Tag Archives: wanita muda dan pria tua

Sinta – Ilmu Gaib Penakluk Sukma (Bagian 2)

Original Author: Unknown

Remake: Copyright 2010, by Mario Soares

(Berbagi Istri, Seks dengan Pria Tua, Penghamilan)

Setelah seminggu berlalu, pada hari yang telah dijanjikan Ki Dargo, Sinta mengunjunginya kembali beserta suaminya. Pasangan suami istri itu sampai di rumah Ki Dargo menjelang maghrib. Mereka diharuskan menginap malam itu karena akan ada pengobatan dan ritual untuk segera mendapatkan anak.

Sehabis makan malam, tepatnya pukul 8 malam, suami perempuan itu diberi ramuan untuk diminum. Sesaat setelah meminum ramuan tersebut, Rama merasakan tubuhnya segar dan ringan, seolah tak ada beban pikiran yang memberatkannya. Tanpa disadarinya, ternyata ramuan mantera itu juga telah membuat Rama tunduk dan patuh pada Ki Dargo. Karena itu saat Ki Dargo memberi perintah kepada Sinta untuk bertelanjang bulat di hadapan sang dukun, suaminya tak keberatan sama sekali.

“Kemarilah, kemarilah budakku yang cantik, akan kutunjukkan bagaimana aku dapat membuatmu terhempas dalam badai kenikmatan,” kata Ki Dargo seraya tangannya dengan bebasnya meremas-remas buah dada istri Rama yang mengkal dan segar karena belum pernah menyusui anak.

Inilah kesempatan sang dukun untuk menggarap habis-habisan tubuh molek ibu muda cantik itu di hadapan suaminya sendiri. Sang dukun seperti bayi raksasa yang kehausan saat mengisap-isap puting susu yang masih segar milik Sinta. Tangan kirinya memeluk tubuh Sinta sambil sesekali jari-jarinya yang kasar meremas-remas dan memulin puting susu perempuan itu. Sementara tangan kanannya dengan penuh perasaan bergerak ke bawah, mengelus dan menusuk-nusuk lubang kenikmatannya.

Sinta yang memang sudah pernah disetubuhi oleh Ki Dargo maupun Setan Kober suruhannya, tak merasa sungkan diperlakukan seperti itu di depan suaminya sendiri. Bahkan ia tampak menikmati sekali pencabulan yang dilakukan dukun tua itu terhadapnya.

Seperti kerbau dicucuk hidung, sang suami hanya terperangah tanpa protes sama sekali. Bahkan Rama ikut terhanyut melihat cumbuan-cumbuan Ki Dargo kepada tubuh istrinya yang seksi. Ia seperti menonton sebuah permainan yang amat menyenangkan dan membuatnya ikut terangsang juga.

“Bagaimana, Rama?” kata sang dukun pada suami perempuan itu.

“Eh, eh… ya, Ki…” kata lelaki itu tergagap.

“Gimana, Rama, kalau aku menyetubuhi istrimu? Apakah kau senang atau marah padaku?” tanyanya dengan tegas dan tajam.

“Eh, eh… ya, Ki Dargo. Aku sangat senang, Ki,” kata Rama seperti orang tolol.

Ilmu pengikat sukma Ki Dargo memang ampuh dan telah membuat Rama tunduk patuh pada kehendaknya. Rama menurut saja saat Ki Dargo menyuruhnya untuk melakukan onani.

“Ayo, Rama! Kocok batang kemaluanmu sambil menonton permainanku dengan istrimu!”

Rama pun menuruti perintah itu. Sinta hanya memandangi perbuatan suaminya sambil tetap memeluk Ki Dargo yang saat itu dengan jemarinya masih mengobok-obok lubang kemaluannya.

“Ayo, ibu muda cantik, peganglah dan belai dengan mesra batang kejantananku ini dengan jari-jari lentikmu….” suruh Ki Dargo pada Sinta untuk mengocok batang kemaluannya, di saat bersamaan suaminya juga sedang mengocok batang kemaluannya sendiri.

Sinta dengan patuh melakukannya sementara Ki Dargo membelai-belai rambutnya yang hitam panjang.

“Nah, begitu, manis…” puji dukun sakti itu senang.

Sungguh suatu pemandangan yang begitu indah dan serasi! Suami istri melakukan kegiatan yang sama secara bersamaan. Sang suami mengocok dirinya sendiri sedangkan sang istri mengocok si dukun sakti.

Sementara Sinta tetap mengocok penis Ki Dargo yang panjang, lidah serta bibir Ki Dargo menyelusuri seluruh tubuh molek istri Rama dengan buasnya. Sinta sampai merem melek dibuatnya karena terangsang dengan hebat.

“Oh yeah, ouuuh… ampuuun…. Aaaaku sudah gak tak tahan lagi, Dargo” ceracau perempuan itu. Dia sudah tak memanggilnya Ki lagi. Mungkin karena sekarang dia sudah merasa lebih mesra dan intim dengannya sehingga tak sungkan menyebut namanya saja.

“Ayo, Dargo, puaskan aku dengan batang kejantananmu yang besar ini. Ayo, Dargo!”

Erangan ibu muda cantik itu melengking tinggi saat Ki Dargo menjilati klitorisnya dengan penuh gairah.

“Ampuuuuun, Dargo! Yeah, Oh, Dargo pejantanku! Jangan kau siksa aku dengan permainanmu. Akuuuuu sudah tak tahaaaan, Dargo. Ayolah, Dargo! Aku budak nafsumu, Dargo. Aku budak nafsumu, Dargo. Yeaaah….!”

Blees, saat itulah batang kejantanan Ki Dargo yang hitam besar dan panjang masuk separuh ke dalam liang kenikmatan istrinya Rama.

Mata perempuan itu terbeliak terbalik ke atas saat kejantanan itu menghunjamnya. Tubuhnya langsung menegang dan terpaku sejenak. Rama pun terperangah dibuatnya. Tak lama kemudian Sinta tampak begitu nyaman menerima susupan batang Ki Dargo di dalam tubuhnya. Saat istrinya mengerang kenikmatan di dalam pelukan dukun tua itu, ia pun ikut terangsang dan terpana dibuatnya.

Saat itu posisi istrinya berhadap-hadapan dengan sang dukun. Mereka bersetubuh dalam keadaan berdiri. Kaki kiri istrinya dinaikkan ke atas meja tamu oleh sang dukun. Istrinya berdiri dengan kaki kanannya. Keduanya berpelukan erat dalam keadaan bugil seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara.

Ia melihat wajah istrinya semakin manis dan mempesona dalam keadaan menuju orgasme karena merasakan kenikmatan seks. Bila ingin melihat kecantikan seorang wanita, lihatlah saat ia sedang dalam kenikmatan saat disetubuhi. Sejak ia mengenal Sinta, belum pernah sekali pun Rama melihat istrinya secantik saat itu! Yakinlah Rama seyakin-yakinnya kalau tempat istrinya yang pas memang di sisi dukun sakti mandra guna itu. Rama semakin bergairah penuh nafsu birahi saat melihat istrinya bersetubuh dengan liar dan buas bersama sang dukun.

Dengan bebasnya kini Ki Dargo mengayun-ayunkan pantatnya maju mundur dengan irama teratur dan kuat sambil mengulum puting susu istrinya yang menjulang indah itu. Posisi demikian amat menyenangkan bagi Ki Dargo. Dengan kedua kakinya yang kokoh dan kekar, Ki Dargo mampu menyetubuhi ibu muda cantik budak nafsunya itu dengan sempurna sekali pada posisi demikian.

Perempuan itu merasakan ujung kepala batang kejantanan Ki Dargo yang besar dan panjang mampu menyentuh leher rahim peranakannya. Rasa nikmatnya mengalir deras sampai ke ubun-ubun.

“Oh yeah, Dargo! Terus, terus….” pintanya merengek-rengek.

Sang ibu muda binal mulai merasakan dinding Vaginanya berdenyut-denyut seakan-akan hendak meledak. Tubuhnya mulai gemetaran saking hebatnya kenikmatan itu melanda dirinya. Ia merasakan sebentar lagi akan mencapai orgasme…. tapi…

Tiba-tiba saja Ki dargo melepaskan batang kemaluannya dari lubang surgawi milik istri Rama. Tampak jelas raut kecewa di muka Sinta karena perjalanannya menuju orgasme tiba-tiba terputus, padahal ia masih merasakan horny yang luar biasa!

Dukun sakti itu dengan tenaganya yang kuat lalu membopong tubuh molek Sinta. Dibawanya perempuan itu masuk ke dalam kamarnya sambil membentak suami ibu muda cantik itu.

“Rama, budakku! Kemarilah ikut masuk ke dalam kamar ini. Aku akan mengobati kemandulanmu. Ayo, cepat, Rama!”

Rama dengan patuh mengikuti perintah sang dukun sakti itu. Pada saat itu gairah nafsu bercinta istrinya sedang menggantung di ubun-ubunnya. Kini istrinya telentang penuh nafsu birahi yang minta segera dituntaskan. Nafsu syahwatnya mendera dan menyiksa batinnya karena tergantung di tengah permainan panas yang telah dikobarkan oleh Ki Dargo tadi.

“Ayolah, Dargo, sayang, hempaskanlah aku ke pantai nafsumu, Dargo,” ceracau manja istrinya merayu dukun sakti itu untuk segera menyetubuhinya kembali. Akan tetapi sang dukun dengan tegasnya memberi perintah kepada suaminya.

“Rama! Ayo, setubuhilah istrimu dan buahilah kandungan istrimu dengan air manimu. Cepatlah, Rama. Lihatlah istrimu sudah tak tahan lagi memendam rasa gairahnya. Nanti setelah engkau mengeluarkan manimu di dalam liang kenikmatan istrimu, aku akan menyempurnakannya dengan ilmuku agar kau mendapatkan keturunan yang kauharapkan.”

Dengan tubuh gemetaran karena menahan nafsunya, Rama mendekati istrinya. Gairah bercinta Rama menggebu-gebu setelah melihat persetubuhan istrinya yang sangat panas dengan sang dukun dalam posisi berdiri tadi.

“Ayolah, Mas Rama! Peluklah aku, Mas. Berilah aku kemesraan, Mas!”  ceracau istrinya tanpa malu-malu lagi karena desakan birahinya yang begitu memuncak. Keluarlah kata-kata kotor dari mulut istrinya sendiri yang membangkitkan gairah Rama.

Dengan sangat bernafsu Rama memasukkan kemaluannya secara terburu-buru ke dalam vagina istrinya yang cantik dan seksi itu. Disebabkan nafsunya yang tinggi dan permainan Rama yang begitu tergesa-gesa, hanya dalam waktu sekitar tiga menit Rama sudah tak dapat lagi membendung lahar kemesraannya.

“Oh, aku keluar…. Maaf, sayangku… Aku tak sanggup lagi… Maafkan aku yang loyo ini, sayangku,” keluh Rama di puncak kenikmatannya dengan nada menyesal.

Rama pun terkulai lemas dalam kenikmatan setelah menyetubuhi istrinya dalam waktu yang singkat di hadapan Ki Dargo. Air mani Rama yang tertumpah ke dalam liang istrinya sangat encer dan sedikit sekali.

Tampak jelas raut kecewa di wajah istrinya. Saat Ki Dargo mendekatinya, Sinta meliriknya dengan penuh harapan. Tubuhnya serasa kembali panas didera oleh hawa nafsu.

“Ini tak mungkin dapat membuahkan kandungan istrimu,” kata Ki Dargo saat jemarinya menelaah liang vagina Sinta yang baru saja disetubuhi suaminya secara singkat. Ki Dargo bahkan hampir tak dapat merasakan air mani Rama di liang kelamin istrinya itu.

“Aku akan melakukan sesuatu untuk mengantarkan air manimu yang masih muda dan encer itu ke pintu rahim istrimu dengan bantuan ilmu yang kumiliki,” tegasnya sambil mengangkangkan kedua paha Sinta.

Sebelum memulai, Ki Dargo meminumkan secangkir jamu ramuannya kepada istri Rama. Efeknya tampak nyata dalam hitungan detik. Wajah Sinta tampak begitu binal seperti betina yang sedang dalam puncak kesuburannya dan siap untuk dibuahi. Badannya gemetaran seolah tak sabar untuk dimasuki Ki Dargo.

“Lihatlah! Lihatlah, Rama! Bagaimana aku akan menyetubuhi istrimu yang cantik ini. Bagaimana aku akan melakukannya dengan penuh kemesraan, dengan batang kejantananku yang besar dan perkasa ini, yang akan mampu menerbangkan sukma istrimu mencapai puncak nirwana bersama-sama denganku dalam badai gairah kami berdua.”

“Istrimu akan kubuat berkelojotan dalam badai gairah bercintanya. Istrimu akan selalu merindukan persetubuhan ini. Ia akan selalu membayangkan dan merindukan batang kejantananku yang besar dan panjang ini. Bagaimana Rama?”

Dengan lesunya Rama menjawab.

“Baik, Ki Dargo…. Setubuhilah istriku! Berilah ia kenikmatan yang tak bisa kuberikan. Buahilah kandungannya melalui ragamu, Ki…”

Entah bagaimana bisa Rama mengucapkan kata-kata demikian itu padahal batinnya bertolak belakang dengan ucapannya sendiri. Itu dikarenakan pengaruh ilmu penguasa sukma Ki Dargo yang amat ampuh untuk menundukkan setiap orang yang telah bersedia menjadi budaknya.

“Rama, kau berani bersumpah?” kata Ki Dargo lagi.

“Sumpah, Ki! Aku menikmatinya saat engkau menyetubuhi istriku dengan kebuasan gairah nafsumu. Silakan, Ki! Engkaulah yang dapat menolong kami dalam pengobatan ini….”

“Dargo, kau dengar izin dari suamiku? Kau berhak sepenuhnya atas tubuhku… Aku sangat ingin kau setubuhi…” desah Sinta spontan menanggapi perkataan suaminya.

Sangat kontras perbedaan antara Rama yang dengan hormatnya memanggil Ki kepada dukun sakti itu dengan istrinya yang sudah begitu intim dengannya sehingga cukup memanggil namanya.

Ibu muda cantik itu sudah tidak sabar lagi menunggu kemesraan yang akan diberikan oleh Ki Dargo. Ia dengan gelisah berkelojotan menanti sentuhan mesra dari Ki Dargo. Perempuan itu telah kecewa serta frustrasi karena saat ia bersenggama dengan suaminya, sang suami tak dapat menuntaskan dengan sempurna ke puncak nafsunya. Maka ia merengek-rengek memohon kepada Ki Dargo.

“Dargo, sayangku! Aku adalah budak nafsumu. Ayo, Dargo! Berilah aku kejantananmu yang hitam dan besar ini. Nikmatilah tubuhku, Dargo! Puaskanlah aku, Dargo! Aku kekasihmu yang selalu akan merindukan percintaan ini…”

Tentu serta merta rengekan ibu muda itu telah membuat dukun tua perkasa yang sakti itu tambah bergairah liar dan buas.

Meskipun usia Ki Dargo sudah 50 tahunan, daya tahan Ki Dargo tiada tandingannya dalam hal olah asmara gama. Sedangkan Rama yang baru berusia 35 tahun sangat jauh kemampuannya di bawah Ki Dargo. Sedangkan ibu muda cantik itu sedang ranum-ranumnya dan harum-harumnya, ibarat buah mangga yang matang. Di usianya yang ke-28 tahun, wanita seumur istri Rama itu sedang berada dalam puncak gairah birahinya. Ibarat sekuntum bunga mawar yang sedang mekar-mekarnya, yang mengeluarkan keharuman yang menyengat birahi setiap lelaki yang memandangnya.

Rama telah menyia-nyiakan bunga cantik itu. Karena kesalahannya sendiri, kini bunga cantik miliknya itu telah jatuh ke tangan dukun yang amat sakti mandra guna, Ki Dargo.

“Oh, betina cantikku, apakah kau ingin menikmati manisnya tubuhku? Ayo, jilatilah seluruh tubuhku dengan lidahmu, sayang… Di situ dirimu akan mendapatkan manis dan nikmatnya gairah nafsumu yang tak terbendung lagi.”

Dengan patuh dan penuh perasaan, perempuan itu menjilati sekujur tubuh Ki Dargo di hadapan suaminya sendiri. Bau badan dukun sakti itu begitu khas. Pada penciuman Rama, baunya hampir seperti bangkai tapi sebaliknya pada penciuman istrinya, bagaikan harum cendana. Keringatnya terasa bagaikan manisnya madu di lidah istri Rama.

Setelah sekujur tubuh dukun itu habis dijilati oleh ibu muda cantik itu, akhirnya sampailah perempuan cantik itu ke sumber sarang madu yang terletak di selangkangan dukun tua itu. Tubuhnya bergetar sangat hebat saat ia menjilati batang kejantanan Ki Dargo yang besar dan panjang. Di situlah terletak puncak sari madu yang dijanjikan sang dukun.

Batang kejantanan itu dengan perlahan dan pasti mulai tegak dengan gagah perkasa saat jemari lentiknya membelai dengan penuh perasaan. Tubuh Sinta bergetar hebat. Dinding vaginanya serasa berdenyut-denyut manakala hangatnya serta aroma khas kejantanan, yang besar panjang dan hitam legam itu terhirup hidungnya. Gelora kedutan batang kejantanan itu menjalari telapak tangannya.

“Oh, sayangku, Dargo! Cepatlah, terbangkan aku dalam badai gairah nafsu liarmu,” pinta Sinta dengan penuh harap.

Ki Dargo menjilati puting susu istrinya Rama yang cantik itu dengan lidahnya yang kasar. Dengan kedua tangannya yang kekar, Ki Dargo mulai membuka jalan pendakian dengan merentangkan kedua kaki budak nafsunya disertai dengan belaian yang memabukkan.

Ibu muda cantik itu mengerang nikmat dan manja saat batang yang besar dan perkasa itu mulai menyeruak bibir vaginanya yang sempit. Padahal batang kemaluan Ki Dargo ukurannya amat luar biasa besar dan panjang.

Istri Rama yang cantik itu berkelojotan saat kejantanan Ki Dargo digesek-gesekkan dengan lembut di sela-sela bibir vaginanya dengan menyenggol-nyenggolkan kepala kejantanannya pada klitoris perempuan itu. Dipegangnya erat-erat pantat dukun tua itu seolah tak mau kedua kelamin mereka terpisah.

Budak nafsu sang dukun itu kini mengerang nikmat dengan histeris saat kejantanannya masuk setengahnya ke dalam liangnya yang sempit.

“Oh, yeah! Enak… eeenak, Dargo!”

Perih bercampur dengan kenikmatan serasa mengalir dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubunnya.

“Oh, Dargo, ammmmpuuuun, ammmpuuuun! Tuanku yang perkasa, cepat benamkanlah diriku dalam badai gairah nafsumu, Dargo.”

Ibu muda cantik itu kini menceracau tak karuan saat batang kejantanan sang dukun itu menghentak-hentak ke dasar rahimnya. Sempurnalah kini kepasrahan Rama sang suami saat ia melihat istrinya berkelojotan disetubuhi Ki Dargo dengan permainan yang meluluhlantakkan tubuh istrinya yang cantik.

Kini Rama menyadari kelemahan dirinya yang tak setangguh Ki Dargo. Ada rasa minder menghinggapi dirinya, baik dari segi keperkasaan maupun ukuran kemaluannya yang jauh di bawah Ki Dargo. Ia malah ikut menikmati persetubuhan istrinya dengan sang dukun sakti itu.

Kini Ki Dargo mencapai puncaknya bersama-sama dengan budak nafsunya yang cantik itu.

“Yeeeeah….!!!!” geramnya dengan suara yang berat memenuhi ruangan itu.

Croot….. croot…..

Tubuh istrinya yang cantik itu bergetar hebat saat air kenikmatan sang dukun menyemburkan kehangatan ke dalam liang senggama milik istrinya. Perempuan itu mendesis nikmat. Rasanya sampai ke ubun-ubun. Ki Dargo ikut terbeliak biji matanya saat batang kejantanannya diurut-urut oleh kedutan vagina yang sempit dan peret milik istri Rama. Nikmat sekali! Benar-benar persetubuhan yang sempurna!

Ibu muda cantik itu masih dalam keadaan tertindih di bawah tubuh kekar milik Ki Dargo untuk meresapi kenikmatan yang meluluhlantakkan sukma dan raganya. Ki Dargo pun belum mau mencabut batang kejantanannya dari lubang kenikmatan itu.

Ia masih merasakan betapa panjang dan lamanya kedutan vagina ibu muda yang cantik ini. Otot-otot vaginanya masih mengurut-urut batang kejantanannya yang tak pernah melemas walaupun telah meledakKan lahar panasnya.

Itu semua berkat ramuan yang diolahnya beserta mantera-mantera Asmara Gama yang dirapalkannya saat menyetubuhi ibu muda cantik istri Rama itu. Perempuan itu kini telah menjadi budak yang setia dan patuh padanya. Ki Dargo berbisik dengan mesranya di kuping Sinta.

“Apakah kau menikmati kejantananku, sayang?”

“Ya, tuanku yang perkasa! Aku menikmatinya. Aku akan selalu menikmatinya bersamamu dan juga bersama makhluk yang bertanduk itu. Kalian berdua telah mebuka mata hatiku. Selama ini hanyalah kegersangan yang kudapatkan dari suamiku. Kini aku tahu betapa dahsyatnya kenikmatan yang telah kalian berdua berikan kepadaku. Oh, kekasih perkasaku, Tuan Dargo… Aku puas. Terima kasih, Tuan. Aku sangat menikmati disetubuhi olehmu,” kata istri Rama sungguh-sungguh sambil menatap dalam-dalam mata Ki Dargo yang menindih tubuhnya.

Ki Dargo sangat senang mendengar pengakuan gundiknya yang tulus itu. Dikecupnya kening dan bibir istri Rama itu.

“Baiklah! Engkau akan segera mendapatkan anak dengan bantuan air maniku yang telah menyuburkan air mani suamimu saat ia tanamkan ke dalam rahimmu,” kata Ki Dargo.

“Air maniku akan mendewasakan air mani suamimu yang encer itu. Dengan masuknya air maniku ke dalam rahimmu, kau akan hamil, sayangku,” kata Ki Dargo sambil mengelus-elus rambut ibu muda itu dengan lembut.

Dengan mengerang manja, ibu muda cantik itu memeluk erat tubuh kekar dukun sakti itu. Ia mengerang kenikmatan karena batang kejantanan Ki Dargo mengayun dan menghentak-hentak lembut di liang vaginanya saat berbisik di telinganya. Ujung kejantanan itu berkedut-kedut di pintu dasar rahimnya.

Dengan masih terbenamnya batang kemaluannya di liang ibu muda Sinta, Ki Dargo memanggil suami perempuan itu.

“Rama, kemarilah! Cumbuilah istrimu ini. Ayo, cepat!”

Dengan patuhnya Rama menjalani perintah itu. Ia mendekati sepasang manusia berbeda kelamin yang sedang bersetubuh itu dari atas kepala si perempuan.

“Ciumlah bibirnya, Rama!”

Rama pun mecium bibir istrinya. Sinta membalasnya dengan ciuman yang mesra pula.

Sementara suami istri itu berciuman bibir dengan romantisnya, Ki Dargo dengan perlahan mulai menggenjot liang kenikmatan perempuan itu. Dukun sakti itu kembali menyetubuhi Sinta yang sedang bermesraan dengan suaminya!

“Ayo, Rama, hisaplah puting susunya!” perintah Ki Dargo setelah mereka berada dalam posisi itu selama beberapa menit.

Dengan patuhnya Rama mengisap-isapnya sehingga istrinya menggelinjang kenikmatan dengan mengeluarkan suara desahan-desahan birahi.

“Oh, sayangku, oh tuanku yang perkasa, Dargo darrrrrgo, ammmmpun… Oh yeah, dargo kekasihku yang perkasa, akuuuu sudah mau keluar. Cepat hempaskanlah aku dalam pusaran badai nafsumu.”

Ibu muda itu sudah tak menghiraukan lagi Rama walaupun suaminya itu ikut juga mencumbuinya. Baginya, keintimannya dengan Ki Dargo lah yang memberinya kepuasan total. Dengan menceracau tak keruan perempuan itu berbisik pada suaminya.

“Oh, Mas Rama, batang kejantanan Ki Dargo ini enak, Mas. Aku senang disetubuhi olehnya. Aku akan selalu merindukan kenikmatan ini, Mas…” kata perempuan itu membuat pengakuannya yang jujur sambil menatap dalam-dalam suaminya.

Kata-katanya segera terputus dan matanya kembali terpejam karena menahan kenikmatan dari genjotan Ki Dargo pada lubang kelaminnya. Ia hanya menggenggam erat-erat kedua tangan suaminya sambil memasrahkan tubuhnya kepada dukun durjana itu.

Rama hanya bengong tak bisa berbuat apa-apa seperti orang bodoh melihat istrinya yang sedang berjuang mendapatkan puncak kenikmatan. Peluh istrinya beserta peluh Ki Dargo tampak sudah bersatu menyelimuti tubuh keduanya. Ia lalu sedikit menjaga jarak supaya tak mengganggu Ki Dargo yang sedang asyik menyebadani istrinya yang cantik itu. Dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri betapa bahagianya istrinya dibawa Ki Dargo mengarungi samudera birahi. Ia hanya bisa ikut bahagia melihat istrinya seperti itu.

Memang perempuan itu hanya akan menikmati rasa manis madu birahi dari sang dukun Ki Dargo. Satu-satunya manusia laki-laki yang telah membuat dirinya melambung kembali ke awang-awang indahnya persetubuhan. Kenikmatan yang tak pernah didapatkannya dari suaminya yang loyo. Ki Dargo menggeram hebat lagi saat ia melepaskan lahar panasnya.

“Ayo, budak nafsuku, nikmatilah kejantananku! Ayooo, yeeeah, yeah!! Ayo, cantikku! Mana yang jantan, aku atau Rama? Ayo, jawablah, budak manisku…” kata Ki Dargo dengan kurang ajarnya.

“Oh, yeeah…. ammmmpuuun! Engkaulah yang jantan, Darrrrgoooo…..!!!” jerit Sinta histeris di depan mata suaminya.

Maka jebollah bendungan lahar panasnya Ki Dargo. Panas dirasakan oleh istrinya Rama di dalam perutnya sampai ke ubun-ubun.

Segera dilepaskannya genggaman tangannya pada suaminya. Kedua tangannya serta merta berganti memeluk tubuh Ki Dargo erat-erat. Perempuan itu tampak mencapai orgasme yang kesekian kalinya di tangan dukun tua itu.

Vaginanya terasa berkedut-kedut sehingga memijat-mijat penis Ki Dargo yang masih menyemprotkan air maninya. Dengan tubuh berkelojotan dan mata mendelik ke atas, ibu muda itu menerima kenikmatan yang amat dahsyat dari sang perkasa dukun sakti mandra guna.

Keduanya lantas berciuman bibir dengan nafsunya, seperti dua orang yang sudah lama sekali tak bertemu. Batang kemaluan Ki Dargo masih berdenyut-denyut memompa sisa-sisa air kenikmatannya di dalam liang kemaluan istri Rama. Vagina perempuan itu pun masih memijat-mijat batang kelamin kekasihnya. Keduanya berpelukan erat sekali. Kedua mulut mereka terus bersatu saling bertukar ludah dan membelit lidah.

Mereka berdua bertahan pada posisi itu selama sepuluh menit, sebelum keduanya lalu tidur berpelukan dalam keadaan bugil. Rama melihat senyuman manis menyungging di bibir istrinya. Nampak sekali betapa bahagianya perempuan yang disayanginya itu! Ki Dargo pulas sambil mengeluarkan dengkuran yang sangat keras tapi ibu muda Sinta tampak sama sekali tak terganggu di dalam pelukannya.

Rama hanya duduk merapat ke pojok kamar sambil terus memperhatikan istrinya yang terlelap telanjang bulat di dalam dekapan Ki Dargo yang juga bugil. Ia tak mau mengganggu ketenangan dan kebahagiaan mereka berdua.

Lebih dari dua jam kemudian barulah keduanya bangun. Istri Rama segera mengenakan kembali semua pakaiannya tanpa membersihkan dirinya sama sekali. Tibalah saatnya suami istri itu berpamitan pulang sambil mengucapkan terima kasih kepada Ki Dargo.

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Sinta – Ilmu Gaib Penakluk Sukma (Bagian 1)

Original Author: Unknown

Remake: Copyright 2010, by Mario Soares

(Istri Selingkuh, Seks dengan Siluman, Seks dengan Pria Tua)

Pada tengah malam itu Ki Dargo sedang merapalkan mantera-mantera. Di hadapannya ada selembar kain hitam yang di atasnya ada sebuah perapian dupa kemenyan. Di situ juga ada selembar celana dalam dan BH milik Sinta yang tadi siang sudah habis-habisan digarap Ki Dargo.

Dukun itu bertekad untuk tak akan melepaskan ibu muda tersebut begitu saja. Ki Dargo sadar bahwa pasiennya yang satu ini begitu cantik dan seksi, dengan payudaranya yang teramat indah serta bentuk vaginanya yang menggairahkan. Postur tubuh perempuan itu tinggi semampai nyaris 170 cm dengan seraut wajah yang mungil. Bola matanya seakan-akan selalu mengundang gairah laki-laki untuk menidurinya.

Beruntunglah Rama mempunyai seorang istri yang cantik dan menggairahkan. Jika berjalan ia teramat merangsang dan mempesona setiap laki-laki. Ki Dargo langsung bisa mencium keistimewaan Sinta begitu perempuan itu mendatanginya untuk berobat.

