Andani Citra – Pak RT-ku Yang Nakal

Copyright 2004, by Andani Citra

(Gadis dan Pria Tua)

Pak Gito adalah ketua RT di daerah tempat aku tinggal. Ia sering datang ke rumahku untuk keperluan menagih iuran daerah dan biaya air ledeng. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 50 tahunan dan mempunyai dua istri. Benar kata orang bahwa dia ini seorang bandot tua, buktinya ketika di rumahku kalau aku lewat di depannya, seringkali matanya jelalatan menatap padaku seolah-olah matanya tembus pandang ke balik pakaianku. Bagiku sih tidak apa-apa, aku malah senang kalau tubuhku dikagumi laki-laki, terkadang aku memakai baju rumah yang seksi kalau lewat di depannya. Aku yakin di dalam pikirannya pasti penuh hal-hal yang jorok tentangku.

Pada suatu hari aku sedang di rumah sendirian. Aku sedang melakukan fitness untuk menjaga bentuk dan stamina tubuhku di ruang belakang rumahku yang tersedia beberapa peralatan fitness. Aku memakai pakaian yang enak dipakai dan menyerap keringat berupa sebuah kaus hitam tanpa lengan dengan belahan dada rendah sehingga buah dadaku yang montok itu agak tersembul keluar terutama kalau sedang menunduk apalagi aku tidak memakai BH, juga sebuah celana pendek ketat merk ‘Nike’ yang mencetak pantatku yang padat berisi. Waktu aku sedang melatih pahaku dengan sepeda fitness, tiba-tiba terdengar bel berbunyi, segera saja kuambil handuk kecil dan mengelap keringatku sambil berjalan ke arah pintu. Kulihat dari jendela, ternyata Pak Gito yang datang, pasti dia mau menagih biaya ledeng, yang dititipkan ayah padaku tadi pagi.

Kubukakan pagar dan kupersilakan dia masuk.

“Silakan Pak duduk dulu ya, sambil nunggu saya ambil uangnya” senyumku dengan ramah sambil mempersilakannya duduk di ruang tengah.

“Kok sepi sekali Dik, kemana yang lain?”

“Papa hari ini pulangnya malam, tapi uangnya udah dititip ke saya kok, Mama juga lagi arisan sama teman-temannya”.

Seperti biasa matanya selalu saja menatapi tubuhku, terutama bagian dadaku yang agak terlihat itu. Aku juga sadar kalau dadaku sempat diintip olehnya waktu menunduk untuk menaruh segelas teh untuknya.

“Minum, Pak,” tawarku lalu aku duduk di depannya dengan menyilangkan kaki kananku sehingga pahaku yang jenjang dan putih itu makin terlihat.

Nuansa mesum mulai terasa di ruang tamuku yang nyaman itu. Dia menanyaiku sekitar masalah anak muda, seperti kuliah, hoby, keluarga, dan lain-lain, tapi matanya terus menelanjangiku.

“Dik Citra lagi olah raga yah, soalnya badannya keringatan gitu terus mukanya merah lagi” katanya.

“Iya nih Pak, biasa kan cewek kan harus jaga badan lah, cuma sekarang jadi pegel banget nih, pengen dipijat rasanya, Bapak bisa bantu pijitin nggak?” godaku sambil mengurut-ngurut pahaku.

Tanpa diminta lagi dia segera bangkit berdiri dan pindah ke sebelahku, waktu berdiri kuperhatikan ia melihat putingku yang menonjol dari balik kausku, juga kulihat penisnya ngaceng berat membuatku tidak sabar mengenggam benda itu.

“Mari Dik, kesinikan kakinya biar Bapak pijat”

Aku lalu mengubah posisi dudukku menjadi menyamping dan menjulurkan kakiku ke arahnya. Dia mulai mengurut paha hingga betisku. Uuuhh.. pijatannya benar-benar enak, telapak tangannya yang kasar itu membelai pahaku yang putih mulus hingga membangkitkan birahiku. Akupun mendesah-desah sambil menggigit bibir bawahku.

“Pijatan Bapak enak ya, Dik?” tanyanya.

“Iya Pak, terus dong.. enak nih.. emmhh!” aku terus mendesah membangkitkan nafsu Pak Gito, desahanku kadang kusertai dengan geliat tubuh.

Dia semakin berani mengelus paha dalamku, bahkan menyentuh pangkal pahaku dan meremasnya.

“Enngghh.. Pak!” desahku lebih kuat lagi ketika kurasakan jari-jarinya mengelusi bagian itu.

Tubuhku makin menggelinjang sehingga nafsu Pak Gito pun semakin naik dan tidak terbendung lagi. Celana sportku diperosotkannya beserta celana dalamku.

“Aaww..!” aku berlagak kaget sambil menutupi kemaluanku dengan telapak tanganku.

Melihat reaksiku yang malu-malu kucing ini dia makin gemas saja. Ditariknya celanaku yang sudah tertarik hingga lutut itu lalu dilemparnya ke belakang. Tanganku yang menutupi kemaluan juga dibukanya sehingga kemaluanku yang berambut lebat itu tampak olehnya. Klitorisku yang merah merekah dan sudah becek siap dimasuki. Pak Gito tertegun beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawahnya itu.

“Kamu memang sempurna Dik Citra, dari dulu Bapak sering membayangkan ngentotin kamu, akhirnya hari ini kesampaian juga,” rayunya.

Dia mulai melepas kemejanya sehingga aku dapat melihat perutnya yang berlemak dan dadanya yang berbulu itu. Lalu dia membuka sabuk dan celananya sehingga benda dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah dan tegak. Aku menatap takjub pada organ tubuh itu, begitu besar dan berurat aku sudah tidak sabar lagi menggenggam dan mengulumnya. Pak Gito begitu membuka pahaku lalu membenamkan kepalanya di situ sehingga selangkanganku tepat menghadap ke mukanya.

“Hhmm.. wangi, pasti Adik rajin merawat diri yah,” godanya waktu menghirup kemaluanku yang kurawat dengan apik dengan sabun pembersih wanita.

Sesaat kemudian kurasakan benda yang lunak dan basah menggelitik vaginaku, oohh.. lidahnya menjilati klitorisku, terkadang menyeruak ke dalam menjilati dinding kemaluanku. Lidah tebal dan kumisnya itu terasa menggelitik bagiku, aku benar-benar merasa geli di sana sehingga mendesah tak tertahan sambil meremasi rambutnya. Kedua tangannya menyusup ke bawah bajuku dan mulai meremas buah dadaku, jari-jarinya yang besar bermain dengan liar disana, memencet putingku dan memelintirnya hingga benda itu terasa makin mengeras.

“Pak.. oohh.. saya juga mau.. Pak!” desahku tak tahan lagi ingin mengulum penis itu.

“Kalau begitu Bapak di bawah saja ya, Dik,” katanya sambil mengatur posisi kami sedemikian rupa menjadi gaya 69.

