Reisa – Asmara di Pulau Mentawai

Copyright 2008, By Mario Soares & East Life

(Selingkuh, Seks Antar Ras)

Sore itu terlihat rutinitas keramaian di pelabuhan Muaro, Kota Padang. Pelabuhan itu adalah sarana perhubungan orang dan barang dari Padang ke Mentawai dan sebaliknya. Senja itu orang-orang akan berangkat ke pulau Mentawai yang berjarak 80 mil tenggara pantai barat Sumatera Barat.

Di antara keramaian orang, satu keluarga mengantar kepergian salah seorang anggotanya. Dari mobil Camry plat merah yang digunakannya, bisa dilihat kalau orang yang mengantar itu bukanlah orang sembarangan.

Si ibu tak henti-hentinya memeluk anak gadisnya. Rupanya ibu itu merasa berat hati melepas kepergian anak gadisnya yang bernama Reisa, yang usianya baru menginjak 24 tahun. Reisa adalah seorang dokter yang akan ditugaskan PTT di kepulauan tersebut, tepatnya di Pulau Sipora. Ayahnya sengaja ikut mendampingi putrinya ke pulau dengan harapan bisa melihat langsung lokasi tempat kerja anak kesayangannya. Apalagi dari kabar yang ia tahu selama ini, daerah itu masih terisolasi dan terpencil.

Terdengar aba-aba memberitahukan calon penumpang untuk segera menaiki kapal karena kapal akan berangkat. Reisa melepas pelukan ibunya dan menuju kapal dengan ditemani ayahnya yang merupakan seorang pejabat tinggi di daerah tersebut. Sambil membetulkan kerudungnya, Reisa meraih tangan seorang pria tampan yang berdiri di sampingnya saat itu. Pria tersebut adalah Dino, tunangan gadis itu.

Kapal mulai bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Muaro Padang menuju ke Kepulauan Mentawai. Perjalanan ke Mentawai akan memakan waktu kurang lebih 12 jam. Jika cuaca baik, kapal akan merapat di pelabuhan Tua Pejat keesokan paginya.

Deru ombak Samudera Hindia sangat kuat menguncang kapal yang mereka tumpangi. Mereka mendapat tempat di kelas yang cukup sederhana karena memang hanya itu yang ada kalau ke Mentawai. Dengan beralaskan bed cover yang dibawanya dari Padang, Reisa merebahkan tubuhnya di kamar kapal itu, sementara ayahnya berselonjor di atas dipan. Goyangan kapal membuat mereka merasa tak terlalu nyaman. Selama perjalanan si ayah tak henti-hentinya berbincang dengan Reisa.

Keesokan harinya kapal merapat di pelabuhan Tua Pejat di Pulau Sipora. Pantainya amat indah. Setelah menurunkan barang bawaannya, Reisa dan ayahnya disambut oleh perangkat desa tempatnya akan menetap. Orang itu adalah petugas kesehatan yang bertugas di puskesmas desa tersebut dan bernama Pak Nurfea Sabaggalet, atau biasa dipanggil Pak Nur. Dia ditugaskan untuk menjemput Reisa dan ayahnya. Pak Nur membantu mengemasi barang bawaan Reisa ke sepeda motornya, sedangkan untuk Reisa dan ayahnya telah disediakan dua buah ojek.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan melalui jalan yang tidak begitu mulus, sampailah mereka di desa tempat Reisa bertugas. Di sana Reisa dan ayahnya dibawa ke rumah yang telah disediakan. Rumah itu amat bersih dan tertata dengan rapi. Rumah semi permanen itu terletak tak jauh dari puskesmas yang akan ditempati Reisa.

Tak lama kemudian datanglah istri Pak Nur yang membawa air minum dan makanan kecil. Pak Nur mengenalkan istrinya kepada Reisa dan ayahnya.

“Selamat datang, Bu Dokter,” kata Bu Nur dengan suka cita. “Akhirnya datang juga dokter yang sudah lama kami nanti-nantikan. Amboi… dapat yang cantik pula.”

“Ah, Ibu bisa aja… Terima kasih, Bu atas sambutannya,” kata Reisa tersipu.

“Iya, Ibu serius kok. Tampang Bu Dokter mirip sekali sama bintang sinetron itu… Siapa ya namanya? Asmirandah!” kata Bu Nur.

Spontan Reisa dan ayahnya tertawa sementara Pak Nur hanya manggut-manggut mengiyakan perkataan istrinya.

“Ibu nih tahu aja Asmirandah, memangnya suka nonton tivi ya, Bu?” timpal Reisa di sela tawanya.

“Iya, Bu Dokter, kita juga ada tivi dan parabola di sini walaupun kadang harus pakai genset,” kata Pak Nur menjelaskan sambil tersenyum ramah.

Dengan cepat Reisa merasa akrab dengan keluarga Pak Nur. Ternyata istri Pak Nur juga menguasai seluk-beluk masalah kesehatan. Dialah yang akan membantu tugas-tugas Reisa selama di sana. Ayah Reisa mulai lega setelah melihat langsung situasi tempat anaknya bertugas.

Esok harinya mulailah Reisa masuk ke puskesmas dengan didampingi oleh perangkat desa termasuk kepala desa dan Bu Nur. Reisa amat senang dengan sambutan yang begitu akrab. Apalagi menurut Pak kepala desa, hampir 2 tahun ini tidak ada lagi dokter yang masuk di puskesmas itu. Kedatangan Reisa diharapkan bisa membawa peningkatan taraf kesehatan masyarakatnya.

Hari itu mulailah Reisa melakukan tugas-tugasnya pertamanya. Ia banyak bertanya pada Bu Nur tentang masalah-masalah kesehatan di desa itu. Reisa juga banyak bertanya mengenai bahasa setempat yang kurang begitu ia pahami. Walaupun sedikit-sedikit, ia berusaha mempelajarinya.

Melihat Reisa sudah dapat beradaptasi dalam melaksanakan tugasnya, sesuai jadwal ayahnya kembali ke Padang. Sore itu Reisa mengantar ayahnya ke pelabuhan didampingi Pak dan Bu Nur. Ayah Reisa menitipkan putrinya kepada Pak dan Bu Nur. Ia berpesan agar Reisa bisa membawa diri dan menjaga harkatnya sebagai wanita dan juga sebagai dokter. Reisa menganggukkan kepalanya menuruti pesan ayahnya.

***

Setiap hari libur Reisa selalu diajak Pak dan Bu Nur keliling pulau melihat keindahan pantai yang cukup terkenal itu. Reisa amat menyukai pemandangan di pulau yang cantik ini. Biasanya mereka jalan pagi, sebelum Pak dan Bu Nur melakukan kebaktian di gereja. Memang sebagian besar penduduk di situ memeluk agama Kristen.

Reisa tak hanya melakukan tugasnya di puskesmas. Ia mempunyai jadwal untuk melaksanakan tugas medis dan penyuluhan kesehatan ke desa-desa di pelosok. Tak jarang ia melakukan perjalanan ke pedalaman dengan menggunakan perahu motor dengan ditemani Bu Nur. Awalnya ia cukup kaget dan kuatir melihat hutan bakau dan suasana hutan yang tak biasa ia temui. Dengan dorongan semangat dan bantuan dari Bu Nur, lambat laun ia bisa beradaptasi.

Suatu hari ketika Reisa dan Bu Nur masuk ke pedalaman, mereka dikejutkan oleh panggilan dari penduduk desa yang membutuhkan bantuan. Dengan segera mereka menuju tempat yang ditunjukkan masyarakat pedalaman tersebut.

Sesampai di sana terlihat seorang pria terbaring di dalam rumah kayu dengan luka yang cukup serius. Pria itu baru saja tertimpa pohon yang tumbang karena angin. Reisa dengan dibantu Bu Nur segera melakukan pengobatan. Melihat kedaan pria itu yang cukup parah, diputuskan kalau pria itu harus dibawa ke puskesmas.

Penduduk kampung itu beramai-ramai memapah laki-laki itu ke perahu yang biasa digunakan Reisa untuk meninjau pedalaman. Selama perjalanan, Reisa dan Bu Nur berusaha menghentikan pendarahan di kepala pria itu. Sesampainya di puskesmas, Reisa melakukan pembedahan kecil.

Pria itu kini tertidur karena pengaruh obat penenang. Reisa meminta Bu Nur untuk menjaga pria itu sebab ia mau pulang sebentar untuk membersihkan tubuhnya yang kotor.

Beberapa saat kemudian pria itu siuman. Bu Nur lalu menanyakan identitas pria tersebut. Ia bernama Jonas Banak, berasal dari Ende, NTT. Ia sampai di pulau Sipora dalam rangka praktek kerohanian dari Seminari di Semarang, Jawa Tengah. Usianya sekitar 26 tahun.

Di saat Bu Nur sedang berbincang dengan Jonas, muncullah Reisa yang telah kembali dari rumahnya. Dengan sapaan lembut ia menanyakan keadaan pasiennya. Bu Nur lalu mengenalkan pria itu pada Reisa. Pria itu menjabat erat tangan halus dokter yang telah menyelamatkannya. Dalam hati ia terpana menyaksikan kecantikan Reisa yang terpancar dari balik kerudung putihnya. Dipadu dengan seragam dokternya yang juga berwarna putih, Reisa tak hanya tampak cantik melainkan juga anggun.

Karena Reisa telah tiba, Bu Nur lalu minta izin pulang. Reisa mengizinkannya sebab malamnya Bu Nur akan kembali bertugas menjaga pasien tersebut.

Setelah Bu Nur pulang, Reisa menanyakan sebab Jonas mengalami kecelakaan. Jonas menerangkan awal kejadian yang menimpanya. Reisa akhirnya tahu bahwa Jonas adalah seorang calon pendeta yang ditugaskan ke pedalaman untuk memberikan pelayanan rohani di pulau itu. Ternyata Jonas adalah orang yang supel dan pandai berbicara. Tak hanya itu, ia pun pandai mendengarkan orang lain bicara. Perbincangan Reisa dan Jonas menjadi sangat akrab, seperti dua kawan lama yang baru bertemu kembali.

Reisa akhirnya pamit untuk pulang saat Bu Nur tiba kembali ke puskesmas. Sambil mengecek kondisi Jonas, Reisa memberi beberapa arahan kepada Bu Nur.

Selama beberapa hari Jonas menginap di puskesmas itu sampai ia dinyatakan boleh pulang. Ia dijemput oleh temannya yang juga ditugaskan di kepulauan Mentawai. Jonas mengucapkan terima kasih atas bantuan dr Reisa dan Bu Nur. Tak lupa ia meminta nomor telepon selular Reisa agar mereka bisa tetap saling kontak.

***

Hari-hari berikutnya Reisa tenggelam dalam rutinitas melakukan penyuluhan dan pengobatan hingga ke pedalaman pulau itu. Dengan dibantu Bu Nur aktifitas Reisa semakin lancar.