Dengan kelicikan dan ilmu hitamnya yang tinggi, Ki Dargo telah memperdaya ibu muda cantik itu habis-habisan siang tadi. Disetubuhinya Sinta dengan buas di kamar prakteknya sebagai syarat untuk mendapatkan keturunan. Padahal Rama, suaminya, sedang menungguinya dengan setia di luar kamar. Sehabis disebadani, perempuan itu lalu memberikan CD dan BH-nya kepada dukun cabul itu untuk ritual mendapatkan keturunan. Sedangkan Ki Dargo memberikan ramuan jamu yang harus diminum rutin oleh Sinta.

Maka malam itu Ki Dargo merapal ajian Pengikat Sukma dan ajian Asmara Gama pembangkit gairah. Selain membantu Sinta segera hamil, Ki Dargo juga bermaksud menguasai jiwa dan raga ibu muda itu dengan ilmu sakti yang didapatnya dari bertapa di gunung Krakatau dulu.

“Hai penghuni elong-elong sejatinya perempuan! Malam ini sukmaku akan mendatangimu untuk memberikan kenikmatan padamu. Maka nikmatilah batang kejantanan Setan Koberku. Nikmatilah bara nafsu birahi makhluk penghuni kegelapan!”

Pada malam itu juga, istri Rama seperti merasa ada bayangan yang menggumulinya. Kali ini dalam ilusinya dia seperti bercumbu dengan seorang lelaki perkasa dan tangguh. Lelaki itu membuat dirinya terasa di awang-awang dengan nafsu birahi yang membara. Lelaki itu adalah perwujudan Setan Kober, jin jahat tingkat tinggi yang sangat tinggi nafsu seksnya.

Batang kejantanan makhluk Krakatau itu telah menghunjam ke dalam lubang kenikmatannya. Ibu muda cantik itu sampai terperangah dibuatnya. Betapa besar dan panjang dirasakannya batang kejantanan itu, seakan-akan hendak merobek vaginanya. Akan tetapi, rasa sakit itu lalu hilang diganti oleh rasa kenikmatan yang tiada taranya.

Makhluk itu menggeram kenikmatan. Perempuan itu mengerang juga kenikmatan seraya tangannya memegangi kepala makhluk tersebut. Ibu muda itu terkejut bukan main. Ketika diraba olehnya, ternyata kepala lelaki tersebut ditumbuhi tanduk. Ketika ia membuka matanya, dilihatnya sepasang mata merah saga mengerikan, sedang menatap dirinya dengan penuh nafsu gairah yang membara.

Anehnya, rasa takut dan seram dalam jiwanya seketika menghilang saat makhluk laki-laki bertanduk itu meniupi wajahnya dengan hembusan yang lembut seraya berkata.

“Dekaplah aku, sayang. Aku akan memberikan kenikmatan abadi alam ghaib. Kau akan merasakan betapa indahnya gelora asmaraku yang akan kau rasakan malam ini.”

Ibu muda cantik itu pun semakin terpukau dan terangsang oleh bisikan-bisikan gairah dari makhluk itu. Ia mengerang saat ayunan pantat sang pejantan perkasa alam kegelapan semakin buas menghunjami vaginanya tanpa ampun.

“Hmmmm…. yeaaaah….!” Sinta tak mampu menolak kenikmatan yang menyelimuti sekujur tubuhnya.

“Hai, manusia betinaku yang menggairahkan! Kini dirimu telah menjadi pemuas nafsu kegelapanku. Nikmatilah kejantananku malam ini dengan penuh gelora nafsu manusiamu…. Sekarang! sekarang!” desak Setan Kober itu seolah tak sabar.

“Jawablah pertanyaanku, hai betina liarku. Apakah kau bersedia jadi budak nafsuku?” kata makhluk bertanduk itu lagi sementara kedua makhluk berbeda alam itu semakin menyatukan diri mereka.

“Hey! Jawablah, hai betinaku yang cantik. Ayo, cepat katakan kepada sang penguasa sukmamu!” katanya sambil terus menggenjot Sinta yang semakin kewalahan menahan nafsunya.

Pada saat bisikan itu menggema, ibu muda cantik itu sedang mengalami kenikmatan yang begitu dahsyatnya. Kenikmatan yang diberikan oleh makhluk itu sampai ke ubun-ubunnya dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Ia merasa seperti kapas yang tertiup angin, melayang-layang di angkasa dideru nafsu. Tubuhnya sampai melengkung ke depan bagaikan busur panah, sambil memeluk erat pundak sang perkasa kegelapan. Ia pun berkata menuruti kata hatinya yang telah buta oleh kenikmatan yang menderanya.

“Sang perkasa, puaskanlah aku dengan kejantananmu….! Aku adalah budak nafsumu…. selamanya!”

Entah ada kekuatan dari mana yang mendorong Sinta berkata seperti itu. Ia benar-benar memasrahkan dirinya sepenuhnya kepada pejantannya yang berupa Setan Kober.

“Ayolah, sang perkasa, luluh lantakkan aku dengan keperkasaan batang kejantananmu….” desah ibu muda itu.

Saat itu ia telah mengalami beberapa kali orgasme namun nafsu gairah bercintanya tidak pernah surut. Mungkin ini disebabkan ramuan jamu dari Ki Dargo yang diminum olehnya.

Anehnya, suara ceracauan dan erangan ibu muda cantik yang sedang bersetubuh dengan makhluk bertanduk itu tidak sekalipun mengganggu tidur suaminya yang sedang berada di samping mereka. Bahkan ia nampak semakin pulas saja saat sang istri yang sedang disetubuhi sang pejantan kegelapan melihat ke samping ke arah sang suami yang tergolek di dekatnya.

Itu semua karena pengaruh bau badan makhluk lelaki bertanduk itu. Badannya mengeluarkan bau-bauan khas dengan aroma bunga setaman teratai kegelapan yang akan membuat seorang manusia laki-laki tertidur sangat pulas. Di saat yang sama, aroma teratai tersebut memiliki efek yang berbeda terhadap seorang manusia perempuan, yaitu semakin menambah gairah nafsunya untuk bercinta dengan menggebu-gebu. Terbukti nyata efeknya pada kejadian malam itu. Sementara suaminya, Rama, tertidur pulas, istrinya sibuk melayani nafsu sang perkasa kegelapan dari gunung Krakatau.

Makhluk itu lalu melepaskan batang kemaluannya yang panjang dan besar dari lubang kenikmatan sang betina binal. Sang ibu muda cantik itu mengerang saat batang kemaluan makhluk tersebut dicabut secara tiba-tiba. Ia merasa seperti kehilangan sesuatu yang begitu nikmat.

“Ouuuh.. setan…!” jeritnya tertahan seperti kecewa.

“Ayo, betinaku yang cantik, sekarang balikkanlah tubuhmu membelakangiku. Aku akan memberikan kenikmatan yang lebih hebat lagi,” kata Setan Kober seolah memberikan penjelasan.

Tanpa diberi komando untuk kedua kalinya, Sinta menuruti perintah tuannya dengan patuh. Ia tak ingin batang kemaluan pejantan itu terlepas terlalu lama dari tubuhnya.

“Mari, cepatlah budak nafsuku!,” kata setan itu seolah tak sabar menunggu budak cantiknya yang sedang membalikkan badannya dan menumpukan badannya dengan kedua tangan dan kedua lututnya seperti seekor anjing betina yang akan dikawini.

“Rasakanlah ini,” kata si setan tanpa basa-basi. Bless… maka masuklah batang kemaluan sang perkasa ke dalam vaginanya.

Kali ini ibu muda itu mengerang nikmat lebih hebat lagi saat kejantanan makhluk itu menghunjamnya dari belakang. Dengan buasnya sang makhluk bertanduk mengayunkan pantatnya maju mundur dengan kerasnya. Mata perempuan itu terbeliak-beliak ke atas saat menerima kenikmatan. Ceracaunya yang ngawur seperti kesetanan mulai terdengar lagi.

“Oh, yeah, yeah…. oh, kekasihku, sang perkasa! Bawalah aku ke puncak kenikmatan bersama denganmu…. Oh, oh, ampun…. ampun…!”

Ia merasakan dinding vaginanya mulai basah dan berdenyut-denyut karena kenikmatan. Sementara itu sang perkasa semakin buas menghunjaminya tiada henti-henti. Dengan suara serak dan menggeram sang perkasa bertanduk berbisik di telinga perempuan itu.

“Betina liarku yang cantik, aku akan melepaskan air kenikmatanku dan menempatkannya di dalam rahimmu….” katanya menandakan bahwa sebentar lagi mereka akan memulai bagian terpenting dari ritual seks malam itu.

“Haeeerm, air kenikmatanku akan membuatmu tetap cantik dan awet muda dan tak akan pernah tua. Juga tubuhmu akan selalu nampak menggairahkan bagi siapa saja yang memandangmu. Mulai hari ini, kau juga akan membuka dirimu untuk dinikmati oleh setiap lelaki yang tergoda padamu,” kata Setan Kober merapalkan kutukannya kepada wanita cantik itu. Setan itu telah mengutuk Sinta menjadi wanita binal haus seks yang tak akan sungkan untuk bersetubuh dengan tiap lelaki!

Sambil terengah-engah kenikmatan karena vaginanya terus-menerus digenjot pejantan kegelapan, Sinta berusaha mendengarkan dengan seksama semua instruksi kekasih sekaligus tuannya itu.

“Dengarkanlah manusia betinaku, walaupun mulai sekarang kau akan bersetubuh dengan berbagai macam lelaki, kau tak akan pernah puas bercinta dengan manusia lain, kecuali dengan Ki Dargo dan aku sendiri sebagai penguasa kegelapan Mayapada ini,” lanjut setan itu.

Bagaikan dihipnotis, Sinta menanamkan semua perkataan setan itu lekat-lekat di dalam benak bawah sadarnya. Ia yakin sepenuhnya hanya akan mendapatkan kepuasan seks yang sejati dari Ki Dargo dan Setan Kober pengikutnya.

“Kini tibalah saatnya kulepaskan air kenikmatanku ke dalam rahimmu yang subur ini,” kata makhluk bertanduk itu akhirnya.

Saat itu sang ibu muda cantik sudah tak dapat bersuara lagi. Kenikmatan ragawi dirasakan begitu dahsyatnya dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Ia merasa seperti berada di awang-awang, melayang-layang penuh kenikmatan.

Orgasme yang kesekian kalinya ini membuatnya kini hanya samar-samar mendengar ucapan terakhir makhluk bertanduk yang sedang menyetubuhinya dengan penuh kebuasan yang memabukkan itu. Ibu muda cantik itu berkelojotan dengan sensasi kenikmatan yang menggila.

Makhluk bertanduk itu mulai merasakan sesuatu akan keluar dari dalam batang kemaluannya yang besar. Hunjamannya pada lubang kenikmatan budak nafsunya mulai tak teratur lagi, hingga akhirnya sang perkasa mengaum, mengerang nikmat setinggi langit saat lahar panasnya menyembur di dalam lubang kenikmatan sang betina cantik budak setianya.

Ibu muda berparas cantik itu mencapai orgasme yang kelima kalinya, bertepatan saat air mani sang pejantan perkasa menyembur dengan amat derasnya. Cairan itu terasa panas, menghangatkan rahimnya dengan penuh kenikmatan, membuat dirinya berkelojotan nikmat dengan mata terbeliak ke atas. Kepalanya mendongak ke atas karena rambutnya yang panjang dijambak ke belakang oleh Setan Kober. Serasa semburan air mani makhluk itu menembus hingga ke ubun-ubunnya.

Sinta terjatuh tertelungkup telanjang bulat di atas ranjang, tepat di samping suaminya yang masih pulas berpiyama lengkap. Ibu muda itu tampak kecapekan dan akhirnya tertidur pulas setelah menikmati persetubuhan paling hebat yang pernah dialaminya. Air mani Setan Kober sedikit demi sedikit tampak meluber keluar dari lubang vaginanya dan membentuk genangan membasahi ranjang.

Makhluk bertanduk itu tampak puas melihat hasil kerjanya. Ia kini telah selesai menjalankan tugasnya bersekutu dengan seorang dukun yang bernama Ki Dargo untuk memberi ibu muda cantik itu keturunan.

Pada saat itu juga, di tempat Ki Dargo, sang dukun baru saja selesai melepas air kenikmatannya di selembar celana dalam milik ibu muda cantik pasiennya. Saat makhluk bertanduk itu sedang menggumuli Sinta, Ki Dargo juga melakukan ritual dengan merapal mantera-mantera dan bermasturbasi pada selembar celana dalam milik istri Rama.

Dengan melumuri celana dalam Sinta dengan air maninya, sang dukun mengirimkan ilmu pembangkit gairah kepada perempuan yang sedang disetubuhi oleh makhluk bertanduk dari Krakatau itu.

Saat disetubuhi, perempuan itu merasakan kadang-kadang wajah sang perkasa kegelapan berubah-ubah wujudnya. Kadang ia merasa seperti melihat wajah Ki Dargo sedang menyetubuhi dirinya. Kadang ia seperti melihat wajah makhluk itu berubah menjadi suaminya. Di saat ia tengah didera oleh kenikmatan yang diberikan oleh makhluk bertanduk itu, ia masih sempat juga berpikiran jernih walau hanya sesaat. Memang makhluk tersebut adalah suruhan Ki Dargo untuk menggauli dirinya agar mereka berdua bisa mendapatkan kepuasan seksual dari dirinya.

Lengkaplah sudah, ibu muda cantik itu kini telah menjadi budak nafsunya Ki Dargo dan makhluk bertanduk dari alam kegelapan abadi di gunung krakatau.

Pagi harinya ia terbangun agak kesiangan. Tubuhnya masih bugil di bawah selimut. Makhluk bertanduk itu memang menyelimuti tubuhnya dahulu sebelum pergi meninggalkannya semalam. Tidak dijumpainya suaminya yang telah berangkat ke kantor. Tinggallah ia seorang diri di rumah sambil merenungkan kembali apa yang telah terjadi malam tadi.

“Oh, apakah aku bermimpi semalam? Kalau hanya mimpi, kenapa ini seperti benar-benar terjadi?” keluhnya membatin. Memang dirasakan tubuhnya amat letih dan selangkangannya serasa amat nyeri serta memar seperti kena benda yang besar sekali namun nikmatnya serasa masih menjalari seluruh tubuh seksinya.

Lalu ia tuangkan ramuan jamu pemberian Ki Dargo ke dalam gelas. Setelah meminum ramuan tersebut, tubuh perempuan itu terasa mulai segar kembali dan penuh gairah kembali untuk bercinta. Itulah hebatnya khasiat ramuan Ki Dargo si dukun sakti.

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Reisa – Skandal di Pulau Mentawai

Copyright 2008, By Mario Soares & East Life

(Selingkuh, Seks dengan Pria Tua)

Hubungan Jonas Banak dan Reisa mengalir seperti air. Tiada lagi penghalang hubungan mereka di pulau itu meskipun masih bersifat sepihak karena tak diketahui oleh kedua orang tua Reisa di Padang. Kini mereka berdua menjalani hubungan sebagaimana layaknya suami istri.

Sayangnya kebahagiaan mereka tak bertahan lama. Hanya dalam waktu sebulan, tiba-tiba Jonas mendapat surat panggilan untuk segera pulang ke Semarang. Ia tak diberi toleransi sama sekali untuk mengulurnya. Walaupun merasa berat hati karena masih menjalani manisnya madu perkawinan dengan Reisa di pulau itu, Jonas terpaksa mematuhinya. Tentu saja Reisa tak mungkin ikut ke Semarang. Di pulau ini ia sudah mempunyai tugas dan kewajiban sendiri. Lagipula apa kata kedua orang tuanya nanti jika tiba-tiba ia pindah ke Semarang?

Pada malam terakhirnya di pulau Mentawai, Jonas memberikan Reisa siraman batin yang sempurna. Berkali-kali ia menghantarkan Reisa ke puncak kepuasan sebagai wanita dewasa di atas peraduan mereka berdua. Di kamar itu hanya cahaya temaram lampu, deritan ranjang, dan desahan serta lenguhan keduanya yang menjadi saksi pergumulan dua insan yang tak lama lagi akan terpisah oleh jarak yang jauh.

Dalam kebisuan malam yang dingin dan tenang itu, hanya terdengar lenguhan Reisa dan Jonas yang masih berpacu dalan birahi. Beberapa kali Reisa melenguh histeris menerima sodokan kemaluan Jonas di dalam rahimnya.

Menjelang pagi mereka menyudahi persetubuhan itu dan tertidur dengan saling berpelukan. Keringat membasahi tubuh keduanya. Masih terlihat bercak-bercak merah gigitan Jonas di leher dan payudara Reisa. Begitu juga di tubuh Jonas terlihat bekas cakaran kuku Reisa saat mendapatkan orgasme.

***

Sore hari itu dengan diantar Reisa dan keluarga Pak Nurfea Sabaggalet, Jonas menaiki kapal yang akan membawanya ke Padang, untuk kemudian diteruskan ke Jakarta lalu Semarang. Entah kenapa, Reisa hari itu memilih mengenakan busana yang nyaris serba hitam. Kemeja lengan panjang dan kerudungnya berwarna hitam. Hanya celana panjangnya yang berwarna abu-abu.

Ada gurat kesedihan di mata kedua anak manusia itu karena akan berpisah. Seakan tak mau melepas kepergian Jonas, Reisa sempat menitikkan air matanya. Jonas sempat mencium lama bibir Reisa di depan Pak dan Bu Nur sebelum ia naik ke kapal. Tak lama kemudian kapal itu bergerak menjauh meninggalkan pelabuhan Tua Pejat menuju Pelabuhan Muaro Padang.

Setelah kapal tak terlihat lagi, Reisa dan kedua suami istri itu kembali pulang ke tempatnya. Reisa menumpang sebuah sepeda motor ojek. Sedang Bu Nur berboncengan dengan Pak Nur.

dr Reisa dalam Kostum Kerjanya

dr Reisa dalam Kostum Kerjanya

Kini selama di tempat tugasnya Reisa melewatkan hari-harinya dengan rasa sepi. Tak terlihat lagi rona keceriaan di wajahnya, Reisa seolah kehilangan belahan jiwanya selama ini. Untunglah dengan adanya alat komunikasi, Reisa sering bertelepon atau SMS dengan Jonas. Rutinitas kembali dijalaninya seperti biasa. Sebagai tenaga medis yang profesional ia tak boleh meninggalkan pekerjaannya.

Berangsur hari demi hari Reisa mulai bisa melupakan kegundahannya. Hanya jika ia dan Bu Nur masuk ke pedalaman tempat bekas Jonas biasa bertugas, maka rasa sedih akan muncul kembali, teringat akan kenangan indah bersama Jonas. Cuma hiburan dari Bu Nur yang akhirnya bisa membuat Reisa menerima keadaan. Reisa sering main ke rumah Bu Nur untuk sekedar mengisi waktunya yang lowong. Terkadang Reisa suka bermain-main dengan anak Bu Nur yang masih berusia 5 tahun itu.

Minggu demi minggu berlalu. SMS dan telepon dari Jonas pun sedikit demi sedikit mulai berkurang. Apalagi kini Jonas ditempatkan di pedalaman Pulau Sulawesi. Selain jarak yang semakin jauh, hubungan telekomunikasi pun semakin sulit. Reisa akhirnya hanya bisa pasrah. Belum tentu ia bisa bertemu kembali dengan Jonas walaupun hanya setahun sekali.

Di luar pengetahuan Reisa dan Jonas, yang menyebabkan perpisahan mereka sebenarnya adalah Pak Nurfea. Tindakan ini dilakukannya karena ia cemburu melihat hubungan mesra kedua anak manusia itu.

Selama ini Pak Nur melihat Reisa seperti seorang bidadari yang diturunkan di pulau itu untuk mengabdi di bidang kesehatan. Sejauh ini ia belum punya keberanian untuk sekedar berdekatan apalagi menggoda Reisa. Keadaan mulai berbalik sejak ia menyaksikan hubungan antara Reisa dan Jonas yang sudah terlalu jauh.

Pak Nur merasa sangat tak nyaman jika Jonas terlalu sering menginap di tempat Reisa. Tidak jarang jika Jonas sedang bermalam di tempat Reisa, Pak Nur berusaha untuk mengintip apa yang dilakukan pasangan itu di kamar berdua. Hatinya semakin panas ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa mereka berdua melakukan hubungan intim seperti layaknya suami istri. Apalagi Reisa jadi semakin akrab dengan Jonas setelah rutin diintimi pemuda NTT itu.

Rasa iri dan dengki Pak Nur mencapai puncaknya setelah ikatan Jonas dan Reisa disahkan secara kristiani, walaupun belum sah secara hukum negara maupun menurut agama yang dianut Reisa. Sejak itu Jonas semakin bebas bermalam dan berhubungan dengan dokter muda itu dan Pak Nur semakin sulit tidur di malam hari karena rasa cemburunya.

Akhirnya Pak Nur menyusun rencana tersembunyi dalam benaknya. Disuratinya pihak seminari di Semarang untuk mengganti Jonas dan menariknya ke Semarang. Dikarangnya cerita bohong yang didukung oleh sekumpulan masyarakat sekitar yang bisa dipengaruhinya. Betapa senangnya hati Pak Nur ketika Jonas akhirnya dipindahkan jauh dari Reisa. Satu langkah sudah sukses ditempuhnya. Kini tinggal melanjut ke langkah berikutnya!

***

Kini Reisa sudah bisa menerima kenyataan ditinggalkan Jonas meski tentu saja ia jadi kehilangan kenikmatan badani yang biasa diberikan kekasihnya itu. Untuk melupakan kebutuhan biologisnya yang sudah beberapa bulan tak terpenuhi, Reisa jadi semakin larut dalam rutinitasnya.

Hubungannya dengan keluarga Bu Nur pun semakin dekat. Hanya dengan merekalah Reisa secara rutin berhubungan dan berkomunikasi setiap hari. Bu Nur merasa kasihan melihat Reisa yang tinggal sendirian di rumahnya. Berhubung masih ada satu kamar kosong, Bu Nur sering meminta Reisa menginap di rumahnya. Bahkan akhirnya Reisa menaruh sebagian barang-barangnya di situ sehingga ia bisa sewaktu-waktu bermalam di rumah keluarga Bu Nur.

Pak Nur yang selama ini memang mempunyai maksud tersembunyi jadi semakin senang ketika Reisa sering bermalam di rumahnya. Apalagi Reisa memang selalu melepas kerudungnya jika berada di dalam rumah, termasuk di rumah keluarga Pak Nur. Bahkan di malam hari biasanya Reisa hanya mengenakan gaun tidur one-piece-nya yang berwarna terang dan menempel di kulit. Dalam gaun tidurnya, kedua paha beserta bahu dan kedua lengan Reisa yang putih tak tertutupi. Tak heran Pak Nur sangat doyan ngobrol semalaman bersama Reisa jika dokter cantik itu menginap di rumahnya.

Suatu ketika Pak Nur harus berangkat ke desa asalnya di pedalaman. Di sana akan diadakan pesta rakyat sehubungan dengan perayaan adat yang akan diadakan warganya. Sebagai salah seorang yang dituakan dalam adatnya, Pak Nur diharuskan hadir. Kebetulan Bu Nur tak bisa datang menyertai Pak Nur karena anaknya kurang sehat. Untuk pergi ke desa itu harus naik perahu menyusuri hutan bakau dan cukup lama. Bu Nur menyarankan agar Pak Nur mengajak Reisa saja yang saat itu kebetulan sedang tak ada kegiatan di Puskesmas. Reisa tak kuasa menolak ajakan orang yang sudah dia anggap orangtua di daerah itu.

Selama perjalanan perahu dikayuh oleh nelayan setempat dan Pak Nur duduk di belakang Reisa. Reisa amat takjub akan pemandangan hutan bakau yang masih asli dan kicau burung yang sering terdengar. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan dengan perahu, mereka sampai di desa asal Pak Nur. Mereka lalu mengemasi barang bawaannya dan bersiap menuju rumah Pak Nur.

Selama perjalanan ke rumah Pak Nur, tak henti-hentinya Reisa mengagumi keindahan alam desa tersebut. Ia amat terkesan akan suasana desa yang tenteram dan segar. Reisa bergumam dalam hati bahwa ia amat bersyukur bisa bertugas di desa itu sambil berlibur seperti ini.

Rumah Pak Nurfea di Pedalaman Mentawai

Rumah Pak Nurfea di Pedalaman Mentawai

Dengan berjalan kaki, sampailah mereka di rumah keluarga Pak Nur. Rumah panggung itu terbuat dari kayu dan beratap rumbia. Di dalamnya ada beberapa kamar yang dibatasi papan seadanya. Setiba di rumahnya, Pak Nur disambut oleh saudara-saudaranya. Tak lupa Pak Nur mengenalkan Reisa pada mereka, meski Reisa tak mengerti bahasa mereka, namun ia dapat menangkap maksud dari kata-kata Pak Nur dan saudara-saurdaranya itu. Mereka lalu dipersilakan naik ke atas rumah panggung.

Reisa disediakan sebuah kamar tersendiri untuk beristirahat. Seorang wanita seusianya mengantarkan Reisa ke kamarnya. Reisa meletakkan tas ransel bawaannya di salah satu sudut kamar. Di dalam kamar ada satu dipan kayu yang cukup sederhana dan hanya beralaskan kain tebal. Namun saat Reisa mencoba duduk diatasnya, terasa cukup nyaman.

Dari dalam kamar Reisa dapat melihat ke sekitar rumah. Tak jauh dari rumah itu ada sebuah kandang babi yang hanya dipagari dengan bambu. Bagi masyarakat desa itu, babi adalah hewan ternak dan melambangkan status sosial mereka. Dilihatnya babi yang dimiliki Pak Nur cukup banyak, menandakan status sosial Pak Nur yang cukup tinggi di antara warganya.

Reisa keluar dari kamar dan duduk bersama-sama para wanita yang saat itu sedang mempersiapkan pesta untuk malam nanti. Ibu-ibu dan gadis-gadisnya sedang membuat bumbu masak juga menyediakan peralatan pesta. Sementara bapak-bapak dan pemuda sibuk menyiapkan alat-alat di lapangan tak jauh dari rumah panggung itu. Reisa tak melihat Pak Nur lagi.

Senja itu dimulailah acara pesta tersebut. Dengan mengenakan pakaian adatnya, mereka semua keluar rumah. Tua, muda, anak kecil, dewasa, semuanya larut dalam acara tersebut. Mereka memenuhi lapangan yang kini dipenuhi orang-orang yang akan melakukan ritual acara adat itu. Bunyi tetabuhan alat musik jelas terdengar.

Reisa keluar dari rumah untuk menyaksikan acara tersebut dari kejauhan. Sengaja Reisa tak mengenakan kerudungnya. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan tergerai bebas. Ia hanya mengenakan t-shirt polos berlengan pendek yang menempel ketat di tubuhnya beserta celana pendek, supaya tak nampak terlalu berbeda dengan masyarakat di sekitarnya yang juga berpakaian seadanya.

Kaum bapak pada umumnya hanya memakai secarik kain cawat menutupi selangkangan mereka. Berbagai kalung dan hiasan kepala tradisional menghiasi tubuh mereka yang dipenuhi tattoo dan tindikan.

Reisa tak ketinggalan melihat Pak Nurfea yang juga mengenakan pakaian adatnya. Diam-diam Reisa mengagumi tubuh Pak Nur yang tampak liat berotot dan dipenuhi tattoo dalam keadaan nyaris telanjang. Baru kali itu ia melihat tubuh Pak Nur hampir seutuhnya tanpa mengenakan pakaian. Fisiknya yang tua tidak tampak sebagai kelemahan, bahkan sebaliknya menyiratkan kewibawaan dan karisma yang tinggi. Diam-diam matanya tak lepas mengawasi Pak Nur yang sedang berada di tengah-tengah warganya.

Tarian Magis Mentawai

Tarian Magis Mentawai

Tari-tarian dimulai dengan semakin kerasnya suara tetabuhan. Semakin malam acara semakin terasa kental hawa magisnya. Sebagian warga lainnya sibuk dengan acara memanggang babi.

Para warga desa larut dengan hiburan dan acara ritual malam itu. Pak Nurfea lalu mendatangi Reisa dan mengajaknya untuk turun di dalam keramaian dan kegembiraan masyarakat. Sambil menarik tangan Reisa ke dalam arena tari-tarian, mereka membaur dengan sorak-sorai warga desa.

Puncak pesta malam itu adalah makan-makan. Para warga berebut makan babi panggang. Reisa tentu saja tak ikut serta, namun Pak Nur memberinya makanan lain.

Malam semakin larut dan acara pun berakhir. Reisa disarankan Pak Nur pulang ke rumah. Reisa menurut dan pulang sendiri ke rumah Pak Nur yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari pusat acara. Ia langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya yang terasa letih karena ikut menari. Baru kali ini ia merasakan eksotisnya menari bersama warga pedalaman di tengah hutan belantara. Ia begitu larut dalam acara tersebut dan seperti merasakan kebebasan dari segala macam beban.

Di dalam rumah, ia tak melihat penghuni lain. Beberapa saat kemudian saat Reisa sudah terbaring di dipan di dalam kamarnya, ia mendengar suara Pak Nur masuk ke rumah. Ia bersama seorang perempuan. Tampaknya perempuan itu adalah salah seorang gadis yang tadi siang ikut menyiapkan acara. Reisa mulai bisa mengenali suaranya karena mereka sempat ngobrol cukup lama.

Reisa merasa heran kenapa gadis itu juga masuk ke kamar sebelah bersama Pak Nur. Terdengar suara mereka yang saling tertawa dan berbisik-bisik. Reisa jadi tak bisa tidur dan mau tak mau ikut mendengarkan suara-suara dari kamar sebelah karena suasana malam yang sudah sunyi. Beberapa saat kemudian, Resa mulai bisa mendengarkan dengusan dua orang yang akan melakukan hubungan badan. Suara-suara itu memancingnya untuk mengetahui lebih lanjut apa yang dilakukan Pak Nur dan wanita itu di kamar sebelah.

