya sambil terus menggenjotinya, payudaranya tampak berayun-ayun menggodaku iseng meremas salah satunya. Beberapa kali tubuh Santi tersentak-sentak kalau Mang Obar memberikan sodokan keras padanya. Aku suka sekali melihat wajahnya yang seksi saat itu.

Ivana yang tadi membersihkan penisku kini sudah diajak Pak Andang memulai babak berikutnya. Dia berdiri memeluk Ivana dengan kedua tangan kasarnya, mendekapkan tubuh Ivana ke tubuhnya hingga dada mereka saling melekat “Neng Ivana, mmm..” dengan bernafsu dia memagut bibirnya dan melumatnya Ivana juga balas menciumnya hingga lidah mereka saling melilit, mengeluarkan suara lenguhan, sepertinya dia mau membalas membuatku terbakar api cemburu seperti ketika aku mencumbu Santi di depannya waktu baru datang tadi. Tangan Pak Andang meremas payudaranya dan tangan satunya mengelus punggung hingga pinggulnya. Kemudian dia mengangkat satu kaki Ivana dan menempelkan penisnya di bibir vagina Ivana. Secara refleks Ivana melingkarkan tangan ke leher Pak Andang menahan badannya. Pelan-pelan Pak Andang mendorong pantatnya ke depan hingga penisnya menyeruak ke dalam vagina Ivana. Mereka mendesah hampir bersamaan saat penis itu menerobos dan menggesek dinding vagina Ivana.

Lima menit setelah mereka berpacu dalam posisi berdiri, Pak Andang menghentikan genjotannya sejenak, lalu dia angkat kaki Ivana yang satunya. Sambil menggendong Ivana, dia meneruskan lagi kocokannya, dengan begini tusukan-tusukan yang diterima Ivana semakin terasa hujamannya, kedua payudaranya tampak seksi tergoncang-goncang. Kata Dr. sex Boyke gaya ini disebut monyet memanjat pohon kelapa , hebat juga Pak Andang ini sampai tahu variasi seks yang satu ini. O iya, masukan buat pembaca nih, kalau mau coba gaya yang satu ini kudu liat-liat kondisi loh, kalau cowoknya kurus kecil sedangkan badan ceweknya lebih besar atau bahkan gendut sebaiknya jangan deh, bisa-bisa bukannya nikmat yang didapat malah patah tulang, hehehe…Aku kagum oleh stamina Pak Andang ini, di usianya yang senja dia masih sanggup melakukan gaya ini cukup lama, aku sendiri tidak yakin bisa selama itu, sampai Ivana dibuat orgasme dalam gendongannya. Badannya mengejang dan kepalanya menengadah ke belakang serta mendesah panjang, dari selangkangannya cairan hasil persenggamaannya menetes-netes ke lantai. Tubuhnya yang lunglai mungkin sudah jatuh kalau tangan Pak Andang yang kokoh tidak memeganginya.

Pada saat yang sama, Mang Obar baru menuntaskan hajatnya terhadap Sandra. Keduanya klimaks bersamaan, dia mencabut penisnya lalu isinya ditumpahkan ke wajah Sandra, tidak sebanyak sebelumnya memang tapi lumayan membasahi wajahnya. Endang yang sudah siap bertarung lagi mendatanginya, dipeluknya Sandra dan dicium-cium bagian-bagian tubuh sensitifnya sambil memberinya waktu untuk mendinginkan vaginanya yang kepanasan. Mang Nurdin menghampiri Santi yang sedang dikerjai Pak Usep.

“Yuk Pak, siap action lagi nih? Gabung aja!” kataku mempersilakannya bergabung dengan mereka.

“Iya dong, bos, saya kan belum sempat nyoblos si Neng ini tadi, hehehe…!” katanya berkalakar.

Dia menyusup dan duduk di antara Santi dan sofa, tangan Santi dipindahkan ke bahunya yang lebar. Mulutnya menangkap salah satu payudara Santi yang berayun-ayun, dengan nikmatnya dia menyedot-nyedot benda itu sambil meraba-raba tubuhnya. Di sisi lain, Ivana sedang sibuk melayani Pak Andang dan Mang Obar, tubuhnya terbaring di sofa dijilati dan digerayangi mereka.

Aku duduk sambil mengocok penisku menyaksikan pertempuran tiga mahasiswi melawan lima buruh kasar itu. Sungguh pemandangan yang membangkitkan nafsu, pembaca bisa bayangkan tiga orang cewek muda keturunan Chinese, cantik, putih, sexy, dan high class sedang digumuli buruh-buruh kasar, hitam, beda ras dan beda status sosial sungguh pemandangan yang sensual bagiku. Kami melupakan sejenak harga diri, martabat, dan perbedaan lainnya demi kesenangan seksual. My fantasy has come true, demikian kataku dalam hati. Tidak puas hanya dengan menonton sementara yang lain melakukan, aku pun mendekati Sandra yang sedang bergaya woman on top diatas Endang. Kupeluk dia dari belakang dan kupegang kedua payudaranya yang bergoyang-goyang.

