Category Archives: istri/tunangan selingkuh

Istri/tunangan berhubungan seks dengan lelaki selain suami/tunangannya

Reni – Kekeliruanku I

Copyright 2004, by Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com) and eastgloryid@yahoo.com

(Istri Selingkuh)

Namaku Reni, usia 27 tahun. Kulitku kuning langsat dengan rambut panjang dan lurus. Tinggiku 165 cm dan berat 51 kg. Aku telah menikah setahun lebih. Aku berasal dari keluarga Minang yang terpandang. Banyak yang bilang kalau wajahku mirip dengan aktris dan model Mira Asmara. Saat ini aku bekerja pada sebuah Bank pemerintah yang cukup terkenal.

Suamiku Ikhsan adalah seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang. Di samping itu, ia juga memiliki beberapa usaha perbengkelan.

Kami menikah setelah sempat berpacaran kurang lebih tiga tahun. Perjuangan kami cukup berat dalam mempertahankan cinta dan kasih sayang. Di antara sekian banyak halangan yang kami temui adalah ketidaksetujuan dari pihak orang tua kami. Sebelumnya aku telah dijodohkan oleh orang tuaku dengan seorang pengusaha.

Bagaimanapun, kami dapat juga melalui semua itu dengan keyakinan yang kuat hingga kami akhirnya bersatu. Kami memutuskan untuk menikah tapi kami sepakat untuk menunda dulu punya anak. Aku dan Bang Ikhsan cukup sibuk sehingga takut nantinya tak dapat mengurus anak.

Kehidupan kami sehari-hari cukup mapan dengan keberhasilan kami memiliki sebuah rumah yang asri di sebuah lingkungan yang elite dan juga memiliki dua unit mobil sedan keluaran terbaru hasil usaha kami berdua. Begitu juga dalam kehidupan seks tiada masalah di antara kami. Ranjang kami cukup hangat dengan 4-5 kali seminggu kami berhubungan suami istri. Aku memutuskan untuk memakai program KB dulu agar kehamilanku dapat kuatur.

Aku pun rajin merawat kecantikan dan kebugaran tubuhku agar suamiku tidak berpaling dan kehidupan seks kami lancar.

Suatu waktu, atas loyalitas dan prestasi kerjaku yang dinilai bagus, maka pimpinan menunjukku untuk menempati kantor baru di sebuah kabupaten baru yang merupakan sebuah kepulauan di daerah Mentawai. Aku merasa bingung untuk menerimanya dan tidak berani memutuskannya sendiri. Aku harus merundingkannya dulu dengan suamiku. Bagiku naik atau tidaknya statusku sama saja, yang penting untukku adalah keluarga dan perkawinanku.

Tanpa aku duga, suamiku ternyata sangat mendorongku agar tidak melepaskan kesempatan ini. Inilah saatnya bagiku untuk meningkatkan kinerjaku yang biasa-biasa saja selama ini, katanya. Aku bahagia sekali. Rupanya suamiku orangnya amat bijaksana dan pengertian. Sayang orang tuaku kurang suka dengan keputusan itu. Begitu juga mertuaku. Bagaimanapun, kegundahan mereka akhirnya dapat diatasi oleh suamiku dengan baik. Bahkan akhirnya mereka pun mendorongku agar maju dan tegar. Suamiku hanya minta agar aku setiap minggu pulang ke Padang agar kami dapat berkumpul. Aku pun setuju dan berterima kasih padanya.

Aku pun pindah ke pulau yang jika ditempuh dengan naik kapal motor dari Padang akan memerlukan waktu selama 5 jam saat cuacanya bagus. Suamiku turut serta mengantarku. Ia menyediakan waktu untuk bersamaku di pulau selama seminggu.

Di pulau itu aku disediakan sebuah rumah dinas lengkap dengan prasarananya kecuali kendaraan. Jarak antara kantor dan rumahku hanya dapat ditempuh dengan naik ojek karena belum adanya angkutan di sana.

Hari pertama kerja aku diantar oleh suamiku dan sorenya dijemput. Suamiku ingin agar aku betah dan dapat secepatnya menyesuaikan diri di pulau ini. Memang prasarananya belum lengkap. Rumah-rumah dinas yang lainnya pun masih banyak yang kosong.

Selama di pulau suamiku tidak lupa memberiku nafkah batin karena nantinya kami hanya akan bertemu seminggu sekali. Aku menyadari benar hal itu. Karena itu kami pun mereguk kenikmatan badaniah sepuas-puasnya selama suamiku ada di pulau ini.

Suamiku dalam tempo singkat telah dapat berkenalan dengan beberapa tetangga yang jaraknya lumayan jauh. Ia juga mengenal beberapa tukang ojek hingga tanpa kusangka suatu hari ia menjemputku pakai sepeda motor. Rupanya ia meminjamnya dari tukang ojek kenalannya.

Salah satu tukang ojek yang dikenal suamiku adalah Pak Sitorus. Pak Sitorus ini adalah laki-laki berusia 50 tahun. Ia tinggal sendirian di pulau itu sejak istrinya meninggal dan kedua anaknya pergi mencari kerja ke Jakarta.

Laki-laki asal tanah Batak itu harus memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya di pulau itu dengan kerja sebagai tukang ojek. Pak Sitorus, yang biasa dipanggil Pak Sitor, orangnya sekilas terlihat kasar dan keras namun jika telah kenal, sebetulnya ia cukup baik. Menurut suamiku, yang sempat bicara panjang lebar dengan Pak Sitor, dulunya ia pernah tinggal di Padang yaitu di Muara Padang sebagai buruh pelabuhan. Suatu saat ia ingin mengubah nasibnya dengan berdagang namun bangkrut. Untunglah ia masih punya sepeda motor sehingga menjadi tukang ojek.

Hampir tiap akhir pekan aku pulang ke Padang untuk berkumpul dengan suamiku. Yang namanya pasangan muda tentu saja kami tidak melewatkan saat kebersamaan di ranjang. Saat aku pulang, aku menitipkan rumah dinasku pada Pak Sitor karena suamiku bilang ia dapat dipercaya. Aku pun menuruti kata-kata suamiku.

Kadang-kadang aku diberi kabar oleh suamiku bahwa aku tidak usah pulang karena ia yang akan ke pulau. Sering kali suamiku bolak-balik ke pulau hanya karena kangen padaku. Sering kali pula ia memakai sepeda motor Pak Sitor dan memberinya uang lebih.

Suamiku telah menganggap Pak Sitor sebagai sahabatnya karena sesekali saat ia ke pulau, Pak Sitor diajaknya makan ke rumah. Sebaliknya, Pak Sitor pun sering mengajak suamiku jalan-jalan di pantai yang cukup indah itu.

Suamiku sering memberi Pak Sitor uang lebih karena ia akan menjagaku dan rumahku jika aku ditinggal. Sejak saat itu aku pun rutin diantar jemput Pak Sitor jika ke kantor. Tidak jarang ia membawakanku penganan asli pulau itu. Aku pun menerimanya dengan senang hati dan berterima kasih. Kadang aku pun membawakannya oleh-oleh jika aku baru pulang dari Padang.

***

Setelah beberapa bulan aku tugas di pulau itu dan melalui rutinitas seperti biasanya, suamiku datang dan memberiku kabar bahwa ia akan disekolahkan ke Australia selama 1,5 tahun. Ini merupakan bea siswa untuk menambah pengetahuannya. Aku tahu bea siswa ini merupakan obsesinya sejak lama. Aku pun bisa menerimanya. Aku pikir itu demi masa depan dan kebahagiaan kami juga nantinya sehingga tidak jadi masalah bagiku.

Sebelum berangkat, suamiku sempat berpesan agar aku jangan segan-segan minta tolong kepada Pak Sitor sebab suamiku telah meninggalkan pesan pada Pak Sitor untuk menjagaku. Suamiku pun menitipkan uang yang harus aku serahkan pada Pak Sitor.

Sejak suamiku di luar negeri, kami sering telpon-teleponan. Kadang aku bermasturbasi bersama suamiku lewat telepon. Itu sering kami lakukan untuk memenuhi libido kami berdua. Akibatnya, tagihan telepon pun meningkat. Aku tidak memperdulikannya. Saat melakukannya dengan suamiku, aku mengkhayalkan dia ada dekatku. Tidak masalah jarak kami berjauhan.

Aku mulai jarang pulang ke Padang karena suamiku tidak ada. Paling aku pulang sebulan sekali. Itu pun aku cuma ke rumah orang tuaku. Rumahku di Padang aku titipkan pada saudaraku.

Aku melewatkan hari-hariku di pulau dengan kesibukan seperti biasanya. Begitu juga Pak Sitor yang rutin mengantarjemputku.

Suatu saat ketika aku pulang, Pak Sitor mengajakku untuk jalan-jalan keliling pantai. Aku tahu ia dulu memang sering membawa suamiku jalan-jalan ke pantai. Tapi saat ia mengajakku, kutolaknya dengan halus. Aku merasa tidak enak. Apa nanti kata teman kantorku jika melihatnya. Kebetulan saat itu pun aku sedang tidak mood sehingga aku merasa lebih tenang di rumah saja. Di rumah aku beres-beres dan berbenah pekerjaan kantor.

Akhir-akhir ini, aku merasakan bahwa Pak Sitor amat memperhatikanku. Tidak jarang sore-sore ia datang sekedar memastikan aku tidak apa-apa. Ia dapat dipercaya untuk masalah keamanan sebab di pulau itu ia amat disegani dan berpengaruh.

Kusadari kadang saat berboncengan, tanpa sengaja dadaku terdorong ke punggung Pak Sitor. Biasanya itu terjadi saat ia menghindari lubang atau saat ia mengerem. Aku maklum, itulah risikonya jika aku berboncengan sepeda motor. Semakin lama, hal seperti itu semakin sering terjadi sehingga akhirnya aku jadi terbiasa. Sesekali aku juga merangkul pinggangnya jika aku duduknya belum pas di atas jok motornya. Aku rasa Pak Sitor pun sempat merasakan kelembutan payudaraku yang bernomer 34b ini. Aku menerima saja kondisi ini sebab di pulau ini memang tak ada angkutan. Jadi aku harus bisa membiasakan diri dan menjalaninya. Tak bisa dibandingkan dengan di Padang di mana aku terbiasa menyetir sendiri kalau pergi ke kantor.

Pada suatu Jumat sore sehabis jam kerja, Pak Sitor datang kerumahku. Seperti biasanya, ia dengan ramah menyapaku dan menanyakan keadaanku. Ia pun kupersilakan masuk dan duduk di ruang tamu.

Sore itu aku telah selesai mandi dan sedang menonton televisi. Kembali Pak Sitor mengajakku jalan ke pantai. Aku keberatan sebab aku masih agak capai. Lagipula aku agak kesal dengan kesibukan suamiku dalam beberapa pekan terakhir ini. Tiap kali kutelepon, seperti yang terakhir kulakukan tadi, ia tidak bisa terlalu lama berbincang-bincang. Alasannya lagi sibuk menyiapkan thesis. Aku mulai merasa kurang diperhatikan.

“Kalau gitu, kita main catur saja, Bu… Gimana?” Pak Sitor mencoba mencari alternatif.

Dulu ia memang sering main catur dengan suamiku. Akhirnya aku pun setuju. Lumayanlah, untuk menghilangkan kesuntukanku saat itu. Aku lalu main catur dengan laki-laki itu.

Tak terasa, waktu berlalu sangat cepat. Sudah beberapa ronde kami bermain. Beberapa kali pula aku mengalahkannya. Taruhannya adalah siapa yang kalah harus dikalungi lehernya dengan sebuah botol yang diikat tali. Semakin sering kalah, semakin banyak botol yang harus dikalungkan padanya.

Aku pun tertawa-tawa karena semakin banyak botol yang dikalungkan ke leher Pak Sitor. Aku sendiri sampai saat itu cuma dikalungi satu botol.

Seumur hidupku, baru kali ini aku mau bicara bebas dan akrab dengan laki-laki selain suamiku. Biasanya tidak semua laki-laki dapat bebas berbicara denganku. Aku termasuk tipe orang yang membatasi dalam berhubungan dengan lawan jenis sehingga tidak heran jika aku sering dicap sombong oleh kebanyakan lelaki yang kurang kukenal. Anehnya, dengan Pak Sitor aku bisa bicara apa adanya, akrab dan ceplas-ceplos. Mungkin karena kami telah saling mengenal dan juga karena aku merasa membutuhkan tenaganya di pulau ini.

Tanpa terasa, telah lama kami bermain catur sejak sore tadi. Jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Di luar rupanya telah turun hujan deras diiringi petir yang bersahut-sahutan. Kami pun mengakhiri permainan catur kami. Aku lalu membersihkan mukaku ke belakang.

“Pak, kita ngopi dulu, yuk..? Biar nggak ngantuk,” kataku menawarinya.

Saat itu di pulau penduduknya telah pada tidur. Yang terdengar hanya suara hujan dan petir. Setelah menghabiskan kopinya, Pak Sitor minta izin pulang karena hari telah larut. Aku tidak sampai hati sebab cuaca tidak memungkinkan ia pulang. Rumahnya pun cukup jauh. Lagi pula aku kuatir jika nanti ia tersambar petir.

Lalu aku tawarkan agar ia tidur di ruang tamuku saja. Akhirnya ia menerima tawaranku. Aku memberinya sebuah bantal dan selimut karena cuaca sangat dingin saat itu.

Tiba-tiba listrik padam. Aku sempat kaget. Baru kuingat, di pulau itu jika hujan lebat biasanya aliran listrik sering padam. Untunglah Pak Sitor punya korek api dan membantuku mencari lampu minyak di ruang tengah. Lampu kami hidupkan. Satu untuk di kamarku dan yang satu lagi untuk di ruang tamu tempat Pak Sitor tidur.

Aku lalu minta diri untuk lebih dulu tidur sebab aku merasa capai. Aku pun pergi ke kamar untuk tidur. Di luar hujan turun dengan derasnya seolah pulau ini akan tenggelam.

Aku berusaha untuk tidur namun ternyata tidak bisa. Ada rasa gelisah yang menghalangiku untuk terlelap. Petir menggelegar begitu kerasnya.

Akhirnya kuputuskan pergi ke ruang tamu saja. Hitung-hitung memancing kantuk dengan ngobrol bareng Pak Sitor. Rasa khawatirku pun bisa berkurang sebab aku merasa ada yang melindungi.

Sesampainya di ruang tamu, kulihat Pak Sitor masih berbaring namun matanya belum tidur. Ia kaget, disangkanya aku telah tidur. Aku lalu duduk di depannya dan bilang nggak bisa tidur.

Ia cuma tersenyum dan bilang mungkin aku ingat suamiku.

Padahal saat itu aku masih sebal dengan kelakuan suamiku. Aku cuma tersenyum kecut dan mengatakan kalau badanku rasanya pegal-pegal.

“Kalau begitu, biar saya pijati, Bu,” kata Pak Sitor sigap.

“Orang-orang bilang, pijatan saya enak, lho,” katanya lagi sambil mengacungkan jempol.

Aku tersenyum mendengar promosinya. Aku lalu duduk membelakanginya sementara Pak Sitor memijatiku, mulai dari kepala, kedua pundakku, sampai kedua lenganku. Mau tak mau harus kuakui, pijatannya memang mantap.

Sambil memijatiku, Pak Sitor mengajakku ngobrol tentang apa saja, terutama tentang keluargaku dan suamiku.

Karena masih kesal dengan suamiku, tanpa sengaja kucurahkan kekesalanku. Aku tahu, mestinya aku tidak boleh bilang suasana hatiku saat itu tentang suamiku pada Pak Sitor namun entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja. Aku merasa senang mendapatkan teman untuk curhat. Pak Sitor mendengarkan dengan seksama semua detail ceritaku. Tak terasa sudah hampir satu jam aku membeberkan semua rahasia pernikahanku kepada Pak Sitor.

Dengan cara bijaksana dan kebapakan tanpa sama sekali berkesan menggurui, sesekali ia menanggapi dan menyemangati aku yang belum banyak merasakan asam garam perkawinan. Dalam suasana cahaya lampu yang temaram dan obrolan kami yang cukup hangat, aku tidak menyadari kapan Pak Sitor pindah duduk ke sampingku.

Aku pun membiarkan saja saat Pak Sitor, sambil terus memijatiku, meraih jemariku yang dilingkari cincin berlian perkawinanku dan meremas-remasnya. Lalu aku malah merebahkan kepalaku di dadanya. Aku merasa terlindungi dan merasa ada yang menampung beban pikiranku selama ini.

Pak Sitor pun membelai rambutku seakan aku adalah istrinya. Bibirnya terus bergerak ke balik telingaku dan menghembuskan nafasnya yang hangat. Aku terlena dan membiarkannya berbuat seperti itu. Perlahan ia mulai menciumi telingaku. Aku mulai terangsang ketika ia terus melakukannya dengan lembut.

Bibirnya pun terus bergeser sedikit demi sedikit ke bibirku. Saat kedua bibir kami bertemu, seperti ada aliran listrik yang mengaliri sekujur tubuhku.

Aku seperti terhipnotis. Aku seperti tak peduli bahwa saat itu aku sedang dicumbui oleh laki-laki yang bukan suamiku. Aku tahu itu adalah perbuatan yang terlarang… tapi aku tak kuasa menolaknya. Aku melakukannya dalam kesadaran penuh… dan aku pun menikmatinya. Aku mulai merasakan basah di sekitar pangkal pahaku…

Mungkin aku telah salah langkah dan salah menilai orang. Jelas bahwa Pak Sitor sama sekali tak merasa sungkan memperlakukanku seperti itu. Ia pun seolah tahu benar apa yang harus diperbuatnya terhadap diriku untuk membuatku terbuai dalam dekapannya. Seolah-olah ia telah menyimpan hasrat yang mendalam terhadap diriku selama ini.

