Nikmatnya Istri Karyawanku

Original Writer: Unknown

Remake: Copyright 2010, by Mario Soares

(Istri Selingkuh, Seks Antar Ras)

Hari itu salah seorang direktur perusahaan, Pak Tanu, sedang mengadakan resepsi pernikahan anaknya di sebuah hotel bintang lima di kawasan Senayan. Sebagai seorang General Manager yang masih ada hubungan keluarga, baik dengan Pak Tanu maupun pemilik perusahaan, akupun diundang. Tentu saja aku harus datang, apalagi paginya aku tak sempat menghadiri pemberkatan pasangan pengantin di gereja karena ada acara lain dengan klien yang cukup penting. Malam itu aku meluncur menuju tempat resepsi diadakan.

Aku pergi bersama dengan Jason, temanku waktu kuliah di Amerika dulu, yang kami pekerjakan sebagai ekspatriat di perusahaan kami. Sesampainya di hotel, kami langsung antri menemui pasangan pengantin dan kedua orang tuanya. Selesai basa-basi, kami berbaur dengan para tamu lainnya.

Tampak para undangan sebagian besar membawa pasangannya masing-masing. Iri juga melihat mereka ditemani oleh istri dan anak mereka. Sedangkan aku, karena masih bujangan, ditemani oleh si bule ini.

“Selamat malam, Pak…” sapa seseorang agak mengagetkanku.

Aku menoleh, ternyata Lia sekretarisku yang menyapaku. Dia datang bersama tunangannya. Tampak sexy dan cantik sekali dia malam itu, disamping juga anggun. Berbeda sekali jika dibandingkan saat aku sedang menikmati tubuhnya… liar dan nakal. Walaupun ia tampak menjaga perilakunya, dengan gaun malam yang berdada rendah, belahan buah dadanya yang besar tampak menggoda.

“Malam, Lia” balasku. Mata Jason tak henti-hentinya menatap Lia, dengan pandangan kagum. Lia tersenyum manis saja dilihati dengan penuh nafsu seperti itu. Tampak dia menjaga tingkah lakunya, karena tunangannya berada di sampingnya.

Kami lalu berbincang-bincang sekedarnya. Lalu aku permisi meninggalkan mereka karena hendak menyapa para undangan lain yang datang, terutama para klienku.

“Malam, Pak Robert..” seorang wanita cantik tiba-tiba menyapaku. Dia adalah Jihan, istri dari Pak Arief, manager keuangan di kantorku. Mereka baru menikah sekitar tiga bulan yang lalu.

“Oh, Jihan… Malam,” kataku. “Pak Arief dimana?”

“Sedang ke restroom. Sendirian aja, Pak?” tanyanya.

“Sama teman,” jawabku sambil memandangi Jihan yang malam itu tampak sangat cantik dengan gaun malamnya dengan anggun. Belahan gaunnya yang tinggi memamerkan pahanya yang putih menggiurkan. Dadanya walaupun tak sebesar Lia, tampak membusung menantang.

“Makanya, cari istri dong, Pak.. Biar ada yang nemenin,” katanya sambil tersenyum manis.

“Belum ada yang mau nih.”

“Ahh.. Bapak bisa saja… Pasti banyak banget cewek yang mau sama bapak. Kalau belum married, saya juga mau, lho..” jawabnya menggoda.

Memang Jihan ini kelihatannya punya perasaan tertentu padaku. Tampak dari cara bicaranya dan cara dia memandangku.

“Oh, Kalau saya sih mau lho sama kamu biarpun kamu sudah married,” kataku menantang sambil menatap wajahnya yang cantik.

“Ah, Pak Robert. Bisa aja…” jawabnya sambil tersipu malu.

“Bener, lho. Mau aku buktiin?” godaku.

“Janganlah, Pak… Nanti kalau ketahuan suamiku bisa gawat,” jawabnya perlahan sambil tersenyum. Tampaknya dia menanggapi candaku dengan serius.

“Kalau nggak ketahuan gimana. Nggak apa khan?” rayuku lagi semakin berani.

Jihan tampak tersipu malu. Wah, Aku mendapat angin nih. Memang sejak berkenalan dengan Jihan beberapa bulan yang lalu, aku sudah membayangkan nikmatnya menyetubuhi wanita ini. Dengan kulit putih, khas cewek Bandung, rambut sebahu, bibir tipis, dan masih muda lagi. Dia baru berumur 24 tahunan.

“Gimana nih setelah kawin. Enak nggak? Pasti masih hot, ya,” godaku lagi.