“Gimana San rasanya digangbang sama mereka San ?” tanyaku dekat kupingnya.

“Sadis…mhh…but it’s pretty cool…aah !” jawabnya terengah-engah.

“Win lu-lu…masukin lewat…uuhh…belakang…yah!”

Mereka berhenti sebentar agar aku bisa memasukkan penisku ke pantat Sandra. Kudorong tubuhnya ke depan hingga agak menelungkup. Aku meringis ketika memasukkan penisku ke duburnya karena sempit sehingga rasanya sedikit ngilu, hal yang sama pun dirasakan oleh Sandra, namun setelah masuk rasanya jadi enak banget. Sandra mendesah-desah merasakan dua penis yang memompa dua lubangnya. Desahannya bertambah seru karena si Endang menjilati payudaranya yang menggantung itu dijilati Endang dari bawah, sedangkan rambutnya kujambak seperti mengendarai kuda. Tanganku yang satu tidak tinggal diam, kadang meremas payudaranya, kadang mengelus punggung dan pantatnya, serta sesekali kutampar pantatnya hingga dia menjerit.

“Harder…harder please, Mang juga dong nyodoknya kencengin!”

Detik-detik terakhir menjelang orgasme, gerakan Sandra semakin liar saja, sodokanku pun kupercepat sesuai yang dimintanya. Akhirnya ditengah sodokan kami yang belum menunjukkan tanda-tanda berhenti dia orgasme yang ke sekian kalinya. Kami terus menggenjotnya tanpa mempedulikannya yang sudah kecapean. Pada akhirnya aku dan Endang menyiram tubuhnya dengan sperma kami, Endang menyiram dada dan perutnya, sedangkan aku menyiram mukanya sampai rambutnya juga kena.

Kulihat sekelilingku yang lain juga sudah hampir selesai. Mang Nurdin bersadar di sofa sambil menengadahkan kepala, di pahanya Santi yang tergolek lemas menyandarkan kepala dengan mata setengah terpejam, tak jauh disebelah mereka Pak Usep juga terduduk lemas memangku betis Santi di pahanya, sambil mengatur nafas, dia mengelusi betisnya yang mulus. Pak Andang tidak terlihat karena sedang ke toilet. Pertempuran terakhir pun selesai tak lama kemudian, Mang Obar menumpahkan spermanya ke punggung Ivana setelah ber-doggie style di sofa.

Yang tampangnya paling semerawut ya si Sandra, dia sudah dikeroyok dan digilir lima orang ditambah aku lagi. Tubuhnya sudah berlumuran keringat, sperma, dan ludah, belum lagi pantatnya ada bekas tamparanku tadi. Kasihan juga sih melihatnya, tapi dia sepertinya menikmati kok. Dia menggosok-gosokkan sperma itu pada beberapa bagian tubuhnya, juga menjilati yang menempel di jari-jarinya.

Ya, pesta telah berakhir, jam tanpa terasa telah menunjukkan jam delapan kurang sepuluh. Aku memberi uang rokok pada kelima buruhku sebelum mereka berpamitan pulang.

Ivana dan Santi terpaksa harus mandi lagi karena badannya berkeringat dan lengket-lengket lagi. Agar tidak mengantri kamar mandi, aku memakai kamar mandi di kamar papa-mamaku yang ada bath tub marmernya, itulah kamar mandi terbesar di rumahku. Asyik deh rasanya, berendam di bath tub bersama ketiga cewek cantik ini, disana kami saling gosok badan, ciuman, pegang-pegangan, di-Thai massage lagi sama si Santi, wah serasa jadi kaisar aja deh.

Habis makan malam Ivana pulang menumpang mobil Santi karena sudah ditelepon dari rumahnya. Sandra juga tadinya mau pulang, tapi kuminta dia nginap saja disini supaya bisa menemaniku yang sehari-hari kesepian ini, mumpung dia anak kost dan besoknya libur hari kemerdekaan. Akhirnya dia setuju juga setelah kumohon-mohon. Malam itu kami tidur telanjang di bawah selimut yang lembut, tapi tidak ML, cuma pegang-pegangan dan ciuman saja, cape kan tadi sore sudah lembur gitu, setelah ngobrol-ngobrol dikit langsung tertidur.

Keesokan harinya libur, aku banyak menghabiskan waktu bersamanya, bangun pagi-pagi kami sudah melakukannya di kamar mandi, sepanjang hari itu kami telanjang bulat di rumah dan sebagian besar terisi dengan permainan seks di segenap pelosok rumah, mulai dari kamar, dapur, taman belakang hingga meja makan. Sejak mengadakan liveshow itu aku sebenarnya ingin mengadakan kembali acara seperti itu tapi sebaiknya jangan sering-sering deh takutnya kalau banyak yang tahu. Tidak baik juga buatku dan teman-teman cewekku itu.

TAMAT

Categories: satu wanita dan banyak pria sekaligus · seks antar ras · seks di luar nikah · wanita muda dan pria tua
Tagged: , , ,