Aku naik ke wajahnya dan membungkukkan tubuhku, kuraih benda kesukaanku itu, dalam genggamanku kukocok perlahan sambil menjilatinya. Kugerakkan lidahku menelusuri pelosok batang itu, buah pelirnya kuemut sejenak, lalu jilatanku naik lagi ke ujungnya dimana aku mulai membuka mulut siap menelannya. Oohh.. batang itu begitu gemuk dan berdiameter lebar persis seperti tubuh pemiliknya, sehingga akupun harus membuka mulutku selebar-lebarnya agar bisa mamasukkannya.

Aku mulai mengisapnya dan memijati buah pelirnya dengan tanganku. Pak Gito mendesah-desah enak menikmati permainanku, sementara aku juga merasa geli di bawah sana, kurasakan ada gerakan memutar-mutar di dalam liang vaginaku oleh jarinya, jari-jari lain dari tangan yang sama mengelus-elus klitoris dan bibir vaginaku, bukan itu saja, lidahnya juga turut menjilati baik anus maupun vaginaku. Sungguh suatu sensasi yang hebat sekali sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya, juga semakin bersemangat mengulum penisnya. Selama 10 menitan kami menikmatinya sampai ada sedikit terganggu oleh berbunyinya HP Pak Gito. Aku lepaskan penisnya dari mulutku dan menatap padanya.

Pak Gito menyuruhku mengambil HP-nya di atas meja ruang tamu, lalu dia berkata, “Ayo Dik, terusin dong karaokenya, biar Bapak ngomong dulu di telepon”.

Aku pun tanpa ragu-ragu menelan kembali penisnya. Dia bicara di HP sambil penisnya dikulum olehku, tidak tau deh bicara dengan siapa, emang gua pikirin, yang pasti aku harus berusaha tidak mengeluarkan suara-suara aneh. Tangan satunya yang tidak memegang HP terus bekerja di selangkanganku, kadang mencucuk-cucukkannya ke vagina dan anusku, kadang meremas bongkahan pantatku. Tiba-tiba dia menggeram sambil menepuk-nepuk pantatku, sepertinya menyuruhku berhenti, tapi karena sudah tanggung aku malahan makin hebat mengocok dan mengisap penis itu sampai dia susah payah menahan geraman nikmatnya karena masih harus terus melayani pembicaraan. Akhirnya muncratlah cairan putih itu di mulutku yang langsung saya minum seperti kehausan. Cairan yang menempel di penisnya juga saya jilati sampai tak bersisa.

“Nggak kok.. tidak apa-apa.. cuma tenggorokkan saya ada masalah dikit,” katanya di HP.

Tak lama kemudian dia pun menutup HP nya, lalu bangkit duduk dan menaikkanku ke pangkuannya. Tangan kirinya dipakai menopang tubuhku.

“Wah.. Dik Citra ini bandel juga ya, tadi kan Bapak udah suruh stop dulu, ee.. malah dibikin keluar lagi, untung nggak curiga tuh orang,” katanya sambil mencubit putingku.

“Hehehe.. sori deh Pak, kan tadi tanggung makannya saya terusin aja, tapi Bapak seneng kan?” kataku dengan tersenyum nakal.

“Hmm.. kalo gitu awas ya sekarang Bapak balas bikin kamu keluar nih,” seringainya.

Lalu dengan sigap tangannya bergerak menyelinap diantara kedua pangkal pahaku. Jari tengah dan telunjuknya menyeruak dan mengorek-ngorek vaginaku, aku meringis ketika merasakan jari-jari itu bergerak semakin cepat mempermainkan nafsuku.

Pak Gito menurunkan kaos tanpa lenganku dari bahu dan meloloskannya lewat lengan kananku, sehingga kini payudara kananku yang putih montok itu tersembul keluar. Dengan penuh nafsu langsung dia lumat benda itu dengan mulutnya. Aku menjerit kecil waktu dia menggigit putingku dan juga mengisapnya kuat-kuat, bulatan mungil itu serasa makin menegang saja. Dia membuka mulutnya lebar-lebar berusaha memasukkan seluruh payudaraku ke mulutnya, di dalam mulutnya payudaraku disedot, dikulum, dan dijilat, rasanya seperti mau dimakan saja milikku itu. Sementara selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku terasa sudah di puncak, mengucurlah cairan cintaku dengan deras. Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli di bawahku sehingga tangannya terhimpit diantara kedua paha mulusku.

Setelah dia cabut tangannya dari kemaluanku, nampak jari-jarinya sudah belepotan oleh cairan bening yang kukeluarkan. Dia jilati cairanku dijarinya itu, aku juga ikutan menjilati jarinya merasakan cairan cintaku sendiri. Kemudian dia cucukkan lagi tangannya ke kemaluanku, kali ini dia mengelus-ngelus daerah itu seperti sedang mengelapnya. Telapak tangannya yang penuh sisa-sisa cairan itu dibalurinya pada payudaraku.

“Sayang kalo dibuang, kan mubazir,” ucapnya.

Kembali lidahnya menjilati payudaraku yang sudah basah itu, sedangkan aku menjilati cairan pada tangannya yang disodorkan padaku. Tanganku yang satu meraba-raba ke bawah dan meraih penisnya, terasa olehku batang itu kini sudah mengeras lagi, siap memulai aksi berikutnya.

“Enggh.. masukin aja Pak, udah kepingin nih.”

Dia membalik tubuhku, tepat berhadapan dengannya, tangan kananya memegangi penisnya untuk diarahkan ke vaginaku. Aku membukakan kedua bibir vaginaku menyambut masuknya benda itu. Setelah kurasakan pas aku mulai menurunkan tubuhku, secara perlahan tapi pasti penis itu mulai terbenam dalam kemaluanku. Goyanganku yang liar membuat Pak Gito mendesah-desah keenakan, untung dia tidak ada penyakit jantung, kalau iya pasti sudah kumat. Kaosku yang masih menyangkut di bahu sebelah kiri diturunkannya sehingga kaos itu menggantung di perutku dan payudara kiriku tersingkap. Nampak sekali bedanya antara yang kiri yang masih bersih dengan bagian kanan yang daritadi menjadi bulan-bulanannya sehingga sudah basah dan memerah bekas cupangan.

Kedua tangannya meremas-remas kedua payudaraku, ketika melumatnya terkadang kumisnya yang kasar itu menggesek putingku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Lidahnya bergerak naik ke leherku dan mencupanginya sementara tangannya tetap memainkan payudaraku. Birahiku sudah benar-benar tinggi, nafasku juga sudah makin tak teratur, dia begitu lihai dalam bercinta, kurasa bukan pertama kalinya dia berselingkuh seperti ini. Aku merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi, frekuensi goyanganku kutambah, lalu aku mencium bibirnya. Tubuh kami terus berpacu sambil bermain lidah dengan liarnya sampai ludah kami menetes-netes di sekitar mulut, eranganku teredam oleh ciumannya. Mengetahui aku sudah mau keluar, dia menekan-nekan bahuku ke bawah sehingga penisnya menghujam makin dalam dan vaginaku makin terasa sesak. Tubuhku bergetar hebat dan jeritanku tak tertahankan lagi terdengar dari mulutku, perasaan itu berlangsung selama beberapa saat sampai akhirnya aku terkulai lemas dalam pelukannya.