Di suatu kesempatan di pedalaman Reisa kembali bertemu Jonas. Reisa dan Bu Nur diajak Jonas untuk singgah di pondok tempat tinggal Jonas. Pondok itu dibuat oleh para pendeta yang telah kembali ke kota dan kini hanya ditempati oleh Jonas seorang. Pondok itu terbuat dari kayu hutan yang disusun rapi, atapnya terbuat dari rumbia yang cukup bagus menahan air dan hawa panas. Lantainya juga terbuat dari papan yang tertata rapi dan bersih. Kesan di dalam pondok itu amat sejuk dan nyaman.

Meskipun berada di pedalaman namun perabot di dalamnya lumayan lengkap. Ada kompor, meja kerja, juga sebuah kamar lengkap dengan tempat tidur kayu yang diselubungi kelambu sebagai pelindung dari serangga. Ventilasinya cukup bagus sehingga udara dapat keluar masuk dengan sempurna. Hanya karena belum tersentuh aliran listrik, penerangan masih menggunakan lampu petromaks. Jonas hanya memiliki sebuah accu yang cukup untuk menghidupkan televisi kecil dan mengisi baterai HP-nya.

Saat pulang, Jonas mengantar mereka ke perahu. Perlahan perahu bergerak menjauh dari daerah itu.

Malam itu setelah mandi dan makan malam, Reisa bersiap untuk tidur. Tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Rupanya itu SMS dari Jonas yang ingin mengetahui keadaan Reisa.

Jonas amat terkesan pada Reisa yang cantik, namun juga tangguh dan berani karena mau ditugaskan di pulau yang masih terisolasi itu demi tugas mulia memberikan perawatan kesehatan pada masyarakat. Sebaliknya, Reisa pun terkesan pada Jonas yang berasal dari wilayah timur Indonesia tapi mau ditempatkan di pulau yang sangat jauh dari daerah asalnya.

Malam itu Reisa dan Jonas saling berkirim SMS sampai larut malam. Tak pelak, perbincangan lewat SMS itu akhirnya mengarah pada hal-hal pribadi. Dengan terus terang Reisa menceritakan tentang tunangannya Dino yang akan segera menikahinya.

Dengan sedikit cemburu Jonas membaca pesan dari Reisa tentang tunangannya. Ia menyadari kalau dirinya mulai menaruh hati pada dokter yang cantik itu. Sejauh ini Jonas masih berusaha menyembunyikan perasaannya. Hanya saja ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa akrab dengan Reisa dengan sering mengadakan kontak dengannya. Reisa mulai merasa Jonas enak untuk dijadikan teman untuk saling berbagi dan curhat.

***

Tanpa terasa Reisa telah menghabiskan bulan pertamanya di pulau itu. Ia mendapatkan waktu pulang ke Padang untuk pertama kalinya. Ia amat rindu dengan keluarganya dan tentu saja tunangannya Dino. Reisa berangkat Jumat sore itu dengan menumpang kapal yang hanya berlayar ke pulau itu dua kali seminggu.

Sabtu pagi Reisa sampai di pelabuhan Muaro Padang. Di sana ia telah dijemput tunangannya Dino. Sambil memeluk Reisa, Dino meraih barang bawaan Reisa yang kemudian dimasukkannya ke dalam mobil.

Sesampainya di rumah, Reisa langsung disambut ayah ibunya. Di rumah besar dan mewah itu, orang tuanya banyak bertanya tentang pengalaman Reisa selama sebulan di pulau. Dengan penuh semangat Reisa menceritakan tugas-tugasnya dan keramah-tamahan penduduk di sana.

Selama di Padang Reisa memanfaatkan semaksimal mungkin saat berduaan dengan kekasihnya untuk saling melepas rindu dengan sering berpelukan. Walaupun kangen, mereka masih menjauhkan diri dari hal-hal yang terlarang untuk dilakukan menurut agama yang mereka anut.

Hingga tibalah harinya Reisa harus kembali ke pulau untuk bertugas. Dengan izin dari orang tua Reisa, Dino ikut serta mengantar kekasihnya ke pulau itu. Orang tua Reisa amat percaya pada Dino karena tak lama lagi Dino juga akan menjadi suami anaknya itu. Pembicaraan antar orang tua mereka sudah terjadi dan tinggal menentukan hari pernikahan yang tepat setelah Reisa selesai PTT.

Selama perjalanan pasangan ini tak lepas-lepasnya memandang keindahan pantai Padang yang segera mereka tinggalkan. Dino merasa salut akan tekad Reisa yang sangat bulat bertugas di pulau itu. Dino bisa merasakan sendiri beratnya perjalanan selama naik kapal motor itu.

Pagi itu sesampainya di pulau, Reisa harus langsung masuk kerja karena antrian pasien yang menunggu sudah cukup panjang. Setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian, ia beranjak ke puskesmas yang hanya beberapa meter dari rumahnya. Dino ditinggalnya di rumah untuk beristirahat setelah penat melakukan perjalanan semalaman.

Sepulang bertugas, Reisa mengajak kekasihnya itu keluar rumah untuk melihat keindahan pantai Pulau Sipora. Sepulangnya dari pantai Reisa mengajak Dino ke rumah Pak dan Bu Nur. Dengan berjalan kaki mereka menuju ke rumah suami istri itu.

Saat itu Pak Nur sedang duduk santai di depan rumahnya. Bu Nur yang sedang memasak keluar dari dapurnya. Reisa mengenalkan Dino kepada Pak Nur yang juga merupakan sesepuh warga di situ.

Setelah merasa cukup mengenalkan tunangannya pada Pak dan Bu Nur, Reisa minta diri.

“Dik Dino, kalau mau boleh bermalam di sini lho,” kata Bu Nur. “Di rumah dr Reisa kan kamarnya hanya satu.”

“Makasih, Bu. Nggak usah repot-repot,” balas Dino dengan sopan. “Saya biasa tidur di ruang tamu kok.”

“Jadi kapan kalian akan menikah?” tanya Pak Nur ingin tahu.

“Yah, insya Allah setelah selesai PTT, Pak,” jawab Reisa singkat sambil tersenyum.

“Wah, yang perempuan cantik, yang pria ganteng. Hati-hati lho dik Reisa, abangnya kalau ditinggal lama-lama nanti direbut orang,” canda Bu Nur.

Reisa hanya tersenyum dan pamit untuk pulang.

Sebelum meninggalkan rumah keluarga Pak Nur, Dino sempat menanyakan kepada Pak dan Bu Nur apakah ada masjid di sekitar situ. Bu Nur menggelengkan kepalanya karena menurutnya hampir semua penduduk di situ beragama Kristen. Dino tak bisa menyembunyikan kekecewaan di wajahnya mendengar jawaban Bu Nur.

Mereka berjalan kaki pulang ke rumah Reisa sambil bergandengan tangan dengan mesra.

Mereka tidak menyadari tak jauh dari mereka ada sepasang mata yang terlihat sedih. Sepasang mata itu milik Jonas yang saat itu ingin berkunjung ke tempat Reisa. Walaupun cemburu, perasaan itu dikuburnya di dalam hatinya saja.

Jonas lalu menemui kedua sejoli itu. Dengan sapaan lembut dipanggilnya gadis itu. Reisa menoleh ke arah suara itu. Gadis itu tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat melihat Jonas. Dikenalkannya Dino kepada Jonas.

Reisa menerangkan pada Dino kalau Jonas adalah bekas pasiennya. Jonas pun menjabat tangan Dino. Entah kenapa, tampaknya Dino sedikit kurang senang dengan Jonas. Dengan sikap agak dingin Dino menerima uluran tangan Jonas.

“Jonas, tumben kau ada di sini. Ada acara apa?” tanya Reisa.

“Aku ada pelayanan di rumah warga hari ini, Reisa”, kata Jonas berbohong. Ia tak menceritakan niat awalnya yang ingin datang ke rumah Reisa untuk bertemu dengannya. Jonas tak tahu kalau tunangan gadis itu datang ke pulau.

“Kalau begitu, singgahlah dulu ke rumah,” kata Reisa.

“Ah tak usahlah, Reisa. Terima kasih, kebetulan aku harus balik sebelum hari gelap,” tolak Jonas. Ia bisa merasakan sikap dingin Dino.

Jonas berlalu dengan perasaan dongkol karena niatnya untuk berduaan dengan Reisa tak kesampaian. Sementara Reisa dan Dino kembali melanjutkan perjalanan mereka ke rumahnya.

Malamnya, sehabis makan bersama Reisa dan Dino segera beristirahat. Seperti yang diucapkannya pada Bu Nur, Dino memang tidur di sofa di ruang tamu sedangkan Reisa tidur sendiri di kamar. Dino memang berusaha menjaga kehormatan tunangannya dengan menjauhi hal-hal yang mendekati perzinahan.

Keesokan harinya Dino sudah harus kembali ke Padang. Sebelum pergi, Dino mengajak Reisa berbicara tentang kelanjutan hubungan mereka. Dino juga mengutarakan keberatannya jika Reisa terlalu dekat dengan Jonas. Dino merasa Jonas bukanlah seorang pria baik-baik walaupun ia calon pendeta.

Dengan sabar dan hati-hati, Reisa berusaha menenangkan Dino. Ia juga minta Dino untuk jangan terlalu cemburu, sebab profesinya menuntutnya akrab dengan berbagai macam orang, apapun latar belakangnya. Lagipula Dino tak bisa menjelaskan alasannya tak menyukai Jonas.

“Din, kamu jangan bersikap kekanak-kanakan, dong. Kita kan sudah berpacaran lebih dari 3 tahun. Kita juga sudah bertunangan dan tak lama lagi akan menikah,” pinta Reisa.

Dino akhirnya bisa menerima alasan Reisa. Ia yakin akan kesetiaan Reisa. Apalagi ia berpikir mana mungkin Reisa yang seorang dokter dan memiliki fisik yang menawan itu akan terpikat oleh Jonas yang jelek dan kampungan.

Di pelabuhan mereka tak henti-hentinya bergandengan tangan. Saat Dino akan berangkat, diciumnya bibir kekasihnya itu. Kapal pun beranjak meninggalkan pelabuhan Tua Pejat menuju Muaro Padang.

***

Reisa kembali bertugas seperti biasanya. Di suatu kesempatan mengunjungi pedalaman, Reisa kembali bertemu Jonas yang baru selesai memberikan pelayanan rohani kepada warga pedalaman. Reisa dan Bu Nur kembali ditawari singgah ke pondokannya sebelum pulang ke puskesmas. Reisa semakin terbiasa mengunjungi Jonas di pondokannya.

Jonas sangat rajin menghubungi Reisa untuk sekedar mengetahui keadaan di tempat Reisa atau menanyakan kabarnya. Ia tak segan membantu Reisa menghadapi warga pedalaman yang kadang mensalahartikan kedatangannya. Dengan sikapnya yang santun tapi tegas dan berwibawa, Jonas biasanya selalu bisa mengatasi masalah dengan masyarakat. Hubungan Jonas dan Reisa jadi semakin dekat.