“Biasa aja kok Pak. Kadang enak. Kadang nggak. Tergantung moodnya,” jawabnya lirih.

Eh, nggak disangka dia malahan curhat kepadaku. Aku pun menyimaknya dengan penuh perhatian. Dari jawabannya aku duga bahwa Pak Arief ini tidak begitu memuaskannya di atas tempat tidur. Mungkin karena usia Pak Arief yang sudah berumur dibandingkan dengan dirinya yang masih penuh gejolak hasrat seksual wanita muda. Pasti jarang sekali dia mengalami orgasme. Uh, kasihan sekali pikirku.

Bawahanku itu memang orangnya selalu serius, jujur, dan sangat konservatif. Mungkin karena ketaatannya dalam menjalankan agamanya. Karena itulah kami menunjuknya sebagai manager keuangan. Saking serius dan konservatifnya sampai-sampai ia kurang memperhatikan kebutuhan biologis istrinya yang lebih muda darinya dan masih menyimpan gelora seksual yang membara.

Tak lama Pak Arief datang dari kejauhan.

“Wah, Pak Arief.. Punya istri cantik begini kok ditinggal sendiri,” kataku menggoda.

Jihan tampak senang aku memujinya seperti itu. Tampak dari tatapan matanya yang haus akan kehangatan laki-laki tulen seperti aku.

“Iya, Pak. Habis dari belakang, nih,” jawabnya.

Tatapan matanya tampak curiga melihat aku sedang mengobrol dengan istrinya yang jelita itu. Mungkin dia sudah dengar kabar di kantor tentang reputasiku sebagai playboy. Secara fisik sebetulnya aku biasa-biasa saja, bahkan tampangku sebetulnya tidak terlalu ganteng dengan mata yang sipit dan pipi yang agak tembem. Tapi untuk urusan seks aku berani diadu dengan siapa pun. Apalagi ditambah statusku sebagai single yang banyak duit, tak sulit untuk menarik hati seorang wanita, termasuk istrinya Pak Arief.

“Ok, saya tinggal dulu ya, Pak Arief… Jihan,” kataku lagi sambil ngeloyor pergi menuju tempat hidangan.

Aku menyantap makanan dengan nikmat. Maklum perutku sudah keroncongan, terlalu banyak basa-basi dengan para tamu undangan tadi. Kulihat si Jason masih ngobrol dengan Lia dan tunangannya.

Ketika aku mencari Jihan dengan pandanganku, dia juga sedang mencuri pandang padaku sambil tersenyum. Pak Arief tampak sedang mengobrol dengan tamu yang lain. Memang payah juga bapak yang satu ini, tidak bisa membahagiakan istrinya.

Jihan kemudian berjalan mengambil hidangan. Aku pun pura-pura menambah hidanganku.

“Jihan, kita terusin ngobrolnya di luar, yuk,” ajakku berbisik padanya.

“Nanti saya dicari suami saya gimana, Pak…” tanyanya pelan. Tampak ekspresinya bercampur antara ragu dan senang.

“Bilang aja kamu sakit perut. Perlu ke toilet. Aku tunggu di luar,” kataku sambil menahan nafsu melihat lehernya yang putih jenjang, dan lengannya yang berbulu halus.

Tak lama Jihan pun keluar ruangan resepsi menyusulku. Kami pergi ke lantai atas, menuju toilet. Aku berencana untuk bermesraan dengannya di sana. Kebetulan aku tahu suasananya pasti sepi.

Sebelum sampai di toilet, kulihat ada sebuah ruangan kosong yang terbuka pintunya, sebuah meeting room.

“Wah, kebetulan nih,” pikirku. “Ada saja jalannya untuk mengintimi istri orang….”

Kutarik Jihan ke dalam dan kututup pintunya. Tanpa basa-basi lagi, kucium bibirnya yang indah itu dengan penuh nafsu. Benarlah dugaanku kalau istri Pak Arief ini pun menaruh hati padaku. Ia langsung membalas dengan penuh gairah.

Tanganku lalu bergerak merambahi buah dadanya. Tanganku yang satu lagi mencari kaitan retsleting di belakang tubuhnya. Kulepas gaunnya sebagian sehingga tampak buah dadanya yang ranum hanya tertutup BH mungil berwarna krem.

Kuciumi leher Jihan yang jenjang itu, lalu kusibakkan cup BH-nya ke bawah sehingga buah dadanya mencuat keluar sampai nampak putingnya yang sudah mengeras. Langsung kujilati dengan rakus buah dada itu. Kuhisap dan kupermainkan putingnya yang mengeras dengan lidahku.

“Oh.. Pak Robertt..” desah Jihan sambil menggeliat.

“Enak, Jihan..?”

“Enak, Pak… Terus, Pak…” desahnya lirih.

Tanganku meraba pahanya yang mulus dan sampailah pada celana dalamnya. Tampak Jihan sudah begitu bergairah sehingga celananya sudah lembab oleh cairan kewanitaannya.

Jihan tampak tak sabar. Ia membuka kancing kemeja batikku. Dicium dan dijilatinya putingku. Lalu terus ke bawah ke perutku. Kemudian dia berlutut dan dibukanya retsleting celanaku. Tangannya yang lentik berbulu halus itu merogoh ke dalam mengeluarkan kemaluanku dari celana dalamnya. Memang kami sengaja tidak mau telanjang bulat karena kondisi yang tidak memungkinkan.

“Ohh.. Besar sekali, Pak Robert.. Jihan suka..” katanya dengan mulut menganga sambil mengagumi kemaluanku dari dekat.

“Memang punya suamimu seberapa?” tanyaku tersenyum menggoda.

“Mungkin cuma separuhnya, Pak Robert. Oh… Jihan suka…” katanya tak melanjutkan lagi jawabannya karena mulutnya yang mungil itu sudah mengulum kemaluanku.

Aku pun mengerang sambil merem melek menikmati kuluman istri Pak Arief di batang kemaluanku. Kadang lidahnya menjilati penisku yang mengeras. Tangannya sibuk meremas-remas buah zakarku.

Setelah beberapa saat dia berhenti sejenak sambil memandang ke atas kepadaku.

“Enak, Pak?” tanyanya sambil melirik nakal.

“Enak, sayang… Ayo isap lagi,” jawabku menahan rasa nikmat yang menjalar hebat.

Dia tampak senang sekali menerima pujianku. Dengan patuh dimasukkannya kembali penisku ke dalam mulutnya lalu diisapnya dengan kuat sampai aku mengerang. Kedua tangannya meremas-remas pantatku.

Sungguh sangat sexy melihat pemandangan itu. Seorang wanita cantik yang sudah bersuami dan bertubuh padat, sedang berlutut didepanku dengan pipi yang menggelembung mengisap kemaluanku seperti vacuum cleaner. Terlebih setiap kali kemaluanku terselip keluar dari mulutnya, tanpa menggunakan tangannya dan hanya menggerakkan kepalanya mengikuti gerak kemaluanku, Jihan mengulumnya kembali.

“Hmmm… tongkol Bapak enak banget… Jihan suka tongkol yang besar begini,” desahnya penuh nafsu.

Tiba-tiba terdengar bunyi handphone. Jihan pun terpaksa menghentikan isapannya tapi tangannya yang satu masih tetap memegangi batang kemaluanku.

“Iya Mas.. Ada apa?” jawabnya. Tampaknya Pak Arief yang sedang menelepon istrinya. Aku mengelus-elus rambut dan kepala Jihan sementara ia berbicara dengan suaminya.

“Lho, Mas udah pikun ya.. Khan Jihan tadi udah bilang, Jihan mau ke toilet. Sakit perut. Gimana, sih,” kata Jihan dengan nada suara yang tinggi dan tampak tidak sabar. Kelihatannya ia agak kesal kepada suaminya yang tak sabar menunggu.

Sambil bicara begitu kepada suaminya, tangan Jihan yang satu tetap meraba dan mengocok-ngocok kemaluan atasan suaminya ini. Aku senang sekali melihat sikap Jihan yang jelas-jelas lebih loyal kepadaku daripada kepada suaminya. Tampak sekali ia tidak mau kenikmatan yang kurasakan terputus gara-gara ia harus berbicara dengan suaminya.

“Iya Mas… Mungkin salah makan nih… Sebentar lagi ya, Mas.. Sabar, ya…” katanya berusaha sabar sambil menurunkan nada bicaranya.

Kemudian suaminya berbicara agak panjang di telepon. Tampak kalau Jihan tak terlalu berminat mendengarkannya sehingga waktu tersebut dimanfaatkannya untuk kembali mengulum kemaluanku sementara tangannya masih memegang handphonenya. Aku tersenyum senang dan semakin bergairah melihat tingkah istri bawahanku.

Beberapa saat kemudian dilepaskannya penisku dari cengkeraman mulutnya. Rupanya ia mau bicara kepada suaminya.

“Iya, Mas. Jihan juga cinta sama Mas,” katanya sambil langsung menutup teleponnya. Tampaknya suaminya baru saja selesai meneleponnya.