Melalui celah papan di dinding kamarnya, dengan dada yang berdebar Reisa mengintip yang dilakukan Pak Nur. Untunglah kamar Pak Nur diterangi lilin sehingga walaupun temaram, Reisa dapat melihat jelas apa yang terjadi. Tampak tubuh Pak Nur yang meski tak muda lagi itu, sudah telanjang bulat, begitu juga dengan wanita itu. Mereka sama-sama bugil. Reisa semakin yakin bahwa gadis yang di kamar Pak Nur saat itu adalah wanita yang siang tadi bersamanya dan bahkan mengobrol akrab dengannya.

Dengan berdebar-debar, Reisa mengintip kelakuan dua orang berlainan jenis itu di kamar. Disaksikannya kedua tubuh telanjang itu akhirnya melakukan hubungan badan. Reisa sempat tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Apa mungkin Pak Nur yang ia nilai amat setia dengan bu Nur sampai melakukan hubungan seks dengan perempuan lain? Apa yang dilihatnya saat itu bukanlah mimpi? Sempat Reisa mencubit pipinya meyakinkan dirinya tentang apa yang dilihatnya saat itu. Ia tidak mimpi! Dengan jelas Reisa menyaksikan hubungan kelamin kedua orang di kamar sebelahnya.

Reisa bisa melihat dengan jelas saat Pak Nurfea memegang kemaluannya yang cukup perkasa itu akan memasuki liang kelamin wanita yang kini berada di bawahnya. Dada Reisa semakin tak kuat menyaksikan semua itu. Ia menjauh dan merebahkan dirinya di dipan kayu.

Reisa tak mampu memejamkan matanya, apalagi suara-suara persebadanan dua orang berbeda jenis dan usia itu amat mengganggu naluri kewanitaannya. Reisa jadi ingat saat-saat ia melakukan hubungan badan dengan Jonas dulu yang kini sudah tak bisa ia dapatkan lagi. Ia ingin merasakan kembali saat-saat indah bersama Jonas dulu. Ia rindu akan siraman untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Khayalan Reisa terhenti karena mendengar suara dengus dan jeritan orgasme si wanita yang berbarengan dengan suara Pak Nurfea. Reisa merasa menggigil jika membayangkan hal itu terjadi lagi pada dirinya. Dada Reisa terasa ikut berdebar-debar dan nafasnya ikut terengah-engah karena hasratnya yang ikut terangkat. Dari suara wanita itu, ia dapat tahu bahwa si wanita telah orgasme dan disusul oleh Pak Nur. Kemudian suara diam dan hanya deru nafas kedua manusia di kamar sebelah.

Suasana diam malam itu hanya sebentar, tak lama kemudian Reisa mendengar kembali kegiatan kedua manusia itu. Reisa merasa heran kenapa Pak Nur masih saja kuat untuk melakukan hubungan seks kembali. Bukankah barusan ia sudah klimaks. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Namun ia tak mendapatkan jawaban yang cukup karena suara-suara di kamar sebelahnya kembali menganggu pikirannya.

Kembali terdengar suara derit dipan kayu dan dengus keduanya. Kini tak hanya dengus namun suara pertemuan kedua paha yang besentuhan semakin jelas. Reisa tak terlalu sulit menelaah apa yang terjadi di sebelah kamarnya saat itu, sebab ia juga pernah melakukan itu dulu bersama Jonas. Reisa cuma semakin heran dengan suara-suara nafas Pak Nur yang semakin kuat dan goyangan dipan yang seakan mau patah. Betapa besarnya nafsu seks Pak Nur! Reisa tak sampai hati membayangkan apa yang terjadi pada gadis itu. Ia tahu persis bagaimana sosok gadis yang sedang disenggamai Pak Nur. Gadis itu terbilang masih muda dan jauh sekali jarak usianya dan Pak Nur.

Pak Nurfea Sabaggalet dengan Kostum Adatnya

Pak Nurfea Sabaggalet dengan Kostum Adatnya

Reisa tak habis pikir kenapa orang tua gadis itu mengizinkan anaknya bersebadan dengan Pak Nur yang memang sudah tua dan berpengalaman. Apakah karena Pak Nur adalah seorang yang dituakan dan terpandang di tengah masyarakatnya sehingga bersetubuh dengan Pak Nur bisa dianggap sebagai sebuah kehormatan? Apakah ini tradisi biasa di sini?

Sayup-sayup terdengar suara si gadis yang merengek minta ampun dan berhenti agar Pak Nur tak lagi menggagahinya. Tampaknya Pak Nur tak mempedulikannya. Suara deritan dipan dan lenguhan nafas Pak Nur terus terdengar. Semakin lama suara wanita itu semakin melemah dan nyaris tak terdengar lagi. Yang kini terdengar hanya suara Pak Nur yang masih terus berpacu dengan deritan dipan. Apakah gadis itu tak sadarkan diri?

Suara deritan dipan tak kunjung berhenti, seolah digerakkan secara teratur oleh mesin. Reisa mulai tak sabar menunggu suara itu berakhir. Beberapa saat kemudian, suara nafas berat Pak Nur terdengar semakin mengeras. Akhirnya terdengar geraman suara Pak Nur. Tampaknya ia sedang mencapai puncaknya. Selanjutnya sepi, tak ada bunyi apa pun yang terdengar lagi. Reisa berusaha mengintip kembali.

Ia dapat melihat dengan jelas si wanita telah tergolek mengangkang sedangkan Pak Nur yang berada di atasnya berusaha menarik kemaluannya dari liang wanita itu. Reisa juga menyaksikan benda milik Pak Nur masih saja tegak walaupun sudah klimaks di dalam liang rahim wanita itu. Lalu Pak Nur merebahkan tubuhnya di samping wanita itu. Reisa kembali ke dipannya dan merebahkan diri. Di tengah kepenatan dan berbagai pikiran yang berkecamuk, Reisa akhirnya tertidur.

***

Suara kokok ayam dan dinginnya udara pagi membangunkan Reisa dari tidurnya. Pagi itu Reisa bangun dan membuka jendela kamarnya. Tampak di luar rumah Pak Nur sedang melihat-lihat babi peliharaannya. Sambil memberi aba-aba dengan tangannya, Pak Nur memanggil Reisa agar ikut bersamanya. Reisa merapikan dipannya dan mengambil sabun juga sikat gigi berikut odol. Reisa tak menemukan orang lain di rumah itu namun ia turun juga dari rumah dan menuju Pak Nur.

Reisa menanyakan kamar mandi untuknya membersihkan badan. Pak Nur bilang di situ hanya ada sebuah tempat mandi di sungai. Sambil menunjukkan arahnya, Pak Nur menemani Reisa. Ternyata sungai itu terletak tepat di belakang rumah Pak Nur. Tampak air sungai amat jernih dan bening. Reisa lalu menggosok giginya dengan sikat gigi yang ia bawa. Sungai itu biasa digunakan masyarakat setempat untuk mencuci dan mandi. Tempat mandinya ditutupi oleh dinding bambu.

Setelah membersihkan mulut dan cuci muka, Reisa berlalu bersama Pak Nur ke rumah. Reisa agak terkejut karena di lantai telah tersedia makanan. Tampak wanita yang malam tadi bersebadan dengan Pak Nur sedang menyiapkan makanan. Wajahnya cukup manis dengan badan yang sedikit lebih pendek dari Reisa. Usianya paling tidak 5 tahun lebih muda dari Reisa. Jalannya pagi itu tampak sedikit pincang. Reisa maklum karena tahu ia telah dikerjai Pak Nur dengan hebatnya semalam. Rupanya di rumah itu hanya ada mereka bertiga.

Setelah semuanya tersaji, gadis itu, yang belakangan diketahui Reisa bernama Yuli, mempersilakan mereka makan. Reisa hanya makan nasi yang berlaukkan ikan, sebab di antara sajian itu ia yakin ada daging babinya. Pak Nur makan dengan lahap, berbeda dengan Reisa yang makan untuk menganjal perutnya saja. Selesai makan, gadis tadi dipanggil Pak Nur untuk membereskan makanan yang tersaji.

Reisa beranjak ke tempat lain di rumah panggung itu. Sedang Pak Nur masih memandang keluar rumah melalui jendela. Pak Nur bertanya kepada Reisa tentang suasana alam desanya. Reisa menjawab bahwa ia amat senang tinggal di desa itu.

Sampai menjelang siang tak banyak kegiatan yang bisa mereka lakukan. Sinyal HP tidak ada di desa Pak Nur itu. Pak Nur lalu mengajak Reisa untuk berjalan untuk melihat-lihat ladang yang dimiliki keluarga Pak Nur. Reisa setuju saja sebab mereka sudah harus kembali ke tempatnya keesokan harinya.

Siang itu, Reisa dan Pak Nur menyusuri hutan menuju ladang milik Pak Nur. Tak jauh memang dari kampung itu. Masih di tengah hutan yang masih penuh oleh pohon-pohon yang lebat. Ladang Pak Nur amat luas dan ditumbuhi aneka macam tanaman seperti kacang-kacangan, lada, juga sayuran. Pak Nur mengatakan bahwa tak lama lagi ia akan panen. Reisa semakin salut dan simpatik karena Pak Nur dapat memanfaatkan lahan yang ia miliki untuk menambah pendapatannya. Jadi selama ini jika tak ada kesibukan Pak Nur selalu ke desanya untuk melihat-lihat ladangnya.

Setelah capai berjalan-jalan, Pak Nur mengajak Reisa singgah di sebuah gubuk yang biasa digunakan untuk beristirahat atau terkadang untuk bermalam jika menjaga ladang di malam hari. Di dalam gubuknya, Pak Nur juga menyediakan sebuah dipan dari rotan. Reisa suka sekali dengan suasana di tengah ladang itu. Suasananya yang tenang dan alami membuat nyaman pikirannya. Reisa menghenyakkan pantatnya di dipan itu.

Pak Nur sendiri mencari kelapa muda yang memang sudah mulai banyak di ladang itu. Ia membawa dua buah kelapa muda sebagai pelepas dahaga mereka. Dengan golok yang dibawa Pak Nur, kelapa itu ia kupas dan keluarkan airnya. Satunya di berikan pada Reisa sedangkan yang satunya lagi ia minum sendiri.

Hawa angin sejuk yang membelai kulitnya membuat Reisa merasa ngantuk. Di samping karena tadi malam ia terlambat tidur akibatgangguan dari sebelah kamarnya. Pak Nur lalu menyuruh Reisa untuk istirahat. Pak Nur sendiri pergi ke ladang lagi untuk mengatapel burung untuk makan malam.

Reisa lalu rebahan di dipan kayu itu sementara Pak Nur keluar pondok untuk mulai mencari burung. Di tengah tidurnya Reisa tak sadar bahwa cuaca mulai mendung dan akan turun hujan. Tanpa disadarinya, gerimis mulai turun dan hujan turun semakin deras.

Reisa terbangun karena ada suara hujan dan hawa dingin yang menerpa tubuhnya. Ia tak menemukan Pak Nur padahal jam di arlojinya menunjukkan jam 5 sore. Mereka harus segera kembali ke rumah Pak Nur.

Tak lama kemudian Pak Nur muncul dengan basah kuyup sambil membawa beberapa ekor burung hasil buruannya. Pria itu masuk pondok dan melepaskan bajunya yang basah. Bajunya ia jemur di tali yang berada di serambi pondok. Ia masuk ke pondok. Didapatinya Reisa sudah bangun dan duduk di tepi dipan. Dengan masih bertelanjang dada Pak Nur bertanya pada Reisa.

“Dik Reisa… Apa kita pulang sekarang saja atau tunggu hujan berhenti?”

“Nanti saja Pak, biar hujannya reda dulu,” jawab dokter muda itu.

Akhirnya Pak Nur kembali keluar pondok. Sambil menunggu hujan reda, ia membersihkan burung hasil tangkapannya dengan pisau dan dicucinya dengan air hujan.

Burung-burung hasil tangkapannya telah dibersihkan dan siap untuk dimasaknya. Setelah dibersihkan burung burung itu diikatnya dan digantung di atap pondok rumbia itu. Reisa asik memperhatikan Pak Nur yang dengan cekatan membersihkan hewan tangkapannya itu. Lalu Pak Nur masuk ke pondok, karena hujan kembali datang dengan disertai angin kencang. Reisa telah lebih dahulu masuk dan duduk di atas dipan. Pak Nur lalu duduk di samping Reisa. Ia menggerutu karena hujan belum juga reda padahal ia ingin sekali membakar burung itu.

Hawa dingin dan hujan membuat kedua tubuh anak manusia itu semakin didera rasa dingin yang amat sangat. Pak Nur yang tidak memakai baju karena bajunya basah berusaha merapatkan tubuhnya ke tubuh Reisa. Dengan sedikit penolakan dari Reisa Pak Nur tak merapatkan diri lagi. Ia hanya menyilangkan kedua tangannya di dadanya karena dingin.

Pak Nur akhirnya berdiri menutupkan kain lusuh yang menutupi jendela sebab air hujan masuk juga melalui jendela itu. Setelah menutup jendela, Pak Nur kembali ke samping Reisa. Sambil berkata pada Reisa bagaimana jika mereka pulang saja sebab hujan seperti tak akan berhenti dalam waktu dekat dan mereka bisa terjebak semalaman di dalam pondok. Reisa masih diam memandang ke arah Pak Nur. Ia meminta agar menunggu beberapa waktu lagi.

Waktu sekarang telah menunjukkan pukul 6 sore. Hutan semakin gelap dan hujan tetap tak reda sedikitpun. Pondok seolah mau roboh oleh angin kencang. Akhirnya Pak Nur dan Reisa sepakat untuk berusaha pulang dengan menerobos derasnya hujan. Dengan memegang tangan Reisa, Pak Nur lalu keluar pondok.

Tubuh keduanya semakin basah kuyup oleh siraman hujan di hutan itu. Ternyata hujan malah semakin deras. Petir menyambar sebuah pohon di dekat mereka dan mengagetkan keduanya. Rasa dingin dan cemas akan kondisi cuaca yang buruk membuat keduanya semakin merapat dan tak memperdulikan dengan siapa mereka bersama. Reisa tak lagi malu merapatkan tubuhnya pada tubuh Pak Nur, begitu juga sebaliknya. Pak Nur dapat dengan nyata merasakan sentuhan tubuh Reisa dan tonjolan kedua payudaranya. Dalam suasana seperti itu kembali mereka melanjutkan perjalanan sambil berangkulan takut terjatuh karena jalanan setapak yang licin.

Perjalanan menuju rumah Pak Nur masih jauh. Di tengah jalan mereka menemukan sebuah tempat yang terlindung dari hujan di antara kaki bukit dalam hutan itu. Karena perjalanan masih jauh sementara mereka sudah basah kuyup dan capai, keduanya sepakat untuk berteduh sejenak. Meskipun tak terlalu luas namun cukup untuk mereka berdua berteduh dari hujan yang semakin deras.

Mereka masuk ke dalam celah batuan yang menyerupai goa itu untuk berteduh. Pak Nur meletakkan tas yang berisi hewan buruannya tadi. Lalu tanpa merasa sungkan sedikitpun, ia melepaskan baju dan celananya yang basah kuyup oleh hujan sehingga kini ia telanjang bulat. Reisa spontan merasa malu melihat keadaan Pak Nur. Ia hanya melengoskan wajahnya ke arah lain.

Pak Nur berkata pada Reisa agar mengeringkan bajunya agar tak sakit nantinya. Reisa merasa malu untuk melepas busananya, apalagi saat itu ada pria asing. Pak Nur mengingatkan Reisa untuk tak perlu malu padanya sebab kesehatan lebih penting. Saat itu seluruh bajunya sudah basah semua. Reisa sempat merasa malu karena dialah yang dokter dan seharusnya lebih memperhatikan masalah kesehatan.

Seakan mengerti, Pak Nur lalu berusaha mencari tempat lain agar Reisa tak merasa dilihat olehnya. Reisa masih merasa tak enak hati jika harus bugil di depan Pak Nur.

Setelah merasa aman dari pandangan Pak Nur, secara perlahan Reisa melepaskan kerudungnya, lalu busana atasnya, juga kaos dalam yang selalu ia pakai. Kini tinggal BH putihnya yang tersisa pada bagian atas tubuhnya. Terlihat belahan dadanya yang putih dan mulus itu basah oleh hujan. Reisa lalu menjemur kerudung dan bajunya dengan meletakkannya di atas batu yang masih kering dalam goa itu.

Pak Nur tanpa sepengetahuan Reisa sebenarnya masih memperhatikan tubuh Reisa dari jauh. Ia amat menikmati menonton Reisa melepaskan pakaiannya satu per satu dan melihat putih dan halusnya kulit tubuh Reisa yang sepanjang hari ini tertutup rapat. Tubuh putih itu lalu melepas celana panjangnya dan tinggal tersisa celana dalamnya. Celana panjangnya ia jemur dekat baju atasannya. Kini Reisa hanya memakai celana dalam dan bra. Dengan kedua tangannya ia tutupi benda kenyal miliknya itu dengan rapat karena ia masih merasa malu kepada Pak Nur.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Pak Nur mendekatinya. Reisa terlihat kaget dan makin merapatkan silangan di dadanya.

Pak Nur mencoba ngobrol dengan Reisa dalam usahanya memberikan Reisa rasa tenang dan nyaman.

Reisa masih diam saja. Kondisi tubuhnya tak memungkinkan ia bergerak banyak sebab akan membuat bagian-bagain vital dari tubuhnya terlihat. Pak Nur mengajak Reisa berbincang-bincang mengenai hubungan Reisa dan Jonas. Reisa menjawab kalau ia sudah lama tak kontak lagi dengan Jonas yang mungkin sudah melupakannya. Emosi Reisa terpancing oleh kata-kata Pak Nur.

Tanpa ia sadari Pak Nur semakin mendekat ke tubuhnya yang tidak mengenakan baju. Dibantu oleh situasi saat itu, kedua tubuh anak manusia itu akhirnya saling bersentuhan dan merapat, seolah berbagi kehangatan yang tersisa di tubuh mereka. Di samping itu Pak Nur sengaja bercakap pelan-pelan di tengah hujan yang sangat lebat itu sehingga mau tak mau mereka berdua harus saling berdekatan ketika berbicara.

Reisa semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Pak Nur. Secara biologis ia memang merindukan kedekatan secara fisik dengan seorang laki-laki. Pak Nur tak melewatkan kesempatan itu, dia tahu apa yang harus ia perbuat pada perempuan bertubuh sintal dan mulus itu.

Pak Nur merebahkan kepala Reisa di bahunya untuk membuatnya merasa nyaman. Reisa pun mengikuti saja bimbingan tangan Pak Nur. Ia lalu rebah di bahu Pak Nur dan memicingkan matanya yang ia rasakan semakin didera rasa ngantuk. Sentuhan kulit dengan kulit antara keduanya memberikan rasa hangat dan tenang.

Tangan Pak Nur meraih jemari Reisa dan meremasnya ingin memberikan kehangatan genggaman pada Reisa. Reisa rela saja menerimanya. Ia pun menyambut genggaman jari tangan kasar milik Pak Nur.

Pak Nur merasa sangat senang begitu tahu Reisa tak menolak genggaman tangannya. Ia lalu menghembuskan hawa nafasnya yang hangat ke balik telinga Reisa. Rasa hangat dan geli dirasakan Reisa. Ia semakin menggenggam erat tangan Pak Nur. Kini Reisa pasrah di pelukan laki-laki seusia ayahnya. Tubuh Pak Nur merasakan dengan nyata detak jantung Reisa yang semakin kencang, apalagi mereka tak dibatasi oleh pakaian apa pun. Kini kulit kedua manusia berlainan jenis dan usia yang jauh itu semakin menempel erat. Rasa hangat yang terasa di antara mereka mulai mampu memercikkan gairah dan birahi yang semakin nyata.

Pak Nur semakin berani melakukan rangsangan seksual secara langsung ke tubuh Reisa. Tanpa malu Pak Nur mulai menciumi pipi dan balik telinga Reisa. Reisa tak menolak perlakuan Pak Nur kepadanya. Reisa hanya membutuhkan kehangatan seorang lelaki yang terasa nyata di sekujur tubuhnya dari tubuh Pak Nur.

Perlahan Pak Nur mengendurkan genggamannya dan jarinya mulai merayap ke arah payudara Reisa yang saat itu hanya tertutup BH. Tangan Pak Nur berusaha melepaskan silangan tangan Reisa. Untungnya tak ada penolakan yang berarti dari Reisa. Kini jari-jemari Pak Nur dengan bebasnya meraba dan meremasi kedua bukit kembar Reisa yang masih tertutup BH. Seakan memiliki mata, jari pak Nur melepaskan cup penutup puting BH yang dikenakan Reisa. BH itu kini terbuka namun masih berada di dada yang putih mulus itu. Jari-jari Pak Nur tak henti-hentinya melilin dan meremas kedua bukit salju yang indah menawan itu.

Perbuatan Pak Nur itu membuat Reisa semakin terpuruk ke jurang birahi yang tak sanggup diungkap dengan kata-kata. Kesempatan itu tak disia-siakan Pak Nur dengan menurunkan wajahnya untuk mengemut dan menjilat kedua bukit kembar yang empuk dan montok itu. Reisa tak mampu melihat perbuatan Pak Nur saat itu. Pikiran sehatnya tak bekerja dengan baik dan malah cenderung menuntunnya untuk menerima dan membalas rabaan dan jilatan Pak Nur tersebut.

Puas di wilayah dada Reisa, perlahan tapi pasti tangan Pak Nur terus turun ke arah selangkangan Reisa yang masih mengenakan celana dalam. Sambil memeluk tubuh Reisa, tangan Pak Nur yang satu lagi langsung masuk ke arah titik intim di tubuh gadis itu. Jari-jari kasar pria setengah baya itu masuk di celah lepitan kelamin Reisa. Jari-jari itu terus masuk di celah itu hingga menemukan daging kecil yang terletak diantara celah kelamin Reisa. Reisa seolah kembali menemukan kenikmatan yang sudah tak ia dapatkan sejak Jonas pergi. Dokter muda itu hanya mampu menerima perlakuan Pak Nur pada tubuhnya dengan memejamkan matanya. Tubuhnya kini sudah di tuntun sepenuhnya oleh Pak Nur. Tak memakan waktu lama bagi Reisa untuk mendapatkan orgasme melalui tangan Pak Nur. Diraihnya kepala Pak Nur yang saat itu sedang berada di belahan dadanya.

Setelah merasakan orgasme yang datang, Pak Nur berupaya melepas celana dalam Reisa. Setelah semuanya terlepas dari pemiliknya tubuh Reisa sudah tak tertutup selembar benang pun. Pak Nur sangat takjub melihat tubuh mulus dan menggairahkan itu yang kini terpampang nyata di depannya. Tubuh dokter muda itu kini tak berdaya dan pasrah menerima yang akan dilakukan si pria setengah baya.

Pak Nur lalu menurunkan wajahnya ke celah yang masih basah oleh cairan orgasme Reisa. Mulutnya melata mencari liang yang selama ini amat ia inginkan. Kembali kesadaran Reisa pulih saat lidah kesat itu perlahan masuk di celah kemaluannya. Rasa geli dan sengatan birahi membuatnya semakin tak mampu menahan laju gairah Pak Nur. Kedua kakinya ia rapatkan agar kepala Pak Nur menjauh dari celah intimnya itu. Namun semuanya percuma. Ketika ia merasakan adanya gejolak dari dalam tubuhnya, tubuhnya seakan merestui perbuatan Pak Nur itu.

Bahasa tubuh Reisa mampu mengalahkan pemberontakan akal sehatnya yang mulai pulih ketika itu. Tak lama memang Reisa merasakan kembali meledakkan cairan di pusat kewanitaanya itu. Liang kemaluannya mengeluarkan cairan pertanda ia sudah mendapatkan orgasme untuk kedua kalinya.

Pak Nur masih sibuk menjilati liang yang kini basah oleh cairan cinta Reisa. Dengan lahap dan tanpa jijik, ia telan lendir yang keluar dari celah kelamin Reisa. Reisa kembali merasakan tubuhnya lemah total dan tak mampu bergerak.

Saat itu hujan sudah berhenti. Pak Nur melepaskan tubuh Reisa dari dempetannya lalu mengambil pakaian Reisa dan menyerahkan pada dokter itu. Ia menyuruh Reisa untuk cepat berbenah agar secepatnya bisa sampai di rumah.

Dengan muka sedikit merah karena malu, Reisa mengenakan kembali pakaiannya. Ia tak mampu memandang kepada Pak Nur karena kini ia sudah merasakan kenikmatan dari laki-laki paruh baya itu. Meskipun mereka belum melakukan hubungan kelamin tapi Reisa sadar kalau ini hanyalah awal. Pada dasarnya tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan dari Pak Nur setelah mereka menjalani saat-saat intim tadi.

Selama perjalanan mereka diam membisu. Tak lama mereka sudah sampai di rumah panggung Pak Nur. Reisa disarankan Pak Nur untuk mandi membersihkan tubuhnya dari perbuatan mereka di goa tadi.

Reisa berjalan ke arah kamar mandi yang terbuat dari bambu itu. Setelah selesai ia menaiki rumah dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Pak Nur sendiri membersihkan burung yang ia buru di ladangnya tadi dan memasaknya.

Malam itu mereka berdua saja makan di lantai. Yuli yang juga ada di rumah itu makan sendiri di belakang. Dengan demikian Pak Nur bisa bebas ngobrol dengan Reisa sampai ke hal-hal yang bersifat pribadi. Setelah mereka selesai, barulah Yuli datang untuk membereskan.

Cahaya lampu di dinding semakin menambah kesan romantis malam itu. Reisa tak melihat Yuli lagi, entah ke mana perginya gadis itu. Pak Nur mendekat ke arah duduk Reisa. Sambil meraih jemari Reisa, ia menarik tangan wanita itu ke bibirnya dan diciumnya.

Reisa awalnya berusaha menolak cumbuan itu, namun Pak Nur terus berkeras. Di samping itu, Reisa sadar kalau ia tak bisa berpura-pura lagi di hadapan Pak Nur. Laki-laki tua itu sudah membuatnya orgasme sore tadi. Mereka sudah tahu sama tahu kalau mereka saling membutuhkan secara ragawi. Pak Nur menarik tubuh Reisa ke pelukannya. Reisa tak bisa menahan tarikan itu hingga tubuhnya kembali rebah di dalam pelukan Pak Nur.

Dengan gencar Pak Nur mengulum bibir tipis milik Reisa. Reisa seakan tak mampu bernafas. Ciuman Pak Nur membuatnya semakin tak mampu lepas dari belitan tangan Pak Nur. Reisa hanya menurut dan membalas ciuman orang yang cukup ia segani dan menjadi tempat berlindungnya itu. Belitan lidah Pak Nur mampu membakar birahi Reisa. Apalagi tangan Pak Nur ikut juga meraba dada Reisa yang masih terbungkus pakaian tidur. Jari-jari itu kembali menggerayangi bukit kembar milik Reisa. Wanita itu menerima semuanya tanpa penolakan sedikitpun karena telah sekian lama ia gersang tak merasakan kenikmatan hubungan biologis lagi.

Pak Nur menghentikan tindakannya itu. Pakaian Reisa sempat acak-acakan. Sambil bangun dari duduk, Pak Nur menarik tubuh Reisa agar berdiri mengikutinya. Kemudian Reisa digiringnya masuk ke kamarnya. Reisa sadar ia akan diperlakukan Pak Nur seperti gadis yang kemarin ia intip.

Sampai di dalam kamar, Pak Nur melepaskan genggaman pada Reisa yang masih berdiri mematung memandangnya. Pak Nur menutup pintu kamar. Reisa lalu diajak ke tepian ranjang kayu milik Pak Nur. Ranjang itu hanya beralaskan tikar pandan namun terasa amat hangat. Saat berhadap-hadapan dengan Pak Nur, Reisa tak mampu memandangnya.

Bak seorang pengantin baru, Pak Nur menciumi bibir Reisa beberapa saat. Reisa hanya menerima dengan pasrah. Kemudian Pak Nur melepaskan satu per satu kancing piyama Reisa hingga lepas dan tinggal BH saja. Kemudian BH itu ia lepaskan dan kini dada mulus milik Reisa terpampang di muka Pak Nur. Dada Reisa masih kencang dan montok, di lehernya teruntai kalung emas yang amat serasi dengan kulit pemiliknya yang putih.

Seperti seorang bayi dewasa, Pak Nur kembali menetek pada dada Reisa yang kini semakin mengeras oleh gerakan mulut Pak Nur. Reisa semakin tenggelam oleh samudera birahinya sendiri. Kedua tangan Pak Nur menahan bahu Reisa agar ia dapat memilin dan memberi cupangan di dada mulus itu. Pria itu lalu merebahkan tubuh Reisa di dipannya.

Ia lalu celana dalam itu dari tubuh pemiliknya. Sama sekali tak sulit karena Reisa tak menolak, bahkan sangat bekerja sama. Tampaknya ia juga ingin melakukan hubungan seks bersama laki-laki tua itu. Kini tubuh dokter itu sudah polos seperti bayi dewasa yang butuh belaian dari laki-laki dewasa.

Pak Nur pun tak mau kalah. Melihat tubuh yang selama ini menjadi khayalannya itu berada di depannya dan siap untuk disetubuhinya, ia lantas juga melepas semua pakaiannya hingga tak tersisa. Dengan bangga Pak Nur ingin agar Reisa merasakan benda miliknya yang sudah banyak makan korban itu. Dibimbingnya tangan Reisa untuk mengusap dan membelai batang kelaminnya yang tegak seperti sebatang kayu. Reisa melakukannya sambil tersipu.