Dia menurunkanku dari pangkuannya, penisnya terlihat berkilauan karena basah oleh cairan cinta. Dibaringkannya tubuhku yang sudah lemas itu di sofa, lalu dia sodorkan gelas yang berisi teh itu padaku. Setelah minum beberapa teguk, aku merasa sedikit lebih segar, paling tidak pada tenggorokanku karena sudah kering waktu mendesah dan menjerit. Kaosku yang masih menggantung di perut dia lepaskan, sehingga kini aku bugil total. Sebelum tenagaku benar-benar pulih, Pak Gito sudah menindih tubuhku, aku hanya bisa pasrah saja ditindih tubuh gemuknya. Dengan lembut dia mengecup keningku, dari sana kecupannya turun ke pipi, hingga berhenti di bibir, mulut kami kembali saling berpagutan. Saat berciuman itulah, Pak Gito menempelkan penisnya pada vaginaku, lalu mendorongnya perlahan, dan aahh.. mataku yang terpejam menikmati ciuman tiba-tiba terbelakak waktu dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menusuk lebih dalam.

Kenikmatan ini pun berlanjut, aku sangat menikmati gesekan-gesekan pada dinding vaginaku. Buah dadaku saling bergesekan dengan dadanya yang sedikit berbulu, kedua paha rampingku kulingkarkan pada pinggangnya. Aku mendesah tak karuan sambil mengigiti jariku sendiri. Sementara pinggulnya dihentak-hentakkan diatasku, mulutnya tak henti-hentinya melumat atau menjilati bibirku, wajahku jadi basah bukan saja oleh keringat, tapi juga oleh liurnya. Telinga dan leherku pun tak luput dari jilatannya, lalu dia angkat lengan kananku ke atas dan dia selipkan kepalanya di situ. Aahh.. ternyata dia sapukan bibir dan lidahnya di ketiakku yang halus tak berbulu itu, kumis kasar itu menggelitikku sehingga desahanku bercampur dengan ketawa geli.

“Uuuhh.. Pak.. aakkhh.. !” aku kembali mencapai orgasme.

Vaginaku terasa semakin banjir, namun tak ada tanda-tanda dia akan segera keluar, dia terlihat sangat menikmati mimik wajahku yang sedang orgasme. Suara kecipak cairan terdengar jelas setiap kali dia menghujamkan penisnya, cairanku sudah meleleh kemana-mana sampai membasahi sofa, untung sofanya dari bahan kulit, jadi mudah untuk membersihkan dan menghilangkan bekasnya. Tanpa melepas penisnya, Pak Gito bangkit berlutut di antara kedua pahaku dan menaikkan kedua betisku ke pundaknya. Tanpa memberiku istirahat dia meneruskan mengocok kemaluanku, aku sudah tidak kuat lagi mengerang karena leherku terasa pegal, aku cuma bisa mengap-mengap seperti ikan di luar air.

“Bapak udah mau.. Dik.. Citra..!” desahnya dengan mempercepat kocokkannya.

“Di luar.. Pak.. aku ahh.. uuhh.. lagi subur,” aku berusaha ngomong walau suaraku sudah putus-putus.

Tak lama kemudian dia cabut penisnya dan menurunkan kakiku. Dia naik ke wajahku, lalu dia tempelkan penisnya yang masih tegak dan basah di bibirku. Akupun memulai tugasku, kukulum dan kukocok dengan gencar sampai dia mengerang keras dan menjambak rambutku. Maninya menyemprot deras membasahi wajahku, aku membuka mulutku menerima semprotannya. Setelah semprotannya mereda pun aku masih mengocok dan mengisap penisnya seolah tidak membiarkan setetespun tersisa. Batang itu kujilati hingga bersih, benda itu mulai menyusut pelan-pelan di mulutku. Kami berpelukan dengan tubuh lemas merenungi apa yang baru saja terjadi.

Sofa tempat aku berbaring tadi basah oleh keringat dan cairan cintaku yang menetes disana. Masih dalam keadaan bugil, aku berjalan sempoyongan ke dapur mengambil kain lap dan segelas air putih. Waktu aku kembali ke ruang tamu, Pak Gito sedang mengancingkan lagi bajunya, lalu meneguk air yang tersisa di gelasnya.

“Wah Dik Citra ini benar-benar hebat ya. Istri-istri Bapak sekarang udah nggak sekuat Adik lagi. Padahal mereka sering melayani Bapak berdua sekaligus,” pujinya yang hanya kutanggapi dengan senyum manis.

Setelah berpakaian lagi, aku mengantarnya lagi ke pintu depan. Sebelum keluar dari pagar dia melihat kiri kanan dulu. Setelah yakin tidak ada siapa-siapa, dia menepuk pantatku dan berpamitan.

“Lain kali kalo ada kesempatan kita main lagi yah, Dik.”

“Dasar bandot. Belum cukup punya istri dua, masih ngembat anak orang,” kataku dalam hati.

Akhirnya aku pun mandi membersihkan tubuhku dari sperma, keringat, dan liur. Siraman air menyegarkan kembali tubuhku setelah seharian penuh berolahraga dan berolahsyahwat.

Beberapa menit sesudah aku selesai mandi, ibuku pun pulang. Beliau bilang wangi ruang tamunya enak sehingga kepenatannya agak berkurang, aku senyum-senyum saja karena ruang itu terutama sekitar ‘medan laga’ kami tadi telah kusemprot pengharum ruangan untuk menutupi aroma bekas persenggamaan tadi.