Malam ini adalah kesempatan yang telah ditunggu-tunggunya… Anehnya, aku seperti tak mampu menahan sepak terjangnya. Padahal yang pantas berbuat seperti itu terhadapku hanyalah suamiku tercinta. Sepertinya telah tertutup mata hatiku oleh nafsu dan gairahku yang juga menuntut pelampiasan.

Dengan demikian, Pak Sitor pun bebas mengulum bibirku beberapa saat. Aku tak tahu setan apa yang telah merasuki kami berdua. Yang jelas, aku pun membalas ciumannya sambil menutup kedua mataku menikmatinya.

Sementara itu, tangan Pak Sitor juga tidak mau tinggal diam. Melihat penerimaanku, ia pun semakin berani. Dengan alasan meneruskan pijatannya, ia mulai merabai buah dadaku yang terbungkus BH dan pakaian tidur.

Aku pun mendesah di dalam pelukannya. Aku benar-benar terlena menikmati gerayangan tangannya di tubuhku. Pak Sitor pun tampak semakin bergairah karenanya.

Dalam hati aku takjub kami bisa berhubungan sampai sejauh itu tanpa pernah kami bayangkan sebelumnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Semuanya mengalir begitu saja secara naluriah di antara sepasang manusia berlainan jenis kelamin yang masing-masing memiliki nafsu birahi terpendam. Apalagi suasana malam yang gelap yang diguyur hujan lebat di pedalaman sebuah pulau benar-benar mendukung kegiatan kami. Aku pun merasa nyaman dalam pelukan dan buaian Pak Sitor.

“Bu Reni,” tiba-tiba Pak Sitor berkata pelan.

“Pijatannya diteruskan di kamar Ibu saja, ya?” pintanya. “Biar Ibu saya pijat seluruh badan sambil diluluri dengan body lotion…”

Sebetulnya aku terkejut dengan permintaannya. Itu berarti aku harus dipijat telanjang oleh Pak Sitor. Akan tetapi entah mengapa, aku malah jadi bergairah menerima tawarannya. Apalagi suasana malam itu yang gelap dan diiringi hujan lebat begitu mendukung.

“Boleh, Pak…” kataku pelan dengan suara serak karena gairah yang menghentak.

Aku menurut saja saat dibimbing Pak Sitor ke kamar tidur sambil bergandengan tangan. Direbahkannya tubuhku di atas ranjang yang biasa kugunakan untuk bercinta hanya dengan suamiku. Namun kini yang berada di sampingku bukanlah suamiku, melainkan seorang laki-laki tukang ojek sepantaran ayahku yang seharusnya tidak pantas untukku.

Saat itu juga aku tahu akan terjadi sesuatu yang terlarang di antara kami berdua. Aku tak pernah telanjang di hadapan laki-laki, kecuali suamiku. Entah apa yang menyihirku, yang membuatku memasrahkan diri pada laki-laki ini. Semuanya seolah berjalan begitu cepat dan mengalir begitu saja. Aku pun terhanyut terbawa aliran nafsu yang dibangkitkan Pak Sitor.

Pak Sitor lalu menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Sedang lampu di luar telah ia matikan tadi.

Aku diam saja menanti apa yang akan diperbuatnya padaku. Padahal selama ini aku tidak pernah sekali pun memberi hati jika ada laki-laki lain yang iseng merabaku dan menggodaku. Saat di Padang dulu, sebetulnya banyak rekan sekerjaku yang masih muda dan gagah berusaha iseng menggodaku. Kadang mereka dengan gigih mengajakku kencan atau sekedar makan berdua walau tahu aku sudah bersuami. Aku tak pernah melayani mereka. Aku termasuk wanita yang menjunjung tinggi kesucian dan kehormatan sesuai dengan yang selalu diajarkan orang tua dan agamaku.

Sekarang semua itu musnah tak berbekas. Di hadapan Pak Sitor, aku sudah terbaring tak berdaya. Pasrah untuk mengikuti apa yang akan diperbuatnya terhadapku. Aku akan ditelanjangi. Seluruh tubuhku akan dipijati dan dirabainya. Aku tahu aku melakukan pencemaran terhadap pernikahanku… tapi aku pun tak bisa menahan rasa basah yang mulai menggelora di sekitar pangkal pahaku…

Pak Sitor mulai melepaskan pakaianku satu per satu, mulai dari kaosku, lalu celana panjangku. Aku hanya memejamkan mataku saat ditelanjangi oleh Pak Sitor. Aku semakin buta oleh nafsu yang mulai menggebu-gebu merasuki jiwa dan tubuhku. Bahkan sepertinya aku tak sabar menanti tindakan Pak Sitor selanjutnya. Akhirnya bra dan celana dalam kremku pun terlempar ke lantai. Lengkaplah sudah sekarang kepolosanku di hadapannya. Sejenak sempat kulihat Pak Sitor menelan ludah menatap tubuh bugilku yang putih mulus.

Selesai menelanjangi aku, gantian dirinya yang melepaskan pakaiannya satu per satu hingga lapis terakhir. Aku merasa tegang saat menungguinya mencopoti pakaiannya sambil terbaring bugil di ranjang. Rasanya lama sekali. Vaginaku terasa basah karena menahan gairah. Kuperhatikan tubuhnya yang hitam. Meskipun sudah tua namun ototnya masih terukir jelas. Ada gambar tattoo tengkorak di lengannya.

Saat Pak Sitor membuka celana dalamnya, di bawah temaram lampu, aku bisa melihat ternyata penisnya tidak disunat! Aku berusaha menyembunyikan keterkejutanku dan bersikap wajar supaya ia tak merasa tersinggung.

Jantungku semakin berdebar-debar saat kami sudah sama-sama bugil dan ia mendekati tubuhku.

Kurasa dia adalah laki-laki yang keras dan hanya sedikit memiliki kelembutan. Itu aku ketahui saat ia mulai merabai tubuhku yang polos.

Aku tersentak ketika Ia mulai memeluk dan menciumiku. Diciuminya aku dari leher hingga belahan dadaku dengan kasar. Digigitinya bagian-bagian sensitifku sehingga menimbulkan cupangan. Rabaan tangannya yang kasar mulanya membuatku kesakitan tapi akhirnya aku pun jadi terangsang.

Suamiku jika merabaiku cukup hati-hati. Nyata perbedaannya dengan Pak Sitor yang lebih kasar. Tampaknya ia sudah lama tidak berhubungan badan dengan wanita. Sekarang akulah yang jadi sarana pelampiasan nafsunya setelah sekian lama. Aku tak kuasa menolak tindakannya pada diriku. Yang jelas aku merasa sangat terangsang disentuh dengan cara yang berbeda dari yang biasa dilakukan oleh suamiku. Birahiku pun naik.

Tiba-tiba air mataku sempat menetes karena tersirat penyesalan telah menodai perkawinanku. Namun percuma saja, sekarang semuanya sudah terlambat. Pak Sitor semakin asyik dengan tindakannya. Tiap jengkal tubuhku dijamahnya tanpa terlewatkan seinci pun. Kekuatan Pak Sitor telah menguasai diriku. Aku membiarkan saja ia terus merangsangi diriku. Tubuhku pun berkeringat tidak tahan terhadap rasa geli bercampur gairah.

Lalu mulutnya turun ke selangkanganku. Ia sibakkan kedua kakiku yang putih bersih itu. Di situ lidahnya bermain menjilati klitorisku. Kepalaku miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang melandaku. Peganganku hanya kain sprei yang aku tarik karena desakan itu. Kedua kakiku pun menerjang dan menghentak tidak tahan atas gairah yang melandaku.

Beberapa menit kemudian aku orgasme. Pak Sitor dengan mulutnya menelan air orgasmeku itu. Badanku lemas tak bertenaga. Mataku pun terpejam.

Setelah beristirahat beberapa saat, aku kembali dibangkitkan oleh Pak Sitor dengan cara diciumi balik telingaku hingga liang kehormatanku. Di sana jarinya ia masukkan. Ia pun mulai mengacak-acak liang kewanitaanku lalu mempermainkan celahnya.

Sambil menikmati goyangan jari-jarinya di dalam vaginaku, aku semakin sadar jika Pak Sitor telah lama merencanakan ini. Bisa jadi telah lama ia berobsesi untuk meniduriku karena sama sekali tak nampak keraguan dalam seluruh tindakannya mencabuliku. Berarti ia memang telah berencana melanggar amanat suamiku dan menguasaiku.

Di satu pihak aku memandangnya sebagai ular berkepala dua. Anehnya, di lain pihak, aku ikut merasa senang ia berhasil mewujudkan rencana rahasianya itu terhadapku! Sekarang aku menikmati sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya…

Pikiran yang memenuhi benakku pun terputus karena aku lalu mengalami orgasme untuk yang kedua kalinya oleh tangan Pak Sitor. Badanku telah basah oleh keringat. Aku benar-benar merasa lemas.

Pak Sitor lalu mengambil gelas dan menuangkan air putih dari sebotol air mineral yang ada di mejaku. Dibantunya aku untuk duduk dan minum. Dalam beberapa teguk, air dalam gelas itu kuhabiskan. Pak Sitor lalu menuangkan lagi air untuk diminumnya sendiri ke gelas yang sama. Aku duduk di tempat tidur sambil bersandar ke dinding memperhatikannya.

“Ibu masih mau minum lagi?” tanya Pak Sitor selesai menghabiskan air di gelas.

Karena masih haus, aku pun mengangguk. Pelan-pelan kuminum air dari gelas yang baru saja dipakai oleh Pak Sitor. Nikmat sekali rasanya. Sekarang giliran Pak Sitor yang memperhatikanku menghabiskan minumanku sambil tangannya mengelus-elus pundak dan leherku. Aku mulai merasa nyaman berada dalam dekapan lelaki itu.

“Sudah?” tanyanya saat kuulurkan gelas yang kosong kepadanya.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum malu karena Pak Sitor yang bugil itu menatap mataku dalam-dalam sambil mendekap tubuhku yang juga bugil. Lalu dilepaskannya dekapannya dari tubuhku untuk meletakkan gelas kosong kembali ke atas meja.

Saat kembali ke ranjang, Pak Sitor minta izin padaku untuk memasukkan penisnya ke lubang kehormatanku. Walaupun kami sudah sama-sama bugil dan aku pun telah dicabuli oleh Pak Sitor, aku masih merasa ragu.

Aku lalu menggeleng tidak setuju karena khawatir konsekuensinya. Liang kehormatanku akan tercemar oleh cairan laki-laki lain. Aku merasa telah terlalu jauh berkhianat pada suamiku. Bagiku cukuplah tindakannya tadi dan tidak usah diteruskan lagi hingga penetrasi.

Aku mengambil pakaianku yang berceceran dan bersiap mengenakannya kembali.

Dari luar, Pak Sitor tampak mau menerima perkataanku dan tidak meneruskan niatnya. Akan tetapi, aku bisa melihat ada rasa kecewa yang dalam di matanya. Ia tampak gelisah. Aku bisa bayangkan dirinya yang telah terobsesi untuk menyenggamaiku. Aku lihat penisnya sebetulnya telah siap memasuki diriku jika aku izinkan. Panjangnya melebihi milik suamiku dan agak bengkok dengan diameter yang melebar.

Akhirnya Pak Sitor minta aku untuk membantunya klimaks dengan mengulum penisnya. Satu kali saja, katanya, sebelum kami menyudahi permainan terlarang kami malam itu.

Aku ragu. Aku dan suamiku saja selama ini tak pernah saling melakukan oral sex. Suamiku tak pernah melakukannya kepadaku, demikian juga sebaliknya. Padahal kami selalu menjaga kebersihan wilayah sensitif kami. Sedangkan aroma penis Pak Sitor lebih bau. Kelihatannya sih tak terlalu bersih. Selain nampaknya Pak Sitor memang kurang menjaga kebersihan, tentunya itu juga karena penisnya yang tak disunat. Akhirnya, aku kembali menggeleng.

Walaupun aku menolaknya, Pak Sitor tak menyerah dan terus merengek memohon-mohon padaku. Ia merasa sangat tersiksa karena belum berhasil mengeluarkan hasrat birahinya yang terpendam.

Lama-kelamaan aku merasa kasihan juga. Tidak adil rasanya bagiku yang telah dibantunya sampai dua kali orgasme untuk membiarkannya seperti itu. Aku merasa diriku egois. Timbullah perasaan bersalah di dalam diriku.

Akhirnya aku pun menyerah. Bukankah tadi Pak Sitor juga telah membantuku masturbasi dengan tangan dan mulutnya? Jadi kupikir sekarang hitung-hitung balas budi.

“Ya sudahlah, Pak…. Sekali ini saja, ya..?” kataku pelan tanpa daya sambil memegang pahanya yang kasar.

Tampak sekali kegirangan terpancar di wajah Pak Sitor. Seperti seorang anak yang baru saja diberikan mainan oleh ibunya.

Kuletakkan kembali pakaianku yang baru saja kukumpulkan dan tadinya sudah siap kukenakan kembali.

Perlahan kutundukkan wajahku mendekati selangkangan Pak Sitor. Dengan sedikit jijik kubuka mulutku. Akhirnya, kuberanikan untuk mengulum batang penisnya namun tidak muat seluruhnya ke dalam rongga mulutku. Hanya sampai setengah batangnya, kepala penisnya sudah mentok sampai pangkal tenggorokanku. Mulutku pun serasa mau robek karena besarnya penis Pak Sitor.

Baru beberapa kali kulum aku serasa mual dan mau muntah oleh aroma kelamin Pak Sitor itu. Aku maklum saja karena ia kurang bersih. Penisnya yang tidak disunat, seperti kebiasaan laki-laki Batak, memang membuatnya agak kotor. Selain itu, kurasa itu juga disebabkan oleh makanannya yang tidak beraturan. Walaupun demikian, aku berusaha sekuat tenaga menyembunyikan perasaan jijikku. Aku tak ingin membuatnya tersinggung.

Sementara kepalaku menunduk dan mengulumi penisnya, mataku kerap melirik ke atas mengamati ekspresi Pak Sitor. Awalnya aku merasa tak percaya diri apakah dapat memuaskan Pak Sitor. Sementara aku bekerja, tangan Pak Sitor yang satu mengelus-elus pundak dan leherku. Tangannya yang satu lagi diletakkannya di kepalaku. Semakin lama kurasakan tangannya semakin erat memegangi kepalaku, seolah tak menghendaki kepalaku berpindah dari selangkangannya. Untuk sementara, aku jadi lega karena itu artinya Pak Sitor sejauh ini puas dengan pelayananku.

Satu menit, dua menit… lima menit berlalu…. Entah berapa lama lagi setelah itu aku mengulumi penis Pak Sitor sampai basah dan bersih oleh air liurku… Aku lalu menyerah dan melepaskan penis Pak Sitor dari mulutku.

Aku heran Pak Sitor ini sampai sekian lama kok tidak juga klimaks. Padahal akibat kulumanku, penisnya semakin lama semakin keras seperti sebatang kayu. Entahlah, mungkin aku juga yang belum pandai melakukan oral sex… Maklumlah, ini baru pertama kali kulakukan.

Akhirnya aku sadar bahwa stamina Pak Sitor yang luar biasa besarnya itu memang harus disalurkan dengan cara bersebadan… Mungkin karena belum berpengalaman, kulumanku sekedar mengeraskan penis Pak Sitor tapi tak mampu membuatnya orgasme.

Selain salut akan staminanya, aku juga salut atas sikapnya yang menghargai wanita dengan tidak memaksakan kehendak. Padahal dalam keadaan seperti ini, aku bisa saja dipaksanya untuk disetubuhi, yang mana hal itu tidak ia lakukan karena aku menolaknya.

Aku jadi semakin merasa bersalah. Karena itu timbul keinginanku untuk membantunya saat itu juga. Di dalam pikiranku berperang antara birahi dan moral. Akhirnya, kupikir sudah terlanjur basah. Di samping itu, aku tidak ingin menambah masalah antara aku dan Pak Sitor. Jika aku larang terus nantinya Pak Sitor bisa saja memperkosaku. Seorang laki-laki yang telah naik birahinya sampai di ubun-ubun sering bertindak nekad. Lagi pula aku sendirian.

Akhirnya, dengan pertimbangan demi kebaikan kami berdua, maka aku izinkan dia melakukan penetrasi ke dalam rahimku. Kupikir lebih baik hal itu kami lakukan atas dasar suka sama suka daripada aku nanti diperkosanya. Lagipula pikiran untuk disetubuhi lelaki lain untuk pertama kalinya mulai menggoda benakku. Ya, aku membulatkan tekadku untuk menerima Pak Sitor mengintimiku…

“Hmmm… Pak Sitor…. Begini deh… Kalau Bapak memang benar-benar mau mencampuri saya… Boleh, Pak….”

Pak Sitor pun tampaknya gembira sekali. Padahal tadi sempat kulihat wajahnya tegang sekali.

“Ibu benar-benar ikhlas…?” tanya Pak Sitor menatap dalam-dalam mataku dengan penuh birahi. Tangannya membelai rambutku. Aku membalas tatapannya sambil tersenyum, lalu mengangguk dengan pasti.