Jonas semakin berani mendekati Reisa. Ia sering mengunjungi Reisa di puskesmas. Bahkan akhirnya ia sering mengajak Reisa berjalan-jalan ke pantai atau makan di rumah Bu Nur.

Keakraban Jonas dan Reisa sudah diketahui Bu Nur. Bu Nur sama sekali tak keberatan dengan kedekatan mereka berdua. Lagipula sebagai sesama aktifis gereja Bu Nur menyukai Jonas yang memang sangat pandai dalam ilmu agama. Ia percaya Jonas akan mampu membimbing Reisa.

Karena keakrabannya dengan Jonas, Reisa dan Bu Nur semakin sering melakukan pelayanan kesehatan ke desa tempat Jonas bertugas. Setiap minggu Reisa pasti berada di sana.

Seperti biasa, Reisa hampir setiap bulan selalu pulang ke Padang untuk bertemu keluarga dan tunangannya. Bulan itu kebetulan Jonas pun akan ke pergi Padang untuk suatu hal sehingga mereka naik kapal bersama-sama. Selama perjalanan Reisa tak pernah terpisah dari Jonas. Untuk mengisi waktu mereka ngobrol tentang apa saja.

Suatu saat karena ngantuk, Reisa tertidur dan kepalanya jatuh tersandar di bahu bidang Jonas. Jonas tentu saja senang sekali bahunya disandari Reisa. Meskipun mereka bukan pasangan kekasih, Jonas sempat memeluk tubuh Reisa yang kecapaian selama perjalanan dengan kapal. Jonas menikmati sepuas-puasnya raut wajah cantik Reisa dari sangat dekat walaupun kepala Reisa ditutupi kerudung putih seperti biasanya. Dipandanginya kulit wajahnya yang putih dan pipinya yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Dilihatnya juga tangan Reisa yang ditumbuhi rambut halus yang tampak serasi dengan kulitnya yang putih.

Sebagai lelaki ia merasa tergoda untuk bertindak lebih jauh terhadap Reisa namun niatnya itu diurungkan. Jonas tak mau melakukan hal yang bisa menyebabkan hubungannya dengan Reisa memburuk. Ia belum merasa tepat saatnya untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Beberapa lama kemudian Reisa terbangun dan sadar ia telah rebah di bahu Jonas. Dengan mengucap maaf Reisa menyatakan penyesalannya telah tertidur di bahu Jonas. Jonas segera menenangkannya dan mengatakan itu bukan masalah sama sekali. Reisa hanya tersenyum mendengar pengertian Jonas. Sesampainya di Pelabuhan Muaro Padang, barulah mereka berpisah.

Selama di Padang, tentu saja Reisa menyempatkan waktu berduaan dengan tunangannya. Tanpa Reisa tahu sebabnya Dino ternyata berubah jadi amat protektif dan sangat cemburuan. Perubahan sikap itu menyebabkan suasana yang tak enak. Puncaknya malah terjadi pertengkaran di antara mereka. Keduanya saling berdiam diri. Reisa tidak merasa melakukan hal yang berlawanan dengan komitmen mereka. Karena itu perasaan cemburu Dino yang berlebihan membuatnya jadi tak nyaman.

Reisa sempat mengadukan masalah itu kepada ibunya. Dengan lembut ibunya hanya berharap agar putrinya bisa bersabar. Akhirnya selama di Padang Reisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya sendiri.

Saat Reisa berangkat kembali ke pulau Dino bahkan tak ikut mengantarnya. Reisa merasa Dino masih marah kepadanya. Selama di atas kapal Reisa berusaha menghubungi Dino namun teleponnya tak pernah diangkat. Reisa amat sedih dengan sikap tunangannya itu.

Setibanya di pulau, Reisa masih selalu berusaha menghubungi HP Dino atau telepon rumahnya. Semuanya tak pernah diangkat Dino. Suatu malam Reisa menelepon ke rumah Dino dan diangkat oleh ibu Dino. Akhirnya Dino bersedia menerima telepon Reisa. Ternyata pembicaraan terasa dingin dan tak berlangsung lama. Perbuatan Dino yang menelantarkannya itu membuat Reisa sedih. Karena kesibukannya saja ia bisa sedikit melupakan masalah pribadinya itu.

Sementara itu Reisa semakin sering dikunjungi Jonas. Jonas yang simpatik dan penuh perhatian sedikit banyak mampu membuat Reisa melupakan kegundahannya. Tak terasa Reisa jadi sering curhat pada lelaki itu. Akhirnya bahkan masalah pribadinya dengan Dino pun terungkap kepada Jonas.

Jonas yang memang menaruh minat pada Reisa dengan pintarnya segera memanfaatkan keadaan. Segala cara dilakukannya untuk menghibur gadis itu supaya ia bisa melupakan masalah pribadinya dengan Dino. Jonas sering memberi perhatian pada Reisa bahkan untuk hal-hal yang kecil. Kebetulan Jonas memiliki selera humor yang tinggi dan sering melontarkan guyonan yang membuat Reisa tertawa.

Jonas semakin berani dan terang-terangan menunjukkan pendekatannya kepada Reisa. Paling tidak ia sengaja datang dua kali seminggu ke puskesmas untuk menjenguk dokter muda itu. Ada saja alasan yang dicarinya sehingga orang lain tidak curiga. Hanya Reisa yang tahu maksud kedatangan Jonas sebenarnya.

Biasanya Jonas akan mengantarkan Reisa pulang dan lalu ngobrol lama di rumah Reisa. Karena jika di rumah Reisa selalu melepas kerudungnya, maka ketika Jonas bertamu lama di rumahnya, Reisa selalu menemaninya tanpa memakai kerudung. Saat pertama kali melihat Reisa tanpa kerudungnya, Jonas spontan memujinya.

“Wah, Reisa, aku tak tahu kalau kau cantik sekali tanpa kerudungmu itu,” kata Jonas terpana. “Rambutmu yang hitam itu sangat tebal dan panjang… Persis seperti bidadari!”

Reisa tersipu senang mendengar pujian Jonas.

Selama bertamu di rumah Reisa, Jonas selalu berusaha semakin akrab dengan gadis itu. Mereka selalu duduk bersama di sofa sambil berpandangan mata. Jonas juga mulai berani untuk saling bergenggaman tangan. Mulanya gadis itu merasa malu. Karena ketekunannya, Jonas berhasil membuat Reisa terbiasa. Jonas sangat menikmati meremas-remas tangan Reisa yang lembut dan putih, demikian pula sebaliknya.

Jonas semakin sering mengajak Reisa jalan keluar bersama. Kadang mereka berjalan menyusuri pantai. Bahkan kadang mereka melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang indah di pulau itu.

Keakraban mereka sudah lebih dari sekedar teman biasa. Reisa jadi menemukan teman bicara dan curhat yang mengerti dirinya. Tanpa menghiraukan statusnya yang sudah bertunangan dan terikat dengan sesorang pria, Reisa mulai terbiasa menerima genggaman kokoh tangan Jonas yang hitam itu setiap saat mereka berjalan bersama. Bahkan Jonas sudah berani pula memeluk tubuh Reisa. Reisa merasa senang diperlakukan seperti itu sehingga membiarkannya saja.

Di suatu sore, seperti biasa Jonas mengajak Reisa jalan-jalan ke pantai. Mereka berjalan dan ngobrol sampai menjelang matahari terbenam. Saat matahari mulai terbenam, mereka terdiam berdua di tepi pantai. Dalam keremangan cahaya yang indah itu, tiba-tiba Jonas memberanikan diri mencium pipi Reisa. Perbuatan Jonas itu membuat Reisa gelagapan namun Jonas menahan suara Reisa dengan telunjuknya seakan menyuruhnya diam. Reisa tak tahu harus berbuat apa kecuali menurutinya.

Ternyata tanpa minta persetujuan Reisa, Jonas mendekat ke arah bibir Reisa dan mengulumnya beberapa saat. Reisa semakin terkejut. Ia tak menduga Jonas akan melakukan itu terhadapnya. Lelaki dengan wajah yang cukup membuat orang jijik itu berhasil mengulum dan melumat bibirnya. Reisa hanya menutup matanya selama diperlakukan seperti itu.

Jonas dan Reisa berjalan pulang tanpa ada kata yang terucap. Diantarnya Reisa sampai di pintu rumahnya. Sepeninggal Jonas, Reisa termenung di kamarnya. Reisa sadar jika Jonas menaruh hati padanya. Ia tak mengerti mengapa dirinya membiarkan saja semua ini terjadi. Apakah ini gara-gara kesepiannya jauh dari Dino ataukah ia memang sudah mulai suka pada Jonas yang bersikap melindungi. Padahal menurut akal sehatnya Reisa tak menginginkan Jonas jatuh cinta padanya karena bermacam perbedaan di antara mereka.

Sebetulnya Reisa belum melupakan Dino tunangannya yang masih ia cintai dan kelak akan jadi suaminya. Ia masih berusaha menghubungi kekasihnya itu. Sayangnya Dino seperti jadi membuat jarak dan kurang perhatian lagi padanya. Kini di lubuk hatinya mulai berperang antara perasaan kepada tunangannya atau Jonas.

Satu fakta yang tak bisa dipungkiri Reisa adalah bahwa Jonas dan dirinya sekarang sudah seperti sepasang kekasih. Memang tak pernah seorang pun di antara mereka yang menyatakannya dengan kata-kata tapi insiden ciuman di pantai dalam suasana yang romantis itu sudah cukup jadi bukti yang kuat. Begitu pula dengan kebiasaan Reisa kini yang sudah leluasa membuka kerudungnya di hadapan Jonas jika berduaan saja di dalam rumah.

***

Suatu siang selepas tugasnya di puskesmas dan berganti pakaian sebentar di rumahnya, Reisa menuju rumah Bu Nur. Di rumah Bu Nur telah menunggu Jonas. Sore itu Reisa akan melihat-lihat kegiatan warga yang berada di tempat Jonas melaksanakan praktek kerohaniannya. Bu Nur juga sebetulnya diundang. Akan tetapi karena karena anaknya sedang sakit dan Pak Nur sedang di Sibolga, Bu Nur tak bisa ikut. Maka Reisa berangkat hanya bersama Jonas ke pedalaman dengan naik perahu. Reisa sangat menikmati keindahan alam selama perjalanan menempuh rawa dan hutan bakau. Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai.

Di dusun itu ibu-ibu dan anak-anak ramai melakukan acara dengan gembira. Mereka merayakan hasil ladang dan tangkapan ikannya yang melimpah dengan atraksi tari-tarian dan diakhiri dengan acara makan bersama. Berbagai masakan dari babi, seperti babi panggang, dihidangkan untuk dimakan bersama. Reisa mengatakan ke Jonas, bahwa ia tak boleh makan makanan itu. Dengan bijaksana Jonas memberikan Reisa ikan bakar. Jonas tahu bagi Reisa babi adalah hewan yang haram.