Memang Pak Nur bukanlah orang sembarangan. Dari luar orang hanya tahu ia adalah laki-laki tua yang bertugas di pulau itu dan memiliki seorang istri. Namun semua itu adalah karena kepintarannya menutupi yang sebenarnya. Pak Nur yang saat itu sudah berusia sekitar 50 tahun sudah banyak mengambil korban wanita. Sejak berusia 18 tahun ia telah mencoba berbagai macam wanita untuk ditidurinya. Tak peduli apakah itu anak gadis orang, juga istri orang yang bertugas di pulau itu, juga ada guru yang kini sudah pindah, kadang turis bule yang sering datang ke pulau itu pun ia nikmati. Menaklukkan Reisa bukanlah pekerjaan yang besar baginya.

Bu Nur sendiri sudah tahu betul dan mafhum dengan kelakuan suaminya itu. Memang saat ia dinikahi sekitar 25 tahun yang lalu, Pak Nur sudah terkenal dengan reputasinya sebagai penakluk wanita. Apalagi Pak Nur memang keturunan ketua adat yang secara tradisional memang dianggap memiliki hak lebih dalam hal wanita. Bu Nur sama sekali tak keberatan selama dia tetap sebagai satu-satunya istri Pak Nurfea yang dianggap sah oleh gereja. Wanita yang lainnya tak lebih daripada sekedar gundik Pak Nur, seperti halnya Reisa sekarang ini.

Berbekal pengalamannya selama ini, Pak Nur mulai membakar birahi Reisa. Dokter cantik itu hanya merem merasakan birahinya yang membara disulut Pak Nur. Sekujur tubuh Reisa kini sedang dijilat bibir kasar laki-laki itu, tanpa melewatkan sedikitpun bagian-bagian yang tersembunyi di tubuh dokter itu. Reisa merasakan dirinya semakin terbang di awang-awang, berbeda saat ia mengalaminya bersama Jonas dulu.

Pak Nur lalu membuka kedua paha Reisa yang terlihat mulai basah oleh keringatnya. Butir-butir peluh di paha itu membuat Pak Nur semakin yakin Reisa sudah bisa disetubuhi. Pak Nur kembali menjilat payudara Reisa dan sesekali mengigit putingnya. Kemudian lidahnya turun ke arah lepitan liang kelamin dokter itu. Lidah Pak Nur dengan lancar masuk liang sempit itu meski sudah tak perawan lagi namun Pak Nur masih merasakan jepitannya masih mampu membuat lidahnya tak bebas didalamnya. Reisa semakin terbang di awang-awang merasakan tubuhnya semakin tak kuasa menahan birahinya.

Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang akan keluar dari liang kemaluannya. Memang kini ia sudah orgasme, cairan kewanitaanya dihisap Pak Nur dengan lahap. Reisa semakin tak berdaya, tubuhnya lemah merasakan orgasme itu. Selesai melahap semua cairan yang keluar dari liang Reisa, Pak Nur memposisikan diri di antara kedua paha jenjang itu. Tak sulit memang, apalagi saat itu Reisa sudah telentang meresapi kenikmatan yang baru ia rasakan.

Pak Nur sadar ia harus kembali memancing gairah Reisa jika ingin menyenggamainya. Perlahan Pak Nur meraba dan memilin kedua payudara yang sudah licin karena keringat sang pemiliknya. Tak lupa Pak Nur mengulum lidah Reisa dan membelitnya. Reisa yang semula hanya pasif merasakan tubuhnya kembali ingin mengikuti kelakuan Pak Nur. Lidah Reisa kini pun membelit lidah Pak Nur. Kedua tubuh bugil itu kini sudah bercampur dan tak dibatasi apapun. Keringat keduanya semakin larut di kulit masing-masing.

Reisa kembali terbakar birahi dan siap melakukan apa yang diingini Pak Nur. Reisa tak lagi merasakan kuatir terhadap apa yang kemarin ia intip. Pak Nur membuka kedua paha Reisa dan membukanya. Kedua paha Reisa dilipatkan keatas agar gampang ia masuki. Kini tubuh pak Pak Nur sudah sejajar lalu berupaya masuk. Reisa tak mampu melihat usaha Pak Nur yang mulai memasuki dirinya itu. Kepala kemaluan Pak Nur perlahan masuk bertahap. Mungkin karena amat besar dan panjang namun Reisa merasakan sedikit geli dan gatal bercampur ngilu. Pak Nur memberi sensasi tersendiri pada Reisa.

Pertemuan alat kelamin mereka mampu membuat Reisa dapat menerima Pak Nur. Pak Nur ingin merasakan kehangatan yang di berikan lipatan kemaluan Reisa. Perlahan meretas jalan hingga semua batang kokohnya amblas. Reisa masih menutupkan matanya. Pak Nur tak menarik kemaluannya dari liang yang masih ia rasakan sempit itu. Kini ia dapat merasakan detak jantung Reisa dan juga nafas berat Reisa dari dekat apalagi mereka telah menyatu. Pak Nur memandang wajah cantik Reisa dari dekat dan dalam hati amat mengaguminya. Ia tak menduga akan dapat merasakan tubuh dokter itu. Nafas berat Reisa membuat Pak Nur semakin dalam merasakan bahwa Reisa sudah bisa menerima dirinya seutuhnya.

Bahu, dada, dan leher Reisa yang jenjang sudah basah oleh keringatnya sendiri. Pak Nur menarik pinggulnya perlahan lalu maju menusuk ke celah sempit itu. Reisa merasa ngilu di kemaluannya semakin hilang. Ia malah merasakan amat nyaman berada di dekapan Pak Nur. Kemudian Pak Nur secara berulang memajumundurkan kemaluannya kedalam vagina wanita itu.

Masih menutupkan matanya, Reisa menggigit bibir bawahnya merasakan nikmat hubungan saat itu. Hujaman Pak Nur amat berbeda dengan yang ia rasakan bersama Jonas dulu. Kedewasaan dan pengalaman Pak Nur yang mampu mengontrol emosi membuat Reisa nyaman menikmati persebadanan itu. Kedua tangan Reisa meraih lengan Pak Nur yang kini semakin intens bergerak memberinya kenikmatan. Juga kedua payudaranya bergerak naik turun. Payudara montok Reisa terlihat sangat indah saat itu apalagi saat basah oleh keringatnya. Reisa merasakan kembali orgasme dan mencengkram lengan Pak Nur dengan keras.

Pak Nur tahu Reisa telah mencapai kenikmatan, namun ia masih belum apa-apa. Pria itu memang amat pintar mengatur tempo persenggamaan. Sampai saat itu Pak Nur masih belum klimaks, padahal Reisa sudah tak kuat lagi merasakan hujaman di dalam rahimnya. Kedua pahanya ia rasakan amat pegal karena terbuka, juga pinggulnya seakan patah.

Reisa sempat memohon kepada Pak Nur agar menyudahi dulu persenggamaan itu, namun Pak Nur bukanlah orang yang gampang disuruh berhenti jika sudah melakukan sesuatu. Reisa semakin lemah dan tak kuat menerima sodokan di kemaluannya. Benar yang ia lihat malam itu, si wanita memohon agar berhenti dan terlihat sempat pingsan. Reisa tak ingin ia mengalami hal yang sama dengan wanita yang ia saksikan bersebadan dengan Pak Nurfea saat itu. Ia akan berusaha sekuat tenaga melayani Pak Nur dan mengimbangi kekuatannya.

Reisa mengakui Pak Nur memang kuat meskipun sudah tua. Ia masih kalah tenaga dengan laki-laki itu, Jonas saja tak mampu seperti itu. Namun rasa orgasme memutus pikirannya saat itu. Reisa orgasme untuk kesekian kalinya. Ia pun meraih lengan Pak Nur dan menarik lehernya ke atas agar dapat menciumi bibir tebal laki-laki itu. Pak Nur tahu Reisa kembali orgasme dan ia sendiri merasakan akan merasakan hal yang sama.

Dengan tak terlalu cepat Pak Nur menghujamkan kemaluannya sedalam mungkin ke liang rahim Reisa dan melepaskan spermanya di dalamnya. Pak Nur baru bisa klimaks setelah hampir beberapa menit menggauli Reisa. Reisa merasakan ada rasa hangat di celah kemaluannya. Pak Nur masih berada di atas tubuh Reisa tanpa melepaskan kemaluannya. Alat kelaminnya bergejolak-gejolak di dalam kemaluan Reisa memompakan semua cairan spermanya sampai habis masuk ke dalam rahim Reisa yang subur.

Kedua tangannya membelai wajah dan dada Reisa. Ia merasakan amat puas bersebadan dengan Reisa. Reisa hanya memandang wajah Pak Nur dari bawah dengan pandangkan sendu seolah kehabisan tenaga. Memang tenaganya terkuras habis saat bersebadan dengan laki-laki tua itu. Seiring waktu kemaluan Pak Nur kembali ke sosok semula dan terlepas dari jepitan liang Reisa. Saat itu barulah Pak Nur merebahkan tubuhnya di samping Reisa.

Kedua tubuh telanjang itu akhirnya tertidur dengan saling berpelukan. Jika ada yang melihat merasa janggal sebab laki-laki yang memeluk wanita itu memang sudah tua dan tak pantas bersama wanita muda yang dokter itu. Sebaliknya bagi Pak Nur, yang terjadi di kamar itu adalah pemandangan yang sangat biasa. Di dipannya itu sudah sering ia mengeksekusi wanita yang ia inginkan untuk memenuhi hasrat seksnya. Semua wanita yang diinginkan Pak Nur dari warganya, baik itu masih gadis maupun sudah jadi istri orang, sudah pernah disebadani Pak Nur di atas dipan itu. Bahkan tak jarang Pak Nur membawa orang luar seperti wisatawan bule, dan tak terkecuali Reisa, untuk disebadaninya di situ.

***

Paginya Pak Nur bangun lebih dahulu dan mencari-cari Yuli. Karena tak ketemu, dimintanya orang untuk menyuruh Yuli datang ke rumahnya begitu ia muncul. Pak Nur lalu kembali ke kamarnya dan melepas seluruh pakaiannya untuk kembali menemani dan mendekap Reisa yang masih tidur nyenyak karena kecapaian dalam keadaan bugil.

Beberapa puluh menit kemudian, Reisa terbangun dan menggeliat. Didapatinya Pak Nur sedang mendekapnya dari belakang. Reisa pun tersenyum manis pada Pak Nur sedangkan Pak Nur lalu mengecup bibir Reisa dengan lembut. Keduanya pun berdekapan dengan mesra dalam keadaan bugil. Reisa bisa merasakan alat kelamin Pak Nur perlahan tumbuh dan mengusap-usap kedua pahanya dan pantatnya dari belakang.

Kemesraan mereka tiba-tiba terpotong oleh ketukan di dinding kamar Pak Nur. Pintu kamar Pak Nur hanya ditutupi oleh tirai.

“Masuk…” seru Pak Nur.

Orang di luar tadi menyibak tirai pintu kamar dan tampaklah Yuli berdiri di depan pintu. Reisa sebetulnya agak gelagapan tapi dilihatnya baik Pak Nur maupun Yuli bersikap sangat wajar. Padahal saat itu ia berdua bersama Pak Nur sedang bugil dan berdekapan dengan mesra.

“Selamat pagi, Pak Nur, tadi Bapak mencari saya?” tanya gadis yang kemarin disetubuhi Pak Nur itu.

“Selamat pagi, Mbak Reisa,” kata Yuli lagi sambil tersenyum ke arah Reisa yang dilihatnya sedang bersama Pak Nur.

Reisa jadi tahu bahwa kelakuan Pak Nur itu sudah dianggap normal oleh warga kampungnya. Karena itu ia pun lalu berusaha bersikap wajar. Dibalasnya sapaan ramah dan senyuman tulus Yuli kepadanya.

“Yuli, tolong kau masakkan makanan buat sarapan kami, ya,” kata Pak Nur memerintah. “Pergilah ke dapur, di situ masih ada banyak yang bisa dimasak.”

“Baik, Pak,” kata Yuli patuh sambil sedikit membungkuk hormat.

“Kau bukalah tirai kamarku dan buka semua jendela dan pintu supaya sinar matahari bisa masuk,” perintah Pak Nur lagi.

“Ya, Pak,” kata Yuli lagi.

Reisa pun menggeliat sekali lagi dan sudah bersiap untuk bangkit. Perintah terakhir Pak Nur pada Yuli dianggapnya sebagai suatu tanda untuk bangkit dan membersihkan badan.

Rupanya Reisa salah. Walaupun sekarang semua pintu dan jendela sudah terbuka lebar, rupanya Pak Nur masih menaruh minat pada dirinya. Ditahannya Reisa yang hendak bangkit. Dicumbunya kembali gadis cantik itu. Reisa hanya terkikik sejenak karena geli tapi kemudian ia pun mulai bangkit gairahnya dan membalas cumbuan Pak Nur. Memang rumah itu agak terpencil dari masyarakat sekitar sehingga praktis hanya ada mereka bertiga di sekitar situ. Yuli pun telah pergi ke dapur untuk memasak.

Maka sambil menunggu Yuli memasak, keduanya lalu melanjutkan lagi persetubuhan mereka. Suara babi, burung, aliran air dari sungai di belakang rumah, serta suara Yuli yang sedang memasak menemani hubungan intim mereka. Sama seperti kejadian semalam, kali ini pun Pak Nur menyenggamai Reisa cukup lama sampai Reisa kewalahan. Setelah Reisa beberapa kali orgasme barulah Pak Nur merasa puas. Reisa merasa senggama bersama Pak Nur bagaikan olah raga yang cukup berat, terutama karena ia harus mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dalam waktu yang lama.

Setelah selesai menunaikan hajatnya, Pak Nur pergi dulu keluar untuk buang air kecil. Yuli kemudian muncul di pintu kamar memberi tahu Reisa kalau sarapan sudah siap. Reisa yang masih terbaring di atas dipan bermandikan peluh dan cairan cinta mereka berdua tersenyum dan mencoba bangkit. Ketika berdiri, Reisa sedikit limbung karena selangkangannya terasa agak nyeri sehabis dikerjai Pak Nur. Yuli segera membantu Reisa untuk berdiri.

“Masih nyeri ya, Mbak,” tanya Yuli penuh pengertian. “Duduk saja dulu.”

Reisa hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia lalu dibantu Yuli untuk duduk di tepi dipan.

“Mbak Reisa kuat sekali,” kata Yuli lagi. “Aku kalau sudah melayani Pak Nur semalaman, paginya pasti istirahat sepanjang hari.”

Reisa hanya tersenyum mendengar komentar Yuli.

“Sarapannya nanti saja, Yul. Tunggu Pak Nur dulu,” kata Reisa.

Yuli hanya menganggukkan kepalanya.

“Duduklah di sini bersamaku,” kata Reisa lagi.

Yuli pun ikut duduk di samping Reisa. Karena merasa senasib, yaitu sama-sama melayani nafsu seks Pak Nur, keduanya semakin bertambah akrab. Sambil menunggu Pak Nur kembali, kedua wanita itu ngobrol secara terbuka. Masing-masing memberi tahu kapan dan di mana mereka ketemu Pak Nur pertama kali, sudah berapa kali mereka disetubuhi Pak Nur, dan bagaimana kesannya disetubuhi orang tua itu.

Reisa jadi tahu kalau Yuli memang bekerja menjaga dan membersihkan rumah Pak Nur. Kedua orang tuanya dulu berhutang budi pada Pak Nur sehingga hubungan mereka sudah sangat akrab. Ternyata Yuli pun sudah memiliki tunangan seorang pemuda dari kampung itu juga. Mereka akan menikah dalam waktu dekat ini. Mungkin Pak Nur sendirilah yang nanti bertindak sebagai ketua adat yang akan menikahkan mereka.

Ketika Reisa menanyakan apakah Yuli akan tetap bekerja di rumah Pak Nur dan melayani nafsu seksnya setelah menikah nanti, dengan mantap Yuli mengiyakannya. Reisa hanya manggut-manggut mengetahui budaya sosial di pedalaman itu. Memang salah satu hal yang disukai Reisa dalam melakukan tugas di pedalaman ini adalah mengetahui berbagai budaya baru yang tak pernah diketahuinya sebelumnya.

Tak lama kemudian Pak Nur kembali dan langsung mengajak Reisa sarapan. Yuli kembali membantu Reisa untuk bangkit. Diambilnya gaun tidur Reisa dari dinding kamar dan dibantunya Reisa mengenakan kembali gaun itu untuk menutupi tubuhnya yang bugil. Lalu dengan telaten Yuli membimbing Reisa keluar kamar untuk bergabung dengan Pak Nur. Melihat Reisa dibantu Yuli untuk berjalan, Pak Nur pun bertanya.

“Kamu tak apa-apa, Reisa?”

“Nggak apa-apa kok, Pak,” jawab Reisa tersenyum. “Cuma sedikit nyeri aja selangkanganku. Tadi kan dibuka terus…. Nanti juga insya Allah baik lagi kok.”

Reisa yang Kembali Ceria Sejak Disetubuhi Pak Nur

Reisa yang Kembali Ceria Sejak Disetubuhi Pak Nur

“Syukurlah, mudah-mudahan kamu cepat terbiasa,” timpal Pak Nur. “Soalnya aku masih kepingin. Nanti kita main lagi ya sebelum kita balik ke pulau?”

Reisa hanya tersipu mendengar permintaan orang tua itu. Disenggolnya bahu Pak Nur dengan bahunya sendiri. Ia merasa tersanjung karena Pak Nur menaruh hasrat yang begitu besar terhadap dirinya.

“Jangan khawatir, Pak Nur,” balas Reisa dengan manja.

Pak Nur pun nyengir mempertontonkan giginya yang ompong mendengar kesanggupan gadis cantik itu.

Mereka pun sarapan sambil duduk rapat saling berdekatan. Setelah selesai, barulah Reisa pergi mandi. Siangnya, sebelum berangkat kembali ke pulau, sesuai permintaan Pak Nur, mereka masih menyempatkan berhubungan badan kembali.

Begitu selesai menyirami rahim Reisa dengan air maninya untuk yang kesekian kalinya, mereka langsung berkemas-kemas. Karena seluruh badan Reisa serasa pegal dan kecapaian setelah dikerjai Pak Nur berulang kali, Yuli membantu Reisa mengemasi barang-barangnya dan membersihkan diri. Dengan telaten Yuli membersihkan air mani Pak Nur yang mengalir keluar dari kelamin Reisa dengan handuk hangat. Setelah itu, dibantunya Reisa berpakaian.

Hari itu Reisa memilih mengenakan kerudung putih yang dipadu dengan baju kurung khas Melayu yang berwarna cerah. Secerah hatinya saat itu. Walaupun capai, Reisa merasakan memuncaknya kembali gairah hidupnya yang sempat turun sejak ditinggal Jonas. Begitu selesai membantu Reisa mengenakan kerudungnya, spontan Yuli memuji penampilan Reisa yang tampak anggun. Pak Nur yang mengamati pun ikut memuji. Dipeluknya dokter muda itu sambil dicium mesra. Reisa pun membalasnya dengan senang. Sambil terus saling berangkulan layaknya pengantin baru, mereka pun pamit pada Yuli dan meninggalkan rumah panggung itu.

***

Sejak disetubuhi Pak Nur di kampungnya, otomatis Reisa semakin akrab dengan Pak Nur. Selama perjalanan pulang, Reisa pun semakin terbuka ngobrol tentang segala hal dengan Pak Nur. Kebetulan nelayan yang mendayung perahu mereka tak begitu lancar berbahasa Indonesia. Kalaupun mengerti, ia pun adalah warga desa Pak Nur, jadi Reisa tak merasa khawatir berbicara tentang hal-hal yang sangat pribadi sifatnya.

Pak Nur menceritakan tentang kehidupan seksnya yang bebas sejak usia mudanya dulu, tentang hubungannya dengan Bu Nur, dan juga tentang masa depan hubungan mereka berdua yang baru saja dirajut.

Reisa semula cemas bila hubungan mereka diketahui Bu Nur. Pak Nur pun menenangkan Reisa dengan mengatakan bahwa Bu Nur sudah terbiasa dengan gaya hidupnya itu.

“Jangan khawatir, Reisa. Istriku itu sudah sejak puluhan tahun yang lalu melihatku berhubungan dengan berbagai wanita lain.”

“O ya?” tanya Reisa seolah tak percaya.

“Tanyakanlah sendiri padanya kalau kau pulang nanti,” timpal Pak Nur mantap sambil tersenyum.

“Justru dia senang kalau ada wanita lain yang bisa kujadikan tempat melampiaskan nafsuku. Soalnya dia itu semakin tua, sudah tidak kuat lagi mengimbangi kekuatanku,” sambung Pak Nur datar.

Reisa mau tak mau tergelak mendengar perkataan terakhir Pak Nur itu.

“Eh, benarlah… Aku tak berbohong,” tanggap Pak Nur dengan mimik serius.

“Buat istriku itu yang penting aku tidak punya istri lagi,” terang Pak Nur lebih lanjut. Reisa pun manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Nur. Disandarkannya kepalanya di bahu lelaki tua itu.

“Iyalah, Pak Nur… Jangan khawatir, aku tak akan minta dinikahi oleh Pak Nur kok,” tanggap Reisa. “Lagian kan aku sudah nikah di bawah tangan dengan Jonas.”

“Tapi kalau dikawin mau kan…?”

Reisa mencubit perut Pak Nur dengan gemas sambil tersenyum. Pak Nur pun tertawa nakal sambil mempererat pelukannya.

***

Saat Bu Nur menyuruh Reisa untuk pergi ke pedalaman bersama suaminya, ia memang sudah mengira kalau Reisa akan dikerjai Pak Nur di sana dan dijadikan sebagai salah seorang gundiknya. Bahkan sejak pertama bertemu Reisa, ia tahu cepat lambat hal itu akan terjadi juga. Gadis cantik seperti Reisa biasanya akan mendapat giliran merasakan kejantanan suaminya itu.

Tadinya Bu Nur memang berharap kalau Reisa dan Jonas bisa langgeng menjadi pasangan suami istri. Itulah yang terbaik menurutnya. Karena Jonas rasanya sudah tak mungkin kembali dan Reisa tampak cukup terpukul, Bu Nur pun merelakan Reisa dijadikan gundik oleh suaminya. Paling tidak dalam pandangannya itu lebih baik daripada Reisa balik kembali kepada tunangannya, Dino. Bu Nur tak menyukai Dino sedangkan ia menghendaki Reisa tetap mengabdikan dirinya di pulau. Kalau Reisa menjadi gundik suaminya, paling tidak masih ada ikatan yang membuat Reisa tetap tinggal di Mentawai.

Ia tahu kalau suaminya membawa Reisa sendirian ke kampungnya, besar kemungkinan suaminya akan bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menyetubuhi Reisa. Itulah sebabnya ketika kesempatan itu datang, Bu Nur sengaja mencari-cari alasan untuk tak ikut serta supaya suaminya leluasa mengerjai Reisa.

Karena itu, ia pun biasa saja ketika diberitahu suaminya tentang apa yang terjadi di kampungnya. Sejak peristiwa di kampung Pak Nur, lelaki tua itu semakin mudah menikmati kehangatan tubuh dokter cantik itu di manapun dan kapanpun ia mau. Kini Reisa dan Pak Nur sudah seperti suami istri yang bebas melakukan hubungan seks meski diketahui oleh Bu Nur.

Transformasi yang Dialami Reisa Karena Pak Nurfea

Transformasi yang Dialami Reisa Karena Pak Nurfea

Reisa pun kini bila bermalam di rumah keluarga Pak Nur tak lagi sekedar bercengkerama dengan Bu Nur atau bermain-main dengan anak mereka tapi lebih dari itu, kini ia juga memiliki kesibukan baru yang tak kalah asyiknya, yaitu melayani Pak Nur. Bu Nur cuma sering mengingatkan suaminya sebelum ia dan Reisa masuk ke kamar mereka untuk tidak mengerjai Reisa semalam suntuk karena keesokan harinya dokter muda itu harus kembali bertugas.

Selain melakukan hubungan intim di rumah keluarga Pak Nur dan di rumah Reisa, kadang Pak Nur sengaja mendatangi Reisa di ruang prakteknya. Tentu saja di sana mereka tak bisa bersenggama terlalu lama karena mereka harus melakukannya di sela-sela antrian pasien Reisa. Tak jarang pula Pak Nur membawa Reisa ke berbagai tempat yang sepi seperti ke hutan, ke sungai di pedalaman, atau ke pantai yang sepi, khusus untuk disetubuhi.

TAMAT

Desahan Santi Dan Kawan-Kawan

Copyright 2004, by Erwin

(Gadis dan Pria Tua, Keroyokan)

Nama saya Erwin (23 tahun), WNI keturunan yang tinggal di Bandung dan kuliah ekonomi manajemen di Universitas Maranatha. Kuliahku agak tersendat karena keranjingan membantu orang tuaku menjalankan usaha percetakan keluarga kami, jadi SKS-nya kuambil sedikit-sedikit biar tidak semrawut. Dalam materi aku sama sekali tidak ada masalah, begitupun halnya dalam pergaulan, statusku membuat orang-orang mudah dekat denganku, terutama wanita, sudah beberapa kali aku gonta-ganti pacar dan hampir semua pernah ML denganku. Orang tuaku sudah mempercayai perusahaan ini sepenuhnya padaku sehingga mereka bisa menikmati hari tuanya dengan santai dengan bepergian ke luar negeri atau mengunjungi sanak saudara lainnya. Aku mempunyai seorang cici yang sudah menikah dan ikut suaminya, jadi sekarang aku tinggal sendirian di rumah yang megah ini mengurus bisnis sekaligus kuliah.

Kejadian gila ini terjadi pada bulan Agustus 2004 yang lalu. Waktu itu aku baru putus dengan pacarku. Dalam kesepian itu kalau sudah tidak ada kerjaan aku menghibur diriku dengan nonton bokep, clubbing (tapi tidak sering karena besoknya harus bangun pagi-pagi, malu dong bos kesiangan), ataupun main internet berjam-jam.

Suatu hari aku membaca cerita-cerita ah-uh.tk. Di situ aku menemukan hiburan yang menggairahkan. Aku sangat terkesan dengan cerita-cerita karya penulis wanita seperti Lily Panther, Citra Andani, Dania, Deknas, dan lain-lain di mana wanita-wanita itu terlibat dalam seks liar. Ternyata wanita jaman sekarang tidak kalah berani dari pria.

Lalu aku sampai pada cerita berjudul “Kejutan Untuk Teman-temanku” yang memberiku inspirasi mengadakan acara gila ini. Terbayang-bayang dalam pikiranku di mana cewek putih cantik, sexy, dan imut dikerjai oleh cowok-cowok kasar, tua, hitam, dan jelek yang statusnya lebih rendah darinya. Sungguh suatu kekontrasan seks yang menggairahkan.

Aku kemudian mulai memikirkan rencana untuk mewujudkan fantasi liarku, rencanaku mencari cewek-cewek dari kalangan teman-temanku untuk diadu dengan buruh-buruh bawahanku. Yang pertama harus kulakukan adalah mencari ceweknya dulu, karena cukup sulit dan perlu lobi-lobi yang jitu, kalau untuk prianya itu sih nanti saja, kemungkinan menolaknya pasti kecil, cuma satu banding sepuluh.

Besoknya aku kuliah siang dan membicarakan hal ini dengan seorang teman wanita yang pernah ML denganku, hasilnya nol, ditolak mentah-mentah. Aku jadi malu dan hampir mengurungkan niatku, tapi bintangku mulai bersinar di waktu malam ketika ngedugem. Di sana aku bertemu Santi (22) dan Sandra (22) yang juga sefakultas denganku, mereka akrab denganku maka aku tanpa tendeng aling-aling mengutarakan maksudku pada mereka. Mulanya mereka merasa risih dengan ideku, tapi setelah susah payah kurayu-rayu, akhirnya Santi bangkit juga gairahnya membayangkan hal itu, sedangkan Sandra, meskipun masih ragu-ragu, akhirnya mengiyakan juga karena kudesak terus (duh…kaya salesman aja nih !). Setelah puas ngedugem, aku mengantar Santi pulang (Sandra naik mobil sendiri), sambil menyetir Santi sempat mengoralku sampai keluar dan dihisapnya habis.

Berikutnya aku mencari seorang lagi untuk lebih meriah, kutelepon beberapa teman yang pernah kencan denganku dan mereka-mereka yang bispak (bisa pakai). Dari tiga orang yang kuhubungi akhirnya ada juga yang setuju yaitu Ivana (23), mahasiswi Sastra Inggris yang pernah pacaran singkat denganku, kebetulan waktu itu dia baru putus dengan pacarnya. Phew…akhirnya jerih payahku dengan menebalkan muka tidak sia-sia. Kini tinggal mencari cowoknya, aku keliling pabrikku untuk menyeleksi kandidat yang pas, lima orang saja kurasa cukup, kalau terlalu banyak takutnya berabe, bisa ada kasak-kusuk ga enak. Sebentar saja aku sudah mendapatkan lima kandidat itu, pilihanku jatuh pada : Pak Andang, seorang buruh tua berumur lima puluhan yang telah bekerja sejak usaha kami masih kecil-kecilan, kurasa pantas dia menerima hadiah ini mengingat pengabdiannya, meskipun berusia senja dan sudah mulai beruban, tubuhnya masih tetap fit karena terbiasa kerja keras; Pak Usep, usianya sebaya dengan Pak Andang, sudah menduda, jadi kupikir inilah saatnya sekali-sekali memberi upah biologis padanya; Mang Nurdin, berusia empat puluhan, badannya kekar dan berisi, inilah yang menjadi pertimbanganku memilih dia; Mang Obar, tiga puluhan, tampangnya mirip tikus dengan kumis tipis, kurus tinggi seperti pohon kelapa; Endang, paling muda dari kelimanya, baru dua puluh tiga tahun, bekerja disini baru setahun lebih, tapi rajin dan kerjanya bagus, patut mendapat hadiah ini.