Pak Sitor mencium dan mengulum bibirku dalam-dalam… Seolah menyatakan rasa terima kasihnya atas kesediaanku. Aku merasa dihargai sebagai seorang wanita. Walaupun perilakunya keras namun ia tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita. Kubalas ciumannya dengan tulus. Aku pun semakin mantap untuk menyerahkan diriku bulat-bulat kepadanya…

Setelah dilepaskannya pagutannya dari mulutku, kami pun berpandangan dan saling tersenyum seperti sepasang kekasih. Sepasang kekasih yang bersiap-siap untuk menunaikan malam pertamanya. Ada perasaan tegang dan senang yang melanda diriku saat menyerahkan diriku pada Pak Sitor.

“Sebentar ya, Pak… dikerasin lagi penisnya, biar gampang nanti masukinnya…” kataku sambil kembali menundukkan kepalaku ke arah selangkangan Pak Sitor.

Selama beberapa saat kukulumi kembali penis Pak Sitor. Tangan Pak Sitor membelai-belai rambutku saat aku bekerja. Tampak sekali kalau ia sangat menikmatinya. Setelah batang penisnya benar-benar keras, barulah kulepaskan mulutku…

Aku lalu berbaring dan membuka kedua pahaku, memberinya jalan memasuki rahimku. Tubuh kami berdua saat itu telah sama-sama berkeringat. Rambutku telah kusut. Dari temaram lampu dinding aku lihat Pak Sitor bersiap-siap mengarahkan penisnya. Posisinya pas di atas tubuhku. Tubuhnya yang telah basah oleh keringat hingga membuat badannya hitam berkilat. Tampaknya ia masih berusaha menahan untuk ejakulasi. Di luar, derasnya hujan seakan tidak mau kalah dengan gelombang nafsu kami berdua.

Pak Sitor dengan hati-hati menempelkan kepala penisnya. Ia tahu jika tergesa-gesa akan membuatku kesakitan sebab punyaku masih kecil dan belum pernah melahirkan.

Aku pun berusaha memperlebar kedua pahaku supaya mudah dimasuki kejantanan Pak Sitor. Aku melihat kejantanannya panjang dan agak bengkok jadi aku bersiap-siap agar aku jangan kesakitan.

“Pelan-pelan ya, Pak…” Aku sempat bilang kepadanya untuk jangan cepat-cepat.

“Jangan khawatir, Bu…” katanya sambil memegang lututku mengambil ancang-ancang.

Dengan bertahap, ia mulai memasukan penisnya. Aku memejamkan mata dan merasakan sentuhan pertama pertemuan kemaluan kami. Aku merasa seperti pengantin baru yang sedang diperawani. Hatiku dag dig dug. Untuk pertama kalinya aku dimasuki oleh laki-laki lain selain suamiku! Aku punya perasaan ini akan lebih sensasional daripada malam pertamaku bersama Bang Ikhsan…

Untuk melancarkan jalannya, kakiku ia angkat hingga melilit badannya, lalu langsung penisnya masuk ke rahimku dengan lambat. Aku terkejut dan merasakan ngilu di bibir rahimku.

“Auuch… ooh.. auuch…” Aku meracau kesakitan. Pak Sitor membungkam mulutku dengan mulutnya. Kedua tubuh bugil kami pun sepenuhnya bertemu dan menempel. Aku memeluk tubuh Pak Sitor yang kekar itu erat-erat.

Tidak lama kemudian seluruh penisnya masuk ke rahimku dan ia mulai melakukan gerak maju mundur. Aku merasakan tulangku bagai lolos, sama seperti yang kualami saat menjalani malam pertama dengan Bang Ikhsan dulu…. Bahkan sekarang lebih terasa…. Perasaan yang belakangan ini sudah tak pernah lagi kualami bersama suamiku. Kini aku bisa menikmatinya kembali bersama Pak Sitor!

Aku pun mulai merasakan kenikmatan. Cairan vaginaku mulai keluar banyak dan melumasi penis besar Pak Sitor yang terus keluar masuk liang kemaluanku. Mulut pak Sitor pun lepas dari mulutku karena aku tidak kesakitan lagi. Aku tersengal-sengal setelah selama beberapa waktu mulutku disumpalnya.

Mulutku yang telah bebas kini mulai mengeluarkan erangan-erangan karena menikmati genjotan lelaki itu. Aku merasa melambung dibawa Pak Sitor ke surga dunia. Karenanya aku benar-benar percaya dan menyerahkan diriku padanya. Tampak Pak Sitor sangat bahagia melihat penerimaanku itu.

Kekuatan laki-laki ini membuatku amat salut. Genjotannya sampai membuat ranjang dan badanku bergetar semua seperti kapal yang diserang badai. Aku sampai menikmati orgasme yang luar biasa karenanya. Seolah aku telah dilahirkan kembali dan diberikan kehidupan lain yang sama sekali berbeda…

Kurang lebih 15 menit kemudian gerakan Pak Sitor bertambah cepat. Tubuhnya menegang hebat. Aku merasakan basah di dalam rahimku oleh cairan hangat. Akhirnya kesampaian juga obsesi Pak Sitor terhadapku. Sekarang rahimku sudah menerima cairan spermanya yang panas dan membludak. Resmilah sudah aku menjadi miliknya….

Tubuhnya lalu rebah di atas tubuhku tanpa melepaskan penisnya dari dalam rahimku. Aku pun dari tadi telah sempat kembali orgasme. Butiran keringat kami membuat basah kain sprei yang telah kusut di sana-sini.

Beberapa waktu kemudian Pak Sitor menggulingkan badannya ke samping sambil menarikku sehingga kami berbaring berhadap-hadapan pada sisi tubuh kami masing-masing. Aku terkagum-kagum karena dalam posisi itu, penis Pak Sitor tetap berada dalam kepitan lubang kemaluanku. Satu hal yang tak pernah kudapatkan saat bersama Bang Ikhsan suamiku.

Ini bisa terjadi karena penis Pak Sitor panjang. Selain itu, juga kurasa karena ia begitu terangsang dengan diriku sehingga penisnya terus mengeras walaupun sudah memuncratkan air mani dalam jumlah banyak. Alasan yang terakhir ini tentu saja membuatku merasa sangat tersanjung dan merasa sangat berharga di hadapannya. Aku ternyata bisa membuat Pak Sitor terangsang dengan begitu hebatnya… Otomatis aku pun merasa sangat senang sudah bisa menyenangkan dan memuaskan nafsu seks Pak Sitor.

Kami lalu tertidur dengan alat kelamin kami masih bersatu, sementara di luar hujan masih saja turun.

Entah berapa lama kami tertidur. Mestinya tak terlalu lama tapi saat bangun aku merasa sangat segar. Aku terbangun karena gerakan-gerakan Pak Sitor yang rupanya telah bangun terlebih dahulu. Sambil mengumpulkan kembali memoriku yang beterbangan saat tertidur, aku mulai menyadari kembali keadaanku saat itu. Penis Pak Sitor ternyata masih mantap tertancap di kemaluanku, bahkan terasa keras sekali…

Sejenak akal sehatku kembali mampir. Gila! Aku telah bersetubuh dengan lelaki selain suamiku…! Sepanjang tidur tadi tubuhku telah dimasuki penis dan sperma Pak Sitor… Satu hal yang sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya! Di sisi lain aku pun sadar kalau semuanya sudah telanjur. Aku tak mungkin kembali lagi. Sudahlah, biarlah semuanya mengalir begitu saja… Nafsuku yang sudah dikendalikan Pak Sitor lalu kembali menguasai diriku.

Dalam keadaan belum seratus persen sadar, aku segera tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus bersiap-siap karena Pak Sitor akan menyetubuhiku lagi… Ya, kami sedang menjalani malam pertama kami… Pak Sitor pasti ingin kulayani lagi. Aku harus memastikan dia mendapatkan haknya atas diriku. Benar saja, tak lama Pak Sitor segera mengambil posisi di atas tubuhku. Genjotan kenikmatannya pun kembali dilancarkan terhadap diriku…

Saat itu tidak ada lagi batas di antara kami. Dalam hati, aku sebetulnya merasa telah berdosa kepada suamiku. Bagaimanapun, pikiran dan akal sehatku ternyata tetap tidak bisa menahan tubuh dan nafsuku yang telah dikuasai dan dikendalikan sepenuhnya oleh Pak Sitor.

Hingga tengah malam Pak Sitor kembali menggauliku sepuasnya. Aku pun tidak merasa sungkan lagi. Saat itu kami berdua telah mencapai titik paling intim dalam hubungan kami. Kami berdua sudah tidak merasa asing lagi satu sama lain. Aku mulai berpartisipasi secara aktif untuk saling memuaskan nafsu badani kami.

Dalam waktu singkat, aku pun sudah tidak merasa jijik lagi jika melakukan oral sex untuk Pak Sitor, seolah itu adalah salah satu menu biasa yang harus kutunaikan untuknya. Bahkan ketika ia mengutarakan niatnya untuk orgasme di dalam mulutku, aku serta merta menyanggupinya dengan sukarela. Malam itu untuk pertama kalinya aku mencicipi rasa air mani seorang lelaki dan menyantapnya dengan lahap…!

***

Sejak kejadian malam itu, hidupku berubah. Bagi seorang wanita seperti aku, sangat sulit rasanya untuk melepaskan diri dari situasi ini. Yang jelas, penyesalan sudah tak ada gunanya. Dari luar, orang-orang memandangku sebagai seorang istri yang berwibawa dan menjaga kehormatan. Akan tetapi semua itu jadi tak ada artinya di hadapan Pak Sitor. Ia telah berhasil menemukan celah yang tepat untuk menguasaiku. Ia telah berhasil menggauliku. Menjadikan diriku pemuas nafsu badaninya. Kehormatan dan perkawinan yang aku junjung pun luntur sudah. Apa lagi yang bisa kuperbuat…

Pak Sitor kini telah merasa jadi pemenang dengan kemampuannya menaklukkanku hingga aku tidak berdaya. Aku semakin tidak berdaya jika ia telah berada di dalam kamarku, untuk bersebadan dengannya. Kapan pun ia datang menagih jatahnya, pasti aku penuhi. Hanya jika aku sedang haid, aku bisa menolaknya.

Di hadapannya, posisiku tak lebih sebagai gundiknya. Hebatnya, ia bisa membuatku menikmati peranku sebagai pemuas nafsunya. Di sisi lain, aku pun sangat berterima kasih padanya karena semua itu tetap hanya jadi rahasia kami berdua. Di luar tembok rumahku dan rumahnya, kami kembali menjalani peran masing-masing di masyarakat.

Aku benar-benar terlena dan terbuai oleh gelombang gairah yang dipancarkan Pak Sitor. Aku heran karena Pak Sitor yang seusia dengan ayahku ini masih mampu mengalahkanku di ranjang dan membuatku orgasme berkali-kali. Tidak seperti suamiku yang hanya bisa membuatku orgasme sekali saja.

Kuakui aku jadi mendapat pengalaman baru yang memupuskan pendapatku selama ini bahwa laki-laki paro baya akan hilang keperkasaannya.

Suatu saat, sehabis kami berhubungan badan, aku bertanya padanya bagaimana ia bisa sekuat itu di usianya yang sudah tak muda lagi.

Pak Sitor bercerita bahwa ia sangat suka mengkonsumsi makanan khas Batak, nanigota, yang berupa sup daging dan darah anjing. Makanan itu diyakininya dapat menjaga dan menambah vitalitas pria.

Aku bergidik jijik dan mau muntah mendengarnya. Aku jadi ingat, pantas saja saat bersebadan dengannya bau keringatnya lain. Juga saat aku mengulum kemaluannya terasa panas dan amis. Rupanya selama ini Pak Sitor sering memakan makanan yang di agamaku diharamkan.

Pernah suatu kali aku kurang enak badan padahal Pak Sitor ngotot ingin mengajakku untuk bersetubuh. Aku pun dibelikannya makanan berupa sate. Saat aku santap, rasanya sedikit aneh. Setelah makan beberapa tusuk, aku merasakan tubuhku panas dan badanku seakan fit kembali. Setelah sate itu aku habiskan, kami pun melakukan persetubuhan dengan amat panas dan bergairah hingga aku mengalami orgasme sampai tiga kali. Tubuhku seakan segar bugar kembali dan enak sekali.

Setelah persetubuhan, Pak Sitor bilang bahwa yang aku makan tadi adalah sate daging anjing. Aku marah dan ingin memuntahkannya karena jijik dan kotor. Hanya karena pandainya ia memberiku pengertian, ditambah sedikit rayuan, aku jadi bisa menerimanya. Tetap saja kemudian aku memintanya untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Aku tak ingin memakannya lagi walaupun terus terang, aku pun mau tak mau harus mengakui khasiatnya… Ia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi tanpa seizinku.

***

Selama aku bertugas di pulau itu hampir satu tahun, kami telah sering melakukan hubungan seks dengan sangat rapi. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Untungnya pula, akibat perbuatan kami ini aku tidak sampai hamil. Aku memang disiplin ber-KB supaya Pak Sitor bebas menumpahkan spermanya di rahimku.

Kapanpun dan di manapun, kami sering melakukannya. Kadang di rumahku, kadang di rumah Pak Sitor. Kadang kalau kupikir, alangkah bodohnya aku mau saja digauli di atas dipan kayu yang cuma beralaskan tikar usang. Kenyataannya, semua itu tak kupedulikan lagi. Yang penting bagiku hasratku terpenuhi dan Pak Sitor pun bisa memberinya.

Pernah suatu hari setelah kami bersebadan di rumahnya, Pak Sitor melamarku! Ia minta kepadaku untuk mau menikah dan hidup dengannya di pulau itu. Lamaran Pak Sitor ini tentu mengejutkanku. Rupanya Pak Sitor mulai mencintaiku sejak ia dengan bebas dapat menggauliku.

Memang selama hampir setahun terakhir ini kami berdua sudah menjalani hidup nyaris seperti sepasang suami istri namun tetap saja rasanya itu tidak mungkin sebab aku masih terikat perkawinan dengan suamiku dan aku pun tidak ingin menghancurkannya.

Lagi pula Pak Sitor seusia dengan ayahku. Apa jadinya jika ayahku tahu.

Di samping itu, keyakinan kami pun berbeda karena Pak Sitor seorang Protestan. Bagiku ini juga satu masalah. Memang, sejak berhubungan intim dengannya, aku tak lagi menjalankan agamaku dengan taat. Aku tak pernah sembahyang jika bersama Pak Sitor. Kebiasaan Pak Sitor menyantap daging anjing dan babi, juga menenggak tuak, sedikit demi sedikit mulai kuikuti.

Sekarang aku telah mahir pula memasakkan nanigota ataupun masakan lainnya yang sejenis untuk Pak Sitor. Ia sering memuji kalau masakanku jauh lebih enak daripada masakan di lapo di daerah kami. Beberapa kali ia bahkan mengundang kawan-kawannya dari luar pulau untuk dijamu dengan masakan khas Batak buatanku. Satu hal yang membuatku merasa bangga tentunya.

Kadang aku ikut pula menikmati makanan seperti itu. Sekedar menemaninya dan sebagai wujud toleransiku padanya. Lagipula, khasiat itu semua terhadap gairah seks kami telah terbukti… Entah sugesti atau bukan, yang jelas setiap kali aku ikut mencicipi masakan itu, akan langsung diikuti oleh persetubuhan yang hebat antara aku dan Pak Sitor semalam suntuk… Pak Sitor pun mengetahui hal itu. Karena itulah Pak Sitor selalu berusaha mati-matian membujukku untuk bersamanya menikmati hidangan itu setiap kali kami akan berhubungan badan.

Apapun, perbedaan agama itu tetap saja terasa menjadi ganjalan. Apalagi Pak Sitor bersikukuh untuk tidak meninggalkan keyakinannya. Ia mempersilakanku untuk tetap pada keyakinanku saat ini atau mengikuti keyakinannya jika aku mau hidup bersamanya. Buatnya itu tak jadi masalah.

Suatu saat, sepulangnya aku dari kerja, Pak Sitor ”menembakku”. Saat itu aku baru saja diantarnya pulang ke rumah dan aku sedang berganti pakaian di hadapannya. Di situ ia menyatakan cintanya padaku dan menanyakan apakah aku mencintainya juga. Tentu saja aku agak gelagapan memberinya jawaban. Aku berusaha menjawabnya sebijaksana mungkin.

Masih dalam keadaan setengah bugil, aku menghentikan aktifitasku. Kuraih tangannya dan kuajaknya duduk berdampingan di sisi tempat tidurku.

“Pak Sitor, aku pun mencintai Bapak dan yang jelas aku pun sangat menyukai nafkah batin yang Pak Sitor berikan padaku selama di sini,” kataku pelan-pelan sambil menatap matanya dalam-dalam untuk menyatakan ketulusan ucapanku.

“Tapi kuharap Pak Sitor juga paham kalau di lain pihak aku masih terikat pernikahan dengan Bang Ikhsan yang kunikahi atas dasar cinta pula…” lanjutku.

Suasana jadi hening sejenak. Kurasakan genggaman tangannya agak menguat meremas-remas tanganku yang halus.

“Yaah… seandainya saja, kita bertemu waktu Bu Reni masih gadis,” keluh Pak Sitor. “Mungkin…”

“Mungkin apa, Pak?”

“Mungkin sekarang kita sudah menikah… bukan sekedar kawin…” katanya sambil mengelus pundakku yang telanjang.

Mukaku jadi memerah karena tersipu.

“Pak Sitor….” kataku pelan sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.

“Bu Reni,” kata Pak Sitor lagi sambil menegakkan kepalaku perlahan menatap kedua matanya.

“Ya, Pak..?”

“Bu Reni lebih mencintai yang mana…. Aku atau suami Ibu…?”