Tak terasa ternyata acara baru usai di malam harinya. Reisa tak mungkin pulang ke tempatnya, apalagi malam itu juga malam bulan purnama. Jadi malam itu air laut akan pasang naik dan tak mungkin Reisa diantar dengan perahu. Langit diselimuti awan kelam seolah akan turun hujan.

Jonas menyarankan Reisa untuk bermalam di pondoknya saja. Kebetulan keesokan harinya adalah hari libur. Reisa setuju dan menghubungi Bu Nur mengabarkan bahwa ia tak pulang malam ini karena kemalaman. Jonas lalu membawa Reisa ke pondok kediamannya.

“Reisa, kau tidur dikamarku saja. Biar aku tidur di luar,” kata Jonas.

“Aduh, maaf ya, Bang. Aku jadi merepotkanmu,” balas Reisa.

“Ah, tak apa. Kadang aku pun tidur di ruang depan kok.”

Suasana pondok kayu itu terasa alami sekali. Apalagi tak ada listrik yang menerangi. Hanya ada lampu teplok di dinding kayu. Malam itu terdengar suara jangkrik dan binatang malam yang saling bersahutan. Sambil menikmati teh, Reisa duduk-duduk dulu di ruang depan bersama Jonas. Mereka berbincang tentang keluarga masing-masing. Reisa jadi tahu kalau Jonas yang berasal dari daerah timur itu tak pernah mengenal kedua orang tuanya. Dia diasuh dan disekolahkan oleh pihak gereja. Tak terasa mereka berdua ngobrol sampai larut malam.

Semakin malam, perbincangan mereka sampailah pada topik mengenai hubungan laki-laki dan wanita. Dalam keremangan Jonas melingkarkan tangannya ke bahu Reisa. Reisa membiarkan saja sikap Jonas itu. Malah ia merebahkan kepalanya di dada bidang Jonas. Reisa seakan menemukan kehangatan yang sudah lama tidak ia dapatkan dari tunangannya.

Dengan sikap hati-hati Jonas berusaha membuka kerudung Reisa. Ia tak mau Reisa tersinggung dengan perlakuannya. Ternyata Reisa diam saja. Maka dengan lembut tapi mantap Jonas melepaskan kerudung itu dari kepala Reisa. Sejenak keduanya berpandangan mata dalam jarak yang sangat dekat dan saling tersenyum. Perlahan Jonas melepaskan ikatan di rambut Reisa sehingga rambut hitam sebahu dan harum itu kini tergerai lepas. Reisa tampak semakin cantik. Kini kedua anak manusia tersebut saling ngobrol dengan sangat intim dan tak ada lagi jarak di antara mereka.

Jonas membelai rambut Reisa yang sebahu itu. Tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Jonas, Reisa semakin merapatkan tubuhnya. Ia merasa damai dan mendapat kehangatan dari Jonas. Apalagi Jonas juga membelai anak-anak rambut di tengkuknya sehingga membuat Reisa merasa geli dan terangsang.

Jonas berusaha meraih wajah Reisa yang saat itu amat pasrah kepadanya. Tak sulit bagi Jonas untuk mengulum bibir Reisa yang mungil namun ranum itu.

Inilah kedua kalinya bibir tipisnya dikulum Jonas. Saat ini Reisa dapat dengan penuh ikhlas menerimanya. Tak membutuhkan waktu lama akhirnya Reisa malah menyambut dan balas mengulum lidah yang dimainkan Jonas.

Tenteram rasanya mengetahui bahwa dirinya masih dibutuhkan dan diinginkan oleh seorang pria. Sikap Dino sebagai calon suaminya selama ini telah membuat dirinya merasa dicampakkan dan tak berguna. Reisa merasakan aliran birahi mulai menyerang dirinya.

Cukup lama mereka saling menjilat dan mengulum hingga mampu menggiring nafsu keduanya untuk meningkat ke arah selanjutnya. Tangan Jonas dengan lincah berusaha memasuki busana Reisa… dan berhasil! Tangannya menemukan segumpal daging lembut di dada Reisa dan membelainya. Hawa hangat tangan Jonas membuat Reisa larut dalam birahinya. Jonas senang sekali karena Reisa ternyata sama sekali tak menolak diperlakukan seperti itu.

Saat itulah Jonas mulai mendapatkan kepercayaan diri sepenuhnya. Ia segera berpikir bahwa ia harus memperawani Reisa malam itu juga. Sekarang atau tidak selamanya. Ia harus kuat dan berani melakukannya, apapun resikonya. Reisa sudah pasrah menanti bimbingannya.

Jonas berusaha melepaskan kancing kemeja Reisa. Reisa tak menolak sedikit pun perbuatan Jonas yang berusaha melepas busananya. Malah Jonas sendiri yang karena kegugupannya jadi sulit dan lama melakukan pekerjaannya. Reisa sendiri dengan sabar menunggu.

“Tenang aja, Bang…” bisiknya menenangkan di telinga Jonas.

Kini busana atas Reisa telah terlepas dari tubuh putih indahnya dan diletakkan di samping sofa. Reisa benar-benar berada dalam birahi. Jonas seakan telah menghipnotisnya. Kini tubuh indahnya hanya tertutup BH dan masih mengenakan celana panjang. Keindahan payudaranya yang putih mulus membuat Jonas semakin meningkatkan serangannya.

Jonas menjilat-jilat dinding payudara Reisa yang kini hanya terkulai dalam dekapan Jonas. Reisa memejamkan matanya menikmati belaian lidah Jonas. Tubuh Reisa masih memancarkan bau khas wewangian mahal yang selalu ia pakai. Bau wangi Reisa seolah menjadi obat perangsang lelaki yang membuat gairah Jonas terbangkitkan.

Jonas benar-benar yakin kalau Reisa telah pasrah kepadanya. Jonas melihat Reisa juga menikmati apa yang ia lakukan saat itu. Lelaki itu sangat yakin kalau ia akan bisa menikmati tubuh tunangan Dino itu malam ini juga.

Jonas lalu meraih tangan Reisa untuk berdiri. Reisa balik menggenggam tangan Jonas dan mengikuti Jonas berjalan ke dalam kamar. Jonas menyuruh Reisa untuk pergi ke dipan kayu yang tertutup kelambu itu. Ia sendiri menutup pintu kamar dari dalam dan menguncinya. Reisa hanya duduk diam di pinggiran dipan yang beralaskan kain sprei putih bersih itu. Sekali lagi Jonas semakin merasa percaya diri. Dilihatnya kalau Reisa sama sekali tak protes membiarkan dirinya mengurung mereka berdua di dalam kamar tidurnya.

Jonas mendekati Reisa, lalu mengangkat dagu Reisa dan kembali mengulumnya. Ia pun duduk di samping Reisa. Sebetulnya di dalam lubuk hatinya Reisa tahu apa yang dilakukannya bersama Jonas adalah perbuatan terlarang. Apa daya birahi dan nafsu seksnya terlalu dahsyat untuk dilawan. Ia siap melakukan perbuatan dosa itu bersama Jonas.

Kembali Jonas melingkarkan tangannya di bahu Reisa. Tanpa kata-kata yang terucap Jonas kembali menciumi anak-anak rambut Reisa di tengkuknya. Reisa merasa geli dan semakin pasrah. Ciuman Jonas yang bertubi-tubi pada leher dan bibirnya membuat Reisa jadi terpacu untuk mengimbanginya.

Jonas bukanlah laki-laki kemarin sore. Ia sudah bertahun-tahun merasakan nikmatnya bersetubuh dengan perempuan. Ia sering melakukan itu sejak sekolah seminari di Semarang dulu dan ia tak akan berhenti melakukannya. Pindah ke Mentawai sebetulnya sempat membuatnya menderita karena ia jadi semakin sulit menemukan perempuan yang bisa diajaknya bersetubuh. Pertemuannya dengan Reisa seolah menghadirkan setetes embun harapan. Untunglah karena pada dasarnya Jonas adalah seorang pemuda yang keras keinginannya. Malam ini harapannya itu tampaknya akan jadi kenyataan. Ia yakin akan bisa menaklukkan Reisa sepenuhnya.

Jonas tak ingin melewatkan momentum itu. Dengan cekatan dilepaskannya BH berukuran 34B yang masih melekat di dada Reisa. Tak sulit sama sekali karena sudah tak ada lagi perlawanan dari gadis cantik itu. Dengan sedikit melepas pengait yang berada di punggung Reisa, Jonas dapat melihat keindahan kedua bukit salju yang selama ini belum pernah terlihat olehnya.

Secara spontan Reisa menyilangkan tangannya menutupi kedua buah dadanya. Sebagai seorang perawan ia masih merasa malu dalam keadaan seperti itu di hadapan Jonas. Inilah pertama kalinya ia mempertontonkan payudaranya yang indah kepada seorang lelaki dewasa. Bahkan selama bertahun-tahun berpacaran dengan Dino ia tak pernah melakukan hal seperti itu karena sebetulnya Dino adalah seorang yang cukup taat beragama walaupun sifatnya masih sering kekanak-kanakan.

Dengan penuh pengertian, Jonas membelai-belai tangan Reisa yang menutupi kedua bukitnya. Perlahan tapi pasti, sambil terus membelai tangannya, Jonas membimbing tangan yang putih dan halus itu untuk meninggalkan kedua payudaranya. Sementara tangannya yang satu lagi memulai pekerjaannya membelai kedua gundukan yang padat dan kenyal itu. Dimainkannya juga kedua puting Reisa sehingga mulai mengeras. Semua bulu roma di kulit putih Reisa seolah berdiri merasakan jelajahan tangan Jonas.

Jonas lalu meraba celana panjang Reisa dan mencari resletingnya. Begitu ditemukan, langsung dibukanya celana berwarna putih itu dan dilolosinya melalui kedua kaki Reisa yang jenjang.

Setelah itu Jonas menggiring tubuh Reisa masuk ke dalam dipan yang diselimuti kelambu itu. Reisa hanya mengikuti kemauan Jonas yang sudah amat bernafsu karena sudah melihat dengan nyata semua keindahan ragawi Reisa yang selama ini hanya ia nikmati dari angan-angannya.

Di atas dipan kayu itu, Jonas membaringkan tubuh Reisa. Bibirnya melata di atas permukaan kulit dada Reisa. Ia berlama-lama bermain di kedua bukit yang menjulang indah itu. Ia ingin membuat Reisa merasa nyaman dulu sehingga nanti benar-benar siap saat dimasukinya. Hasilnya segera terlihat, kedua puting Reisa semakin mengeras.
Jonas tak bisa dibohongi. Berdasarkan pengalamannya, jelas kalau Reisa sudah terangsang dan sebentar lagi tentu akan siap untuk disetubuhinya.

Jonas beberapa kali menggigit dada Reisa sehingga menimbulkan jejak-jejak cupangan di wilayah dada dokter muda yang cantik itu. Reisa hanya mampu memejamkan matanya. Rabaan dan pilinan juga cupangan Jonas membuatnya terbang di awang-awang. Ini adalah pengalaman pertamanya melakukan itu dengan seorang laki-laki. Dulu saat bersama Dino tunangannya, Reisa bercumbu dengan sikap was-was takut kebablasan. Anehnya kini ia malah bisa melakukannya bersama Jonas sampai sejauh ini dengan nyaman tanpa rasa was-was yang berlebihan. Malah Reisa semakin tak sabar menunggu apa yang akan dilakukan Jonas terhadap dirinya selanjutnya.

Reisa semakin pasrah dan patuh. Tubuh bagian atas Reisa mulai lembab karena air lidah Jonas dan keringatnya sendiri yang bercampur dengan keringat Jonas. Ia merasakan tubuhnya panas, mengalahkan suasana dingin malam di pedalaman itu.

Jonas berhenti sesaat untuk melepas bajunya, lalu celana panjang dan celana dalamnya. Perasaan Reisa bercampur baur saat melihat untuk pertama kalinya lelaki keriting itu dalam keadaan bugil. Tubuhnya kekar dan gempal, hanya perutnya buncit karena kebiasaannya minum bir. Dadanya yang bidang ditumbuhi bulu lebat. Tubuhnya yang hitam sedikit lebih pendek daripada tubuh Reisa. Sangat kontras dengan tubuh Reisa yang jenjang dan putih seperti seorang peragawati.

Satu hal yang paling menyita perhatian Reisa adalah kemaluan Jonas. Di bawah temaram lampu teplok, dilihatnya bongkahan daging yang gemuk itu melambai-lambai dari balik bulu pubisnya yang lebat seolah mengucapkan salam kepada dirinya. Benda tumpul yang tampak seperti belalai gajah itu tak dikhitan.

Tanpa malu-malu Jonas mendekat ke tubuh Reisa yang bertelanjang dada. Saat tubuh Jonas merangkak di atas tubuhnya, terasa batang kemaluannya yang panjang membelai kaki Reisa mulai dari betis, lalu sampai ke paha, dan akhirnya menyentuh selangkangannya.

“Ya Tuhan, lelaki ini akan memperawaniku malam ini juga kalau tak ada suatu kekuatan yang menghalanginya,” hanya itu pikiran yang ada di dalam benak Reisa.

Kini di atas dipan yang diselimuti kelambu itu kedua tubuh anak manusia itu mulai terlihat seperti sepasang pengantin yang sedang memulai malam pertamanya.

Tiba-tiba sejenak kembali Reisa merasa malu berada dalam situasi seperti itu bersama Jonas. Dalam hatinya berkecamuk pikiran tentang masa depan pertunangannya dengan Dino, karirnya maupun perbedaan agama di antara mereka berdua. Yang terpenting, ia tahu perbuatan mereka berdua saat itu dilarang dalam agamanya. Saat Jonas berusaha menyentuhnya, Reisa menunjukkan tanda-tanda penolakan.

Sayang semuanya sudah terlambat! Jonas yang melihat sekilas perubahan sikap Reisa segera mengambil tindakan. Dijatuhkannya tubuh telanjangnya sehingga menghimpit tubuh Reisa yang juga hampir bugil. Digenggamnya kedua tangan Reisa dengan kedua tangannya kuat-kuat. Dibekapnya mulut gadis itu dengan bibirnya yang tebal dan mulai dikulumnya dengan penuh nafsu. Sejenak dirasakannya adanya pemberontakan dari Reisa namun apalah daya gadis itu dibandingkan kekuatan fisik Jonas. Jonas memang sudah sangat pengalaman dalam menangani seorang perawan seperti Reisa. Kadang paksaan secara fisik memang diperlukan pada saat yang tepat.

Setelah beberapa lama terbukti apa yang dilakukan Jonas adalah benar. Reisa yang kembali terbakar birahinya karena diperlakukan seperti itu berhasil dimatikan akal sehatnya. Gadis itu mulai menbalas kuluman Jonas dengan tak kalah bernafsunya. Tangannya yang halus juga balas menggenggam tangan Jonas yang kasar dan kokoh.

Perlahan Jonas melepaskan kulumannya dari bibir Reisa dan kepalanya bergerak turun ke bawah. Mulutnya menjelajahi tubuh gadis itu mulai dari dagu, leher, sampai ke dada. Reisa membiarkan saja dan malah menahan kepala Jonas agar tak menjauh dari belahan dadanya. Jonas terus mengeksplorasi wilayah sensitif itu. Di samping itu, tangannya pun mulai beraksi. Jari-jarinya langsung masuk ke dalam celana dalam Reisa.

Jonas merasa senang sekali berhasil menyentuh alat kelamin Reisa tanpa penghalang lagi. Inilah pertama kalinya ia melakukannya. Dengan pengalamannya yang segudang, dirangsanginya klitoris Reisa sampai perlahan-lahan ia mulai merasakan vagina gadis itu mulai basah. Jonas sama sekali tak menyembunyikan kegirangannya. Ia tersenyum lebar pada Reisa dan menciumi bibirnya. Reisa sama sekali tak menolaknya.

Gadis itu sedikit gelisah. Jonas tahu kalau sekarang Reisa gelisah bukan karena malu kepadanya. Ia gelisah karena sudah setengah jalan dirangsangi oleh Jonas dan sekarang sudah tak sabar untuk dituntaskan birahinya!

Merasakan Reisa sudah pasrah bulat-bulat padanya, Jonas lalu menarik celana dalam putih Reisa yang sudah basah di sekitar belahannya hingga terlepas. Reisa tak menahannya sama sekali. Jonas lalu melempar CD Reisa jauh-jauh.

Tubuh dokter muda itu kini sudah polos tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya seolah telah menjadi milik pemuda hitam tersebut. Jonas tahu Reisa sudah tak mampu lagi menolak perbuatannya. Ia turun dan membuka kedua paha Reisa. Jonas kini telah berada di antara kedua kaki yang jenjang dan mulus itu. Ia lantas menumpukan kedua lutut dan punggung tangannya ke atas tempat tidur, tepat di atas tubuh Reisa.

Wajah Reisa hanya berjarak beberapa centimeter dari wajah Jonas. Sebelum melanjutkan pekerjaannya, Reisa dapat melihat dengan jelas bahwa Jonas memanjatkan doa terlebih dahulu. Ia memohon agar Tuhan Yesus memberkati dan membimbing persetubuhan mereka, supaya persetubuhan ini bisa menjadi titik balik baik bagi Jonas maupun Reisa.

Reisa terkesima dengan perbuatan Jonas itu. Ia merasa seolah menjadi bagian dari suatu upacara yang sakral. Entah karena doa Jonas dikabulkan atau karena sebab lain, begitu Jonas menyelesaikan doanya dalam waktu beberapa detik, Reisa benar-benar memasrahkan dirinya dibimbing oleh Jonas.

Jonas akan melakukan melakukan penetrasi di liang kemaluan Reisa. Gadis itu sudah pasrah kepadanya. Perlahan batang kemaluan Jonas menegang menampakkan wujudnya yang perkasa. Benda hitam tumpul dan tidak disunat itu bersiap memasuki liang perawan milik Reisa.

Tanpa membuang waktu, Jonas segera menuju gerbang yang selama ini amat ia impikan. Gerbang yang masih perawan dan belum pernah dijamah oleh tangan laki-laki, bahkan oleh tunangannya Dino sekalipun. Gerbang perawan itu ditumbuhi sedikit buku-bulu halus yang tertata rapi menandakan pemiliknya adalah orang yang amat telaten merawat dan menjaga area kewanitaannya. Liangnya mulai basah karena libido pemiliknya yang mulai bangkit.

Jonas dengan tangannya berusaha menempelkan batang kemaluannya ke liang Reisa yang masih sempit dan sudah berlendir itu. Jonas tahu kalau liang kemaluan Reisa telah siap untuk dimasukinya.

Reisa tak sanggup memandang Jonas yang kini berada di atas tubuhnya. Reisa merasakan seluruh permukaan kulitnya merinding menantikan pertemuan kedua kelamin mereka. Ia merasakan bulu-bulu halus di tangannya yang putih dan diseluruh tubuhnya seolah berdiri. Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan hal seperti ini.

Jonas lalu meraih kedua tangan Reisa dan mengenggamnya. Kedua tangan Reisa dibukanya ke samping kiri dan kanan. Kedua lutut hitam dan penuh bulu milik Jonas menahan paha Reisa agar tak merapat. Jelas sekali perbedaan warna kulit kedua sosok anak manusia yang sedang melakukan perkawinan itu. Jonas mengarahkan kemaluannya ke liang Reisa secara hati-hati.

Ia tak berhasil juga memasuki celah sempit itu. Jonas semakin tak sabar ingin segera merasakan celah perawan milik Reisa. Usahanya belum menampakkan keberhasilan.

Sebagai laki-laki yang sudah beberapa kali merasakan hubungan badan dengan gadis-gadis perawan selama di Semarang dulu, Jonas seakan harus bersabar lagi. Kini semua tinggal bergantung pada kesabaran Jonas sebab Reisa sendiri sudah pasrah menyerahkan keperawanannya padanya. Maka lelaki itu semakin berusaha mendapatkan keperawanan Reisa yang dirasakan sebagai haknya.

Dengan penuh kesabaran, Jonas akhirnya dapat meretas jalan bagi kemaluannya di celah sempit itu. Seakan membuat jalan baru, Jonas melakukannya penuh kehati-hatian. Kepala kemaluannya mulai masuk di celah itu. Reisa mulai merasakan ngilu dan terpekik.

“Aduhhhh…. ssaakiitt…. Banggg!” jerit Reisa tertahan. Reisa berusaha mendorong tubuh dan dada Jonas yang berbulu itu.

Tentu saja Reisa tak mampu melepaskan diri dari himpitan Jonas saat itu. Kedua paha Reisa tak berdaya menolak kuncian dari lutut Jonas. Apalagi kedua tangannya dipegang dengan erat oleh kedua tangan Jonas. Kedua tubuh anak manusia itu basah oleh keringat. Lelehan keringat di tubuh Jonas jatuh ke tubuh mulus Reisa dan bercampur.

Jonas memandangi dengan penuh hasrat ekspresi wajah Reisa saat melepas keperawanannya. Badannya menggigil sedangkan wajahnya tampak tegang dan bergetar.

Tubuh putih mulus Reisa saat itu tak bisa terlalu banyak bergerak. Sedikit gerakan maju pada pinggul Jonas membuat batang kemaluannya amblas ke dalam celah kemaluan Reisa yang perawan. Reisa merasakan ngilu dan perih. Sambil mendengus, ia menjerit tertahan.

“Aduhhhhh…. mmmaaaak… aduhhh… sakiit. Ammmmpppunnn…. Bang!!” Reisa meracau kesakitan seperti hewan yang sedang disembelih.

Suara hujan yang deras disusul suara geledek seolah menandakan sedang terjadinya peristiwa perkawinan di malam itu.

Di tempat itu hanya mereka berdualah manusia yang ada dalam radius beberapa kilometer. Jadi malam itu tak ada seorang pun yang mendengar jerit sakit dan ngilu yang dirasakan Reisa. Kedua bola matanya terlihat memutih menahan rasa ngilu saat melepas keperawanannya. Wajahnya menggigil dan bergetar. Kedua tangannya yang mulus menggenggam keras-keras tangan Jonas. Jonas sangat menikmati saat-saat itu.

Jonas merasakan adanya sesuatu yang robek dan lepas di saat benda tumpul miliknya memasuki Reisa. Sebagai laki-laki berpengalaman ia tahu bahwa ia telah berhasil merobek keperawanan dokter muda itu. Reisa adalah gadis perawan ke-5 yang berhasil diperdaya Jonas.

Selama ini kebanyakan gadis yang berhasil ia gauli hanyalah siswi SMA dan mahasiswa di kota Semarang. Sungguh di luar dugaan kalau saat praktek di pulau itu ia bisa mendapatkan keperawanan seorang gadis cantik yang berprofesi dokter. Hal itu membuatnya sangat bangga.

Jonas mendiamkan posisinya sejenak. Ia memperhatikan Reisa yang kini hanya bisa meneteskan air matanya. Tampak Reisa seperti menyesal telah melepaskan kegadisannya kepadanya. Jonas maklum kalau sebagai seorang muslimah, Reisa ingin mempersembahkan keperawanannya hanya kepada suaminya kelak. Sebaliknya, Jonas merasa sangat senang sudah berhasil memperawani Reisa. Ia ingin menghibur dan membawa Reisa turut serta dalam kesenangan badani yang dirasakannya saat itu.

Sambil sesenggukan Reisa berusaha memandang Jonas saat itu. Kedua matanya dibasahi air mata namun ia tak berusaha melepaskan kedua tangannya dari genggaman tangan Jonas. Tangan Reisa hanya memegang jari-jari Jonas dengan sangat lemah. Jonas tahu kalau Reisa menangisi dirinya yang sudah bukan perawan lagi.

Reisa masih sesenggukan menahan rasa perih dan ngilu di liang kehormatannya itu saat tiba-tiba Jonas menarik kemaluannya sejenak untuk kemudian mulai mendorongnya keluar masuk. Reisa kembali mengatupkan kedua bibirnya menahan sesuatu yang ngilu di selangkangannya. Tanpa ampun, Jonas terus memajumundurkan pinggulnya ke dalam rahim Reisa. Dipaksanya gadis itu untuk terus bersetubuh.

Reisa sudah tak menahan gerakannya lagi. Gadis itu benar-benar sudah pasrah disetubuhi Jonas. Tubuhnya sudah bukan miliknya lagi. Sambil mengemut kedua payudara Reisa dengan mulutnya, Jonas terus bergerak menarik dan menusuk kelamin Reisa. Kedua tangannya kini meremasi kedua payudara Reisa yang licin dan basah oleh keringat dan ludah.

Reisa sudah melalui masa sulitnya dalam perkawinannya dengan Jonas malam itu. Rasa sakit di kemaluannya tak lagi dirasakan. Kini ia hanya merasakan gejolak birahi dan gelombang nikmat yang mendera tubuhnya. Dengan masih memejamkan matanya Reisa hanya mampu memegang kedua lengan Jonas yang berotot itu. Reisa semakin dapat menerima hunjaman kemaluan Jonas di dalam rahimnya. Kini yang keluar dari bibir tipisnya hanyalah dengus nafas yang berat menikmati semua itu.

Kedua kakinya membelit rapat pinggang Jonas. Tubuhnya bergoyang-goyang mengikuti irama goyangan tubuh Jonas yang menghunjam-hunjam kelaminnya. Suara paha keduanya yang beradu tampak jelas terdengar.

Beberapa menit kemudian Reisa semakin kuat mendengus. Ia merasakan akan meledak orgasmenya. Tubuh putih mulusnya melengkung ke arah Jonas dan semakin merapatkan tubuhnya memeluk tubuh telanjang Jonas. Reisa kini memeluk rapat tubuh Jonas. Tak lama kemudian Reisa melepaskan orgasmenya. Di saat yang hampir bersamaan, Jonas juga memuntahkan spermanya ke dalam rahim Reisa yang sudah siap ia buahi.

Reisa merangkul tubuh Jonas dan mengigit lengan lelaki itu. Setelah mengalami gelombang kepuasan dalam berhubungan badan, kedua tubuh telanjang itu terkulai lemas dengan posisi masih saling berdempet.

Reisa telentang di dipan kayu yang diselimuti kelambu di kamar jonas. Hujan masih turun rintik-rintik seolah menandakan peristiwa besar perkawinan kedua anak manusia itu telah usai. Perlahan kemaluan Jonas mengkerut kembali dan terlepas dari liang kemaluan Reisa. Perlahan-lahan tampak air mani Jonas yang putih dan kental mengalir keluar dari liang senggama Reisa. Jonas tergolek di samping Reisa. Sambil berpelukan bak suami istri keduanya lelap tertidur hingga paginya.

***

Pagi itu masih dingin dan terdengar suara kicauan burung-burung dalam hutan bakau di pedalaman itu. Jonas telah lebih dulu bangun dari tempat tidurnya. Di saat bangun ia memperhatikan wajah cantik Reisa yang tadi malam ia perawani dan semakin terlihat kecantikannya. Dengan selimut ditutupinya tubuh Reisa yang masih telanjang.

Kemudian ia menutup tirai kelambu dan juga menutup pintu kamarnya, lalu keluar rumah untuk mandi dan masak. Setelah beres, Jonas masuk kembali ke dalam pondoknya.

Reisa tampak masih tertidur pulas. Rupanya ia kecapaian dengan persebadanan yang pertama kalinya itu. Jonas masuk kembali ke kamarnya. Pagi itu belum terlihat cahaya matahari yang menerangi bumi karena masih mendung.

Jonas membuka selubung kelambu dan membelai rambut dan pipi Reisa dengan lembut sambil membangunkannya. Merasa ada yang membelai pipinya yang halus, Reisa perlahan membuka matanya. Perlahan-lahan ia bisa mengingat kembali apa yang telah dilakukannya bersama Jonas semalaman. Reisa berusaha duduk dan menutupkan selimut pada dadanya yang terbuka.

Walaupun ia telah melakukan hubungan badan dengan Jonas malam tadi, namun ia merasa tetap harus menutupi dadanya. Jonas menyarankan agar Reisa bersih-bersih dulu supaya segar mumpung cuaca tak hujan. Jonas memberikan handuk dan kemeja lengan panjang beserta celana pendek miliknya untuk dikenakan Reisa.

Saat Reisa berusaha turun dari dipan itu ia masih merasa ngilu di selangkangannya. Dengan mimik sedikit meringis ia berusaha berjalan. Jonas membantu Reisa bangun dari dipan dengan lembut dan membimbingnya ke kamar mandi. Dalam hati ia merasa sangat senang melihat wanita cantik yang baru disetubuhinya semalaman itu berjalan tertatih-tatih. Itulah hasil perbuatannya yang sungguh sangat membanggakan!

Reisa menyiram tubuhnya dengan air yang berada di kamar mandi itu. Tubuhnya mulai terasa segar meski merasa sedikit letih. Jonas kembali ke kamarnya dan mengganti kain seprei dipannya yang sudah kusut di sana sini. Ia juga melihat ada tetesan darah perawan Reisa yang sudah mulai mengering. Tak banyak memang, namun membuatnya bangga, bukan saja darah, namun ada juga lendir spermanya dan cairan orgasme Reisa di kain putih itu. Jonas melipat kain itu dengan rapi dan lalu menyimpannya. Ia tak mau mencuci kain itu sama sekali.

Kemudian ia ganti dengan kain seprei yang baru. Kini dipan dikamarnya sudah rapi kembali. Jonas mendapati celana dalam dan BH Reisa yang tercecer di bawah dipannya. Kedua benda itu ia kumpulkan di atas meja.

Selesai mandi, Reisa dan Jonas makan bersama. Reisa merasa sedikit canggung dengan suasana saat itu. Bangun tidur bersama seorang laki-laki, lalu sarapan bersama. Bahkan kemeja yang dikenakannya sekarang pun adalah kemeja seorang lelaki! Inikah rasanya menjalani kehidupan pernikahan?

Reisa hanya memandangi Jonas saat lelaki itu membereskan meja makan. Reisa masih membayangkan kejadian yang tadi malam ia alami bersama Jonas. Ia seakan tak percaya kalau hubungan mereka bisa sampai sejauh itu hingga ia rela melepaskan kehormatannya kepada Jonas. Padahal selama ini ia mampu menjaga mahkotanya itu bahkan saat bersama Dino tunangannya sekalipun. Bahkan hubungannya dengan Dino terbilang sangatlah sopan jika dibandingkan dengan hubungannya dengan Jonas yang jelas-jelas bukan apa-apanya. Reisa bahkan tak pernah sekalipun membuka pakaiannya atau telanjang di hadapan Dino.

Dalam kecamuk pikirannya itu, Reisa dikejutkan oleh sapaan Jonas yang amat lembut. Jonas mengajak Reisa pindah ke teras untuk menyaksikan tumbuhan di halaman pondoknya. Dibawanya secangkir teh untuk Reisa. Jonas sendiri membawa sebotol bir. Gerimis yang turun lambat laun berubah menjadi hujan yang cukup deras. Sambil duduk-duduk, Jonas menyalakan sebatang rokok untuk menghangatkan tubuhnya.

Sambil dipeluk Jonas, Reisa menghubungi Bu Nur lewat telepon genggamnya. Ia mengabarkan kalau tak bisa pulang hari itu sebab cuaca amat buruk. Bu Nur memahaminya dan menyuruh Reisa tetap tinggal di tempat Jonas dahulu.

Di samping itu, Reisa menerima sebuah SMS dari Dino tunangannya. Dalam SMS-nya, Dino meminta maaf atas kelakuannya selama ini dan memohon supaya Reisa mau melanjutkan kembali hubungan mereka. Jonas yang duduk di samping Reisa ikut membacanya. Walaupun merasa cemburu tapi ia tak berkomentar sedikitpun.

Reisa termenung sebentar membaca SMS itu. Dalam hati ia mengutuki Dino karena baru minta maaf sekarang padahal ia sudah berusaha mendekati dan berbaik-baik dengan tunangannya itu sejak lama tapi selalu tidak diacuhkan. Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Reisa sudah menyerahkan kehormatannya kepada Jonas. Reisa yang sudah lebih memilih Jonas sekarang hanya membalas singkat dengan mengatakan ia butuh waktu untuk sendiri dulu dan kalau sekarang ia sedang sibuk. Jonas merasa cukup puas dengan jawaban Reisa kepada tunangannya itu.

Selesai Reisa mengirim SMS balasan, Jonas langsung mengulum bibir Reisa seolah menghargai tanggapannya kepada tunangannya itu. Reisa membalas mengulum bibir Jonas dengan tulus.

Reisa duduk berdampingan dengan Jonas di tengah pagi yang disiram hujan lebat itu. Mereka seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Reisa seolah tak lagi menghiraukan hubungannya dengan Dino tunangannya. Sebaliknya, Reisa malah membiarkan Jonas memperlakukan dirinya seperti istrinya sendiri karena bagaimanapun Jonas lah yang telah memperawaninya semalam.

Sesekali mereka terlibat pembicaraan yang serius terkadang saling tertawa dan berpelukan. Reisa tak menolak jika tangannya selalu digenggam Jonas. Ia juga tak melarang Jonas menciumi bibirnya atau merabai kedua payudaranya. Malah rabaan Jonas itu mampu membuat mukanya bersemu merah menahan gejolak dalam dadanya.

Seperti mengerti apa yang diinginkan Reisa, setelah menghabiskan dua puntung rokok dan sebotol bir, Jonas menggiring Reisa ke dalam kamarnya. Reisa lalu dibaringkannya di atas dipan yang sudah ia bersihkan itu. Perlahan tapi pasti, Jonas melepaskan kemeja dan celana pendek yang ia pinjamkan pada Reisa itu dari tubuh sintalnya. Karena tak mengenakan bra dan celana dalam, Reisa kini sudah bugil total. Jonas pun melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya.

Mereka kini saling memilin dan merangsang. Tak ada lagi penolakan dari Reisa. Ia sudah tak mempedulikan statusnya lagi. Ia kini bukanlah Reisa yang kemarin yang masih perawan, tunangan seorang alim dan anak seorang pejabat tinggi. Kini ia menyerahkan seutuhnya tubuh dan jiwanya kepada calon pendeta dari Indonesia timur itu.

Jonas lalu mengajarkan Reisa untuk melakukan oral sex kepadanya. Tangannya yang kekar menggiring kepala Reisa ke arah selangkangannya. Digosok-gosokkannya penisnya yang hitam dan panjang ke muka Reisa. Dengan lembut dan berwibawa, Jonas meminta Reisa mengulum penisnya itu. Reisa merasa terkejut tak menduga permintaan Jonas itu tapi akhirnya ia mencoba melakukan oral sex pada kemaluan Jonas.

Perlahan ia mendekatkan bibirnya pada batang milik Jonas yang cukup panjang itu. Hampir tak muat di bibirnya. Berulang kali ia coba dan bisa dikulumnya namun tak semuanya karena panjangnya. Batang Jonas mengganjal langit-langit mulutnya. Hanya sampai di situlah kemampuan Reisa saat itu. Perlahan ia menjilat dan mengulum batang yang hitam dan tak dikhitan itu. Ada bau aneh yang dirasakannya saat itu. Bau khas kemaluan laki laki. Ia tak pernah tahu bau itu selama ini. Ia hanya tahu bentuk anatomi laki laki di saat kuliah dan praktek di rumah sakit beberapa waktu yang lalu.

Reisa merasa tak sanggup membuat Jonas puas dengan oral sex. Ia melepaskan kuluman di mulutnya. Jonas maklum saja melihat tingkah Reisa.

Lalu Jonas menarik tubuh Reisa sejajar dengannya. Jonas membaringkan Reisa kembali. Tubuh putih mulus itu ia telentangkan di dipan. Jonas lalu merabai payudara Reisa beberapa saat sehingga membuat Reisa terbakar birahi. Puas dengan bibir dan payudara Reisa, Jonas semakin turun ke arah kemaluan Reisa yang sudah ia jebol malam tadi. Lidahnya mulai melata masuk dan menjilat-jilat klitoris dokter muda itu. Mendapat perlakuan demikian, Reisa semakin melebarkan kedua kakinya dan menggerumas rambut ikal Jonas. Ia merasakan geli yang bercampur nikmat yang amat sangat.

Puas melihat Reisa yang sudah siap untuk melakukan senggama, wajah Jonas lalu menjauh dari celah itu. Kini ia tepat di atas tubuh Reisa yang terbuka. Setelah tubuh mereka sejajar, Jonas mengarahkan batang kemaluannya itu ke liang kemaluan Reisa. Perlahan benda tumpul itu masuk ke dalam vagina Reisa.

Kini gerakan Jonas perlahan dan amat penuh perasaan maju mudur. Reisa dapat merasakan pergesekan pertemuan alat kelamin mereka. Reisa semakin membuka dan membelit pinggang Jonas dengan erat. Jonas merasakan Reisa sudah menerima dirinya. Beberapa kali memang Jonas maju mundur dari perlahan hingga mulai cepat. Reisa hanya mampu memicingkan matanya. Yang kini ia rasakan adalah kenikmatan hubungan ragawi yang sangat dahsyat.

Tiba-tiba ia merasakan sengatan jutaan watt dari kenikmatan yang melandanya hingga ia mencengkeram bahu Jonas dengan amat kuat. Tubuhnya melengkung ke atas. Lehernya yang jenjang dan wajah cantiknya itu menengadah ke arah Jonas seolah memberi tahu akan kenikmatan yang melandanya. Jonas menyambut wajah Reisa dengan mengulum bibirnya. Akhirnya pegangan Reisa di tubuh Jonas pun lepas.

Reisa merasa tubuhnya semakin lemah tak bertenaga namun gerakan Jonas semakin kuat dan cepat menusuk-nusuk ke dalam kemaluannya. Reisa sudah tak mampu melayani gerakan Jonas. Kini ia hanya merasakan tubuhnya ringan seperti kapas dan gampang dilanda gelombang birahi. Dalam kebisuan Reisa saat itu hanya terdengar dengus tertahan… uhh… mmm… ugghhhh.. Seolah memohon agar Jonas secepatnya menyudahi persenggamaan itu.

Jonas terus melakukannya hingga tak lama kemudian ia memuncratkan spermanya membasahi liang senggama wanita itu. Reisa merasakan aliran panas air mani Jonas masuk ke dalam rahimnya. Ia cukup merasakan capai dan puas atas pelayanan Jonas saat itu. Begitupun Jonas menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh putih Reisa. Reisa tak mampu menolak tubuh kokoh Jonas yang menghimpit tubuhnya. Hanya waktu yang membuat kelamin keduanya terlepas.

Keduanya terkulai lemas lalu tertidur. Permainan seks di antara kedua anak manusia itu pun berhenti hingga keduanya terbangun siang harinya.

Karena cuaca hujan yang masih belum berhenti, maka mereka hanya menghabiskan waktu di dalam pondok saja berdua. Mereka seperti pengantin baru yang baru saja menunaikan hak dan kewajibannya. Reisa dan Jonas mengisi waktu hanya dengan duduk bercengkerama sambil makan dan bermesraan, dan diselang-seling dengan hubungan seks sepanjang hari itu.

Sampai malam harinya, mereka terus melakukan hubungan badan seolah ingin menghabiskan energi yang tersisa di tubuhnya. Reisa ternyata mampu melayani keinginan Jonas yang memang memiliki gairah seks di atas rata-rata itu. Tak bosan-bosannya Jonas terus melakukannya pada dokter muda dan cantik itu.

Minggu pagi setelah beres menunaikan kewajibannya terhadap Jonas, dan membersihkan tubuhnya sendiri, Reisa bersiap pulang ke pulau tempatnya tugas. Jonas sendiri, hanya dengan mencuci mukanya begitu selesai menyebadani Reisa untuk terakhir kalinya, langsung pergi untuk memimpin kebaktian di pedalaman itu. Reisa dengan setia menunggu Jonas pulang dari kebaktiannya.

Jonas lalu mengantar Reisa ke tempat tugasnya dengan perahu. Melalui sungai yang di selubungi hutan bakau dan rawa, mereka menyusuri sungai-sungai kecil. Tak memakan waktu lama, mereka sampai di tempat tugas Reisa. Reisa diantar Jonas ke rumahnya. Di tengah jalan mereka bertemu Bu Nur yang baru pulang dari gereja.

Dengan sapaan lembut, Bu Nur menawari Jonas dan Reisa singgah di rumahnya. Setelah ngobrol sebentar, Reisa melanjutkan perjalanan pulang bersama Jonas. Sesampai di rumah, Jonas beristirahat sejenak di rumah Reisa sambil menghisap sebatang rokok.

Di rumah Reisa itu, Jonas kembali mengajak Reisa melakukan hubungan badan. Mulanya Reisa sempat menolak karena tak enak jika diketahui oleh warga sekitar apalagi Bu Nur tahu Jonas sedang mengantarnya ke rumah. Karena Jonas ngotot, meski hanya sebentar, akhirnya dokter muda itu meluluskan permintaan Jonas di kamar tidurnya.

Di kamar rumah dinasnya itu kembali Reisa dihantarkan Jonas hingga orgasme. Selesai melakukan persebadanan, Jonas bersiap pulang ke pedalaman. Mereka sepakat untuk bertemu minimal seminggu sekali. Kini Reisa sudah tak merasa malu lagi pada Jonas. Sambil bugil tanpa penutup apa pun, Reisa mengantar Jonas sampai ke depan pintu. Sebelum pulang, tak lupa Jonas mendekap erat sambil mengulum bibir kekasih gelapnya itu dengan penuh perasaan.

***

Setelah takluknya Reisa pada Jonas hubungan mereka semakin intim. Saat Reisa pulang ke Padang pada bulan ketiga ia di pulau itu Jonas mengantarnya walau tak sampai ke rumahnya. Ia hanya mengantar dengan taksi dan melanjutkan ke penginapan. Selama di Padang Jonas menunggu Reisa pulang ke pulau bersamanya.

Hubungan Reisa dan Dino tunangannya semakin memburuk apalagi setelah Dino kedapatan oleh salah seorang saudara Reisa menggandeng wanita lain di mall. Akibatnya, selain karena secara psikologis Reisa sudah dipengaruhi Jonas, secara sepihak Reisa memutuskan hubungan pertunangannya dengan Dino.

Sebetulnya Dino masih ingin mempertahankan pertunangan mereka. Ia berdalih bahwa wanita itu hanya mantan teman kuliahnya yang baru bertemu kembali. Orang tua dari kedua belah pihak pun meminta Reisa memikirkan baik-baik keputusannya. Karena saat itu Reisa tak mau mengubah pendiriannya, sementara Dino masih berusaha mempertahankannya, maka hubungan mereka akhirnya jadi menggantung. Rencana pernikahan mereka yang biasanya menjadi salah satu topik pembicaraan saat Reisa balik ke Padang, untuk pertama kalinya tak dibahas sama sekali. Ia bahkan tak mau menemui Dino sama sekali.