Seusai jam kerja aku memanggil mereka untuk bertemu secara pribadi di kantorku. Awalnya mereka bingung kok dipanggil mendadak seperti ada salah saja. Namun setelah aku menjelaskan maksudku selama beberapa menit, mereka hampir terlompat, antara kaget dan senang, seperti tidak percaya apa yang baru kutawarkan.

“Hah, serius nih tuan ?” Pak Andang dan Mang Obar bertanya hampir bersamaan

“Iya, siapa yang main-main, pokoknya kalian tinggal datang dan nge-jos, apa-apanya saya yang atur, dan satu hal lagi jangan sampai ada yang tau lagi selain kita, atau tidak sama sekali” jawabku meyakinkan.

Seperti yang kuduga, tak satu pun dari mereka ragu atau menolak, tidak sesulit mengajak para ceweknya. Ya, sifat dasar pria lah, siapa sih yang bisa melewatkan kesempatan emas gini lalu begitu saja, apalagi kalau soal perempuan, bahkan Raja Daud yang bijak itu saja tidak bisa menghindar dari godaan seksual, ya kan !

Sebenarnya menurut rencana harusnya besok bisa mulai, tapi karena Santi meng-SMS bilang bahwa ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, terpaksa acara ditunda besok lusa. Duh, aku jadi agak bete, tidak sabar menunggu hari esok, satu jam jadi terasa setahun karena sudah kebelet. Malamnya aku sampai masturbasi saking bergairahnya, tapi sisi positif dari tertundanya acara ini aku bisa mempersiapkan segalanya lebih baik. Ketiga pembantu wanitaku kubebastugaskan hari itu, yang kebetulan sehari sebelum hari kemerdekaan RI, kusuruh saja mereka berkunjung ke sanak saudaranya atau kemana kek, pokoknya tidak mengganggu acara gilaku. Kupompa kasur udaraku yang empuk (beli dari Dr. TV, hehe..promosi nih ceritanya?) dan kuletakkan di ruang tamu sebagai arena pertarungan nanti.

Akhirnya sampai juga hari-H itu, sekitar pukul dua siang aku sudah membereskan segala dokumen yang harus kutangani, sisanya, pekerjaan kecil lainnya kuserahkan pada staffku. Saat itu sudah ada SMS masuk dari Ivana yang mengatakan bahwa dia sudah datang dan sedang menunggu di depan kediamanku.

“Pagi-pagi amat dia datang, baru juga jam segini” pikirku. Aku pun segera menuju ke rumahku yang terletak di samping pabrik, dibatasi dua buah gerbang kayu. Aku memasuki pekarangan rumahku, disana Ivana sedang jongkok mengelus-elus si Buster, kelinci peliharaanku.

“Hoi, Na, cepat amat kesininya, kan gua bilang jam limaan sesudah bubar kerja” sapaku

“Tanggung, kalo pulang, nanti harus bolak-balik jauh lagi” jawabnya

“Naik apa kesini ?”

“Tadi nebeng si Stephanie kan dia di Lingkar Selatan sana”

Hari itu Ivana terlihat cantik sekali, kaos ketatnya tanpa lengan dan celana panjang sedengkulnya semua serba putih, rambutnya yang panjang diikat ekor kuda. Walaupun pernah putus denganku akibat ketidakcocokan sifat, namun kami masih berteman baik, bahkan terkadang kita melakukan hubungan badan. Secara fisik, dia termasuk perfect, buah dadanya sedang saja, standar cewek Asia, tubuhnya langsing bak biola, dia juga jago dancing dan piano.

Kuajak dia masuk ke rumah, disana kami menonton DVD Troy sambil ngobrol dan makan snack menunggu waktu bubaran pabrik. Ketika film lagi seru-serunya, tiba-tiba intercom berbunyi, ada urusan di pabrik yang memintaku datang.

“Gimana sih nih orang-orang, masih butuh gua juga !” omelku dalam hati

“Lu nonton sendiri dulu, gua ada perlu dulu nih, sori yah”

Huh, ternyata cuma ada dokumen yang perlu kutandatangan, cuma itu saja, itulah kenapa aku tidak mengatur acaranya jam segini, ya banyak gangguan seperti ini loh. Aku memeriksa sejenak kegiatan di pabrik, setelah yakin tidak ada apa-apa lagi aku pun kembali ke samping. Waktu keluar dari sana, kulihat Vios hitamnya Santi sudah ada di halaman pabrik. Aku menengok arlojiku, wah…sudah mau jam setengah lima, ga kerasa ya, cepat amat, berarti sebentar lagi pesta gila-gilaan ala Kaisar Caligula akan segera dimulai hehehe…aku jadi ngeres.

“Lho, si Santi mana, tadi ada mobilnya di depan ?” tanyaku pada Ivana karena tidak melihat Santi di rumah

“Tuh, lagi ke WC, masih lama ga nih acaranya Win, gua udah deg-degan nih ?” tanyanya

“Bentar lagi kok, jam lima baru bubar, rileks aja Na, ga usah tegang gitu, ntar juga enjoy” kataku

“Yo, San darimana aja, you are so hot today !” sapaku begitu keluar dari kamar mandi.

Waktu itu Santi memakai tank-top merah yang talinya diikat ke leher dan membiarkan setengah punggungnya terbuka. Bawahnya memakai rok yang mini dari bahan jeans ungu memamerkan pahanya yang putih mulus. Aku terpana beberapa detik menatap tubuh mulus Santi yang tinggi semampai (170cm), wajahnya cantik ala oriental namun ekspesinya agak dingin, sehingga sering terkesan jutek bagi yang belum kenal dekat dengannya, tapi kalau akrab dia enak diajak bicara, blak-blakan dan pendengar yang baik, setahuku dia ini orangnya pilih-pilih dalam memilih patner sex, tapi mau saja menerima tantanganku ini, entah dia yang kepingin atau diplomasiku yang hebat.

“Dari rumahlah, masa dari kampus pake baju glamor gini, eh tinggal si Sandra ya yang belum ada ?” jawabnya

“Iya belum tuh, ga ada berita lagi, tadi gua telepon HPnya ga dinyalain”

“Lu pake ginian bikin gua kepanasan nih San” kataku sambil memandangi dirinya, dibalik celanaku, adikku juga mulai bangun. Tak dapat menahan diri lagi, langsung kupeluk tubuh Santi, tanganku menggerayangi pahanya sambil menyingkap roknya, lalu telapak tanganku bergerak ke belakang meremas pantatnya yang montok.

“Nngghh…buru-buru amat sih, ntar aja ah !” katanya antara menolak dan menerima.

“Sori San…dikit aja, lu bikin gua nafsu sih” sahutku seraya memagut lehernya.

Rambutnya yang pendek model Utada Hikaru memudahkan aku menjilati lehernya yang jenjang hingga ke tenguknya. Dari sana bibirku menjelajah secara erotis ke dagu, pipi, hingga mencaplok bibirnya yang tipis. Dengan kedua tangan meremas pantatnya, aku menciuminya dengan panas, nafas kami yang memburu terasa pada wajah masing-masing. Perhatian Ivana pada layar TV jadi tersita ke arah mantan pacarnya yang berciuman dengan penuh gairah dengan temannya. Dia menatapi kami tanpa berkedip dan terlihat gelisah, tangannya secara sembunyi-sembunyi meremas payudara sendiri. Aku yakin cintanya padaku masih tersisa sedikit walaupun cuma lima persen, dan hal itu tentu menimbulkan sensasi cemburu yang membuatnya horny.

Santi pun mulai merespon dengan meremas selangkanganku yang sudah menonjol. Lagi enak-enak ber-French kiss, tiba-tiba bel musikku berbunyi, kami melepaskan diri. Hhmm…siapa ya, Sandra atau para bawahanku ? Pintu kubuka, ternyata para buruhku, lima-limanya pula, aku memberitahukan bahwa cewek-ceweknya sudah datang tapi dari tiga baru dua yang datang, kuminta agar mereka bisa berbagi jatah dengan adil.

“Ini beneran kan tuan ? kita ga usah keluar uang kan ?” si Endang seakan masih tak percaya, aku cuma mengangguk meyakinkannya.
“Udahlah ga usah banyak bacot, enjoy aja euy !” Pak Usep menepuk punggung pemuda itu.

Kubawa mereka ke ruang tengah dan kupertemukan dengan para cewek. Ivana terlihat nervous, dia tetap duduk di sofa dan memberi senyum dipaksa ketika kuperkenalkan buruh-buruhku satu per satu. Sedangkan Santi, meskipun agak gugup, namun lebih luwes, dia berdiri menyambut kedatangan mereka bahkan menyalami mereka waktu keperkenalkan. Ketika Mang Obar dengan nakal mencolek pantatnya pun, dia membalasnya dengan senyum menggoda.

Setelah saling kenal dan basa-basi sejenak kupersilakan mereka memilih sesuai selera mereka, dengan ini pesta resmi kubuka. Pak Usep dan Endang sepertinya lebih memilih Ivana, mereka pun menghampirinya dan duduk disofa mengapit kanan dan kirinya. Sedangkan sisanya yang memilih Santi mulai berdiri mengerubunginya. Aku sendiri duduk di sebuah sudut yang strategis untuk menyaksikan the hottest live show ini.

Nah, pembaca, dari sini aku sempat bingung bagaimana menguraikan kedua adegan ini secara lengkap dan detail, karena tidak seru kan kalau aku hanya menguraikannya sekilas-sekilas. Akhirnya setelah kupikir-pikir aku memutuskan menceritakannya per adegan plus berdasarkan penuturan mereka, supaya lebih fokus dan pembaca pun turut menghayati kenikmatan yang kurasakan waktu itu, semoga metode berceritaku ini memuaskan pembaca sekalian, aku akan memulainya dengan adegan Santi.

Santi dikerubungi ketiga orang itu Santi nampak tegang, namun dia menutup-nutupi ketegangan itu dengan senyumannya dan juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, terkadang mereka mengajukannya pertanyaan nakal yang membuat wajahnya memerah tersipu-sipu. Pak Andang mulai berani mengelusi punggung Santi yang terbuka.

“Eeemm…geli Pak !” desahnya menggoda.

“Masa digituin aja geli sih Neng, gimana kalo diginiin ?” Mang Obar meremas payudaranya.

Tangan-tangan kasar itu mulai menggerayanginya. Mang Nurdin juga mulai merayapi lekuk tubuh Santi sambil menyingkap rok mininya, paha mulus itu dia raba-raba, tangannya makin merayap ke atas hingga menyentuh selangkangan Santi yang masih tertutup celana dalam biru langit.

“Bapak buka bajunya ya, Neng?”

Tanpa menunggu jawaban Santi, Pak Andang membuka tali leher yang menyangga pakaiannya. Santi tidak memakai bra karena tank top itu mempunyai cup dada didalamnya sehingga begitu melorot payudara montok dengan puting kemerahan itu langsung terekspos. Pak Andang dan Mang Obar mencaplok masing-masing kiri dan kanannya. Mang Nurdin kini berjongkok sedang mengagumi keindahan paha Santi yang jenjang dan mulus itu, tangannya tak henti-hentinya mengelusi paha itu.

“Neng, pahanya mulus amat…putih lagi” puji Mang Nurdin sambil menjilatnya.

Yang tak kalah menarik tentu bagian pangkalnya dan kini tangan Mang Nurdin telah sampai kesitu membelai kemaluannya dari luar. Jari-jarinya lalu menyusup lewat tepi celana dalamnya. Mang Obar mengenyot payudara kanannya. Santi menengadah dengan mata terpejam, mulutnya mengap-mengap mengeluarkan desahan. Dia telah mabuk birahi. Tubuhnya menggelinjang saat Mang Nurdin menggosok vaginanya dengan jari-jarinya sampai terlihat bercak cairan vaginanya di tengah celana dalamnya.

“Pak Andang, disana aja atuh. Cape dong berdiri melulu?” kataku menunjuk kasur pompa yang terletak tak jauh dari situ.

Mereka pun menggiring dan merebahkan tubuh Santi di kasur empuk itu, lalu pakaiannya dilucuti satu persatu hingga tak tersisa apapun lagi di tubuhnya. Tampaklah tubuh mulus Santi yang berpayudara kencang, berperut rata, dan kemaluannya yang masih rapat ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan tercukur rapi. Setelah menelanjanginya, mereka juga membuka baju masing-masing. Tiga batang kemaluan mengarah padanya bak meriam yang siap menembak, Santi sampai terpana menatap ketiga senjata yang akan segera “membantainya” itu. Ketiganya kembali mengerubungi Santi yang terlihat nervous dengan menutupi kemaluan dan payudaranya dengan tangan.

“Hehehe…si neng malu-malu gini bikin saya tambah nafsu aja ah!” kata Mang Nurdin mengangkat tangan kiri Santi yang menutup payudaranya.

“Wah ternyata bodynya amoy bagus banget ya!” kata Mang Obar yang tangannya mulai menjelajahi tubuh mulus itu.

Pak Andang menciumi payudara kanannya sambil tangannya meraba-raba kemaluannya. Dijilatinya seluruh gunung itu sampai basah lalu dengan ujung lidahnya dia main-mainkan putingnya. Jantungku berdebar-debar dan mataku melotot menyaksikan adegan itu, ditambah lagi adegan pada sofa di hadapanku dimana tubuh telanjang Ivana sedang dijilati dan digerayangi. Aku membuka celana pendekku dan mengeluarkan penisku lewat pinggir celana dalam lalu mulai memijatnya, ini jauh lebih spektakuler dari film bokep dengan artis tercantik sekalipun.

Mang Nurdin mencium dan menjilat leher jenjang Santi sambil mengusap-usap payudara satunya, lalu ciumannya bergerak ke atas menggelikitik kupingnya menyebabkan Santi menggeliat dan mendesah nikmat. Dari telinga mulut Mang Nurdin memagut bibir Santi, mulut lebar dengan bibir tebal itu seolah mau menelan bibir Santi yang mungil lagi tipis. Sekonyong-konyong terdengar kecipak ludah dari lidah mereka yang beradu. Santi nampak sudah tidak merasa risih lagi. Yang dirasakannya sekarang adalah birahi yang menggebu-gebu akan pengalaman barunya ini, terlihat dari matanya yang terpejam menghayati permainan ini. Sikapnya yang semula pasif mulai berubah dengan meraih penis Mang Nurdin dalam genggamannya.

Mang Obar sedang berlutut diantara kedua paha Santi, tapi dia belum juga mencoblosnya. Agaknya dia masih belum puas bermain-main dengan tubuh mulus itu. Sekarang dia sedang membelai-belai tubuh bagian bawahnya, terutama pantat dan kemaluannya. Dia mengangkat paha kiri itu, lalu menciumi mulai dekat pangkalnya, terus turun ke betis, pergelangan, dan akhirnya dia emut jari kaki yang lentik itu. Lagi enak-enak nonton live-show sambil ngocok, tiba-tiba ada SMS masuk, kuraih HP-ku, oh…si Sandra, hampir lupa aku sama anak ini saking asyiknya, pesannya berbunyi demikian :

“Win, pstanya jd g? psti lg asyk y? sori nih tlat, td diajak tmn jln2 sih, kl stgh7 gw ksana msh bsa g?”

Brengsek bikin orang nunggu aja, mana datangnya telat banget lagi, tapi aha…terbesit sebuah cara untuk menghukumnya, hihihi…aku nyeringai sambil mereply SMS-nya

“Gile tlat amt sih, y dah u dtg aja, mngkin msh kburu, kl g kta skalian mkn mlm aja, ok”

Wow, kini Santi sedang menjilati secara bergantian penis Pak Andang dan Mang Nurdin yang berlutut di sebelah kiri dan kanan kepalanya. Sementara itu Mang Obar menjilat serta menusuk-nusukkan lidahnya ke dalam vagina Santi, rangsangan itu membuatnya sering mengapitkan kedua paha mulusnya ke kepala Mang Obar. Kini Santi membuka mulut dan mendekatkan kepalanya pada penis Pak Andang, setelah masuk ke mulutnya, dia mulai mengulum benda itu dengan nikmatnya sambil tangan kanannya mengocok pelan penis Mang Nurdin.

Tak lama kemudian Mang Obar menghentikan jilatannya dan merentangkan paha Santi lebih lebar, dia bersiap memasukkan penisnya. Santi juga menghentikan sejenak oral seksnya, menatap penis yang makin mendekati bibir vaginanya dengan deg-degan.

“Pelan-pelan yah, Mang. Saya takut sakit abis kontol Mang gede gitu!” ucap Santi memperingatkan.

“Tenang aja Neng, Mamang ga bakal kasar kok!” hiburnya sambil mengarahkan senjatanya ke liang senggamanya.

Nampaknya Mang Obar kesulitan memasukkan penisnya ke dalam vagina Santi karena ukurannya itu, maka dia lakukan itu dengan gerakan tarik-dorong.

“Aakkhh…nggghhh…sakit !” rintih Santi menahan rasa nyeri, padahal penis itu belum juga masuk seluruhnya.

“Masa pelan gitu sakit sih, Neng?” kata Pak Andang yang memegangi tangannya sambil membelai payudaranya.

“Mungkin si Neng aja yang memeknya kekecilan kali!” sahut Mang Nurdin cengengesan.

“Aaaaahhh…” jeritnya saat Mang Obar menghentakkan pinggulnya ke depan hingga penisnya terbenam seluruhnya ke dalam liang itu. Selanjutnya, tanpa ampun dia menggenjotnya dengan buas tanpa menghiraukan perbandingan ukurannya dengan vagina Santi. Sementara di kiri dan kanannya kedua orang itu tak pernah berhenti menggerayangi tubuhnya.

Mang Nurdin dengan mulutnya yang lebar menelan seluruh susu kanannya yang disedot dan dikulum dengan rakus. Pak Andang menelusuri tubuh itu dengan lidahnya, bagian-bagian sensitif tubuh Santi tidak luput dari jilatannya. Santi mendesah-desah tak karuan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tubuhnya menggelinjang hebat.

Sebentar saja Santi sudah mencapai klimaks, badannya menegang dan menekuk ke atas, desahannya makin hebat. Namun Mang Obar masih belum keluar, dia menaikkan kedua betis Santi ke bahunya dan memacu tubuhnya makin cepat sampai menimbulkan bunyi kecipak. Akhirnya dia menggeram dan menyemprotkan spermanya di dalam vagina Santi, cairan itu nampak menetes dari daerah itu bercampur dengan cairan kewanitaannya.

Santi hanya sempat beristirahat kurang dari lima menit sebelum giliran Pak Andang mencicipi vaginanya. Mula-mula dia meminta Santi membasahi penisnya dulu, setelah dikulum sebentar, dia menindih Santi sambil memasukkan penisnya, pinggulnya mulai bergerak naik-turun diatas tubuhnya, Santi yang gairahnya mulai pulih juga ikut menyeimbangkan irama goyangannya. Pak Andang melumat bibir mungil Santi yang mengap-mengap itu meredam desahannya. Waktu itu aku sudah keluar sekali, kuambil tissue mengelap tanganku yang basah. Mang Obar mengambil aqua gelas yang kusiapkan dan meminumnya, dia duduk di sofa sebelahku.

“Gimana Mang, sip ga ?”

“Enak banget Bos, Mamang ga pernah mimpi bisa dapet kesempatan ini, sering-sering bikin yang kaya gini ya!” komentarnya dengan antusias.

“Tenang Mang, jangan boros tenaga dulu, ntar masih ada satu lagi loh!” nasehatku. Kemudian aku menjelaskan apa yang harus dilakukan pada Sandra kalau dia datang nanti.

Pak Andang tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga Santi kini diatasnya. Dia lalu menegakkan badan sambil terus menaik-turunkan pinggulnya diatas penis yang mengacung bagai pasak itu. Terkadang dia memutar-mutar pinggulnya sehingga penis itu mengaduk-aduk vaginanya. Matanya merem-melek dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Keringat telah membasahi tubuhnya, menempel di dadanya seperti embun, juga menetes-netes dari mukanya.

Mang Nurdin berdiri di sebelahnya lalu mendekatkan penisnya yang masih keras ke mulutnya. Santi mulai menjilatinya dimulai dari kepalanya yang disunat hingga seluruh permukaan batang itu. Buah zakarnya yang besar dia emut beberapa saat.

“Uuuhh…ayo Neng, enak gitu…mmm!” desah Mang Nurdin semakin hanyut dalam lautan birahi. Santi tidak malu-malu lagi mengemut penis itu sambil mengocoknya dengan satu tangan. Payudaranya bergoyang-goyang naik-turun seirama gerak tubuhnya. Dengan gemas Pak Andang menjulurkan kedua tangannya mencaplok gunung kembar itu serta meremasnya.

Saat itu Endang baru saja selesai dengan Ivana. Setelah menyemprot perut Ivana dengan spermanya dia minum dulu dan langsung menuju Santi. Sementara itu Mang Obar mulai mencicipi Ivana. Endang duduk di sebelah kanannya dan meminta ijin Pak Andang yang sedang menguasai kedua payudaranya untuk memberinya jatah satu saja. Sepertinya dia menggigit putingnya karena badan Santi mengejang dan mendesah tertahan di tengah aktivitasnya mengoral Mang Nurdin. Dia mengenyot dan kadang menarik-narik puting itu dengan mulutnya.

“Ooohh…isep Neng…iseepp!!” tiba-tiba Mang Nurdin mendesah panjang dan makin menekan kepala Santi ke selangkangannya. Spermanya menyembur di dalam mulut Santi. Mungkin karena badannya berguncang-guncang, hisapan Santi tidak sempurna. Cairan itu meleleh sebagian di pinggir mulutnya. Mang Nurdin beranjak pergi meninggalkan Santi setelah di-cleaning service. Diambilnya segelas aqua dari meja untuk diminum.

Tiba-tiba goyangan Santi makin gencar lalu berhenti dengan tubuh mengejang. Kepalanya menengadah sambil mendesah panjang. Kedua tangannya memegang erat lengan Pak Andang. Dia telah mencapai klimaks, tapi Pak Andang belum. Dia terus menghentakkan pinggulnya ke atas menusuk Santi.

Tubuh Santi melemas kembali dan ambruk ke depan menindihnya. Saat itu Endang sudah pindah ke belakangnya. Dia meremas pantat yang sekal itu sambil mengorek duburnya. Kemudian dia menindihnya dari belakang. Tangannya menuntun penisnya memasuki liang dubur itu diiringi rintihan pemiliknya. Tubuh Santi kini dihimpit kedua buruh itu seperti sandwich. Kedua penis itu menghunjam-hunjam kedua lubangnya dengan ganas.

“Ooohh….oooh…aakkhh !” gairah Santi mulai bangkit lagi. Vaginanya berdenyut-denyut memijat penis Pak Andang yang sudah di ambang klimaks. Pak Andang lalu melenguh panjang menyemburkan maninya di dalam vagina Santi. Akhirnya dia terbaring lemas di kolong tubuh Santi dengan nafas terengah-engah.

Setelah ditinggalkan Pak Andang, Santi cuma melayani Endang. Pemuda ini lumayan brutal mengerjainya sehingga dia menjerit-jerit. Duburnya disodok-sodok sementara payudaranya yang menggantung diremas dengan kasar. Hal ini berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya sampai keduanya klimaks. Sperma Endang tertumpah di pantatnya sebelum keduanya ambruk tumpang tindih. Keadaan Santi sudah babak-belur. Tubuhnya bersimbah peluh. Bekas-bekas cupangan masih terlihat pada kulitnya yang mulus. Sperma bercampur cairan kewanitaan meleleh dari selangkangannya. Aku jadi kasihan melihatnya, maka aku menghampirinya dengan membawa air dan tissue. Kuangkat tubuhnya dan kusandarkan pada lenganku. Dengan tissue kuseka keringat di dahinya. Minuman yang kuberikan langsung diteguknya habis.

“Udah ya San, kalau dah ga kuat jangan dipaksain lagi, ntar pingsan lu!” saranku. Namun dia cuma tersenyum sambil menggeleng.

“Ga apa-apa,” katanya. “Cuma perlu istirahat sedikit.”

Dia juga bilang rasanya seperti diperkosa massal saja barusan itu. Waktu itu Pak Usep menghampiri kami bermaksud menikmati Santi, tapi kusuruh dia bersabar karena kondisinya belum fit.

Karena tubuh Santi yang sudah lengket-lengket itu, aku menyuruhnya mandi agar lebih segar. Setelah agak pulih, kubantu dia berdiri dan memapahnya ke kamar mandi. Kunyalakan shower air hangat untuknya. Sebelum aku keluar, kami berpelukan. Kucium dia sambil mengorek vaginanya dengan dua jari. Cairan sperma meluber keluar begitu kukeluarkan tanganku sehingga aku harus cuci tangan.

“Dah mandi dulu yang bersih, supaya nanti siap action!” kataku.

Dia cekikikan sambil menyeprotkan shower ke arah kakiku. Aku melompat kecil dan keluar sambil tertawa-tawa.

Begitu aku keluar, waw…gile, Ivana mantan pacarku itu sedang dikerjai kelima orang itu. Dia sudah tidak di sofa lagi, melainkan sudah di lantai beralas karpet. The hottest gangbang I’ve ever seen! Untuk lebih lengkapnya lebih baik kita ikuti kisah Ivana dari awal.

Endang dan Pak Usep duduk mengapit Ivana masing-masing di kanan dan kirinya. Ivana terlihat tegang sekali. Beberapa kali dia memanggil-manggil namaku.

“Kenapa, Na. Kok sekarang tegang gitu… Katanya mau ngebalas pacar lu itu!” kataku.

“Oh, jadi Neng udah punya pacar yah!” kata Pak Usep.

“Ngga, baru putus kok,” jawabnya malu-malu

“Putusnya kenapa Neng ?” tanya Endang.

Ivana cuma menggeleng tanpa menjawabnya.

“Udah ah, lu. Kalau ga mau dijawab jangan maksa!” kata Pak Usep pada rekannya.

“Eh, Neng, sama pacar yang dulu pernah ngentotan ga?” tanya Endang cengengesan.

Rona merah jelas sekali pada wajah Ivana yang putih mulus. Dia hanya mengangguk pelan sebagai jawabnya sambil tersenyum malu-malu.

“Kalo gitu pernah diginiin dong, Neng, hehehe!” Pak Usep tertawa-tawa meremas buah dada Ivana.

“Diginiin juga pernah!” Endang meraih selangkangannya dan meremasnya dari luar.

Ivana menjerit kecil sambil tertawa geli karena kejahilan tangan mereka. Pak Usep makin gemas memijati payudaranya. Si Endang sengaja meniupkan udara ke kupingnya untuk memambangkitkan birahinya perlahan-lahan sambil tangannya membantu Pak Usep meremas payudara yang satunya. Ivana hanya diam menikmatinya dengan mata terpejam. Keduanya mulai menyingkap kaosnya. Ivana sepertinya menurut saja. Dia mengangkat lengannya membiarkan kaos itu dilolosi. Dia tinggal memakai bra warna krem dan celana panjang selututnya.

“Ini dibuka aja ya, Neng,” pinta Endang.

Ivana mengangguk, maka Endang pun dengan cekatan membuka bra-nya sehingga dia telanjang dada. Endang langsung melumat yang kanan dengan rakus.

“Pentilnya bagus ya, Neng. Kecil, merah lagi,” komentar Pak Usep sambil memilin-milin putingnya.

Pak Usep menjulurkan lidahnya, lalu menyapukannya telak pada leher jenjang Ivana, membuatnya merinding dan mendesis. Dia meneruskan rangsangannya dengan mengecup lehernya membuat tanda kemerahan di situ. Rambut Ivana yang terikat ke belakang memudahkannya menyerang daerah itu.

Tangannya pun tak tinggal diam, terus bergerilya di dada kirinya dan pelosok tubuh lainnya. Mendadak Pak Usep menghentikan kegiatannya dan memanggil Endang yang lagi asyik nyusu dengan mencolek kepalanya.

“Eh, Dang, kita taruhan, yu. Yang menang boleh ngentot si Neng duluan!” tantangnya.

“Taruhan apaan, Pak. Saya mah ayu aja.”

“Coba tebak, si Neng ini jembutan ga?” tanyanya dengan nyengir lebar.

Muka Ivana jadi tambah memerah karena kenakalan mereka ini. Aku juga jadi terangsang dibuatnya. Suatu sensasi tersendiri menonton mantan pacarku ini dikerjai orang lain.

“Hmmm…ada ga, Neng?” tanya Endang sambil menatapi selangkangan Ivana.

“Eee… nanya lagi, orang disuruh tebak!” omel Pak Usep menyentil kepalanya. Ivana senyum mesem dan bilang tidak tahu menjawab si Endang.

“Ada aja deh!” tebak si Endang.

“Yuk kita tes, bener ga!” kata Pak Usep dengan menyusupkan tangannya ke balik celana Ivana.

“Eemmhhh…” desis Ivana saat merasakan tangan Pak Usep merabai kemaluannya.

“Weleh…sialan. Bener juga lu, Dang!” gerutunya karena ternyata kemaluan Ivana memangnya berbulu, lebat lagi.

Endang tersenyum penuh kemenangan karena dapat giliran pertama merasakan tubuh Ivana. Mereka pun kembali menggerayangi tubuhnya. Tangan Pak Usep tetap di dalam celananya mengobok-obok kemaluannya sejak mengetes tadi. Endang mulai membuka sabuk yang dikenakan Ivana dan menurunkan resletingnya. Sebelumnya dia menyuruh Pak Usep menyingkirkan tangannya dulu.

Cairan vagina membasahi jari-jarinya begitu dia mengeluarkan tangannya dari sana. Endang turun dari sofa dan jongkok di lantai beralas permadani itu untuk menarik lepas celana Ivana. Tampak kemaluan Ivana dengan bulu-bulu yang tebal dari balik celana dalamnya yang semi transparan. Sesaat kemudian pakaian terakhir dari tubuhnya itu dilepaskannya pula. Jadilah Ivana telanjang bulat terduduk separuh berbaring di sofa.