Mukaku yang putih bersih pun kembali memerah karena tersipu. Kali ini kurasa benar-benar seperti udang rebus.

“Aaaa…aah, Pak Sitoor…. Pertanyaannya kok susah-susah sih…?” jawabku manja sambil mencubit tangannya.

Pak Sitor jadi gemas melihat reaksiku yang mesra dan manja. Apalagi aku sudah dalam keadaan nyaris bugil. Kurasa nafsunya sudah naik sampai ke ubun-ubun. Ia pun segera membantuku melolosi sisa pakaian yang tersisa ditubuhku sebelum ia mencopoti pakaiannya sendiri.

Asyiik… aku akan disetubuhi lagi, pikirku girang. Tentu saja aku senang. Aku tak pernah tidak senang dalam melayani Pak Sitor. Di samping itu, kini dengan melayaninya di ranjang, aku jadi tak perlu menjawab pertanyaan terakhirnya yang susah tadi.

Pak Sitor pernah menanyakan padaku kenapa aku tidak hamil padahal setiap ia menyebadaniku spermanya selalu ia tumpahkan di dalam. Diutarakannya keinginannya yang kuat untuk mendapatkan anak dari rahimku. Aku jadi terharu karena itu membuktikan betapa besarnya cintanya padaku. Sebagai seorang istri yang sah dari suamiku, tentu saja aku jadi mengalami dilema.

Aku tidak memberitahunya jika aku ber-KB karena tidak ingin mengecewakannya. Jelas ia sebenarnya menginginkan aku hamil agar memuluskan langkahnya untuk memilikiku. Bahkan ia berusaha meyakinkanku untuk melihat siapa yang akan lebih dulu berhasil menghamiliku, dirinya atau suamiku. Seandainya ia yang berhasil pertama kali, Pak Sitor berkeras untuk menikahiku. Minimal secara adat. Tak peduli apakah aku harus bercerai dulu dengan Bang Ikhsan atau tidak. Satu permintaan yang wajar sebetulnya. Untuk menyenangkan dirinya, aku pun menyanggupinya.

Bukan main girangnya Pak Sitor mendengar kesanggupanku itu. Sejak itu, ia pun berusaha sekuat tenaga untuk membuatku hamil. Dengan rajinnya aku sering dibawakannya ramuan khas Batak untuk meningkatkan kesuburan. Entah terbuat dari apa saja, aku tak tahu. Untuk menyenangkan dirinya, dengan patuh semuanya selalu kuminum. Bagaimanapun, aku tetap lebih percaya dengan khasiat pil KB yang kuminum diam-diam secara teratur.

Ia bahkan sampai hafal kapan saat-saat suburku. Jika saat itu datang, ia telah memesan padaku bahwa itu adalah jatahnya. Sampai saat ini aku masih bisa mengabulkannya, dengan catatan jika nanti Bang Ikhsan telah pulang dan ia menagih jatahnya padaku tepat pada masa suburku, aku harus mendahulukannya. Pak Sitor cukup fair untuk menerima perjanjian itu.

Akan tetapi bukan Pak Sitor namanya kalau tidak lihai dan cerdik.

“Suami Ibu kan biasanya minta jatah malam hari,” katanya.

“Nah, berarti kalau siangnya jatahku, kan…?” tanyanya tersenyum nakal. Aku pun tak bisa berkutik menanggapi permintaannya.

Itulah sebabnya, saat tiba masa suburku, aku membiasakan diri minta izin untuk tak masuk kantor dengan berbagai alasan. Tujuan sebenarnya tentu saja untuk memenuhi keinginan Pak Sitor yang ingin menyetubuhiku seharian.

Bagaimanapun, aku tetap harus menyiasati agar ia tidak bermimpi untuk menikahiku. Kurasa hubungan ini hanya sebagai pelarianku dari kesepian selama jauh dari suamiku. Aku tak ingin sampai terjerumus lebih jauh lagi, walaupun selama ini apapun yang diminta Pak Sitor dari diriku sebisa mungkin selalu aku sanggupi.

Kuakui, sedikit banyak hubungan emosional antara diriku dengan Pak Sitor tetap ada. Ada keinginan yang tulus dari diriku untuk menyenangkannya dan melihatnya bahagia. Tentu saja selama aku tidak sampai mengorbankan jatah suamiku. Toh, aku pun secara tak langsung mendapat manfaatnya jika aku bisa menyenangkan dan memuaskan Pak Sitor. Aku jadi memiliki pelindung setia selama tinggal di pulau yang terpencil dan keras ini. Jadi keamananku terjamin, sesuai dengan yang diamanatkan suamiku kepada Pak Sitor. Tapi tentu saja tak boleh lebih jauh dari itu.

Jadi aku menjelaskannya pada Pak Sitor dengan lembut dan baik-baik suatu saat seusai kami berhubungan badan.

Aku bilang jika kelak aku pindah kerja, ia harus rela hubungan ini putus. Selama aku dinas di pulau ini dan suamiku tidak ada, ia kuberi kebebasan untuk memilikiku dan menggauliku. Syaratnya, asal jangan berbuat macam-macam di depan teman-teman kantorku yang kebetulan hampir semuanya penduduk asli pulau ini.

Akhirnya ia mau mengerti dan menerima alasanku. Ia berjanji akan menutup rapat rahasia kami jika aku pindah. Ia pun menerima segala persyaratanku karena rasa cintanya padaku.

Demikianlah, selama aku tugas di pulau ini, Pak Sitor terus memberiku kenikmatan ragawi tanpa ada batas sama sekali di antara kami. Walaupun demikian, aku tetap berusaha memegang prinsip bahwa cintaku hanya untuk suamiku. Kalau diibaratkan perjalanan, Pak Sitor adalah satu stasiun persinggahan yang harus aku singgahi.

Dalam hatiku, aku berjanji untuk menutup rapat rahasia ini karena tetap masih ada setitik penyesalan dalam diriku. Kadang aku mengganggap diriku kotor karena telah merusak kesucian pernikahan kami… Tapi sudahlah, mungkin ini memang tahapan kehidupan yang harus aku lewati…

TAMAT

Erotic Black Magic

Copyright 2002, by Dewi Setyowati (mediterania2000@yahoo.com)

(Pemaksaan, Istri Selingkuh)

Selama ini aku menjalani kehidupanku dengan normal, baik dalam rumah tangga maupun lingkungan kerjaku. Suamiku orangnya amat pengertian dan memenuhi segala kebutuhanku baik lahir maupun batin. Aku dan Mas Hendra menikah setamat kuliah karena kami telah cukup lama berpacaran sebelumnya.

Aku dilahirkan dalam lingkungan yang memegang teguh agama Katolik dan adat Jawa. Kehidupanku boleh dibilang berkecukupan. Ayahku adalah seorang pamong di daerah Jawa Tengah. Sedangkan orang tua Mas Hendra pun terbilang orang cukup berada dan menetap di Jakarta.

Selama bersama-sama menempuh kehidupan berumah tangga sekitar satu setengah tahun, kami belum memiliki anak. Sejak awal kami memang sengaja menundanya. Mas Hendra ingin aku mencurahkan perhatianku kepada pekerjaan. Di samping kami pun ingin tetap menikmati kehidupan berdua tanpa diganggu anak dulu.

Saat ini usiaku menginjak 27 tahun. Kulitku sawo matang. Tinggiku 168 cm dengan rambut yang panjang dan lurus. Kata teman-temanku, wajah dan bentuk tubuhku mirip Diah Permatasari yang juga asli Jawa.

Tidak heran selama aku kuliah dulu di daerah Surakarta, banyak teman sekampusku yang coba mendekati. Walaupun demikian, hatiku akhirnya terpaut pada Mas Hendra saja. Bukan materi yang aku kejar pada dirinya, melainkan sikapnya yang santun terhadap diriku.

Kebetulan memang kalau Mas Hendra datang ke kostku selalu pakai BMW atau Mercy milik orang tuanya. Walau sebetulnya aku lebih suka jika ia datang dan menjemputku pakai sepeda motor saja.

Kehidupan seksualku berjalan normal. Mas Hendra pun tahu seleraku. Ia amat mengerti kapan kami biasa berhubungan badan dan kapan tidak. Aku juga tidak mau Mas Hendra terlalu memforsir tenaganya untuk melakukan kewajibannya. Sebagai wanita Jawa aku dituntut untuk nrimo dan pasrah saja.

Kami tinggal di Surakarta dan menempati rumah pemberian orang tua Mas Hendra. Di rumah yang luas dan asri ini, kami tinggal dan ditemani dua orang pembantu suami istri. Kedua pembantu itu telah lama ikut dengan orang tua Mas Hendra. Umur mereka kira-kira 65 tahun. Yang perempuan bernama Mbok Lastri dan yang laki-laki Pak Bidin. Kami mempercayakan rumah kepada mereka jika kami pergi kerja.

Setiap hari aku ke kantor kadang diantar Mas Hendra dan kadang aku nyetir sendiri. Suatu saat ketika pulang kantor dan mau ke rumah, aku tanpa sengaja menyerempet sebuah sepeda yang dikemudikan oleh seorang pria paro baya. Pria itu jatuh.

Karena takut dan kaget, maka aku larikan saja mobilku ke arah rumah. Sesampai di rumah, kumasukkan mobil dan diam di kamar. Masih terbayang olehku saat pria itu jatuh dan memanggil-manggil aku untuk berhenti namun aku tancap gas.

Di rumah perasaanku tak tenang. Aku tak menceritakan kejadian itu kepada Mas Hendra.

Keesokan harinya aku minta diantar ke kantor oleh Mas Hendra.

Anehnya, lalu hampir tiap malam aku bermimpi bertemu dengan pria yang kutabrak itu. Sampai-sampai Mas Hendra heran akan sikapku yang berubah dingin dan gelisah. Lalu Mas Hendra menanyakan sebab perubahan sikapku itu.

Aku pun akhirnya berterus terang dan menceritakan semuanya. Mas Hendra bisa memahaminya. Lalu ia sarankan aku untuk mengambil seorang sopir untuk mengantarku. Aku pun setuju sebab sejak saat itu aku memang trauma menyetir sendiri.

Beberapa hari kemudian, datanglah sopir yang dicari Mas Hendra itu. Alangkah kagetnya aku, soalnya ia adalah orang yang aku tabrak tempo hari. Ia pun kaget, namun aku berusaha mengatur sikapku. Aku yakin ia pun masih ingat denganku saat kutabrak. Supaya Mas Hendra tak curiga pada orang yang kutabrak itu, maka aku setuju saja jika ia jadi sopirku. Aku pikir hitung-hitung balas jasa atas kesalahanku saat itu. Namanya Pak Ronggo, umurnya kira2 66 tahun, namun masih kuat dan sehat.

Sejak saat itu aku selalu diantar Pak Ronggo ke mana pun aku pergi, baik ke kantor atau belanja. Setiap pagi ia telah ada di rumah, dan siap-siap membersihkan mobilku. Sedang suamiku telah akrab dengan Pak Ronggo.

Suatu hari, saat mengantar aku ke kantor sambil bincang-bincang, Pak Ronggo bilang padaku.

“Bu, kalau ndak salah, Ibu dulu nabrak saya dengan mobil ini, kan?”

Aku terdiam tak mampu ngomong apa-apa.

“Ibu kejam dan tidak bertanggung jawab,” kata Pak Ronggo.

Seketika mulutku terasa kelu. Badanku terasa gemetar tapi tak mampu untuk bergerak.

“Maaf, Pak.. Waktu itu memang saya salah… Saya tergesa-gesa saat itu,” jawabku akhirnya.

“Alaaahhh… kalian orang kaya memang begitu… Menganggap orang lain sampah,” lanjutnya.

“Jangan gitu, Pak… Saya waktu itu benar-benar khilaf,” kataku setengah memohon.

Lalu ia diam… Aku pun diam saja saat itu, hingga sampai di rumah.

Sejak kejadian itu sikapnya terhadapku jadi lain. Aku berusaha untuk tidak ambil pusing tapi aku tahu aku tak mampu berbuat seperti itu.

Aneh memang, kenapa sejak Pak Ronggo bertanya kepadaku saat itu, aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres di pikiranku.

Sejak itu, ada sensasi tersendiri dalam hatiku saat menatap matanya. Perasaanku kepada Pak Ronggo serasa ingin terus bersama dengannya. Jika ia pulang sore harinya,aku merasa ada yang hilang dalam hidupku. Dan pagi jika ia datang untuk mengantarku rasa itu jadi senang dan seperti kasmaran. Padahal perasaanku kepada Mas Hendra malah biasa saja.

Suatu Jumat sore, saat ia menjemputku, entah kenapa aku minta Pak Ronggo untuk mampir dulu untuk singgah di sebuah restoran. Di situ aku mengambil tempat agak ke sudut dan suasananya amat romantis. Pak Ronggo kuajak makan.

Kami duduk berhadap-hadapan. Ia pandangi terus mataku. Aku pun demikian seperti aku memandangi Mas Hendra. Begitulah yang terjadi sepanjang kami berdua makan. Tanpa ada kata-kata, ia lalu mulai menggenggam jemariku. Aku merasa tenang, seperti gadis remaja yang sedang bermesraan berdua dengan pasangannya.

Pak Ronggo lalu meraih tanganku dan menciumnya. Baru kali ini, tanganku dipegang orang selain suamiku. Ada rasa hangat yang mengalir di sekujur tubuhku. Beberapa saat kami menikmati suasana yang sebetulnya tak kuhendaki itu. Setelah itu kami keluar dari restoran dan menuju ke mobil.

Dalam mobiku, aku terdiam dan bingung dengan kejadian barusan. Otakku tidak berjalan sebagaimana mestinya, soalnya aku bermesraan dengan sopirku yang tidak sepadan denganku. Ia pun begitu bebasnya meraih, meremas, dan menciumi tanganku.

Sebelum menjalankan mobil, Pak Ronggo menoleh ke arahku dan kembali meraih jemariku. Lalu ia rengkuh tubuhku dan dikecupnya bibirku. Aku kembali seperti orang linglung.

Sesampai di rumah, aku terus terbayang sensasi kejadian tadi sore itu. Alangkah kurang ajarnya sopirku itu, bisik hatiku.

Malam harinya, dengan separo hati, aku layani suamiku seadanya. Tidak ada lagi rasa nikmat yang aku rasakan saat Mas Hendra mencumbu dan menyebadaniku. Di dalam hatiku selalu terbayang wajah Pak Ronggo. Dengan akal sehatku, aku berpikir apa istimewanya Pak Ronggo? Gak ada rasanya, tapi aku selalu terbayang wajahnya. Sampai-sampai, saat suamiku berada di atas tubuhku melakukan hubungan badan, aku kira Pak Ronggo yang berada di atas tubuhku. Untunglah aku masih bisa menguasai diri.

Besoknya aku seperti biasa diantar olehnya. Ia tambah berani saja dengan meraba paha dan dadaku. Tangannya aku tepiskan namun ia hanya tersenyum.

Setiap hari, matanya tidak luput memandangiku dari ujung rambut sampai kaki. Aku merasa ditelanjangi oleh sikapnya yang seperti itu. Anehnya aku tak kuasa menolak. Seolah ada pancaran energi dari matanya yang mengaliri sekujur tubuhku dan memberikan sensasi yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Di samping itu, ia pun selalu mencuri-curi kesempatan. Ada-ada saja yang ia pegang dari tubuhku. Kadang dadaku, pahaku. Kadang ia cium bibirku. Namun aku tidak berontak.

Lama-kelamaan aku mulai terbiasa dirabai dan diciuminya. Setiap ada kesempatan berduaan, Pak Ronggo sudah tak tahu malu lagi. Ia pasti akan mendekati dan menyentuhku.

Suatu ketika, sepulang kantor, mobil tidak ia arahkan ke rumahku melainkan ke rumahnya di kawasan Kartosuro. Di sana suasananya sepi dan jarang ada rumah penduduk. Entah kenapa, aku mau saja diajak turun dan masuk ke rumahnya, yang dikelilingi pohon-pohon besar.

Rumahnya terbuat dari kayu dan beratap genteng yang telah tua. Di dalam rumah hanya ada dipan beralaskan tikar dengan sebuah bantal. Lalu Pak Ronggo menutup pintu rumah. Dipersilakannya aku duduk di pinggiran dipan. Kalau dilihat, gubuknya seperti rumah dukun. Di dindingnya ada berbagai macam tulang-belulang. Bau menyan sudah tercium sejak kami memasuki rumah.

Pak Ronggo pergi ke belakang. Tidak lama kemudian ia muncul kembali dan duduk di sampingku.

“Bu… Beginilah keadaan saya,” katanya.

“Oooo… ndak apa lah, Pak?” jawabku.

Tiba-tiba ia menepuk pundakku. Aku tersentak. Lalu ia melingkarkan tangannya di bahuku. Aku tiba-tiba merasa tidak enak.

“Bu… Saya ingin… merasakan kehangatan tubuh Ibu…” katanya tanpa basa-basi.

Aku terkejut setengah mati mendengar ucapannya yang lugas itu. Tapi entah kenapa, aku tidak bereaksi negatif menanggapi keinginannya itu. Seolah aku dihipnotisnya.

“Dulunya istri saya masih hidup dan sedang sakit keras. Jika saja Ibu tidak tabrak saya saat itu, saya masih bisa menolongnya. Namun Ibu telah membuat saya terlambat… dan istri saya pun mati,” terangnya.

Aku terdiam mendengar penjelasannya. Rasanya pikiranku saat itu sudah kosong.

