Tag Archives: istri/tunangan selingkuh

Binalnya Nana, Istriku

Original Writer: Unknown

Rewritten by Mario Soares

(Berbagi Istri, Istri Selingkuh, Antar Ras, Permainan Bertiga)

Akhirnya kuselesaikan juga tugas dinasku selama empat bulan penuh di Australia. Aku pulang membawa setumpuk laporan hasil kerja yang nantinya kuserahkan pada boss.

Beruntung tadi malam aku masih sempat jalan jalan di pusat kota Perth dan tak lupa mengunjungi sex shop terbesar disana seperti yang dipromosikan teman-teman. Kubeli beberapa sex toys dan puluhan DVD bokep sebagai cenderamata buat istri tercinta dan beberapa kolega. Harganya relatif lebih murah dibandingkan di dalam negeri.

Pukul enam pagi waktu setempat aku terbang kembali ke negeri tercinta. Setelah transit di beberapa bandara akhirnya jam empat sore aku mendarat di bandara Ahmad Yani.

Setelah kudapatkan semua barang bawaanku, aku selekasnya beranjak keluar. Kulihat istriku berdiri di ujung koridor. Ia mengenakan kaus ketat tanpa lengan yang dipadu blouse mini setengah paha membuat ia terlihat sangat cantik dan menggairahkan. Ada sebatang rokok tergamit di jarinya.

Kami berpelukan sejenak melepas setumpuk kerinduan. Lalu kukecup bibirnya. Setelah itu aku bermaksud mengajaknya pulang.

“Kenalin dulu, Ko! ini Edo….” Ujar istriku menunjuk pada seorang pria muda yang berdiri tepat di sisinya, sembari mengisap dalam-dalam rokok A Mild mentholnya.

“Tadi kebetulan kita berdua nunggu bareng…” sambungnya menjelaskan.

“Jay…” kataku tersenyum sambil mengulurkan tangan.

“Edo,” balasnya dengan simpatik.

“Jemput siapa nih, Do?” tanyaku basa-basi.

“Justru aku sebetulnya lagi nunggu jemputan… Sejak tadi aku kontak kantor cabang tapi engga nyambung terus. Linenya lagi rusak kali.”

“Ke mana sih tujuan kamu?”

Dia menyebut sebuah kantor di jalan Gajah Mada.

“Kebetulan itu searah dengan kami…. Mau ikut?” aku menawarkan diri.

Edo setuju lalu kami berjalan menuju tempat parkir. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua puluhan menit kami saling ngobrol mengakrabkan diri.

Ia ternyata dari Indonesia Timur. Seorang manager pada sebuah perusahaan pembiayaan yang berpusat di kotaku ini. Meski warna kulitnya hitam keling namun terlihat wajahnya sangat ramah dan bersahabat. Ia tidak ganteng tapi cukup menarik. Edo bilang kalau dua tiga tahun sekali ia harus terbang ke kantor pusat untuk memberi laporan hasil pekerjaannya di kantor cabang di NTT sana.

Kuturunkan dirinya tepat di depan gedung yang ditujunya. Sebelum berpisah kami sempat bertukar nomor hape. Kemudian aku meneruskan perjalanan ke rumah.

“Kayaknya sekarang kamu banyak berubah deh, Say….” ujarku pada istriku.

“Maksud Koko?” tanyanya sembari mengerinyitkan dahi.

Kukatakan padanya kalau dulu ia tidak suka mengenakan pakaian yang sexy di tempat umum kecuali di acara pesta. Dulu ia juga bukan pecandu rokok. Dulu ia kurang welcome dengan orang asing tapi tadi kayaknya ia begitu cepat akrab dengan Edo seperti sudah kenal bertahun-tahun saja.

“Ahh… Koko terlalu sensi saja…. Tapi bolehkan kalau aku sedikit mengubah gaya?” tanyanya sembari menghembuskan asap rokoknya yang segera terhisap keluar lewat celah jendela mobil yang sedikit dibuka.

“Iya engga apa-apa toh, Say! Aku malah tambah suka koq! Kamu jadi terlihat semakin sexy dan menggemaskan aja sekarang! Oh ya…. Ayo cerita dong petualanganmu selama kutinggal!”

Kemudian dengan polos Nana menceritakan semuanya. Bagaimana ia dikerjai di sebuah ruang karaoke, lalu pengalaman bercinta dengan Mark, lalu pengalaman ber-threesome bersama Mark dan istrinya. Serta beberapa petualangan lain.

Saat menyimak pengalaman istriku bukannya aku menjadi jealous malahan aku menjadi begitu horny. Sudah tidak waraskah diriku???

Begitu sampai di rumah, aku selekasnya menarik masuk Nana ke dalam kamar. Saat itu aku benar-benar sedang kasmaran. Kudekap dirinya. Kuciumi bibirnya, lehernya dan sepanjang lekuk tubuhnya. Satu persatu kupreteli pembalut di tubuhnya hingga ia telanjang bulat.

Kubalikkan tubuhnya. Kulingkarkan tangan pada pinggangnya lalu kuciumi punggungnya. Ia meraih tanganku untuk mengajakku berbaring di ranjang. Kuusap-usap pipinya, dagunya lalu kuraba lekuk payudaranya yang sangat montok dan kencang.

Nana meraih bajuku kemudian melepasinya. Ia mulai menciumi dadaku yang sedikit ditumbuhi bulu. Kami bergulingan di atas ranjang….. saling menyentuh, menjilati, dan menghisap.

Aku berguling ke atas tubuhnya lalu menyurukkan muka tepat di selangkangannya. Kuamati vaginanya telah basah memerah dan menganga lebar penuh hasrat birahi. Kujulurkan lidah ke dalam, menggerakkannya berkeliling, dan menggetarkan dinding-dinding vaginanya. Saat kugelitikkan lidahku, Nana melengkungkan punggung penuh rasa nikmat dan kulakukan terus-menerus sampai lendir birahinya membanjir keluar.

Kutindih tubuhnya sambil melesakkan batang kemaluan yang sudah sangat tegang itu ke dalam liang surgawinya. Kugerakkan pinggulku naik turun dengan sangat cepat seperti sedang kesetanan saking kangennya diriku padanya. Aku terus memompa seperti gerakan sebuah piston, makin lama makin cepat.

Nana mencapai puncaknya sambil mengangkat pinggulnya ke atas. Ia dekap erat-erat diriku seolah-olah sangat takut kehilangan. Selanjutnya ia dekatkan mulutnya ke batang kemaluanku. Ia keluar masukkan dengan sangat gemas. Ia juga menghisapinya dengan rakus. Sebelum aku mencapai klimaks, kutarik tubuhnya dan menempatkannya di atasku.

Ia mengggoyangkan pantatnya maju mundur seperti sedang menggilas pakaian. Saat itu tanpa sadar ia merendahkan tubuhnya ke depan sehingga aku dapat membenamkan mukaku ke dalam belahan payudaranya dan dengan bebas dapat mengisap putingnya.

Istriku terus bergerak. Aku juga menghentak-hentakkan pinggul dari bawah. Sangat liarrrrr….. sampai tubuh kami bergetar dan bersama-sama memancarkan cairan orgasme.

Kami beristirahat sebentar sambil ngobrol dan merokok. Kuminta istriku bercerita lagi tentang petualangan asmaranya dengan pria-pria lain. Ada setidaknya enam orang lelaki yang pernah berkencan dengannya.

Wuih! Ternyata istriku menjadi pecandu seks juga sekarang. Semua terjadi hanya dalam waktu empat bulan saja. Kembali aku menjadi sangat terangsang saat mendengarkannya. Penisku yang semula loyo berangsur mulai menegang dan mengeras.

Kami saling merapatkan bibir, berpagutan, saling meraba dengan tingkat perangsangan lembut. Kugelitik payudaranya dan menghisapi putingnya. Aku terus meremas dan merangsang buah dadanya sampai putingnya berdiri mengeras.

Lalu aku beralih pada selangkangannya. Kulumat dan kucumbu bagian tubuhnya yang sangat kurindukan siang malam selama empat bulan. Bulu-bulu kemaluannya yang tumbuh lebat masih terawat dengan baik. Aroma khas vaginanya juga masih menjadi bau yang menyalakan nafsu birahiku. Liangnya sudah merekah bagai kelopak bunga, tampak becek dan sangat licin karena lendir cintanya yang deras mengalir keluar. Kukitari bibir liang itu beberapa saat sebelum kugelitiki klitorisnya dengan ujung lidah.

“Ooooh! Ayolah, Koooo!” ujarnya penuh tuntutan.

Kutarik tubuhnya membuatnya merangkak membelakangiku. Kubenamkan penisku dari belakang. Zakarku menepuk-nepuk pantatnya setiap kali aku memompa vaginanya. Kunikmati denyutan-denyutan dinding vaginanya yang membuat tusukanku bertambah nikmat ribuan kali. Nana terus mendesah. Setiap kali ia mendesah lebih keras aku mendorong penisku lebih dalam. Aku mengakhiri perjalanan birahinya dengan sebuah desakan kuat dan sedalam-dalamnya.

“Aaaaaagggggggccc…!” Nana memekik penuh kepuasan.

Kutarik tubuhnya ke tepi ranjang. Kutelentangkan ia disana, lalu kunaikkan kakinya ke atas bahuku. Dalam posisi berdiri kumasuki vaginanya kembali. Nana menggoyangkan pinggulnya secara mendatar setiap kali aku mendorong batang kemaluanku. Semakin lama goyangannya semakin menghentak-hentak. Liang senggamanya memang luar biasa nikmatnya sehingga aku ingin menikmatinya semalaman. Namun karena sudah sangat terangsang akhirnya kami sama-sama menjerit penuh ketegangan disertai memancarnya lendir orgasme kami dalam waktu yang hampir bersamaan.

***

Dua hari berlalu. Siang itu Nana meneleponku saat aku sedang menyelesaikan laporan di kantor. Tidak seperti biasanya. Pasti ada hal yang spesial pikirku. Ternyata memang benar adanya.

“Ko….. tadi Edo kontak ke hapeku. Ia bilang kalau pesawatnya di-cancel sampai besok sore… Dia juga bilang lagi kesulitan mencari hotel untuk sekedar transit… Kalau….”

“kita suruh ia nginap di rumah aja bagaimana. Itu khan maksud elu?” potongku.

“Iya.. iya, Ko… kasihan khan kalau ia bener-bener ga dapat hotel?” jawab istriku yang tiba-tiba menjadi sangat perhatian.

“Kasihan dia apa kasihan kamu, Na? Apa kamu pingin nyoba pisang hitam panjang, nih?” tanyaku menggoda.

“Engga… engga! Masa Koko berpikir begitu sih? Gimana, Ko. Boleh engga Edo kita suruh nginap di rumah?” kata istriku terus membujuk.

Akhirnya aku menyerah juga.

“Ya, bolehlah kalau kamu emang menyukainya.”

“Kamu memang suami yang luar biasa, Kooo…! Trims ya. I love you! Cup! Cup!Cup!”

Lalu telepon diputus. Saat itu jam satu lewat dua puluh menitan. Akupun sibuk meneruskan pekerjaanku. Sekitar jam empat mendadak aku pingin nelepon istriku sekedar menyapanya. Rupanya ponselnya sedang tidak diaktifkan. Kucoba beberapa kali namun tetap tidak bisa. Lalu kucoba menghubungi kantornya . Kebetulan aku sudah mengenal operator yang bertugas saat itu.

“Hallo Shanti! Nana ada?”

“Engga tuh, Mas Jay. Hari ini doi cuman dateng lalu berpamitan mau jenguk famili yang sakit.”

Hah? Famili sakit? Apa pula ini??? Aneh…….!

“Apa engga jalan bareng toh, Masss?” tanya Shanti sedikit ragu.

“Engga sih, Shan. Gue lagi sibuk di kantor. Okey gitu dulu, Shan. Thanks yaaaa….”

Lalu kuputuskan kontak.

Sialan! Bener-bener istriku jadi binal! Pasti ia telah bersama Edo seharian ini, atau malah mungkin sejak kemarin.

“Dasarrrr wanita gatel!” omelku dalam hati.

Membayangkan keduanya lagi bercinta membuat aku terangsang sendiri sehingga kucoba mempercepat pekerjaanku yang masih setumpuk. Sayang baru jam setengah tujuh malam aku bisa merampungkannya. Secepat kilat kupacu mobilku menuju rumah. Di benakku hanya ada keinginan untuk melakukan threesome dengan istriku dan Edo.

Hari sudah mulai gelap saat aku sampai. Teras rumahku sudah terang benderang oleh temaramnya lampu yang dinyalakan. Nana keluar menyambutku. Ia menyapaku dengan senyuman yang sangat manis dan manja. Kami berciuman sejenak sebelum kutarik masuk tubuhnya.

Saat itu ia hanya mengenakan gaun tidur model kimono dari bahan satin yang dihiasi renda-renda di bagian dadanya. Puting susunya tampak menyembul dan tercetak jelas pada gaun itu sehingga dengan mudah kutebak kalau ia tidak mengenakan pakaian dalam. Masih tersisa peluh di dahinya sebagaimana seorang yang habis berolah raga atau bekerja keras.

“Habis kerja keras nih!” sindirku.

“AH! Koko bisa aja,” sahutnya dengan pipi yang tersipu.

“Edo dimana, Na?”

“Kayaknya lagi mandi….”

Kutarik tangannya menuju sofa yang ada di ruangan tengah. Aku mengajaknya berciuman sebentar sebelum kulanjutkan bertanya.

“Lelaki itu hebat, Na?”.

Ia tidak menjawab melainkan hanya membeliakkan mata ke arahku.

“Berapa kali kamu dapat klimaks? Enam, delapan?” sambungku yang juga tidak dijawabnya. Bikin aku makin gemes aja.