Sebaliknya, hampir setiap hari Reisa malah mendatangi penginapan tempat Jonas menunggunya. Di penginapan itu, kembali kedua anak manusia berbeda suku dan agama itu melakukan hubungan badan untuk kesekian kalinya. Mereka melakukannya tanpa paksaan dan murni keinginan mereka. Tak ada lagi perbedaan warna kulit, suku ataupun agama yang mereka berdua permasalahkan. Mereka saling memberi kepuasan kepada pasangannya. Dengan terbuka, Reisa menceritakan secara rinci hubungannya dengan tunangannya Dino kepada Jonas.

Walaupun demikian, hingga saat itu Reisa masih belum berani mengutarakan hubungannya dengan Jonas kepada kedua orang tuanya. Padahal Jonas ingin berbicara terus terang kepada kedua orangtua Reisa. Ia siap melamar gadis cantik itu ke pelaminan. Hanya saja Reisa melarang keinginan Jonas itu karena situasi hubungan Reisa dan Dino di mata keluarganya yang masih tak jelas dan menggantung. Reisa pun ingin memberitahukan hubungannya itu pada orangtuanya suatu saat kelak, tapi bukan sekarang. Ia ingin agar pada saatnya nanti, apapun konsekuensinya ia akan siap menerimanya.

Saat tiba waktunya untuk kembali ke Mentawai, Reisa diantar ayahnya ke pelabuhan Muaro. Ayah Reisa merasa putrinya sudah tak perlu lagi diantar sampai ke pulau. Dari kejauhan Jonas memandang anak dan ayah itu saling melambai saat Reisa menaiki kapal.

Tanpa sepengetahuan keluarga Reisa, Reisa dan Jonas telah memesan satu kamar di kapal untuk mereka berdua. Di atas kapal, mereka amat mesra dan tak jarang saling berciuman. Hampir sepanjang perjalanan mereka berdua mengunci diri di dalam kamar. Apalagi yang diperbuat kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu selain melakukan persebadanan. Tentu saja Reisa harus menahan diri untuk tidak menjerit saat mengalami orgasme karena ada banyak orang di sekeliling mereka yang hanya dibatasi oleh dinding-dinding kamar kapal yang tipis.

Di atas kapal, tak seorang pun yang tahu bahwa mereka bukanlah pasangan resmi. Reisa tertidur telanjang bulat di bahu Jonas yang bidang itu.

***

Paginya mereka sampai di pulau dan langsung ke rumah Reisa. Reisa bergegas menuju kamar mandi dan bersiap ke puskesmas. Jonas lalu menyusul Reisa untuk mandi bersama.

Selesai mandi, Reisa langsung berdandan dan memakai baju kerja lengkap dengan kerudung putihnya. Sementara Jonas masih beristirahat beberapa saat sambil merokok sebelum ia balik ke tempatnya di pedalaman. Sebelum Reisa pergi meninggalkan rumah, Jonas sempat memberikan ciuman di kening Reisa. Reisa tampak sangat bahagia dan balas mencium Jonas dengan mesra sambil tersenyum dengan manisnya.

Sejak itu hampir tiap akhir pekan Reisa berkunjung ke tempat Jonas dengan menumpang perahu nelayan. Biasanya ia baru kembali pada hari minggu sorenya. Reisa selalu memberitahu Bu Nur saat ia akan pergi ke pedalaman.

Dengan naluri kewanitaannya, Bu Nur bisa menebak sudah sejauh mana hubungan Reisa dan Jonas. Suatu hari, setelah dipancing-pancing, Reisa pun curhat kepada Bu Nur tentang semua hal yang menyangkut hubungannya dengan Jonas, dan juga dengan Dino.

Bu Nur merestui hubungan Jonas dan Reisa sepenuhnya. Bahkan Bu Nur meyakinkan Reisa kalau tindakannya berhubungan dengan Jonas adalah tepat. Reisa merasa senang ada seorang yang dituakannya yang mendukungnya. Tanpa setahu Reisa selama ini, Bu Nur sebetulnya sangat berharap Reisa dan Jonas bisa menjadi pasangan suami istri yang mengabdi di pulau itu. Apalagi Reisa kini secara sepihak telah memutuskan hubungan dengan tunangannya dan semakin dekat dengan Jonas.

Bu Nur sendiri sebetulnya kurang menyukai Dino yang dipandangnya terlalu fanatik. Sedangkan di dalam pandangan Bu Nur, Jonas adalah sosok pemuda yang beriman dan berbakat jadi pemimpin. Ia yakin Jonas dapat membimbing Reisa seandainya mereka berdua jadi suami istri.

***

Sabtu sore itu, seperti biasa Reisa berkunjung ke tempat Jonas di pedalaman. Setibanya di sana, Reisa disambut Jonas yang telah menyiapkan berbagai hidangan. Terdapat berbagai hidangan hasil laut dan makanan khas pulau itu, di antaranya babi panggang dengan bumbu pedas. Jonas hanya mengatakan pada Reisa kalau itu adalah daging rusa. Ia takut Reisa akan menolak memakannya jika diberi tahu yang sebenarnya. Tindakan Jonas itu terbukti tepat karena hidangan yang disuguhkannya terbukti mampu mendongkrak gairah seks mereka.

Begitu selesai makan, Reisa langsung membuka celana Jonas dan menundukkan kepalanya ke selangkangan Jonas yang terbuka. Reisa ingin memperlihatkan kalau dirinya sekarang sudah mampu melakukan oral sex dengan baik kepada Jonas yang berwajah buruk itu. Jonas merasa sangat bahagia dan menempelkan tangan-tangannya yang kekar ke leher dan kepala Reisa seolah tak rela kepala Reisa meninggalkan selangkangannya.

Seperti biasa, malam itu Reisa menginap di tempat Jonas dan baru pulang esok harinya. Jonas dengan muka berseri-seri menerima Reisa dengan tangan terbuka. Tentu saja malam itu mereka tak lupa melakukan persebadanan dengan penuh rasa cinta.

Sebaliknya, Jonas pun sering menginap di tempat Reisa jika ia berada di pulau kediaman Reisa. Meskipun hubungan mereka tidak memiliki status namun cukup membuat Reisa dan Jonas berbahagia. Kini yang dilakukan Reisa bukan lagi sekedar melepaskan hajat kewanitaan. Ia sudah mendapatkan rasa cinta yang mendalam dari Jonas dan memberikan segenap hati dan perasaannya demi Jonas. Selama ini ia tak mendapatkan itu semua dari tunangannya Dino.

Reisa tak lagi memandang perbedaan mendasar di antara keduanya, ia juga sudah ikhlas menerima sosok Jonas yang secara fisik dan status sosial mungkin tak pantas untuknya. Segala rasa minder, tak enak pun hilang dengan sendirinya jika Reisa telah bersua dan melepas rindu bersama Jonas. Sesuai dengan kesepakatan di antara mereka berdua, Jonas tidak memaksa Reisa untuk menikah atau berpindah agama. Bahkan walaupun Jonas merasa bersyukur karena Reisa telah memutuskan pertunangannya secara sepihak dengan Dino, ia tak pernah memanas-manasi Reisa untuk melakukan hal itu. Jonas benar-benar memberikan Reisa kebebasan.

Dengan hubungan yang sudah sejauh itu, Reisa masih belum memberitahu orangtuanya tentang hubungan cintanya yang baru bersama Jonas. Reisa masih menunggu saat yang tepat untuk memberi tahu kedua orang tuanya. Reisa tahu hubungan mereka itu akan ditentang dan dilarang kedua orang tuanya. Demi kelangsungan hubungan dengan Jonas itulah, makanya Reisa masih mengambangkan hubungan itu.

Ia masih sering pulang ke Padang sebulan sekali. Dino pun masih sering berusaha menghubunginya atau mengiriminya SMS tapi sekarang giliran Reisa yang tak mempedulikan Dino.

***

Sementara itu, Reisa dan Jonas semakin sulit dipisahkan satu sama lainnya. Hubungan mereka itu telah diketahui oleh Pak dan Bu Nur. Sejauh ini, hanya mereka berdualah yang tahu rahasia kedua sejoli itu.

Sebagai orang yang dituakan di daerah itu, Pak Nur pernah menanyakan hubungan itu pada Jonas. Jonas mengatakan bahwa dia siap untuk meresmikan hubungan dengan Reisa asal disetujui orang tua Reisa. Namun ia tak mau nantinya malah terpisah dengan Reisa. Begitu juga dengan Reisa saat ditanyai oleh Bu Nur, jawabannya sama persis.

Akhirnya demi pertimbangan kebaikan mereka berdua, Jonas berencana untuk menikahi Reisa secara diam-diam. Jonas setuju dengan berbagai syarat yang diajukan Reisa, di antaranya bahwa ia akan tetap memegang agamanya sendiri. Pernikahan diam-diam itu dilakukan di tempat Jonas. Kebetulan saat itu ada pendeta senior Jonas dari Medan yang sedang berkunjung ke Mentawai. Sang Pendeta Batak itulah yang menikahkan Reisa dan Jonas. Bapak dan Ibu Nur bertindak sebagai saksi dari pihak Reisa. Tanpa memakan waktu lama akhirnya Reisa resmi menjadi Nyonya Jonas atau Nyonya Reisa Banak.

Semua yang hadir merasa sangat gembira dan menyambut Reisa dengan setulus hati. Mereka merasa Reisa telah menjadi bagian dari mereka karena telah dinikahi oleh seorang calon pendeta yang berbakat. Walaupun Reisa tak melepas keyakinannya aslinya, tapi mereka tahu betapa cintanya Reisa kepada Jonas dan mereka yakin bahwa Jonas akan bisa membimbing istri barunya itu.

Sejak itu meskipun terpisah tempat bertugasnya, Jonas dan Reisa dapat mereguk kenikmatan ragawi dengan sempurna tanpa ada lagi halangan.

TAMAT

5 responses to “Reisa – Asmara di Pulau Mentawai

  1. apa iya wanita islam mudah dipengaruhi menjadi liberal..? astaga.. lupa pada agama reisa…. untuk bapak n ibu nur.. mungkin dasarnya kalian itu penganut free sex…

  2. cerita ini beneran ato enggak ? klo bener kelanjutan dr reisa gimana? klo hanya imagine mantap bener pengarangnya. thks

  3. aku mau ikutan pak nur .biar kebagian nonok juga wkkkkkkk

  4. jadi sekarang di mana alamat rumahnya pak nur;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;?

  5. ceritanya seru ini, kalo bisa ada lanjutannya lagi reisa dipake sama temennya jonas gitu yang dateng ke mentawai nemenin tugasnya, seruu bro, lanjuut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s