Sekonyong-konyong Pak Ronggo mengambil potongan batok kelapa yang ada di meja di samping dipan tempat kami duduk. Dituangkannya cairan dari dalam sebuah kendi yang ada di meja itu ke dalam batok kelapa. Cairan itu encer dan berwarna kuning gelap. Sejenak mulutnya tampak komat-kamit sambil berkonsentrasi menatap batok kelapa. Beberapa detik kemudian, ia meludah ke dalam cairan tersebut.

Tanpa berkata-kata, Pak Ronggo kembali merangkul pundakku. Kali ini lebih kuat. Sementara tangannya yang satu lagi berusaha meminumkan cairan di dalam batok kelapa itu kepadaku.

Mulanya aku berontak. Lagipula aku tak tahu cairan apa itu. Baunya sangat pesing. Aku mau muntah saat Pak Ronggo mendekatkan batok kelapa itu ke bibirku. Entah kenapa, aku tak bisa menolaknya. Aku seperti tak punya pilihan.

Pelan-pelan kuminum cairan itu. Rasanya sangat tak enak. Setelah minum seteguk, aku sempat terbatuk dan berusaha menjauhkan mulutku dari batok itu. Mengetahui hal itu, Pak Ronggo segera memaksaku untuk menghabiskan cairan yang ada di dalam batok itu. Sambil memejamkan mataku, perlahan-lahan kuhabiskan juga isi batok itu.

Melihat aku masih kuat, Pak Ronggo kemudian menuangkan lagi cairan dari dalam kendi itu ke dalam batok. Ritual yang sama dilakukannya kembali sebelum untuk kedua kalinya menyuruhku menghabiskan isi batok itu.

Ia baru saja akan mengisi kembali batok itu untuk yang ketiga kalinya ketika aku merasakan panas yang luar biasa dari dalam tubuhku. Seluruh badanku terasa ringan dan tanpa terasa aku menjatuhkan kepalaku dalam dekapan Pak Ronggo. Melihat hal itu, Pak Ronggo mengurungkan niatnya untuk menyuruhku kembali minum cairan aneh itu.

Aku berkeringat. Nafasku terengah-engah. Di dalam diriku ada semacam gairah yang menghentak untuk dituntaskan dan dilepaskan.

“Karena istri saya sudah tak ada…. Sekarang Ibulah yang harus menggantikannya…” Pak Ronggo kembali berkata.

Setelah berkata begitu, ia menatap dalam-dalam mataku. Aku jadi tak berdaya. Tangannya yang kasar lalu meraih kancing busana kantor yang kukenakan. Satu per satu pakaianku jatuh ke lantai sehingga aku sama sekali tidak berpenutup lagi.

Sambil melucuti busanaku, setiap inci tubuhku ia raih dan jamah. Aku merasakan kepasrahan dan sensasi yang luar biasa. Ada desakan dari dalam diriku yang membuatku tak sabar untuk segera disetubuhinya.

Pak Ronggo membaringkan tubuh bugilku di dipan kayu itu. Lalu ia buka pakaiannya sendiri hingga ia sama-sama bugil denganku. Aku bisa melihat sisa-sisa ototnya yang liat di tengah tubuhnya yang mulai keriput.

Laki-laki tua itu mulai menggumuliku. Ia meraih inci demi inci dari setiap lekuk di tubuhku dengan mulutnya yang rakus. Aku pun tak kuat dan mengerang kenikmatan.

Akhirnya tibalah saat yang dinanti-nantikan. Ia perlahan-lahan menyisipkan batang kemaluannya yang ternyata sangat keras ke dalam lubang kemaluanku dan mulai menyetubuhiku. Dihunjamkan kejantanannya ke dalam rahimku berkali-kali sehingga dipan tua itu berderit-derit. Aku hanya bisa mendengus dan serasa dijadikan kuda pacu. Ooh… rasanya enaak… sekali…

Entah berapa lama kami menikmati persenggamaan itu. Tubuh mulusku dijamah Pak Ronggo berulang-ulang hingga akhirnya ia pancarkan cairan pembuat bayinya yang hangat di dalam kemaluanku. Ada rasa panas dan tegang di tempat bersatunya alat kelamin kami saat ia sampai klimaks. Tanpa bisa kubayangkan sebelumnya, aku pun ternyata mencapai klimaks berkali-kali.

Tubuhku saat itu penuh dengan keringatku sendiri yang bercampur dengan keringat Pak Ronggo. Aku merasakan perih dan nyeri pada selangkanganku karena kejantanan Pak Ronggo panjang dan besar juga. Hampir seluruh kulit tubuhku merah-merah dan putingku serasa panas akibat gigitan Pak Ronggo.

Di lain pihak, badanku pun terasa lemas luar biasa karena orgasme beruntun yang kualami. Aku membiarkan saja Pak Ronggo tertidur di atas tubuhku. Dengkurannya yang keras segera terdengar. Alat vitalnya masih terjepit oleh kemaluanku. Bisa kurasakan air maninya menetes keluar dari dalam rongga kemaluanku.

Tak sampai setengah jam kemudian Pak Ronggo terbangun. Kondisi fisikku pun sudah pulih kembali walaupun aku tak sampai tertidur seperti Pak Ronggo. Tanpa membersihkan badan terlebih dahulu, aku disuruh berpakaian dan berbenah seperti biasa lagi. CD-ku sengaja kumasukkan ke dalam tas tangan karena aku seolah masih saja merasakan air mani Pak Ronggo merembes mengalir keluar dari dalam vaginaku. Aku lalu diantarnya pulang dengan mobilku.

Di dalam mobil aku jadi merasa menyesal karena telah mengkhianati Mas Hendra. Inilah untuk pertama kalinya aku bersetubuh dengan lelaki lain selain suamiku. Namun apa dayaku, Pak Ronggo ternyata telah menguasai diriku hingga ia berhasil menelanjangi dan menyetubuhiku.

Setibanya di rumah, aku masih bisa merasakan dan mencium bau keringat serta sperma Pak Ronggo yang menempel di sekujur tubuhku. Aku sampai menghabiskan waktu satu jam lebih di kamar mandi untuk meyakinkan bau keringat Pak Ronggo tak lagi menempel di badanku sehingga suamiku tak akan curiga.

Sejak kejadian itu, Pak Ronggo selalu mengulangi kembali perbuatan nistanya itu terhadapku. Anehnya, aku pun tak menolaknya. Aku pasti akan melayaninya dengan sepenuh hati setiap ia mendatangiku. Setiap ada kesempatan, seperti saat aku pulang kantor, Pak Ronggo akan selalu meminta jatahnya. Apalagi jika suamiku ke Jakarta, pastilah ia dengan seenaknya menginap di rumahku. Jika sudah begitu, aku akan bersebadan bersama Pak Ronggo di atas ranjang milikku dan Mas Hendra sepanjang waktu.

Setiap Pak Ronggo menggauliku, aku selalu merasakan kepuasan, walaupun setelah itu aku juga merasakan pegal-pegal pada selangkanganku. Soalnya Pak Ronggo biasanya membuatku harus terus mengangkang selama sekitar satu jam. Dengan Mas Hendra, kalau bisa lebih dari sepuluh menit pun sudah bagus.

Aku sebetulnya takut kalau para pembantuku, Mbok Lastri dan Pak Bidin, tahu hubungan terlarang kami tapi Pak Ronggo menenangkanku. Mereka memang pasti bisa menebak perbuatan kami berdua karena Pak Ronggo begitu bebasnya masuk ke kamar tidur pribadiku setiap ada kesempatan dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dalamnya.

Pak Ronggo tampaknya bisa menutup mulut kedua pembantuku. Ia meyakinkanku bahwa mereka tak akan membocorkan rahasia kami kepada suamiku. Bahkan belakangan aku baru tahu kalau mereka berdua entah bagaimana caranya telah dibuat Pak Ronggo bekerja sama melanggengkan hubungannya denganku.

Contohnya, kalau Mas Hendra kebetulan sedang keluar kota, seperti biasa aku akan menghabiskan waktuku untuk disebadani Pak Ronggo. Jika aku sedang tanggung melayani Pak Ronggo di kamar dan tiba-tiba suamiku meneleponku ke rumah, Mbok Lastri sudah terbiasa untuk menjawabnya dan mengatakan berbagai macam alasan untuk menutupi kegiatanku bersama Pak Ronggo. Dengan demikian Pak Ronggo tak perlu terganggu karena aku harus menjawab telepon suamiku dulu.

Aku baru mengetahui kebiasaan itu karena biasanya Mbok Lastri akan melapor padaku begitu aku keluar kamar. Ia tahu kalau aku keluar kamar, berarti aku telah selesai menjalankan tugasku melayani Pak Ronggo.

“Bu, dua jam yang lalu Bapak telepon mau cari Ibu. Aku bilang Ibu sedang silaturahmi ke rumah Bu Hadi. Nanti beliau telepon lagi jam 7 malam.”

Mbok Lastri sampai hafal jam berapa aku masuk kamar bersama Pak Ronggo, jam berapa biasanya kami keluar sehingga kalau suamiku menelepon, ia bisa mengatur kapan suamiku harus menelepon kembali. Tanpa kusangka, ternyata ia benar-benar berperan seperti sekretarisku padahal aku tak pernah mengajarinya. Aku tak tahu bagaimana cara Pak Ronggo membuatnya jadi begitu, padahal Mbok Lastri dan Pak Bidin adalah pembantu yang setia pada keluarga Mas Hendra sejak lama.

Hampir selama setahun aku menjadi bulan-bulanan nafsu Pak Ronggo. Bagaimanapun, aku merasa sedikit tenang dalam melakukan hubungan gelap dengannya. Aku tahu tidak bakalan hamil karena aku sudah memasang spiral. Itu sengaja kulakukan karena setiap kali Pak Ronggo berhubungan seks denganku, ia selalu mengeluarkan air maninya di dalam rahimku. Tak mungkin aku mencegahnya melakukan hal itu. Karena itulah, sekitar dua minggu sejak aku pertama kali disetubuhi Pak Ronggo, aku berinisiatif memasang spiral untuk mencegah jangan sampai aku dihamilinya.

Walaupun sudah terbiasa disebadani Pak Ronggo, aku tetap selalu mencium bau tidak enak saat ia berada di atas tubuhku. Bau keringatnya memang amat busuk. Aku selalu mengganti seprei ranjangku setiap ia selesai meniduriku. Kalau tidak, bau keringatnya akan tinggal di kain seprei itu.

Kamar pun aku semprot dengan wewangian. Jika aku sedang bersebadan dengan Pak Ronggo, AC-nya kubiarkan selalu menyala. Kalau kamar sedang tak dipakai, semua jendela dan pintu akan kubuka lebar-lebar sehingga ada sirkulasi udara.

Mbok Lastri dan Pak Bidin pun sudah hafal kalau sekarang aku menyuruh mereka untuk mencuci seprei tiap hari. Mereka tahu kalau aku harus bertugas melayani Pak Ronggo tiap hari. Justru kalau satu hari aku tak menyerahkan cucian, mereka akan bertanya dengan lugunya.

“Hari ini ndak dinas ya, Bu? Tadi siang pulang ndak diantar Pak Ronggo?”

Mereka selalu menyebut ‘dinas’ untuk mengistilahkan tugas harianku melayani Pak Ronggo di ranjang. Mereka sudah tahu kalau jadwal harianku melayaninya biasanya sepulang kantor sehingga aku biasa menyerahkan cucian sore harinya sebelum Mas Hendra pulang.

“Oh, ndak, Mbok… Bapak sore ini mau ke Jakarta selama dua hari. Aku tadi pulang diantar Bapak. Pak Ronggo nanti kemari lagi sesudah mengantar Bapak ke bandara.”

Jika sudah kuberitahu seperti itu, mereka akan langsung mengerti kalau malam itu mereka harus menyiapkan makan malam untuk dua orang ke kamar tidurku dan setelah itu mereka bisa tidur cepat. Soalnya semalaman aku pasti harus kerja lembur melayani Pak Ronggo. Barulah esok harinya sebelum aku berangkat ke kantor diantar Pak Ronggo, mereka harus mencuci seprei yang dua kali lipat baunya karena semalaman habis dipakai sebagai alas kami bersetubuh.

Tak heran kalau badan Pak Ronggo sangat bau. Semakin lama aku intim dengannya, aku jadi tahu kalau ia memang jarang mandi. Belum tentu tiap hari ia mandi. Bahkan setelah selesai menyetubuhiku, ia tak pernah mandi. Setiap selesai menuntaskan nafsu seksnya padaku, ia selalu menyuruhku untuk mengisap dan menjilati penisnya sampai bersih dari sisa-sisa air maninya. Hanya seperti itulah caranya mandi sehabis menyebadaniku.

Setelah sekian lama, barulah aku mengetahui dari seorang pintar di tempat kerjaku bahwa Pak Ronggo adalah seorang dukun dan aku telah diguna-gunanya. Temanku itu dapat melihat semua yang terjadi pada diriku dan dengan tulus hati berniat menolongku.

Pengaruh guna-guna Pak Ronggo atas diriku ternyata sangat kuat karena dulu aku sudah meminum air kencingnya yang telah diberi jampi-jampi. Guna-guna seperti itu luar biasa kuat karena tentu tak mudah untuk menyuruh seorang gadis meminum air kencing si pemeletnya. Pak Ronggo sangat beruntung saat itu karena bisa membuatku melakukannya.

Di lain pihak, aku pun sebetulnya beruntung karena hanya meminum dua cawan air kencing Pak Ronggo. Seandainya saja dulu aku minum lebih banyak lagi, tentulah Pak Ronggo bisa menguasaiku secara permanen.

Atas bantuan dan usaha keras rekan kerjaku itu, kini aku telah terbebas dari guna-guna Pak Ronggo. Usahanya itu sendiri memakan waktu yang cukup lama karena harus dilakukan secara perlahan-lahan dan bertahap. Tak mudah untuk membuat Pak Ronggo mau melepaskan diriku. Ia sudah jadi terbiasa hidup enak karena aku senantiasa melayani nafsu seksnya yang masih menggebu-gebu di usianya yang sudah senja.

Setelah aku benar-benar terbebas dari guna-gunanya, Pak Ronggo pun akhirnya kupecat. Satu hal yang tak mungkin kulakukan saat aku masih berada dalam pengaruh gaibnya.

Ia sempat mengancam akan membongkar hubungan seks kami kepada suamiku kalau aku berani memecatnya. Sebetulnya aku takut juga. Setelah bernegosiasi, dengan diberi duit sekitar 20 juta dari tabunganku, aku minta dia keluar baik-baik. Tampaknya dia mau menerimanya. Sejak saat itu ia tak pernah muncul lagi.

Aku hanya berharap Pak Ronggo bisa melewati masa tuanya dengan tenang dan tak menggangguku lagi. Aku pun mencabut spiralku dan berharap bisa melupakan semua kejadian ini. Aku ingin membina kembali kehidupan yang normal bersama Mas Hendra.

TAMAT

Sensasi Seks Keroyokan

Copyright 2004, by KHISMistress

(Istri Binal, Keroyokan)

Gara-gara terjebak nafsu untuk berselingkuh, malah membuatku ketagihan. Dulu aku puas ngeseks hanya dengan satu pria. Sekarang, aku lebih puas dengan ngeseks ramai-ramai. Bukan lagi dengan satu pria tentunya, melainkan lima pria sekaligus, aku baru puas.

Aku seorang wanita berumur 30 tahun, ibu dari dua orang anak. Tentunya statusku nikah dengan seorang suami. Kami telah terikat perkawinan selama tujuh tahun. Aku nikah setelah berhasil meraih gelar kesarjanaanku di kota Bandung.

Suamiku normal-normal saja, demikian juga dengan hubungan seksku. Aku melakukannya sekitar 2 atau 3 kali seminggu dengan suamiku. Namun semuanya berubah ketika aku mengalami suatu hal yang tidak kuduga sebelumnya pada tiga bulan yang lalu. Ternyata kemampuan seksku lebih dari yang kuduga sebelumnya.

Aku biasa dipanggil Ratih. Tinggi badanku sekitar 156 cm dengan berat 49 kg. Ukuran BH-ku 34C, pinggulku yang agak besar berukuran 100 cm semakin menonjol dengan pinggangku yang hanya 58 cm itu. Walaupun dari rahimku telah terlahir dua orang anakku, bodyku sih oke-oke saja. Hampir tidak ada perubahan yang mencolok.

Kembali pada kejadian yang gila. Mula-mula aku bertemu temanku, Merry saat aku sedang berbelanja di sebuah mall. Ia adalah sobatku sewaktu di SMA dulu. Saat itu ia bersama dua orang teman laki-lakinya, yang langsung dikenalkannya kepadaku. Mereka bernama Yanto dan Andi. Mereka ternyata adalah teman-teman yang enak diajak bicara. Akhirnya kami pun menjadi akrab. Siang itu kami melanjutkan obrolan sambil makan di sebuah restoran.

Setelah pertemuan itu, ternyata Yanto sering menelepon ke rumahku walaupun ia sudah tahu bahwa aku ini seorang istri dengan dua orang anak. Dalam pembicaraan telepon, ia memang sering mengeluarkan rayuan gombalnya kepadaku tapi tetap ia menjadi teman bicara yang enak.

Ia berusaha mengajakku makan siang dengan gigihnya. Hal itu yang membuatku menyerah juga. Akhirnya aku menyetujuinya juga. Syaratnya, makan siangnya harus ramai-ramai.

Aku, Merry, Yanto, dan Andi bertemu di tempat yang sudah kami sepakati bersama. Bersama kedua teman cowok kami, ikut serta pula tiga orang teman mereka yang lain: Eko, Benny, dan Adi. Mereka semua rata-rata berusia delapan tahun lebih tua daripada aku dan Merry.