TAMAT

6 responses to “Andani Citra – Pak RT-ku Yang Nakal

  1. INI HADIAH TAHUN 2002 AHIR
    Pengalaman ku indah yang tak pernah ku lupakan di Rumah Sakit OMNI (Pulomas)
    Saya berumur 31 Tahun pekerjaan ku adalah pelaut saya lahir di Bandung, dan di besarkan di Bandung Bapak saya Orang Arab dan Ibu saya orang Jawa Barat Orang Sunda. Berat badan saya 185 Kg tinggi 175 Cm, saya bekerja menjadi pelaut di perusahhan Jepang, aku mendapat panggilan untuk berangkat ke Merak, karena kapal minyak saya ada di Merak, saya di perintahkan untuk menemui kapal saya di Merak, tidak pikir panjang saya langsung berangkat ke Merak sebenarnya badan saya masih kurang sehat karena beberapa hari lalu aku terkena Flu berat, tapi ku paksakan untuk berangkat ke Jakarta, aku berangkat naik bis dan turun di Kantor Besar Gudanggaram Jakarta, tiba-tiba saja badan saya melayang dan gelap pengelihatan ku, dan tidak sadar diri lagi,……….. sadarnya saya sudah ada di rumah sakit OMC OMNI MEDIKAL di Pulomas, Saya di rawat sendiri di kamar yang besar, pendek cerita saya sudah 3 malam, Saya sudah mulai pulih dari sakit saya. Pada suatu ketika pagi kira kira jam 5.00 Ada suster datang ke kamarku membawa baskom dan air, untuk memandikan, sesudah itu, suster itu langsung saja menggulung selimutku dan mulai, mengambil kain kecil dan sabun dia membersihkan badan saya dan perlahan lahan mulai turun pada bagian yang sangat fital ku, Penisku yang terletak tepat di baliknya terasa semakin menegang dan menegang. Jari-jari lentik perawat itu berusaha untuk mencari letak kepala penisku untuk kemudian digosok-gosoknya dari luar celana. Sensasi itu membuat nafasku semakin memburu seperti layaknya nafas kuda yang tengah berlari kencang. Seakan tak mau kalah darinya, Setelah beberapa lama meremas-remas, tangan itu bergerak ke daerah perut dan dengan cepat menyelip ke dalam celana pendekku. Aku sudah tidak tahu lagi. Detup jantungku mulai meningkat. Jemari kecil itu kini sudah mencapai kedua bolaku. Dengan jari telunjuk dan tengah yang dirapatkan, suster muda itu mengelus-elus dan menelusuri kedua bolaku………….., mula-mula berputar bergantian kiri dan kanan kemudian naik ke bagian batang, terus bergerak menelusuri urat-urat tegang yang membalut batang kerasku itu, “sss…………….., suster..”. Aku berdesis ketika kedua jarinya itu berhenti di urat yang terletak tepat di bawah kepala penisku……………, itu memang daerah kelemahanku, dan suster muda ini mengetahuinya…………., kedua jemarinya menggesek-gesekkan dengan cepat urat penisku itu sambil sesekali mencubitnya, membesarnya penisku ternyata tak lepas dari perhatian suster ini. Tampak jelas terlihat matanya terbelalak melihat ukuran penisku yang membesar dan tercetak jelas di celana pendekku mendadak terhenti karena beberapa saat, suster masih terpaku pada selangkanganku.
    Tiba-tiba dengan cepat suster muda menarik celana pendekku sekalian dengan celana dalamku. Saking cepatnya, penisku yang menegang melejit keluar. Sejenak suster muda tertegun menatap penisku yang berdiri tegak laksana tugu monas itu. “Gusti Rafi.., astaga.”, bisiknya lirih. Dengan cepat suster muda menundukkan kepalanya, dan seketika tubuhku terasa dialiri oleh aliran listrik yang mengalir cepat memasukkan kemulut suster hampir menelan seluruh penisku. Terasa ujung penisku itu menyentuh langit-langit belakang mulut perawat muda. Dengan sigap suster memegang penisku sementara lidahnya memelintir bagian bawahnya. Kepala suster naik turun dengan cepat mengiringi pegangan tangannya dan puntiran lidahnya.
    Aku benar-benar merasa melayang di udara ketika suster memperkuat hisapannya. Aku melirik ke arah kaca pintu, takut ada yang masuk dan suster dengan sigap dia menutupi khordeng penutup. Di selangkanganku dan kepalanya bergerak naik turun. Suara isapan, jilatan dan kecupan bibir suster muda itu terdengar dengan jelas. Kenikmatan ini semakin menjadi-jadi ketika kurasakan suster muda mulai meremas-remas kedua bola pelirku dan penisku secara bergantian. Perutku serasa mulas dan urat-urat di penisku serasa hendak putus karena tegangnya. Suster muda tampak semakin buas menghisapi penisku seperti seseorang yang kehausan di padang pasir menemukan air yang segar. Jari-jemarinyapun semakin liar mempermainkan kedua penisku. “Slurrp.., Cuph.., Mphhhhh..”. Suara kecupan-kecupan di penisku semakin keras saja.
    Tangan kiriku berusaha menyingkap rok suster muda itu dan dengan sigap kugosokkan jari-jemariku di celana dalamnya. Tepat diatas vaginanya, celana dalam suster muda terasa sudah basah. Sungguh hebat! Hanya dalam beberapa menit saja, ia sudah sedemikian terangsangnya sehingga vaginanya sudah siap untuk dimasuki oleh penisku.
    Kini suster naik ke tempat tidurku dan sudah berjongkok tepat di atas pinggang saya, ia sejenak menggenggam kemaluan saya itu sebelum kemudian memasukkannya ke dalam liang vaginanya dengan perlahan dan santai. Suster muda mendesah merasakan penis itu masuk menembus dinding kemaluannya dan menerobos masuk sampai dasar liang vagina yang terasa sempit oleh perawat muda. “Ooouuuhhhhhhhhh…………….”, desahnya memulai gerakan menurun-naikkan pinggangnya di atas tubuh saya ini. Keganasan yang luar biasa. Suster muda sudah tidak malu-malu lagi menggoyangkan pinggulnya di atas penisku sehingga bergesekan dengan vaginanya………….”Ooohh…, ooohh…, aauu, aku keluarr…, kata suster muda, aahh…, aah…, aku, nggak kuat lagi aku…, pa…, ooohh…, enaaknya…, sayang, ooohh…, pa sayang…, hhuuuh…, suster nggak tahan lagi”, jeritnya panjang sambil memeluk erat tubuh saya, cairan kelamin dalam rahimnya muncrat memenuhi liang vagina di mana penis saya masih tegang dan keras.
    “Ooohh nikmat suster…, ooohh punya suster tambah licin dan nikmat…, ooohh…, nikmat suster, ooohh…, semakin nikmat sekali, ooohh…, enaak, mm…, ooohh…, uuuhh…, ooohh…, ooohh, nikmat sekali…, uuuhh…, suster cantik…, aauuuhh…, ssshh nikmat suuuuus”, desah saya merasakan kenikmatan dalam liang vagina sang suster yang tengah mengalami ejakulasi, vagina itu terasa makin menjepit penisnya yang terus saja menggesek dinding vagina itu. Kepala penisnya yang berada jauh di dalam liang vagina suster itu merasakan cairan hangat menyembur dan membuat liang vagina terasa semakin nikmat dan licin. Perlahan-lahan ku ulagi lagi kutempelkan kepala penisku itu di pintu vaginanya. Sambi kuputar-putar kecil kudorong pinggulku perlahan-lahan. Suster ternganga sambil terengah-engah, “aahh.., aahh.., ouhh.., pa.., besar sekali.., pelan-pelan pa..pelan-pelanhh..”, dan, “aa…”. Suster muda menjerit kecil ketika kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang becek dan terasa sangat sempit dalam posisi berdiri ini. Aku menyodokkan penisku maju mundur dengan gerakan yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tubuh suster muda terguncang-guncang, buah dadanya bergayut ke kiri dan kanan dan jeritannya semakin menjadi-jadi.
    Tiba-tiba kujambak rambut Suster muda dan kutekan sekuat-kuatnya sehingga seluruh penisku tenggelam ke dalam vaginanya. Kurasakan ujung penisku menyentuh langit-langit dan, “Creeet…, creeett…, creeettt”, menyemburlah cairan maniku ke dalam vagina suster muda.
    “Ahh…, aahh.., aahh.., susterrrrrrrrrrr…”, Aku meringis dan mendesis keras ketika cairan maniku bersemburan ke dalam suster. cairanku sehingga penisku yang hampir layu kembali sedikit menegang karena terus-terusan. Aku memejamkan mataku.., gilaa.., permainan suster muda ini benar-benar menakjubkan. Ada rasa was-was karena takut ketahuan, tapi rasa was-was itu justru meningkatkan nafsuku. Suster muda memandang penisku yang sudah agak mengecil namun tetap saja dalam posisi tegak. Lalu membereskan semuanya seolah oalah tidak ada yang terjadi sungguh sudah biasa. Kami hening tak ada kata-kata terheran heran, tak diduga-duga kejadian ini…. Pa aku kerja dulu …….. sampai jumpa oyah Malam ini aku dapat giliran jaga aku akan datang malam okey kita lanjutkan kembali pa…… “Luar biasa…”, Bisik ku, “Siap-siap nanti malam yah pa?” Katanya sambil bangkit dan beranjak ke luar dan membereskan baju seragam susternya Rumah sakit OMNI,……
    Suster muda itu Datang malam hari jam 1.30 malam
    Dia datang tepat waktu bagaikan pencuri malam hari dia datang, tampa basa basi suster muda langsung memelukku, bagaikan sudah kenal lama, Kami berdua masih sangsung berciuman dengan ganas ketika dengan sigap aku menyelipkan tanganku ke balik baju perawat muda yang putih itu. Sungguh terkejut ketika aku sadar bahwa ia sama sekali tidak memakai BH sehingga dengan mudahnya kuremas buah dada kanannya yang ranum itu.
    “Kok ngga pakai BH Susterrrrrrrrr..?” Sambil menggelinjang dan mendesah, ia menjawab sambil tersenyum nakal.
    “Supaya gampang diremas sama bapa..”. Benar-benar jawaban yang menggemaskan!

    Aku mulai memompakan penisku keluar masuk, keluar masuk. Gerakanku makin cepat dan cepat. Semakin cepat gerakanku, semakin keras jeritan suster muda terdengar di kamarku. Pinggul suster muda itu pun berputar-putar dengan cepat mengikuti irama pompaanku. Kadang-kadang pinggulnya sampai terangkat-angkat untuk mengimbangi kecepatan naik turunnya pinggulku. Buah dadanya yang terlihat bulat dalam keadaan berbaring itu bergetar dan bergoyang ke sana ke mari.
    Perlahan kubalikkan tubuhnya dan segera tampak punggungnya yang putih mulus, halus dan kurengkuh tubuhnya dan kembali lidahku bermain lincah di pundak dan punggungnya hingga ke tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan kusapu dengan lidahku yang basah. “Aaaccch… ach…” desahnya yang pertama dan disusul dengan jeritan kecil tertahan dilontarkannya ketika kugigit urat lehernya dengan gemas dan tubuhnya sedikit mengejang kaku. Kuraba pangkal lengannya hingga ke siku dan dengan sedikit tekanan kuusahakan untuk meluruskannya sikunya yang secara otomatis menarik kaos yang dipegangnya ikut turun ke bawah dan dari belakang pundaknya itu.
    Sungguh menggairahkan Tidak lebih dari 5 menit, aku merasakan bahwa nafsu syahwat kami sudah kembali berada dipuncak. Aku tak ingin kehilangan momen. Kubalikkan tubuh suster muda, dan kutindih sehingga keempukan buah dadanya terasa benar menempel di dadaku. Perutku menggesek nikmat perutnya yang kencang, dan penisku yang sudah sangat menegang itu bergesekan dengan vaginanya.
    “Sus.., buka kakinya.., sekarang kamu akan merasakan sorganya dunia Sus..”, bisikku sambil mengangkangkan kedua pahanya. Sambil tersengal-sengal Suster membuka pahanya selebar-lebarnya. Ia tersenyum manis dengan mata sayunya yang penuh harap itu.
    “Ayo Pak.., masukkan sekarang…”, Aku menempelkan kepala penisku yang besar itu di mulut vagina Suster muda. Perlahan-lahan aku memasukkannya ke dalam, semakin dalam, semakin dalam dan, “aa.., Aooohh.., paakh….., aahh..”, rintihnya sambil membelalakkan matanya ketika hampir seluruh penisku kubenamkan ke dalam vaginanya.
    Setelah itu, “Blesss…”, dengan sentakan yang kuat kubenamkan habis penisku diiringi jeritan erotisnya, “Ahh.., besarnyah.., ennnakk ppaak..”. dan kami selesai sekali lagi, saya merasa puas, sepuas-puasnya dengan layanan suster OMNI.
    apakah kamu tidak takut kalau ketahuan kata saya sesudah melakukan sex bebas, itu sudah saya perhitungkan semua keadaan dan ini adalah hiburan perawat-perawat banyak teman saya diam diam!…… terima kasih…………… luar biasa penyembuhan yang suster berikan luar dalam dan layanan yang bagus Rumah Sakit ini. suster muda itu keluar dan menghilang dalam malam itu, aku lupa namanya siapa ini adalah bonus mungkin dari
    Rumah Sakit OMNI, Saya sudah dua kali melakukannya dengan dia perawat itu saya tidak mengetahui nama siapa munkin ini memang bagian dari layanan…………. 1 bulan ke mudian saya cerita dengan teman saya …… namanya Nasir…. Ternyata Nasir mengalami hal yang layanan yang sama dan Nasir sempat berlanjut di luar rumah sakit namanya Suster Merri ……… Layanan yang Bagus terima kasih perawat-perawat teruskan, kamu menyembuhkan segalanya.
    Saya sekarang ini ada di BALIKPAPAN, Saya itu tak pernah menyangka bahwa Perawat di Rumah Sakit Omni sebegitu canggihnya dalam pelayanan dan merebut pelangan, sini telah jatuh ke dalam dunia terbuka saya seorang pemuda perkasa yang jauh mendapat layanan yang luar bisa. Ini benar-benar bagus Rumah Sakit ini, semoga di ikututi Rumah Sakit Swasta yang lain, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih RS. OMNI

  2. rumah sakit enak

    INI HADIAH TAHUN 2002 AHIR
    Pengalaman ku indah yang tak pernah ku lupakan di Rumah Sakit OMNI (Pulomas)
    Saya berumur 31 Tahun pekerjaan ku adalah pelaut saya lahir di Bandung, dan di besarkan di Bandung Bapak saya Orang Arab dan Ibu saya orang Jawa Barat Orang Sunda. Berat badan saya 185 Kg tinggi 175 Cm, saya bekerja menjadi pelaut di perusahhan Jepang, aku mendapat panggilan untuk berangkat ke Merak, karena kapal minyak saya ada di Merak, saya di perintahkan untuk menemui kapal saya di Merak, tidak pikir panjang saya langsung berangkat ke Merak sebenarnya badan saya masih kurang sehat karena beberapa hari lalu aku terkena Flu berat, tapi ku paksakan untuk berangkat ke Jakarta, aku berangkat naik bis dan turun di Kantor Besar Gudanggaram Jakarta, tiba-tiba saja badan saya melayang dan gelap pengelihatan ku, dan tidak sadar diri lagi,……….. sadarnya saya sudah ada di rumah sakit OMC OMNI MEDIKAL di Pulomas, Saya di rawat sendiri di kamar yang besar, pendek cerita saya sudah 3 malam, Saya sudah mulai pulih dari sakit saya. Pada suatu ketika pagi kira kira jam 5.00 Ada suster datang ke kamarku membawa baskom dan air, untuk memandikan, sesudah itu, suster itu langsung saja menggulung selimutku dan mulai, mengambil kain kecil dan sabun dia membersihkan badan saya dan perlahan lahan mulai turun pada bagian yang sangat fital ku, Penisku yang terletak tepat di baliknya terasa semakin menegang dan menegang. Jari-jari lentik perawat itu berusaha untuk mencari letak kepala penisku untuk kemudian digosok-gosoknya dari luar celana. Sensasi itu membuat nafasku semakin memburu seperti layaknya nafas kuda yang tengah berlari kencang. Seakan tak mau kalah darinya, Setelah beberapa lama meremas-remas, tangan itu bergerak ke daerah perut dan dengan cepat menyelip ke dalam celana pendekku. Aku sudah tidak tahu lagi. Detup jantungku mulai meningkat. Jemari kecil itu kini sudah mencapai kedua bolaku. Dengan jari telunjuk dan tengah yang dirapatkan, suster muda itu mengelus-elus dan menelusuri kedua bolaku………….., mula-mula berputar bergantian kiri dan kanan kemudian naik ke bagian batang, terus bergerak menelusuri urat-urat tegang yang membalut batang kerasku itu, “sss…………….., suster..”. Aku berdesis ketika kedua jarinya itu berhenti di urat yang terletak tepat di bawah kepala penisku……………, itu memang daerah kelemahanku, dan suster muda ini mengetahuinya…………., kedua jemarinya menggesek-gesekkan dengan cepat urat penisku itu sambil sesekali mencubitnya, membesarnya penisku ternyata tak lepas dari perhatian suster ini. Tampak jelas terlihat matanya terbelalak melihat ukuran penisku yang membesar dan tercetak jelas di celana pendekku mendadak terhenti karena beberapa saat, suster masih terpaku pada selangkanganku.
    Tiba-tiba dengan cepat suster muda menarik celana pendekku sekalian dengan celana dalamku. Saking cepatnya, penisku yang menegang melejit keluar. Sejenak suster muda tertegun menatap penisku yang berdiri tegak laksana tugu monas itu. “Gusti Rafi.., astaga.”, bisiknya lirih. Dengan cepat suster muda menundukkan kepalanya, dan seketika tubuhku terasa dialiri oleh aliran listrik yang mengalir cepat memasukkan kemulut suster hampir menelan seluruh penisku. Terasa ujung penisku itu menyentuh langit-langit belakang mulut perawat muda. Dengan sigap suster memegang penisku sementara lidahnya memelintir bagian bawahnya. Kepala suster naik turun dengan cepat mengiringi pegangan tangannya dan puntiran lidahnya.
    Aku benar-benar merasa melayang di udara ketika suster memperkuat hisapannya. Aku melirik ke arah kaca pintu, takut ada yang masuk dan suster dengan sigap dia menutupi khordeng penutup. Di selangkanganku dan kepalanya bergerak naik turun. Suara isapan, jilatan dan kecupan bibir suster muda itu terdengar dengan jelas. Kenikmatan ini semakin menjadi-jadi ketika kurasakan suster muda mulai meremas-remas kedua bola pelirku dan penisku secara bergantian. Perutku serasa mulas dan urat-urat di penisku serasa hendak putus karena tegangnya. Suster muda tampak semakin buas menghisapi penisku seperti seseorang yang kehausan di padang pasir menemukan air yang segar. Jari-jemarinyapun semakin liar mempermainkan kedua penisku. “Slurrp.., Cuph.., Mphhhhh..”. Suara kecupan-kecupan di penisku semakin keras saja.
    Tangan kiriku berusaha menyingkap rok suster muda itu dan dengan sigap kugosokkan jari-jemariku di celana dalamnya. Tepat diatas vaginanya, celana dalam suster muda terasa sudah basah. Sungguh hebat! Hanya dalam beberapa menit saja, ia sudah sedemikian terangsangnya sehingga vaginanya sudah siap untuk dimasuki oleh penisku.
    Kini suster naik ke tempat tidurku dan sudah berjongkok tepat di atas pinggang saya, ia sejenak menggenggam kemaluan saya itu sebelum kemudian memasukkannya ke dalam liang vaginanya dengan perlahan dan santai. Suster muda mendesah merasakan penis itu masuk menembus dinding kemaluannya dan menerobos masuk sampai dasar liang vagina yang terasa sempit oleh perawat muda. “Ooouuuhhhhhhhhh…………….”, desahnya memulai gerakan menurun-naikkan pinggangnya di atas tubuh saya ini. Keganasan yang luar biasa. Suster muda sudah tidak malu-malu lagi menggoyangkan pinggulnya di atas penisku sehingga bergesekan dengan vaginanya………….”Ooohh…, ooohh…, aauu, aku keluarr…, kata suster muda, aahh…, aah…, aku, nggak kuat lagi aku…, pa…, ooohh…, enaaknya…, sayang, ooohh…, pa sayang…, hhuuuh…, suster nggak tahan lagi”, jeritnya panjang sambil memeluk erat tubuh saya, cairan kelamin dalam rahimnya muncrat memenuhi liang vagina di mana penis saya masih tegang dan keras.
    “Ooohh nikmat suster…, ooohh punya suster tambah licin dan nikmat…, ooohh…, nikmat suster, ooohh…, semakin nikmat sekali, ooohh…, enaak, mm…, ooohh…, uuuhh…, ooohh…, ooohh, nikmat sekali…, uuuhh…, suster cantik…, aauuuhh…, ssshh nikmat suuuuus”, desah saya merasakan kenikmatan dalam liang vagina sang suster yang tengah mengalami ejakulasi, vagina itu terasa makin menjepit penisnya yang terus saja menggesek dinding vagina itu. Kepala penisnya yang berada jauh di dalam liang vagina suster itu merasakan cairan hangat menyembur dan membuat liang vagina terasa semakin nikmat dan licin. Perlahan-lahan ku ulagi lagi kutempelkan kepala penisku itu di pintu vaginanya. Sambi kuputar-putar kecil kudorong pinggulku perlahan-lahan. Suster ternganga sambil terengah-engah, “aahh.., aahh.., ouhh.., pa.., besar sekali.., pelan-pelan pa..pelan-pelanhh..”, dan, “aa…”. Suster muda menjerit kecil ketika kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang becek dan terasa sangat sempit dalam posisi berdiri ini. Aku menyodokkan penisku maju mundur dengan gerakan yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tubuh suster muda terguncang-guncang, buah dadanya bergayut ke kiri dan kanan dan jeritannya semakin menjadi-jadi.
    Tiba-tiba kujambak rambut Suster muda dan kutekan sekuat-kuatnya sehingga seluruh penisku tenggelam ke dalam vaginanya. Kurasakan ujung penisku menyentuh langit-langit dan, “Creeet…, creeett…, creeettt”, menyemburlah cairan maniku ke dalam vagina suster muda.
    “Ahh…, aahh.., aahh.., susterrrrrrrrrrr…”, Aku meringis dan mendesis keras ketika cairan maniku bersemburan ke dalam suster. cairanku sehingga penisku yang hampir layu kembali sedikit menegang karena terus-terusan. Aku memejamkan mataku.., gilaa.., permainan suster muda ini benar-benar menakjubkan. Ada rasa was-was karena takut ketahuan, tapi rasa was-was itu justru meningkatkan nafsuku. Suster muda memandang penisku yang sudah agak mengecil namun tetap saja dalam posisi tegak. Lalu membereskan semuanya seolah oalah tidak ada yang terjadi sungguh sudah biasa. Kami hening tak ada kata-kata terheran heran, tak diduga-duga kejadian ini…. Pa aku kerja dulu …….. sampai jumpa oyah Malam ini aku dapat giliran jaga aku akan datang malam okey kita lanjutkan kembali pa…… “Luar biasa…”, Bisik ku, “Siap-siap nanti malam yah pa?” Katanya sambil bangkit dan beranjak ke luar dan membereskan baju seragam susternya Rumah sakit OMNI,……
    Suster muda itu Datang malam hari jam 1.30 malam
    Dia datang tepat waktu bagaikan pencuri malam hari dia datang, tampa basa basi suster muda langsung memelukku, bagaikan sudah kenal lama, Kami berdua masih sangsung berciuman dengan ganas ketika dengan sigap aku menyelipkan tanganku ke balik baju perawat muda yang putih itu. Sungguh terkejut ketika aku sadar bahwa ia sama sekali tidak memakai BH sehingga dengan mudahnya kuremas buah dada kanannya yang ranum itu.
    “Kok ngga pakai BH Susterrrrrrrrr..?” Sambil menggelinjang dan mendesah, ia menjawab sambil tersenyum nakal.
    “Supaya gampang diremas sama bapa..”. Benar-benar jawaban yang menggemaskan!

    Aku mulai memompakan penisku keluar masuk, keluar masuk. Gerakanku makin cepat dan cepat. Semakin cepat gerakanku, semakin keras jeritan suster muda terdengar di kamarku. Pinggul suster muda itu pun berputar-putar dengan cepat mengikuti irama pompaanku. Kadang-kadang pinggulnya sampai terangkat-angkat untuk mengimbangi kecepatan naik turunnya pinggulku. Buah dadanya yang terlihat bulat dalam keadaan berbaring itu bergetar dan bergoyang ke sana ke mari.
    Perlahan kubalikkan tubuhnya dan segera tampak punggungnya yang putih mulus, halus dan kurengkuh tubuhnya dan kembali lidahku bermain lincah di pundak dan punggungnya hingga ke tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan kusapu dengan lidahku yang basah. “Aaaccch… ach…” desahnya yang pertama dan disusul dengan jeritan kecil tertahan dilontarkannya ketika kugigit urat lehernya dengan gemas dan tubuhnya sedikit mengejang kaku. Kuraba pangkal lengannya hingga ke siku dan dengan sedikit tekanan kuusahakan untuk meluruskannya sikunya yang secara otomatis menarik kaos yang dipegangnya ikut turun ke bawah dan dari belakang pundaknya itu.
    Sungguh menggairahkan Tidak lebih dari 5 menit, aku merasakan bahwa nafsu syahwat kami sudah kembali berada dipuncak. Aku tak ingin kehilangan momen. Kubalikkan tubuh suster muda, dan kutindih sehingga keempukan buah dadanya terasa benar menempel di dadaku. Perutku menggesek nikmat perutnya yang kencang, dan penisku yang sudah sangat menegang itu bergesekan dengan vaginanya.
    “Sus.., buka kakinya.., sekarang kamu akan merasakan sorganya dunia Sus..”, bisikku sambil mengangkangkan kedua pahanya. Sambil tersengal-sengal Suster membuka pahanya selebar-lebarnya. Ia tersenyum manis dengan mata sayunya yang penuh harap itu.
    “Ayo Pak.., masukkan sekarang…”, Aku menempelkan kepala penisku yang besar itu di mulut vagina Suster muda. Perlahan-lahan aku memasukkannya ke dalam, semakin dalam, semakin dalam dan, “aa.., Aooohh.., paakh….., aahh..”, rintihnya sambil membelalakkan matanya ketika hampir seluruh penisku kubenamkan ke dalam vaginanya.
    Setelah itu, “Blesss…”, dengan sentakan yang kuat kubenamkan habis penisku diiringi jeritan erotisnya, “Ahh.., besarnyah.., ennnakk ppaak..”. dan kami selesai sekali lagi, saya merasa puas, sepuas-puasnya dengan layanan suster OMNI.
    apakah kamu tidak takut kalau ketahuan kata saya sesudah melakukan sex bebas, itu sudah saya perhitungkan semua keadaan dan ini adalah hiburan perawat-perawat banyak teman saya diam diam!…… terima kasih…………… luar biasa penyembuhan yang suster berikan luar dalam dan layanan yang bagus Rumah Sakit ini. suster muda itu keluar dan menghilang dalam malam itu, aku lupa namanya siapa ini adalah bonus mungkin dari
    Rumah Sakit OMNI, Saya sudah dua kali melakukannya dengan dia perawat itu saya tidak mengetahui nama siapa munkin ini memang bagian dari layanan…………. 1 bulan ke mudian saya cerita dengan teman saya …… namanya Nasir…. Ternyata Nasir mengalami hal yang layanan yang sama dan Nasir sempat berlanjut di luar rumah sakit namanya Suster Merri ……… Layanan yang Bagus terima kasih perawat-perawat teruskan, kamu menyembuhkan segalanya.
    Saya sekarang ini ada di BALIKPAPAN, Saya itu tak pernah menyangka bahwa Perawat di Rumah Sakit Omni sebegitu canggihnya dalam pelayanan dan merebut pelangan, sini telah jatuh ke dalam dunia terbuka saya seorang pemuda perkasa yang jauh mendapat layanan yang luar bisa. Ini benar-benar bagus Rumah Sakit ini, semoga di ikututi Rumah Sakit Swasta yang lain, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih RS. OMNI
    Tamat

  3. Dahsyattttt….
    Gela crita.y. W jd pgen neh.

  4. aq ibu rumah tangga 36 tahun isteri pejabat, bodyku mulus and padat, mendambakan pria yang punya kontol kayak orang arab, biar bisa menggaruk memekku dengan lezat, ada ngak ya kontol2 yang bantuin aq, kalu bisa 3 kontol sekaligus, biayanya aq yg bayar , bantuin dong aq selalu bugilkalau dirumah,pembantu pulang siang, suamitengah malam (kdg2 ngak pulang) anak2ku sekolah ditmpat neneknya, please fuckme, sms mesum dulu ya ke 082170319518