Kembali kulumat bibirnya dan mulai menggerayangi bagian dadanya. Nana menolak dengan halus karena ia ingin aku mandi terlebih dahulu sementara ia akan menyiapkan makan malam. Aku setuju.

Selesai mandi aku keluar menuju ruang tengah dengan mengenakan kimono mandi dan celana dalam saja. Edo dan istriku sudah duduk berdampingan di meja makan menungguku. Saat melihatku datang, Edo tampak wajar dan tenang saja seolah tak ada kejadian apa-apa. Padahal ia tentunya ngeh kalau aku sudah tahu ia baru saja menyetubuhi istriku. Jelas istriku sudah menceritakan semuanya.

Kami bersantap malam sambil berbincang-bincang mengenai banyak hal. Setelah selesai Nana memunguti piring-piring kotor untuk dibawanya ke dapur. Sementara itu aku dan Edo melangkah ke ruang tengah. Aku duduk di sofa panjang, sedang ia duduk di sofa single di seberangku.

“Bagaimana istriku, Do?” tanyaku dengan nada sengaja kupelankan agar tidak terdengar oleh Nana yang masih sibuk mencuci piring.

“Luar biasa, Jay! Elu bener-bener suami yang sangat beruntung punya bini secantik dia…. “

“Berapa kali kalian melakukannya?”

“Mungkin tiga atau empat kali, aku engga ingat. soalnya “V” bini elu sungguh sangat nikmat. Kenyal dan pulennnn…. Belum lagi service-nya yang benar-benar luar biasaaa…. Aku jadi ketagihan berat padanya!”

“Sialan kalian! Lagi ngomongin gue, yaaa!” omel Nana yang mendadak telah berdiri di sisiku. Ia lalu kutarik duduk di sebelahku.

“Edo bilang aku suami yang beruntung punya bini sesempurna dirimu, Say….” ujarku.

“Biasa… lelaki kalau ada maunya pasti ngumbar rayuan mauttt…” cibir istriku.

“Bukan gitu, Na…. tapi emang kamu istri yang sangat sempurna koq.” lanjutku membela Edo seraya menempelkan bibirku ke bibirnya.

Istriku kembali menolakku dengan halus. Ia mengusulkan untuk lebih dulu menonton DVD porno yang kubeli di Perth tempo hari. Aku kembali setuju.

Dengan santai kami bertiga menikmati adegan-adegan penggugah nafsu itu. Belum sampai selesai film yang kami tonton, kulihat Nana mulai tidak tenang duduknya. Berkali-kali ia geser-geser dan ubah-ubah posisi kakinya, seolah-olah ada sesuatu yang aneh di pangkal pahanya.

Kuciumi lehernya sambil merabakan tanganku pada tonjolan buah dadanya yang masih terbalut kimono satinnya. Kali ini istriku tidak menolak. Bahkan ia sangat menikmati ciuman dan remasanku. Putingnya menjadi semakin mengeras dan semakin menyembul.

Edo sejauh ini masih menahan diri dengan hanya menonton adegan mesra kami berdua.

Dengan sangat gampang kutarik lepas tali pengikat kimononya kemudian kusibakkan ujung-ujungnya ke kanan dan ke kiri. Kutatap dengan penuh kekaguman kedua payudaranya yang montok dan ranum sebelum kujilati serta kuisapi. Ketika kuselipkan tangan pada pangkal pahanya kutemukan sebuah celah yang sudah sangat becek penuh lendir birahi.

“Uuuhhhhfsss……….” desahnya perlahan namun terdengar sangat nikmat.

Nana meraih kepalaku lalu menggiringnya ke arah selangkangannya. Akupun menurut. Sembari bergerak, kuciumi setiap bagian tubuhnya yang kulewati. Perutnya. Pusarnya. Bulu-bulu kemaluannya yang lebat, serta bongkahan vaginanya yang membulat sempurna bak cangkang penyu. Kutelusuri bibir liang yang telah terkuak lebar itu kemudian kujulurkan lidah menggelitik kelentitnya yang telah sangat menonjol.

Istriku menggerinjal serta melenguh sangat nikmat setiap aku melakukannya.

Edo bangkit mendekati kami dengan tubuh yang sudah bertelanjang bulat. Tampaknya ia akhirnya tak tahan juga hanya menjadi penonton. Batang kemaluannya yang hitam panjang dan kekar itu terlihat sudah sangat tegang, mendongak minta jatah.

Ia mengajak istriku berciuman. Istriku secara spontan langsung menyambutnya mesra dengan bibirnya. Tangan Edo mulai meremas-remas buah dada istriku sementara tangan istriku telah menggenggam batang kemaluannya yang lebih gemuk daripada milikku.

Kujulurkan lidah dan kubenamkan berulangkali pada liang kemaluan istriku yang seolah tanpa ujung itu. Kutusuk-tusukkan sambil menikmati setiap aliran lendir asmaranya. Desah mulut Nana menjadi semakin keras terdengar.

Edo bangkit menyodorkan kemaluannya ke mulut Nana. Batang sepanjang dua puluhan centi itu disambut istriku dengan lidah yang terjulur. Lalu dengan sangat lahap istriku mulai mengulumnya.

Kusibakkan kimono mandiku dan kupelorotkan celana dalamku. Kugenggam dan kuurut-urut otot sepanjang lima belas centi yang menyembul di antara kedua pahaku sambil menyaksikan istriku sedang melumat penis hitam Edo yang panjang itu penuh nafsu. Aku menjadi semakin terangsang dan ingin segera menyetubuhi istriku. Kuangkat kedua kakinya kemudian kudorong batang kemaluanku ke depan. Kubenamkan batang itu dengan penuh perasaan ke dalam liang syahwat istriku, sambil menikmati setiap gesekan lembut dengan dinding-dinding dalam vaginanya.

Inci demi inci. Sekonyong-konyong aku disergap berjuta-juta gelombang kenikmatan selama proses pemasukan itu. Bermula dari ujung penisku lalu menjalar ke batangnya lalu menyebar ke seluruh bagian tubuhku. Kucoba mengeksplorasi kenikmatan yang lebih besar dengan tak henti hentinya menggali….. menggali….. dan menggali liang itu lebih dalam lagi.

Sementara itu istriku masih asyik mengulum black banana yang ada dalam genggaman tangannya. Nana terus-menerus mengerang nikmat saat tubuhnya bergoyang maju mundur diombang-ambingkan gelombang birahi yang kuciptakan.

Kemudian ia mengejang. Seluruh otot di tubuhnya berkontraksi hebat saat dirinya dilanda puncak ketegangan. Ia menjerit panjangggg pada saat badai orgasme tiba-tiba meledak dan menyambar dirinya! Cairan kenikmatannya memancar dan melumasi seluruh batang kemaluanku yang masih terbenam di sana.

Kami lalu berganti posisi. Aku duduk di sofa sedangkan Nana menyurukkan mukanya ke selangkanganku, ia mengisapi dengan lahap batang kemaluanku yang masih basah kuyub oleh lendir orgasmenya. Giliran Edo yang menyetubuhi istriku dari belakang. Benda sepanjang sembilan inci itu digerakkan keluar masuk dengan sangat cepat. Terdengar suara “plok!plok! plok!” setiap kali zakar Edo menepuk-nepuk pantat istriku.

“Oooghttt….oooghffff….” desah istriku tanpa melepaskan batang kemaluanku dari mulutnya. Setiap kali istriku mendesah lebih keras, Edo melesakkan batang kemaluannya lebih dalam lagi.

Edo tidak membiarkan dirinya segera mencapai puncak. Ia menarik dirinya dari dalam tubuh Nana. Tanpa minta izin terlebih dulu, ia langsung mengambil istriku dari diriku untuk dinikmatinya sendiri saja. Aku membiarkannya saja sambil istirahat mengocok-ngocok batangku dan menonton aksi mereka berdua. Ia menelentangkan tubuh istriku di atas sofa.

Ia buka kedua kaki istriku lalu menaikkannya ke atas bahunya sambil membenamkan kembali batang kemaluannya. Keduanya bergerak dalam irama yang selaras melaju dengan pasti menuju ke puncak tertinggi. Istriku tampak begitu menikmati setiap hunjaman kemaluan Edo. Ia menyambutnya dengan goyangan pinggulnya yang menghentak-hentak.

Denyutan nikmat yang diciptakan Nana membuat Edo tambah bersemangat. Ia percepat gerakan keluar masuknya seperti sedang memacu seekor kuda balap. Terdengar napas keduanya terengah-engah saling mengerang dan melenguh penuh nikmat.

Beberapa menit kemudian istriku kembali memekik penuh kepuasan sambil mendekap erat-erat tubuh Edo. Tampak kontras sekali kedua tubuh bugil mereka yang sedang bersatu. Istriku begitu putih sedangkan Edo berkulit gelap. Edo masih memompa dengan sangat cepat dan berusaha secepatnya mencapai klimaks.

Beberapa detik sebelum terjadinya pancaran klimaks, Edo mencabut penisnya kemudian menghampiri wajah istriku. Ia merancap dengan sangat cepat sampai terdengar lenguhannya yang keras ketika ujung batang kemaluannya menyemburkan cairan kental berwarna putih pekat yang sengaja diarahkan ke bibir Nana. Setelah pancuran spermanya mereda, istriku menjilati ujung kemaluan Edo sampai bersih.

Aku sejak tadi hanya bisa terpesona menyaksikan pergulatan keduanya sambil terus mengurut-urut batang kemaluanku sendiri. Melihat celah vagina Nana yang menganga dan mengkilap karena lendir birahinya membuat aku sangat terangsang dan ingin memasukinya.

Begitu Edo menggeliat ke samping untuk beristirahat, kutancapkan kemaluanku ke dalam vagina istriku dengan sangat bernafsu. Meskipun liang senggama itu kini terasa sedikit longgar, tetap saja ia mampu memberi rasa nikmat yang luar biasa. Kulumat liang itu dengan sangat bergairah. Nana kembali menggoyang pinggulnya membuat liang vaginanya terasa bertambah nikmat ribuan kali.

Aku semakin kesetanan saat menyetubuhinya. Apa yang kulakukan rupanya menyebabkan menyalanya kembali gairah istriku. Kini kami berdua saling menuntut kepuasan puncak dengan saling menggesek dan meraba. Sekian menit kemudian kupercepat gerakan pinggulku saat terasa desakan yang sangat kuat di ujung penisku.

Istriku memekik dengan keras ketika ia lebih dahulu sampai di puncak. Nyaris berbarengan, kurasakan ujung penisku bergetar hebat. Kucoba menekan pinggulku lebih dalam lagi. Akhirnya batang kemaluanku menggelepar-gelepar sembari memuntahkan cairan kenikmatan dalam jumlah yang sangat banyak di antara himpitan liang vagina Nana. Saking banyaknya hingga meluber keluar dan meleleh di atas sofa.

Setelah beristirahat sejenak, kami bertiga melanjutkan permainan di dalam kamar. Secara bergantian aku dan Edo menggarap Nana. Malam itu belasan kali istriku mencapai klimaks disertai jeritan panjang penuh kepuasan.

TAMAT

Anissa 08 – Hubby dan Ayam

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh, Permainan Bertiga, Biseksual)

Dua minggu telah berlalu dari kejadianku di boardroom sore itu. Selama dua minggu ini aku sebelum pulang ke rumah mampir apartemennya Aldi dulu. Ya, aku telah menjadi budak nafsunya Aldi dan istrinya, Nadya. Setiap malam aku diperlakukan seperti pelacurnya Aldi.

Kadang-kadang aku beruntung diperbolehkan untuk menyepong penisnya Aldi sampai ia muncrat di tenggorokanku. Hari-hari lain, aku hanya boleh menonton bagaimana ia mengentot Nadya dan aku diperbolehkan membersihkan spermanya dari lubang-lubang istrinya yang cantik itu.

Beberapa kali aku benar-benar beruntung karena aku dientot oleh Aldi, walaupun kasar dan tidak mempedulikan orgasmeku. Aku juga jadi sedikit nyandu coccaine. Karena setiap kali aku datang kesana, selalu aku disuguhkan bubuk putih itu.

Namun, the worst thing is, aku belum berani juga cerita kepada Tom. Aku tahu ia sudah curiga, kalau aku punya affair, namun aku benar-benar takut kalau ia marah if he finds out that I’m a cum-loving slave for his friend, Aldi!

Hubunganku dengan hubby makin lama makin renggang. Sekarang Tom sering sekali pulang malam. Badannya selalu terlihat lemas seperti abis ngentot. Aku sudah ngira kalau dia suka makai ‘ayam’ bersama dengan teman-teman bule-nya yang lain.

Hari jumat yang lalu terjadi hal yang cukup gila juga menurutku. Seperti biasa aku pulang dari tempatnya Aldi sekitar pukul 10 malam. Malam itu aku sial. Aku hanya diperbolehkan menjilat-jilat kakinya Nadya sambil menonton bagaimana ia dientot oleh suaminya.

Aku neken coke cukup banyak malam itu. Jadi saat aku sampai rumah, aku sudah setengah sadar. Tom seperti biasa belum pulang. Tanpa mandi aku hanya membuka bajuku (aku selalu tidur naked!) dan ambruk di tempat tidur.

Kira-kira jam 4 pagi aku setengah terbangun mendengar tawa cekikikan seorang perempuan. Juga suara Tom yang berat.

“Oh my god! Who’s this?” tanya si cewek dengan logat indo yg jelas – pasti ‘ayam’, sempat terlintas di otakku yang masih burem.

“That’s my wife!” kata hubby-ku tertawa, “Don’t bother ’bout her. She’s fuckin’ stoned!”

Tom menidurkan pereknya di sampingku. Dengan posisiku yang menghadap ke jendela aku memunggungi dia. Aku tak kuat untuk bangun namun aku bisa mendengar Tom mengentotnya dengan kasar.

“Please, go slowly baby!”

Tom hanya mendengus. Memang Tom suka sekali ‘memakai’ cewek dengan kasar!

“Fuck baby, you hurt me! God! You split me open!”

Tiba-tiba tubuh cewek itu menekan ke punggungku. Toketnya yang besar dan kenyal terasa menempel di belakangku. Ia mulai menangis: “Please baby! Slower! My ass hurts!” Sentakan-sentakan Tom terasa di punggungku. Setiap kali ia memasukkan kontolnya ke anus pereknya, terasa toketnya menekan punggungku. Aku terfikir untuk bangun tapi aku terlalu lemas.

“Ahhhhrggg, tolong! Jangan! Jangan!” ia teriak-teriak tak karuan.

Karena tak tahan merasakan sakitnya perkosaan Tom di lubang pantatnya, ia mencengkramkan kuku-kuku jarinya yang panjang ke pundak dan toketku. Aku masih teringat mendengar Tom melenguh puas.

Besok paginya aku terbangun dengan sesosok wanita yang telanjang merangkulku dari belakang. Aku baru sadar bahwa ini adalah perek yang dibawa oleh suamiku tadi malam. Aku terduduk. Tom sudah pergi kantor.

Ada beberapa uang ratusan ribu di samping cewek itu di atas tempat tidur. Aku membelai rambutnya. Ia lumayan cantik buat seorang pelacur – sedikit ‘kampungan’ mungkin tapi masih sangat muda. Paling-paling baru 16 tahun. Ia berkulit hitam gelap, dengan muka khas Jawa.

Ada satu hal yang luar biasa di tubuhnya. Toket yang gede banget buat badannya. Aku penasaran. Aku remas toketnya tapi ia tidak bergeming. Aku cubit nipple-nya. Ia tetap diam. Mungkin ia terlalu capek buat bangun, pikirku.

Aku mulai horny melihatnya tak berdaya seperti itu. Aku membelai perut, pinggang dan pinggulnya, turun ke pantatnya. Ia begitu muda. Aku baru ingat, ia semalam disodomi sama Tom! Aku buka perlahan-lahan buah pantatnya dan terlihat lubang anusnya yang merah menganga. Cairan peju suamiku masih mengalir keluar dan menggenang di kasur.

Aku mulai memainkan memekku. Dua jariku dari tanganku satunya lagi aku selipkan ke dalam lubang anusnya. Setelah basah aku tusukkan jari-jariku tadi ke dalam memeknya. Badannya bergerak sedikit. Terasa sekali otot memeknya yang menjepit jari-jariku.

Aku baru sadar kalau di dekat memeknya banyak bekas cupang. Entah Tom, atau customer lain. Aku entot memeknya pelan-pelan dengan jari-jariku. Ia melenguh dengan lemas. Aku meludah ke memeknya. Jadi licin sekali! Aku masukkan 3, terus 4 jari. Aku suka sekali melihat memeknya yang muda itu menjepit dengan keras jari-jariku. Aku keluar-masukin lebih cepat lagi.

Aku melihat bagaimana lubang pantatnya tertekan dan sperma di dalamnya membusa keluar. Gemes aku rasanya! Horny sekali!

“Hari ini aku bakal bolos kerja nih kaya’nya,” pikirku. Aku memejamkan mataku dan kujulurkan lidahku ke dalam lubang anus yang penuh sperma di depanku….

TAMAT

Anissa 07 – Kado Dari Aldi

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh, Biseksual, Keroyokan)

Tanpa dipuaskan sama sekali aku pulang ke rumah. Tom malam itu tidak pulang. Sepertinya dia dapat perek yang bisa dientot olehnya. Lucky guy!

Aku tidak ada pilihan lain selain masturbasi lagi sambil membayangkan dientot sama Aldi. Aku juga tidak bisa melupakan tatapan Nadya yang horny saat ia membersihkan kontol suaminya.

Paginya sebelum aku berangkat kerja, Tom pun pulang.

“Baby, I missed you so much!” kataku sambil merangkulnya!

Ia masih kesal namun aku paksa dia untuk mengentotku saat itu, disitu juga. Akhirnya aku pun keluar! Finally. Tapi sepertinya Tom tidak keluar banyak. Aku tidak tau perek bule mana yang sekarang jalan-jalan dengan memek becek karena suamiku.

Kegiatan pagi hariku di kantor benar-benar membosankan. Aku diajak pergi lunch dengan Pete dan Mark (orang departemen Media) ke JW Marriot. Sepanjang lunch Pete meremas-remas pahaku terus menerus. Aku biarkan, namun tidak aku tanggapi juga.

Kira-kira 30 menit setelah lunch, aku dapat telepon dari resepsionis. Katanya ada orang mau ketemu denganku. Karena emang aku menunggu tamu orang dari production house, aku pun ke lobby.

Betapa kagetnya diriku melihat Nadya duduk menungguku. Ia dandan benar-benar seperti supermodel. Sendal berhak tinggi, rok super-mini, tank-top yang aku kira dipakainya tanpa BH dan dandanan yang cukup rapi. Kecantikannya benar-benar luar biasa sehingga ia tidak terlihat murahan sedikit pun. Aku juga baru menyadari betapa besar dan kencangnya kedua toketnya.

Saat melihatku ia berdiri. Aku bingung harus berkata apa. Untung aku dapat akal untuk membawa dia ke ruang meeting yang kosong – daripada jadi awkward dan orang-orang mulai gosip aneh-aneh lagi!

Aku tutup pintunya. Ketika aku berbalik, ternyata Nadya sudah duduk di atas meja. Sebelum aku sempat bertanya apa-apa, ia berkata: “Ada kado dari Aldi. Aku disuruh mengantarkannya ke kamu…”

Aku baru sekali ini mendengar suaranya. Lembut, lemah, hampir seperti ABG.

Aku tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya. Tiba-tiba ia mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Mengangkang selebar-lebarnya! Astaga! I can’t believe it! Nadya tidak memakai panties! Dari jarak 1 meter aku bisa mencium bau khas memek yang basah tercampur dengan bau peju! Benar saja… Ternyata memeknya Nadya sepertinya abis dientot dan dijadikan penampungan sperma!

Sambil membuka lubang vaginanya dengan jarinya ia menatapku dengan sayu: “Kamu harus habisin katanya Aldi, kalau besok-besok mau datang ke rumah lagi!”

Aku tak tau lagi harus bagaimana? Aku merasa kotor sekali melakukannya namun aku juga terangsang tiada taranya! Aku langsung menyambar memeknya Nadya! Mulutku kutempelkan di bibir memeknya sambil aku sedot-sedot isi sperma yang ada. Hidungku bergesekan dengan klitorisnya! Iya, aku memang pelacur murahan yang gunanya hanya untuk menelan sperma!

“Hmmmmgh….hmmmgh…” Nadya mengerang kecil…

Tangannya menahan kepalaku agar menghisap lebih kuat lagi. Otot-otot memeknya berkontraksi sehingga menekan keluar sperma di memeknya…

“Ohhhh… Nadya… I love your pussy! Basah sekali, sayang! Basah sekali!”

Pahanya yang halus dan langsing menjepit kepalaku. Aku menjilat memeknya dari bawah ke atas, menjilat-jilat dari dekat lubang anusnya sampai ke klitorisnya… Nadya mengerang cukup keras.

”Oh my god…” kataku diantara jilatan. ”..Banyak sekali spermanya! I can’t believe this!”

Memang sepertinya sperma yang tertampung di dalam memek Nadya jauh lebih banyak daripada waktu terakhir saat aku ‘membersihkannya’.

Ia berbisik ke telingaku dengan terengah-engah: “Kamu heran ya, kok spermanya banyak begini?”

Aku hanya menganggukkan kepala sambil terus menyedot cairan asin peju dari lubang kenikmatannya yang tiada habisnya.

“… Karena… Ini… Sperma…kumpulan… dari 4 cowok yang berbeda… yang baru saja mengentotku sebelum aku ke sini…”

Aku seperti mau pingsan! Pelacur paling rendahan pun mungkin tidak akan melakukan ini! Empat orang! Tanpa menyentuh memekku pun aku orgasme! Bersamaan dengan Nadya yang membanjiri mulutku dengan asamnya cairan kewanitaannya!

Dengan muka belepotan sperma aku terhempas di salah satu kursi ruang meeting. Nadya mencium bibirku. Lidahnya menjulur-julur ke dalam mulutku menyedot-nyedot sisa-sisa sperma yang ada di mulutku. Ia juga menjilat-jilat lelehan sperma yang mengalir ke daguku. Sepertinya lidahnya udah jago sekali dalam jilat-menjilat.

Ia mencium keningku dengan penuh kasih sayang dan meninggalkanku di ruangan meeting itu tanpa berkata apa-apa. Sambil membersihkan mukaku aku bertanya-tanya pada diriku mengapa aku bisa jatuh serendah ini.

TAMAT

Anissa 06 – Gak Tahan!

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh, Permainan Bertiga)

Satu minggu pas berlalu tanpa ada kabar dari Aldi. Weekend berlalu tanpa kejadian yang seru. Hari Senin itu aku suntuk sekali karena harus lembur sampai jam 8 malam dengan tim-nya Emir yang tak henti-hentinya nyengir-nyengir kaya’ anak SD setiap kali aku lewat depan cubicle mereka.

Waktu berlalu pelan sekali. Akhirnya kerjaan kita selesai juga dan aku naik mobilku untuk pulang. Di jalan ku telepon ke rumah. Sepertinya Tom juga belum pulang. Paling juga dia nyari ‘ayam’ karena gak aku kasih udah satu minggu ini. Dasar bule!

Aku pun dapat ide nekat. Aku putar balik ke arah apartemennya Aldi. Sepanjang jalan ke arah apartmennya aku merinding membayangkan aku bakal diapakan olehnya.

Aku pencet tombol bel apartemen. Terdengar suara langkah kaki. Aku senewen sekali.

Sesosok wanita di usia akhir 20 tahun-an, yang memakai gaun mandi silk berwarna merah maroon membukakan pintuku. Terlihat cleavage-nya yang dalam dan puting susunya yang tercetak di bahan gaun. Rambutnya acak-acakan dan matanya terbuka sayu. Ia hanya memandangku dengan pouty lips-nya yang sexy abis – Nadya! Baru sekarang aku melihat dengan jelas wanita yang waktu itu kujilat habis-habisan lubang pantatnya yang penuh sperma!

Kami hanya berpandangan.

“Datang juga kamu akhirnya!”

Lamunanku buyar mendengar suara Aldi memanggil dari dalam kamar.

“Nadya, baby! Biarkan dia masuk!”

Tanpa berkata apa-apa Nadya mempersilakan aku masuk. Baru sekarang aku bisa melihat Aldi. Ia melilitkan handuk di pinggangnya. Sepertinya ia baru saja habis mandi.

“Aku pikir kamu nggak mau kesini lagi, say? Waktu itu kamu manggil aku bajingan, ternyata doyan juga ya?” tanyanya dengan dingin.

Aldi menghampiriku dan mencium mulutku. Kujulurkan lidahku sedalam mungkin. Aku benar-benar kangen! Ia meremas-remas pantat dan toketku dari luar baju kantorku. Terasa tonjolan kontolnya yang keras.

Sementara itu Nadya hanya menundukkan kepalanya, seakan merasa tidak sopan kalau menonton kami bercumbuan seperti itu. Aku benar-benar terangsang making-out dengan Aldi di depan istrinya yang nerima saja kelakuan suaminya yang gila begitu.

Aldi mendorong tubuhku untuk berjongkok. Aku sudah mengerti dan melepas handuknya sehingga batang kontolnya yang tegang mencuat ke atas. Aku sedot-sedot sebisaku sambil meraba-raba otot paha dan pinggulnya yang kekar. Aku ingin ia cepat-cepat keluar di mulutku agar aku bisa merasakan spermanya yang nikmat itu. Namun setelah kira-kira dua atau tiga menit ia mencabutnya dari mulutku. Kontolnya diarahkan ke mukaku sehingga muncrat membasahi mukaku. Aku berusaha menangkap sebagian spermanya dengan mulutku namun hanya sedikit yang tertelan olehku.

Tanpa ba-bi-bu, Aldi menjauh dariku dan duduk di sofa.

“Sini Nad, bersihin!” perintahnya dengan santai.

Istrinya pun datang dengan nurut. Tanpa mengatakan apa-apa ia tiduran di samping Aldi dengan kepalanya di pangkuan Aldi. Sambil memandangku penuh birahi Nadya menjilat-jilat dan membersihkan kontolnya Aldi yang basah dengan spermanya. Aku iri sekali rasanya. Aku bangun untuk ikut menjilatnya namun Nadya mendorongku agar menjauh dengan kakinya. Seakan-akan ingin menikmatinya sendiri.

“Di… Please aku butuh dientot!” rengekku, udah nggak ada rasa malu atau harga diri lagi… “Please dong… Entot aku!”

Aldi hanya menatapku dingin dan berkata: “Kamu pulang dulu deh, Nissa. Aku lagi males ngentotin kamu. Udah! Pulang sana!”

Untuk kedua kalinya aku diusir dari tempat itu. Namun aku tahu ini bukan yang terakhir.

TAMAT

Anissa 05 – Kangen

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh)

Sejak malam itu tidak ada kabar apa pun dari Aldi. Sepertinya dia memang bajingan yang hanya ingin memanfaatkanku untuk sex.  Tapi entah kenapa aku menunggu-nunggu dia sms atau telfon. Aneh, padahal physically dia sama sekali bukan tipeku. Di sisi lain aku juga masih terlalu sakit hati untuk make the first move. Aku yakinkan saja diriku kalau aku tidak mau ketemu bajingan itu lagi seumur hidup.

Entah kenapa aku pun tidak cerita tentang pengalamanku dengan Aldi sama suamiku. Padahal aku ngentot sama laki-laki siapa pun juga pasti cerita kepada Tom – namanya juga kita menganut paham swinging lifestyle! Mungkin aku merasa terlalu hina untuk menceritakan ke Tom, bahwa aku membersihkan lubang pantat istrinya Aldi dengan lidahku. Aku takut setoleran-tolerannya suamiku, ia pun mungkin merasa jijik terhadapku.

Kira-kira empat hari berlalu tanpa kejadian apa-apa. Di kantor orang-orang semakin memandangku dengan aneh. Pete juga mulai genit-genit lagi denganku. Namun semua itu tidak kupedulikan. Yang ada di kepalaku hanyalah kejadian malam itu… Setiap kali aku memikirkannya memekku jadi basah dan aku harus pergi ke wc buat masturbasi. Hari Rabu aku sampai 4 kali masturbasi!

Menjelang akhir minggu aku rasanya ingin sekali menelepon Aldi. Malam harinya aku tidak bisa tidur. Tom mengajakku having sex tapi aku menolak. Dengan menggerutu dia tertidur. Aku benar-benar tidak bisa tidur. Akhirnya aku memain-mainkan memekku sambil sekali lagi aku membayangkan dientot oleh Aldi. Kangen rasanya. Ingin sekali aku merasakan asinnya sperma Aldi sekali lagi.

TAMAT

Anissa 04 – Lubang Pantat Nadya

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh, Biseksual)

Seharian aku nggak bisa konsentrasi di kantor. Sepertinya saat ini separuh kantorku sudah diceritakan sama Emir dan Michael, kalau aku seorang ‘bispak’. Tapi aku tidak memikirkan hal itu. Yang ada di benakku hanyalah ‘date’-ku sama Aldi yang ia bikin sepihak.

Aku dari pagi udah siap-siap dengan lingerie yang sexy di bawah baju kantorku. Terasa memekku semakin sore semakin basah. Akhirnya kerjaanku pun selesai dan aku meluncur ke alamatnya Aldi.

Apartemennya cukup megah namun terlihat masih baru dan masih kosong penghuninya. Aku pun naik lift ke lantai 22. Di dalam lift aku memasukkan tanganku ke dalam rok miniku. Gila, Udah banjir! Pasti udah keliatan noda basah cairan memek dari luar panties-ku!

Pelan-pelan kuketok pintu apartemen. Sejenak tidak ada yang menjawab dan aku pun berniat untuk kabur saja. Ternyata terdengar suara dari dalam:

“Anissa, silakan masuk! Dan kunci pintunya!”

Sialan. There’s no escape now! Aku beranikan diriku dan membuka pintu. Di dalam semuanya gelap. Kamar-kamar pun masih cukup kosong. Sepertinya si Aldi baru pindahan kesini!

Aku mengikuti lorong menuju kamar tidur. Di sana kulihat seorang wanita berbadan tinggi dengan rambut coklat panjang terurai telungkup di atas tempat tidur yang besar. Ia telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun. Sepertinya ia sedang tidur atau sedang tidak sadar.

Di belakangnya, sambil bersender di tembok, Aldi duduk dengan santai. Ia sepertinya sedang high dan terlihat ia sedang menyiapkan strip coccaine di atas meja kaca di samping tempat tidur.

“Ah, akhirnya kamu datang!” sapanya. “Perkenalkan, ini istriku Nadya. Sayang dia udah gak sadar. Kamu sih telat datangnya! Cantik nggak dia?”

Aku hanya mengangguk. Ia menghirup strip coccaine-nya dengan hidungnya. Ia menikmati rasanya sejenak.

“Kamu mau juga?” ia menawarkan strip berikutnya untukku.

Sudah lama sekali aku tidak ‘neken’ coccaine. Abis mahal juga sih! Aku mengangguk dan mendekati meja. Aku duduk di lantai dan menghirup habis strip buatku. Rasanya langsung naik ke kepala. Enak sekali. Aku terasa seperti melayang. Aku tersenyum nakal ke arah Aldi sambil menjilat bibirku. Aldi menarik badanku ke atas kasur dan mencium bibirku… Ia menjulurkan lidahnya yang hangat ke dalam mulutku. Aku hanya melenguh.

“Mau lagi?” tanyanya sambil meremas-remas buah dadaku.

Aku mengangguk. Ia sisihkan lagi satu baris buatku di atas meja kaca. Tapi, waktu aku mau bergerak untuk menghirup bubuk tersebut kepalaku didorongnya dengan kasar! Aku bingung.

“Nanti dulu! Kamu kok nggak mikirin tuan rumah sih. Kamu nggak kasihan tuh sama si Nadya?” ia menunjuk ke arah bagian pantat Nadya. Aku baru melihat bahwa di sekitar lubang pantatnya menggenang sperma banyak sekali.

“Sana! Kamu bersihin dulu. Baru kamu boleh neken lagi!”

Antara rasa jijik dan pengen dapat bubuk setan itu sekali lagi aku benar-benar bingung. Dengan iri aku melihat Aldi menghirup coccaine yang tadinya untukku.

”Ayo, say, jangan malu-malu!” katanya sambil tertawa mengejek.

Sepertinya aku udah nggak bisa mikir panjang. Aku naik ke atas tempat tidur dan pelan-pelan membuka pahanya Nadya. Banyak sekali sperma yang keluar dari lubang pantatnya. Aku melihat sekali lagi ke Aldi. Ia hanya tersenyum. Aku menundukkan kepalaku sambil membayangkan bagaimana Aldi tadi mengentot pantat istrinya sampai ia muncrat di dalam duburnya yang sempit. Bau khas yang tajam menusuk hidungku.

Aku mulai menjulurkan lidahku dan dengan sedikit ragu-ragu mulai menjilat sperma yang ada di sekitar lubang pantat wanita tersebut. Gila! Aku sudah benar-benar gila! Nggak tahu kenapa sepertinya aku sangat terangsang melakukan ini.

Tidak lama kemudian aku mulai menjilat tanpa ragu-ragu. Nadya benar-benar cewek yang cantik. Pantatnya indah sekali. Penuh dan sekel. Aku benar-benar jadi buas menelan semua spermanya Aldi yang kental itu. Aldi hanya memandangku dengan dingin.

“Ayo, say, di dalam pantatnya masih banyak kok!”

Aku merasa kotor sekali… Menjilati sperma laki-laki yang aku hampir tidak kenal dari lubang pantat istrinya…. Entah kenapa memekku berdenyut-denyut pengen dientot. Aku semakin gila menjilatinya. Aku tusukkan lidahku ke dalam lubang pantatnya Nadya yang licin. Benar saja! Di dalam lubangnya masih ada banyak lagi spermanya Aldi! Aku membuka lubangnya dengan jari-jariku. Keluarlah meleleh peju yang banyak yang langsung kutelan.

Aku dengar Nadya melenguh dalam tidurnya dan mengencangkan otot anusnya. Lidahku terasa terjepit dan aku tusukkan lebih dalam lagi hingga wajahku menempel ke buah pantatnya yang berlendir. Aku memainkan memekku dari luar baju. Aku tidak bisa menghentikan permainan ini. Aku menempelkan bibirku seperti french-kissing dengan lubang pantatnya Nadya. Spermanya Aldi mengalir tanpa hentinya ke dalam mulutku!

”Please give me some coke!” rengekku sambil mendongakkan wajahku. Aku baru sadar kalau Aldi sedang memrekam semuanya dengan handycam yang dia sembunyikan sebelumnya. Aku sudah tidak peduli.

”You can do it better, babe! Ayo terusin!” paksanya sambil mengeluarkan kontolnya yang udah tegang. Aku menjulurkan lidahku dan menusukkannya ke dalam pantatnya Nadya sambil tetap melihat nakal ke kamera. Aku memutar-mutar lidahku di sekitar otot anusnya.

”Please…” rengekku.

Aldi hanya tersenyum. Sambil terus merekam adegan tadi, ia membuka sekantong cocaine dan menaburkannya ke atas batang kontolnya yang ia basahkan dengan ludahnya. Aku langsung melahap kontolnya dengan mulutku. Rasanya nikmat sekali! Aku menyepongnya dengan keras. Aku maju-mundurkan kepalaku sampai terasa kontolnya di tenggorokanku.

”Mpppppppphhhhhh….” aku hanya melenguh… benar-benar high….

Aku mengocoknya sekuat tenaga dan tidak lama kemudian spermanya muncrat ke dalam tenggorokanku. Aku tersedak namun Aldi menahan kepalaku. Aku terbatuk-batuk, hampir kehabisan udara.

Aldi hanya memandangku dengan dingin.

”Bajingan kamu!” umpatku sambil terbatuk-batuk. Aldi hanya tersenyum.

”Ya udah, pergi sana!”

Aku bingung. Mungkin karena aku masih high banget, tapi mungkin juga karena aku tidak pernah diperlakukan sekasar ini.

”Udah keluar sana! Pulang ke suamimu!”

”Bajingan!” umpatku sambil menangis. Dengan muka yang masih basah oleh spermanya aku berlari keluar apartemennya Aldi. Belum pernah aku diperlakukan serendah itu.

TAMAT

Anissa 03 – Clubbing!

Copyright 2006, by Slutty Anissa

(Istri Selingkuh)

Dua weekend yang lalu aku diajak oleh Tom, suamiku, pergi clubbing bersama teman-teman bulenya. Kita mulai dari jam 9 di Dragonfly, minum-minum wine dengan sopan, terus pindah ke Vertigo setelah jam 11. Aku senang juga pindah ke sana, apalagi setelah tahu bahwa temanku Citra, bakal ada di sana juga.

Di mana ada si Citra, di situ pula ada ecstasy! Aku bukan junkie tulen, tapi kadang-kadang aku suka juga nelen pil gila itu. Sama juga seperti friday night itu! I really wanted to go crazy, dan ada E, udah pasti gila!

Kita berangkat bersama tiga orang temennya Tom: Shane, Robert, atau Rob dan Aldi, orang Indo. Shane dan Robert berbadan besar selayaknya bule dan masih single. Well, shane sebenarnya punya girlfriend tapi ia tinggal di Bangkok (paling juga local prostitute di sana lah, pikirku selalu). Sedangkan Aldi seperti cowok indonesia rata-rata. Udah married. Mukanya cukup keren namun badannya tegap tapi biasa aja.

Sampai di Vertigo, aku langsung meninggalkan cowok-cowok itu untuk mencari si Citra. Ternyata dia udah asiknya goyang-goyang sendiri di pojokan bersama laki-laki yang tidak kukenal. Aku diberinya sebutir E olehnya yang langsung kutelan diam-diam dan aku langsung pamit untuk kembali ke Tom dan kawan-kawan.

Belum terasa apa-apa aku terus dancing-dancing sensual di depan cowok-cowok bule tadi. Aku tahu mereka memperhatikan badanku yg terbalut tube-dress putih yg menyala karena UV-light di Vertigo. Terutama Aldi sepertinya cukup horny memperhatikan liuk-liukan tubuhku. Ia terus-menerus memandangiku dengan tatapan yang tajam. Walaupun aku tidak tertarik secara fisik dengannya, aku sengaja mau teasing dia dengan berciuman dengan Tom yang bernafsu sambil menatap mata Aldi dalam-dalam. Ia hanya menatapku dengan dingin.

Tak lama kemudian inex di badanku mulai ‘on’! Aku sudah tidak peduli apa-apa dan naik ke meja kami. Aku goyang tanpa malu. Shane juga naik ke atas meja dan kita bikin pertunjukan hebat selama (aku kira-kira) 1 jam lebih.

Aku keringatan tak karuan dan tubuhku benar-benar capek. Efek E juga sudah mulai buyar. Aku terduduk di sofa dan memejamkan mata sebentar. Karena efek obat gilaku, aku dapat melihat pola-pola yang aneh di kegelapan mataku.

Saat aku dengan lemas membuka mataku kembali, kulihat di kejauhan Shane sudah hook-up dengan cewek di bar. Robert entah di mana. Tom juga sedang tertawa-tawa dengan cewek yang baru ditemuinya. Aldi ada di sebelahku, duduk di sofa corner yg cukup redup. Aku menghadap ke arahnya dan bengong melihat jendolan kontolnya di jeans-nya. Ia mengusap pipiku.

Aku tidak bisa berhenti melihat ke selangkangan Aldi. Sepertinya kontolnya udah keras sekali. Tanpa sepatah katapun ia menarik badanku ke dekatnya. Dibukanya kakiku dengan kasarnya. Aku terkejut sekali. Jari-jarinya yang kasar menyusup ke balik dress-ku. Terus, terus naik menyusup dari samping panties-ku ke liang memekku. Dengan kasar jempolnya dimasukkan ke dalam memekku dan telunjuknya mengorek-ngorek lubang pantatku. Ia tersenyum dingin.

Aku melirik ke arah Tom. Ia sedang tidak melihat ke arahku.

“Please stop, nanti ada yg lihat!” pintaku.

Aldi mencabut jari dan jempolnya dan memasukkan keduanya ke dalam mulutku. Entah kenapa aku mengulum jari-jarinya. Ia tertawa merendahkan. Seakan-akan aku seorang perek yg senang kalau dibayar hanya Rp 5000,00.

Tidak banyak yang kuingat dari malam itu. Paginya aku terbangun di samping Tom, yang sepertinya mengentotku sewaktu aku sedang tidur lelap. Aku langsung bangun dan mandi. Kepalaku masih terasa berat sekali waktu ada bunyi sms di HP-ku.

Aku baca, dan cukup kaget juga: “Datang ke apartemenku besok malam!” Tertulis alamat di bilangan Kuningan. “Jangan lupa pakai baju yang sexy. -Aldi-“

TAMAT