“Suamiku sudah nunggu. Tapi biarin aja deh dia nunggu agak lama, soalnya Jihan pengin puas dulu,” tukasnya sambil tersenyum nakal. Aku merasa puas dengan sikapnya dan mengacungkan kedua jempolku sebagai pujian.

Aku membimbing kepala Jihan kembali ke selangkanganku. Istri Pak Arief itu kembali menjilati kemaluanku sebelum memasukkannya lagi ke dalam mulutnya yang kecil. Diisapinya batang kemaluanku dengan santai dan telaten.

Setelah beberapa saat, aku tak sabar sudah ingin menikmati kehangatan tubuh wanita istri bawahanku ini. Kutarik tangannya agar berdiri dan aku pun tiduran di atas meja meeting di ruangan itu.

Tanpa perlu dikomando lagi, Jihan menaiki tubuhku dan menyibak gaun dan celana dalamnya sehingga vaginanya tepat berada di atas kemaluanku yang sudah menjulang menahan gairah.

Jihan kemudian menurunkan tubuhnya sehingga kemaluanku akhirnya bisa menerobos liang vaginanya yang masih sempit itu.

“Oh.. My god..” jeritnya tertahan.

Kupegang pinggangnya dan kemudian aku naik-turunkan sehingga kemaluanku maju mundur menjelajahi liang nikmat istri cantik Pak Arief ini.

Tanganku bergerak meremas buah dadanya yang bergoyang saat Jihan bergerak naik turun di atas tubuhku. Sesekali kutarik badannya sehingga buah dadanya bergerak ke depan wajahku untuk kemudian aku hisap dengan gemas.

“Ohh, Pak Robertt… Bapak memang jantan…” desahnya.

“Ayo, Pak… Puaskan Jihan, Pak..” Jihan berkata sambil menggoyang-goyangkan badannya maju mundur di atas kemaluanku. Setelah itu dia kembali menggerakkan badannya naik turun mengejar kepuasan bercinta yang tak didapatkan dari suaminya.

Setelah beberapa menit aku turunkan tubuhnya dan aku suruh dia menungging sambil berpegangan pada tepian meja. Aku sibakkan gaunnya, dan tampak pantatnya yang putih menggairahkan hanya tertutup oleh celana dalam yang sudah tersibak kesamping. Kuarahkan kemaluanku ke vaginanya, dan langsung kugenjot dia, sambil tanganku meremas-remas rambutnya yang hitam itu.

“Kamu suka, Say?” kataku sambil menarik rambutnya ke belakang.

“Suka, Pak Robert.. Suka…”

“Suamimu memang nggak bisa, ya?”

“Dia lemah, Pak… Ya, Tuhan… Enak Pak… Ohh…”

“Ayo bilang… Kamu lebih suka ngentotin suamimu atau aku?” tanyaku sambil mencium wajahnya yang mendongak ke belakang karena rambutnya kutarik.

“Jihan lebih suka dientotin Pak Robert… Pak Robert jantan… Suamiku lemah… Ohh.. Tuhan…” jawabnya.

“Kamu suka tongkol besar ya?” tanyaku lagi.

“Iya Pak… Oh… Terus Pak.. Punya suamiku kecil, Pak… Oh yeah… Pak Robert besar… Ohh yeah oh… Tuhan. Suamiku jelek… Pak Robert ganteng… Oh enakhh…” Jihan mulai meracau kenikmatan.

“Oh… Pak… Jihan hampir sampai, Pak… Ayo Pak, puasin Jihan, Pak..” jeritnya.

“Tentu, Sayang… Aku bukan suamimu yang lemah itu…” jawabku sambil terus mengenjot dia dari belakang. Tangankupun sibuk meremas-remas buah dadanya yang bergoyang menggemaskan.

“Ahh… Jihan sampai, Pak…” Jihan melenguh ketika gelombang orgasme menerpanya. Aku menghentikan sementara genjotanku sambil menjambak rambutnya.

Aku bisa merasakan vaginanya bergetar menyempit sehingga menjepit batang penisku. Paha dalamnya terasa menegang dan punggungnya menekuk. Sekejap badannya tampak kelojotan seperti dialiri listrik.

Aku senang sekali melihat istri bawahanku berhasil kubuat orgasme. Sebentar kemudian kembali kugenjot tubuhnya. Jihan yang sudah mendapatkan bagiannya tampak lebih santai dan melihat ke belakang kepadaku sambil tersenyum manis. Tampak sekali kebahagiaan memancar di wajahnya.

Akhirnya aku pun hampir sampai. Kemaluanku sudah berdenyut-denyut ingin mengeluarkan laharnya.

Kutarik tubuh Jihan hingga dia kembali berlutut di depanku. Seolah tahu apa yang kumau, ia langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Aku memang tak mau menumpahkan cairan pembuat bayiku di dalam rahim Jihan. Apa kata dunia kalau dia melahirkan seorang bayi yang bermata sipit?

Kukocok-kocok kemaluanku sementara Jihan membantuku dengan meraba-raba buah zakar dan pantatku. Tak lama kemudian tersemburlah spermaku ke wajahnya yang cantik dan ke dalam mulutnya yang sudah siap dari tadi. Kuoles- oleskan sisa-sisa cairan dari kemaluanku ke seluruh wajahnya. Kemudian Jihanpun mengulum dan menjilati kemaluanku hingga bersih.

“Terima kasih, Pak Robert… Jihan puas sekali,” katanya saat dia membersihkan wajahnya dengan tisu.

“Sama-sama, Jihan sayang. Aku hanya berniat membantu, kok,” jawabku menggombal sambil bergegas membetulkan pakaianku kembali.

“Ngomong-ngomong, kamu pintar sekali blowjob. Sering latihan, ya?” tanyaku penasaran.

“Jihan sering lihat di VCD aja Pak. Kalau sama suami sih jarang Jihan mau begitu. Habis nggak nafsu sih lihatnya…”

Wah, Kasihan juga Pak Arief, pikirku geli. Malah aku yang dapat menikmati enaknya dioral oleh istrinya yang cantik jelita itu.

“Kapan kita bisa melakukan lagi, Pak?” kata Jihan mengharap ketika kami keluar ruangan meeting itu. Aku berpikir sejenak sebelum menimpalinya.

“Gimana kalau minggu depan aku suruh suamimu ke luar kota jadi kita bisa bebas bersama?” usulku nakal.

“Hihihi.. Ide bagus tuh, Pak… Janji, ya…” Jihan tampak gembira mendengarnya.

“Iya, dong,” kataku tersenyum sambil memeluknya mesra.

Sebelum kembali ke ruang resepsi, kami bertukaran nomor handphone. Jihan kusuruh turun terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, barulah aku menyusul. Sesampai di ruang resepsi tampak Jason sedang mencari aku.

“Hey, man… Where have you been? I’ve been looking for you.”

“Sorry, man. I had to go to the restroom. I had a stomachache,” jawabku memohon maaf.

Tak lama Jihan datang bersama Pak Arief suaminya.

“Pak Robert, kami mau pamit dahulu. Ini Jihan nggak enak badan. Sakit perut dari tadi katanya.”

“Oh ya, Pak Arief, silakan. Istri bapak yang cantik harus benar-benar dirawat lho…”

Jihan tampak tersenyum mendengar perkataanku itu, sementara wajah Pak Arief menunjukkan rasa curiga.

He.. He.. Kasihan, pikirku. Mungkin dia akan syok berat bila tahu aku baru saja menyetubuhi istrinya yang cantik itu.

Tak lama kemudian, aku dan Jason pun pulang. Sebelum pulang aku berpapasan dengan Lia, sekretarisku. Kusuruh dia mendaftarkan Pak Arief untuk training ke singapura. Memang baru-baru ini aku mendapat tawaran training ke sana dari salah satu perusahaan. Lebih baik Pak Arief saja yang pergi, pikirku. Toh memang dia yang mengerjakan pekerjaan itu di kantor, sedangkan aku akan menolong istrinya yang cantik mengarungi lautan birahi selama dia pergi nanti.

Tak sabar aku menanti minggu depan datang. Dengan tidak adanya batas waktu karena terburu-buru, tentu aku akan lebih bisa menikmati dirinya.

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

4 responses to “Nikmatnya Istri Karyawanku

  1. wah nikmat sekali…..

  2. waw asik kale…..

  3. wah ah mantap andai sja aku bisa melakukan itu dengan tetanggaku… iingin rasanya aku mengocok memek mbak popon sambil nungging, lalu aku jilat sampai merah memeknya, lalu aku goyang sambil puas dan aku muncratkan spermaku di wajahnya yang cantik. aaaaaahhh

  4. Dih Kasihan Tuh Karyawannya.
    Bangset Nemen Si Bos’e.
    PESEN untuk Bos’a :
    Jangan gitu Dong Kalo Nanti Istri Kamu Yang Di Gitu’in Mampus Loeh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s