Keduanya tertegun melihat tubuh putih mulus dan terawat di hadapan mereka. Si Endang masih berjongkok di antara kedua paha Ivana. Tentu dia bisa melihat jelas selangkangan berambut lebat yang tampak menggunung dalam posisi demikian.

“Duh, cantik banget sih Neng ini. Bikin saya ga tahan aja!” kata Pak Usep sambil mendekap tubuhnya.

Bibirnya mencium pipi Ivana. Lalu lidahnya keluar menjilati pipi dan hidungnya, menikmati betapa licin dan mulusnya wajah mantan pacarku itu. Belakangan bibirnya dilumat dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, selalu berpindah-pindah mengelusi punggungnya atau meremas payudaranya. Wajah Endang makin mendekati vagina Ivana sambil kedua tangannya mengelusi paha mulus itu. Tubuh Ivana bergetar ketika jemari Endang mulai menyentuh bibir kemaluannya. Pasti dia bisa merasakan nafas Endang menghembus bagian itu. Perlahan-lahan Endang membuka kedua bibir bawah itu dengan jarinya. Erangan tertahan terdengar dari mulut Ivana yang sedang dilumat Pak Usep, keringatnya mulai bercucuran.

“Wah… asyik, saya baru sekarang pernah liat memeknya amoy. Dalemnya merah muda, seger euy!” komentar Endang mengamati vagina itu.

“Pak Usep, mau liat ga nih. Bagus banget, loh!” sahut Endang padanya.

“Hmmm… iya bagus, ya. Kamu aja dulu, Dang. Saya mau netek dulu!” kata Pak Usep sambil mencucukkan sejenak jari tengah dan telunjuk ke vaginanya. Waktu dia keluarkan, cairan lendirnya menempel di jari itu.

Pak Usep mulai menjilati payudaranya mulai dari pangkal bawah lalu naik menuju putingnya. Dia jilat puting itu lalu dihisapnya kuat-kuat, sementara tangannya memilin-milin putingnya yang lain.

“Hhhnngghh… Mang, oohh!” Ivana mendesah menggigit bibir sambil memeluk erat kepala Pak Usep.

Ivana makin menggelinjang saat wajah Endang makin mendekati selangkangannya.

“Aaaahh…!” desahnya lebih panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, kedua pahanya mengapit kepala Endang.

Pemuda itu telah menyapu bibir vaginanya, lalu lidah itu terus menyeruak masuk menjilati segenap penjuru bagian dalam vaginanya. Klitorisnya tak luput dari lidah itu sehingga tak heran kalau desahannya makin tak karuan, saling bersahut-sahutan dengan desahan Santi yang saat itu baru ditusuk Mang Obar.

“Oi, kalian berdua kok belum buka baju, sih. Kasih liat dong kontolnya ke Neng Ivana. Pasti dah ga sabar dia!” kataku pada Endang dan Pak Usep.

Pak Usep nyengir lalu dia membuka kaos berkerah dan celananya hingga bugil. Dia menggenggam penisnya yang tebal dan hitam itu memamerkannya pada Ivana.

“Nih, Neng, kontol Mamang gede ya, sama pacar Neng punya gede mana?” tanyanya sambil menaruh tangan Ivana pada benda itu.

“Gede yah, Mang… keras,” jawab Ivana yang tangannya sudah mulai mengocoknya.

Ivana yang tadinya malu-malu, hilang rasa malunya saking terangsangnya. Sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitar. Yang dipikirkannya hanya menyelesaikan gairah yang sudah membakar demikian hebat itu.

Hampir sepuluh menit berlalu, tapi Endang masih seperti kelaparan. Belum berhenti menjilati vaginanya sementara Ivana sudah mengapit dan menggesek-gesekkan pahanya pada kepala Endang menahan birahinya yang meninggi.

“Cepetan, dong. Kan kamu harusnya nusuk duluan. Kalo ngga mau, saya tusuk juga nih!” kata Pak Usep yang tidak sabar ingin segera menyetubuhi Ivana.

“Iya sabar atuh Pak, ini udah mau nih,” kata Endang yang mulai menanggalkan pakaiannya.

“Yuk, Neng. Basahin dulu, nih… isep!” Dia sodorkan penisnya ke mulut Ivana sambil memegangi kuncirnya.

Ivana agak ragu memasukkan penis Endang ke dalam mulutnya. Mungkin agak jijik kali karena belum pernah merasakan yang sehitam itu. Namun Endang terus mendesaknya. Apalagi dengan kepala dipegangi seperti itu, akhirnya dengan terpaksa Ivana membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk.

Sebentar kemudian Endang mengeluarkan penisnya dari mulut Ivana. Diangkatnya kaki Ivana ke sofa. Dia kini terbaring di sofa dengan kepala bersandar pada perut tambun Pak Usep. Endang memegang miliknya dan mengarahkannya ke vagina Ivana. Pelan-pelan mulai memasukinya, tubuh Ivana menekuk ke atas.

“Aaakkhh…!” demikian keluar dari mulutnya hingga penis Endang mentok ke dalam vaginanya.

Endang pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan kemudian makin lama makin cepat. Endang melakukannya dalam posisi satu kaki naik sofa dan kaki lainnya berdiri menginjak lantai. Kedua tangannya memegangi betis Ivana.

“Ah-ah-ah….uuhh…!!” desah Ivana dengan mata terpejam

“Enak ya, Neng?” kata Pak Usep dekat telinganya.

Sejak Endang menggenjot Ivana, Pak Usep terus saja menyangga tubuhnya sambil menghujani leher, telinga, dan payudaranya dengan ciuman dan jilatan. Kini dia sedang mengulum daun telinga Ivana dan tangannya meremas kedua payudaranya. Tentu puting Ivana sudah sangat keras karena dari tadi dimain-mainkan. Ivana sendiri tangannya menggenggam penis Pak Usep. Dia mengocok-ngocok penis itu karena horny-nya. Kedua kakinya menjepit pinggang Endang, seolah minta disodok lebih dalam lagi.

Tanpa mencabut penisnya, Endang memiringkan tubuh Ivana sehingga posisinya berbaring menyamping. Satu kakinya dinaikkan ke bahunya. Wow…seru sekali melihat paha Endang bergesekan dengan paha mulus Ivana dan penisnya keluar masuk dari samping. Pak Usep menempelkan penisnya ke wajah dan bibir Ivana, memintanya melakukan oral seks. Ivana masih sangat risih memasukkan benda itu dalam mulutnya. Ia hanya berani mengocoknya dengan tangan. Sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan penis Endang di mulutnya tadi.

Belakangan dia bilang ke aku bahwa dia memang tidak terbiasa dengan penis hitam dan berbau tidak enak seperti itu. Dia juga tidak suka dengan cara mereka yang suka maksa tidak tau diri. Makanya dia tidak pernah mau lagi ngeseks dengan orang-orang kaya gitu. Cukup kali ini saja. Pertama dan terakhir, demikian tegasnya.

“Jilatin dong, Neng. Jangan cuma main tangan aja!” pinta Pak Usep tidak sabar merasakan mulutnya.

“Ngga Mang… jijik… ga mau.. ahh!” gelengnya dengan sedikit mendesah.

“Lho, gimana sih si Neng ini. Tadi kan dia dikasih, masa saya ngga?”

“Ayo dong, Neng. Sebentar aja kok!” Pak Usep terus mendesak dengan menekan kepalanya dengan tangan kanannya ke penis yang dipegang dengan tangan kirinya. Penis itu pun akhirnya memasuki mulut Ivana. Karena mulutnya mengap-mengap mendesah, kesempatan itulah yang dipakai Pak Usep menjejalkan penisnya. Sesudah penisnya terbenam di mulut Ivana, Pak Usep memaju-mundurkan kepalanya dengan menjambak kuncirnya.

“Emmhh.. eehmm… Mang… saya… mmm!” Ivana berusaha protes tapi malah tersendat-sendat karena terus dijejali penis.

“Mmmm… gitu dong, Neng, baru namanya anak manis. Udah lama Mamang ga diginiin, uuh!” Pak Usep melenguh dan merem-melek keenakan dioral Ivana.

Kalau saja ada orang berani berbuat seperti itu padanya setengah tahun lalu, pasti sudah kuhajar sampai masuk ICU. Tapi sekarang berbeda, aku malah terangsang melihat bekas pacarku ini diperlakukan demikian sehingga aku makin cepat mengocok penisku. Apalagi waktu itu Santi juga sedang main kuda-kudaan diatas penis Pak Andang sambil mengoral penis Mang Nurdin dengan bernafsu.

Akhirnya Ivana orgasme duluan. Badannya berkelejotan dan dari mulutnya terdengar erangan tertahan. Pak Usep rupanya cukup pengertian, dia melepaskan dulu penisnya dari mulut Ivana dan membiarkan Ivana menikmati orgasmenya secara utuh. Badannya menegang beberapa saat lamanya. Pak Usep menambah rangsangannya dengan meremasi payudaranya. Sambil orgasme Ivana memegang erat-erat lengan kokoh Pak Usep yang mendekapnya hingga tubuhnya lemas dan terbaring dalam dekapan pria tambun itu.

Endang pun menyusul sekitar tiga menit kemudian, sodokannya makin dahsyat sampai akhirnya dia melepaskan penisnya dan menumpahkan cairan putih di perut yang rata itu. Si Endang cuma duduk sebentar, minum dan menyeka keringat, lalu dia langsung beralih ke Santi seperti yang telah kuceritakan di atas. Posisinya segera digantikan Mang Obar yang baru recovery setelah istirahat. Pak Usep memberikan minum pada Ivana mengambilkan tissue mengelap keringatnya.

“Euleuh… si Endang teh gimana, buang peju sembarangan aja!” gerutu Mang Obar yang baru tiba melihat ceceran sperma di perut Ivana.

Pak Usep sambil tertawa meneteskan sedikit air dan mengelap ceceran sperma itu sampai bersih. Ivana juga ikut tertawa kecil.

“Udah, gampang, Mang. Dibersihin aja kan beres!” hiburku padanya.

Mang Obar langsung mencumbui payudara Ivana yang masih didekap Pak Usep. Mulutnya berpindah-pindah antara payudara kiri dan kanan.

“Ooohh… oohhh!!” desahnya ketika merasakan putingnya digigit dan ditarik-tarik dengan mulut oleh Mang Obar. Tangan satunya di bawah sedang meremasi bongkah pantatnya yang kenyal. Diremasnya berulang kali sekaligus mengelusi paha mulusnya. Dari pantat, tangannya merayap ke kemaluan. Tubuh Ivana bergetar merasakan kenakalan jari Mang Obar yang mengusap-usap klitoris dan bibir kemaluannya. Di belakangnya, Pak Usep sangat getol mencupangi leher, tengkuk dan bahunya.

“Hehehe… liat nih udah basah gini!” sahut Mang Obar mengeluarkan jarinya dari vagina Ivana.

“Emm… enak pisan!” dijilatinya cairan yang blepotan di jari itu. Kemudian Pak Usep menarik pinggang Ivana, mendudukkannya di pangkuannya dengan membelakanginya, satu tangannya meraih vaginanya dan membuka bibirnya.

“Masukin, Neng. Pelan-pelan!” suruhnya.

Ivana tanpa malu-malu memegang penis itu dan mengarahkan ke vaginanya. Lalu dia menekan badannya ke bawah sehingga penis itu terbenam dalam vaginanya. Namun karena besar, penis itu baru masuk kepalanya saja. Itu sudah membuat Ivana merintih-rintih dan meringis menahan nyeri.

“Duh… sakit nih, Mang. Udah, ya!” rintihnya.

“Wah, kagok dong, Neng, kalo gini mah. Ayo dong dikit-dikit pasti bisa kok!” kata Pak Usep.

“Nanti juga enak kok, Neng. Sakitnya bentar aja!” timpal Mang Obar.

Beberapa kali Pak Usep menekan tubuh Ivana juga menghentakkan pinggulnya. Akhirnya masuk juga penis itu ke vaginanya. Mata Ivana sampai berair menahan sakit. Pak Usep mulai menggoyangkan tubuhnya.

“Arrgghh… uuhhh… sempit amat… enak!” gumam Pak Usep di tengah kenikmatan penisnya dipijat vagina Ivana.

Sementara Mang Obar meraih kepala Ivana. Wajahnya mendekat dan hup… mulut mereka bertemu. Lidahnya menerobos masuk mempermainkan lidah Ivana. Dia hanya pasrah menerimanya. Dengan mata terpejam dia coba menikmatinya. Lidahnya, entah secara sadar atau tidak turut beradu dengan lidah lawannya.

Limabelas menit lamanya batang Pak Usep yang perkasa menembus vagina Ivana, runtuhlah pertahanan Ivana, sekali lagi badannya mengejang dan mengeluarkan cairan kewanitaan membasahi penis Pak Usep dan sofa di bawahnya (untung sofanya bahan kulit jadi gampang dibersihkan). Ivana memeluk erat-erat kepala Mang Obar yang sedang mengenyot payudaranya. Sekonyong-konyong terlihat cairan putih meleleh dari selangkangan Ivana, rupanya Pak Usep juga telah orgasme.

Desahan mereka mulai reda. Keduanya melemas kembali. Nampak olehku ketika Pak Usep melepas penisnya, dari vagina Ivana menetes cairan sperma yang telah bercampur cairan cintanya.

Waktu beristirahat baginya cuma sebentar karena Mang Obar langsung menyambar tubuhnya, menindihnya, dan mengarahkan senjatanya ke liang kenikmatan. Segera saja tubuhnya memacu naik-turun diatasnya. Ivana menggelinjang setiap kali dia menghentakkan tubuhnya. Saat itu Mang Nurdin dan Pak Andang mendekati keduanya untuk menonton lebih dekat adegan panas itu. Mereka menyoraki temannya yang sedang berpacu diatas tubuh mantan pacarku itu seperti menonton pertandingan olahraga saja.

Setelah itu aku kehilangan sedikit adegan karena sedang mengantar Santi ke kamar mandi, maka adegan yang hilang ini kuceritakan berdasarkan penuturan Mang Nurdin yang kuanggap paling akurat.

Dari sofa, Mang Obar menurunkan Ivana ke karpet. Dia berlutut di antara paha Ivana dan terus menyodoknya. Mang Nurdin membungkuk agar bisa mengemut payudara yang menggiurkan itu. Pak Andang berlutut di samping kepalanya dan menjejalkan penisnya ke mulutnya. Sambil diemut, dia memegangi payudara Ivana.

Endang dan Pak Usep yang nganggur kembali mendatanginya. Mereka pun ikut bergabung mengerjai Ivana. Tangan-tangan hitam kasar menggerayangi tubuh mulus itu. Ada yang mengelus pahanya, ada yang meremas payudaranya, ada yang memelintir putingnya. Beberapa diantaranya sedang dikocok penisnya oleh Ivana. Ikat rambutnya sudah terbuka sehingga rambutnya tergerai sebahu lebih. Pemandangan itulah yang kulihat ketika keluar dari kamar mandi.

Lebih dari lima menit dia menjadi objek seks kelima buruhku. Mulanya aku sangat menikmati tontonan ini, terlebih ketika sperma mereka muncrat di tubuhnya. Ada yang nyemprot di dada, perut, dan mukanya. Namun aku mulai merasa kasihan ketika mereka memaksanya membersihkan penis-penis mereka dengan mulutnya. Beberapa bahkan menjejalkan paksa ke dalam mulutnya.

Aku terpaksa turun tangan menyudahinya ketika kulihat air matanya mulai menetes. Aku tahu semasa pacaran denganku dulu dia memang tidak terlalu suka oral seks dan menelan sperma. Jijik, katanya. Apalagi sekarang dengan yang hitam-hitam gitu. Tentu saja aku tidak tega melihatnya dipaksa-paksa sampai menangis.

“Udah-udah Mang, cukup… jangan diterusin lagi, nangis nih dia!” kataku membubarkan mereka.

Kemudian aku sandarkan dia di kaki sofa dan kuberinya minum. Kulap sperma yang membasahi mukanya. Dia memelukku dan menangis sesenggukan. Aku balas memeluknya dan menenangkannya. Tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang masih lengket-lengket.

“Duh… maaf banget, Neng. Abis tadi kita kirain Neng nikmatin. Ga taunya nangis beneran!” kata Mang Obar.

“Iya, kalo tau Neng ga suka ngemut kontol, kita juga ga maksa. Tadi Neng reaksinya malu-malu sih, jadi kita juga tambah nafsu,” tambah Pak Usep.

“Sori, sori, Na. Gua lupa bilang tadi. Abis mandi lu pulang aja yah!” hiburku mengelus-elus rambutnya.

“Ngga, ga papa kok, Win. Gua enjoy, cuma tadi gua kaget aja dipaksa-paksa gitu. Gua kan ga suka oral,” katanya setelah lebih tenang sambil membersihkan air mata.

Legalah kami mendengar dia berkata begitu. Kami kira dia bakal trauma atau shock. Aku lalu menyuruhnya mandi dan membantunya bangkit. Dia pun berjalan sempoyongan ke kamar mandi.

Aku dan para buruhku duduk-duduk di ruang tamu merenggangkan otot. Kupersilakan mereka menyantap snack dan minuman sambil menunggu Sandra. Aku ngobrol-ngobrol tentang pendapat mereka sekalian memberi pengarahan apa yang harus dilakukan untuk menghukum Sandra yang terlambat nanti. Sandra memang bukan type yang malu-malu seperti Ivana, tapi aku tetap harus memperingatkan mereka agar tidak bertindak kelewatan. Aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan gara-gara mewujudkan fantasi gilaku.

“Win, Ivana diapain aja sampe nangis gitu?” terdengar suara Santi bertanya dari belakang. Dia berjalan ke arahku dengan handuk kuning terlilit di tubuhnya, rambutnya masih agak basah.

“Ga, kok. Cuma belum biasa dikeroyok aja. Jadi sedikit… ya gitulah!” jawabku sambil meraih pinggangnya mengajak duduk di sebelahku.

Mang Nurdin mengajak Santi duduk disebelahnya saja, tapi Santi menolaknya.

“Nggak ah Pak, mending simpen tenaga aja buat si Sandra!” tolaknya.

Ketika kami ngobrol-ngobrol, ada yang misscall ke HP-ku, si Sandra. Semenit kemudian disusul bunyi bel. Nah pasti ini dia, pikirku. Aku menyuruh buruh-buruhku sembunyi di dapur dengan membawa pakaian masing-masing. Aku berencana membuat surprise sekaligus hukuman baginya. Kupakai celana pendekku untuk menyambutnya (iya dong, kalau ternyata bukan Sandra, masa aku menyambutnya memakai celana dalam).

“Hai, sori yah, telat,” katanya begitu pintu terbuka.

“Gua jadi ga usah main sama buruh-buruh lu, yah?” tanyanya.

“Udah malam gini, kita baru aja bubar. Masuk!” ajakku. “Ngapain aja seharian tadi?”

“Nge-bowling di BSM. Pada minta nambah game melulu, sih. Kan ga enak kalo gua pulang dulu. Sori banget.”

Sandra orangnya cantik, rambut panjang kemerahan direbound. Tinggi kurang lebih 160 cm. Dadanya tegak membusung 34B, lebih montok daripada Ivana dan Santi. Tampangnya sedikit mirip Vivian Chow, artis HK tahun 90-an itu loh. Dengan modal itu dia pantas bekerja paruh waktu sebagai SPG. Hari itu dia memakai baju putih lengan panjang dengan dada rendah dan rok selutut dari bahan jeans.

“Hi, baru lembur nih!” sapanya pada Santi.

Kubiarkan mereka berbasa-basi sebentar sampai aku menarik rambutnya dari belakang sehingga dia merintih kaget.

“Udah arisannya nanti lagi, kaya ga tau lu punya salah aja!”

“Aww…aduh, ngapain sih sakit tau!” rintihnya.

Mohon pembaca jangan salah paham mengira aku ini psikopat atau apa. Dalam bermain sex dengannya aku memang sering memakai cara kasar, karena dia juga menikmati dikasari. Cuma sebatas main jambak dan tampar sih, tidak sampai masokisme dengan pecut, lilin, dan sejenisnya. Karena dia suka variasi seks kasar inilah aku mengajukan tantangan padanya.

Aku mendekapnya dan menciumi bibir dan lehernya habis-habisan sampai nafasnya mulai memburu. Dia pun mulai meraba selangkanganku. Setelah memberi syarat dengan gerakan tangan ke arah dapur, mendadak aku melepas ciumanku dan menepis tangannya dari selangkanganku

“Heh, dasar gatel. Datang-datang udah pengen kontol. Kalo lu mau kontol, gua kasih lu lima sekaligus!” makiku sambil mendorong tubuhnya hingga tersungkur di lantai. Dia menjerit kecil dan begitu menengok ke belakang, di sana sudah berdiri para buruhku yang bugil yang senjatanya sudah di reload, mengacung tegak siap untuk pertempuran selanjutnya. Sebelum sempat bangun dia sudah diterkam kelima orang itu.

“Heeaaa…sikat !” seru mereka sambil menyerbunya.

“Win… sialan lu, gila!!” jeritnya.

“Huehehehe… tenang, San. Gua masih nyisain buat lu, kok. Kan lu suka dikasarin. Coba deh biar tau rasanya diperkosa, dijamin sensasional abis!” aku menyeringai padanya. Sandra meronta-ronta, tapi dia tidak bisa menghindar karena kedua kaki dan tangannya dipegangi mereka, malah itu hanya menambah nafsu mereka. Mereka tertawa-tawa sambil mengeluarkan komentar jorok bagaikan gerombolan serigala melolong-lolong sebelum menyantap mangsanya.

Keributan di sini memancing Ivana melongokkan kepalanya dari kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi. Kupanggil dia, tapi dia bilang nanti, mandinya belum selesai. Pak Usep meremasi payudaranya yang masih terbungkus pakaian.

“Waw…teteknya gede nih, asyik!” komentarnya.

Mang Obar dan Pak Andang yang memegangi kakinya juga tak mau kalah, mereka menyingkap roknya sehingga terlihatlah celana dalamnya yang warna hitam dan pahanya yang putih mulus, tangan-tangan mereka segera mengelus-elus pahanya dan terus naik ke pangkal pahanya, bukan cuma itu, jari-jari itu juga mulai menyelinap lewat pinggir celana dalam itu menggerayangi kemaluannya. Mang Nurdin menyusupkan tangannya lewat bawah kaosnya sehingga dada kirinya menggelembung dan ada yang bergerak-gerak. Si Endang meraih tangan Sandra dan menggenggamkannya pada penisnya.

“Kocok Neng, kocokin yang saya !” suruhnya

“Erwin…mhhpphh…Win…gua…mmm !” desahnya di tengah cecaran bibir Pak Usep yang akhirnya melumat bibirnya.

Aku menyaksikan adegan ini dari jarak satu meteran sambil duduk merangkul Santi.

“Win, dasar kelainan seks lu, tega amat lu ngeliat kita digituin tiko!” katanya sambil mencubit pahaku

“Tapi lu suka kan, gua liat tadi lu hot gitu goyangnya, ngaku lo !” sambil memencet payudaranya.

“Buka ah handuknya ngehalangin aja !” kutarik lepas handuk yang melilit badannya

“Lu juga dong buka, biar adil !” balasnya sambil melepasi pakaianku.

“Sepongin San, sambil nonton si Sandra dismack down nih !” suruhku.

Dengan posisi duduk di sebelahku, dia merunduk menservis penisku, jilatan dan kulumannya menyemarakkan acara yang sedang kusaksikan, seperti popcorn yang menemani nonton di bioskop. Sambil menikmati liveshow dan sepongan, tanganku memijati payudaranya dan menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya.

Rontaan Sandra semakin lemah, dia sudah pasrah bahkan hanyut menikmati ulah mereka. Aku berasumsi dia sudah tenggelam dalam hasrat seksualnya, hasrat terliar dalam dirinya, dia menikmati pagutan bibir Mang Nurdin tanpa ada paksaan, mengocok penis Endang dengan sukarela, juga ketika Pak Usep menempelkan penisnya ke mulutnya, tanpa diminta dia sudah menjilat dan mencium penis itu.

“Telanjangin euy, biar kita bisa ngeliat bodinya !” kata salah seorang dari mereka

“Iya bugilin, bugilin, ewe…ewe !!” timpal yang lain

Mereka bersorak-sorak dan mulai melucuti baju Sandra, pakaiannya beterbangan kesana-kemari hingga akhirnya tak satupun tersisa di tubuhnya yang indah selain arloji, cincin, dan gelang kakinya. Kelimanya memandangi tubuh telanjang Sandra tanpa berkedip.

“Anjrit, kulitnya mulus banget, cantik lagi !” komentar seseorang.

“Wih, teteknya…jadi ga tahan pengen netek eemmm…!” sahut Mang Nurdin yang langsung melahap payudara kanannya

“Sebelah sini juga bagus” sahut Pak Andang membuka lebar kedua belah pahanya.

Bersama Mang Obar dia memandangi daerah kemaluan Sandra yang berbulu lebat dengan tengahnya yang memerah. Keduanya menjilati vaginanya yang mulai becek. Tubuhnya menggelinjang hebat merasakan dua lidah menggelikitik vaginanya. Endang menciumi leher, bahu dan sekitar ketiak, sambil jarinya memilin-milin putingnya. Pak Usep menjilati bagian pinggir tubuhnya sambil tangannya menelusuri punggung dan pantatnya. Sandra hanya bisa menggeliat-geliat dikerubuti lima buruh kasar, mulutnya mengeluarkan suara desahan. Saat itu Ivana baru selesai mandi, dia menjatuhkan pantatnya di sebelahku, seperti Santi tadi dia juga memakai handuk melilit badannya, rambutnya masih agak basah.

“Buka ah ! ngapain sih malu-malu gitu!” kataku menarik lepas handuknya.

Bekas cupangan memerah masih nampak pada kulit payudara dan lehernya yang putih, kurangkul tubuhnya yang mulus itu di sisi kiriku. Santi tidak terlalu menghiraukan kedatangan Ivana, dia terus saja menjilat penisku dengan gerakan perlahan sambil memijat lembut buah pelirnya

“Kasian ih, masa lu tega si Sandra dikeroyok gitu !” kata Ivana.

“Santai aja Na, Sandra kan ga kaya lu, dia sih enjoy aja dikasarin gitu, dah biasa” jawabku santai.

“Ooo… ga kaya gua yah !” sehabis berkata dia langsung menyambar putingku dan menggigitnya

“Adawww…!!” jeritku refleks menepis kepalanya.

“Jahat ih, keras gitu masa gigitnya, putus nanti” kataku mengelus-elus putingku yang nyut-nyutan digigitnya.

Dia malah tertawa melihatku begitu, si Santi juga ikutan ketawa.

“Lho, kan ke Sandra lu bilang suka main kasar, baru digituin aja dah kaya disembelih hihihi !” Santi mengejekku.

“Ini sih bukan kasar, tapi sadisme gila,” gerutuku.

“Dah ah, lu terusin aja sana, jangan ngeledek ah!” kutekan kepalanya ke bawah.

“Sini lo !” kusambar tubuh Ivana yang masih cekikikan ke pelukanku.

Dengan bernafsu kupaguti lehernya dan payudaranya kuremas-remas sehingga dia mendesah-desah kenikmatan.

Bukan cuma menjilat, Mang Obar juga memasukkan jarinya ke liang vagina Sandra, diputar-putar seperti mengaduknya sementara lidahnya terus menjilati bibir vaginanya. Setelah puas menjilat, Mang Obar menyuruh Pak Andang menyingkir, dia angkat sedikit pinggul Sandra dan menekankan penisnya pada belahan kemaluan itu, dia melenguh ketika kepala penisnya sudah mulai masuk, lalu ditekan lagi dan lagi. Sandra menahan nafas dan menggigit bibir merasakan benda sebesar itu menyeruak ke vaginanya.

“Aaakkhh !” erangan panjang keluar dari mulut Sandra saat penis Mang Obar masuk seluruhnya dengan satu hentakan kuat.

Penis itu keluar-masuk dengan cepatnya, suara desahan Sandra seirama dengan ayunan pinggul Mang Obar. Desahan itu sesekali teredam bila ada yang mencium atau memasukkan penis ke mulutnya.

“Hehehe…liat tuh teteknya goyang-goyang, lucu ya!” sahut Pak Usep memperhatikan payudara yang ikut tergoncang karena tubuhnya terhentak-hentak

“Mulutnya enak, hangat, terus Neng, mainin lidahnya!” kata Endang yang lagi keenakan penisnya diemut Sandra.

“Uuuhh…uuhh…iyahh !” jerit klimaks Mang Obar, penisnya dihujamkan dalam-dalam dan menyemprotkan spermanya di dalam sana.

Posisi Mang Obar segera digantikan oleh Pak Andang, dia melakukannya dalam posisi sama dengan rekannya tadi sambil tangannya menggerayangi pahanya dengan liar. Sementara Endang mengerang lebih panjang, wajahnya mendongak ke atas dan meringis. Rupanya dia telah orgasme dan spermanya ditumpahkan ke mulut Sandra, dia menyedotnya, namun sebagian meleleh keluar bibirnya, dikeluarkannya sebentar untuk dikocok dan diperas, maka sperma itu pun nyiprat ke wajahnya. Kemudian dijilatnya lagi penis Endang yang mulai menyusut membersihkannya dari sisa-sisa sperma. Tugas Sandra menjadi sedikit lebih ringan setelah dua orang yang telah dibuatnya orgasme menyingkir, keduanya kini terduduk di pinggirnya, memulihkan tenaga sambil sesekali megang-megang tubuhnya. Tubuh Sandra menggelinjang merasakan sensasi yang selama ini belum dia rasakan, tangannya yang menggenggam penis Pak Usep nampak semakin gencar mengocoknya sehingga pemiliknya melenguh keenakan.

“Aahhh…emm…gitu Neng, enak…oohhh!” sambil tangannya meremasi payudaranya.

Mang Nurdin yang tadi menyusu sekarang mulai menciumi perut Sandra yang rata, tangan kirinya memainkan putingnya, tangan kanannya mengelus pantatnya.

Saat itu aku sedang menikmati penisku dipijati oleh cengkraman vagina Ivana yang duduk di pangkuanku dengan posisi membelakangi. Aku membiarkannya mengendarai penisku sementara aku menikmati Sandra digangbang, menonton sambil melakukan, suatu kenikmatan seks yang sejati. Kudekatkan wajahku ke lehernya dan kuhirup aroma tubuhnya, hhmm..wangi, habis mandi sih, di lehernya masih membekas cupangan mereka, tapi aku tak peduli, kulit lehernya yang mulus kuemut dan kugigiti pelan membuatnya semakin mendesah kesetanan. Tangan kiriku mendekap Santi sambil memutar-mutar putingnya, tapi kemudian Santi bangkit dan berdiri di hadapan kami, dia dekatkan kemaluannya pada Ivana, tanpa disuruh Ivana menjilatinya.

Santi mendesah menikmatinya, dipeganginya kepala Ivana, seolah meminta dia tidak melepaskannya. Aneh si Ivana ini, kalau diminta mengoral punya cowok susah, harus dibujuk-bujuk baru terpaksa diiyakan, tapi ini ke sesama jenisnya tanpa disuruh kok mau, mungkin sih akibat terlalu horny, tapi peduli amat ah, yang penting enjoy aja (emang iklan LA Light ?). Kuminta Santi menepi sedikit karena sempat menghalangi pandanganku terhadap Sandra. Ruang tamuku jadi dipenuhi oleh desah birahi yang sahut menyahut.

Sandra kembali orgasme oleh genjotan Mang Obar, badannya lemas bercucuran keringat, namun mereka terus menggumulinya. Gerakan Mang Obar semakin cepat dan menggumam-gumam tak jelas, tapi sebelum spermanya keluar, dia mencabut penisnya dan langsung menaiki dadanya.

“Misi, minggir dulu dong, tanggung nih, pengen ngentot pake teteknya sebelum ngecret !”

Segera dia jepitkan penisnya diantara dua gunung kembar itu lalu digesek-gesekkannya penisnya disana dengan lancar karena sudah licin oleh cairan cinta. Tak sampai tiga menit spermanya sudah muncrat, cipratannya berceceran di dada, leher, wajah dan sebagian rambut Sandra. Setelahnya dia menyuruh Sandra menjilati penisnya hingga bersih mengkilat. Dua orang lagi yang masih menggumulinya, Mang Nurdin dan Pak Usep, mengangkat tubuhnya dan membaringkannya ke kasur udara tempat Santi digarap. Mang Nurdin membalikkan tubuh Sandra hingga telungkup, pantatnya diangkat hingga menungging, dengan posisi ini dia memasukkan penisnya ke vagina Sandra dari belakang. Disodokkannya benda itu berkali-kali dengan keras, sehingga Sandra mengerang makin histeris.

Pak Usep tidak meneruskan aktivitasnya dengan Sandra, dia meninggalkannya berduaan dengan Mang Nurdin. Sementara dia sendiri menghampiri kami dan kedua tangan gemuknya melingkari perut Santi dari belakang, agaknya dia masih penasaran karena belum sempat menikmati Santi. Telapak tangannya bergerak ke atas membelai payudara Santi, sedangkan yang satunya ke bawah membelai kemaluannya, mulutnya mencupangi bahunya. Santi memejamkan mata menghayati setiap elusan tangan kasar itu pada bagian-bagian sensitifnya, desahan pelan keluar dari mulutnya. Tangannya lalu menarik wajah Santi ke belakang, begitu dia menoleh bibirnya langsung dipagut.

Keduanya terlibat percumbuan yang panas, sedotan-sedotan kuat dan permainan lidah terlibat di dalamnya. Dengan terus berciuman tangan kanannya beraksi di kemaluan Santi, jari-jari itu menggosok-gosok belahan kemaluannya, kadang juga masuk dan berputar-putar di dalamnya. Permainan jari Pak Usep yang lihai membuat tubuh Santi bergetar dan vaginanya melelehkan cairan. Sedangkan tangan kirinya meraba-raba bagian tubuh lainnya, lengan, dada, perut, paha, pantat, dll. Setelah mencumbunya selama beberapa menit, lidah Pak Usep kini menjilati lehernya dan menggelikitik telinganya.

Di pihakku, Ivana menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih kencang, diantara desahannya terdengar kata-kata tak jelas, tanganku juga diraih dan diremaskan ke payudaranya, gelagat ini menunjukkan dia sudah di ambang orgasme.

“Aaahh…Win, dikit lagi nih… enak!” erangnya sambil meremas tanganku.

Aku pun merasa mau keluar juga saat itu, maka kupacu juga pinggulku sampai sofanya ikut goyang, penisku menusuk makin keras dan dalam padanya. Penisku serasa diperas oleh jepitan vaginanya, himpitannya makin lama makin kencang saja. Akhirnya cairan nikmat itu keluar dibarengi desahan yang panjang, aku pun mendapat orgasmeku lima detik setelahnya. Sperma bercampur lendirnya meleleh keluar dari sela-sela vaginanya membasahi selangkangan kami dan sofa di bawahnya. Kami saling berpelukan tersandar lemas di sofa, kubelai-belai lembut rambut dan wajahnya selama cooling down.

“Goyangan lu tambah asyik nih say, bersihin dong pake mulut, boleh ya?” pujiku sekaligus memintanya melakukan cleaning service.

“Nggak mau, lu sendiri aja!” jawabnya sambil manyun.

“Ayo dong say, lu kan baik, please dikit aja, yah…!” mohonku lagi memencet putingnya.

“Ok, tapi cuma bersihin aja yah, ga lebih,” katanya sambil turun dari pangkuanku.

Dia berjongkok diantara kedua kakiku. Dipegangnya penisku, kemudian mulai menjilati sisa-sisa cairan pada penisku hingga bersih.

Di kasur sana, Mang Nurdin menyetubuhi Sandra dengan ganasnya dengan doggie style. Mata Sandra merem-melek dan mendesah tak karuan akibat sodokan-sodokan yang diberikan Mang Nurdin. Mang Obar menghampiri mereka lalu duduk mekangkang di depan Sandra. Tangannya menjenggut rambut Sandra dan menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya, tentu saja benda sebesar dan berdiameter selebar itu tidak muat di mulut Sandra yang mungil. Susah payah Sandra berusaha menyesuaikan diri, pelan-pelan kepalanya mulai naik-turun mengisap benda itu. Desahan tertahan masih terdengar dari mulutnya, pada dinding pipinya kadang terlihat tonjolan dari penis Mang Obar yang bergerak maju-mundur. Mang Obar mengelus punggung dan dadanya sambil menikmati penisnya dikulum Sandra. Mang Nurdin hampir klimaks, genjotannya semakin cepat, tak lama kemudian dia mendesah panjang dengan mencengkram erat bongkahan pantatnya, spermanya menyemprot di dalam vaginanya, ketika dia cabut penisnya, nampak cairan kental itu masih menjuntai seperti benang laba-laba, sebagian meleleh di sekitar pangkal paha Sandra.

Melihat vagina Sandra nganggur, Mang Obar menyuruhnya menghentikan kulumannya dan naik ke pangkuannya. Sandra yang klimaksnya tertunda karena Mang Nurdin sudah keluar duluan segera menaiki penis Mang Obar. Sebelum mulai, pria kurus itu meminta tissue basah pada Endang untuk mengelap ceceran sperma di sekujur tubuh Sandra. Sandra menaik-turunkan pinggulnya dengan gencar di atas penis Mang Obar, payudaranya pun ikut terayun-ayun seiring gerak badan. Pemandangan itu membuat Mang Obar tidak tahan untuk tidak melumatnya, mulutnya menangkap payudara yang kanan dan mengenyot-ngeyotnya, sementara tangannya bergerilya menyusuri lekuk-lekuk tubuh yang indah itu. Keringat sudah bercucuran membasahi tubuh Sandra yang sudah bekerja keras melayani lima pria sekaligus, rambutnya sudah acak-acakan, namun itulah yang menambah pesonanya. Desahan nikmat Sandra memacu Mang Obar untuk terus melahap dada, leher, dan ketiaknya.

Setelah puas melakukan foreplay bersama Santi, Pak Usep menyuruhnya nungging, masih dalam posisi berdiri, Santi mencondongkan badan ke depan dengan tangan bertumpu pada kepala sofa. Santi yang sudah horny berat itu pun tanpa sungkan-sungkan mengulurkan tangan ke belakang membuka bibir vaginanya, gatel minta ditusuk. Mang Obar mengerti bahasa tubuh Santi, dia pun segera melesakkan penisnya masuk ke lubang itu.

“Aarrghh…enak Mang, terus…terus !” jerit Santi

Adegan ini berlangsung tepat di sebelahku sehingga aku dapat mengamati ekpresi wajah Santi yang sedang menikmati sodokan penis Mang Obar, dia merintih-rintih dan sesekali menggigit bibir bawah. dari belakangnya Mang Obar menggerayangi tubuhnya sambil terus menggenjotinya, payudaranya tampak berayun-ayun menggodaku iseng meremas salah satunya. Beberapa kali tubuh Santi tersentak-sentak kalau Mang Obar memberikan sodokan keras padanya. Aku suka sekali melihat wajahnya yang seksi saat itu.

Ivana yang tadi membersihkan penisku kini sudah diajak Pak Andang memulai babak berikutnya. Dia berdiri memeluk Ivana dengan kedua tangan kasarnya, mendekapkan tubuh Ivana ke tubuhnya hingga dada mereka saling melekat “Neng Ivana, mmm..” dengan bernafsu dia memagut bibirnya dan melumatnya Ivana juga balas menciumnya hingga lidah mereka saling melilit, mengeluarkan suara lenguhan, sepertinya dia mau membalas membuatku terbakar api cemburu seperti ketika aku mencumbu Santi di depannya waktu baru datang tadi. Tangan Pak Andang meremas payudaranya dan tangan satunya mengelus punggung hingga pinggulnya. Kemudian dia mengangkat satu kaki Ivana dan menempelkan penisnya di bibir vagina Ivana. Secara refleks Ivana melingkarkan tangan ke leher Pak Andang menahan badannya. Pelan-pelan Pak Andang mendorong pantatnya ke depan hingga penisnya menyeruak ke dalam vagina Ivana. Mereka mendesah hampir bersamaan saat penis itu menerobos dan menggesek dinding vagina Ivana.

Lima menit setelah mereka berpacu dalam posisi berdiri, Pak Andang menghentikan genjotannya sejenak, lalu dia angkat kaki Ivana yang satunya. Sambil menggendong Ivana, dia meneruskan lagi kocokannya, dengan begini tusukan-tusukan yang diterima Ivana semakin terasa hujamannya, kedua payudaranya tampak seksi tergoncang-goncang. Kata Dr. sex Boyke gaya ini disebut monyet memanjat pohon kelapa , hebat juga Pak Andang ini sampai tahu variasi seks yang satu ini. O iya, masukan buat pembaca nih, kalau mau coba gaya yang satu ini kudu liat-liat kondisi loh, kalau cowoknya kurus kecil sedangkan badan ceweknya lebih besar atau bahkan gendut sebaiknya jangan deh, bisa-bisa bukannya nikmat yang didapat malah patah tulang, hehehe…Aku kagum oleh stamina Pak Andang ini, di usianya yang senja dia masih sanggup melakukan gaya ini cukup lama, aku sendiri tidak yakin bisa selama itu, sampai Ivana dibuat orgasme dalam gendongannya. Badannya mengejang dan kepalanya menengadah ke belakang serta mendesah panjang, dari selangkangannya cairan hasil persenggamaannya menetes-netes ke lantai. Tubuhnya yang lunglai mungkin sudah jatuh kalau tangan Pak Andang yang kokoh tidak memeganginya.

Pada saat yang sama, Mang Obar baru menuntaskan hajatnya terhadap Sandra. Keduanya klimaks bersamaan, dia mencabut penisnya lalu isinya ditumpahkan ke wajah Sandra, tidak sebanyak sebelumnya memang tapi lumayan membasahi wajahnya. Endang yang sudah siap bertarung lagi mendatanginya, dipeluknya Sandra dan dicium-cium bagian-bagian tubuh sensitifnya sambil memberinya waktu untuk mendinginkan vaginanya yang kepanasan. Mang Nurdin menghampiri Santi yang sedang dikerjai Pak Usep.

“Yuk Pak, siap action lagi nih? Gabung aja!” kataku mempersilakannya bergabung dengan mereka.

“Iya dong, bos, saya kan belum sempat nyoblos si Neng ini tadi, hehehe…!” katanya berkalakar.

Dia menyusup dan duduk di antara Santi dan sofa, tangan Santi dipindahkan ke bahunya yang lebar. Mulutnya menangkap salah satu payudara Santi yang berayun-ayun, dengan nikmatnya dia menyedot-nyedot benda itu sambil meraba-raba tubuhnya. Di sisi lain, Ivana sedang sibuk melayani Pak Andang dan Mang Obar, tubuhnya terbaring di sofa dijilati dan digerayangi mereka.

Aku duduk sambil mengocok penisku menyaksikan pertempuran tiga mahasiswi melawan lima buruh kasar itu. Sungguh pemandangan yang membangkitkan nafsu, pembaca bisa bayangkan tiga orang cewek muda keturunan Chinese, cantik, putih, sexy, dan high class sedang digumuli buruh-buruh kasar, hitam, beda ras dan beda status sosial sungguh pemandangan yang sensual bagiku. Kami melupakan sejenak harga diri, martabat, dan perbedaan lainnya demi kesenangan seksual. My fantasy has come true, demikian kataku dalam hati. Tidak puas hanya dengan menonton sementara yang lain melakukan, aku pun mendekati Sandra yang sedang bergaya woman on top diatas Endang. Kupeluk dia dari belakang dan kupegang kedua payudaranya yang bergoyang-goyang.

“Gimana San rasanya digangbang sama mereka San ?” tanyaku dekat kupingnya.

“Sadis…mhh…but it’s pretty cool…aah !” jawabnya terengah-engah.

“Win lu-lu…masukin lewat…uuhh…belakang…yah!”

Mereka berhenti sebentar agar aku bisa memasukkan penisku ke pantat Sandra. Kudorong tubuhnya ke depan hingga agak menelungkup. Aku meringis ketika memasukkan penisku ke duburnya karena sempit sehingga rasanya sedikit ngilu, hal yang sama pun dirasakan oleh Sandra, namun setelah masuk rasanya jadi enak banget. Sandra mendesah-desah merasakan dua penis yang memompa dua lubangnya. Desahannya bertambah seru karena si Endang menjilati payudaranya yang menggantung itu dijilati Endang dari bawah, sedangkan rambutnya kujambak seperti mengendarai kuda. Tanganku yang satu tidak tinggal diam, kadang meremas payudaranya, kadang mengelus punggung dan pantatnya, serta sesekali kutampar pantatnya hingga dia menjerit.

“Harder…harder please, Mang juga dong nyodoknya kencengin!”

Detik-detik terakhir menjelang orgasme, gerakan Sandra semakin liar saja, sodokanku pun kupercepat sesuai yang dimintanya. Akhirnya ditengah sodokan kami yang belum menunjukkan tanda-tanda berhenti dia orgasme yang ke sekian kalinya. Kami terus menggenjotnya tanpa mempedulikannya yang sudah kecapean. Pada akhirnya aku dan Endang menyiram tubuhnya dengan sperma kami, Endang menyiram dada dan perutnya, sedangkan aku menyiram mukanya sampai rambutnya juga kena.

Kulihat sekelilingku yang lain juga sudah hampir selesai. Mang Nurdin bersadar di sofa sambil menengadahkan kepala, di pahanya Santi yang tergolek lemas menyandarkan kepala dengan mata setengah terpejam, tak jauh disebelah mereka Pak Usep juga terduduk lemas memangku betis Santi di pahanya, sambil mengatur nafas, dia mengelusi betisnya yang mulus. Pak Andang tidak terlihat karena sedang ke toilet. Pertempuran terakhir pun selesai tak lama kemudian, Mang Obar menumpahkan spermanya ke punggung Ivana setelah ber-doggie style di sofa.

Yang tampangnya paling semerawut ya si Sandra, dia sudah dikeroyok dan digilir lima orang ditambah aku lagi. Tubuhnya sudah berlumuran keringat, sperma, dan ludah, belum lagi pantatnya ada bekas tamparanku tadi. Kasihan juga sih melihatnya, tapi dia sepertinya menikmati kok. Dia menggosok-gosokkan sperma itu pada beberapa bagian tubuhnya, juga menjilati yang menempel di jari-jarinya.

Ya, pesta telah berakhir, jam tanpa terasa telah menunjukkan jam delapan kurang sepuluh. Aku memberi uang rokok pada kelima buruhku sebelum mereka berpamitan pulang.

Ivana dan Santi terpaksa harus mandi lagi karena badannya berkeringat dan lengket-lengket lagi. Agar tidak mengantri kamar mandi, aku memakai kamar mandi di kamar papa-mamaku yang ada bath tub marmernya, itulah kamar mandi terbesar di rumahku. Asyik deh rasanya, berendam di bath tub bersama ketiga cewek cantik ini, disana kami saling gosok badan, ciuman, pegang-pegangan, di-Thai massage lagi sama si Santi, wah serasa jadi kaisar aja deh.

Habis makan malam Ivana pulang menumpang mobil Santi karena sudah ditelepon dari rumahnya. Sandra juga tadinya mau pulang, tapi kuminta dia nginap saja disini supaya bisa menemaniku yang sehari-hari kesepian ini, mumpung dia anak kost dan besoknya libur hari kemerdekaan. Akhirnya dia setuju juga setelah kumohon-mohon. Malam itu kami tidur telanjang di bawah selimut yang lembut, tapi tidak ML, cuma pegang-pegangan dan ciuman saja, cape kan tadi sore sudah lembur gitu, setelah ngobrol-ngobrol dikit langsung tertidur.

Keesokan harinya libur, aku banyak menghabiskan waktu bersamanya, bangun pagi-pagi kami sudah melakukannya di kamar mandi, sepanjang hari itu kami telanjang bulat di rumah dan sebagian besar terisi dengan permainan seks di segenap pelosok rumah, mulai dari kamar, dapur, taman belakang hingga meja makan. Sejak mengadakan liveshow itu aku sebenarnya ingin mengadakan kembali acara seperti itu tapi sebaiknya jangan sering-sering deh takutnya kalau banyak yang tahu. Tidak baik juga buatku dan teman-teman cewekku itu.

TAMAT

Kesepian Seorang Istri

Copyright 2002, by Ozzy Arg (ozzy_arg@yahoo.com>)

(Istri Selingkuh)

Kisah ini terjadi saat aku dan suamiku pindah ke suatu daerah di Sumatera Selatan. Sebagai pengusaha yang sukses, suamiku membuka sebuah perkebunan di daerah itu. Sedang kedua anak kami kutitipkan di tempat neneknya di Padang.

Di kota ini aku tinggal dan sengaja ikut suami. Sebagai pengusaha, ia ingin kudampingi sehingga tidak merepotkannya untuk pulang pergi ke Padang menemuiku. Anakku yang pertama berumur 6 tahun dan yang kedua berumur 5 tahun. Sekali sebulan aku pulang menemui kedua anakku.

Di rumahku kini aku tinggal dengan dua orang pembantu. Yang satu perempuan, sementara satunya lagi seorang laki-laki yang bertugas menjaga rumah sekaligus membersihkan mobil dan taman di rumahku ini.

Laki-laki itu namanya Oding. Ia dipekerjakan oleh suamiku karena di daerahku ini amat sering terjadi perampokan. Masyarakatnya pun masih terbelakang. Pak Oding sangat disegani oleh masyarakat desa ini. Umurnya 52 tahun. Badannya sangat kekar. Hanya kakinya yang pincang sebelah akibat berkelahi dengan perampok beberapa tahun yang lalu. Para perampok itu berhasil dikalahkannya. Hanya saja satu kakinya pun menderita kelumpuhan akibat bacokan.

Setiap minggu, suamiku pergi ke perkebunan selama 1-2 hari dan bermalam di base campnya. jadi aku terpaksa tinggal sendirian di rumah ini bersama kedua pembantuku. Letak rumahku di desa ini jauh dari pemukiman penduduk lainnya. Tidak heran jika malam hari amat sepi dari kebisingan.

Saat ini umurku menginjak 29 tahun dan suamiku 31 tahun. Kami dulunya kuliah bersama-sama. Suamiku memilih jadi pengusaha dan aku disarankannya menjadi ibu rumah tangga, karena segala kebutuhan hidupku telah tercukupi olehnya. Suamiku amat pengertian dan mencintaiku. Hampir dua kali seminggu kami selalu melakukan hubungan suami istri yang sering membuatku puas dan orgasme. Ini membuatku tambah mencintainya. Meskipun telah memiliki dua orang anak namun kami tetap mesra dan hangat.

Suatu saat suamiku sedang ke Jakarta untuk beberapa hari. Terpaksalah aku tinggal dan ditemani kedua pembantuku. Saat itu aku merasakan ada yang lain pada diri pembantuku yang laki-laki. Pak Oding sering mencuri pandang terhadapku. Sebagai majikannya, aku anggap bisa saja namun lama-kelamaan aku merasa jengah juga.

Aku maklum, sebab sebagai laki-laki normal, Pak Oding tentu juga memiliki nafsu dan keinginan, namun aku tidak mungkin berselingkuh dengan pembantuku. Aku tidak mau mengkhianati suamiku.

Suatu saat, ketika aku mau ke pasar dengan menyetir mobilku, Pak Oding mencuri pandang ke arah dadaku, yang saat itu agak rendah belahannya. Bulu kudukku agak merinding melihat matanya yang melotot memandang dadaku.

Suamiku, karena kesibukannya, kini jarang sekali memberiku nafkah batin. Sebagai wanita normal, aku sebetulnya menginginkannya. Pada malam hari, suamiku mulai selalu pulang dalam keadaan capai dan terburu-buru.

Suatu hari, suamiku kembali ke perkebunan. Diperlukan waktu 4 jam untuk pergi ke sana. Hari itu cuaca hujan disertai guntur, namun suamiku tetap pergi karena ada yang perlu ia atur dengan para petani di perkebunan.

Malam itu, aku tidur sendiri di kamarku yang cukup luas. Aku tak bisa tidur. Gairahku menghentak-hentak. Aku menjadi pusing dan mencoba keluar kamar untuk minum, dengan harapan akan dapat menurunkan gairahku.

Di ruang belakang, aku mendengar suara televisi hidup. Aku pun pergi ke situ. Rupanya Pak Oding belum tidur dan masih nonton. Sedangkan pembantuku yang wanita tadi siang pulang ke kampungnya karena ada keperluan. Jadi di rumah itu sekarang yang ada hanya aku dan Pak Oding.

Lalu kusapa dia, “Oooo, Pak Oding belum tidur ya?”

“Belum, Bu… Acaranya bagus, nih,” katanya lagi, sambil tiduran di lantai.

Lalu aku ikut duduk juga di lantai yang beralaskan permadani itu untuk nonton. Saat itu aku mengenakan kimono tidur.

“Bu, Bapak pulangnya kapan? Udah malam kok belum juga pulang?” kata Pak Oding.

“Besok, Pak,” kataku, “Ada urusan penting di perkebunan.”

“Oooo…” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Lalu ia berkata, “Kasian juga Ibu tinggal sendirian. Malam lagi… Apa ndak takut, Bu?”

“Oooo….. Nggak lah, Pak… Kan ada Bapak…. yang menjaga,” jawabku.

Dueeeerrrrrrrrrrrr!!!!!!… Terdengar bunyi petir yang diiringi hujan dan angin badai. Aku agak takut juga, namun tidak kuperlihatkan. Terbayang olehku kalau-kalau Oding memperkosaku saat ini.. Ihhhh ngeri, pikirku. Lalu aku beranjak ke kamarku…

“Kemana, Bu?” Tanya pak Oding.

“Saya tidur dulu…” Jawabku.

“Awas lho, Bu… Ada hantunya…!” katanya.

“Husyyyyy… Bapak ini koq nakutin saya?” kataku.

“Bukan begitu, Bu. Kan Ibu dengar sendiri bunyi itu,” katanya lagi.

Aku diam dan coba mendengarkannya… Memang ada suara gemerisik, namun tak jelas apakah karena hujan atau bukan. Aku merasa takut dan minta Pak Oding menemaniku…

“Pak… tidur di kamarku aja.. tapi dilantainya ya?” kataku.

“Baiklah, Bu….” Jawabnya sambil berdiri dan mematikan televisi. Pak Oding berjalan tertatih-tatih, karena kakinya memang pincang. Ia pun masuk kekamarku dan aku berikan sebuah bantal kepadanya. Aku tidur diatas ranjang yang besar dan kosong.

Mataku tak mau terpejam. Oding pun aku lihat belum tidur. Lalu kami bercerita tentang berbagai hal, mulai dari pekerjaanya sampai ke keluarganya di kampung.

“Bu… malam ini apa nggak kedinginan,” tanyanya.

Aku pikir ini pertanyaan yang kurang ajar dari seorang pembantu kepada majikannya.

“Nggak,” kataku singkat.

“Pak Oding Gimana? Mau selimut?” tawarku.

“Tidak usah, Bu,” tolaknya.

Aku turun dari ranjangku dan duduk di lantai dekat Oding.

“Mataku tak mau tidur, Pak”

“Masih takut, Bu?” tanyanya sambil duduk juga dekatku.

Lalu tangannya melingkar di bahuku. Aku kaget dan menepiskannya.

“Jangan, Pak. Saya kan istri Bapak, majikan kamu?” kataku.

“Maaf, Bu,” katanya lagi sambil menjauhkan dirinya dariku.

Namun entah kenapa di malam yang dingin dan suasana yang redup itu, tanpa kusadari, aku akhirnya pasrah dalam pelukan Pak Oding yang adalah pembantuku.

Aku tahu ia sudah lama berminat pada diriku. Aku yang sedang dilanda kesepian akhirnya tergoda juga untuk berhubungan intim dengan Pak Oding. Apalagi suasana saat itu sangat mendukung.

Beberapa saat setelah kutolak, malah aku yang lalu merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Saat itu Pak Oding agak kaget namun ia dengan cepat dapat menangkapnya. Ia pun kembali melingkarkan tangannya di bahuku. Kali ini aku tak menolak. Beberapa waktu kemudian, kurebahkan kepalaku di bahunya yang bidang.

Tampak jelas bahwa Pak Oding sangat senang mendapatkan kenyataan itu. Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung mengerti lampu hijau yang kuisyaratkan padanya. Tangannya pun lalu mulai berani bergerilya ke sekujur tubuhku yang dibalut kimono sutra. Akhirnya aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menolaknya saat ia lepaskan satu per satu kimono tidurku hingga aku tak berpakaian sehelai benang pun.

Di malam itu aku pasrahkan setiap rongga tubuhku yang putih mulus ini untuk dicumbui pembantuku yang sudah tua ini. Malam itu pun aku terima keperkasaan permainan yang disuguhkan Pak Oding kepada tubuhku. Dengan sukarela, malam itu aku disenggamai oleh Oding. Aku pun menikmati setiap hentakan kelamin Pak Oding yang bergerak-gerak di dalam kemaluanku.

Buah dadaku pun tidak luput dari jamahan tangan kasarnya. Malam yang dingin itu, membuat kami bersama-sama sampai di pendakian birahi. Tubuhku dan tubuh pak Oding sama-sama basah oleh keringat dan saling bercampur.

Aku tidak berpikir tentang kekayaan dan wajah laki-laki yang menggauliku malam itu. Yang aku pikirkan adalah kepuasan ragawi yang diberikan pembantuku. Meskipun kakinya cacat namun ia amat perkasa mengaduk-aduk vaginaku.

Ada juga terbersit rasa penyesalan di dadaku karena telah mengkhianati suamiku dan menyeleweng dengan pembantuku yang sudah tua ini. Sampai menjelang pagi Pak Oding tidak henti-hentinya terus mengaduk-aduk kemaluanku dengan penisnya yang panjang dan besar.

Semenjak kejadian itu, aku jadi terperangkap oleh permainan seks yang diberikan Pak Oding. Dengan suatu kode saja, ia akan tahu arti dan keinginanku. Di ranjang yang biasanya aku tiduri dengan suamiku ini, aku serahkan kehormatanku sebagai istri kepada Pak Oding bulat-bulat. Sampai saat ini aku masih selalu menjalaninya bersama dengan Oding saat suamiku ke Jakarta atau ke perkebunan.

TAMAT

Dokter Yang Cantik

Copyright 2002, by eastgloryid@yahoo.com

(Pemaksaan, Istri Selingkuh)

Friska adalah seorang dokter yang biasa dipanggil dengan dokter Riska. Riska baru saja menikah dengan seorang insinyur muda yang bermasa depan cerah dan bekerja di sebuah instansi pemerintah. Sosok Riska amat menawan dan tidak heran banyak pasiennya yang kagum dan simpati kepadanya. Selain cantik, Riska juga tinggi dan memiliki kulit sawo matang, ditunjang dada yang sangat menarik jika dipandang.

Saat ini Riska baru saja berumur 27 tahun dan ia telah menikah  dengan Iwan kurang lebih 1 tahun. Mereka memutuskan untuk menunda dulu punya bayi demi karier Friska dan Iwan. Kehidupan pasangan ini amat mesra dan harmonis. Pasangan ini sama-sama berasal dari lingkungan yang berada dan terpandang di propinsi itu.