Kami makan siang bersama di sebuah restoran yang ada fasilitas karaokenya. Kami makan dengan ramainya sambil berkaraoke. Memang aku pun senang berkaraoke.

“Ayo, Rat… nyanyi lagi…,” mereka menyemangatiku kala aku melantunkan lagu. Ternyata kelima cowok keren itu merupakan teman yang enak untuk gaul. Wawasan mereka luas dan menyenangkan. Akhirnya kami cepat menjadi akrab. Ternyata, baru kusadari nanti bahwa inilah kekeliruanku….

Seminggu kemudian aku diundang lagi, kali ini oleh Andi, untuk makan siang dan berkaraoke lagi. Tanpa pikir panjang dan tanya-tanya lagi, aku pun langsung menyetujuinya. Aku bolos masuk kantor setelah makan siang, lalu pergi ke tempat karaoke bersama mereka.

Nah, di saat itulah terjadi sesuatu yang tidak kuduga. Ternyata aku dibawa ke tempat karaoke yang khusus untuk berkaraoke saja. Bukannya sebuah restoran. Tempatnya berupa sebuah kamar tertutup dengan kursi panjang. Kali ini Merry pun tidak ikut. Jadi hanya aku dengan kelima cowok itu.

Karena sudah telanjur masuk ke sana, akhirnya kucoba menenangkan diri. Walaupun aku agak deg-degan juga pada awalnya. Kenyataannya, akhirnya suasana menjadi seru ketika secara bergantian kami berkaraoke.

Aku pun dipesankan minuman whisky-cola yang membuat badanku jadi hangat. Akhirnya mereka meminta berdansa denganku saat salah satu di antara mereka bernyanyi. Saat melantai itulah, lama-kelamaan mereka berani merapatkan dadanya ke tubuhku dan menekan serta menggesek-gesek payudaraku.

Anehnya, aku malah diam dan mencoba menikmati apa yang mereka perbuat kepadaku, yang lama-lama membuatku terbakar dan menikmati permainan ini. Mereka bergantian berdansa denganku.

“Ratih, badanmu hot sekali,” ujar Yanto berbisik di telingaku sambil bibirnya mencium belakang telingaku, membuatku merinding nikmat… Tangannya lalu tanpa malu-malu lagi meremas payudaraku. Aku pun terangsang hebat….

“Aahhh… jangaaannnn…,” kataku ketika Yanto dengan beraninya membuka kancing blusku dan menyusupkan tangannya ke dalamnya… Tangannya meremas dan memilin puting payudaraku dengan semakin hotnya… Aku sebenarnya masih menyimpan sedikit rasa malu karena semua aksi kami ditonton oleh yang lainnya dengan tatapan penuh nafsu….

Anehnya, seperti dibius, tubuhku tidak berontak. Tanganku sama sekali tidak berusaha melepaskan tangan Yanto yang terus menggerayangi payudaraku yang kini terbuka lebar…

“Mmmhhh…,” rintihku penuh kenikmatan. Hanya itu yang ternyata sanggup keluar dari bibirku…

Yanto akhirnya mengulum bibirku dan menindih rapat-rapat tubuhku di atas sofa.

Aku benar-benar lupa diri ketika jari-jemari Yanto bergerilya di dalam celana dalamku. Ia terus menggelitik bibir lubang vaginaku yang sudah basah dan rasanya menebal itu.

Spontan yang lainnya pun ikut-ikutan. Dengan liar akhirnya kelima cowok itu mengerubuti tubuhku.

Akhirnya, tahu-tahu tubuhku sudah bugil tanpa sehelai benang pun dan digeluti bersama oleh mereka. Yantolah yang lebih dahulu menusukkan senjatanya ke dalam lubang kemaluanku. Lalu Adi memasukkan senjatanya ke dalam mulutku. Andi mengisap puting kiri payudaraku sambil membimbing tangan kiriku untuk mengelus-elus senjatanya. Sementara itu Eko mengisap puting yang sebelahnya sambil melakukan hal yang sama pula terhadap tangan kananku. Terakhir, Benny menggosok-gosokkan senjatanya ke wajahku.

“Aacchhh….,” aku mendapat orgasme pertama ketika Yanto sedang asyik-asyiknya menggenjot tubuhnya di atas tubuhku. Spontan, kedua tanganku meremas penis Andi dan Eko yang ada dalam genggamanku dengan keras…. Aku sendiri tak bisa mengeluarkan lenguhan kenikmatanku secara lepas karena penis Adi yang hangat itu dengan serunya terus bermain di mulutku.

Adi yang tahu aku baru saja orgasme hanya menyeringai kepadaku. Tampaknya ia pun semakin semangat memompa mulutku….

“Ratiih…,” desah Yanto menggeliat ketika memuntahkan maninya di dalam lubangku. Hangat dan terasa kental memenuhi lubang kemaluanku. Dipegangnya pantatku erat-erat supaya semua spermanya masuk ke dalam tubuhku…. Adi tambah semangat mengocok senjatanya di dalam mulutku.

Setelah Yanto selesai, posisinya langsung diganti Benny yang sejak tadi hanya mengosok-gosokkan senjatanya yang panjang dan besar di wajahku.

Langsung ditancapkannya ke dalam lubangku yang hangat, sudah penuh dan licin dengan cairan milik Yanto. Benny begitu semangatnya menyetubuhiku.

“Mmmmphh, aghhh….,” tubuhku bergetar menggeliat.

Bayangkan… payudaraku dihisap putingnya oleh Eko dan Andi seperti dua bayi besar. Sementara lubang kemaluanku mulai dihunjam oleh senjata Benny dengan ganasnya. Di mulutku, Adi akhirnya menyemprotkan cairannya dengan deras dan langsung kuhisap kuat-kuat.

“Aaaacchhh….,” air mani Adi yang terasa hangat asin seperti kuah oyster masuk ke dalam tenggorokanku.

Bersamaan dengan itu, Benny juga menyemprotkan maninya di lubang vaginaku. Multiorgasme…. Aku sudah mendapakannya tiga atau empat kali dan masih ada Eko dan Andi yang belum kebagian menyemprotkan cairannya.

Tubuh Adi dan Benny berkelojotan dan akhirnya terhempas.

Andi menggantikan posisi Adi. Penisnya yang bengkok ke atas terasa penuh di mulutku.

Eko menepis Benny dari atas tubuhku. Untuk yang ketiga kalinya, lubang vaginaku dimasuki oleh orang yang berbeda…. Ternyata senjata milik Eko lah yang paling panjang dan besar. Aku khawatir kalau penis Eko agak susah untuk masuk ke dalam vaginaku.
Syukurlah, ternyata tak sesulit yang kubayangkan karena lubang vaginaku telah
penuh dengan cairan dari dua orang yang terdahulu.

Benar saja, terasa sangat mantap dan nikmat ketika senjata Eko menggesek lubangku yang sudah terasa panas dan semakin tebal rasanya. Napasku sampai terengah-engah dibuatnya…

“Rat…. iseeepp yang kuaaattt….,” ternyata Andi tidak kuat dengan isapan mulutku. Ia akan segera mencapai klimaks. Aku pun segera mematuhi perintahnya dengan mengisapnya lebih kuat lagi….

Penis Andi pun memuncratkan cairan maninya di dalam mulutku. Terasa air mani Andi lebih strong aromanya, lebih hangat, lebih kental, dan lebih banyak memenuhi mulut dan tenggorokanku. Aku sampai agak gelagapan karena mulutku jadi penuh dan hampir tersedak…. Namun aku berusaha untuk tenang… Pelan-pelan kutelan sperma Andi yang membludak. Sementara bibirku tetap mencengkram penis Andi supaya tak lepas…. Setelah penis Andi kering benar dan mulai mengkerut, barulah aku melepaskannya…. Ia pun lalu tergeletak di atas kepalaku.

Sekarang tinggal aku dan Eko…. Eko pun lalu mengubah posisinya menjadi ‘missionary position’. Sambil penisnya terus mengocok kemaluanku, tubuhnya pun menindih tubuhku. Wajah kami pun berhadap-hadapan dekat sekali… Sambil terus beraktivitas, Eko tersenyum padaku.

“Rat, kamu hebat sekali…,” katanya.

Aku pun tersenyum malu.

“Oh, Eko…,” bisikku. Lalu seperti sepasang kekasih, kami pun saling berciuman bibir.

Tak lama kemudian, Eko juga menggeliat menyemburkan cairannnya ke dalam lubang kemaluanku. Tubuhku terasa lemas tetapi bergetar kuat mengiringi muncratnya cairan Eko. Eko semakin mendorong pangkal pahanya ke pangkal pahaku supaya cairannya masuk semua ke tubuhku… Rasanya aku sudah orgasme enam kali ketika akhirnya Eko menggelepar dan terbaring tepat di samping tubuhku. Kami pun lalu berbaring telentang sambil berpelukan dan menikmati hasil persetubuhan kami….

Selesailah pertempuran besar antara aku dan kelima cowok siang itu di ruang karaoke. Walaupun ber-AC, namun udara saat itu tetap terasa panas. Badan kami bercucuran keringat. Apalagi aku, karena selain basah oleh keringatku sendiri, juga bercampur dengan keringat kelima cowok yang barusan menyetubuhiku…. belum lagi dengan tumpahan air mani mereka yang berceceran di seluruh bagian tubuhku….

Setelah itu, semuanya terdiam. Tak ada satu pun di antara kami yang saling bercakap. Beberapa cowok tertidur karena kelelahan. Akhirnya, beberapa puluh menit kemudian, kami pun berbenah-benah.

Celakanya, di kamar itu tidak ada kamar mandi. Akhirnya, aku hanya mengelap cairan kelima lelaki yang memenuhi lubang vaginaku dan menetes ke pahaku dengan bra dan celana dalamku saja. Lalu aku memakai bra dan celana dalamku yang agak basah dan lengket itu. Disusul dengan blouse, rok serta blazer yang tadinya bertebaran di lantai. Yang membuatku senang, Eko ikut membantuku berpakaian. Paling tidak, aku merasa dihargai dan tidak sekedar menjadi pemuas nafsu mereka…. Mereka pun segera memakai kembali baju dan celananya.

Jam lima sore, kami keluar dari karaoke itu. Berarti empat jam sudah kami berada di dalamnya karena kami masuk pada pukul satu siang. Sedangkan aku sendiri digilir oleh mereka lebih kurang selama satu setengah jam non-stop. Waah, aku kagum juga dengan daya tahanku…. walaupun rasanya kakiku pegal-pegal dan ngilu. Begitu juga selangkanganku dan mulutku….

Waktu melewati kasir rasanya aku malu juga. Walaupun mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam tapi wajahku tetap merasa memerah. Make up ku telah berantakan dan rasanya minyak wangiku telah berubah menjadi bau aroma air mani….

Mungkin kasir wanita itu bisa mengendus baunya… atau malah mungkin ia sedang membayangkan kejadian yang baru saja kualami. Sementara itu, di paha dan kakiku terasa mani mereka merembes mengalir keluar dari lubang vaginaku.

Untung sesampainya di rumah, suamiku belum pulang… Cepat-cepat aku ke kamar mandi membersihkan tubuh dan pakaianku.

Ternyata, malamnya suamiku menagih jatahnya juga… Untung aku sudah membersihkan badanku dan menyemprotkan minyak wangi untuk menghilangkan aroma sperma kelima cowok itu…

Walaupun komentar suamiku membuatku deg-degan, mudah-mudahan ia tidak curiga….

“Rat, punyamu kok rasanya lain banget… tebel…,” bisik suamiku di telingaku…

“Terima kasih, ya… Enak…,” lanjut suamiku setelah ia menyemprotkan cairannya beberapa menit kemudian. Lalu ia tertidur pulas di sampingku. Ia tidak tahu sudah jadi orang keenam hari itu yang memuncratkan cairannya untukku.

TAMAT

Diperkosa Lima Mahasiswa

Copyright 2004, by klub_his@yahoo.com

(Pemaksaan, Keroyokan, Istri Binal)

Meskipun usia pernikahanku dengan Mas Eka telah menginjak enam tahun, kami belum juga dikaruniai anak. Padahal hubungan seksku dengan suamiku berjalan seperti yang dilakukan banyak orang.

Sebut saja namaku Agnes (29 tahun). Aku selisih lima tahun dengan Mas Eka. Jujur kuakui, suamiku itu memang orangnya ganteng dengan badan yang atletis. Dalam segi materi pun, dia mencukupiku bahkan berlebih-lebihan.

Mobil Jaguar saja ia belikan untukku. Setiap hari aku selalu disibukkan oleh acara-acara yang kubuat sendiri. Mulai creambath di salon, spa, maupun mandi sauna. Di hampir semua restoran mewah, aku selalu disambut dengan hangat karena aku memang sering makan di sana dan biasa memberikan tips berlebih.

Di usia pernikahanku ini yang sekarang ini, suamiku masih tetap menyayangi dan terus memanjakanku. Demikian juga denganku. Apapun yang dia minta selalu kuberikan, meskipun pernah suatu saat aku sudah tertidur kecapekan, Mas Eka dengan manja memintaku untuk bercinta. Aku tak segan-segan untuk melayaninya.

Seperti biasa, saat aku melayani kebutuhan biologis suamiku, dia selalu mencumbuiku dengan penuh nafsu dan digoyangnya tubuhku dengan penuh gairah sampai tersentak-sentak. Satu saja kelemahannya, seperti biasa Mas Eka hanya bisa menggoyangku tak sampai sepuluh menit. Dalam waktu selama itu, aku bahkan seringkali masih belum orgasme.

Karena rasa sayangku padanya, aku pun hampir selalu berpura-pura sampai ke puncak bersamanya. Sayang, sebagai wanita biasa lama-kelamaan aku juga menginginkan kepuasan dan klimaks dalam permainan cinta yang intim.

Bahkan kurasakan gairah seksku makin lama bergejolak tak terbendung. Sebagai pelampiasan, aku mencoba memuaskan gairah seksku degan berbagai vibrator yang kubeli di sex shop. Dengan vibrator dan ditemani keping-keping VCD porno, aku berusaha memuaskan nafsu seksku.

Hanya saja, itu semua kulakukan tanpa sepengetahuan suamiku. Aku khawatir bila ia tahu. Tentunya ia akan sangat terpukul bahkan mungkin akan jadi minder.

Namun, di lain pihak, semua usaha yang kulakukan untuk memuaskan sendiri nafsu seksku ternyata membuatku merasa semakin gila. Gairah seksku yang menggebu-gebu justru semakin tidak terpuaskan. Bahkan ketika aku sudah menambah kesibukanku, tetap saja gairah-gairah itu muncul mengganggu.

Di antara kegundahanku itu muncul seorang teman lamaku yang menawarkan usaha membangun rumah di daerah sekitar kampus di Cawang untuk dijadikan tempat kost mahasiswa. Karena kupikir aku mempunyai deposito cukup banyak, maka kuputuskan mengkonsultasikan hal itu kepada Mas Eka.

Karena cintanya padaku, Mas Eka pun mendukung rencanaku itu. Sebenarnya dulu aku pernah kuliah arsitektur meskipun tidak lulus karena keburu menikah dengan Mas Eka. Karena itu, aku beranikan diri memimpin sendiri projek pembangunan rumah kost itu walaupun tentunya tetap dibantu oleh perusahaan kontraktor rekan Mas Eka. Yang jelas, semua desain rumah itu, aku sendiri yang buat sesuai dengan seleraku.

Setelah rumah itu berdiri, beberapa mahasiswa mulai ngekost di tempat itu. Di dalam rumah itu aku sengaja membuat suatu ruang kamar yang cukup besar dan tidak disewakan. Pikirku, mungkin suatu saat bisa kugunakan sebagai tempat bersantai bersama suamiku.

Ruangan itu kulengkapi dengan berbagai perlengkapan rumah tangga seperti furniture, televisi, lemari es, dan AC. Selain itu, di dalamnya juga tersedia kamar mandi sendiri beserta dapur. Ruangan itu juga kadang kugunakan pada awal bulan untuk istirahat sekaligus menarik uang kost. Ruangan itu sendiri letaknya dikelilingi oleh kamar-kamar kost yang jumlah seluruhnya 20 kamar. Ini memang baru tahap awal. Nanti aku berencana untuk menambah lagi jumlahnya.

Di rumah kostku yang besar itu, sekarang baru dihuni oleh tiga belas orang mahasiswa berusia 19-22 tahun yang kebanyakan berasal dari seberang. Kebanyakan dari mereka sebenarnya masih saling mengenal ataupun saudara jauh. Biasalah, setelah satu orang merasa cocok, ia lalu mempromosikannya kepada yang lain. Merekalah penghuni awal rumah kostku yang baru kubuka. Sebagian dari mereka membawa komputer, bahkan televisi dan VCD player.

Saat itu sebenarnya bukan awal bulan. Tidak biasanya memang aku datang ke rumah kost di saat seperti itu. Hal itu kusengaja. Aku hanya ingin mengecek keadaan. Sekalian melepas kepenatan sehabis belanja di mal.

Tanpa sengaja, aku melihat dua, tiga, …. lima orang mahasiswa penghuni kostku sedang asyik menonton VCD porno di salah satu kamar yang terbuka pintunya. Aku mengenali mereka semua dengan baik: Edo, Parlin, Franki, Jo, dan Ben. Karena pesawat televisinya menghadap ke pintu, aku juga bisa melihat jenis VCD yang sedang mereka tonton. Gangbang… bukan main… anak-anak muda jaman sekarang memang sudah lebih maju…. Dengan geli, kulihat sebagian dari mereka sambil menonton televisi, juga menggosok-gosok bagian selangkangannya yang menyembul.