  5. Gw Punya Cerita :
    Perkenalkan nama Gw Jarwo.
    Sewaktu itu Gw Teman bernama Dalu & istrinya Shinta,dia sudah punya anak 1 yg berumur 9 bulan.
    Gw sama dalu adalah teman sekantor,kebetulan istrinya dalu ini adalah penyedia Katering untuk makanan dikantorku tersebut.
    Kulitnya kuning langsat,tingginya sekitar 170 cm,yg paling gw demen adalah payudaranya itu loch….ukurannya jumbo,besar bin montox….
    Setiap pengambilan katering tersebut pada jam 12.30 siang,nah…yg paling sering ngambil katering tersebut adalah Gw.
    Karena sudah hampir 2 tahun gw kenal sama si Dalu,berarti gw jg akrab sama istrinya itu.
    pada bulan pertama sih gw biasa aja liat istrinya,tapi lama-kelamaan gw perhati’in si shinta ini kok tambah lama tambah montox aja tuh toket,wuiih….jd tambah semangat gw bertandang kesana.
    BERIKUT KEJADIANNYA :
    Suatu siang rutinitas gw ngambil katering tersebut…gw ketuk pintu rumahnya…,tok…tok….,begitu pintu dibuka gw agak kaget,siang itu shinta pake baju ketat warna hitam dengan belahan dada rendah berbentuk V…..,aku langsung kaget liat cara pakaiannya tersebut,maklum biasanya sehari-hari shinta istri Dalu ini pake baju yg agak sopan berupa daster rumahan….,saat itu aku langsung tanya apakah kateringnya sudah siap,dia jawab lauknya masih belum selesai dimasak,tunggu dulu yach katanya….aku jawab oke.
    Tiba-tiba Shinta kedapur dan langsung nyuguhin aku minuman es syirop,maklum hari itu cuacanya panas banget.
    Sewaktu nyuguhin minum Shinta nunduk….mataku tertuju pada belahan susunya yg hampir semua terlihat…bahkan puting susunya yg berwarna kecoklatan begitu jelas kelihatan karena jaraknya hanya beberapa Centimeter dari wajahku,shinta kayaknya tidak menyadari hal tersebut,langsung deh Pelnis aku Keras banget disuguhin pemadangan tersebut,beberapa saat kemudian shinta duduk sambil ngajak aku ngobrol,selagi penisku tegang bin keras….aku berusaha mengalihkan pembicaraan mengenai internet,aku tanya…: Shin…kamu pernah baca cerita seks nggak di internet tentang wanita eksibisionist…??
    Dia jawab : sering tuh,tapi dulu…sekarang sudah jarang katanya.
    Sambil dia cerita,,,mata aku terus tertuju kebelahan susunya yg kadang nyembul sewaktu dia berpindah posisi duduk,trus dia nanya balik ke aku,,,emang kenapa tanya gituan..?
    Aku jawab aja : andaikan ada wanita yg seperti itu pasti aku akan sangat senang….& pasti langsung kekamar mandi…..,hahaah…dia ketawain aku….,entah mungkin dengar pernyataanku seperti itu,tiba-tiba dia kedapur lagi sambil ngeliatin masakannya,trus dia balik lagi,tapi aku terkaget-kaget,karena saat dia balik ktempat kami ngobrol.,aku bisa liat puting susunya tercetak dibaju ketatnya itu…sambil senyum-senyum dia liat mataku tertuju kearahnya…eh malah dia senyum-senyum sendiri…,penis aku tambah tegang aja liat pemandangan tersebut,sambil ngobrol…sekali-sekali tangannya menggaruk-garuk susunya dengan alasan cuaca hari ini panas banget,aku tambah tak tahan dengan tingkah lakunya,tanpa sadar tangan aku ngelus-ngelus penisku,karena terasa sakit tertutup celana jeans ku…dia trus senyum-senyum melihat gerakan tangannku,
    Sejenak kmudian dia minta tolong sama aku untuk mindahin meja makannya dengan alasan biar ruangannya agak lebar,saat kami ngangkat meja tersebut,badannya nunduk lagi,Aduuhh….alamak Susunya menggantung bebas,sambil pura-pura tanya posisi yg pas katanya buat naruh meja tersebut,hampir 3 menit posisi dia nunduk tersebut…sampai-sampai putingnya itu sangat jelas didepan mataku,kemudian tanya…: kamu Kenapa Wo…kok kayak gelisah gitu,aku sampai gelagapan ngejawab,aku bilang aja : bingung nih mau taroh dimana nih meja,padahal susumu itu lo shin…putih…besar & putingnya itu loch bikin aku jadi begini..,akhirnya selesai juga naroh tuh meja.
    Saking gak tahannya liat pemadangan tadi,aku mohon ijin mo ke WC dulu buat buang air kecil,karena sudah terangsang berat,dia bilang silakan kebelakang….setiba di dalam WC…kubuka Resleting celanaku & langsung Aku Kocok penisku yg begitu kerasnya dengan menggunakan air liurku…,Oh…Oh….shinta…Susumu membuatku Gila….sekitar 3 menit kemudian Mucrat lah air maniku dari penisku dengan derasnya….Oh…Uh..,lega Rasanya…kemudian aku keluar dari WC…& duduk lagi didepan,rupanya shinta lagi Netekin anaknya…alamak..susunya secara sempurna aku liat didepan mata….,wuih…tak bisa dibayangkan dengan kata-kata,saking Montoxnya….Penisku tegang lagi,rupanya shinta kebelet mau pipis & minta aku megangin anaknya,saat itu dia hanya pake rok selutut saja,begitu dia balik…rupanya shinta nggak sadar bahwa roknya yg belakang belum tertarik keatas….sampai aku bisa lihat bahenolnya pantat dia sewaktu berjalan sambil ngeliatin masakannya,aku taroh anaknya tadi didalam ayunan langsung aku keluarin penisku dari celana…kudatangi shinta kedapur…kutempelin dipantat shinta yg masih tertutup celana dalam…,shinta terkejut merasakan ada sesuatu yg mengganjal dibelahan pantat dia,kemudian shinta diam saja,karena tidak ada penolakan….pelan-pelan kuturunkan celana dalamnya…langsung aku cium pantatnya & kujilat-jilat sampai liang vaginanya yg berbulu lebat,shinta mendesah pelan.,jilatanku terus menerus tiada henti,tanganku langsung mencari susunya yg sangat kuidam-idamkan & mremas-remas pelan,Shinta hanya mngeluarkan suara : oohh….eh..,jilatanku semakin liar,tiba-tiba dr luar ada yg panggil-panggil : mbak shinta..mbak shinta,langsung deh kami benahin diri,rupanya tetangga mo pinjam ember..,yach gagal deh.
    ( selingkuh_1000x@yahoo.com )

  6. @Lina
    aku siap membantu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s