Suatu saat Friska mendapat tugas dari kantornya untuk mengabdi di sebuah pulau yang baru saja menjadi kabupaten di propinsi itu. Sebagai dokter yang telah terikat sumpah bakti, maka dengan berat hati ia terima tugas itu, meskipun ia akan berpisah beberapa saat dengan suaminya Iwan. Jarak pulau itu dengan kota propinsi memang agak jauh ditempuh dengan kapal laut perintis sekali seminggu.

Saat pertama Riska menempuh pulau itu, ia diantar Iwan, suaminya. Bagaimanapun Iwan ingin melihat lingkungan tempat kerja istrinya itu. Dokter Friska menempati rumah dinas yang memang agak jauh dari rumah penduduk lain dan dekat dengan puskesmas.

Selama di pulau itu, Iwan selalu menasehati istrinya agar berhati-hati dengan penduduk pulau itu, yang memang masih terbelakang peradabannya. Ia percaya bahwa Friska bisa menjaga diri. Dalam hatinya memang ada sedikit kekuatiran. Selain cantik, hanya Friska wanita yang bertugas di puskesmas itu.

Hampir setiap malam Iwan menyirami batin Friska dengan kemesraan. Ia berharap Friska akan puas sebab tidak setiap saat mereka bersama. Hampir semua cara telah dipraktekkan Iwan untuk melaksanakan kewajibannya kepada Friska dan selalu diakhiri dengan kepuasan bagi keduanya.

Setelah itu tinggallah Friska seorang diri dengan dibantu oleh seorang laki-laki yang bertugas sebagai pengantar ke desa-desa pinggir pulau itu untuk memberikan pelayanan kesehatan. Lelaki itu bernama Salube. Ia penduduk asli pulau itu. Umurnya 58 tahun tapi masih kuat mengayuh biduk perahu, yang selalu membawa Friska ke desa-desa itu. Sosoknya amat tinggi, hitam dan amat ditakuti di pulau itu.

Salube juga memiliki istri 3 orang dan ia amat disegani di pulau itu. Setiap hari Salube selalu menemani Friska ke desa dengan perahunya. Kadang-kadang jika larut malam, Salube tidak pulang ke rumah istrinya karena jauh dan ia menginap di rumah dinas Friska. Ia juga mengetahui sesekali Iwan, suami Friska datang dan bermalam di rumah itu.

Suatu hari Salube tanpa sengaja melihat Friska dan Iwan sedang melakukan hubungan badan. Ia tidak tahu saat itu Iwan ada di rumah. sempat ia melihat kepolosan Friska saat disenggamai Iwan. Sejak saat itu, ia selalu terbayang akan sosok tubuh Friska.

Akhir-akhir ini, setelah kejadian itu, suami Friska jarang datang ke pulau itu dan dan kebetulan pak Salube menanyakannya kepada Friska.

“Buuuk, Bapak Iwan, kok nggak sering lagi ke sini?” tanyanya.

“Oooo… Pak Iwan sekolah lagi ke Jawa… Yahhh kira-kira 4-5 bulan, Pak..” jawab Friska.

“Pantas Bapak nggak kelihatan,” kata Salube.

Sebulan kemudian, suatu malam sepulang dari desa, hari hujan dengan derasnya dan disertai angin topan, untunglah saat itu, Friska dan pak Salube telah sampai dipinggir sungai, lalu dengan basah kuyup mereka berlari kerumah Friska. Sesampai di rumah Friska mempersilakan Pak Salube masuk.

“Masuk aja pak… Ntar saya ambilkan handuk,” kata Friska sambil berlalu ke belakang.

Lalu ia memberikan handuk dan Pak Salube pun membuka pakaiannya yang basah. Sedang Friska ke kamar mandi dan membersihkan badan dan mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian tidur dari sutra. Lalu ia ke depan dan memberikan baju bekas suaminya kepada Pak Salube.

“Dipakai saja baju Bang Iwan ini, Pak,” kata Friska ke Pak Salube.

“Makasih, Bu,” kata Salube.

Lalu Friska ke dapur dan membuatkan kopi panas buat pak Salube. lalu ia keluar dan menghidangkan kopi panas kepada Salube sambil jongkok. saat itu sempat terlihat belahan dada yang tertutup bh oleh Salube.

“Alangkah mulusnya,” gumam Salube dalam hati. Riska saat itu tidak sadar bahwa dadanya sempat diintip Salube. Lalu ia duduk di sofa itu sambil berkata, “Diminum kopinya, Pak?”

“Baik, Buk,” kata Salube.

Lalu Friska berbincang dengan Salube.

“Pak, kalau hujan dan dingin ini apa bisa Pak Salube tidur di sofa ruang tamu saya?” tanya Friska.

“Soalnya kamar hanya satu,” katanya lagi.

“Ooo… gak apa-apa, Bu,” jawabnya.

“Ooo ya, Pak? Saya tidur dulu, ya?” kata Friska.

Sambil bergurau, Salube bilang, “Hati-hati, Bu… Kalau takut.. biar saya temani di kamar..” katanya.

“Ooooo.. jangan, Pak… nanti saya kilaf pak..” kata Friska tak kurang guraunya.

“Sekali-sekali nggak apa, Bu,” kata Salube. “Kan Ibu kesepian?”

“Wahhh… kurang ajar juga orang ini,” kata Friska dalam hati.

“Tidak, Pak..” kata Friska lagi.

Lalu Salube berdiri dan mengikuti Friska ke kamarnya.

“Lho… ada apa, kok Bapak mengikuti saya?” kata Friska.

“Saya tahu Ibu pasti kedinginan dan butuh belaian, sebab Ibu sudah agak lama tidak berhubungan dengan suami Ibu…jadi saya bersedia menggantikan suami Ibu,” kata Salube lagi.

“Keluar!!!!” kata Friska keras.

“Jangan galak, Bu. Nanti kecantikan Ibu habis,” jawabnya lagi.

“Cuma sebentar kok, Bu. Nggak ada orang yang tahu,” kata Salube.

Sedang Friska saat itu dalam hatinya bergolak ingin marah dan menampar muka pak Salube, namun ia tahu, ia hanya seorang diri di malam yang disertai hujan deras itu.

“Buk, saya sudah lama juga ingin campur bersama Ibu..” kata Salube. “Sejak saya melihat ibu dan bapak berdua saat itu.”

“Kalau Ibu tidak mau… saya akan berusaha membuat Ibu mau,” kata Salube.

Saat itu tiada pilihan lain bagi Friska. Memang saat itu, nafsu sexnya sedang kepingin namun ia tidak ingin dengan Salube yang hanya sebagai nelayan, dan dekil. Namun ia tidak ada pilihan lain.

Friska diam saja dan duduk di pinggir ranjangnya. Sementara itu Salube terus masuk ke kamar dan duduk di samping Friska. Lalu ia belai rambut sebahu Friska, sambil menciumi bibir Friska. Riska diam dan menanti apa yang akan diperbuat lelaki nelayan itu.

Salube lalu berdiri, menutup pintu kamar, dan menguncinya. Ia lalu membelai dada Friska. Ia turunkan baju tidur Friska sambil menciumi leher jenjangnya. Setelah baju tidur itu terbuka, ia buka pengait BH yang bernomer 34b itu. Tampak dua gunung kembar yang mulus dan terawat.

Mulut Salube tidak henti-hentinya menggigiti puting susu Friska. Sebelah tangannya lagi turun ke bawah dan mebuka kain penutup goa vagina Friska. Lalu Friska ia baringkan, sedang CD wanita itu ia tarik ke bawah sehingga terbukalah goa kenikmatan yang tertutup bulu halus itu.

Lalu jari Salube memasuki goa itu. Setelah puas memainkan nafsu Friska sehingga Friska sempat orgasme dengan mengeluarkan cairannya, maka Salube pun membuka pakaiannya sehingga mereka sama-sama telanjang bulat. Penis Salube tampak tegak mengacung ingin cepat-cepat masuk ke dalam vagina dokter Friska.

Friska yang telah terbuai nafsu, hanya pasrah dan menanti. Tangannya hanya terbuka… dan dadanya penuh keringat. Lalu Salube membuka paha Friska dan memasukan penisnya yang besar kedalam lobang vagina Friska. Lebih kurang 30 menit Salube memajumundurkan penisnya, barulah ia muntahkan spermanya dalam vagina Friska. Sedang Friska sejak pertama tadi telah klimaks berulang-ulang.

Setelah permainan itu, hampir setiap ada kesempatan Salube dan Friska mengadakan hubungan sex, tanpa ada yang mengganggu. Salube pun dengan senang hati selalu menemani Friska kemana saja. Sampai saat ini Friska dan Salube masih selalu berhubungan.

TAMAT

Dokter Siska

Copyright 2002, by Ayeng Waldesi (awaldesi@yahoo.com)

(Pemaksaan)

Siska adalah seorang dokter yang mendapat tugas PTT di sebuah desa yang terletak di pedalaman provinsi Jambi. Setamat dari kedokteran ia harus bertugas sebagaimana sumpah saat ia diwisuda. Berbagai upaya dilakukan oleh orang tuanya, yang notabene pejabat teras suatu daerah di pulau Jawa. Akan tetapi karena keadaan telah berubah dengan adanya keputusan pemerintah, hal seperti itu tak dapat dihindari.

Siska adalah seorang gadis yang berusia 26 tahun. Keluarganya asli keturunan Manado. Ia berparas cantik dengan rambutnya sebahu dan berkulit putih bersih. Tingginya 165 cm dengan pinggul yang berbentuk dan sepasang kaki yang panjang. Dadanya sesuai dan amat serasi dengan bobot tubuhnya yang 49 kg. Setiap ke kampus ia selalu menyetir sedan All New-nya sendiri.

Dengan sosok secantik itu, tidak heran banyak teman pria di kampus maupun di luar kampusnya yang naksir namun hanya Ryan yang berkenan di hatinya. Ryan adalah tunangannya. Ryan adalah seorang putra pengusaha di kota itu dan sekarang bekerja pada sebuah BUMN di kota itu juga.

Hari pertama Siska di desa itu, cukup jauh perjalanan ia tempuh. Selain langkanya angkutan umum juga perlu ditempuh satu hari perjalanan darat dari kota Siska. Letaknya terisolir. Maklum Siska biasa di provinsi yang telah maju. Siska diantar oleh pegawai kecamatan dan juga diantar oleh sang pacar.

Sesampai di desa itu, Siska diperkenalkan dengan para pegawai klinik. Salah seorangnya bernama Wati. Siska menetap di rumah kepala suku yang kebetulan memiliki dua buah rumah. Siska dikenalkan kepada Pak Bujana yang merangkap kepala dusun desa itu. Pak Bujana amat disegani dan ditakuti di desa itu. Jarak antar rumah di desa itu amat jarang. Mata pencaharian masyarakatnya adalah petani karet. Di rumah kayu Pak Bujana inilah Siska tinggal dan menetap selama ia bertugas.

Sebagai kepala suku, Pak Bujana bertanggung jawab terhadap keselamatan Siska. Pak Bujana adalah lelaki berumur 60 tahun. Ia penduduk asli dusun itu dan memiliki enam orang istri. Tiap istrinya memiliki rumah sendiri, maklum Pak Bujana banyak memiliki tanaman karet.

Siska betugas bersama Wati ke desa-desa memberikan pelayanan kesehatan. Pak Bujana kadang-kadang membantu Siska mengantar ke desa jika Wati sedang tidak bisa. Dengan sepeda motor tuanya Pak Bujana memboncengkan Siska. Untuk tugas kedesa yang jauh Pak Bujanalah yang mengantar dan bertindak sebagai penunjuk jalan.

Suatu ketika Siska pernah diganggu oleh pemuda kampung sebelah. Maklum jalan desa itu hanya setapak dan hanya bisa dilalui sepeda motor, untunglah saat itu Pak Bujana muncul. Ia menantang pemuda itu duel. Karena keberanian dan keahliannya silat maka pemuda itu dapat ia kalahkan. Pemuda itu berjanji tak akan menganggu Siska bertugas lagi. Saat itu Siska amat cemas namun ia lega sebab Pak Bujana memiliki kewibawaan dan ilmu silat, ditunjang kokohnya badan Pak Bujana.

Karena seringnya Siska berboncengan dengan Pak Bujana, ditambah jalan yang tidak mulus dan setapak, tidak heran sesekali dada Siska bergeser pada punggung Bujana. Saat-saat itu selalu membuat desiran dalam dada Bujana. Selain Siska cantik, Pak Bujana merasakan kekenyalan dada Siska. Setiap saat ia bonceng selalu menggoda nafsunya. Siska merasa Pak Bujana adalah sosok yang amat ia segani dan ia merasa terlindungi.

Suatu senja setelah pulang dari tugasnya, Siska mandi dan kebetualn Pak Bujana singgah di rumah Siska. Saat itu Siska baru saja akan berjalan ke kamarnya dengan handuk masih di badannya. Pak Bujana melihat kemulusan bahu dan kulit betis Siska amat bersih dan menambah keinginannya untuk mendekati Siska.

“Oooo… Pak Bujana.. Ada apa, Pak?” kata Siska.

“Nggak, Bu Dokter. Saya cuma ingin mampir saja,” jawab Bujana.

“Duduk dulu, Pak.. Saya baru mandi, nihh… Bentar ya, Pak?” kata Siska.

“Silahkan, Bu.”

Sempat Pak Bujana melihat ke pinggul Siska. Oooohhhhh amat menggodanya…. Ooo.. ia telan air liurnya.

Senja telah beranjak dan Siska pun keluar kamar dengan pakaian kaos longgar dan celana 3/4. selama ia mengantar Siska baru kali ini ia melihat kulit Siska yang putih dan mulus mulai dari bahunya. Siska selama bertugas selalu pakai celana jeans dan baju kemeja dokter jadi semua bentuk tubuhnya tertutup.

Lalu Pak Bujana berbincang-bincang dengan Siska. Karena hari mulai hujan dan angin pun bertiup kencang, maka mereka masuk ke beranda dalam. Siska pun tak lupa menyediakan makanan kecil dan minuman. karena telah akrab maka sesekali mereka ngomong kesana kemari dan kadang masalah seks. Bagi Siska amat lumrah, karena ia dokter dan Pak Bujana bukan orang lain baginya. Ia ladeni terus Pak Bujana berbicara.

Lalu Pak Bujana menggeser duduknya dan ada sesuatu yang membuatnya ingin lebih dekat kepada Siska. Siska pun dengan antusias membiarkan Pak Bujana duduk di sampingnya.

“Bu Dokter?” kata Pak Bujana. “Saya merasa Bu Dokter amat pintar. Apa nggak takut tinggal di rumah ini?”

“Ooo.. nggak, Pak…” kata Siska.

“Oooo… cincin Ibu amat bagus. Coba saya liat,” kata Bujana sambil meraih tangan Siska.

Siska biarkan Bujana meraih tangannya. Namun Bujana bukannya melihat cincin namun meremas tangannya.

Siska kaget dan bertanya.

“Jangan, Pak… Malu saya. Masak Pak Bujana begitu?” katanya.

“Ooo.. maaf, Bu,” kata Bujana.

Lalu Bujana kembali melihat cincin dan berkata.

“Ibu cantik. Kalo saya punya istri seperti ibu ndak saya biarkan kemana-mana,” kata Bujana.

Siska hanya senyum sambil memandang Pak Bujana.

“Jangan lagi lah, Pak. Masa sudah tiga nggak cukup-cukup? Apa Bapak nggak repot harus menggilir dan membagi belanja?” kata Siska.

“Oooo.. tenang aja, Bu… Saya sudah atur, kok,” kata Bujana.

Lalu Bujana melingkarkan tangannya ke bahu Siska. Siska pun melepaskan tangan Bujana itu. Bujana pun maklum, lalu ia dekatkan mulutnya dan ia tiupkan nafasnya ke tengkuk Siska yang di tumbuhi rambut halus sebab saat itu Siska mengikat rambutnya.

Siska bergidik. Ia merasa khawatir dengan sikap orang ini. ia kenal baik dan orang ini seperti ingin sesuatu darinya.

Lalu Siska menjauh. Ia berpikir kalau Ryan pacarnya, yang juga tunangannya, belum pernah berbuat seperti ini. Mereka pacaran pun biasa saja paling hanya cium pipi dan pegang tangan. Naluri wanitanya bangkit, namun menghadapi orang tua seperti Bujana ia harus bijaksana.

Bujanapun lalu terus mendekat kearah Siska, sambil berkata.

“Buuuu… Saya merasa suka dengan Ibu.”

Siska hanya diam.

Lalu Bujana kembali meraih tangannya dan menarik Siska ke pelukannya. Siska ingin berontak namun ia segan dan merasa serba salah. Ia biarkan Bujana memeluknya dan Bujana pun membelai rambut serta memainkan balik telinga Siska.

Karena suasana mendukung dan di rumah itu tiada cahaya listrik, ditambah hari hujan maka Siska pun terbawa hanyut dalam pelukan Bujana yang seusia dengan ayahnya.

Merasa mendapat kesempatan, Bujana tidak menyia-nyiakannya. Ia cium bibir Siska. Sebagai laki-laki berumur, ia amat berpengalaman dalam soal menaklukan wanita, apalagi wanita seperti Siska yang masih mentah dan belum berpengalaman.

Siska terbawa arus gairahnya, sebab Ryan belum pernah seperti itu terhadapnya. Dengan keliaran tangan Pak Bujana, jari Bujana berpindah kedalam blus yang dikenakan Siska. Lalu ia pilin bukit kembar itu.

Siska terhengak. Badannya panas dingin merasakan sensasi itu. Sementara mulut Pak Bujana terus menempel di bibir Siska dan turun ke leher jenjangnya. Meskipun hari hujan dengan derasnya di luar namun badan Siska mengeluarkan keringat.

Lalu Pak Bujana menghentikan aksinya dan terlihat wajah Siska memerah menahan gejolak nafsu sekaligus juga perasaan malu. Ia tahu Siska ingin permainan dilanjutkan namun Bujana ingin sesuatunya aman.

Ia angkat Siska ke kamar yang cukup bersih di rumah kayu itu. Di dalam kamar itu Bujana membaringkan Siska lalu ia berjalan ke luar untuk mengunci pintu rumah serta pintu kamar dari dalam. Siska tergolek di ranjang besi model tempo dulu yang ada di kamar itu sambil menunggu Pak Bujana kembali.

Lalu Pak Bujana kembali memulai aksinya dengan membuka kancing baju Siska. Baju itu ia lepaskan dan terbukalah tubuh bagian atas Siska. Siska hanya mendesis dan memicingkan matanya. Ia merasa malu dan jengah. Setelah baju itu terbuka, terpampanglah sepasang dada putih mulus tertutup BH bermerk Wacoal. Siska memang anak orang kaya yang amat memperhatikan pakaian dalamnya.

Pak Bujana lalu bergerak kebelakang tubuh Siska dan menciumi tengkuk yang ditumbuhi rambut halus itu, lalu turun ke bahu dan leher Siska. Siska hanya merem melek merasakan rangsangan yang mulai naik keubun-ubunnya.

Lalu tangan Bujana yang telah keriput itu, membuka pengait BH berwarna pink itu sehingga terlihatlah dua bukit salju yang puncaknya kemerahan. Pak Bujana yang melihat itu, tau bahwa puting dada Siska belum terjamah tangan laki-laki. Ia tau bahwa ada hentakan dari tubuh Siska saat ia putar puting dada saat itu. Putingnya pun masih kecil dan dengan bernafsu Pak Bujana lalu meremas dan memilin kedua bukit kembar yang ukurannya segenggam tangannya.

Siska hanya melenguh dan keringat mulai membasahi tubuhnya yang putih mulus itu. Kepalanya bergerak ke kiri ke kanan menahan geli dan nafsu. Dengan mulutnya Pak Bujana lalu menjilat puting dada Siska lalu menggigitnya dengan penuh perasaan, membuat dada yang putih itu menjadi merah dan lalu jilatan Pak Bujana turun ke arah perut Siska.

Langkahnya terhalang oleh celana Siska. Dengan tangannya, Pak Bujana menurunkan celana 3/4
itu ke lutut Siska dan lalu ia masuki goa vagina Siska dengan jari tangannya. Di sana ia menemukan hutan yang perawan dan terlindung, lalu ia menemukan goa yang mulai basah. Jari tangan Bujana memasuki goa terlarang itu dan memilin daging kecil yang ada di sela dinding goa Siska.

Siska terperanjat. Buru-buru ia tarik tangan Pak Bujana.

“Jangan, Pak. Sudahlah… Pakk… Yang itu jangan… mohon saya, Pak..” pinta Siska kepada Pak Bujana.

“Itu bukan buat Bapak… cukup, Pak? Saya akan menikah 3 bulan lagi,” kata Siska.

Pak Bujana menghentikan aksinya. Dengan wajah menahan nafsu, ia pandangi Siska. Ia tahu juga bahwa Siska pun sedang menikmati aksinya tadi. Ada bayangan kecewa dari mata Siska, namun Pak Bujana mengerti, bahwa memang sebagai seorang perawan Siska adalah seorang gadis baik-baik. Wajarlah kalau keperawanannya ingin ia persembahkan kepada suaminya kelak yaitu Ryan.

“Bapak… kan sudah mendapatkan apa yang Bapak inginkan. Maaf, Pak… Mungkin Bapak kecewa…” kata Siska.

“Pak.. sampai saat ini pun Bang Ryan, calon suami saya, belum pernah mencium bibir apalagi sampai telanjang seperti ini.. Hanya Bapaklah yang mampu membuat saya bisa sampai seperti saat ini. Maafkan saya, Pak.”

Pak Bujana diam, ia merasa Siska benar, namun ia ingin sekali menuntaskan gelora birahinya… Maka sekali lagi ia peluk Siska yang saat itu bertelanjang dada.

Lalu Pak Bujana meraih bibir Siska dan menciuminya Siska diam saja. Ia tahu Pak Bujana pasti kecewa, ia biarkan saya Pak Bujana kembali bertindak seperti tadi.

Lalu lidah Pak Bujana kembali bermain di rongga mulut Siska dan tangannya meraih dada Siska. Siska membiarkannya. Ia tidak ingin mengecewakan orang tua itu. Lalu aksi Pak Bujana kembali mulai dengan memilin buah dada Siska hingga Siska mau tidak mau bangkit nafsunya. Bujana ingin sekali merenggut kegadisan dokter cantik ini, apapun resikonya. Ia telah setengah jalan.

Lalu Siska kembali ia rebahkan ke kasur itu. Pak Bujana pun membuka busananya. Lalu ia buka kemejanya juga celana panjangnya sehingga Bujana hanya memakai celana dalam saja. Dada Bujana penuh bulu dan wajah Bujana yang keras itu menampakan keinginan yang besar untuk memerawani Siska. Belum pernah ia ditolak oleh wanita. Siska anak kemarin sore harus takluk kepadanya. Itulah prinsipnya.

Lalu ia buka celana 3/4 Siska sampai terlihat CD hijau muda bermerk sama dengan BH-nya. Masih terpasang CD itu, jari Pak Bujana meletakkan jari tangannya di belahan bibir vagina Siska. lalu dari samping CD itu ia masuki goa itu dengan jarinya.

Siska berkali kali merasa lonjakan pada dirinya tanda nafsunya menaik. Pak Bujana tahu, Siska mulai tak sadar akan tindakannya. Lalu CD itu ia turunkan dari selangkangan Siska.

Dengan sebelah tangannya, Bujana membelai bibir vagina dan memainkan klitoris Siska. Siska histeris. Lalu kepala Pak Bujana turun diantara paha Siska dan menjilat kelintit yang telah memerah itu. Inilah yang membuat Siska terpejam matanya dan kakinya menghentak hentak kegelian.

Ada sedikit malu pada dirinya saat itu. Namun rasa itu hilang dengan gelora birahinya. Pak Bujana tahu itulah saat-saat seorang gadis ingin merasakan sorga dunia. Pengalamannya telah biasa seperti itu.

Tidak berapa lama kemudian Siska memuncratkan air maninya keluar sedangkan saat itu lidah Pak Bujana sedang ada di bibir vaginanya. Siska orgasme dan lemaslah seluruh tubuhnya.

Lalu Pak Bujana kembali memilin dada dan bibir vagina Siska. Siskapun tidak mengerti ia hanya pasrah padahal saat itu ia telah melarang Pak Bujana menjamah kemaluannya.

Setelah yakin Siska mulai naik nafsunya, Pak Bujana melihat Siska terpejam dan kakinya menghentak-hentak, maka ia buka CD-nya, sehingga tersembullah sebatang kontol Pak Bujana yang meskipun tampak hitam namun telah 3 orang wanita ia perawani. Penis Pak Bujana tegak perkasa ingin memasuki goa terlarang milik Siska.

Siska merinding melihat panjang dan besarnya penis Pak Bujana yang tegak saat itu. Seumurnya baru kali ini ia melihat yang sebesar itu. Saat ia kuliah dulu ia hanya melihat vital pria yang telah mati dan tidak membuatnya takut.

Perlahan tangan Pak Bujana membuka paha Siska namun Siska merapatkan pahanya. Sebagai perawan ia merasa harus mempertahankannya. Berulang-ulang Pak Bujana berusaha membuka paha Siska. Ia ciumi betis dan jari Siska. Itu pernah ia lakukan saat ia melakukan hubungan seks dengan istrinya saat malam pertama dulu. Ia tahu Siska akan menyerah.

Memang tindakannya itu membuat kedua paha Siska terkuak dan terbuka sehingga tampaklah lobang yang basah dan rapat.

Tangan Pak Bujana mengelus elus paha yang putih itu dengan hati-hati. setelah paha Siska sempurna terbuka lalu ia angkat kedua kaki Siska ke bahunya. Lalu ia ganjal pinggul Siska dengan bantal. Ia berharap penisnya akan lancar saja masuk ke vagina Siska. setelah itu, ia arahkan kepala penisnya.

Siska memejamkan matanya, tidak berani menatap aksi Pak Bujana. Berulang-ulang Bujana mencoba namun terus gagal. Siska pun telah bersimbah keringat sehingga kulitnya jadi mengkilat, ditindih tubuh hitam yang juga berkeringat.

Lalu Pak Bujana membuka kaki Siska agak melebar dan paslah kepala penisnya memasuki dinding perawan itu. Lalu ia raih tangan Siska dan ia pegang keduanya sedang kontolnya telah mulai masuk.

“Aduhhhhhh….. Saaaakitttt, sakitttt… Pakkkk…” jerit Siska.

Bujana menghentikan goyangannya… Ia sadar itulah saat selaput dara Siska robek dan ia lalu perlahan mendorongkan masuk seluruhnya…

“Aduuuukhhhhhhhhh…. Ugghhhhhh…. Ampun, Pak….” jerit Siska.

Lalu Pak Bujana mengulum bibir Siska dengan mulutnya sehingga jeritan Siska tidak membuat pecah konsentrasinya. titik air mata menetes di mata Siska… Ia menangisi…. telah tidak gadis lagi dan kegadisannya direnggut orang lain. Bukan pacarnya.

Lalu… air mata Siska telah bercampur dengan keringat pada wajah dan badannya. Sedang saat itu di luar rumah sedang hujan deras seakan tidak mau kalah dengan kedua makhluk dalam kamar itu.

Berkali-kali Bujana memajumundurkan penisnya keluar masuk lobang yang masih perawan itu. Hal biasa baginya seorang gadis menangisi saat ia diperawani. Memang awalnya sakit namun setelah agak lama hubungan kelamin itu semakin nikmat rasanya. Itu dirasakan Siska. Ia memang masih mentah dalam hubungan seks. Ia pun menuruti gerakan Bujana.

Lalu setelah beberapa menit kemudian Bujana memuntahkan spermanya di dalam vagina Siska. Siska pun dari tadi telah beberapa kali orgasme. Lalu Pak Bujana menghentikan gerakannya dan tetap membiarkan penisnya tertanam di dalam lobang kemaluan Siska. Ia tertidur. Siska pun merasa letih dan nyilu pada selangkangannya.

Malam itu Pak Bujana melihat adanya noda darah pada paha dan seprei yang telah kusut karena permaianannya tadi. Menjelang subuh Pak Bujana kembali mengulang permainan ranjang itu. Siska pun seolah mulai mengerti dan tau caranya.

Malam itu sempat terjadi 3 kali permainan habis-habisan. Seolah dunia milik mereka. Sedang Siska mulai lupa dengan Ryan.

Siska terjebak oleh nafsu Bujana dan iapun setia melayani Bujana, baik saat bertugas atau sedang libur.

Bujana pun berkeinginan menjadikan Siska sebagai istrinya. inilah yang membuat Siska sedih, orangtuanya pasti marah dan Ryan akan memusuhinya. Namun akhirnya ia bertekad akan membatalkan pertunangan dengan Ryan. Ia pun ingin hidup di dusun itu dengan Bujana yang ia rasakan amat perkasa. Sebab bagaimanapun bagi Siska, kegadisannya telah direnggut Pak Bujana maka Pak Bujanalah yang bertanggung jawab.

Siska setiap bulan masih selalu pulang ke rumah orang tuanya di kota. Setelah kembali dari kota, ia telah ditunggu oleh Pak Bujana yang akan memberinya sejuta kenikmatan ranjang.

Meskipun umurnya telah tua, Pak Bujana selalu memiliki stamina yang yahud dalam hubungan seks. Sebagai seorang kepala suku di pedalaman itu, ia mengetahui resep untuk tetap kuat.

Siska pun dengan rela meninggalkan kemewahan yang ia miliki dengan kekasih dan orang tuanya. Sebaliknya ia memlih hidup dengan Pak Bujana di desa yang masih terbelakang itu untuk dijadikan sebagai istri ketujuhnya.

TAMAT