Aku tertawa kecil melihat tingkah mereka dan timbul keisenganku untuk mengganggu mereka. Saat itu mereka belum sadar dengan kedatanganku, maka kutimbulkan sedikit kegaduhan dengan menutup keranjang sampah yang terbuat dari seng dengan cukup keras. Ya, sekarang mereka tahu kalau aku datang….

Lalu aku membuka blazerku sehingga sekarang aku mengenakan tank-top warna pink yang menempel ketat di tubuhku dan tertarik sebagian ke atas sehingga memamerkan pusar dan perutku yang rata. Aku yakin, dari jarak sekitar lima meter, mereka pun bisa melihat kedua putingku yang menonjol dari balik tank-top ketatku karena aku memang tidak mengenakan bra. Kebetulan, saat itu aku pun mengenakan rok super mini tanpa stocking, yang dipadu dengan sepatu berhak tinggi merk Gucci. Aku merasa horny sekali… apalagi waktu tahu mereka terganggu keasyikannya menonton dan mencuri-curi pandang kepadaku…

Kugembok pintu gerbang besar untuk masuk ke rumah kostku. Sengaja juga kulakukan itu dengan suara yang cukup keras… untuk memastikan bahwa kelima penghuni kostku mendengarnya. Lalu sambil melenggang seksi, aku berjalan menuju ruangan pribadiku. Kebetulan ruangan itu letak pintunya berhadapan langsung dengan pintu kamar tempat kelima mahasiswa itu sedang nonton vcd bokep.

Aku membuka kunci pintu kamarku. Dalam hati aku merasa geli bercampur dengan horny. Dari pantulan jendela kamarku, aku bisa melihat kalau kelima anak muda itu sekarang tidak sedang menonton VCD lagi, melainkan sedang memperhatikan diriku. Senang sekali rasanya bisa menggoda anak-anak muda itu….. Aku pun masuk, dan sengaja pintu tidak kututup dengan rapat. Masih ada sedikit celah yang terbuka….

Di dalam, aku membuka gorden jendela kamarku yang lebar. Ketika terbuka, aku bisa melihat kelima mahasiswa itu jadi buru-buru berpura-pura tak mengamatiku. Aku jadi semakin geli sendiri…. Dengan santai, kunyalakan AC dan kurebahkan tubuhku sejenak di sofa depan jendela sambil menyalakan televisi.

Sesaat kemudian, sambil menyiapkan minuman dingin, aku beranjak ke kamar mandi dan mempersiapkan bathtub dengan air hangat.

Nah, sekarang tibalah saatnya…. aku merasa deg-degan juga. Aku bangkit, dan sambil pura-pura berjalan ke sana kemari membereskan barang-barang, aku yakinkan kalau kelima mahasiswa itu masih mencuri-curi pandang mengintipku… Setelah yakin, aku pelan-pelan mulai mencopoti pakaianku… Tank-topku… Rok miniku… dan terakhir, CD-ku yang berenda merk Victoria’s Secret…

Dalam hati aku tertawa sekaligus horny, karena tahu sekarang kelima anak muda itu pasti sedang melotot dan menahan air liurnya…. Aku sendiri merasakan selangkanganku melembab…. Lalu aku melenggang ke dalam kamar mandi. Pintu kamar mandi tetap kubiarkan terbuka lebar….

Kuceburkan tubuhku ke dalam bathtub. Sesekali kubasuh tubuh mulai dari wajah, leher, sampai ke kaki. Kunikmati sesaat kehangatan air sambil kutenangkan pikiranku… Beberapa saat pikiranku melayang… bagaimana seandainya saat ini aku bisa menyalurkan gairahku… dan mencapai puncak kenikmatan….

Setelah selesai, aku lalu menggunakan shower untuk membersihkan tubuhku… Posisiku saat itu menghadap ke arah pancuran dan membelakangi pintu…

Secara tak sengaja, aku dikejutkan oleh sesosok tangan yang memelukku dari belakang. Ia berusaha menciumiku sambil tangannya menggerayangi dan meremasi kedua payudaraku.

Dengan rasa terkejut, kurasakan remasan-remasan tangan itu begitu penuh nafsu. Orang itu terus mencumbuiku dengan ganas. Dengan sekuat tenaga, aku membalikkan tubuhku…

“Ya ampun, Edo….!!” jeritku. “Bagaimana kau bisa masuk ke sini?!”

Edo tak menjawabku. Sebaliknya ia kini berusaha mendekap tubuhku dari depan. Ternyata ia pun sudah dalam keadaan bugil. Senjatanya yang keras kurasakan menggesek-gesek bagian-bagian tubuhku…

“Edo, jangan….!!” Aku berusaha melepaskan diri dari dekapan dan cumbuannya. Apa daya, tenagaku kalah jauh dengannya. Tubuh kekarnya dengan keras dan mantap mencengkeramku sampai aku ngos-ngosan… Sementara itu mulutnya terus bekerja mencumbui seluruh bagian tubuhku yang terjangkaunya….

Meskipun aku sudah berteriak namun Edo tetap saja melakukan aksinya. Aku pun tahu tak ada orang luar yang akan bisa mendengarku… karena pintu gerbang depan yang kokoh sudah kugembok sendiri…. Akhirnya aku gagal mempertahankan kehormatanku… Sambil berdiri, ia melakukan penetrasi ke dalam tubuhku dan menggoyangku habis-habisan…. Aku sempat terhenyak karena tak siap saat menerima penetrasinya. Penisnya ternyata sangat keras dan tubuhku dihunjaminya tanpa ampun…..

Bahkan setelah itu Edo membalikkan tubuhku dan terus menggoyangku selama beberapa saat sampai akhirnya ia ambruk setelah mencapai klimaksnya.

Lalu Edo pun ngeloyor pergi. Dengan tubuh masih basah oleh air sabun dan keringat serta air mani Edo, segera kuraih handuk untuk mengeringkan tubuhku. Dengan pikiran yang masih kalut, kukenakan kimono dan keluar dari kamar mandi…

Namun, begitu keluar kamar mandi, aku sangat terkejut ketika Franki tiba-tiba muncul dan menubrukku. Aku baru sadar kalau teman-teman Edo sudah menunggu di luar…. Didorongnya tubuhku dan disandarkannya ke dinding.

“Franki…. jangan….” Aku hanya sempat mengeluh pendek karena Franki tak peduli dan tak mau pula menyia-nyiakan kesempatan…

Dalam keadaan berdiri, kimonoku disingkapnya lalu kembali aku disetubuhi dalam keadaan berdiri oleh Franki dengan ganas dan penuh nafsu…. Aku yang sudah kecapekan tak bisa berbuat banyak….

Tubuhku sampai terangkat-angkat dan salah satu kakiku diangkat Franki ke atas. Selama disetubuhi Franki, sekilas aku melihat sekeliling. Parlin, Jo dan Ben tampak sedang menonton aksi kami dengan pandangan nanar…. Sementara Edo entah ke mana… Gorden dan pintu kamarku telah tertutup rapat.

Akhirnya, Franki sampai pada puncaknya. Sementara air maninya masih meleleh keluar dari penisnya yang memenuhi vaginaku… kedua tangannya mencengkeram kedua pergelangan tanganku ke tembok… Sementara itu mulutnya dengan ganas menciumi bibirku sampai aku kehabisan napas….

Ketika ia melepasku, aku pun ambruk ke lantai karena kecapekan…. Jo lalu menghampiriku dan memberiku segelas minuman dingin… Aku tidak tahu apa yang dimasukkan Jo ke dalam minuman itu. Yang jelas rasanya agak aneh… dan tak lama kemudian menimbulkan efek yang aneh juga pada tubuhku….

Jo menolongku berdiri lalu melepaskan kimonoku yang acak-acakan. Kemudian ia membopong tubuhku ke tempat tidur. Di sana kembali aku menjadi bulan-bulanan mereka. Jo menciumi dan mencumbuku penuh nafsu. Tanpa kusadari, tubuhku mulai merespon permainan mereka… Ketika Jo mulai tidak sabar menggoyangku, aku pun mulai menggeliat mengimbangi goyangan Jo yang dahsyat itu. Aku juga mulai merintih-rintih nikmat.

“Jooo…. aaah…. oooohhh…. Jooo…”

Melihat reaksiku yang berbeda terhadap rekan-rekannya yang terdahulu, tentu saja membuat Jo semakin semangat. Kelihatan sekali ia ingin memberikan yang terbaik untukku… Aku pun sama sekali tak memberikan perlawanan terhadap Jo. Aku bahkan memperlakukan Jo sama seperti ketika aku sedang bercinta dengan suamiku…

Melihat itu, Ben jadi tak tahan dan mulai menyerbu juga… Ia memaksaku untuk mengulum penisnya… Mulanya aku ragu-ragu… Aku belum pernah melakukan hal seperti itu…. Tapi sepertinya aku mulai mendapatkan kekuatan entah dari mana… Tanpa pikir panjang, kukulum penis Ben yang sudah sangat mengeras….

Lama-lama aku merasakan kenikmatan. Gairah-gairahku yang selama ini terpendam, akhirnya seperti lunas terbayar. Bahkan ketika Jo sudah mencapai klimaks dan gantian Ben yang menggoyangku, aku sudah tidak menolak lagi….

Sekarang Ben yang menindih dan berpacu denganku seperti sepasang kekasih sehingga kami berdua mencapai puncak bersama….

Terakhir, masih ada Parlin yang harus kulayani…. Ia pun rupanya sudah tak sabar menunggu gilirannya yang terakhir…. Bagaikan banteng ketaton, ia menindih dan menggoyangku… Kali ini aku mencapai orgasme beberapa kali…. Rupanya Parlin yang paling berpengalaman di antara keempat rekannya… Ia pandai mengatur tempo… dan ia pun tampak senang melihatku beberapa kali mencapai orgasme lebih dulu…. Setelah lima belas menit lebih, ia pun menyiramkan spermanya ke tubuhku… Pada saat yang bersamaan, aku pun mencapai orgasme untuk yang ketiga kalinya bersamanya…

Sambil penisnya tetap tertanam di tubuhku, kami berpelukan erat seolah tak mau saling melepas. Bibir kami pun saling memagut dan berciuman seperti sepasang kekasih yang sudah lama tak saling berjumpa….

Akhirnya…. kami berenam pun saling bergeletakan di berbagai tempat di kamarku selama beberapa saat. Ada perasaan takut dan dosa yang kami rasakan… bercampur dengan rasa nikmat yang tiada tara….

Setelah kejadian itu, jika aku datang ke sana, mereka seringkali berusaha secara tiba-tiba mengeroyokku dan menyetubuhiku bersama-sama. Kadang aku bisa menghindar, kadang aku pun membiarkan mereka melakukannya, terutama jika suasana di tempat kost sedang sepi….

Aku tidak tahu apa aku harus menyesal atau bahkan merasa bahagia karena sekarang aku bisa merasakan kepuasan seks yang luar biasa…. walaupun itu dengan cara dikeroyok oleh lima pemuda di tempat kostku.

TAMAT

Nafsu Tabu Anjing Siluman

Copyright 2003, by Mario Soares

(Paranormal – Wanita dan Anjing Siluman, Selingkuh)

(Telah dimuat di Tabloid ‘GHAIB’ edisi 103, 29 Maret – 04 April 2003)
Ratri adalah seorang ibu muda berusia 23 tahun yang tinggal di sebuah desa kecil di bagian selatan Jawa Barat. Ia mengikuti suaminya yang bertugas di sana. Ia sendiri sebenarnya sejak kecil sampai kuliah terbiasa hidup di kota besar.

Pekerjaan suaminya sebagai aktivis sebuah LSM yang menangani community development mengharuskannya pergi ke pelosok-pelosok. Karena itu, wajarlah jika dalam seminggu Ratri harus ditinggal pergi oleh suaminya minimal selama tiga hari. Itu pun sudah lumayan karena Ratri telah memutuskan mengikuti suaminya untuk tinggal di desa yang masih berada di dalam wilayah kerja suaminya. Dengan demikian, perpisahan antara mereka berdua dapat diminimimalkan.

Di desa itu, mereka menempati sebuah rumah sederhana yang disewa dari penduduk setempat. Daerah yang mereka huni masih cukup terbelakang dan belum dimasuki oleh listrik. Suasana yang sepi dan tetangga yang letaknya cukup berjauhan sebenarnya cukup membuat Ratri merasa tersiksa namun apa hendak dikata. Sebagai seorang istri, ia merasa wajib mengikuti suaminya ke mana pun ia pergi.

Saat-saat yang menyenangkan tentu saja adalah ketika mereka berdua saja di rumah mereka yang terpencil itu dan melakukan kegiatan suami istri. Maklumlah, mereka baru saja menikah beberapa bulan sebelumnya. Jadi boleh dikata masih pengantin baru. Belum adanya kehadiran anak-anak membuat kegiatan seksual menjadi hiburan utama mereka saat bersama-sama. Sayangnya kegiatan itu tak dapat mereka lakukan terlampau sering disebabkan kesibukan tugas sang suami.

Kebahagiaan rumah tangga mereka tampaknya akan terus berlanjut, sampai satu ketika datanglah ujian menimpa diri Ratri. Tempat tinggal mereka yang terpencil ternyata sebenarnya merupakan tempat yang cukup angker dan menyimpan misteri-misteri gaib. Kejadian berikut merupakan bukti hal tersebut.

Malam itu, sekitar pukul delapan, Ratri bersiap-siap untuk pergi tidur. Di desa kecil, waktu seperti itu sebenarnya sudah terbilang sangat larut. Ia hanya sendirian saja di rumah. Suaminya telah pergi pagi tadi dan baru akan kembali esok sorenya. Penerangan yang ada hanya berasal dari dua buah lampu tempel yang berbahan bakar minyak tanah.

Ratri mengenakan gaun tidurnya yang berwarna putih. Senada dengan warna kulitnya yang juga putih bersih. Seperti biasa, ia mengunci seluruh pintu termasuk pintu kamar tidurnya. Setelah membersihkan tubuh dan menyisir rambutnya, ia menyiapkan tempat peraduannya.

Baru saja ia berada di pinggir tempat tidur, tiba-tiba dirasakannya seolah udara di dalam kamar berubah menjadi dingin. Ratri terdiam sejenak mengalami perubahan yang mendadak itu. Tak bisa dihindari, bulu tengkuknya serasa seperti berdiri.

Sambil gemetar, matanya menyapu seisi kamar. Penerangan yang ada tak terlampau banyak. Karena itu ia memicingkan matanya menatapi pojok-pojok kamar yang gelap. Sampai pada suatu pojok, entah mengapa pandangan Ratri seperti terhenti. Seolah ada sesuatu di sana….

Ya, seperti ada sesuatu di sana… Ratri tak yakin apa… tapi jantungnya serasa berdebar-debar. Ia menunggu, akankah terjadi sesuatu?

Dari dalam kegelapan, tiba-tiba muncullah sesosok hewan besar berkaki empat. Ratri terkejut dan merinding. Dari manakah datangnya makhluk itu? Saat itu ia berada di dalam kamar tidur berukuran 4×4 meter yang tertutup rapat semua pintu dan jendelanya. Ia sangat yakin tak ada lubang yang terbuka untuk masuk ke kamar itu, selain lubang-lubang ventilasi yang ukurannya sangat kecil.

Sosok makhluk itu semakin mendekati ibu muda yang duduk ketakutan di pinggir tempat tidur itu. Makin lama, di bawah temaram lampu tempel, makin jelaslah sosok makhluk itu. Ternyata ia berwujud seekor anjing raksasa berwarna hitam legam. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada ukuran seorang laki-laki dewasa normal. Sorot matanya tajam berwarna kemerahan, seperti sepasang mata setan…

Dari mulutnya yang dihiasi gigi-gigi tajam, keluar geraman-geraman halus diiringi air liur yang menetes pelan.

Ketakutan yang sangat mencekam meliputi diri ibu muda itu. Ternyata ia tidak sendirian di dalam kamar itu. Ada makhluk besar menakutkan yang dapat muncul secara gaib. Ratri yakin makhluk itu bukanlah seekor anjing biasa. Mungkinkah ia jin atau sebangsa makhluk gaib lainnya yang menjaga rumah itu? Sosok anjing hitam yang begitu menakutkan itu kini tampak mengancam persis di hadapannya.

Anehnya, kemudian seperti ada sesuatu yang membisiki atau mengilhami pikiran Ratri. Untuk mengatasi ketakutannya, tangan ibu muda itu perlahan menggapai tali gaun tidurnya dan melepaskannya dari pundaknya. Lalu diloloskannya gaun tidurnya dari tubuhnya. Semuanya itu seolah dibimbing oleh suatu kekuatan gaib. Karena sambil ketakutan, Ratri melakukan itu secara perlahan-lahan. Sementara itu matanya tetap mengawasi anjing hitam raksasa yang ada di hadapannya.

Kejadian aneh segera menyusul tindakannya itu. Ternyata seiring dicomotinya gaun tidur dari tubuhnya, Ratri mulai merasakan rasa takutnya perlahan sirna, berganti dengan suatu perasaan nyaman yang aneh dan tak tergambarkan… Sampai ketika ibu muda itu telah dalam kondisi bugil, rasa takutnya pun hilang sama sekali. Hanya saja, ia seolah terpaku duduk di pinggir tempat tidur tanpa bisa bangkit sama sekali.

Tubuhnya yang bugil serasa merinding. Kini bukan karena ketakutan ataupun kedinginan. melainkan seolah ada gairah yang mengaliri sekujur tubuhnya. Dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Seperti aliran listrik yang membawa sensasi tersendiri…

Getaran itu semakin tinggi ketika anjing siluman itu perlahan mendekatinya. Tanpa terasa, sosok hitam legam itu telah begitu dekat dengannya. Ia kini berada di antara kedua paha mulus ibu muda itu yang seolah mengangkang begitu saja membukakan jalan.

Kejadian selanjutnya sangat mengejutkan dan tak pernah dibayangkan sama sekali oleh ibu muda yang cantik itu…. Anjing itu ternyata menjulurkan lidahnya yang panjang dan mulai menjilati selangkangan Ratri yang terbuka…

Ratri tersentak dan menjerit karena kaget tapi seolah tak bisa bergerak atau pun menolaknya. Akhirnya dibiarkannya saja makhluk itu melakukan kegiatannya selama beberapa lama.

Efeknya tentu saja ibu muda itu akhirnya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Gerakan-gerakan lidah makhluk siluman itu begitu liar mengaduk-aduk gua kenikmatan yang ada di hadapannya. Tak lama, selangkangan Ratri telah basah kuyup. Ratri tak kuasa menahan erangan-erangan yang otomatis keluar dari mulutnya.

Pada puncaknya, Ratri merasakan sekujur tubuhnya lemas seperti tak bertulang. Nikmat yang luar biasa menjalari sekujur tubuhnya. Sambil mengerang panjang, badannya lalu terhempas ke belakang ke tempat tidur yang empuk. Pikiran dan kesadarannya seolah melayang ke awang-awang.

Selang beberapa saat, barulah Ratri bisa mengendalikan kembali kesadarannya. Perlahan, dengan tangannya ia mampu mengangkat badannya dari atas kasur.

Dilihatnya anjing setan itu masih saja berdiri di dalam keremangan di hadapannya. Lidahnya yang lebar dan panjang tampak menjulur. Air liurnya tampak menggantung dari mulutnya. Tatapan matanya yang tajam berwarna merah menyala saja yang membuatnya jelas berbeda dari seekor anjing biasa. Siluman itu terus menatap tajam pada Ratri yang baru saja bisa mengendalikan diri sehabis mengalami orgasme.

Ibu muda itu jadi bingung akan apa yang harus dilakukannya selanjutnya. Tatapan mata siluman itu seakan menyampaikan suatu makna padanya. Ratri secara samar sepertinya bisa menangkapnya, tapi ia pun tak begitu yakin.

Karena anjing siluman itu diam saja, Ratri lalu berinisiatif mengambil posisi nungging dan bertumpu dengan kedua punggung tangannya di tempat tidur. Ia tak tahu pasti mengapa ia melakukan hal itu. Semuanya dilakukan secara naluriah saja. Ibu muda itu lalu menunggu dengan harap-harap cemas. Sebentar kemudian, barulah ada reaksi dari anjing siluman itu. Legalah hatinya ketika anjing itu tiba-tiba naik ke atas tempat tidur lalu menaikkan kedua kaki depannya ke pinggul Ratri dan mencengkeramnya. Sementara kedua pinggul mereka pun bersatu…

Anjing siluman mencampuri seorang ibu muda

Anjing siluman mencampuri seorang ibu muda

Ratri tak habis pikir bagaimana ia bisa menyerahkan dirinya begitu saja kepada makhluk itu. Akan tetapi memang demikianlah kejadiannya. Secara spontan, terjadilah persetubuhan antara ibu muda yang cantik dan makhluk siluman berwujud anjing hitam itu.

Ratri merasakan sensasi yang sangat berbeda dibandingkan bila bersetubuh dengan suaminya sendiri yang manusia. Bentuk dan perilaku alat kelamin makhluk itu sendiri sangat berbeda dari milik manusia. Kejantanan makhluk itu terasa semakin membesar dan membengkak sewaktu telah berada di dalam tubuhnya. Belum lagi suhunya yang terasa begitu panas…

Ada satu lagi kejadian menarik yang baru kali itu dialami Ratri. Setelah anjing siluman itu mengalami orgasme, rupanya ia tak dapat begitu saja terpisah dari tubuh ibu muda itu. Hal itu disebabkan alat kelamin makhluk itu telah tumbuh membesar di dalam tubuh Ratri sehingga tak mudah untuk ditarik begitu saja. Ratri sudah sering melihat bagaimana kalau dua ekor anjing kawin. Rupanya kini ia pun dapat mengalaminya sendiri… Luar biasa…

Setelah lima belas menit, ketika kejantanan anjing siluman itu telah cukup menciut, barulah tubuh mereka berdua dapat terpisah. Ratri merasakan kepuasan yang luar biasa dari persetubuhan itu. Bukan hanya sekali, melainkan serangkaian orgasme telah didapatkannya selama melakukan persetubuhan yang tabu itu… Keletihan dan kenikmatan yang menjadi satu akhirnya mengantarkan ibu muda itu ke dalam tidur yang lelap…

Ketika Ratri bangun keesokan harinya, didapatinya bahwa anjing siluman itu telah raib entah ke mana. Sinar matahari tampak menembus lubang ventilasi. Pintu dan jendela pun masih rapi terkunci dari dalam.

Apakah kejadian semalam hanya mimpi? Rasanya tidak. Ratri menemukan vaginanya basah oleh cairan tubuhnya yang bercampur dengan cairan mani makhluk itu. Demikian pula seprai putih tempat tidurnya basah kuyup dan acak-acakan. Tidak, kejadian malam itu benar-benar nyata…

Pagi itu Ratri segera membersihkan tubuhnya dan mencuci seprainya sambil tak habis-habisnya memikirkan kejadian semalam. Ada semacam perasaan takut yang bercampur dengan perasaan rindu dan penasaran.

Akhirnya, kejadian pada malam itu terulang lagi pada malam-malam berikutnya. Setiap kali suaminya pergi bertugas, anjing siluman itu pun muncul secara gaib ke kamar tidur Ratri untuk menagih jatahnya…

Ratri pun senang saja melayani kekasih barunya itu. Apalagi ia sangat kesepian saat ditinggal pergi sendirian oleh suaminya. Tak terlintas dalam pikirannya rasa jijik karena harus melayani makhluk gaib yang berwujud seekor anjing. Yang nyata terbayang adalah kenikmatan luar biasa yang tidak didapatnya dari suaminya sendiri.

Selang beberapa waktu, Ratri pun mulai mengalami terlambat bulan. Melalui pemeriksaan, akhirnya dipastikan bahwa ibu muda itu mengandung anaknya yang pertama. Perutnya pun dari minggu ke minggu semakin membuncit. Suaminya tentu saja senang bukan main, walaupun karena tuntutan tugasnya, tetap saja ia harus sering meninggalkan istrinya tercinta.

Anehnya, sejak saat itu, anjing siluman itu seolah mulai jarang mengunjungi Ratri. Bahkan akhirnya jadi tak pernah sama sekali ketika usia kandungannya telah menginjak bulan ketujuh. Bagaimanapun, saat itu kemampuan Ratri untuk beraktivitas seksual pun mulai terbatas. Kebutuhannya yang tak terlampau banyak itu sudah bisa dicukupi oleh suaminya sendiri sehingga ketidakhadiran kekasih gaibnya tak terlalu dirisaukannya.

Ratri pun semakin berhati-hati dalam menjaga kandungannya. Apalagi pemeriksaan dan kontrol secara medis agak sulit didapatkan di tempat seperti itu. Yang ada paling hanya bidan atau dukun beranak.

Sayang sekali, kisah bahagia itu kemudian harus berakhir ketika pada bulan kesembilan kehamilannya, Ratri mengalami suatu kejadian misterius. Janin yang ada di dalam kandungannya seolah raib tanpa bekas. Pagi itu, ketika terbangun dari tidurnya, ibu muda itu merasakan sesuatu yang aneh pada perutnya. Terkejutlah ia ketika disadarinya bahwa perutnya yang sedang hamil tua itu ternyata telah kempes…

Ke manakah hilangnya kandungannya? Peristiwa itu tentu saja menggegerkan masyarakat di sekitarnya. Ratri sampai jatuh sakit selama beberapa hari karena kejadian itu.

Akhirnya, dari hasil penerawangan seorang paranormal di daerah itu, diperkirakan bahwa janin yang ada di dalam kandungan Ratri sebenarnya adalah hasil dari hubungannya dengan suatu makhluk dari alam gaib. Ketika usia kandungannya telah mencukupi, maka bayi hasil hubungan itu pun diambil secara gaib oleh ayah kandungnya untuk dibawa ke alamnya.

Ratri dan suaminya tentu saja terkejut dan sedih mendengarnya. Untunglah suami Ratri sangat pengertian dalam menghadapi musibah yang menimpa keluarga mereka dan tidak mengambil tindakan yang negatif atau pun sembrono. Dengan setia dihiburnya istrinya yang tampak sangat terpukul dengan kejadian itu.

Beberapa waktu kemudian, untuk melupakan hal itu, Ratri dan suaminya memilih untuk pindah dari desa tempat mereka tinggal. Kebetulan suaminya mendapatkan pekerjaan yang lumayan di kota.

Di tempatnya yang baru mereka pun memulai lagi kehidupannya dari awal. Segala suka dan duka mereka lewati bersama. Tak lama kemudian, Ratri pun hamil kembali, kali ini benar-benar oleh suaminya yang sah. Karena sikap yang positiflah akhirnya mereka dapat meraih kembali kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga. Empat tahun telah berlalu sejak kejadian itu dan kini keluarga mereka telah dikaruniai dua orang putra-putri yang lucu-lucu.

(Seperti diceritakan Ratri kepada Rio)

TAMAT

Cerita Yang Mirip:

Vivi dan Gendruwo

Copyright 1999, by KHISmistress

(Paranormal – Wanita dan Gendruwo, Sedarah – Ibu dan Anak Laki-Laki, Permainan Bertiga, Selingkuh)

Vivi, seorang ibu rumah tangga muda berusia 27 tahun, sering mengalami mimpi aneh sejak beberapa malam terakhir ini. Ia mendapati dirinya sedang berbaring dalam keadaan bugil di dalam sebuah ruangan yang gelap yang ditutupi oleh kain-kain batik. Dari dalam kegelapan muncul sesosok tubuh hitam berbulu. Lengannya panjang seperti kera. Giginya bertaring. Tingginya sebahu Vivi. Vivi ketakutan melihatnya. Mimpi yang sama terus berulang sepanjang minggu.

Minggu berikutnya mimpi-mimpi itu berlanjut. Dalam mimpi yang sekarang, entah dari mana awalnya, Vivi dan makhluk itu sudah saling bersentuhan. Vivi seolah dapat merasakan kulit makhluk itu yang tebal berkerut seperti kulit gajah. Sedikit demi sedikit perasaan takut Vivi berganti dengan suatu perasaan yang aneh. Seakan ada ikatan emosional di antara keduanya. Perasaan ingin tahu, tegang, dan iba bercampur menjadi satu. Makhluk itu tak pernah berbicara. Hanya lenguhan-lenguhan aneh seperti bayi menangis yang keluar dari mulutnya. Sentuhan dimulai dari saling menggenggam tangan dan lama-kelamaan makhluk itu mulai mendekap di dada Vivi. Secara refleks karena naluri keibuannya, Vivi membelai lembut kepala makhluk itu. Mimpi ini pun terus berulang sepanjang minggu.

Minggu berikutnya, mimpi itu berlanjut lebih jauh lagi. Kali ini dalam mimpinya mereka saling menempelkan wajah masing-masing. Entah siapa yang memulai, kedua bibir mereka saling bersentuhan. Vivi pun tak dapat mengelakkan diri dari berciuman dengan makhluk itu. Ciuman mereka berlangsung dengan hangat. Tiba-tiba mereka telah bercumbu seperti sepasang kekasih. Puncaknya, mereka pun bersetubuh. Vivi merasa puas dengan organ genital kekasih barunya yang berukuran raksasa. Paginya, ketika bangun, Vivi merasakan vaginanya basah kuyup dengan cairan kental seperti air mani. Seolah-olah mimpi yang dialaminya malam itu benar-benar nyata. Mimpi itu terus berulang pada malam-malam selanjutnya tanpa bisa ditolaknya. Vivi kebingungan menghadapi masalah ini.

Vivi mencurahkan isi hatinya kepada sahabat karibnya, Tia. Tia mengajak Vivi untuk menemui seorang paranormal kenalannya, Pujo. Pujo menghipnotis Vivi untuk mengetahui semua yang terpendam di dalam pikiran bawah sadar Vivi.

Pujo mendapatkan bahwa sekitar delapan tahun yang lalu Vivi pernah menghilang di hutan selama 10 bulan. Kejadian itu terjadi hanya sehari setelah ia menikah dengan suaminya sekarang. Ketika ditemukan kembali, ia tak bisa mengingat sama sekali apa yang terjadi. Bahkan ia tak menyadari sama sekali bahwa ia telah “menghilang” selama 10 bulan. Karena tak bisa mengungkapnya, pihak keluarga pun kemudian merahasiakan kejadian ini. Mereka menganggap seolah tak terjadi apa-apa dan berharap kejadian itu bisa dilupakan. Apalagi suami Vivi yang sangat mencintainya tetap bersedia menerima Vivi apa adanya.

Melalui penyelidikan yang berliku-liku, Pujo akhirnya mengetahui bahwa menghilangnya Vivi dahulu adalah karena diculik oleh gendruwo penunggu hutan. Gendruwo itu jatuh cinta pada Vivi dan nekat mengambilnya sebelum ia sempat menjalani malam pengantinnya.

Vivi diperistri oleh gendruwo itu sampai hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang juga berwujud gendruwo. Sebenarnya Vivi tidak benar-benar menjadi isteri gendruwo itu karena gendruwo itu hanya mengawininya tanpa pernah menikahinya. Kira-kira hanya seperti seorang gundik bagi tuannya. Begitu anak mereka lahir, Vivi pun dilepas oleh “suami baru”-nya kembali ke alam manusia. Sebelum itu sang suami berjanji akan mengizinkan anak mereka untuk menemui Vivi jika ia sudah cukup besar.

Saat kembali ke alam manusia, ingatan Vivi selama tinggal di alam jin telah ditutup sehingga ia tak bisa mengingat apa pun yang telah terjadi di sana. Yang ia tahu, ia sedang jalan-jalan ke hutan seusai acara pernikahannya dan tertidur. Ia ditemukan orang ketika terbangun dari tidurnya di pinggiran hutan.

Vivi pun menjalani kehidupan normalnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Suaminya yang dahulu ternyata masih setia menunggunya dan masih sangat mencintainya. Itu sebabnya ia tak mau bertanya banyak kepada Vivi tentang apa saja yang dialaminya selama hilang di hutan. Ia hanya pasrah dan menganggap itu sebagai ujian hidup yang harus mereka hadapi.

Pujo akhirnya mengetahui bahwa gendruwo kecil yang selalu mendatangi Vivi selama sebulan terakhir dalam mimpi-mimpinya itu adalah anaknya sendiri. Ia telah dianggap cukup besar oleh bapaknya untuk pergi menemui ibunya dan melepas kerinduannya. Ia dikirim menemui Vivi dalam rangka mengajaknya kembali ke alam jin dan hidup bersama di sana untuk selama-lamanya.

Vivi terkejut mendengar itu semua. Akan tetapi lambat laun ia pun mulai bisa mengingat semua masa lalunya yang telah ditutup oleh suami gendruwonya. Ia pun menangis ketika dapat mengingat kembali semua itu. Pujo dan Tia tak dapat berbuat apa pun selain membiarkannya terus menangis dan menghiburnya.

Apa yang dikatakan Pujo ternyata benar. Esoknya, Vivi ditinggal oleh suaminya yang pergi ke luar kota selama seminggu. Ketika Vivi sedang sendirian di rumah, gendruwo kecil yang selalu mendatanginya dalam mimpinya tiap malam tiba-tiba muncul menampakkan dirinya dalam wujud fisik. Kali ini ia datang bersama gendruwo lain yang lebih besar: ayahnya, yang tak lain adalah gendruwo yang dahulu menculik Vivi dan memperistrinya.

Ayah, ibu dan anak saling melepas kerinduannya. Dari berpelukan dan berciuman, akhirnya secara alami bapak dan anak bersama-sama melucuti seluruh pakaian Vivi.
Keduanya lalu mencumbu dan menyetubuhi wanita itu. Terjadilah permainan bertiga yang ganjil dan tabu.

Kedua gendruwo itu melepaskan kerinduannya dengan menikmati tubuh Vivi selama dua hari dua malam. Selama itu pula mereka melarang Vivi untuk mengenakan pakaian apa pun untuk menutupi tubuhnya yang bugil. Selain itu, mereka pun melarang Vivi untuk mandi sehingga tubuhnya penuh dengan campuran air mani gendruwo dan anaknya sendiri serta keringat mereka bertiga. Akan tetapi Vivi seolah tak peduli lagi. Ia mengalami suatu kenikmatan badani yang tiada taranya yang tak pernah didapatkan dari suami resminya.

Akhirnya ketika bapak dan anak mengajak Vivi untuk kembali bersama mereka ke alam jin, Vivi pun tak menolaknya. Demikianlah akhirnya Vivi menghabiskan seluruh hidupnya mengabdi di sana untuk melayani kebutuhan seks gendruwo anak-beranak itu. Kadang-kadang ia pun “dipinjamkan” kepada teman-teman gendruwo dan makhluk halus yang lainnya sekedar untuk disetubuhi, atau dihamili.

TAMAT

Cerita Yang Mirip: